Anda di halaman 1dari 28

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, serta kebaikan kepada kita semua. Para penyusun dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah ini dibuat untuk
melengkapi Tugas Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar semester I.
Tak lupa penyusun ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga
kepada :
1. Kedua Orang Tua Para Penyusun serta keluarga atas dukungan moril yang
diberikan kepada para penyusun. Juga doa yang selalu dipanjatkan agar
makalah ini terselesaikan dengan baik.
2. Kepada Bapak Achiruddin Akil, S.Pd selaku Dosen mata kuliah Ilmu Budaya
Dasar, yang dengan sabar mengajarkan kami.
3. Teman – teman DKV kelas O Fakultas Bahasa dan Seni Universitas
Indraprasta yang tidak dapat para penyusun sebutkan satu per satu.
Dalam pembuatan makalah ini para penyusun menyadari bahwa makalah ini
kurang sempurna. Karena itu para penyusun berharap Bapak dan Ibu dosen dapat
memakluminya. Terima kasih.

Jakarta, 30 November 2008

Para Penyusun

2
DAFTAR ISI

Cover ……………………………………………………………………….. 1
KATA PENGANTAR ……………………………………………………… 2
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. 3
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………. 4
LATAR BELAKANG ……………………………………………………… 4
BAB II MANUSIA DAN KEINDAHAN ………………………………….. 5
ISI ……………………………………………………………………....... 5
BAB III PEMBAHASAN …………………………………………………... 6
A. PENGERTIAN KEINDAHAN ………………………………………… 6
1. Apakah Keindahan Itu ? ………………………………………... 7
2. Nilai Estetika ……………………………………………………. 9
3. Apa Sebab Manusia Menciptakan Keindahan ? ……………….. 10
B. MAKNA KEINDAHAN ………………………………………………. 11
C. RENUNGAN …………………………………………………………. 16
D. KESERASIAN ………………………………………………………… 19
E. KEHALUSAN ………………………………………………………… 21
F. MANUSIA DAN KEINDAHAN ……………………………………… 22
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………. 26
KESIMPULAN …………………………………………………………… 26
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………... 27
LEMBAR PERTANYAAN ….……………………………………………… 28
LEMBAR JAWABAN …………………………………………………….... 29

3
BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Ditinjau dari segi bahasa, Keindahan berasal dari kata Indah, diartikan
sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan
identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah
keindahan.
Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan.
Keindahan dalam arti estetika murni menyangkut pengalaman estetik seseorang
dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Keindahan dalam arti
terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut
benda-benda yang dapat diserap dengan Indera Penglihatan, yakni berupa
keindahan bentuk dan warna.
Nilai Estetik menurut Teori The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian
keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai
ekonomi, nilai Pendidikan, dan sebagainya.
Renungan berasal dari kata renung, merenung artinya dengan diam-diam
memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan
adalah hasil merenung.
Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar Rasi artinya cocok,
sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena benar mengandung unsur
pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang.
Kehalusan berasal dari kata Halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut,
sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus,
kesopanan dan atau keadaban.

4
BAB II
MANUSIA DAN KEINDAHAN

Dalam materi pembahasan tentang Manusia dan Keindahan, ada beberapa


hal-hal yang akan dibahas, dimana setiap pointnya mempunyai keterkaitan yang
saling berhubungan, diantaranya adalah sebagai berikut :
A. PENGERTIAN KEINDAHAN
1. Apakah Keindahan Itu ?
2. Nilai Estetika
3. Apa Sebab Manusia Menciptakan Keindahan ?
B. MAKNA KEINDAHAN
C. RENUNGAN
D. KESERASIAN
E. KEHALUSAN
F. MANUSIA DAN KEINDAHAN

Dari pembahasan Materi tentang Manusia dan Keindahan diatas,


diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang keindahan,
renungan, keserasian serta kaitannya dengan manusia didalam kehidupan sehari-
hari.

5
BAB III
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KEINDAHAN

Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan atau "Beauty" adalah sifat
dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang,
cantik, bagus benar atau elok. Keindahan juga dapat memberikan kita rasa
keingintahuan tentang hal tersebut semakin terus bertambah. Contohnya jika kita
bermusik, kita akan semakin mencari 'Feel'
apa yang cocok untuk hati
kita1. Benda yang
mempunyai sifat indah
ialah segala hasil seni,
seperti Pemandangan
Alam (Pantai, Pegunungan,
Danau, Bunga, Lereng
Gunung), Manusia (Wajah, Mata,
Hidung, Bibir, Rambut, Kaki, Tubuh), Rumah (halaman,
tatanan perabot rumah tangga dan sebagainya), Suara, Warna, dan sebagainya.
Semua itu termasuk indah yang merupakan ciptaan Tuhan secara langsung. Betapa
indahnya pemandangan matahari pagi dari timur dan pemandangan sore hari
ketika matahari sedang menuju peraduannya di ufuk barat bumi ini. Demikian
juga pemandangan yang indah ciptaan Tuhan yang muncul dari perpaduan
gunung yang menghijau dengan samudera yang membiru. Indahnya
pemandangan alam lepas, apalagi saat bulan purnama yang sejuk dengan desiran
angin sepoi-sepoi basah. Keindahan seperti itu sudah merupakan keindahan yang
universal. Semua lapisan masyarakat akan merasakan betapa indahnya ciptaan
Tuhan. Karena dalam Islam sendiri, sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta'ala indah dan suka kepada keindahan”. (HR. Muslim)
Tidak demikian halnya dengan keindahan yang merupakan karya cipta manusia.
Keindahan yang merupakan karya cipta manusia itu dibatasi oleh ruang dan

1 http://id.wikipedia.org/wiki/Keindahan

6
waktu. Meskipun keindahan karya cipta manusia itu universal, akibat
pemaknaannya akan berbeda. Perbedaan itu dibatasi oleh ruang dan waktu.
Keindahan juga identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran,
dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu abadi,
dan mempunyai daya tarik yang bertambah, yang tidak mengandung kebenaran
berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah karena
dasarnya tidak benar.

Gambar 2 : Lukisan Monalisa,


Indah, sesuatu yang mengandung kebenaran (bukan tiruan/Asli)

Keindahan juga bersifat Universal, yang tidak terikat oleh selera


perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan. Kemudian
pertanyaannya apakah keindahan itu? Apakah nilai Estetik itu? Yang mendorong
manusia menciptakan keindahan.
1. Apakah Keindahan itu ?
Menurut sejarah Yunani kuno abad 18, pada saat itu pengertian
keindahan telah di pelajari oleh para Filsuf. Menurut The Liang Gie dalam
bukunya “Garis Besar Estetik” (Filsafat Keindahan), dalam bahasa Inggris
Keindahan diterjemahkan dengan kata “Beautiful”, bahasa Perancis “Beau”,
Italia dan Spanyol “Bello”, kata-kata itu berasal dari bahasa Latin “Bellum”,
akar katanya adalah “Bonum” yang berarti Kebaikan kemudian mempunyai
bentuk pengecilan menjadi “Bonellum” dan terakhir dipendekkan menjadi
“bellum”. Kemudian menurut luas cakupannya, Keindahan dibedakan
menjadi tiga macam pengertian, yaitu :

• Keindahan Dalam Arti Luas

7
Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie,
mengandung gagasan tentang kebaikan. Untuk ini bisa dilihat misalnya
dari pemikiran Plato, yang menyangkut adanya watak yang indah dan
hukum yang indah: Aristoteles yang melihat keindahan sebagai sesuatu
yang baik dan juga menyenangkan; Plotinus yang berbicara tentang ilmu
yang indah dan kebajikan yang indah atau bisa pula disimak dari apa
yang biasa dibicarakan oleh orang-orang Yunani mengenai buah pikiran
yang indah dan adat kebiasaan yang indah. Tetapi bangsa Yunani juga
mengenal pengertian keindahan dalam arti estetik disebutnya
“Syimmetria”, untuk keindahan berdasarkan pengelihatan. (misalnya
pada seni pahat dan arsitektur) dan “Harmonia” untuk keindahan
bedasarkan pendengaran (musik).
Jadi pengertian yang seluar-luasnya meliputi :
o Keindahan Seni
o Keindahan Alam
o Keindahan Moral
o Keindahan Intelektual

• Keindahan Dalam Arti Estetika Murni


Hal ini murni menyangkut pengalaman estetik seseorang
dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.

• Keindahan Dalam Arti Terbatas


Keindahan dalam arti terbatas mempunyai arti yang lebih
disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat
diserap dengan Indera Penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan
warna.
Filsuf seni merumuskan keindahan sebagai kesatuan
hubungan yang terdapat antara penerapan-penerapan inderawi kita
(Beauty is unity of formal realitions of our sense percepctions). Thomas
Aquinos (1225-1274) mengatakan bahwa keindahan adalah sesuatu
yang menyenangkan bila mana dilihat (Id qout visum placet).

2. Nilai Estetika

8
Kata estetika berasal dari kata Aesthesis yang artinya perasaan atau
sensitivitas, karena memang pada awalnya pengertian ini berhubungan
dengan lidah dan perasaan. Dalam pengertian teknis, Estetika adalah ilmu
keindahan atau ilmu yang mempelajari keindahan, kecantikan secara
umum. Pengertian ini berdasarkan kepada, bila kita memandang sesuatu
obyek dan obyek itu dapat memberikan rasa senang, puas dan sebagainya
yang sejalur dengan kata tersebut, maka dapat dikatakan obyek yang
dipandang itu mengandung keindahan. Dalam perkembangannya,
pengertian ini, kemudian berubah meluas, tidak lagi berkaitan dengan lidah
dan perasaan, tetapi berhubungan dengan pikiran, etika dan logika.
Teori The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian keindahan
dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai Moral, nilai
Ekonomi, nilai Pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan
segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut Nilai
Estetik.
Masalah sekarang ialah: apakah Nilai Estetik. itu? Dalam bidang
filsafat, istilah nilai sering kali dipakai suatu kata benda abstrak yang berarti
keberhargaan (Worth) atau kebaikan (Goodness).
Dalam “Dictionary Of Sociology And Related Science” diberikan
rumus tentang nilai sebagai berikut :

“The believed Capacity of any object to saticgy a human desire. The Quality
of any object which causes it be of interest to an individual or a group”
(Kemampuan yang dianggap ada pada suatu benda yang dapat memuaskan
keinginan manusia. Sifat dari suatu benda yang menarik minat seseorang
atau suatu kelompok).

Hal itu berarti, bahwa nilai ini adalah semata-mata adalah realita
psikologi yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat
dalam jiwa manusia dan bukan pada hendaknya itu sendiri. Nilai itu (oleh
orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti letak
kebenarannya.
Tentang nilai itu ada yang membedakan antara nilai subjektif dan
objektif, atau ada yang membedakan nilai perseorangan dan nilai

9
kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting ialah : Nilai Ekstrinsik
dan Nilai Instrinsik.
Nilai Ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau
sarana untuk sesuatu hal lainnya (instrumental/Contributory value), yakni
nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu. Nilai Instrinsik adalah sifat
baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun
demi kepentingan benda itu sendiri.
Contoh :
1) Puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak,
irama, itu disebut nilai ekstrinsik. Sedangkan pesan yang ingin
disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi itu
disebut Nilai Intrinsik.
2) Tari, tarian Kecak dari Bali suatu tarian yang halus segala
macam jenis pakaian dan gerak-geriknya. Dan merupakan nilai
ekstrinsik.

Gambar 3 : Tari Kecak,


mengandung nilai Ekstrinsik dan Instrinsik

3. Apa Sebab Manusia Mencipta Keindahan


Keindahan itu pada dasarnya adalah alamiah. Alam itu ciptaan
Tuhan. Ini berarti bahwa keindahan itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu artinya
wajar, tidak berlebihan tidak pula kurang. Kalau pelukis wanita lebih cantik
dari keadaan sebenarnya, justru tidak indah. Karena akan ada ucapan “lebih
cantik dari warna aslinya”. Bila ada pamain drama yang berlebih-lebihan,
misalnya marah dengan meluap-luap padahal kesalahan kecil, atau karena

10
kehilangan sesuatu yang tak berharga kemudian menangis meraung-raung,
itu berarti tidak alamiah.
Dibawah ini adalah alasan dan tujuan manusia menciptakan
keindahan :
1. Tata nilai yang telah usang
Tata nilai yang sudah tidak sesuai dengan kondisi dan keadaan pada
zaman sekarang, sehingga dirasakan sebagai hambatan yang dapat
merugikan nilai-nilai kemanusiaan dan dipandang sebagai hak-hal dapat
mengurangi nilai moral bermasyarakat, sehingga bisa dikatakan tiodak
indah.
2. Kemerosotan zaman
Keadaan yang merendahkan derajat dan nilai kemanusiaan ditandai
dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari
tingkah laku dan perbuatan bejat terutama dari segi kebutuhan seksual.
Kebutuhan seksual ini dipenuhinya tanpa menghiraukan ketentuan-
ketentuan agama dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Yang demikian itu tidak baik, yang tidak baik iu tidak indah.
3. Penderitaan Manusia
Penderitaan merupakan hal yang pernah dialami semua orang, dan hal
ini merupakan resiko hidup manusia, yang diberikan oleh Tuhan agar
manusia sadar untuk tidak menjauh dariNya. Walaupun penderitaan
adalah resiko hidup manusia, tapi hampir semua orang menyukai adanya
penderitaan, dan menganggap penderitaan merupakan hal yang tidak
baik, yang tidak baik iu tidak indah.
4. Keagungan Tuhan
Keindahan merupakan anugerah yang diberikan oleh manusia dan maka
dari itu kita sebagai manusia wajib mensyukurinya, dan sebagian dari
kita mengungkapkan rasa syukur tersebut dalam bentuk karya seni,
seperti melukis pemandangan, yang merupakan hasil karya seni yang
Agung yang diciptakanoleh Allah untuk kita sebagai hambanya.

11
B. MAKNA KEINDAHAN

Menjawab pertanyaan sekitar apa itu keindahan, boleh jadi merupakan


pekerjaan yang sulit. Ini kalau yang dituntut jawaban yang bisa memuaskan semua
pihak. Karena keindahan intu bersifat relatif, dan tiap orang mempunyai penilaian
yang berbeda-beda. Kesulitan semacam itu memang bisa dimengerti oleh karena
sampai sekarang ini bisa kita temukan sebagai batasan atau pengertian tentang
keindahan yang celakanya, berbeda satu sama lain. Padahal, yang namanya
keindahan itu secara akademis sudah dikaji manusia sejak abad ke delapan belas,
pada saat para filsuf banyak tertarik untuk mengembangkan estetika, salah satu
cabang dari filsafat yang tidak lain berbicara soal keindahan.
Beberapa definisi keindahan berdasarkan pendapat para ahli antara lain
menjelaskan (Gie, 1996 : 13-14) :

Sifat dari suatu benda yang memberi kita kesenangan


yang tidak berkepentingan yang kita bisa
memperolehnya semata-mata dari memikirkan atau
melihat benda individual itu sebagaimana adanya
Mortiner Adler

Sesuatu yang menyenangkan ketika dilihat.


Aristoteles, selain yang baik juga adalah
menyenangkan

Thomas Aquinas

Kualitas yang mendatangkan penghargaan yang


mendalam tentang bebagai nilai atau ideal yang
membangkitkan semangat

Charles J. Bushell
Keindahan adalah perpaduan dari sesuatu yang baik
bentuknya dengan yang bertenaga hidup. Kini studi
estetika sebagai ilmu yang dipelajari bukanlah cara
untuk menikmati keindahan, tetapi usaha untuk

12
memahami keindahan. Walaupun rasa keindahan
bersifat subyektif, bergantung kepada rasa
perseorangan. Secara keilmuan dapat diobjektifkan

Samuel Coleridge
Sekedar penguat konstatasi diatas, baik juga dilihat beberapa persepsi
tentang keindahan berikut ini2 :

Keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa


menyenangkan bagi yang melihat

Tolstoy

Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan


susunan yang teratur dari bagian-bagian yang saling
berhubungan satu sama lain, atau dengan
keseluruhan itu sendiri. Atau, “Beauty is an order of
parts in their manual relations and in an relation to
the whole”
Baumgarten

Yang indah adalah yang memiliki proporsi yang


harmonis. Karena proporsi yang harmonis itu nyata,
maka keindahan itu dapat disamakan dengan
kebaikan. Jadi yang indah adalah nyata dan yang
nyata adalah yang baik
Shaftesbury

Keindahan adalah suatu yang dapat mendatangkan


rasa senang

2 Dikutip dengan sedikit perubahan dari I Made Suru, “ Manusia dan Keindahan” dalam M.

Habib Mustopo ( )., Manusia dan Budaya, Usaha Nasional, Surabaya, 1983, hal. 112-114.
Ed

13
David Hume
Yang indah adalah yang paling banyak
mendatangkan rasa senang, dan itu adalah yang
Hamsterhuis
dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak
memberikan pengalaman yang menyenangkan
Keindahan adalah sesuatu yang menarik jiwamu.
Kahlil Gibran Keindahan adalah cinta yang tidak memberi namun
menerima
Winchelmann Keindahan dapat terlepas sama sekali dari kebaikan
Yang indah hanyalah yang baik. Jika belum baik
ciptaan itu belum indah. Keindahan harus dapat
Sulzer memupukan rasa moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang
amoral tidak bisa dikatakan indah, karena tidak dapat
digunakan untuk memupuk moral

Selain dari pengertian keindahan tersebut di atas terlalu sayang kalau tidak
kita lihat pendapat Emmanuel Kant berikut ini : Menurut Kant, keindahan itu bisa
di lihat dari 2 segi, yaitu dari segi arti yang Subjektif dan dari segi arti yang
Objektif. Dari segi arti subjektif keindahan dikatakan sebagai sesuatu yang tanpa
harus direnungkan ataupun disangkut-pautkan dengan kegunaan-kegunaan
praktis sudah bisa mendapatkan rasa senang pada diri si penghayat; sebagai
keserasian yang dikandung objek sejauh objek tersebut tidak ditinjau dari segi
gunanya.
Dengan melihat demikian beragamnya pengertian keindahan, dan kita
harus percaya bahwa yang di atas itu hanyalah sebagian kecil, boleh jadi akan
mengecewakan kita yang memuaskan. Namun demikian, dari berbagai pengertian
yang ada, sebenarnya, kita bisa menempatkannya dalam kelompok-kelompok
pengertian tersendiri, paling tidak kita bisa menangkap arah atau kecenderungan
dari suatu pengertian yang dikemukakan seseorang sesuai dengan pengelompokan
seseorang sesuai dengan pengelompokan-pengelompokan yang ada.
Pengelompokan-pengelompokan yang bisa kita buat adalah sebagai
berikut :
1. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar pada titik pijak atau
landasannya. Dalam hal ini ada 2 pengertian keindahan, yaitu yang
bertumpu pada objek dan subjek. Yang pertama, yaitu yang bertumpu

14
Keindahan Objektif, adalah keindahan yang memang ada pada objeknya
sementara kita sebagai pengamat harus menerima sebagaimana mestinya.
Sedangkan yang kedua, yang disebut Keindahan Subjektif; adalah
keindahan yang biasanya ditinjau dari segi subjek yang melihat dan
menghayatinya. Disini keindahan diartikan sebagai segala sesuatu yang
dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penikmat dan penghayat
(Subjek) tanpa dicampuri keinginan–keinginan yang bersifat praktis, atau
kebutuhan-kebutuhan pribadi si penghayat.
2. Pengelompokan pengertian keindahan dengan berdasar pada cakupannya.
Bertitik tolak dari landasan ini kita bisa membedakan antara keindahan
sebagai kualitas abstrak dan keindahan sebagai sebuah benda tertentu yang
memang indah. Perbedaan semacam ini lebih tampak, misalnya dalam
penggunaan bahasa inggris yang mengenalnya istilah Beauty untuk
keindahan yang pertama, dan isitilah The beautiful untuk pengertian yang
kedua, yaitu benda atau hal-hal tertentu yang memang indah.
3. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar luas-sempitnya. Dalam
pengelompokan ini kita bisa membedakan antara pengertian keindahan
dalam arti luas, dalam arti estetik murni, dan dalam arti yang terbatas.

Dari apa yang dikemukakan di atas, dua hal bisa kita petik, yaitu : Pertama,
keindahan menyangkut persoalan filsafati, sehingga jawaban terhadap apa itu
keindahan sudah barang tentu bisa bermacam-macam. Kedua, keindahan sebagai
pengertian mempunyai makna relatif, yaitu sangat tergantung kepada subjeknya.
Secara demikian, upaya memperoleh pengertian yang jernih tentang
keindahan tidak bisa hanya bertumpu pada definisi-definisi yang bersifat
perorangan. Kendatipun dikemukakan seorang filsuf sekalipun. Langkah yang
barangkali, bisa membantu adalah dengan mencoba menemukan ciri-ciri umum
dari keindahan, baik yang ada pada semua benda ataupun semua kualis. Dalam
hubungan ini Herbert Read pernah mengemukakan, bahwa :
“Beuty is unity of formal relation of our sense perceptions”. Keindahan
adalah suatu kesatuan hubungan formal dari pengamatan kita yang dapat
menimbulkan rsa senang.
Keindahan itu merangsang timbulnya rasa senang tanpa pamrih dalam diri
subjek yang melihatnya, serta bertumpu pada ciri-ciri dari objek yang sesuai
dengan rasa senang itu sendiri.

15
Kalau kita amati pemikiran Read tersebut, boleh jadi timbul kesan bahwa
itulah pemikiran yang paling mendekati kebenaran. Akan tetapi kalau kita amati
dengan lebih mendalam lagi, tampak bahwa konsep Herbert Read terlalu bertumpu
pada aspek sensual atau jasmaniah, dan kurang memberikan porsi pada objek yang
diamati atau yang dimiliki keindahan itu sendiri. Padahal, yang namanya
keindahan itu tidak hanya merupakan perpaduan pengamatan batiniah.
Pengertian keindahan tidak hanya terbatas pada kenikmatan penglihatan semata-
mata, tetapi lebih dalam dari itu, juga merupakan perpaduan pengamatan
batiniah. Itulah sebabnya Al-Ghazali memasukkan nilai-nilai spiritual, moral dan
agama sebagai unsur-unsur keindahan. Disamping sudah barang tentu unsur-
unsur yang lain .
Dari apa yang dikemukakan diatas, satu kenyataan sekali lagi menghadang
kita, bahwa sulit untuk memberikan jawaban yang memuaskan atas pernyataan
apa itu keindahan ? itulah sebabnya dalam estetika modern orang lebih suka
berbicara keindahan dengan mengaitkan pada dunia seni dan pengalaman estetik.
Ini tidak lain disebabkan karena seni dan pengalaman estetik bukanlah
pengalaman yang abstrak, melainkan gejala konkrit yang dapat ditelaah dengan
pengamatan secara empirik ataupun melalui penguraian yang sistematik.

C. RENUNGAN

Merenung artinya secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian


dengan mendalam. Renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau
pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal.
Renungan berasal dari kata renung, merenung artinya dengan diam-diam
memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan
adalah hasil merenung.
Setiap orang pernah merenung. Sudah tentu kadar renungannya satu sama
lain berbeda, meskipun objek yang direnungkannya sama, lebih pula apabila objek
renungannya berbeda. Jadi apa yang direnungkannya itu bergantung kepada objek
dan subjek.
Setiap kegiatan untuk merenung atau mengavaluasi segenap pengetahuan
yang dimiliki dapat disebut berfilsafat. Jadi berfilsafat adalah terjadinya proses
pembicaraan, evaluasi dengan hati kita sendiri mengenai suatu peristiwa. Contoh

16
hasil renungan yang menghasilkan pengetahuan yaitu Newton dengan gaya
gravitasinya3. Akan tetapi tidak semua orang mampu berfikir kefilsafatan.
Pemikiran kefilsafatan mendasarkan diri kepada penalaran. Penalaran adalah
proeses berpikir yang logik dan analitik. Berpikir merupakan kegiatan untuk
menyusun pengetahuan yang benar. Berpikir logik menunjuk pola berpikir secara
luas. Kegiatan berpikir dapat disebut logik ditinjau dari suatu logika tertentu. Maka
ada kemungkinan suatu pemikiran yang logik akan menjadi tidak logik bila
ditinjau dari sudut logika yang lain.
Penalaran merupakan kegiatan berpikir yang juga menyandarkan diri
kepada suatu analisis. Analisis adalah kegiatan berpikir berdasarkan langkah-
langkah tertentu, sehingga pengetahuan yang diperoleh disebut pengetahuan tidak
langsung. Pemikiran ilmiah (keilmuan) dan pemikiran kefilsafatan mendasarkan
diri kepada logika analitik. Hanya saja pemikiran kefilsafatan mempunyai
karakteristik sendiri yang berbeda dengan karakter keilmuan.

Pemikiran kefilsafatan mempunyai 3 macam ciri, yaitu:


1. Menyeluruh, artinya pemikiran yang luas, bukan hanya ditinjau dari
sudut pandang tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui
antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain. Hubungan ilmu
dengan moral seni dan tujuan hidup.
2. Mendasar, artinya pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang
fundamental (keluar gejala), sehingga dapat dijadikan dasar berpjak
bagi segenap bidang keilmuan.
3. Spekulatif, artinya hasil pemikiran yang di dapat diijadikan dasar untuk
pemikiran-pemikiran selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu
dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan
yang baru.

Metafisika adalah cabang filsafat yang paling umum, mendasar dan kritik
spekulatif. Renungan atau pemikiran yang dibahas dalam modul ini ialah yang
berhubungan dengan keindahan. Setiap hasil seni lahir dari hasil renungan. Tanpa
direnungkan hasil seni tidak akan mencapai keindahan.
Renungan atau pemikiran yang berhubungan dengan keindahan atau
penciptaan keindahan didasarkan atas tiga macam teori, ialah Teori

3
http://www.cariilmuonline.com, Pakde Sofa : Ilmu Budaya Dasar Bag. 1

17
Pengungkapan, Teori Metafisika, dan Teori Psikologis. Masing-masing dari teori itu
ada tokohnya. Dalam Teori Pengungkapan dikatakan oleh Benedetto Croce, bahwa
seni adalah pengungkapan kesan-kesan.
Dalam Teori Metafisika, Plato mendalilkan adanya dunia ide pada taraf
yang tertinggi, sebagai realita Ilahi itu. Karya seni yang dibuat manusia hanyalah
merupakan Nimenis (Tiruan) dari realiti dunia. Sedangkan dalam Teori Psikologis,
dinyatakan bahwa sadar dari seorang seniman. Adapun karya seninya itu
merupakan bentuk berselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari
keinginan-keinginan itu.
Dari teori permainan yang masih tergolong teori Odikologik dengan
tokohnya Freidrick Schiller dan Herbert Spencer, Schiller menyatakan bahwa asal
mula seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (Play Impulse.)

Gambar 12 : Freidrick Schiller “Play Impulse”

Pada proses jiwa seniman pada waktu merenung dalam rangka


menciptakan seni, menurut Keats selalu diliputi rasa ragu-ragu, takut,
ketidaktentuan, misterius (Negative Capability). Justru seniman yang tidak
memiliki kemampuan negatif tidak mampu menciptakan keindahan. Kemampuan
negatif ini identik dengan proses mencari. Mencari yang dimaksud ialah mencari
keindahan, karena yang bersangkutan merasa belum puas atas keindahan yang
telah diciptakan. Pengertian yang dekat dengan kemampuan ialah Intensitas.
Kekurangan-kekurangan Intensitas ini erat hubungannya dengan ketidakberesan
imjinasi yang berarti seniman tersebut tidak akan dapat mendapatkan keindahan.
Selain daripada itu Keats menyatakan, bahwa untuk mengatasi ketakutan
ialah berkuasanya hal-hal yang sesaat. Baginya hal-hal yang sesaat itu merupakan
pelatuk yang meledakkan imajinasi, dan imajinasi ini yang membentuk konsep
keindahan. Selanjutnya konsep keindahan adalah abstrak. Konsep itu baru dapat
berkomunikasi setelah diberi bentuk. Seperti halnya Gesang, setelah ia bermain di
Bengawan Solo ia merenung. Ia menemukan konsep keindahan. Tetapi konsep

18
keindahan belum berkomunikasi, barulah berkomunikas setelah diberi bentuk,
yaitu lagu “Bengawan Solo” yang terkenal itu4.

D. KESERASIAN

Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar Rasi artinya cocok,
sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena benar mengandung unsur
pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang. Perpaduan misalnya orang
berpakaian antara kulit dan warnanya yang dipakai cocok. Sebaliknya orang hitam
memakai wana hijau, tentu makin hitam. Warna hijau pantas dipakai oleh orang
berkulit kuning. Atau ke pasar menggunakan pakaian pesta, atau sebaliknya
berpesta menggunakan pakaian santai, dan lain-lain. Hal seperti ini tentu tidak
serasi dan kurang cocok, kurang kena. Dan tentu akan dikatakan oleh setiap orang
“Sayang” atrau kata-kata lain yang menunjukkan kekecewaan. Oleh karena yang
memandang itu merasa kecewa dengan adanya hal yang kurang serasi.
Dalam memadu rumah dan halaman, rumah yang bagus dengan halaman
luas dan tersusun rapi dengan bunga-bunga yang indah, orang akan memuji
keserasian itu. Tetapi sebaliknya, rumah yang bagus yang tidak mempunyai
halaman tentu orang akan mengatakan “Sayang”. Jadi dalam hal memadu rumah
dan halaman itu ada unsur ukuran-ukuran yang seimbang.
Dalam berpakaian sangat diutamakan keserasian warna dan bentuk serta
potongan tubuh. Atau dapat juga kita kagum atas kecantikan wanita dan
kecakapan pria pada waktu duduk. Setiap orang melihat terheran-heran melihat
wajahnya. Hampir semua mata memandang ke arah wanita atau pria yang
dikagumi semua yang hadir itu. Tetapi setelah berdiri, semua orang mengeluh
“Sayang”, karena tinggi orang itu tidak sesuai dengan harapan kita, ternyata
terlalu pendek hal seperti itu juga menyatakan ukuran.
Lagu merupakan pertentangan suara tinggi-rendah, panjang-pendek,
keras-lembut yang terpadu begitu rupa, sehingga telinga kita dibuat asyik
mendengarkan dan hati kita merasa puas. Tetapi apabila terjadi sekonyong-
konyong suara yang seharusnya menurut rasa kita menanjak justru kebalikannya,
kita tentu akan kecewa. Dalam hal lagu, irama yang indah itu merupakan
pertentangan yang serasi.

4 Drs. Suyadi M.P., Buku Materi Pokok IBD, Depdikbud 1984 hal.19.

19
Karena itu, dalam keindahan itu, sebagian besar ahli pikir mejelaskan,
bahwa keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualita/pokok tertentu yang
terdapat pada sesuatu hal; Kualita yang paling sering disebut adalah Kesatuan
(Unity), Keselarasan (Harmony), Ketangkupan (Symetry), Keseimbangan (Balance)
dan Pertentangan (Contrast). Selanjutnya dalam hal keindahan itu dikatakan
tersusun dari berbagai keselarasan dan pertentangan dari garis, warna, bentuk dan
kata-kata. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa Keindahan adalah suatu
kumpulan hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu
dengan si pengamat.5
Keserasian identik dengan Keindahan. Keindahan adalah suatu susunan
keserasian yang dapat menciptakan kesenangan bagi penglihatan dan
pendengaran6. Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak serasi tidak
indah. Pendapat lain mengatakan, bahwa pengalaman estetik sebagai suatu
keselarasan dinamik dan perenungan yang menyenangkan. Dalam keselarasan itu
seseorang memiliki perasaan seimbang dan tenang dan mempunyai citarasa akan
sesuatu yang berakhir dan merasa hidup sesaat ditengah-tengah kesempurnaan
yang menyenangkan hati dan ingin memperpanjangnya.
Dalam perimbangan sebagai cabang Teori Objektif dinyatakan bahwa
Keindahan merupakan suatu kualita dari benda. Contoh untuk itu ialah bangunan
arsitektur Yunani Kuno yang terdiri dari atap yang bersusun yang ditopang tiang-
tiang besar dengan ukuran yang seimbang, sehingga tampak harmonis dan serasi.
Atap yang bersusun itu tercipta dari hubungan bagian-bagian yang berimbang
berdasarkan perbandingan angka-angka.
Mazhab Pythagoras yang menciptakan teori proporsi itu mengemukakan
bahwa nada-nada yang dikeluarkan oleh seutas senar tergantung dari panjang-
pendeknya senar.
Dalam seni ada 6 asas. Asas-asa itu ialah Kesatuan Total, Tema, Tema
Variasi, Keseimbangan, Perkembangan dan Tatajenjang.
Matematika mempunyai peranan penting dalam seni, terutama dalam
cabang seni bangunan, seni lukis dan seni musik.
Keserasian tidak ada hubungan dengan kemewahan. Sebab keserasian
merupakan perpaduan antara warna, bentuk dan ukuran. Atau keserasian
merupakan pertentangan antara nada-nada tinggi-rendah, keras-lembut, dan

5 Ibid, hal. 22
6
http://www.cariilmuonline.com, Pakde Sofa : Ilmu Budaya Dasar Bag. 1

20
panjang-pendek. Kadang-kadang kemewahan menunjang keserasian, tetapi tidak
selalu.

E. KEHALUSAN

Kehalusan berasal dari kata Halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut,
sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus,
kesopanan dan atau keadaban.
Halus bagi manusia iu sendiri ialah berupa sikap, yakni sikap halus. Sikap
halus adalah sikap lembut dalam menghadapi orang. Lembut dalam mengucapkan
kata-kata, lembut dalam roman muka, lembut dalam sikap anggota badan lainnya.
Halus itu berarti sikap manusia dalam pergaulan baik dalam masyarakat
kecil maupun masyarakat luas. Sudah tentu sebagai lawannya ialah sikap kasar
atau sikap orang sedang emosi, bersikap sombong, bersikap kaku sikap orang yang
sedang bermusuhan.
Sikap halus atau lembut merupakan gambaran hati yang tulus serta cinta
kasih terhadap sesama. Sebab itu orang yang bersikap halus atau lembut biasanya
suka memperhatikan kepentingan orang lain, dan suka menolong orang lain. Sikap
lembut merupakan perwujudan pula dari sifat-sifat ramah, sopan, sederhana
dalam pergaulan.
Sikap halus juga dimiliki orang yang bersikap rendah hati. Karena orang
yang bersikap rendah hati adalah orang yang halus tutur bahasanya, sopan
tingkah lakunya, tidak sombong, tidak membedakan pangkat dan derajat dalam
pergaulan.
Kehalusan atau kelembutan atau sebaliknya kekerasan itu yang menilai
orang lain, orang yang dihadapi atau orang yang menyaksikan. Sudah tentu yang
dinilai adalah gerak laku, roman muka, tutur bahasa, dan sebagainya.
Angota badan yang melahirkan sikap kehalusan itu ialah Kaki, Tangan,
Kepala, Mulut, Bibir, Mata, Bahu. Selain itu roman muka, perkataan, pemilihan
kata, penyusunan kalimat dan irama bahasa juga dapat dinilai halus dan tidaknya.
Bagian Rohaniah yang melahirkan sikap : Kemauan, Perasaan dan Pikiran
atau Karsa, Rasa dan Cipta. Tiga unsur Rohaniah ini saling berkaitan, saling
mempengaruhi dan mewujudkan tingkah laku, tutur bahasa, perbuatan yang
semuanya itu dapat dinilai kehalusan dan kekasarannya.

21
Cipta, rasa dan karsa itu membuat orang bergerak, karena itu disebut “Trias
Dinamika”.
Prinsip-prinsip hidup kekeluargaan harus didasarkan kepada cipta, kasih,
keadilan, kejujuran, setia atau loyal, tertib, disiplin, berkorban dan bagi orang tua
perlu adanya satu komando dan kesatuan sikap. Pergaulan yang didasarkan pada
prinsip itu tentu akan melahirkan kehalusan dalam pergaulan, sekurang-
kurangnya ketentraman dan kesejahteraan.
Masyarakat adalah lapangan pergaulan. Masyarakat terkecil adalah
keluarga, yaitu orang-orang serumah. Masyarakat yang agak luas ialah tetangga,
kawan sekolah, dan sebagainya. Dalam bergaul harus juga diperhatikan pakaian
dan cara berpakaian.
Karya seni adalah hasil ciptaan manusia yang mempunyai nilai-nilai
tertentu. Nilai itu antara lain, Nilai Inderawi, Nilai Bentuk, Nilai Pengetahuan, dan
Nilai Ide, temu dan dalil-dalil keadilan. Nilai-nilai itu terwujud dalam bentuk lahir
yang dapat dinikmati oleh indera kita (Mata, Telinga), sehingga memuaskan hati
kita.
Hasil seni sangat berpengaruh terhadap jiwa dan perbuatan manusia.
Banyak orang yang menangis karena seni (Seni Drama Film, Seni Suara), tanpa
disadari banyak orang melenggang-lenggang karena irama musik. Banyak orang
merasa tentram, damai, dan bahagia mendengarkan lagu-lagu yang tenang
menghanyutkan.

F. MANUSIA DAN KEINDAHAN

Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dimiliki oleh
makhluk lain. Oleh akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada
manusia ini tentu saja berbeda dengan “kehendak atau keinginan” pada hewan
karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda kehendak atau keinginan pada
manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak dan keinginan pada
hewan bersumber dari naluri.
Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka
kehendak dan keinginan manusia itu pun bersifat demiikian. Jumlahnya tak
terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal sudah pasti yakni, untuk
menciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan hatinya. Sudah

22
bukan rahasia lagi bahwa yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati
setiap manusia itu tidak lain adalah sesuatu yang “Baik”, yang “Indah”. Maka
“Keindahan” pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena
dengan keindahan itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana
keindahan itu peraasaan “(ke)-manusia-(annya)” tidak terganggu.
Keindahan yang bersifat jasmani yang dimaksudkan ialah keindahan yang
dapat “menyenangkan” atau “memuaskan“ indera manusia; baik indera
penglihatan maupun indera pendengaran. Keindahan yang bersifat rohani
dimaksudkan keindahan yang dapat “menyenangkan” atau “memuaskan“ batin
manusia. Tetapi perlu segera dipahami bahwa walaupun secara material keduanya
dapat dibedakan, secara Esensial keduanya tidak dapat dipisahkan; karena pada
akhirnya “Unsur kemanusiaan” itulah yang harus menjadi penentunya. Sebuah
lukisan yang secara lahiriah “menyenangkan” tetapi jika “batin” manusia
menolaknya karen lukisan itu dapat ”merusak”. Kemanusiaan manusia, maka
lukisan itu tidak berhak disebut indah.
Kodrat manusia selalu mendambakan sesuatu yang baik, yang dapat
menyempurnakan kemanusiaannya. Disadari atau tidak setiap manusia tidak
senang terhadap sesuatu yang jorok, yang tidak baik, dan yang merendahkan
martabatnya. Karena itu “Keindahan” bagi manusia sebenarnya bukan sekedar
sesuatu yang menjadi “harapannya“ melainkan merupakan sesuatu yang “harus
diusahakan adanya”. Salah satu definisi yang paling dikenal adalah hasil
pemikiran penyair romantik Inggris, John Keats. Dibukunya yang ditulis tahun
1817, Endymion, terapat definisi tentang Keindahan semacam ini : “A thing of
beauty is a joy forever : It’s loveliness increases; it will never pass into nothingness”.
“Sesuatu yang indah adalah kegembiraan selama-lamanya : Kemolekannya
bertambah, dan takkan pernah menuju ketiadaan”.

Gambar 13 : John Keats


Pengusung konsep “Endymion”

23
Persepsi manusia terhadap keindahan antara yang satu dengan yang lain
itu tidak sama. Sebab persepsi manusia terhadap keindahan sangat ditentukan oleh
daya penggerak yang menjadi sumber kehendak atau keinginan terhadap
keindahan itu sendiri. Persepsi keindahan yang muncul dari akal dan budi
dapatlah disebut keindahan alam arti yang sebenarnya; sedangkan keindahan yang
muncul dalam dorongnan nafsu merupakan Keindahan Semu. Keindahan seperti
itu tentu saja tidak akan diterima oleh “ Kemanusiaan” manusia, yaitu akal dan
budi, karena keindahan seperti itu bukannya untuk menyempurnakan
“Kemanusiaan manusia”, melainkan justru sebaliknya.
Berbicara tentang keindahan tak akan lepas dari pengertian Objektif
maupun Subjektif. Artinya ada Keindahan Objektif dan Keindahan Subjektif. Secara
asasi keindahan Objektif, ada pada sesuatu benda atau barang. Sifatnya abadi dan
universal, selama benda itu belum berubah dari keadaan semula. Keindahan yang
abadi tidak terikat oleh waktu dan perkembangan mode. Disenangi atau tidak ia
tetap ada. Keindahan objektif tidak tergantung kepada asas kegunaan (Manfaat)
lahiriah ataupun yang bersifat material.
Keindahan subjektif sangat bergantung kepada selera perorangan, karena
sangat relatif. Ia bersumber dari asas kegunaan benda tadi bagi masing-masing
individu. Jadi sangat relatif. Artinaya sebuah benda sangat bermanfaat bagi
seseorang, namun bagi orang lain tidak berguna, bahkan mungkin sangat tidak
disenangi.
Menurut John Keats, keindahan objektif disamakan dengan kebenaran.
Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan. Sebab keduanya
memiliki nilai yang sama, yaitu Universal dan Abadi. Disamping itu juga
mempunyai daya tarik yang selalu bertambah jelasnya tidak ada keindahan jika
tidak mengandung kebenaran, dan yang tidak mengandung kebenaran tidak
indah.
Supaya orang tidak terjerumus kedalam “keindahan semu” maka orang itu
selalu mempertemukan keindahan subjektif dengan keindahan objektif. Orang itu
harus berupaya mempertemukan selera atau minat orang yang bersangkutan
dengan selera atau minat akal budinya. Seseorang disebut sebagai orang ysng
berpribadi mulia, bila orang tadi memiliki rasa keindahan atau minatnya terhdap
keindahan cenderung kepada keindahan objektif. Orang yang seperti itu segala
prilakunya akan baik pula, seperti sabda Nabi Muhammad SAW : “Dalam tubuh
manusia itu ada segumpal daging. Manakala segumpal daging itu baik, maka akan

24
baiklah jasad manusia itu seluruhnya. Tetapi manakala segumpal daging itu tidak
baik maka akan menjadi tidak baiklah jasad manusia itu seluruhnya. Segumpal
daging yang dimaksud adalah hati”.
Cara mengusahakan supaya rasa keindahan atau minat terhadap keindahan
itu cenderung kepada keindahan objektif, tidak lain melatih mendengarkan
“bisikan” akal dan budi tersebut; sebab pada akal dan budi itulah sesungguhnya
letak “kemanusiaan”.
Akal dan budi itu sesungguhnya selalu mengajak kepada manusia kearah
perbuatan yang baik, indah, dan yang benar. Manusia yang tidak senang akan
kebaikan, keindahan, dan kebenaran serta tidak berusaha menciptakannya, orang
itu sudah kehilangan predikat manusia lagi.

25
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN

Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan adalah sifat dari sesuatu
yang memberi kita rasa senang bila melihatnya, keadaan yang enak dipandang,
cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie,
mengandung gagasan tentang kebaikan. Keindahan Dalam Arti Estetika Murni
menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala
sesuatu yang diserapnya. Keindahan dalam arti terbatas mempunyai arti yang lebih
disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan
Indera Penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.
Merenung artinya secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian
dengan mendalam. Renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau
pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal.
Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar Rasi artinya cocok,
sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena benar mengandung unsur
pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang.
Kehalusan berasal dari kata Halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut,
sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus,
kesopanan dan atau keadaban.
“Keindahan” pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena
dengan keindahan itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana
keindahan itu peraasaan “(ke)-manusia-(annya)” tidak terganggu.

26
DAFTAR PUSTAKA

Widagdho, Djoko, Drs, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008)
Akiel, Ahiruddin, S.Pd, Bahan Kuliah Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta, Unindra)
M.P., Suyadi, Drs., Buku Materi Pokok IBD, (Jakarta : Depdikbud, 1984)
Situs resmi Wikipedia berbahasa Indonesia : tentang Keindahan
Situs www.cariilmuonline.com, Pakde Sofa : Ilmu Budaya Dasar Bag. 1

27
LEMBAR PERTANYAAN

28
LEMBAR JAWABAN

29