Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

LUKA BAKAR PADA ANAK

Oleh : Cindikya Saftiari Dewi G99122028 Yohana Endrasari G9911112146

Pembimbing: dr. Dewi Haryanti, Sp.B.,Sp.BP

KEPANITERAAN KLINIK BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

Luka bakar merupakan salah satu kondisi yang memiliki pengaruh yang katastropik terhadap penderita dalam hal penderitaannya, kehidupan sosialnya, keterbatasan yang ditimbulkan dan perihal keuangan yang dikeluarkan untuk pengobatannya.1 Cedera luka bakar terutama pada luka bakar yang dalam dan luas masih merupakan penyebab utama kematian dan ketidakmampuan jangka panjang.2 Anak-anak dan orang tua beresiko untuk mengalami luka bakar yang lebih dalam karena lapisan kulit dermis mereka lebih tipis.6,7 Dalam kehidupan umumnya, luka-luka bakar dapat di sebabkan oleh (5): Kebakaran dalam rumah tangga, misalnya kompor meledak, dan lain-lain. Kebakaran dalam industri, misalnya pada pengelasan dimana tangki las meledak. Pada anak-anak dan bayi-bayi akibat tersiram air panas (sclaldig). Di Indonesia dapat ditemukan luka bakar pada bayi karena botol; yang berisi air panas yang diletakkan di selimut bayi tersebut. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar resusitasi pada trauma dan penerapannya pada saat yang tepat, diharapkan akan dapat menurunkan sekecil mungkin angka-angka tersebut di atas. Prinsip-prinsip dasar tersebut meliputi kewaspadaan akan terjadinya gangguan jalan nafas pada penderita yang mengalami trauma inhalasi, mempertahankan hemodinamik dalam batas normal dengan resusitasi cairan, mengetahui dan mengobati penyulitpenyulit yang mungkin terjadi akibat luka bakar tersebut (6). Penyulit yang timbul pada luka bakar antara lain gagal ginjal akut, edema paru, SIRS (systemic inflammatory response syndrome), infeksi dan sepsis, serta parut hipertrofik dan kontraktur (1,3,7).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Luka Bakar 1. Definisi Luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan/trauma yang dapat dibedakan menjadi trauma mekanik, trauma fisik serta trauma kimiawi. 2 Luka bakar adalah cedera terhadap jaringan yang disebabkan oleh kontak dengan panas kering (api), panas lembab (uap atau cairan panas), kimiawi ( seperti, bahan-bahan korosif), barang-barang elektrik (aliran listrik atau lampu), friksi, atau energi elektromagnetik dan radian.3 Luka bakar merupakan suatu jenis trauma yang memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga mulai fase awal hingga fase lanjut.4 2. Etiologi a) Termal Luka bakar akibat panas, umumnya terjadi akibat meningkatnya suhu yang mengakibatkan kematian sel. Pada keadaan ini dapat memerlukan perawatan yang khusus

menyebabkan luka lepuh akibat terpapar zat panas. b) Luka bakar listrik Luka bakar listrik umumnya terjadi akibat aliran listrik yang menjalar ke tubuh. c) Luka bakar kimiawi Luka bakar ini terjadi akibat paparan zat yang bersifat asam maupun basa. Karakteristik keduanya memiliki perbedaan dalam hal kedalaman luka bakar yang terjadi. Luka bakar akibat paparan zat yang bersifat basa umumnya mengakibatkan luka yang lebih dalam dibandingkan akibat zat asam. Hal ini disebabkan zat basa akan menyatu dengan jaringan lemak di kulit sehingga menyebabkan kerusakan jaringan yang

lebih progresif, sedangkan luka bakar akibat asam akan menyebabkan koagulasi protein.5 3. Patofisiologi Cedera thermal memberikan efek pada sirkulasi sistemik sehingga penatalaksanaan hemodinamik adalah hal yang utama. Setelah cedera thermal yang masif akan terjadi syok akibat hipovolemia intravaskular, dan pada sebagian besar kasus dapat terjadi depresi miokard yang

mengakibatkan penurunan cardiac output. Respon tubuh terhadap turunnya curah jantung akan menimbulkan refleks peningkatan tahanan vaskular sistemik sebagai suatu usaha untuk mempetahankan tekanan darah arteri. Jika turunnya curah jantung dan tingginya tahanan perifer vaskular ini menetap, dapat terjadi hipoperfusi jaringan.6,7 Hal ini terutama terjadi pada sirkulasi splanik sebagai akibat kompensasi untuk mempertahankan perfusi organ vital seperti otak dan jantung. Patofisiologi syok luka bakar tidak sepenuhnya dimengerti. Tanda dari syok luka bakar adalah peningkatan yang jelas pada permeabilitas vaskular baik pada jaringan yang terbakar maupun tidak terbakar. Eksudasi cairan yang kaya protein dari kompartemen intravaskular ke dalam interstitial mengakibatkan hipovolemia intravaskular dan akumulasi cairan interstitial yang masif. Aliran limfe kutaneus meningkat secara drastis pada periode segera setelah luka bakar dan tetap tinggi selama hampir 48 jam.8 Akumulasi cairan yang progresif yang berasal dari cairan intravaskular ke dalam interstitial akan menyebabkan peningkatan aliran limfatik. Penyimpangan cairan dalam jumlah besar melibatkan semua komponen dari hukum Starling9 yaitu: a. Peningkatan permeabilitas koefisien mikrovaskuler (k) yang disebabkan oleh pelepasan mediator lokal dan sistemik seperti bradikinin, histamine, platelet activating factor dan leukotrin. Peningkatan permeabilitas vaskuler melibatkan tidak hanya cairan dan elektrolit tetapi juga plasma koloid. Pada jaringan yang terbakar, peningkatan permeabilitas vaskuler secara nyata sebagai akibat disrupsi endothelial.

b.

Peningkatan tekanan hidrostatik intravaskuler (Pc) akibat dilatasi mikrovaskuler. Hal ini disebabkan karena produksi dari nitrik oksida dan vasodilator prostaglandin yang menyebabkan peningkatan aliran darah pada tempat terjadinya luka bakar sama seperti daerah yang tidak terkena trauma terpapar mediator inflamasi.

c.

Penurunan tekanan hidrostatik interstitial (Pi). Walaupun penyebab nyata terjadinya tekanan negative pada pasien luka bakar belum bisa dimengerti, fenomena ini telah dilaporkan pada beberapa penelitian.10,11Lund dkk mengatakan bahwa tekanan negatif interstitiel pada jaringan luka bakar disebabkan oleh degradasi kolagen.10

d.

Penurunan tekanan onkotik intravaskuler diakibatkan oleh kebocoran protein dari ruang intravaskuler. Peningkatan relatif tekanan onkotik interstitial disebabkan oleh pergerakan cairan yang kaya akan protein dari ruang intravaskuler ke ruang interstitial. Kebocoran cairan dan protein ke dalam ruang interstitial seringkali menyebabkan hilangnya lapisan interstitial yang ditandai dengan peningkatan aliran limfe. Efek yang nyata dari perubahan tersebut adalah perkembangan edema yang masif selama 12-24 jam setelah trauma thermal yang disertai dengan hilangnya volume cairan intravaskuler. Perkembangan edema yang progresif ini sangat bergantung pada kecukupan volume resusitasi karena pemberian cairan akan berdampak pada perkembangan edema. Hipotensi yang dihubungkan dengan trauma luka bakar juga mempunyai peranan dalam menyebabkan depresi miokard. Respon inflamasi akibat trauma thermal menyebabkan pelepasan Tumor Necrosis Factor, Interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin dalam jumlah yang besar. Mediator dan beberapa faktor yang tidak dikenal dianggap berperan dalam menyebabkan depresi fungsi miokard.12,13 Hipotensi disebabkan oleh deplesi volume intravaskuler dan depresi miokard akan menginduksi suatu reflek yang dapat meningkatkan resistensi pembuluh darah sistemik. Semua faktor ini menyebabkan penurunan CO dan penurunan perfusi jaringan jika pasien tidak diresusitasi secara optimal.

Jika pasien dapat bertahan pada stadium awal luka bakar dan sudah teresusitasi secara adekuat, tingkat hiperdinamik sirkulai pasien masih berkembang kurang lebih 3 sampai 4 hari setelah trauma. Respon hiperdinamis sirkulasi ini dipicu oleh adanya reaksi inflamasi akibat adanya kerusakan jaringan yang besar akibat luka bakar. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya systemic inflammatory response syndrome (SIRS) yang ditandai dengan takikardi, menurunnya resistensi pembuluh darah sistemik dan peningkatan cardiac output.14 SIRS merupakan suatu disfungsi multiple organ yang berat yang juga ditandai dengan takipneu, demam sampai hipotensi yang bersifat refrakter.15Pada pasien dengan cedera termal, sebagian besar penyebab SIRS adalah luka bakar itu sendiri. SIRS yang disertai dengan infeksi juga sering terjadi. Resusitasi yang tertunda atau tidak adekuat merupakan faktor indepenen untuk resiko berkembangnya SIRS. Pada pasien dengan umur dibawah 2 tahun, memiliki tingkat resiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan usia dewasa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena perbandingan luas tubuhnya terhadap berat badanya lebih besar dibandingkan dewasa. Sehingga, perubahan hemodinamiknya akan sangat berpengaruh terhadap fungs fisiologis tubuhnya. Yang kedua, ginjal belum matang dan hati tidaak memungkinkan memindahkan beban yang terlarut tinggi dari jaringan yang terluka. 4. Insidensi Luka bakar pada anak merupakan suatu trauma yang dahsyat dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. American Burn Association (ABA) memperkirakan lebih dari 2500 anak meninggal dan hampir 10.000 anak menderita cacat permanen setiap tahunnya akibat trauma luka bakar. Di unit luka bakar RSUD Dr. Soetomo Surabaya berdasarkan data tahun 2008 - 2010 didapatkan luka bakar anak 62 penderita (19,49 %) dari total 318 penderita yang dirawat. Sekitar 74,19 % adalah anak dibawah usia 5tahun dengan luas luka bakar yang terbanyak diderita berkisar 20 sampai

50% luas luka bakar dan 52% dari luka bakar anak mengenai area ekstremitas. Penyebab terbanyak adalah air panas yaitu 61% dari seluruh kasus, umumnya merupakan kecelakaan di rumah tangga.15 5. Klasifikasi
Derajat keparahan luka bakar ditentukan berdasarkan luas, kedalaman dan etiologi. Berdasarkan etiologinya dapat dibagi menjadi 3, yaitu termal, luka bakar listrik, dan luka bakar kimiawi. Tabel -1. Klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalamannya
Derajat 1 Derajat 2 (partial thickness) Penyebab Sinar matahari, air Cairan panas Derajat 3 (deep partial thickness) Cairan panas, kontak dengan cairan kimiawi

panas, luka bakar kilat

Warna

Merah muda/Merah

Merah pucat

muda/Merah

Coklat tua, Tampak vena

Permukaan

Kering

Lembab, bula

Terbentuk

Kering elastik

dan

tidak

Rasa nyeri

Nyeri

Sangat nyeri

Tidak berasa

Kedalaman

Epidermis

Epidermis

dan

dermis, dan struktur dermis lebih dalam

sebagian Epidermis,

Gambar 1. Klasifikasi Luka Bakar 18 Menurut kedalamannya, luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu yang menyebabkan cedera, lamanya paparan dan ketebalan kulit. Apabila luka bakar derajat 1 hanya melibatkan epidermis yang umumnya disebabkan salah satunya akibat paparan sinar matahari dan dapat mengalami penyembuhan cepat. Luka bakar derajat 2 mengenai permukaan superfisial dermis disebut pula dengan partial thickness burn yang ditandai dengan terbentuknya bula dan umumnya sembuh kurang

dari 21 hari. Pada luka bakar derajat 3 melibatkan kerusakan yang lebih dalam seperti persyarafan bahkan mengenai tulang.1

Gambar 2. Persentase luka bakar pada anak18 Penilaian luasnya luka bakar memilki peranan yang sangat penting dalam menentukan luasnya luka bakar yang terjadi yang berpengaruh terhadap banyaknya terapi cairan yang diberikan. Luas luka bakar ditentukan berdasarkan total body surface area (TBSA). Metode yang seringkali dipakai untuk menentukan luas luka bakar adalah mengacu pada rule of nine untuk dewasa. Sedangkan pada anak digunakan lund browder chart.1

6. Penatalaksanaan Penanganan pada pasien luka bakar baik anak maupun dewasa pada dasarnya adalah sama. a. Hentikan Proses Kebakaran pada kulit b. Pertahankan Jalan Napas Luka bakar yang terjadi pada daerah muka dan leher jauh lebih berbahaya daripada luka bakar di tungkai bawah, kita mesti sangat waspada terhadap timbulnya obstruksi jalan napas.Sumbatan jalan napas

merupakan penyebab kematian terbanyak pada pasien luka bakar. Cedera jalan napas akibat luka bakar dapat menyebabkan obstruksi, hipoksia bahkan kematian. Telah dilaporkan bahwa trauma inhalasi akan meningkatkan mortalitas pasien luka bakar sebanyak 20% yang berpotensi menyebabkan pneumonia. Patogenesis terjadinya trauma inhalasi adalah akibat cedera panas yang berlangsung 12 jam setelah terjadinya luka bakar yang menyebabkan obstruksi jalan napas bagian atas.1,9 Pada pasien luka bakar pemberian O2 dan pembersihan jalan napas merupakan komponen penting dalam tatalaksana jalan napas. Komponen lain yang tidak kalah pentingnya antara lain adalah hisap lendir berkala dan fisioterapi dada. Isap lendir berkala sebaiknya dilakukan setelah memposisikan pasien 45o. Sebelumnya pasien dilakukan preoksigenasi dengan O2 100%. Apabila belum dilakukan preoksigenasi, sebaiknya dilakukan isap lendir berkala selama kurang lebih 15 detik. Namun yang harus diwaspadai adalah stimulasi nervus vagus, terdapatya iritasi mukosa nasotrakea, trauma, dan bradikardi.1 Trauma inhalasi pada jalan napas bagian bawah dapat menyebabkan infeksi trakea dan bronkus akibat zat-zat kimia sehingga menyebabkan spasme jalan napas. Dalam hal ini dapat digunakan aerosol yang bersifat simpatomimetik yang menyebabkan relaksasi otot bronkus dan menstimulasi clearance mucociliary. Terapi inhalasi ini dapat diberikan setiap 2-4 jam sekali tergantung klinis pasien.10 c. Pernapasan Pemeriksaan respirasi harus meliputi beberapa hal seperti usaha pasien dalam bernapas, seperti pengembangan napas, rintihan, tarikan spasium interkostal atau angulus suprasternal, pergerakan abdominal dan suara tambahan. Semua hal tersebut merupakan penanda adanya peningkatan upaya bernapas. Pola pernapasan yang tidak teratu merupakan salah satu tanda-tanda awal henti napas, sehingga hal ini harus segera diatasi. d. Resusitasi cairan

Pemeriksaan kardiovaskuler dilakukan untuk mencari tanda-tanda syok, dan menentukan perfusi jaringan perifer. Kapasitas kompensasi fisiologis pada anak dapat menyembunyikan tanda-tanda syok. Sehingga meskipun tekanan darah dan denyut jantung masih terlihat dalam batas normal, bisa saja pasien pediatric tengah mengalami syok. Sehingga pemeriksaan perfusi jaringan perifer dapat membantu menentukan adanya hipoperfusi. Resusitasi cairan merupakan tatalaksana utama pada saat fase awal penanganan luka bakar terutamapada 24 jam pertama. Pemberian cairan yang adekuat akan mencegah syok yang disebabkan karena kehilangan cairan berlebihan pada luka bakar.8,11 Luka bakar dapat menyebabkan berbagai perubahan parameter anatomis, imunologis bahkan fisiologis tubuh. Luka bakar dapat menyebabkan hilangnya cairan intravaskular melalui luka atau jaringan yang tidak mengalami cedera. Hilangnya cairan umumnya terjadi dalam 24 jam pertama setelah cedera. Teknik resusitasi cairan pada luka bakar terus mengalami perkembangan. Prinsip resusitasi cairan luka bakar mengacu pada rumus Parkland yaitu :5,11 4 cc/kg/luas permukaan tubuh + cairan rumatan Cairan rumatan dapat digunakan dekstrosa 5% dalam ringer laktat yang jumlahnya disesuaikan dengan berat badan : 10 Kg: 100 mL/kg 11-20 Kg: 1000 mL + (Berat badan 10 Kg) x 50 mL >20 Kg: 1500 mL + (Berat badan 20 Kg) x 20 mL Pemberian cairan ini diberikan 24 jam pertama, 50% diberikan 8 jam pertama dan 50% diberikan 16 jam berikutnya. Formula ini telah digunakan secara luas sejak 40 tahun yang lalu untuk terapi cairan pada luka bakar selama 24 jam pertama setelah trauma, namun penelitian terbaru mengatakan bahwa formula Parkland tidak dapat memprediksi kehilangan cairan secara akurat khususnya pada pasien dengan luka bakar luas, akibatnya pasien seringkali mendapatkan jumlah cairan lebih sedikit dibandingkan seharusnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Cancio

dkk

yang

melaporkan

bahwa

penggunaan

formula

Parkland

menyebabkan penurunan kebutuhan cairan pada 84% pasien. Penelitian ini juga menyebutkan jumlah cairan yang diberikan pada pasien luka bakar tidak hanya memperhatikan luas serta kedalaman luka, namun harus diperhatikan apakah pasien ini membutuhkan bantuan ventilasi mekanik atau tidak karena diperkirakan hal ini dapat meningkatkan kebutuhan cairan.11 Metode lain resusitasi cairan dikembangkan oleh Baxter pada tahun 1979, ia memberikan teknik resusitasi cairan pada 954 pasien luka bakar dengan menggunakan formulasi cairan 3,7 4,3 mL/Kg/total luas permukaan tubuh (TLPT) dan didapatkan hasil sekitar 70% yaitu 438 dewasa dan 516 anak-anak mengalami keluaran yang baik. Formulasi lain terapi cairan menurut gavelstron menggunakan rumus : (5000 mL x LPT yang mengalami luka bakar) + (2000 mL x TLPT) Protokol saat ini melanjutkan pemberian resusitasi cairan dengan menggunakan formulasi 2 4 mL/kg /% LPT selama 24 jam pertama. Setelah pemberian terapi cairan, dilakukan pemantauan tanda kelebihan cairan yaitu terdapatnya gangguan hemodinamik pasien seperti sesak napas, hepatomegali atau terdapatnya ronkhi basah halus pada basal paru. Pemantauan ini kerap kali harus dilakukan karena pemberian cairan berlebihan akan menyebabkan terjadinya edema yang merupakan komplikasi akibat pemberian cairan resusitasi dan berpotensi

menimbulkan kompikasi misalnya abdominal compartement syndrome dan edema paru.12 e. Antibiotik yang sesuai Pasien luka bakar terutama luka bakar luas berpotensi mengalami infeksi sekunder maupun sepsis sehingga berpotensi meningkatkan mortalitas. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap 175 pasien luka bakar luas dikatakan bahwa infeksi berhubungan dengan disfungsi multiorgan yang dapat menimbulkan kematian pada 36% pasien.14

Infeksi sekunder pada luka bakar terutama disebabkan oleh bakteri gram positif terutama stafilokokus yang berdomisili di kelenjar keringat dan folikel rambut, perubahan kondisi akibat luka bakar akan mempercepat pertumbuhan bakteri, sedangkan infeksi bakteri gram negatif umumnya disebabkan karena translokasi dari kolon karena berkurangnya aliran darah mesenterika. Selain itu kondisi pasien diperberat akibat penurunan respons limfosit T sitotoksik, maturasi mieloid yang menyebabkan terganggunya aktivitas netrofil dan makrofag. Tujuan penanganan luka adalah mempercepat epitelisasi sehingga dapat mengurangi risiko infeksi sekunder. Sepsis seringkali menyertai luka bakar.15 Menurut Centre for Disease Control (CDC), infeksi luka bakar adalah keadaan apabila: 1) Terdapat perubahan kesadaran pasien yaitu menjadi tampak letargis, hipotermia, hipertermia maupun tanda-tanda syok 2) Perubahan pada luka yang terjadi misalnya warna maupun bau 3) Pada pemeriksaan kultur jaringan positif mengandung

mikroorganisme 4) Pemberian antibiotik profilaksis sebenarnya tidak dianjurkan, namun antibiotik profilaksis dapat direkomendasikan pada keadaan: a) Pencegahan selulitis sehingga memerlukan antibiotika

antistreptokokal b) Pemberian obat anti jamur oral atau enteral untuk mencegah kandidiasis c) Pemberian obat-obatan perioperatif d) Pemberian antibiotika spektrum luas pada keadaan syok sepsis Pemberian antibiotika yang umum digunakan adalah silver sulfadiazine yang memiliki potensi antimikroba yang paling baik, namun memiliki efek toksisitas dan memperlambat proses penyembuhan luka. f. Dukungan nutrisi

Pada keadaan luka bakar terlebih pada luka bakar derajat luas, terjadi hipermetabolisme akibat respons stres berlebihan. Hal ini akan mengakibatkan pasien akan mengalami keadaan malnutrisi, dan lambatnya proses penyembuhan. Keadaan hipermetabolisme dapat bertahan sekitar 12 bulan setelah cedera. Keadaan ini berhubungan dengan luasnya luka bakar, dan berkaitan dengan stres yang terjadi. Pada anak kebutuhan kalori mencakup 60%-70% karbohidrat, 15%-20% lemak, sedangkan protein harus terpenuhi 2,5-4gram/kgbb/hari. Apabila diberikan asupan berlebih dapat menyebabkan peningkatan produksi CO2 yang dapat memperberat fungsi paru dan dapat meperlambat proses penyapihan ventilator. Di samping itu pemberian karbohidrat berlebihan akan menyebabkan disfungsi hepar, hiperglikemia sehingga dapat memicu dehidrasi akibat meningkatnya diuresis. Pemantauan proses metabolisme dilakukan melalui pemantauan kadar gula darah, albumin, elektrolit, fungsi hati dan ginjal.8,11
Tabel 2. Perhitungan kebutuhan kalori pada luka bakar adalah sebagai berikut :11 Usia (tahun) 0-1 1-11 12-18 Kebutuhan kalori 2100 kkal/m2/LPT + 1000 kkal/m2/LPT 1800 kkal/m2/LPT + 1300 kkal/m2/LPT 1500 kkal/m2/LPT + 1500 kkal/m2/LPT

g. Analgetik dan Sedatif Luka bakar dapat menimbulkan rasa nyeri terlebih lagi pada luka bakar luas. Nyeri tersebut akan sangat mengganggu proses emosi dan fisiologi anak. Sehingga diperlukan analgetika dan sedatif yang dapat mengontrol nyeri agar anak menjadi nyaman. Derajat luka bakar akan menentukan nyeri yang ditimbulkannya. Pada luka bakar superfisial, persyarafaan masih utuh sehingga pergerakan maupun sentuhan akan sangat memicu rasa nyeri. Sedangkan luka bakar luas dan dalam (deep partial thickness) beberapa persarafan bahkan hampir seluruh saraf

mengalami kerusakan, akibatnya pasien tidak begitu merasakan rangsangan nyeri. Namun hal yang harus diperhatikan adalah apabila sekeliling luka mengalami kemerahan yang dapat menimbulkan nyeri. Luka bakar jenis full thickness, seluruh persarafan telah mengalami kerusakan, oleh sebab itu respons terhadap rasa nyeri sama sekali tidak ada, namun daerah sekeliling luka masih berespons terhadap rangsang nyeri.15 Seringkali anak yang mengalami luka bakar, rangsangan sekecil apapun mampu menstimulasi pusat nyeri sehingga akan menimbulkan nyeri kronik dan nyeri neuropatik. Nyeri neuropatik terjadi sekunder akibat kerusakan saraf. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya respons terhadap analgetika sehingga dibutuhkan obat-obatan sedatif.15

Analgetika yang diberikan pada anak yang mengalami nyeri akibat luka bakar adalah parasetamol dan anti inflamasi non steroid (AINS). Namun bila dengan pengobatan oral masih tidak berespons, dapat diberikan obat analgetika intravena. Obat - obat analgetika sebaiknya memiliki persyaratan sebagai berikut:1 1) Mudah diberikan 2) Dapat ditoleransi dengan baik 3) Memiliki onset kerja singkat namun memiliki efek samping minimal Penanganan nyeri pada anak mencakup terapi farmakologik dan non farmakologik. Terapi farmakologik dilakukan dengan pemberian analgetika spesifik yaitu pemberian parasetamol asetaminofen obat Parasetamol adalah derivat paraaminofenol yang dapat bekerja secara sentral dan perifer untuk mengatasi rasa nyeri.1 Obat anti inflamasi non steroid memiliki sifat analgetika dan antipiretik melalui hambatan sintesis prostaglandin dan tromboksan. Opioid Memiliki efek analgetika melalui reseptor opioid sentral dan perifer.1

Morfin memiliki efek sekitar 10 20 menit setelah diberikan melalui jalur intravena dengan dosis 0,1mg/Kg. Dosis morfin yang diberikan pada anak >5 tahun yaitu 20 mikrogram/Kg diberikan secara bolus dilanjutkan dengan titrasi 4-8 mikrogram/kg/jam. Pada saat diberikan
morfin, harus dilakukan pemantauan pernapasan dan saturasi O2. Oxycodone merupakan opioid semisintetis yang memiliki bioavailabilitas lebih baik dibandingkan morfin. Oxycodone dapat diberikan dengan dosis 0,2mg/Kg secara per oral maupun intravena.1 Fentanyl merupakan analgetika narkotik dengan potensi lebih tinggi dibandingkan dengan morfin. Memiliki kemampuan larut lemak yang tinggi dan mula kerja cepat (12 menit). Durasi kerjanya mencapai 60 menit dan dosis yang diberikan adalah 1520 mikrogram/Kg.1
Agonis a2 Adrenergic umumnya diberikan pada anak yang tidak

berespons terhadap pemberian analgetika. Dalam hal ini dapat digunakan klonidin yang diberikan dengan cara menghambat jalur korda spinalis. Dosis yang diberikan 13 mikrogram/Kg diberikan 3 kali sehari secara oral atau intravena. h. Perawatan Luka Perawatan luka merupakan salah satu tatalaksana yang perlu diperhatikan dalam penanganan luka bakar. Karena tidak jarang luka yang tidak dibersihkan dengan baik dapat memicu infeksi sekunder. Cleansing dan debridement merupakan tindakan rutin yang harus dilakukan. Bilas luka dapat menggunakan sabun dan air bersih atau clorhexidin atau NaCl 0,9%. Setelah dibersihkan, diberikan antibiotika topikal yang kemudian menutup luka dengan kasa steril untuk mengurangi risiko infeksi sekunder. Antibiotik topikal dapat diberikan sehari 2 kali sambil dilakukan ganti balutan. 1 Tujuan utama perawatan luka adalah mencegah infeksi dan melindungi luka terhadap terjadinya infeksi sekunder. Bula yang terbentuk apabila berukuran <2cm dapat dibiarkan tetap utuh, sedangkan bula yang besar harus dipecahkan kemudian dilakukan debridement. Pasien luka bakar yang dirawat umumnya dilakukan skin graft dalam 15 hari setelah trauma. Tindakan ini terbukti dapat mengurangi risiko sepsis. 14,16

7. Prognosis Prognosis dan penanganan derajat luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar; dan penanganan sejak awal hingga penyembuhan. Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut menentukan kecepatan penyembuhan. Luka bakar pada daerah perineum, ketiak, leher, dan tangan sulit dalam perawatannya, antara lain karena mudah mengalami kontraktur. Prognosis luka bakar umumnya jelek pada usia yang sangat muda dan usia lanjut. Pada usia yang sangat muda (terutama bayi) beberapa hal mendasar menjadi perhatian, antara lain sistem regulasi tubuh yang belum berkembang sempurna ; komposisi cairan intravaskuler dibandingkan dengan cairan ekstravaskuler, interstitial, dan intraselular yang berbeda dengan komposisi pada manusia dewasa, sangat rentan terhadap suatu bentuk trauma. Sistem imunologik yang belum berkembang sempurna merupakan salah satu faktor yang patut diperhitungkan, karena luka bakar merupakan suatu bentuk trauma yang bersifat imunosupresi.

BAB II KESIMPULAN

Luka bakar masih merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas pada anak. Komplikasi terbanyak akibat luka bakar antara lain adalah gagal nafas, syok dan komplikasi sistemik ke berbagai organ. Tatalaksana yang dilakukan mencakup tatalaksana holistik yang mencakup rumatan jalan napas, terapi cairan, dukungan nutrisi, pemberian antibiotika, penanggulangan nyeri akibat luka bakar dengan obat-obat antinyeri dan perawatan

Luka bakar dangkal dan ringan (superfisial) dapat sembuh dengan cepat dan tidak menimbulkan jaringan parut. Namun apabila luka bakarnya dalam dan luas, maka penanganan memerlukan perawatan di fasilitas yang lengkap dan komplikasi semakin besar serta kecacatan dapat terjadi. Oleh karena itu, semua orang khususnya orangtua, harus meningkatkan pengetahuan mengenai luka bakar dan penanganannya, terutama pada anak-anak.

Daftar Pustaka
1. Saraf S, Parihar S. Burns Management: A Compendium. Journal of Clinical and Diagnostic Research 2007; 5: 426-436. 2. Sjamsuhidajat, R., de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC; 2004. 3. Saunders, W.B. Burn, in: Sari, L.A. & Manulu, S.F. Kamus Kedokteran Dorland, 29th ed, Jakarta : EGC; 2000. 4. Moenajat, Yefta. Luka Bakar : Pengetahuan Klinis Praktis. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003 5. Kasten, Kevin, Makley, Kagan RJ. 2011. Burn and inhalation injuries. In: Fuhrman BP, Zimmerman JJ, Carcillo JA, Clark RSB, Relvas M, Rotta AT, et al eds. Prediatric critical care. 4th ed. Philadelphia: Elsevier Sounders; pp: 89 99. 6. Gandhi I, Lord D, Enoch S. 2010. Management of pain in children with burns. Int J Paed, 12(3): 1-7. 7. Gomez R, Leopoldo C. 2007. Management of burn wounds in the emergency department. Emerg Med Clin N,12:135-46. 8. Tricklebank F. 2009. Modern trends in fluid theraphy of burns. Burns, 35:757-67 9. Mcalk, Sumano.2007. Respireatory management of inhalation injury. Burns, 33:2-13.
10. Schwartz, Seymour I. 2000. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Cet. I. Jakarta: EGC.

11. Reed JL and WJ Pomerantz. 2005. Emergency manage. ment of pediatric burns. Pediatric Emergency Care. 21 (2): 118-129 12. Abu R. 2005. Mortality of burn injuries. Burns,10(6):439-43. 13. Avni T. 2010. Prophylactic antibiotics for burns patients: systematic review and meta-analysis. Brit Med J, 340: 241.

14. Summer GJ, Runtillo KA. 2007. Burn injury pain: the continuing challenge. J Pain, 8(7):533-48. 15. Perdanakusuma DS. 2011. Surgical Management of Pediatric Burn. Plastic Surgery DepartementAirlangga University School of Medicine. 16. Sheridan RL. 2012. Burns. Crit Care Med, 30(11): 500-11. 17. Latenzer BA. 2009. Critical care of the burn patient the first 48 hours. Crit Care
Med, 97(10): 2823-7.

18. Jeschke MG, Mlcak RP, Finnerty CC. 2007. Burn size determines the inflammatory and hypermetabolic response. Crit Care J, 11(1):1-11.