Anda di halaman 1dari 33

BAB II PEMBAHASAN

Pornografi di Media Massa Menurut Muntaqo dan Burhan Bungin, membagi wacana porno ke dalam beberapa bentuk porno: 1 Pornografi adalah gambar-gambar porno yang dapat diperoleh dalam bentuk foto dan gambar video. 2 Pornoteks adalah karya pencabulan yang mengangkat cerita berbagai versi hubungan seksual dalam bentuk narasi, testimonial atau pengalaman pribadi secara detail atau vulgar, sehingga pembaca merasa ia menyaksikan sendiri, mengalami atau melakukan sendiri peristiwa hubungan-hubungan seks itu. 3 Pornosuara yaitu, suara atau tuturan dan kalimat-kalimat yang diucapkan seseorang yang langsung atau tidak langsung, bahkan secara halus atau vulgar tentang objek seksual atau aktivitas seksual, 4 pornoaksi adalah suatu penggambaran, aksi gerakan, lenggokan liukan tubuh yang tidak disengaja atau sengaja untuk memancing bangkitnya nafsu seksual. porno itu. Namun dalam banyak kasus, pornografi (cetak) memiliki kedekatan dengan pornoteks karena gambar dalam teks dapat dilakukan dalam satu media cetak. Akibat Pornografi Pada dasarnya sesuatu yang berbau porno bertujuan merangsang hasrat seksual pembaca atau penonton. Karena itu efek yang dirasakan orang yang menyaksikan atau membaca pornografi adalah terbangkitnya dorongan seksual. Bila seseorang mengkonsumsi pornografi sesekali dampaknya mungkin tidak akan terlalu besar. Yang menjadi masalah adalah bila orang terdorong untuk terus menerus mengkonsumsi pornografi, yang mengakibatkan dorongan untuk menyalurkan hasrat seksualnya pun menjadi besar. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah dampak pornografi pada kalangan remaja serta terhadap anak-anak. Dampak pornografi pada remaja Bila remaja terus menerus mengkonsumsi pornografi, sangat mungkin ia akan terdorong untuk melakukan hubungan seks pada usia terlalu dini, dan di luar ikatan pernikahan. Apalagi pornografi umumnya tidak mengajarkan corak hubungan seks yang

bertanggungjawab, sehingga potensial mendorong perilaku seks yang menghasilkan kehamilan remaja, kehamilan di luar nikah atau penyebaran penyakit yang menular melalui hubungan seks, seperti PMS/AIDS. Penelitian menunjukkan para konsumen pornografi cenderung mengalami efek kecanduan, dalam arti sekali menyukai pornografi, seseorang akan merasakan kebutuhan untuk terus mencari dan memperoleh materi pornografi. Bahkan lebih dari itu, si pecandu pornografi akan mengalami proses peningkatan (eskalasi) kebutuhan. Contohnya, bila mula-mula seorang pria sudah merasa puas menyaksikan gambar wanita berpakaian renang, perlahan-lahan ia mencari gambar wanita tanpa pakaian. Bila mula-mula ia sudah puas dengan adegan hubungan seks antara satu pria dengan satu wanita, perlahan-lahan ia mencari adegan hubungan seks antara satu pria dengan beberapa wanita

Ciri-ciri anak kecanduan pornografi, 5 6 7 8 9 10 mudah kehausan, sering buang air kecil, sering berkhayal, sulit konsentrasi, sering bermain play station dan internet dalam waktu yang lama, prestasi akademik menurun.

Mudahnya Akses Pornografi & Dampak Negatifnya Bagi Anak Minimnya sosialisasi dan kurangnya perangkat filter dalam menghindari dampak negative bagi anak-anak , mengakibatkan pornografi internet (cyberporn) semakin mudah ditemukan oleh siswa-siswa sekolah. Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak mengakses pornografi, baik melalui internet sekolah maupun dirumah sendiri, yaitu : 11 Kurangnya pengawasan, pendidikan dan pembinaan dari guru/orang tua kepada siswa/anaknya tentang bagaimana penggunaan internet yang sehat, manfaat internet dan dampak negatif serta cara menghindarinya; 12 Sikap ketertutupan dari guru/orang tua kepada siswa/anak-anak tentang sex education, akibatnya rasa penasaran yang begitu besar dicari jawabannya di luar sekolah/rumah, seperti di warnet; 13 Guru/Orang tua yang gagap teknologi (gaptek), sehingga memenuhi kebutuhan internet disekolah atau untuk anak di rumah/dikamar, tetapi guru/orang tua sendiri tidak menguasainya, bahkan tidak mengetahui dampak negatif internet;

14 Kurangnya upaya proteksi oleh guru/orang tua yang memiliki internet disekolah/di rumah atau di kamar anak-anak, yaitu tidak melengkapinya dengan software untuk memblokir situs-situs porno; 15 Orientasi keuntungan finansial para pemilik warnet, sehingga siapa pun bisa menyewa internet termasuk anak-anak atau remaja, bahkan pada jam-jam sekolah. Selain itu ruangan tertutup yang tersedia diwarnet menjadikan anak-anak merasa nyaman dan aman untuk membuka situs-situs porno; 16 Murahnya biaya untuk dapat mengkonsumsi bahkan memiliki foto-foto atau video porno dengan cara mendownloadnya dari sebuah situs porno dan menyimpannya pada disket, CD atau flasdisc; 17 Sikap keterbukaan masyarakat, termasuk orang tua yang sedikit demi sedikit tidak menganggap tabu hal-hal yang bersifat pornografi. Akibatnya kontrol sosial menjadi berkurang terhadap pornografi.

Blog

Pencegahan dan Penanganan Pornografi 15 Feb, 2013 Articles riaadvocate

Negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika, akhlak mulia, kepribadian luhur bangsa dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menghormati kebinekaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta melindungi harkat dan martabat setiap warga negara. Dalam era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan andil terhadap meningkatnya pembuatan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi yang memberikan pengaruh buruk terhadap moral dan kepribadian luhur bangsa Indonesia sehingga mengancam kehidupan dan tatanan sosial masyarakat Indonesia. Dengan adanya perkembangan teknologi yang sangat canggih, banyak manfaat dan kemudahan yang diberikan oleh alat teknologi tersebut tetapi perkembangan ini juga membawa akibat negatif. Salah satu akibat negatif yang sering ditemui adalah semakin berkembangnya pornografi melalui dunia maya atau dunia internet yang mengakibatkan meningkatnya tindak asusila dan pencabulan. Masalah pornografi yang saat ini muncul adalah mudah diakses dan muncul di berbagai media cetak maupun elektronik yang dengan sengaja mempertontonkan aurat perempuan, hal ini berdampak dan dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti pelecehan seksual, perkosaan, pencabulan dan sebagainya yang saat ini sering terjadi dimasyarakat. Sehingga apabila salah/keliru dalam memahaminya pasti pornografi merusak kehidupan manusia di masa kini dan masa yang akan datang. Terutama bagi anak yang masih remaja dan masih labil pornografi akan mudah disalahgunakan. Pada dasarnya setiap manusia memiliki naluri seks dan karena itu wajar merasa senang dengan materi seks. Namun demikian, bila remaja sudah sering mengkonsumsi pornografi sangat mungkin akan timbul dorongan untuk menyalurkan hasrat seksualnya dengan cara melakukan hubungan seks dengan lawan jenis yang terlalu dini dilakukan di usia yang masih remaja. Oleh karena itu, mengkonsumsi pornografi sejak remaja potensial mendorong tumbuhnya perilaku seks di luar pernikahan yang tidak bertanggungjawab yang dapat menghasilkan kehamilan para remaja di luar nikah atau penyebaran penyakit yang menular melalui hubungan seks, seperti PMS/AIDS. Salah satu contoh kasus pornografi yang paling terkenal adalah tersebarnya video porno Ariel dan Luna Maya yang beredar luas di masyarakat. Ariel menyimpan rekaman video pornografi di eksternal harddisk yang jadi satu dengan data aktivitasnya sebagai pemusik. Reza salah satu teman Ariel mendapat video tersebut pada saat meminjam eksternal harddisk. Oleh Reza file tersebut diserahkan kepada Anggit. Berawal dari sinilah video tersebut tersebar antara lain lewat internet. Atas perbuatannya tersebut Ariel dinyatakan turut serta terlibat dalam tindak pidana penyebaran video porno dan dijatuhi hukuman

penjara 3,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Bandung. Selain itu masih ada kasus pornografi lainnya seperti pelecehan khususnya terhadap wanita di dalam angkutan umum di Jakarta, sepasang remaja yang masih berumur belasan tahun yang merekam adegan layaknya suami istri tersebut dan tanpa disengaja video tersebut tersebar ke masyarakat melalui handphone, internet dan media lainnya. Dari contoh-contoh kasus diatas dapat disimpulkan masih lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku, penyebar pornografi karena masih banyaknya situs-situs porno yang bisa diakses kapanpun, siapapun dan dimanapun. Oleh karena itu pengaturan pornografi berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan, kebinekaan, kepastian hukum, nondiskriminasi, dan perlindungan terhadap warga negara. Hal tersebut berarti bahwa ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi adalah: 1. Menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang bersumber pada ajaran agama; 2. Memberikan ketentuan yang sejelas-jelasnya tentang batasan dan larangan yang harus dipatuhi oleh setiap warga negara serta menentukan jenis sanksi bagi yang melanggarnya; dan 3. Melindungi setiap warga negara, khususnya perempuan, anak, dan generasi muda dari pengaruh buruk dan korban pornografi. Masalah pornografi telah diatur dalam undang-undang tetapi peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan pornografi yang ada saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan hukum terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku dan penyebar pornografi. Permasalahannya saat ini, materi pornografi yang ada saat ini dapat dengan mudahnya dilihat oleh siapapun mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa, sejauh mana peran pemerintah dalam menangani masalah pornografi yang semakin berkembang luas di tengah masyarakat Indonesia khususnya generasi muda?. II. Pengetian Tentang Pornografi 2.1 Pengertian Pornografi Pornografi adalah penyajian seks secara terisolir dalam bentuk tulisan, gambar, foto, film, pertunjukan atau pementasan dengan tujuan komersial. Tujuan komersialartinya mereka yang ingin menonton pertunjukan seksual ini harus mengeluarkan sejumlah uang, paling tidak untuk mengakses internetnya. 2.2 Maksud dan Tujuan Penanganan Pornografi Memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat akan bahaya pornografi terutama bagi remaja dan tindakan yang dilakukan untuk mencegah penyebaran ponografi di masyarakat luas. 2.3 Jenis Media Pornografi Unsur media menjadi suatu patokan utama berkait dengan batasan pornografi tersebut.

Media yang dimaksud dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga ) kelompok besar yaitu : 1. Media audio (dengar, yang termasuk dalam kategori ini diantaranya siaran radio, kaset, CD, telepon, ragam media audio lain yang dapat diakses di internet: a. lagu-lagu yang mengandung lirik mesum, lagu-lagu yang mengandung bunyi-bunyian atau suara-suara yang dapat diasosiasikan dengan kegiatan seksual; b. program radio dimana penyiar atau pendengar berbicara dengan gaya mesum; c. jasa layanan pembicaraan tentang seks melalui telepon (party line) dan sebagainya. 2. Media audio-visual (pandang-dengar) seperti program televisi, film layar lebar, video, laser disc, VCD, DVD, game komputer, atau ragam media audio visual lain yang dapat diakses di internet : a. film-film yang mengandung adegan seks atau menampilkan artis yang tampil dengan pakaian minim atau tidak (seolah-olah) tidak berpakaian. b. adegan pertunjukkan musik dimana penyanyi, musisi atau penari latar hadir dengan tampilan dan gerak yang membangkitkan syahwat penonton. 3. Media visual (pandang) seperti koran, majalah, tabloid, buku (karya sastra, novel popular, buku non-fiksi) komik, iklan billboard, lukisan, foto atau bahkan media permainan seperti kartu: a. Berita, cerita atau artikel yang menggambarkan aktivitas seks secara terperinci atau yang memang dibuat dengan cara yang demikian rupa untuk merangsang hasrat seksual pembaca. b. Gambar, foto adegan seks atau artis yang tampil dengan gaya yang dapat membangkitkan daya tarik seksual c. Fiksi atau komik yang mengisahkan atau menggambarkan adegan seks dengan cara yang sedemikian rupa sehingga membangkitkan hasrat seksual. 2.4 Ciri-Ciri Pornografi a. Pornografi itu adalah perbuatan seks yang dilakukan demi seks itu sendiri. Artinya, pementasan atau pertunjukan hal-hal seksual itu terlepas dari nilai-nilai personal manusiawi seperti cintakasih dan kemesraan. Tandanya yakni pemusatan perhatian hanya pada tubuh melulu, terutama pada penggunaan alat kelamin terlepas dari arti personal dan sosial seksualitas. Biasanya manusia hanya dipakai sebagai sarana dan obyek pemuas penonton atau dijadikan alat hiburan. Terutama dalam hal ini kaum hawa yang selalu dilukiskan sebagai kenikmatan yang tersedia. b. Adanya rangsangan nafsu birahi dari penonton. Hal ini dilakukan secara ofensif dan agresif. Secara ofensif dan agresif artinya bahwa birahi si penonton itu diserang sedemikian rupa oleh rangsangan-rangsangan dari perbuatan-perbuatan porno yang dilakukan dengan sengaja. c. Adanya peningkatan daya rangsangan secara otomatis secara tidak terbatas. Dikatakan tidak terbatas, karena para pelaku pornografi ini dapat menggunakan segala cara bahkan sampai menjurus ke hal-hal yang bersifat brutal yang dapat disebut sebagai teror kejiwaan. Tentunya peningkatan ini didorong oleh komersialisme atau dengan tujuan supaya pertunjukan porno itu menjadi lebih laku atau laris.

d. Usaha untuk membawa penonton memasuki dunia khayal. Artinya, para pembuat pornografi tidak hanya bermaksud merangsang penonton, melainkan juga membawa penonton pada dunia kayalan tentang kenikmatan yang tidak terbatas. Jadi dengan segala macam teknik merangsang, para penonton dimanip

Makalah Tindak Pidana Pornografi (Sistem Peradilan Pidana) BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Saat ini masyarakat telah marak memperbincangkan tentang pornografi yang sedang meraja lela di kalangan masyarakat beserta problematikanya.Dampak arus global pornografi tak urung merambah wilayah kita. Berapa waktu lalu terdengar berita, majalah mesum Playboy yang berkantor pusat di Amerika akan terbit dan beredar dalam versi Indonesia. Kenyatan ini cukup menggelisahkan, sehingga memicu gelombang protes di berbagai tempat. Protes masyarakat tersebut menegaskan, jenis kejahatan di bidang kesusilaan ini dipandang cukup serius untuk ditanggulangi. Sebenarnya upaya memberantas kejahatan kesusilaan ini sejak dahulu telah dilakukan. Terdapat pasal-pasal dalam KUHP yang melarang segala bentuk dan jenis pornografi, di samping itu terdapat pada peraturan perundangan lainnya, seperti UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, UU Nomor 24 tahun 1997 tentang Penyiaran dan sebagainya. Upaya lain, saat kini sedang gencar-gencarnya dilakukan pembahasan RUU Antipornografi dan Pornoaksi di DPR, yang menuai prokontra. Dalam KUHP tindak pidana pornografi diatur pada Pasal 282 dan Pasal 283 KUHP untuk kejahatan. dalam Bab XIV buku II tentang, Kesusilaan dan Pasal 532 KUHP Bab VI buku III untuk pelanggaran. Terminologi kesusilaan mempunyai pengertian yang luas. Pasal 282, Pasal 283 dan Pasal 532 KUHP lebih padaexhibitionisme.Unsur pernyataan pornografi disampaikan lewat tulisan, lisan, gambaran atau benda, termasuk pula peredarannya. Delik-delik tersebut termasuk dalam pengertian sex related orientedterdiri dari dua perbuatan yakni mengeluarkan pernyataan secara lisan ataupun secara tulisan atau dengan mempergunakan sebuah benda. Pornografi umumnya dikaitkan dengan tulisan dan penggambaran, karena cara seperti itulah yang paling banyak ditemukan dalam mengekspos masalah seksualitas. Akhir-akhir ini dalam masyarakat kita ada istilah baru yaitu porno aksi. Yang dimaksudkan kiranya adalah penampilan seseorang yang sedikit banyak menonjolkan hal-hal seksual, misalnya gerakan-gerakan yang merangsang atau cara berpakaian minim yang menyingkap sedikit atau banyak bagian-bagian yang terkait dengan alat kelamin, misalnya bagian dari paha. Tetapi tidak semua penonjolan atau penyingkapan itu dapat

disebut sebagai porno aksi, sebab di kolam renang misalnya, memang "halal" bagi siapapun untuk berpakaian mini, bahkan memang dengan hanya berbusana bikini (pakaian renang yang hanya menutup alat kelamin). Jadi soal porno aksi itu sangat relatif, tergantung motivasi manusianya. Pornografi biasanya dibagi ke dalam dua jenis: hard-core dan soft-core. Hard core pornography adalah pomografi yang memperlihatkan seks dalam bentuk yang sangat eksplisit, kekekerasan, atau tidak senonoh. Sedangkan soft-core pornography adalah sebaliknya. Yang dinyatakan illegal biasanya adalah yang hard-core yaitu termasuk dan terbatas pada: (1) depiksi dalam bentuk film atau gambar dari genitalia manusia atau kontak antar genitalia, anus, dan mulut (dalam berbagai kombinasi) atau deskripsi dari aktivitas seperti itu; (2) depiksi atau deskripsi persetubuhan homoseksual; dan (3) depiksi atau deskripsi aktivitas seksual antara manusia dan hewan. Untuk yang hard-core orang jarang berbeda pendapat tentang definisinya. Ukurarmya adalah dalam gambar bergerak (film) atau gambar diam (foto) terekam alat kelamin manusia, laki-laki atau perempuan, alar kelamin bertemu alat kelamin, alat kelamin bertemu dengan anus, alat kelamin bertemu dengan mulut, mulut bertemu dengan anus. Film, video, majalah, atau karya lainnya juga dinyatakan sebagai hard-core pornography jika menampilkan secara grafis perbuatan seksual seperti masturbasi, onani, kekerasan seksual yang dipandang sebagai ofensif oleh masyarakat. Dari segi etika atau moral, pornografi akan merusak tatanan norma-norma dalam masyarakat, merusak keserasian hidup dan keluarga dan masyarakat pada umumnya dan merusak nilai-nilai luhur dalam kehidupan manusia seperti nilai kasih, kesetiaan, cinta, keadilan, dan kejujuran. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan masyarakat sehingga tercipta dan terjamin hubungan yang sehat dalam masyarakat. Masyarakat yang sakit dalam nilai-nilai dan norma-norma, akan mengalami kemerosotan kultural dan akhirnya akan runtuh dan khaos. B. PERMASALAHAN Pada makalah ini kami menjelaskan bagaimana cara penanggulangan kejahatan tindak pidana pornografi di indonesia dan bagaimana sistem peraturan tindak pidana pornografi tersebut?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Percepatan globalisasi semakin lengkap ditunjang penemuan di bidang teknologi, komunikasi dan telekomunikasi. Kemajuan di bidang telekomunikasi menciptakan globalisasi infromasi, globalisasi peredaran modal, globalisasi perdagangan dan aktivitas ekonomi lainnya.( Dimyati Hartono, 19:1990) pornografi membawa dampak sangat buruk bagi kehidupan manusia. Maka tidak bisa lain, harus ada usaha bersama seluruh masyarakat melawan pornografi supaya tidak semakin jauh menjerumuskan kita kepada pengingkaran akan hakikat kita sebagai manusia yang dikaruniai segala sesuatu oleh sang Pencipta, termasuk seksualitas untuk tugas dan tujuan mulia, yaitu menciptakan generasi manusia secara berkelanjutan dengan keadaan sehat jasmani dan rohani, jiwa dan raga. Perkembangan zaman yang pesat terhadap dunia telekomunikasi dan informasi memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat.Terdapat sisi negatif dan positif terhadap perkembangan ini. Segi positif perkembangan ini memudahkan manusia dalam menghadapi kehidupannya, sedangkan imbas negatifnya antara lain semakin merajalelanya jaringan pornografi internasional. Akses jaringan pornografi ini dapat dinikmati oleh penduduk berbagai negara. Melalui sarana teknologi telekomunikasi yang berupa internet, penyebaran pornografi dapat dilakukan secara luas, melewati batas-batas negara. Jaringan internet secara potensial menyebarkan polusi pornografi ke seluruh dunia. Bahkan disebut sebagai perusakan dan pencemaran informasi di mayantara (mungkin dapat disebut sebagai cyber damage dan cyber pollution) bagian dari environmental crime, yang perlu dicegah dan ditanggulangi. (Barda Nawawi Arief, 250:2003) Dalam KUHP tindak pidana pornografi diatur pada Pasal 282 dan Pasal 283 KUHP untuk kejahatan. dalam Bab XIV buku II tentang, Kesusilaan dan Pasal 532 KUHP Bab VI buku III untuk pelanggaran. Terminologi kesusilaan mempunyai pengertian yang luas . Pasal 282, Pasal 283 dan Pasal 532 KUHP lebih pada exhibitionisme. Unsur pernyataan pornografi disampaikan lewat tulisan, lisan, gambaran atau benda, termasuk pula peredarannya. Delik-delik tersebut termasuk dalam pengertian sex related orientedterdiri dari dua perbuatan yakni mengeluarkan

pernyataan secara lisan ataupun secara tulisan atau dengan mempergunakan sebuah benda. Hukum adalah alat untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat Law as a tool of social engineering. Dengan fungsi dan peran yang demikian, maka hukum telah ditempatkan sebagai variable penting dari setiap program pembangunan dan fungsi control pelaksanaan pembangunan. (Andi Ayub Saleh 76:2006) Kelompok politik yang berkuasa akan berusaha menggunakan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Salah satu cara yang efektif adalah dengan memperalat hukum. Akan diciptakan berbagai perangkat hukum yang dapat memperkuat kekuasaan dari kelompok yang berkuasa.(Pramudya, 13:2007) Kaedah hukum pidana adalah suatu bentuk perintah, yang bernilai tentang kelakuan yang telah ditentukan dan yang diharapkan dilakukan oleh orang lain. Kaedah hukum tidak hanya memainkan peran dalam hubungan antara pemberi perintah (pembentuk UU) dan penerima perintah (justisiable), melainkan mempunyai jangkauan yang lebih luas, dan asas hukum berfungsi di dalam maupun di belakang sistem hukum positif. Kaedah hukum yang ditujukan kepada para warga, sebagai pedoman untuk kelakuanya dikemudian hari.( R.Soema Dipraja, 6:1982) Peraturan hukum dapat efektif apabila memenuhi 3 unsur Kaedah hukum, yaitu: 1. Kaedah hukum berlaku secara yuridis artinya, menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya. 2. Kaedah hukum berlaku secara sosiologis artinya, dapat dipaksakan berlakunya oleh penguasa walaupun tidak diterima oleh masyarakat (teori kekuasaan) atau kaedah tadi berlaku karena diterima dan diakui oleh masyarakat (teori pedoman). 3. Kaedah tersebut berlaku secara filosofis artinya, sesuai dengan cita-cita hukum sebagai nilai positif yang tertinggi.( Lili Rasjidi dan B. Arief Sidharta, 72:1989) Hukum pidana pada dasarnya berisi norma hukum tentang larangan dan keharusan, disertasi dengan ancaman pidana barang siapa melanggar larangan tersebut dengan istilah tindak pidana, perbuatan pidana, delik dan peristiwa pidana dan terhadap pelanggaran bisa dibenarkan sanksi pidana berupa pidana yang disediakan oleh Undang-undang.

Upaya penanggulangan kejahatan merupakan bagian yang tidak terpisahkandengan upaya perlindungan masyarakat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tujuan akhir dari politikkriminal adalah perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.( Soejono D, 158: 1976) Relevansi dalam hal ini dimaknai sebagai masih perlunya pornografi dijadikan sebagai tindak pidana. Suatu perbuatan ditetapkan sebagai perbuatan yang diancam pidana disebut kriminalisasi. Terdapat beberapa kriteria perlunya suatu perbuatan di kriminalisasikan antara lain: (Sudarto, 44:1986) (1) Penggunaan hukum pidana harus memperhatikan tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila; (2) Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi dengan hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian (materiil dan atau spiritual) bagi warga masyarakat; (3) Penggunaan hukum pidana harus pula memperhitungkan prinsip biaya dan hasil (cost and benefit principle); (4) Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari badanbadan hukum yaitu jangan sampai ada kemampuan beban tugas (overbelasting). Perbuatan pornografi dapat memberikan dampak negatif terhadap moralitas bangsa Indonesia, dan juga menimbulkan bebagai macam kejahatan lain sehingga dapat merugiakan orang banyak. Oleh karena perbuatan pornografi merupakan bentuk perbutan yang dilarang oleh norma agama, kesopanan, kesusilaan masyarakat maka perbuatan pornografi tersebut merupakan perbuatan yang tercela, sehingga secara substansial layak dinyatakan sebagai perbuatan kriminal.

BAB III PEMBAHASAN

Pornografi umumnya dikaitkan dengan tulisan dan penggambaran, karena cara seperti itulah yang paling banyak ditemukan dalam mengekspos masalah seksualitas. Akhir-akhir ini dalam masyarakat kita ada istilah baru yaitu porno aksi. Yang dimaksudkan kiranya adalah penampilan seseorang yang sedikit banyak menonjolkan hal-hal seksual, misalnya gerakan-gerakan yang merangsang atau cara berpakaian minim yang menyingkap sedikit atau banyak bagian-bagian yang terkait dengan alat kelamin, misalnya bagian dari paha. Tetapi tidak semua penonjolan atau penyingkapan itu dapat disebut sebagai porno aksi, sebab di kolam renang misalnya, memang "halal" bagi siapapun untuk berpakaian mini, bahkan memang dengan hanya berbusana bikini (pakaian renang yang hanya menutup alat kelamin). Jadi soal porno aksi itu sangat relatif, tergantung motivasi manusianya. Pornografi diartikan sebagai: 1 tulisan, gambar/rekaman tentang seksualitas yang tidak bermoral, 2 bahan/materi yang menonjolkan seksualitas secara eksplisit terang-terangan dengan maksud utama membangkitkan gairah seksual, 3 tulisan atau gambar yang dimaksudkan untuk membangkitkan nafsu birahi orang yang melihat atau membaca, 4 tulisan atau penggambaran mengenai pelacuran, dan 5 penggambaran hal-hal cabul melalui tulisan, gambar atau tontonan yang bertujuan mengeksploitasi seksualitas. Di Indonesia penegakan hukum terhadap perbuatan pornografi sangat rendah karena banyaknya Pekerja Seks Komersial (PSK) yang melayanai para lelaki hidung belang. Pornografi pastilah merusak kehidupan umat manusia pada umumnya, kini dan di masa yang akan datang. Maka sangat diperlukan adanya usaha bersama melawan pornografi secara efisien. Yang pertama-tama, adalah pendidikan seks dalam keluarga dan institusi agama. Bagaimanapun pornografi tidak akan mungkin lagi terbendung. Maka pertahanan yang seharusnya diperkuat, yaitu pendidikan terhadap generasi muda dan orang dewasa supaya pengaruh kuat pornografi tidak menjerumuskan. Kedua, rasanya pemerintah memang harus menertibkan media dan pelaku pornografi melalui konstitusi dan kesadaran produsen. Kiranya media perlu mawas diri supaya tidak mendukung arus pornografi. Usaha lain yang penting adalah pemblokiran cyber-porno melalui kebijakan konstitusi negara, atau usaha pribadi, khususnya keluarga. Cyber-porno merupakan tekanan pornografi yang paling kuat dan paling mudah bagi mereka yang

punya saluran internet. Tetapi yang paling penting adalah pengendalian diri konsumen terhadap informasi yang terkait dengan pornografi. Tanpa pengendalian diri ini, upaya konstitusi apapun rasanya taka akan bermanfaat. Akhirnya dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk menyiasati pornografi. Mungkin kita tidak harus menjadi munafik dengan kondisi masyarakat modern yang memang sangat terbuka. Saya kira kita tidak bisa menutup-nutupi kenyataan kuatnya pengaruh pornografi dalam masyarakat kita. Pastilah bukan usaha-usah penghancuran yang menjadi jalan terbaik menyiasati pengaruh pornografi. Yang terutama adalah kesadaran bahwa membiarkan pornografi merusak fisik, jiwa dan rohani kehidupan kita karena mengeksploitasi seksualitas yang seharusnya kita hargai dan muliakan sebagai anugerah yang sangat penting dari sang Pencipta. Di Indonesia terjadi benturan budaya yaitu benturan budaya antara budaya islami dengan nilai-nilai non-islami didalam negara. Konflik antar budaya yang bersumber dari perbedaan kepercayaan dapat menjadi sumber konflik yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa.Benturan-benturan budaya yang berujung kepada konflik horizontal dan konflik vertikal ini sedini mungkin harus dielimenir dengan mengedepankan nilainilai toleransi. Salah satu masalah yang mencuat mengenai benturan budaya ialah dengan adanya pro dan kontra terhadap di sahkannya Undang-Undang Pornografi. Banyak kalangan yang menolak dengan kehadiran UUP ini, motivasi melakukan penolakan ini bermacammacam, seperti alasan budaya dan adat istiadat serta alasan kebebasan berekspresi bagi seniman dan dunia perfiliman.Dalam suatu lalu lintas kepentingan, perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan tertentu hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi kepentingan dipihak lain. (Satipto Raharjo, 53:1996) Setelah mengalami beberapa kali perubah-an dengan memperhatikan tuntutan masyarakat, akhirnya RUU APP disahkan pada Rapat Paripurna DPR pada tanggal 30 Oktober 2008 dan diundangkan pada tanggal 26 November 2008 sebagai UU Pornografi. Menurut UU Pornografi, yang dimaksud dengan pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat. Unsur dapat membangkitkan hasrat seksual dan melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat dalam pengertian pornografi tersebut pada dasarnya juga dapat

menimbulkan ketidakpastian. Respon seseorang ketika melihat suatu obyek tentu tidak selalu sama dengan orang lain. Sesuatu hal mungkin dapat membangkitkan hasrat seksual seseorang, namun belum tentu hal tersebut dialami juga oleh orang lain. Dari aspek hukum pidana materiil, berdasarkan rumusan Pasal 282 dan Pasal 283 KUHP jenis perbuatan yang dilarang antara lain: (1) menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan dengan terang-terangan tulisan dsb, Menyiarkan misalnya memakai surat kabar, majalah, buku, surat selebaran dan lain-lain. Mempertontonkan artinya diperlihatkan kepada orang banyak, menempelkan artinya ditempelkan di suatu tempat sehingga kelihatan; (2) membuat, membawa masuk, mengirimkan langsung, membawa keluar atau menyediakan tulisan dan sebagainya untuk disiarkan, dipertontonkan atau ditempelkan dengan terangterangan; (3) dengan terang-terangan atau dengan menyiarkan suatu tulisan menawarkan dengan tidak diminta atau menunjukkan, bahwa tulisan dan sebagainya itu boleh didapat. Tulisan, gambaran, benda/barang harus melanggar kesusilaan22, misalnya buku yang isinya cabul, gambar atau patung yang bersifat cabul, film yang isinya cabul. Pada Pasal 283 KUHP tulisan, gambar dan benda tersebut harus ditawarkan kepada anak yang belum genap berumur 17 tahun, atau anak yang belum dewasa. Beredarnya video porno bisa dilihat dalam konteks kesusilaan yang sudah lama diatur oleh UU di Indonesia. Walau masih sangat terbatas, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebenarnya bisa digunakan untuk menjangkau persoalan kesusilaan, misalnya Pasal 182-283 (tulisan/gambar yang melanggar kesusilaan), Pasal 533 (tulisan/gambar/benda yang merangsang nafsu), Pasal 281 (melanggar Kesusilaan), dan Pasal 281, 289, 290, 292-296, 506 (perbuatan cabul). Namun demikian dalam hal cyberporn, KUHP tidak bisa menjangkau (memiliki keterbatasan) hal yang berkaitan dengan jurisdiksi teoritorial dan subjek hukum korporasi (Barda Nawawi Arief, 2006; Barda Nawawi Arief, 1997). Dalam hal jurisdiksi, dibatasi oleh masalah ruang berlakunya hukum pidana menurut tempat. Artinya hukum pidana hanya berlaku di wilayah negaranya sendiri (asas teritorial) dan untuk warga negaranya sendiri (asas personal/nasional aktif). Selain KUHP, walau pun terbatas jangkauan, masih ada beberapa UU khusus lainnya, antara lain: (a) UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (larangan bagi penyelenggara komunikasi untuk melakukan usaha penyelenggaraan komunikasi yang bertentangan dengan kesusilaan (Pasal 21);

(b) UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (kewajiban memberitakan peristiwa dan opini yang menghormati norma agama, rasa kesusilaan masyarakat, asas praduga tak bersalah [Pasal 5 ayat (1)]. Larangan memuat iklan yang bertentangan dengan rasa kesusilaan [Pasal 13]; (c) UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (larangan siaran yang menonjolkan kecabulan [Pasal 57]; larangan memuat hal yang bertentangan dengan kesusilaan masyarakat, eksploitasi anak dibawah umur 18 tahun [Pasal 58]; (d) UU Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman (mengedarkan, mengekspor, mempertunjukkan dan/atau menayangkan film dan/atau reklasi film yang tidak disensor atau ditolak lembaga sensor); (e) UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (larangan pornografi dan jasa pornografi [Pasal 4]; (f) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (larangan mendistribusikan/mentransmisikan/membuat dapat diakses informasi /dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggara kesusilaan [Pasal 27 (1)]. Dalam penangulangan tindak pidana pornografi masyarakat dan pemerintah juga turut berperan sesuai denan apa yang telah di jelaskan dalam uu pornografi, sbb: Peran Masyarakat (Pasal 51) (1) Setiap warga masyarakat berhak untuk berperan serta dalam pencegahan dan penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi berupa : a. hak untuk mendapatkan komunikasi, informasi, edukasi, dan advokasi; b. menyampaikan keberatan kepada BAPPN terhadap pengedaran barang dan/atau penyediaan jasa pornografi dan/atau pornoaksi; c. melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan terhadap seseorang, sekelompok orang, dan/atau badan yang diduga melakukan tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi; d. gugatan perwakilan sebagaimana dimaksud pada huruf b dilakukan oleh dan/atau melalui lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada masalah pornografi dan/atau pornoaksi. (2) Setiap warga masyarakat berkewajiban untuk : a. melakukan pembinaan moral, mental spiritual, dan akhlak masyarakat dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian luhur, berakhlaq mulia, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; b. membantu kegiatan advokasi, rehabilitasi, dan edukasi dalam penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi.

(3) Setiap warga masyarakat berkewajiban untuk melaporkan kepada pejabat yang berwenang apabila melihat dan/atau mengetahui adanya tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi. Peran Pemerintah Pasal 52 Pemerintah berwenang melakukan kerjasama bilateral, regional, dan multilateral dengan negara lain dalam upaya menanggulangi dan memberantas masalah pornografi dan/atau pornoaksi sesuai dengan kepentingan bangsa dan negara. Pasal 53 Pemerintah wajib memberikan jaminan hukum dan keamanan kepada pelapor terjadinya tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi. Isi UU secara garis besar : 1. Mempertontonkan alat kelamin di muka umum (Pasal 4 ayat 1) Ancaman pidana Penjara : 1 tahun 5 tahun. Denda : Rp 50 juta Rp 250 juta 2. Mempertontonkan pantat di muka umum (Pasal 4 ayat 2)Ancaman pidana Penjara : 1 tahun 5 tahun. Denda : Rp 50 juta Rp 250 juta 3. Mempertontonkan payudara di muka umum (Pasal 4 ayat 5)Ancaman pidana Penjara : 1 tahun 5 tahun. Denda : Rp 50 juta Rp 250 juta 4. Sengaja telanjang di muka umum (Pasal 5 ayat 1)Ancaman pidana Penjara : 2 tahun 6 tahun Denda : Rp 100 juta Rp 300 juta 5. Berciuman bibir di muka umum (Pasal 6) Ancaman pidana Penjara : 1 tahun 5 tahun. Denda : Rp 50 juta Rp 250 juta 6. Menari erotis atau bergoyang erotis di muka umum (Pasal 7 ayat 1) Ancaman pidana Penjara : 1 tahun 5 tahun. Denda : Rp 50 juta Rp 250 juta 7. Melakukan masturbasi atau onani dimuka umum (Pasal 8 ayat 1) Ancaman pidana Penjara : 1 tahun 5 tahun Denda : Rp 50 juta Rp 250 juta 8. Melakukan hubungan seks di muka umum (Pasal 9 ayat 1) Ancaman pidana Penjara : 2 tahun 10 tahun Denda : Rp 100 juta Rp 500 juta 9. Melakukan hubungan seks dengan anak-anak (Pasal 9 ayat 2) Ancaman pidana Penjara : 2 tahun 10 tahun. Denda : Rp 100 juta Rp 500 juta 10. Menyelenggarakan acara pertunjukan seks (Pasal 10 ayat 1). Ancaman pidana Penjara : 3 tahun 10 tahun. Denda : Rp 100 juta Rp 1 milyar 11. Menyelenggarakan pesta seks (Pasal 10 ayat 3) Ancaman pidana Penjara : 3 tahun 10 tahun. Denda : Rp 100 juta Rp 1 milyar 12. Menonton acara pertunjukan seks (Pasal 11 ayat 1) Ancaman pidana Penjara : 6 bulan

2 tahun Denda : Rp 25 juta Rp 100 juta 13. Menyediakan dana atau tempat untuk melakukan kegiatan pornoaksi(Pasal 12 ayat 1 dan ayat 2) Ancaman pidana Penjara : 1 tahun 5 tahun. Denda : Rp 50 juta Rp 250 juta

BAB IV PENUTUP Kesimpulan Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat. Dalam penanggulangan tindak pidana pornografi terdapat peran serta masyarakat dan juga pemerintahan seperti apa yang telah diatur dalam undang-undang pornografi pada pasal 51, pasal 52, dan pasal 53. Selain diatur di dalam KUHP, tindak pidana pornografi juga diatur di dalam UndangUndang Khusus lainnya, seperti: UU pornografi, UU telekomunikasi, UU pers, UU perfilman, dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Referensi Arief, Barda Nawawi. 2003. Kapita Selekta Hukum Pidana. Bandung: Citra Aditya Bakti D, Soejono. 1976. Sosio Kriminologi. Alumni. Bandung Dipraja, R.Soema. 1982. Asas-asa Hukum Pidana.Alumni. Jakarta Hartono, Dimyati .1990. Hukum Sebagai Faktor Penentu Pemanfaaatan Teknologi Telekomunikasi. Semarang Pramudya. 2007.Hukum itu Kepentingan. Sanggar Mitra Sabda. Salatiga Rasjidi, Lili dan B. Arief Sidharta. 1989. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. Remadja Karya. Bndung Raharjo, Satipto. 1996. Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti. Bandung Saleh, Andi Ayub. 2006 .Tamasya Perenungan Hukum dalam Law in Book and Law in Action menuju penemuan Hukum, Penerbit Yarsif Watampone.Jakarta

Sudarto. 1986. Hukum dan HukumPidana. Alumni. Bandung

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi http://www.pemantauperadilan.com http://www.acehinstitute.org Diposkan oleh AdHiE ToKeKx Jam 00.03 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Reaksi: 4 komentar: SemHarja mengatakan... Pornografi memang mesti banyajk dikaji and telaah yaa.. mudah2n bangsa indonesia tyidak menjadi bangsa yang porno yaa.. karena entah kenapa banyak pejabat negara yang suka menelanjangi dirinya sendiri .. Korupsi kan bangian dari tindakan menelanjangi diri sendiri.. hehehe.. Peacee for all.. 1 Maret 2011 14.19

Admin mengatakan... bener gan mang pejabat hanya pandai berbicara sja tpi perbuatan mereka tidak sesuai dgn ucapan (klo gaulnya omdo alias omong doang)... hehe do'a sluruh masy. indonesia psti sma gan smoga korupsi di indonesia bisa lenyap selamalamanya .... amien 2 Maret 2011 23.40

PENERAPAN AZAS RETROAKTIF TERHADAP PELAKU PELANGGARAN KESUSILAAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PORNOGRAFI DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 1 AYAT (1) KUHP Submitted by admin on Tue, 01/01/2013 - 16:48 Title PENERAPAN AZAS RETROAKTIF TERHADAP PELAKU PELANGGARAN KESUSILAAN MENURUT UNDANGUNDANG NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PORNOGRAFI DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 1 AYAT (1) KUHP Thesis 2012 RIZKY DESNIAR

Publication Type Year of Publication Authors

Academic Department Degree University Thesis Type Other Numbers Keywords Abstract

Hukum Pidana S1 Fakultas Hukum Unla Skripsi 41151010080143 Hukum Pidana Penyebaran video porno mirip Ariel yang terjadi sekitar bulan Juni 2010 menyebabkan Ariel diperkarakan kepada pihak yang berwajib sebagai tersangka pelaku perbuatan pornografi dan pelaku penyebaran video porno tersebut. Ariel Peterpan divonis dalam putusan yang telah melalui due process of law yang amat panjang. Hasil akhir dari amar putusan tersebut memicu pada pro dan kontra perihal sanksi yang dilimpahkan kepada Ariel. Dalam vonis yang dijatuhkan kepada Ariel terkesan sangat dipaksakan penerapan hukumnya. Penelitian yang dilakukan penulis ini bersifat deskriptif analitis yang dilakukan melalui pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian kepustakaan pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang terkait dengan ketentuan-ketentuan yang menyangkut masalah pornografi, informasi dan teknologi informasi serta asas-asas umum yang berlaku dalam hukum pidana khususnya asas retroaktif. Dengan analisis tersebut diharapkan akan diperoleh gambaran serta kejelasan mengenai kasus Ariel berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang pornografi dihubungkan dengan Pasal 1 ayat (1) KUHPidana. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa tindakan Ariel yang merekam dan mendokumentasikan adegan-adegan layaknya suami istri tidak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana pornografi sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 29 Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 Tentang Pornografi. Dalam kasus ini perbuatan Ariel dalam membuat video porno tersebut adalah sebelum diundangkannya Undang-undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Asas legalitas haruslah dipatuhi sesuai dengan Pasal 1 ayat (1) KUHPidana, sudah seharusnya Ariel dapat dibebaskan dari segala dakwaan, baik itu terhadap tindak pidana pornografi, tindak pidana kesusilaan maupun tindak pidana penyebarluasan informasi

elektronik yang mengandung muatan pornografi. Full Text BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai lembaga sosial, hukum tidak hanya menciptakan keteraturan bagi lembaga sosial lainnya, akan tetapi juga menciptakan nilai, asas, dan kaidah sendiri seperti ketertiban dan ketentraman, hukum bukanlah semata-mata merupakan suatu kekuatan untuk menciptakan suatu fasilitas dalam menyederhanakan dan melancarkan interaksi sosial, hukum bukan hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan tertentu, hukum juga merupakan gejala yang berkembang bersama-sama dengan masyarakat, seperti Adagium yang dibawakan oleh Carl Von Savigiq, bahwa, Hukum itu tidak usah dibuat melainkan berkembang bersama-sama dengan berkembangnya masyarakat. Seiring berkembangnya jaman berkembang pula motif kejahatan yang ada. Kriminalitas berkembang sejalan dengan berkembangnya peradaban manusia. Semakin maju peradaban manusia semakin bervariasai pula kriminalitas yang ada. Perkembangan hukum yang sesuai dengan perkembangan masyarakat tersebut dapat dilihat dalam persoalan di masyarakat mengenai pelanggaran kesusilaan. Mengenai pelanggaran kesusilaan ini muncul dan bahkan meningkat seiring berkembangnya teknologi. Teknologi yang sudah maju pada saat ini memudahkan masyarakat untuk mengakses hal-hal yang berbau pornografi yang mana sebelum teknologi berkembang, masyarakat sangat sulit untuk mengaksesnya. Hal-hal yang berbau pornografi tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyrakat. Norma-norma yang berlaku di masyarakat dapat diklasifikasikan menjadi 5 jenis, yaitu ) : 1. norma agama, 2. norma kesusilaan, 3. norma kesopanan, 4. norma kebiasaan, dan 5. hukum. Pada hakikatnya masalah kebijakan hukum pidana di Indonesia bukanlah semata-mata pekerjaan yang bersifat tehnis perundang-

undangan yang dapat dilakukan secara yuridis normatif dan sistematik-dogmatik, akan tetapi juga memerlukan pendekatan yuridis factual, yang dapat berupa pendekatan secara sosiologis, historis dan komparatif serta pendekatan komperhensif dari berbagai disiplin sosial lainnya dan pendekatan integral dengan kebijakan sosial dan pembangunan nasional pada umumnya. Sistem peradilan Indonesia berdasarkan sistem-sistem, undangundang dan lembaga-lembaga yang diwarisi dari negara Belanda yang pernah menjajah bangsa Indonesia selama kurang lebih tiga ratus tahun. Seperti dikatakan oleh Andi Hamzah: ) Misalnya Indonesia dan Malaysia dua bangsa serumpun, tetapi dipisahkan dalam sistem hukumnya oleh masing-masing penjajah, yaitu Belanda dan Inggris. Akibatnya, meskipun kita telah mempunyai KUHAP hasil ciptaan bangsa Indonesia sendiri, namun sistem dan asasnya tetap bertumpu pada sistem Eropa Kontinental (Belanda), sedangkan Malaysia, Brunei, Singapura bertumpu kepada sistem Anglo Saxon. Walaupun bertumpu pada sistem Belanda, hukum pidana Indonesia modern dapat dipisahkan dalam dua kategori, yaitu hukum pidana acara dan hukum pidana materiil. Hukum pidana acara dapat disebut dalam Bahasa Inggris sebagai procedural law dan hukum pidana materiil sebagai substantive law. Kedua kategori tersebut dapat kita temui dalam Kitab masing-masing yaitu, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana yang selanjutnya disebut KUHAPidana dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang selanjutnya disebut KUHPidana. Maka dari itu, untuk sementara KUHAPidana dan KUHPidana merupakan undang-undang yang berlaku dan digunakan oleh lembaga lembaga penegak hukum untuk melaksanakan urusan sehari-hari dalam menerapkan hukum pidana di Indonesia, disamping itu juga terdapat banyak peraturan perundangan yang berlaku. Sistem peradilan pidana di indonesia yang berdasarkan Undangundang Nomor 8 tahun 1981 (KUHAPidana), memiliki sepuluh asas sebagai berikut ): 1. Perlakuan yang sama dimuka hukum, tanpa diskriminasi apapun; 2. Asas praduga tak bersalah; 3. Hak untuk memperoleh kompensasi (ganti rugi) dan rehabilitasi 4. Hak untuk memperoleh bantuan hukum;

5. Hak kehadiran terdakwa di muka pengadilan; 6. Peradilan yang bebas dan dilakukan dengan cepat dan sedehana; 7. Peradilan yang terbuka untuk umum; 8. Pelanggaran atas hak-hak warga negara (penangkapan, penahanan, pengeledahan dan penyitaan) harus didasarkan pada undang-undang dan dilakukan dengan surat perintah (tertulis); 9. Hak seseorang tersangka untuk diberikan bantuan tentang prasangkaan dan pendakwaan terhadapnya; 10. Kewajiban pengadilan dan mengendalikan putusannya. Asas legalitas merupakan asas fundamental bagi Negara-negara yang menggunakan hukum pidana sebagai sarana penanggulangan kejahatan. Pada sistem perundang-undangan Indonesia, asas tersebut tercantum pada Pasal 1 ayat (1) KUHPidana : Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang, yang ada terdahulu daripada perbuatan itu. Pasal 1 ayat (1) di atas dapat dimengerti bahwa undang-undang tidak boleh berlaku surut atau yang biasa dikenal dengan asas non retroaktif. Penyimpangan dari asas non-retroaktif dalam KUHP ada dalam Pasal 1 ayat (2) KUHPidana : Suatu hukum yang lebih baru dapat berlaku surut, sepanjang hukum yang baru itu lebih menguntungkan bagi tersangka daripada hukum yang lama. Pasal ini berlaku apabila seorang pelanggar hukum pidana belum diputus perkaranya oleh hakim dalam putusan terakhir. Jadi, secara umum suatu undang-undang adalah bersifat non-retroaktif, yaitu tidak boleh berlaku secara surut. Dalam beberapa kasus asusila antara lain Bandung lautan asmara yang terjadi pada tahun 2000 dan Nazril Irham yang selanjutnya disebut sebagai Ariel yang terjadi pada tahun 2006 memiliki perbedaan perlakuan dari penegak hukum. Pada kasus pelanggaran asusila yang dilakukan oleh Ariel, mengandung keistimewaan tersendiri. Ariel dijerat Pasal 29 jo Pasal 4 ayat (1) UU No. 44 tahun 2008 jo Pasal 56 ke-2 KUHP, Pasal 282 ayat (1) KUHP dan Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 48 ayat (1) UU No. 11 tahun 2008. Kejadian pelanggaran asusila terjadi sebenarnya pada tahun 2006 dan diangkat menjadi kasus pada tahun 2010, sedangkan Undangundang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi yang selanjutnya

disebut UU Pornografi yang menjerat Ariel diundangkan pada tahun 2008. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas penulis tertarik untuk meneliti dan menuangkan dalam sebuah skripsi dengan judul sebagai berikut : PENERAPAN ASAS RETROAKTIF TERHADAP PELAKU PELANGGARAN KESUSILAAN MENURUT UNDANGUNDANG NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PORNOGRAFI DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 1 AYAT (1) KUHP B. Identifikasi Masalah Berdasarkan dari latar belakang di atas maka dapat diambil beberapa permasalahan yaitu : 1. Bagaimana penerapan Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi terhadap Ariel pelaku pelanggaran kesusilaan dihubungkan dengan Pasal 1 ayat (1) KUHP? 2. Bagaimana pertimbangan penegak hukum menerapkan Undangundang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi terhadap contoh kasus Ariel? C. Tujuan Penulisan Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui, memahami, dan menganalisa penerapan undang-undang terhadap kasus pornografi. 2. Untuk mengetahui seberapa jauh ketentuan pidana terhadap pelaku pelangggaran kesusilaan. D. Kegunaan Penelitian Setiap penelitian tentu mempunyai kegunaan dan manfaat, kegunaan tersebut ada yang bersifat toritis dan ada yang bersifat praktis. 1. Kegunaan secara teoritis Kegunaan secara teoritis adalah diharapkan dapat memperluas wawasan bidang hukum pidana khususnya masalah pornografi yang muncul sebelum adanya UU Pornografi. 2. Kegunaan secara praktis Kegunaan secara praktis dalam penelitian ini adalah sebagai masukan bagi lembaga pengadilan atau instansi lain yang terkait dengan masalah ini, masyarakat atau siapa saja yang ingin mengetahui masalah pidana pornografi terkait dengan UU

Pornografi. E. Kerangka Pemikiran Sistem Pemerintahan Negara yang dianut oleh Negara Republik Indonesia secara tegas dinyatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Hal itu secara tegas diatur dalam Undang Undang Dasar 1945, baik sebelum diamandemen (Penjelasan Undang Undang Dasar 1945) maupun setelah diamandemen Pasal 1 ayat (1) Undang Undang Dasar 1945}. Konsekuensi dari ketentuan tersebut ialah segala permasalahan yang terjadi di Indonesia, termasuk sengketa pidana, harus diselesaikan sesuai dengan prosedur hukum. Salah satu syarat untuk dapat dikatakan sebagai suatu Negara Hukum, ialah bahwa di negara itu hanya memiliki satu criminal justice sistem yang kesemuanya berada dalam tatanan pro-yustisia, dan secara universal berlaku di Negara manapun. Tidak ada satu Negara yang benar-benar sebagai Negara Hukum membuka kemungkinan keberadaan berbagai jenis institusi ekstra yudisial yang bersifat ad hoc, dan seluruh institusi yang termasuk bagian resmi dari criminal justice sistem telah memiliki aparat profesional yang telah memperoleh pendidikan khusus, mereka semua adalah sarjana hukum yang bukan sekedar menguasai hukum positif dalam bidang hukum pidana dan hukum acara pidana, melainkan juga memahami dan mendalami asas-asas yang berlaku dalam proses pidana, dari awal sampai akhir. Asas-asas umum dalam hukum pidana ) : 1. Asas Legalitas, tidak ada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam Peraturan Perundang-Undangan yang telah ada sebelum perbuatan itu dilakukan (Pasal 1 Ayat (1) KUHP). Jika sesudah perbuatan dilakukan ada perubahan dalam Peraturan Perundang-Undangan, maka yang dipakai adalah aturan yang paling ringan sanksinya bagi terdakwa (Pasal 1 Ayat (2) KUHP) 2. Asas Tiada Pidana Tanpa Kesalahan, Untuk menjatuhkan pidana kepada orang yang telah melakukan tindak pidana, harus dilakukan bilamana ada unsur kesalahan pada diri orang tersebut. 3. Asas teritorial, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku atas semua peristiwa pidana yang terjadi di daerah yang menjadi wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk pula kapal berbendera Indonesia, pesawat terbang Indonesia, dan gedung kedutaan dan konsul Indonesia di negara asing.

4. Asas nasionalitas aktif, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku bagi semua WNI yang melakukan tindak pidana dimana pun ia berada 5. Asas nasionalitas pasif, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku bagi semua tindak pidana yang merugikan kepentingan negara Asas non-retroaktif dalam ilmu hukum pidana secara eksplisit tersirat dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana), dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1): Tiada suatu perbuatan yang dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan. Pengulangan pencantuman asas ini dalam KUHPidana menunjukkan bahwa larangan keberlakuan surut ini oleh pembentuk undang-undang ditekankan bagi ketentuan pidana. Larangan keberlakuan surut ini untuk menegakkan kepastian hukum bagi penduduk, yang selayaknya ia harus tahu perbuatan apa yang merupakan tindak pidana atau tidak. Penyimpangan dari asas non-retroaktif dalam KUHPidana ada dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP, yaitu : Suatu hukum yang lebih baru dapat berlaku surut, sepanjang hukum yang baru itu lebih menguntungkan bagi tersangka daripada hukum yang lama. Pasal ini dapat diberlaku apabila seorang pelanggar hukum pidana belum diputus perkaranya oleh hakim dalam putusan terakhir. Maka, secara umum suatu undang-undang bersifat non-retroaktif, yaitu tidak boleh berlaku secara surut. Tindak pidana kesusilaan adalah tindak pidana yang berhubungan dengan masalah kesusilaan. Tindak pidana ini merupakan salah satu tindak pidana yang paling sulit dirumuskan. Hal ini disebabkan kesusilaan merupakan hal yang paling relative dan bersifat subyektif. Walaupun demikian ada pula bagian tindak pidana kesusilaan yang bersifat universal. Universal dalam arti seragam bukan saja dalam batas-batas Negara, tetapi ke seluruh Negara-negara yang beradab. Menurut Oemar Sana Adji, delik susila menjadi ketentuan universal apabila ) : 1. Apabila delik tersebut dilakukan dengan kekerasan 2. Yang menjadi korban adalah orang dibawah umur 3. Apabila delik tersebut dilakukan dimuka umum

4. Apabila korban dalam keadaan tidak berdaya dan sebagainya 5. Terdapat hubungan tertentu antara pelaku dan obyek delik Pelanggaran kesusilaan yang terjadi di Indonesia telah ada semenjak dahulu kala. Namun seiring berkembangnya zaman pelanggaran kesusilaan semakin marak. Oleh karena itu pemerintah Indonesia membuatkan undang-undang khusus yang mengatur mengenai pelanggaran kesusilaan. Dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia pelanggaran kesusilaan secara khusus diatur dalam Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Banyak pelanggaran kesusilaan yang terjadi sebelum Undangundang Nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi diundangkan. Diantaranya adalah pelanggaran kesusilaan yang dilakukan oleh mahasiswa sebuah PTS di Bandung yang dahulu dikenal dengan peristiwa Bandung Lautan Asmara dan pelanggaran kesusilaan yang dilakukan oleh Ariel. Melihat dari tempus delicti dari kedua kasus tersebut seharusnya Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi tidak dapat dikenakan. Namun pada praktiknya Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi dikenakan pada Ariel tetapi tidak pada pelaku Bandung Lautan Asmara. Dengan pemaparan diatas diharapkan selanjutnya akan dapat diketahui mengapa Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi dapat berlaku surut pada kasus Ariel. Yang mana keberlakuan Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi terhadap Ariel merupakan penyimpangan terhadap asas non-retroaktif. F. Metode Penelitian 1. Metode Penelitian Metode Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah yuridis normatif, yaitu suatu sistem penelitian yang menekankan pada peraturan perundang-undangan dan melakukan inventarisasi hukum positif yang berkaitan dengan efektifitas peraturan perundang-undangan di bidang hukum. ) Yang secara deduktif dimulai analisa terhadap peraturan perundangundangan yang mengatur masalah pelanggaran kesusilaan dengan mengkaji penerapan UU Pornografi terhadap kasus yang terjadi sebelum diundangkannya UU Pornografi. 2. Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah deskriptif analisis, yaitu suatu penelitian yang menggambarkan, menelaah, menjelaskan dan menganalisis ) permasalahan berdasarkan Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi dan KUHPidana. Metode ini dimaksudkan agar dapat menggambarkan serta menganalisis terhadap permasalahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang kemudian dikaitkan dengan teori-teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan pelanggaran kesusilaan. 3. Tahap Penelitian a. Penelitian kepustakaan (Library Research) Dalam penelitian ini penulis menghimpun data sekunder, yang terdiri dari bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, bahan hukum sekunder yaitu tulisan para ahli dan hasil karya para ilmuwan yang berbentuk makalah atau karya tulis dan bahan hukum tersier yaitu majalah, koran serta mengadakan pengamatan melalui internet dan media-media penyiaran lainnya, sehingga memperoleh gambaran mengenai yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Penelitian kepustakaan terdiri atas: 1. Bahan hukum primer Merupakan bahan atau data yang mempunyai kekuatan hukum yag mengikat, dalam hal ini Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan. 2. Bahan hukum sekunder Yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan-bahan hukum primer yang dapat menunjang penulisan skripsi ini, dan dapat membantu melengkapi bahan hukum primer, diantaranya tulisan para ahli dan hasil karya para ilmuwan yang berbentuk makalah atau karya tulis. b. Studi lapangan, yaitu dengan melakukan pengambilan data berupa putusan No. 1401/Pid.B/2010/PN.Bdg dari Pengadilan Negeri Bandung Kelas IA. 4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan studi dokumen yaitu yang dilakukan atau ditujukan terhadap peraturan-peraturan tertulis atau bahan hukum

lainnya yang terkait dengan permasalahan ) tentang kasus pelanggaran kesusilaan. 5. Analisis Data Analisis data yang dilakukan setelah mengumpulkan data, maka data tersebut dianalisa dengan cara analisis yuridis kualitatif ) yang terbentuk atas suatu penilaian atau ukuran secara tidak langsung yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan tanpa menggunakan rumus atau angka, yang diperoleh baik pada waktu konstruksi pengolahan maupun analisis data. Dengan analisis tersebut diharapkan akan diperoleh gambaran serta kejelasan mengenai penerapan asas retroaktif terhadap pelaku pelanggaran kesusilaan menurut Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi dihubungkan dengan Pasal 1 ayat (1) KUHPidana. G. Sistematika Penulisan Penulisan tugas akhir ini akan disusun dalam 5 (lima) bab, dan tiaptiap bab dikaji dalam beberapa sub bab. Guna mempermudah dan memperjelas gambaran permasalahan dalam penyusunan skripsi ini dibuat sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I Pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, metode penelitian, serta sistematika penulisan. BAB II Menyajikan tinjauan pustaka yaitu berupa tinjauan teori tentang sistem peradilan pidana, tindak pidana, dan asas umum dalam hukum pidana, yang diuraikan lagi antara lain yaitu : Pertama, tentang sistem peradilan pidana yang terdiri dari sub bagian yaitu : pengertian sistem peradilan pidana, tujuan sistem peradilan pidana, manfaat sistem peradilan pidana, mekanisme sistem peradilan pidana. Kedua tentang tindak pidana yang terdiri dari sub bagian, yaitu pengertian tindak pidana, unsur-unsur tindak pidana, macam-macam tindak pidana, tindak pidana kesusilaan dan pengertiannya dalam KUHP. Ketiga tentang Asas umum dalam KUHPidana yang terdiri dari sub bagian yaitu : pennegrtian asas legalitas, asas non retroaktif, pengertian asas Lex spesialis derogate lex generalis. Keempat tentang Undang-undang No. 1 tahun 1951 sebagai legalitas materiil tindak pidana dalam masyarakat. BAB III Menguraikan tentang contoh kasus pelanggaran asusila sebelum diundangkannya UU Pornografi diuraikan dalam sub bagian kasus bandung lautan asmara dan kasus Ariel. BAB IV Penerapan azas retroaktif terhadap pelaku pelanggaran

kesusilaan menurut Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi dikaitkan dengan Pasal 1 ayat (1) KUHPidana, yang terdiri dari Bagaimana penerapan Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi terhadap Ariel pelaku pelanggaran kesusilaan dihubungkan dengan Pasal 1 ayat (1) KUHPidana dan Bagaimana pertimbangan penegak hukum menerapkan Undangundang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi terhadap contoh kasus Ariel. BAB V Merupakan bab penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran dari hasil penelitian dalam kaitannya dengan permasalahan yang telah diidentifikasi.

RUU Pornografi Menyalahi Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

Mendekati pembahasan RUU Pornografi, gelombang penolakan semakin marak. Menanggapi penolakan masyarakat, Rapat Badan Musyawarah (Bamus) Dewan Perwakilan Rakyat meminta Rancangan Undang-Undang Pornografi lebih didalami lagi (16/10). Dalam pandangan kami, RUU Pornografi semestinya tidak disahkan karena tidak sesuai dengan asas-asas yang seharusnya terkandung dalam materi peraturan perundang-undangan sesuai amanat UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Pertama, RUU Pornografi melanggar asas kemanusiaan yaitu bahwa materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan HAM serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. Faktanya, RUU Pornografi mengkriminalisasi perempuan dan anak dan cenderung membatasi hak atas ekspresi. Hal ini dapat dilihat dari adanya sejumlah ketentuan sepertiPasal 8 yang melarang setiap orang yang dengan sengaja atau atas

persetujuan dirinya menjadi obyek atau model yang mengandung muatan pornografi dan Pasal 10 yang melarang setiap orang mempertontonkan diri atau dipertontonkan dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya. Melalui pasal ini, RUU Pornografi mengabaikan fakta adanya eksploitasi dan komoditisasi perempuan dalam pornografi. Kedua, RUU Pornografi melanggar asas Bhinneka Tunggal Ika yaitu adalah bahwa materi peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya, khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. Definisi pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat (Pasal 1). DefinisiPornografi semacam ini berpotensi mengabaikan keragaman penduduk, agama, suku, dan budaya melalui penyeragaman nilai-nilai kesusilaanmasyarakat. Ketiga, RUU Pornografi melanggar asas kenusantaraan yaitu bahwa setiap materi peraturan perundang-undangan harus memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia. Tercatat penolakan berasal dari delapan provinsi yang menolak tegas yang disuarakan melalui DPD, kepala pemerintahan daerah, dan DPRD. Penolakan ini menggambarkan RUU inibukan merupakan kepentingan seluruh wilayah Indonesia. Melihat kondisi ini, kami, INSTITUT PEREMPUAN, menyerukan DPR dan Pemerintah untuk: Tidak mengesahkan RUU Pornografi sebelum substansi RUU ini sejalan dengan UUD 1945, tidak diskriminatif, tidak mengkriminalisasi, mencerminkan keragaman kultur masyarakat Indonesia, dan proses pembahasannya diselenggarakan transparan, terbuka,melibatkan perempuan, anak, masyarakat adat dan kelompok marjinal lain.