Anda di halaman 1dari 6

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Temperatur Refrigerant Terhadap Energi Input Sebenarnya dalam sistem HVAC yang menjadi salah satu permasalahan utama adalah bagaimana membuat temperatur sesuai dengan karakteristik fluida kerja (refrigerant) agar tidak berdampak terhadap energi inputnya, dalam arti lain bagaimana menjalankan sistem tersebut sesuai dengan keinginan fluida kerjanya agar tercapai kerja yang optimal dengan dengan daya yang seminimalnya. Kajian temperatur fluida (refrigrant) tidak dapat dipisahkan terhadap daya input yang yang dihasilkan dalam operasional sistem HVAC. Temperatur evaporasi yang semakin meningkat akan menurunkan daya kompresor, hubungan ini secara teori adalah sah dalam proses siklus reversible untuk semua jenis refrigrant. Selain itu dalam siklus kompresi uap critical temperature (mendekati molar heat capacity) suatu refrigerant merupakan salah satu sifat termodinamika dasar yang mempengaruhi performansi refrigerant , suatu fluida dengan critical temperature yang rendah akan cendrung memiliki kapasitas volumetrik yang lebih tinggi dalam artian efek refrigrasi per specific volume akan menurun, hal ini disebabkan faktanya bahwa densitas uap (pada temperatur evaporasi tertentu) lebih rendah pada critical temperature yang tinggi. implikasinya adalah pada kompressor, laju aliran massa meningkat berpengaruh pada kerja kompresi dan akan berdampak pada penurunan COP, perbedaan critical temperature terhadap performasi refrigrant dapat dilihat pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Dampak critical temperature pada volumetric capacity dan COP.

Dalam siklus kompresi uap, kompresor berfungsi menaikkan tekanan refrigerant dari kondisi evaporasi ke kondisi kondensasi, temperatur disini harus sesuai dengan lingkungan atau warm region temperature. Suhu refrigrant menentukan tekanan hisap kompresor itu sendiri yang nantinya menentukan titik penyetelan evaporator refrigerant, sebagai contoh persyaratan proses refrigerasi adalah 15oC sehingga akan memerlukan fluida pendingin pada suhu yang rendah, namun pada kenyataanya kisaranya dapat bervariasi mulai dari 6oC sampai sekitar 10oC, suhu fluida pendingin yang bersuhu 10oC, suhu refrigeranya harus lebih rendah sekitar -5 hingga +5oC. Suhu refrigerant menentukan tekanan hisap, dimana nantinya akan menentukan kondisi masuk bagi kompresor refrigerant. Dengan demikian perbedaan suhu yang optimal dapat mencapai tekanan hisap tertinggi pada kompresor sehingga meminimalkan energi. Variasi suhu evaporator mempengaruhi konsumsi energi kompresor digambarkan pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Pengaruh Variasi Suhu Evaporator terhadap Konsumsi Energi Kompresor

Sumber: Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia

Selain itu kondisi kondensor juga merupakan hal yang perlu diperhatikan karena selain merupakan area perpindahan panas, kondensor juga mempengaruhi kapasitas refrigerasi dan kebutuhan konsumsi energi. Untuk berbagai jenis refrigerant, suhu kondensor dan tekanan kondensor tergantung pada area perpindahan panas pada kondensor tersebut, jika suhu pengembunan yang rendah maka kompresor harus bekerja antara perbedaan tekanan yang rendah pula dimana dicharge tekanan sebenarnya sudah terdesain oleh perancangan kondensor dan kinerja kondensor. Dalam banyak praktek pada sistem HVAC jika fluida pendinginya berupa air biasanay jenis kondensor yang digunakan adalah jenis shell and tube dan jika yang digunakan adalah refrigerant R22 maka dalam praktiknya tekanan pengembunan yang dicapai adalah 15 kg/cm2 dan jika digunakan refrigerant yang sama dengan fluida pendingin udara maka tekanan dischargernya sebesar 20 kg/cm2 hal demikian menunjukkan ada tambahan kerja kompresor sehingga energi

input akan bertambah. Varariasi suhu kondensor terhadap konsumsi energi kompresor digambarkan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Pengaruh Variasi Suhu Kondensor terhadap Konsumsi Energi Kompresor.

Sumber: Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia

Dari hal tersebut di atas kondisi temperatur outdoor sangat mempengaruhi pemakaian konsumsi listrik pada kompresor, karena secara carnot= , hal ini

mengindikasikan bahwa ketika temperatur kondensor naik maka maka COP akan turun karena hal ini juga mengindikasikan bahwa kerja kompresor naik seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pengaruh temperatur outdoor tehadap pemakaian konsumsi daya listrik dapat dicermati pada gambar 4.2 di bawah ini.

Gambar 4.2 Konsumsi daya Listrik and COP (EER) sebagai fungsi dari Outdoor Temperature pada R-22

Gambar 4.2 Konsumsi daya Listrik and COP (EER) sebagai fungsi dari Outdoor Temperature pada R410A Dari hal tersebut setiap refrigerant memiliki karakteristik tersendiri dan karakteristik tersebut yang akan menjadikan refigerant sebagai fluida kerja yang optimum dalam siklus refrigrasi. Untuk mencapai hal tersebut ada berbagai kondisi yang harus dicermati agar refrigerant menjadi suatu media kerja yang menguntungkan diantaranya adalah: Entalpi penguapan harus tinggi dan panas spesifik haruslah serendah mungkin, sehingga selama proses expansi uap akan sedikit uap yang diproduksi menjadi liquid dan kapasitas refrigerasi akan lebih tinggi. Temperatur yang berhubungan ke critical point harus lebih tinggi dari temperatur kondensasi yang mana tergantung warm region temperature . Titik pengembunan harus lebih rendah dari temperatur evaporasi minimum yang mana tergantung pada temperatur cold region. Volume spesifik uap harus serendah mungkin untuk meminimalkan ukuran kompresor dan sebaliknya untuk ukuran kompresor yang sesuai maka aliran volum diperlukan untuk menghindari diameter yang begitu kecil dan kecepatan yang tinggi. Tekanan operasi, yang dihubungkan dengan tekanan operasi harus menghindari terlalu seringnya diturunkan pada proses evaporasinya dan menghindari setting

terlalu tinggi pada proses kondensasi (tipikal nilai 0,1-0,2 Mpa untuk tekanan evaporasi dan 0,8 -2 Mpa untuk tekanan kondensasi). 4.2 Pengaruh Refrigerant terhadap Temperatur Beban Seperti halnya yang telah dijelaskan di atas setiap refrigerant memiliki karakteristik tersendiri. Prinsi dari suatu refrigerant, refrigerant merupakan fluida yang digunakan untuk mendinginkan lingkungan bersuhu rendah dan membuang panas ke lingkungan yang bersuhu tinggi. di bawah ini dapat dilihat karakteristik fisika dari beberapa refrigerant
Tabel 4.3 Tabel Karakteristik Fisika Beberapa Refrigerant

Tabel tersebut menunjukkan R-410A secara signifikan memiliki critical temperature lebih rendah dari R-22 dan refrigerant yang lain. Dengan alasan ini R-410 mempunyai tekanan evaporasi paling besar sehingga R-410 mempunyai kapasitas volumetrik paling tinggi, begitu juga dengan hal R-22, R-22 memiliki critical temperature cukup tinggi sehingga tidak menyebabkan kenaikan kapasitas volumetrik yang drastis sehingga nantinya dapat dengan mudah meningkatkan temperatur evaporasi sehingga efek refrigerasi yang dihasilkan juga besar. Selain itu perlu memperhatikan temperatur pengembunan dan temperatur penguapan dari refrigerant sehingga setting temperatur operasional dapat diseimbangkan dengan kelakuan refrigeranya.kedua parameter temperatur tersebut yang nantinya akan menjadi landasan daerah kerja refrigerant yang digunakan. Berikut ini adalah temperatur pengembunan dan penguapan refrigerant yaitu R-22 yang ditunjukkan pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Sifat Fisik refrigeran R-22

Pada refrigeran R-22 memiliki temperatur boiling sebesar -41,5oC, temperatur ini dikategorikan rendah, karena hal demikian refrigeran ini dikembangkan untuk aplikasi temperatur yang rendah, discharge temperature refrigeran ini juga sangat tinggi sehingga tingkat superheat dalam sistem yang menggunakan refrigeran ini harus seminimal mungkin dan rasio kompresi untuk sistem yang menggunakan refrigeran ini juga harus rendah. Karakteristik refrigeran sangat memepengaruhi performa dari refrigerant tersebut, adapun bebepara properties yang memepengaruhi performa refrigeran diantaranya adalah Density atau specific volume, semakin rendah densitas uap maka akan semakin pressure drop pada evaporator dan kondensor. Viscosity, semakin tinggi viskositas liquid akan menaikkan pressure drop di evaporator dan kondensor akibatnya tekanan hisap saluran kompresor menurun dan laju aliran massa juga menurun diikuti dengan penurunan kapasitas sistem,

sehinnga akan menurunkan kerja kompresor. Specific refrigerating effect, Specific refrigerating effect menentukan laju aliran massa yang diperlukan. Semakin besar Specific refrigerating effect maka laju aliran massa yang diperlukan akan kecil