Anda di halaman 1dari 5

ABRASI KORNEA (JEJAS KORNEA)

Pengertian Trauma tumpul kornea dapat menimbulkan kelainan kornea mulai dari erosi kornea sampai laserasi kornea. Bilamana lesi terletak dibagian sentral, lebih-lebih bila mengakibatkan pengurangan ketajaman penglihatan. Benda asing dan abrasi di kornea menyebabkan nteri dan iritasi yang dapat dirasakan sewaktu mata dan kelopak digerakkan. Pada trauma tumpul mata, kornea diperiksa untuk mencari apakah terdapat kehilangan lapisan epitel (abrasi), laserasi dan benda asing. Abrasi kornea merupakan terkikisnya lapisan kornea (epitel) oleh karena trauma pada bagian superfisial mata. Abrasi kornea umumnya sembuh dengan cepat dan harus diterapi dengan salep antibiotik dan pelindung mata. Ada 2 kategori pada abrasi kornea yaitu abrasi superfisial, hanya sebatas lapisan epitel saja dan arbrasi profunda, abrasi yang terjadi hingga pada membran descemen tanpa disertai ruptur pada membran tersebut. Abrasi dapat diakibatkan oleh karena benda asing, lensa kontak, pengusap pipi untuk make-up, ranting kayu dan tertusuknya mata oleh jari. Abrasi kornea atau jejas kornea adalah kondisi medis yang melibatkan ilangnya lapisan permukaan epitel kornea mata. Abrasi kornea merupakan luka umum yang mengakibatkan rusakya epitel permukaan kornea.Hal inidisebabkan oleh mata kering,lensa kontak,debu atau kotoran.Penanganan yang diberikan adalah encakup pencucian mata dengan saline steril dan mengangkat lensa kontak hingga kornea sembuh.Abrasi kornea sangat menyakitkan,namun kornea biasanya sembuh tanpa scarring.apabila dalam 24 jam yang menjadi penyebab harus sudah diambil.Photophobia dan air mata yang nrocos adalah gejala umum,sebuah patch mata bias digunakan untuk mengistirahatkan kornea.

Abrasi adalah defek pada lapisan epitel dapat disebabkan oleh trauma benda asing,lensa kontak yang dipakai dalam jangka waktu lama ,defek lapisan air mata,kesulitan menutup kelopak mata atau melapisi kelopak mata atau bulu mata.Abrasi kornea dan benda asing akan didiskusikan lebih dalam dibagian trauma okuler.Abrasi kornea kambuhan yang diakibatkan oleh kebiasan menggosok mata dapat ditangani dengan larutan pelumas, (lensa kontak yang dapat diberi bebas dipakai untuk melindungi kornea dari iritasi yang disebabkan oleh kelopak mata). Etiologi Abrasio kornea umumnya akibat dari trauma pada permukaan mata. Penyebab umum termasuk menusukkan jari ke mata, berjalan ke sebuah cabang pohon, mendapatkan pasir di mata dan kemudian menggosok mata atau dipukul dengan sepotong logam proyektil. Sebuah benda asing di mata juga dapat menyebabkan goresan jika mata digosok. Selain itu, jika kornea menjadi

sangat kering, mungkin menjadi lebih rapuh dan mudah rusak oleh gerakan di seluruh permukaan.Cedera (trauma) adalah penyebab paling umum untuk abrasio kornea. Penyebab trauma yang paling umum adalah: * Goresan dari kuku (manusia dan hewan). * Memukul benda asing kornea (misalnya, kotoran, serpihan kayu, serutan logam, tanaman, cabang pohon, dll) * Berlebihan menggosok mata. * Lebih dari pemakaian lensa kontak. * Kuas Makeup. * Kimia luka bakar. * Bulu mata teratur menggosok kornea atau jatuh ke dalam mata. * Sebuah benda asing yang tertangkap di bawah kelopak mata, yang kemudian mengganggu kornea setiap kali Anda berkedip. Penyebab lainnya adalah kondisi mata yang mendasari, seperti: * Ketidakmampuan untuk sepenuhnya menutup kelopak mata. * Kelainan posisi tutup. * Parah kondisi mata kering. * Parah blepharitis, kronis (kelopak mata meradang). Patofisiologi Prognosis tergantung luasnya robekan konea, jarak waktu terjadinya abrasio, diagnosisnya dan tindakan bedah yang dilakukan. Terapi yang cepat prognosis lebih baik. Prognosis lebih buruk bila mengenai makula atau jika telah berlangsung lama. Jika makula melekat dan pembedahan berhasil melekatkan kembali kornea perifer, maka robekan l yang ebih luas pada vitreus dapat dicegah .Jika makula lepas lebih dari 24 jam sebelum pembedahan, maka tajam penglihatan sebelumnya mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya. Korpus vitreum yang terus menyusut dan munculnya pertumbuhan jaringan di permukaan kornea menyebabkan tidak semua kornea yang terlepas dapat direkatkan kembali. Bila kornea tidak dapat direkatkan kembali, maka mata akan terus menurun penglihatannya dan akhirnya menjadi buta Manifestasi Klinik Pada abrasi kornea, diagnosa dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan oftamologi yang tepat. Pada anamnesis yang didapatkan adanya riwayat trauma tumpul dengan gejala-gejala seperti rasa nyeri pada mata, fotopobia, rasa mengganjal, blefarospasme, pengeluaran air mata berlebihan dan visus yang menurun. Pada pemeriksaan slit lamp adanya defek yang terjadi pada lapisan epitel bersamaan dengan adanya edema kornea. Pada kasus berat, dengan edema yang berat harus diperhatikan pada lapisan membran descemen juga. Dengan tes fluoresensi, daerah defek/abrasi dapat dilihat pada daerah yang berwarna hijau. Gejala abrasi kornea termasuk rasa sakit, fotofobia, sensasi tubuh asing, menyipitkan mata yang berlebihan, dan produksi refleks air mata. Tanda-tanda meliputi cacat epitel dan edema, dan sering injeksi konjungtiva, kelopak mata bengkak, murid besar dan reaksi-ruang anterior ringan. Visi mungkin kabur, baik dari pembengkakan kornea dan air mata berlebih. Berkerak membangun dari air mata berlebih juga ada. Adapun manifestasi klinisnya adalah sebagai berikut: Nyeri oedema perubahan visus

kelopak mata bengkak adanya benda asing fotofobia Menyipitkan mata yang berlebihan dan produksi reflex air mata Pemeriksaan Penunjang. Meskipun abrasio kornea dapat dilihat dengan ophthalmoscopes, celah lampu mikroskop memberikan perbesaran yang lebih tinggi yang memungkinkan untuk evaluasi yang lebih menyeluruh. Untuk membantu dalam melihat, fluorescein noda yang mengisi cacat kornea dan bersinar dengan cahaya biru kobalt umumnya ditanamkan pertama. Sebuah pencarian yang cermat harus dilakukan untuk setiap benda asing, khususnya mencari di bawah kelopak mata. Cedera gunakan berikut palu atau power-alat harus selalu meningkatkan kemungkinan benda asing menembus ke mata, yang mendesak oftalmologi pendapat harus dicari. 1. Pemeriksaan oftalmologi a. Pemeriksaan visus, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan atau badan kaca yang menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan akan sangat menurun bila makula lutea ikut terangkat. b. Pemeriksaan lapangan pandang, akan terjadi lapangan pandang seperti tertutup tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan kedudukan ablasio kornea, pada lapangan pandang akan terlihat pijaran api seperti halilintar kecil dan fotopsia. Pemeriksaan lapang pandangan dapat dilakukan dengan: 1. Pemeriksaan konfrontasi, yaitu pemeriksaan dengan melakukan perbandingan lapang pandangan pasien dengan si pemeriksa sendiri. 2. Pemeriksaan perimeter atau kampimetri. Lapang pandangan normal adalah 90 derajat temporal, 50 derajat atas, 50 derajat nasal dan 65 derajat ke bawah. c. Pemeriksaan funduskopi, yaitu salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis ablasio kornea dengan menggunakan binokuler indirek oftalmoskopi. Pada pemeriksaan ini ablasio kornea dikenali dengan hilangnya refleks fundus dan pengangkatan kornea. Kornea tampak keabu-abuan yang menutupi gambaran vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi cairan bermakna pada ruang subkornea, didapatkan pergerakkan undulasi kornea ketika mata bergerak. Suatu robekan pada kornea terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid dibawahnya. Mungkin didapatkan debris terkait pada vitreus yang terdiri dari darah dan pigmen atau ruang kornea dapat ditemukan mengambang bebas. 2. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit penyerta antara lain glaukoma, diabetes mellitus, maupun kelainan darah. b. Pemeriksaan ultrasonografi, yaitu ocular B-Scan ultrasonografi juga digunakan untuk mendiagnosis ablasio kornea dan keadaan patologis lain yang menyertainya seperti proliverative vitreokorneopati, benda asing intraokuler. Selain itu ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan ablasio kornea eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis. Hasil Pemeriksaan : 1. Visus atau salah satu posisi lapang pandang memburuk. 2. Fundus refleks hilang 3. Kornea terangkat, terlihat abu-abu, bergoyang-goyang.

4. Terkadang robekan kornea berwarna merah dapat terlihat langsung pada pemeriksaan funduskopi. Penatalaksanaan Abrasi kornea umumnya sembuh dengan cepat dan harus diterapi dengan salep antibiotik dan pelindung mata. Meskipun abrasio kecil mungkin tidak memerlukan pengobatan khusus, abrasio yang lebih besar biasanya diobati selama beberapa hari dengan antibiotik topikal untuk mencegah infeksi dan kadang-kadang cycloplegic topikal untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan. Dilatasi pupil dengan siklopentolat 1% dapat membantu menghilangkan nyeri yang disebabkan oleh spasme otot siliar. Kornea memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, dimana pengobatan bertujuan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Jika abrasi yang terjadi ringan, maka terapi yang diberikan hanyalah lumbrikasi pada mata yang sakit dan kemudian dilakukan follow-up untuk hari berikutnya. Penyembuhan ini dapat berlangsung selama 2 hari ataupun dalam waktu seminggu. Bagaimanapun untuk menghindari infeksi, pemberian antibiotik dianjurkan. Namun tak lepas dari pengobatan, seorang dokter harus tetap melakukan follow up utnuk meyakinkan bahwa tidak terjdi inefeksi nantinya. Sebagai langkah awal, diberikan pengobatan yang berisifat siklopegi sepertiatropine 1% pada kasus yang berat, hematropine 5% pada kasus sedang dancyclopentolate 1% untuk pasien dengan abrasi yang ringan. Anjuran selanjutnya yaitu pada obat topical antibiotic yang terdiri dari polytrim, gentamycin dan tombramycin. Selain itu, pasien dianjurkan untuk istirahat total (bed-rest) diharapkan tidak adanya pergerakkan pasien secara aktif. Apabila pasien merasa nyeri, diberikan pengobatan topical nonsteroid anti inflamasi (Voltaren, Acular atau Ocufen). Untuk erosi kornea berulang, pengobatan mungkin telah dengan operasi laser disebut keratectomy phototherapeutic. Anestesi topikal tidak akan digunakan untuk mengontrol rasa sakit terus karena mereka dapat mengurangi penyembuhan dan menyebabkan keratitis sekunder Komplikasi Kadang-kadang epitel dapat disembuhkan kurang patuh pada membran basement yang mendasari.Dalam hal ini mungkin terlepas pada interval sehingga menimbulkan erosi kornea berulang. Komplikasi yang terjadi apabila penyembuhan epitel tidak terjadi secara baik atau minimal sehingga kerusakan lapisan kornea bisa terjadi hingga pada daerah membrane descemen. Dengan keadaan seperti itu, maka akan terjadi pelepasan pada lapisan kornea hingga terjadi Recurrent Corneal Erosions (RCE) dalam beberapa bulan atau hingga beberapa tahun. Prognosis Pada pengobatan topical umumnya dengan prognosis yang baik. Penyembuhan pada lapisan kornea ini dapat terjadi dalam beberapa hari. Pada abrasi yang terjadi agak dalam dapat terjadi penyembuhan dengan jaringan sikatriks berupa nebula, makula ataupun leukoma kornea. Meskipun abrasio kecil mungkin tidak memerlukan pengobatan khusus, abrasio yang lebih besar biasanya diobati selama beberapa hari dengan antibiotik topikal untuk mencegah infeksi dan kadang-kadang cycloplegic topikal untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan. Sebuah studi besar tunggal oleh John W Raja, et al;. Menunjukkan bahwa hanya 0,7% dari abrasio kornea benar-benar menjadi terinfeksi tanpa tetes antibiotik, mempertanyakan perlunya praktik seperti cycloplegic juga dapat mengurangi peradangan sekunder iris dikenal. sebagai suatu iritis. Sebuah tinjauan 2000 namun tidak menemukan bukti yang baik untuk mendukung penggunaan cycloplegics / mydriatics .Hal ini sering percaya bahwa mata bantalan digunakan dalam patch tekanan dapat meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan penyembuhan

dengan mencegah berulang. kelopak mata berkedip yang dapat menyebabkan distruption fisik lebih lanjut ke kornea. studi Terkendali memiliki namun tidak didukung pernyataan ini.