Anda di halaman 1dari 25

Home Allah Al-Qur'an Rasulullah Ibadah

Islam Damai Kristologi Kritik Islam Daftar Isi

Home Daftar Isi Allah Al-Qur'an Rasulullah

Ibadah

Islam Damai

Copyright ARTIKEL ISLAM DESIGN by DZIGNINE Home All Artikel Islam Artikel Rasulullah RASULULLAH saw dan EMANSIPASI WANITA FRIDAY, 28 JUNE 2013 RASULULLAH saw dan EMANSIPASI WANITA TERKAIT : All Artikel Islam, Artikel Rasulullah

Tingkat Keyakinan dan Kepastian Kepada Tuhan AL-QUR'AN Sebagai Keajaiban Rasulullah saw

Kejujuran, Bukti Kebenaran Muhammad Rasulullah saw


KONSEP JIHAD DALAM ISLAM

KETINGGIAN AKHLAK RASULULLAH SAW. Pengaruh Kehidupan Rasulullah saw bagi Umat Islam RASULULLAH saw dan EMANSIPASI WANITA Related Posts Widget[?] Rasulullah saw Pembebas Kaum Wanita

Oleh: Hadhrat Mirza Bashir-ud-Din Mahmood Ahmad ra

Berbagai aspek kehidupan Nabi Muhammad Saw. sangatlah sempurna, sehingga siapapun yang memilih untuk menulis mengenai hal tersebut akan tercengang dan sangatlah sulit untuk memilih topik ini. Dengan mempertimbangkan kebutuhan masa kini, bagaimanapun, saya berharap dapat mengangkat sisi kehidupan Nabi Muhammad Saw., mengenai cara beliau membebaskan dunia dari perbudakan yang terang-terangan, yang menjadi kutukan bagi kemanusiaan. Saya maksudkan disini adalah, perbudakan terhadap wanita.

Sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw., seluruh wanita di seluruh bagian dunia berada dalam posisi sebagai budak dan dianggap sebagai barang yang bisa dimiliki, dan perbudakan terhadap mereka menjadi bumerang bahkan terhadap laki-laki, dalam hal anak laki-laki dari seorang budak perempuan tidak memiliki spirit kebebasan yang sama.

Tidak ada keraguan, wanita, baik karena kecantikannya ataupun karakternya yang berkilau, mampu, dalam kasus2 perorangan, mendominasi laki-laki, namun kebebasan yang diperoleh tersebut tidak dapat diartikan sebagai kebebasan sebenarnya, untuk alasan sederhana bahwa wanita tidak memiliki hak terhadap kebebasan. Ini hanya merupakan pengecualian dari aturan yang berlaku umum, dan kebebasan yang sesungguhnya luarbiasa, sulit untuk dapat menjadi budaya dari aspirasi yang sesungguhnya.

Rasulullah Saw., datang sekitar 1.350 tahun lalu (ketika tulisan ini dibuat. terj). Sebelum itu, tidak ada agama ataupun negara yang memberikan kebebasan kepada wanita sebagai sebuah hak. Tentu saja, di negara2 dimana tidak ada hukum yang berlaku, wanita bebas dari segala ketidakberdayaan. Namun, tetap saja kebebasan semacam inipun tidak dapat dikatakan sebagai kebebasan sejati. Lebih dapat diartikan sebagai ijin. Kebebasan sejati adalah yang muncul dari peradaban dan sesuai dengan hukum. Kebebasan yang kita dapatkan pada saat kita melanggar hukum bukanlah kebebasan sama sekali, karena kebebasan semacam ini tidak menghasilkan kekuatan karakter.

II

Pada masa Rasulullah Saw., dan sebelumnya, wanita ditempatkan pada kondisi dimana dia bukan pemilik dari harta yang ia miliki, suaminya dianggap sebagai pemilik harta istrinya. Wanita tidak memiliki bagian dari harta ayahnya. Dia juga tidak dapat mewarisi harta dari suaminya, walaupun dalam beberapa kasus, dia dapat mengelola harta tersebut selama suaminya masih hidup. Pada saat telah menikah, seorang wanita dianggap sebagai harta suaminya, tidak dimungkinkan untuk berpisah darinya, atau sebagai alternatif, suaminya memiliki hak untuk menceraikannya namun wanita tidak diberi hak untuk memisahkan diri dari suaminya, bagaimanapun sulitnya masalah yang ia hadapi.

Apabila suaminya meninggalkannya, mengabaikan kewajibannya terhadapnya, ataupun melarikan diri dari istrinya, tidak ada hukum yang melindungi wanita. Menjadi kewajiban bagi wanita untuk menerima konsekuensinya, bekerja untuk menghidupi diri dan anak-anaknya. Sang suami, memiliki hak, ini diluar masalah tempramen yang tinggi, untuk memukul istrinya, dan istrinya bahkan tidak boleh meninggikan suara untuk melawan hal tersebut. Apabila suami meninggal, istri, di beberapa negara, diberikan kepada kerabat suami, yang dapat menikahinya, atau kepada siapapun yang mereka inginkan, baik sebagai sumbangan ataupun balas jasa dari keuntungan yang diterima. Di beberapa tempat, dilain pihak, wanita lebih dianggap sebagai properti suaminya. Beberapa suami akan menjual istrinya apabila mereka kalah berjudi, dan pada saat mereka melakukan itu, mereka menganggap hal tersebut adalah merupakan hak suami.

Seorang wanita tidak memiliki hak terhadap anak-nya baik dalam posisinya sebagai seorang istri, ataupun dalam posisi dia tidak tergantung pada suaminya. Dalam urusan rumah tangga ia tidak memiliki hak istimewa. Bahkan dalam agama dia tidak memiliki status. Dalam ikatan sipiritual-pun wanita tidak memiliki bagian. Sebagai konsekuensinya, para suami terbiasa menghamburkan harta istri-istri mereka dan meninggalkan mereka tanpa memberikan sedikitpun untuk keperluan istrinya. Si Istri, tidak dapat, walaupun itu harta mereka sendiri, memberikan sebagai sumbangan

atau untuk menolong kerabatnya, tanpa persetujuan suaminya, dan suami yang serakah tidak akan memberikan ijin untuk hal tersebut.

Mengenai harta milik orangtua seorang wanita, dimana ada ikatan kasih sayang yang dalam, wanitapun tidak memiliki bagian. Dan anak-anak perempuan memiliki hak yang sama atas orangtuanya sebagaimana anak lakilaki. Orangtua yang memiliki rasa keadilan, selama hidupnya akan memberikan sebagian hartanya kepada anak-anak perempuan mereka, dan menyisakan hanya untuk nafkah keluarga mereka. Hal ini tidak berlaku untuk anak laki-laki, karena setelah kematian orangtua, mereka akan mewarisi seluruh harta (dan karenanya seharusnya tidak boleh berkeberatan apabila saudara perempuan mereka menerima pemberian dari orangtua mereka); yang menjadi pertimbangan mereka adalah, saudara perempuan mereka pada saat itu memiliki lebih banyak dari mereka. Mengenai harta suaminya, dimana seorang istri memiliki hubungan yang total, wanita juga tidak memiliki hak. Kerabat jauh dari suami dapat meminta bagian, namun tidak seorang istri. Seorang istri, sebenarnya, adalah orang yang menjaga harga diri suami, seorang pasangan hidup, yang pengabdian dan kasih sayangnya tentunya sangat berkontribusi terhadap pendapatan seorang suami. Disisi lain, disaat seorang istri mengelola harta suaminya, dia tidak memiliki hak dan bagian sedikitpun dari harta tersebut. Bila seorang istri dapat membelanjakan pendapatan dari harta tersebut, ia tetap tidak boleh mengatur bagiannya. Dalam hal untuk sedekah, karenanya, ia tidak diperbolehkan untuk menentukan sesuai keinginannya.

Apabila suami berlaku kejam terhadap istrinya, ia tidak dapat berpisah dari suaminya. Pada masyarakat dimana perpisahan dimungkinkan, adalah pada kondisi dimana wanita yang menghargai diri sendiri memilih kematian sebagai cara perpisahan. Sebagai contoh, sebuah perpisahan harus memberikan bukti kesalahan dari salah satu pihak, termasuk juga bukti perlakuan buruk dari suami. Lebih buruk lagi, pada kasus-kasus demikian, dimana pihak istri sudah tidak mungkin lagi hidup dengan suaminya, ia tetap tidak dapat berpisah dari suaminya, namun ia hanya diijinkan untuk tinggal terpisah, yang merupakan salah satu bentuk penyiksaan juga, karena dengan demikian ia dipaksa untuk menjalani kehidupan yang kosong dan tidak

memiliki tujuan.

Pada beberapa kasus terjadi dimana suami dapat menceraikan istrinya kapanpun ia suka, sementara seorang istri tidak dimungkinkan untuk meminta cerai. Apabila seorang suami meninggalkan istri, atau meninggalkan negaranya tanpa memberi tunjangan, istri wajib untuk tetap menjalani kehidupan tanpa hak untuk mengabdikan dirinya pada negara atau masyarakat. Kehidupan perkawinan, alih-alih memberikan suatu kebahagian, malah menjadi kehidupan yang penuh penderitaan untuk seorang istri. Kewajiban istri tidak hanya melaksanakan kewajiban suami dan dirinya namun ia juga wajib untuk menunggu suaminya. Kewajiban suami, sebutlah untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab istri, belum lagi kewajibannya sendiri untuk mengasuh dan membesarkan anakanaknya. Beban mental disatu sisi, dan kewajiban menyediakan materi di sisi lain.

Semuanya ini, singkat kata, ditoleransi dalam kasus yang melibatkan mahluk malang dan tidak dilindungi ini. Wanita dipukuli, dan dianggap sebagai properti suami. Ketika suami meninggal, jandanya dipaksa untuk menikah dengan kerabat suaminya atau dijual untuk mendapatkan uang. Kenyataanya, para suami sendiri juga menjual istrinya. Pangeran bangsa India seperti Panawas kehilangan istri mereka di meja judi dan untuk melawan hukum kepemilikan tanah, seorang Puteri terhormat seperti Drupadi, tidak dapat sedikitpun bersuara.

Dalam hal pendidikan anak-anak, para ibu tidak diajak diskusi dan mereka tidak memiliki hak terhadap anak-anak mereka. Apabila ayah dan ibu berpisah, anak-anak diserahkan kepada ayah. Wanita tidak memiliki hak apapun terhadap rumah tangga. Kapanpun suami menghendaki, ia dapat melempar istrinya dari rumah dan hingga mesti terlunta-lunta tanpa tempat berteduh.

III

Kedatangan Rasulullah Saw. menghapuskan seluruh kebiadaban ini dengan

satu sapuan. Beliau menyatakan bahwa Tuhan telah mempercayakan kepadanya tugas untuk menjaga hak-hak wanita.

Beliau menyatakan dengan nama Allah bahwa sebagai manusia pria dan wanita adalah sama, dan pada saat mereka hidup bersama, sebagaimana lakilaki memiliki hak-hak tertentu terhadap wanita, demikian pula sebaliknya, wanita memiliki hak-hak tertentu terhadap laki-laki. Wanita dapat memiliki hak terhadap hartanya sebagaimana laki-laki. Seorang suami tidak memiliki hak untuk menggunakan harta istrinya, selama si istri, dengan kehendaknya sendiri, tidak memberi ijin. Untuk mengambil paksa hak miliknya ataupun dimana wanita malu untuk menunjukkan penolakannya, adalah salah. Apapun yang diberikan oleh suami dengan ikhlas, akan menjadi hak istri dan suami tidak boleh mengambilnya lagi. Ia juga berhak mewarisi harta orangtuanya sebagaimana saudara lelakinya. Namun dengan menimbang bahwa kewajiban menanggung keluarga adalah pada laki-laki, dan wanita dianggap hanya perlu menanggung dirinya sendiri, maka bagiannya adalah separuh dari bagian lakilaki, dari seluruh harta orang tua mereka yang meninggal.

Sama halnya, seorang ibu juga berhak mewarisi harta dari anak laki-lakinya yang meninggal sebagaimana juga ayah anak laki-laki tersebut. Namun mengingat situasi yang berbeda2 dan tanggungjawab yang ia emban dalam kasus-kasus tertentu, bagiannya bisa sama bisa juga kurang dari bagian ayahnya. Apabila suaminya meninggal istri berhak mendapat warisan, baik ia memiliki atau tidak memiliki anak, karena ia dianggap tidak tergantung dengan hal lainnya.

Pernikahannya (sudah dianggap lazim) adalah, tanpa ragu lagi, merupakan ikatan suci, dimana, setelah suami istri menikmati keintiman yang paling dalam, sehingga perpisahan suami istri adalah suatu hal yang sangat dibenci. Namun bagaimanapun, separah apapun perbedaan diantara duabelah pihak, dalam masalah agama, fisik, ekonomi, sosial ataupun mental, mereka haruslah memiliki komitmen kuat untuk mempertahankan keutuhan perkawinan mereka, dan tidak boleh menghancurkan hidup mereka dan menghancurkan tujuan keberadaan mereka.

Apabila perbedaan ini muncul, dan suami dan istri sepakat bahwa mereka tidak dapat hidup bersama, mereka (telah diajarkan) dapat dengan persetujuan bersama mengakhiri kebersamaan. Namun apabila hanya suami yang memiliki pandangan ini dan istri tidak, dan mereka gagal untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain, urusan ini haruslah di bantu oleh dua orang hakam, yang satu mewakili suami dan yang satu mewakili istri. Apabila hakam ini memutuskan bahwa kedua belah pihak harus berupaya untuk tetap hidup bersama, maka sebaiknya masing-masing pihak berusaha menyelesaikan masalah sesuai dengan rekomendasi hakam. Apabila kesepakatan tidak dapat dicapai, suami dapat menceraikan istri, namun dalam kasus ini, ia tidak memiliki hak untuk mengambil kembali apapun yang telah ia (sebelum bercerai) berikan kepada istrinya, termasuk seluruh mas kawin (mahar).

Apabila di lain pihak istri yang menginginkan perpisahan dan bukan sang suami, istri harus mengajukan permohonan kepada hakim, dan apabila hakim telah yakin bahwa tidak ada motif buruk dari permohonan tersebut maka hakim dapat memutuskan perpisahan. Hanya pada kasus tertentu saja istri harus mengembalikan kepada suaminya, harta yang telah diberikan kepadanya, termasuk mahar/mas kawin. Apabila suami gagal untuk memenuhi kewajibannya dalam perkawinan, atau tidak mau berbicara lagi dengan istrinya atau ia meminta istrinya untuk pisah ranjang, ia tidak boleh melebihi batas waktu tertentu. Dalam waktu empat bulan setelah perlakuan tersebut ia harus menyatakan apakah akan mempertahankan perkawinannya atau menceraikan istrinya.

Apabila suami menghentikan nafkah kepada istrinya atau meninggalkannya, atau tidak lagi mengurus istrinya, maka perkawinan tersebut dapat dibatalkan. (Tiga tahun telah ditetapkan sebagai batas meninggalkan istri oleh para hakim muslim). Istri kemudian bebas untuk menikah lagi.

Suami harus bertanggungjawab terhadap pemeliharaan istri dan anakanaknya. Ia hanya boleh menerapkan disiplin yang sewajarnya, namun apabila untuk mendisiplinkan ini harus memberikan hukuman, ia harus memiliki saksi yang cukup dan mengungkapkan kesalahan istrinya dan

mendasarkan penilaiannya pada bukti-bukti. Hukuman tersebut tidak boleh meninggalkan cacat yang menetap. Seorang suami tidak memiliki istrinya sebagai properti. Ia tidak boleh menjualnya, atau memaksanya dalam pekerjaan rumah tangga. Istri berbagi segala hal dalam rumah tangga, dan perlakuan suami terhadap istri akan menunjukkan posisi dimana ia berada. Sebuah perlakuan yang lebih rendah daripada yang seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki dengan status suami adalah tidak benar.

Pada saat suaminya meninggal, keluarganya tidak memiliki hak terhadap istri. Istri boleh bebas dan apabila ada kesempatan maka ia memiliki hak untuk menikah lagi. Tidak seorangpun boleh menghalanginya. Seorang janda juga tidak harus ditempatkan ditempat tertentu. Ia boleh tinggal di rumah suaminya selama empat bulan sepuluh hari sampai semua hak istri dan hak keluarganya telah selesai diurus.

Setahun setelah kematian suaminya seorang janda, apapun yang terjadi padanya, adalah berhak untuk menggunakan rumah suaminya, sehingga ia dapat menggunakan apa yang tertinggal untuk kebutuhannya dan ia memiliki tempat tinggal.

Apabila suami cekcok dengan istrinya maka suami yang harus meninggalkan rumah, dan tidak boleh meminta istrinya untuk keluar, karena rumah menjadi hak istri. Dalam hal pengurusan anak-anak, wanita memiliki hak dan kewajibannya. Ia harus dilibatkan.

Dalam persoalan anak-anaknya, wanita tidak boleh diabaikan dalam hal apapun. Perihal menyusui, pengasuhan adalah tergantung pada pendapatnya. Apabila suami dan istri merasa tidak mungkin lagi untuk hidup bersama, dan menginginkan untuk berpisah, maka pengasuhan anak yang masih kecil harus diserahkan kepada sang ibu. Pada saat anak-anak dewasa, untuk tujuan pendidikan, anak boleh kembali kepada ayahnya. Selama anakanak tinggal dengan ibunya, maka pemeliharaan harus disediakan oleh ayah.

Ayah juga harus membayar waktu dan upaya yang dikeluarkan si ibu dalam mengurus anak-anaknya.

Singkatnya, wanita memiliki status independen. Pahala spiritual juga terbuka untuknya. Ia juga dapat mencapai kemuliaan tertinggi dalam kehidupan akhirat, dan dalam kehidupan dunia ia dapat berperan serta dalam berbagai urusan kemasyarakatan. Dalam hal ini ia memiliki hak untuk diperlakukan sama dengan laki-laki.

IV

Inilah ajaran dari Rasulullah Saw. yang disebarkan pada saat standar perlakuan di seluruh dunia adalah kebalikannya. Melalui perintahnya, beliau membebaskan wanita dari perbudakan yang telah menjadi satu dengan kehidupan mereka selama ribuan tahun, dimana mereka dipaksa menerimanya di berbagai belahan dunia, belum lagi tekanan dari berbagai agama terhadap wanita. Seorang laki-laki dalam satu masa, menghapus seluruh rantai perbudakan ini! Membawa kebebasan bagi para ibu, dan beliau pada saat yang sama membebaskan anak-anak dari sentimen perbudakan dan menyemaikan dan memupuk ambisi dan harga diri yang tinggi.

Namun demikian, dunia tidak menghargai nilai ajaran tersebut. Apa yang dianggap sebagai keuntungan diberi label sebagai tirani. Perceraian dan perpisahan dianggap sebagai masalah, warisan dianggap menghancurkan keluarga, independensi seorang wanita dianggap sebagai penghancuran kehidupan rumah tangga. Selama seribu tiga ratus tahun, hal tersebut terus dipraktikkan secara membabi buta, padahal apa yang disampaikan Rasulullah adalah untuk kebaikan umat manusia. Berlanjut dengan hujatan terhadap ajarannya yang menyatakan bahwa ajaran tersebut bertentangan dengan fitrah manusia. Lalu tiba satu masa dimana kalimat Tuhan (yang disampaikan melalui rasulnya) kemudian menjadi nyata. Orang-orang yang menganggap dirinya beradab, mulai mematuhi ajaran Rasulullah. Semua orang, kemudian mulai mengubah aturan mereka untuk menyesuaikan dengan ajaran Rasulullah.

Undang-undang di Inggris, yang mempersyaratkan adanya perlakuan buruk

dan sewenang-wenang, dan kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada salah satu pihak sebagai syarat perceraian, diubah pada tahun 1923. Perlakuan buruk sudah cukup memenuhi syarat perceraian pada undang-undang yang baru.

Selandia Baru memutuskan, pada tahun 1912, bahwa bila seorang istri tidak waras selama tujuh tahun, perkawinannya dapat dibatalkan. Pada tahun 1925, lebih lanjut diatur bahwa apabila suami atau istri tidak dapat memenuhi kewajiban perkawinan mereka, maka mereka boleh bercerai atau berpisah. Apabila dalam waktu tiga tahun suami istri tidak memperdulikan satu sama lain, maka cerai dijatuhkan. Suatu peniruan yang bagus terhadap hukum Islam, tentunya, namun baru dibuat setelah 1.300 tahun penyerangan terhadap ajaran Islam.

Di Negara bagian Australia, Queensland, ketidakwarasan selama lima tahun, dianggap cukup sebagai alasan untuk bercerai. Di Tasmania, sebuah undangundang yang diberlakukan pada tahun 1919, yang mengatakan bahwa perlakuan buruk, meninggalkan selama empat tahun, kebiasaan mabuk, dan pengacuhan selama tiga tahun, masuk penjara, pemukulan, ketidak warasan, harus, baik salah satu maupun seluruhnya cukup menjadi alasan untuk bercerai. Di Victoria, undang-undang yang diberlakukan tahun 1923 menyatakan bahwa apabila seorang suami tidak mengurus istrinya selama tiga tahun, atau berlaku buruk, atau tidak memberi nafkah, menganiaya istrinya, maka perceraian dimungkinkan. Selanjutnya diatur bahwa apabila masuk penjara, pemukulan, perilaku buruk dari pihak istri, ketidakwarasan, perlakuan sewenang-wenang dan percekcokan terus menerus cukup menjadi alasan untuk perceraian atau perpisahan.

Di bagian barat Australia, selain undang-undang yang mengatur hal tersebut diatas, pernikahan seorang wanita yang dalam keadaan mengandung juga dinyatakan tidak sah atau batal (Islam juga memiliki pandangan yang sama)

Di Kuba, telah diputuskan pada tahun 1918 bahwa perilaku buruk, pemukulan, mencaci maki, berada dalam pemeriksaan polisi, kebiasaan mabuk, kebiasaan berjudi, tidak dapat memenuhi kewajiban, tidak menafkahi, penyakit menular

atau kesepakatan bersama, dapat diterima sebagai syarat perceraian atau perpisahan.

Italy menyatakan pada tahun 1919 bahwa wanita harus memilik hak atas hartanya. Ia dapat memberikannya sebagai sumbangan atau menjualnya apabila ia menghendaki. (hingga saat ini di Eropa, wanita tidak diakui sebagai pemilik dari hartanya sendiri)

Di Mexico juga, kondisi sebagaimana diatas dianggap cukup sebagai syarat untuk bercerai. Disamping itu, kesepakatan bersama juga dianggap cukup. Hukum ini diberlakukan tahun 1917. Portugal memberlakukan tahun 1915, Norwegia 1909, Swedia 1920, dan Swiss pada tahun 1912 telah memberlakukan undang-undang yang mengijinkan perceraian dan perpisahan. Di Swedia, hukum mengharuskan ayah untuk menunjang kebutuhan hidup anaknya sampai dengan usia delapan belas tahun.

Di Amerika walaupun undang-undang mengharuskan untuk menjaga hak ayah terhadap anaknya, namun pada praktiknya, hakim mulai memperhatikan faktor kelemahan dari pihak ibu, dan sekarang ayah wajib untuk menafkahi anaknya yang tinggal dengan ibunya. Tentu saja terdapat banyak kekurangan dalam hukum mereka. Walaupun hak laki-laki dijaga, namun wanita juga diijinkan untuk memiliki hak terhadap hartanya. Pada saat bersamaan, di banyak negara bagian, diatur apabila suami mengalami cacat tetap, maka istri harus menunjang kebutuhan hidup suami.

Wanita sekarang memiliki hak untuk memilih, dan jalan telah terbuka dimana mereka dapat memberikan suara terhadap kepentingan nasional. Namun demikian, semua ini terjadi 1300 tahun setelah Rasulullah Saw. menyebarkan ajarannya. Banyak hal yang masih menunggu untuk terjadi. Di beberapa negara, wanita masih tetap tidak memiliki bagian dari warisan orang tua atau suaminya. Demikian juga dalam beberapa masalah lainnya, Islam terus memberikan pedoman kepada seluruh dunia, walaupun dunia belum mengakui hal tersebut. Dalam waktu yang tidak lama lagi, bagaimanapun juga, dunia akan menerima tuntunan dari Rasulullah saw mengenai hal ini, sebagaimana juga mengenai hal lainnya, hal mana Rasulullah telah memulainya atas nama

kebebasan bagi wanita akan segera membuahkan hasil.

Terjemah: Damayanti Natalia Sumber: http://www.alislam.org/library/books/Muhammad-the-liberator-ofwomen.html IKUTI ARTIKEL TERBARU MELALUI EMAIL! Jangan lupa setelah subscribe, klik link verifikasi di email Anda
Enter Your Email Address...

Subscribe

About Author Blog pribadi seorang Muslim Ahmadiyah yang ingin sharing tentang khazanah-khazanah keislaman. Semoga bermanfaat. Dikelola atas inisiatif pribadi tidak mengatasnamakan resmi dari AHMADIYAH INDONESIA. 4 comments:

1. RINI YUSTIRA23 September 2013 16:29 This comment has been removed by the author. Reply

2. RINI YUSTIRA23 September 2013 16:31 This comment has been removed by the author. Reply

3. RINI YUSTIRA23 September 2013 16:32 Setelah saya membaca artikel yang anda posting diatas, saya sangat setuju mengenai apa yang telah dipaparkan dalam artikel tersebut. Namun jangan sampai melupakan bahwa dalam penerapan emansipasi pada dewasa ini, dapat terlihat 2 segi : 1. Segi Positif : yaitu dalam penerapannya mempunyai sasaran yang tepat dan terarah sesuai dengan peraturan agama dan moral yang berlaku. 2. Segi Negatif : yaitu kesalahan penerapan dalam praktik atau pola kehidupan yang tidak sesuai dengan akal sehat yang tentunya tidak dibenarkan oleh agama. Karena pengertian emansipasi itu bervariasi, masing-masing kelompok wanita atau individu mereka punya pandangan dari sudut kepentingan yang berbedabeda. Sebenarnya, emansipasi itu tidak sekedar persamaan hak atau kewajiban dengan kaum pria dalam arti kata yang sempit, akan tetapi harus ada batasbatas yang justru diikuti dan disetujui oleh fitrah wanita itu sendiri. Sedang

banyak kaum wanita memaksakan pengertian emansipasi sebagai persamaan hak dan kewajiban tanpa batas, justru merugikan derajat dan harkat wanita itu sendiri. Di sinilah pentingnya dakwah Islam itu, agar bisa terarah. Reply

4. busana muslim14 October 2013 10:42 ikut promo ya say :) mencari info tentang resep masakan dan lain-lain? kunjungi web kita yaaa http://resepbundapintar.com/ dijamin komplit dah :D Reply Older Post Artikel Terbaru

RASULULLAH saw dan EMANSIPASI WANITA Perjuangan Membangun Islam oleh Ahmadiyah

Tinjauan 100 tahun Khilafah Ahmadiyah

Tingkat Keyakinan dan Kepastian Kepada Tuhan

AL-QUR'AN Sebagai Keajaiban Rasulullah saw

Kejujuran, Bukti Kebenaran Muhammad Rasulullah saw KONSEP JIHAD DALAM ISLAM

Popular Posts

KONSEP JIHAD DALAM ISLAM

Makna Shalat Berjamaah

TOLERANSI DALAM ISLAM dan KEBEBASAN BERAGAMA


Dalil-Dalil Al-Qur'an Tentang ADANYA TUHAN KETINGGIAN AKHLAK RASULULLAH SAW.

Hukuman Bagi yang Murtad Dalam Islam

Jika Islam Agama Damai, Mengapa Ada Perang Dalam Islam?? 645161

Perpustakaan Online ARH Ahmadiyah Indonesia

Nabi Muhammad Rasulullah

Ajaran Islam

Ahmadiyah News Artikel Agama Islam AGAMA ISLAM Tentang Islam Ahmadiyah News

Khalifah Ahmadiyah Pembawa Perdamaian

Love for All Hatred for None, Moto Damai Ahmadiyah

Masjid Ahmadiyah Terbesar di BC diresmikan 18 Mei 2013 (Video)

Sambutan Untuk Sang Khalifah (The Wall Street Journal)

Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah Thailand ke-12 About Me islam indah View my complete profile

Template images by PIXEL OPLOSAN. Powered by BLOGGER.

Bahasa Permainan dalam Pengajaran dan Pembelajaran ' Lihat jurnal artikel. Ini artikel dari jurnal Dipetik melaksanakan ditulis oleh Siti Binti Haji Abdul Aziz , yang merupakan Pensyarah Jabatan Bahasa Melayu Bahasa Melayu Pengajaran Institut Bahasa Antarabangsa. Pada pendapat , berdasarkan gelaran yang diberikan oleh penulis adalah menulis satu artikel khusus untuk guru pelatih yang sedang menuntut di Institut Pendidikan Guru Malaysia dan guru bahasa Melayu yang sedang mengajar di sekolah untuk guru-guru sedar bahawa salah satu daripada permainan mereka adalah teknik yang sesuai untuk semua peringkat bahasa belajar dari sekolah rendah ke peringkat sekolah menengah.

Secara keseluruhan, akhbar tentang permainan keupayaan mereka dalam pembelajaran melalui permainan. Penulis juga hujah-hujah dengan melihat kesan-kesan yang diperolehi pendidik mengamalkan permainan yang mengajar bahasa Melayu. Hujah-hujah yang juga disokong oleh contohcontoh permainan bahasa yang diberikan oleh penulis pada akhir tahun ini menulis jurnal artikel. Selain itu, warna yang jelas prosiding oleh pengarang objektif permainan dalam pengajaran bahasa, unsur-unsur dalam permainan mereka, permainan pengurusan , bahasa, interaksi dalam bentuk permainan bahasa , permainan ini mempunyai bahasa dan cara-cara menjalankan permainan mereka. Dalam mengintegrasikan permainan dalam pengajaran , penulis telah menggariskan beberapa objektif selaras dengan aspirasi Falsafah Pendidikan . Antara mereka, mereka boleh terus merangsang interaksi pelajar. Di samping itu, permainan bahasa boleh meningkatkan a ' kefasihan dan keyakinan apabila berinteraksi . Selain daripada , menyediakan konteks yang berguna untuk pembelajaran di dalam kelas. Di samping itu, permainan bahasa sebagai alat untuk sekerap berasa letih semasa proses pengajaran dan pembelajaran . Permainan bahasa juga boleh digunakan sebagai alat untuk pemulihan , pengukuhan dan pengayaan. Walau bagaimanapun , aspek yang paling ketara saya dari membaca artikel kelebihan menggunakan permainan sebagai satu teknik pengajaran. Sebagai seorang guru, saya perlu bersedia untuk pelbagai Teknik yang tidak menghadapi sebarang masalah semasa mengajar keluar kemudian mengajar. Menurut penulis lain , dengan menggunakan permainan sebagai satu teknik pengajaran dan pembelajaran bahasa bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan. Permainan bahasa adalah jenis bahasa aktiviti pembelajaran adalah sangat popular dan sangat berkesan (Koh Boh Boon, 1990). Permainan bahasa aktiviti yang berbeza dan mempesonakan. Guru boleh menggunakan Teknik dalam permainan sebagai satu cara untuk membawa para pelajar dengan pembelajaran yang positif. Salah satu kelebihan adalah permainan mereka yang dinyatakan oleh penulis dalam artikel mereka , permainan ini membolehkan pelajar untuk membiasakan diri menyebut satu perkataan satu perkataan , atau frasa. Langit ,

tambahan yang betul dan tepat, mereka juga boleh dilatih untuk mengatakan sebutan ayat, tekanan intonasi , tidur dan gaya yang betul. Melalui kaedah ini, pelajar mungkin tidak sedar bahawa mereka telah mendapat kemahiran bahasa yang baik kerana pelajar tidak tahu adalah bahawa mereka perlu mengamalkan kemahiran mereka dalam cara-cara lain yang menarik, permainan berakhir . Di samping itu, permainan bahasa juga boleh berfungsi sebagai rangsangan untuk menarik minat dan perhatian salah seorang pelajar pada permulaan pelajaran, di tengah-tengah atau akhir pelajaran. Sebagai contoh, permainan ini adalah sangat berkesan dalam tanda tinggi air pada sebelah petang apabila pelajar mula berasa mengantuk, cuaca semakin panas dan beberapa merasa dahaga dan lapar , tidak langsung ke dalam permainan yang boleh menumpukan perhatian untuk memberi tumpuan pada pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas. Saya juga mempunyai cara untuk melibatkan diri dalam keseronokan pembelajaran aktif. Permainan bahasa juga mempunyai kelebihan semakan dan Teknik penyatuan. Aktiviti perjudian amat berguna untuk pelajar bahasa di semua peringkat kerana aktiviti ini memberi peluang kepada pelajar untuk mengingat pelajaran yang berhubungan dengan negeri ini apabila mereka bermain . Bermakna bahawa pelajar belajar dengan berulang Tinggal sehingga ingatan jangka panjang pelajar. Teknik semakan boleh membantu pelajar untuk memperbaiki kandungan pelajaran. Ini bahasa permainan adalah cara yang lebih baik untuk meminta pelajar untuk membaca buku dan lemah. Di samping itu, permainan ini juga mempunyai kelebihan masa yang diperuntukkan untuk bermain aktiviti-aktiviti mereka dianggap sebagai masa Leisure membantu. Permainan bahasa adalah pengajaran dan pembelajaran teknik yang baik yang boleh digunakan oleh guru-guru kepada pelajar-pelajar untuk menjadi sangat buruk dalam suasana bilik darjah pembelajaran. Bahasa juga boleh membuat permainan yang komunikasi positif di dalam kelas serta mengukuhkan hubungan dan kerjasama antara pelajar, guru-guru dan pelajarpelajar lain untuk murid tertentu untuk murid malu dan pasif di dalam kelas. Permainan bahasa hadiah juga dapat dilihat bahawa pelajar mempunyai peluang untuk menggunakan kemahiran mereka kepada mereka pada musim

panas ini keadaan sebenar dan berguna. Perkara ini adalah jelas bahawa para pelajar akan bertindak balas secara spontan dengan bertanya, memberikan arahan, meramalkan dan membaca aktiviti dalam permainan mereka. Fun untuk bermain kerana ia akan dihidupkan dan berkembang faedah bagi pelajar untuk belajar, berkongsi idea dan untuk berfikir secara berkesan . Oleh itu, guru mestilah cukup sensitif untuk menyediakan aktiviti-aktiviti yang mencabar dalam permainan mereka tetapi sesuai dengan kemampuan dan keupayaan pelajar yang akan diajar oleh guru objektif yang diperlukan dipenuhi. Berdasarkan kesusasteraan yang telah ditulis boleh dilakukan jika bahasa teknikal yang digunakan oleh guru-guru bermain dalam Meningkatkan Pembelajaran dan pengajaran di sekolah. Pembelajaran bahasa teknik permainan memang sangat menarik dan sesuai untuk digunakan kerana ia adalah salah satu cara untuk kita mempelbagaikan kaedah pengajaran . Di samping itu, teknik ini telah terbukti permainan mereka menarik pelajar kerana mereka boleh mengkis kebosanan. Untuk berbuat demikian , artikel ini memberikan input dan membantu saya dalam merancang dan menganjurkan aktiviti-aktiviti permainan dalam pengajaran dan pembelajaran kolej. Bayang-bayang. Dalam pelaksanaan ini tugasan ini , saya rasa tekanan perasan saya dan ahliahli kumpulan dalam proses mencari bahan. Mana-mana sekurang-kurangnya , saya mendapati rakan-rakan lain berjaya menemui beberapa pengetahuan untuk menyelesaikan tugas yang telah berjaya. Selepas mencari letih bahan bacaan kita akhirnya menguruskan untuk mencari bahan yang anda mahu kami untuk dibaca. Di sini, saya percaya bahawa guru-guru perlu bersabar untuk tempoh yang lama jika anda mahu untuk mencapai kejayaan. Semasa Kursus kajian BMM 3117 dan Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Melayu, saya dapati perkara ini sangat berguna dan berkesan untuk perkara yang berkaitan dengan pelbagai strategi , pendekatan , kaedah dan Teknik dalam pengajaran Malay metodologi. Sebagai guru musim ini , saya perlu tahu tentang strategi yang berkaitan, pendekatan, kaedah dan Teknik pengajaran dalam pelajaran , saya akan membuka guru menarik dan berkesan kelas pada masa hadapan. Di samping itu, melalui subjek ini , saya menyedari

sepenuhnya bahawa untuk memastikan kandungan pengajaran kepada keputusan saya , saya perlu memilih strategi, pendekatan , kaedah dan Teknik yang sesuai untuk pengajaran dan pembelajaran yang terbuka dengan lancar. Pada mulanya, saya fikir subjek Kaedah Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Melayu sebagai subjek yang perlu saya tahu dan menghafal kandungan sahaja. Tetapi saya terlepas semua ternyata dalam tanggapan bahawa subjek mungkin memerlukan saya dan rakan-rakan mendapati setiap pelan pengajaran akan dibentangkan dan Gunaan sesi pengajaran mikro dalam bilik darjah. Selain daripada itu , saya menyedari sepenuhnya bahawa perkara ini adalah satu perkara yang sangat penting dan seronok untuk dilakukan. Sebagai contoh, aktiviti-aktiviti setiap micro - pengajaran dijalankan di dalam kelas sangat menarik dan masa yang paling dalam kelas , saya tidak merasa tertekan , tetapi saya juga terkejut kerana saya boleh menyanyi semua aktiviti yang berlaku. Selain itu, saya amat berpuas hati dengan prestasi mikro - mengajar mereka kerana saya berjaya mengatasi perasaan saya saraf di hadapan pegawai itu. Dalam akta ini tugasan , saya mendapati banyak perubahan positif berlaku kepada saya. Sebelum saya agak malas untuk membaca artikel-artikel jurnal yang diterbitkan di dalam majalah pendidikan, tetapi kali ini saya bersedia untuk membaca bahan Perjuangan dari jurnal dan laman web kerana saya akui saya agak kecewa dengan Pengajaran dan Pembelajaran Pensyarah Melayu saya , anak Encik Abu Zaki Romli kerana pensyarah dan sangat sensitif ke dalam. Di sini, saya ingin mengambil peluang untuk mengucapkan terima kasih kepada pensyarah saya yang telah membawa perubahan positif kepada saya. Kerana anda dan saya boleh belajar untuk menjadi seorang guru, saya menambah baik dan berguna pada masa hadapan. Kesimpulannya, saya , sebagai guru akan cuba yang terbaik dan mempunyai kemahiran untuk mentafsir dan Melayu Benamkan sukatan pelajaran supaya kita boleh membetulkan guru bahasa pintar , mampu , kreatif, bercita-cita tinggi , dihormati dan diingati oleh semua. Dengan mengkaji perkara ini , saya yakin yang saya boleh lakukan dalam aktiviti-aktiviti pembelajaran dan pengajaran dalam proses teratur kelas , membolehkan Sumbangan kepada

kejayaan hasrat kerajaan untuk membasmi buta huruf dan untuk menghasilkan pelajar pintar dengan izin Allah.

Rujukan Essam Hanna Wahba , mikro . Diakses melalui

exchanges.state.gov/englishteaching/forum/archieve/docs/99-37-4/pdf Gurney P. (2007). Lima faktor untuk pengajaran yang berkesan , New Zealand Jurnal Guru Kerja 1 (2): 89-98 Koh Boon Boh, (1990). Pengajaran Tatabahasa Bahasa Inggeris : Teknik dan prinsip. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Penerbit Pvt. Button. Marzukhi Nyak Abdullah, (1993). Teori pemerolehan bahasa , Oxford Journal: isu September 1993 : 839-845 Ananthakrishnan N ( 1993). Mikro Sebagai Latihan Guru kenderaan kelebihan dan kekurangan. Sharifah Nor putih, Aliza Ali, (2011). Bermain pendekatan dalam Bahasa pengajaran dan Pendidikan Literasi untuk prasekolah , Jurnal Pendidikan Bahasa Melayu 1 ( 2): 1-15 Siti Hj. Abdul Aziz (di dalamnya). Permainan Bahasa dalam Pengajaran dan Pembelajaran. IPBA Journal: Jilid 3 : tidak 3