Anda di halaman 1dari 80

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Masalah Badan usaha lembaga instansi pemerintah maupun non pemerintah merupakan suatu organisasi yang mempunyai tujuan yang hendak di capai. Tujuan yang hendak di capai dalam suatu organisasi dapat berupa efisiensi penggunanaan sumber daya lembaga pemerintah, penggunaan dana seefisien mungkin untuk menghasilkan barang dan jasa. Manajemen lembaga pemerintah yang tangguh dan SDM yang handal merupakan dasar utama bagi terjamin eksistensinya lembaga tersebut. Dengan itu diperlukan adanya upaya yang dapat meningkatkan kinerja setiap pegawai lembaga pemerintah agar dapat memberikan konstribusi terbaiknya demi terciptanya tujuan bersama. Bersangkutan dengan hal tersebut manejmen lembaga pemerintah perlu mewujudkan Gaya Kepemimpinan tertentu sesuai dengan karakteristik mereka. Gaya Kepemimpinan merupakan penggerak utama kegiatan dalam organisasi untuk menuju ke arah kesuksesan yang ingin di capai, sebab Kepemimpinan adalah suatu usaha untuk mempengaruhi orang antar

peseorangan (interpersonal), lewat proses komunikasi untuk mencapai satu arah atau beberapa tujuan. Definisi ini mengandung pengertian bahwa Kepemimpinan mencakup penggunaan pengaruh dan bahwa semua hubungan antara peseorangan
1

yang

menyangkut

kepemimipinan

adalah

merupakan

hal

yang

dapat

mengarahkan pegawai untuk memenuhi tugas mereka dengan baik. Ilmu administrasi telah terjadi perkembangan dalam orientasi

organisasinya yang menitik beratkan pada pelaksanaan tugas tugas rutin pemerintahan umum dan pembangunan dalam rangka mengadakan sarana dan prasarana kerja demi mencapai tata kehidupan bagi kesejahtraan masyarakat. Dalam adminisrtasi kepagawaiaan, di usahakan terbentuknya pegawai negeri sipil yang bersih, berwibawa dan sadar akan tangung jawabnya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat seperti di tegaskan dalam pasal 3 ayat (1) Undang Undang Nomor 43 tahun 1999 tentang Pokok Pokok Kepegawaian (1999:4) yaitu : Pegawai negeri berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintah dan pembangunan. Keberadaan pegawai negeri memiliki peran sangat penting terhadap kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional yang berencana, terarah, terpadu dan dilaksanakan secara bertahap, bersungguh sungguh melalui pegawai negeri yang berkualitas dan berdidikasi tinggi dalam melaksanakan tugas selaku aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat. Pentingnya peranan pegawai negeri dalam kegiatan roda pemerintahan khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sebagai suatu
2

institusi, memberi konsekuensi pada perlunya pegawai negeri memiliki tanggung jawab dan pengabdian yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang di bebankan kepadanya. Karena tanpa adanya rasa tanggung jawab dan pengabdian maka pegawai negeri akan cenderung membiarkan pekerjaannya terbengkalai, lambat, atau cenderung tidak masuk kerja, kurang koordinasi antara bagian atau bahkan antara pegawai dalam unit kerjanya, keadaan tersebut tentunya akan mempengaruhi kualitas kerja pegawai. Oleh karna itu, agar pegawai negeri dapat melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab dan dengan suasana kerja yang menyenangkan, maka keadaan pemimpin dalam melaksanakan fungsi Kepemimpinannya dengan baik sangat penting dalam menggerakan pegawai. Hal ini berarti pemimpin sangat menentukan dalam melaksanakan fungsi Kepemimpinannya agar pegawai dapat melaksanakan tugas tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab, karena bawahan tentu akan dapat lebih mudah di gerakkan jika pemimpin memiliki sifat Kepemimpinan yang baik. Walaupun pegawai negeri sangat penting untuk menunjukkan rasa tanggung jawab atau kinerja yang tinggi dalam melaksanakan tugas melalui pelayanan maksimal kepada masyarakat, tetapi dalam kenyataanya tidak semua pegawai dalam suatu instansi memiliki rasa tanggung jawab dan kinerja yang tinggi, bahkan ada yang cenderung menunjukkan motivasi yang rendah dalam mengerjakan tugas kantor sehari hari. Oleh karena itu, demi peningkatan rasa tanggung jawab, pengabdian, dan kinerja pegawai, Kepemimpinan pimpinan sangat penting dan menentukan
3

sehingga pegawai dapat memiliki dorongan untuk melaksanakan tugas kantor dengan penuh rasa tanggung jawab. Berkaitan dengan uraian di atas, maka menarik minat saya untuk mengkajinya secara ilmiah dengan judul Gaya Kepemimpinan Kepala Kantor Wilayah (KANWIL) Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. I.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah pokok yang di kaji dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana Gaya Kepemimpinan Kepala kantor wilayah Kementrian Agama provinsi Sulawesi Selatan? I.3 Tujuan dan Kegunaan penelitian 1. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui gambaran Gaya Kepemimpinan Kepala kantor wilayah kementrian agama 2. Kegunaan penelitian a. Sebagai masukan bagi lembaga tentang kondisi obyektif Kepemimpinan Kepala kantor wilayah kementrian agama sehingga dapat melakukan pembinaan yang dianggap perlu demi

meningkatkan kinerja pegawai kantor . b. Pegawai, sebagai masukan dalam upaya, meningkatkan kinerjanya guna lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

c.

Peneliti, sebagai dasar yang sangat berharga dalam melakukan kegiatan yang bersifat ilmiah.

d. Peneliti selanjutnya, sebagaian bahan banding atau bahan referensi bagi peneliti yang berminat untuk mengkaji permasalah yang relevan I.4 Keterbatasan Penelitian Melihat luasnya cakupan tentang Kepemimpinan, maka penulis membatasi Kepemimpinan pada aspek Gaya Kepemimpinan yang di terapkan oleh pemimpin dalam menggerakkan bawahannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Landasan Teori Dalam upaya mencapai tujuan organisasi sesuai dengan rencana yang telah di tentukan, maka keberadaan pemimpin dalam organisasi pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan pelaksanaan tugas pegawai. Pemimpin dalam melaksanakan fungsi Kepemimpinannya mencakup penerapan gaya Kepemimpinan terhadap bawahannya agar bawahan dapat mengikuti perintah pimpinan. II.2 Pengertian Kepemimpinan Pemahaman terhadap definisi tentang sesuatu objek adalah awal yang sangat penting di dalam kerangka mempelajari, memahami, menganalisa, serta menarik kesimpulan terhadap suatu objek. Sebab dengan rumusan melalui definisi yang jelas mengenai sesuatu akan mempermudah seseorang atau sekelompok orang untuk mempelajari dan memahami lebih lanjut. Oleh karena itu, sebelum seseorang lebih jauh mendalami aspek aspek yang berkaitan dengan permasalahan pokoknya, akan lebih tepat apabila langkah pertama, perlu dirumuskan lebih dahulu batasan atau definisi serta lingkup pokok bahasan yang bersangkutan. Demikian pula apabila seseorang ingin mempelajari dan memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan Kepemimpinan, perlu lebih dahulu mengerti dan paham arti atau batasan istilah Kepemimpinan.
6

Definisi tentang Kepemimpinan bervariasi sebanyak orang mencoba mendefinisikan konsep Kepemimpinan. Definisi secara luas adalah meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan memperbaiki kelompok dan budayanya. Selain itu juga mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerja sama dari orang orang di luar kelompok atau organisasi. Pengertian Kepemimpinan menurut Winardi (1983:12) adalah: pemimpin adalah seseorang yang karena kecakapan pribadinya dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dapat dipimpinnya untuk mengerahkan usaha bersama kearah pencapaian tujuan tujuan tertentu.

Pengertian Kepemimpinan menurut Faichild (Kartono,1992:33) adalah: Pemimpin adalah seseorang yang memimpin, dengan memprakarsai tingkah laku sosial dalam mengatur, menunjukkan, mengorganisir, atau mengontrol usaha atau upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi (pengertian luas). Pemimpin ialah seseorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas kualitas secara persuasifnya dan akseptensinya atau penerimaan secara rela oleh pengikutnya. Pengertian Kepemimpinan menurut Dirawat dan kawan kawan dalam Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto : 1984 adalah: kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu selanjutnya berbuat seseuatu yang dapat membantu pencapaian suatu maksud dan tujuan tertentu.

Pengertian Kepemimpinan menurut J.M Pfiffner dalam Sudarwan Danim : 2004 adalah : Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang di inginkan.

Pengertian Kepemimpinan menurut Ngalim Purwanto (1991:26) adalah: Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa .

Pengertian Kepemimpinan menurut Prof. Dr .Sudarwan Denim (2004:55) adalah : Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan member arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan sebelumnya.

Pengertian Kepemimpinan menurut Mardjin Syam dalam Hendiyat Soetopo dan Watsy Soemanto :1984 adalah: Kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan guna mempengaruhi serta meninggalkan orang,dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan.

Pengertian Kepemimpinan menurut Oteng Sutisna dalam Sudarwan Danim : 2004 adalah: Kepemimpinan adalah kemampuan mengambil inisiatif dalam situasi social untuk meciptakan bentuk dan prosedur baru, merancang dan mengatur

perbuatan dan dengan berbuat begitu membangkitkan kerja sama kearah tercapainya tujuan.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas utama seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam

melaksanakan program-program saja, tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mampu melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya atau

masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang positif dalam usaha mencapai tujuan. Pemimpin pada hakikatnya dapat dikategorikan atas lima jenis Kepemimpinan, sebagaimana di kemukakan oleh Effendi (Pangewa 1989:31) yaitu : pemimpin sebagai eksekutif, pemimpin hakim, pemimpin sebagai penganjur, pemimpin sebagai ahli, dan pemimpin sebagai diskusi.

Kelima jenis Kepemimpinan diatas akan di uraikan satu persatu sebagai berikut: A. Pemimpin sebagai Eksekutif Pemimpin eksekutif sering disebut administrator. fungsinya adalah menerjemahkan kebijaksanaan yang bersifat lisan menjadi sutu kegiatan. Dia memimpin dan mengawasi tingkah laku orang-orang yang menjadi bawahannya. Dia membuat keputusan-keputusan yang memerintahkannya untuk dilaksanakan. Kepemimpinan eksekutif atau Kepemimpinan administratif tersebut merupakan Kepemimpinan yang banyak dijumlah dalam kehidupan masyarakat, karena memang merupakan kebutuhan berbagai bidang dalam masyarakat. Kepemimpinan dalam ketentaraan dapat dikatakan sebagai jenis Kepemimpinan eksekutif. Demikian pula Kepemimpinan dalam cabang cabang yang bersifat administratif dalam suatu pemerintahan,mulai dari pusat sampai ke daerah daerah, memerlukan fungsi eksekutif tersebut. B. Pemimpin sebagai Hakim Pemimpin sebagai hakim atau penimbang atau pelerai sudah dikenal sejak dahulu. Dari berbagai sumber dapat diketahui cerita cerita atau kisah kisah dimana seseorang pemimpin bertindak sebagai hakim atau penengah yang setiap keputusannya dilaksanakan dengan taat. Dalam masyarakat modern, tanggung jawab keadilan terletak ditangan para pemimpin dengan keahliannya yang khusus dan ditunjuk secara khusus. Ini dikenal sebagai pengaadilan. Dalam bidang

10

lainnya, umpamanya dalam bidang olahraga, terdapat korps wasit yang mempunyai sebagai hakim, dimana keputusannya adalah bersifat mutlak. C. Pemimpin sebagai Penganjur Pemimpin sebagai penganjur, sebagai propagandis, sebagai juru bicara atau sebagai pengarah opini publik merupakan orang orang penting dalam masyarakat. Mereka ini bergerak dalam usaha komunikasi dan publisistik yang perlu menguasai ilmu komunikasi. Penganjur merupakan sejenis pemimpin yang memberi inspirasi kepada orang lain.seringkali ia merupakan orang yang pandai bergaul dan fasih berbicara. Acapkali ia adalah pionir dalam bidang sosial dan berjuang untuk perubahan perubahan. Jika ia dalam kedudukannya sebagai penganjur itu berada jauh di depan kelompoknya,dan bisa menjadi lambang penjelmaan idea-idea yang dibawakannya. D. Pemimpin sebagai Ahli Pemimpin sebagai ahli, umpamanya seorang instruktur atau seorang juru penerang, berada dalam posisi yang khusus dalam hubungannya dengan unit sosial dimana ia bekerja. Dia lebih terpelajar daripada orang orang lainnya. Kepemimpinannya hanya berdasrkan fakta, dan hanya pada bidang mana

terdapat fakta, termasuk dalam katagori ini adalah guru, petugas sosial, dosen, ahli hukum dan yang lainnya, yang mencapai atau memeliharanya pengaruhnya karena mereka mempunyai pengetahuan untuk di berikan kepada orang lain. Hal yang membuat seseorang menjadi pemimpin sebagai ahli adalah kenyataan bahwa ia lebih banyak memiliki pengetahuan dibandingkan dengan bawahan
11

dan fungsinya adalah memberikan penerangan kepada bawahannya. Alasan utama bagi eksistensinya pemimpin sebagai ahli bahwa ia tahu dan orang lain tidak tahu dan ia mempunyai wewenang untuk memberikan kepada orang lain agar kinerjanya lebih meningkat. E. Pemimpin sebagai Pemimpin Diskusi Pemimpin jenis ini dijumpai dalam lingkungan Kepemimpinan

demokratis dimana komunikasi memegang peranan yang sangat penting. Sesorang yang secara lengkap memenuhi kriteria Kepemimpinan demokratis adalah orang yang menerima peranannya sebagai pemimpin diksusi. Jika seseorang pejabat melaksanakan metode demokratis, dia bukan lagi seorang eksekutif, melainkan seseorang pemimpin diskusi. Bila seorang melakasanakan gaya demokratis, dia bukan lagi seorang pemimpin diskusi. Diskusi yang bebas adalah satu satunya prooses dimana kelompok secara keseluruhan ikut berperan dan dimana semua anggota kelompok sama- sama diwakili dalam membuat suatu keputusan. Melalui diskusi, seorang pemimpin dapat menampilkan bakat bakat kreatif dari anggota anggota kelompok, membantu mereka memecahkan persoalan dan mencapai keputusan yang mereka buat. II.3 Prinsip Prinsip dan Ciri Ciri Kepemimpinan Seseorang pemimpin dalam menjalankan Kepemimpinannya, maka ia harus memiliki prinsip prinsip sebagaimana dikemukakan oleh Soekarno (1986:136) sebagai berikut: 1) Mahir dalam soal soal teknis dan taktis.
12

2) Ketahui diri sendiri, cari dan usahakan selalu perbaikan perbaikan. 3) Yakin tindakan diri, bahwa tugas tugas dimengerti, diawasi dan dijalankan. 4) Ketahui anggota anggota bawahan dan pelihara kesejahtraan anggota. 5) Usahakan dan pelihara selalu, agar anggota mendapatkan keterangan keterangan yang diperlukan. 6) Berilah tauladan dan contoh yang baik. 7) Tumbuhkan rasa tanggung jawab dikalangan para anggota. 8) Latih anggota bawahan sebagai satu tim yang kompak. 9) Berilah tugas dan pekerjaan pimpinan (komando) sesuai dengan

kemampuannya. Prinsip prinsip kepemimpinan menurut dewantara (syamsi, 1994:141) yaitu: 1) Ing ngarso sung tulodo Seorang pemimpin harus mampu memberi teladan kepada baawahannya. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki sikap dan perbuatan yang menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang yang di pimpinnya. Misalnya pimpinan harus memberi contoh disiplin dan giat bekerja. 2) Ing madyo mangun karso Seorang pemimpin yang ing madyo mangun karso adalah pemimpin apabila ia di tengah ia akan membangun prakarsa. Seorang pimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang orang yang di bimbingnya. misalnya untuk memcahkan masalah yang di hadapi organisasi,
13

pimpinan memberikan kesempatan kepada bawahan untuk memberikan masukan, saran dan pendapatnya. 3) Tut wuri handayani Seorang pemimpin yang tut wuri handayani berarti pemimpin yang mengikuti dari belakang dan berwibawa. Seorang pemimpin harus mendorong orang orang yang di pimpinnya agar berani berjalan di depan dan berani bertanggung jawab. Misalnya pimpinan memberikan kesempatan sepenuhnya kepada bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan yang di tugaskan kepadanya atau memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya dalam unit kerjanya. Secara diam diam memantau dan dan mengawasinya agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Jadi pimpinan tetap bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas bawahan. Selanjutnya tentang ciri ciri Kepemimpinan, milet (kristiadi, 1996:7-8) yaitu kesehatan yang baik, memahami tugas pokok, memiliki perhatian, intelegensi, integritas, sikap persuasif, kritis dan kesetiaan. Sedangkan siagian (1997:21) menggunakan ciri ciri kepemimpinan pancasila antara lain : 1) Berpengetahuan luas, yaitu pemimpin tidak picik, tidak mudah emosi, tetapi luas pandangannya. 2) Objektif, dalam arti dapat menguasi emosi dan lebih banyak menggunakan rasio.

14

3) Adil dalam memperlakukan bawahan, yaitu seorang pemimpin yang dalam menggerakan bawahannya selalu bersifat punitis (menghukum) tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin yang baik. 4) Menguasai prinsip prinsip human relations. 5) Dapat mampu bertindak antara lain sebagai penasehat terhadap bawahannya, serta mengenal sifat dan keadaan bawahannya. Apabila disimak dari pendapat di atas tentang ciri ciri Kepemimpinan, maka ciri ciri Kepemimpinan tersebut harus dimiliki oleh setiap orang, tidak terkecuali kepala kantor atau kepala bagian dalam melaksanakan fungsi Kepemimpinannya secara profesional dalam pelaksanaa tugas sehari hari. Setiap pemimpin yang ingin melaksanakan fungsi Kepemimpinannya dengan baik seharusnya mengetahui ciri ciri kepmimpinan tersebut dan dapat

menerapkannya dengan baik. Seorang kepala bagian sebagai pemimpin bertanggung jawab penuh bagi proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengawasan terhadap seluruh kegiatan organisasi pada bagian yang di pimpinnya. Sebagai pemimpin, kepala bagian mempunyai kekuasaan dan kewenangan untuk mengarahkan semua komponen organisasi atau unit kerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya dengan tetap mengedepankan aspek profesionalisme demi kemajuan organisasi, seperti dalam hal pelayanan kepada masyarakat.

15

Fungsi perencanaan,

Kepemimpinan pengorganisasian,

menurut

daryanto

(2005:82)

meliputi dan

pengarahan,

pengkoordinasian,

pengawasan. Fungsi Kepemimpinan tersebut di uraikan sebagai berikut: a. Perencanaan Setiap program atau kegiatan pencapaian tujuan memerlukan perencanaan terlebih dahulu. Perencanaan merupakan suatu cara menghampiri masalah dan mencarikan solusinya secara tepat. Perencanaan meliputi perumusan program dan bagaimana melaksanakan program tersebut. Dalam administrasi,

perencanaan merupakan bagian mutlak yang harus ada, tanpa perencanaan akan menjadikan lembaga terjebak dalam rutunitas dan lari dari tujuan yang di tetapkan sehingga perencanaan sangat penting dalam mengkordinir kegiatan sehingga tetap berada dalam usaha pencapain tujuan. Kauffman (Fattah,1996;49) mengemukakan : perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang di perlukan untuk mencapai tujuan seefisien dan seefektif mungkin. siswanto (1990:52) mengemukakan perencanaan adalah aktifitas integratif yang berusaha memaksimumkan efektifitas suatu organisasi sebagai suatu sistem, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi yang bersangkutan. Berdasarkan pendapat di atas, maka dalam perencanaan terdapat beberapa unsur seperti perencanaan harus menyangkut masa yang akan datang, tindakan, dan terdapat suatu elemen identifikasi pribadi atau organisasi yaitu merupakan serangkain tindakan dimasa datang yang diambil oleh perencanaan suatu instansi.
16

Proses perencanaan harus dilaksanakan secara kolaboratif, artinya mengikut sertakan personil dalam semua tahapan perencanaan. Perencanaan yang perlu di lakuakan di antaranya menyusun program tahunan, seperti kepagawaian, keuangan, dan penyediaan fasilitas yang di perlukan guna mendukung kegiatan organisasi. Perencanaan ini selanjutnya di tuangkan dalam rencana tahunan yang dijabarkan dalam program bulanan. b. Pengorganisasian Pengorganisasian merupakan suatu pengelompokan kegiatan yang di perlukan yakni penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi dan menetapkan kedudukan, sifat hubungan setiap unit kerja. Siswanto (1990:76) mengemukakan : Pembagian pekerjaan yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota kesatuan pekerjaan, penetapan hubungan antar pekerjaan yang efektif di antara mereka, dan pemberian iklim dan fasilitas pekerjaan yang wajar, sehingga mereka bekerja secara efisien. Berdasarkan pendapat di atas, maka pengorganisasian merupakan keseluruhan proses untuk memilih dan menilai pegawai serta megalokasikan saran dan prasarana untuk menunjang operasional organisasi. Dalam kegiatan pengorganisasian tersebut, menyangkut penetapan tugas, tanggung jawab serta mekanisme kerjanya sehingga dapat menjamin tercapainya tujuan organisasi. Purwanto (1991:16) mengemukakan hal hal yang perlu di perhatikan dalam pengorganisasian yaitu pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab

17

di sesuaikan dengan pengalaman, bakat, minat, pengetahuan, dan kepribadian masing masing orang yang di perlukan dalam menjalankan tugas tugas tersebut. Lebih lanjut purwanto (1991:17) mengemukakan fungsi

pengorganisasian adalah sebagi berikut : Menetapkan hubungan hubungan antara orang orang, kewajiban kewajiban, hak hak, dan tanggung jawab masing masing anggota di susun menjadi pola pola kegiatan yang tertuju pada tercapainya tujuan atau maksud maksud kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Pengorganisasian merupakan salah satu lingkup Kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala bidang dengan aktivitas menyusun dan membentuk hubungan sehingga terwujud kesatuan dalam usaha dalam mencapai tujuan organisasi. c. Pengarahan Pengarahan merupakan kegiatan membingbing bawahan dengan cara memberikan perintah, memberi petunjuk, mendorong semangat kerjanya agar para bawahan dapat melaksanakan pekerjaan mengikuti arah yang di tetapkan dalam petunjuk, peraturan atau pedoman yang telah di tetapkan. d. Pengkoordinasian Pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manejmen yang

dimaksudkan sebagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan kerja atau kekosongan kegiatan dalam pencapaian tujuan organisasi. Pengkoordinasian dalam organisasi memiliki aspek yang sangat penting dalam rangka pengelolaan
18

organisasi secara optimal, dan hal tersebut menjadi salah satu fungsi kepala bidang. Nawawi (1985:99) mengemukakan : Pengkoordinasian adalah usaha untuk menyeleraskan tugas tugas dan pelaksanaanya agar setiap personil dan setiap unit kerja, termasuk juga dalam pendayagunaan setiap fasilitas dalam hubungan kerja, termasuk juga dalam hubungan kerja yang harmonis dan berdaya guna.

e. Pengawasan Pengawasan pada dasarnya merupakan proses dimana pimpinan ingin mengetahui apakah hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh

bawahannya sesuai dengan rencana, pemerintah dan kebijaksanaan yang telah ditentukan. Kegiatan pengawasan sangat penting dalam rangka pencapaian tujuan organisasi, di mana pengawasan tidak berarti bermaksud untuk mencari celah kelemahan bawahan kemudian diberikan sanksi, tetapi dimaksudkan agar semua pelaksanaan kerja sesuai dengan rencana. Siswanto (1990:150) mengemukakan : Pengawasan adalah sesuatu usaha sistematik untuk mendapatkan standar prestasi dengan sasaran perencanaan, merancang system umpan balik informasi, membandingkan prestasi aktual dengan standar yang telah di tetapkan, menentukan apakah terdapat penyimpangan dan mengukur signifikan penyimpangan tersebut dan mengambil tindakan perbaikan dalam rangka pencapaian sasaran.

19

Pengertian di atas, mengandung makna bahwa pengawasan merupakan kegiatan untuk meyakinkan dan menjamin bahwa pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan, kebijaksanaan sesuai dengan yang di gariskan dan perintah yang diberikan dalam rangka pelaksanaan rencana. Tanpa rencana, maka pengawasan tidak mungkin dilaksanakan, karena tidak ada pedoman untuk melaksanakan pengawasan. Setiap pelaksanaan pendidikan memerlukan adanya pengawasan. Pengawas bertanggung jawab keefektifan program kerja. Oleh karena itu, pengawasan yang dilakukan harus meneliti ada atau tidaknya kondisi kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan tujuan pendidikan. Purwanto (1991:20) mengemukakan fungsi pengawasan yaitu :

menentukan kondisi kondisi atau syarat syarat apakah yang di perlukan dan memulai atau mengusahakan syarat syarat yang diperlukan itu. Pengawasan dalam kegiatan organisasi merupakan aktifitas untuk menentukan kondisi atau syarat yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan organisasi. Selain itu, pengawasan merupakan bagian yang sangat penting dalam pelaksanaan fungsi kepala bidang guna mencapai tujuan organisasi. II.4 Teori Kepemimpinan Dewasa ini kita banyak mengetahui tentang hal Kepemimpinan dibanding dengan masa lampau tetapi patut disayangkan bahwa kita belum memiliki teori teori lengkap yang terintegrasi mengenai Kepemimpinan yang mewakili keseluruhan aspek tersebut. Kita tidak dapat mengemukakan cara yang terbaik
20

untuk memimpin manusia. Kepribadian pemimpin, skillnya, pengalamannya, kepercayaannya, kesadaran akan harkat dirinya, jenis pengikutnya, interaksi dan iklim organisatoris mempengaruhi kelakuan seorang pemimpin dan apa yang dilakukan olehnya atau tidak dilakukan olehnya. George R. Terry dalam kartono (2006:71-80), mengemukakan sejumlah teori Kepemimpinan, yaitu teori teori sendiri di tambah dengan teori teori penulis lainnya, yaitu sebagai berikut : 1. Teori Otokritas Kepemimpinan menurut teori ini didasarkan atas perintah perintah, paksaan dan tindakan tindakan yang arbiter (sebagai wasit). Ia melakukan pengawasan yang ketat agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien. Kepemimpinannya berorientasi pada struktur organisasi dan tugas tugas. Pemimpin tersebut pada dasarnya selalu mau berperan sebagai pemain orkes tunggal dan berambisi untuk merajai situasi. Oleh karena itu dia disebut sebagai otokrat keras. Adapun ciri ciri khasnya antara lain : a) Dia memberikan perintah perintah yang dipaksakan dan harus di patuhi. b) Dia menentukan policy atau kebijakan untuk semua pihak tanpa berkonsultasi dengan para anggota. c) Dia tidak pernah memberikan informasi mendetail tentang rencana rencana yang akan datang, akan tetapi cuma memberitahukan pada setiap anggota kelompoknya langkah langkah segera yang harus mereka lakukan.

21

d) Dia memberikan pujian atau kritik pribadi terhadap setiap anggota kelompoknya dengan inisiatif sendiri. Sikapnya selalu menjauhi kelompoknya (menyisihkan diri) sebab ia menganggap diri sendiri sangat istimewa atau eksklusif. Ringkasnya, ia ibarat sebuah sistem pemanas kuno, yang memberikan energinya tanpa

mempertimbangkan iklim emosional lingkungannya. 2. Teori Psikologis Teori ini menyatakan bahwa fungsi seseorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk merangsang kesedian bekerja dari pengikut dan anak buah. Pemimpin merangsang bawahan agar mereka mau bekerja guna mencapai sasaran sasaran organisatoris maupun untuk memenuhi tujuan tujuan pribadi. Maka Kepemimpinan yang mampu memotivasi orang lain akan meningkatkan aspek aspek psikis manusia seperti pengakuan (recognizing), martabat, status sosial, kepastian emosional,

memperhatiakan keinginan dan kebutuhan pegawai, kegairahan kerja, minat, suasana hati dan lain lain. 3. Teori Sosiologis Kepemimpinan dianggap sebagai usaha usaha melancarkan antar relasi dalam organisasi, dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya, agar tercapai kerja sama yang baik. Pemimpin menetapkan tujuan tujuan, dengan menyertakan para pengikut dalam pengambilan keputusan terakhir. Selanjutnya juga mengidentifikasi tujuan, dan
22

kerap kali memberikan petunjuk yang di perlukan bagi para pengikut untuk melakukan setiap tindakan yang berkaitan dengan kepentingan kelompok. Setiap anggota mengetahui hasil apa, keyakinan apa dan kelakuan apa yang diharapkan dari mereka oleh pemimpin dan kelompoknya. Pemimpin di harapkan dapat mengambil tindakan tindakan korektif apabila terdapat kepincangan kepincangan dan penyimpangan penyimpangan dalam organisasi. 4. Teori Suportif Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin dan bekerja dan penuh gairah, sedang pemimpin akan membimbing dengan sebaik baiknya melalui policy tertentu. Untuk maksud ini pemimpin perlu menciptkan suatu lingkungan kerja yang menyenangkan dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap pengikutnya untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin, sanggup bekerja sama dengan pihak lain, mau mengembangkan bakat dan keterampilannya dan menyadari benar keinginan sendiri untuk maju. 5. Teori Laissez Faire Kepemimpinan ini ditampilkan oleh seorang tokoh ketua dewan yang sebenarnya tidak sanggup mengurus dan dia menyerahkan semua tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahan atau kepada semua anggotanya. Dia adalah seorang ketua yang bertindak sebagai simbol dengan berbagai macam hiasan atau ornamen yang mentereng. Biasanya ia tidak memiliki keterampilan teknis. Sedangkan kedudukan sebagai pemimpin (direktur, ketua dewan, kepala,
23

komandan, dan lain lain) dimungkinkan oleh sitem nepotisme, atau lewat praktik penyuapan. Dia mempunyai sedikit keterampilan teknis namun disebabkan oleh karekternya yang lemah, tidak berpendirian serta berprinsip, maka semua hal itu menyebabkan tidak adanya kewibawaan juga tidak ada kontrol. Dia tidak mampu mengkoordinasikan semua jenis pekerjaan, tidak berdaya menciptakan suasana yang kooperatif. Sehingga lembaga atau perusahaan menjadi kacau balau, kocar kacir dan pada hakikatnya organisasinya mirip dengan seekor belut tanpa kepala. Pendeknya pemimpin laissez faire itu pada intinya bukanlah seorang pemimpin dalam pengertian sebenernya. Semua anggota yang dipimpinnya bersikap santai santai dan ber motto lebih baik tidak usah bekerja saja. Mereka menunjukkan sikap acuh tak acuh. Sehingga kelompok tersebut praktis menjadi tidak terbimbing dan tidak terkontrol. 6. Teori Perilaku Pribadi Kepemimpinan jenis ini akan muncul berdasarkan kualitas kualitas pribadi atau pola kelakuan para pemimpinnya. Teori ini menyatakan bahwa seorang pemimpin itu selalu berkelakuan kurang lebih sama, yakni ia tidak melakukan tindakan tindakan yang identik sama dalam setiap situasi yang dihadapi. Dengan kata lain dia harus bersikap fleksibel, luwes, bijaksana, tahu gelagat dan mempunyai daya insting yang tinggi karena dia harus mampu mengambil langkah - langkah yang paling tepat untuk suatu masalah. Sedang
24

masalah sosial itu tidak akan pernah identik sama di dalam runtunan waktu yang berbeda. Pola tingkah laku pemimpin tersebut erat kaitannya dengan : a) b) c) Bakat dan kemampuannya Kondisi dan situasi yang dihadapi Good-will atau keinginan untuk memutuskan dan memecahkan permasalahan yang timbul. d) Derajat superfisi dan ketajaman evaluasinya.

7. Teori Sifat Orang Orang Besar (Traits of Great Men) Sudah banyak yang dilakukan orang untuk mengidentifikasi sifat sifat unggul dan kualitas superior serta unik, yang diharapkan ada pada seorang pemimpin untuk meramalkan kesuksesan Kepemimpinannya. Ada beberapa ciri unggul sebagai predisposisi yang diharapkan akan dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu memiliki intelegensi tinggi, banyak inisiatif, energik, punya kedewasaan emosional, memiliki daya persuasif dan keterampilan komunikatif, memiliki kepercayaan diri, peka, mau memberikan partisipasi sosial yang tinggi dan lain lain. 8. Teori Situasi Teori ini menjelaskan bahwa harus terdapat daya lenting yang tinggi atau luwes pada pemimpin untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan situasi, lingkungan sekitar dan zamannya. Faktor lingkungan ini harus dijadikan tantangan untuk diatasi. Maka pemimpin itu harus mampu menyelesaikan
25

masalah masalah aktual. Sebab permasalahan permasalahan hidup di saat saat krisis (perang, revolusi, dan lain lain) yang penuh pergolakan dan ancaman bahaya, selalu akan memunculkan satu tipe Kepemimpinan yang relevan bagi masa itu. Dalam hal ini, Kepemimpinan harus bersifat multi - dimensional serba bisa, serba terampil agar ia mampu melibatkan diri dan menyesuaikan diri terhadap masyarakat dan dunia bisnis yang cepat berubah. Teori beranggapan bahwa Kepemimpinan itu teridiri atas tiga elemen dasar yaitu pemimpin, pengikut, situasi. Maka situasi dianggap sebagai elemen paling penting karena memiliki paling banyak variabel dan kemungkinan yang bisa terjadi. Teori ini kemudian berkembang menjadi teori situasi personal, yang menjelaskan bahwa Kepemimpinan adalah produk dari suatu situasi atau keadaan. Kepemimpinan didominir oleh kepribadian pemimpin. Kelompok pengikut (bawahan,rakyat) yang dipimpin, dan situasi saat itu dengan segenap peristiwanya. Jadi ada field dynamic of ledership yang menjelaskan bahwa interaksi antara pemimpin dan situasinya akan membentuk tipe Kepemimpinan tertentu. Muncul kemudian anggapan bahwa setiap situasi bisa memunculkan orang biasa untuk menjadi pemimpin dengan Kepemimpinannya yang cocok dengan zaman itu. Perang dunia 11 dan perang irak - kuwait membuktikan betapa kepribadian pemimpin dengan motivasi hidup dan tingkah lakunya dapat menggiring rakyat untuk berperang demi kepentingan nasional. Disamping itu
26

pemimpin harus memperhatikan kebutuhan pengikut dan rakyatnya, juga harapan dan kepentingan rakyat supaya berhasil Kepemimpinannya. Teori situasi personal ini lebih menitik beratkan pada dinamik interaksi, untuk menjaring dan memenuhi harapan dan keinginan rakyat secara mendasar. Sebab rakyat itu adalah subjek yang memiliki keinginan, perasaan, dan harapan yang harus diperhatikan oleh pemimpin dan pemerintah (teori interaksi-harapan). Jadi Kepemimpinan yang digunakan haruslah berbeda-beda menurut situasi kerja tertentu, yaitu perilaku Kepemimpinan yang sama tidak sama efektifnya dalam segala keadaan (G.R Terry, 2008). 9. Teori Humanistik atau Populastik Fungsi Kepemimpinan menurut teori ini adalah merealisir kebebasan manusia dan memenuhi segenap kebutuhan insani yang di capai melalui interaksi pemimpin dengan rakyat. Untuk melakukan hal ini perlu adanya organisasi yang baik dan pemimpin yang baik, yang mau memperhatikan kepentingan dan kebutuhan rakyat. Organisasi tersebut juga berperan sebagai sarana untuk melakukan kontrol sosial, agar pemerintah melakukan tugas dan fungsinya dengan baik serta memperhatikan kemampuan serta potensi rakyat. Semua itu dapat dilaksanakan melalui interaksi dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan rakyat dengan memperhatikan kepentingan masing masing.

27

Pada teori ini, ada tiga variable pokok yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut : a) Kepemimpinan yang cocok dan memperhatikan hati nurani rakyat dengan segenap harapan, kebutuhan dan kemampuannya. b) Organisasi yang disusun dengan baik agar bisa relevan dengan kepentingan rakyat disamping kebutuhan pemerintah. c) Interaksi yang akrab dan harmonis antara pemerintah dan rakyat untuk menggalang persatuan dan kesatuan atau cohesiness serta hidup damai bersama. Fokus dari teori ini ialah rakyat dengan segenap harapan dan kebutuhan harus diperhatikan dan pemerintah mendengar suara hati nurani rakyat agar tercapai negara yang makmur, adil dan sejahtera bagi setiap warga negara dan individu. Sejarah telah banyak membuktikan bahwa kegagalan pemimpin dan Kepemimpinan itu pada umumnya disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah pada tuntutan hati nurani rakyat, kurang menjalin interaksi yang terbuka dengan rakyat dan kurang menggalang perlembagaan serta sarana sarana yang dapat mendorong partisipasi rakyat, pengembangan potensi dan kemampuan rakyat. Sejalan dengan Komarudin dalam Inu Kencana (2006:15) mengatakan bahwa teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang saling berkaitan dan menunjukkan gejala gejala secara sistematis dengan menentukan
28

hubungan hubungan antara variabel variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan meramal gejala itu. II.5 Faktor faktor yang berpengaruh terhadap Kepemimpinan Menurut G.R. terry dalam winardi (1983:78) bahwa faktor faktor yang mempengaruhi Kepemimpinan adalah : 1. Kualitas yang dimiliki Kualitas merupakan alat untuk mempengaruhi orang lain atau bawahan yang berupa kepercayaan, kemampuan komunikatif, dan kesadarannya tentang pengaruhnya atas pihak lain, maupun dengan persepsinya tentang situasi yang sedang di hadapi oleh bawahannya. Kualitas untuk Kepemimpinan yang berhasil berbeda beda, hal mana tergantung dari pada situasi kerja bersangkutan. Fakta bahwa seorang pemimpin mencapai sukses pada situasi tertentu bukanlah berarti bahwa ia juga akan berhasil dalam situasi lain. 2. Peranan dan derajat yang diterima Peranan pemimpin dan derajat diterimanya hal tersebut oleh kelompok yang bersangkutan sangat mempengaruhi Kepemimpinan. Keterangan keterangan yang diperluaskan, ikatan emosional dan pengetahuan erat antara pemimpin dan kelompoknya banyak membantu efektifitas pemimpin dan kelompok. Seorang pemimpin perlu memberikan prioritas tinggi untuk mencapai pengertian dan kepercayaan anggota anggota kelompoknya. Sebaliknya pihak pengikut harus mempercayai pemimpin pemimpin mereka.

29

3. Tingkat pengaruh kepada bawahan Tingkat hingga dimana tugas tugas diterangkan dan akan mempunyai pengaruh penting. Seorang pemimpin akan lebih banyak pengaruhnya, apabila ia dapat menerangkan kepada seorang pengikutnya apa yang harus dilakukan olehnya dan bagaimana melakukannya. 4. Kemampuan untuk menentukan tindakannya guna mencapai tujuan Asumsinya adalah pemimpin yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk menentukan tindakan tindakan apa yang paling baik untuk mencapai tujuan tujuan kelompoknya. Hal ini merupakan tindakan membuat keputusan secara efektifitas dan implementasinya. Sedangkan menurut S.P. Siagian dalam teori dan praktek Kepemimpinan (2003), menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi gaya

Kepemimpinan dianataranya adalah : 1. Sifat yang inkuisitif Sifat inkuisitif merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal, yaitu: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki, kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal hal baru. 2. Objektifitas Objektifitas merupakan kemampuan memainkan peranan selaku

pemimpin bagi para bawahan,dimana sistem keadilan menjadi salah satu kriteria utamanya. Misalnya keadilan dalam sistem pengupahan dan penggajian. Kemudian yang kedua yaitu objektif dalam hal promosi. Telah
30

umum di akui bahwa dalam organisasi yang baik berlaku prinsip meritokrasi yang pada dasarnya berarti bahwa berbagai jenis penghargaan, termasuk promosi, diberikan berdasarkan penilaian yang objektif atas prestasi kerja dan faktor faktor lain, seperti kesetian, dedikasi, disiplin, dan senioritas dari yang dipertimbangkan untuk di promosikan. 3. Sikap yang antisipatif Merencanakan masa depan yang diinginkan yang belum tentu sama dengan masa depan yang nyatanya terwujud berarti mengenali sejauh mungkin ciri ciri masa depan tersebut. Salah satu sikap yang perlu di pupuk dan dikembangkan dalam merencanakan masa depan yang di inginkan ialah sikap yang antisipatif dan proaktif. Sikap demikian berarti banyak hal, antara lain : a. Mengenali berbagai hal yang berpengaruh terhadap organisasi yang sekarang dominan dampaknya terhadap organisasi dan memperhitungkan sifat dampak tersebut dimasa depan. Situasi sekarang yang diperkirakan akan terus berlanjut dan bahkan mungkin semakin besar pengaruhnya dimasa depan perlu mendapat perhatian yang seksama agar perhatian yang seksama agar situasi tersebut dapat dimanfaatkan bagi kepentingan organisasi di masa depan. b. Mampu mengidentifikasi perkembangan perkembangan yang sedang terjadi dan menganalisis apakah perkembangan itu bersifat sementara atau langgeng.

31

c. Mampu melihat kecenderuangan kecenderungan itu dengan sasaran sasaran yang ingin dicapai. d. Tidak sekedar memberikan reaksi terhadap situasi problematik yang timbul, akan tetapi mampu memperhitungkan yang mungkin tidak menguntungkan bagi organisasi. e. Mampu berfikir dan bertindak proaktif dalam arti tidak sekedar mampu menampung berbagai akibat dari perkembangan dan perubahan yang terjadi, akan tetapi justru mampu menguntungkan bagi masa depan organisasi. Paling sedikit agar tidak berpengaruh negatif bagi organisasi. Jika menurut perkiraan dampak negatif itu tidak terelakkan, upaya menangkalnya telah diperkirakan dan di persiapkan dan dengan demikian organisasi tidak dihadapkan kepada pendadakan. II.6 Gaya Kepemimpinan Gaya meruapakan cara yang dipergunakan pemimpin didalam

mempengaruhi para pengikutnya (Thoha,1995:49). Hal senada dikemukakan oleh Ali (1990:442) bahwa gaya adalah sifat atau karakter yang dimiliki. Jadi, gaya merupakan corak perilaku yang dimiliki seseorang, seperti pemimpin dalam melaksanakan fungsi Kepemimpinannya. Gaya Kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seseorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahannya. Gaya Kepemimpinan merupakan perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut

32

mencoba mempengaruhi perilaku orang lain, seperti hal nya pimpinan terhadap bawahannya. Siagian (1997:41) mengklarifkasi gaya Kepemimpinan menjadi 5 bagian, yaitu : Kepemimpinan yang otokritas, Kepemimpinan yang milteristis, Kepemimpinan yang paternalistis, gaya Kepemimpinan yang kharismatis, dan gaya Kepemimpinan yang demokratis. Lebih jelasnya mengenai gaya Kepemimpinan di atas, berikut di uraikan satu persatu. 1. Gaya Kepemimpinan yang Otokratis Seorang pemimpin yang otokratis adalah seorang pemimpin yang senantiasa menganngap organisasi sebagai milik pribadi, mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, menganggap bawahan sebagai alat semata mata, tidak menerima kritik, saran dan pendapat, serta senantiasa menggunakan pendekatan dengan unsur paksaan dan bawahan. Siagian (1997 ; 42) mengemukakan sifat sifat pemimpin yang otokritas atau otoriter tersebut yang demikian saat ini sudah di pandang tidak tepat lagi untuk suatu organisasi modern dimana hak asasi manusia yang menjadi bawahan itu harus di hormati. 2. Gaya Kepemimpinan yang Militeristis Secara umum ciri ciri Kepemimpinan yang militeristis seperti menggerakkan bawahan dengan mempergunakkan sistem perintah, bergantung pada pangkat dan jabatan yang dipangkunyaa, senang pada formalitas yang berlebihan, sulit menerima kritikan atau saran dari bawahan, serta menggemari
33

berbagai upacara. Apabila dilihat dari aspek ciri ciri Kepemimpinan militeristis tersebut, maka menurut siagian (1997 42) bahwa untuk saat ini juga sudah dipandang sudah tidak sesuai lagi seiring dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia 3. Kepemimpinan yang Paternalistis. Seorang pemimpin yang paternalistis adalah seorang pemimpin yang menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi, jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan, inisiatif, mengembangkan daya kreasi dan fantasi, serta seiring bersikap maha tahu. Untuk kegiatan tertentu, seorang pemimpin yang paternalistis sangat diperlukan, akan tetapi sifat sifatnya yang negatif mengalahkan sifat sifat yang positif pada diri pemimpin. Menurut siagian (1997:43) bahwa untuk keadaan tertentu, seorang pemimpin yang demikian sangat diperlukan, akan tetapi sifat sifatnya yang positif. 4. Gaya Kepemimpinan yang Kharismatis Seorang pemimpin yang kharismatis adalah seorang pemimpin yang mempunyai daya penarik yang amat besar dan karena pada umumnya mempunyai pengikut yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Seorang pemimpin yang kharismatik tidak dilihat dari segi umumnya ataupun latar belakang sosial ekonominya, akan tetapi orang mengikuti perintah orang yang bersangkutan secara alamiah, bukan karena perasaan takut kepada pemimpinnya.
34

5. Gaya Kepemimpinan yang demokratis. Pengetahuan tentang Kepemimpinan telah membuktikan bahwa gaya Kepemimpinan yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern dalam mengorganisir segala sumber daya manusia yang ada dalam suatu lembaga atau organisasi. Menurut siagian (1997 : 44) gaya Kepemimpinan demokratis yang paling tepat diterapkan untuk organisasi modern, karena : a) Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia. b) Selalu berusaha mensinkronkan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya. c) Ia senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. d) Selalu berusaha mementingkan kerja sama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan. e) Dengan ikhlas memberikan kebebasan yang seluas luasnya kepada bahwahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian dibanding dan diperbaiki para bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, akan tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain. f) Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.

35

g) Berusaha pemimpin.

mengembangkan

kapasitas

diri

pribadinya

sebagai

Secara eksplisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin gaya demokratis bukanlah suatu hal yang mudah untuk dicapai. Akan tetapi karena pemimpin yang demikianlah yang paling ideal, maka sebaiknya setiap pemimpin berusaha menjadi seseorang pemimpin yang demokratis agar dapat memberikan bimbingan, arahan kepada bawahannya dengan baik. II.7 Kerangka konsep Kerangka konseptual penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
-Otokratis -Militeristis Gaya Kepemimpinan -Paternalistis -Kharismatis -Demokratis

36

BAB III METODE PENELITIAN

III.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan pendekatan kualitatif. Yaitu untuk mengelolah data data yang di peroleh dari lokasi penelitian, dimana data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar. Dengan mengacu pada konsep yang di gunakan, yaitu untuk mengetahui dan memahami Gaya kepemimpinan Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama. III.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian akan dilakukan. Adapun tempat penelitian yang akan dilakukan oleh penulis berlokasi di Kantor kantor wilayah Kementrian Agama provinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan Waktu yang digunakan dalam penelitian ini 1 bulan yaitu pada bulan september 2011. III.3 Informan penelitian Informan merupakan orang orang yang berpotensi untuk memberikan informasi tentang bagaimana gaya kepemimpinan kepala kantor wilayah kementrian agama provinsi Sulawesi selatan. Informan dalam penelitian ini adalah terdiri dari 1 Kepala Bagian Tata Usaha dan 9 Kepala Bidang sehingga jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 10 orang.

37

III.4 Unit Analisis Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu/pegawai Kantor Kementrian Agama provinsi Sulawesi Selatan III.5 Jenis Dan Sumber Data Data hasil penelitian gaya kepemimpinan kepala kantor wilayah kementrian agama, dapat melalui sumber data sebagai berikut: 1. Data primer Data primer adalaha data yang di peroleh langsung dari hasil wawancara yang di peroleh dari nara sumber atau informan yang di anggap sangat berpotensi dalam memberikan data yang relevan dan sebenernya di lapangan. 2. Data sekunder Data lokasi penelitian sekunder adalah sebagai data pendukung data primer dari literature dan dokumen serta data yang di ambil dari suatu organisasi atau perusahaan dengan permasalahan di lapangan yang terdapat di lokasi penelitian berupa bahan bacaan, bahan pustaka dan laporan - laporan penelitiaan.

38

III.6 Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: 1. Wawancara Wawancara yakni kegiatan Tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data guna kelengkapan data data yang di peroleh sebelumnya. 2. Observasi Observasi merupakan pengamatan sistematis berkenaan dengan perhatian terhadap fenomena-fenomena yang nampak. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh keterangan data yang akurat mengenai hal-hal yang diteliti serta untuk mengetahui relevansi antara jawaban responden dengan kenyataan yang terjadi tentang pengembangan sumber daya manusia pada Kantor Kementrian Agama provinsi Sulawesi Selatan 3. Dokumentasi Telaah dokumen yaitu mengkaji dokumen dokumen baik berupa buku referensi maupun peraturan atau pasal yang berhubungan dengan penelitian ini guna melengkapi materi materi yang berhubungan dengan penelitian yang penulis lakukan.

39

III.7 Teknik Analisis Data Dalam rangka menjawab permasalahan penelitian maka analisis data dalam penelitan ini dilakukan secara kualitatif fenomologis. Suatu penelitian kualitatif dikatakan demikian karena jenis penelitian ini mempunyai cirri cirri antara lain setting yang actual kepada proses, menganalisis datanya bersifat induktif dan pemaknaan (meaning) tiap even adalah merupakan perhatian yang esensial dalam penelitian kualitatif. Dikatakan fenomologis karena sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan peristiwa social, selain itu karena dapat mengungkapkan nilai nilai yang tersembunyi (hidden value), lebih peka terhadap informasi informasi yang bersifat deskriptif dan berusaha mempertahankan keutuhan objek yang diteliti. Proses analisis data ini penelitian dilakukan secara terus menerus bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data selesai dilakukan. Di dalam melakukan analasis data peneliti mengacu kepada beberapa tahapan yang dijelaskan oleh miles dan huberman, yang terdiri dari beberapa tahapan antara lain : 1. Pengumpulan informasi melalui wawancara terhadap key informan yang compatible terhadap penelitian kemudian observasi langsung ke lapangan untuk menunjang penelitian yang dilakukan agar mendapatkan sumber data yang diharapkan.

40

2. Redikasi data (data reduction) yang proses pemilihan, permusatan perhatian pada penyederhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatatan catatan dilapangan selama meneliti. Tujuan diadakan transkrip data untuk memilih informasi mana yang di anggap sesuai dan tidak sesuai dengan masalah yang menjadi pusat penenlitian di lapangan. 3. Penyajian data (data display) yaitu kegiatan sekumpulan informasi dalam bentuk teks naratif.\ 4. Pada tahap akhir adalah penarikan kesimpulan atau verivikasi, yang mencari arti pola pola penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat atau proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan menggunakan verifikasi berupa tinjuan ulang pada catatan catatan dilapangan sehingga data data dapat di uji validitasnya. III.8 Defenisi Operasional Penelitan ini mengkaji satu variabel, yaitu Kepemimpinan. Sehingga penelitian ini tidak mengkaji keterkaitan antar variabel. Guna mengukur variabel yang di kaji, maka berikut variabel tersebut dioperasionalkan. . Kepemimpinan merupakan kemampuan pemimpin dalam melaksanakan fungsi Kepemimpinannya dengan menerapkan gaya Kepemimpinan dalam menggerakkan sumber daya dalam organisasi. Adapun indikator

Kepemimpinan, yaitu :

41

1. Otokritas merupakan cara pemimpin yang senantiasa menganggap organisasi sebagai milik pribadi, mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, menganggap bawahan sebagai alat semata mata, tidak menerima kritik, saran dan pendapat, serta senantiasa mengggunakan pendekatan dengan unsur paksaan kepada bawahan sehingga bawahan melaksanakan perintah pimpinan dengan merasa terpaksa. 2. Militeristis merupakan cara pemimpin menggerakkan bawahan dengan mempergunakan sistem perintah, bergantung pada pangkat dan jabatan yang di pangkunya, senang pada formalitas yang berlebihan, sulit menerima kritikan atau saran dari bawahan, serta menggemari berbagai upacara atau acar yang sifatnya normal. 3. Paternalistis merupakan pemimpin yang menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi, jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan, inisiatif,

mengembangkan daya kreasi, dan fantasi serta sering bersikap maha tahu. 4. Kharismatis merupakan pemimpin yang mempunyai daya penarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang sangat besar karena pengikut mengkuti pemimpinnya karena ikhlas. 5. Demokratis merupakan pemimpin sangat menghargai bawahan,

mensinkronkan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran atau bahkan kritik dari bawahan, dan berusaha

mengembangkan kemampuan bawahan.


42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian IV.1.1. Latar Belakang Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Depertemen Agama berdiri sebagai hasil perjuangan panjang bangsa Indonesia yang menghendaki agar nilai-nilai agama sebagai jati diri bangsa dapat menjadi unsur penting dalam upaya melanjutkan bangsa yang bertakwa, maju, adil, makmur, dan demokratis. Semangat menempatkan agama sebagai nilai-nilai luhur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara jelas terlihat dengan ditetapkannya Ketuhanan yang Maha Esa oleh para Founding Fathers sebagai Sila Pertama yang menjiwai dan menjadi inpirasi lahirnya keempat sila lainnya. Untuk meningkatkan peran agama dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara diperlukan suatu intitusi yang secara khusus menangani bidang pembangunan agama. Menyadari hal itu, pemerintah mengeluarkan PP No: I/SD Tanggal 3 Januari 1946 sebagai pengesahan berdirinya Kementrian Agama, dan selanjutnya ditetapkan Peraturan Menteri Agama Nomor : 1185/K.I Tahun 1946 yang mengatur struktur organisasi Departemen Agama telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, baik dari sisi struktur organisasi maupun tugas yang harus diembannya.

43

Tugas Departemen Agama sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor : 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Negara Republik Indonesia adalah membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintah dibidang keagamaan. Pelaksanaan tugas tersebut selanjutnya dijabarkan dalam peraturan Menteri Agama Nomor : 3 Tahun 2006 tentang Organisasi dan tata Kerja Departemen Agama, dan Keputusan Menteri Agama Nomor : 373 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Agama Kabupaten/Kota. Tugas Departemen Agama dewasa ini semakin berat seiring dengan meningkatnya tantangan dan tuntutan pembangunan Agama. Peningkatan tantangan dan tuntutan ini terjadi karena berbagai hal, antara lain adanya perubahan peta politik dan pemerintahan, gencarnya keterbukaan informasi sejalan dengan bergulirnya era reformasi, menguatnya era globalisasi dan teknologi informasi, terjadinya perubahan peta secara keagamaan akibat perkembangan pendidikan dan pertumbuhan bidang keilmuan, gercarnya arus persentuhan budaya dan corak pemikiran keagamaan, serta berbagai variabel lain seperti perkembangan ekonomi, pertahanan keamanan, dinamika politik dan pembangunan, dan lain-lain. Akumulasi dari seluruh faktor dan variabel budaya itu secara intens telah memberikan kontribusi terhadap kehidupan keagamaan masyarakat.

44

IV.1.2. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Visi Visi merupakan gambaran abstrak di masa depan yang ingin diwujudkan dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu visi dari Kantor Wilayah (KANWIL) Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan ialah: TERWUJUDNYA MASYARAKAT SULAWESI SELATAN

TAAT BERAGAMA, RUKUN, CERDAS, MANDIRI, DAN SEJAHTERA LAHIR DAN BATIN. Misi Untuk mewujudkan visi tersebut maka diperlukan suatu misi yakni: 1. Meningkatkan Kualitas Kehidupan Beragama; 2. Meningkatkan Kualitas Kerukunan Umat Beragama; 3. Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan; 4. Meningkatkan Kualitas Penyelenggaraan Ibadah Haji; 5. Mewujudkan Tata Kelola Kepemerintahan yang Bersih dan Berwibawa. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai oleh Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan ialah:

45

1. Peningkatan pelayanan keagamaan kepada masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, peningkatan tertib administrasi, dan penyediaan saran dan prasarana; 2. Mewujudkan kerukunan hidup umat beragama melalui peningkatan pemahaman dan pengalaman ajaran agama dan musyawarah dan dialog umat beragama; 3. Meningkatkan mutu pendidikan pada madrasah negeri maupun swasta yang mampu bersaing dengan lembaga pendidikan umum yang setingkat; 4. Meningkatkan peran serta lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan dalam peningkatan mutu pendidikan; 5. Meningkatkan pembinaan, pelayanan, rasa adil bagi jamaah dan manajemen penyelenggaraan haji khususnya di bidang oraganisasi, tatalaksana, SDM dan pengelolaan BPIH yang lebih transparan dan akuntabel; 6. Meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan serta penajaman program kerja yang lebih akurat dan terukur terhadap sasaran yang ingin dicapai organisasi. Sasaran Hasil yang ingin dicapai secara nyata oleh Kantor Wilayah Agama Provinsi Sulawesi Selatan dalam rumusan yang lebih spesifik dan terukur dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan yaitu:
46

1. Meningkatnya kualitas pelayanan keagamaan dengan makin meningkat profesionalisme SDM pelayanan dan intensifnya pembinaan; 2. Meningkatnya kualitas kerukunan hidup umat beragama melalui peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari; 3. Meningkatnya mutu pendidikan pada mdrasah dan PAI pada sekolah umum, baik tingkat dasar maupun menengah; 4. Meningkatnya peran serta pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama dan peningkatan kualitas keimanan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM dan penyediaan sarana prasarana; 5. Meningkatnya peran serta lembaga zakat wakaf sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui peningkatan kualitas SDM pengelola zakat wakaf; 6. Meningkatnya kemandirian jemaah haji serta profesionalisme petugas haji; 7. Optimalisasi pengelolaan dana dan aset sosial keagamaan serta pemberdayaan Lembaga Sosial Keagamaan menuju terbangunnya citra positif yang bersih dan berwibawa pada Kementrian Agama Sulawesi Selatan.

47

IV.1.3. Tugas Pokok dan Fungsi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai tugas yakni melaksanakan tugas pokok dan fungsi Kementrian Agama dalam Wilayah Provinsi berdasarkan kebijakan Menteri Agama dan Peraturan Perundang-Undangan. Dalam melaksanakan tugas Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: 1. Perumusan visi, misi, dan kebijakan teknis di bidang pelayanan dan bimbingan kehidupan beragama kepada masyarakat di Provinsi Sulawesi Selatan; 2. Pembinaan, pelayanan dan bimbingan, masyarakat Islam, pelayanan haji dan umrah, pengembangan zakat dan wakaf, pendidikan agama dan keagamaan, pondok pesantren, pendidikan agama Islam pada masyarakat dan pemberdayaan masjid, serta urusan agama, pendidikan agama, bimbingan masyarakat Kristen, Katolik, Hindu dan Budha sesuai peraturan perundang-undangan; 3. Perumusan kebijakan teknis di bidang pengelolaan administrasi dan informasi; 4. Pembinaan kerukunan umat beragama; 5. Pengkoordinasian perencanaan, pengendalian, dan pengawasan program;
48

6. Pelaksanaan hubungan dengan pemerintah daerah, instansi terkait dan lembaga masyarakat dalam rangka pelaksanaan tugas Kementerian di Provinsi.

IV.1.4. Struktur Organisasi Susunan organisasi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari: 1. Bagian Tata Usaha, membawahi: a. Sub Bagian Perencanaan dan Informasi Keagamaan; b. Sub Bagian Organisasi Tatalaksana dan Kepegawaian; c. Sub Bagian Keuangan dan Inventaris Kekayaan Negara; d. Sub Bagian Hukum, Humas dan Kerukunan Umat Beragama; e. Sub Bagian Umum. 2. Bidang Urusan Agama Islam, membawahi: a. Seksi Kepenghuluan; b. Seksi Pengembangan Keluarga Sakinah; c. Seksi Produk Halal; d. Seksi Bina Ibadah Sosial; e. Seksi Pengembangan Kemitraan Umat Islam. 3. Bidang Penyelenggaraan Haji, Zakat, dan Wakaf, membawahi: a. Seksi Penyuluhan Haji dan Umrah;

49

b. Seksi Bimbingan Jamaah dan Petugas; c. Seksi Perjalanan dan Sarana Haji; d. Seksi Bina Lembaga Zakat dan Wakaf; e. Seksi Pemberdayaan Zakat dan Wakaf. 4. Bidang Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum, membawahi: a. Seksi Kurikulum; b. Seksi Ketenagaan dan Kesiswaan; c. Seksi Sarana; d. Seksi Kelembagaan dan Ketatalaksanaan; e. Seksi Supervisi dan Evaluasi Pendidikan. 5. Bidang Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren,

membawahi: a. Seksi Pendidikan Keagamaan; b. Seksi Pendidikan Salafiyah; c. Seksi Kerjasama Kelembagaan dan Pengembangan Potensi Pondok Pesantren; d. Seksi Pengembangan Santri; e. Seksi Pelayanan Pondok Pesantren pada Masyarakat. 6. Bidang Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat dan

Pemberdayaan Masjid, membawahi:

50

a. Seksi Pendidikan Al-Quran dan Musabaqah Tilawatil Quran; b. Seksi Penyuluhan dan Lembaga Dakwah; c. Seksi Siaran dan Tamaddun; d. Seksi Publikasi Dakwah; e. Seksi Pemberdayaan Masjid. 7. 8. 9. Pembimbing Masyarakat Kristen Pembimbing Masyarakat Katolik Pembimbing Masyarakat Hindu

10. Pembimbing Masyarakat Budha 11. Kelompok Jabatan Fungsional IV.1.5. Tugas Pokok dan Fungsi Jabatan 1. Bagian Tata Usaha mempunyai tugas pokok: Memberikan pelayanan teknis dan administrasi kepada seluruh satuan organisasi dan/ satuan kerja di lingkungan Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Bagian Tata Usaha juga memiliki fungsi: a. Perencanaan di bidang kepegawaian, keuangan dan inventaris kekayaan negara, organisasi dan tatalaksana, hukum dan hubungan masyarakat, kerukunan umat beragama, informasi keagamaan, administrasi perkantoran dan kerumatanggaan;

51

b. Pelaksanaan pembinaan dan koordinasi di bidang kepegawaian, keuangan dan inventaris kekayaan negara, organisasi dan tatalaksana, hukum dan hubungan masyarakat, kerukunan umat beragama, informasi keagamaan, administrasi perkantoran dan kerumahtanggaan; c. Evaluasi dan pelaporan di bidang kepegawaian, keuangan dan inventaris kekayaan negara, organisasi dan tatalaksana, hukum dan hubungan masyarakat, kerukunan umat beragama, informasi keagamaan, administrasi perkantoran dan kerumahtanggaan serta koordiantor penyelesaian tindak lanjut hasil pengawasan. 1.1. Sub Bagian Perencanaan dan Informasi Keagamaan mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan pembinaan di bidang penyusunan, pengendalian rencana program/ anggaran, pengumpulan,

pengelolaan, serta penyajian data dan pengembangan sistem informasi keagamaan; 1.2. Sub Bagian Oragnisasi Tatalaksana dan Kepegawaian mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan pembinaan di bidang penyusunan bahan kebijakan, pengembangan organisasi dan tatalaksana, evaluasi kinerja organisasi dan penyelesaian tindak lanjut hasil pengawasan,

52

serta

pengelolaan

perencanaan,

pembinaan

dan

pelayanan

kepegewaian; 1.3. Sub Bagian Keuangan dan Inventaris Kekayaan Negara mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan pembinaan di bidang pengelolaan keuangan dan inventaris kekayaan negara; 1.4. Sub Bagian Hukum, Humas dan Kerukunan Umat Beragama mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan pembinaan di bidang penyiapan peraturan perundang-undangan, penyaiapan bahan penyelesaian kasus, hubungan masyarakat, keprotokolan, dan pembinaan kerukunan uamt beragama; 1.5. Sub Bagian Umum mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan pembinaan di bidang urusan tata usaha, kearsipan, perlengkapan dan rumah tangga. 2. Bidang Urusan Agama Islam mempunyai tugas: Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang urusan agama Islam. Bidang Urusan Agama Islam juga memiliki fungsi: a. Penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang kepenghuluan, pengembangan keluarga sakinah, produk halal, ibadah sosial, dan pengembangan kemitraan umat Islam;
53

b. Penyaiapan bahan pelayanan dan bimbingan di bidang urusan agama Islam. 2.1. Seksi Kepenghuluan memiliki tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang nikah, rujuk, dan pemberdayaan Kantor Urusan Agama; 2.2. Seksi Pengembangan Keluarga Sakinah memiliki tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang pengembangan keluarga sakinah dan pemberdayaan keluarga terbelakang; 2.3. Seksi Produk Halal memiliki tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan serta perlindungan konsumen di bidang produk halal; 2.4. Seksi Bina Ibadah Sosial memiliki tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang pemberdayaan masyarakat dhuafa dan abntuan social keagamaan; 2.5. Seksi Pengembangan Kemitraan Umat Islam memiliki tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingandan prakarsa di bidang ukhuwah Islamiyah, jalinan kemitraan, dan pemecahan masalah umat. 3. Bidang Penyelenggaraan Haji, Zakat dan Wakaf mempunyai tugas: Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang penyelenggaraan haji serta pengembangan zakat dan wakaf. Bidang Penyelenggaraan Haji, Zakat dan Wakaf juga memiliki fungsi:
54

a. Penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang penyuluhan, bimbingan jamaah dan petugas, perjalanan dan saran haji, pembinaan lembaga, dan pemberdayaan zakat dan wakaf; b. Penyaipan bahan pelayanan dan bimbingan di bidang

penyelenggaraan haji, serta pengembangan zakat dan wakaf. 3.1. Seksi Penyuluhan haji dan Umrah memiliki tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang penyuluhan haji dan umrah serta pembinaan KBIH dan Pasca Haji; 3.2. Seksi Bimbingan Jamaah dan Petugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan bagi jamaah dan petugas haji; 3.3. Seksi Perjalanan dan Sarana Haji: Melakukan pelayanan di bidang dokumen dan perjalanan haji, perbekalan dan akomodasi serta perizinan, akreditasi; 3.4. Seksi Bina Lembaga Zakat dan Wakaf: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang pegembangan lembag zakat dan wakaf; 3.5. Seksi Pemberdayaan Zakat dan Wakaf: Melakukan pelayanan dan bimbingan terhadap pengelolaan zakat. 4. Bidang Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum mempunyai tugas:

55

Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang penyelenggaraan pendidikan dan madrasah dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum serta sekolah luar biasa. Bidang Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum juga memiliki fungsi: a. Penjabaran kebijakan teknis di bidang kurikulum, ketenagaan dan kesiswaan, sarana, kelembagaan dan ketatalaksanaan serta supervisi dan evaluasi pendidikan pada madrasah, dan

pendidikan agama Islam pada sekolah umum serta sekolah luar biasa; b. Penyiapan bahan-bahan bimbingan dan pelakasanaan di bidang penyelenggaraan pendidikan pada madrasahaliyah, dan

pendidikan agama Islam pada sekolah umum menengah tingkat atas serta sekolah luar biasa. 4.1. Seksi Kurikulum mempunyai tugas: Melakukan penjabaran kebijakan di bidang kurikulum pada madrasah dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum serta sekolah luar biasa dan melakukan pelayanan dan bimbingan teknis kurikulum pada madrasah aliyah, sekolah menengah tingakat atas dan sekolah luar biasa; 4.2. Seksi Ketenegaan dan Kesiswaan mempunyai tugas:

56

Melakukan penjabaran kebijakan di bidang ketenagaan dan kesiswaan pada madarasah dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum serta sekolah luar biasa dan melakukan pelayanan dan bimbingan teknis di bidang ketenagaan dan kesiswaan pada madrasah aliyah, sekolah menengah tingkat atas dan sekolah luar biasa; 4.3. Seksi Sarana mempunyai tugas: Melakukan penjabaran kebijakan di bidang sarana pendidikan dan madrasah, dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum serta sekolah luar biasa dan melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang sarana pada madrasah aliyah, sekolah menengah tingkat atas dan sekolah luar biasa; 4.4. Seksi Kelembagaan dan Ketatalaksanaan mempunyai tugas: Melakukan penjabaran kebijakan di bidang kelembagaan dan ketatalaksanaan pada madrasah dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum serta sekolah luar biasa dan melakukan pelayanan dan bimbingan teknis di bidang kelembagaan dan ketatalaksanaan pada madrasak aliyah, sekolah menengah tingkat atas dan sekolah luar biasa; 4.5. Seksi Supervisi dan Evaluasi Pendidikan mempunyai tugas: Melakukan penjabaran kebijakan di bidang supervise dan evaluasi pendidikan pada madrasah dan pendidikan agama Islam pada
57

sekolah umum serta sekolah luar biasa, dan melakukan pelayanan dan bimbingan teknis di bidang kelembagaan dan ketatalaksanaan pada madrasah aliyah, sekolah menengah tingkat atas dan sekolah luar biasa. 5. Bidang Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren mempunyai tugas: Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang keagamaan dan Pondok Pesantren. Bidang Pendidikan Keagamaan dan Pondik Pesantren juga memiliki fungsi: a. Penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang pendidikan keagamaan, pendidikan aliyah, kerjasama

kelembagaan potensi pondik pesantren, pengembangan potensi santri, dan pelayanan pondok pesantren pada masyarakat; b. Penyiapan dan pelayanan dan bimbingan di bidang pendidikan keagamaan dan pondok pesantren. 5.1. Seksi Pendidikan Keagamaan: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang kurikulum, ketenagaan dan sarana, supervise, dan evaluasi pendidikan pada madrasah diniyah; 5.2. Seksi Pendidikan Salafiyah:

58

Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang kurikulum, ketenagaan dan sarana, supervise dan evaluasi pendidikan wajib bekajar pada pondik pesantren salafiyah; 5.3. Seksi Kerjasama Kelembagaan dan Pengembangan Potensi Pondok Pesantren: Melakukan pelayanan dan bimbingan kerjasama kelembagaan dan potensi pondok pesantren di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi, keagamaan, ekonomi, dan sosial budaya. 5.4. Seksi Pengembangan Santri: Melakukan pelayanan dan bimbingan di kesejahteraan santri serta oragnisasi alumni; 5.5. Seksi Pelayanan Pondok Pesantren pada Masyarakat: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang pelayanan taklim, ubudiyah, dan muamalah. 6. Bidang Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat dan Pemberdayaan Masjid mempunyai tugas: Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang penyelenggaraan pendidikan agam Islam pada asyarakat dan pemberdayaan masjid. Bidang Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat dan Pemberdayaan Masjid juga memiliki fungsi: bidang kegiatan dan

59

a. Penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang pendidikan Al-Quran, penyuluhan dan lembaga dakwah, siaran dan tamaddun, publikasi dakwah, dan hari besar Islam serta pemberdayaan masjid; b. Penyiapan bahan dan pelaksanaan pelayanan dan bimbingan di bidang pendidikan agam Islam pada masyarakat dan

pemberdayaan masjid. 6.1. Seksi Pendidikan Al-Quran dan Musabaqah Tilawatil Quran mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang pengembangan pendidikan Al-Quran, musabaqah tilawatil Quran dan pembinaan sarana; 6.2. Seksi Penyuluhan dan Lembaga Dakwah mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang ketenagaan, bina sarana, materi dan metode pada lembaga dakwah; 6.3. Seksi Siaran dan Tamaddun mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang siaran agama, seni keagamaan, dan museum keagamaan; 6.4. Seksi Publikasi Dakwah mempunyai tugas: Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang naskah dan rekaman, hari besar Islam, kitab dan pustaka keagamaan; 6.5. Seksi Pemberdayaan Masjid mempunyai tugas:
60

Melakukan pelayanan dan bimbingan di bidang pemberdayaan fungsi dan manajemen masjid. 7. Pembimbing Masyarakat Kristen mempunyai tugas: Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang masyarakat Kristen. Pembimbing Masyarakat Kristen juga memiliki fungsi: a. Penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang bimbingan masyarakat Kristen meliputi lembaga dan sarana agama, penyuluhan dan tenaga teknis keagamaan, pendidikan agam Kristen, supervisi pendidikan, dan pelayanan keesaan gereja; b. Penyaiapan bahan pelayanan dan bimbingan di bidang bimbingan masyarakat Kristen. 8. Pembimbing Masyarakat Katolik mempunyai tugas: Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang masyarakat Katolik. Pembimbing Masyarakat Katolik juga memiliki fungsi: a. Penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang bimbingan masyarakat Katolik yang meliputi lembaga dan sarana keagamaan, penyuluhan dan tenaga teknis keagamaan, dan pendidikan agama Katolik;

61

b. Penyiapan bahan pelayanan dan bimbingan di bidang bimbingan masyarakat Katolik. 9. Pembimbing Masyarakat Hindu mempunyai tugas: Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang masyarakat Hindu Pembimbing Masyarakat Hindu juga memiliki fungsi: a. Penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang bimbingan masyarakat Hindu meliputi sarana, uapacara, seni keagamaan, penyuluhan dan tenaga teknis keagamaan

pendidikan agama Hindu, Lembaga dan Pemberdayaan umat; b. Penyiapan bahan pelayanan dan bimbingan di bidang bimbingan masyarakat Hindu. 10. Pembimbing Masyarakat Budha mempunyai tugas: Melaksanakan pelayanan di bidang bimbingan masyarakat Budha. 11. Jabatan Fungsional mempunyai tugas: Melaksanakan tugas-tugas jabatan fungsional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. IV.2. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah terdiri dari 1 Kepala Bagian Tata Usaha dan 9 Kepala Bidang sehingga jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Berikut akan dipaparkan karakteristik responden

62

berdasarkan jenis kelamin, pendidikan terakhir, golongan, dan masa kerja responden.

IV.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Karakteristik responden yang menjadi subyek penelitian ini berdasarkan jenis kelamin ditunjukkan dalam tabel 1 di bawah ini: Tabel 1
Presentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No 1 2

Kategori Laki-Laki Perempuan Total

Frequency 9 1 10

Percent 90 10 100

Sumber: Data Primer Hasil Olahan Data, Oktober 2011

Dari data tabel di atas terlihat bahwa dari 10 responden pada penelitian ini terdapat 9 responden atau 90 % yang berjenis kelamin laki-laki kemudian sebanyak 1 responden atau 10% yang berjenis kelamin perempuan, sehingga dapat dinyatakan bahwa jumlah responden berdasarkan jenis kelamin laki-laki lebih besar daripada yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini berarti jumlah pegawai di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan didominasi oleh laki-laki.

63

IV.2.2. Karakteristikr Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Karakteristik responden yang menjadi subyek penelitian ini berdasarkan pendidikan terakhir ditunjukkan dalam tabel 2 di bawah ini: Tabel 2 Presentase Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir No Katergori Frequency Percent 1 D1 0 0 2 D2 0 0 3 D3 0 0 4 S1 7 70 5 S2 3 30 6 S3 0 0 Total 10 100
Sumber: Data Primer Hasil Olahan Data, Oktober 2011

Dari data tabel di atas terlihat bahwa terdapat 7 responden atau 70% yang memiliki pendidikan terakhir S1, kemudian sebanyak 3 responden atau 30% yang memiliki pendidikan terakhir S2. Dari data di atas dapat dinyatakan bahwa responden yang memiliki jumlah terbanyak ialah responden yang memiliki pendidikan terakhir S1. Hal ini dikarenakan Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan lebih didominasi oleh pegawai yang memiliki pendidikan terakhirnya Sarjana (S1).

64

IV.2.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Golongan Karakteristik responden yang menjadi subyek penelitian ini berdasarkan golongan ditunjukkan dalam tabel 3 di bawah ini: Tabel 3 Presentase Responden Berdasarkan Golongan No Kategori Frequency Percent 1 Golongan I 0 0 2 Golongan II 0 0 3 Golongan III 4 40 4 Golongan IV 6 60 Total 10 100
Sumber: Data Primer Hasil Olahan Data, Oktober 2011

Dari data tabel di atas terlihat bahwa terdapat 4 responden atau 40% yang memiliki golongan III, kemudian terdapat 6 responden atau 60% yang memiliki golongan IV. Dari data di atas dapat dinyatakan bahwa responden yang memiliki jumlah terbanyak ialah responden yang bergolongan IV. Hal ini terlihat dari banyaknya presentase responden yang bergolongan IV yakni 60 %.

65

IV.2.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Karakteristik responden yang menjadi subyek penelitian ini berdasarkan masa kerja ditunjukkan dalam tabel 4 di bawah ini: Tabel 4 Presentase Responden Berdasarkan Masa Kerja
No 1 2 3 4 5 Kategori 1-5 Thn 5-10 Thn 10-15 Thn 15-20 Thn > 20 Thn Total Frequency 0 0 4 6 0 10 Percent 0 0 40 60 0 100

Sumber: Data Primer Hasil Olahan Data, Oktober 2011

Dari data tabel di atas terlihat bahwa terdapat 4 responden atau 40% yang memiliki masa kerja 10-15 tahun, terdapat 6 responden atau 60% yang memiliki masa kerja 15-20 tahun. Dari data di atas dapat dinyatakan bahwa responden yang memiliki jumlah terbanyak ialah pegawai yang memiliki masa kerja 15-20 tahun. Hal ini terlihat dari banyaknya presentase responden yang dimiliki masa kerja 15-20 tahun sebesar 60%. IV.3. Hasil Penelitian IV.3.1 Gaya Kepemimpinan Otokratis

66

Gaya Kepemimpinan otokratis adalah gaya seorang pemimpin yang senantiasa menganggap organisasi sebagai milik pribadi, mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, menganggap bawahan sebagai alat semata mata, tidak menerima kritik, saran dan pendapat, serta senantiasa menggunakan pendekatan dengan unsur paksaan dan bawahan. Adapun ciri-ciri dari Gaya Kepemimpinan Otokratis adalah Pemimpin kurang mempercayai anggota atau anak buahnya, Pemimpin memberi perintah dan menuntut untuk dilaksanakan, Tidak ada penjelasan dan tidak memberi kesempatan kepada anggota atau anak buahnya untuk bertanya mengapa, Pemimpin berasumsi bahwa anggota atau anak buahnya tidak mempunyai tanggung jawab. Mereka semata-mata melaksanakan perintah atasan., Pemimpin beranggapan bahwa upah adalah satu-satunya faktor untuk memotivasi, Pemimpin beranggapan bahwa prestasi anak buahnya akan baik apabila diawasi dan akan menurun apabila tidak diawasi oleh atasan. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang informan di

lokasi penelitian, diperoleh keterangan bahwa pimpinan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang otokratis. Karena pimpinan ini dalam menjalankan gaya kepemimpinannya jarang ataupun bahkan tidak pernah melakukan pengawasan yang terlalu ketat kepada bawahannya dan juga pimpinan tidak senantiasa memerintah dalam menggerakkan pegawai Seperti yang

dikemukakan oleh salah satu Kepala Bidang :


67

pada dasarnya bapak pimpinan dalam hal beliau memberikan perintah kepada kami selalu memberikan penjelasan yang mendetail mengenai apa yang di perintahkan kepada kami, beliau jarang bahkan tidak pernah melakukan hal yang semena-mena kepada kami selaku bawahan Dalam pengamatan penulis, memang apa yang dikatakan salah satu nara sumber tersebut ada benarnya karena penulis melihat bahwa pimpinan dalam hal ini Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan dalam memberikan perintah maupun instruksi kepada jajarannya selalu memberikan penjelasan yang mendetail mengenai hal-hal yang termaksud dalam perintah atau instruksinya tersebut. Dengan Demikian mencermati hasil wawancara ternyata pada umumnya informan mengatakan bahwa Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang Otokratis. IV.3.2. Gaya Kepemimpinan Militeristis Secara umum ciri ciri Kepemimpinan yang militeristis adalah dengan menggerakkan bawahan dengan mempergunakkan sistem perintah, bergantung pada pangkat dan jabatan yang dipangkunya, senang pada formalitas yang berlebihan, sulit menerima kritikan atau saran dari bawahan, serta menggemari berbagai upacara. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang informan di

lokasi penelitian, diperoleh keterangan bahwa pimpinan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan
68

gaya kepemimpinan yang militeristis. Karena pimpinan ini dalam menjalankan gaya kepemimpinannya jarang ataupun bahkan tidak pernah melakukan hal-hal yang berbau formalitas yang berlebihan. Bahkan pimpinan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan ini senang untuk menerima saran dan kritik dari para bawahannya Seperti yang dikemukakan oleh salah satu informan : beliau senang kalau dikritik ataupun diberikan saran dan tentunya kritik dan saran yang diberikan kepeda beliau bersifat membangun, baik secara organisasi maupun individu Dalam pengamatan penulis, memang apa yang dikatakan salah satu nara sumber tersebut ada benarnya karena penulis melihat bahwa pimpinan dalam hal ini Kepala Kantor Wilayah Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan dalam menerima kritik maupun saran cenderung terbuka dan tentu saja sifat dan kritik tersebut sifatnya harus membangun baik membangun individu beliau sendiri maupun membangun organisasi secara keseluruhan. Dengan Demikian mencermati hasil wawancara ternyata pada umumnya informan mengatakan bahwa Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang Militeristis. IV.3.3. Gaya Kepemimpinan Paternalistis Pemimpin yang paternalistis adalah seorang pemimpin yang

menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu

69

melindungi, jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan, inisiatif, mengembangkan daya kreasi dan fantasi, serta sering bersikap maha tahu. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang informan di

lokasi penelitian, diperoleh keterangan bahwa pimpinan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang paternalistis. Karena pimpinan ini dalam

menjalankan gaya kepemimpinannya selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk menagmbil inisisatif. Pimpinan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan ini juga tidak pernah melakukan hal-hal yang menonjolkan dirinya sendiri dalam artian bersikap maha tahu. Seperti yang dikemukakan oleh salah satu informan : Bapak pimpinan kami jarang bahkan tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap ke superioran dirinya seperti bersikap maha tahu atau beliau lah yang maha tahu mengenai segala-galanya Dalam pengamatan penulis, memang apa yang dikatakan salah satu nara sumber tersebut ada benarnya karena penulis selama melakukan penelitian jarang bahkan tidak pernah menyaksikan Kepala Kantor Wilayah Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan melakukan tindakan yang seolah-olah maha tahu segalanya beliau cenderung memberikan ruang kepada bawahannya untuk menunjukkan daya kreasinya dalam berorganisasi.

70

Dengan Demikian mencermati hasil wawancara ternyata pada umumnya informan mengatakan bahwa Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang paternalistis. IV.3.4. Gaya Kepemimpinan Kharismatik Seorang pemimpin yang kharismatis adalah seorang pemimpin yang mempunyai daya penarik yang amat besar dan karena pada umumnya mempunyai pengikut yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Seorang pemimpin yang kharismatik tidak dilihat dari segi umumnya ataupun latar belakang sosial ekonominya, akan tetapi orang mengikuti perintah orang yang bersangkutan secara alamiah, bukan karena perasaan takut kepada

pemimpinnya. Adapun ciri-ciri dari Gaya Kepemimpinan Kharismatik adalah Pemimpin memiliki daya tarik dan wibawa untuk mempengaruhi bawahannya, Memiliki pengikut yang banyak, Mudah untuk mempengaruhi dan

mengarahkan anggota organisasinya dan, Keyakinan pada pendirian yg telah di tetapkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang informan di lokasi penelitian, diperoleh keterangan bahwa informan menilai bahwa pimpinan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang kharismatik. Dalam pengamatan penulis selama melakukan penelitian memang

melihat fakta bahwa Kepala Kantor Wilayah Wilayah Kementerian Agama


71

Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang kharismatik. Dengan Demikian mencermati hasil wawancara ternyata pada umumnya informan mengatakan bahwa Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang kharismatis. IV.3.5. Gaya Kepemimpinan Demokratis Dalam gaya ini pemimpin sering mengadakan konsultasi dengan mengikuti bawahannya dan aktif dalam menentukan rencana kerja yang berhubungan dengan kelompok. Disini pemimpin seperti moderator atau koordinator dan tidak memegang peranan seperti pada kepemimpinan otoriter. Partisipan digunakan dan kondisi yang tepat, akan menjadikan hal yang efektif. Maksudnya supaya dapat memberikan kesempatan pada bawahannya untuk mengisi atau memperoleh kebutuhan egoistisnya dan memotivasi bawahan dalam menyelesaikan tugasnya untuk meningkatkan

produktivitasnya pada pemimpin demokratis, sering mendorong bawahan untuk ikut ambil bagian dalam hal tujuan-tujuan dan metode-metode serta menyokong ide-ide dan saran-saran. Disini pemimpin mencoba

mengutamakan "human relation" (hubungan antar manusia) yang baik dan mengerjakan secara lancar. Kebaikan dari gaya kepemimpinan ini adalah :

72

a. Memberikan

kebebasan

lebih

besar

kepada kelompok untuk

mengadakan kontrol terhadap supervisor.


b. Merasa lebih bertanggungjawab dalam menjalankan pekerjaan. c. Produktivitas lebih tinggi dari apa yang diinginkan manajemen dengan

catatan bila situasi memungkinkan.


d. Ada kesempatan untuk mengisi kebutuhan egoistisnya. e. Lebih matang dan bertanggungjawab terhadap status dan pangkat yang

lebih tinggi. Kelemahannya adalah :


a. Harus banyak membutuhkan koordinasi dan komunikasi. b. Membutuhkan waktu yang relatif lama dalam mengambil keputusan. c. Memberikan persyaratan tingkat "skilled" (kepandaian) yang relative

tinggi bagi pimpinan.


d. Diperlukan adanya toleransi yang besar pada kedua belah pihak karena

jika tidak dapat menimbulkan perselisihpahaman.

Menurut siagian (1997 : 44) gaya Kepemimpinan demokratis yang paling tepat diterapkan untuk organisasi modern, karena : a) Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia.

73

b) Selalu berusaha mensinkronkan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya. c) Ia senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. d) Selalu berusaha mementingkan kerja sama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan. e) Dengan ikhlas memberikan kebebasan yang seluas luasnya kepada bahwahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian dibanding dan diperbaiki para bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, akan tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain. f) Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya. g) Berusaha pemimpin. Secara eksplisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin gaya demokratis bukanlah suatu hal yang mudah untuk dicapai. Akan tetapi karena pemimpin yang demikianlah yang paling ideal, maka sebaiknya setiap pemimpin berusaha menjadi seseorang pemimpin yang demokratis agar dapat memberikan bimbingan, arahan kepada bawahannya dengan baik. Dalam pengamatan penulis selama melakukan penelitian memang mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai

melihat fakta bahwa Kepala Kantor Wilayah Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung menggunakan gaya kepemimpinan yang
74

demokratis. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh salah satu narasumber yang mengatakan bahwa : kami cenderung melihat bahwa gaya kepemimpinan yang digunakan pimpinan kami dalam hal ini kepala Kantor Wilayah Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung menggunakan gaya Demokratis, hal ini tercermin dari cara beliau memimpin yang cenderung memberikan kebebasan kepada kami dalam hal berkreasi, dan selalu mementingkan kerja sama team dalam mejalankan organisasi ini dimana beliau selalu meminta ide, saran, maupun masukan-masukan dari kami untuk kebaikan kami bersama

Dalam pengamatan penulis, memang apa yang dikatakan salah satu nara sumber tersebut ada benarnya karena penulis selama melakukan penelitian menyaksikan bahwa Kepala Kantor Wilayah Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan selalu melakukan hal-hal yang bersifat demokratis kepada bawahannya. Dengan Demikian mencermati hasil wawancara ternyata pada umumnya informan mengatakan bahwa Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung menggunakan gaya kepemimpinan yang demokratis dalam menjalankan roda kepemimpin

75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan , maka dapat ditarik kesimpulan Bawha Gaya Kepemimpinan merupakan corak perilaku yang dimiliki seseorang, seperti pemimpin dalam melaksanakan fungsi

kepemimpinannya. Dalam penelitian ini gaya kepemimpinan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan cenderung menggunakan gaya kepemimpinan demokratis. Selain itu penerapan gaya kepemimpinan Demokratis merupakan gaya kepemimpinan yang sangat baik daripada gaya gaya kepemimpinan yang lain. V.2. Saran Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian di atas, maka ada beberapa hal yang dapat menjadi masukan sebagai berikut:
76

1. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi


Selatan dapat mempertahankan dan terus mengembangkan gaya kepemimpinan demokratisnya agar roda organisasi yang dipimpinnya bisa berjalan dengan lebih baik lagi. 2. Bagi peneliti yang ingin menganalisis variabel-variabel gaya kepemimpinan yang ada, pada khususnya pada Kantor Wilayah

Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, maka disarankan agar meneliti dengan menggunakan variabel variabel tidak termasuk dalam penelitian ini. . yang lain yang

77

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad . 1990. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Bandung : Pustaka Amani. Danim, Sudarwan. 2004. Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Rineka Cipta. Jakarta. Fattah, Nanang. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Kartono, K. 1992. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Kartono, Kartini. 2006. Pemimpin dan Kepemimpinan, Apakah Kepemimpinan Abnormal itu?. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta. Komarudin, Inu Kencana. 2006. Kepemimpinan Pemerintah Indonesia. PT. Refika Aditama : Bandung. Kristiadi. 1996. Kepemimpinan. Jakarta: LAN RI. Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung : Ossa Promo, 1999).

78

Nawawi, H, 1985, Administrasi Pendidikan , Jakarta : Gunung Agung. Pangewa, Maharuddin. 1989. Kepemimpinan Dalam Proses Administrasi (Suatu Tinjauan Berbagai Literatur). Diktat. Ujungpandang FPIPS IKIP. Purwanto, M. Ngalim. 1991. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Siagian , S.P. 1997. Filsafat Administrasi. Jakarta: PT. Toko Gunung Agung Soetopo, Hendiyat dan Wasty Soemanto. 1984. Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Supervise Pendidikan. Armico. Bandung Soekarno, K. 1986. Dasar dasar Manejemen. Jakarta: Miswar. Syamsi, Ibnu. 1994. Pokok pokok Organisasi dan Manajemen. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Siswanto, bedjo. 1990. Manejemen Modern, Konsep dan Aplikasi. Bandung: Sinar Baru. Terry, George R. 2008. Dasar dasar Manajemen. Terjemahan Oleh G.A. Ticaulu. PT. Bumi Aksara : Jakarta. Thoha, Miftah. 1995, Kepemimpinan Dalam Manejmen. Jakarta : Raja

Grafindo Persada. Winardi. 1983. Kepemimpinan dan Manegement. Bandung: Alumni

79

80

Anda mungkin juga menyukai