Anda di halaman 1dari 11

Cuka Para (asam Formiat) Asam formiat atau asam metanoat yang juga dikenal sebagai asam semut

adalah senyawa organik yang mengandung gugus karboksil (-CO2H) dan merupakan bagian dari senyawa asam karboksilat. Asam formiat ini pertama kali diperoleh oleh ahli kimia pada abad pertengahan melalui proses penyulingan semut merah dengan rumus molekul HCOOH. Sifat dari asam formiat ini adalah mudah terbakar, tidak berwarna, berbau tajam/menusuk dan mempunyai sifat korosif yang cukup tinggi. Asam formiat ini mudah larut dalam air dan beberapa pelarut organik, tetapi sedikit larut dalam benzene, karbon tetraklorida dan toluene, serta tidak larut dalam dalam karbon alifatik. Asam formiat mempunyai bobot molekul 46,03 g/mol dan merupakan asam paling kuat dari deretan gugus asam karboksilat serta berfungsi sebagai reduktor. Asam formiat dalam keadaan murninya mempunyai titik leleh 8oC, titik didih 101oC, dan rapatan sebesar 1,2 g/ml pada suhu 20oC, secara ideal struktur karbonil senyawa asam formiat mencerminkan ikatan hydrogen yang kuat antara molekulmolekul asam karboksilat (kira-kira 10 kkal/mol untuk 2 ikatan hydrogen), maka asam karboksilat ini sering dijumpai dalam bentuk dimer asam karboksilat / bahkan dalam fasa uap (Fesenden & Fesenden, 1995). Pemakaian asam formiat didalam negeri terutama untuk : 1. Koagulasi Karet Alam Sebagai koagulan aid yang akan menghasilkan kualitas karet yang lebih baik. 2. Conditioner Pada Proses Pencelupan Tekstil Digunakan sebagai bahan kimia pembantu dalam proses pencelupan atau pewarnaan anti kusut dan anti ciut. 3. Conditioner Pada Proses Penyamakan Kulit Digunakan dalam proses pembersihan, penghilangan zat kapur dan pewarnaan kulit. 4. Silase Untuk pencampuran pada makanan ternak Dampak terminum cuka para: Merusak struktur kulit yang terkena Mulut terbakar Lidah tertelan atau menciut Faring, laring dan esophagus terkikis Edema glottis dalam beberapa menit Rusaknya mukosa saluran nafas Aspirasi cairan ke paru sehingga edema paru dan hemoragik Esophagus dan perut deskuamasi dan perforasi Bronkopneumonia Karena luka bakar menyebabkan dehidrasi, maka bisa terjadi syok, atau bisa juga terjadi syok neurogenik karena rasa sakit yang sangat. Dampak jika terpapar lama: Jika terpapar lama, maka reaksi yang terjadi akan semakin berat, dan semakin memperparah kondisi korban.

Depresi sistem syaraf pusat Luka pada mata Peradangan saluran pencernaan Kekeringan kulit Kerusakan saluran pernafasan

Mekanisme gejala klinis dari terminum cuka para: Asam dengan pH kurang dari 2 mempercepat proses nekrosis koagulasi yang disebabkan oleh protein. Asam kuat yang tertelan akan menyebabkan nekrosis menggumpal, secara histologik dinding esofagus sampai lapisan otot seolah-olah menggumpal, sehingga terjadilah esofagitis korosif. Gejala yang sering timbul adalah disfagia / kesulitan menelan, odinofagia dan adanya rasa sakit retrosternal Bagian inferior mulut bisa terkikis, lidah tertelan atau menciut tergantung bahan racunnya. Faring, laring dan esofagus terkikis dan dalam beberapa menit glotis akan edema. Mukosa saluran nafas bisa rusak dan terjadi aspirasi cairan ke paru sehingga terjadi edema paru dan hemoragik. Tumpahan racun keparu bisa menimbulkan edema paru dan bronkopneumonia akibatnya terjadi kematian. PENDAHULUAN Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah ruda paksa tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara. Merupakan salah satu

penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif, dan sebagian besar karena kecelakaan lalulintas. Adapun pembagian trauma kapitis adalah: Simple head injury Commotio cerebri Contusion cerebri Laceratio cerebri Basis cranii fracture Simple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera kepala ringan. Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera kepala berat. Pada penderita harus diperhatikan pernafasan, peredaran darah umum dan kesadaran, sehingga tindakan resusitasi, anmnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus dilakukan secara serentak. Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di Rumah Sakit.

MEKANISME DAN PATOLOGI Cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung atau tanpa benturan langsung pada kepala. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal atau difus dengan atau tanpa fraktur tulang tengkorak. Cedera fokal dapat menyebabkan memar otak, hematom epidural, subdural dan intraserebral. Cedera difus dapat mengakibatkan gangguan fungsi saja, yaitu gegar otak atau cedera struktural yang difus. Dari tempat benturan, gelombang kejut disebar ke seluruh arah. Gelombang ini mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar, akan terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan yang disebut coup atau ditempat yang berseberangan dengan benturan (contra coup)

PATOFISIOLOGI Gangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang dapat menyebabkan heniasi jaringan otak melalui foramen magnum, sehingga jaringan otak tersebut dapat mengalami iskhemi, nekrosis, atau perdarahan dan kemudian meninggal. Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa, yang terjadi karena berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena aliran darah ke otak yang menurun, misalnya akibat syok. Karena itu, pada cedera kepala harus dijamin bebasnya jalan nafas, gerakan nafas yang adekuat dan hemodinamik tidak terganggu sehingga oksigenisasi cukup.

GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis ditentukan berdasarkan derajat cedera dan lokasinya. Derajat cedera dapat dinilai menurut tingkat kesadarannya melalui system GCS, yakni metode EMV (Eyes, Verbal, Movement) 1. Kemampuan membuka kelopak mata (E) Secara spontan Atas perintah Rangsangan nyeri Tidak bereaksi 1 4 3 2

2. Kemampuan komunikasi (V) Orientasi baik Jawaban kacau Kata-kata tidak berarti Mengerang Tidak bersuara 1 3 2 5 4

3. Kemampuan motorik (M) Kemampuan menurut perintah Reaksi setempat Menghindar Fleksi abnormal Ekstensi Tidak bereaksi 1 6 5 4 3 2

PEMBAGIAN CEDERA KEPALA 1. Simple Head Injury Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan: Ada riwayat trauma kapitis Tidak pingsan Gejala sakit kepala dan pusing

Umumnya tidak memerlukan perawatan khusus, cukup diberi obat simptomatik dan cukup istirahat. 2. Commotio Cerebri Commotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan jaringan otak. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah dan tampak pucat. Vertigo dan muntah mungkin disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusatpusat dalam batang otak. Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia retrograde, yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya kecelakaan. Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman kejadian di lobus temporalis. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak, EEG, pemeriksaan memori. Terapi simptomatis,

perawatan selama 3-5 hari untuk observasi kemungkinan terjadinya komplikasi dan mobilisasi bertahap.

3. Contusio Cerebri Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata, meskipun neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus. Yang penting untuk terjadinya lesi contusion ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif. Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. Oleh karena itu, otak membentang batang otak terlalu kuat, sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis difus. Akibat blockade itu, otak tidak mendapat input aferen dan karena itu, kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung. Timbulnya lesi contusio di daerah coup , contrecoup, dan

intermediatemenimbulkan gejala deficit neurologik yang bisa berupa refleks babinsky yang positif dan kelumpuhan UMN. Setelah kesadaran puli kembali, si penderita biasanya

menunjukkan organic brain syndrome. Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas, autoregulasi pembuluh darah cerebral terganggu, sehingga terjadi vasoparalitis. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat, atau menjadi cepat dan lemah. Juga karena pusat vegetatif terlibat, maka rasa mual, muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul. Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Terapi dengan antiserebral edem, anti perdarahan, simptomatik, neurotropik dan perawatan 7-10 hari. 4. Laceratio Cerebri Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater. Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid traumatika, subdural akut dan intercerebral. Laceratio dapat dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung. Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka. Sedangkan

laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis. 5. Fracture Basis Cranii Fractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior, fossa media dan fossa posterior. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena. Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala: Hematom kacamata tanpa disertai subkonjungtival bleeding Epistaksis Rhinorrhoe

Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala: Hematom retroaurikuler, Ottorhoe Perdarahan dari telinga

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan X-foto basis kranii. Komplikasi : Gangguan pendengaran Parese N.VII perifer Meningitis purulenta akibat robeknya duramater

Fraktur basis kranii bisa disertai commotio ataupun contusio, jadi terapinya harus disesuaikan. Pemberian antibiotik dosis tinggi untuk mencegah infeksi. liquorrhoe yang berlangsung lebih dari 6 hari. Tindakan operatif bila adanya

Adapun pembagian cedera kepala lainnya: Cedera Kepala Ringan (CKR) termasuk didalamnya Laseratio dan Commotio Cerebri o o o o Skor GCS 13-15 Tidak ada kehilangan kesadaran, atau jika ada tidak lebih dari 10 menit Pasien mengeluh pusing, sakit kepala Ada muntah, ada amnesia retrogad dan tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologist. Cedera Kepala Sedang (CKS) o o o o Skor GCS 9-12 Ada pingsan lebih dari 10 menit Ada sakit kepala, muntah, kejang dan amnesia retrogad Pemeriksaan neurologis terdapat lelumpuhan saraf dan anggota gerak.

Cedera Kepala Berat (CKB) o o o o Skor GCS <8 Gejalnya serupa dengan CKS, hanya dalam tingkat yang lebih berat Terjadinya penurunan kesadaran secara progesif Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas.

Klasifikasi Cedera Kepala Mekanisme Cedera tumpul Cedera tembus Beratnya Ringan (GCS 13-15) Sedang (GCS 9-12) Berat (GCS 3-8) Morfologi Fraktur cranium Lesi intracranial Pendarahan epidural (fokal) Pendarahan subdural (fokal). Kontusio & pendarahan intraserebral (fokal) Biomekanika Akselerasi Jika benda bergerak membentur kepala yang diam, misalnya pada orang yang diam kemudian dipukul atau telempar batu. Deselerasi Jika kepala bergerak membentur benda yang diam, misalnya pada saat kepala terbentur. Deformitas Perubahan atau kerusakan pada bagian tubuh yang terjadi akibat trauma, misalnya adanya fraktur kepala, kompresi, ketegangan atau pemotongan pada jaringan otak. Merupakan jenis trauma deselerasi. Trauma ini terjadi pada tubuh yang bergerak (jatuh) dan tibatiba terhenti (dihentikan oleh tanah dan batu) bukan cedera yang parah ( diperjelas dengan pupil melebar dan refleks cahaya +) Bagian kepala yang mungkin terkena: Hemisfer kiri : merupakan pusat bicara orang yang dominansi tangan kanan dan 85% orang kidal. Lobus parietal : berfungsi sebagai pengaturan fungsi sensoris dan orientasi Lobus temporal : berfungsi mengatur memori tertentu serta penerima rangsang dan integrasi bicara Lobus oksipital : sebagai pusat penglihatan

Serebelum : Sebagai pengatur sistem koordinasi dan keseimbangan. Batang otak Mesensefalon : pusat kesadaran dan kewaspadaan Pons Medula oblongata : pusat pengaturan kardiorespiratorik.

Pada kasus ini terjadi trauma kapitis akibat cedera tumpul yang berkecepatan rendah. Trauma kapitis belum diketahui terdapat di klasifikasi yang mana jika digolongkan menurut berat & morfologinya. Pada kasus ini belum diketahui bagian kepala mana yang terbentur sehingga menyebabkan keluhankeluhan yang bermakna sehingga masih diperlukan pemeriksaan penunjang. Cedera Kepala Trauma kapitis adalah cedera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan yang kompleks di kulit kepala, tulang tempurung kepala, selaput otak dan jaringan otak itu sendiri. Jenis-jenis Trauma Kapitis: Simple Head Injury Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan:ada riwayat trauma kapitis,Tidak pingsan,Gejala sakit kepala dan pusing Commotio Cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan jaringan otak. Contusio Cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringany ang kasat mata, meskipun neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus. Laceratio Cerebri kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater. Fracture Basis Cranii Hematom Epidural Hematom subdural Perdarahan Intraserebral Oedema serebri

Interpretasi Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan Vital sign Jenis pemeriksaan Temperature HR Tekanan darah RR Temuan klinis dan nilai normal 37,0oC (36oC-37,5oC) 122 x/m (60-100) 130/90 mmHg (120/80 mmHg) 28 x/m (12-24) Interpretasi Normal Takikardia Prehipertensi (normotensi) Tachypnoe kompensasi

tubuh karena kekurangan suplai oksigen yang diakibatkan obstrusi jalan nafas Kimia darah Neurologis SpO2 98% (95%-99%) Disorientasi tempat dan waktu Normal Ada lesi pada bagian otak yang mengatur kognitif (lobus frontal mengalami cedera) Normal

Neurologis

Pemeriksaan pupil Reflex cahaya

Isokor diameter 3 mm Isokor kedua pupil sama besar, diameter pupil 3-5 mm +

Normal Adanya rangsangan simpatik terhadap kelenjar keringat Normal Adanya obstruksi pada laring Usaha kompensasi tubuh untuk meningkatkan O2 ke otak normal

Keseluruhan

Tubuh banyak mengeluarkan keringat (keringat dikeluarkan normalnya apabila metabolisme tubuh berlebihan atau adanya peningkatan suhu atau adanya rangsangan simpatik yang nyata) Auskultasi paru Ronchi - (normal tidak ada) Stridor inspirasi

Dada

Auskultasi jantung Abdomen

Ritme takikardi regular (normal 60-100 per menit reguler) Dalam batas normal

Management
Airway Nilai jalan nafas Look : gerakan dada; Listen : suara nafas ; Feel : ada udara Bebaskan jalan nafas Posisi : sniffing position Triple airway maneuver : head till, chin lift/jawtrust, open mouth bersihkan jalannafas Jika ada obstruksi edema laring : Pasang Intubasi Pertahankan jalan nafas Breathing Nilai Tindakan : Beri oksigen; Pakai bag-valve-mask; Check saturasi oksigen; Auskultasi paru Circulation

Nilai nadi dan tekanan darah IV line: D5% Dekontaminasi menurunkan pemaparan terhadap racun, mengurangi absorpsi dan mencegah kerusakan. pada kasus, induksi muntah dan kumbah lambung merupakan kontraindikasi pada keracunan zat korosif dan pasien yang tidak sadar. Jadi dekontaminasi gastrointestinal pada kasus dilakukan dengan tindakan bedah. Eliminasi Mempercepat pengeluaran racun yang sedang beredar dalam darah, atau dalam saluran GI setelah > 4 jam per oral/ enteral. Tindakan lain perlu dikonsulkan ke sPD karena kompetensi spesialistik berupa cara eliminasi racun yaitu: 1. diuresis paksa (forced diuresis) 2. alkalinisasi urin 3. asidifikasi urin 4. hemodialisis/ peritoneal dialisis Antidotum Antidotum untuk keracunan zat korosif asam kuat yaitu antasid, namun beberapa literatur lain mengkontraindikasikan upaya netralisasi. Beri antibiotik (cephalosporin) dan antiinflamasi Kortikosteroid iv selama 4-7 hari, diturunkan 10-20 hari

Management
Intoksikasi zat korosif Kortikosteroid intravena 4-7 hari dosis diturunkan 10-20 hari untuk mencegah striktura esophagus. Lakukan trakeostomi Antibiotika sebagai profilaksis infeksi. Bila lesi luas, perlu sonde lambung atau penderita dipuasakan dan diberi nutrisi parenteral total atau konsul bedah untuk pemasangan sonde lewat gastrotomi. Nutrisi : bubur alumunium hidroksida atau milk magnesia dengan susu atau putih telur yang sudah dikocok terlebih dahulu Cedera kepala Observasi ketat status kesadaran & pupil. Pemeriksaan Roentgen cranium & CT scan. Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40% atau gliserol 10%.cairan infus dextrosa 5%, aminofusin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak. Pertolongan Pertama Asam-asam korosif seperti asam sulfat (H2SO4), fluoroboric acid, hydrobromic acid 62%, hydrochloric acid 32%, hydrochloric acid fuming 37%, sulfur dioksida, dan lain-lain. Bila tertelan minum air sebanyaknya atau air susu Beri antibiotik dan antiinflamasi. Jangan diberi dengan karbonat atau soda kue

Jangan bilas lambung atau tindakan emesis Jangan pernah memberikan sesuatu melalui mulut kepada orang yang tak sadarkan diri. Dapatkan perawatan medis dengan segera.Teleponlah dokter atau hubungi pusat penanggulangan keracunan