Anda di halaman 1dari 7

MODUL 4 TEKNIK VAKUM

Nataadriya Hasanudin Sidik, Albert C.P, Bayu A, Amalia R, Bryan A.P, Iis P 10211060, 10210069. 10211002, 10211010, 10211058, 10211088 Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia Email: Nataadriya_fi@yahoo.co.id Asisten: Arfian Alimansyah / 10210050 Tanggal Praktikum: 08-10-2013
Abstrak Percobaan Teknik Vakum yang dilakukan pada 08 Oktober 2013, bertujuan mengamati perubahan fasa dari beberapa jenis zat cair akibat pemvakuman, sehingga diperoleh hasil berupa gejala fisis yang ditinjau serta nilai dari perubahan laju terhadap tekanan , konstanta kebocoran , laju pemvakuman , konduktansi selang dan tekanan residu melalui pengukuran perubahan pada Tekanan,Volume dan Temperature. Dengan bantuan aplikasi mathlab memanfaat mode curve fitting akan diperoleh nilai A,B,C dari persamaan eksponensial yang diperoleh sehingga membantu perhitungan, hal yang perlu diingat bahwa dalam percobaan ini prinsip dari termodinamika berlaku.Hasil yang diperoleh tercantum pada tabel 6.dan 7. Kata kunci: Konduktansi selang, konstanta kebocoran , Laju kebocoran, Tekanan Residu, Vakum.

I. Pendahuluan Percobaan Teknik Vakum dilakukan untuk membandingkan antara hasil perubahan fasa dari beberapa jenis zat cair akibat proses pemvakuman dengan meninjau prinsip termodinamika, serta menentukan nilai dari perubahan laju pemompaan terhadap tekanan, konstanta kebocoran sistem, laju pemvakuman, konduktansi selang dan nilai tekanan residu. Berdasarkan teori, Vakum adalah keadaan dimana ruang hampa tanpa materi didalamnya, namun secara praktik, merupakan suatu keadaan gas dalam ruang dengan tekanan yang jauh dari tekanan atmosfer normal sehingga konsentrasi molekul akan lebih rendah dari konsentrasi molekul udara pada atmosfer normal tersebut. Keadaan vakum banyak untuk pengukuran dan proses fisika karena digunakan untuk memperoleh reaksi fisika atau kimia selama proses dengan memindahkan partikel sebelum bertumbukan serta mengurangi tumbukan molekular / detik agar mengurangi kontaminasi permukaan ruang yang di vakumkan. Sistem Vakum terdiri dari pompa, selang dan tabung(vessel). Laju pemvakuman (S) dapat dinyatakan sebagai berikut

S = B V...................................... (1) (Cm^3/s) dengan nilai B diperoleh dari regresi dengan tipe eksponensial Y = A(e^(-B*x) + C..................... (2) dan Y = A(e^(-s/v) + C...................... (3) diperoleh hubungan bahwa - /dt = /V(P Pr)........................(4) keterangan : P = Tekanan sesaat V = Volume total Pr = Tekanan Residu Besarnya volume gas yang masuk atau keluar selang persatuan waktu dikalikan tekanan disebut Throughput (Q), dimana ; Q = S*Ps .......................................... (5) Pada tahap awal pemompaan dengan tekanan rendah , Gas yang dilepas dapat di aproksimasi oleh konstanta kebocoran dengan nilai (QL) sebagai berikut : Persamaan (1) akan berubah menjadi

/ =

- / (P-Ps) + QL/ ....................(7)

Tabel 1. Data hasil pengamatan cawan petri kosong (tanpa zat)

dimana Ps = Pr QL/ .......................................(8) Dengan solusi dari persamaan diatas: [P-( Ps + ( QL/ S) ) ] = [P-( Ps + ( QL/ S) ) ]exp[-(s/v)t] (9) II. Metode Percobaan Percobaan pertama yang dilakukan adalah Menentukan Laju Pemompaan dari beberapa jenis zat cair yang di uji . Bersihkan terlebih dahulu sistem Vakum serta olesi Vacuum grease setipis mungkin secara merata, masukkan bahan uji pertama yaitu cawan petri kosong ,lalu nyalakan sistem vakum , amati dan catat temperatur , tekanan dan gejala fisis yang terjadi setiap 5 detik sampai mencapai tekanan residu, matikan sistem vakum , amati dan catat tekanan dan temperatur setiap 5 detik dalam rentang waktu 1 menit atau lebih. Ulangi langkah tersebut untuk cawan petri berisi 10 mL Aquadm, 10 mL Alkohol 70%, 10 mL Alkohol 96% serta 10 mL Gliserin. Percobaan kedua adalah Mempompa sarung tangan karet yang terikat ujungnya pada sistem vakum . Sarung tangan karet yang telah terikat ujungnya di masukkan kedalam vacuum chamber , lalu nyalakan sistem vakum, amati gejala fisis yang terjadi pada sarung tang karet tersebut. Akan diperoleh grafik P-t yang berbentuk eksponensial negatif, serta akan berlaku prinsip termodinamika, dimana tekanan akan berbanding lurus dengan suhu . III. Data dan Pengolahan Seluruh plot grafik Matlab yang diperoleh di referensi dari Bayu Adi ( 10211002) 1. Cawan Petri kosong

Cawan Petri Kosong (Tanpa Zat) pompa nyala pompa mati waktu P T P T 5 660 30 100 28.5 10 480 29.5 100 28.5 15 380 29 120 28.5 20 300 29 120 28.5 25 240 29 140 28.5 30 200 28.5 160 28.5 35 160 28.5 180 28.5 40 140 28.5 200 28.5 45 12 28.5 200 29 50 120 28.5 220 29 55 100 28.5 240 29 60 100 28 260 29 65 100 28 70 100 28 75 80 28 80 80 28 85 80 28 90 80 28

Gambar 1a. Kurva P Vs t cawan petri kosong dengan keadaan menyala

Gambar 1b. kurva P-t cawan petri kosong dengan keadaan mati

Gambar 2a. kurva P-t cawan berisi Aquadm 10 mL dengan keadaan menyala

2. Aquadm 10 mL
Tabel 2. Data hasil pengamatan cawan petri berisi Aqua dm 10 mL

waktu 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95

Aqua dm 10 ML pompa pompa nyala mati P T P T 680 29 100 18 480 29 120 18 380 29 140 18 300 28 160 18.5 240 28 180 19 200 28 190 19 160 28 200 19 140 28 220 19.5 120 28 240 19.5 120 28 240 20 100 27 260 20 100 26 280 20 100 24 300 20 100 23 300 20 100 22 320 20.5 100 21 340 20.5 100 20 360 21 100 19.5 360 21 100 19

Gambar 2b. kurva P-t cawan berisi Aquadm 10 mL dengan keadaan mati

3. Alkohol 70% 10 mL
Tabel 3. Data hasil pengamatan cawan berisi Alkohol 70% 10 mL

waktu 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85

alkohol 70% 10 ML pompa nyala pompa mati P T P T 640 29 140 10 500 29 160 10 380 28.5 200 10 300 28.5 240 10 240 28 280 10 200 28 320 10.5 160 28 140 27.5 120 27 120 25 120 23 120 21 100 19 100 17 100 16.5 100 14.5 100 14

90 95 100

100 100 100

13 12 11

70 75 80 85 90 95

100 100 100 100 100 100

14 13 12 10.5 9 8

Gambar 3a. Kurva P-t cawan berisi Alkohol 70% 10 mL dengan keadaan menyala Gambar 4a.Kurva P-t cawan berisi Alkohol 96% 10 mL dengan keadaan menyala

Gambar 3b. Kurva P-t cawan berisi Alkohol 70% 10 mL dengan keadaan mati

4. Alkohol 96% 10 mL
Tabel 4. Data hasil pengamatan cawan petri berisi Alkohol 96 % 10 mL Gambar 4b. Kurva P-t cawan berisi Alkohol 96% 10 mL dengan keadaan mati

5. Gliserin 10 mL
Tabel 5. Data hasil pengamatan cawan petri berisi Gliserin

waktu 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65

alkohol 96% 10 ML pompa nyala pompa mati P T P T 660 28 160 4 500 28 200 4 380 27 260 4 300 27 300 4.5 240 26.5 320 4.5 200 26 340 4.5 160 25 340 4.5 140 23 360 5 140 22 380 5 120 21 400 5 120 19.5 420 5 120 18 440 5.5 120 16.5

waktu 5 10 15 20 25 30 35 40 45

Gliserin pompa pompa mati nyala P T P T 660 30 180 29 480 30 280 29 380 29.5 320 29 300 29.5 360 29 240 29 420 29 200 29 440 29 160 29 500 29 140 29 540 29 120 29 480 29

50 55 60 65 70 75 80 85 90 95

120 100 100 100 100 100 100 100 100 100

29 29 29 29 29 29 29 29 29 8

620 660 700

29 29 29

70% Alkohol 96% Gliserin

797 794.8

0.06954 0.06872

99.26 92.53

Dengan menggunakan persamaan (1) ,(5), (8) serta terlebih dahulu mencari Volume total sistem, dimana Volume total sistem di nyatakan dalam persamaan berikut : Vtotal sitem = Vsilinder + V1/2 bola(10)
= r^(2)t

+ 1/2 *4/3 r^3

Diketahui : Tsilinder = 20 Cm ; T1/2 bola = 10 Cm


Serta d Keduanya = 20 Cm

Sehingga diperoleh , Vtotal sitem = ((0,1)^2(0,2))+ (1/2 *4/3 (0,1)^3) Vtotal sitem = 8.373 10^(-3) m^(3) Maka akan di dapat tabel hasil pengolahan data sebagai berikut:
Tabel 7. Hasil pengolahan data.

Gambar 5a. Kurva P-t cawan berisi Gliserin 10 mL dengan keadaan menyala

Bahan Tanpa Zat Aqua dm Alkohol 70% Alkohol 96% Gliserin Bahan Tanpa Zat Aqua dm Alkohol 70% Alkohol 96% Gliserin

Vtotal sistem (L)

S (L/S) 0.542068 0.596995 0.56367 0.582258 0.575393 F(l/s) -2.44 -1.73 -2,08 -1.87 -1.93

Ps (mbar) 80 100 100 100 100 Q (mbar l/s) 43.365442 59.69949 56.367036 58.225842 57.539256

8.373 8.373 8.373 8.373 8.373 QL (mbar l/s) 18,60 24.93 43.78 62.13 68.24

Gambar 5b. Kurva P-t cawan berisi Gliserin 10 mL dengan keadaan mati

Berdasarkan hasil Curve Fitting yang diperoleh dari Mathlab dengan tipe persamaannya eksponensial (persamaan. 2) Y = A(e^(-B*x) + C Maka diperoleh tabel nilai A,B,C sebagai berikut :
Tabel 6. Nilai A,B,C dari setiap Bahan saat keadaan menyala

Bahan Tanpa zat Aqua dm Alkohol

A 789.2 825 773.4

B 0.06474 0.0713 0.06732

C 81.18 94.53 95.49

Grafik Tekanan terhadap Temperatur (P-T) dari setiap zat cair

Gambar 9. Kurva P-T Alkohol 96% 10 mL dalam keadaan menyala Gambar 6. Kurva P-T cawan petri kosong saat menyala

Gambar10. Kurva P-T Gliserin 10 mL dalam keadaan menyala

IV. Pembahasan
Gambar 7. Kurva P-T Aqua dm 10 mL dalam keadaan menyala.

Gambar 8. Kurva P-T Alkohol 70% 10 mL dalam keadaan menyala

Berdasarkan grafik P-t yang telah diperoleh , setiap grafik P-t menunjukkan bentuk eksponensial negative, dimana setiap nilai R-square yang diperoleh mendekati 1 kendati nilai setiap R-square setiap grafiknya berbeda. Hasil percobaan yang diperoleh sesuai dengan hasil secara teori. Dari tabel hasil pengolahan data, dapat dilihat bahwa terdapat hubungan antara konduktansi selang dengan laju pemompaan yang bersifat linear, dimana nilai besarnya konduktansi selang akan berbanding lurus dengan Laju pemompaan tersebut, saat F besar maka S besar begitupula sebaliknya. Kebocoran terjadi pada proses pemvakuman , ketika terdapatnya molekul udara dari atmosfer normal yang masuk kedalamnya. Laju kebocoran (QL) diperoleh dari gradien grafik P-t dari semua zat cair saat dimatikan. Diperoleh nilai (QL) hasil percobaan seperti yang tertera pada Tabel.7 dengan nilai yang bervariasi, seharusnya, nilai yang didapat besarnya adalah nol dengan demikian laju

kebocoran=0 atau tidak ada kebocoran pada vakum dengan begitu throughput akan semakin besar, sedangkan dalam hasil percobaan, menunjukkan adanya kebocoran didalam sistem tersebut, kebocoran tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah ketidaktepatan posisi dari pemasangan vacuum chamber , waktu pakai dari alat vakum tsb serta gas yang terperangkap dalam gel perekat vakum. Dari grafik P-T yang diperoleh , berlaku prinsip termodinamika, dimana Tekanan akan berbanding lurus dengan Suhu dan akan berbanding terbalik dengan volume [1]. Hal tersebut menunjukkan persamaan gas ideal sehingga hasil percobaan sesuai dengan hasil secara teori. Fasa suatu benda sangat dipengaruhi oleh tekanan dan suhu, pada sistem vakum, ketika tekanan yang ada didalam sistem diambil oleh pompa sehingga tekanan didalamnya akan turun, seperti pada pengujian berbagai jenis zat cair terjadi perubahan fasa ditandai dengan gejala fisis terdapatnya uap disekitar cawan petri dalam sistem vakum tsb. Anomali pada Alkohol terdapat pada saat suhu tinggi, dimana tekanan alkohol naik secara drastis sehingga sulit untuk ditinjau perubahan suhunya, serta semakin besar konsentrasi alkohol maka semakin tinggi tingkat anomali dari alkohol tersebut, karena pengaruh kontraksi volume antara larutan alkohol dengan air. Sarung tangan karet yang telah diikatkan ujungnya berada di dalam vacuum chamber, saat vakum dinyalakan, sarung tangan karet tersebut akan mengembang karena tekanan disekitar sarung tangan tersebut akan bernilai lebih rendah dari tekanan yang ada didalamnya sehingga volume nya membesar ditandai dengan mengembangnya sarung tangan tersebut, sebaliknya, ketika udara luar dimasukkan maka volume akan kembali menurun karena tekanan membesar ( berlaku kembali prinsip termodinamika )[1] V. Simpulan Proses pemvakuman terjadi ketika tekanannya jauh dari tekanan atmosfer normal sehingga konsentrasi molekul didalamnya akan lebih rendah dari konsentrasi molekul di udara.

Diperoleh hubungan antara konduktansi selang dengan laju pemvakuman yang bersifat linear. Berlakunya prinsip termodinamika, dimana tekanan akan berbanding lurus dengan suhu dan berbanding terbalik dengan volume sehingga dapat merujuk kepada persamaan gas ideal. Anomali alkohol terjadi pada saat suhu tinggi, semakin tinggi konsentrasi semakin tinggi tingkat anomalinya. Meninjau dari perubahan P,V dan T diperoleh nilai S , F, Q, QL, Ps seperti pada tabel.7 . Nilai QL seharusnya bernilai nol hal tersebut menunjukkan tidak adanya kebocoran sehingga nilai throughput semakin besar. VI. Pustaka [1] Zemansky M.W dan Dittman, R. H. (1986). Kalor dan Termodinamika. Bandung : Penerbit ITB (terjemahan). [2] Teknik Vakum (mengakses dari link : http://Scribd.com/doc/ ./TeknikVakum) pada tanggal 10 Oktober 2013 pukul 22.35 Wib.