Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Adanya masa otot yang bobotnya hampir lebih dari separuh berat tubuh, memungkinkan manusia untuk dapat menggerakkan tubuh dan melakukan pekerjaan. Pekerjaan di satu pihak memiliki arti penting bagi kemajuan dan peningkatan prestasi, sehingga dapat mencapai kehidupan yang produktif sebagai salah satu tujuan hidup. Di pihak lain dengan bekerja berarti tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain bahwa tiap pekerja merupakan beban bagi yang bersangkutan beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban mental. Dari sudut pandang ergonomi setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Menurut Sumamur (1984) bahwa kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu dengan yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkat ketrampilan, kesegaran jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia, dan ukuran tubuh dari pekerja yang bersangkutan. Upaya perusahaan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

menyebabkan perubahan beban kerja yang berdampak terhadap produktivitas tenaga kerja yang ada (Juniarto, 2011). Perubahan dapat diartikan dari bentuk lama menjadi bentuk baru, atau dari konsep yang kaku menjadi konsep yang dinamis, dengan tujuan untuk menghasilkan keluaran (output) yang lebih baik dari sebelumnya (Edison, 2009:85). Jika perubahan itu mengarah menjadi lebih baik maka akan berdampak pada produktifitas tenaga kerja sehingga kesejahteraan dan kemakmuran pekerja dapat dicapai. Namun apabila beban kerja tersebut tidak mengalami perubahan atau bahkan mengalami keterpurukan akan berakibat pada kelelahan atau bahkan stress akibat kerja.

Linda Vitriany R0012054

Saat bekerja pastinya kita menggunakan otot kita untuk melakukan pekerjaan tersebut dan menggunakan otak kita untuk memerintahkan kerja anggota gerak kita sehingga terjadilah relasi yang baik antara kerja otot dengan kerja otak kita, kerja otot akan menghasilkan output berupa beban kerja fisik sedangkan kerja otak akan menghasilkan output berupa beban kerja mental. Dalam makalah ini akan dibahas lebih mendetail lagi mengenai beban kerja fisik vs beban kerja mental. B. Rumusan masalah 1. Apa yang dimaksud dengan beban kerja ? 2. Faktor apa saja yang mempengaruhi beban kerja ? 3. Jelaskan mengenai beban kerja fisik dan beban kerja mental ! 4. Metode apa saja yang dapat digunakan untuk melakukan pengukuran beban kerja fisik dan beban kerja mental ? C. Tujuan 1. Mengetahui pengertian tentang beban kerja serta kasus-kasus yang berhubungan dengan beban kerja 2. Dapat menyebutkan serta menjelaskan faktor-faktor yang

mempengaruhi beban kerja 3. Mampu menjelaskan mengenai beban kerja fisik dan beban kerja mental 4. Mengetahui metode yang dapat digunakan untuk melakukan pengukuran beban kerja fisik dan beban kerja mental

Linda Vitriany R0012054

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pengertian Beban Kerja Menurut Permendagri No. 12/2008, beban kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan/unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume kerja dan norma waktu (Utomo, 2008). Menpan

(dalam, Dhania 2010:2) mendefinisikan beban kerja sebagai sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan Philips (2000:315) mendefinisikan beban kerja sebagai reaksi tubuh manusia ketika melakukan pekerjaan eksternal. Meshkati (dalam Widyanti dkk, 2010:1) mendefinisikan beban kerja (wokload) sebagai perbedaan antara kemampuan pekerja dengan tuntutan pekerjaan yang harus dihadapi. Mengingat kerja manusia bersifat mental dan fisik, maka masing-masing mempunyai tingkat pembebanan yang berbeda-beda. Jika kemampuan pekerja lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan, akan muncul perasaan bosan dan overstress. Namun sebaliknya, jika kemampuan pekerja lebih rendah daripada tuntutan pekerjaan, maka akan muncul kelelahan yang lebih atau understress. Pendapat lain datang dari Hart & Staveland (1988) menyatakan bahwa beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara tuntutan tugas, lingkungan kerja dimana digunakan sebagai tempat kerja, keterampilan, perilaku dan persepsi dari pekerja. Pengukuran beban kerja diartikan sebagai suatu teknik untuk mendapatkan informasi tentang efisiensi dan efektivitas kerja suatu unit organisasi, atau pemegang jabatan yang dilakukan secara sistematis dengan menggunakan teknik analisis jabatan, teknik analisis beban kerja atau teknik manajemen lainnya. Lebih lanjut dikemukakan pula, bahwa pengukuran beban kerja merupakan salah satu teknik manajemen untuk mendapatkan informasi jabatan, melalui proses penelitian dan pengkajian yang dilakukan secara

Linda Vitriany R0012054

analisis agar dapat digunakan sebagai alas untuk menyempurnakan aparatur baik di bidang kelembagaan, ketatalaksanaan, dan sumberdaya manusia (Menpan, 1997, dalam. Utomo, 2008). Banyak definisi dari beban kerja namun pada intinya beban kerja itu muncul dari interaksi antara tuntutan dari dalam tubuh untuk memenuhi permintaan dari lingkungan luar tubuh. Oleh karena itu perlu diupayakan tingkat intensitas pembebanan yang optimum diantara kedua batas yang ekstrim tadi dan tentunya berbeda antara individu satu dengan individu yang lainnya. Pekerjaan seperti operator yang bertugas memantau panel kontrol pada suatu ruangan otomatisasi, termasuk pekerjaan yang mempunyai kadar intensitas pembebanan fisik yang rendah, dengan intensitas pembebanan mental yang tinggi. Sebaliknya pada pekerjaan angkat angkut secara manual membutuhkan intensitas pembebanan fisik yang tinggi dengan intensitas pembebanan mental yang rendah. Bagaimanapun juga bukanlah hal yang bijaksana jika hanya mempertimbangkan beban kerja dari satu aspek saja, selama faktor yang lain mempunyai inter-relasi pada cara-cara yang komplek. Pada umumnya tingkat intensitas pembebanan kerja optimum akan dapat dicapai, apabila tidak ada tekanan dan ketegangan yang berlebihan baik secara fisik maupun mental. Yang dimaksud tekanan disini adalah yang berkenaan dengan beberapa aspek dari aktivitas manusia, tugas-tugas, organisasi, dan dari lingkungannya yang terjadi akibat adanya reaksi individu pekerja karena tidak mendapatkan keinginan yang sesuai. Sedangkan ketegangan adalah konsekuensi logis yang harus diterima oleh individu yang bersangkutan sebagai akibat dari tekanan yang diterima.

B. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Beban Kerja Beban kerja tidak muncul dengan sendirinya namun dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Rodahl (1989), adiputra (1998), dan Manuaba (2000) bahwa secara umum hubungan antara beban kerja dan kapasitas kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor : 1) Faktor eksternal

Linda Vitriany R0012054

beban kerja oleh karena faktor eksternal adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja. Yang termasuk beban kerja faktor eksternal adalah tugas (task), organisasi dan lingkungan kerja. Ketiga aspek ini disebut stresor. a. Tugas-tugas yang dilakukan yang bersifat fisik seperti stasiun kerja, tata ruang, tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja, cara angkat-angkut, beban yang diangkatdiangkut, alat bantu kerja, alur kerja, sarana informasi termasuk displai dan control. Sedangkan tugas-tugas yang bersifat mental seperti kompleksitas pekerjaan, tingkat kesulitan pekerjaan, pelatihan atau pendidikan yang diperoleh, tanggung jawab pekerjaan. b. Organisasi kerja seperti masa waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang. c. Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik (suhu, udara ambien, kelembaban udara, cepat rambat udara, suhu radiasi, intensitas penerangan, kebisingan, tekanan udara, dan vibrasi mekanis), lingkungan kimiawi (debu, gas buang, uap logam, fume dalam udara), lingkungan kerja biologis (bakteri, virus, parasit, jamur, serangga), dan lingkungan kerja psikologis yang berkaitan dengan kejiwaan tenaga kerja seperti relasi antar sesama pekerja atau dengan atasan, penempatan kerja, atau interaksi antara pekerja dengan lingkungan sosialnya. 2) Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh akibat dari reaksi beban kerja eksternal. Reaksi tubuh disebut strain, berat ringannya strain dapat dinilai baik secara objektif maupun subjektif. Penilaian secara objektif yaitu melalui perubahan reaksi fisiologis, penilaian objektif ini tidak dapat dibuat-buat atau direkayasa sebab penilaian ini diukur dari keadaan fisiologis pekerja seperti denyut nadi

Linda Vitriany R0012054

sedangkan penilaian secara subjektif dapat dilakukan melalui perubahan reaksi psikologis dan perubahan perilaku. Faktor internal meliputi faktor somatis (Jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, status gizi, kondisi kesehatan), faktor psikis (motivasi, persepsi,

kepercayaan. keinginan dan kepuasan). Selanjutnya Hart & Staveland (1988) menjelaskan bahwa 3 faktor utama yang menentukan beban kerja adalah tuntutan tugas (task demand) contohnya seorang pekerja baru dengan pekerja yang sudah memiliki keahlian secara jelas akan memiliki tingkat perbedaan pengalaman terhadap beban kerja pada saat melakukan pekerjaan yang sama. Pengembangan ketrampilan akan menghasilkan baik dari segi nilai ekonomi mapun otomatisasi motor program sehingga tidak memerlukan upaya yang berlebihan atau tidak menjadikan beban tambahan. Kedua usaha atau tenaga (effort), dalam suasana peningkatan tuntutan tugas secara otomatis akan mengalami penurunan tenaga. Dan yang terakhir yaitu perfomansi, pengukuran perfomansi ini dapat dilakukan dengan pengumpulan data matrik beban kerja setiap individunya.

C. Dampak Beban Kerja Beban kerja yang terlalu berlebihan menimbulkan kelelahan baik fisik maupun mental dan reaksi-reaksi emosional seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan mudah marah. Sedangkan beban kerja yang terlalu sedikit dimana pekerjaan yang terjadi karena pengurangan gerak akan menimbulkan kebosanan dan rasa monoton yang disebut dengan kelelahan psikis (boredom), yaitu suatu keadaan yang kompleks yang ditandai oleh menurunnya penggiatan pusat syaraf yang disertai dengan munculnya perasaan-perasaan kelelahan, keletihan, kelesuan dan berkurangnya

kewaspadaan. Kebosanan dalam kerja rutin sehari-hari karena tugas atau pekerjaan yang terlalu sedikit mengakibatkan kurangnya perhatian pada pekerjaan sehingga secara potensial membahayakan pekerja (Manuaba, 2000, dalam Prihatini, 2007).

Linda Vitriany R0012054

BAB III PEMBAHASAN

A. Beban Kerja Fisik Beban kerja fisik didefinisikan sebagai reaksi manusia untuk pekerjaan fisik eksternal artinya beban kerja fisik memerlukan energi fisik dari otot manusia yang akan berfungsi sebagai sumber tenaga. Beban kerja fisik tergolong kedalam beban kerja eksternal yaitu beban kerja yang berasal dari pekerjaan yang sedang dilakukan (Arianti & Dewantari, 2011:103). Ketika pekerjaan eksternal adalah kerja fisik, reaksi tubuh yang terdiri dari penyesuaian fisiologis dan adaptasi diperlukan. Fisiologi secara umum mempelajari bagaimana fisik manusia dapat menjalankan fungsinya dengan baik (Purwaningsih, 2007:8). Kerja fisik disebut juga manual operation dimana perfomansi kerja sepenuhnya akan tergantung pada upaya manusia yang berperan sebagai sumber tenaga maupun pengendali kerja. Di samping itu kerja fisik dapat dikonotasikan dengan kerja berat, kerja otot, atau kerja kasar, karena aktivitas kerja fisik tersebut memerlukan usaha fisik manusia yang kuat selama periode kerja berlangsung. Selama kerja fisik berlangsung, maka konsumsi energi merupakan faktor utama yang dijadikan tolok ukur penentu berat/ringannya suatu pekerjaan. Secara garis besar, kegiatan-kegiatan manusia dapat digolongkan menjadi kerja fisik dan kerja mental. Pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara sempurna, karena terdapatnya hubungan yang erat antar satu dengan lainnya. Kerja fisik akan mengakibatkan perubahan fungsi pada alat-alat tubuh, yang dapat dideteksi melalui : 1. Konsumsi oksigen 2. Denyut jantung 3. Peredaran udara dalam paru-paru 4. Temperatur tubuh khususnya suhu rektal

Linda Vitriany R0012054

5. Konsentrasi asam laktat dalam darah 6. Komposisi kimia dalam darah dan jumlah air seni 7. Tingkat penguapan melalui keringat Kerja fisik akan mengeluarkan energi yang berhubungan erat dengan konsumsi energi. Menurut Astrand dan Rodahl (1977) bahwa penilaian kerja fisik dapat dilakukan dengan metode secara objektif, yaitu metode penilaian langsung dan tidak langsung. Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang dikeluarkan ( energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja. Meskipun metode dengan menggunakan asupan oksigen lebih akurat, namun hanya dapat mengukur untuk waktu kerja yang singkat dan diperlukan peralatan yang cukup mahal. Sedangkan untuk metode tidak langsung adalah dengan menghitung kecepatan denyut jantung. Dapat diilustrasikan pada gambar berikut hubungan antara kecepatan denyut jantung dengan aktivitas fungsi faal manusia.

Tingkat intensitas beban kerja fisik yang terlampau tinggi memungkinkan pemakaian energi yang berlebihan (Simanjuntak,

2010:80). Pemakaian energi yang berlebihan harus diimbangi dengan penggunaan waktu untuk beristirahat, waktu istirahat dapat dikatakan sebagai kompensasi dari pekerjaan fisik yang telah dilakukan. Dalam suatu keadaan tertentu, karyawan tidak mempunyai waktu istirahat yang cukup sehingga karyawan mengalami kelelahaan yang kronis (Master Modul APK2 Universitas Gunadarma, 2005:4). beban kerja fisik dapat dilihat dari 2 sisi, yakni sisi fisiologis dan biomekanika. Sisi fisiologis melihat
Linda Vitriany R0012054 8

kapasitas kerja manusia dari sisi fisiologi tubuh (faal tubuh), meliputi denyut jantung, pernapasan, dll. Sedangkan biomekanika lebih melihat kepada aspek terkait proses mekanik yang terjadi pada tubuh, seperti kekuatan otot, dan sebagainya. Pengukuran Kerja Dengan Metode Fisiologi Pada kerja fisik ini manusia akan menghasilkan perubahan dalam konsumsi oksigen, heart rate, temperatur tubuh dan perubahan senyawa kimia dalam tubuh. Kerja fisik ini dikelompokkan oleh Davis dan Miller menjadi tiga kelompok besar, sebagai berikut : a. Kerja total seluruh tubuh, yang mempergunakan sebagian besar otot biasanya melibatkan dua pertiga atau tiga perempat otot tubuh. b. Kerja sebagian otot, yang membutuhkan lebih sedikit energy expenditure karena otot yang digunakan lebih sedikit. c. Kerja otot statis, otot yang digunakan untuk menghasilkan gaya konstrasi otot (Master Modul APK2 Universitas Gunadarma, 2005:1-2). Tiffin mengemukakan kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh pekerjaan terhadap manusia dalam suatu sistem kerja, yaitu : a. Kriteria Faali meliputi kecepatan denyut jantung, konsumsi Oksigen, Tekanan darah, Tingkat penguapan, Temperatur tubuh, komposisi kimiawi dalam darah dan air seni. Kriteria ini digunakan untuk mengetahui perubahan fungsi alat-alat tubuh. b. Kriteria Kejiwaan meliputi pengujian tingkat kejiwaan pekerja, seperti tingkat kejenuhan, emosi, motivasi, sikap dan lain-lain. Kriteria kejiwaan digunakan untuk mengetahui perubahan kejiwaan yang timbul selama bekerja. c. Kriteria Hasil Kerja meliputi hasil kerja yang diperoleh dari pekerja. Kriteria ini digunakan untuk mengetahui pengaruh seluruh kondisi kerja dengan melihat hasil kerja yang diperoleh dari pekerja tersebut.

Linda Vitriany R0012054

Lebih lanjut Christensen (1991) dan Grandjean (1993) menjelaskan bahwa salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menghitung nadi kerja, konsumsi oksigen, kapasitas ventilasi paru-paru dan suhu inti tubuh. Kemudian Christensen (1991) menambahkan kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada metabolisme, respirasi, suhu tubuh dan denyut jantung. Berikut akan dijabarkan beberapa pendekatan tersebut. 1. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme Laju metabolisme dapat dihitung menggunakan rumus 3 komponen utama yaitu metabolisme basal, metabolisme aktivitas dan metabolisme pencernaan dengan rumus sebagai berikut : Metabolisme Total = M. Basal + M. Activity + M. Pencernaan a. Laju Metabolisme Basal. Digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh, fungsi-fungsi tubuh, dan peredaran darah. Dapat dihitung dengan rumus : Metabolisme Basal (W) = M. Jenis Kelamin + Berat Badan Dimana Metabolisme berdasakan jenis kelamin (1,28 W/kg berat badan untuk laki-laki dan 1,16 W/kg berat badan untuk wanita). b. Laju Metabolisme Aktivitas. Digunakan untuk aktivitas atau melakukan pekerjaan sehari-hari yang memerlukan energi yang dibutuhkan tubuh. Mulai dari kebutuhan kalori terendah yaitu tidur sampai yang paling tinggi 15,80 Kilo kalori/jam/kg Berat badan yaitu jalan naik tangga. c. Laju Metabolisme Pencernaan. Dengan rumus : Metabolisme Pencernaan = 0,1 ( M. Basal + M. Aktivitas )

2. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Jumlah Kebutuhan Kalori Semakin berat pekerjaan yang dilakukan maka akan semakin besar pula energi yang dikeluarkan. Berdasarkan hal tersebut maka besarnya

Linda Vitriany R0012054

10

jumlah kebutuhan kalori dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menentukan berat ringannya beban kerja. Menteri Tenaga Kerja melalui Keputusan Nomor 51 (1999) menetapkan kategori beban kerja menurut kebutuhan kalori sebagai berikut : Beban kerja ringan : 100 - 200 Kilo kalori/jam Beban kerja sedang : >200 - 350 Kilo kalori/jam Beban kerja berat : >350 - 500 Kilo kalori/jam

Setiap kebutuhan 1 L oksigen akan memberikan 4,8 kilo kalori (Sumamur, 1982). Menurut Grandjean (1993) bahwa kebutuhan kalori seorang pekerja selama 24 jam ditentukan oleh tiga hal : 1. Kebutuhan kalori untuk metabolisme basal. Keterangan kebutuhan seorang laki-laki dewasa memerlukan kalori untuk metabolisme basal 100 kilo joule (23,87 kilo kalori) per 24 jam per kg BB. Sedangkan wanita dewasa memerlukan kalori untuk metabolisme basal 98 kilo joule (23,39 kilo kalori) per 24 jam per kg BB. 2. Kebutuhan kalori untuk kerja. Kebutuhaan kalori untuk kerja sangat ditentukan oleh jenis aktivitas kerja yang dilakukan atau berat ringannya pekerjaan. 3. Kebutuhan kalori untuk pencernaan dan aktivitas-aktivitas lain diluar jam kerja. Rata-rata kebutuhan kalori untuk aktivitas diluar kerja adalah 2400 kilo joule (573 kilo kalori) untuk laki-laki dewasa dan sebesar 2000 2400 kilo joule (425 477 kilo kalori) per hari untuk wanita dewasa. Penentuan kategori beban kerja fisik berdasarkan kebutuhan oksigen melalui penaksiran kebutuhan kalori belum dapat

menggambarkan beban sebenarnya yang diterima oleh seorang pekerja sebab masih banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan kalori seperti lingkungan tempat kerja, cara dan sikap kerja, stasiun kerja, jenis pekerjaan, jenis kelamin, usia, dan aktivitas fisik. Pekerja kantor

Linda Vitriany R0012054

11

membutuhkan sekitar 2.500 kalori sehari. Atlet mungkin lebih dari 3.500 kalori. Pasien kencing manis di bawah 2.000 kalori, tergantung berat badan idealnya.

3. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Sistem Kardiovaskuler Pengukuran denyut nadi selama bekerja merupakan suatu metode untuk menilai cardiovasculair strain. Salah satu peralatan yang dapat digunakan untuk menghitung denyut nadi adalah telemetri dengan menggunakan rangsangan ElectroCardio Graph (ECG). Apabila peralatan tersebut tidak tersedia, maka dapat dicatat secara manual memakai stopwatch dengan metode 10 denyut (Kilbon, 1992). Dengan metode tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut:

Selain metode 10 denyut tersebut, dapat juga dilakukan perhitungan denyut nadi dengan metode 15 detik atau 30 detik. Keuntungan dari metode 10 denyut ini adalah mudah, cepat, sangkil, murah karena tidak memerlukan peralatan yang mahal, hasilnya cukup reliabel, tidak terlalu mengganggu proses kerja, dan tidak menyakiti orang yang diperiksa. Kepekaan denyut nadi terhadap perubahan pembebanan yang diterima tubuh cukup tinggi. Denyut nadi akan segera berubah seirama dengan perubahan pembebanan, baik yang berasal dari pembebanan mekanik, fisik maupun kimiawi (Kurniawan, 1995). Grandjean (1993) juga menjelaskan bahwa konsumsi energi sendiri tidak cukup untuk mengestimasi beban kerja fisik. Beban kerja fisik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kJ yang dikonsumsi, tetapi juga ditentukan oleh jumlah otot yang terlibat dan beban statis yang diterima serta tekanan panas dari lingkungan kerjanya yang dapat meningkatkan denyut nadi. Berdasarkan hal tersebut maka denyut nadi lebih mudah dan dapat untuk menghitung indek beban kerja. Astrand & Rodahl

Linda Vitriany R0012054

12

(1997); Rodahl (1989) menyatakan bahwa denyut nadi mempunyai hubungan linier yang tinggi dengan asupan oksigen pada waktu kerja. Dan salah satu cara yang sederhana untuk menghitung denyut nadi adalah dengan merasakan denyutan pada arteri radialis di pergelangan tangan. Denyut nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis yang didefinisikan oleh Grandjean (1993) : 1. Denyut nadi istirahat adalah rerata denyut nadi sebelum pekerjaan dimulai. 2. Denyut nadi kerja adalah rerata denyut nadi selama bekerja. 3. Nadi kerja adalah selisih antara denyut nadi istirahat dan denyut nadi kerja. Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting dalam peningkatan cardiac output dari istirahat sampai kerja maksimum. Manuaba & Vanwonterghem (1996) menentukan

klasifikasi beban kerja berdasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena beban

kardiovaskular (cardiovascular load = % CVL ) yang dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Denyut nadi maksimum = 220 umur (Astrand and Rodahl, 1977) Dari hasil perhitungan % CVL tersebut kemudian dibandingkan dengan klasifikasi sebagai berikut X 30 % 30 < X 60 % 60 < X 80 % 80 < X 100 % X > 100 % = tidak terjadi kelelahan = diperlukan perbaikan = kerja dalam waktu singkat = diperlukan tindakan segera = tidak diperbolehkan beraktivitas

Linda Vitriany R0012054

13

Kilbon (1992) mengusulkan bahwa cardiovasculair strain dapat diestimasi dengan menggunakan denyut nadi pemulihan (heart rate recovery) atau yang dikenal dengan metode Brouha. Keuntungan dari metode ini sama sekali tidak mengganggu atau menghentikan pekerjaan, karena pengukuran dilakukan tepat setelah subjek berhenti bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung pada akhir 30 detik pada menit pertama, ke dua, dan ke tiga dikalikan 2 dengan satuan denyut/menit. P1,2,3 adalah rerata dari ketiga nilai tersebut dan dihubungkan dengan total cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Jika P1 P3 10, P1, P2 dan P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal 2. Jika rerata P1 yang tercatat 110, dan P1 P3 10, maka beban kerja tidak berlebihan (not excessive) 3. Jika P1 P3 < 10 dan jika P3 > 90, perlu redesain pekerjaan. Laju pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolut denyut nadi pada ketergantungan pekerjaan, tingkat kebugaran, dan pemaparan panas lingkungan. Redesain pada point 3 diatas dapat berupa variabel tunggal maupun variabel keseluruhan dari variabel bebas (tugas, organisasi kerja, dan lingkungan kerja) yang menyebabkan beban kerja tambahan.

B. Beban Kerja Mental Selain beban kerja fisik, beban kerja yang bersifat mental harus pula dinilai. Namun demikian penilaian beban kerja mental tidaklah semudah menilai beban kerja fisik. Pekerjaan yang bersifat mental sulit diukur melalui perubahan fungsi faal tubuh. Secara fisiologis, aktivitas mental terlihat sebagai suatu jenis pekerjaan yang ringan sehingga kebutuhan kalori untuk aktivitas mental juga lebih rendah. Padahal secara moral dan tanggung jawab, aktivitas mental jelas lebih berat dibandingkan

Linda Vitriany R0012054

14

dengan aktivitas fisik, karena lebih melibatkan kerja otak (white-collar) dari pada kerja otot (Blue-collar). Definisi beban kerja mental menurut Henry R.Jex (1988) adalah beban kerja yang merupakan selisih antara tuntutan beban kerja dari suatu tugas dengan kapasitas maksimum beban mental seseorang dalam kondisi termotivasi. Beban kerja mental adalah sebuah indikator tentang jumlah perhatian atau tuntutan mental yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. (Purwaningsih & Sugianto, 2007:30). Beban kerja mental seseorang dalam menangani suatu pekerjaan dipengaruhi oleh: Jenis aktivitas dan situasi kerjanya Waktu respon dan waktu penyelesaian yang tersedia Faktor individu seperti tingkat motivasi, keahlian,

kelelahan/kejenuhan Toleransi performansi yang diizinkan. Dewasa ini aktivitas mental lebih banyak didominasi oleh pekerjapekerja kantor, supervisor dan pimpinan sebagai pengambil keputusan dengan tanggung jawab yang lebih besar. Menurut Grandjean (1993) setiap aktivitas mental akan selalu melibatkan unsur persepsi, interpretasi dan proses mental dari suatu informasi yang diterima oleh organ sensor untuk diambil suatu keputusan atau proses mengingat informasi yang lampau. Yang menjadi masalah pada manusia adalah kemampuan untuk memanggil kembali atau mengingat informasi yang disimpan. Proses mengingat kembali ini sebagian besar menjadi masalah bagi orang tua. Seperti kita tahu bahwa orang tua kebanyakan mengalami penurunan daya ingat. Dengan demikian penilaian beban kerja mental lebih tepat menggunakan penilaian terhadap tingkat ketelitian, kecepatan maupun konstansi kerja. Sedangkan jenis pekerjaan yang lebih memerlukan kesiapsiagaan tinggi seperti petugas air traffic controllers di Bandara udara adalah sangat berhubungan dengan pekerjaan mental yang

Linda Vitriany R0012054

15

memerlukan konsentrasi tinggi. Semakin lama orang berkonsentrasi maka akan semakin berkurang tingkat kesiapsiagaannya. Maka uji yang lebih tepat untuk menilai kesiapsiagaan tinggi adalah tes waktu reaksi. Dimana waktu reaksi sering dapat digunakan sebagai cara untuk menilai kemampuan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan mental. Beban kerja yang timbul dari aktivitas mental di lingkungan kerja antara lain disebabkan oleh : keharusan untuk tetap dalam kondisi kewaspadaan tinggi dalam waktu lama kebutuhan untuk mengambil keputusan yang melibatkan tanggung jawab besar menurunnya konsentrasi akibat aktivitas yang monoton kurangnya kontak dengan orang lain, terutama untuk tempat kerja yang terisolasi dengan orang lain. Pengukuran Beban Mental Beban kerja mental dapat diklasifikasikan atas dasar metode pengukuran obyektif dan metode pengukuran subyektif. Pengukuran secara obyektif dapat dilakukan dengan beberapa anggota tubuh antara lain melalui pengukuran denyut jantung, kedipan mata, dan ketegangan otot. Sedangkan dalam pengukuran beban kerja mental secara subyektif didasarkan pada persepsi para pekerja (Simanjuntak, 2010:78). Pengukuran beban kerja mental secara subjektif merupakan teknik pengukuran yang paling banyak digunakan karena mempunyai tingkat validitas yang tinggi dan bersifat langsung dibandingkan dengan pengukuran lain. Pengukuran beban kerja mental secara subjektif memiliki tujuan yaitu untuk menentukan skala pengukuran terbaik berdasarkan perhitungan eksperimental, menentukan perbedaan skala untuk jenis pekerjaan dan mengidentifikasi faktor beban kerja yang berhubungan secara langsung dengan beban kerja mental (Pheasant S.,1991).

Linda Vitriany R0012054

16

Beban kerja mental berpengaruh terhadap konsentrasi dan perhatian yang dibutuhkan karyawan untuk mengerjakan suatu tugas. Dengan kata lain, apabila beban kerja mental rendah maka konsentrasi dan perhatian yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu tugas akan minimal jumlahnya. Hal tersebut disebabkan oleh kompleksitas tugas dan jumlah informasi yang harus diproses rendah, sehingga karyawan dapat melakukan tugas tersebut dengan baik (Purwaningsih & Sugianto, 2007:30). Menurut Purwaningsih & Sugianto (2007:30) beban kerja mental dapat dibagi menjadi 3 level yaitu: 1. Sangat sedikit usaha mental atau konsentrasi secara sadar yang dibutuhkan. Aktivitas hampir bersifat otomatis dan membutuhkan sedikit perhatian atau bahkan tidak membutuhkan perhatian sama sekali. 2. Usaha mental atau konsentrasi sadar dengan jumlah sedang. Kompleksitas aktivitas adalah sedang, dimana hal ini disebabkan oleh ketidak tentuan, kesulitan untuk melakukan prediksi atau kurang familiar. Disini dibutuhkan banyak perhatian. 3. Dibutuhkan banyak usaha mental dan konsentrasi. Aktivitas yang sangat kompleks membutuhkan perhatian total. Dalam psikologi kerja dibahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kejiwaan yang dijumpai pada tempat kerja yaitu yang menyangkut dengan faktor-faktor diri, sedangkan yang termasuk dalam faktor diri antara lain attitude, jenis kelamin, usia, sifat atau kepribadian, sistem nilai, karakteristik fisik, motivasi, minat, pendidikan dan pengalaman. Masalah faktor diri dikaji didalam ergonomi karena pada setiap orang memiliki faktor diri yang khas oleh karenanya mempunyai bawaan yang khas pula untuk dipergunakan dalam bekerja. Ketidak cocokan dalam suatu pekerjaan akan dapat menyebabkan timbulnya stress atau frustasi, yang pada akhirnya akan menyebabkan rendahnya

Linda Vitriany R0012054

17

produktifitas, dan rendahnya mutu hasil kerja, serta tinggi tingkat kecelakan kerja. Secara umum, Meshkati, Hancock, dan Rahimi mengekompokkan metode pengukuran beban kerja mental menjadi 3 kategori yaitu metode pengukuran beban kerja mental secara subjektif (Subjective Workload Measurement), pengukuran secara fisiologis atau biomekanis

(Physiological and Biomechanical method), dan metode pengukuran berdasarkan perfomansi (perfomance-based). 1. Pengukuran Beban Kerja Mental Secara Objektif atau Fisiologis/Biomekans Yaitu suatu pengukuran beban kerja di mana sumber data yang diolah adalah data-data kuantitatif. Yang termasuk ke dalam pengukuran beban kerja mental ini diantaranya: a) Metode pengukuran aktivitas otak dengan menggunakan signal (Event Related Potential - ERPs) : P300 b) Pengukuran denyut jantung pada aktivitas yang bervariasi (Heart Rate Variability - HRV) c) Pengukuran denyut jantung. Pengukuran ini digunakan untuk mengukur beban kerja dinamis seseorang sebagai manifestasi gerakan otot. Metode ini biasanya

dikombinasikan dengan perekaman gambar video, untuk kegiatan motion study. d) Pengukuran cairan dalam tubuh. Pengukuran ini digunakan untuk mengetahui kadar asam laktat dan beberapa indikasi lainnya yang bisa menunjukkan kondisi dari beban kerja seseorang yang melakukan suatu aktivitas. e) Pengukuran waktu kedipan mata. Durasi kedipan mata dapat menunjukkan tingkat beban kerja yang dialami oleh seseorang. Orang yang mengalami kerja berat dan lelah biasanya durasi kedipan matanya akan lama, sedangkan

Linda Vitriany R0012054

18

untuk orang yang bekerja ringan (tidak terbebani mental maupun psikisnya), durasi kedipan matanya relatif cepat. f) Pola gerakan bola mata. Umumnya gerakan bola mata yang berirama akan menimbulkan beban kerja yang optimal dibandingkan dengan gerakan bola mata yang tidak beraturan. g) Pengukuran dengan metode lainnya Alat ukur Flicker Alat ini dapat menunjukkan perbedaan performansi mata manusia, melalui perbedaan nilai flicker dari tiap individu. Perbedaan nilai flicker ini umumnya sangat dipengaruhi oleh berat/ringannya pekerjaan, khususnya yang berhubungan dengan kerja mata. Ukuran performansi kerja operator. Ukuran-ukuran ini antara lain adalah: * Jumlah kesalahan (error) * Perubahan laju hasil kerja (work rate). 2. Pengukuran Beban Kerja Mental Secara Subjektif Yaitu pengukuran beban kerja di mana sumber data yang diolah adalah data yang bersifat kualitatif. Pengukuran ini merupakan salah satu pendekatan psikologi dengan cara membuat skala psikometri untuk mengukur beban kerja mental. Cara membuat skala tersebut dapat dilakukan baik secara langsung (terjadi secara spontan) maupun tidak langsung (berasal dari respon eksperimen). Metode pengukuran yang digunakan adalah dengan memilih faktor-faktor beban kerja mental yang berpengaruh dan

memberikan rating subjektif. Tahapan Pengukuran Beban Kerja Mental Secara Subjektif : Menentukan faktor-faktor beban kerja mental pekerjaan yang diamati.

Linda Vitriany R0012054

19

Menentukan range dan nilai interval. Memilih bagian faktor beban kerja yang signifikan untuk tugas-tugas-tugas yang spesifik. Menentukan kesalahan subjektif yang diperhitungkan berpengaruh dalam memperkirakan dan mempelajari beban kerja.

Tujuan Pengukuran Beban Kerja Mental Secara Subjektif : Menentukan skala terbaik berdasarkan perhitungan

eksperimental dalam percobaan. Menentukan perbedaan skala untuk jenis pekerjaan yang berbeda. Mengidentifikasi faktor beban kerja mental yang secara signifikan berhubungan berdasarkan penelitian empiris dan subjektif dengan menggunakan rating beban kerja sampel populasi tertentu. Metode Pengukuran Beban Kerja Mental Secara Subjektif : NASA-TLX Dikembangkan oleh NASA Ames Research Center. NASATask Load Index adalah prosedur rating mutidimensional, yang membagi beban kerja (workload) atas dasar rata-rata pembebanan 6 subskala yaitu: a) Mental demands b) Physical demands c) Temporal demands d) Own performance e) Effort f) Frustation
orang yang dinilai/diukur (object assessment). interaksi antara subjek dengan pekerjaannya (task).

Skor akhir beban mental NASA-TLX diperoleh dengan mengalikan bobot dengan rating setiap dimensi, kemudian dijumlahkan dan dibagi 15.

Linda Vitriany R0012054

20

Harper Qoorper Rating (HQR) Yaitu suatu alat pengukuran beban kerja dalam hal ini untuk analisis handling quality dari perangkat terbang di dalam cockpit yang terdiri dari 10 angka rating dengan masingmasing keterangannya yang berurutan mulai dari kondisi yang terburuk hingga kondisi yang paling baik, serta kemungkinan-kemungkinan langkah antisipasinya. Rating ini dipakai oleh pilot evaluator untuk menilai kualitas kerja dari perangkat yang diuji di dalam kokpit pesawat terbang.

Task Difficulty Scale Dikembangkan dan dipakai oleh AIRBUS Co. Perancis untuk menguji beban kerja statik di dalam rangka program sertifikasi pesawat-pesawat yang baru dikembangkannya. Prinsip kerjanya hampir sama dengan prinsip kerja HQR tetapi lebih menekankan kepada bagaimana cara menilai tingkat kesulitan dari pengoperasian instrumen-instrumen kontrol di dalam kokpit.

Metode dengan menggunakan penilaian diri secara instan (Instantaneous Self Assessment - ISA) Metode dengan menggunakan skala beban kerja yang dikembangkan oleh The Defence Research Agency (DRA Workload Scale - DRAWS)

Metode penilaian terhadap tingkat ketelitian, kecepatan maupun konstansi kerja dengan Bourdon Wierma Test . Subjective Workload Assessment Technique (SWAT) Dikembangkan oleh Harry G. Armstrong, Aerospace Medical Research Laboratory Wright-Patterson Air Force Base, Ohio, USA untuk menjawab pertanyaan bagaimana cara mengukur beban kerja dalam lingkungan yang sebenarnya (real world environment). 3 tahapan pekerjaan di dalam penggunaan model SWAT :

Linda Vitriany R0012054

21

a) Scale Development Subjek (orang) diminta untuk melakukan pengurutan kartu sebanyak 27 kartu kombinasi dari urutan beban kerja terendah sampai beban kerja tertinggi menurut persepsi masing-masing subjek. b) Event Scoring Di sini subjek (orang) ditanyakan SWAT rating-nya dari masing-masing task, kemudian SWAT rating tersebut dihitung dengan menggunakan SWAT program di dalam komputer untuk mengetahui workload score dari masing-masing kombinasinya. c) Setiap rating dari ketiga dimensi diubah kedalam skor nomor antara 0 s/d 100 dengan menggunakan skala interval yang dikembangkan pada langkah pertama. Menurut SWAT model, performansi kerja manusia terdiri dari 3 dimensi ukuran beban kerja yaitu: a. Time Load (T), terdiri dari tiga kategori rating yaitu : time load rendah (1), time load menengah (2), dan time load tinggi (3). b. Mental Effort Load, yang terdiri dari tiga kategori rating yaitu: mental effort rendah (1), mental effort menengah (2), dan mental effort tinggi (3). c. Psychological Stress Load, yang terdiri dari tiga kategori rating yaitu : psychological stress rendah (1), psychological stress menengah (2), dan psychological stress tinggi (3). Pengukuran dengan metode swat Pengukuran beban kerja dengan metode SWAT dapat digunakan pada: a. Dunia penerbangan

Linda Vitriany R0012054

22

b. Sektor industri, seperti pada pabrik-pabrik tekstil, pabrik-pabrik (perakitan) kendaraan bermotor, dan pabrik-apbrik (perusahaan) yang memerlukan tingkat kecermatan yang tinggi c. Sektor perhubungan, seperti untuk meneliti tingkat beban kerja bagi para pengemudi bus jarak jauh atau para masinis kereta api. Cara Pelaksanaan Pengukuran Metode Swat 1. Memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan pengukuran kepada subjek (orang) yang akan diteliti. 2. Memberikan kartu SWAT sebanyak 27 kartu yang harus diurutkan oleh subjek menurut urutan kartu yang menyatakan kombinasi workload yang terendah hingga tertinggi menurut persepsi ataupun intuisi dari tiap subjek. 3. Melakukan pencatatan urutan kartu yang dibuat oleh subjek, kemudian didownload di computer-program SWAT sehingga didapatkan nilai dari SWAT score untuk tiap subjek. 4. Berdasarkan nilai-nilai SWAT tersebut, komputer mengkonversikan performansi kerja dari subjek tersebut dengan nilai kombinasi dari beban kerjanya (workload), yang terdiri dari : Time Load (T) : rendah (1), menengah (2), dan tinggi (3). Mental Effort Load (E) : rendah (1), menengah (2), dan tinggi (3). Psychological Stress Load (S) : rendah (1), menengah (2), dan tinggi (3). Bila nilai konversi dari SWAT scale terhadap SWAT rating berada < 40, maka performansi kerja subjek
Linda Vitriany R0012054 23

tersebut berada pada level optimal. Bila SWAT ratingnya berada antara 40-100, maka beban kerjanya (workload) tinggi, artinya subjek pada saat itu tidak bisa diberikan jenis pekerjaan tambahan lain. 5. Meng-assess pekerjaan kepada subjek, kemudian ditanyakan apakah pekerjaan yang sedang dilakukan pada saat tersebut beban kerjanya (kombinasi dari Time Load, Mental Effort, da Stress Load) dikategorikan sebagai pekerjaan dengan beban kerja rendah (1), menengah (2), atau tinggi (3) menurut yang

bersangkutan. 6. Ulangi kembali langkah 4 untuk melihat apakah pekerjaan tersebut termasuk ke dalam kategori beban kerja rendah atau beban kerja tinggi, sehingga dapat diantisipasi langkah selanjutnya. 3. Pengukuran Beban Kerja Mental Berdasarkan Perfomansi (Perfomance-Based Measures), meliputi : 1) Metode pengukuran tugas primer, yang diukur meliputi : a. Waktu reaksi, waktu antara terjadinya rangsangan atau stimuli dan respon yang diberikan oleh responden. b. Akurasi, sering diekspresikan dalam bentuk (%) atau proporsi kesalahan. 2) Metode pengukuran tugas sekunder, yang diukur meliputi : a. Produksi interval. Responden diminta untuk

mengetuk pada rate ketukan tertentu.jika beban kerja meningkat meningkat b. Estimasi waktu. Responden diminta untuk maka interval antara ketukan akan

mengestimasi berapa banyak waktu yang telah berlalu.

Linda Vitriany R0012054

24

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Beban kerja merupakan beban yang dialami oleh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaan yang dilakukannya atau interaksi antara job demand (tuntutan tugas) dan work capacity (kapasitas kerja) dengan gaya penyeimbang ergonomi, jika suatu saat antara job demand (tuntutan tugas) dan work capacity (kapasitas kerja) terjadi ketidak seimbangan maka akan berdampak jika tuntutan tugas yang berlebihan adalah overstress seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan mudah marah, dan jika tuntutan tugas yang terlalu sedikit dimana pekerjaan yang terjadi karena pengurangan gerak akan menimbulkan kebosanan dan rasa monoton (understress). Apabila keseimbangan tersebut terwujud maka akan meningkatkan produktifitas dan efisiensi tenaga kerja, beban kerja juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keselamatan dan kesehatan para pekerja. Dimana beban kerja dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa tugas, organisasi, lingkungan kerja dan faktor internal meliputi faktor somatik dan faktor psikis, sehingga beban kerja dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu beban kerja fisik dan beban kerja mental. Tabel berikut menjelaskan tentang Beban Kerja Fisik VS Beban Kerja Mental. Beban Kerja Fisik Beban kerja eksternal Beban Kerja Mental Beban kerja internal

Melibatkan kerja otot (Blue-collar) Melibatkan kerja otak (white-collar) sebagai sumber tenaga Mengakibatkan perubahan fungsi Mengakibatkan gangguan kejiwaan, faal tubuh stress, kelelahan, kebosanan.

Linda Vitriany R0012054

25

Dampak berupa kecelakaan kerja, Dampaknya bersifat kronis seperti cacat, meninggal dkk yang bersifat penyakit akibat kerja. akut. Kebutuhan kalori menjadi faktor Kebutuhan kalori rendah utama Dipengaruhi : tuntutan tugas, Dipengaruhi : jenis aktivitas dan

organisasi kerja, dan lingkungan situasi kerjanya, waktu respon dan kerja. waktu penyelesaian yang tersedia, faktor individu (motivasi, keahlian, kelelahan/kejenuhan), Toleransi

performansi yang diizinkan. Penilaian terhadap konsumsi Penilaian difokuskan ketelitian, terhadap kecepatan

oksigen, denyut jantung , peredaran tingkat

udara dalam paru-paru , temperatur maupun konstansi kerja. tubuh khususnya asam suhu laktat kimia rektal, dalam dalam

konsentrasi darah,

komposisi

darah dan jumlah air seni , tingkat penguapan melalui keringat Dilihat dari 2 sisi, yakni sisi Melibatkan unsur persepsi,

fisiologis (kapasitas kerja manusia interpretasi dan proses mental dari dari sisi faal tubuh, meliputi denyut suatu informasi yang diterima oleh jantung, biomekanika pernapasan) (melihat dan organ sensor untuk diambil suatu kepada keputusan atau proses mengingat

aspek terkait proses mekanik yang informasi yang lampau. terjadi pada tubuh, seperti

kekuatan otot, dan sebagainya) Metode pengukuran beban kerja Metode pengukuran beban kerja fisik dapat didasarkan jumlah pada mental dibagi menjadi 3 kategori

metabolisme,

kebutuhan yaitu metode pengukuran beban

Linda Vitriany R0012054

26

kalori, dan sistem kardiovaskuler.

kerja

mental

secara

subjektif Workload

(Subjective

Measurement), pengukuran secara fisiologis atau biomekanis

(Physiological and Biomechanical method), dan metode pengukuran berdasarkan (perfomance-based). Pengukuran beban kerja fisik Pengukuran beban kerja mental perfomansi

berdasarkan sistem kardiovaskuler secara subjektif merupakan teknik atau denyut nadi merupakan metode pengukuran yang paling banyak yang paling banyak karena mudah, cepat, digunakan digunakan karena mempunyai

sangkil, tingkat validitas yang tinggi dan langsung dibandingkan

murah tidak memerlukan peralatan bersifat yang mahal, hasilnya

cukup dengan pengukuran lain.

reliabel, tidak terlalu mengganggu proses kerja, dan tidak menyakiti orang yang diperiksa.

B. Saran Sebaiknya setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut, jadi tercipta kolerasi yang baik antara beban kerja yang ditanggung dengan kapasitas/kemampuan dalam melakukan pekerjaan tersebut. Secara garis besar, kegiatan-kegiatan manusia dapat digolongkan menjadi kerja fisik dan kerja mental namun pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara sempurna, karena terdapatnya hubungan yang erat antar satu dengan lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran terhadap beban kerja fisik dan mental agar dapat selalu direview dan dievaluasi, semata-mata untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Linda Vitriany R0012054

27

Daftar pustaka

Tarwaka,

PGDip.Sc.,M.Erg.2010.Ergonomi

Industri

Dasar-Dasar

Pengetahuan Ergonomi dan Aplikasi di Tempat Kerja. Surakarta : Harapan Press Solo, pp : 105-146 Hilma Raimona Zadry.pengukuran beban kerja psikologis.pdf.

http://www.google.com/53_60_risma.pdf (3 Juni 2013) Modul Biomekanika Praktikum Genap.Analisis pengukuran beban kerja fisik dengan metode fisiologi.pdf.http://www.google.com.fisiologi.pdf (5 Juni 2013) Jurnal Kesehatan Masyarakat FKM Undip. Pengaruh beban kerja fisik dan mental terhadap stres kerja pada perawat di instalasi gawat darurat (igd) rsud cianjur.pdf.http://www.google.com.phpap.pdf (3 Juni 2013) Anindya Irawati. Pengaruh beban kerja terhadap produktivitas Karyawan sentra kredit konsumen (skk) tahun 2012.pdf.http://www.google.com.jurnal.pdf. com (3 Juni 2013) Risma Adelina Simanjutak. Analisis pengaruh shift kerja terhadap beban kerja mental dengan metode subjective workload assessment technique (swat).http://www.google.com.risma.pdf (3 Juni 2013)

Linda Vitriany R0012054

28