Anda di halaman 1dari 25

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BAB IV UJI PEMBAKARAN BRIKET NON-KARBONISASI 4.1. Tujuan Praktikan mampu menganalisa kaitan campuran bahan dalam pembuatan briket batubara non-karbonisasi dengan hasil pembakaran briket non-karbonisasi. 4.2. Dasar Teori Batubara yang ada di Indonesia pada umumnya bituminus dan subbituminus dengan kandungan zat terbang dan kandungan air yang cukup tinggi, hal ini berpengaruh dalam proses pembakaran dari briket batubara. Selain itu persen campuran bahan dalam pembuatan briket juga berpengaruh. Tingkat keberhasilan briket juga dapat dianalisa salah satunya dengan analisa dan uji pembakaran briket (Syafii, 2012). Karakteristik pembakaran briket ini (lama dan suhu pembakaran) tergantung pula dari udara yang terbakar (air supply) dan nilai kalori batubaranya makin besar udara yang ikut terbakar makin pendek pula pembakaran briket dan makin tinggi nilai kalori batubaranya yang dibuat briket makin lama waktu pembakaran. Makin besar udara yang diberikan (dengan membuka udara kompor masak) makin pendek waktu pembakaran briket walaupun diperoleh suhu maksimum dari hasil proses pembakaran. Sifat briket yang baik antara lain tidak berasap dan tidak berbau pada saat pembakaran, mempunyai kekuatan tertentu sehingga tidak mudah pecah, mempunyai suatu suhu pembakaran yang tetap dengan jangka waktu yang lama, setelah dibakar masih mempunyai kekuatan tertentu sehingga mudah untuk dikeluarkan dari dalam tungku, dan gas hasil pembakaran tidak mengandung suatu gas karbon monoksida yang cukup tinggi (Fauza, 2012). Briket batubara telah digunakan sejak awal 80 an. Indonesia mulai mengenal briket batubara pada tahun 1993. Kini briket batubara mulai digunakan, bahkan pemerintah pernah mempunyai program untuk membuat
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

10 juta tungku atau kompor briket untuk membantu masyarakat miskin yang tidak mampu membeli minyak tanah. Untuk memulai pembakaran diperlukan dua unsur dasar, yaitu hidrogen dan karbon, sulfur dari unsur-unsur lainnya juga berfungsi untuk membebaskan panas, tetapi pada prakteknya hal tersebut dapat diabaikan karena unsur-unsur tersebut hanyalah pengotor. Dalam keadaan normal, hidrogen berbentuk gas, sedangkan karbon berbentuk padatan yang tidak dapat diuapkan dengan semupurna apabila suhu belum mencapai 3500oC, nilai panas hidrogen adalah 3500oC (Anonim, 2013). Pembakaran briket merupakan volatile matter dan karbon yang terdapat dalam bahan bakar padat melalui pelepasan zat yang mudah hilang seperti kandungan air. Setelah kandungan air hilang dari briket batubara maka selanjutnya briket akan menyisakan abu yang merupakan zat sisa hasil pembakaran. Adapun urutan tahapan proses pembakaran briket batubara dalam tungku adalah sebagai berikut: 1. Tahapan pengeringan Pada tahapan ini dimulai dari memberikan panas pada briket di dalam tungku untuk menguapkan sejumlah air ketika suhu telah mencapai 100oC kandungan air yang terkandung dalam briket akan menguap (karena suhu didih air adalah 100oC) dan pada saat itu pula terjadi proses pengeringan briket. 2. Tahap pembakaran zat terbang Dengan terus bertambahnya suhu maka zat terbang akan terbakar. Pada pembakaran zat terbang ini dibutuhkan udara yang cukup. Zat terbang bercampur dengan oksigen akan menghasilkan nyala api, pembakaran zat terbang setelah nyala api dipengaruhi oleh udara yang berasal dari lubang udara sekunder. 3. Tahap pembakaran karbon padat Pada tahap ini panas yang dihasilkan mencapai suhu yang tinggi, karena karbon dan volatile matter (sisa) adalah kandungan utama atau
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

terbesar dari briket kurang lebih dari 60% dari waktu pembakaran briket adalah waktu untuk membakar karbon. Nilai panas briket terutama dihasilkan dari karbon yang padat. 4. Tahapan terakhir pembakaran sisa karbon Pada tahapan terakhir dari pembakaran briket menunjukkan sedikit pembakaran sisa karbon dari abu tersebut. Pada tahap ini pula terjadi penurunan suhu karena habisnya zat-zat yang terbakar, maka menghasilkan abu dari briket. Kinerja (performance) adalah karakteristik pembakaran yang ditentukan oleh faktor waktu, suhu dan kualitas udara pembakaran. Karakteristik pembakaran batubara dipengaruhi oleh jumlah briket batubara yang dibakar dan jenis tungku yang digunakan. Untuk satu kilogram briket batubara dengan efisiensi tungku antara 31-33% mempunyai efektifitas panas selama 1,5 sampai dengan 2 jam dengan kisaran suhu mencapai antara 3000-5000oC untuk 2 kilogram briket batubara lamanya waktu pembakaran antara 2,5 sampai 3 jam dengan kisaran suhu antar 400-600oC. Sistem perhitungan ini mengindikasi briket batubara akan efektik dan juga efisien apabila kita gunakan lebih dari 2 jam. Hal lain yang mempengaruhi selain karena faktor suhu adalah karena faktor kesulitan tertentu. Faktor kesulitan yang dimaksud di sini adalah bahwa sekali briket batubara dibakar, maka harus digunakan hingga habis karena sifat batubara yang sulit untuk dipadamkan dan dinyalakan kembali, jika dibandingkan minyak tanah. Penggunaan 1 kg briket batubara setara dengan 0,6 liter minyak tanah atau dapat kita sebut 60% perliter dari penggunaan minyak tanah. Dalam perjalanannya, teknik pembuatan briket batubara ini mengalami berbagai modifikasi dengan tujuan utama untuk meningkatkan mutu dari briket itu sendiri. Ada beberapa cara yang telah dikembangkan dengan memodifikasi pada baha perekat, dan bahan tambahan lainnya, diantara adalah baan perekat lempung di tambahkan kuat tekan akan meningkatkan tetapi nilai kalori yang dihasilkan akan berkurang.
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Briket batubara non-karbonisasi memungkinkan untuk digunakan (dibakar) dengan sempurna terutama dengan sistem (pembakaran) tanpa mengeluarkan asap dan juga bau. Jenis tungku yang sesuai untuk pembakaran briket dengan jenis tanpa karbonisasi terutama adalah dilengkapi dengan fasilitas udara sekunder ruang pembakaran yang cukup untuk membakar zat terbang. Sifat-sifat yang perlu diperhatikan dalam proses pemamfaatan batubara sebagai bahan bakar industri kecil, antara lain: 1. Ukuran butir, pada proses pengolahan briket batubara yang diumpamakan dalam tungku akan mempengaruhi terhadap cara pembakarannya. Batubara untuk pembakaran dalam kantung api yang berisi ukuran butir lebih kecil dari 1 cm, tidak boleh lebih dari 30%. 2. Abu, kandungan abu dari batubara yang terlalu banyak akan mengganggu proses pembakaran. Hal ini akan berdampak langsung pada kelancaran untuk proses pemeliharaan api yang mengalami reaksi oksidasi oleh udara pembakaran, dan sulit dalam pemeliharaan api. 3. Sifat mengkokas atau coking, batubara memiliki sifat mengkokas yag tinggi yang sering menggumpal apabila dipanaskan. 4. Nilai kalor, batubara dengan nilai kalor yang disebabkan karena memang batubara yang dijadikan bahan dasar briket adalah jenis batubara low rock sehingga nilai kalor yang didapatkan pada proses pembakaran rendah atau karena banyaknya kadar air yang terkandung dalam briket batubara. 5. Kadar belerang, kadar belerang yang cukup tinggi misalnya 2-3% dalam briket akan mengakibatkan bau yang kurang sedap, hal ini akan mengganggu kesehatan dan kenyamanan para pengguna briket. 6. Asap pembakaran, apabila asap yang timbul dari pembakaran berwarna gelap maka hal ini menunjukkan proses pembakaran menjadi kurang sempurna, sehingga terdapat beberapa komponen batubara yang belum terbakar dengan sempurna akan menimbulkan jelaga yang berwarna hitam.
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Nilai strategis dan ekonomis pemamfaatan batubara sebagai bahan bakar yang sering terkendala oleh dampa dari lingkungan yang berasal dari emisi gas dan sisa pembakaran yang langsung maupun tidak langsung berpengaruh kepada kesehatan manusia, selain itu pembakaran batubara dengan jumlah yang sangat besar akan mempengaruhi kondisi lingkungan, antara lain berupa gas rumah kaca seperti CO2 dan lain-lain. Secara umum polutan yang timbul akibat pembakaran batubara antara lain partikel halus, belerang dan NOx, dan aersen, serta bahan-bahan organik yang tidak terbakar secara sempurna. Unsur-unsur ini terbentuk pada saat pembentukan endapan batubara sebagai proses alami. Dengan demikian sederhana, untuk mendapatkan kondisi pembakaran yang bersih, semua zat pengotor tersebut haruslah ditiadakan, paling tidak dicegah agar tidak merebak menjadi padatan yang tidak teremisikan. Pendapat selama ini beredar di masyarakat bahwa pembakaran briket batubara berbahaya perlu dihapuskan atau di klarifikasi karena dapat menyesatkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal : 1. Setiap pembakaran fosil (minyak bumi dan batubara) pasti akan menimbulkan emisi berupa gas CO2, CO, NOx, dan SO2, dan lain lain. Cara yang paling efektif untuk menguranginya adalah dengan mengatur adan membuat sistem pembakran sehingga menghasilkan pembakaran yang sempurna, selain mengurangi emisi gas juga akan membuat kinerja dan efisiensi penggunaan energi menjadi optimal. Kompor minyak tanah yang berasap, masakan akan masak lebih lama dan boros jika dibandingkan dengan kompor yang bernyala api biru menandakan pembakaran yang sempurna. Penggunaan batubara secara umum dan briket batubara tidak lepas dari fenomena tersebut. Dengan pembakaran sempurna selain dapat menghasilkan kinerja secara optimal, emisi gas juga akan berkurang secara signifikan, karena sebagian besar emisi tersebut ikut terbakar. 2. Berbahaya atau tidaknya pembakaran briket batubara tergantung pada 3 faktor utama yaitu bahan bakar berupa
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

batubara. Bahan tambahan dan penyaring emisi, serta kondisi tempat dimana briket batubara dibakar, menurut Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara, bahwa batubara Indonesia sebagai bahan baku briket batubara memiliki kadar sulfur dan abu yang rendah. Masing masing di bawah 1% (sulfur) dan 20% (abu). (Fauza, 2012) Jenis non karbonisasi (biasa), jenis yang ini tidak mengalami dikarbonisasi sebelum diproses menjadi briket dan harganya lebih murah karena zat terbangnya masih terkandung dalam briket batubara maka pada penggunaannya lebih baik menggunakan (tungku bukan kompor ) sehingga akan menghasilkan pembakran yang sempurna dimana seluruh zat terbang yang muncul dari briket akan habis terbakar oleh lidah api di permukaan tungku. Briket ini umumnya digunakan untuk industri kecil. Produsen terbesar briket batubara di Indonesia saat ini adalah PT. Tambang Batubara Bukit Asam (persero), atau PT. BA yang mempunyai tiga pabrik yaitu di Tanjung Enim Sumatera Selatan, Bandar Lampung, dan gresik Jawa Timur dengan kapasitas terpasang 115.000 ton pertahun. Selain PT. BA, terdapat beberapa perusahaan swasta lain yang memproduksi briket batubara namun jumlahnya lebih kecil dibanding PT. BA dan belum berproduksi secara kontinyu. Dengan adanya kenaikan BBM khususnya minyak tanah dan solar, tentunya penggunaan briket batubara oleh kalangan rumah tangga maupun industri kecil dan menengah akan lebih ekonomis dan menguntungkan, namun demikian kemampuan produksi PT. BA masih sangat kecil, untuk mengatasi kekuranga tersebut diharapkan partisipasi serta keikutsertaan pihak swasta untuk memproduksi dan mensosialisasikan penggunaan briket batubara di setiap daerah (Fauza, 2012) Kompor atau tungku briket batubara penggunaan briket batubara harus diiringi serta disiapkan kompor atau tungku, jenis dan ukuran kompor harus disesuaikan dengan kebutuhan. Pada prinsipnya kompor atau tungku terdiri atas dua jenis:

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

1.

Tungku atau kompor portabel, jenis ini pada umumnya membuat briket antara 1 sampai 8 kg serta dapat dipindah pindahkan. Jenis ini digunakan untuk keperluan rumah tangga atau rumah makan.

*Sumber:http://www.miningtechnology.com/, 2012

Gambar 4.1. Sketsa tungku portabel 2. Tungku atau kompor permanen, biasanya membuat lebih dari 8 kg briket dibuat secara permanen. Jenis ini biasanya digunakan untuk industri kecil dan menengah.

Gambar 4.2. Sketsa tungku permanen

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Kompor briket batubara adalah alat untuk membakar batubara yang terbuat dari plat logam atau juga keramik (gerabah atau bahan tahan api) yang berfungsi sebagai media pemanasan menggunakan briket batubara karbonisasi dan briket batubara non karbonisasi. Kompor briket ditempatkan dalam sarangan yaitu tempat dudukan briket batubara dalam ruang bakar dan juga berfungsi sebagai tempat aliran udara primer yang dapat berupa anyaman, kawat ataupun plat berlubang. Persyaratan kompor atau tungku harus memiliki : 1. 2. Ada ruang bakar untuk briket Adanya aliran udara (oksigen) dari lubang bawah menuju lubang atas dengan melewati ruang bakar briket yang terdiri dari aliran udara primer dan sekunder. 3. Ada ruang untuk menampung abu briket yang terletak di bawah ruang bakar briket. Pengembangan produksi briket batubara dan kompor atau tungku sampai saat ini pihak BPP Teknologi melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) telah lama mengembangkan dan mendesain mesin untuk memproduksi briket batubara skala kecil dan menengah dengan kapasitas produksi 2 sampai 8 ton per hari (Fauza, 2012). Tungku adalah suatu tempat atau ruangan yang dapat disusun atau dibuat dari batu bata atau batubata tahan api, yang dapat dipanaska dengan bahan bakar yang digunakan. Tungku merupakan alat untuk memasak dengan bahan bakar padat, seperti ibu-ibu memasak didapur atau di industi kecil /menengah. Tungku juga dapat menggnakan briket batubara sebagai bahan bakar. Jika menggunakan briket batubara harus dibarengi dengan disiapkan tungku atau kompor, jenis dan ukuran tungku harus disesuaikan dengan kebutuhan volume bahan bakar. Dengan demikian industri briket skala kecil dan menengah ini diharapkan bisa tersebar disentra sentra pengguna briket batubara sehingga mudah dalam suatu penyediaan briket secara kontinyu. Selain itu pula BPP Teknologi telah mengembangkan jenis - jenis kompor atau tungku briket
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

untuk keperluan rumah tangga, rumah makan serta industri kecil dan menengah. Rancangan tungku batubara pada dasarnya dibuat untuk mencapai efisiensi pembakaran yang tinggi serta tak kalah pentingnya untuk menekan emisi gas yang dihasilkan. Jenis tungku sangat bergantung pada proses penggunaannya. Tungku untuk industri ukurannya lebih besar daripada tungku rumah tangga, rata-rata tungku untuk industri memiliki kapasitas briket batubara 5-10 kg, sedangkan untuk rumah tangga hanya 1-2 kg. Jenis tungku yang sudah banyak dipasaran saat ini dibuat dari bahan tembikar (tanah liat), selain murah juga mempunyai efisiensi antara 31% - 33% dan sudah terbukti keandalannya, terutama dalam menekan laju emisi (Rahman, 2011). Pada tungku portabel terdapat bagian-bagian yang perlu kita ketahui. Bagian-bagian tunggku tersebut bias dilihat pada gambar dibawah.

Gambar 4.3 Sketsa Bagian-bagian Tungku portabel Keterangan: 1. Dudukan alat masak 2.Pengarah udara tersier 3. Pengarah udara sekunder
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

4. Dinding udara primer (dinding ruang bakar) 5. Dinding udara sekunder 6. Dinding udara tersier 7. Lubang masuk udara primer 8. Lubang masuk udara sekunder 9. Lubang udara tersier 10. Tempat abu 11. Ruang bakar 12. Sarangan 13. Penyangga sarangan 14. Lubang udara 15. Pengatur udara primer 16. Kaki kompor (Anonim. 2013)

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

4.3. Alat dan Bahan (ukuran gambar belum di edit 6x9 belum edit). 4.3.1. Alat Alat yang digunakan dalam praktikum uji pembakaran briket non-karbonisasi ini adalah: a. Kompor briket, digunakan sebagai alat untuk proses pembakaran briket batubara.

Gambar 4.1. Sketsa Kompor Briket b. Korek api, sebagai penyulut api pada pembakaran awal.

Gambar 4.2. Sketsa Korek Api

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

c. Ember, berfungsi sebagai wadah atau tempat merendam briket dalam minyak tanah.

Gambar 4.3. Sketsa Ember d. Stopwatch, digunakan sebagai pengukur lama waktu pembakaran briket batubara.

Gambar 4.4. Sketsa Stopwatch

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

e. Safety Tools, berfungsi sebagai alat untuk menjaga praktikan dari cidera selama berjalannya praktikum.

Gambar 4.5. Sketsa Safety Tools 4.3.2. Bahan Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini, antara lain: a. Briket batubara non-karbonisasi dengan kalori 6000 kkal, berfungsi sebagai bahan utama dari sampel yang akan diuji dan dianalisa. b. Minyak tanah, penyulut atau pemicu api pada saat pertama kali pembakaran dan untuk merendam briket non-karbonisasi.

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

4.4. Prosedur Percobaan Prosedur percobaan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
Briket batubara nonkarbonisasi kalori 6500 kkal Dicelupkan Minyak tanah + ember Dimasukan dan dibakar Kompor briket Dihasilkan Hasil pembakaran Dianlisa Hasil analisa

Gambar 4.6 Flowchart Uji Pembakaran Briket Non-Karbonisasi Langkah Kerja: 1. Menyiapkan kompor briket di daerah atau tempat terbuka. 2. Memasukkan briket ke dalam ember berisi minyak tanah. 3. Memasukkan briket yang sudah direndam dalam minyak tanah ke dalam kompor briket. 4. Membakar briket. 5. Menganalisa hasil pembakaran.

Kelompok IV

Kelompok IV
Analisa Keterangan Abu Durasi Pembakaran Bau

Asap

4.5. Data Hasil Pengamatan

pengamatan sebagai berikut:

Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan

00:51:56

TanahKarbon dan Minyak kaliPenambahan Minyak Tanah = 24

Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan

00:49:11

TanahKarbon dan Minyak kaliPenambahan Minyak Tanah = 29

Tabel 4.1.

Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan

00:48:57

Karbon dan Minyak Tanah

Penambahan Minyak Tanah = 21 kali

Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan

00:51:20

Karbon dan Minyak Tanah

Penambahan Minyak Tanah = 26 kali

Data Hasil Pengamatan Uji Pembakaran Briket Non-Karbonisasi

Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan

00:50:18

TanahKarbon dan Minyak kaliPenambahan Minyak Tanah = 27

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh data-data hasil

Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan

00:48:06

Karbon dan Minyak Tanah

Penambahan Minyak Tanah = 23 kali

Kelompok IV
Keterangan No. Nama Sampel Waktu Perendaman Kemudahan Terbakar 5 Menit 1. Kanji = 15%)Kaolin = 10%(Batubara = 75%Biasa I 10 Menit 20 Menit Sedang (00:24:49) 5 Menit Sedang (00:24:20) 2. Kanji = 15%)Kaolin = 5%(Batubara = 80%Biasa II 10 Menit 20 Menit Sedang (00:23:51)

Analisa

Bau

TanahKarbon dan Minyak kaliPenambahan Minyak Tanah = 20

(00:25:25)Sedang

TanahKarbon dan Minyak kaliPenambahan Minyak Tanah = 29

(00:24:40)Sedang

Karbon dan Minyak Penambahan Minyak Tanah = 17 Tanah kali

Karbon dan Minyak Penambahan Minyak Tanah = 21 Tanah kali

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

TanahKarbon dan Minyak kaliPenambahan Minyak Tanah = 19

(00:24:17)Sedang

Karbon dan Minyak Penambahan Minyak Tanah = 18 Tanah kali

Kelompok IV
Nama Sampel Asap Abu Waktu Perendaman Kemudahan Terbakar Durasi Pembakaran 5 Menit (00:25:30)SedangPutih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan 00:49:11 10 Menit (00:25:04)Sedang Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan 00:48:47 20 Menit Sedang (00:24:13) Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan 00:46:58 5 Menit Sedang (00:27:40) Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan 00:49:38 10 Menit (00:26:21)Sedang Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan 00:48:34

No.

(Batubara = 70%, Kaolin = 5%, Kanji = 15%, 3. Biomassa I erbuk kayu = 5%, Kapur = 5%))

4. Kanji = 15%)Kaolin = 5%(Batubara = 80%Biasa II

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

20 Menit

Sedang (00:26:08)

Putih keabu-abuan Banyak, hitam keabu-abuan

00:47:12

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

4.6. Pengolahan Data 1. Briket batubara non-karbonisasi biasa 1 a. Sampel 1 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 5 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 25 menit 25 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 51 menit 56 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 24 kali b. Sampel 2 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 10 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 24 menit 40 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 49 menit 11 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 24 kali c. Sampel 3 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 20 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 24 menit 49 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam ke abu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 48 menit 57 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 21 kali 2. Briket batubara non-karbonisasi biasa 2 a. Sampel 1 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 5 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 25 menit 20 detik
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 51 menit 20 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 26 kali b. Sampel 2 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 10 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 24 menit 17 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 50 menit 18 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 27 kali c. Sampel 3 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 20 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 23 menit 51 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 48 menit 08 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 23 kali 3. Briket batubara non-karbonisasi biomassa 1 a. Sampel 1 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 5 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 25 menit 30 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 49 menit 11 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 20 kali

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

b. Sampel 2 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 10 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 25 menit 04 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 48 menit 47 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 29 kali c. Sampel 3 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 20 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 24 menit 13 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 46 menit 58 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 17 kali 4. Briket batubara non-karbonisasi biomassa 2 a. Sampel 1 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 5 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 27 menit 40 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 49 menit 38 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 21 kali b. Sampel 2 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 10 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 27 menit 40 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam keabu-abuan
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 48 menit 24 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 19 kali c. Sampel 3 1) Perendaman dalam minyak tanah selama 20 menit 2) Durasi waktu penyalaan awal 26 menit 08 detik 3) Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan 4) Abu yang dihasilkan banyak dan berwarna hitam ke abu-abuan 5) Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah 6) Durasi waktu pembakaran briket 47 menit 12 detik 7) Dilakukan penambahan minyak tanah sebanyak 18 kali

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
4.7. Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan uji pembakaran briket batubara nn karbonisasi. Briket batubara non-karbonisasi yang digunakan adalah hasil dari praktikum sebelumnya. Batubara yang akan diuji ada 4 jenis briket, yaitu dengan komposisi yang sama untuk briket 1 dan 2 (biasa) dan briket 3 dan 4 (biomassa) namun dengan takaran bahan yang berbeda. Adapun komposisi dari briket batubara non-karbonisasi ini terdiri dari 4 macam bahan yaitu batubara yang berfungsi sebagai bahan bakar utama dari briket, kaolin yang berfungsi sebagai bahan campuran untuk mengurangi asap dan sebagai stabilisasi panas. Kanji berfungsi untuk bahan perekat antara butir dan material. Untuk briket iomassa digunakan tambahan bahan yaitu serbuk kayu yang berguna sebagai bahan yang memudahkan briket untuk terbakar serta kapur yang berguna untuk mengurangi bau karbon yang menyegat pada saat pembakaran. Namun dari semua bahan diatas yang paling penting adalah batubara, sehingga komposisinya tiap briket harus memiliki atau melebihi 50% berat total. Pada saat pembakaran briket ada beberapa hal yang harus dianalisa, yaitu analisa kemudahan terbakar, analisa durasi pembakaran, analisa asap, abu, dan bau yang dihasilkan. Analisa kemudahan terbakar yaitu sampai berapa menit waktu yang dibutuhkan briket tersebut dari penyalaan sampai menjadi bara. Analisa durasi pembakaran yaitu berapa lama waktu yang bias dicapai oleh briket mulai dari penyalaan hingga menjadi abu seluruhnya. Dan yang terakhir analisa asap, abu, dan bau yaitu apa warna asap yang dikeluarkan, warna asap, banyak abu, warna pada abu, abu yang dihasilkan. Ada tiga parameter dalam analisa kemudahan terbakar yaitu mudah terbakar (menjadi bara dalam waktu < 20 menit) sedang (menjadi bara dalam waktu 20-30 menit) dan sukar terbakar ( menjadi bara dalam waktu > 30 menit). Jika waktu yang diperlukan oleh briket untuk enjadi abu kurang dari 2 jam maka dapat dikatakan bahwa ketahanan briket terhadap pembakaran kurang baik dan jika lebih dari 2 jam maka dapat dikatakan bahwa briket tersebut sangat baik dan efektif untuk digunakan.
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Pada uji pembakaran briket batubara non-karbonisasi biasa 1 durasi waktu yang diperlukan adalah 25 menit. Dapat dikatakan briket ini tergolong sedang atau tidak terlalu sukar untuk terbakar. Bau yang dihasilkan adalah karbon dan bau minyak tanah. Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan dan abu yang dihasilkan adalah hitam keabuabuan. Durasi pembakaran briket adalah 51 menit. Pada uji pembakaran briket batubara non-karbonisasi biasa 2, hasil yang didapat hampir sama dengan uji pembakaran briket batubara nonkarboonisasi biasa 1. Hal ini disebabkan oleh komposisi yang digunakan sama, yaitu batubara, kaolin, dan kanji. Hal yang membedakan hanya pada komposisi batubara dan kanjinya saja pada briket biasa 1 batubara 75% berat total dan kanji 15% berat total, sedangkan briket biasa 2 batubara 80% dan kanji 15% dengan komposisi kaolin pada biasa 1 adalah 10% pan pada biasa 2 yaitu 5% oleh karena itu hasil yang didapat tidak berbeda jauh antara biasa 1 dan biasa 2. Pada uji pembakaran briket non-karbonisasi biomass 1 durasi waktu yang diperlukan untuk briket terbakar adalah 24 menit. Durasi ini dapat dikatakan sedang atau tidak sukar menyala. Hal ini disebabkan adanya serbuk kayu sehingga memudahkan proses pembakaran. Bau yang dihasilkan adalah bau karbon dan minyak tanah. Asap yang dihasilkan berwarna putih keabu-abuan, abu yang dihasilkan bewarna hitam keabuabuan dan butirannya kasar. Hal ini disebabkan oleh hasil pembakan serbuk kayu sehingga butirannya ada yang kasar. Hampir sama seperi pembakaran briket batubara biasa 1 dan 2, pada uji pembakaran biomassa 1 dan 2 ini pun hasilnya hampir sama karena komposisi yang digunakan pada biomassa 1 dan 2 hampir sama. Bahan yang membedakan hanya komposisi batubara, kanji, dan bahan lain relatif sama. Hal mendasar yang membedakan antara briket biasa dan biomassa adalah komposisi batubara. Jumlah batubara yang terkandung dalam briket biasa lebih banyak daripada biomassa, hal ini yang menyebabkan durasi pembakaran briket biasa jadi lebih lama daripada biomassa yang kedua
Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

yaitu durasi waktu penyalaan. Briket biomassa yang mengandung serbuk kayu jadi lebih mudah terbakar dibandingkan dengan briket biasa.

Kelompok IV

PRAKTIKUM BATUBARA LABORATORIUM TEKNOLOGI MINERAL PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

4.8. Penutup 4.8.1. Kesimpulan Kesimpulan yang di dapat dari parktikum kali ini antara lain: a. Uji pembakaran briket batubara non-karbonisasi memiliki beberapa analisa yaitu analisa kemudahan terbakar, analisa durasi saat pembakaran, analisa asap, abu dan bau. b. Analiasa kemudahan terbakar akan dipengaruhi oleh adanya bahan bakar yang membuat briket menjadi mudah terbakar, yaitu dalam hal ini serbuk kayu yang berperan. c. Briket biomassa lebih mudah terbakar dibandingkan briket biasa. d. Analisa durasi pembakaran dipengaruhi oleh banyaknya komposisi batubara dalam sebuah briket. Semakin banyak komposisi batubara maka akan semakin lama durasi pembakaran briket. e. Briket biasa lebih lama durasi pembakarannya dibanding dengan biomassa. f. Bau yang dihasilkan dalam pembakaran dipengaruhi oleh ada tidaknya bahan yang penetralisir, dalam hal ini kapur yang berperan. 4.8.2. Saran Saran yang dapat diberikan untuk praktikum kali ini antara lain: a. Perlu dijelaskan lebih rinci analisa-analisa yang dibutuhkan dalam uji pembakaran. b. Dalam uji pembakaran perlu diperhatikan faktor-faktor kehatihatian dalam pembakaran. c. Safety tools perlu diperhatikan agar dipakai dengan lengkap untuk menghindari cedera atau kecelakaan kerja.

Kelompok IV