Anda di halaman 1dari 9

Bab 3 Konsep Kebudayaan

1. Pengertian Kebudayaan Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber- sumber alam yang ada disekitarnya. Kebudayaan boleh dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Dalam definisi ini, kebudayaan dilhat sebagai "mekanisme kontrol" bagi kelakuan dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973a), atau sebagai "pola-pola bagi kelakuan manusia" (Keesing & Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972). Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh nilai-nilai moral, yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada pandangan hidup dan pada etos atau sistem etika yang dipunyai oleh setiap manusia (Geertz, 1973b). Kebudayaan yang telah menjadi sistem pengetahuannya, secara terus menerus dan setiap saat bila ada rangsangan, digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasi berbagai gejala, peristiwa, dan benda-benda yang ada dalam lingkungannya sehingga kebudayaan yang dipunyainya itu juga dipunyai oleh para warga masyarakat di mana dia hidup. Karena, dalam kehidupan sosialnya dan dalam kehidupan sosial warga masyarakat tersebut, selalu mewujudkan berbagai kelakuan dan hasil kelakuan yang harus saling mereka pahami agar keteraturan sosial dan kelangsungan hidup mereka sebagai makhluk sosial dapat tetap mereka pertahankan. Pemahaman ini dimungkinkan oleh adanya kesanggupan manusia untuk membaca dan memahami serta menginterpretasi secara tepat berbagai gejala dan peristiwa yang ada dalam lingkungan kehidupan mereka. Kesanggupan ini dimungkinkan oleh adanya kebudayaan yang berisikan model-model kognitif yang mempunyai peranan sebagai kerangka pegangan untuk pemahaman. Dan dengan kebudayaan ini, manusia mempunyai kesanggupan untuk mewujudkan kelakuan tertentu sesuai dengan rangsanganrangsangan yang ada atau yang sedang dihadapinya. Sebagai sebuah resep, kebudayaan menghasilkan kelakuan dan benda-benda kebudayaan tertentu, sebagaimana yang diperlukan sesuai dengan motivasi yang dipunyai ataupun rangsangan yang dihadapi. Resep-resep yang ada dalam setiap kebudayaan terdiri atas serangkaian petunjuk-petunjuk untuk mengatur, menyeleksi, dan merangkaikan simbol-simbol yang diperlukan, sehingga simbol-simbol yang telah terseleksi itu secara bersama-sama dan diatur sedemikian rupa diwujudkan dalam bentuk kelakuan atau benda-benda kebudayaan sebageimana diinginkan oleh pelakunya. Di samping itu, dalam setiap kebudayaan juga terdapat resep-resep yang antara lain berisikan pengetahuan untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai sesuatu dengan sebaik-baiknya, berbagai ukuran untuk menilai berbagai tujuan hidup dan menentukan mana yang terlebih penting, berbagai cara untuk mengidentifikasi adanya bahaya-bahaya yang mengancam dan asalnya, serta bagaimana mengatasinya (Spradley, 1972). Dalam pengalaman dan proses belajar manusia, sesungguhnya dia memperoleh serangkaian pengetahuan mengenai simbol-simbol. Simbol adalah segala sesuatu (benda, peristiwa, kelakuan atau tindakan manusia, ucapan) yang telah ditempeli sesuatu arti tertentu menurut kebudayaan yang

bersangkutan. Simbol adalah komponen utama perwujudan kebudayaan karena setiap hal yang dilihat dan dialami oleh manusia itu sebenarnya diolah menjadi serangkaian simbol-simbol yang dimengerti oleh manusia. Sehingga Geertz (1966) menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah suatu sistem pengetahuan yang mengorganisasi simbol-simbol. Dengan adanya simbol-simbol ini kebudayaan dapat dikembangkan karena sesuatu peristiwa atau benda dapat dipahami oleh sesama warga masyarakat hanya dengan menggunakan satu istilah saja. Dalam setiap kebudayaan, simbol-simbol yang ada itu cenderung untuk dibuat atau dimengerti oleh para warganya berdasarkan atas konsep-konsep yang mempunyai arti yang tetap dalam suatu jangka waktu tertentu. Dalam menggunakan simbol-simbol, seseorang biasanya selalu melakukannya berdasarkan aturan-aturan untuk membentuk, mengkombinasikan bermacam-macam simbol, dan menginterpretasikan simbol-simbol yang dihadapi atau yang merangsangnya. Kalau serangkaian simbol-simbol itu dilihat sebagai bahasa, maka pengetahuan ini adalah tata bahasanya. Dalam antropologi budaya, pengetahuan ini dinamakan kode kebudayaan

2. Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia Melihat pengertian kebudayaan yang sedemikian luas dan kompleks, penulis kemudian mencoba mengambil beberapa unsur dari kebudayaan kemudian dicoba untuk digunakan menjawab berbagai tantangan yang tengah melanda bangsa Indonesia pada umumnya dan tantangan mengenai kepemimpinan pada khususnya. Seperti diketahui, bangsa Indonesia dan secara lebih khusus lagi masyarakat Jawa, banyak memiliki konsep-konsep kepemimpinan dan konsep-konsep tersebut ternyata mempunyai sifat yang sangat universal, dalam arti juga bisa digunakan sebagai panutan oleh masyarakat manapun yang ada dibelahan bumi ini. Konsep-konsep kepemimpinan ini merupakan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran berbentuk petuah, nasehat, wejangan, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun temurun melalui kebiasaan ataupun adat istiadat tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik dan menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik.

2.1 Konsep Ha-Na-Ca-Ra-Ka Sepanjang sejarah kesusasteraan Jawa yang panjang itu, orang Jawa telah mengenal berbagai tulisan asli. Ada suatu legenda yang menceritakan kisah Pangeran Ajisaka yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dari Mekah yang berkelana melalui berbagai negara untuk membawa peradaban kepada umat manusia. Sesampainya di pulau Jawa, yang pada waktu itu merupakan tempat tinggal para raksasa dengan rajanya yang bernama Dewata Cengkar. Dalam perjalanan menjelajahi Nusa Jawa, Pangeran Ajisaka menemukan dua tubuh raksasa yang telah mati. Di tangan kedua raksasa tergenggam masingmasing sehelai daun. Di atas kedua daun tersebut terdapat masing-masing tulisan purwa (kuno) dan tulisan Thai. Oleh Pangeran Ajisaka kedua tulisan tersebut disatukan, dan dengan demikian ia menciptakan abjad Jawa yang terdiri atas 20 huruf (gambar-4), yang jika dirangkai membentuk suatu kalimat yang berbunyi: ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga.

Gambar-4 Huruf atau Abjad Jawa Berdasarkan othak-athik mathuk, Ki Hadjar Dewantara berhasil menemukan rumus mengenai kebudayaan huruf ataupun abjad Jawa ternyata terkandung ajaran budi pekerti serta filosofi kehidupan yang sangat tinggi dan luhur. Mantan Presiden Soeharto juga percaya akan ketinggian nilai ha-na-ca-raka, sehingga ia memerintahkan ahli-ahli bahasa Jawa untuk menyelidiki rahasianya. Adapun makna yang dimaksud adalah sebagai berikut: Ha, Hurip = hidup (huruf pertama merupakan huruf hidup) Na, Legeno = telanjang bulat tidak membawa apa-apa Ca, Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas Ra, Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani Ka, Karya = bekerja atau pekerjaan.

1. Ha-Na-Ca-Ra-Ka, bahwa saat pertama kali manusia itu dilahirkan kedunia ini, kita semua dalam 2.
keadaan telanjang bulat dan tidak membawa apa. Oleh karena itu, bekerjalah dengan mengerahkan segenap pikiran, ide ataupun kreatifitas dan perasaaan yang kita miliki. Masyarakat Jawa sangat percaya bahwa rasa ataupun suara hati nurani ataupun suara qolbu adalah merupakan suara ataupun petunjuk yang datang dari Tuhan YME. Karena itu rasa tidak pernah salah, dan karena itu pula segala pengambilan keputusan ataupun segala tindakan harus berdasar rasa. Bila menghadapi suatu masalah, masyarakat Jawa akan menggunakan pikiran, ide ataupun kreatifitas dan emosinya terlebih dahulu, dan kemudian ditanyakan kepada rasa, apakah bertentangan atau tidak. Bila tidak, maka hasil pemikiran tersebut akan dilaksanakan dan bila bertentangan akan ditolak. Pola semacam ini juga bisa dikatakan sebagai proses perencanaan, evaluasi dan pelaksanaan dalam pengambilan keputusan seperti yang terlihat pada Gambar-5 dibawah ini:

3.

Gambar-5 Pola Perencanaan, Evaluasi dan Pelaksanaan Dalam Pengambilan Keputusan 4. Dari sisi lain, konsep Ha-Na-Ca-Ra-Ka juga mangajarkan agar manusia itu bekerja dengan cerdas (cipta), bekerja dengan ikhlas (Rasa) dan bekerja dengan sekuat tenaga (Karya)

Da, Dodo Ta, Toto Sa, Saka Wa, Weruh La, lakuning Urip

= dada = atur = Tiang belandar, tiang penyangga = Melihat (huruf ini tidak konsisten dengan singkatan) = Makna kehidupan.

Da-Ta-Sa-Wa-La, dadane ditoto men iso ngadeg jejeg koyo soko lan iso weruh (mangerteni) lakuning urip. Dengarkanlah suara qalbu (nurani) yang ada didalam dada, agar kamu bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga dan kamu juga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya. Evaluasi masih tetap dilakukan, apakah petunjuk itu benar datang dari Tuhan YME yang ditangkap melalui rasa ataupun suara hati (dodone ditoto) dan bukan karena pikiran kita sendiri. Evaluasi secara terus menerus terhadap pikiran, ide ataupun suara hati dan pelaksanaan kerja yang ada agar tetap terus berada pada tangga yang benar dan lurus. Tanpa kenal putus asa, pada jalan Tuhan yang sangat luas (iso ngadeg jejeg koyo soko lan ngerti lelakuning urip kang sejati = mengerti persoalan yang sebenarnya). Perilaku semacam ini akan menimbulkan kecerdasan otak, kecerdasan emosi dan juga kecerdasan spiritual seperti Gambar-6

Gambar-6 Kecerdasan Otak, Emosi dan Spiritual Untuk Mengerti Persoalan Sebenarnya

Da-Ta, dzat = dzat Sa, Satunggal = satu, Esa Wa, Wigati = baik (huruf ini tidak konsisten dengan singkatan) La, Ala = jelek Da-Ta-Sa-Wa-La, oleh Dzat Yang Esa, manusia yang baru lahir itu juga dilengkapi dengan sifat yang baik dan buruk Pa-Da-Ja-Ya-Nya = sama kuat; Sifat yang baik dan buruk itu mempunyai kekuatan yang sama, dan manusia diberi hak sepenuhnya untuk memilih. 1. Sifat baik ataupun buruk, benar ataupun salah bedanya sangat tipis. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam melangkah. Disamping itu kita juga dituntut untuk bisa melihat, apakah keberhasilan yang kita capai itu sifatnya hanya sesaat ataukah berkelanjutan. Dengan bersandar kepada Tuhan YME, kita akan mendapat bimbingan tentang jalan yang lurus dan benar. 2. Berorientasi kemasa depan, dan memiliki harapan yang jelas serta memiliki perencanaan untuk setiap langkah yang akan dibuat sehingga kita memiliki kesadaran penuh bahwa cara untuk meraih suatu keberhasilan tidak bisa ditempuh dengan cara yang buruk. Siap menghadapi segala tantangan dan siap menghadapi segala keberhasilan ataupun kegagalan. Bermental baja karena kita telah memiliki suatu kemenangan abadi yang sangat kuat, bersifat mandiri. Ma, Suksma Ga, Raga Ba-Ta, batang Nga, Lungo 1. = suksma, ruh, nyawa = badan, jasmani = mayat = pergi

Ma-Ga-Ba-Ta-Nga, Selama suksma (ruh atau nyawa) masih bersatu dengan jasmani atau badan, maka sifat baik dan buruk tetap ada pada diri manusia. Bila sudah menjadi mayat, maka suksma (ruh atau nyawa) akan pergi dan disanalah akan diminta pertanggungan jawab tentang pilihan yang diambil diwaktu hidup. Apakah yang baik atau buruk. Semua yang berasal dari Tuhan akan kembali ke Tuhan pula (konsep sangkan paraning dumadi, asal muasal kehidupan dan akhir dari kehidupan itu) 2. Walaupun selaku manusia kita telah berusaha secara maksimal, yaitu dengan mengerahkan segala potensi yang kita miliki baik lahir maupun batin, Tuhan YME lah yang menjadi penentu segalanya. Kita berserah diri dan percaya bahwa itu adalah yang terbaik buat kita.

2.2 Konsep Menang Tanpa Ngasorake "Guru muride dewe, murid guruning pribadi, pamulange sangsaraning sesami. Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji, menang tan ngasorake lan weh-weh tanpa kilangan ". Konsep ini berasal dari Dr. RM Sosro Kartono, yang juga dikenal sebagai guru spiritual dari Bung Karno dan adik kandung dari RA Kartini. Adapun makna dari konsep ini adalah: 1. Guru muride dewe, murid guruning pribadi, pamulange sangsaraning sesami. a. Sebelum menjadi guru orang lain, jadilah guru diri kita sendiri. Guru itu selalu diikuti, didengar atau dilihat oleh muridnya, tapi sebelum mengikuti, mendengar atau melihat orang lain, maka ikutilah, dengarkanlah dan lihatlah diri sendiri terlebih dahulu. Saat kita tidak mengikuti, mendengar ataupun melihat orang lain, kita akan merasa kesepian, kesendirian dan ketakutan. Kenapa kita takut dalam kesendirian?, karena kita akan berhadapan dengan diri kita yang apa adanya, yaitu hampa, tumpul, bodoh, buruk, bersalah dan gelisah. Suatu kesatuan yang remeh, buruk dan rongsokan. Pandanglah kenyataan ini dan jangan lari darinya. Saat kita lari, akan muncul rasa ketakutan yang amat sangat. Tubuh manusia itu berawal dari lendir yang menjijikan, kemana-mana membawa

kotoran dan berakhir menjadi bangkai. Kenapa harus sombong dan tidak segera berserah diri kepada Tuhan YME ? b. Secara inti, ajaran ini mengajak untuk introspeksi dan mawas diri bahwa tubuh manusia itu sebenarnya sangat lemah dan tak berdaya. Ajaran ini ditutup dengan kalimat agar tidak sombong dan segera berserah diri pada Tuhan YME. 2. Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji, menang tan ngasorake lan weh-weh tanpa kilangan. a. Apa yang sudah Tuhan YME berikan kepada kita sudah sedemikian besar, seperti halnya kesehatan, kepandaian, kebahagiaan, kewaspadaan, keluarga, sahabat dan lainnya, itulah kekayaan yang tak ternilai harganya. Kemenangan sejati adalah mengalahkan diri sendiri dengan cara mengendalikan diri dari segala lingkaran nafsu yang menyesatkan. Bertindaklah seperti seorang guru, walaupun setiap hari memberikan ilmu yang bermanfaat kepada anak muridnya, sang guru malah bertambah pintar. b. Dalam ajaran, terdapat 4 nafsu manusia yang harus dikendalikan oleh rasa atau hati nurani, yaitu: 1. Aluamah, yaitu nafsu yang menyebabkan manusia mempunyai rasa lapar, haus,ngantuk, malas dan lainnya. 2. Amarah, yaitu nafsu yang menyebabkan manusia bisa marah, iri, dengki dan lainnya. 3. Mutmainah, yaitu nafsu yang menyebabkan manusia menjadi tamak, srakah, kikir, mementingkan diri sendiri dan lainnya. 4. Sopiah, yaitu nafsu yang menyebabkan manusia mempunyai sifat ingin memiliki, ingin senang, ingin indah, ingin enak dan lainnya. c. Nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji, menang tan ngasorake juga bisa diartikan untuk menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Karena itu, disarankan untuk selalu berpikir secara matang sebelum bertindak dan mengadakan evaluasi secara terus menerus. d. Secara inti terlihat adanya ajaran untuk selalu eling dengan melakukan kontrol dan kendali terhadap sedulur papat (nafsu manusia). Disamping itu, juga ada perintah untuk selalu membantu yang lemah. Dalam konsep ini, guru disebut beberapa kali dan secara lahiriah guru mempunyai tugas untuk mengajar ilmu yang bermanfaat. Guru mempunyai tugas untuk merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil. Disamping itu, guru juga membutuhkan adanya sarana dan prasarana pendidikan. Secara umum pola ini mengajarkan manusia untuk introspeksi secara lahir dan batin. Secara lahiriah, manusia itu sangat lemah sehingga sangat membutuhkan Tuhan YME; Dan secara batiniah, manusia harus bisa mengendalikan 4 sifat nafsu yang bisa menyesatkan (Gambar-7).

3.

4.

Gambar-7 Konsep Menang Tanpa Ngasorake

2.3 Konsep Eling Lan Waspada Kalimat eling lan waspada sebenarnya berasal dari cuplikan Serat Kalatida yang ditulis oleh oleh pujangga kraton Surakarta Raden Ngabehi Ronggowarsito (15 Maret 1802 s/d 24 Desember 1873), tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ini merupakan karya sastra dari Prabu Joyoboyo selaku raja diKediri (Anjar Any, 1989: 12) Adapun petikan Serat Kalatida yang dimaksud adalah sebagai berikut ..Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan melu anglakoni, Boya kaduman melik, Kaliren wekasanipun, Ndilalah karsa Allah, Begja-begjane kang lali, Luwih begja kang eling lawan waspada... Terjemahan bebasnya adalah: Hidup didalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak akan mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga, sebahagianya orang yang lupa, masih lebih bahagia orang yang senantiasa ingat dan waspada Kalimat luwih begja kang eling lawan waspada pada bait terakhir serat kalatida diatas, dapat diartikan sebagai: 1. Sebagai makhluk Tuhan, kita diminta untuk senantiasa eling ataupun mengingat akan ajaran dan larangan Tuhan. Apa yang menjadi ajaran-Nya kita jalankan dengan sepenuh hati, dan disamping itu kita juga meninggalkan apa yang menjadi larangan Nya. Dengan perilaku yang selalu eling ataupun ingat tersebut, maka Tuhan akan memberikan pelbagai petunjuk tentang apa yang harus kita lakukan secara baik dan benar, dan inilah yang dimaksud dengan kalimat luwih begja kang eling lawan waspada. Petunjuk yang datang dari Tuhan bisa berujut adanya suatu pemikiran yang cerdas untuk mengatasi pelbagai kesulitan ataupun hambatan, keberanian ataupun ketabahan dalam menghadapi pelbagai cobaan, kedewasaan dalam berpikir, kesehatan yang prima, keluarga yang sejahtera dan bahagia dan masih banyak lagi. Sebagai makhluk sosial, kita diminta untuk bisa eling ataupun menempatkan diri terhadap sesama manusia. Karena selain bisa bertindak atas nama diri sendiri, kita juga merupakan bagian dari keluarga, bagian dari masyarakat, bagian dari suatu negara, dan bagian dari warga dunia. Dengan perilaku tersebut, kita akan menghargai hak dan kewajiban masing-masing orang

2.

Secara umum, bahwa konsep ini menekankan adanya dua dimensi yang sama kuat, yaitu dimensi Ke Tuhanan dan dimensi Kemanusiaan yang harus dikerahkan secara bersama agar dicapai hasil yang maksimal (Gambar-8).

Gambar-8 Konsep Eling Lan Waspada 2.4 Konsep Mencari Rejeki Untuk mencari rejeki, masyarakat Jawa menganjurkan agar ojo sare sore -sore lan yen wungu ojo nganti kedisikan srengenge utowo manuk, tumindako sing jujur . Tidur diatas jam 24.00 dan bangun sebelum terbit fajar merupakan saran yang utama, disamping itu juga ada anjuran agar berbuat jujur. Tentunya banyak hal yang bisa kita perbuat dengan waktu yang sedemikian panjang. Selain dapat merenungkan tentang rencana dan pelaksanaan pekerjaan, kita juga dapat merenung tentang alam dan pencipta Nya. Apa yang sudah kita lakukan sepanjang hari, apakah ada yang salah dan harus dikoreksi ataukah ada yang harus ditingkatkan, bagaimana hubungan kita dengan sesama karyawan ataupun pelanggan, bagaimana dengan persoalan-persoalan yang belum dapat diselesaikan dan masih banyak lagi. Dalam kepenatan berpikir tentang pekerjaan, kita bisa beristirahat dengan mengingat akan kebesaran dan keagungan Tuhan. Bahwa Tuhan adalah maha segala-galanya; Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Suci, Maha Keslamatan, Maha Mengamankan, Maha Merawat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Besar, Maha Pencipta, Maha Pengampun, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Adil dan lainnya lagi. Dengan mengingat akan kebesaran-kebesaran Tuhan tersebut, maka hati dan pikiran akan menjadi sejuk dan kita kemudian bisa melanjutkan untuk merenung tentang rencana dan pelaksanaan pekerjaan.

3. Budaya Sebagai Gambaran Kehidupan Masyarakat Jawa sangat menggemari wayang, karena bagi masyarakat Jawa wayang merupakan gambaran ataupun potret kehidupan manusia sehari-hari. Wayang berasal dari kata ayang atau bayangbayang. Dalam cerita wayang banyak dilukiskan bahwa yang tidak eling lan waspada akan menemui kehancurannya. Hal ini bisa terlihat: 1. Dalam episode Arjuna Sosrobahu, Raden Sumantri sang patih yang gagah perkasa harus menemui ajal ketika melawan Rahwono. Ajal ini sesuai dengan kutukan yang berasal dari adiknya sendiri, Sukrasana yang mati dibunuh oleh R. Sumantri. Ia dibunuh karena R. Sumantri merasa malu mempunyai adik yang buruk muka dan berasal dari desa. 2. Dalam episode Ramayana, Kerajaan Alengka dengan Prabu Rahwana sebagai raja, habis ditumpas oleh Sri-Rama. Kerajaan Alengka ditumpas karena Prabu Rahwana menculik istri Sri Rama, yaitu Dewi Sinta. 3. Dalam episode Ramayana, Sri Rama termakan hasutan, isu dan adu domba dan akhirnya menyuruh Dewi Sinta Untuk membakar diri. Walaupun akhirnya selamat dari api, tetapi hasutan, isu dan adu domba masih terus menyelimuti. Dewi Sinta tidak tahan dan akhirnya pergi kehutan

4.

5. 6. 7.

dan melahirkan bayi kembar. Hidup dihutan selama 14 tahun, dan sang anak kembar akhirnya membunuh Sri Rama. Dalam episode Mahabarata, Yudistiro yang dikenal jujur ternyata juga bisa tidak eling dan berani main dadu dengan mempertaruhkan sang istri, keempat orang adiknya serta kerajaan Indraprasta seisinya. Yudistiro kalah main dadu dan sebagai konsekwensi harus dibuang dihutan selama 13 tahun dan ini merupakan awal dari perang Bharatayudha Dalam episode Mahabarta, Hastinopura yang dipimpin Prabu Suyudono juga habis ditumpas Pandawa karena ingkar dalam perjanjian. Dalam episode Mahabarata, walaupun pihak pendawa mengalami kemenangan dalam peperangan, tetapi seluruh anak dan istrinya mati terbunuh. dan masih banyak lagi

Dalam konsep kepemimpinan di-Indonesia, tergambar bahwa para Presiden di-Indonesia mungkin juga banyak yang tidak eling lan waspada sehingga harus mengalami nasib yang tidak enak, yaitu diturunkan sebelum habis masa jabatannya.