Anda di halaman 1dari 11

Spondilitis, Spondilosis, Spondilolisis, dan Spondilolisthesis

Spondilitis
Spondilitis adalah Inflamasi pada tulang vertebrae yang bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya proses infeksi, imunitas. Patogenesis Jika tulang terinfeksi, bagian dalam tulang yang lunak (sumsum tulang) sering membengkak. Karena pembengkakan jaringan ini menekan dinding sebelah luar tulang yang kaku, maka pembuluh darah di dalam sumsum bisa tertekan, menyebabkan berkurangnya aliran darah ke tulang. Tanpa pasokan darah yang memadai, bagian dari tulang bisa mati. Tulang, yang biasanya terlindung dengan baik dari infeksi, bisa mengalami infeksi melalui 3 cara: Alirandarah Penyebaranlangsung Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya. Ankilosing Spondilitis Ankylosing spondylitis adalah penyakit inflamasi kronis yang terutama menyerang pada persendian kerangka aksial (spine, sacroiliac joints, dll) dan juga sendi perifer. Etiologi Masih belum diketahui secara pasti, namun di duga karena dipenaruhi oleh faktor genetik, yaitu adanya HLA - B27. Dan, Penelitian baru-baru ini juga ditemukan karena adanya gen-gen ARTS1 dan IL23R yang menyebabkan Ankylosing Spondylitis ini. Insidens dan Faktor Resiko Laki-Laki lebih rentan dibanding pada perempuan Dapat mengenai semua kelompok umur, termasuk anak-anak, biasanya dimulai dari usia remaja sampai 40 tahun. Orang-orang yang mempunyai gen HLA -B27 Riwayat penyakit AS dalam keluarga.

Manifestasi Klinis Low back pain Nyeri pinggang (low back pain) pada ankylosing spondylitis ditandai oleh : 1) dimulai dengan adanya rasa nyaman di pinggang dan penderita sebelum berumur 40 tahun; 2) Permulaannya insidious (perlahan-lahan). 3) nyeri menetap paling sedikit selama 3 bulan; 4) berhubungan dengan kaku pada pinggang waktu pagi hari; 5) nyeri berkurang/membaik dengan olah raga. Rasa sakit mula-mula dirasakan pada daerah gluteus bagian dalam, sulit untuk menentukan titik asal sakitnya dengan permulaan yang insidious. Kadang-kadang pada stadium awal nyeri dirasakan hebat di sendi sacroiliacs, dapat menjalar sampai kista, iliaca atau daerah trochanter mayor, atau ke paha bagian belakang. Nyeri menjalar ini sangat menyerupai nyeri akibat kompresei nervus ischiadicus. Rasa sakit bertambah pada waktu batuk, bersin atau melakukan gerakan memutar punggung secara tiba-tiba. Pada awalnya rasa sakit tidak menetap dan hanya menyerang satu sisi (unilateral); sesudah beberapa bulan nyeri biasanya akan menetap dan menyerang secara bilateral disertai rasa kaku dan sakit pada bagian di bawah lumbal. Rasa sakit dan kaku ini dirasakan lebih berat pada pagi hari yang kadang- kadarig sampai membangunkan penderita dari tidurnya. Sakit/ kaku pagi hari ini biasanya menghilang sesudah 3 jam. Di samping itu kaku/sakit pagi hari ini akan berkurang sampai hilang dengan kompres panas, olah raga atau aktivitas jasmani lain. Pada penyakit yang ringan biasanya gejala timbul hanya di pinggang saja dan apabila penyakitnya bertambah berat, maka gejala berawal dari daerah lumbal, kemudian thorakal akan akhirnya sampai pada daerah servikal : untuk mencapai daerah servikal penyakit ini memerlukan waktu selama 12-25 tahun. Penyakit ini kadang-kadang dirasakan sembuh sementara atau untuk selamanya, akan tetapi kadang-kadang akan berjalan terus dan mengakibatkan terserangnya seluruh tebrae. Selama perjalanan penyakitnya dapat terjadi nyeri radi-kuler karena terserangnya vertebra thorakal atau servikal dan apabila telah terjadi ankylose sempurna, keluhan nyeri akan menghilang. Pemeriksaan Radiologi pada stadium awal dapat terlihat perkabutan dan erosi sendi sakroiliaka. Pada tahap selanjutnya terlihat sklerosis peri-artikuler vertebra. Bagian depan vertebra yang normalnya berbentuk konkaf berubah menjadi datar. Terdapat osifikasi diskus intervertebralis yang membentuk jembatan diantara vertebra yang member gambaran seperti ruas bambu (Bamboo spine)

Penatalaksanaan Nonmedikamentosa Mobilitas yang baik dan teratur (olahraga dan latihan), Penerangan/penyuluhan Radio terapi Operatif Medikamentosa OAINS Bisa menggunakan Indometacyn, naproxen ataupun ibuprofen. Prognosis Pada umunya prognosis untuk Ankylosing Spondylitis berlangsung baik dengan pemberian obat anti inflamasi nonsteroid secara berkala. Kematian dapat terjadi pada penyakit yang sudah lama dan telah terjadi komplikasi yang parah pada manifestasi ekstraartikular

SPONDILYTIS TUBERKULOSIS
Spondilytis Tuberkulosis (Pott disease) ini paling sering ditemukan pada vertebra T8 - L3 dan paling jarang pada vertebra C1 - 2. Spondilitis tuberkulosis biasanya mengenai korpus vertebra, tetapi jarang menyerang arkus vertebrae. Etiologi Biasanya disebabkan oleh infeksi dari tuberculosis, baik nfeksi primer maupun sekunder. Insidens Penyakit ini lebih banyak mengenai pria, dengan perbandingan pria dan wanita 1,5-2 : 1, dan dapat menyerang semua umur baik orang dewasa bahkan anak-anak. Penyakit Spondylitis tuberculosis ini paling banyak ditemukan di Asia, Afrika, dan Amerika. Patofisiologi Spondylitis ini biasanya disebabkan infeksi sekunder dari tuberculosis ekstraspinalis yang mengenai korpus vertebrae. Tuberkulosis bisa menyebar sampai ke discus intervertebralis. Sehingga menyebabkan destruksi tulang yang progressive dan menyebabkan tulang vertebrae menjadi kolaps dan khyposis. Canalis spinalis bisa menjadi kecil atau sempit oleh karena absess, granulasi jaringan, atau invasi secara langsung, dan inilah yang menyebabkan medulla spinalis mengalami kompresi dan terjadi deficit neurology. Kifosis terjadi karena di sebabkan kollapsnya tulang vertebrae

anteriornya. Lesi pada torakal yang seringkali menyebabkan kifosis. Absess dingin bisa terjadi jika infeksi sampai ke ligament dan jaringan lunaknya. Abses pada daerah lumbal dapat menjalar ke daerah spoas sampai ke daerah trigonum femoral dan tentunya dapat mengikis kulit. Manifestasi Klinis Nyeri dan kaku pada punggung Deformitas pada punggung (Gibbus) Pembengkakan setempat (abscess) Kelemahan/kelumpuhan extremitas/gangguan fungsi buli-buli dan anus Adanya proses tbc.

Different Diagnosis Fraktur Kompresi traumatik Tumor tulang Pemeriksaan Penunjang Tes tuberculin Darah rutin, biasanya LED meningkat (>100mm/h) Foto Rontgen suatu spondilitis tuberkulosa akan memperlihatkan: a. Dekalsifikasi suatu korpus vertebra (pada tomogram dari korpus tersebut mungkin terdapat suatu kaverne dalam korpus tersebut). Dengan demikian terjadi suatu fraktur kompresi, sehingga bagian depan dari korpus vertebra itu adalah menjadi lebih tipis daripada bagian belakangnya (korpus vertebra jadi berbentuk baji) dan tampaklah suatu Gibbus pada tulang belakang itu. b. "Dekplate" korpus vertebra itu akan tampak kabur (tidak tajam) dan tidak teratur. c. Diskus Intervertebrale akan tampak menyempit. d. Abses dingin Foto Roentgen, abses dingin itu akan tampak sebagai suatu bayangan yang berbentuk kumparan ("Spindle").

Media : MRI Penatalaksanaan 1) Terapi Konservatif Berupa istirahat di tempat tidur untuk mencegah paraplegia dan pemberian tuberkulostatik. Dengan memberikan corset yang mencegah gerak vertebrae/membatasi gerak vertebrae. Corset tadi dapat dibikin dari gips, dari kulit/plastik, dengan corset tadi pasien dapat duduk/berjalan sehingga tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. 2)Medikamentosa Obat Antituberkulosa misalnya Rimfapicin dan kombinasi obat antituberkulosis lain.. 3)Terapi operatif Bedah Kostotransversektomi yang dilakukan berupa debrideman dan penggantian korpus vertebra yang rusak dengan tulang spongiosa/kortiko - spongiosa. Prognosis Umumnya penyakit tuberculose tulang punggung merupakan penyakit yang sangat menahun dan jika dapat sembuh secara spontan akan memberikan cacat pembengkokan pada tulang punggung. Dengan jalan radikal operatif penyakit tadi sering dapat sembuh dalam waktu singkat, misalnya 6 bulan

Spondilosis

Definisi spondilosis

Spondylosis adalah suatu penyakit degenerasi dari spine yaitu degenerasi diskus intervertebral. Ketika degenerasi discus terjadi elastisitas serabut dari annulus menurun dan berubah menjadi jaringan fibrous menyebabkan fleksibilitas dan gerakan menjadi kaku (Soekarno,1998). Spondylosis ini 3 termasuk penyakit degenerasi yang proses terjadinya secara umumdisebabkan oleh berkurangnya kekenyalan discus yang kemudian menipis dan diikuti dengan lipatan ligamen di sekeliling corpus vertebra, seperti ligamentum longitudinal. Selanjutnya pada lipatan ini terjadi pengapuran dan terbentuk osteofit. Spondylosis kebanyakanmenyerang pada usia diatas 40 tahun (Apley,1995) Etiologi Spondylosis adalah proses degeneratif. Dengan usia, tulang dan ligamen dalam memakai tulang belakang, menyebabkan osteoarthritis. Juga, diskus intervertebralis merosot dan melemah, yang dapat menyebabkan herniasi dan cakram membesar. Spondylosis umum. Gejala yang sering pertama kali dilaporkan antara usia 20 dan 50. Lebih dari 80% orang berusia di atas 40 memiliki bukti spondylosis pada X-ray studi. Angka kejadian spondylosis sebagian berhubungan dengan predisposisi genetik serta riwayat cedera Manifestasi klinis Gejala spondylosis termasuk rasa sakit lokal di bidang spondylosis, biasanya di bagian belakang atau leher. Jika herniated disc menyebabkan saraf terjepit, nyeri dapat merambat ke anggota badan. Misalnya, herniasi diskus besar di tulang belakang lumbal dapat menyebabkan kompresi saraf dan menyebabkan nyeri yang berasal dari punggung bawah dan kemudian bergerak ke arah kaki. Sakit punggung karena disk membesar biasanya lebih buruk dengan berdiri terlalu lama, duduk, dan maju membungkuk dan sering lebih baik dengan sering mengubah posisi dan berjalan. Nyeri punggung akibat osteoarthritis dari sendi biasanya lebih buruk dengan berjalan dan berdiri, dan lega dengan membungkuk ke depan. Gejala mati rasa dan kesemutan dapat dirasakan jika saraf yang terjepit. Jika saraf yang terjepit sangat, kelemahan ekstremitas yang terkena mungkin terjadi. Jika herniated disc mendorong pada sumsum tulang belakang, hal ini dapat menyebabkan cedera pada sumsum tulang belakang (myelopathy). Gejala mielopati termasuk mati rasa, kesemutan, dan kelemahan. Misalnya, herniated disc besar di tulang belakang leher dapat menyebabkan myelopathy serviks jika cukup besar untuk mendorong pada saraf tulang belakang dengan gejala yang dihasilkan mati rasa, kesemutan, dan kelemahan pada lengan dan kaki. Pemeriksaan radiologis X-ray dapat menunjukkan tonjolan tulang pada tubuh vertebra di tulang belakang, penebalan sendi facet (sendi yang menghubungkan tulang belakang satu sama lain), dan penyempitan ruang disk intervertebralis.

Pengobatan Tidak ada pengobatan untuk mengembalikan proses spondylosis, karena merupakan proses degeneratif. Perlakuan dari target spondylosis sakit punggung dan nyeri leher yang dapat menyebabkan spondylosis. Oleh karena itu, pengobatan spondylosis mirip dengan pengobatan sakit punggung dan sakit leher. Perawatan yang tersedia jatuh ke dalam beberapa kategori: obat, perawatan diri, latihan dan terapi fisik, terapi tambahan (chiropractics dan akupunktur), prosedur invasif minimal seperti injeksi, dan pembedahan. Prognosis Pada umumnya prognosis spondylosis baik. Banyak orang dengan spondylosis tidak memiliki gejala apapun. Dari mereka yang mengalami nyeri punggung atau leher akibat spondylosis, kebanyakan membaik dalam beberapa minggu setelah timbulnya gejala. Hanya sedikit orang yang terus mendapat rasa sakit kronis akibat spondylosis.

Spondilolisis

Definisi spondilolisis : Defek pseudo-artrosis yang mengenai lamina atau arkus neuralis vertebra. Patofisiologi Terjadi karena fraktor: microfracture yang berulang-ulang disebabkan oleh stress fracture pada pars interartikularis. Hereditas Olahraga ( base ball, foot ball, wrestling, gymnastic, tennis ) Pasien dengan spina bifida okulta 95 % terjadi pada lumbal 5 Lisis dapat terjadi pada tingkat lumbal maupun torakal Dapat terjadi secara unilateral ataupun bilateral

Insidens :

Spondilolisis merupakan suatu defek bawaan dan berkembang selama pasca natal. Kelainan ini sering ditemukan dengan meningkatnya umur. Defek ini biasanya terjadi pada bagian lamina di antara permukaan artikularis superior dan inferior yang disebut sebagai pars interkularis. Bilamana defek dari lamina vertebra bersifat bilateral, pemisahan dari defek pada badan vertebra dari lamina akan menyebabkan suatu tekanan mekanik yang menyebabkan pergerakan ke depan dari vertebra yang defisit. Spondiolisis biasanya terjadi 85% pada L5 dan sisanya 15% pada L4. Defek ini terdiri atas jaringan ikat. Daerah yang sering mengalamispondilolisis biasanya padadaerah lamina yang lemah yaitu pada daerah ismus yang sempit. Etiologi Dianggap bahwa factor herediter memegang peranan dalam terjadinya spondilolisis. Enam puluh persen penderita dimana kedua orang tuanya menderita spondilolisis maka anaknya akan menderita kelainan yang sama. Spondilolisis sering disertai dengan kelainan bawaan spinal. Oleh karena itu daerah lumbal merupakan daerah yang paling banyak menerima beban pada posisi berdiri, maka spondilolisis dapat terjadi juga setelah suatu stress fraktur atau fraktur yang terjadi sebagai suatu trauma tunggal. Walaupun demikian belumterdapat kejelasan tentang etiologinya. Gambaran klinis Kebanyakan penderita spondilolisis tidak memperlihatkan gejala-gejala klinis. Apabila terjadi suatu trauma atau strain yang kronik, maka jaringan fibrosa pada defek ini akan meregang sehingga menimbulkan perasaan nyeri. Pada pemeriksaan klinik biasanya ditemukan adanya spasme otot yang ringan, gangguan pergerakantulang belakang dan tidak ditemukan kelainan motoris dan sensoris. Gejala berupa nyeri punggung bawah dimana nyeri menjalar ke daerah bokong. Pemeriksaan radiologis Biasanya diperlukan foto polos oblik vertebra lumbal.

Pengobatan Nyeri biasanya tidak berat, cukup dengan istirahat dan mengurangi aktifitas misalnya berdiri, jalan dan mengangkat benda berat. Komplikasi Pada spondiolisis yang bersifat bilateral, vertebra dapat bergerak ke depan dan akan menimbulkan spondilolistesis.

Spondilolistesis

Definisi spondilolistesis: Pergerakan ke depan satu vertebra terhadap vertebra lain di atasnya, kelainan ini biasanya terjadi pada lumbal bagian bawah di antara L5 dan sacrum. Vertebra lumbal yang normal akan mencegah terjadinya pergerakan ke depan oleh karena laminanya masih intak. Insidens Spondilolistesis ditemukan pada pada vertebra lumbal sebanyak 2% dari seluruh orang dewasa. Etiologi 1. Spondilolistesis karena adanya kelainan degeneratif biasanya terjadi antara L4-L5 2. Spondilolistesis akibat defisiensi pada permukaan lumbosakral sehingga memungkinkan vertebra lumbal V bergeser ke depan sacral I dan kelainan ini bersifat congenital. 3. Spondilolistesis yang terjadi pada spondilolisis akibat defek pada pars inter-artikularis 4. Spondilolistesis traumatik yang terjadi oleh karena suatu trauma tunggal 5. Spondilolistesis patologis yang terjadi karena adanya kelainan patologisyang menyebabkan kelemahan pada tulang misalnya oleh tumor.

Gambaran klinis Spondilolitik spondilolistesis biasanya berupa nyeri punggung bawah yang makin meningkat apabila berdiri, jalan atau lari dan akan berkurang apabila berbaring. Gejala klinis bervariasi sesuai tingkat pergeseranvertebra pada lumbosakral yang terjadi.

Pemeriksaan radiologis Diperlukan pemeriksaan posisi AP, lateral dan oblik yang akurat untuk menilai kemungkinan penyebab. Pada spondilolitesis oleh karena kelainan

degeneratif, pergerakan vertebra dapatke depan atau kebelakang disebut retro-spondilolistesis.

Pengobatan Pengobatan tergantung dari berat ringannya spondilolistesis dan derajatnya diukur sesuai dengan jarak pergerakan terhadap badan vertebra. Pada spondilolistesis yang ringan pengibatan hanya bersifat konservatif, sedangkan spondilolistesis yang berat yaitubila pergerakan melewati separuh dari vertebra dipertimbangkan untuk stabilisasi vertebra dengan cara artrodesis vertebra.

Prognosis Secara umum pasien dengan isthmic spondylolisthesis grade I dan II prognosa cukup baik dengan terapi konservatif Isthmic spondylolisthesis grade III lebih mempunyai prognosis bervariasi dan kadang-kadang disertai dengan nyeri yang persisten pada tulang belakang. Terapi pembedahan memberikan perbaikan pada gejala claudicatio dan radikular Terapi pembedahan dengan dekompresi memberikan hasil yang memuaskan untuk mengurangi gejala dari extremitas bagian bawah.