Anda di halaman 1dari 23

Case Report

MORBILI

Disusun Oleh : Pusposari Purwoko 0518011024

Preceptor: dr. H. Ahmad Firmansyah, Sp.A

SMF ILMU KESEHATAN ANAK RSUD ACHMAD YANI METRO BANDAR LAMPUNG NOVEMBER 2011

I.
IDENTITAS -Nama -Umur - Jenis kelamin - Alamat - Masuk RSUAY

STATUS PASIEN

: An. MR : 2 tahun : Laki-laki : Bratasena : 27 November 2011, pukul 18.25 WIB

ANAMNESA Autoanmnesa dan Alloanamnesa (28 November 2011) Keluhan utama Keluhan tambahan : Demam : BAB cair, muntah, batuk, pilek, mata merah, dan sakit menelan, keluar bercak kemerahan di tubuh

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RSAY dengan keluhan demam sejak 4 hari yang lalu, demam dirasakan tinggi dan terus-menerus. Keluhan ini disertai dengan BAB cair, muntah, batuk, pilek, mata merah, dan keluar bercak kemerahan di seluruh tubuh. BAB cair dan muntah timbul sejak 3 hari yang lalu. BAB cair sebanyak 3x/hari, tidak disertai dengan lendir dan darah. Muntah sebanyak 1x/hari. Batuk pilek dan matanya merah serta belekan mulai timbul sejak awal demam. Karena demam dan diare dirasakan terus menerus oleh ibunya,

akhirnya pasien dibawa berobat ke dokter. Di sana, pasien diberikan obat untuk diare dan obat penurun panas. Satu hari sebelum masuk RSAY, keluar bercak kemerahan yang timbul pada badan pasien. Awalnya bercak kemerahan timbul di bagian belakang telinga, dahi, pipi dan leher kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Namun, setelah 2 hari berobat keluhan ini tak kunjung sembuh akhirnya keluarga pasien memutuskan untuk membawa anaknya ke RSAY. Ibu pasien mengatakan, beberapa hari sebelum anaknya sakit, anaknya sempat bermain-main dengan anak tetangganya yang saat itu menderita sakit mata dan

di seluruh tubuhnya terdapat bercak-bercak kemerahan. Riwayat kontak dengan anak yang terkena keluhan yang sama dibenarkan oleh ibu pasien. BAK pasien tidak ada keluhan.

Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit ini sebelumnya disangkal oleh pasien.

Riwayat penyakit keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit seperti ini.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan Ibu pasien teratur memeriksakan kehamilannya ke bidan, tidak ada keluhan yang berarti selama kehamilannya. Bayi lahir di bidan cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2700 gram, panjang 49 cm. Pasien anak ketiga dari tiga bersaudara Riwayat Makanan Umur : 0 - 4 bulan 4 - 6 bulan 6 8 bulan 9 12 bulan 1 thn sekarang Riwayat Imunisasi BCG Polio DPT Hepatitis B Campak : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : 3x, umur 2,4,6 bulan : tidak dilakukan : ASI : ASI + bubur susu : ASI + bubur susu + Nasi tim : ASI + buah + Nasi Tim : Sama dengan menu keluarga

PEMERIKSAAN FISIK TANGGAL 28-11-2011 Status Present - Keadaan umum - Kesadaran - Nadi : Tampak sakit sedang : Compos mentis : 120 x/menit, reguler, isi penuh. 2

- Respirasi - Suhu - Berat badan - Status gizi

: 40 x/menit : 38,7 C : 10 kg : Baik

Status Generalis KEPALA Bentuk : Bulat, simetris, pembesaran kelenjar suboksipital dan servikal posterior (-) Rambut : hitam, tebal, tidak mudah dicabut Mata : Konjungtiva hiperemis, sklera anikterik, kornea jernih Telinga : Bentuk normal, simetris, liang lapang, serumen (-/-), pus (-/-) Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), pernafasan cuping hidung (-), sekret (+) Mulut : Bibir kering, tidak sianosis , gigi caries , lidah tidak kotor tonsil T1-T1 tenang, faring tampak hiperemis, koplik spot (-)

LEHER Bentuk Trakhea KGB JVP : Simetris : Di tengah : Tidak membesar : tidak meningkat

THORAKS Inspeksi : Bentuk simetris, retraksi intercostal (-), retraksi suprasternal (-), retraksi substernal (-),

PARU ANTERIOR POSTERIOR KIRI KANAN KIRI KANAN Pergerakan Pergerakan Pergerakan Pergerakan pernafasan pernafasan pernafasan pernafasan simetris simetris simetris simetris Fremitus taktil = Fremitus taktil = Fremitus taktil = Fremitus taktil = kanan kiri kanan kiri Redup Redup Redup Redup

Inspeksi

Palpasi Perkusi

Auskultasi

Vesikuler Ronkhi (+/+) Wheezing (-/-)

Vesikuler Ronkhi (+/+) Wheezing (-/-)

Vesikuler Ronkhi (+/+) Wheezing (-/-)

vesikuler Ronkhi (+/+) Wheezing (-/-)

JANTUNG Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus kordis tidak terlihat : Iktus kordis tidak teraba sela iga V garis midclavicula sinistra : Batas atas sela iga II garis parasternal sinistra Batas jantung kanan sela iga IV garis parasternal dextra Batas jantung kiri sela iga V garis midclavicula sinistra : Bunyi jantung I-II murni, murmur (-), galop (-)

Auskultasi

ABDOMEN Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Datar, simetris : Turgor kulit cukup, hepar dan lien tidak teraba. : Timpani : Bising usus normal.

GENITALIA EXTERNA - Kelamin : Laki - laki, tidak ada kelainan

EKSTREMITAS Superior Inferior : Oedem (-/-), Sianosis (-), ikterik (-) : Oedem (-/-), Sianosis (-), ikterik (-)

STATUS DERMATOLOGIS

Lokasi

seluruh tubuh

Inspeksi

: macula-papula eritema, multiple, ukuran lentikuler-

numuler, berkelompok, bentuk tidak teratur. Ukuran Lesi Ef. Primer : lentikuler-numularis : multiple : macula-papul

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium tanggal 28 November 2011 - Darah Lengkap Hb : 10,2 gr/dl Ht : 29,6 % Leukosit : 7.000/uL Trombosit : 238.000/uL Limfosit : 27,5 % Monosit : 4,0 % Granulosit : 68,5 %

Rontgen thoraks AP (28 November 2011) - Infiltrat di perihiler dan pericardial bilateral - Besar cor normal

RESUME Anamnesa Pasien An. MR usia 2 tahun datang ke RSAY dengan keluhan demam sejak 4 hari yang lalu, demam dirasakan tinggi dan terus-menerus. Keluhan ini disertai dengan BAB cair, muntah, batuk, pilek, mata merah, dan keluar bercak kemerahan di seluruh tubuh. BAB cair dan muntah timbul sejak 3 hari yang lalu. BAB cair sebanyak 3x/hari, tidak disertai dengan lendir dan darah. Muntah sebanyak 1x/hari. Batuk pilek dan matanya merah serta belekan mulai timbul sejak awal demam. Karena demam dan diare dirasakan terus menerus oleh ibunya, akhirnya pasien dibawa berobat ke dokter. Di sana, pasien

diberikan obat untuk diare dan obat penurun panas. Satu hari sebelum masuk RSAY, keluar bercak kemerahan yang timbul pada badan pasien. Awalnya bercak kemerahan timbul di bagian belakang telinga, dahi, pipi dan leher

kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Namun, setelah 2 hari berobat keluhan ini tak kunjung sembuh akhirnya keluarga pasien memutuskan untuk membawa anaknya ke RSAY. Ibu pasien mengatakan, beberapa hari sebelum anaknya sakit, anaknya sempat bermain-main dengan anak tetangganya yang saat itu menderita sakit mata dan di seluruh tubuhnya terdapat bercak-bercak kemerahan. Riwayat kontak dengan anak yang terkena keluhan yang sama dibenarkan oleh ibu pasien. BAK pasien tidak ada keluhan.

R/ Imunisasi Campak Pemeriksaan fisik Status Present - Keadaan umum - Kesadaran - Nadi - Respirasi - Suhu - Berat badan - Status gizi

: tidak dilakukan ( terlambat)

: Tampak sakit sedang : Compos mentis : 120 x/menit, reguler, isi penuh. : 40 x/menit : 38,7 C : 10 kg : Baik

Kepala Mata Hidung Mulut

: pembesaran kelenjar suboksipital dan servikal posterior (-) : Konjungtiva hiperemis, sklera anikterik, kornea jernih : sekret (+) : Bibir kering, tidak sianosis , gigi caries dan faring tampak

hiperemis, koplik spot (-) Paru : Rhonki (+/+)

Status Dermatologis Lokasi Inspeksi : seluruh tubuh : macula-papula eritema, multiple, ukuran lentikulernumuler, berkelompok, bentuk tidak teratur. Ukuran Lesi : lentikuler-numularis : multiple 6

Ef. Primer

: macula-papul

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium tanggal 28 November 2011 - Darah Lengkap Hb : 10,2 gr/dl Ht : 29,6 % Leukosit : 7.000/uL Trombosit : 238. 000/uL Limfosit : 27,5% Monosit : 4,0 % Granulosit : 68,5 % Rontgen thoraks AP (28 November 2011) - Infiltrat di perihiler dan pericardial bilateral - Besar cor normal

DIAGNOSA BANDING Morbili dengan komplikasi GEAD + Bronchopneumoni Rubela + GEA + Bronchopneumoni

DIAGNOSA KERJA Morbili dengan komplikasi GEAD + Brochopneumoni

PEMERIKSAAN ANJURAN a. Darah Rutin b. Serologi IgM anti campak c. Bila terdapat komplikasi: Pemberian profilaksis TB R/ pemeriksaan LCS bila ditemukan tanda-tanda komplikasi ensefalopati R/ pemeriksaan feses lengkap bila ditemukan tanda-tanda komplikasi enteritis R/ pemeriksaan otoskopi bila ditemukan tanda-tanda

komplikasi OMA 7

PENATALAKSANAAN 1. Bed rest dalam ruang isolasi 2. Pemberian nutrisi dan cairan sesuai kebutuhan 3. Pengawasan tanda- tanda komplikasi 4. Medikamentosa IVFD RL gtt XV/menit Taxegram 500 mg/12 jam iv Sagestam 15 mg/12 jam iv Sirup Paracetamol 3 x cth 1 PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad functionam Qua ad sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

Follow up
TANGGAL
Keluhan: - Bercak kemerahan kulit - Batuk pilek - Demam - Muntah - BAB cair - Mata merah 29 11- 2011 (+) (+) (+) (-) (-) (-) 30 11- 2011 (+) (+) (+) (-) (-) (+)

Keadaan Umum
Tampak sakit sedang

Kesadaran
Compos mentis Vital Sign: - Nadi - Pernafasan - Suhu Pemeriksaan Fisik : - Ruam makulapapular - Bibir pecah-pecah - Konjungtiva hiperemis Therapi: 110 x/menit 24 x/menit 38,3 C 115 x/menit 24 x/menit 37,9C

(+) (+) (-)

(+) (+) (-)

IVFD RL gtt X/menit Taxegram 500 mg/12 jam iv Sagestam 30 mg/12 jam iv Sirup Paracetamol 3 x cth 1 Salbutamol+Bromhexin+cetirizin 3x1 pulv
( Hasil konsul dr. H. A. Firmansyah Sp.A)

(+) (+) (+) (+)

(+) (+) (+) (+)

(+) (-)

(+) (+)

Ketricin oral base


( Hasil konsul dr. H. A. Firmansyah Sp.A)

Pemberian Fe sachet
( Hasil konsul dr. H. A. Firmansyah Sp.A)

(-)

(+)

II.

TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN

Campak, measles, morbili atau rubeola adalah penyakit virus akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak

Gambar. 1: Anak yang Terkena Campak Campak, rubeola, atau measles adalah penyakit infeksi yang sangat mudah menular atau infeksius sejak awal masa prodromal, yaitu kurang lebih 4 hari pertama sejak munculnya ruam. Virus campak termasuk golongan Paramyxovirus Virus ini terdapat dalam darah dan sekret (cairan) nasofaring (jaringan antara tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal (prodromal) hingga 24 jam setelah timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir. Virus dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan infeksi pada individu yang rentan. Penyakit campak sangat infeksius selama masa prodromal yang ditandai dengan demam, malaise, mata merah, pilek dan trakeobronktis dengan manifestasi batuk. Infeksi campak pertama kali terjadi pada epitalium saluran pernafasan dari nasofaring, kongjungtiva, dengan penyebaran ke daerah limfa. Viremia primer tejadi 2-3 hari setelah individu terpapar virus campak,diikuti viremia sekunder 3-4 hari

10

kemudian. Viremia sekunder menyebabkan infeksi dan relikasi virus lebih lanjut pada kulit kongjungtiva, saluran pernafasan dan organ lainnya. Replikasi virus memerlukan waktu 24 jam. Jumlah virus dalam darah mencapai puncaknya pada hari 11-14 setelah terpapar dan kemudian menurun cepat 2-3 hari kemudian. Virus campak atau morbili adalah virus RNA anggota family paramyxoviridae. Secara morfologi tidak dapat dibedakan dengan virus anggota family paramyxoviridae. Virus campak trdiri atas nukleokapsid berbentuk heliks yang dikelilingi oleh selubung virus. Sifat infeksius virus c ampak ditunjukkan dengan tingginya sensitivitas dan aktivitas hemolitiknya.

RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT A. Prepathogenesis Adanya interaksi antara orang yang beresiko terkena campak (host) seperti anak di bawah 5 tahun, orang yang tergangu sistem kekebalannya, penderita kurang gizi dan kurang vitamin A serta ibu hamil dengan virus Rubeola (agent) kemudian dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang kurang baik seperti rumah penduduk yang padat, ventilasi rumah yang kurang dan musim hujan.Virus campak ditularkan lewat infeksi droplet lewat udara, menempel dan berbiak pada epitel nasofaring. Tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Level pencegahan primer yang dapat dilakukan : Promosi kesehatan yang meliputi : Pendidikan kesehatan, konseling nutrisi, penataan rumah yang baik. Perlindungan spesifik yang meliputi : Imunisasi campak pada usia 9 bulan, Imunisasi MMR pada usia 15 bulan, Gamma globulin dengan cara : 11

Dapat diberikan pada anak berusia 6 bulan sampai 2 tahun bila ada Kontak dengan penderita memberikan perlindungan singkat ( 3 bulan)

riwayat o o

Hanya

Dosis: 0.2 ml/kgBB

Sanitasi lingkungan, hindari kontak dengan penderita, pemberian nutrisi adekuat. B. Pathogenesis Patogenesis awal Virus menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. 1. Gejala klinik Gejala klinik awal (Early clinical stage) Stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari 1. Adanya demam tinggi terus menerus 38,50 C Panas meningkat dan mencapai puncaknya pada hari ke 4-5 atau lebih disertai batuk, pilek, nyeri menelan 2. Batuk, pilek, dan nyeri menelan merupakan akibat keradangan pada epitel saluran nafas, mencapai puncak pada saat erupsi dan menghilang setelah beberapa minggu.

12

3.

Conjunctivitis ditandai dengan mata merah pada konjuntiva disertai dengan keradangan disertai dengan keluhan fotofobia,

Gambar 2. Conjunctivitis 4. 5. Sakit kepala malaise, anoreksia, limfadenopati, dan dapat disertai dengan Koplik,s spot (Papula-papula kecil berwarna putih didaerah mukosa bukal) pada hari 1-3 setelah masa inkubasi, umumnya pada sekitar 2 hari sebelum munculnya ruam (hari ke 3-4) dan cepat menghilang setelah beberapa jam atau hari. Kopliks spot adalah sekumpulan noktah putih pada daerah epitel bucal yang merah (a grain of salt in the sea of red), yang merupakan tanda klinik yang pathognomonik untuk campak. Stadium erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo-papular yang bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstrimitas. Ruam terjadi secara komplit selama 6 hari. Pada puncak penyakit, penderita tampak sakit berat, ruam sangat luas, dan suhu tubuh dapat mencapai lebih dari 40C. Batuk dapat bertambah parah. Pada keadaan yang berat, ruam biasanya akan tampak lebih gelap (merah kehitaman).

13

Dalam 3-5 hari setelah munculnya ruam, suhu tubuh mulai kembali normal.

2.

Gejala klinik akhir ( Late clinical stage) Dengan penatalaksanaan yang baik, dalam 3-5 hari setelah munculnya ruam, suhu tubuh mulai kembali normal. setelah 3 hari ruam berangsur-angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu Penderita akan merasa lebih baik dan ruam yang tersisa akan segera mengalami deskuamasi (pengelupasan lapisan tanduk kulit) dan menghilang. Walau demikian, ruam tersebut akan meninggalkan bekas berupa bercak berwarna kehitam-hitaman yang baru menghilang dalam waktu yang cukup lama ( 1 bulan). Bercak ini merupakan tanda khas bahwa seseorang baru saja terkena campak.

CARA PENULARAN Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita campak (air borne disease). Masa inkubasi adalah 10- 14 hari sebelum gejala muncul. Cara penularan melalui droplet dan kontak, yakni karena menghirup percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita morbili/campak. Artinya, seseorang dapat tertular Campak bila

menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan atau di mana saja. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada. Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). 14

Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: bayi berumur lebih dari 1 tahun bayi yang tidak mendapatkan imunisasi remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.

DIAGNOSIS BANDING Campak Jerman atau rubela. o Campak Jerman umumnya memiliki dampak lebih ringan dan tidak fatal. Umumnya pun terjadi pada anak usia 5 sampai 14 tahun. o Memang gejalanya hampir sama dengan campak biasa, seperti flu, batuk, pilek dan demam tinggi. Yang membedakan, adanya pembesaran kelenjar suboksipital dan servikal posterior serta bercak merah pada rubela tidak timbul terlalu banyak dan tidak separah campak biasa, juga cepat menghilang dalam waktu 3 hari. Gejala lain, umumnya nafsu makan anak akan menurun karena terjadi pembengkakan pada limpa. o Selain itu eksantema pada rubella berwarna merah muda ( pada campak eksantema berwarna coklat kemerahan), dan mulai timbul dari di leher dan muka dan menyebar ke seluruh tubuh lebih cepat dari campak, biasanya 24-48 jam sudah menyeluruh. Kemerahan ini jarang bergabung sehingga terlihat bintik-bintik merah kecil. Pada hari ketiga biasanya eksantema di bagian tubuh mulai memudar dan tinggal menyisakan bagian ekstremitas saja, yang kemudian menghilang tanpa deskuamasi ( pada campak diikuti dengan terjadinya deskuamasi).

Erupsi obat:

Didapatkan riwayat penggunaan obat disertai kelainan kulit yang timbul baik secara akut maupun yang timbul bebepara hari setelah penggunaan obat. Rasa

15

gatal dapat terjadi disertai demam yang biasanya subfebril. Distribusi kelainan kulit yang ditemukan dapat menyeluruh dan simetrik dengan berbagai bentuk kelainan yang timbul. Alergi terhadap satu macam obat dapat memberikan gambaran klinis yang beraneka ragam, yaitu urtikaria, eritema, dermatitis medikamentosa, purpura dan lain-lain.

DBD:

Demam tinggi mendadak dan terus menerus 2-7 hari, disertai manifestasi perdarahan, minimal dengan adanya uji bending positif dan bentuk lain ( petekie, purpura, ekimosis, epistakis, perdarahan gusi), hematemesis, melena. KOMPLIKASI Sangat penting untuk menentukan status gizi penderita, untuk mewaspadai timbulnya komplikasi. Gizi buruk merupakan risiko komplikasi berat. Berbagai penyakit dapat terjadi pada penderita campak. Penyakit tersebut antara lain: - Komplikasi sistem pernafasan Infeksi dari paru paru (Bronkopnemonia), telinga tengah, dan sinus. Demam yang muncul setelah hari 3 atau hari 4 munculnya ruam maka diduga terjadi komplikasi yang juga ditunjukkan oleh leukositosis dan limfopeni. - Komplikasi sistem persyarafan Ensefalitis (infeksi otak) terjadi pada 1 : 2000 kasus, ditandai dengan demam tinggi, kejang dan koma. Hal ini biasanya terjadi antara 1 minggu setelah ruam muncul dan dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan otak yang serius bahkan kematian. Subakut sklerosing panensefalitis merupakan komplikasi yang sangat jarang terjadi (1:100.000)

16

- Komplikasi lainnya Malnutrisi merupakan komplikasi yang tidak boleh dipandang enteng. Malnutrisi dan campak membentuk suatu lingkaran setan. Malnutrisi memudahkan terjadinya sekaligus memperberat campak, sedangkan campak akan menyebabkan penderita mengalami malnutrisi. Campak dapat menyebabkan hal tersebut karena : Penderita (terutama anak) malas makan akibat mulut sakit (akibat stomatitis) Diare menyebabkan turunnya kemampuan penyerapan makanan Demam meningkatkan metabolisme tubuh sehingga energi yang didapat dari makanan akan terbuang. PENATALAKSANAAN Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, antibiotic diberikan bila terjadi infeksi sekunder, anti konvulsi apabila terjadi kejang. Dan pemberian vitamin A. Indikasi rawat inap: hiperpireksia ( suhu > 39oC), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit, atau adanya komplikasi. Tanpa komplikasi: Pasien di rawat di ruang isolasi Tirah baring di tempat tidur Vitamin A berikan 50.000 IU ( Jika umur anak < 6 bulan), 100.000 IU ( 6 11 bulan ) atau 200.000 IU ( 12 bulan 5 tahun) pemberian hari 1, hari ke 2 dan 2 4 minggu setelah dosis kedua. Jika disertai terdapat konjungtivitis ringan tanpa adanya pus tidak perlu diobatai. Jika ada pus bersihkan mata dengan kain bersih yang dibasahi dengan air bersihsetelah itu beri salep tetraxyclin 3 x sehari selama 7 hari. Jangan menggunakan salep yang mengandung steroid. Ika ada luka di mulut membersihkan mulut dengan air bersih yang diberi sedikit garan, minimal 4 x / hari . Berikan gentian violet 0,25 % pada luka-luka mulut yang dibersihkan.

17

Jika terdapat komplikasi yang berat seperti OMA, kekeruhan kornea, ensefalitis, bronkopneumonia dan enteristis dilakukan pengobatan sesuai komplikasi yang terjadi. PROGNOSIS Pada umumnya prognosis baik, tetapi prognosis lebih buruk pada anak dengan gizi buruk, anak yang menderita penyakit kronis, atau bila disertai komplikasi.

MANFAAT VITAMIN A DAN TANDA-TANDA KEKURANGAN VITAMIN A

Agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal dibutuhkan antara lain vitamin. Vitamin-vitamin ini selain dapat diperoleh dari makanan dapat juga diperoleh melalui suplemen-suplemen yang mengandung vitamin. Salah satu jenis vitamin yang dibutuhkan adalah vitamin A atau yang disebut juga retinol. Vitamin A berfungsi antara lain menjaga kelembaban dan kejernihan selaput lendir, memungkinkan mata dapat melihat dengan baik dalam keadaan kurang cahaya (sore atau senja hari), serta pada ibu nifas akan meningkatkan mutu vitamin A dalam ASI, sehingga bayi akan mendapatkan vitamin A yang cukup dari ASI. Vitamin A dapat diperoleh pada minyak hati ikan, kuning telur, mentega, krim dan margarin yang telah diperkaya dengan vitamin A. Sedangkan provitamin A dapat diperoleh dari sayur-sayuran berdaun hijau gelap dan buah-buahan berwarna kuning atau merah serta minyak kelapa. Akibat dari kekurangan vitamin A ini bermacam-macam antara lain terhambatnya pertumbuhan, gangguan pada kemampuan mata dalam menerima cahaya, kelainan-kelainan pada mata seperti xerosis dan xerophthalmia, serta

meningkatnya kemungkinan menderita penyakit infeksi. Bahkan pada anak yang mengalami kekurangan vitamin A berat angka kematian meningkat sampai 50%.

18

Kekurangan vitamin A terjadi terutama karena kurangnya asupan vitamin A yang diperoleh dari makanan sehari-hari. Pada anak yang mengalami kekurangan energi dan protein, kekurangan vitamin A terjadi selain karena kurangnya asupan vitamin A itu sendiri juga karena penyimpanan dan transpor vitamin A pada tubuh yang terganggu. Tanda-tanda khas pada mata karena kekurangan vitamin A dimulai dari rabun senja) dimana penglihatan penderita akan menurun pada senja hari bahkan tidak dapat melihat dilingkungan yang kurang cahaya. Pada tahap ini penglihatan akan membaik dalam waktu 2-4 hari dengan pemberian kapsul vitamin A yang benar. Bila dibiarkan dapat berkembang menjadi xerosis konjungtiva. Selaput lendir atau bagian putih bola mata tampak kering, berkeriput, dan berubah warna menjadi kecoklatan dengan permukaan terlihat kasar dan kusam. Xerosis konjungtiva akan membaik dalam 2-3 hari dan kelainan pada mata akan menghilang dalam waktu 2 minggu dengan pemberian kapsul vitamin A yang benar.

Bila tidak ditangani akan tampak bercak putih seperti busa sabun atau keju yang disebut bercak Bitot terutama di daerah celah mata sisi luar. Pada keadaan berat akan tampak kekeringan pada seluruh permukaan konjungtiva atau bagian putih mata, serta konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut-kerut.

19

Bila tidak segera diberi vitamin A, dapat terjadi kebutaan dalam waktu yang sangat cepat. Tetapi dengan pemberian kapsul vitamin A yang benar dan dengan pengobatan yang benar bercak Bitot akan membaik dalam 2-3 hari dan kelainan pada mata akan menghilang dalam 2 minggu. Tahap selanjutnya bila tidak ditangani akan terjadi xerosis kornea dimana kekeringan akan berlanjut sampai kornea atau bagian hitam mata. Kornea tampak suram dan kering dan permukaannya tampak kasar. Keadaan umum anak biasanya buruk dan mengalami gizi buruk, menderita penyakit campak, ISPA, diare. Pemberian kapsul vitamin A dan pengobatan akan menyebabkan keadaan kornea membaik setelah 2-5 hari dan kelainan mata sembuh setelah 2-3 minggu.

20

Bila tahap ini berlanjut terus dan tidak segera diobati akan terjadi keratomalasia atau kornea melunak seperti bubur dan ulserasi kornea) atau perlukaan. Selain itu keadaan umum penderita sangat buruk. Pada tahap ini kornea dapat pecah. Kebutaan yang terjadi bila sudah mencapai tahap ini tidak bisa disembuhkan. Selanjutnya akan terjadi jaringan parut pada kornea yang disebut xeroftalmia scars sehingga kornea mata tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengempis. Kelompok umur yang terutama mudah mengalami kekurangan vitamin A adalah kelompok bayi usia 6-11 bulan dan kelompok anak balita usia 12-59 bulan (1-5 tahun). Sedangkan yang lebih beresiko menderita kekurangan vitamin A adalah bayi berat lahir rendah kurang dari 2,5 kg, anak yang tidak mendapat ASI eksklusif dan tidak diberi ASI sampai usia 2 tahun, anak yang tidak mendapat makanan pendamping ASI yang cukup, baik mutu maupun jumlahnya, anak kurang gizi atau di bawah garis merah pada KMS, anak yang menderita penyakit infeksi (campak, diare, TBC, pneumonia) dan kecacingan, anak dari keluarga miskin, anak yang tinggal di dareah dengan sumber vitamin A yang kurang, anak yang tidak pernah mendapat kapsul vitamin A dan imunisasi di Posyandu maupun Puskesmas, serta anak yang kurang/jarang makan makanan sumber vitamin A. Memperhatikan akibat kekurangan vitamin A seperti yang telah disebutkan di atas maka untuk mencegah terjadinya kekurangan vitamin A di Posyandu atau Puskesmas pada setiap bulan Februari dan Agustus seluruh bayi usia 6-11 bulan, harus mendapat 1 kapsul vitamin A biru dan seluruh anak balita usia 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A warna merah. Sedangkan untuk ibu nifas sampai 30 hari setelah melahirkan mendapat 1 kapsul vitamin A warna merah. Untuk mengobati anak dengan gejala buta senja hingga xerosis kornea, dimana penglihatan masih dapat disembuhkan, diberikan kapsul vitamin A pada hari pertama pengobatan sebanyak (50.000 SI) kapsul biru untuk bayi berusia kurang atau sama dengan 5 bulan, 1 kapsul biru (100.000 SI) untuk bayi berusia 6 sampai 11 bulan atau 1 kapsul merah (200.000 SI) untuk anak 12-59 bulan. Pada hari kedua diberikan 1 kapsul vitamin A sesuai umur dan dua minggu kemudian diberi lagi 1 kapsul vitamin A juga sesuai umur.

21

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Campak. http://www. id.wikipedia.org/wiki/Campak. Diakses tanggal 3 februari 2011

Akhmadi. 2010. Campak di Indonesia. http:// www.rajawana.com/artikel/.../454campak-di-indonesia.html Diakses tanggal 3 februari 2011.

Arwin, dkk. 2005. Panduan Pelayanan Medis Departemen IKA RSCM. Dept. IKA FKUI RSCM. Jakarta

Luchan.

2010.

manfaat-vitamin-a-dan-tanda-tanda-kekurangan-vitamin-a

http://www.

keluargasehat.wordpress.com/.../manfaat-vitamin-a-dan-

tanda-tanda-kekurangan-vitamin-a Diakses tanggal 3 februari 2011.

WHO, 2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Edisi 1. Gedung Bina Mulia. Jakarta

Zasmiarel 2008.. penyakit-tampak-campak-pada-bayi-dan-anak. http: // www. zasmiarel.wordpress.com/.../penyakit-tampak-campak-pada-bayi-dananak. Diakses tanggal 3 februari 2011.

22