Anda di halaman 1dari 46

MAKALA SISTEM ENDOKRIN STRUMA

Disusun Oleh Kelompok 1A : 1. Khristina Damayanti 2. Maria Valenzya 3. Marieta 4. Monica Sukmaningtyas 5. Petrus Ganggu 6. Tiyastutik 7. Yolanda Dias (201111065) (201111073) (201111075) (201111080) (201111085) (201111108) (201111118)

S1 ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI KESEHATAN SANTA ELISABETH SEMARANG 2012/2013

KATA PENGANTAR Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas berkat dan campur tangan-Nyalah, maka kami dapat menyelesaikan makalahsistem endokrin Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit struma ini dengan baik. Semoga apa yang kami tulis dan kami paparkan dalam makalah ini dapat dimengerti dan di pahami dengan baik oleh pembaca sehingga dapat bermanfaat bagi pembaca dalam menjaga dan meningkatkan status kesehatan dalam kehidupan sehari hari. Penulis menyadari bahwa makalah asuhan keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semarang, 4 Mei 2013

Penyusun

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Tujuan BAB II PENYAKIT STRUMA 2.1 Anatomi dan fisiologi tiroid 2.2 Mekanisme umpan balik hormone dari kelenjar tiroid 2.3 Metabolisme basal 2.4 Biosintesis dan metabolisme hormon-hormon tiroid 2.5 Pengaruh hormone tiroid terhadap metabolisme 2.6 Patofisiologi/Pathway Struma 2.7 Diit untuk pasien struma 2.8 Farmakologi untuk pasien struma : PTU, anti tiroid, tiroksin, garam yodium dan implikasi keperawatannya 2.9 Pemeriksaan diagnostic (tes fungsi tiroid) dan penatalaksanaan struma : tiroidectomi, strumektomi, RAI 2.10 2.11 2.12 2.13 Asuhan keperawatan pada pasien dengan Struma Keterampilan pemeriksaan fisik tiroid Keterampilan persiapan pre operasistrumektomi, tiroidektomi Perawatan post operasistrumektomi, tiroidektomi

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Ilmu kesehatan sangatlah fleksibel dengan mengikuti perkembangan zaman. Hal itu dapat dilihat dengan perkembangan penyakit dan cara mengatasinya. Penyakit sangatlah berbahaya bagi tubuh manusia, apalagi yang dapat mengganggu jiwa manusia. Karena itu ketika penyakit dapat membahayakan maka secepat mungkin harus dicari cara mengatasinya atau pengobatan terhadap penyakit yang diderita, demikian pula penyakit struma yang menyebabkan pembengkakan pada leher. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) mencatat sekitar 20 persen pasien endokrin menderita gangguan fungsi tiroid. "Gangguan tiroid menempati urutan kedua daftar penyakit endokrin setelah diabetes," kata Ketua Perkeni Prof Dr Achmad Rudijanto di sela-sela Asia And Ocenia Thyroid Association Congress (AOTA) di Kuta, Bali, Minggu (21/10). Tingginya jumlah penderita gangguan hormon yang mengatur metabolisme tubuh disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat akan gejala dan kelainan tiroid. Gangguan fungsi tiroid ada dua yaitu kekurangan hormon tiroid (hipotiroid) dan kelebihan (hipertiroid). Gejala umum dari keduanya secara umum adalah pembesaran kelenjarnya atau dikenal gondok atau struma. Kelainan hipotiroid pada perempuan risikonya lebih besar dibandingkan dengan pria. Diperkirakan sekitar 2,5 persen ibu hamil mengalami gangguan hormon tersebut. Maka dari itu pada kesempatan ini penulis akan memaparkan sebuahmakalah mengenai struma nodosa serta hal-hal yang menyangkut penyakit ini.

1.2 Manfaaat 1.2.1 1.2.2 Mahasiswa dapat mengetahui Anatomi dan fisiologi tiroid Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme umpan balik hormone dari kelenjar tiroid dan Metabolisme basal 1.2.3 Mahasiswa dapat mengetahui Biosintesis dan metabolisme hormon-hormon tiroid; Pengaruh hormone tiroid terhadap metabolism 1.2.4 Mahasiswa dapat mengetahui Patofisiologi/Pathway Struma dan Diit untuk pasien struma 1.2.5 Mahasiswa dapat mengetahui Farmakologi untuk pasien struma : PTU, anti tiroid, tiroksin, garam yodium dan implikasi keperawatannya dan

Pemeriksaan diagnostic (tes fungsi tiroid) dan penatalaksanaan struma : tiroidectomi, strumektomi, RAI 1.2.6 Mahasiswa dapat menganalisa Asuhan keperawatan pada pasien dengan Struma 1.2.7 Mahasiswa mengetahui Keterampilan pemeriksaan fisik tiroid, Keterampilan persiapan pre operasistrumektomi, tiroidektomi, Perawatan post

operasistrumektomi, tiroidektomi

1.3 Tujuan 1.3.1 1.3.2 Agar mahasiswa dapat mengetahui Anatomi dan fisiologi tiroid Agar mahasiswa dapat mengetahui mekanisme umpan balik hormone dari kelenjar tiroid dan Metabolisme basal 1.3.3 Agar mahasiswa dapat mengetahui Biosintesis dan metabolisme hormonhormon tiroid; Pengaruh hormone tiroid terhadap metabolism 1.3.4 Agar mahasiswa dapat mengetahui Patofisiologi/Pathway Struma dan Diit untuk pasien struma 1.3.5 Agar mahasiswa dapat mengetahui Farmakologi untuk pasien struma : PTU, anti tiroid, tiroksin, garam yodium dan implikasi keperawatannya dan Pemeriksaan diagnostic (tes fungsi tiroid) dan penatalaksanaan struma : tiroidectomi, strumektomi, RAI 1.3.6 Agar mahasiswa dapat menganalisa Asuhan keperawatan pada pasien dengan Struma 1.3.7 Agar mahasiswa mengetahui Keterampilan pemeriksaan fisik tiroid, Keterampilan persiapan pre operasistrumektomi, tiroidektomi, Perawatan post operasistrumektomi, tiroidekto

BAB II ISI 2.1 Anatomi dan fisiologi tiroid Kelenjar tiroid berkembang dari endoderm yang berasal dari sulcus pharyngeus pertama dan kedua pada garis tengah atau lekukan faring antara branchial pouch pertama dan kedua. Mulai terbentuk pada janin berukuran 3,4-4 cm pada akhir bulan pertama kehamilan. Dari bagian tersebut timbul divertikulum yang kemudian membesar, jaringan endodermal ini turun ke leher sampai setinggi cincin trakea kedua dan ketiga yang kemudian membentuk 2 lobus, yang akhirnya melepaskan diri dari faring. Penurunan ini terjadi pada garis tengah. Sebelum lepas, ia berbentuk sebagai duktus tiroglossus, yang berawal dari foramen sekum di basis lidah. Pada umumnya duktus ini akan menghilang pada usia dewasa. Sisa ujung kaudal duktus tiroglossus lebih sering mengalami obliterasi menjadi lobus piramidalis kelenjar tiroid. Tetapi ada beberapa keadaan yang masih menetap, sehingga dapat terjadi kelenjar di sepanjang jalan tersebut, yaitu antara kartilago tiroid dengan basis lidah. Dengan demikian, kegagalan menutupnya duktus akan mengakibatkan terbentuknya kelenjar tiroid yang letakya abnormal, dinamakan persisten duktus tiroglossus, dapat berupa kista duktus tiroglossus, tiroid lingual atau tiroid servikal. Sedangkan desensus yang terlalu jauh akan menghasilkan tiroid substernal. Branchial pouch keempatpun akan ikut membentuk bagian kelenjar tiroid, dan merupakan asal mula sel-sel parafolikular atau sel C yang memproduksi kalsitonin. Kelenjar tiroid janin secara fungsional mulai mandiri pada minggu ke-12 masa kehidupan intrauterin.

Anatomi Kelenjar Tiroid Kelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher, terdiri dari 2 lobus yang dihubungkan oleh ismus yang menutupi cincin trakea 2 dan 3. Setiap lobus tiroid berukuran panjang 2,5-4 cm, lebar 1,5-2 cm dan tebal 1-1,5 cm. Berat kelenjar tiroid dipengaruhi oleh berat badan dan asupan yodium. Pada orang dewasa berat normalnya antara 10-20 gram. Pada sisi posterior melekat erat pada fasia pratrakea dan laring melalui kapsul fibrosa, sehingga akan ikut bergerak kea rah cranial sewaktu menelan. Pada sebelah anterior kelenjar tiroid menempel otot pretrakealis (m. sternotiroid dan m. sternohioid) kanan dan kiri yang bertemu pada midline. Pada sebelah yang lebih superficial dan sedikit lateral ditutupi oleh fasia kolli profunda dan superfisialis yang membungkus m. sternokleidomastoideus dan vena jugularis eksterna. Sisi lateral berbatasan dengan a. karotis komunis, v. jugularis interna, trunkus simpatikus dan arteri tiroidea inferior. Posterior dari

sisi medialnya terdapat kelenjar paratiroid, n. laringeus rekuren dan esophagus. Esofagus terletak di belakang trakea dan laring, sedangkan n.laringeus rekuren terletak pada sulkus trakeoesofagikus. Vaskularisasi kelenjar tiroid termasuk amat baik. A.tiroidea superior berasal dari a.karotis kommunis atau a.karotis eksterna, a.tiroidea inferior dari a.subklavia, dan a.tiroidea ima berasala dari a.brakhiosefalik salah sau cabang arkus aorta Aliran darah dalam kelenjar tiroid berkisar 4-6 ml/gram/menit, kira-kira 50 kali lebih banyak dibanding aliran darah di bagian tubuh lainnya. Pada keadaan hipertiroidisme, aliran darah ini akan meningkat sehingga dengan stetoskop terdengar bising aliran darah dengan jelas di ujung bawah kelenjar. Setiap folikel tiroid diselubungi oleh jala-jala kapiler dan limfatik, sedangkan system venanya berasal dari pleksus parafolikuler yang menyatu di permukaan membentuk vena tiroidea superior, lateral dan inferior. Secara anatomis dari dua pasang kelenjar paratiroid, sepasang kelenjar paratiroid menempel di belakang lobus superior tiroid dan sepasang lagi di lobus medius. Pembuluh getah bening kelenjar tiroid berhubungan secara bebas dengan pleksus trakealis. Selanjutnya dari pleksus ini ke arah nodus pralaring yang tepat berada di atas ismus menuju ke kelenjar getah bening brakiosefalik dan sebagian ada yang langsung ke duktus torasikus. Hubungan getah bening ini penting untuk menduga penyebaran keganasan yang berasal dari kelenjar tiroid.

Gambar 1. Anatomi Tiroid

Gambar 2. Anatomi Tiroid Potongan Melintang

Histologi Kelenjar Tiroid Secara histologi, parenkim kelenjar ini terdiri atas: 1. Folikel-folikel dengan epithetlium simplex kuboideum yang mengelilingi suatu massa koloid. Sel epitel tersebut akan berkembang menjadi bentuk kolumner katika folikel lebih aktif (seperti perkembangan otot yang terus dilatih). 2. Cellula perifolliculares (sel C) yang terletak di antara beberapa folikel yang berjauhan.

Gambar 3. Histologi Kelenjar Tiroid

Fisiologi Hormon Tiroid Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama, yaitu tiroksin (T4). Bentuk aktif ini adalah triyodotironin (T3), yang sebagian besar berasal dari konversi hormon T4 di perifer, dan sebagian kecil langsung dibentuk oleh kelenjar tiroid. Yodida anorganik yang diserap dari saluran cerna merupakan bahan baku hormon tiroid. Zat ini dipekatkan kadarnya menjadi 30-40 kali yang afinitasnya sangat tinggi di jaringan tiroid. Yodida anorganik mengalami oksidasi menjadi bentuk organik dan selanjutnya menjadi bagian dari tirosin yang terdapat dalam tiroglobulin sebagai monoyodotirosin (MIT) atau diyodotirosin (DIT). Senyawa atau konjugasi DIT dengan MIT atau dengan DIT yang lain akan menghasilkan T3 atau T4, yang disimpan dalam koloid kelenjar tiroid. Sebagian besar T4 dilepaskan ke sirkulasi, sedangkan sisanya tetap di dalam kelenjar yang kemudian mengalami deyodinasi untuk selanjutnya menjalani daur ulang. Dalam sirkulasi, hormon tiroid terikat pada protein, yaitu globulin pengikat tiroid (thyroid binding globulin, TBG) atau prealbumin pengikat tiroksin (thyroxine binding prealbumine, TBPA). Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh suatu hormon stimulator tiroid (thyroid stimulating hormone, TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Kelenjar hipofisis secara langsung dipengaruhi dan diatur aktivitasnya oleh kadar hormon tiroid dalam sirkulasi yang bertindak sebagai negative feedback terhadap lobus anterior hipofisis, dan terhadap sekresi thyrotropine releasing hormone (TRH) dari hipotalamus. Pada kelenjar tiroid juga didapatkan sel parafolikuler, yang menghasilkan kalsitonin. Kalsitonin adalah suatu polipeptida yang turut mengatur metabolisme kalsium, yaitu menurunkan kadar kalsium serum, melalui pengaruhnya terhadap tulang. Jadi, kesimpulan pembentukan hormon tiroksin melalui beberapa langkah, yaitu: 1. Iodide Trapping, yaitu pejeratan iodium oleh pompa Na+/K+ ATPase. 2. Yodium masuk ke dalam koloid dan mengalami oksidasi. Kelenjar tiroid merupakan satu-satunya jaringan yang dapat mengoksidasi I hingga mencapai status valensi yang lebih tinggi. Tahap ini melibatkan enzim peroksidase. 3. Iodinasi tirosin, dimana yodium yang teroksidasi akan bereaksi dengan residu tirosil dalam tiroglobulin di dalam reaksi yang mungkin pula melibatkan enzim tiroperoksidase (tipe enzim peroksidase). 4. Perangkaian iodotironil, yaitu perangkaian dua molekul DIT (diiodotirosin) menjadi T4 (tiroksin, tetraiodotirosin) atau perangkaian MIT

(monoiodotirosin) dan DIT menjadi T3 (triiodotirosin). reaksi ini diperkirakan juga dipengaruhi oleh enzim tiroperoksidase.

5. Hidrolisis yang dibantu oleh TSH (Thyroid-Stimulating Hormone) tetapi dihambat oleh I, sehingga senyawa inaktif (MIT dan DIT) akan tetap berada dalam sel folikel. 6. Tiroksin dan triiodotirosin keluar dari sel folikel dan masuk ke dalam darah. Proses ini dibantu oleh TSH. 7. MIT dan DIT yang tertinggal dalam sel folikel akan mengalami deiodinasi, dimana tirosin akan dipisahkan lagi dari I. Enzim deiodinase sangat berperan dalam proses ini. 8. Tirosin akan dibentuk menjadi tiroglobulin oleh retikulum endoplasma dan kompleks golgi.

Gambar 4. Sintesis dan Sekresi Hormon Tiroid

Pengangkutan Tiroksin dan Triiodotirosin ke Jaringan

Setelah dikeluarkan ke dalam darah, hormon tiroid yang sangat lipofilik secara cepat berikatan dengan beberapa protein plasma. Kurang dari 1% T3 dan kurang dari 0,1% T4 tetap berada dalam bentuk tidak terikat (bebas). Keadaan ini memang luar biasa mengingat bahwa hanya hormon bebas dari keseluruhan hormon tiroid memiliki akses ke sel sasaran dan mampu menimbulkan suatu efek. Terdapat 3 protein plasma yang penting dalam pengikatan hormon tiroid: 1. TBG (Thyroxine-Binding Globulin) yang secara selektif mengikat 55% T4 dan 65% T3 yang ada di dalam darah. 2. Albumin yang secara nonselektif mengikat banyak hormone lipofilik, termasuk 10% dari T4 dan 35% dari T3. 3. TBPA (Thyroxine-Binding Prealbumin) yang mengikat sisa 35% T4. Di dalam darah, sekitar 90% hormon tiroid dalam bentuk T4, walaupun T3 memiliki aktivitas biologis sekitar empat kali lebih poten daripada T4. Namun, sebagian besar T4 yang disekresikan kemudian dirubah menjadi T3, atau diaktifkan, melalui proses pengeluaran satu yodium di hati dan ginjal. Sekitar 80% T3 dalam darah berasal dari sekresi T4 yang mengalami proses pengeluaran yodium di jaringan perifer. Dengan demikian, T3 adalah bentuk hormon tiroid yang secara biologis aktif di tingkat sel. Fungsi hormon tiroid a. Mengatur metabolisme protein,lemak,karbohidrat dalam sel. b. Meningkatkan konsumsi oksigen di semua jaringan. c. Meningkatkan frekuensi dan kontraksi denyut jantung. d. Mempertahankan tonus otot. e. Merangsang pemecahan lemakdan sintesa kolesterol.

2.2 Mekanisme umpan balik hormone dari kelenjar tiroid

Mula-mula,

hipotalamus

sebagai

pengatur

mensekresikan

TRH

(Thyrotropin-Releasing Hormone), yang disekresikan oleh ujung-ujung saraf di dalam eminansia mediana hipotalamus. Dari mediana tersebut, TRH kemudian diangkut ke hipofisis anterior lewat darah porta hipotalamus-hipofisis. TRH langsung mempengaruhi hifofisis anterior untuk meningkatkan pengeluaran TSH. TSH merupakan salah satu kelenjar hipofisis anterior yang mempunyai efek spesifik terhadap kelenjar tiroid: 1. Meningkatkan proteolisis tiroglobulin yang disimpan dalam folikel, dengan hasil akhirnya adalah terlepasnya hormon-hormon tiroid ke dalam sirkulasi darah dan berkurangnya subtansi folikel tersebut. 2. Meningkatkan aktifitas pompa yodium, yang meningkatkan kecepatan proses iodide trapping di dalam sel-sel kelenjar, kadangakala meningkatkan rasio konsentrasi iodida intrasel terhadap konsentrasi iodida ekstrasel sebanyak delapan kali normal. 3. Meningkatkan iodinasi tirosin untuk membentuk hormon tiroid. 4. Meningkatkan ukuran dan aktifitas sensorik sel-sel tiroid. 5. Meningkatkan jumlah sel-sel tiroid, disertai dengan dengan perubahan sel kuboid menjadi sel kolumner dan menimbulkan banyak lipatan epitel tiroid ke dalam folikel.

2.3 Metabolisme basal Metabolisme basal adalah banyaknya energi yang dipakai untuk aktifitas jaringan tubuh sewaktu istirahat jasmani dan rohani. Energi tersebut

dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh berupa metabolisme makanan, sekresi enzim, sekresi hormon, maupun berupa denyut jantung, bernafas, pemeliharaan tonus otot, dan pengaturan suhu tubuh. Metabolisme basal ditentukan dalam keadaan individu istirahat fisik dan mental yang sempurna. Pengukuran metabolisme basal dilakukan dalam ruangan bersuhu nyaman setelah puasa 12 sampai 14 jam (keadaan postabsorptive). Sebenarnya taraf metabolisme basal ini tidak benar-benar basal. Taraf metabolisme pada waktu tidur ternyata lebih rendah dari pada taraf metabolisme basal, oleh karena selama tidur otot-otot terelaksasi lebih sempurna. Apa yang dimaksud basal disini ialah suatu kumpulan syarat standar yang telah diterima dan diketahui secara luas. Metabolisme basal dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu jenis kelamin, usia, ukuran dan komposisi tubuh, faktor pertumbuhan. Metabolisme basal juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan keadaan emosi atau stres. Orang dengan berat badan yang besar dan proporsi lemak yang sedikit mempunyai Metabolisme basal lebih besar dibanding dengan orang yang mempunyai berat badan yang besar tapi proporsi lemak yang besar. Demikian pula, orang dengan berat badan yang besar dan proporsi lemak yang sedikit mempunyai Metabolisme basal yang lebih besar dibanding dengan orang yang mempunyai berat badan kecil dan proporsi lemak sedikit. Metabolisme basal seorang laki-laki lebih tinggi dibanding dengan wanita. Umur juga mempengaruhi metabolisme basal dimana umur yang lebih muda mempunyai metabolisme basal lebih besar dibanding yang lebih tua. Rasa gelisah dan ketegangan, misalnya saat bertanding

menghasilkanmetabolisme basal 5% sampai 10% lebih besar. Hal ini terjadi karena sekresi hormon epinefrin yang meningkat, demikian pula tonus otot meningkat. Laju Metabolik Basal (Basal Metabolic Rate/BMR) ialah energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi fisiologis normal pada saat istirahat. BMR = kcal/ m2/jam (kilokalori energi yang digunakan per meter persegi permukaan tubuh per jam) BMR Fungsi fisiologis normal tersebut meliputi :

Lingkungan kimia internal tubuh, yaitu gradient konsentrasi ion antara intrasel dan ekstrasel Aktivitas elektrokimia sistem saraf Aktivitas elektromekanik sistem sirkulasi Pengaturan suhu Faktor-faktor yang mempengaruhi BMR Makanan Makanan kaya protein akan lebih meningkatkan BMR daripada makanan kaya lipid atau kaya karbohidrat. Hal ini mungkin terjadi karena deaminasi asam amino terjadi relatif cepat. Status hormon tiroid Hormon tiroid meningkatkan konsumsi oksigen, sintesis protein, dan degradasi yang merupakan aktivitas termogenesis. Peningkatan BMR merupakan hal yang klasik pada hipertiroid, dan menurun pada penurunan kadar tiroid Aktivitas saraf simpatis. Pemberian agonis simpatis juga meningkatkan BMR. Sistem saraf simpatis secara langsung melalui nervus vagus ke hati mengaktivasi pembentukan glukosa dari glikogen. Sehingga aktivitas saraf simpatis meningkatkan BMR. Latihan Latihan membutuhkan kalori ekstra dari makanan. Jika s/ makanan lebih banyak mengandung energi, maka berat badan akan meningkat. Jika penggunaan energi lebih banyak dari yg tersedia dlm makanan, maka tubuh akan memakai simpanan lemak yang ada dan mungkin akan menurunkan berat badan. Umur & faktor lain BMR seorang anak umumnya lebih tinggi daripada orang dewasa, krn anak memerlukan lebih banyak energi selama masa pertumbuhan. Wanita hamil & menyusui juga memiliki BMR yang lebih tunggu. Demam meningkatkan BMR. Orang yg berotot memiliki BMR lebih tinggi daripada orang yg gemuk .

2.4 Biosintesis dan metabolisme hormon-hormon tiroid Biosintesis hormone tyroid merupakan suatu urutan langkah proses yang diatur oleh enzim tertentu. Langkah tersebut adalah: 1. Penangkapan yodida 2. Oksidasi yodida menjadi yodium 3. Organifikasi yodium menjadi monoyodotirosin dan diyodotirosin 4. Proses penggabungan precursor yang teryodinasi 5. Penyimpanan hormone 6. Pelepasan Hormon Penangkapan yodida oleh sel folikel tyroid merupakan suatu proses aktif dan membutuhkan energi. Energy yang didapat dari metabolisme oksidatif dalam kelenjar. Yodida yang tersedia untuk tyroid berasal dari yodida dalam makanan atau air, atau yang dilepaskan pada deyodinasi hormone tyroid atau bahan yang mengalami yodinasi. Tyroid mengambil dan mengkonsentrasikan yodida 20 hingga 30 kali kadarnya dalam plasma. Yodida dirubah menjadi yodium, dikatalis oleh enzim yodida peroksidase. Yodium kemudian digabungkan dengan molekul tirosin, yaitu proses yang dijelaskan sebagai organifikasi yodium. Proses ini terjadi pada interfase sel koloid. Senyawa yang terbentuk, monoyodotirosin dan diyodo-tirosin kemudian digabungkan sebagai berikut: dua molekul diyodotirosin

membentuk tirosin (T4) dan satu molekul diyodotirosin dan satu molekul monoyodotirosin membentuk triyodotirosin (T3). Penggabungan senyawasenyawa ini dan penyimpanan hormone yang dihasilkan berlangsung dalam tiroglobulin. Pelepasan hormone dari tempat penyimpanan terjadi dengan masuknya testes-tetes koloid ke dalam sel folikel dengan proses yang disebut pinositosis. Di dalam sel ini tiroglobulin dihidrolisis dan hormone dilepaskan ke dalam sirkulasi. Berbagai langkah yang dilakukan tersebut dirangsang oleh tirotropin (TSH)

2.5 Pengaruh hormone tiroid terhadap metabolisme Hormon tiroid mempunyai 2 efek utama pada tubuh:1. Meningkatkan kecepatan metabolism secara keseluruhan dan 2. Pada anak-anak,merangsang pertumbuhan Peningkatan umum kecepatan metabolisme Hormone tiroid meningkatkan aktifitas metabolism hamper semua jaringan tubuh.kecepatan metabolism basal dapat meningkat sebanyak 60-100 persen diatas normal bila disekrsi hormone dalam jumlah besar. Keceptan

penggunaan makanan untuk energy sangat dipercepat.kecepatan sintesis protein kadang-kadang meningkat, semnetara pada saat yang sama kecepatan katabolisme protein juga meningkat. Keceptan pertumbuhan orang muda sangat dipercepat. Proses mental terangsang, dan aktifitas banyak kelenjar endokrin lain sering meningkat. Beberapa mekanisme kerja yang mungkin ada dari hormone teroid dijelaskan dalam bagian berikut 1. Efek hormone tiroid menyebabakan sintesis protein Hormone tiroid digabung dengan proteinreseptordidalam nucleus sel gabungan ini atau produk darinya kemudian mengaktifasi sebagaian besar gen sel untuk menyebabakan pembentukan RNA dn kemudian pembentukan protein 2. Efek hormone tiroid pada system enzim sel Dalam 1 minggu atau lebih setelah pemberian hormon tiroid,paling sedikit 100 dan mungkin lebih banyak lagi enzim intra sel meningkat jumlahnya 3. Efek hormone tiroid pada metokondria Fungsi utama tiroksin mingkin hanya meningkatkan jumlah dan aktifitas mitokondria, serta peningkatan ini selanjutrnya meningkatkan kecepatan pembentukan ATP untuk member energy fungsional sel. 4. Efek hormone tiroid dalam meningkatkan transport aktif ion melalui membrane sel Salah satu enzim yang meningkat sebgai respon terhadap hormon tiropid adalah Na-K ATPse yang meningkatkan kecepatan transport natrium dan kalium melalui membrane sel beberapa jaringan

2.6 Patofisiologi/Pathway Struma

Pengertian Struma Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya. Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia. Hal tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat asimetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.

Etiologi Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain: a. Defisiensi iodium. Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan. b. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid. c. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai). d. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya:

thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).

Patofisiologi Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid.

Klasifikasi a. Berdasarkan Fisiologisnya 1) Eutiroidisme Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang meningkat. Goiter atau struma semacm ini biasanya tidak

menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.

2) Hipotiroidisme Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon. Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi. Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif terhadap udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi, gerakan lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu dan penurunan kemampuan bicara. 3) Hipertiroidisme Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan. Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, leboh suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung berdebar-debar, tremor pada tungkai bagian atas, mata melotot (eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi otot. b. Berdasarkan Klinisnya 1) Struma Toksik Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma multinoduler toksik). Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan

hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophthalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya.

Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif. Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan peningkatan pembentukan antibodi sedangkan turunnya konsentrasi hormon tersebut sebagai hasilpengobatan penyakit ini cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi bukan mencegah pembentuknya. Apabila gejala-gejala hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin, pucat, sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal.

2) Struma Non Toksik Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme, penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul. Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik, berat ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk ke dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10 %-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di atas 30 %.

Tanda dan Gejala Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan, maka tanda dan gejala pasien struma adalah : a. Status Generalis (umum) 1) Tekanan darah meningkat (systole) 2) Nadi meningkat 3) Mata : Exophtalamus a) Stellwag sign : jarang berkedip b) Von Graefe sign : palpebra mengikuti bulbus okuli waktu melihat ke bawah. c) Morbius sign : sukar konvergensi d) Jeffroy sign : tak dapat mengerutkan dahi. e) Rossenbach sign : tremor palpebra jika mata ditutup. 4) Hipertoni simpatis : kulit basah dan dingin, tremor 5) Jantung : takikardi b. Status Lokalis : Regio Colli Anterior 1) Inspeksi : benjolan, warna, permukaan, bergerak waktu menelan 2) Palpasi : permukaan, suhu a) Batas atas kartilago tiroid b) Batas bawah incisura jugularis c) Batas medial garis tengah leher d) Batas lateral m.sternokleidomastoid c. Gejala Khusus 1) Struma kistik a) Mengenai 1 lobus b) Bulat, batas tegas, permukaan licin, sebesar kepalan c) Kadang multilobularis d) Fluktuasi (+) 2) Struma Nodusa a) Batas jelas b) Konsistensi : kenyal sampai keras c) Bila keras curiga neoplasma, umumnya berupa adenocarsinoma tiroidea 3) Struma Difusa a) Batas tidak jelas b) Konsistensi biasanya kenyal, lebih kearah lembek. 4) Struma vaskulosa a) Tampak pembuluh darah (biasanya arteri), berdenyut

b) Auskultasi : Bruit pada neoplasma dan struma vaskulosa c) Kelenjar getah bening : Paratracheal Jugular Vein.

Komplikasi Struma a. Penyakit jantung hipertiroid Gangguan pada jantung terjadi akibat dari perangsangan berlebihan pada jantung oleh hormon tiroid dan menyebabkan kontraktilitas jantung meningkat dan terjadi takikardi sampai dengan fibrilasi atrium jika menghebat. Pada pasien yang berumur di atas 50 tahun, akan lebih cenderung mendapat komplikasi payah jantung. b. Oftalmopati Graves Oftalmopati Graves seperti eksoftalmus, penonjolan mata dengan diplopia, aliran air mata yang berlebihan, dan peningkatan fotofobia dapat mengganggu kualitas hidup pasien sehinggakan aktivitas rutin pasien terganggu. c. Dermopati Graves Dermopati tiroid terdiri dari penebalan kulit terutama kulit di bagian atas tibia bagian bawah (miksedema pretibia), yang disebabkan penumpukan glikosaminoglikans. Kulit sangat menebal dan tidak dapat dicubit.

2.7 Diit untuk pasien struma Makanan yang mengandung yodium : garam meja , seafood , supplemen yang mengandung yodium Makanan yang mengandung rendah gula ,karena dapat mengontrol produksi insulin dalam tubuh . Makan makanan seperti ice cream , permen adalah makanan yang mengandung kadar gula tinggi , tapi tdak hanya itu , masih ada makanan lain yang mengandung kadar gula tinggi seperti : wortel , jagung , roti , beras putih , kentang . Makanan yang rendah protein : seafood , daging yang berwarna putih , telur Makanan yang banyak mengandung serat : gandum , lentil ,apel , kacang merah , sayuran berdaun hijau Vitamin dan Mineral : Zink dan Selenium

Hindari makan kacang , karena kacang merupakan makanan yang bersifat goitrogenik , tapi efek tersebut berkurang apabila kacang tersebut sudah dimasak / diolah .

2.8 Farmakologi untuk pasien struma : PTU, anti tiroid, tiroksin, garam yodium dan implikasi keperawatannya

Obat jenis asetaminopen Pemberian beta-bloker Propanolol secara intravena dosis yang diberikan adalah 1mg/mnt sampai bberapa mg hingga efek yang diinginkan tercapai atau 2-4mg/4jam secara intravena atau 60-80mg/4mg secara oral atau melalui NGT Pemberian tionamide seperti methimazole 30mg/6jam atau PTU 200mg/4jam secara oral atau NGT untuk memblok sintesishormon Larutan lugol 10tts/8jam secara oral Glucocorticoid 100mg/8jam secara intravena

I. Obat-obatan 1. Obat Antitiroid : Golongan Tionamid Terdapat 2 kelas obat golongan tionamid, yaitu tiourasil dan imidazol. Tiourasil dipasarkan dengan nama propiltiourasil (PTU) dan imidazol dipasarkan dengan nama metimazol dan karbimazol.(4) Obat golongan tionamid lain yang baru beredar ialah tiamazol yang isinya sama dengan metimazol.. Mekanisme Kerja Obat golongan tionamid mempunyai efek intra dan ekstratiroid. Mekanisme aksi intratiroid yang utama ialah mencegah/mengurangi biosintesis hormon tiroid T-3 dan T-4, dengan cara menghambat oksidasi dan organifikasi iodium, menghambat coupling iodotirosin, mengubah struktur molekul tiroglobulin dan menghambat sintesis tiroglobulin. Sedangkan mekanisme aksi ekstratiroid yang utama ialah menghambat konversi T-4 menjadi T-3 di jaringan perifer (hanya PTU, tidak pada metimazol). Atas dasar kemampuan menghambat konversi T-4 ke T-3 ini, PTU lebih dipilih dalam pengobatan krisis tiroid yang memerlukan penurunan segera hormon tiroid di perifer. Sedangkan kelebihan metimazol adalah efek penghambatan biosintesis hormon lebih panjang dibanding PTU, sehingga dapat diberikan sebagai dosis tunggal.

Dosis Besarnya dosis tergantung pada beratnya tampilan klinis, tetapi umumnya dosis PTU dimulai dengan 3100-200 mg/hari dan metimazol/tiamazol dimulai dengan 20-40 mg/hari dosis terbagi untuk 3-6 minggu pertama. Setelah periode ini, dosis dapat diturunkan atau dinaikkan sesuai respons klinis dan biokimia. Apabila respons pengobatan baik, dosis dapat diturunkan sampai dosis terkecil PTU 50mg/hari dan metimazol/ tiamazol 5-10 mg/hari yang masih dapat mempertahankan keadaan klinis eutiroid dan kadar T-4 bebas dalam batas normal.4 Bila dengan dosis awal belum memberikan efek perbaikan klinis dan biokimia, dosis dapat dinaikkan bertahap sampai dosis maksimal, tentu dengan memperhatikan faktor-faktor penyebab lainnya seperti ketaatan pasien minum obat, aktivitas fisis dan psikis. Efek Samping Meskipun jarang terjadi, harus diwaspadai kemungkinan timbulnya efek samping, yaitu agranulositosis (metimazol mempunyai efek samping agranulositosis yang lebih kecil), gangguan fungsi hati, lupus like syndrome, yang dapat terjadi dalam beberapa bulan pertama pengobatan.3 Untuk mengantisipasi timbulnya efek samping tersebut, sebelum memulai terapi perlu pemeriksaan laboratorium dasar termasuk leukosit darah dan tes fungsi hati, dan diulang kembali pada bulan-bulan pertama setelah terapi. Bila ditemukan efek samping, penghentian penggunaan obat tersebut akan memperbaiki kembali fungsi yang terganggu, dan selanjutnya dipilih modalitas pengobatan yang lain seperti 131I atau operasi. Bila timbul efek samping yang lebih ringan seperti pruritus, dapat dicoba ganti dengan obat jenis yang lain, misalnya dari PTU ke metimazol atau sebaliknya. Evaluasi Evaluasi pengobatan perlu dilakukan secara teratur mengingat penyakit Graves adalah penyakit autoimun yang tidak bisa dipastikan kapan akan terjadi remisi. Evaluasi pengobatan paling tidak dilakukan sekali/bulan untuk menilai perkembangan klinis dan bikokimia guna menentukan dosis obat selanjutnya. Dosis dinaikkan dan diturunkan sesuai respons hingga dosis tertentu yang dapat mencapai keadaan eutiroid. Kemudian dosis diturunkan perlahan hingga dosis terkecil yang masih mampu mempertahankan keadaan eutiroid, dan kemudian evaluasi dilakukan tiap 3 bulan hingga tercapai remisi. Parameter biokimia yang digunakan adalah FT-4 (atau FT-3 bila terdapat T-3

toksikosis), karena hormon-hormon itulah yang memberikan efek klinis, sementara kadar TSH akan tetap rendah, kadang tetap tak terdeteksi, sampai beberapa bulan setelah keadaan eutiroid tercapai. Sedangkan parameter klinis yang dievaluasi ialah berat badan, nadi, tekanan darah, kelenjar tiroid, dan mata. 2. Obat Golongan Penyekat Beta Obat golongan penyekat beta, seperti propranolol hidroklorida, sangat bermanfaat untuk mengendalikan manifestasi klinis tirotoksikosis (hyperadrenergic state) seperti palpitasi, tremor, cemas, dan intoleransi panas melalui blokadenya pada reseptor adrenergik. Di samping efek antiadrenergik, obat penyekat beta ini juga dapat -meskipun sedikit- menurunkan kadar T-3 melalui penghambatannya terhadap konversi T-4 ke T-3. Dosis awal propranolol umumnya berkisar 80 mg/hari.3,4 Di samping propranolol, terdapat obat baru golongan penyekat beta dengan durasi kerja lebih panjang, yaitu atenolol, metoprolol dan nadolol. Dosis awal atenolol dan metoprolol 50 mg/hari dan nadolol 40 mg/hari mempunyai efek serupa dengan propranolol. Pada umumnya obat penyekat beta ditoleransi dengan baik. Beberapa efek samping yang dapat terjadi antara lain nausea, sakit kepala, insomnia, fatigue, dan depresi, dan yang lebih jarang terjadi ialah kemerahan, demam, agranulositosis, dan trombositopenia. Obat golongan penyekat beta ini dikontraindikasikan pada pasien asma dan gagal jantung, kecuali gagal jantung yang jelas disebabkan oleh fibrilasi atrium. Obat ini juga dikontraindikasikan pada keadaan bradiaritmia, fenomena Raynaud dan pada pasien yang sedang dalam terapi penghambat monoamin oksidase.

2.9 Pemeriksaan diagnostic (tes fungsi tiroid) dan penatalaksanaan struma : tiroidectomi, strumektomi, RAI

1. Pemeriksaan laboratorium untuk mengukur fungsi tiroid: Pemerikasaan hormon tiroid dan TSH paling sering menggunakan radioimmuno-assay (RIA) dan cara enzyme-linked immuno-assay (ELISA) dalam serum atau plasma darah. Pemeriksaan T4 total dikerjakan pada semua penderita penyakit tiroid, kadar normal pada orang dewasa 60-150 nmol/L atau 50-120 ng/dL; T3 sangat membantu untuk hipertiroidisme, kadar normal pada orang dewasa antara 1,0-2,6 nmol/L atau 0,65-1,7 ng/dL; TSH sangat membantu untuk mengetahui

hipotiroidisme primer di mana basal TSH meningkat 6 mU/L. Kadang-kadang meningkat sampai 3 kali normal. 2. Pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan penyebab gangguan tiroid: Antibodi terhadap macam-macam antigen tiroid ditemukan pada serum penderita dengan penyakit tiroid autoimun. - antibodi tiroglobulin - antibodi mikrosomal - antibodi antigen koloid ke dua (CA2 antibodies) - antibodi permukaan sel (cell surface antibody) - thyroid stimulating hormone antibody (TSA) 3. Pemeriksaan radiologis dengan foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesaran struma retrosternal yang pada umumnya secara klinis pun sudah bisa diduga. Foto rontgen leher posisi AP dan Lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas sehubungan dengan intubasi anastesinya. Bahkan tidak jarang untuk konfirmasi diagnostik tersebut sampai memerlukan CT-scan leher. 4. USG bermanfaat pada pemeriksaan tiroid untuk: menentukan jumlah nodul membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik, mengukur volume dari nodul tiroid mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan dilakukan biopsi terarah Dapat dipakai sebagai pengamatan lanjut hasil pengobatan.

5. Pemeriksaan dengan sidik tiroid sama dengan uji tangkap tiroid, yaitu dengan prinsip daerah dengan fungsi yang lebih aktif akan menangkap radioaktivitas yang lebih tinggi. Metabolisme hormon tiroid sangat erat hubungannya dengan yodium, sehingga dengan yodium yang dimuati bahan radioaktif kita bisa mengamati aktivitas kelenjar tiroid maupun bentuk lesinya. 6. Pemeriksaan histopatologis dengan biopsi jarum halus (fine needle aspiration biopsy FNAB) akurasinya 80%. Hal ini perlu diingat agar jangan sampai menentukan terapi definitif hanya berdasarkan hasil FNAB saja. 7. Pemeriksaan potong beku (VC = Vries coupe) pada operasi tiroidektomi diperlukan untuk meyakinkan bahwa nodul yang dioperasi tersebut suatu keganasan atau bukan. Lesi tiroid atau sisa tiroid yang dilakukan VC dilakukan pemeriksaan patologi anatomis untuk memastikan proses ganas atau jinak serta mengetahui jenis kelainan histopatologis dari nodul tiroid dengan parafin block.

2.10

Asuhan keperawatan pada pasien dengan Struma

KASUS STRUMA Ny. H (30 tahun) dirawat di RS dengan Diagnosa medis struma derajat II. Dari hasil pengkajian didapatkan data klien tinggal di daerah pegunungan,mengeluh nyeri saat menelan, sesak nafas, telapak tangan sering berkeringat, terdapat exophthalmus, belum ada kardiomegali, tidak malu dengan keadaannya, TD 100/70 mmHg, nadi 110 x/menit, RR 21 x/menit, suhu 37,40C, hasil laboratorium sebelum operasi T3 dan T4 menurun, TSH meningkat, pemeriksaan kepadatan tulang masih dalam batas normal. Klien mendapat terapi propanolol 3x5mg. Sebelum operasi klien merasa cemas akan kehilangan suaranya jika di operasi, saat ini klien selesai lobectomy hari ke 3,terpasang drain dengan isi 2cc, kondisi luka kering, tidak berbau, terdapat 3 jahitan.

PENGKAJIAN PERPOLA KESEHATAN PENGKAJIAN 11 POLA GORDON

Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan Pasien mengatakan tinggal di daerah pegunungan. Pola nutrisi metabolik Pasien mengatakan nyeri saat menelan, karena pembesaran tiroid, sehinga susah menelan.

Pola eliminasi Tidak terkaji

Pola aktivitas dan latihan Tidak terkaji Pola tidur dan istirahat Tidak terkaji Pola persepsi dan konsep diri Pasien mengatakan tidak malu dengan keadaannya sekarang. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress Pasien mengatakan stres sebelum operasi merasa cemas akan kehilangan suaranya jika di operasi.

Pola kognitif dan persepsi sensori. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan sesak nafas

Pola peran dan hubungan dengan sesama Tidak terkaji Pola reproduksi dan seksualitas Tidak terkaji Pola sistem kepercayaan Tidak terkaji

ANALISA DATA DATA DS : -Pasien mengatakan sesak nafas -Klienmengeluh nyeri saat menelan - Pasien mengatakan merasa cemas akan kehilangan suaranya jika dioperasi MASALAH Pola nafas tidak efektif ETIOLOGI Nyeri, Ansietas

DO : -Nadi 110 x/menit -Hasil lab sebelum operasi T3 dan T4 menurun, TSH meningkat

DS : DO : pasien selesai lobektomy hari ke 3 Terpasang drain dengan isi 2cc terdapat 3 jahitan kondisi luka kering tidak bau

Resiko infeksi

Prosedur invasif

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan nyeri, ansietas ditandai dengan, Klien mengatakan sesak nafas, Klien mengeluh nyeri saat menelan,pasien mengatakan merasa cemas akan kehilangan suaranya jika dioperasi , nadi 110 x/menit, Hasil lab sebelum operasi T3 dan T4 menurun, TSH meningkat 2. Resiko infeksi ditandai dengan Klien selesai lobektomy hari ke 3Terpasang drain dengan isi 2cc, terdapat 3 jahitan, kondisi luka kering tidak bau

INTERVENSI

NO DP

Tgl/ jam 1.

Tujuan dan kriteria hasil

INTERVENSI

Rasional

TTD

Pola nafas kembali efektif setelahdilakukantindakank eperawatan selama 7 x 24 jam dengan kriteria hasil: 1. Pasien mengatakan 1. monitor TTV (RR,NADI)

7. Adanya perubahan tanda-tanda vital seperti respirasi menunjukkan kurang ventilasi yg masuk.

tidak sesak nafas 2. pasien tidak mengeluh nyeri saat menelan 3. RR (16-20 x/menit) 4. Nadi (60-100x/menit) 5. Hasil lab normal T3 : 80-160ng/100M T4 : 11 mikro gram/ 100 ml TSH : 0,5 5,0 mikro 4. Kolaborasi U pemberian analgetik 3. ajarkan teknik 3. mengurangi nyeri yang relaksasi tiap di rasakan pasien. 2jam 2. Monitor skala 2.Mengetahui perkembangan skala nyeri nyeri pasien.

4.Mengurangi rasa nyeri

5.adanya pemberian obat 5. Lanjutkan propanolol(antityroid) pemberian obat untuk mengurangi propanolol pembesaran kelenjar 3x5mg tyroid 6. Kolaborasi pemberian oksigen 6.Adanya pemberian

oksigen dapat memenuhi kebutuhan oksigen klien

7. keluarga

anjurkan untuk 7. dukungan dari orangorang terdekat membuat dan klien semangat

memberikan support

dukungan kepada keluarga 8.

2.

infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24jam dengan kriteria hasil: 1. disekitar pemasangan drain tidak ada tandatanda infeksi 2. jahitan mengering, tidak ada pendarahan disekitar jahitan 3. kondisi luka kering tidak bau

1. Monitor sekitar jahitan tiap 4jam

1. adanya perdarahan dapat mengakibatka n terjadinya

infeksi 2. Perawatan luka dan drain setelah 3hari 2. adanya perawatan luka untuk

mencegah infeksi dan

luka bisa cepat kering 3. Pantau daerah luka 3. resiko infeksi biasanya ditandai dengan adanya pus

4. Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan setelah meninggalkan ruangan pasien

4. kuman bakteri jga oleh

dan dapat dibawa

pengunjung dari lingkungan luar

5. Kolaborasi pemberian obat antibiotik

5. adanya pemberian antibiotik mengurahi terjadinya infeksi

6. Kolaborasi pemeriksaan lab darah(leukosit )

6. memantau hasil Khususnya leukosit karena satu salah tanda lab.

peradangan leukosit meningkat.

2.11

Keterampilan pemeriksaan fisik tiroid Pemeriksaan fisik kelenjer tiroid merupakan bagian dari pemeriksaan

umum seorang penderita. Dalam memeriksa leher seseorang, struktur leher lainnya pun harus diperhatikan. Ada beberapa alasan untuk hal ini, pertama sering struktur ini tertutup atau berubah oleh keadaan kelenjar tiroid, kedua metastasis tiroid sering terjadi ke kelenjar limfe leher dan ketiga banyak juga kelainan leher yang sama sekali tidak berhubungan dengan gangguan kelenjer gondok. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik sistematik juga diperlukan, sebab dampak yang ditimbulkan oleh gangguan fungsi kelenjer tiroid melibatkan hampir seluruh oragan tubuh, sehingga pengungkapan detail kelainan organ lainnya sangat membantu menegakkan maupun mengevaluasi gangguan kelainan penyakit kelenjar tiroid. Pemeriksaan kelenjar tiroid meliputi inspeksi, palpasi dan auskultasi.

A. Inspeksi Waktu memeriksa kelenjar tiroid hendaknya dipastikan arah sinar yang tepat, sehingga masih memberi gambaran jelas pada kontur, relief, tekstur kulit maupun benjolan. Demikian pula harus diperhatikan apakah ada bekas luka operasi. Dengan dagu agak diangkat, perhatikan struktur dibagian bawah-depan leher. Kelenjar tiroid normal biasanya tidak dapat dilihat dengan cara inspeksi, kecuali pada orang yang amat kurus, namun apabila dalam keadaan tertentu ditemukan deviasi trachea atau dilatasi vena maka harus curiga kemungkinan adanya gondok substernal. Biasanya dengan inspeksi saja kita dapat menduga adanya pembesaran kelenjar tiroid yang lazim disebut gondok. Gondok yang agak besar dapat dilihat, namun untuk memastikan serta melihat gambaran lebih jelas maka pasien diminta untuk membuat gerakan menelan (oleh karena tiroid melekat pada trachea ia akan tertarik keatas bersama gerakan menelan). Manuver ini cukup diagnostik untuk memisahkan apakah satu struktur leher tertentu berhubungan atau tidak dengan tiroid. Sebaliknya apabila struktur kelenjar tiroid tidak ikut gerakan menelan sering disebabkan perlengkapan dengan jaringan sekitarnya. Untuk ini dipikirkan kemungkinan radang kronik atau keganasan tiroid.

B. Palpasi Dalam menentukan besar, bentuk konsistensi dan nyeri tekan kelenjar tiroid maka palpasi merupakan jalan terbaik dan terpenting. Ada beberapa cara, tergantung dari kebiasaan pemeriksa. Syarat untuk palpasi tiroid yang

baik adalah menundukkan leher sedikit serta menoleh kearah tiroid yang akan diperiksa (menoleh kekanan untuk memeriksa tiroid kanan, maksudnya untuk memberi relaksasi otot sternokleidomastoideus kanan). Pemeriksa berdiri didepan pasien atau duduk setinggi pasien. Sebagian pemeriksa lebih senang memeriksa tiroid dari belakang pasien. Apapun yang dipilih langkah pertama ialah meraba daerah tiroid dengan jari telunjuk (dan atau 3 jari) guna memastikan ukuran, bentuk, konsistensi, nyeri tekan dan simetri. Untuk mempermudah meraba tiroid, kita dapat menggeser laring dan tiroid ke satu sisi dengan menggunakan ibu jari atau jari tangan lain pada kartilago tiroid. Kedua tiroid diperiksa dengan cara yang sama sambil pasien melakukan gerakan menelan.

Gambar 1. Pemeriksaan palpasi Kelenjar tiroid

Palpasi lebih mudah dilakukan pada orang kurus, meskipun pada orang gemuk tiroid yang membesar juga dapat diraba dengan mudah. Ukuran tiroid dapat dinyatakan dalam bermacam-macam cara : Misalnya dapat diterjemahkan dalam ukuran volume (cc) dibandingkan dengan ukuran volume ibu jari pemeriksa Ukuran lebar dan panjang (cm x cm) atau ukuran berat (gram jaringan dengan perbandingan ibu jari pemeriksa yang sudah ditera sendiri berdasarkan volume air yang tergeser oleh ibu jari dan volume dikaitkan dengan berat daging dalam gram) Mengukur luas permukaan kelenjar dapat digunakan sebagai ukuran besarnya tiroid Gradasi pembesaran kelenjar tiroid untuk keperluan epidemiologi (untuk menentukan prevalensi gondok endemik) menggunakan klasifikasi perez atau modifikasinya. Umumnya wanita mempunayi gondok lebih besar sehingga lebih mudah diraba. Tujuan menggunakan metoda ini ialah mendapat angka statistik dalam mengendalikan masalah gondok endemik dan kurang yodium,

dengan cara yang reploducible. Klasifikasi awal (Perez 1960) adalah sebagai berikut : Derajat 0 : Subjek tanpa gondok Derajat 1 : Subjek dengan gondok yang dapat diraba (palpable) Derajat 2 : Subjek dengan gondok terlihat (visible) Derajat 3 : Subjek dengan gondok besar sekali, terlihat dari beberapa cm.

Dalam praktek masih banyak dijumpai kasus dengan gondok yang teraba membesartetapi tidak terlihat. Untuk ini dibuat subklas baru yaitu derajat IA dan derajat IB. Derajat IA : Subjek dengan gondok teraba membesar tetapi tidak terlihat meskipun leher sudah ditengadahkan maksimal. Derajat IB : Subjek dengan gondok teraba membesar tetapi terlihat dengan sikap kepala biasa, artinya leher tidak ditengadahkan.

Adapun kriteria untuk menyatakan bahwa gondok membesar ialah apabila lobus leteral tiroid sama atau lebih besar dari falang akhir ibu jari tangan pasien (bukan jari pemeriksa). Dalam sistem klasifikasi ini setiap nodul perlu dilaporkan khusus (pada survey GAKI dapatan ini mempunyai arti tersendiri). Apabila dalam pemeriksaan survei populasi ditemukan nodularitas artinya ditemukan nodul pada lobus kelenjar tiroid, maka temuan ini perlu dilaporkan secara khusus. Kista kita duga apabila pada rabaan berbentuk hemisferik, berkonsistensi kenyal, dengan permukaan halus. Gondok keras sering ditemukan pada tiroiditis kronik atau keganasan pada gondok, kenyal atau lembek pada struma colloides dan pada defisiensi yodium. Nyeri tekan atau nyeri spontan dapat dijumpai pada radang atau infeksi (tiroiditis autoimun, virus atau bakteri) tetapi dapat juga karena peregangan mendadak kapsul tiroid oleh hemoragi ke kista, keganasan atau malahan dapat ditemukan pada hipertiroidisme. Pita ukuran seperti gambar diatas kadang digunakan untuk menilai secara kasar perubahan ukuran kelenjar, membesar, tetap atau mengecil selama pengobatan atau observasi. Dalam pengobatan penyakit Graves pengecilan kelenjar diawal pengobatan memberikan indikasi respon baik sedangkan pembesaran menandakan adanya overtreatment Obat Anti Tiroid (terjadi hipotiroidisme TSH naik stimulasi dan lingkar leher membesar). Namun ini biasanya terlambat 2 minggu sesudah perubahan biokimia. Palpasi juga berguna dalam menentukan pergeseran trachea (bisa karena trachea

terdesak atau tertarik sesuatu). Cari massa yang menyebabkan pergeseran dengan cara palpasi. Rabalah pembesaran limfonodi yang dapat merupakan petunjuk penyebaran karsinoma kelenjar tiroid ke kelenjar limfe regional. Khusus perhatikan limfonodi sepanjang daerah trachea yang menutupi trachea, kartilago krikoid, kartilago tiroid di linea mediana (disebut upper pretracheal node atau delphian group) dan limfonodi mastoid yang terdapat di sudut radang bawah, raba pula kalau ada pembesaran vena.

C. Auskultasi Tidak banyak informasi yang dapat disumbangkan oleh auskultasi tiroid, kecuali untuk mendengarkan bruit, bising pembuluh di daerah gondok yang paling banyak ditemukan pada gondok toksik (utamanya ditemukan di lobus kanan tiroid-ingat vaskularisasinya).

2.12

Keterampilan persiapan pre operasistrumektomi, tiroidektomi

Perawatan yang tepat dapat dilakukan pada pasian pre-oprerasi pada tiroidektomi adalah : 1. Kadar hormon tiroid harus diupayakan dalam keadaan normal 2. Pemberian obat antitiroid masih tetap dipertahankan disamping menurunkan kadar hormon darah 3. Masalah jantung juga sudah harus teratasi 4. Kondisi nutrisi harus optimal, diet tinggi protein dan karbohidrat 5. Beri tahu pasien kemungkinan suara menjadi serak setelah operasi jelaskan bahwa itu adalah hal yang wajar dan dapat kembali seperti semula 6. Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan dijalani serta resiko komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan dari penderita untuk dilakukan

operasi. (Informed consent) 7. Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi, persiapan ruang ICU untuk monitoring setelah operasi. 8. Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi 9. Tanpa antibiotika profilaksis

2.13

Perawatan post operasistrumektomi, tiroidektomi

Perawatan yang dapat dilakukan pada pasien pasca operasi pada tiroidektomi adalah : 1. Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai stabil dan kemudian lanjutkan setiap 30 menit selama 6 jam 2. Gunakan bantal pasir atau bantal tambahan untuk menahan posisi kepala tetap ekstensi sampai klien sadar penuh Bila sadar, berikan posisi semi fowler, apabila memindahkan klien hindarkan penekanan pada daerah insisi. Berikan obat analgesic sesuai program terapi Bantu klien batuk dan napas dalam setiap 30 menit Gunakan penghisap oral atau trachea sesuai kebutuhan Monitor komplikasi yang terjadi pada pasca operasi tiroidektomi, seperti: Perdarahan, Distress pernapasanHipokalsemia akibat pengangkatan paratiroid yang ditandai dengan tetani, Kerusakan saraf laryngeal. 2.12 keterampilan persiapan pre operasi strumektomi,tiroidektomi 2.12.1 Prosedur Tindakan Strumektomi I. a. Persiapan alat dasar strumektomi: Alat Tenun Steril: Doek besar 2 buah Doek kecil 5 buah Jas oprasi 5 buah

b.

Instrumen (standar alat strumektomi)

Nama Alat 1 2 3 Langenbeck besar 2

Langenbeck sedang 2 Dissecting / raigth engle 3

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Allis klem Tumor klem

2 2

Needle holder 2 Yoderen klem 1 Duk klem 6 6

Pean bengkok panjang Pean bengkok sedang 6 Pean bengkok kecil Pean lurus kecil 12 2

Kocher lurus sedang 10 Kocher lurus panjang 6 Tangkai pisau no 4 Tangkai pisau no 3 1 1

Pincet tissue chirurgy 1 Pincet tissue anatomi 1 Pincet chirurgy Pincet anatomi 2 2

Gunting jaringan kecil 1 Gunting jaringan besar Gunting benang Bengkok steril 1 Mangkok stenlis Mangkok cina 2 2 1 1

27

Jarum jahit 1 set

Persiapan Diluar Kontener Set 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kasa 2 ikat Darem gas Suction 3 lbr 1 1

ESU dan cucuknya Mess no 15 1

Benang side no 2/0, no 3/0, dexon 4/0 & 2/0 Waskom besar steril Betadine 2

Secukupnya Secukupnya 1

Aquabidest steril Tinta dan tusuk gigi

II. A.

Prosedur Persiapan alat-alat sebelum tindakan operasi: Prosedur menyiapkan meja linen steril dan instrumen steril sebelum

operasi: Prosedur 1 2 3 4 Cuci tangan biasa Bersihkan meja instrumen dengan chlorin 0,2% Pasang perlak steril dengan teknil tanpa sentuh Buka doek /drape sesuai dengan kebutuhan dan sarung tangan

menggunakan korentang. 5 Cuci tangan steril

6 7 8 9

Keringkan tangan dengan handuk/lap steril Gunakan gaun oprasi steril Atur duk / drape / instrumen dan sarung tangan steril Tutup meja dengan doek steril

B.

Prosedur cuci tangan prosedural:

Prosedur 1 2 3 Lepaskan semua perhiasan, cincin dan jam tangan Basahi tangan dengan air mengalir dari ujung jari sampai 2 cm di atas siku Gunakan cairan hebiscrup, dan cuci tangan mulai dari telapak tangan dan jari-jari serta lengan bawah secara menyeluruh sampai 2 cm atas siku, kemudian bilas merata selama 1 menit. 4 5 6 Ambil sikat dan beri cairan Hebiscrup Bersihkan kuku secara menyeluruh dengan sikat Kemudian bersihkan jari-jari, telapak tangan dan punggung tangan, cuci setiap jari seakan mempunyai empat sisi 7 8 Scrub daerah pergelangan tangan pada tiap tangan Kemudian scrub lengan bawah sampai 2 cm diatas siku (selama satu setengah menit) 9 10 Ulangi pada lengan satunya, dengan waktu yang sama Bilas tangan dan lengan secara merata, pastikan tangan ditahan lebih tinggi dari siku, ulangi pemakaian Hebiscrup dengan merata tanpa dibilas dengan air. (1 menit untuk kedua tangan) 11 12 Pastikan posisi tangan di atas dan biarkan air menetes melalui siku Cuci tangan slesai, keringkan tangan dengan handuk steril

C.

Menggunakan Gaun Steril Untuk Operasi

Prosedur 1 Ambil gaun bedah steril, dengan cara memegang bagian leher angkat dengan kedudukan tangan setinggi bahu 2 Pegang bagian leher dengan tangan setinggi bahu dengan menjaga bagian dalam tetap menghadap pemakai 3 Kibaskan gaun dan bersamaan dengan itu masukan tangan kedalam lengan gaun dengan tetap menjaga ketinggian setinggi bahu 4 Petugas yang tidak steril mengambil bagian dalam dari gaun dan menarik kebelakang untuk merapikan dan harus menutup seluruh bagian belakang pemakai, serta mengikatkan tali gaun dengan rapi. 5 Pemakaian gaun selesai

D.

Menggunakan Sarung Tangan steril:

Prosedur 1 Tangan berada di dalam gaun bedah saat menjemput sarung tangan yang terlipat keluar 2 Dengan dibantu tangan sebelah yang masih berada di dalam lengan gaun pakai sarung tangan yang satu 3 Dengan tangan yang sudah bersarung pakai sarung tangan yang satunya lagi 4 Pemakaian sarung tangan selesai

III.

Prosedur Tindakan Operasi Strumektomi

Prosedur operasi dibagi menjadi tiga yaitu: pre operasi, intra operasi dan pos operasi. A. Pre Operasi Persiapan brankar untuk menerima pasien dengan mempersiapkan: Sprai Plastik/kain kedap air ditaruh dibagian atas (daerah kepala sampai leher) Slimut Baju oprasi dan topi. Menerima pasien / timbang terima di ruang timbang terima: Mencocokan nama pasien antara lest dengan gelang pasien Memindahkan pasien ke brankar Mengganti baju pasien dan memakaikan topi Mengecek perlengkapan / persiapan oprasi sesuai dengan chek list Mendorong pasien ke ruang oprasi (Ok 6)

B. Intra Operasi Pelaksanaan tindakan pembedahan intra operatif dimulai dari pasien dipasang monitor dan dilakukan tindakan pembiusan oleh dokter anastesi, urutan pembedahan meliputi: Pasien telah dipasang monitor dan dilakukan pembedahan kemudian pasien dipasang arde dengan benar. Operator, asisten dan instrumen melakukan cuci tangan prosedural, pemakaian jas oprasi dan sarung tangan steril, (sesuai dengan cara diatas) Memberikan preparasi set kepada operator:

Mangkok cina berisi betadine Kom steril berisi dan 3 lembar kasa Yoderem klem Bersama-sama oprator melakukan draping: Dua duk kecil dibentuk segi tiga dan segi empat digabung dimasukan di bawah kepala pasien, duk segi tiga untuk menutup kepala pasien.

Pasang duk besar untuk menutup badan pasien Pasang duk kecil disebelah kanan dan kiri kepala pasien Pasang duk besar untuk lapisan badan yang kedua Semua duk dipiksasi dengan duk klem

Mendekatkan meja instrumen kedekat pasien dan mempersiapkan alatalat:

Memasang ESU Memasang section Kabel dan selang dipiksasi didaerah perut dan dengan aman serta terjangkau.

Langkah-langkah pembedahan:

Langkah Pembedahan (Alat / Bahan yang Digunakan) 1 2 3 Incici kulit leher Buka sub kutis Membuka fasia (Bisturi no 15 beserta tangkainya, pincet cirurgy. (Pincet cirurgy, kasa dan pean bengkok dan ESU (Pincet cirurgy, kasa, darem gas, pean bengkok,

ESU, kokher dan gunting jaringan 4 Membuka otot (Pean bengkok, pincet.

Exsplorasi tumor

(Elis klem, pean bengkok, ESU, pincet cirurgy,

gunting jaringan, suktion, kasa/darem gas. Pembuluh darah kecil dikoter sedangkan pembuluh darah besar dilakukan ligasi dengan ikat benang side 2/0. 6 7 8 9 Massa terangkat Pencucian luka Memasang drain Mengikat drain (Pemeriksaan PA (Nacl 0,9%, suction (Ngt no 16, pean bengkok, mes no 15. (Nedle holder, benag side 2/0, pincet cirurgy, jarum

cating dan gunting benang 10 Jahit otot jarum otot. 11 12 13 Jahit Fasia (Nedle holder, pincet cirurgy, gunting benang, dexson 2/0 (Nedle holder, pincet cirurgy, gunting benang, plain 2/0,

Jahit subkutis (Nedle holder, pincet cirurgy, gunting benang, dexson 2/0 Jahit kulit secara subkutikuler Nedle holder, pincet cirurgy, gunting benang, dexson 4/0

14 15 16 17

Membersihkan luka dan sekitarnya Tutup luka

Kasa basah

Sofratule, kasa steril, plester/hypapik.

Memasang penampung drain Botol plabot kosong Oprasi selesai Pasien dibereskan

C. 1. a. b. c.

Post Operasi: Cek alat dan bahan habis pakai: Linen kotor dimasukan ketempatnya. Cek alat,kasa dan darem gas, dan jarum eating Jarum dan bisturi dimasukan kedalam tempat khusus

d. e. 2. a. b. c.

Lakukan pencucian alat/instrumen Instrumen dikembalikan ke ruang seting alat Melepas gaun oprasi: Minta bantuan orang lain untuk melepsas ikatan tali gaun Melepas gaun oprasi dengan cara menarik kearah depan Melepas kedua tangan dan gulung gaun oprasi dari daerah tali ke daerah yang tidak menempel pada tubuh kita, sehingga akan terjadi posisi dimana gaun yang menempel pada tubuh kita berada diluar gulungan

d. e. 3.

Menggulung gaun oprasi dari daerah leher gaun kebawah Meletakkan gaun oprasi ketempat yang disediakan Pasien mulai sadar dilakukan exstubasi dan penghisapan lendir kemudian pasien dibawa ke ruang RR untuk observasi.

4.

Ruangan dibersihkan dengan dipel satu arah mulai dari pinggir ketengah dengan menggunakan cairan presept (0,2%).

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pembesaran (struma) thyroidea sedang lazim ditemukan, tampil dalam sekitar 10 persen dari semua wanita daam area geografi yang tidak kekurangan yodium. Kebanyakan struma seluruh dunia akibat defisiensi yodium, langsung atau akibat makan goitrogen dalam hal diet aneh pada area dunia tertentu. Keadaan klinik ini tampil tanpa kesulitan dalam diagnosis atau penatalaksanaan. Banyak bentuk lain pembesaran thyroidea yang menampilkan kesulitan dalam diagnosis dan

penatalaksanaan serta alogoritma klinik telah dibentuk untuk membantu pemeriksaan dan terapi. Apabila pada pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul maka pembesaran ini disebut struma nodosa. Struma nodosa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme disebut struma nodosa non toksik. Kelainan ini sangat sering dijumpai bahkan dapat dikatakan bahwa dari semua kelainan tiroid, struma nodosa non toksik merupakan kelainan yang paling sering ditemukan. Gondok endemik paling sering di daerah-daerah dengan defisiensi yodium. Penurunan produksi hormon tiroid mengahasilkan penongkatan TSH kompensatoar dengan akibat hiperplasia dan hipertropi kelenjar, serta keadaan eutiroid. Terutama pada wanita, umumnya timbul sekitar pubertas

3.2 Saran Diharapkan bagi mahasiswa keperawatan dapat menerapkan asuhan keperawatan kepada pasien struma serta impilkasi keperawatannya sehingga masalah dapat teratasi.

DAFTAR PUSTAKA Daucgh, patricik , at glance.2002. ilmu penyakit dalam. Jakarta : erlanga medicine

Sjamsuhidayat, R, Buku Ajar Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1998, hal 926-935.

Kaplan, Edwin. L, Thyroid and Parathyroid, in Principles of Surgery, New York, 1994, page : 1611-1621.

Johan, S. M. 2006. Nodul tiroid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FKUI

Djokomoeljanto,

R.

2006.

Kelenjar

tiroid,

hipotiroidisme,

dan

hipertiroidisme. Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid III, Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FKUI

Wijayahadi, Y., Marwowinoto, M., Reksaprawira., Murtedjo, U. 2000. Kelenjar Tiroid: Kelainan, Diagnosis dan Penatalaksanaan. Seksi Bedah Kepala & Leher, Bagian Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya: Jawi Aji Surabaya