Anda di halaman 1dari 25

ARTIKEL SISTEM ENDOKRIN PERAWATAN LUKA DM MENGGUNAKAN TERAPI BELATUNG

Disusun Oleh Kelompok 2b : 1. Kesya Bani 2. Monica Sukmaningtyas 3. Rangga Sandi Saputra 4. Stefani Mandasari 5. Trimita Ningsih (201111064) (201111080) (201111084) (201111102) (201111116)

S1 ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI KESEHATAN SANT ELISABETH SEMARANG 2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas berkat dan campur tangan-Nyalah, maka kami dapat menyelesaikan makalah sistem endokrin perawatan luka diabetes mellitus menggunakan terapi belatung ini dengan baik. Semoga apa yang kami tulis dan kami paparkan dalam makalah ini dapat dimengerti dan dipahami dengan baik oleh pembaca sehingga dapat bermanfaat bagi pembaca dalam menjaga dan meningkatkan status kesehatan dalam kehidupan sehari hari. Penulis menyadari bahwa makalah asuhan keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semarang, 31 Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang Masalah Tujuan Manfaat

BAB II ISI 2.1 2.2 2.3 Pengertian diabetes mellitus Terapi belatung Artikel terapi belatung

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Diabetes

mellitus

merupakan

suatu

penyakit

yang

diakibatkan

meningkatnya kadar glukosa dalam darah oleh sebab menurunnya produksi hormone insulin oleh pancreas. Karena kadar insulin yang menurun maka selain darah menjadi pekat karena kadar glukosa yang meningkat, darah yang mengandung nutrisi juga tidak bisa menembus membrane sel untuk memberi nutrisi dan oksigen, akibatnya sel-sel menjadi kekurangan nutrisi, bahkan mati, akibatnya jika terjadi luka maka akan sulit sembuh karena darah yang membawa factor pembekuan dll menjadi terhambat, akibatnya luka menjadi sulit sekali untuk sembuh. Terapi belatung sudah dikenal dari tahun 1920, digunakan untuk memakan jaringan kulit yang mati, selain itu belatung juga mengeluarkan cairan yang bisa digunakan untuk menghancurkan jaringan yang mati lalu memakannya sehingga luka menjadi cepat kering, belatung juga diduga dapat mengeluarkan zat anti infeksi. Diindonesia saat ini penderita diabetes mellitus juga semakin bertambah dari tahun ke tahun, kondisi merek diperparah dengan berbagai macam komplikasi, misalnya luka diabetes yang sulit sembuh, tidak jarang luka yang diderita sukar kering dan malah terjadi infeksi dan tidak jarang yang diamputasi, maka dalam makalah ini dijelaskan alternative terapi untuk menghindari risiko tinggi seperti disebutkan tadi.

1.2 Tujuan 1.2.1 Agar mahasiswa mengetahui manfaat belatung dalam perawatan luka terutama luka diabetes 1.2.2 Agar mahasiswa dapat menerapkan terapi belatung dlaam kehidupan sehari hari

1.3 Manfaat

1.3.1

Mahasiswa mengetahui manfaat belatung dalam perawatan luka terutama luka diabetes

1.3.2

Mahasiswa dapat menerapkan terapi belatung dalam kehidupan sehari hari

BAB II ISI

2.1 Diabetes Mellitus 2.1.1 Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner & Suddart ). Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, demam tanda tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. (Askandar, 2000). Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi, meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70 110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120 140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya.

2.1.2 Etiologi

Secara umum diabetes mellitus dapat terjadi karena kelebihan zat gula dalam darah yang biasanya mampu dikontrol oleh hormon insulin. tetapi secara khusus Penyebab diabetes belum diketahui secara pasti. 1. Diabetes Mellitus Tergantung Insulin (IDMM) a. Faktor genetic Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA ( Human Leucocyte Antigen ) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.

b. Faktor imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah olah sebagai jaringan asing. c. Faktor lingkungan Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autuimun yang dapat menimbulkan destuksi sel pancreas.

2. Diabetes Mellitus tak tergantung Insulin (NIDDM) Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin ( DMTTI ) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula mula mengikat dirinya kepada reseptor reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia ( Price,1995 ). Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin ( DMTTI ) atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak kanak. Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah: Umur

Umur

adalah

salah

satu

faktor

yang

paling

umum

yang

mempengaruhi individu untuk diabetes. Faktor Risiko meningkat secara signifikan setelah usia 45 dan meningkat secara dramatis setelah usia 65. Hal ini terjadi biasanya karena orangorang pada usia ini kurang aktif, berat badan akan bertambah dan massa otot akan berkurang sehingga menyebabkan disfungsi pankreas. Selain itu, kemampuan dapat tubuh

mempertahankan diri juga semakin berkurang sehingga daya tahan tubuh menurun. Hal ini mempermudah masuknya virus yang dapat merusak pankreas sebagai penghasil insulin.

b.

Obesitas Obesitas atau kegemukan juga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan diabetes. berat badan yang tidak seimbang dibandingkan

dengan tinggi seseorang merupakan faktor awal untuk terjadinya diabetes mellitus. hal tersebut sering terjadi pada penderita diabetes mellitus tipe 2 yang berusia 40 tahun. Jumlah lemak dalam tubuh yang berlebihan menyebabkan insulin tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

c.

Riwayat Keluarga Jika kedua orangtua memiliki diabetes type 2, ada kemungkinan bahwa hampir semua anak-anak mereka akan menderita diabetes. Jika kedua orangtua memiliki diabetes type 1, kurang dari 20 persen dari anak-anak mereka akan terserang diabetes mellitus type 1. Pada kembar diabetic, jika salah satu kembar mengembangkan diabetes type 2, maka hamper 100 persen untuk kembar yang lain juga akan berpotensi untuk terserang diabetes mellitus type 2.

2.1.3 Tanda dan gejala Gejala kencing manis atau yang biasa disebut Diabetes Melitus selain gejala khas juga disertai gejala umum. Diabetes melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia (kelebihan kadar gula dalam darah) yang berlangsung lama (kronik) disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada berbagai organ tubuh. Berikut gejala khas dari Diabetes Melitus yaitu:

Banyak makan (polifagia). Banyak minum (polidipsi). Banyak kencing (poliuria). Lemas. Berat Badan turun.

2.1.4 Fase Penyembuhan Luka Fase penyembuhan luka dimulai dari Fase inflamasi yang dimulai sejak terjadinya luka sampai hari ke-5. Segera setelah terjadinya luka, pembuluh darah yang putus mengalami konstriksi dan retraksi disertai reaksi hemostasis karena agregasi trombosit yang bersama jala fibrin membekukan darah. Komponen hemostasis ini akan melepaskan dan mengaktifkan sitokin yang meliputi Epidermal Growth Factor (EGF), Insulin-like Growth Factor (IGF), Plateled-derived Growth Factor (PDGF) dan Transforming Growth Factor beta (TGF-) yang berperan untuk terjadinya kemotaksis netrofil, makrofag, mast sel, sel endotelial dan fibroblas. Keadaan ini disebut fase inflamasi. Pada fase ini kemudian terjadi vasodilatasi dan akumulasi lekosit Polymorphonuclear (PMN). Agregat trombosit akan mengeluarkan mediator inflamasi Transforming Growth Factor beta 1 (TGF b1) yang juga dikeluarkan oleh makrofag. Adanya TGF b1 akan mengaktivasi fibroblas untuk mensintesis kolagen.Fase Proliferasi atau rekontruksi: berlangsung dari akhir masa inflamasi sampai kira-kira minggu ke-3. Fase ini ditandai dengan adanya proliferasi sel/pembelahan sel. Peran fibroblast sangat besar untuk menghasilkan struktur protein yang digunakan selama proses rekontruksi jaringan. Pada saat terjadi luka fibroblast akan aktif ke jaringan sekitar luka dan berproliferasi mengeluarkan beberapa substansi seperti kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin, dan

proteoglycans untuk rekontruksi jaringan baru. Pada fase ini juga terjadi proses pembentukan kapiler baru dalam luka atau disebut angiogenesis. Fibroblast dan angiogenesis merupakan proses yang terintegrasi dan dipengaruhi oleh substansi yang dikeluarkan oleh platelet dan makrofag (growth factor). Proses selanjutnya adalah epitelisasi, karena fibroblast mengeluarkan Keratinocyte Growth Factor (KGF). Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan di percepat oleh berbagai growth factor). Fase Maturasi atau remodelling dimulai pada minggu ke-3

setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblast sudah meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringan mulai berkurang karena pembuluh darah mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut dan puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan. Enzim kolagenase mengubah kolagen muda (gelatinous collagen) yang terbentuk pada fase proliferasi menjadi kolagen matang, lebih kuat, dan struktur yang lebih baik (proses re-modelling). Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan sehingga tidak terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, dan akan menurunkan kekuatan jaringan parut,luka selalu terbuka bila kekurangan kolagen. 2.1.5 Pengkajian Luka Diabetic 1. Lokasi dan Letak Luka Dapat dijadikan sebagai indikator terhadap kemungkinan penyebab terjadinya luka, sehingga kejadian luka dpt diminimalkan. Misalnya : Klien dengan letak luka di ibu jari kaki akibat

penekananan karena pengunaan sepatu yang sempit . 2. Stadium Luka Stadium luka dibedakan atas : a. Anatomi kulit :

Stadium I : kulit berwarna merah, belum tampak adanya lapisan epidermis yang hilang.

Stadium II : Hilangnya lapisan epidermis/lecet sampai batas dermis paling atas

Stadium III : rusaknya lapisan dermis bagian bawah hingga lapisan subkutan

Stadium IV : Rusaknya lapisan subkutan hingga otot dan tulang

b. Warna dasar Luka

Red/merah : (pink/merah/merah tua) disebut jaringan sehat,granulasi/epitelisasi, vaskularisasi.

Yellow/kuning : (kuning muda/kuning kehijauan/kuning tua/kuning kecoklatan) disebut jaringan mati yang lunak, fibrolitik, slough, avaskularisasi.

Black/hitam : jaringan nekrosis, avaskularisasi

c. Stadium Wagner untuk Luka Kaki Diabetik a. Superficial Ulcers

Stadium 0 : tidak terdapat lesi. Kulit dalam keadaan baik, tapi dengan bentuk tulang kaki yang

menonjol/charcot arthropathies

Stadium I : Hilang lapisan kulit hingga dermis dan kadang kadang tampak tulang menonjol

3. Deep Ulcers

Stadium II : Lesi terbuka dengan penetrasi ke tulang atau tendon (dengan goa)

Stadium III : Penetrasi dalam , osteomyelitis, plantar abses atau infeksi hingga tendon

4. Gangrene

Stadium IV : Ganggrene sebagian, menyebar hingga sebagian dari jari kaki, kulit sekitar selulitis, ganggrene lembab/kering

Stadium V : Seluruh kaki dalam kondisi nekrotik/ganggrene.

5. Bentuk dan Ukuran Luka a. Pengukuran Tiga dimensi Pengukuran tiga dimensi dilakukan dengan mengkaji panjang-lebar-kedalaman dan dengan menggunakan lidi watten steril untuk menilai ada tidaknya goa (sinus tracks/undermining) dengan mengukur berputar searah jarum jam.

b. Photograp

Serial photograp dapat memberikan gambaran proses penyembuhan luka secara komprehensif. (Berikan informed consent sebelum mengambil gambar) 6. Status Vaskuler Menilai status vaskuler berhubungan dengan pengangktn penyebaran oksigen yang adekwat ke seluruh lap sel dan merupakan unsur penting dalam penyembuhan luka. a. Palpasi Palpasi pada daerah tibial dan dorsal pedis untuk menilai ada tidaknya denyut nadi, klien lanjut usia kadang sulit diraba denyut nadinya dan dapat menggunakan alat stetoskop ultrasonik dopler. Tingkatan denyut nadi :

: tidak teraba

1 + : ada denyut nadi sebentar 2 + : teraba tapi kemudian menghilang 3 + : normal 4 + : Sangat jelas

Capillary Refill Waktu pengisian kapiler dievaluasi dengan member tekanan pada ujung jari, setelah tampak kemerahan segera lepaskan tekanan dan lihat apakah ujung jari

segera kembali ke kulit normal. Pada beberapa kondisi menurun atau hilangnya denyut nadi,pucat,kulit dingin kulit jari yang tipis dan rambut yg tdk tumbuh mrpkan indikasi askemia (arterial insufficiency) dengan capillary refill lebih dr 40 detik. Capillary Refill Time (CRT) :

Normal Iskhemia sedang Iskhemia berat Iskhemia sangat berat

: 10 15 detik : 15 25 detik : 25 - 40 detik : > 40 dtk

Edema

Dilakukan dengan mengukur lingkar pada midle ankle dan dorsum kaki kmd dilanjujkan dengan menekankn jari pada tulang yang menonjol di tibia atau medial malleolus. Kulit yang edema akan tampak lebih coklat kemerahan mengkilat. Tingkatan Edema :

0 inch 1 + (milld) inch 2 + (moderate) 1 inch 3 + (severe)

Temperatur Kulit Memberikan informasi ttg kondisi perfusi jaringan dan fase inflamasi. Caranya dengan menempelkan punggung

tangan pd kulit sekitar luka dan memban- dingkannya dengan kulit pada bagian lain yang sehat. 7. Status Neurologik a. Fungsi motorik (kelemahan otot)

Perubahan bentuk kaki : jari2 kaki menekuk atau mencengkeram dan telapak kaki menonjol. Mengakibatkan penggunaan sandal /sepatu berubah. Biasanya akan terjadi penekanan terus menerus pada ujung2 tulang kaki shg menimbulkan kalus yang kmd menjadi luka.

b. Fungsi Sensorik Kehilangan sensasi pada ekstremitas / trauma tidak terasa.

c. Fungsi Autonomik

Keringat berkurang, kulit kering rusak dan timbul fisura. Penurunan saraf simpatik (perubahan regulasi aliran darah.

8. Infeksi Pseudomonas aeruginase dan staphylococcus aureus

merupakan anorganisme patogenik yang paling sering muncul saat

perawatan luka. Penilaian terhadap ada tdk nya infeksi pada luka didasari pada pengertian bahwa seluruh jenis luka kronik adalah jenis luka yang terkonta minasi oleh bakteri tapi tidak semuanya terinfeksi. Pada keadaan luka terinfeksi akan memperlihatkan adanya : a. Sistemik tubuh : bertambahnya jumlah lekosit melebihi

batas normal yang diikuti dengan peningkatan suhu tubuh. b. Lokal infeksi : jumlah eksudat bertambah banyak, bau tidak sedap, penurunan vaskularisasi (jar nekrosis, slough), eritema/kemerahan pada kulit sekitar luka, panas, nyeri. Infeksi meluas dg cepat hingga ke tulang.

2.2

Terapi belatung Belatung terdiri dari beberapa jenis, ada yang bersifat merugikan seperti belatung lalat buah tetapi ada pula yang berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Ternyata belatung sangat bermanfaat bagi manusia khususnya dalam hal penyembuhan luka. Sejarah penggunaan belatung dalam perawatan luka telah diketahui selama beberapa abad. Banyak dokter militer mengamati bahwa tentara dengan luka berulat menjadi lebih baik bila dibandingkan dengan jenis luka yang sama tanpa ulat. Dibalik aromanya yang tidak sedap belatung menyimpan tiga kekuatan besar dalam hal penyembuhan luka yaitu: debridement, desinfeksi, dan mempercepat pertumbuhan jaringan baru. Belatung dapat dijadikan sebagai debridement atau disebut juga sebagai Magot Debriment Therapy ( MDT ) sebab belatung dapat memakan jaringan mati tanpa mengganggu jaringan sehat. Belatung memiliki sepasang taring pada rahangnya yang digunakan untuk bergerak dan menempel pada luka, aksi inilah yang memungkinkan pelepesan jaringan nekrotik dari lukaselain itu belatung juga mengeluarkan enzim proteolitik yang mampu melunakkan jaringan nekrotik sehingga dengan mudah ditelan dan didegradasi dalam usus belatung. Sebagai desinfeksi karena kemampuannya mensekresi enzim yang bisa merubah pH luka sehingga tidak kondusif lagi untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri pada luka termasuk mendegradasi biofilm pada

luka dan mencerna Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA). Biofilm yaitu mantel polisakarida yang mampu melindungi bakteri dari antiseptic, antimicroba, ataupun antibiotic. Perlindungan ini menyebabkan bakteri luka menjadi resisten 1000 kali lipat dibanding luka tanpa biofilm. Hal inillah menjadi kelebihan belatung seiring dengan semakin

resistennya penggunaan antibiotic. Keuntungan ketiga penggunaan belatung dalam perawatan luka yaitu kemampuannya menstimulasi penyembuhan luka sehingga mempercepat proses penyembuhan luka. Aksi belatung dalam mencerna jaringan nekrotik luka dipercaya dapat menstimulasi pertumbuhan jaringan granulasi pada luka. Seperti kita ketahui pertumbuhan jaringan granualsi merupakan fase terpenting dari proses penutupan luka. Tetapi ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan belatung sebagai penyembuhan luka. Yang pertama belatung tidak boleh digunakan pada luka yang berhubungan langsung dengan sistem saraf pusat, pembuluh darah besar, rongga atau organ-organ vital. Yang kedua gunakan belatung pada luka yang mempunyai kelembaban jangan gunakan pada luka yang kering. Karena belatung membutuhkan lingkungan yang lembab untuk dapat bertahan hidup, begitu juga proses penyembuhan luka, lingkungan lembab mendukung percepatan proses penyembuhan. Pada fistula atau luka dengan undermining (luka yang bergoa) menjadi sulit untuk menerapkan belatung sebab sulit

dalam observasi dan pelepasan. Dan yang ketiga yaitu belatung berpotensi menimbulkan reaksi alergi akibat sekresi enzim. Potensial komplikasi lain yang dapat terjadi adalah toksisitas ammonia yang dapat menginduksi ensefalopati pada pasien dengan gagal hati.

Dalam meletakkan belatung pada wound bed (bantalan luka) harus secara hati-hati, jangan sampai kontak dengan kulit sekitar luka sebab dapat menyebabkan kerusakan kulit yang sehat akibat sekresi enzim proteolytic (Ramundo, 2007). Lembaran hydrocolloid kemudian dilubangi seukuran dengan dimensi luka. Lembaran hydrocolloid ini berfungsi untuk memproteksi kulit sekitar luka. Larva Belatung steril kemudian dimasukkan ke dalam luka sebanyak 10 larva per centimeter (Hinshaw Janet, 2000). Luka dan larva belatung steril kemudian ditutup dengan meshnet sebagai balutan primer (primary dressing). Sebagai sekundary dressing dapat digunakan padding (seperti foam) untuk menyerap dan menyimpan eksudat (Sherman, 1997), saat ini beberapa produk sudah mampu merubah eksudat luka menjadi partikel-partikel gel. Balutan yang mengandung larva belatung ini sebaiknya dipertahankan hingga 2-3 hari (Sherman, 2008) dan dikeluarkan dari luka melalui irigasi. Apabila observasi luka masih memperlihatkan adanya jaringa nekrotik atau slough, aplikasi balutan larva belatung dapat diulangi hingga wound bed preparation sudah optimal, yang ditandai dengan bantalan luka yang bersih dan penampakan jaringan sehat.

2.3 Artikel terapi belatung Belatung Obati Luka Diabetes

Ratusan ekor belatung yang dibiarkan selama dua hari di atas luka ternyata mampu sembuhkan luka akibat diebetes.Jumlah pengidap diabetes di Indonesia menurut data WHO pada tahun 2009 mencapai 8 juta jiwa dan diprediksi akan meningkat menjadi lebih dari 21 juta jiwa pada tahun 2025. Itu yang membuat Indonesia menempati peringkat empat negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Survey terhadap pengidap diabetes di Jakarta menunjukkan bahwa 1 dari 8 orang mengidap diabetes. Baik pria maupun wanita, tua maupun muda, tinggal di kota maupun desa, memiliki risiko diabetes yang sama. Parahnya, pasien diabetes umumnya mengalami luka yang sulit disembuhkan. Beberapa pasien bahkan harus bertahan dengan kondisi tersebut selama bertahun-tahun. Jika dibiarkan, luka akan berkembang menjadi gangren dan terpaksa harus amputasi. Sebenarnya banyak obat diabetes, namun tidak ada obat yang mampu secara efektif menyembuhkan. Baru-baru ini para peneliti dari Hawaii menemukan cara yang diyakini dapat menyembuhkan secara cepat dan efektif pada luka akibat diabetes, yaitu menggunakan belatung. Belatung, termasuk golongan binatang yang menjijikan. Para pakar kesehatan mencoba menggunakan belatung sebagai terapi bagi penderita diabetes yang mengalami luka. Caranya melalui proses debridement yaitu dokter lebih dulu mengangkat jaringan yang terinfeksi atau mati dengan pisau bedah atau enzim. "Pasien diabetes ini benar-benar membutuhkan perawatan yang lebih baik untuk menyelamatkan anggota badan mereka. Pengobatan debridement menggunakan belatung sangat efektif. Hanya dengan satu kali pengobatan, luka-lukanya mulai membaik," kata Dr Lawrence Eron dari Kaiser Hospital dan University of Hawaii di Honolulu, seperti dikutip Reuters, Senin (26/9/2011).

Mengurung Belatung Eron melakukan uji coba terhadap 37 penderita diabetes. Awalnya penderita diabetes yang mengalami luka pada tangan, kaki dan bagian badang lainnya merasa was-was karena luka itu diberi belatung. Para dokter menempelkan 50 sampai 100 belatung spesies Lucilia sericata pada luka dan membiarkannya selama dua hari saat pertama kali. Prosedur ini diulangi hingga rata-rata lima kali. Dalam uji cobanya itu mereka mengurung belatung dalam bahan seperti jala dan toking nilon. Kemudian menyegel kandang belatung agar tidak keluar. Mengejutkan, sebanyak 20 pasien berhasil sembuh. Kesembuhan tersebut diidentifikasi dengan sembuhnya infeksi, jaringan mati terhapus seluruhnya, pembentukan jaringan baru yang kuat pada luka dan lebih dari tiga perempat luka telah menutup. Lima luka infeksi yang sebelumnya tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik, berhasil disembuhkan dengan terapi belatung. Sembilan luka infeksi akibat bakteri, enam di antaranya berhasil sembuh dengan terapi belatung. Sepuluh kasus infeksi akibat streptokokus juga berhasil diobati semuanya. Belatung mengeluarkan suatu zat ke dalam luka yang mencairkan jaringan mati kemudian menelannya. Luka-luka dibersihkan dan zat lainnya yang terkandung dalam cairan belatung memungkinkan terbentuknya jaringan granulasi, yaitu jenis jaringan ikat yang terbentuk selama penyembuhan luka.Sayangnya, tidak semua pasien berhasil disembuhkan dengan terapi belatung tersebut. Pasien yang gagal justru mengalami radang yang berlebihan di sekitar luka dan mengeluarkan darah serta mengalami infeksi tulang.

2.4 analisa kelompok Berikut manfaat belatung: 1. Belatung dapat digunakan untuk debridement atau dikenal sebagai Maggot Debridement Therapy (MDT) pada luka diabetes mellitus, dekubitus, luka post partum, osteomielitis, luka infeksi setelah operasi payudara, luka tembak terinfeksi, luka bakar, luka operasi, 2. Menyiapkan pasien bagi operasi pemindahan kulit kondisi pembersihan luka yang lebih cepat berarti pasien dapat dipindahkan ke ruang operasi lebih cepat pula. Belatung hanya memakan jaringan yang mati dan membusuk, sehingga luka jadi bersih. Hewan itu tak menggali jauh ke dalam daging yang sehat, dan memilih untuk saling memangsa ketika mereka kehabisan makanan.

3.

Belatung juga memiliki sepasang taring pada rahangnya yang digunakan untuk bergerak dan menempel pada luka, aksi inilah yang memungkinkan pelepesan jaringan nekrotik dari luka

4.

selain itu belatung juga mengeluarkan enzim proteolitik yang mampu melunakkan jaringan nekrotik sehingga dengan mudah ditelan dan didegradasi dalam usus belatung.

5.

belatung adalah desinfeksi luka oleh karena kemampuannya mensekresi enzim yang bisa merubah pH luka sehingga tidak kondusif lagi untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri pada luka termasuk mendegradasi biofilm pada luka dan mencerna. Belatung dalam perawatan luka yaitu kemampuannya menstimulasi penyembuhan luka sehingga mempercepat proses penyembuhan luka. Aksi belatung dalam mencerna jaringan nekrotik luka dipercaya dapat menstimulasi pertumbuhan jaringan granulasi pada luka Pengelolaan kaki diabetes dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu pencegahan terjadinya kaki diabetes dan terjadinya ulkus (pencegahan primer sebelum terjadi perlukaan pada kulit) dan pencegahan agar tidak terjadi kecacatan yang lebih parah (pencegahan sekunder dan pengelolaan ulkus/gangren diabetik yang sudah terjadi).

Upaya Pencegahan Primer Perawatan kaki merupakan sebagian dari upaya pencegahan primer pada pengelolaan kaki diabetic yang bertujuan untuk mencegah terjadinya luka. Upaya pencegahan primer antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Penyuluhan kesehatan DM, komplikasi dan kesehatan kaki Status gizi yang baik dan pengendalian DM Pemeriksaan berkala DM dan komplikasinya Pemeriksaan berkala kaki penderita Pencegahan/perlindungan terhadap trauma-sepatu khusus Higiene personal termasuk kaki Menghilangkan factor biomekanis yang mungkin menyebabkan ulkus

Pencegahan sekunder Pengelolaan holistic ulkus/gangren diabetic Pengelolaan ulkus diabetik yang optimal:

Kontrol metabolik. Kadar glukosa darah pasien diusahakan agar selalu senormal mungkin untuk memperbaiki berbagai faktor terkait hiperglikemia yang dapat menghambat penyembuhan luka. Umunya diperlukan insulin untuk menormalkan kadar gula darah. Status nutrisi harus diperhatikan dan diperbaiki. Karena nutrisi yang baik justru membantu kesembuhan luka. Berbagai hal lain juga harus diperhatikan dan diperbaiki, seperti kadar albumin serum, kadar HB dan kadar oksigenasi jaringan. Demikian juga fungsi ginjalnya. Semua faktor tersebut akan dapat menghambat kesembuhan luka . Kontrol vaskular. Kedaan vaskular yang buruk tentu akan menghambat kesembuhan luka. Umumnya pembuluh darah perifer dapat dikenali melalui berbagai cara sederhana seperti: warna dan suhu kulit, perabaan arteri dorsalis pedis dan arteri tibialis posterior serta ditambah pengukuran tekanan darah. Disamping itu saat ini juga tersedia berbagai fasilitas mutakhir untuk mengevaluasi kedaan pembuluh darah dengan cara non-invasif maupun yang invasif dan semiinvasif, seperti pemeriksaan ankle brachial index, ankle pressure, toe pressure, TcPO2,dan pemeriksaan echodopplerdan kemudian pemeriksaan arteriografi. Setelah dilakukan diagnosis keadaan vaskulernya, dapat dilakukan pengelolaan untuk kelainan pembuluh darah perifer dari sudut vaskuler yaitu berupa: Modifikasi faktor Resiko - Stop merokok - Memperbaiki berbagai faktor resiko terkait aterosklerosis hiperglikemia hipetensi dislipidemia

Walking program Latihan kaki merupakan domain usaha yang dapat diisi oleh jajaran rehabilitasi medik. Dasar-dasar dari pengobatan diabetes adalah kepatuhan terhadap diit, olahraga, dan obat-obat antibiotika. Mengatur makanan ber-diit merupakan usaha pertama dalam mengontrol penyakit ini disamping olahraga dan obat-obatan. Terapi farmakologis Jika mengacu pada berbagai penelitian yang sudah dikerjakan pada kelaian akibat aterosklerosis ditempat lain (jantung, otak), mungkin obat seperti aspirin dan lain sebagainya yang jelas dikatakan bermanfaat, akan bermanfaat pula untuk pembuluh darah kaki penyandang DM. Tetapi sampai saat ini belum ada bukti yang cukup kuat untuk menganjurkan pemakaian obat

secara rutin guna memperbaiki pasien pada penyakit pembuluh darah kaki penyandang DM. Revaskularisasi Jika kemungkinan proses penyembuhan luka rendah atau jikalau ada klaudikasio intermiten yang hebat, tindakan revaskularisasi dapat dianjurkan. Sebelum tindakan revaskularisasi diperlukan pemeriksaan arteriografi untuk mendapatkan pembuluh darah yang lebih jelas, sehingga dokter ahli baedah vaskular dapat lebih mudah melakukan rencana tindakan dan mengerjakanya. Dengan berbagai tekhnik bedah tersebut, vaskularisasi daerah distal dapat diperbaiki, sehingga hasil pengelolaan ulkus diharapkan lebi baik. Paling tidak faktor vaskular lebih memadai, sehingga kesembuhan luka tinggal tergantung pada berbagai faktor lain yang juga masih banyak jumlahnya. Terapi hiperbarik dilaporkan juga bermanfaat untuk memperbaiki vaskularisasi dan oksigenasi jaringan luka pada kaki diabetes sebagai terapi ajuvan. Wlaupun demikian masih banyak kendala untuk menerapkan terapi hiperbarik secara rutin pada pengelolaan umum kaki diabetes. Upaya pencegahan bagi penyandang diabetes yang belum mengalami komplikasi kaki diabetik dapat dilakukan dengan cara mengendalikan kadar gula darah selalu mendekati nilai normal. Hal ini karena komplikasi diabetes dapat dicegah, ditunda, atau diperlambat dengan mengendalikan kadar gula darah. Hal terpenting yang perlu diperhatikan setiap penyandang diabetes adalah mencegah terjadinya luka pada kaki, sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi kaki diabetik dapat dicegah. Pada akhirnya, kemungkinan infeksi yang meluas sampai berkembang menjadi gangren dan risiko amputasi dapat dihindari.

Beberapa tindakan bedah khusus diperlukan dalam pengelolaan kaki diabetik ini, sesuai indikasi dan derajat lesi yang dijumpai seperti : 1. Insisi : abses atau selullitis yang luas 2. Eksisi : pada kaki diabetik derajat I dan II 3. Debridement/nekrotomi : pada kaki diabetik derajat II, III, IV dan V 4. Mutilasi : pada kaki diabetik derajat IV dan V 5. Amputasi : pada kaki diabetik derajat V

Perawatan penderita DM selain memperhatikan gizi yang seimbang sesuai kebutuhan zat gizi, olahraga teratur, jadwal pengaturan makan juga harus diperhatikan adalah kebersihan diri terutama perawatan pada bagian perifer dari tubuh yaitu tangan dan kaki. Oleh karena itu sangat penting bagi penderita untuk menjaga dari kemungkinan luka terkena pisau, gunting, paku atau lainnya. Penderita DM beresiko terhadap ulkus diabetik karena ; sirkulasi darah kaki kurang baik, indera rasa kedua kaki berkurang sehingga kaki mudah terluka, daya tahan tubuh terhadap infeksi menurun.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Belatung ternyata menyimpan tiga kekuatan besar dalam proses penyembuhan luka, yaitu: debridement, desinfeksi, dan mempercepat pertumbuhan jaringan baru. Belatung dapat digunakan untuk debridement atau dikenal sebagai Maggot Debridement Therapy (MDT) sebab belatung dapat memakan jaringan mati (nekrotik) tanpa mengganggu jaringan sehat. Belatung memiliki sepasang taring pada rahangnya yang digunakan untuk bergerak dan menempel pada luka, aksi inilah yang memungkinkan pelepesan jaringan nekrotik dari luka selain itu.belatung juga mengeluarkan enzim proteolitik yang mampu melunakkan jaringan nekrotik sehingga dengan mudah ditelan dan didegradasi dalam usus belatung. Desinfeksi luka oleh karena kemampuannya mensekresi enzim yang bisa merubah pH luka sehingga tidak kondusif lagi untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri pada luka termasuk mendegradasi biofilm pada luka dan mencerna Hal inillah menjadi kelebihan belatung seiring dengan semakin resistennya penggunaan antibiotic. Penggunaan belatung dalam perawatan luka yaitu kemampuannya menstimulasi penyembuhan luka sehingga mempercepat proses penyembuhan luka. Aksi belatung dalam mencerna jaringan nekrotik luka dipercaya dapat menstimulasi pertumbuhan jaringan granulasi pada luka (Prete, 1997). Seperti kita ketahui pertumbuhan jaringan granualsi merupakan fase terpenting dari proses penutupan luka.Tapi penggunaan belatung juga harus memperhatikan indikasi dan kontraindikasi, karena luka terdiri dari beberapa jenis dan ada yang tidak cocok bila menggunakan terapi belatung 3.2 Saran Dengan pembuatan makalah ini kita sebagai mahasiwa keperawatan diharapkan menjadi lebih mengetahui tentang indikasi dan kontra indikasi penggunaan terapi belatung pada luka terutama luka pada pasien diabetes

mellitus, sehingga yang kita dapatkan adalah hasil positif bukan malah memperburuk luka tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Gitarja,W.Perawatan Luka Diabetes.Cetakan kedua.Bogor : Wocare Pubhlising.Juli 2008 http://www.metropostonline.com/2011/09/belatung-obati-luka-diabetes.html http://health.detik.com/read/2011/09/26/083113/1730124/763/terapi-belatungsembuhkan-luka-akibat-diabetes