Anda di halaman 1dari 14

KLASIFIKASI Dalam buku teks forensik, klasifikasi yang sangat berbeda ditemukan (Gambar ?).

Dalam buku teks oleh DiMaio dan DiMaio, kematian akibat asfiksia dibagi menjadi tiga kelompok besar: sufokasi (suffocation), penjeratan (strangulation), dan asfiksia akibat bahan kimiawi (Gambar A). Sebuah klasifikasi sangat mirip yang disajikan dalam buku teks neuropatologi forensik oleh Oehmichen dkk yang membedakan hanya penambahan tenggelam (drowning) sebagai bentuk sufokasi (suffocation) (Gambar B). Dalam sebuah artikel oleh Azmak, klasifikasi oleh DiMaio dan DiMaio juga digunakan, tetapi dengan penambahan tenggelam (drowning) sebagai kelompok keempat asfiksia bukan sebagai subtipe dari sufokasi (suffocation) (Gambar C). Dalam buku teks oleh Shkrum dan Ramsay, Klasifikasi berdasarkan tingkat obstruksi dari asfiksia mekanik asfiksia diusulkan (Gambar D). Yang terakhir ini berbeda dari klasifikasi yang diilhami DiMaio dan DiMaio. Yang paling jelas adalah perbedaan dalam konsep asfiksia mekanik: istilah ini digunakan dengan pengertian yang terbatas oleh DiMaio dan DiMaio, yang mengacu pada bentuk asfiksia oleh tekanan pada bagian luar tubuh yang mencegah respirasi, sedangkan istilah yang sama digunakan dalam pengertian yang lebih luas oleh Shkrum dan Ramsay, yaitu meliputi segala bentuk asfiksia di mana terjadi gangguan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang disebabkan oleh cara mekanis. Sesuai dengan penulis terdahulu, buku teks oleh Ksatria juga menggunakan istilah asfiksia mekanik dalam pengertian yang lebih luas, tetapi menyajikan daftar definisi bukannya klasifikasi semata. Sama halnya, di bawah label '' kematian biasanya dimulai oleh hipoksik hipoksia atau anoksik anoksia'', buku teks oleh Gordon dkk menjelaskan ciri perbedaan jenis asfiksia tanpa ada upaya untuk mengkategorikannya. Pada akhirnya, buku teks oleh Spitz (Gambar E) dan yang lain oleh Fisher dan Petty (Gambar F) menggambarkan dua klasifikasi lainnya yang sangat berbeda dari kematian akibat asfiksia.^

Gambar. Klasifikasi yang berbeda dari pengelompokan asfiksia ditemukan di dalam literatur forensik, (A) Buku teks oleh DiMaio dan DiMaio, (B) Buku teks oleh Oehmichen dkk, (C) Studi oleh Azmak, (D) Buku teks oleh Shkrum dan Ramsay, (E) Buku teks oleh Spitz, (F) Buku teks oleh Fisher dan Petty.^ Maka diusulkan untuk mengklasifikasikan asfiksia dalam konteks forensik dalam empat kategori utama: sufokasi (suffocation), strangulasi (strangulation), asfiksia mekanik, dan tenggelam (drowning). Suffocation dibagi lagi dalam pembekapan (smothering), tersedak (choking), dan ruang yang tertutup rapat (confined spaces)/ terjebak dalam ruang kedap udara (entrapment)/ kekurangan oksigen (vitiated atmosphere). Strangulation mencakup tiga bentuk yang terpisah: penjeratan (ligature strangulation), gantung (hanging), dan cekik (manual strangulation). Adapun asfiksia mekanik mencakup asfiksia posisional serta asfiksia traumatik. Definisi masing-masing kategori disajikan pada tabel berikut.^

Tabel. Definisi istilah-istilah dalam klasifikasi terpadu yang diusulkan.^ Istilah Sufokasi (suffocation) Definisi Sebuah istilah yang luas mencakup berbagai jenis asfiksia seperti lingkungan dengan defisiensi oksigen (vitiated atmosphere) dan pembekapan (smothering), terkait dengan Pembekapan kekurangan oksigen Asfiksia oleh terhalangnya udara pada jalan napas di atas

(smothering) epiglotis, termasuk hidung, mulut dan faring Tersedak (choking) Asfiksia oleh terhalangnya udara pada jalan napas di bawah Confined vitiated atmosfer Strangulasi (strangulation) Penjeratan (ligature strangulation) Gantung (hanging) epiglotis Asfiksia dalam atmosfer yang tidak memadai oleh

spaces/entrapment/ pengurangan oksigen, penggantian oksigen oleh gas lain atau gas yang menyebabkan gangguan kimia terhadap pengambilan oksigen dan pemanfaatannya Asfiksia oleh penutupan pembuluh darah dan/ atau jalan napas pada leher sebagai akibat dari tekanan dari luar pada leher Sebuah bentuk strangulasi dimana tekanan pada leher disebabkan oleh jerat yang menjadi erat akibat kekuatan yang lain daripada berat badan korban Sebuah bentuk strangulasi dimana tekanan pada leher disebabkan oleh jerat yang menjadi erat akibat gravitasi Cekik (manual strangulation) Asfiksia mekanik Asfiksia posisional atau asfiksia postural Asfiksia traumatik Tenggelam (drowning) terhadap berat badan atau bagian tubuh korban Suatu bentuk pencekikan yang disebabkan oleh tekanan dari luar pada struktur leher dengan menggunakan satu atau kedua tangan, lengan bawah atau anggota badan lainnya Asfiksia oleh terbatasnya gerakan pernapasan, baik oleh karena posisi tubuh atau oleh karena penekanan dada dari luar Suatu jenis asfiksia dimana posisi individu membahayakan terhadap kemampuannya untuk bernapas Suatu jenis asfiksia yang disebabkan oleh karena tekanan dari luar pada dada akibat benda berat Suatu jenis asfiksia akibat terbenam dalam cairan, biasanya air

Gambar. Klasifikasi terpadu yang diusulkan dari pengelompokan asfiksia dalam konteks forensik.^ ^Sauvageau A, Boghossian E. Classification of asphyxia: the need for standardization. J Forensic Sci 2010;55(5):1259-67.

Asfiksia Posisional Asfiksia posisional didefinisikan sebagai asfiksia yang disebabkan karena posisi yang tidak biasa dari tubuh, yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mengembangkan dinding dada, yang mengganggu ventilasi paru, sehingga menyebabkan kegagalan pernapasan.^ Juga berbagai posisi tubuh dapat menghasilkan sumbatan jalan napas (asfiksia posisional) seperti halnya penumpang kendaraan bermotor terjebak setelah tabrakan atau orang mabuk pingsan lalu meluncur masuk pada posisi yang janggal yang mencegah pengembangan dada dan pertukaran udara.^^

Gambar. Di kasus lain dari asfiksia posisional, pemuda yang mabuk terjatuh ke area seperti lubang, di mana lehernya terganjal diantara batang pohon berbentuk "V" dari, menutup jalan napasnya dan/ atau suplai darah ke kepala.^ ^Dolinak D, Matshes EW. Asphyxia. In: Dolinak D, Matshes EW, Lew EO, editors. Forensic pathology: principles and practice. Amsterdam: Elsevier Academic Press, 2005;208-9 ^^Catanese CA, Bollinger BK. Asphyxia. In: Catanese CA. Color Atlas of Forensic Medicine and Pathology. USA: CRC Press, 2010:373 Variasi asfiksia posisional telah dijelaskan pada keadaan berikut:** Posisi kepala di bawah (pengereman ke belakang, "terbalik") o Berbeda halnya dengan posisi tegak, di mana pernapasan dada dominan, seseorang posisi kepala di bawah memiliki keterbatasan pada pergerakan

dinding dada. Dalam kasus terbaliknya kendaraan, organ-organ visceral abdomen menekan diafragma, memperpanjang fase inhalasi. Awalnya, frekuensi pernafasan meningkat untuk melakukan kompensasi. Pada akhirnya, hipoksia terjadi kemudian karena penurunan pergerakan dinding dada karena kelelahan otot pernapasan. Penurunan keefektifan otot pernapasan berarti kemampuan tekanan intratorakal untuk memungkinkan aliran balik pembuluh darah vena efektif ke jantung berkurang. Selain itu, volume darah bergeser ke kepala, di mana pembuluh darah vena yang kembali ke jantung tidak efisien. Aliran darah yang berkurang nantinya menyebabkan kelelahan otot pernapasan dan pada akhirnya menyebabkan henti jantung. o Posisi kepala di bawah menyebabkan kematian pada kelinci dalam setengah hari. penurunan dan ketidakteraturan denyut nadi diamati pada sukarelawan manusia. Perkiraan waktu sampai kematian pada manusia (misalnya penerjun payung, penumpang di dalam kendaraan yang terbalik) berkisar dari beberapa jam sampai satu hari. o Posisi trendelenburg dalam klinisi memiliki efek pada fungsi jantung dan paru.

Gambar. Asfiksia posisional. Pengereman ke belakang diikuti terbaliknya kendaraan (mobil). Leher atau badan mengalami hiperfleksi sedangkan kepala di bawah atau duduk tegak lurus (misalnya, leher hiperfleksi menutupi trakeostomi, gondok menutupi saluran napas) menyebabkan obstruksi saluran pernapasan. badan tertekuk di atas objek (misalnya, tepi bak mandi) membatasi pergerakan diafragma dan dada Leher atau dada tertekan (misalnya, fleksi leher dari terjebak dalam ranjang Tidur dalam posisi tengkurap merupakan faktor risiko kematian akibat SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) Penemuan Postmortem: Asfiksia Posisional Sebuah kasus dari asfiksia posisional biasanya memiliki beberapa temuan fisik. Karena orang yang sudah meninggal telah dipindahkan, penggambaran akurat tentang posisi semula di tempat kejadian adalah penting dalam menentukan penyebab kematian. Penyebab lain dari kematian perlu disingkirkan. Jika orang tersebut ditemukan dengan kepala di bawah, kemudian kebiruan terlihat di wajah, leher, dan dada bagian atas. kongesti pada daerah kepala dan pembengkakan dicatat. Ada hubungan dengan peteki pada kulit di area kepala dan pada mata tetapi dapat pula tidak ditemukan. Cedera pada kulit akibat trauma tumpul yang menunjukkan adanya perlawanan dapat ditemukan. Pada pemeriksaan dalam, bisa ditemukan kongesti pada dasar lidah, epiglotis, dan trakea. kongesti pada otak dan paru juga diamati. Memar pada dinding dada, diafragma, area sekitar pankreas, dan limpa konsisten dengan pengereman pada area abdomen.** **Shkrum MJ, Ramsay DA. Asphyxia. In: Karch SB, series editor. Forensic pathology of trauma: common problems for the pathologist. Totowa, NJ: Humana Press, 2007;139-44

Asfiksia Traumatik Asfiksia traumatik pertama kali dijelaskan pada tahun 1837 oleh Ollivier, yang melihat individu yang hancur sampai mati selama kekerasan massa. Informasi tentang kondisi dari kematian yang membantu dalam menentukan penyebab kematian, terutama ketika temuan dari hasil pemeriksaan kurang.^ Dalam kasus di mana ada kompresi yang hebat pada dada (biasanya dari sesuatu besar, benda berat), istilah asfiksia traumatik digunakan, meskipun istilah asfiksia mekanik juga akan sesuai. Dalam kasus asfiksia traumatik, kekuatan dari tekanan yang hebat diterapkan secara langsung ke dada, menghambat respirasi (seperti pada orang yang terjepit di bawah sebuah benda yang berat misalnya dijatuhkan bagian dari alat-alat perkakas), dan individu biasanya tidak memiliki cedera traumatik dalam yang berarti. Namun demikian, dalam beberapa kasus, patah tulang rusuk dan luka lainnya telah dilaporkan.^

Gambar. Wanita muda yang ditunjukkan pada gambar di atas terjebak di bawah kendaraan bermotor (mobil) setelah terguling.^^ ^Shkrum MJ, Ramsay DA. Asphyxia. In: Karch SB, series editor. Forensic pathology of trauma: common problems for the pathologist. Totowa, NJ: Humana Press, 2007;14449 ^^Dolinak D, Matshes EW. Asphyxia. In: Dolinak D, Matshes EW, Lew EO, editors. Forensic pathology: principles and practice. Amsterdam: Elsevier Academic Press, 2005;208-9 Kompresi yang sangat hebat atau yang sampai meremukkan dada, perut bagian atas, dan/ atau punggung mengganggu gerakan pernapasan dada. Biasanya, ada perbedaan berat badan antara kekuatan untuk mengompresi dan korban (biasanya > 1000 lb atau 500 kg). Lamanya waktu kompresi sebelum kematian bervariasi tergantung pada tingkat beratnya kekuatan yang diberikan. Seorang individu dapat mati dalam hitungan detik jika terdapat berat yang bermakna, tetapi biasanya minimal 2 sampai 5 menit berlalu sebelum kemudian terjadi kematian.^^^ Korban dalam suatu serangkaian ditarik keluar dalam waktu 15 menit, tetapi orang yang mati itu tertindih di dalam atau di bawah kendaraan mereka dari 5 sampai 15 menit. Korban dapat tertindih secara perlahan. Informasi mengenai berat batas minimum menyebabkan kematian masih langka. Beban yang dijelaskan dalam literatur menyiratkan bahwa setidaknya lima kali berat badan

yang terlibat. Hasil percobaan pada kelinci percobaan menunjukkan tiga kali perbedaan berat badan mengakibatkan kematian beberapa hewan percobaan dalam 10 menit. Satu laporan kasus menggambarkan seorang anak dengan berat 13 kg tertindih oleh kaki orang dewasa berat 60 kg, yang memiliki 0,7 kg berat kaos kaki (leg cast), selama 40 menit (berat berbeda sekitar 1,8 kali, jika kaki orang dewasa dan kaos kaki (leg cast) yang setara sampai 40% dari berat badan pelaku, yakni 24 kg.^^^ ^^^Shkrum MJ, Ramsay DA. Asphyxia. In: Karch SB, series editor. Forensic pathology of trauma: common problems for the pathologist. Totowa, NJ: Humana Press, 2007;14546 Tanda-tanda kematian akibat asfiksia traumatik tidak selalu jelas. Hanya fitur yang hampir tidak kentara (misalnya, petechiae) dapat diamati. Masque ecchymotique mengacu pada penampilan klasik perubahan warna biru-merah menjadi biru-hitam pada wajah dan leher dengan variabel keterlibatan dada bagian atas, punggung, dan lengan, dan berhubungan dengan peteki atau ekimosis (Gambar ?). Perubahan warna maksimal mungkin tidak muncul dalam korban sampai beberapa hari setelah kejadian. Perubahan warna pada kulit terhindar di bawah titik penekanan. Perubahan warna biasanya menghilang dalam beberapa minggu dan tidak mengalami perubahan warna yang terlihat dengan penyembuhan memar. Warnanya tidak berubah oleh pemberian oksigen. Peteki hilang dalam beberapa hari, tapi ekimosis subkonjungtiva bisa bertahan selama beberapa minggu, akhirnya memudar menjadi kuning dan menghilang. Ada kaitannya dengan edema pada wajah. Pengamatan serupa tetapi kurang menonjol terlihat sebagai akibatnya terhadap persalinan yang rumit, muntah atau batuk berkepanjangan, kejang dan episode asma. Luka trauma tumpul luar dapat dilihat di kepala, leher, dan dada.^^^^^

Gambar. Fitur yang hampir tidak kentara pada asfiksia traumatik. Pria berlari dan ditindih oleh kendaraan yang berisi tiga penumpang dan memiliki sistem pengereman yang buruk. (A) jaket Korban. kesan tanah dari tapak ban. (B) tapak ban. (C) peteki kutaneus di daerah punggung yang tidak lebam. (D) peteki konjungtiva, kelopak mata bawah (tertarik).^^^^^ ^^^^^Shkrum MJ, Ramsay DA. Asphyxia. In: Karch SB, series editor. Forensic pathology of trauma: common problems for the pathologist. Totowa, NJ: Humana Press, 2007;146-8 Penekanan yang hebat yang secara tiba-tiba pada tubuh meningkatkan tekanan intra thorakal, menyebabkan obstruksi aliran darah dari vena kava superior ke jantung kanan. Drainase pembuluh darah vena dari daerah kepala dan leher adalah melalui vena jugularis interna dan vena jugularis eksterna. Vena jugularis eksterna mengalirkan darah balik dari jaringan lunak superfisial pada kulit kepala dan leher. Meskipun vena jugularis eksterna memiliki katup, mereka tidak mampu untuk mencegah aliran balik pada tekanan melebihi 45 mmHg (tekanan maksimal selama resusitasi, 40 mmHg). Sebaliknya, vena jugularis interna yang mengalirkan darah balik pada saluran napas atas dan otak, lebih tahan terhadap kenaikan CVP (Cerebral Venous Pressure). Tengkorak dan posisi dari sistem sinus pembuluh darah vena melindungi otak dari perdarahan intraparenkimal. Penekanan pada tubuh mungkin tidak cukup untuk meningkatkan

tekanan vena di kepala dan leher untuk menimbulkan tanda-tanda klasik dari luar. Respon takut mengambil napas dan menahannya ketika dihadapkan dengan bencana yang akan datang, akan mengakibatkan penutupan glotis dan memperbesar tekanan intratorakal. Tubuh bagian bagian terbawah terikut karena karena manuver valsava menekan vena kava inferior. Selama muntah dan batuk, kontraksi kuat dari otot-otot torakoabdominal melawan glotis yang tertutup dapat menyebabkan peningkatan tekanan vena sefalik. Pembuluh darah yang relatif stasis di dalam pembuluh darah kapiler yang dilatasi menyebabkan perubahan warna menjadi gelap. Hasil pembuluh darah yang ruptur menyebabkan peteki dan ekimosis. Peteki pada kulit biasanya tidak ditemukan apabila penekanan pada dada cukup berat menurunkan fungsi jantung kiri dan kanan.^^^^^^ Pemeriksaan dalam: Asfiksia Traumatik Temuan dalam dapat minimal atau tidak ada. Berikut ini yang telah diamati: Mata: Purtschers retinopathy (perdarahan pada retina). Mulut, hidung, telinga: peteki/ ekimosis pada faring, sublingual, nasal, dan kanalis akustikus, yang dapat mengakibatkan perdarahan luar; perdarahan dari hidung dan telinga hampir seperti pada fraktur basis kranii. Saluran pernapasan atas: peteki pada epiglotis, laring, trakea dan edema laring. Tulang: fraktur tulang rusuk/ klavikula, mungkin juga fraktur tulang ekstremitas dan panggul; fraktur tulang tengkorak jarang, emboli sumsum tulang dan lemak mungkin terlihat atau bisa juga tidak. Paru: kontusio / laserasi, hemo-/pneumotoraks, kongesti. Hati: cedera jarang (ruptur, memar). Abdomen: laserasi hati/ limpa. CNS: edema serebral; peteki pada otak, perdarahan intraserebral jarang; iskemia sumsum tulang belakang.^^^^^^

Jika ada luka yang hebat, trauma luka tumpul multipel adalah penyebab kematian. Luka dalam, seperti fraktur tulang rusuk mungkin tidak fatal tetapi menunjukkan penekanan yang bertahan. Emboli lemak pada paru harus dipertimbangkan. Kurangnya luka fatal lainnya mendukung asfiksia sebagai mekanisme kematian. Gangguan aliran darah vena ke jantung kanan dan penurunan perfusi serebral adalah mekanisme lainnya yang mungkin. Untuk mengecualikan kemungkinan terpengaruh oleh alkohol dan obat-obatan, analisis toksikologi diperlukan.^^^^^^ ^^^^^^Shkrum MJ, Ramsay DA. Asphyxia. In: Karch SB, series editor. Forensic pathology of trauma: common problems for the pathologist. Totowa, NJ: Humana Press, 2007;146-8