Anda di halaman 1dari 31

Farmakoterapi Penyakit Mata

Armen Muchtar Departemen Farmakologi Klinik RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta

Organ Depo
Terikat Bebas Bebas
Sirkulasi sistemik

Organ Target
Reseptor terikat

Respon

Obat Bebas Absorpsi Obat terikat Metabolit Ekskresi

Met. Lintas pertama

Biotransformasi

Proses Kinetik Obat

Berbagai Cara Pemberian Obat Mata

Topikal: diserab, nyaman, ekonomis, relatif aman. Subkonjuntiva, retrobulbar: diserab atau tertumpuk; utk infeksi segmen anterior, uveitis posterior, edema makular; waspada trauma dan perforasi. Intraokuler: diserab; utk bedah segmen anterior; toksik thd kornea Intravitreal: absorpsi sedikit, efek segera; utk retinitis & endophthalmitis; toksik thd retina.

Obat Tetesmata

Umumnya dlm bentuk larutan air, gel, salep, diteteskan di fornix/cul-de-sac inferior. Kinetiknya: larut, menyebar, diserab, dimetabolisme, dan dikeluarkan mel ductus nasolakrimal. Kecepatan dan jumlah obat yang diserab ditentukan oleh jumlah yang tertinggal di cul-de-sac,yg dikeluarkan airmata, yg terikat protein airmata, yg berdifusi melintasi cornea dan air mata. Efek samping sistemik terjadi karena obat diserap melalui mukosa hidung. Formulasi ikut menentukan lama obat dlm cul-de-sac. Kadar obat tetesmata dpt meningkat bila tutup kemasannya sering terbuka

Absorpsi Obat Tetesmata

Absorpsi obat melintasi kornea, konjungtiva, dan sklera diinginkan untuk menghasilkan efek yg setempat. Diperlukan waktu (lag time) antara penetesan obat dan ketersediaannya dlm bilik mata. Penetrasi terjadi melalui difusi pasif. Penetrasi di kornea melintasi tiga lapis dinding lemak-air-lemak: sediaan yg baik adakah mudah larut dalam air dan lemak sekaligus. Makin tinggi kadar obat dalam airmata makin banyak yang diserap.

Distribusi Obat Tetesmata

Distribusi sistemik utama melalui absorpsi mukosa hidung. Lainnya mel.kornea & konjungtiva, masuk bilik mata, masuk sirkulasi sistemik mel.jaringan trabekuler. Bbrp obat midriatikum (atropin dan fenilefrin) terikat melanin, menumpuk, dan memberi efek yg lama disana. Epitel berpigment di retina mengikat chloroquin, menimbulkan maculopathy, mengeruhkan lensa dan kornea.

Metabolisme Obat Tetesmata

Jaringan mata menghasilkan banyak enzim yang dpt memetabolisisr obat mata. Beberapa obat mata merupakan prodrug yg lebih mudah diserap dan dalam jaringan mata dirubah menjadi obat aktif (misalnya latanoprost dan dipivefrin, obat antiglaukoma). Obat yang masuk kedalam sirkulasi sistemik dimetabolisir dihati dan diekskresi di ginjal)

Efek Samping/Toksikologi Obat Tetesmata

Karena diserab ke dalam sirkulasi sistemik, efek samping sistemik dapat timbul. Efek samping lokal adalah reaksi hipersensitifitas dan efek toksik langsung thd kornea, conjungtiva, kulit sekitar mata, dan mukosa hidung. Zat pengawet spt benzalkonium klorida, chlorobutanol, thoimersal, dll, dapat menimbulkan keratopati.

Penggolongan Obat Mata


Anestetik lokal Antiseptik/desinfektan Antibiotika Antivirus Antijamur, antiparasit Sitostatik Kolinomimetik Antikolinergik Antikolinesterase Simpatomimetik

Simpatolitik Prostaglandin F2 prodrug Antiinflamasi Zat pewarna Airmata buatan Antihistamin Immunosuppressant Pengganti vitreosa Hemolitik dan Trombolitik Botox

Farmakoterapi Infeksi Bakteri Mata

Sediaan topikal dan sistemik Pilihan ditentukan berdasarkan gejala klinik dan hasil kultur. Formula khusus ulkus kornea, keratitits dan endophthalmitis. Indikasi: profilaksis bedah, dacryocystitis, hordeolum, blepharitis, conjugtivitis, keratitis, dan endophthalmitis Penyebab infeksi: H influenzae, S aureus, Streptococci, Actinomyces, Neisseria, P aeruginosa

Endophthalmitis

Infeksi ganas introkuler Panophthalmitis, bila seluruh mata Sebab: bakteri atau jamur Pascabedah, pascatrauma, immunocompromized Antibiotik intravitreal Antibiotik intravena, bila infeksi sistemik

Farmakoterapi Penyakit Virus Mata

Obat anti virus herpes: idoxuridine, trifluridine, vidarabine, acyclovir, valacyclovir Obat anti cytomegalovirus: foscarnet, ganciclovir, formivirsen, cidoforvir Diberikan topikal, oral, parenteral, intravitreosa. Indikasi: keratitis virus (herpes simplex, varicella zoster), herpes zoster ophthalmicus, CMV, EBV, retinitis virus

Farmakoterapi Penyakit Virus Mata

Bila keratitis stroma berulang, beri acyclovir oral 1 tahun Bila HZ ophthalmicus, acyclovir oral sedini mungkin Bila uveitis, beri intravena atau intravitreal

Farmakoterapi Penyakit Jamur Mata

Obat antijamur: amphotericin B, natamycin, fluconazole, ketoconazole, miconazole Penyakit jamur: keratitis, sclerosis, mucormycosis, endophthalmitis, canaliculitis. Pengobatan setelah biakan dan uji sensitifitas Jamur penyebab: candida, actinomycetes, tinea

Farmakoterapi Penyakit Parasit Mata

Manifestasi klinis: uveitis, konjungtivitis, keratitis, retinitis. Contact-lens keratitis disebabkan Acanthamoeba. Diobati dgn kombinasi polymixin, bacitracin, neomycin; kadang dgn imidazole. Toxoplasma gondii penyebab uveitis anterior dan posterior. Pengobatan: steroid plus pyrimethamin, sulfadiazine, clindamycin, asam folinat

Kegunaan Obat Otonom Pada Mata


Asetilkolin dan karbakol untuk myosis pd pembedahan. Pilokarpin, fisostigmin, echothiophate utk glaukoma. Atropin, scopolamin, homatropin, cyclopentolate, tropicamide (antagonis muskarinik) timbulkan midriasis (sikloplegia): utk funduskopi dan retinoslopi. Dipivefrin, epinefrin, apraclonidin, dan brimonidin (simpatomimetik): utk glaukoma. Kokain, hidroksiamfetamin: utk evaluasi anisokoria. Nafazolin san tetrahidrozolin: utk dekongestan. Betaxolol, carteolol, dan timolol (simpatolitik beta): utk glaukoma. Dapiprazole (simpatolotik alfa): utk tiadakan midriasis

Farmakoterapi Glaukoma

Tujuan pengobatan: menurunkan tekanan intraokuler, mencegah n opticus rusak Dimulai dengan simpatolitik beta: betaxolol, carteolol, atau timolol. Cara kerjanya: hambat produksi humor aqeousa di corpus ciliare. Bila ada efek samping/kontraindikasi simpatolitik beta, ganti dgn latanoprost (analog prostaglandin F2alfa). Cara kerjanya: tingkatkan outflow melalui uveoscleral pathways. Tersedia kombinasi analog prostaglandin F2alfa dan simpatolitik beta.

Farmakoterapi Glaukoma

Bila ada kontraindikasi dgn 2 obat terdahulu, ganti dgn carbonic anhydrase inhibitor (CAI) oral atau topikal atau dgn agonis adrenergik alfa-2. CAI kurangi produksi humor; agonis alfa-2 non selektif (epinefrin dan dipivefrin) tingkatkan ekskresi melalui uveoscleral pathway dan corpus ciliare, agonis yg selektif alfa-2 kurangi produksi humor. CAI oral dapat timbulkan efek samping letih, lesu, depresi, parestesia, nefrolitiasis. Agonist alfa-2 selektif (bromidine, apraclonidin) timbulkan hipotensi, yg momselektif timbulkan hiperemia. Kolinomimetik dan antikolinesterase tak digunakan lagi utk glaukoma karena efek sampingnya lebih banyak (miosis, sakit kepala)

Farmakoterapi non-spesifik uveitis

Antikolinergik (atropin atau cyclopentolate) utk cegah synechia posterior dan kurangi nyeri karena spasme m ciliaris Bila synechia posterior sdh terbentuk, beri simpatomimetik alfa; dilatasi pupil dapat melepaskan synechia. Beri steroid topikal dan sistemik utk tekan inflamasi

Farmakoterapi Strabismus

Atropin pd mata yg sehat timbulkan cycloplegia; memaksa mata yg amblyopia untuk berakomodasi Echothipate iodide (antikolinesterase) berguna pad strabismus akomodatif; menyebabkan miosis dan merubah bentuk lensa, dorongan berakomodasi pd refleks penglihatan dekat berkurang, kurangi konvergensi.

Farmakoterapi Radang Mata

Steroid digunakan utk alergi berat, uveitis anterior, radang mata luar, radang pascabedah intraokuler, radang pascabedah glaukoma, uveitis posterior dengan suntikan dibawah kapsul Tenon, neuritis opticus secara oral dan parenteral Toksisitas: katarak subkapsular posterior, infeksi sekunder, glaukoma sudut terbuka, peningkatan tek. Intraokuler reversibel Antiradang nonsteroid digunakan utk cegah miosis intraoperatif (suprofen), radang pascabedah (diclofenac), dan edema makular cystoid (ketorolac, diclofenac)

Farmakoterapi Alergi Mata

Tetesan pheniramine atau antazolin (antagonis reseptor H1) dikombinasikan dengan nafazolin (vasokonstriktor) utk konjungtivitis alergika Na kromolin cegah lepasnya histamin/autacoid lain dari mast cell utk cegah konjungtivitis vernalis Banyak lagi obat antihistamin baru dan mastcell stabilizer (lodoxamide, nedocromil, ketotifen, azelastine, dan epinastine).

Penekan Radang dan Antimitosis

5-Fluorouracil dan mitomycin digunakan pada bedah glaukoma (trabekulektomi) utk tingkatkan keberhasilan bedah filtrasi dengan cara batasi proses penyembuhan luka pasca bedah. Dosis tunggal disuntikan subkonjunktiva pada daerah trabekulektomi. Mytomycin topikal pada operasi kornea sesudah eksisi pterygiym utk cegah penetrasi pterygium ke kornea pascabedah. Hati-hati, toksik thd jaringan intraokuler. Cyclosporin utk mata kering yang menyertai inflamasi kronik. Hambat aktivasi sel T, kurangi inflamasi pd kelenjar airmata, dan tingkatkan produksi airmata

Obat mata lain

Untuk membantu pembedahan (hyaluronidase, pengganti vitreosa) Untuk membantu diagnosis (midriatikum, zat warna) Anestesi lokal dan topikal Hemostatik dan trombolisis EDTA untuk corneal band keratopathy Vitamin A dan lainnya Airmata buatan