Anda di halaman 1dari 35

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BAB III GRAVITY CONCENTRATION

3.1. Dulang 3.1.1. Tujuan Praktikum 1. Memahami cara kerja alat 2. Menentukan nilai recovery 3.1.2. Dasar Teori Usaha pertambangan merupakan upaya pengolahan bahan galian yang penuh resiko semenjak tahap eksplorasi, bahan tahap penambangan sampai tahap pengolahan (produksi).

Pelaksanaan usaha pertambangan dimasa depan bukanlah tugas yang mudah dan salah satu tantangan yang dihadapi adalah pengembangan sumber daya mineral sebagai sumbangan yang nyata bagi rakyat dan pembangunan nasional yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pengolahan bahan galian perlu mengikuti prinsipprinsip konservasi. Dalam pelaksanaannya, dalam kaitan dengan otonomi daerah, aparat pemerintah daerah perlu mendapatkan bimbingan teknis, khususnya di bidang pengelolaan sumber daya mineral (Anonim, 2013). Sumber daya alam merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan nasional, oleh karena itu harus dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan rakyat dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup sekitar. Salah satu kegiatan dalam memanfaatkan sumber daya alam adalah kegiatan penambangan bahan galian, tetapi kegiatan kegiatan penambangan selain menimbulkan dampak positif juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup terutama perusahaannya, bentang alam, berubahnya estetika lingkungan, habitat flora dan fauna menjadi rusak, penurunan kualitas tanah, penurunan kualitas air atau penurunan permukaan air tanah, timbulnya debu dan kebisingan.

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Sumber daya mineral (mineral resource) adalah endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumber daya mineral dengan keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan pengkajian kelayakan tambang dan menemui kriteria layak tambang. Sumber daya mineral merupakan salah satu jenis sumber daya non-hayati. Sumber daya mineral yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Endapan bahan galian pada umumnya tersebar secara tidak merata di dalam kulit bumi. Sumber daya mineral tersebut antara lain : emas, batubara, perak, timah, dan lain-lain. Sumber daya itu diambil dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Sumber daya mineral yang berupa endapan bahan galian memiliki sifat khusus dibandingkan dengan sumber daya lain yaitu biasanya disebut wasting assets atau diusahakan ditambang, maka bahan galian tersebut tidak akan tumbuh atau tidak dapat diperbaharui kembali. Dengan kata lain industri pertambangan merupakan industri dasar tanpa daur, oleh karena itu di dalam mengusahakan industri pertambangan akan selalu berhadapan dengan sesuatu yang serba terbatas, baik lokasi, jenis, jumlah maupun mutu materialnya. Keterbatasan tersebut ditambah lagi dengan usaha meningkatkan keselamatan kerja serta menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan demikian dalam mengelola sumberdaya mineral diperlukan penerapan sistem penambangan yang sesuai dan tepat, baik ditinjau dari segi teknik maupun ekonomis, agar perolehannya dapat optimal. Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang diandalkan pemerintah Indonesia untuk mendatangkan devisa. Selain mendatangkan devisa industri pertambangan juga menyedot lapangan kerja dan bagi Kabupaten dan Kota merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kegiatan pertambangan merupakan suatu kegiatan yang meliputi : eksplorasi, eksploitasi, pengolahan pemurnian, pengangkutan mineral/ bahan tambang. Industri pertambangan selain

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT mendatangkan devisa dan menyedot lapangan kerja juga rawan terhadap pengrusakan lingkungan. Banyak kegiatan penambangan yang mengundang sorotan masyarakat sekitarnya karena pengrusakan lingkungan, apalagi penambangan emas tanpa izin yang selain merusak lingkungan juga membahayakan jiwa penambang karena keterbatasan pengetahuan si penambang dan juga karena tidak adanya pengawasan dari dinas instansi terkait Kegiatan pertambangan bahan galian berharga dari lapisan bumi telah berlangsung sejak lama. Selama kurun waktu 50 tahun, konsep dasar pengolahan relatif tidak berubah, yang berubah adalah skala kegiatannya. Mekanisasi peralatan pertambangan semakin telah menyebabkan skala pertambangan membesar.

Perkembangan teknologi pengolahan menyebabkan ekstraksi bijih kadar rendah menjadi lebih ekonomis, sehingga semakin luas dan semakin dalam mencapai lapisan bumi jauh di bawah permukaan. Hal ini menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar dan bersifat penting. Pengaruh kegiatan pertambangan mempunyai dampak yang sangat signifikan terutama berupa pencemaran air permukaan dan air tanah. Dalam menjalani kehidupan seharihari tentunya banyak cara yang dilakukan oleh orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu lapangan pekerjaan yang diminati oleh masyarakat adalah menambang emas ataupun intan dengan cara mendulang. Mendulang atau panning merupakan salah satu cara dalam pengambilan sampel dalam eksplorasi, yaitu digunakan untuk mengetahui jumlah penyebaran mineral berharga yang tertransportasi oleh aliran sungai dari batuan induknya. Karena konsentrat yang dapat terambil oleh metode panning memiliki keterbatasan, maka metode panning tidak digunakan dalam skala besar atau skala perusahaan.

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber : http://gumadival.wordpress.com, 2013. Gambar 3.1.1 Perlengkapan Dulang

*Sumber : http://theshinobee.blogspot.com, 2013.

Gambar 3.1.2 Dulang Tradisional Dulang, lenggang, batea, horn, adalah alat untuk prospeksi tradisional yang digunakan untuk menimbang mineral berat (berat jenis > 3,00) hasil rombakan batuan secara alamiah seperti emas, intan, kasiterit (SnO2), ilmenit (FeTiO3) dan zirkon (ZrSiO4). Dulang berbentuk menyerupai wajan X dengan diameter bagian atas antara 40-50 cm, kedalaman 8-15 cm dan sisinya membentuk sudut antara 350-450 terhadap bidang datar. Batea adalah jenis lain dari dulang yang bagian bawahnya datar atau kadang-kadang bercekungan kecil-kecil dengan diameter bagian atsanya 40-75 cm, sedangkan ukuran lainnya sama dengan dulang. Dulang dan batea dapat terbuat dari kayu, logam, plastik tebal atau gelas fiber. Dulang merupakan alat pengolahan bahan galian tradisional dengan memanfaatkan berat jenis suatu material. Berat jenis mineral yang dapat dilakukan proses ekstraksi menggunakan alat dulang harus
Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT lebih besar dari 3,00 gram. Dalam proses pendulangan mineral berharga yang biasanya didulang adalah emas dan intan. Pendulangan adalah salah satu metode gravity concentration yang paling sederhana, paling murah serta sering dipakai oleh masyarakat. Panning atau mendulang merupakan salah satu cara dalam pengambilan sampel dalam eksplorasi. Panning memiliki keterbatsan dalam jumlah konsentrat yang dapat terambil sehingga metode panning tidak digunakan dalam skala besar atau skala perusahaan. Penambangan dengan memakai dulang (panning) merupakan suatu kegiatan pencarian secara tradisional untuk mencari endapan berharga dalam endapan placer dimana air cukup tersedia. Endapan berharganya berupa emas, perak dan batu-batu mulia terkonsentrasi berbentuk lapisan-lapisan dan kantong-kantong. Panning hanya bisa dilakukan apabila mineral berharganya lebih berat daripada ganguenya, bila tidak produksinya akan sangat terbatas. Panning akan berguna untuk sampling dan digunakan pada kegiatan eksplorasi, tracing placer deposit menuju sumbernya/vein. Pan (alat dulang) tidak dimaksudkan sebagai alat produksi pada tambang placer / alluvial, karena berkapasitas sangat kecil, akan tetapi dipakai secara luas untuk tujuan pencarian emas pada suatu lapisan alluvial yang diduga banyak endapan berharga (Anonim, 2013). Panning digunakan untuk mengetahui jumlah penyebaran mineral berharga yang tertransportasi oleh aliran sungai dari batuan induknya. Peta aliran sungai sangatlah penting dalam menentukan tempat penyebaran mineral berharga. Setiap lokasi aliran sungai akan diambil sampel menggunakan panning. Apabila hasil yang ditemukan terdapat adanya mineral berharga maka akan terus dilakukan penyelidikan menuju ke arah hulu sungai untuk menemukan mineral berharganya dan akan dihentikan proses pencariannya. Secara prinsip, kegiatan dulang merupakan pemisahan konsentar dari tailingnya, dimana material konsentrat yang mempunyai berat jenis lebih besar akan tertahan di bagian dasar alat dulang, sedangkan yang lebih ringan berat jenisnya dan dianggap sebagai tailing ikut larut bersama aliran air (Anreza, 2011).

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Metode panning atau mendulang merupakan metode untuk menemukan letak sumber serpihan mineral (mineral cuts = float) yang umumnya berupa urat bijih (vein) endapan primer di tempat-tempat yang elevasinya tinggi. Caranya adalah dengan mencari serpihan atau potongan mineral-mineral berharga (emas, intan, kasiterit, dan lainlain) yang keras, tidak mudah larut dalam asam maupun basa lemah dan memiliki berat jenis yang tinggi dimulai dari kelokan di hilir sungai. Pada kelokan sungai sebelah dalam (lihat gambar 3.1.3) diambil beberapa genggam endapan pasir lalu dicuci dengan dulang atau lenggang (pan/batea/horn). Bila dari dalam dulang itu ditemukan serpihan mineral berharga, maka pendulangan di kelokan sungai diteruskan ke hulu sungai (lihat titik-titik A1, A2 dan A3 pada gambar di bawah sampai serpihan mineral berharga itu tak ditemukan lagi. Selanjutnya pencarian serpihan itu dilakukan ke kiri-kanan tepian sungai dengan cara mendulang tumpukan pasir yang ada di tepian sungai tersebut (Syafii, 2012).

*Sumber : Syafii, 2012. Laporan Praktikum Pengolahan Bahan Galian.

Gambar 3.1.3 Bentuk Dulang dan Serpihan Mineral pada Kelokan Sungai Secara prinsip kegiatan dulang merupakan pemisahan

konsentrat dari tailingnya, dimana material konsentrat yang mempunyai berat jenis lebih besar akan tertahan di bagian dasar alat dulang, sedangkan yang lebih ringan berat jenisnya dan dianggap sebagai tailing ikut larut bersama aliran air. Cara tracing dengan panning sama seperti tracing float, tetapi bedanya terdapat pada ukuran butiran mineral yang dicara biasanya
Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT cara ini digunakan untuk mencari jejak mineral yang ukurannya halus dan memiliki masa jenis yang relatif besar. Persamaan dari cara tracing yaitu pada kegiatan lanjutan yaitu trencing atau test pitting. Macam-macam dulang adalah sebagai berikut : a. Dulang Emas Emas dan logam platina pada dasarnya ditemukan dalam bentuk native dan metallic. Dulang emas adalah salah satu cara pendulangan yang paling banyak digunakan di dunia,digunakan secara tradisional maupun secara komersil untuk memeriksa nilai bijih yang sedang diproses. Dulang emas hampir terdapat di semua tempat ditemukannya emas di dunia. Penambangan cebakan emas placer pada umumnya tergantung pada kondisi keberadaan cebakan emas yang meliputi jenis cebakan, ketebalan cebakan yang mengandung emas dan kedalaman atau ketebalan tanah penutup. Kondisi cebakan emas pada umumnya berupa endapan sungai atau jenis cebakan emas placer, dengan ketebalan endapan yang diduga mengandung emas kurang lebih 1 meter, dengan ketebalan tanah penutup bervariasi dari 1 - 8 meter dari permukaan tanah. Dengan demikian, sistem penambangan yang paling cocok untuk diterapkan adalah sistem tambang terbuka (surface mining), walaupun pada kasus tertentu tidak tertutup kemungkinan untuk dikombinasikan dengan sistem tambang bawah tanah (underground mining). Sedangkan metoda pemisahan (pengolahan) mineral yang umum diterapkan untuk jenis endapan emas placer adalah dengan cara konsentrasi graviti, yakni pemisahan mineral berharga (emas) atau disebut concentrate terhadap mineral pengotornya (tailing) berdasarkan perbedaan berat jenis (specific gravity) dan media aliran air. Mekanisme dasar pemisahan emas dari material pengotornya adalah perbedaan berat jenis (specifig gravity) dan aliran atau putaran air ketika dulang digoyang-goyangkan dengan arah memutar. Material pengotor dengan berat jenis lebih ringan dibandingkan butiran emas (berat jenis 14 - 19) akan terlempar keluar, sedangkan butiran emas tetap tertinggal pada dasar dulang

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT (pan). Kelemahan cara ini adalah tingkat perolehan yang masih rendah, walaupun proses ini sangat ditentukan oleh keterampilan pendulang. Namun demikian, pada umumnya masih banyak butiran emas yang halus dan berbentuk pipih ikut terbuang dengan material pengotornya. Cara penambangan ini dapat dilakukan baik secara individu maupun secara berkelompok, yang pada umumnya dilakukan oleh masyarakat setempat.

*Sumber : http://www.antaranews.com, 2013.

Gambar 3.1.4 Kegiatan Mendulang Proses mendulang emas dimulai dengan mengisi alat dulang dengan material yang hendak didulang, kemudian goyangkan dulang ke kiri dan ke kanan di bawah aliran air. Proses ini akan menyebabkan material yang berat akan terendapkan di dasar dulang, sedangkan material yang lebih ringan akan berada di permukaan sehingga akan terpisah dengan material yang lebih berat. Hasil akhir yang didapat dari pendulangan ini adalah emas, dan pasir sebagai tailing. Instruksi yang lebih jelas adalah sebagai berikut : 1) Tentukan campuran material yang hendak didulang, lalu masukkan material tersebut ke dalam dulang. Isi dulang tersebut sampai dulang terisi. Buang batu-batu besar dalam material tersebut, sehingga kita dapat lebih banyak menaruh material yang lebih kecil, dan butiran emas tentunya, ke dalam dulang.

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.5 Proses dari Langkah Pertama 2) Pilih tempat dimana kita akan mendulang. Tempat yang paling baik adalah dimana air kira-kira 6 inch dalamnya. Hal ini penting agar kita bisa dengan mudah membuang keluar gangue dalam campuran material. 3) Bawa dulang ke titik pendulangan yang sudah dipilih dan masukkan dulang ke dalam air.

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.6 Proses dari Langkah Ketiga 4) Gunakan jari untuk meratakan material dalam dulang agar semua material tergabung ke dalam air. Dalam langkah ini kita bisa memisahkan lempung, moss, dirt, roots, dan sebagainya
Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT agar dulang tersebut benar-benar dipenuhi air atau seluruh materialnya benar-benar tergabung dalam air.

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.7 Proses dari Langkah Keempat 5) Setelah material seluruhnya tergabung dalam air, goyangkan dulang ke kiri dan ke kanan dalam keadaan tetap di bawah permukaan air. Hal ini akan menyebabkan material terpisah di dalam dulang dimana material yang lebih berat akan terendapkan di dasar dulang sedangkan yang lebih ringan akan berada di permukaan.

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.8 Proses dari Langkah Kelima 6) Keluarkan batu-batu atau material yang terangkat di permukaan tersebut menggunakan jari tangan. Batu yang dikeluarkan hanya batu yang berada di permukaan saja.
Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.9 Proses dari Langkah Keenam 7) Lanjutkan dengan mengulang langkah lima dan enam,

goyangkan dulang dan keluarkan batu-batu serta kerikil, sampai material tersebut keluar dari dulang, sehingga dulang bersih dari kerikil dan batuan. 8) Miringkan salah satu sisi dulang sehingga sisi tersebut menjadi titik yang paling rendah. Lalu goyangkan dulang lagi ke kiri dan ke kanan, tetap keadaan salah salah satu sisi dulang tersebut miring. Hati-hati agar dulang tidak terlalu miring sehingga material tidak keluar semuanya ketika dulang digoyangkan ke kiri dan kanan.

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.10 Proses dari Langkah Kedelapan 9) Hati-hati saat memiringkan dulang ke depan atau ke belakang, lakukan hanya di bawah permukaan air, ikuti aliran air untuk membuang lapisan atas yang isinya material tak berharga,
Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT material yang lebih ringan akan keluar dari dulang. Sementara itu tetap jaga material-material yang lebih berat yang tidak tertutup material yang lebih ringan akan tidak keluar. Material yang lebih berat biasanya berwarna lebih gelap daripada material yang lebih ringan. 10) Setelah lapisan atas terbuang dari dulang, goyang kembali dulang untuk mengangkat material yang lebih ringan ke atas. Jika dilakukan terus menerus, maka material yang paling berat akan tertinggal, diantaranya emas. Langkah ini mungkin akan memakan waktu 5 sampai 6 detik.

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.11 Proses dari Langkah Kesepuluh 11) Setiap selesai menggoyang dulang dan membersihkan material yang lebih ringan, miringkan kembali dulang ke posisi awal dan goyangkan dulang kembali. Hal ini untuk menjaga agar emas tidak tejatuh ke sisi dulang yang dimiringkan.

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.12 Proses dari Langkah Kesebelas 12) Setelah langkah di atas selesai, lihat material yang tertinggal di dasar dulang. Biasanya terdiri dari batu-batu ungu kecil dan hitam, dan konsentrat pasir hitam. Pasir hitam biasanya terdiri dari magnetit, hematit, titanium, zircon, rhodolite, monazite, tungsten, dan kadang-kadang pirit. Dan material-material lainnya yang mempunyai berat jenis yang tinggi, seperti emas dan platina.

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.13 Proses dari Langkah Kedua belas Setelah pendulangan, ada cara-cara tertentu untuk

memisahkan emas dari tailingnya, seperti pasir hitam, kerikil, dan lain-lain. Cara pertama yaitu :

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 1) Sediakan botol sampel berukuran sedang dan corong. 2) Tuang butiran emas yang sudah didulang tadi ke dalam botol menggunakan corong. 3) Emas akan terpisah dari pengotornya. Cara kedua dengan menggunakan snifter bottle. Snifter bottle tersebut ditekan sehingga akan menciptakan efek vakum, yang menyebabkan emas akan terisap ke dalam botol. Cara ini sangatlah mudah digunakan.

*Sumber : http://www.hargaemas.com, 2013.

Gambar 3.1.14 Snifter Bottle Jika kita tidak punya snifter bottle atau corong, ada metode lain. Basahi jari dengan ludah dan sentuhlah butiran emas di dalam dulang dengan jari, dimana dulang tersebut terisi oleh air. Ludah akan menyebabkan emas dan konsentrat melekat ke jari. Namun, dibandingkan dengan metode corong tadi, metode ini jauh lebih lambat. Material yang mengandung emas biasanya dikumpulkan dalam karung. Setelah dianggap cukup, karung berisi material itu dibawa ke lokasi pendulangan. Dari proses pendulangan, akan dipisahkan diperlukan serbuk air atau buliran emas. Untuk 80 mendulang, proses yang cukup sehingga persen

pendulangan dilakukan di kawasan aliran sungai. Kehadiran tailing dalam dunia pertambangan tidak bisa dihindari, dari pengolahan yang dilakukan hanya < 3% bijih menjadi produk dan sisanya menjadi tailing. Secara fisik komposisi

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT tailing umumnya terdiri dari 50% fraksi pasir halus dengan diameter 0,075 0,4 mm, dan sisanya berupa fraksi lempung dengan diameter 0,075 mm. Hal ini dapat disebabkan oleh kekerasan batuan bijih yang menyebabkan hasil giling cenderung lebih kasar dan mengakibatkan perolehan (recovery) menurun disertai semakin rendahnya kandungan mineral didalam konsentrat. Kehalusan ukuran butiran mineral juga dapat menyebabkan sulitnya tercapai liberasi (liberation). Proses preparasi pemisahan mineral butir merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam mempersiapkan contoh untuk dianalisis, yang metodenya disesuaikan dengan keadaan contoh dan kepentingan. Analisis kualitatif terhadap tipologi penambangan dalam rangka perolehan emas menunjukkan bahwa penambangan dengan cara pendulangan (panning) pada umumnya mempunyai kapasitas rendah dan kurang efisien dalam menangkap emas berbutir halus. Hanya dalam pengoperasiannya sangat sederhana (simple), tidak mahal (murah) biayanya dan praktis konstruksinya. Pendulangan (panning) secara luas digunakan sebagai metoda perolehan utama dalam awal penambangan. Namun dalam pengoperasiannya sangat terbatas, karena hanya emas berbutir kasar saja yang dapat diperoleh, sedangkan partikel emas yang sangat halus pada umumnya lolos bersama gravel. Hanya sejumlah gravel yang mengandung emas dapat diproses, ini juga tergantung pengalaman pendulang (panners). Pan (dulang) sesungguhnya hanya cocok untuk digunakan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan: prospecting (pencarian emas awal dalam penyelidikan umum), proses cleaning terhadap konsentrat hasil roughing, atau untuk mengerjakan cebakan aluvial yang kaya akan emas berbutir kasar atau cebakan yang lokasinya memang terisolasi. Pendulangan masih relevan untuk diterapkan bagi para penambang secara perseorangan, walaupun secara konseptual masih jauh untuk memenuhi syarat konsep pengelolaan

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT pertambangan yang baik dan benar. Seperti telah dijelaskan bahwa konsep pengelolaan pertambangan tersebut hanya cocok bagi level perusahaan yang bermodal besar. Namun demikian, secara organisatoris (level perusahaan) dibandingkan dengan konsep konsentrasi graviti menjadi tidak relevan lagi, karena tanpa perencanaan dan koordinasi yang baik dan benar, masalahnya muncul ketika ribuan orang mendulang pada area yang relatif terbatas, sehingga tingkat perolehan (recovery) menjadi semakin rendah atau perolehan yang tidak merata, diantaranya disebabkan oleh : a) Peralatan yang digunakan oleh para penambang berupa dulang (pan) yang terbuat dari kayu dan bahkan menggunakan wajan (kuali) tentunya belum atau tidak memenuhi standar. Walaupun bentuk dan ukuran bisa bervariasi, namun sebagai pembanding bahwa standar gold pan di Amerika misalnya, mempunyai ukuran standar sebagai berikut: diameter bagian atas 15 - 18 inci, kedalaman lekukan (depth) 2 - 2,5 inci serta sudut kemiringan sisi-sisinya 30 - 45o dan bahan pan bisa terbuat dari logam atau plastik. b) Para penambang yang pada umumnya tidak memiliki ketrampilan dan pengalaman mendulang, meskipun dasar pengoperasian dulang (pan) relatif sederhana. Perolehan pendulangan akan menjadi optimal jika material yang akan didulang berbutir dan relatif seragam disamping dibutuhkan pengalaman ketrampilan pendulang (penambang),

walaupun sesungguhnya dalam pengoperasiannya ketrampilan mendulang bisa dipelajari dari para pendulang yang telah berpengalaman. (Syafii, 2012) b. Dulang Batea Batea adalah dulang tradisional yang pertama kali digunakan. Batea dibuat oleh penduduk Indian Maya. Batea mempunyai diameter 15 atau 24 inci, dan mempunyai kedalaman 6-8 inci. Batea dibuat dari kayu dan digunakan untuk mendulang

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT emas, berlian, emerald, ruby, dan gemstone. Atau bisa juga untuk mendulang material yang lebih berat dari pasir dan kerikil. Namun batea susah dipakai dan sangat berat, sehingga hanya orang yang sudah berpengalaman saja yang mudah memakainya. Batea juga sangat mirip dengan dulang kayu yang sering kita lihat di Indonesia seperti pada gambar di bawah ini.

*Sumber: http://www.keeneeng.com, 2013.

Gambar 3.1.15 Batea

*Sumber: http://sawahanrasela.wordpress. com, 2013.

Gambar 3.1.16 Dulang Kayu c. Dulang Plastik Dulang yang paling efisien untuk pemula adalah yang dibentuk dari plastik. Dulang plastik lebih baik dari dulang baja dengan beberapa pertimbangan yaitu : 1) Dalam dulang baja terdapat karat yang bersifat menghancurkan.
Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 2) Terdapat tekstur permukaan yang bagus untuk menahan emas lebih baik. 3) Dulang plastik lebih ringan daripada dulang baja sehingga lebih nyaman digunakan. 4) Dulang plastik dapat dibuat hitam permanen sehingga butir emas yang paling kecil dapat terlihat.

*Sumber: anugrahmandiritehnik.blogspot.com, 2013.

Gambar 3.1.16 Dulang Plastik d. Dulang Cowhorns Cowhorns permukaannya pinggan juga digunakan untuk mendulang emas. sampai zaman Cowhorn mempunyai celah panjang, lalu dihaluskan dangkal yang sesuai untuk mendulang. Di

cukup lembut . Horn berbentuk terbuka dengan

dulu pinggan emas adalah satu-satunya alat yang tersedia untuk penyelidik dan penambang kecil untuk memisahkan emas. Yang mana pertimbangan diatas adalah cukup untuk menguasai dulang plastik. Tetapi masih ada keuntungan lain. Yang dibuat dengan suatu proses injection mold, riffles dapat dengan mudah dibentuk ke dalam suatu dulang plastik. Riffles ini dapat menjerat banyak emas dalam suatu sluice box, dengan begitu akan mempercepat berpengalaman proses sering pendulangan. mengacu Pekerja ini yang sebab sudah mereka pada

mengijinkan pemula untuk mendulang tingkat efisiensi yang sama (Syafii, 2012)

dengan hampir derajat

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber : htt://www.keeneeng.com, 2013.

Gambar 3.1.17 Dulang Cowhorns e. Dulang Intan Pendulangan intan salah satunya berada di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Tepatnya berada di Desa Pumpung, Kecamataan Cempaka. Intan di daerah ini sudah diketahui sejak abad ke- 8 oleh orang-orang Belanda yang datang ke tanah Banjar. Intan/berlian adalah mineral yang secara kimia merupakan bentuk Kristal atau alotrop dari karbon. Intan terkenal memiliki sifatsifat fisika yang istimewa, terutama faktor kekerasannya dan kemampuannya membuat intan mendispersikan digunakan cahaya. Sifat-sifat dan ini yang dalam perhiasan berbagai

penerapan di dalam dunia industri. Pada tahun 1960 1970, di Kabupaten Banjar pernah dibuka usaha pertambangan modern dengan pelaksana PT. Aneka Tambang. Lahan garapannya mencapai wilayah 2 kecamatan, sebagaimana pertambangan modern alat yang dipakai adalah alat berat dan mesin-mesin bertenaga raksasa sampai keterlibatan tenaga ahli pertambangan dari luar negeri serta karyawan yang banyak. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan modal yang dikucurkan padahal cukup dapat beberapa butir intan saja maka modal pasti kembali. Nyatanya selama sepuluh tahun itu tidak pernah mendapatkan hasil memuaskan akhirnya usaha negara ini

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT ditutup dengan kesimpulan wilayahnya tidak layak tambang. Sehingga para penambang kembali menggunakan cara tradisional. Caranya yaitu material berupa pasir, batu-batuan kecil, tanah, lumpur dan sebagainya yang telah bercampur menjadi satu diambil dari dalam lubang galian yang dibuat dengan kedalaman tertentu dimuat ke dalam dulang sesuai dengan kapasitas dari setiap dulang yang digunakan, selanjutnya dulang yang telah terisi material tersebut diputar-putar (dilenggang) dalam air sehingga sedikit demi sedikit material dari dalam dulang terbuang keluar dari dulang terbawa oleh pusaran air yang timbul akibat putaran yang dilakukan. Pendulang sambil mengamati apakah terdapat intan atau tidak secara sangat teliti. Hal tersebut dilakukan begitu seterusnya sampai material yang berada dalam dulang terbuang habis dari dulang. Mendulang biasanya dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari 3-5 orang ataupun lebih. Hal ini dilakukan karena setiap orang mempunyai tugas masing-masing yang berbeda-beda. Ada yang bertugas membuat/menggali lubang. Ada yang lain bertugas mengangkut material galian ke lokasi.

*Sumber : http://www.antarafoto.com, 2013.

Gambar 3.1.18 Pendulangan Intan Dalam perhitungan hasil perolehan (recovery) dapat digunakan rumus :

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

R Dimana : R C c F f = Recovery = Konsentrat = Kadar Konsentrat = Feed = Kadar feed Dalam melakukan

x 100 %

kegiatan

pendulangan

tentunya

akan

memiliki beberapa dampak, baik dampak negatif maupun dampak positif, diantaranya adalah : a. Dampak Negatif Dampak negatif yang ditimbulkan dari aktifitas pendulangan, yaitu :

1) Terhadap tanah karena dapat menimbulkan kerusakan tanah


berupa penurunan nilai potensial biologis dari tanah, hilangnya lapisan tanah yang subur, dan limbah (tailing) yang akan berpengaruh pada reaksi tanah dan komposisi tanah. 2) Pada aktivitas pendulangan semi-mekanis di sepanjang sungai selain memacu percepatan pendangkalan, mengakibatkan pencemaran dimanfaatkan. 3) Memerlukan waktu yang lama serta tenaga yang besar untuk mendapatkan hasil yang baik. b. Dampak Positif Dampak positif yang ditimbulkan dari aktifitas pendulangan, yaitu : 1) Biaya operasionalnya murah, karena hanya memerlukan peralatan yang sederhana. 2) Membuka hari. lapangan kerja bagi warga sekitar wilayah pendulangan, karena akan menambah penghasilan sehariair sungai di daerah hulu yang selama ini menjadi satu-satunya sumber air bersih, tak bisa lagi

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Pengolahan bahan galian sering diartikan oleh banyak

pendapat, salah satu pengertian tentang pengolahan bahan galian adalah kegiatan yang bertujuan untuk menaikkan kadar atau mempertinggi mutu bahan galian yang dihasilkan dari tambang sampai memenuhi persyaratan untuk diperdagangkan atau dipakai sebagai bahan baku untuk bahan industri lain. Bahan galian yang dihasilkan dari tambang biasanya selain mengandung mineral berharga yang diingikan juga mengandung mineral pengotor (ganggue mineral) sehingga hasil tambang tidak bisa langsung dimanfaatkan atau diperdagangkan. Untuk menghilangkan mineral pengotor tersebut sehingga hasil tambang dapat dimanfaatkan atau diperdagangkan, maka dilakukan dengan pengolahan bahan galian. Proses pemisahan pemisahan antara mineral berharga dengan mineral-mineral pengotor didasarkan kepada perbedaan baik fisik maupun sifat kimia antara mineral berharga dengan mineral pengotornya. Parameter pengolahan bahan galian secara mendasar adalah : a. Recovery adalah perbandingan jumlah metal yang terambil dalam pengolahan dengan berat atau metal secara keseluruhan. b. Ratio Of Concentration adalah perbandingan besar feed dengan besar konsentrat. c. Kadar. (Syafii, 2012) Agar bahan galian yang mutu atau kadarnya rendah dapat diolah lebih lanjut yaitu diekstrak logamnya, maka kadar bahan galian itu harus ditingkatkan dengan proses konsentrasi. Sifat-sifat fisik mineral yang dapat dimanfaatkan dalam proses konsentrasi adalah : a. Perbedaan berat jenis atau kerapatan untuk proses konsentrasi gravitasi dan media berat. b. Perbedaan sifat kelistrikan untuk proses konsentrasi elektrostatik. c. Perbedaan sifat kemagnetan untuk proses konsentrasi magnetic. d. Perbedaan sifat permukaan partikel untuk proses flotasi. (Anonim, 2013) Pengenalan jenis mineral dapat dilakukan dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisik, di antaranya sifat optik, fluoresen, berat

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT jenis dan sifat kemagnetan. Dari pengamatan secara mikroskopis akan diketahui jenis mineral, ukuran butir, bentuk butir dan kelimpahannya. Hasil analisis ini selanjutnya digunakan untuk memprediksi sumber mineral (genesa dan tempat) dan menentukan kegiatan tindak lanjut dalam eksplorasi. Selain itu, di dalam suatu kegiatan eksplorasi endapan aluvial, preparasi dan analisis diperlukan sebagai data pendukung dalam penghitungan sumber daya dan cadangan serta kualitas bahan galian dalam rangka pengembangan selanjutnya. Selama ini, acuan yang digunakan dalam preparasi dan analisis mineral butir berasal dari berbagai sumber seperti literatur, pelatihan, dan pengalaman yang belum dibakukan. Untuk memperoleh kemudahan dan kesamaan pemahaman dalam melakukan preparasi dan analisis mineral butir, perlu dibuat suatu pedoman yang bersifat teknis sebagai acuan dalam melakukan preparasi dan analisis mineral butir. Analisa mineral analisis kimia dilakukan, karena material tailing merupakan hasil proses penggilingan batuan, dimana diperkirakan material tailing yang tidak terhancurkan secara baik masih mengandung mineral. Analisis butir dilakukan untuk mengetahui kandungan emas atau mineral lainnya yang telah terlepas dari batuan asal dan berbentuk butiran. Proses pengolahan bahan galian merupakan jembatan antara penambangan dengan ekstrasi logam. Karena pengolahan bahan galian mendasarkan atas sifat fisik mineral, maka informasi tentang mineral yang terkandung dalam bahan galian sangat diperlukan misalnya : a. Macam dan komposisi mineral dalam bahan galian b. Kadar masing-masing mineral c. Besar kecilnya ukuran/distribusi ukuran d. Macam dan tipe ikatan mineral dalam bahan galian e. Derajat liberasi (kebebasan) dari mineral. Derajat liberasi adalah perbandingan antara mineral yang terliberasi sempurna dengan jumlah mineral yang sama keseluruhan.

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Selama ini, acuan yang digunakan dalam preparasi dan analisis mineral butir berasal dari berbagai sumber seperti literatur, pelatihan, dan pengalaman yang belum dibakukan. Untuk memperoleh kemudahan dan kesamaan pemahaman dalam melakukan preparasi dan analisis mineral butir, perlu dibuat suatu pedoman yang bersifat teknis sebagai acuan dalam melakukan preparasi dan analisis mineral butir. Analisa mineral berupa analisis kimia dilakukan karena material tailing merupakan hasil proses penggilingan batuan, dimana diperkirakan material tailing yang tidak terhancurkan secara baik masih mengandung mineral. Analisis butir dilakukan untuk mengetahui kandungan emas atau mineral lainnya yang telah terlepas dari batuan asal dan berbentuk butiran. Prosedur preparasi contoh konsentrat dulang adalah sebagai berikut : a. Pengeringan Contoh yang diterima dalam keadaan basah dikeringkan terlebih dahulu di udara terbuka atau dalam oven dengan temperatur di bawah 40oC. Sedangkan contoh yang kering dapat langsung ditimbang. b. Pemisahan dengan bromoform Untuk contoh konsentrat dulang yang masih banyak mengandung mineral ringan, dilakukan pemisahan mineral dengan menggunakan bromoform. c. Penimbangan Contoh yang sudah kering ditimbang dan dicatat dalam formulir analisis. d. Pemisahan dengan magnet tangan Pemisahan dengan magnet tangan dilakukan terhadap konsentrat hasil dulang. Bertujuan untuk memisahkan mineral berdasarkan sifat magnetnya, sehingga diperoleh fraksi strong magnetic, medium magnetic dan non-magnetic (sisa magnet). Untuk penentuan derajat kemagnetan cukup dilakukan pemisahan strong magnetic (mineral magnetit) dari contoh.

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT e. Penimbangan Penimbangan dilakukan terhadap setiap fraksi hasil pemisahan magnet tangan dan dicatat dalam formulir data analisis.

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 3.1.3. Alat dan Bahan a. Alat Adapun alat yang digunakan pada praktikum dulang, yaitu : 1) Dulangan Dulangan adalah alat yang berfungsi sebagai alat untuk memisahkan butiran konsentrat dengan tailingnya.

*Sumber : Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, 2013.

Gambar 3.1.18 Dulangan 2) Bak Air Bak air adalah alat yang digunakan sebagai tempat untuk melakukan proses pendulangan.

*Sumber : Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, 2013.

Gambar 3.1.19 Bak Air

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 3) Timbangan Timbangan dulang (panning). adalah alat yang berfungsi sebagai penimbang massa material sebelum dan sesudah proses

*Sumber : Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, 2013.

Gambar 3.1.20 Timbangan 4) Alat Tulis Alat tulis merupakan alat yang berfungsi untuk mencatat data yang didapat.

*Sumber : Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, 2013.

Gambar 3.1.21 Alat Tulis b. Bahan Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini, adalah sebagai berikut :

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 1) Pasir Besi Material pasir besi adalah material yang akan diuji dan didulang serta sebagai konsentrat yang kemudian akan dihitung recoverynya.

*Sumber : Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, 2013.

Gambar 3.1.22 Pasir Besi 2) Pasir Kuarsa Material pasir kuarsa adalah sebagai material pengotor (tailing).

*Sumber : Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, 2013.

Gambar 3.1.23 Pasir Kuarsa 3) Air Air berfungsi sebagai alat bantu untuk memisah material saat preoses pendulangan.

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber : Laboratorium Pengolahan Bahan Galian, 2013.

Gambar 3.1.24 Air

3.1.4. Prosedur Percobaan


Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Prosedur percobaan pendulangan ini adalah : a. Menimbang konsentrat. b. Menyiapkan material lain pada tempat terpisah. c. Mencampurkan dengan material lain setelah mengetahui berat konsentrat. d. Menyiapkan bak penampungan serta memberi lapisan terpal agar air dapat tertampung dengan baik. e. Mengisi bak yang telah disiapkan tadi dengan air dengan perkiraan ketinggian air tersebut sebesar 50 cm. f. Melakukan pengecekan terpal dan memastikan tidak ada air yang keluar dalam jumlah yang cukup besar. g. Menyediakan alat dulang setelah semua siap. h. Memasukkan campuran konsentrat dengan material lain ke dalam alat dulang. i. j. Melakukan penetrasi memutar dengan memberikan campuran air yang telah tersedia pada bak penampungan tersebut. Melakukan penetrasi tersebut sampai ada proses pemisahan antara material dengan konsentrat. k. Menyisihkan material yang sudah terpisah dengan konsentrat agar tidak mengganggu proses pemisahan material yang lain yang belum terpisahkan. l. Mengambil dan kemudian mengeringkan konsentrat setelah bersih dari material pengotor. m. Melakukan analisa dengan mengukur berat hasil dari aliran konsentrat. n. Mencatat hasil analisa, selanjutnya melakukan perhitungan recovery dengan menggunakan rumus yang ada.

3.1.5. Data Hasil Pengamatan

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Berdasarkan hasil percobaan dulang atau panning yang telah dilakukan, maka yang diperoleh adalah konsentrat sebesar 81,03 gram. 3.1.6. Perhitungan Diketahui : Feed (umpan) Kadar feed Konsentrat Kadar konsentrat Ditanya Jawab : Recovery :R = Cc x 100% Ff = 81,03 gram x 15% = 97,99 % Jadi, nilai recovery dari percobaan dulang yang telah dilakukan adalah 97,99%. x 100% 2081,03 gram x 0,5960% = 2081,03 gram = 0,5960 % = 81,03 gram = 15% =? (F) (f) (C) (c)

3.1.7. Pembahasan

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Pada praktikum pengolahan bahan galian kali ini, praktikum yang dialakukan adalah mendulang dengan menggunakan alat dulang. Dulang merupakan sebuah alat sederhana yang digunakan untuk memisahkan konsentrat dari material pengotornya ( tailing). Material yang digunakan berupa pasir besi atau puya sebagai konsentrat dan bahan campuran berupa pasir halus yang berfungsi sebagai material pengotor (tailing). Sebelum melakukan proses pendulangan, material konsentrat dengan tailingnya haruslah ditimbang masing-masing untuk mengetahui berat keringnya. Kemudian setelah diketahui beratnya masing-masing, konsentrat dan tailing dicampur agar sama rata dan menyatu (homogen). Maksud dari praktikum kali ini adalah untuk memisahkan material berharga dengan material pengotornya yang berupa pasir puya sebagai konsentrat dan pasir halus sebagai material pengotornya. Mendulang adalah kegiatan atau proses pemisahan konsentrat dengan pengotornya berdasarkan berat jenis. Konsentrat memiliki berat jenis lebih besar dibandingkan pengotor, sehingga pada prosesnya berat jenis yang lebih besar akan berada di dasar dulang dan pengotor akan ikut larut bersama air pada saat dilakukan gerakan memutar di bak yang sudah disediakan air setinggi lebih kurang 50 cm. Konsentrat merupakan material berharga yang diperoleh dari proses ekstraksi kumpulan mineral-mineral, dengan kata lain konsentrat adalah material yang dicari dalam proses pengolahan bahan galian. Mineral konsentrat pada umumnya memiliki berat jenis lebih besar dari pengotornya. Konsentrat dulang adalah fraksi bernilai atau berharga berupa bijih (mineral berat) yang tertinggal pada alat dulang dalam suatu proses pendulangan. Konsentrat yang digunakan pada percobaan ini adalah puya, sedangkan pengotornya adalah pasir. Proses dulang itu sendiri dimulai dengan memasukkan bahanbahan campuran berupa campuran pasir halus dan puya ke dalam alat dulang. Kemudian memasukkan air secara horizontal sampai bak air terisi air dengan ketinggian air kurang lebih 50 cm atau memumgkinkan untuk dilakukan pendulangan. Setelah itu, dilanjutkan dengan memutar-mutar alat dulang searah ataupun berlawanan arah putaran

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT jarum jam. Proses pendulangan dilakukan dengan cara menggoyanggoyangkan alat dulang dengan aliran air horizontal secara merata sambil sesekali diaduk-aduk pada campuran material agar terpisahkan antara konsentrat dengan tailingnya. Hal ini sesuai dengan konsep dasar dari dulang atau panning itu sendiri yaitu untuk memisahkan antara unsur konsentrat dengan tailing dengan menggunakan aliran air horizontal dengan menggunakan gaya sentrifugal dan perbedaan berat jenis antara unsur konsentrat yang lebih besar dengan unsur tailing yang lebih ringan. Pada saat proses pendulangan, unsur konsentrat atau pasir besi berada pada dasar alat dulang dan pengotor atau tailing yaitu pasir halus berada di atas konsentrat karena perbedaan massa jenisnya. Puya atau pasir besi berwarna hitam sedangkan pasir halus berwarna panning. Setelah proses dulang selesai dilakukan, proses selanjutnya adalah menimbang puya atau konsentrat yang didapat pada proses pendulangan. Namun, konsentrat tadi tidak bisa langsung ditimbang pada alat timbangan karena massa dari konsentrat masih bercampur dengan massa air. Oleh karena itu, konsentrat harus dikeringkan terlebih dahulu. Proses pengeringan ini dilakukan dengan cara memasukkan konsentrat ke dalam pemanas (oven) agar kandungan air dalam konsentrat menguap. Proses pengeringan dari konsentrat berlangsung kurang lebih 15-20 menit. Setelah proses pengeringan selesai, konsentrat kemudian ditimbang menggunakan timbangan digital. Dari praktikum ini, tentunya dapat dikenal apa yang dimaksud dengan didapat recovery. tidak Pada proses pendulangan pada yang saat dilakukan, didapatkan hasil atau recovery sebesar 97,99%. Recovery yang sampai 100% karena pendulangan berlangsung, banyak pasir puya yang ikut terlarut bersama pengotor. Dari hasil percobaan dulang, didapatkan konsentrat sebesar 81,03 gram dengan kadar konsentrat 15% dan umpan atau feed kuning-kecoklatan sehingga dengan mudah dapat membedakan antara keduanya dalam proses pendulangan atau

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT sebesar 2081,03 gram dengan kadar feed 0,5960 %. Dari hasil

perhitungan, nilai dari recovery yang tidak mencapai 100%, maka dapat dikatakan bahwa karena adanya tingkat ketelitian yang kurang pada saat melakukan proses pendulangan atau panning. Pada percobaan ini dilakukan pula perhitungan waktu lamanya mendulang. Lama waktu disini tidak berpengaruh dalam perhitungan recovery. Hanya saja lama waktu kita mendulang dihitung untuk mengetahui efisiensi kerja kita saat sedang melakukan percobaan mendulang. Jadi pada proses pendulangan yang perlu diperhatikan adalah penguasaan alat dulang, ketelitian pada saat mendulang dan juga kekentalan air (viskositas air) yang digunakan untuk meendulang. Jika faktor tersebut dilakukan dengan baik maka hasil recovery yang diperoleh hampir atau boleh dikatakan sempurna. Tinggi dari bak air yang digunakan dalam proses pendulangan juga harus diperhatikan. Hal ini berpengaruh terhadap posisi praktikan pada saat melakukan percobaan mendulang. Semakin ideal tinggi bak air yang digunakan, maka proses pendulangan pun dapat terlaksanan dengan baik dan lancar. Yang juga perlu diperhatikan yaitu penguasaan alat dulang, ketelitian pada saat mendulang, juga kekentalan air yang digunakan pada saat mendulang. Jika faktor-faktor tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan hasil recovery mendekati hasil yang sempurna.

3.1.8. Penutup a. Kesimpulan

Kelompok 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Kesimpulan yang didapat pada percobaan ini adalah : 1) Dulang atau panning merupakan alat pengolahan secara tradisional yang digunakan untuk memisahkan konsentrat dengan tailing atau pengotornya dengan menggunakan aliran air horizontal, dimana material yang memiliki massa jenis yang lebih berat akan tertahan di dasar dulang dan material yang lebih ringan akan ikut terlarut bersama aliran air. Metode ini sangat banyak digunakan pada pertambangan rakyat karena ekonomis dan terjangkau. 2) Faktor-faktor dalam memperoleh hasil dulang ada tiga macam, yaitu cara pendulangan, jenis material yang didulang, dan tingkat kejernihan air yang dipakai. 3) Konsentrat yang didapat adalah sebanyak 81,03 gram. 4) Nilai recovery yang didapat adalah 97,99%. Penyebab utama kurangnya perolehan yang didapat adalah oleh karena human error atau ketidaktelitian pada saat mendulang. 5) Material-material b. Saran 1) Diharapkan pada saat sebelum praktikum dimulai, alat-alat dan kelengkapan yang akan dipergunakan terlebih dahulu disiapkan agar bisa menggunakan waktu dengan efisien. 2) Proses pendulangan hendakanya dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada. 3) Setelah praktikum selesai, alat-alat dan kelengkapan dibersihkan dan dibereskan secara bersama. yang biasanya menggunakan peralatan dulang antara lain emas, intan dan pasir besi.

Kelompok 5