Anda di halaman 1dari 18

PERBEDAAN SEL TUMBUHAN DAN SEL HEWAN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

Oleh: Nama NIM Kelompok Asisten : Devi Pramanik Lisnasuri : J1C112029 : 1 (satu) : Rudy Hermawan

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM STUDI BIOLOGI BANJARBARU 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya organisme kehidupan yang ada di bumi ini terdiri atas banyak sel. Sel merupakan satuan struktural terkecil dari suatu organisme hidup. Pada makhluk hidup bersel tunggal segala fungsi kehidupan harus dilakukan oleh sel-sel itu sendiri, misalnya pertukaran zat dan energi dengan respon terhadap berbagai rangsangan dari lingkungannya, tumbuh dan berkembang biak pun dilakukan oleh sel itu sendiri. Sedangkan pada makhluk bersel banyak yang tentunya lebih kompleks, berbagai fungsi kehidupan itu dilakukan oleh kelompok-kelompok sel yang berbeda, walaupun masih ada fungsi-fungsi kehidupan yang dilakukan oleh semua sel, misalnya respirasi. Karena itu agar fungsi-fungsi kehidupan berjalan baik maka masing-masing kelompok sel akan saling bekerja sama(Kimbal, 1999). Sel merupakan satuan dasar yang menyusun organisme. Istilah selula digunakan pertama kali oleh Robert Hook pada tahun 1665. Hook menggunakan istilah tersebut untuk memberi nama pada ruang yang dibatasi oleh dinding yang dilihatnya pada gabus (Fhan, 1991). Setelah kurun waktu yang cukup lama, dinding sel dianggap sebagai zat mati hasil ekskresi zat hidup dalam sel, terbukti dengan ditemukannya bahwa ada satuan organik antara protoplasma dan dinding sel khususnya pada sel muda, keduanya bersama-sama merupakan satuan tunggal biologis (Fhan, 1991).

1.2

Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati bentuk-bentuk sel mati

dan bagian-bagian sel yang hidup pada tumbuhan dan hewan serta untuk mengenali perbedaan antara sel sel tumbuhan dan sel hewan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sel berasal dari kata cella, yang artinya ruang kecil. Sel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup yang dapat melaksanakan fugsi kehidupan. Sel yang ada dalam makhluk hidup mampu melaksanakan fungsi hidup. Oleh karena itu, sel disebut juga satuan fungsi hidup. Dalam pengertian sel tidak dapat berdiri sendiri (Syamsuri, 1999). Pada teori lama menyatakan sel adalah suatu kesatuan struktural saja dan makhluk hidup tersusun atas sel sedangkan teori yang baru menyatakan sel adalah merupakan suatu satuan struktural maupun fungsional dan merupakan penentu sifat atau faktor genetika dari makhluk hidup, sel merupakan suatu yang berasal dari sel yang telah ada sebelumnya (Subowo, 1992). Seorang sarjana bernama Schawann (1839), mengatakan bahwa organisme tumbuh-tumbuhan dan hewan terdiri atas kumpulan sel-sel. Schawann mengemukakan teori sel yaitu bahwa sel merupakan sebuah organisme baik hewan maupaun tumbuhan merupakan kumpulan sel atau organisme. Schawann dianggap sebagai bapak sotologi modern (Subowo, 1998). Menurut teori yang dikemukakan oleh M.J. Scheleden dan T. Schwan pada tahun 1839 tentang sel, menurut mereka sel adalah sebagian menganut dasar secara morfologi dan fungsional. Mengenai pembentukannya, sel berbentuk kristal dan berwarna putih. Pada tahun berikutnya Virchow menyatakan bahwa sel berasal dari sel yang telah ada sebelumnya dan terus berkembang (Setijadi, 1981). Sel sendiri sebagai dasar penyusun suatu organisme yang terdiri dari inti yang terbungkus oleh membran. Tidak ada kehidupan dalam satuan yang lebih kecil dari pada sel. Sel terbentuk hanya dengan pembelahan sel sebelumnya. Sel disirikan oleh adanya molekul makro sitoplasma sehingga ruang antar selnya kosong (Purnomo, 2003). Pada bagian luar sel tumbuhan terdapat dinding sel, tetapi pada hewan tidak. Adanya dinding sel inilah yang menyebabkan sel-sel tumbuhan memiliki sifat keras dan kaku. Pada tumbuhan, dinding sel berfungsi antara lain untuk melindungi protoplasma, sebagai penguat tanaman dan mencegah terjadinya dehidrasi.

Komponen utama penyusun dinding sel adalah polisakarida. Dinding sel tumbuhan muda masih terlihat tipis yang terdiri atas selaput zat pektin. Setelah sel tumbuhan bertambah tua, maka dinding sel akan menebal dan zat pembentuknya adalah selulosa. Dinding sel bagian dalam berhubungan langsung dengan membran plasma. Membran ini bisa terlihat apabila sel berada di dalam larutan yang lebih pekat daripada larutan dalam sel, sehingga membran plasma akan lepas (Wibowo, 2005). Pada awalnya sel digambarkan pada tahun 1665 oleh seorang ilmuwan Inggris Robert Hooke yang telah meneliti irisan tipis gabus melalui mikroskop yang dirancangnya sendiri. Kata selberasal dari kata bahasa Latin cellula yang

berarti rongga atau ruangan (Wibowo, 2005). Pada tahun 1835, sebelum teori Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi (Wibowo, 2005). Struktur sel dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk semua organisme, namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing golongan besar organisme (Regnum) juga memiliki kehidupan kekhususan uniselular sendiri. sedangkan Selsel-

sel prokariota beradaptasi

dengan

sel eukariota beradaptasi untuk hidup saling bekerja sama dalam organisasi yang sangat rapi (Wibowo, 2005). Sel mengandung materi genetik yaitu materi penentu sifat-sifat makhluk hidup. Dengan adanya materi genetik, sifat makhluk hidup dapat diwariskan kepada keturunannya. Sifat-sifat makhluk hidup tergantung pada sifat sel secara individual (Taryono, 1996). Berikut adalah bagian-bagian sel beserta fungsinya: Dinding sel merupakan penyusun sel tumbuhan yang tersusun atas serat-serat selulosa, bersifat tebal dan kaku untuk membantu mempertahankan bentuk sel dan melindungi sel dari kerusakan mekanis. Di dinding sel terdapat plasmodesmata yang berfungsi untuk hubungan dengan sel disebelahnya. Vakuola adalah suatu rongga yang berisi cairan yang dikelilingi oleh selapis membran yang disebut tonoplas. Vakuola berisi cairan yang berupa larutan garam mineral, gula, oksigen, asam organik, CO2, pigmen, enzim dan sisa

metabolime yang lain. Vakuola merupakan organela yang berfungsi untuk menimbun sisa-sisa metabolisme dan untuk penguraian molekul-molekul sederhana (berfungsi seperti lisosom). Pada hewan terdapat vakuola tetapi sangat kecil atau justru tidak terlihat. Mitokondria adalah organel yang memiliki struktur amat kompleks yang berfungsi untuk membentuk energi atau disebut the power house. Mitokondria merupakan tempat berlangsungya respirasi aerobik pada tingkat seluler. Mitokondria memiliki enzim-enzim yang berperanan untuk mengatur daur krebs yaitu sitokrom. Kloroplas adalah organel yang berperanan dalam fotosintesis karena adanya klorofil dan pigmen-pigmen fotosintetik. Lisosom merupakan organel yang berperanan dalam kegiatan fagositik karena di dalam lisosom banyak terkandung enzim pencerna hidrolitik seperti protease, nuklease, lipase, dan fosfatase. Secara umum fungsi lisosom adalah untuk penguraian molekul-molekul. Mikrotubulus adalah organel berbentuk benang-benang silindris yang tersusun atas protein. Mikrotubulus bersifat kaku sehingga berfungsi sebagai rangka sel yang berfungsi untukmempertahankan bentuk sel. Pada saat pembelahan, mikrotubulus berperanan dalam pembelahan dengan menjadi benang-benang gelendong. Mikrofilamen adalah organel sejenis mikrotubulus yang tersusun atas protein aktin dan meiosin. Fungsi dari mikrofilamin adalah dalam pergerakan sel dalam makhluk hidup tingkat tinggi. Pergerakan atau aliran sitoplasma di atur oleh mikrofilamen. Peroksisom merupakan organel yang senantiasa berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengadnung katalase dan oksidase. Enzim ini akan mengkatalisis H2O2 yang berbahaya bagi tubuh. Selain itu lisosom berfungsi untuk perubahan lemak menjadi karbohidrat seta perubahan purin. Membran sel merupakan bagian terluar sel hewan yang membatasi isi sel dengan lingkungan. Organel ini berfungsi sebagai selaput pelindung dan pengontrol yang bersifat semi permeabel untuk mengendalikan pertukaran zat antara

sitoplasma dengan lingkungan sel. Membran sel tersusun atas selaput lipoprotein (lipida dan protein). Sitoplasma/protoplasmma adalah cairan sel yang mengisi ruangan antara membran sel dengan inti sel. Sitoplasma tersusun atas bahan dasar cair yang disebut sitosol yang berisi air dan senyawa organik terlarut seperti : garam, asam lemak, asam amino, gula nukleotida, dan protein. Sitoplasma merupakan

sumber bahan kimia yang penting dan merupakan tempat berlangsungnya metabolisme tertentu seperti glikolisis, sintesis protein, sintesis asam lemak, dan sebagainya. Nukleus adalah organel terbesar yang berbentuk bulat hingga oval, berfungsi untuk mengendalikan seluruh kegiatan sel. Sel eukariotik memiliki membran inti/karioteka sementara sel prokariotik tidak memiliki membran inti/karioteka. Retikulum endoplasma adalah organel yang bertindak sebagai saluran-saluran dalam sitoplasma yang menghubungkan membran sel dengan nukleus. Fungsi dari retikulum endoplasma adalah untuk transportasi protein. Ribosom adalah organel yang terdapat bebas di dalam sitoplasma atau menempel pada retikulum endoplasma yang tersusun atas protein dan RNA. Ribosom berfungsi untuk sisntesis protein. Apparatus golgi adalah organel yang berbentuk seperti kantong pipih yang berbentuk jala yang terpusat pada salah satu sisi nukleus. Organel ini berfungsi untuk pengemasan dan sekresi protein.

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1

Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasatanggal 9 Oktober 2012 pukul

08.00 10.00 WITA, bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam prosedur ini adalah mikroskop, kaca benda, kaca penutup, cutter/silet, pipet tetes, dan kain flanel. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah penampang melintang sel gabus batang ubi kayu (Manihot utilissima), rambut buah kapuk (Ceiba petandra), rambut buah kapas (Gossypium sp.), penampang melintang daun Ficus Elastica, daun Hydrilla verticillata, selaput bagian dalam umbi lapis bawang merah (Allium cepa), preparat jadi otot polos dan preparat jadi sel darah merah/eritrosit. 3.3 Prosedur Kerja Metode kerja yang digunakan pada praktikum ini adalah : 1. Mikroskop, kaca benda dan kaca penutupnya disiapkan pada posisi yang tepat. 2. Masing-masing preparat yang akan diamati disiapkan di bawah mikroskop sesuai caranya. 3. Bentuk sel, bagian-bagian sel yang hidup diamati dan hasil pengamatan digambar. 4. Gambar dilengkapi dengan keterangan yang jelas, dibuat hasil pengamatan, pembahasan dan kesimpulannya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Gambar Keterangan

a. Dinding sel b. Ruang sel c. Ruang antarsel

Gambar 1. Sel gabus batang ubi kayu (Manihot utilissima

Gambar 1. Referensi

a. Rongga sel b.Gelembung udara c. Dinding sel Gambar 2. Rambut buah kapuk (Ceiba pentandra)

Gambar 2. Referensi

a. Dinding sel Gambar 3. Rambut biji kapas (Gossypium sp) b. Torsi

Gambar 3. Referensi

a. Inti sel b. Dinding sel

Gambar 4. Penampang melintang daun Ficus elastica

Gambar 4. Referensi

a. Dinding sel Gambar 5. Daun Hydrilla verticillata b. Kloroplas c. Inti sel d. Ruang antarsel

Gambar 5. Referensi

a. Dinding Sel Gambar 6. Bawang merah (Allium cepa) b. Inti Sel Bentuk sel heksagonal dengan inti

Gambar 6. Referensi

Gambar 7. Otot Polos

Gambar 7. Referensi

Gambar 8. Darah Manusia

Gambar 8. Referensi

4.2

Pembahasan

4.2.1 Perbedaan Sel Tumbuhan dan Sel Hewan Secara umum perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan yaitu sel hewan tidak memiliki dinding sel, tidak memiliki butir plastida, bentuk tidak tetap karena hanya memiliki membran sel yang keadaannya tidak kaku dan jumlah mitokondria relatif banyak. Sedangkan pada sel tumbuhan memiliki dinding sel memiliki butir plastida bentuk tetap ada dinding sel yang terdiri dari selulosa dan jumlah mitokondria relatif sedikit karena fungsinya dibantu oleh butir plastida. Sel tumbuhan dan sel hewan mempunyai beberapa perbedaan. Sel tumbuhan lebih besar daripada sel hewan. Sel tumbuhan mempunyai bentuk yang tetap sebaliknya pada sel hewan tidak mempunyai bentuk yang tetap.Pada sel tumbuhan terdapat dinding sel sedangkan pada sel hewan tidak. Sel tumbuhan terdapat klorofil namun pada sel hewan tidak. Pada sel tumbuhan terdapat vakuola atau rongga sel yang besar sedangkan pada sel hewan tidak memiliki vakuola, namun pada sel beberapa hewan uniseluler memiliki vakuola tapi tidak sebesar yang terdapat pada

sel tumbuhan. Sel tumbuhan menyimpan tenaga dalam bentuk biji kanji sedangkan pada hewan dalam bentuk glikogen. Berikut adalah gambaran mengenai perbedaan antara sel hewan dan tumbuhan: No. 1 2 3 Sel Tumbuhan Memiliki dinding sel Memiliki plastida Tidak memiliki lisosom Sel Hewan Tidak memiliki dinding sel Tidak memiliki plastida Memiliki lisosom untuk mencerna makanan 4 5 Tidak mempunyai sentriol Mempunyai sentriol

Vakuola pada sel muda lebih Vakuola berukuran kecil pada sel kecil dan banyak, dan pada sel dewasa maupun sel muda dewasa tunggal dan besar

6 7

Tidak mempunyai flagellata

Mempunyai flagellata

Memiliki membran sel/plasma Batas terluar sel adalah membran yang terletak di sebelah dalam sel atau membran plasma yang dinding sel lembut dua sel yang Tidak terdapat lamela tengah dan lamela plasmodemata

Diantara berdekatan

terdapat

tengah dan plasmodemata 4.2.2 Perbedaan Sel Hidup dengan Sel Mati Perbedaan sel hidup dengan sel mati adalah pada struktur dan aktifitas dari masing-masing sel tersebut. Sel hidup adalah sel yang masih memiliki peranan penting dalam metabolism kehidupan dari makhluk hidup, hal itu ditandai dengan adanya bagian-bagian protoplas dalam sel atau dengan adanya hasil meabolisme yang berupa bahan ergastik. Sedangkan sel mati adalah sel yang sudah tidak memiliki peranan dalam proses kelangsungan kehidupan dan hanya berupa dinding sel. Sel hidup antara lain pada umbi bawang merah, daun hydrilla, daun Ficus elastica,sel darah merah dan otot polos. Sedangkan sel mati terdapat pada serat kapuk, kapas, dan empulur ubi kayu.

4.2.3 Penjelasan Sel-Sel pada Percobaan Pada percobaan ke dua menggunakan 9 jenis preparat yang tentunya memiliki karakteristik yang berbedabeda untuk setiap tipenya. Bahanbahan yang diujikan yaitu penampang melintang sel gabus batang ubi kayu(Manihot utilissima), rambut buah kapuk (Ceiba pentandra), rambut biji kapas (Gossypium sp), penampang melintang daun karet (Ficus elastic), daun Hydrilla verticillata, selaput bagian dalam umbi lapis bawang merah (Allium cepa), preparat jadi otot polos, dan sel darah merah/eritrosit. Pada percobaan kali ini, sebenarnya hanya ada beberapa yang dapat dilihat oleh kelompok praktikum menggunakan mikroskop, seperti daun Hydrilla verticilladan rambut biji kapas. Hal ini dikarenakan waktu yang kurang memadai sehingga pengamatan preparat dibagi-bagi pada setiap kelompok praktikum yang lain. Gambar yang ditulis pada hasil pengamatan di atas merupakan hasil penelitian kelompok 1 dan kelompok lain. Namun, disini akan dijelaskan semua walaupun sebenarnya tidak semua yang diamati. 1. Sel penyusun empulur ubi kayu berbentuk segi enam dan memiliki ruang antar sel yang besar. Sel tersebut bersifat mati karena hanya berupa ruang kosong. Sel empulur tersebut berasal dari jaringan parenkim yang sudah mati. Pada beberapa tumbuhan, sel empulur dapat berfungsi sebagai penyimpan air (teratai) dan penyimpan cadangan makanan (sagu). 2. Sel kapas berbentuk memanjang seperti pita. Sel tersebut memiliki puntiran (torsi) di beberapa bagian, dan tidak memiliki organel-organel di dalam selnya, sehigga sel kapas merupakan sel mati. Sel tersebut termasuk jenis sel sklerenkim, yang berfungsi jaringan penguat pada tumbuhan.Serat kapas tumbuh menutupi seluruh permukaan biji kapas. 3. Sel kapuk seperti halnya sel kapas berbentuk memanjang, perbedaannya; pada sel kapuk tidak terdapat torsi, sehingga sel kapas hanya berupa lumen (rongga sel) yang dibatasi oleh dinding sel dengan lingkungan luar. Oleh karena itu sel kapuk mampu menyimpan udara sehingga baik digunakan sebagai bahan isolasi. Serat kapuk banyak digunakan sebagai bahan kasur atau bantal. Serat kapuk berasal dari sel epidermis dari kulit buah.

4. Sel darah merah berwarna merah karena mengandung hemoglobin yang berfungsi mengikat oksigen pada saat transportasi gas, berbentuk bintik-bintik kecil yang menyebar acak. Menurut peninjauan dibuku bentuknya adalah bikonkaf. Sel darah merah adalah sel yang hidup karena di dalamnya terdapat plasma. 5. Struktur otot polos berbentuk serabut panjang seperti kumparan, dengan ujung runcing, dengan inti berjumlah satu terletak dibagian tengah. Kontraksi pada otot polos tidak menurut kehendak atau di luar kendali sistem saraf pusat, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah. 6. Sel bawang merah (Alium cepa) terlihat seperti papan-papan atau segi enam tidak beraturan yang disusun seperti batu bata. Memiliki sebuah inti sel yang terletak di tengah sel. Selain itu di di dalam bawang merah terdapat pigmen yang menyebabkan sel/jaringan berwarna merah (ada yang mengatakan bahwa pigmen tersebut adalah fikoeritrin, bagi saya hal tersebut masih kurang jelas, karena pigmen fikoeritrin biasanya terdapat dalam alga seperti pigmen yang lain; fikosantin, fikobilin dll, mungkin saja pigmen tersebut adalah golongan karotenoid). 7. Sel hydrilla berbentuk segi empat beraturan yang tersusun seperti batu bata. Memiliki kloroplas dan klorofil yang terdapat di dalamnya. Pada daun hydrilla, dapat pula diamati proses aliran sitoplasma, yaitu pada bagian sel-sel penyusun ibu tulang daun yang memanjang di tengah-tengah daun. Pada hydrilla juga terdapat trikoma yang berfungsi untuk mencegah penguapan yang berlebih. 8. Pada daun ficus elastica (karet), yang diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 40X terlihat jaringan parenkim berupa parenkim palisade dan bunga karang. Parenkim palisade memiliki bentuk sel yang panjang, tegak dan terdapat kloroplas. Karena mengandung banyak kloroplas parenkim palisade sangat bermanfaat bagi berlangsungnya fotosintesis (sintesa karbohidrat). Di dalam kloroplas sering terdapat butir-butir tepung asimilasi. Parenkim bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk hampir bulat dengan ruang antarsel yang ukurannya relatif besar. Jaringan palisade masing-masing selnya mempunyai sitoplasma.

Sel mati dari keseluruhan preparat yang telah diamati tadi adalah sel rambut biji kapuk, sel rambut kapas, dan sel gabus batang ubi kayu. Preparat yang digunakan dalam percobaan ini adalah preparat basah, yaitu preparat yang dibuat ketika penelitian berlangsung, yaitu dengan cara memotong bahan yang akan diamati setipis mungkin, kemudian ditaruh di kaca obyektif, kemudian ditetesi air dan ditutup dengan kaca penutup yang berukuran kecil.

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa:

1. Setiap sel pada makhluk hidup memiliki bentuk dan fungsinya masing-masing. 2. Sel dikatakan hidup apabila mengadakan prosesproses seperti oksidasi, metabolisme dan proses lainnya serta masih diselubungi oleh membran dan sitoplasma. Sedangkan sel mati hanya berupa ruang kosong yang dibatasi oleh dinding sel. 3. Antara sel tumbuihan dan hewan memiliki karakteristik yang berbedabeda dalam hal bentuk, struktur dan organelorganelnya.Perbedaan yang khas antara sel tumbuhan dan sel hewan adalah ada tidaknya dinding sel pada sel tersebut. 5.2 Saran Saran saya untuk praktikumselanjutnya adalah praktikan dapat menguasai bahan dengan baik serta gunakanlah peralatan laboratorium dengan hati-hati.Dalam melakukan percobaan ini sebaiknya praktikan membuat sediaan dengan cara memotong setipis-tipisnya, sehingga didapatkan gambaran mikroskopik sel yang jelas, selain itu juga diperlukan ketelitian dan kecermatan agar didapat hasil yang sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Bentuk Sel Tumbuhan dan Hewan. http://www.sarjanaku.com/2010/10/bentuk-sel-tumbuhan-dan-hewan.html diakses pada tanggal 10 Oktober 2012 Kimball, J.W. 1999. Biologi. Erlangga: Jakarta Subowo. 1992. Histologi Umum.Bumi Aksara: Jakarta. Subowo. 1998. Biologi Sel. Angkasa: Bandung. Suryani, 2011. Laporan Praktikum Anatomi Daun. http://suryanieti.blogspot.com/2011/05/laporan-praktikum-antum-anatomidaun.html diakses pada tanggal 10 Oktober 2012 Syamsuri. 1997. Biologi Umum. Erlangga: Jakarta. Wibowo, Y. 2005. Struktur Sel Tumbuhan dan Hewan. Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta