Anda di halaman 1dari 13

Triana Agung

Rangkuman Buku
FIKIH PRIORITAS
Penyusun : DR. Yusuf Qardhawi

Dasar pemikiran Fikih Prioritas

7. dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).
8. supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
9. dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Ayat Qur’an inilah yang menjadi dasar pemikiran bahwa nilai-nilai, hukum-hukum, amal-amal dan taklif
(pembebanan) Allah mempunyai peringkat yang tegas dalam pandangan hukum Islam, tidak berada
dalam satu urutan. Apa yang seharusnya didahulukan harus didahulukan dan yang akhir haruslah
diakhirkan, yang kecil tidak dibesar-besarkan, demikian pula yang urgen tidak diremehkan. Segala
sesuatu harus diletakkan secara proposional dan wajar, tanpa harus berlebih-lebihan dan mengada-ada.
Jika kita ikuti apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang jawaban atas suatu pertanyaan,
maka akan kita temuai sejumlah ukuran untuk menjelaskan amal, nilai, dan pembebanan mana yang
paling utama, paling tinggi dan paling disukai oleh Allah; serta untuk menjelaskan posisi yang satu
dengan yang lain yang masing-masing memiliki tingkatan. Beberapa hadits di bawah ini menunjukkan
perihal tingkatan-tingkatan itu.

“Shalat jamaah melebihi shalat sendirian dengan duapuluh tujuh derajat.”


(Hadits Muttafaq’alaih, dari Ibnu Umar)

“Satu dirham melampaui seratus ribu dirham.”


(Hadits ini dikatakan sahih menurut syarat yang dibuat Muslim)

Kekacauan Fikih Prioritas

Hampir di seluruh negeri yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, bahkan di negeri Arab pun kita
menemukan berbagai kenyataan yang sungguh mengherankan. Yaitu, adanya kecenderungan mendahulukan hal-hal
yang terkait dengan masalah seni dan kemewahan materi daripada hal-hal yang terkait dengan masalah ilmu dan
pendidikan. Banyak pula kita lihat di masyarakat orang-orang yang kosong dari cahaya ilmu dan petunjuk fikih.
Mereka memukul rata berbagai amal tanpa mengadakan identifikasi jenis dan tingkatan amal tersebut. Atau
memberikan status hukum terhadap amal tersebut tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki syariat. Berikut
contohnya :
- Nama yang terkenal di masyarakat adalah artis, seniman, atlet bukanlah para ulama, pendidik, pemikir, atau
da’I melainkan artis, seniman, atlet, dan lain-lain.
- Dalam aspek keuangan, dikeluarkan sejumah besar dan keperluan olahraga, seni, media massa dan menjaga
stabilitas nasional.
- Setiap tahun terdapat sejumlah besar ummat Islam menunaikan ibadah haji dan umroh. Dari keseluruhan
tidak sampai lebih dari 15% yang baru pertama kali berhaji. Mereka mudah sekali mengeluarkan uang
bahkan membayari orang-orang miskin untuk berhaji. Namun jika diminta untuk mengeluarkan dana
tahunan yang sama untuk digunakan memerangi Yahudi di Palestina atau menangkal kristenisasi, mereka
menolak.
- Para pemuda yang awalnya mempelajari dan menjadi ahli di bidang-bidang umum (seperti kedokteran,
teknik dan pertanian) meninggalkan pekerjaannya karena beranggapan bahwa mereka harus lebih
menyibukkan diri dalam urusan da’wah dan tablig. Padahal pekerjaan mereka yang terkait dengan
spesialisasinya merupakan fardhu kifayah. Mereka dapat menjadikan pekerjaannya sebagai ibadah dan
jihad jika dilaksanakan secara sungguh-sungguh, niat yang benar, dan komitmen yang tinggi terhadap
hukum-hukum Allah.

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 1


Triana Agung

Sementara di sisi lain, sektor pendidikan, kesehatan, keagamaan dan bantuan-bantuan pokok mengeluh karena
kekurangan dana dan diharuskan melakukan penghematan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah “disini terjadi
penghematan dan disana terjadi pemborosan”. Hal ini persis dengan apa yang pernah diungkapkan Ibnu Muqaffa’,
“Aku tidak pernah melihat suatu pemborosan kecuali di pihak yang lain terdapat hak yang diabaikan.”

Diantara hal-hal yang terjadi pada ummat Islam di zaman kemunduran ini yaitu:
1. Mengabaikan fardhu kifayah yang berkaitan dengan masalah ummat, seperti mendalami ilmu, industri,
peperangan
2. Mengabaikan sebagian fardhu ‘ain, kurang memberikan perhatian pada hal seperti kewajiban amar ma’ruf
nahi munkar.
3. Lebih memperhatikan sebagian rukun-rukun daripada sebagian yang lain. Misalnya ada yang lebih
memperhatikan puasa dan bermalas-malasan dalam sholat.
4. Memperhatikan sebagian ibadah sunnah (misalnya berzikir, bertasbih) lebih banyak daripada ibadah wajib
(misalnya membantu para yatim dan orang miskin, mengasihani yang lemah, melawan kezaliman sosial
dan politik)

Hubungan Fikih Prioritas dengan Fikih-fikih Lainnya

A. Hubungan Fikih Prioritas dengan Fikih Perbandingan

Pokok-pokok studi fikih perbandingan yaitu:


1. Perbandingan antara hal-hal yang baik/mashaalih atau hal-hal yang bermanfaat/manaafi’ atau kebaikan-
kebaikan yang disyariatkan—antars satu dengan yang lain.
2. Perbandingan antara hal-hal yang merusak/mafaasid atau yang berbahaya/mudhar atau kejahatan-kejahatan
yang dilarang antara satu dengan yang lain.
3. Perbandingan antara mashaalih dan mafaasid atau maslahat-maslahat dan kerusakan-kerusakan jika
keduanya muncul dalam waktu yang sama.

Fikih perbandingan juga fikih prioritas mengharuskan kita untuk:


- Mendahulukan dharuuriyyat (sesuatu yang tanpa keberadaannya ia mati) daripada haajiyat (sesuatu yang
tanpa ada selainnya mungkin bisa hidup), apalagi tahsiinat/al-kamaaliyyat (sesuatu yang dapat menghiasi
kehidupan bahkan memperindahnya)
- Mendahulukan haajiyat daripada tahsiinat dan mukammilat.
Adh-dharuuriyyat juga berjenjang. Menurut para ulama ada lima: agama, jiwa, keturunan, akal, harta dan
kehormatan.

Perbandingan antara maslahat yang satu dengan lainnya terdiri atas:


- Mendahulukan maslahat yang diyakini kebenarannya daripada maslahat yang diragukan atau masih dikira-
kira kebenarannya.
- Mendahulukan maslahat yang besar daripada maslahat yang kecil.
- Mendahulukan maslahat social daripada maslahat individual
- Mendahulukan maslahat yang banyak daripada maslahat yang sedikit.
- Mendahulukan maslahat yang kekal daripada maslahat yang bersifat sementara atau terputus-putus.
- Mendahulukan maslahat yang esensial dan substansial daripada maslahat struktural dan pinggiran.
- Mendahulukan maslahat mustaqbaliyyah (futuristis=berkenaan dengan masa depan) yang kokoh daripada
maslahat temporal yang lemah.

Adapun untuk perbandingan antara mafaasid para fuqaha menetapkan sejumlah kaidah yang sesuai dengan hokum-
hukumnya yang paling penting, antara lain:
- Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan (mudharat) orang lain.
- Kerusakan itu dihilangkan sedapat mungkin.
- Kerusakan itu tidak dihilangkan dengan menimbulkan kerusakan sejenisnya atau lebih besar darinya.
- Dijalankan diantara dua kerusakan yang paling ringan dan diantara dua kejahatan yang paling kecil.
- Kerusakan/gangguan yang lebih rendah dipertahankan untuk mencegah kerusakan yang lebih tinggi.

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 2


Triana Agung

- Gangguan yang khusus dipertahankan untuk mencegah gangguan yang umum.

Jika antara mashaalih dan mafaasid bertemu dalam satu perkara haruslah diadakan perbandingan antara keduanya.
Jika mafsadat lebih besar daripada manfaat dan maslahat yang muncul secara bersamaan, maka wajib dicegah
karena banyaknya mafsadat yang ditimbulkan. Dasarnya adalah firman Allah di Qur’an Surat al-Baqarah ayat 219,
yang artinya:

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya itu terdapat dosa
besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya…..’”

Kaidah-kaidah terpenting dalam hal ini adalah mencegah mafsadat didahulukan daripada mendapatkan maslahat.
Kaidah ini disempurnakan oleh kaidah yang lebih penting seperti:
- Mafsadat yang kecil dimaklum demi kemaslahatan yang besar
- Mafsadat yang muncul sesaat dibiarkan demi maslahat yang kekal
- Mafsadat yang pasti tidak ditinggalkan demi mafsadat yang disangsikan.

Kemaslahatan ada tiga macam : mubah, sunnah dan wajib.


Kemafsadatan ada dua macam: makruh/yang dibenci dan haram

B. Hubungan Fikih Prioritas dengan Fikih Maqaashid/Tujuan

Diantara manfaat dan kebaikan memahami agama Allah adalah bahwa kita dapat mengetahui maksud Allah
memberi pembebanan kepada manusia. Dengan demikian kita berusaha merealisasikan maksud tersebut sehingga
kita tidak memberatkan diri kita maupun orang lain untuk mengerjakan ibadah yang tidak ada hubungannya dengan
tujuan syariat. Berkaitan dengan ini, kiranya perlu diperhatikan hal-hal seperti di bawah ini:
- Keharusan zakat fitrah berupa makanan di setiap kawasan di zaman sekarang
- Berebut melempar jumroh sebelum tergelincirnya matahari meskipun hal itu mengakibatkan jalanan penuh
sesak sampai membawa kematian karena seorang terinjak-injak.

C. Hubungan Fikih Prioritas dengan Fikih Nushush

Hubungan fikih prioritas ini lebih banyak terhadap nash-nash Sunnah Nabi, sebab didalamnya terdapat hal-hal yang
menyebabkan orang yang memahaminya berbeda-beda, jumlahnya lebih banyak. Hal itu disebabkan As-Sunnah
memberikan perincian masalah, dan terdiri dari cabang-cabang masalah serta penerapannya.

Prioritas Kualitas daripada Kuantitas

Diantara prioritas penting menurut syariat adalah mendahulukan kualitas dan jenis daripada kuantitas dan bentuk.
Ukuan syariat bukanlah jumlah yang banyak dan besarnya bentuk, akan tetapi kualitas dan tatacara yang ditempuh
dalam beribadah. Kuantitas adalah seluruh pengungkapan yang menggunakan ukuran-ukuran materiil semata-mata,
seperti tentang jumlah, cakupan luas, bentuk, timbangan, lamanya waktu dan lain-lain.
Al-Qur’an mencela kelompok mayoritas jika para anggotanya terdiri dari orang-orang yang tidak berakal, tidak
berilmu, tidak beriman, atau tidak bersyukur (QS. 29:63, 7:187, 11:17, 2:143, 6:116) dan memuji kelompok
minoritas yang beriman, bekerja dan bersyukur (QS. 34:13, 8:26,11:116). Atas dasar inilah tidak terlalu penting
untuk memperbanyak jumlah manusia, tetapi yang terpenting adalah memperbanyak jumlah orang mukmin yang
saleh. Hal ini diperkuat pula dengan beberapa kejadian berikut ini:
- Tentara Thalut memperoleh kemenangan, padahal mereka jauh lebih sedikit daripada jumlah tentara Jalut
yang demikian besar (QS. 2:249, 2:251)
- Rasulullah dan sahabatnya memperoleh kemenangan dalam peperang Badar, padahal mereka jauh lebih
sedikit daripada jumlah orang-orang musyrik (QS. 3:123, 8:26)

Seseorang itu dinilai karena ilmu yang ada di kepalanya, karena iman di dalam dadanya dan sejauh mana kebaikan
dan kesungguhan (esensi dan proses) amal yang dikerjakannya. Dalam hal agama dan ibadah, arti amal yang paling
baik adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar (menurut as-Sunnah) dilakukan (Abu Ali al-Fudhail Ibnu
Iyadh). Adapun baik/ihsan dalam hal keduniaan adalah tercapainya suatu amal pada tingkat professional yang

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 3


Triana Agung

kompetitif dengan yang lain, bahkan lebih berkualitas dengan amal/produk yang lain. Dalam hal membunuh
sekalipun.

“Barangsiapa yang membunuh tokek dalam pukulan yang pertama, baginya seratus kebaikan; dalam pukulan yang
kedua baginya kurang dari seratus; dan dalam pukulan yang ketiga baginya kurang lagi dari itu.”

Hadits di atas menunjukkan pentingnya kesungguhan dan pelaksanaan kerja, meskipun itu berupa hal yang kecil
seperti membunuh tokek. Ini merupakan cara membunuh yang baik. Membunuh dengan cepat mengurangi rasa sakit
binatang yang dibunuh.

Sesungguhnya ada sebagian orang yang mati sebelum ia mati, usianya berakhir sedang dia banyak perhitungan
dengan manusia. Namun ada juga manusia yang tetap hidup setelah ia mati. Ia meninggalkan amal-amal yang saleh
dan bermanfaat ilmunya atau keluarga serta murid-murid yang ditinggalkannya beramal baik pula. Contohnya antara
lain adalah Rasulullah saw., Umar bin Abdul Azis, Imam Ghazali dan Imam Nawawi.

Jadi kunci sukses dalam hal ini adalah keimanan dan kehendak kuat, bukan jumlah dan banyaknya orang. Siapapun
orang yang membaca sejarah Rasulullah saw., sahabat dan khulafa’ ar Rasyidin akan melihat bahwa mereka lebih
memperhatikan kualitas amal, bukan kuantitas.

Prioritas dalam Bidang Ilmu dan Pemikiran

Diantara prioritas penting menurut syariat adalah mendahulukan ilmu daripada amal. Ilmu mendahului amal, ia
merupakan acuan dan penunjuk amal. Disebutkan “ilmu itu pemimpin, sedang amal adalah pengikutnya.” (Hadits
Muadz). Dasarnya adalah:

“Sesungguhnya hamba Allah yang paling takut kepada-Nya adalah ulama” (QS. 35:28)
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah baik, Ia pahamkan kepadanya tentang agama.”

Dengan demikian ilmu haruslah melahirkan rasa takut kepada Allah yang pada gilirannya mendorong kepada amal.
Ilmu dan paham/mengerti akan melahirkan amal yang sebaik-baiknya.

Didahulukannya ilmu atas amal disebabkan ilmulah yang membedakan antara yang hak dan yang batil dalam
kepercayaan; benar dan salah dalam dalam kategorisasi; sunnah dan bid’ah dalam peribadatan; baik dan cacat dalam
muamalah; halal dan haram dalam tindakan; sifat terpuji dan sifat jelek dalam akhlak; yang diterima dan yang
ditolah dalam pengukuran; yang rajih dan marjuh (berat dan ringan) dalam perkataan dan perbuatan.

Ilmu merupakan prasyarat bagi setiap aktivitas leadership/kepemimpinan dalam bidang apapun, baik dalam bidang
manajemen politik, militer, pemberi fatwa/ulama maupun pemberian kebijakan. Profesi yang dimiliki didasari oleh
dua hal: penjagaan/amanah dan ilmu/kompentensi/kemampuan dan pengalaman. Dasarnya adalah:
- (QS. 12:54-55)
- “Kadi itu ada tiga macam: dua dalam neraka dan satu dalam surga. Seorang kadi yang mengetahui
kebenaran lalu ia memutuskan hukum berdasarkan ilmunya, maka ia dalam surga. Seorang kadi yang
memutuskan perkara dengan kebodohan, maka ia dalam neraka; Seorang kadi yang mengetahui kebenaran
lalu berlaku tidak adil dalam memutuskan hukum, maka ia dalam neraka.” (Hadits riwayat Buraidah)

Selain dibutuhkan dalam ruang lingkup pengadilan dan fatwa agama, ilmu dibutuhkan juga dalam bidang dakwah
dan pendidikan (QS. 12:108, 3:79). Setiap da’i—dari pengikut Nabi Muhammad saw.—wajib mempergunakan
hujjah yang nyata dalam dakwahnya. Artinya ajakan yang ditawarkan hendaknya disertai dengan bukti-bukti yang
akurat, serta pengetahuan yang benar. Seorang da’i harus mengetahui untuk apa ia berdakwah, siapa objek dakwah
dan bagaimana/metode ia berdakwah. Untuk itu dikatakan bahwa seorang rabbani adalah orang yang berilmu,
mengamalkan dan mengajarkan ilmunya (QS. 3:79), mendidik manusia dengan ilmu yang ringan/masalah-masalah
yang jelas sebelum ilmu yang berat/ masalah-masalah yang mendalam, mendidik dengan memperhatikan
tahapan/tingkatan/kondisi/keterjangkauan akal orang yang dididiknya.

Prioritas Pemahaman daripada sekedar menghapal

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 4


Triana Agung

Ilmu lebih utama daripada amal. Namun termasuk hal penting juga adalah memprioritaskan ilmu
dirayah/pemahaman daripada ilmu riwayah/menghapal teks. Ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang terserap dalam
pemahaman dan pengejawantahan. Islam menginginkan agar mendalami/tafaqquh agama, bukan sekadar
mempelajarinya (QS. 9:122)

“Manusia itu bagaikan barang tambang emas dan perak; yang baik dari mereka di masa jahiliah adalah yang baik
dalam Islam—jika mereka memahami agama.” (Hadits Abu Hurairah menurut Muslim).

Disebutkan dalam hadits Abu Musa sebagaimana dimuat dalam sahihain,


“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagaikan hujan yang lebat mengenai
bumi. Ada diantaranya tanah yang subur lalu mendapatkan air, maka menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput
yang banyak. Dan diantaranya tanah yang gersang yang dapat menahan curah hujan, maka dengannya Allah
memberikan manfaat bagi manusia; mereka minum, meminumkan ternak, dan menanam. Sebagian hujan mengenai
sepetak tanah yang lain, yakni lembah yang tidak dapat menahan curah hujan, tidak pula menumbuhkan rumput.
Perumpamaan ini seperti seseorang yang yang mendalami agama Allah, lalu mendapatkan manfaat dari ilmu Allah
yang aku diutus karena ilmu itu, maka ia mempelajari dan mengajarkannya. Dan, seperti orang yang sama sekali
tidak meningkat dengan ilmu itu, dan tidak pula menerima petunjuk Allah yang aku diutus karenanya.”

Berdasarkan uraian hadits di atas, terdapat tiga kelompok manusia:


1. Kelompok yang tertinggi
Orang yang mendalami ilmu, memperoleh manfaat darinya, serta mengajarkannya.
2. Kelompok kedua
Orang yang mempunyai hati yang suka menghapal, bukan pemahaman yang tajam, bukan pula kecerdikan
akal yang dapat menyimpulkan makna-makna dan hukum-hukum.
3. Kelompok ketiga
Orang yang tidak mempunyai pemahaman dan hapalan, juga tidak mempunyai ilmu dan amal.

Walaupun pemahaman lebih utama daripada menghapalkan, namun menghapal tetap mempunyai nilai karena
ingatan sangat besar artinya bagi manusia. Menghapal hanyalah menyimpan data-data serta pengetahuan-
pengetahuan untuk kemudian dipergunakan. Menghapal bukanlah sesuatu yang dituju, ia sebagai alat. Kesalahan
ummat Islam dalam hal ini adalah memberikan porsi menghapal lebih banyak daripada porsi memahami.

Prioritas tujuan syariat daripada zahirnya

Diantara materi fikih adalah menyelami tujuan syariat, mengetahui rahasia-rahasia serta ‘illah-‘illah (sebabnya),
mengaitkan antara satu bagian dengan yang lain, mengembalikan cabang-cabang pada aslinya, mengembalikan pula
bagian-bagian terkecil pada keseluruhannya, tidak berhenti pada zahirnya saja, dan tidak hanya terikat pada arti
tekstualnya. Allah mempunyai tujuan-tujuan dalam setiap apa yang disyariatkan, baik perintah, larangan, maupun
kebolehannya. Allah tidak mensyariatkan sesuatu secara serampangan, tetapi untuk suatu hikmah yang terkait
dengan kesempurnaan, ilmu, rahmat, serta kebaikan-Nya terhadap makhluk. Banyak orang yang sibuk dalam ilmu
agama hanya mengambang di atas permukaan, tidak menyelam ke bagian dalam tidak memungut mutiara-
mutiaranya. Lalu dengan itu mereka menyibukkan diri dalam hal-hal yang lahiriah, bukan dalam rahasia dan tujuan-
tujuan ilmu. Kebanyakan pemahaman tekstual-lahiriah ini melahirkan kesimpulan yang cenderung mempersempit
apa yang sebenarnya diperluas oleh Allah; mempersulit apa yang sebenarnya dipermudah oleh Allah.

Prioritas ijtihad daripada taklid

Ilmu, bagi ulama salaf adalah ilmu yang mandiri, disertai argument-argumen di dalamnya, tidak harus sejalan
dengan siapapun, ilmu berjalan dengan dalil-dalil dan ia beroperasi dengan kebenaran yang andal.
Ibnul Qayyim mendasarkan larangan dan celaan atas sikap taklid pada firman Allah (QS. 17:36). Ia
berkata,”Berdasarkan kesepakatan para ahli ilmu, taklid bukanlah mengetahui/berilmu. Jika kebekuan atas lahiriah
nash tercela, sebagaimana hal ini terdapat dalam kelompok Zahiriyah lama dan baru, maka lebih tercela lagi
kebekuan atas perkataan para ulama pendahulu, tanpa memperhatikan padanya perubahan zaman, kebutuhan, dan
tingkatan pengetahuan. Kami memprediksikan, seandainya para mujtahid dahulu sempat hidup di zaman kita dan
melihat apa yang kita lihat, tentu mereka akan banyak mengubah fatwa dan hasil ijtihadnya. Seperti yang pernah

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 5


Triana Agung

dilakukan oleh Imam Syafi’I r.a dan Imam Ahmad yang mempunyai beberapa versi jawaban untuk situasi yang
berbeda.

Prioritas studi dan perencanaan dalam persoalan dunia

Pentingnya mendahulukan ilmu daripada amal dalam persoalan agama berlaku juga dalam persoalan dunia. Kita
hidup pada zaman yang mendasarkan segala sesuatu pada ilmu pengetahuan. Karenanya, segala persoalan hidup
tidak dapat dilakukan tanpa adanya suatu perencanaan. Sebelum mengerjakan sesuatu, seseorang dituntut agar
mengadakan studi ke lapangan, mengadakan perencanaan yang matang dan mengadakan perhitungan serta observasi
yang akurat.
Adapun kelompok yang paling banyak berkepentingan terhadap masa depannya adalah para pemimpin gerakan
Islam. Mereka tidak boleh membiarkan masalah-masalah berlalu tanpa mempelajari pengalaman masa lampau, atau
melihat realitas hari ini, atau menilai benar dan salah dalam ijtihad. Mereka harus mencari kekuatan dan titik
kelemahan ummat Islam dan musuhnya. Termasuk mencari tahu siap saja musuh-musuh kita sebenarnya, yang kekal
dan sementara/incidental, yang dapat didekati dan yang tidak. Adalah tidak dibenarkan menyamakan musuh-musuh
itu sementara secara realitas keadaan mereka berbeda-beda.
Semua itu tidak dapat diketahui kecuali dengan ilmu dan penelitian yang objektif, jauh dari intervensi yang
subjektif, terbebas dari pengaruh-pengaruh keadaan individu, lingkungan dan waktu.

Prioritas dalam pendapat-pendapat fikih

Telah disepakati oleh ahli ilmu bahwa apa yang ditetapkan melalui ijtihad bukanlah apa yang ditetapkan oleh nash.
Apa yang ditetapkan oleh nash dan diperkuat melalui ijmak yang meyakinkan bukanlah apa yang ditetapkan oleh
nash, yang terdapat perbedaan di dalamnya.
Yang terjadi dewasa ini adalah berlebihannya perhatian orang terhadap hal-hal yang diperselisihkan dibanding
terhadap hal-hal yang disepakati. Dan sementara itu perhatian kita terhadap nash-nash yang zhanni memalingkan
orang dari yang qath’i. Sungguh berbahaya kecenderungan kita untuk menampilkan persoalan yang sangat banyak
membuka peluang perselisihan, pada persoalannya hanya berupa hipotesis, tidak diperselisihkan dan tidak ada
perbedaan di dalamnya.

Prioritas dalam bidang fatwa dan dakwah

Diantara prioritas dalam bidang fatwa dan dakwah adalah mendahulukan usaha meringankan dan memudahkan
daripada memberatkan dan mempersulit. Ayat Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa memudahkan dan
meringankan itu lebih disukai oleh Allah dan Rasul-Nya (QS. 2:185, 4:28, 5:6). Hal ini dapat dilihat dalam hal-hal
dibawah ini:
- Berbuka puasa saat safar
- Diperintahkan pada imam dalam shalat berjama’ah agar meringankan shalatnya sebab diantara makmum
terdapat yang lemah, tua dan yang mempunyai keperluan tertentu.
- Ketika Rasulullah ditanya tentang perintah mengawalkan pelemparan dan bukan mengakhirkannya, beliau
hanya menjawab, “Lakukan, dan tidak ada dosa.”. Para fuqaha mempermudah perintah pelemparan ini
sehingga mereka memperbolehkan pelemparan jumrah di hari paling akhir dan memperbolehkan
inabah/diwakilkan karena ada uzur. Sebab ia dapat dilaksanakan setelah tahalul yang terakhir dari ihram.
- Sesuatu yang diharamkan dalam kondisi tertentu dapat dihalalkan (QS. 2:173, sutera untuk laki-laki)
- Para fuqaha syariah memperbolehkan perubahan fatwa karena perubahan ruang dan waktu, kebiasaan-
kebiasaan, dan kondisi.
- Memperhatikan hukum penahapan sejalan dengan sunatullah dalam penciptaan makhluk dan perintah serta
mengikuti metode perundang-undangan hukum Islam, seperti dalam kewajiban shalat, puasa dan lainnya,
serta larangan-larangannya. Misalnya pada penahapan larangan minum khamar.

Hal penting yang merupakan keharusan dewasa ini dalam meningkatkan pendidikan ummat Islam dan pendalaman
agamanya adalah mengetahui apa yang mesti diprioritaskan bagi mereka, apa yang seharusnya diakhirkan, serta apa
yang seharusnya dihilangkan dari pendidikan ummat Islam. Apa yang dipelajari di lembaga-lembaga pendidikan itu
ternyata masih terdapat kekurangan-kekurangan. Hal itu bahkan sangat terlihat pada sebagian materi pelajaran.

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 6


Triana Agung

Ilmu Kalam misalnya, masih terus diajarkan dengan metode klasik. Ilmu itu sebenarnya membutuhkan pembaruan
agar berbicara dengan bahasa Al-Qur’an yang menyentuh fitrah, akal dan hati sekaligus, bukan dengan ungkapan
filsafat Yunani. Juga perlu dilengkapi dengan ilmu-ilmu kontemporer, kebudayaan kontemporer, mengambil bukti-
bukti ilmiah yang dapat memperkokoh pilar-pilar keimanan dan memutus tali pengingkaran.
Demikian pula ilmu fikih membutuhkan kemudahan bagi manusia, dijelaskan dengan metode baru, dan hendaklah
diperhatikan apa yang diperlukan manusia masa kini, seperti perseroan, muamalah, aktivitas bank, bentuk-bentuk
perjanjian, mengubah istilah-istilah satuan lama dalam masalah mata uang, serta ukuran ke dalam bahasa
kontemporer.

Prioritas dalam bidang amal yang tetap/kekal daripada yang terputus-putus

Al-Qur’an dan As-Sunnah menjelaskan bahwa di sisi Allah amal-amal mempunyai urutan tingkatan yang berbeda-
beda. Ada yang lebih utama dan yang lebih disukai Allah daripada amal yang lain. (QS. 9:19-20). Perbedaan urutan
ini tidaklah bersifat acak-acakan, tetapi berada pada ukuran-ukuran dan prinsip-prinsip dasar yang seharusnya
diperhatikan. Diantara ukuran-ukuran tersebut adalah:
- Hendaknya amal itu tetap/kekal.
Artinya bahwa pelaku amal hendaknya senantiasa menekuni dan menjalankannya secara terus-menerus.
Berbeda dengan amal-amal yang dikerjakan hanya sewaktu-waktu dan sesekali saja.Untuk ini terdapat
hadits berikut ini sebagai dasarnya.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Masruq, ia mengatakan, “Kami pernah bertanya kepada
Aisyah r.a, amal apa yang paling disukai oleh Nabi saw?” Maka ia menjawab,”Yang kekal.”
Sebenarnya seseorang cukup melaksanakan amal sedikit rutin, sehingga akan muncul ketaatan yang terus-
menerus dan keberkahannya yang banyak. Berbeda dengan amal yang banyak dan berat. Barangkali yang
sedikit dan kekal akan dapat berkembang sehingga melebihi yang banyak tetapi terputus-putus berlipat
ganda.
- Mengunggulkan amal yang lebih banyak manfaatnya bagi orang lain.
Misalnya amalan jihad lebih utama daripada amalan ibadah haji karena lebih bermanfaat untuk ummat (QS
9:19-20), pengutamaan ilmu daripada ibadah.
- Amal yang lebih luas dan langgeng manfaatnya lebih diprioritaskan.
Misalnya sedekah kambing yang hampir beranak, sedekah jariyah
- Beramal pada zaman fitnah, saat ummat menghadapi cobaan, kesulitan dan krisis.
Amal saleh disini merupakan bukti kekuatan beragama, kekokohan iman dan konsisten atas kebenaran.
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.”
- Amal-amal hati/psikis dan batin lebih diutamakan daripada amal-amal fisik.
Alasannya adalah: niat dan ikhlas (merupakan amal batiniah) adalah dasar diterimanya suatu amal (QS.
98:5), hati merupakan hakikat manusia, pusat kebaikan/kerusakannya (QS 26:87-89, 50:31-33)
Penulis mengamati dan sangat menyesalkan bahwa kebanyakan orang yang terlalu mempersoalkan
masalah-masalah lahiriah (misalnya memendekkan pakaian, menipiskan kumis, membiarkan tumbuhnya
jenggot, jumlah tangga mimbar, dll), seringkali mengabaikan masalah-masalah yang lebih penting dan
mempunyai dampak yang lebih jauh, seperti berbakti pada orang tua, menyambung hubungan silaturahmi,
menepati amanah, memelihara hak orang lain, menekuni pekerjaan dll.
- Urutan prioritas disebabkan perbedaan pengaruh-pengaruh waktu, lingkungan dan pribadi.
Untuk ini terdapat contoh sebagai berikut: Ulama berbeda pendapat di dalam menetapkan amal yang paling
utama di antara pertanian, perindustrian, atau perdagangan;padahal semua bidang tersebut memiliki
keutamaan. Para ulama yang jeli berpendapat bahwa keutamaan bidang itu terletak pada sejauh mana amal
itu dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam kondisi kekurangan pangan, maka pertanian lebih utama daripada
yang lain. Namun bila pangan telah melimpah, masyarakat membutuhkan berbagai macam produk industri
untuk mencukupi kebutuhan ummat guna mempertahankan kehormatan bangsa. Dan ketika hasil pertanian
dan produk industri telah mencukupi, maka sektor perdagangan sangat diperlukan karena orang
membutuhkan pengangkutan hasil-hasil produksi dari suatu negara ke negara lain. Sesungguhnya
menguasai teknologi maju dan ilmu pengetahuan yang mengantarkan ke arah itu menjadi suatu keharusan
dan sangat mendesak.
- Ibadah yang paling utama adalah amal yang diridhai Allah dalam setiap waktu sesuai dengan waktu
tertentu serta tugas-tugas tertentu yang diemban oleh pelakunya.

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 7


Triana Agung

Misalnya ibadah yang paling utama ialah pada waktu jihad yaitu jihad itu sendiri, meskipun harus
meninggalkan wirid-wirid seperti shalat tengah malam dan berpuasa siang hari, bahkan juga meninggalkan
kesempurnaan shalat fardhu sebagaimana dalam keadaan aman (shalat sunnah dan nawafil). Ibadah yang
paling utama ketika azan dikumandangkan adalah meninggalkan segala sesuatu yang menjadi tugas
rutinnya, lalu sibuk menyambutnya.

“Hanya kepadaMulah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan.” (QS. 1:5)

Sungguh, orang yang telah mantap dalam dua hal ini adalah benar. Pakaiannya sederhana, makanannya apa
yang ada, kesibukannya hanya kepada perintah-perintah Allah di setiap waktu, majelisnya di tempat mana
saja yang didapatinya kosong, tidak dikuasai oleh isyarat, dan tidak diperbudak oleh ikatan, tidak dikuasai
oleh bentuk, bebas dan mandiri, berputar sekitar perintah Allah, senantiasa mengikuti perintah Allah
kemana ia pergi, merasa damai dengannya setiap orang yang baik-baik, dan orang yang jahat gerah
dengannya. Ia bagaikan hujan dimana jatuh member manfaat…………Alangkah asingnya ia dia di tengah
manusia. Alangkah tenteramnya ia di sisi Allah, serta alangkah tenteram dan senangnya ia bersamaNya.

Prioritas dalam bidang yang diperintahkan antara pokok dan cabang

Mendahulukan yang pokok artinya mendahulukan apa yang berhubungan dengan iman kepada Allah dan
mentauhidkan-Nya, iman kepada malaikat, kitab-kitab serta rasul-rasul-Nya dan iman kepada hari akhir. (QS. 2:177,
4:136). Iman yang benar harus membuahkan suatu amal, dan atas kadar kekuatan dan kedalaman iman maka amal-
amal itu ada, apakah itu mengerjakan apa yang diperintahkan atau menjauhi apa yang dilarang. Amal yang tidak
didasarkan iman yang benar maka tidak ada nilainya di sisi Allah (QS. 24:39).

Oleh karena itu hal yang paling berhak untuk memperoleh prioritas daripada yang lain adalah meluruskan aqidah,
memurnikan tauhid, menolak syirik dan khurafat, menanamkan benih-benih keimanan dalam hati sehingga kalimat
tauhid benar-benar berakar dalam jiwa, menjadi cahaya kehidupan, serta dapat menghancurkan kegelapan pikiran
maupun perilaku.

Sudah dimaklumi bahwa antara suatu amal dan lainnya terdapat perbedaan urutan yang jelas dari segi syariat. Amal-
amal fardhu merupakan dasar-dasar amal dalam agama. Orang yang melakukan secara sempurna, tanpa
sedikitpun menguranginya, akan dibukakan di depannya pintu surga, meskipun ia kurang mengerjakan amal-amal
sunnah. Adalah keliru jika seseorang menyibukkan diri mengerjakan sunnah dan sukarela dari amalan shalat, puasa
dan haji daripada yang fardhu-fardhu. Para fuqaha menetapkan bahwa Allah tidak menerima ibadah sunnah sebelum
ibadah fardhu ditunaikan. Imam ar-Raghib menjelaskan tentang perbandingan antara ibadah-ibadah fardhu dan
ibadah-ibadah sunnah. “Ketahuilah bahwa ibadah itu lebih umum daripada sekadar kebaikan, sebab setiap kebaikan
adalah ibadah, dan tidak setiap ibadah adalah kebaikan. Diantara perbedaan keduanya, bahwa ibadah tersendiri dari
fardhu-fardhu yang sudah diketahui, dan batasan-batasan yang ditentukan. Orang yang meninggalkannya menjadi
zalim yang melanggar.”

Fardhu ‘ain didahulukan daripada fardhu kifayah.


Sebab dalam fardhu kifayah, jika seseorang telah melakukannya berarti orang lain telah terlepas dosa meski ia tidak
melakukannya. Penulis menjelaskan bahwa fardhu kifayah pun mempunyai tingkatan. Ada yang dilaksanakan oleh
banyak orang dan ada pula yang hanya sedikit orang yang melaksanakannya. Fardhu kifayah yang sama sekali
belum digarap itu lebih utama membutuhkan penanganan daripada fardhu kifayah yang telah ditangani oleh
sebagian orang. Terkadang pada suatu saat fardhu kifayah bisa menjadi fardhu ‘ain bagi seseorang dikarenakan
hanya dia sendiri yang memiliki beberapa keahlian yang dibutuhkan. Maka baginya merupakan suatu keharusan
untuk menjalankan tugas itu dan tidak ada yang menghalanginya. Misalnya seperti pengajar, khatib, dokter, dan
insinyur. Sementara hanya ia sendiri yang mempunyai ilmu dan ketrampilan.

Mengutamakan hak-hak manusia atas hak-hak Allah


Jika fardhu ‘ain didahulukan atas fardhu kifayah, maka dalam fardhu ‘ain sendiri ada tingkatan antara satu dengan
yang lain. Karenanya syariat memberi penekanan pada banyak hukumnya dengan memuliakan apa yang menjadi
hak-hak hamba. Misalnya, jika haji itu wajib dan membayar utang juga wajib, maka membayar utang harus
didahulukan. Tidak boleh seorang muslim mendahulukan ibadah haji sebelum ia dapat membayar utangnya. Kecuali

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 8


Triana Agung

ia mendapatkan izin dari yang mengutangi atau pembayarannya dapat ditangguhkan dan dia yakin bahwa pengutang
akan dapat melunasinya.

Mengutamakan hak-hak jamaah atas hak-hak perorangan


Alasannya adalah karena perorangan tidak dapat eksis dengan jamaah. Aplikasinya misalnya :
- Jihad yang sifatnya fardhu kifayah mengalahkan perintah berbakti pada orang tua
- Jihad yang sifatnya fardhu ‘ain harus didahulukan daripada berbakti pada orang tua
- Imam Ghazali dan lainnya memperbolehkan melempar panah pada orang-orang muslim yang dijadikan
perisai oleh musuh
Prioritas loyalitas terhadap masyarakat dan ummat atas suku dan perorangan
Dasarnya adalah QS. 5:55-56, 4:135, 5:8).
“Barangsiapa terbunuh di bawah bendera dengan maksud yang tidak jelas yang menyeru kepada fanatisme golongan
dan mendukung sikap ini, maka ia mati secara jahiliah.”

Untuk itu perlu pemeliharaan terhadap setiap yang berkaitan dengan urusan masyarakat dan ummah, dan
memberinya prioritas dalam tingkatan kemaslahatan serta tuntutan. Hal ini tidak lain adalah menyiapkan individu
agar menjadi batu bata dalam bangunan masyarakat atau anggota dalam konstruksinya yang dinamik.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelemah-lembutannya adlah bagaikan
tubuh; jika salah satu anggota tubuh mengeluh, maka seluruh tubuh menderita dengan tidak dapat tidur dan demam.
(Muttafaq ‘alaih dari Nu’man bin Basyir)

Prioritas dalam hal-hal yang terlarang


Pada bidang terlarang terdapat perbedaan tingkatan yang bukan hanya satu tingkatan tetapi dalam tingkatan
perbedaan yang tinggi, yang paling tinggi—tanpa diragukan lagi—adalah kufur kepada Allah, sedangkan yang
paling rendah adalah makruh tanzih/khilaful aula/bukan yang lebih utama.

Kufur sendiri mempunyai tingkatan yang berbeda-beda:


Kufur ilhad dan juhud  orang yang tidak percaya bahwa bagi alam ini ada Tuhan (QS. 6:29, 4:136)
Kufur syirik  orang yang mempercayai adannya Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, namun mereka juga
menyembah tuhan-tuhan lain (QS. 43:9, 29:61, 10:31)
Kekufuran ahli kitab  mendustakan kerasulan Muhammad saw. (QS. 5:48)
Kekufuran orang murtad  keluarnya seseorang dari Islam setelah ia memperoleh petunjuk Allah kepada Islam,
seburuk-buruknya jenis kekufuran (QS. 2:217)
Kekufuran nifak  orang yang hidup melakukan kewajiban dalam Islam, namun mereka melakukan tipu daya
terhadap ummat Islam dan loyal kepada musuh Islam (QS. 4:145-146, 2:9)

Kufur paling besar = kufur kepada Allah dan risalah-Nya (QS. 4:115, 17:15)
Kufur paling kecil = maksiat-maksiat, betapapun tingkatannya dalam agama, misalnya orang yang meninggalkan
shalat karena malas, bukan karena ingkar atau meremehkannya.

Syirik paling besar = menjadikan sekutu bagi Allah, mencintainya sebagaimana ia mencintai Allah (QS. 27:97-98)
Syirik paling kecil = riya’, berpura-pura terhadap manusia, bersumpah dengan selain Allah

Nifak paling besar = nifak aqidah, menyembunyikan kekafiran dan memperlihatkan keislaman
Nifak paling kecil = nifak amal dan tingkah laku (jika dipercayai ia berkhianat, jika berbicara ia dusta, jika ia
berjanji ia ingkar, jika berselisih ia membuka rahasia)

Dosa besar = dosa yang mempunyai bahaya yang besar yang menyebabkan pelakunya mendapat murka Allah,
laknat-Nya dan api neraka jahannam. Kadangkala diwajibkan bagi pelakunya hukuman/had di dunia. Yang termasuk
dosa besar diantaranya adalah:
- Syirik
- Membunuh jiwa manusia yang diharamkan Allah kecuali dengan hak
- Sihir
- Makan riba
- Makan harta anak yatim

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 9


Triana Agung

- Menuduh wanita suci sebagai pezina


- Melarikan diri dari peperangan

Dosa-dosa besar tidak terbatas pada perbuatan-perbuatan lahiriah saja, tetapi dosa-dosa dari maksiat hati lebih besar
dan lebih berbahaya. Diantaranya adalah:
- Maksiat Nabi Adam dan isterinya (karena kelemahan dan lupa) ketika keduanya makan buah pohon yang
dilarang Allah (QS. 20:121-122)
- Maksiat iblis (keengganan dan kesombongan) ketika ia diperintah Allah—beserta malaikat—untuk
bersujud kepada Adam (QS. 15:30-35, 2:34)
- Dengki dan benci (QS. 5:27-31, 113:5, 4:54)
- Kikir yang diperturutkan
- Hawa nafsu yang diikuti (QS. 38:26)
- Mengagumi diri sendiri (QS. 9:25-26)
- Riya yang dibenci (QS. 4:142, 107:4-7)
- Mencintai dunia dengan segala keinginannya (QS. 79:37-39)
- Cinta harta, pangkat dan kedudukan (QS. 28:83)
- Putus asa (QS. 12:87, 15:56)
- Merasa aman dari azab Allah (QS. 7:99)
- Senang jika keburukan tersebar luas di kalangan masyarakat beriman (QS. 24:19)

Ibnu Qayyim berkata, “Inilah perkara yang sebaiknya dicermati. Yaitu bahwa yang besar terkadang disertai dengan
malu, takut, dan menganggapnya besar, maka itu menjadi dosa kecil. Tetapi terkadang dosa kecil yang dilakukan
tanpa malu, tanpa peduli dan tanpa rasa takut, serta menganggapnya remeh, maka bisa saja menjadi besar, bahkan
menjadi dosa besar dalam urutan teratas.”

Bid’ah
Bid’ah adalah yang dibuat-buat orang serta dikreasikan mengenai urusan agama, baik itu bid’ah i’tiqadiyah/ucapan
maupun bid’ah amaliyah/amal perbuatan. Bid’ah termasuk pula ke dalam hal-hal yang diharamkan yang berbeda
dengan maksiat-maksiat yang biasa., sebab dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia bahkan berkeyakinan
bahwa dengan bid’ah itu ia melakukan ketaatan dan menyembah Allah. Disinilah letak bahayanya.

Termasuk bid’ah antara lain:


- Pengharaman apa yang dihalalkan oleh Allah tanpa dalil (QS.10:59)
- Penyembahan kepada Allah dengan sesuatu yang tidak syariatkanNya, seperti upacara-upacara serta
praktik-praktik ritual yang baru dalam agama. (QS. 42:21)

Bid’ah lebih disukai oleh iblis daripada maksiat, sebab bid’ah bertentangan dengan agama, pelakunya tidak bertobat
karenanya, tidak pula jera darinya, bahkan ia mengajak orang melakukannya.

Tingkatan bid’ah:
1. Bid’ah yang berat (apa yang menyebabkan pelakunya sampai pada tingkatan kafir)
Misalnya munculnya aliran Nushairiyah, ad-Duruz
2. Bid’ah yang berat tetapi tidak sampai menyebabkan pelakunya sampai pada tingkatan kafir, hanya sampai
ke tingkatan fasik aqidah)
Misalnya aliran Rafidhah, Qadariyah, Mu’tazilah
3. Bid’ah yang ringan
Misalnya disebabkan oleh kesalahan berijtihad, atau kerancuan di dalam mengambil kesimpulan hukum

Adapun bid’ah yang diperselisihkan (sebagian kelompok menetapkan kebid’ahannya, sementara kelompok lain
menolaknya. Misalnya tawassul (membuat perantara) kepada Nabi saw. dan hamba-hamba Allah yang saleh.

Syubhat/samar-samar

Barangsiapa yang mampu berijtihad lalu melakukannya dan mengambil kesimpulan halal dan haram, maka ia
haruslah konsisten untuk memegangi pendapatnya. Bagi orang yang taklid, maka ia hendaknya bertaklid kepada

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 10


Triana Agung

ulama yang dipercayai. Ia tidak berdosa selama hatinya mantap dengan ilmu dan agama orang yang ditaklidi. Dan
bagi orang yang belum menentu pendiriannya, belum memperoleh kebenaran yang meyakinkan, dan persoalan
syubhat maka sebaiknya ia meninggalkannya dengan mengambil pertimbangan untuk penyelamatan agama dan
kehormatannya.

Prioritas dalam bidang reformasi

Diantara prioritas terpenting dalam bidang reformasi adalah memperhatikan pembentukan pribadi individu sebelum
membangun masyarakat, atau mengubah jiwa sebelum mengubag peraturan-peraturan dan lembaga (QS. 13:11).
Manusia, secara pribadi, merupakan batu bata pertama bagi dinding masyarakat. Karenanya, seluruh potensi
dikerahkan untuk membentuk manusia muslim yang utuh, dan pendidikannya--pendidikan Islam yang menyeluruh
—haruslah diprioritaskan daripada usaha-usaha yang lain.

Manusia pertama kali dibangun dengan keimanan, yaitu menanamkan aqidah yang benar ke dalam hatinya, yang
dapat meluruskan pandangannya terhadap dunia dan manusia terhadap semesta, pandangan terhadap pencipta
manusia, pemberi kehidupan, mengenalkan manusia pada asal-usul kejadiannya dan tempat kembalinya dan
risalahnya. Manusia digerakkan melalui hati dan akal; ia dipuaskan lalu puas, ditunjuki lalu mengikuti petunjuk;
digembirakan lalu gembira dan diancam lalu takut. Imanlah yang menggerakkan manusia, mengarahkannya, dan
lahir pada dirinya kekuatan yang dahsyat.
Nabi selama 13 tahun di Mekah mengarahkan seluruh perhatian dan amal-amalannya dari kegiatan tabligh serta
dakwah untuk membangun generasi pertama di atas landasan iman.Ayat Qur’an yang turun saat itu bukanlah ayat
hukum-hukum yang mengatur masyarakat, tapi ayat yang membangun manusia, mendidik dan membentuk mereka
agar kelak mereka dapat pula mendidik dunia seluruhnya.
Yang perlu diserukan oleh para reformis adalah tentang keharusan mendahulukan pendidikan di atas jihad kreasi di
atas kekuasaan. Pendidikan dan kreasi adalah membangun manusia mukmin yang mampu memikul beban dakwah
dan tuntutan risalah, tidak kikir harta, tidak pelit nyawa, dan tidak peduli apa yang akan menimpanya. Ia merupakan
contoh pekerja, berbentuk pada dirinya nilai-nilai agama, dan akhlak dalam berdakwah. Pada dirinya tampak Islam
yang dinamis dan solid.
Tugas Al-Qur’an dalam periode Mekah adalah menancapkan pokok-pokok aqidah, dasar-dasar kebajikan, akhlak
yang mulia, memberi dasar bagi cara pandang yang benar, pemikiran yang lurus, menolak aqidah jahiliah dan
mengikat manusia dengan Tuhannya secara kokoh. Pendidikan yang mendalam di sekolah malam serta sekolah Al-
Qur’an sebagai persiapan bagi kemampuan mengemban “perkataan yang berat” (tugas berat) yang menunggunya
(QS. 73:1-5)

Prioritas di bidang pemikiran Islam

Salah satu yang harus diprioritaskan adalah meluruskan pemikiran-pemikiran yang bengkok dan pemahaman-
pemahaman yang keliru.
Perang pemikiran mempunyai dua lapangan:
1. Di luar pelataran Islam, terhadap orang-orang yang ateis, misionaris Kristen, dan para orientalis yang
menyerang Islam melalui akidah, syari’ah, pusaka, dan peradaban, serta mereka yang memerangi gerakan
atau kebangkitan yang berlandaskan Islam.
2. Di dalam pelataran Islam sendiri. Untuk meluruskan arah dalam prinsip-prinsip amal dan kegiatan islami,
membimbing langkah-langkahnya, membenarkan gerakannya, sehingga berjalan di atas jalan yang benar
untuk sasaran yang benar pula.
Terdapat 4 aliran :
1. Aliran-aliran mitos
2. Aliran-aliran skriptualistis
3. Aliran-aliran radikal
4. Aliran tengah

Aliran tengah memiliki ciri antara lain:


- Pemahamannya terhadap agama dicirikan dengan totalitas, komprehensif, keseimbangan serta kedalaman
- Pemahamannya terhadap realitas kehidupan, tanpa meremehkan maupun membesar-besarkan baik realitas
kaum muslimin maupun musuh-musuhnya.
- Memiliki pemahaman terhadap fikih prioritas

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 11


Triana Agung

- Mau berdialog secara konstruktif dengan kelompok lain, yaitu dengan orang-orang non Islam yang
bertentangan dengannya, atau dengan orang yang mendapat serangan intelektual maupun yang menderita
kekalahan jiwa

Fikih Prioritas dalam tradisi

Dalam tradisi kita:


- Ditemukan ulama-ulama yang mempunyai perhatian terhadap fikih prioritas serta peringatan kepada
praktik pencampuradukan urutan amal, dalam berbagai bentuk peringatan pada masa kejadiannya. Contoh
dalam hal ini : orang Irak yang bertanya kepada Ibnu Umar tentang membunuh lalat oleh seorang muhrim
(dosa kecil) padahal mereka membunuh putra anak perempuan Rasulullah/Husein (dosa besar). Menurut
Ibnu Batthhal, sudah menjadi kewajiban untuk mendahulukan apa yang lebih urgen bagi seseorang tentang
agamanya.
- Terdapat suatu kajian, mana yang lebih diutamakan bagi seorang muslim ketika masa-masa kritis dan
kemaksiatan merajalela : berbaur dengan masyarakat serta berusaha mengadakan perbaikan atau
mengisolasi diri dan mencari keselamatan individu?
Ibnu Umar meriwayatkan dari Nabi saw. “Mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar atas
gangguan mereka adalah lebih baik daripada orang yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak sabar
atas gangguan mereka.”
- Mana yang lebih diutamakan, meninggalkan hal-hal yang dilarang dan diharamkan ataukah melakukan
perintah dan ketaatan? Allah tidak membebani hamba dengan amal yang tidak dapat dilakukannya. Adapun
hal-hal yang dilarang, Allah tidak memberikan toleransi pada yang melakukannya karena dorongan nafsu
yang kuat, tetapi Allah mengharuskan mereka untuk meninggalkannya dalam kondisi apapun.

Imam Ghazali dan Fikih Prioritas

Imam Ghazali merupakan salah satu ulama yang menaruh perhatian terhadap fikih prioritas dan mengkritik
masyarakat muslim yang meremehkannya. Hal ini tampak dalam karya besarnya, Ihya’ Ulumuddin, kitab-kitabnya
yang empat puluh dan dalam buku Dzammil-Ghurur.

Berikut ini dua contoh kritiknya yang kuat, mendalam dan bijaksana, agar diketahui kadar pemahamannya dalam
agama Allah, dan pemahamannya tentang dunia manusia, dan kewaspadaannya untuk memperbaiki lahiriah dan
batiniah mereka serta perhatiannya tentang fikih prioritas.
Contoh pertama: Kelompok yang angkuh dari kalangan beragama yang ahli ibadah dan amal
Diantara mereka ada sekelompok yang melalaikan ibadah-ibadah fardhu, dan menyibukkan diri pada shalat-shalat
keutamaan (fada’il) dan nawafil. Mungkin mereka berkonsentrasi/berlebihan pada shalat-shalat utama sampai
mereka keluar batas dan berlebih-lebihan seperti orang dikuasai perasaan waswas dalam berwudhu dengan
mengulang-ulang, dan tidak puas dengan air yang kesuciannya telah ditetapkan syariat, serta selalu
mempertimbangkan najis yang jauh seakan-akan dekat. Bahkan terkadang manusia terlibat dalam dua fardhu, yang
satu terlepas/luput dan yang kedua tidak. Atau dua keutamaan, yang satu sempit waktunya dan yang kedua luas
waktunya. Jika tidak memelihara urutan itu dengan baik, maka ia akan tertipu. Hal serupa ini sangat banyak.
Maksiat jelas dan ketaatan juga jelas. Sementara yang masih belum jelas adalah mendahulukan sebagiaan ketaatan
dengan sebagian yang lain, seperti mendahulukan seluruh ibadah fardhu atas ibadah-ibadah sunnah, mendahulukan
fardhu- fardhu ‘ain atas fardhu kifayah, mendahulukan fardhu kifayah yang tidak dilakukan orang daripada yang
telah dilakukan orang lain, seta mendahulukan fardhu-fardhu ‘ain yang paling penting daripada yang penting, dan
lain-lain.
Contoh-contoh mengenai berbagai larangan maupun ketaatan tidaklah terbatas. Barangsiapa yang meninggalkan
urutan dalam semuat perkara di atas maka ia tertipu dalam bentuk yang tidak jelas, sebab dia tertipu dalam ketaatan
sementara dia tidak menyadarinya sehingga ketaatan berubah menjadi kemaksiatan karena di meninggalkan ketaatan
yang wajib yang lebih penting.

Contoh kedua: Menginfakkan harta bukan pada hal yang lebih utama
Diantara mereka berusaha keras membangun masjid, madrasah, pesantren, jembatan serta bangunan yang dapat
dilihat oleh orang banyak. Mereka itu kemudian menuliskan nama-namanya pada bangunan-bangunan tersebut agar

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 12


Triana Agung

dapat diabadikan dan tetap dikenang orang setelah mereka mati. Lalu mereka mengira bahwa dengan upaya seperti
itu mereka memperoleh ampunan Allah. Mereka tertipu karena dua sebab:
- Mereka membangun dengan harta yang diperoleh secara zalim, merampas, suapan dan cara-cara yang
terlarang
- Mereka mengira diri mereka ikhlas, karena infak yang ia berikan itu untuk pembangunan dengan tujuan
baik. Namun sayang, apabila namanya tidak tertulis pada bangunan itu, ia tidak bersedia menginfakkan
hartanya.

Fikih Prioritas: Seruan para reformis di zaman modern

Al-Imam Ibnu Abdul Wahab di jazirah Arab : memberikan prioritas perjuangannya pada aqidah, untuk
membentengi kawasan tauhid dari syirik dan khurafat yang mengotori kemurniannya

Muhamad Ahmad al-Mahdi di Sudan: memberikan prioritas pada jihad, mendidik para pengikutnya untuk hidup
secara keras dan mandiri, serta melawan imperialis Inggris dan antek-anteknya.

Jamaluddin al-Afgani : prioritasnya adalah membangkitkan ummat serta menvitalitaskannya untuk menghadapi
kaum imperalis yang membahayakan kehidupang agama serta keduniaan ummat.

Al-Imam Muhammad Abduh : membebaskan pemikiran dari belenggu taklid, memahami agama melalui metoda
salafi-ummah sebelum muncul perbedaan berbagai pendapat (madzaahib), kembali pada usaha mengetahui agama
dari sumber-sumber pertama dan reformasi uslub bahasa Arab.

Al-Imam Hasan al-Banna: memberikan perhatiannya pertama kali pada usaha meluruskan pemahaman Islam bagi
orang-orang Islam, dan mengembalikan ajaran Islam yang terhapus oleh tangan-tangan para westernis dan sekularis.
Mereka menghendaki Islam sebagai akidah tanpa syariat, agama tanpa Negara, kebenaran tanpa kekuatan dan
perdamaian atau penyerahan tanpa jihad. Al-Banna menginginkan Islam—sebagai yang dikehendaki Allah—sebagai
akidah dan syariat, agama dan Negara, kebenaran dan kekuatan, perdamaian juga jihad, mushaf dan pedang.

Al-Imam al-Maududi : memberika prioritas utama berupa perang melawan “jahiliah modern”, mengembalikan
manusia pada agama dan ibadah dengan pengertian yang komorehensif, tunduk hanya kepada “hukum-hukum
Allah” dan menolak hukum-hukum makhluk, apapun kedudukan dan tugasnya.

Asy-Syahid Sayyid Quthb : memberikan prioritas pada bidang akidah sebelum hukum. Dan untuk merealisasi
berlakunya hukum-hukum Allah di muka bumi, yaitu apa yang diungkapkannya berulang-ulang dan dikokohkannya
dalam buku tafsir Fi Zhilaalil-Qur’an. Ia melakukan pelurusan “konsep akidah bagi Islam”, sebab tidaklah mungkin
mengadakan pelurusan suatu amal yang muncul dari konsepsi yang rusak atau salah

Al-Ustadz Muhammad al-Mubarak : mengemukakan aturan tentang urutan-urutan antara aspek kehidupan serta
nilai-nilainya. Harta, kelezatan, kerja, akal, pengetahuan, potensi, ibadah, sanak keluarga, nasionalisme, dan
kemanusiaan merupakan nilai-nilai kehidupan. Para fuqaha terlebih dahulu memperhatikan pemikiran urutan nilai
ini. Mereka membuat urutan ibadah fardhu dan lainnya berbeda-beda dalam kekuatan tuntutannya, sebagaimana
menjadikan yang dilarang dan diharamkan berbeda-beda dalam tingkatan larangan atau pengharamannya.

Asy-Syekh Muhammad Al-Ghazali : memperhatikan fikih prioritas secara teoritis, pemikiran dan penjelasan.
Menurutnya iman itu terdiri dari lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang. Apakah cabang-cabang ini tumpang
tindih setiap kali bertemu.Ia tidak seperti barang yang seseorang dari pasar lalu dimasukkan ke dalam tasnya tanpa
diatur. Sesungguhnya cabang-cabang itu mempunyai urutan sesuai kepentingan dan nilai-nilai masing-masing
mempunyai posisi yang permanen dalam bentuk makro dan tidak melampaui.

Rangkuman Buku Fikih Prioritas Halaman 13