Anda di halaman 1dari 101

Judul :

Efektivitas

Terhadap Pendapatan dan Kesempatan Kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Program

Bantuan

Kredit

Usaha

Rakyat

(KUR)

ABSTRAK

Peranan usaha kecil menengah, terutama sejak krisis ekonomi dapat dipandang sebagai katup penyelamat dalam proses pemulihan ekonomi nasional, baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional maupun penyerapan tenaga kerja, namun masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala. Salah satu kendala yang dihadapi adalah dalam hal permodalan. Bagi usaha kecil menengah, kredit dirasa cukup penting meningkatkan kebutuhan untuk pembiayaan modal kerja diperlukan guna menjalankan usaha dan meningkatkan akumulasi pemupukan modal mereka. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah meluncurkan program pembiayaan bagi UMKM dan koperasi, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR). Melalui program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah diberikan pemerintah, diharapkan dengan program ini para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki semangat untuk mengembangkan usahanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat Efektivitas Program Bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap Pendapatan dan Kesempatan Kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur. Efektivitas kegiatan diukur dari variabel input, proses, dan output. Variabel input meliputi: ketepatan program, sosialisasi oleh pemerintah/petugas, tujuan KUR. Variabel proses meliputi:

ketepatan penggunaan program, pemantauan dari pemerintah/petugas, respon pemerintah/petugas. Variabel output meliputi: pendapatan UMKM dan Kesempatan Kerja. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif/matematika sederhana. Data yang digunakan adalah data primer dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang mendapatkan bantuan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebanyak 292 orang dan sampel yang diambil sebanyak 75 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program bantuan Kredit Usaha Rakyat di Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur dikatakan cukup efektif yaitu sebesar 78,5 persen dan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja UMKM sehingga disarankan kepada pemerintah tetap menjalankan program bantuan KUR tersebut, akan tetapi dilakukan pendataan ulang untuk UMKM yang akan menerima ataupun yang sudah menerima KUR agar tidak terjadi penyalahgunaan manfaat dan tujuan diberikannya KUR.

iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan nasional menempatkan manusia sebagai titik sentral sehingga

mempunyai ciri-ciri dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam kerangka ini

maka pembangunan nasional untuk meningkatkan partisipasi rakyat dalam semua

proses pembangunan (Bappeda Bali, 2011). Pembangunan mengandung makna

yang

luas

sebagai

suatu

proses

multidimensi

yang

mencakup

perubahan-

perubahan penting dalam struktur sosial, sikap-sikap masyarakat dan lembaga-

lembaga

nasional

maupun

lokal

pengurangan

kesenjangan,dan

dan

juga

akselerasi

pertumbuhan

ekonomi,

pemberantasan

kemiskinan

(Todaro,2000).

Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur

yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang

Dasar 1945. Pembangunan nasional yang mencakup seluruh aspek kehidupan

berbangsa dan bernegara diselenggarakan oleh masyarakat

dan

Tujuan

pembangunan

tersebut

harus

diperjuangkan

mengingat

pemerintah.

selama

ini

pembangunan diidentikkan dengan industrialisasi sehingga sering kali kurang

memperhatikan aspek pemerataan (Gilarso, 1992).

Perwujudan

tujuan

masyarakat

yang

adil

dan

makmur

dapat

berupa

penciptaan lapangan kerja, pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat,

mendorong

pertumbuhan

ekonomi

dan

mewujudkan

stabilitas

nasional.

Perwujudan

tersebut

sempat

terhambat

dengan

adanya

krisis

ekonomi

yang

melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997. Pada saat krisis ekonomi,

1

kondisi perekonomian Indonesia mengalami keterpurukan, hal ini ditunjukkan

dengan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, banyaknya bank-bank yang

dilikuidasi, di sektor riil banyak usaha-usaha besar yang gulung tikar (Sugiyono,

2003).

Kondisi yang berbeda terjadi pada usaha kecil menengah, dimana usaha

kecil menengah tetap tegar pada saat krisis ekonomi melanda, dan memberikan

kontribusi yang besar. Pada saat krisis ekonomi, usaha kecil menengah terbukti

mampu menampung 99,45 persen dari total tenaga kerja atau 73,24 juta tenaga

kerja (Marimbo, 2008). Peranan usaha kecil menengah, terutama sejak krisis

ekonomi dapat dipandang sebagai katup pengaman dalam proses pemulihan

ekonomi nasional, baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional

maupun penyerapan tenaga kerja. (Suryadharma Ali, 2008) menyatakan bahwa

usaha kecil menengah merupakan benteng pertahanan ekonomi nasional sehingga

bila sektor tersebut diabaikan sama artinya tidak menjaga benteng pertahanan

Indonesia.

Sebagai

upaya

untuk

meningkatkan

kemampuan

dan

peranan

serta

kelembagaan

usaha

kecil

menengah

dalam

perekonomian

nasional,

maka

pemberdayaan tersebut perlu dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,

Dunia

Usaha,

berkesinambungan.

dan

Masyarakat

secara

Untuk

mewujudkan

hal

menyeluruh,

sinergis

dan

tersebut

maka

Pemerintah

mengesahkan UU No 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

Undang-undang ini disusun dengan maksud untuk memberdayakan usaha mikro

kecil dan menengah.

2

Kebijakan pemerintah dewasa ini telah cukup menunjukkan keberpihakan

pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Banyak upaya dan langkah-

langkah

pemerintah

menyangkut

pemberdayaan

pada

UMKM,

pemerintah

mempunyai komitmen yang tinggi untuk membantu UMKM baik menyangkut

peningkatan SDM, permodalan maupun akses pasar.

Melihat

persoalan

yang

dihadapi

UMKM,

Presiden

Susilo

Bambang

Yudhoyono

meluncurkan

kredit

bagi

UMKM

dan

Koperasi

dengan

pola

penjaminan oleh Presiden RI tanggal 5 November 2007 di lantai 21 gedung kantor

pusat

BRI

dengan

nama

Kredit

Usaha

Rakyat

(KUR).

Peluncuran

KUR

merupakan upaya pemerintah dalam mendorong perbankan penyaluran kredit

pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi.

Kebijakan pemerintah di dalam pengembangan Pemerintah Daerah atau

otonomi daerah membuat UMKM lebih diperhatikan oleh pemerintah daerahnya,

karena salah satu syarat utama untuk menjadi otonomi adalah bahwa daerah yang

bersangkutan harus mempunyai pendapatan daerah yang cukup untuk membiayai

roda perekonomian. Ini berarti perlu kegiatan-kegiatan atau lembaga-lembaga

ekonomi

lokal,

termasuk

UMKM

yang

akan

memberikan

kontribusi

pada

pendapatan daerah. Jadi peran UMKM di daerah tidak saja sebagai salah satu

instrumen kebijakan pemerintah untuk menghilangkan kesenjangan pendapatan

atau pembangunan antar wilayah, melainkan juga sebagai alat pengembangan

otonomi daerah.

Dalam kaitan penelitian ini, perlu diketahui banyaknya UMKM yang ada di

kota Denpasar. Dari 4.132 perusahaan/usaha di kota Denpasar sebanyak 114 unit

3

adalah usaha kecil, sebanyak 960 unit adalah usaha sedang, sebanyak 14 unit

adalah usaha besar dan sebanyak 3.044 adalah usaha kerajinan seperti yang tersaji

dalam Tabel 1.1.

Tabel

1.1

Banyaknya

Jenisnya Tahun 2010 (Unit)

Perusahaan

Industri

Menurut

Kecamatan

dan

 

Jumlah Unit Usaha (unit)

Total Unit Usaha (dalam unit)

Kecamatan

Kecil

Sedang

Besar

Kerajinan

Denpasar Timur

24

348

7

1.178

1.557

Denpasar Barat

32

213

5

1.098

1.348

Denpasar Selatan

43

265

2

432

742

Denpasar Utara

15

134

-

336

485

Total

114

960

14

3.044

4.132

Sumber: BPS Kota Denpasar, 2011 (data diolah)

Kecamatan

Denpasar

Timur

memiliki

11

Kelurahan

yang

tersebar

di

dalamnya, dan di masing-masing kelurahan tersebut terdapat persebaran jumlah

UMKM yang bervariasi. Pada Tabel 1.2 disajikan jumlah UMKM di Kecamatan

Denpasar Timur di tiap Kelurahan.

4

Tabel 1.2

Banyaknya Perusahaan/Usaha Industri Menurut Kelurahan dan Jumlah Tenaga Kerja di Kecamatan Denpasar Timur Keadaan Akhir Tahun 2010.

No

Kelurahan

Unit Usaha

Jumlah Tenaga

(dalam unit)

Kerja

1

Penatih Dangin Puri

306

508

2

Penatih

110

579

3

Kesiman Kertalangu

317

1.182

4

Kesiman Petilan

98

377

5

Sumerta

81

360

6

Kesiman

183

358

7

Sumerta Kelod

128

340

8

Sumerta Kaja

98

329

9

Sumerta Kauh

34

305

10

Dangin Puri

106

981

11

Dangin Puri Kelod

96

251

 

Kecamatan Denpasar Timur

1557

5.570

Sumber: BPS Kota Denpasar, 2011 (data diolah)

Tabel 1.2 menunjukkan bahwa jumlah UMKM di masing-masing Kelurahan

berbeda-beda.

Jumlah

UMKM

secara

keseluruhan

berjumlah

1557

unit.

Kelurahan

yang paling banyak terdapat UMKM adalah Kelurahan

Kesiman

Kertalangu sebanyak 317 unit, sedangkan yang paling sedikit terdapat UMKM

adalah Kelurahan Sumerta Kauh sebanyak 34 unit. Dilihat dari penyerapan tenaga

kerjanya,

Kelurahan

Kesiman

Kertalangu

menyerap

tenaga

kerja

terbanyak

sebesar 1182 orang, diikuti Kelurahan Dangin Puri sebesar 981 orang, Penatih

sebesar 579 orang, Penatih Dangin Puri sebesar 508, Kesiman Petilan sebesar 377

orang, Sumerta sebesar 360, Kesiman sebesar 358 orang, Sumerta Kelod sebesar

340 orang, Sumerta Kaja sebesar 329 orang, Sumerta Kauh sebesar 305 orang.

5

Sementara Kelurahan Dangin Puri Kelod menyerap tenaga kerja terkecil sebesar

251 orang.

Walaupun usaha kecil menengah telah menunjukkan peranannya dalam

perekonomian

nasional

namun

masih

menghadapi

berbagai

hambatan

dan

kendala. Salah satu kendala yang dihadapi adalah dalam hal permodalan. Bagi

usaha kecil dan menengah, kredit dirasa cukup penting meningkatkan kebutuhan

untuk

pembiayaan

modal

kerja

diperlukan

guna

menjalankan

usaha

dan

meningkatkan akumulasi pemupukan modal mereka. Untuk mengatasi masalah

tersebut

pemerintah

meluncurkan

program

pembiayaan

bagi

UMKM

dan

koperasi, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR). Melalui program bantuan Kredit

Usaha

Rakyat

(KUR)

yang

telah

diberikan

pemerintah,

diharapkan

dengan

program ini para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki

semangat untuk mengembangkan usahanya.

Kredit

Usaha

Rakyat

(KUR)

adalah

fasilitas

penjaminan

kredit

dari

pemerintah melalui PT. Askindo dan Perum Sarana Pengembangan Usaha. KUR

ini merupakan fasilitas pembiayaan yang dapat di akses oleh UMKM terutama

yang memiliki usaha yang layak namun belum bankable. Maksudnya adalah

usaha tersebut memiliki prospek bisnis yang baik dan memiliki kemampuan untuk

mengembalikan. Adapun Bank Pelaksana yang menyalurkan KUR salah satunya

adalah Bank BRI.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) mampu menjangkau seluruh kecamatan di

Indonesia,

sangat

terkenal

dengan

micro

banking

dan

telah

memperoleh

penghargaan baik nasional maupun internasional. Kontribusi

micro banking

6

terhadap kinerja BRI sangat besar (Athesa dkk, 2006 : 20). Ini kemungkinan

faktor

yang

menyebabkan

BRI

menjadi

salah

satu

bank

yang

dipercaya

pemerintah dalam melaksanakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Kupedes.

Pada Tabel 1.3 disajikan data Perkembangan Realisasi Penyaluran Kredit Usaha

Rakyat (KUR) PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Dari bulan Januari

Desember 2009.

Tabel 1.3 Perkembangan Realisasi dan Jumlah Debitur Program KUR Kupedes PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit WR Supratman per Triwulan I (TW I) 2010 s/d Triwulan I (TW I) 2011 di Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur.

   

Realisasi KUR

Realisasi Jumlah Debitur (orang)

No.

Bulan

(Rupiah)

1

Per 31 Maret 2010

100.000.000

20

 

TW I 2010

100.000.000

20

2

Per 31 April 2010

253.000.000

51

3

Per 31 Mei 2010

275.000.000

56

4

Per 30 Juni 2010

134.500.000

28

 

TW II 2010

662.500.000

135

5

Per 31 Juli 2010

155.000.000

33

6

Per 30 Agustus 2010

60.000.000

12

7

Per 30 September 2010

68.000.000

14

 

TW III 2010

283.000.000

59

8

Per 31 Oktober 2010

111.000.000

23

9

Per 30 November 2010

69.000.000

14

10

Per 31 November 2010

101.500.000

22

 

TW IV 2010

281.500.000

59

11

Per 31 Januari 2011

25.000.000

5

12

Per 28 Februari 2011

60.000.000

12

13

Per 31 Maret 2011

10.000.000

2

 

TW I 2011

95.000.000

19

Sumber : PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit WR Supratman, 2010 dan 2011

7

Tabel 1.3 menunjukkan perkembangan KUR tahun 2010 dan 2011 di BRI

Unit WR Supratman mengalami fluktuasi dengan total Kredit Usaha Rakyat

sebesar Rp 1.422.000.000. Perkembangan Kredit Usaha Rakyat tertinggi terjadi

pada TW II 2010 sebesar Rp. 622.500.000 dan perkembangan Kredit Rakyat

terendah terjadi pada TW I 2011 sebesar Rp. 95.000.000. Berdasarkan data

tersebut jumlah UMKM yang menerima Kredit Usaha Rakyat tahun 2010 dan

2011 di BRI Unit WR Supratman mengalami Fluktuasidengan total UMKM

penerimaan tertinggi pada TW II tahun 2010 sebanyak 135 orang dan jumlah

penerimaan terendah pada TW I 2011.

Menyadari akan begitu besarnya peranan UMKM dalam perekonomian

nasional dan daerah khususnya Kelurahan Penatih Dangin Puri, sudah sewajarnya

mendapatkan perhatian yang lebih besar terhadap eksistensi UMKM terlebih lagi

dalam

penguatan

ekonomi

kerakyatan

di

Provinsi

Bali.

Dengan

demikian

diharapkan agar pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) dapat meningkatkan

pendapatan pelaku usaha. Manfaat lainnya, diharapkan produksi usaha meningkat,

dan kesempatan kerja juga semakin luas.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang

menjadi pokok permasalahannya dalam penelitian ini adalah:

1) Bagaimana efektivitas program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dilihat

dari input, proses, dan output pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah

(UMKM) di kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur?

8

2) Bagaimana dampak program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap

peningkatan pendapatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di

Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur?

3) Bagaimana dampak program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap

kesempatan kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kelurahan

Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pokok masalah tersebut yang menjadi tujuan dalam penelitian

ini adalah:

1)

Untuk

mengetahui

tingkat

efektivitas

program

bantuan

Kredit

Usaha

Rakyat (KUR) terhadap peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Penatih Dangin

Puri Kecamatan Denpasar Timur.

2)

Untuk mengetahui dampak program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR)

terhadap

peningkatan

pendapatan

Usaha

Mikro

Kecil

dan

Menengah

(UMKM) di Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur.

3)

Untuk mengetahui dampak program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR)

terhadap kesempatan kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di

Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur.

 

1.3.2

Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan yang diperoleh dari penelitian ini dapat dibedakan

menjadi kegunaan teoritis dan praktis.

9

1)

Kegunaan Teoritis

Hasil

penelitian

ini

diharapkan

bermanfaat

serta

memperkaya

ragam

penelitian dan mampu menambah pengetahuan dan wawasan khususnya

bagi

mahasiswa,

sehingga

dapat

kenyataan

di

lapangan,

khususnya

Menengah (UMKM).

membandingkan

tentang

Usaha

teori-teori

dengan

Mikro

Kecil

dan

 

2)

Kegunaan Praktis

 

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi

kepada pemerintah dan pihak berkepentingan dalam mengambil kebijakan

yang berkaitan dengan bidang ekonomi, khususnya mengenai efektivitas

bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap pendapatan dan kesempatan

kerja UMKM di Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar

Timur.

1.4

Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini penulis membaginya

menjadi lima bab secara rinci dan sistematis dari masing-masing bab sebagai

berikut:

Bab I

:

Pendahuluan

Merupakan bagian yang berisikan tentang latar belakang, pokok

permasalahan,

tujuan,

kegunaan

penelitian

dan

sistematika

penulisan

10

Bab II

:

Tinjauan Pustaka

Menjelaskan

teori-teori

yang

berhubungan

dengan

pokok

permasalahan

yaitu tentang konsep efektivitas, konsep kredit,

konsep Kredit Usaha Rakyat, konsep UMKM, peran UMKM

dalam pembangunan ekonomi Indonesia, konsep tenaga kerja,

konsep pendapatan, hasil penelitian sebelumnya dan hipotesis.

Bab III

:

Metodologi Penelitian

 

Bagian ini memuat tentang lokasi penelitian, obyek penelitian,

identifikasi

variabel,

definisi

operasional

variabel,

jenis

dan

sumber

data,

koperasi

dan

sampel,

teknik

sampling,

teknik

pengumpulan data dan teknik analisis data.

Bab IV

:

Pembahasan Hasil Penelitian

 

Bagian ini memuat tentang gambaran umum daerah penelitian

yaitu:

Kelurahan

Penatih

Dangin

Puri,

Kecamatan

Denpasar

Timur dan deskripsi hasil penelitian serta pembahasan dari hasil

penelitian.

Bab V

:

Simpulan dan Saran

Bagian ini berisikan tentang simpulan dari hasil penelitian dan

saran-saran penelitian.

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS

2.1

Landasan Teori

2.1.1

Konsep Efektivitas

Efektivitas adalah ukuran dari kualitas output dan berhubungan derajat

keberhasilan suatu operasi pada sektor publik. Menurut Deva dkk (1989 : 279)

efektivitas adalah hasil guna kegiatan pemerintah dalam mengurus keuangan

daerah sedemikian rupa, sehingga memungkinkan program dapat direncanakan

dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pemerintah dengan biaya yang serendah-

rendahnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Efektivitas mengandung pengertian kesesuaian antara output dengan tujuan

yang

ditetapkan

(Subagyo,

2000:23),

artinya

efektivitas

mencerminkan

keberhasilan

kinerja

aparat

dalam

mencapai

rencana

yang

telah

ditetapkan.

Efektivitas

merupakan

ukuran

berhasil

tidaknya

suatu

organisasi

mencapai

tujuannya. Apabila suatu organisasi telah mencapai tujuannya,maka organisasi

tersebut dikatakan telah berjalan secara efektif (Mardiasmo 2000:134). Efektivitas

kegiatan diartikan sebagai tingkat kemampuan suatu kegiatan untuk mewujudkan

hasil yang diinginkan.

2.1.2 Konsep Kredit

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan

yang dapat dipersamakan

dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara

12

bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya

setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (UU Perbankan nomor 10

tahun 1998 dalam Kasmir, 2007 : 92). Menurut Gilarso (1992 : 246) kredit adalah

pemberian uang, barang atau jasa kepada pihak lain, tanpa menerima imbalan

(pembayaran) langsung atau bersamaan tetapi dengan percaya bahwa pihak yang

menerima

uang

atau

barang

tersebut

akan

mengembalikan

atau

melunasi

hutangnya sesuai jangka waktu tertentu. Menurut Undang-undang no. 14 Tahun

1967 Pasal 1c, mengenai pokok-pokok perbankan, kredit adalah penyediaan uang

atau tagihan-tagihan yang dapat disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan

pinjam-meminjam

antara

bank

dengan

pihak

lain.

Dalam

hal

mana,

pihak

peminjam berkewajiban melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan

jumlah bunga yang telah ditentukan.

Menurut

Kasmir

(2007

:

94),

pemberian suatu fasilitas kredit yaitu.

unsur-unsur

yang

terkandung

dalam

1)

Kepercayaan

Kepercayaan dari si pemberi kredit bahwa kredit yang diberikannya (berupa

uang, barang atau jasa) akan benar-benar diterima kembali di masa tertentu

di masa yang akan datang.

2)

Kesepakatan

Kesepakatan dituangkan

dalam suatu perjanjian dimana masing-masing

pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing.

13

3)

Jangka waktu

Suatu masa yang memisahkan antara pemberi kredit dengan penerima kredit

yang mana dana tersebut akan diterima pada masa yang akan datang. Jangka

waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati, biasa

berbentuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

4)

Resiko

Adanya suatu tenggang waktu pengembalian

akan menyebabkan

suatu

resiko tidak tertagihnya atau macetnya pemberian kredit.

Suatu resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari jangka waktu yang

memisahkan antara pemberi kredit dengan

penerima kredit

yang akan

diterima kemudian hari. Semakin lama jangka waktu pemberian kredit,

maka

semakin

besar

tingkat

resikonya.

Dengan

adanya

resiko

dalam

pemberian

kredit,

maka dapat

menimbulkan

jaminan

dalam

pemberian

kredit.

5)

Balas Jasa

 

Merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang

dikenal dengan nama bunga.

Pendapat (Kasmir, 2007 : 95) tujuan pemberian kredit tidak terlepas dari

misi pendirian suatu bank. Adapun tujuan utama pemberian kredit yaitu.

1)

Mencari keuntungan

Tujuannnya untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut.

14

2)

Membantu usaha nasabah

Tujuannya untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik

dana investasi maupun dana untuk modal kerja.

3)

Membantu pemerintah

Bagi

pemerintah,

semakin

banyak

kredit

yang

disalurkan

oleh

pihak

perbankan, maka semakin baik, mengingat semakin banyak kredit berarti

adanya peningkatan pembangunan di berbagai sektor.

Kemudian

disamping

tujuan

tersebut,

memiliki fungsi sebagai berikut:

(1) Untuk meningkatkan daya guna uang.

suatu

fasilitas

kredit

(2) Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang.

(3) Untuk meningkatkan daya guna barang.

(4) Meningkatkan peredaran barang.

(5) Sebagai alat stabilitas ekonomi.

(6) Untuk meningkatkan kegairahan usaha.

(7) Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan.

(8) Untuk meningkatkan hubungan internasional.

Jenis-jenis kredit menurut (Kasmir, 2007 : 99) yang diberikan oleh bank

dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain:

1)

Dilihat dari segi kegunaan

(1) Kredit

investasi

yaitu

kredit

ini

diberikan

untuk

keperluan

perluasan

usaha

atau

membangun

proyek/pabrik

baru

atau

keperluan rehabilitasi.

15

(2)

Kredit modal kerja yaitu kredit yang digunakan untuk keperluan

meningkatkan produksi dalam operasionalnya, seperti bahan baku

2)

dan pembayaran gaji pegawai.

Dilihat dari segi tujuan kredit

(1) Kredit produktif, yaitu kredit ini digunakan

untuk

melancarkan

usaha

atau

produksi,

misalnya

sebagai

modal

kerja

maupun

investasi.

(2) Kredit konsumtif yaitu kredit yang digunakan untuk memenuhi

kebutuhan hidup atau konsumsi pribadi.

(3) Kredit

perdagangan

yaitu

kredit

yang

digunakan

untuk

perdagangan,

biasanya

untuk

membeli

barang

dagangan

yang

pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan

3)

tersebut.

Dilihat dari segi jangka waktu

(1)

Kredit jangka pendek

Merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun

atau paling lama 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan

modal kerja.

(2)

Kredit jangka menengah

Jangka waktu kreditnya berkisar antara 1 tahun sampai dengan 3

tahun, biasanya untuk investasi.

16

(3) Kredit jangka panjang

Merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang.

Kredit jangka panjang waktu pengembaliannya diatas 3 tahun atau

lebih.

4)

Dilihat dari segi jaminan

(1)

Kredit dengan jaminan

 

Kredit yang diberikan dengan suatu jaminan, jaminan tersebut

dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud atau jaminan

orang.

 

(2)

Kredit tanpa jaminan

 

Merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang

tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha

dan karakter serta loyalitas atau nama baik si calon debitur selama

ini.

5)

Dilihat dari segi sektor usaha

Terdiri dari kredit pertanian, kredit peternakan, kredit industri, kredit

pertambangan, kredit pendidikan, kredit profesi, kredit perumahan, dan

sektor-sektor lainnya.

6)

Dilihat dari segi pihak yang memberikan kredit

(1) Kredit Penjual adalah kredit yang diberikan kepada pembeli dengan

membayar belakangan setelah barang tersebut diterima.

(2) Kredit

Pembeli

menaruh

kredit

kepada

penjual,

tetapi

barang

diterima sesudah beberapa waktu seperti uang muka.

17

(3) Kredit Bank adalah kredit yang disediakan oleh bank, baik itu

digunakan

untuk

modal

kerja,

investasi

maupun

untuk

yang

lainnya.

(4)

Kredit Pemerintah adalah kredit yang diberikan oleh pemerintah

kepada pemborong, seperti pembuatan jalan.

(5)

Kredit Luar Negeri adalah kredit yang diberikan oleh luar negeri

untuk

pemerintah

internasional.

atau

lembaga

dalam

rangka

perdagangan

Kredit dapat diberikan dengan jaminan atau tanpa jaminan. Kredit tanpa

jaminan sangat membahayakan posisi bank, mengingat jika nasabah mengalami

suatu kemaetan, maka akan sulit untuk menutupi kerugian terhadap kredit yang

disalurkan. Sebaliknya, dengan jaminan kredit relatif lebih aman mengingat setiap

kredit macet akan dapat di tutupi oleh jaminan tersebut. Adapun jaminan yang

dapat dijadikan kredit oleh calon debitur, (Kasmir, 2007 : 102) adalah sebagai

berikut.

(1) Dengan Jaminan

(1) Jaminan benda berwujud yaitu barang-barang yang dapat dijadikan

seperti tanah, bangunan, kendaraan bermotor, mesin-mesin/peralatan,

barang dagangan, kebun/tanah, dan lainnya.

(2) Jaminan benda tidak berwujud yaitu benda-benda yang merupakan

surat-surat yang dijadikan jaminan seperti sertifikat saham, sertifikat

obligasi, sertifikat tanah, sertifikat deposito, dan lainnya.

18

(3)

Jaminan orang yaitu jaminan yang diberikan oleh seseorang dan apabila

kredit tersebut macet, maka orang yang memberikan jaminan itulah

yang menanggung resikonya.

(2) Tanpa Jaminan

Kredit tanpa jaminan berarti bahwa kredit yang di berikan bukan

dengan jaminan barang tertentu. Biasanya diberikan untuk perusahaan yang

memang benar-benar

bonafid

atau

professional,

sehingga

kemungkinan

kredit tersebut macet sangat kecil. Dapat pula kredit tanpa jaminan hanya

dengan penilaian terhadap prospek usahanya atau dengan pertimbangan

untuk pengusaha ekonomi lemah.

Dalam

pemberian

kredit

oleh

bank,

perlu

dilakukan

melalui

prosedur penilaian

yang benar. Biasanya kriteria penilaian yang harus

dilakukan

oleh

bank

untuk

mendapatkan

nasabah

yang

benar-benar

menguntungkan dilakukan dengan analisis 4C. Adapun penjelasan untuk

analisis dengan 4C kredit, (Kasmir, 2007 : 104) adalah sebagai berikut:

Suatu keyakinan bahwa, sifat atau watak dari orang-orang yang diberikan

kredit benar-benar dipercaya

(1) Capacity

Untuk melihat nasabah dalam kemampuannya dalam bidang bisnis

yang

dihubungkan

dengan

pendidikannya,

kemampuan

bisnis

juga

diukur dengan kemampuannya dalam memahami tentang ketentuan-

ketentuan pemerintah.

19

(2) Capital

Penggunaan

modal

ditinjau

dari

laporan

keuangannya

melalui

pengukuran seperti likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan lainnya.

Capital juga harus dilihat dari sumber mana saja modal yang ada

sekarang ini.

(3) Collateral

Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat

fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit

yang diberikan serta harus diteliti keabsahannya.

(4) Conditian

Dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi dan

politik sekarang dan di masa yang akan datang sesuai sektor masing-

masing, serta prospek usaha dari sektor yang ia jalankan.

2.1.3 Konsep Kredit Usaha Rakyat

1)

Landasan Hukum dan Kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Kupedes

Landasan hukum dan kebijakan KUR Kupedes, menurut Divisi Bisnis

Mikro KP BRI terdiri dari:

(1) Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2007 Tanggal 8 juni 2007 tentang

Kebijakan

Percepat

Pengembangan

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Sektor Riil

Dan

Pemberdayaan

(2) Nota Kesepahaman Bersama (MOU) Tanggal 9 Oktober 2007 tentang

Penjaminan Kredit/Pembiayaan UMKM dan Koperasi oleh:

20

a. Pemerintah

:

Departemen

Keuangan,

Departemen

Pertanian,

Departemen

Kehutanan,

Departemen

Kelautan

dan

Perikanan,

Departemen Perindustrian, Kementrian Negara Koperasi dan UKM

RI.

b. Perusahaan Penjamin : Perum Sarana Pengembangan Usaha, PT

Askindo.

c. Perbankan : Bank BRI, Mandiri, BNI, BTN, Bukopin dan Bank

(3)

Syariah Mandiri.

Peluncuran kredit bagi UMKM dan Koperasi dengan pola pinjaminan

oleh Presiden RI Tanggal 5 Nopember 2007 di lantai 21 gedung Kantor

Pusat BRI dengan nama Kredit Usaha Rakyat (KUR).

(4) Perjanjian Kerjasama (PKS) BRI dengan PT Askrindo No. B.550-

DIR/PRG/10/2007 Nomor: PPK/PKS/20/X/2007 Tanggal 11 Oktober

2007 tentang Penjaminan Kredit.

(5) Perjanjian Kerjasama (PKS) BRI dengan Perum Sarana Pengembangan

Usaha No. B.596-DIR/PRG/11/2007

Nomor: 32/SARANA/XI/2007

Tanggal 1 Nopember 2007 tentang Pinjaman Kredit.

(6) Surat

Divisi

ADK

No.

B.

2481-ADK/PJB/11/2007

Tanggal

16

Nopember 2007 tentang Rayonosasi Unit Kerja Pelaksana Penjaminan

Kredit UMKM.

(7) Surat

Edaran

No.

B.4-DIR/ADK/1/2008

Tanggal

21

tentang Kredit Usaha Rakyat (KUR).

21

Januari

2008

(8) Surat Edaran No.8-DIR/ADK/2/2008 Tanggal 20 Februari 2008 tentang

KUR Kepedes.

(9) Surat Divisi ADK No. B.189-ADK/KBP/02/2008 Tanggal 28 Februari

2008 tentang Buku Besar dan Sub Buku Besar KUR Kupedes STU.

(10) Surat Divisi JBM No. B.120-JBM/IJM/02/2008 Tanggal 29 Februari

2008 tentang Petunjuk Setting Parameter KUR Kupedes.

2)

Tujuan Program Penjaminan Kredit

(1) Mempercepat pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKM dan

Koperasi.

(2) Meningkatkan akses pembiayaan dan mengembangkan UMKM dan

Koperasi kepada lembaga keuangan.

(3) Dalam rangka penanggulangan/pengentasan kemiskinan dan perluasan

kesempatan kerja.

3)

Ketentuan Umum KUR Kupedes

Ketentuan-ketentuan Umum KUR Kupedes, menurut Divisi Bisnis Mikro

KP BRI antara lain.

(1) Batasan plafond untuk pelayanan KUR Kupedes ditetapkan sampai

dengan Rp. 5000.000,00.

(2) KUR Kupedes diberikan untuk usaha produktif seluruh sektor usaha,

kecuali kepala Golongan Berpenghasilan Tetap (Golbertap).

(3)

Besarnya coverage penjaminan maksimal 70% dari plafond kredit.

(4) KUR Kupedes dapat diberikan untuk keperluan modal kerja dan atau

investasi dengan jangka waktu maksimal 3 tahun (36 bulan).

22

(5) Tidak diikutsertakan dalam asuransi jiwa kredit karena sudah ter-cover

dengan penjaminan kredit.

(6) Suku bunga KUR Kupedes adalah sebesar 1,125% per bulan tanpa hak

PBTW (Pengembalian Bunga Tepat Waktu).

(7)

Biaya administrasi dan provisi kredit tidak di pungut.

(8) Denda/penalti tidak dikenakan atas tunggakan pokok dan atau bunga.

(9) Agunan utama untuk pelayanan KUR Kupedes adalah usaha yang

dibiayai dan penyediaan agunan tambahan tidak diwajibkan.

(10) Pola angsuran sesuai dengan ketentuan yang berlaku, namun apabila

debitur menghendaki angsuran secara harian, mingguan atau sesuai hari

pasaran atau lainnya, angsuran debitur tetap dapat diterima. Jumlah

angsuran tersebut harus tetap memenuhi angsuran per bulan yang telah

ditetapkan.

(11) Pelayanan KUR Kupedes harus tetap didasarkan pada prinsip kehati-

hatian dan asas-asas pemberian kredit yang sehat, yaitu berdasarkan

pada kelayakan usaha dan kemampuan calon debitur.

2.1.4 Konsep Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

1)

Pengertian Usaha Mikro

Sesuai dengan PBI Nomor : 7/39/PBI 2005 tanggal 18 Oktober 2005, yang

dimaksud dengan usaha mikro adalah suatu usaha produktif milik keluarga atau

perseorangan WNI (Warga Negara Indonesia), secara individu atau tergabung

dalam koperasi dan memiliki hasil penjualan secara individu paling banyak Rp

100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per tahun.

23

Adapun ciri-ciri yang dimiliki oleh usaha mikro yaitu.

(1) Usaha

dijalankan

oleh

anggota

keluarganya,

pemisahan rumah tangga dan bisnis.

sehingga

tidak

ada

(2)

Skala usaha relatif kecil, dan umumnya tidak ada pencatatan tentang

kegiatan bisnis.

(3)

Sumber dana bersifat lokal, padat karya dan menggunakan teknologi

yang sederhana.

(4)

Tidak adanya lisensi bisnis (informal) dan informasi terbatas (credit

history).

(5)

Bersifat multi Income Activities.

(6)

Nilai asset (agunan) relatif rendah (unmar ketable).

2)

Pengertian Usaha Kecil

Sesuai dengan PBI Nomor : 7/39/PBI 2005 tanggal 18 Oktober 2005 yang

dimaksud dengan usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil

dan memenuhi kriteria sebagai berikut:

(1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,00 dan tidak

termasuk

tanah

dan

bangunan

tinggal

usaha,

atau

memiliki

hasil

penjualan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

(2) Berdiri

sendiri,

bukan

merupakan

anak

perusahaan

atau

cabang

perusahaan

yang

dimiliki,

dikuasai

atau

berafiliasi

baik

langsung

maupun tidak langsung dengan usaha menengah, atau usaha besar.

(3) Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum,

atau badan usaha yang berbadan hukum termasuk koperasi.

24

Menurut surat edaran Bank Indonesia Nomor : 26/1/UKK tanggal 29 Mei

1993 perihal kredit usaha kecil (Pandji Anoraga 1997 : 45) yang dimaksud dengan

usaha kecil adalah usaha yang memiliki total asset maksimum Rp. 600.000.000,00

(enam ratus juta rupiah), sedangkan berdasarkan undang-undang Nomor : 9 tahun

1995, usaha kecila adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dalam

memenuhi

kriteria

kekayaan

bersih

atau

hasil

penjualan

tahunan,

seperti

kepemilikikan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Usaha kecil yang

dimaksud ini meliputi usaha kecil informal dan usaha kecil tradisional.

Menurut Panji Anoraga (1997 : 46) sektor usaha kecil memiliki karakteristik

sebagai berikut:

1)

Sistem pembukuan yang relatif sederhana cenderung tidak mengikuti kaidah

administrasi pembukuan.

 

2)

Margin usaha yang cenderung tipis, mengingat persaingan yang sangat

tinggi.

3)

Modal terbatas.

 

4)

Pengalaman manajerial dalam mengelola perusahaan masih sangat terbatas.

5)

Skala ekonomi yang terlalu kecil, sehingga sulit mengharapkan untuk

mampu menekan biaya mencapai titik efisiensi jangka panjang.

 

6)

Kemampuan

pemasaran

dan

negosiasi

serta

divesifikasi

pasar

sangat

terbatas.

7)

Kemampuan untuk memperoleh sumber dana dari pasar modal rendah,

mengingat keterbatasan dalam sistem administrasinya. Untuk memperoleh

25

laba di pasar modal, sebuah perusahaan harus mengikuti sistem administrasi

standar dan harus transparan.

Karakteristik yang dimiliki

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

menyiratkan

adanya

kelemahan-kelemahan

yang

sifatnya

potensial

terhadap

timbulnya masalah, terutama yang berkaitan dengan pendanaan yang tampak

sangat sulit untuk mendapatkan solusi yang jelas. Kelemahan usaha kecil ini

adalah investasi awal dapat saja mengalami kerugian, beberapa resiko diluar

kendali wirausahawan seperti: perubahan mode, peraturan pemerintah, persaingan

dan masalah tenaga kerja dapat menghambat bisnis, dan beberapa jenis juga

cenderung

menghasilkan

pendapatan

yang cenderung tidak

teratur,

sehingga

pemilik modal mungkin tidak memperoleh laba/profit.

Bagi pengembangan usaha kecil, masalah modal merupakan kendala besar

yang dihadapi. Ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan usaha kecil untuk

mendapatkan

biaya

sebagai

modal

dasar,

maupun

untuk

langkah-langkah

pengembangan usahanya,

yaitu melalui kredit perbankan. Pinjaman lembaga

keuangan buka bank, modal ventura, pinjaman dari dana penyisihan sebagian laba

milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hibah dan jenis-jenis pembiayaan

lainnya.

Pada umumnya, pembiayaan yang berasal dari kredit perbankan dirasakan

oleh usaha kecil sangat memberatkan, terutama karena tingkat bunga yang cukup

tinggi. Dilain pihak mengingat di sektor usaha kecil memiliki skala usaha yang

juga kecil, dengan tingkat pendapatan yang sering kali tidak teratur. Pihak bank

sering kali merasa was-was, apabila pinjaman yang diberikan tidak mampu

26

dikembalikan oleh usaha kecil, oleh karena itu diciptakan instrumen pembayaran

yang sesuai dengan karakteristik usaha kecil, yaitu modal ventura.

Modal

ventura

merupakan

kegiatan

yang

dilakukan

dalam

bentuk

penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan, pasangan usaha dengan beberapa

tujuan, antara lain untuk mengembangkan perusahaan, yang pada tahap awal

mengalami

kesulitan

modal

membantu

perusahaan

yang

berada

pada

tahap

pengembangan, dan membantu perusahaan yang ada dalam tahap kemunduran

usaha. Akan tetapi, walaupun usaha kecil banyak memanfaatkan modal ventura

dan pinjaman kredit dari perbankan, masih banyak digunakan oleh pemilik usaha

kecil.

3)

Pengertian Usaha Menengah

Sesuai dengan PBI Nomor : 7/39/2005 tanggal 18 Oktober 2005, yang

dimaksud UMKM adalah usaha dengan kriteria sebagai berikut:

(1) Memiliki

kekayaan

lebih

dari

Rp.

200.000.000,00

(dua

ratus

juta

rupiah) sampai paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar

rupiah), tidak termasuk dengan tanah dan bangunan tempat usaha.

(2)

Milik Warga Negara Indonesia (WNI).

(3)

Berdiri sendiri dan bukan merupakan anak perusahaan yang dimiliki,

dikuasai atau berfiliasi baik secara langsung maupun tidak langsung

dengan usaha besar.

(4)

Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum

atau badan usaha yang berbadan hukum.

27

2.1.5 Peran UMKM Dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia

Berdasarkan hasil penelitian Bapedda Provinsi Bali, kebijakan ekonomi

kedepan harus didesain kearah penguatan UMKM, sehingga mampu menekan

jumlah

pengangguran

dan

angka

kemiskinan.

Pemerintah

perlu

melakukan

promosi besar untuk mengarahkan masyarakat bahwa wiraswasta mempunyai

kedudukan sama dan menjadi pegawai negeri, memberikan pelatihan pemasaran,

bagaimana UMKM bisa mengakses pasar internasional. UMKM dapat dikatakan

sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia, sebab sekitar 80 juta lebih

orang Indonesia, sehingga dapat dikatakan bahwa UMKM mampu meningkatkan

pembangunan ekonomi Indonesia.

Pembangunan UMKM yang progresif dimungkinkan karena berbagai faktor yaitu.

1)

Sebagian

besar

UMKM

mengandalkan

bahan

baku

lokal

untuk

mengembangkan usahanya.

 

2)

Tidak memerlukan sumber daya manusia yang terlatih.

 

3)

Perkembangan teknologi yang bersifat spesifik lokasi akam membantu

meningkatkan efisiensi daya saing.

 

4)

Fluktuasi nilai tukar dolar Amerika terhadap Rupiah tidak mempengaruhi

proses produksi karena bahan baku lokal.

Dengan adanya pembangunan UMKM yang progresif diharapkan UMKM sangat

berperan di dalam perekonomian Indonesia yang didasarkan atas realitas, antara

lain:

28

1)

UMKM merupakan sektor ekonomi yang telah tebbbrbukti tangguh dan

menyangga

terakhir

kebangkrutan.

dan

menyelamatkan

perekonomian

Indonesia

dari

2)

Sektor UMKM sangat kuat di dalam menghadapi dampak krisis ekonomi

yang berkepanjangan yang belum pulih.

3)

Jenis usaha yang tidak berbadan hukum ini akan menjadi motor penggerak

pembangunan ekonomi tradisional maupun regional.

2.1.6 Konsep Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan salah satu indikator perekonomian yang dapat

digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan suatu daerah, indikator

tenaga kerja adalah penduduk usia kerja (BPS Provinsi Bali, 2003 : 3), (Payaman

Simanjuntak) tenaga kerja menurut Undang-Undang No. 13 tahun 2003 adalah

tiap orang yang mampu melaksanakan pekerjaan baik di dalam maupun di luar

hubungan kerja, guna menghasilkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi

kebutuhan

masyarakat.

Jadi

pengertian

tenaga

kerja

menurut

ketentuan

ini

meliputi tenaga kerja yang bekerja di dalam maupun diluar hubungan kerja,

dengan alat produksi utamanya dalam proses produksi adalah tenaganya sendiri

baik tenaga fisik maupun pikiran.

Tenaga

kerja

adalah

penduduk

usia

kerja.

Dalam

literature

biasanya

penduduk berusia 15 sampai 64 tahun dan tenaga kerja juga dapat didefinisikan

sebagi jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara yang dapat memproduksi

barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga kerja mereka, dan jika

mereka mau berpartisipasi dalam kegiatan tersebut (Mantra, 2003 : 94).

29

Menurut Simanjuntak (2001 : 3) tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan

bukan angkatan kerja. Untuk lebih jelasnya hal tersebut dapat dijelaskan di bawah

ini.

1)

Angkatan Kerja

 

Menurut BPS angkatan kerja dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:

 

(1)

Menganggur, yaitu orang yang sama sekali tidak bekerja dan berusaha

 

mencari pekerjaan.

 
 

(2)

Setengah menganggur, yaitu mereka yang kurang dimanfaatkan dalam

 

bekerja dilihat dari segi jam kerja, produktifitas kerja dan pendapatan.

Setengah menganggur dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

 

a. Setengah pengangguran kentara, yaitu mereka yang bekerja kurang

dari 35 jam seminggu.

 

b. Setengah

menganggur

tidak

kentara,

yaitu

mereka

yang

produktifitas kerja dan pendapatannya rendah.

 
 

(3) Bekerja penuh, yaitu mereka yang bekerja produktif dan bekerja dalam

 

40 jam per minggu.

 

2)

Bukan Angkatan Kerja

Adalah

bagian

dari

tenaga

kerja

yang

tidak

bekerja

ataupun

mencari

pekerjaan.

Jadi

mereka

ini

adalah

bagian

dari

tenaga

kerja

yang

sesungguhnya

tidak

terlibat,

atau

tidak

berusaha

untuk

terlibat,

dalam

kegiatan produktif, yaitu memproduksi barang dan jasa.

30

3)

Konsep Bekerja

Adalah

mereka

yang dalam

seminggu

yang lalu

melakukan

pekerjaan

dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau

keuntungan atau untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sedangkan pengertian

bekerja adalah apabila bekerja paling sedikit satu jam selama seminggu

yang lalu (secara terus-menerus).

Digunakan batasan seminggu yang lalu maksudnya untuk mempermudah

ingatan

responden

dalam

hal

kegiatan

yang

mereka

lakukan

dalam

hubungan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan batasan

satu jam dalam seminggu diterapkan untuk memperoleh karakteristik yang

lebih luas seperti untuk mengetahui besarnya yang bekerja penuh dan yang

bekerja tidak penuh berdasarkan jumlah jam kerja selama seminggu.

4)

Pengangguran

Adalah mereka yang berusia 15 tahun keatas yang tidak bekerja namun

sedang mencari pekerjaan dan mereka yang bekerja kurang dari 1/3 jam

kerja normal yang mau atau masih mencari pekerjaan.

2.1.6.1 Kualitas Tenaga Kerja

Upaya pemerintah Provinsi Bali dalam meningkatkan kompetensi tenaga

kerja

untuk

mendukung

investasi

untuk

menghadapi

persaingan

terhadap

kesempatan kerja yang terbatas, maka dituntut tenaga kerja yang terampil, ahli,

dan kompeten. Kelemahan dalam penyiapan tenaga kerja berkualitas sebagaimana

tuntutan dunia usaha dan bisnis dalam era persaingan global ini terletak pada

belum optimalnya pelaksanaan hubungan antara lembaga pendidikan formal

31

dengan dunia usaha. Begitu juga lembaga-lembaga pendidikan non formal dan

balai-balai kerja masih banyak menghadapi kendala dalam meningkatkan kualitas

pelatihan karena keterbatasan sarana dan prasarana. Upaya pemerintah Provinsi

Bali dalam meningkatkan kompetensi tenaga kerja untuk mendorong investasi di

Bali adalah:

1)

Meningkatkan kompetensi tenaga kerja, utamanya melalui penyempurnaan

penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja.

 

2)

Menata dan menyempurnakan hubungan industrial yang mencerminkan asas

keadilan dan kondusif bagi peningkatan produktivitas dan inovasi.

 

3)

Menyempurnakan

program

pendukung

psar

dengan

mendorong

terbentuknya inovasi pasar kerja dan penyelenggaraan berbagai bursa kerja.

2.1.7 Konsep Pendapatan

Pendapatan pada dasarnya merupakan balas jasa yang diterima pemilik

faktor-faktor produksi

atas

pengorbanannya

dalam

proses produksi.

Masing-

masing faktor produksi seperti: tanah akan memperoleh balas jasa dalam bentuk

sewa tanah, tenaga kerja akan memperoleh balas jasa dalam bentuk bunga modal,

serta keahlian termasuk para enterprenuer akan memperoleh balas jasa dalam

bentuk laba (Sukirno, 2004).

Menurut

Sunuharyo

(1982),

dilihat

dari

pemanfaatan

tenaga

kerja,

pendapatan yang berasal dari balas jasa berupa upah atau gaji disebut pendapatan

tenaga kerja (labour income), sedangkan pendapatan dari selain tenaga kerja

disebut dengan pendapatan bukan tenaga kerja (non labour income). Dalam

kenyataannya membedakan antara tenaga kerja dan pendapatan bukan tenaga

32

kerja tidaklah selalu mudah dilakukan. Ini disebabkan karena nilai output tertentu

umumnya terjadi atas kerja sama dengan faktor produksi lain. Oleh karenanya

dalam perhitungan pendapatan dipergunakan beberapa pendekatan tergantung

pada lapangan pekerjannya. Untuk yang bekerja dan menerima balas jasa berupa

upah atau gaji dipergunakan pendekatan pendapatan (income approach), bagi

yang

bekerja

sebagai

pedagang,

pendapatannya

dihitung

dengan

melihat

keuntungan

yang

diperolehnya.

Untuk

yang

bekerja

sebagai

petani,

pendapatannya

dihitung

dengan

pendekatan

produksi

(production

approach).

Dengan demikian berdasarkan pendekatan di atas dalam pendapatan pekerja telah

terkandung balas jasa untuk skill yang dimilikinya.

2.2 Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya

Penelitian-penelitian

sebelumnya

adalah sebagai berikut:

yang

berkaitan

dengan

penelitian

ini

Dwi Prima (2009) dalam skripsinya yang berjudul Efektivitas Kredit Tanpa

Anggunan (KTA) Dalam Peningkatan Volume Produksi Usaha Mikro Kecil dan

Menengah (UMKM) di

Kota Denpasar menyimpulkan dari ketiga

variabel

tersebut, baik variabel input, proses dan output, maka kesimpulan yang didapat

mengatakan bahwa Program Pemberian Kredit Tanpa Anggunan (KTA) Terhadap

Peningkatan Volume Produksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di

Kota Denpasar adalah kurang efektif, yaitu dengan nilai pencapaian sasaran

sebesar 68,67 persen.

Sepiantini (2010) dalam skripsinya yang berjudul Efektivitas Program

Bantuan Kredit Usaha Rakyat Terhadap Peningkatan Pendapatan dan Kesempatan

33

Kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Desa/Kelurahan Dalung Kecamatan

Kuta Utara . Dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa program bantuan Kredit

Usaha Rakyat di Desa/Kelurahan Dalung Kecamatan Kuta Utara di katakan cukup

efektif

yaitu

sebesar

75,5

persen

dan

dampak

pendapatan dan kesempatan kerja UMKM.

Zesmaertha

(2007)

dalam

skripsinya

yang

positif

terhadap

peningkatan

berjudul

Pengaruh

Jumlah

Kredit dan Upah Tenaga Kerja Terhadap Pendapatan Usaha Mikro Keciln dan

Menengah (UMKM) Di Kabupaten Klungkung Tahun 2005 . Dalam penelitian

ini menyimpulkan bahwa jumlah kredit dan upah tenaga kerja secara simultan

berpengaruh nyata terhadap pendapatan UMKM di Kabupaten Klungkung sebesar

72,4 persen sisanya 27,6 persen dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Jumlah kredit

secara parsial berpengaruh nyata terhadap pendapatan UMKM di Kabupaten

Klungkung dan variabel upah tenaga kerja secara parsial berpengaruh nyata

terhadap pendapatan UMKM di Kabupaten Klungkung.

Edy Putra (2009) dalam skripsinya yang berjudul Efektivitas Program

Pemberian

Bantuan

Dana

Bergulir

pada

UMKM

di

Kabupaten

Badung

menyimpulkan dari ketiga variabel tersebut, baik variabel input, proses, dan

output, maka kesimpulan yang didapat mengatakan bahwa Program Bantuan Dana

Bergulir pada UMKM di Kabupaten Badung adalah kurang efektif yaitu dengan

nilai pencapaian sasaran sebesar 68,91 persen.

Agus

Anugerah

Wisaputra

(2010)

dalam

skripsinya

yang

berjudul

Efektivitas Kredit Usaha Mandiri (KUM) Koperasi Usaha Agribisnis Terpadu

(KUAT) Subak Guama dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Padi Sawah di

34

Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan . menyimpulkan dari ketiga variabel

tersebut, baik variabel input, proses, dan output, maka kesimpulan yang didapat

mengatakan bahwa Program Pemberian Pinjaman KUM untuk Petani Padi Sawah

di Kecamatan Marga adalah efektif yaitu dengan nilai pencapaian sasaran sebesar

92,14 persen.

Persamaan penelitian sekarang dan ketiga penelitian sebelumnya adalah

sama-sama

meneliti

mengenai

UMKM

Kredit.

Untuk

penelitian

Zesmaertha

terdapat

kesamaan

menganalisis

kredit

dan

pendapatan

UMKM,

sedangkan

perbedaanya kesempatan kerja, waktu dan lokasi penelitian. Untuk penelitian Edy

Putra dan Dwi Prima, persamaannya dengan penelitian sekarang adalah meneliti

mengenai

efektivitas

kredit

UMKM,

sedangkan

perbedaannya

terletak

pada

program kredit dan lokasi penelitian. Untuk Penelitian Agus Anugerah Wisaputra

terdapat

kesamaan

menganalisis

kredit

dan

tingkat

pendapatan,

sedangkan

perbedaannya terletak pada program kredit dan lokasi penelitian.

2.3 Rumusan Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah dan landasan teori yang telah diuraikan,

maka dapat diajukan rumusan hipotesis sebagai berikut:

1)

2)

Program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berdampak positif terhadap

peningkatan

pendapatan

UMKM

di

Kecamatan Denpasar Timur.

Kelurahan

Penatih

Dangin

Puri

Program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berdampak positif terhadap

kesempatan

kerja

UMKM

KecamatanDenpasar Timur.

di

35

Kelurahan

Penatih

dangin

Puri

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan

Denpasar Timur, dipilihnya Penatih Dangin Puri karena Penatih Dangin Puri

memberikan kontribusi yang cukup besar untuk perekonomian Denpasar terutama

di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengahnya. Selain itu penyerapan tenaga

kerjanya cukup besar diantara kelurahan yang lainnya di Kecamatan Denpasar

Timur.

3.2 Obyek Penelitian

Obyek penelitian ini adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR), pendapatan dan

Kesempatan Kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kelurahan

Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur.

3.3 Identifikasi Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah.

1) Variabel Input yang terdiri dari:

(1) Tingkat ketepatan sasaran.

(2) Sosialisasi oleh petugas.

(3) Tujuan program pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR).

36

2) Variabel Proses terdiri dari:

(1) Ketepatan penggunaan KUR.

(2) Pemantauan dari petugas.

(3) Respon dari petugas.

3) Variabel Output yang terdiri dari:

(1) Pendapatan UMKM setelah menerima KUR.

(2) Kesempatan kerja setelah menerima KUR.

3.4 Definisi Operasional Variabel

Dalam penelitian ini diperlukan definisi operasional variabel agar tidak

menimbulkan interpretasi yang keliru, yaitu sebagai berikut:

1)

Input

(1) Tingkat ketepatan sasaran adalah ketepatan bantuan pemberian Kredit

Usaha Rakyat (KUR) yang diberikan pemerintah kepada UMKM di

Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan denpasar Timur.

(2) Sosialisasi oleh petugas mengenai Kredit Usaha Rakyat adalah untuk

mengetahui efektif tidaknya pelaksanaan program pemberian Kredit

Usaha Rakyat.

(3) Tujuan program pemberian Kredit Usaha Rakyat adalah agar UMKM di

Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpsar Timur mengetahui

secara jelas tujuan dilaksanakannya program ini.

2)

Proses

(1) Ketepatan

penggunaan

Kredit

Usaha Rakyat

adalah

tepat

tidaknya

pemanfaatan dana yang diberikan sesuai dengan tujuan pemerintah

37

(2) Pemantauan dari petugas adalah pemantauan yang dilakukan untuk

mengetahui

sampai

sejauh

mana

Kredit

Usaha

Rakyat

mampu

membantu meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja UMKM di

Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur.

(3) Respon

dari

petugas

terhadap

keluhan-keluhan

responden

adalah

respon, tanggapan atau solusi yang diberikan oleh petugas kepada para

UMKM di Kelurahan Penatih Dangin Puri yang menerima KUR, di

dalam mencari atau memecahkan suatu masalah atau kendala yang

dimiliki oleh UMKM tersebut.

3)

Output

(1) Pendapatan UMKM setelah menerima KUR adalah pendapatan yang

dihasilkan oleh para UMKM penerima KUR di Kelurahan Penatih

Dangin Puri setelah menerima dan menggunakan KUR sebagai kredit

penambahan modal di dalam menjalankan usahanya. Pendekatan yang

digunakan dalam proses output adalah pendekatan ilmiah dimana untuk

mengetahui kebenaran di dalam pendekatan ilmiah ini adalah kebenaran

yang ditemukan melalui proses ilmiah (Rahyuda : 2004 : 4). Kebenaran

ilmiah dapat di terima karena.

a).

Adanya Koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya

yang dianggap benar.

b).

Adanya Koresponden, suatu pernyataan dianggap benar, jika materi

pengetahuan

yang

terkandung

dalam

pernyataan

tersebut

berhubungan dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

38

c).

Sifat Pragmatis, pernyataan dipercaya benar karena pernyataan

tersebut mempunyai sifat fungsional dalam kehidupan praktis.

(2) Kesempatan kerja setelah menerima KUR adalah kesempatan peluang

kerja yang dimiliki oleh UMKM penerima KUR di Kelurahan Penatih

Dangin Puri dalam menambah atau memperluas lapangan pekerjaan

usahanya, guna menyerap tenaga kerja.

3.5

Jenis dan Sumber Data

 

3.5.1

Jenis Data Menurut Sifatnya

 

1)

Data Kuantitatif

 

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif adalah data

yang berbentuk angka-angka dan dapat di hitung dengan satuan hitung

(Sugiono, 2002 : 13). Data yang digunakan adalah jumlah kredit usaha

rakyat

yang

diberikan

oleh

pihak

bank

dan

jumlah

pendapatan

dan

kesempatan kerja UMKM.

 

2)

Data Kualitatif

 

Data kualitatif adalah data yang berupa penjelasan-penjelasan atau uraian-

uraian. Dalam penelitian ini data kualitatif yang digunakan adalah pengisian

kuesioner dari para responden.

 

3.5.2

Jenis Data Menurut Sumbernya

 

1)

Data primer adalah data yang diperoleh peneliti langsung dari sumbernya

baik berupa lisan maupun tulisan. Data primer dalam penelitian ini adalah

jawaban responden mengenai efektivitas program pemberian bantuan Kredit

39

Usaha Rakyat (KUR) terhadap peningkatan pendapatan dan kesempatan

kerja di Kelurahan Penatih dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur.

2)

Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi yang

dikumpulkan dan diolah pihak-pihak terkait berupa data UMKM

yang

menerima pinjaman bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

3.6

Teknik Penentuan Sampel

Mohamad Nazir (2008 : 110), mengatakan sampel adalah bagian dari

populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki. Populasi adalah kumpulan dari

seluruh elemen (unit dan individu) sejenis dan dapat dibedakan berdasarkan obyek

penelitian.

Metode penentuan sampel pada penelitian ini adalah secara acak. Ukuran

sampel

yang

digunakan

sebagai

responden

ditentukan

berdasarkan

ukuran

populasi. Responden penelitian ini adalah UMKM di Kelurahan Penatih Dangin

Puri Kecamatan Denpasar Timur yang menerima Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Menurut (Sugiono, 2003 : 73), bila populasi besar dan tidak mungkin mempelajari

semua yang ada dalam populasi misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan

waktu maka dapat digunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.

Semua memiliki keseragaman yang sama, yaitu merupakan pelaku UMKM

yang

menerima

Kredit

Usaha

Rakyat,

dengan

menggunakan

metode

Proportionate Random Sampling dari 292 populasi UMKM yang terdapat di

Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur hanya diambil 75

sampel sebagai responden karena sudah dianggap mampu mewakili keseluruhan

responden.

40

Ukuran sampel yang digunakan dalam menganalisis efektivitas program

bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah dengan menggunakan rumus Slovin

sebagai berikut:

n

N

1 Ne 2

Keterangan:

n

: Ukuran Sampel

N

: Ukuran populasi

e

: Nilai Kritis

(1)

Ukuran populasi (N) dalam penelitian ini adalah 292 unit usaha dan nilai

kritis = 0,10 (10 persen). Dengan demikian jumlah sampel yang diambil adalah

sebagai berikut :

n

n

n

n

n

N

1

Ne 2

292

1

292(0,1) 2

292

3,92

74,48

75

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah sampel adalah sebanyak 74,48

sampel, sehingga dibulatkan menjadi 75 sampel. Selanjutnya pengambilan jumlah

sampel penelitian di masing-masing kelurahan ditentukan dengan menggunakan

Proportionate Random Sampling.

41

1)

Kelurahan Penatih Dangin Puri

= 40/292 x 75 = 10

2)

Kelurahan Penatih

= 16/292 x 75 = 4

3)

Kelurahan Kesiman Kertalangu

= 53/292 x 75 = 13

4)

Kelurahan Kesiman Petilan

= 30/292 x 75 = 8

5)

Kelurahan Kesiman

= 39/292 x 75 = 10

6)

Kelurahan Sumerta

= 20/292 x 75 = 5

7)

Kelurahan Sumerta Kelod

= 15/292 x 75 = 4

8)

Kelurahan Sumerta Kaja

= 22/292 x 75 = 6

9)

Kelurahan Sumerta Kauh

= 28/292 x 75 = 7

10) Kelurahan Dangin Puri

11) Kelurahan dangin Puri Kelod

Jumlah Sampel

= 12/292 x 75 = 3

= 19/292 x 75 = 5

= 75

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Data

yang

digunakan

dalam

penelitian

menggunakan metode berikut:

ini

dikumpulkan

dengan

1)

Wawancara yaitu proses memperoleh data dengan cara tatap muka langsung

dengan menggunakan

pertanyaan yang telah diucapkan sebelumnya. Hal-

hal yang ditanyakan meliputi : 1) nama responden, alamat responden, umur,

jenis kelamin, pendidikan, agama, status kewarganegaraan, status dalam

rumah tangga, 2) nama usaha, alamat usaha, lama usaha, jenis barang usaha

yang diproduksi, jumlah pegawai, omzet dalam sebulan, cara penjualan,

sumber

bahan

diperoleh.

baku,

sumber

modal,

42

jumlah

kredit

usaha

rakyat

yang

2)

Satuan dokumentasi yaitu pengumpulan data yang berasal dari dokumen-

dokumen

yang

berhubungan

dengan

rumusan

masalah.

Data

yang

dikumpulkan melalui metode ini adalah: banyaknya perusahaan industri

menurut

kecamatan,

banyaknya

perusahaan/usaha

industri

menurut

kelurahan

dan

jumlah

tenaga

kerja

di

kecamatan

denpasartimur,

perkembangan realisasi dan jumlah debitur program KUR Kupedes PT.

Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. Unit WR Supratman per Triwulan I

(TW I) 2010 s/d Triwulan I (TW I) 2011 di Kelurahan Penatih Dangin Puri

Kecamatan Denpasar Timur.

3.8 Teknik Analisis Data

Untuk

menganalisis

efektivitas

program

(KUR) terhadap

pendapatan dan

kesempatan

bantuan

Kredit

Usaha

Rakyat

kerja

Usaha Mikro Kecil

dan

Menengah (UMKM) di Kelurahan Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar

Timur, dipergunakan metode statistik sederhana yaitu:

Efektivita s Realisasi Target

x100%

 

(2)

Keterangan

:

Realisasi

: Jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan

 

Target

: Seluruh responden UMKM yang mendapatkan KUR

 

Koefisien

efektivitas

bernilai

kurang

dari

40

persen

maka

pemberian

bantuan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada UMKM dikatakan sangat

tidak efektif, sedangkan apabila koefisien efektivitas bernilai 40-59,99 persen

berarti tidak efektif, koefisien efektivitas bernilai 60-79,99 persen berarti cukup

43

efektif dan jika koefisien efektivitas bernilai diatas 79,99 persen maka pemberian

bantuan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada UMKM sangat efektif

(Subagyo : 2000).

Untuk menganalisis dampak pemberian bantuan program Kredit Usaha

Rakyat (KUR) terhadap peningkatan pendapatan UMKM dilakukan pengujian

statistik

sederhana.

Dalam

uji

statistik

akan

diuji

mengenai

ada

tidaknya

peningkatan pendapatan keluarga sebelum atau sesudah menerima KUR. Selisih

atau beda nilai karakteristik sebelum atau sesudah observasi akan digunakan nilai

t observasi. Langkah-langkah dalam uji statistik sebagai berikut.

1)

Menentukan Hipotesis

H 0 : d = 0 ;

program

bantuan

Kredit

Usaha

Rakyat

(KUR)

tidak

berdampak

terhadap

peningkatan

pendapatan

Usaha

Mikro

Kecil dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Penatih Dangin

Puri Kecamatan Denpasar Timur.

H i : d > 0 ;

program

bantuan

Kredit

Usaha

Rakyat

(KUR)

berdampak

positif terhadap peningkatan pendapatan Usaha Mikro Kecil

dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Penatih dangin Puri

Kecamatan Denpasar Timur.

2) menentukan uji nyata (uji t) statistik. Nata Wirawan (2002 : 204)

t0

d

Sd / n
Sd /
n

44

(3)

Keterangan:

d = Nilai rata-rata beda produksi pengamatan berpasangan

S d

S d

= Simpangan baku beda pengamatan berpasangan

=

(di d) 2 (n 1)
(di d) 2
(n 1)

d di

n

d i

= Beda pengamatan pasangan yang ke-i

df v (n 1)

Tabel t yang digunakan adalah uji satu arah sisi kanan dengan level of signifikan

sebesar 5 persen dan derajat bebas n-1. Terlihat pada Gambar 3.1

Daerah penolakan H 0 Daerah penerimaan H 0
Daerah penolakan H 0
Daerah
penerimaan H 0
pada Gambar 3.1 Daerah penolakan H 0 Daerah penerimaan H 0 t 0 t , (n-1)
pada Gambar 3.1 Daerah penolakan H 0 Daerah penerimaan H 0 t 0 t , (n-1)

t

0

t , (n-1)

Sumber : Nata Wirawan (2002 : 179)

Gambar 3.1 Karakteristik Daerah Penerimaan dan Penolakan H 0 dengan Uji t Terhadap Pendapatan Sebelum dan Sesudah Bantuan KUR

Bila t hitung lebih kecil daripada t tabel maka Ho diterima, artinya rata-rata

karakteristik

sebelum

dan

sesudah

adalah

sama

atau

tidak

ada

perbedaan

pendapatan sebelum dan sesudah adanya program bantuan Kredit Usaha Rakyat

(KUR). Sebaliknya apabila t hitung lebih besar dari t tabel maka Ho ditolak,

45

artinya rata-rata karakteristik sesudah adanya bantuan program Kredit Usaha

Rakyat (KUR) lebih besar dibandingkan sebelum adanya bantuan program Kredit

Usaha Rakyat (KUR).

Menganalisis dampak pemberian bantuan program Kredit Usaha Rakyat

(KUR) terhadap kesempatan kerja UMKM dilakukan pengujian dengan cara yang

sama dengan analisis dampak pemberian bantuan program Kredit Usaha Rakyat

(KUR) terhadap pendapatan yaitu dengan statistik sederhana. Dalam uji statistik

akan diuji meng