Anda di halaman 1dari 13

I.

Abortus Durasi normal kehamilan adalah sekitar 40 minggu, dengan masa

kehamilan paling lama mencapai 42-43 minggu. Sekitar 20% dari kehamilan dapat terjadi keguguran. Kematian fetus yang berumur kurang dari 24 minggu biasanya disebut aborsi spontan (spontaneous abortion) atau keguguran. Sedangkan jika kelahiran terjadi pada umur kehamilan sudah mencapai 24 minggu hingga sebelum aterm dapat disebut kelahiran premature. Abortus menurut pengertian secara medis ialah gugur kandungan atau keguguran dan keguguran itu sendiri berarti berakhirnya kehamilan, sebelum fetus dapat hidup sendiri di luar kandungan. Batasan umur kandungan 28 minggu dan berat badan fetus yang keluar kurang dari 1000 gram. Abortus yang dilakukan secara sengaja (abortus provocatus) merupakan salah satu masalah hukum yang peka yang berkaitan dengan profesi kedokteran; paling banyak dibahas dan menimbulkan dua pendapat yang saling bertentangan. Di satu pihak tetap menentang, di lain pihak dengan berbagai pertimbangan mengusahakan agar terdapat pengendoran atau liberasi hukum. Terdapat pula jenis abortus lain, akibat kecelakaan. Pasal-pasal yang berkaitan dengan abortus dalam KUHP adalah sebagai berikut: Pasal 346 KUHP Seorang wanitas yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun Pasal 347 KUHP (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun Pasal 348 KUHP

(1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atai mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan (2) Jika perbuatannya itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun Pasal 349 KUHP Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterapkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan Pasal 299 KUHP (1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah (2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan, bidan atau juru-obat, pidananya dapat ditambah sepertiga (3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu. Dari pasal 346, 347 dan 348 KUHP, jelas bahwa undang-undang tidak mempersoalkan masalah umur kehamilan atau berat badan dari fetus yang keluar. Sedangkan pasal 349 dan 299 KUHP memuat ancaman hukuman untuk orang-orang tertentu yang mempunyai profesi atau pekerjaan tertentu bila mereka turut membantu atau melakukan kejahatan seperti yang dimaksud ketiga pasal tersebut. Yang dapat dikenakan hukuman adalah tindakan menggugurkan atau mematikan kandungan yang termasuk tindakan pidana sesuai dengan pasal-pasal pada KUHP (abortus kriminalis), sedangkan tindakan yang serupa demi

keselamatan si ibu yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis (abortus therapeticus), tidaklah dapat dihukum; walaupun pada kenyataannya dpat saja dokter melakukan abortus medicinalis itu diperiksa oleh penyidik dan dilanjutkan dengan pemeriksaan di pengadilan. Pemeriksaan oleh Penyidik atau hakim di pengadilan bertujuan untuk mencari bukti-bukti akan kebenaran bahwa pada kasus tersebut memang murni tidak ada unsure kriminalnya, semata-mata hanya untuk keselamatan jiwa si ibu. Hakim lah yang berhak memutuskan bahwa seseorang itu (dokter), bersalah atau tidak bersalah. Empat macam abortus menurut proses terjadinya: Abortus yang terjadi secara spontan atau natural Secara yuridis tidak membawa implikasi apa-apa Abortus yang terjadi akibat kecelakaan Seorang ibu yang sedang hamil bila mengalami rudapaksa, khususnya rudapaksa di daerah perut, misalnya karena terjatuh atau tertimpa sesuatu di perutnya, demikian pula bila ia menderita syok, akan dapat mengalami abortus, yang biasanya disertai dengan perdarahan yang hebat. Abortus yang demikian kadang-kadang mempunyai implikasi yuridis, perlu penyidikan akan kejadiannya Abortus therapeticus Abortus ini dilakukan semata-mata atas dasar pertimbangan medis yang tepat, tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nya wa si ibu kecuali jika kandungannya digugurkan , misalnya pencerita kanker ganas. Abortus ini kadang membawa implikasi yuridis, perlu penyidikan, khususnya bila ada kecurigaan perihal tidak wajarnya tariff atau biaya yang diminta oleh dokter, sehingga menimbulkan komersialisasi yang berkedok demi alasan medis Abortus Criminalis Jelas tindakan oengguguran kandungan di sini semata-mata untuk tujuan yang tidak baik dan melawan hukum. Tindakan abortus yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis, dan dilakukan hanya untuk

kepentingan si pelaku, walaupun juga ada kepentingan dari si ibu yang malu akan kehamilannya. Kejahatan ini sulit dilacak, karena kedua belah pihak

menginginkan agar abortus dapat terlaksana dengan baik (Crime without victim, walaupun sebernarnya ada yaitu bayi yang dikandung). Beberapa abortus (keguguran) dapat disebabkan oleh perlakuan criminal, yang disebut criminal abortion. Criminal abortion adalah pengakhiran kehamilan dengan cara-cara yang melanggar hukum. Pada banyak negara, aborsi illegal ini dapat dihukum dengan sangat berat dan juga mengatur hukuman bagi dokter yang terlibat. Usaha pengurangan jumlah aborsi criminal dan efek yang merugikan akibat tindakan tersebut dapar berupa pengenalan kontrasepsi yang aman sehingga dapat menghindari kehamilan yang tidak diinginkan dan di beberapa negara diberlakukan hukum aborsi yang legal dan dibantu oleh tenaga medis profesional. Sebagian besar aborsi criminal dilakukan saat kehamilan mencapai usia dua atau tiga bulan, saat ibu hamil telah menyadari bahwa ia tidak mengalami menstruasi seperti biasanya dan telah timbul tanda-tanda kehamilan, seperti mual di pagi hari. Selain itu, dibuktikan juga dengan tes kehamilan yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Saat seorang dokter mengetahui adanya tindakan aborsi criminal yang dilakukan oleh ibu hamil tersebut dan berpotensi menimbulkan efek buruk bagi kesehatan ibu atau bayinya, maka dokter wajib memberikan pertolongan medis. Pelaporan kepada polisi dapat dilakukan bila terjadi kematian atau bila dokter diminta memberikan kesaksian. Metode yang biasa dilakukan oleh ibu hamil untuk mengaborsi anaknya, diantaranya adalah: Pada umur kehamilan sampai dengan 4 minggu: o Mandi dengan air yang sangat panas o Kegiatan yang berat, seperti lompat tali, melompat-lompat, berkuda, naik sepeda. Namun cara ini jarang berhasil karena fetus biasanya melekat sangat kuat pada rahim. o Melakukan kekerasan pada daerah perut o Obat-obatan, seperti pencahar, quinine, prostaglandin, colocynth, croton oil/jalap, electric shock o Penggunaan vaginal douche

o Racun, termasuk nanas muda yang sampai saat ini belum terbukti dapat memicu keguguran. Kristal kalium permanganat yang dioleskan pada vagina bagian dalam dan serviks dapat menyebabkan luka bakar kimia dan kematian janin. o Meminum alcohol dalam jumlah besar Pada umur kehamilan sampai dengan 8 minggu: o Obat-obatan perangsang otot rahim dan pencahar agar terjadi peningkatan menstrual flow, dan preparat hormonal guna

mengganggu keseimbangan hormonal o Menyuntikan cairan ke dalam rahim agar terjadi separasi dari plasenta dan amnion, atau menyuntikan cairan yang mengandung karbol o Menyisipkan benda asing ke dalam mulut rahim seperti kateter atau pinsil dengan maksud agar terjadi dilatasi mulut rahim yang dapat berkahir dengan abortus Pada umur kehamilan 12-16 minggu: o Menusuk kandungan dengan berbagai peralatan, seperti alat-alat bedah sampai peralatan rumah sederhana, batang pohon yang dapat membantu menggugurkan kandungan. Berbagai peralatan tersebut dipaksa masuk melalui vagina menuju dinding rahim untuk mengeluarkan janin dengan paksa. Metode ini sangat berisiko menimbulkan perforasi fundus, bahkan kerusakan usus dan liver. o Melepaskan fetus o Memasukan pasta atau cairan sabun o Kuret Kemungkinan yang dapat terjadi pada abortus: Fetus/janin yang mati atau dirusak itu keluar tanpa mengganggu kesehatan ibu Terjadi komplikasi pada ibu; kejang, diare, perdarahan dan kondisi kesehatan yang kritis Kematian yang berlangsung cepat yang dimungkinkan karena terjadinya; syok vagal, perdarahan hebat dan emboli udara

Kematian yang berlangsung lambat (>2 hari setelah abortus), yang pada umumnya disebabkan oleh: o Infeksi ginjal o Infeksi umum o Keracunan o Syok o Perdarahan hebat o emboli

Sterilitas

Pemeriksaan tubuh pada seorang wanita yang mati setelah pada dirinya dilakukan tindakan abortus, tergantung dari metode yang dipakai dalam pengguguran tersebut. Abortus dengan obatobatan Pemeriksaan toksikologik untuk mendeteksi obat yang digunakan merupakan pemeriksaan rutin yang harus dikerjakan, obat yang biasa ditemukan umunya obat yang bersifat dapat mengiritasi saluran pencernaan. Abortus dengan Instrumen Bisa diketahui bila terjadi robekan atau perforasi dari rahim atau jalan lahir; robekan umunya terjadi pada dinding lateral uterus, sedangkan perforasi biasanya terdapat pada bagian posterior fornix vagina. Abortus dengan penyemprotan Tampak adanya cairan yang berbusa diantara dinding uterus dengan fetal membrane,separasi sebagian dari plasenta dapat dijumpai. Gelembunggelembung udara dapat dilihat dan ditelusuri pada pembuluh vena mulai dari rahim sampai bilik jantung kanan. Pengukuran kandungan fibrinolisis dalam darah dapat berguna untuk mnegetahui apakah korrban mati secara mendadak. Perforasi fundus uteri dapat dijumpai bila syringe dipergunakan untuk penyemprotan. Penggunaan peralatan yang tidak steril yang digunakan oleh tenaga yang tidak terlatih serta tidak dilakukannya tindakan anestesi merupakan factor penting yang menyebabkan kematian. Berdasarkan saat terjadinya kematian, Simpsons membagi kematian pada abortus sebagai berikut:

Kematian yang segera (immediate death); terutama disebabkan oleh karena emboli udara dan inhibisi vagal; perdarahan lebih jarang dijumpai bila dibandingkan dengan kedua hal tersebut

Kematian yang lambat (delayed death); umunya disebabkan karena terjadi infeksi, khususnya infeksi oleh C. welchii dan C. tetani

Inhibisi vagal dapat terjadi oleh karena korban tidak dianestesi serta intervensi instrument atau penyuntikan cairan secara tiba-tiba, yang mana cairan tersebut dapat terlalu panas atau terlalu dingin.

Emboli Udara dan Abortus Provocatus Emboli yang terjadi pada tindakan abortus provocatus akan menyebabkan kolapsnya korban dengan segera dan disusul dengan kematian yang terjadi hanya dalam tempo beberapa menit. Secara klinis Simonin membagi emboli udara yang fatal menjadi tiga, yaitu: Kematian tiba-tiba mendadak dalam waktu beberapa menit Kematian antara 12-24 jam, hilangnya kesadaran dan adanya gejala awal kejang serta kelumpuhan yang terjadi segera dan menetap untuk beberapa waktu Delayed Embolism, yang terjadi dalam dua tahap yang dipisahkan oleh interval waktu yang jelas; udara tidak mencapai jantung sampai suatu ketika. Kadang-kadang beberapa jam setelah injeksi. Emboli udara yang terjadi beberapa jam setelah tindakan, dimungkinkan oleh karena udara yang masuk dalam uterus tertahan di dalam sampai terjadi separasi plasenta yang membuka pembuluh darah sehingga memungkinkan masuknya udara ke dalam sirkulasi. Adanya mucucs plug dapat menjelaskan mengapa udara dalam uterus tidak dapat keluar melalui mulut rahim. Dosis dari udara yang dapat mematikan dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya keadaan umum korban dan kecepatan masuknya udara ke dalam tubuh. Pada umumnya jumlah udara yang dapat menyebabkan kematian minimal 100 ml, walaupun secara experimental udara yang dapat menyebabkan kematian berikisar antara 10-480ml.

Pembuktian pada kasus abortus Untuk dapat membuktikan apakah kematian seorang wanita itu merupakan akibat dari tindakan abortus yang dilakukan atas dirinya, diperlukan petunjukpetunjuk: Adanya kehamilan Umur kehamilan, bila dipakai pengertian abortus menurut medis Adanya hubungan sebab akibat antara abortus dengan kematian, Adanya hubungan antara saat dilakukannya tindakan abortus dengan saat kematian, dan Adanya barang bukti yang dipergunakan untuk melakukan abortus sesuai dengan metode yang dipergunakan.

II.

Stillbirth (Bayi Lahir Mati) Stillbirth (lahir mati) adalah kondisi bayi yang lahir setelah umur

kandungan lebih dari 24 minggu dan setelah dilahirkan secara komplit dari rahim ibunya tapi tidak ada tanda hidup berupa pernafasan, detak jantung, menangis, pulsasi tali ari-ari. Jika kematian bayi sudah terjadi beberapa hari sebelum kelahiran, fetus biasanya termaserasi akibat dekomposisi dan terendam air. Warna fetus menjadi coklat kemerahan atau merah, dengan pengelupasan kulit. Jaringan kuilt menjadi lembek dan licin,bagian kepala bayi terjadi deformitas dengan tulang tengkorak yang saling tumpang tindih. Sedangkan pada bayi yang mati saat atau setelah lahir tidak ada tanda-tanda pembusukan. Bayi yang lahir mati tidak dianggap sebagai seseorang yang telah hidup, dengan demikian, tidak dapat dibuatkan surat kematian. Penyebab lahir mati sangat beragam dan sulit ditentukan bahkan setelah otopsi lengkap. Penyebab lahir mati diantaranya adalah kondisi premature, hipoksia fetal, insufisiensi plasenta, infeksi intra uterin, defek congenital (system kardiovaskular atau system saraf), dan trauma saat kelahiran.

III.

Infantisida Infantisida merupakan tindak kejahatan dimana seorang wanita dengan

sadar menyebabkan kematian bayinya yang masih berumur kurang dari 12 bulan. Pada infantisida umur kehamilan tidak menjadi masalah, karena biasanya korban

dilahirkan aterm (38-40 minggu) dan dibunuh setelah lahir hidup dan terpisah dari ibunya. Pembunuhan anak merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa yang unik sifatnya, karena pelaku pembunuhan harus ibu kandungnya sendiri, dengan alasan takut ketahuan bahwa dirinya telah melahirkan anak. Keunikan yang lain adalah saat dilakukan kejahatan ini adalah saat anak dilahirkan atau tak lama kemudian. Kejahatan ini dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari ibu, yang memiliki rasa malu, takut, benci, dan nyeri, sehingga perbuatan ini dianggap dilakukan dalam kondisi mental yang tidak tenang, sadar, dan dengan perhitungan matang. Hal ini menjelasan ancaman hukuman pada kasus pembunuhan anak lebih ringan dibandingkan kasus pembunuhan lainnya. Menurut KUHP, pembunuhan anak sendiri adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya ketika dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan ia melahirkan anak. Di Inggris dan Wales, terdapat Infanticide Act, yang ditujukan pada ibu yang membunuh anaknya yang kurang dari 12 bulan. Undang-undang ini

menunjukkan bahwa melahirkan anak kadang menimbulkan dampak kondisi psikologis yang tidak stabil pada ibu, sehingga hukumannya tidak seberat pembunuhan biasa. Namun, di Skotlandia dan Amerika Serikat, ibu yang

membunuh anaknya sendiri dihukum sama beratnya dengan kasus pembunuhan biasa. Di dalam KUHP, terdapat pasal-pasal yang berhubungan dengan kasus pembunuhan anak adalah: 1. Pasal 341 KUHP Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan, atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. 2. Pasal 342 KUHP Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena

melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 3. Pasal 343 KUHP Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan pasal 342 dipandang bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan rencana. Terkadang hukuman infantisida menjadi lebih ringan untuk ibunya, karena adanya pertimbangan kejahatan dilakukan saat ibu dibawah pengaruh ketidakseimbangan hormonal dan laktasi. Pada hokum di Negara Inggris, terdapat anggapan presumtif bahwa seluruh bayi mati disebabkan oleh stillbirth (lahir mati) kecuali jika dapat dibuktikan bahwa bayi tersebut pernah hidup dengan cara membuktikan bahwa bayi tersebut pernah lahir hidup dan bernafas. Namun demikian, pembuktian bayi pernah bernafas tidak bias menjadi bukti terkuat, karena pernafasan bias terjadi saat kelahiran kepala dan thoraks saat bayi belum dilahirkan sempurna. Dengan demikian, tetap dibutuhkan saksi yang melihat kelahiran bayi tersebut. Uji flotasi yang sering dilakukan ternyata tidak dapat diandalkan untuk membedakan apakah bayi sudah pernah bernafas atau belum. Karena jaringan paru bayi yang lahir mati (stillbirth) juga dapat tidak tenggelam saat dilakukan uji flotasi. Selain itu, banyak bayi yang mati ditemukan setelah terjadi pembusukan, sehingga mempersulit perkiraan bayi sudah bernapas atau belum. Usaha resusitasi seperti mouth to mouth breathing dan chest compression juga dapat memberikan salah arti pada berbagai test udara dalam paru. Prediktor lain, berupa adanya susu dalam lambung dan adanya tanda-tanda tali ari-ari yang mulai memisah dari pusar bayi menunjukan bahwa bayi sudah hidup beberapa lama setelah dilahirkan. Fungsi para patologis pada kasus infantisida: 1. Untuk membantu mengidentifikasi ibu dari bayi, jika tidak diketahui Bayi yang baru lahir ditemukan tewas belum tentu mengalami infantisida. Korban lahir mati, lahir alami, atau karena kurang perawatan karena ingin disembunyikan agar tidak diketahui orang lain disebut concealment birth (kelahiran yang disembunyikan). Barang yang ditemukan bersamaan

dengan mayat dapat mengarahkan penyidik untuk mendapatkan ibunya.

10

2. Untuk memperkirakan maturitas bayi Berapapun lama waktu gestasi, bayi yang baru lahir dapat diduga menjadi korban infantisida jika lahir hidup dan sangat jelas jika janin terlalu imatur untuk mengalami kelahiran yang imatur. Menurut Infant Life

(Preservation) Act 1929, pada umur kehamilan 28 minggu (sekarang sudah diubah menjadi 24 minggu), bayi dapat bertahan dengan dukungan medis yang intensif. Jika lahir prematur, ada dugaan kuat bahwa bayi tersebut tidak bertahan saat dilahirkan. 3. Untuk menentukan apakah lahir hidup atau ketika lahir sempat hidup Pada hukum Inggris, dikatakan bahwa jika para patologis tidak memiliki kriteria yang menunjukkan bayi tersebut selamat (misalnya: paru-paru mengembang dengan baik, makanan pada lambung, dan sebagainya), dia tidak bisa mendiagnosis bayi tersebut lahir hidup. 4. Untuk menentukan apakah itu kematian yang alami atau disengaja. Paru-paru bayi yang lahir mati terlihat gelap, kecil, berat, dan seperti hepar, meski tetap dapat mengapung. Tekstur paru-paru yang belum bernapas elastis dan seragam, tidak ada area krepitasi di bagian tepi, sehingga cenderung bertepi tajam. Saat dibelah, warna dan tekstur bagian dalam paru-paru terlihat seragam, lembab, dan seperti jeli stroberi yang kaku. Saat dilakukan perabaan pada potongan kecil di antara jari dan didekatkan ke telinga, tidak terdengar adanya krepitasi. Tanda lahir hidup adalah adanya udara dalam paru-paru, lambung, usus, dan liang telinga tengah. 1. Paru-paru yang sudah mengembang karena terisi udara pernapasan dapat diketahui dengan ciri-ciri: Memenuhi rongga dada sehingga menutupi sebagian kandung jantung Berwarna merah ungu Memberikan gambar mozaik karena adanya berbagai tingkat pengisian udara Tepi paru-paru tumpul

11

Pada perabaan teraba derik udara (krepitasi), dan bila dibenamkan dalam air tampak gelembung udara. Berat sekitar 1/35 berat badan, yang berarti lebih berat bila dibandingkan dengan berat paru-paru yang belum bernafas (sekitar 1/70 berat badan).

Tes apung positif Tekstur seperti spons dan mendekati jaringan paru dewasa.

2. Adanya udara di dalam lambung dan usus merupakan petunjuk bahwa anak menelan udara setelah dilahirkan hidup (untuk memperkuat bukti). 3. Adanya udara di dalam liang telinga tengah hanya dapat terjadi bila si anak menelan udara, dan udara tersebut melalui tuba eustachii masuk ke dalam telinga tengah. Penentuan identitas bayi dan ibu bayi merupakan salah satu kesulitan lain. Biasanya pelaku merupakan remaja yang tidak berpengalaman, bahkan bisa saja tidak tahu sedang menjalani kehamilan sampai benar-benar akan melahirkan. Kematian bayi bisa disebabkan dua hal, yaitu: Ketidakpedulian ibu pada bayi, seperti tidak melakukan pemotongan tali ariari, tidak berusaha menghangatkan bayi dan tidak member makan bayi. Usaha membunuh bayi, seperti trauma kepala, penusukan, penenggelaman, pencekikan pada bayi Metode yang banyak dijumpai untuk melakukan tindakan pembunuhan anak adalah metode yang menimbulkan keadaan mati lemas (asfiksia), seperti penjeratan, pencekikan, pembekapan, dan pembenaman ke dalam air. Metode lain yang juga bisa dilakukan adalah menusuk, memotong, dan melakukan kekerasan dengan benda tumpul, tetapi jarang ditemukan. Untuk mengetahui penyebab kematian, yang harus diperhatikan: 1. Adanya tanda-tanda mati lemas: sianosis pada bibir dan ujung jari, bintik perdarahan pada jaringan longgar, lebam mayat yang lebih gelap dan luas, busa halus yang keluar dari hidung atau mulut, tanda bendungan organ dalam. 2. Keadaan mulut dan sekitarnya: luka lecet di bibir, memar pada bibir bagian dalam, adanya benda asing yang mengisi rongga mulut, tusukan pada langitlangit sampai menembus rongga tengkorak.

12

3. Keadaan leher dan sekitarnya: luka lecet jejas jerat, luka lecet yang diakibatkan tekanan kuku pencekik, luka lecet dan memar akibat tekanan ujung jari pencekik, luka tusuk, luka sayat. 4. Adanya tanda-tanda terendam: tubuh basah dan berlumpur, telapak tangan dan kaki pucat dan keriput, kulit berbintil-bintil seperti kulit angsa, adanya benda asing di saluran pernapasan (misal: pasir, lumpur, tumbuhan air).

Referensi: 1. Saukko PJ, Knight B. Knight's forensic pathology. 3rd edition: Arnold Publishers; 2004. 2. Idries, Abdul Munim. Pedoman ilmu kedokteran forensik. Ed 1. Bina Rupa Aksara. 1997. 3. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Idries AM, Sidhi, et al. Ilmu kedokteran forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994 4. Marks M. Infanticide. Psychiatry 8:1. 2008.(sibermedik.files.wordpress.com/2008/11/infanticide.pdf) 5. Shepherd, Richard. Simpsons Forensic Medicine 12th Edition. Arnold. . London. 2003

13

Anda mungkin juga menyukai