Anda di halaman 1dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

MODUL 2.13 Fluidisasi


I. Pendahuluan

Fluidisasi adalah metoda pengontakan butiran-butiran padat dengan fluida baik cair maupun gas. Dengan metoda ini diharapkan butiran-butiran padat memiliki sifat seperti fluida dengan viskositas tinggi. Sebagai ilustrasi, tinjau suatu kolom berisi sejumlah partikel padat berbentuk bola! Melalui unggun padatan ini kemudian dialirkan gas dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah, butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah, butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir melalui ruang antar partikel tanpa menyebabkan perubahan susunan partikel tersebut. Keadaan yang demikian disebut unggun diam atau fixed bed. Keadaan fluidisasi unggun diam tersebut ditunjukkan pada Gambar 1a.

1a 1b Gambar 1 Skema unggun diam dan unggun terfluidakan

Kalau laju alir kemudian dinaikkan, akan sampai pada suatu keadaan di mana unggun padatan akan tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya. Pada keadaan ini masing-masing butiran akan terpisahkan satu sama lain sehingga dapat bergerak dengan lebih mudah. Pada kondisi butiran yang dapat bergerak ini, sifat unggun akan menyerupai suatu cairan dengan viskositas tinggi, misalnya adanya kecenderungan untuk mengalir, mempunyai sifat hidrostatik dan sebagainya. Sifat unggun terfluidisasi ini dapat dilihat pada Gambar 1b. Dalam dunia industri, fluidisasi diaplikasikan dalam banyak hal seperti transportasi serbuk padatan (conveyor untuk solid), pencampuran padatan halus, perpindahan panas (seperti pendinginan untuk bijih alumina panas), pelapisan plastik

-1/29-

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

pada permukaan logam, proses drying dan sizing pada pembakaran, proses pertumbuhan partikel dan kondensai bahan yang dapat mengalami sublimasi, adsorpsi (untuk pengeringan udara dengan adsorben), dan masih banyak aplikasi lain.

Gambar 2 Sifat Cairan dalam Unggun terfluidisasi

Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada prose fluidisasi antara lain: 1. Fenomena fixed bed yang terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini partikel padatan tetap diam. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 1a. 2. Fenomena minimum or incipient fluidization yang terjadi ketika laju alir fluida mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 1b. 3. Fenomena smooth or homogenously fluidization terjadi ketika kecepatan dan distribusi aliran fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun sama atau homogen sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan seragam. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3 Fenomena smooth or homogenously fluidization

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 2 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

4. Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembung gelembung pada unggun terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4 Fenomena bubbling fluidization

5. Fenomena slugging fluidization yang terjadi ketika gelembung-gelembung besar yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-partikel padat. Pada kondisi ini terjadi penorakan sehingga partikel-partikel padat seperti terangkat. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5 Fenomena slugging fluidization

6. Fenomena chanelling pada Gambar 6.

fluidization yang terjadi ketika dalam ungggun partikel

padatan terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal. Kondisi ini ditunjukkan

Gambar 6 Fenomena chanelling fluidization

7. Fenomena disperse fluidization yang terjadi saat kecepatan alir fluida melampaui kecepatan maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian partikel akan terbawa aliran fluida dan ekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 7.

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 3 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Gambar 7 Fenomena disperse fluidization

Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor: 1. laju alir fluida dan jenis fluida 2. ukuran partikel dan bentuk partikel 3. jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel 4. porositas unggun 5. distribusi aliran, 6. distribusi bentuk ukuran fluida 7. diameter kolom 8. tinggi unggun. Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang akan menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut. Pada praktikum fluidisasi ini fluida yang digunakan adalah udara tekan. Butiran padat yang akan difluidisasikan juga dapat bervariasi seperti butiran batu bara, batu bata, pasir, dan sebagainya. Ukuran partikel juga divariasikan dengan melakukan pengayakan dengan mesh tertentu. Densitas partikel dapat juga divariasikan dengan menyampur partikel, baik yang berbeda ukuran maupun berbeda jenis. Selain itu variasi juga dapat dilakukan pada tinggi unggun. Dalam praktikum ini akan teramati fenomena-fenomena fluidisasi. Selama fluidisasi berlangsung juga dapat diamati kecepatan minimum fluidisasi secara visual. Dari hasil pengukuran tekanan dan laju alir fluida dibuat pula Kurva Karakteristik Fluidisasi. Karakteristik unggun terfluidakan digambarkan pada kurva karakteristik fluidisasi yang merupakan plot antara log U dan log P. Persamaan yang digunakan adalah Persamaan Ergun dan Persamaan Wen Yu.

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 4 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

II. Tujuan

Praktikum ini dilakukan dengan tujuan mempelajari hidrodinamika unggun terfluidakan sistem padat-cair dan/atau padat-gas.

III. Sasaran Berkaitan dengan tujuan tersebut, pada akhir praktikum diharapkan: 1. Praktikan mampu menentukan kecepatan minimum fluidisasi. 2. Praktikan mampu menentukan karakteristik unggun terfluidakan seperti penorakan/ slugging, penjaluran/channeling, dan sebagainya. 3. Praktikan mampu mengamati dan menentukan pengaruh variabel-variabel yang menentukan hidrodinamika unggun terfluidakan, seperti ukuran partikel, densitas partikel, dan sebagainya.

IV. Tinjauan Pustaka Proses fluidisasi biasanya dilakukan dengan cara mengalirkan fluida gas atau cair ke dalam kolom yang berisi unggun butiran-butiran padat. Pada laju alir yang kecil aliran hanya menerobos unggun melalui celah-celah/ ruang kosong antar partikel, sedangkan partikel-partikel padat tetap dalam keadaan diam. Kondisi ini dikenal sebagai fenomena unggun diam. Saat kecepatan aliran fluida diperbesar sehingga mencapai kecepatan minimum, yaitu kecepatan saat gaya seret fluida terhadap partikel-partikel padatan lebih atau sama dengan gaya berat partikel-partikel padatan tersebut, partikel yang semula diam akan mulai terekspansi, Keadaan ini disebut incipient fluidization atau fluidisasi minimum. Jika kecepatan diperbesar, akan terjadi beberapa fenomena yang dapat diamati secara visual dan pada kondisi inilah partikel-partikel padat memiliki sifat seperti fluida dengan viskositas tinggi. Karena sifat-sifat partikel padat yang menyerupai sifat fluida cair dengan viskositas tinggi, metoda pengontakan fluidisasi memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungan proses fluidisasi, antara lain: 1. sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zat padat secara kontinu dan memudahkan pengontrolan

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 5 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

2. kecepatan pencampuran yang tinggi membuat reaktor selalu berada dalam kondisi isotermal sehingga memudahkan pengendaliannya. 3. sirkulasi butiran-butiran padat antara dua unggun fluidisasi memungkinkan pemindahan jumlah panas yang besar dalam reaktor 4. perpindahan panas dan kecepatan perpindahan mass antara partikel cukup tinggi. 5. perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindah panas yang baik memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang memiliki luas permukaan kecil. Sebaliknya, kerugian proses fluidisasi antara lain: 1. selama operasi partikel-partikel padat mengalami pengikisan sehingga karakteristik fluidisasi dapat berubah dari waktu ke waktu 2. butiran halus akan terbawa aliran sehingga mengakibatkan hilangnya sejumlah tertentu padatan 3. adanya erosi terhadap bejana dan sistem pendingin 4. terjadinya gelombang dan penorakan di dalam unggun sering kali tidak dapat dihindari sehingga kontak antara fluida dan partikel tidak seragam. Jika hal ini terjadi pada reaktor, konversi reaksi akan kecil. IV.2 Hilang Tekan (Pressure Drop) Aspek utama yang akan ditinjau dalam percobaan ini adalah mengetahui besarnya hilang tekan (pressure drop) di dalam unggun padatan yang terfluidakan. Hal tersebut mempunyai arti yang cukup penting karena selain erat sekali hubungannya dengan besarnya energi yang diperlukan, juga bisa memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama operasi berlangsung. Penentuan besarnya hilang tekan di dalam unggun terfluidakan terutama dihitung berdasarkan rumus-rumus yang diturunkan untuk unggun diam, terutama oleh Balke, Kozeny, Carman, ataupun peneliti-peneliti lainnya. IV.2.1 Hilang Tekan dalam Unggun Diam Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubuangan antara hilang tekan dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diam diperoleh pertama kali pada tahun 1922 oleh Blake melalui metoda-metoda yang bersifat semi empiris, yaitu dengan menggunakan bilangan-bilangan tidak berdimensi. Untuk aliran laminer dengan kehilangan energi terutama disebabkan oleh gaya viscous, Blake memberikan hubungan seperti berikut:

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 6 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

P k..S 2 gc = L 3
dimana:

(1)

P = hilang tekan per satuan panjang/ tinggi unggun L

gc = faktor gravitasi = viskositas fluida = porositas unggun yang didefinisikan sebagai perbandingan volume ruang kosong di dalam unggun dengan volume unggun u = kecepatan alir superfisial fluida S = luas permukaan spesifik partikel Luas permukaan spesifik partikel (luas permukaan per satuan volume unggun) dihitung berdasarkan korelasi berikut:

S=

6.(1 ) dp
2

(2)

sehingga persamaan tersebut menjadi:

P 36.k. .(1 - ) gc = 2 L dp 3
atau

(3)

k'. (1 - ) 2 P gc = 2 L dp 3

(4)

dimana k adalah konstanta fludisasi dan k=36k (lihat Tabel 1). Persamaan ini kemudian diturunkan lagi oleh Kozeny (1927) dengan mengasumsikan bahwa unggun zat padat tersebut adalah ekivalen dengan satu kumpulan saluran-saluran lurus yang paralel yang mempunyai luas permukaan dalam total dan volume dalam total masing-masing sama dengan luas permukaan luar partikel dan volume ruang kosongnya. Harga konstanta k diperoleh beberapa peneliti berbeda-beda seperti ditunjukkan pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1 Konstanta Empirik Fluidisasi k 150 180 200 Peneliti Kozeny (1927) Carman (1937) US Bureau of Mines (1951)

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 7 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Untuk aliran turbulen, persamaan tersebut tidak dapat digunakan lagi sehingga Ergun menurunkan rumus yang lain (1952) dimana kehilangan tekanan digambarkan sebagai gabungan dari viscous losses dan kinetic energy los.

P (1 - ) 2 (1 - ).g 2 g c = k1 2 3 u + k 2 u L dp. 3 dp . viscous losses


dimana k1 = 150 dan k2 = 1,75 Pada keadaan ekstrem, yaitu bila: a. aliran laminer (Re<20), kinetic energy losses dapat diabaikan, sehingga

(5)

kinetic energy losses

P (1 - ) 2 g c = 150 2 3 u L dp .

(6)

b. aliran turbulen (Re>1000), viscous losses dapat diabaikan, sehingga:

P (1 - )..g 2 g c = 1,75. u L dp. 3

(7)

IV.2.2 Hilang Tekan pada Unggun Terfluidakan (Fluidized Bed) Pada unggun terfluidakan, persamaan yang menggambarkan hubungan p/l dan u yang biasanya digunakan adalah persamaan Ergun, yaitu:

(1 - ) 2 (1 - f ).. 2 P g c = 150 2 f 3 u + 1,75 u 3 L dp. f dp .f

(8)

dimana f adalah porositas unggun pada keadaan terfluidakan. Pada keadaan ini, dimana partikel-partikel zat padat seolah-olah terapung di dalam fluida sehingga terjadi kesetimbangan antara berat partikel dengan gaya seret dan gaya apung dari fluida di sekelilingnya: [gaya seret oleh fluida yang naik] = [berat partikel]-[gaya apung] atau [hilang tekan pada unggun] x [luas penampang] = [volume unggun] x [fraksi zat padat] x [densitas zat padat densitas fluida]

P.A = (A.L)(1 f )( p f )
g P = (1 f )( p f ) gc L

g gc
(10)

(9)

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 8 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

IV.3 Kecepatan Minimum fluidisasi Yang dimaksud dengan kecepatan minimum fluidisasi (dengan notasi Umf) adalah kecepatan superfisial fluida minimum dimana fluidisasi mulai terjadi. harganya diperoleh dengan mengombinasikan persaman Ergun dengan persamaan neraca massa pada unggun terfluidakan, menjadi:

150(1 mf )d p .g

mf 3

U mf +

1,75 d p .Pg

mf 3

U mf =

d p Pg ( s g )g
3

(11)

Untuk keadaan ekstrem, yaitu: 1. aliran laminer (Re<20), kecepatan fluidisasi minimumnya dalah:
2

U mf =

dp

150
dp 1,75

(P

Pg )g

mf 3 . 1 mf

(12)

2. aliran turbulen (Re>1000), kecepatan fluidisasi minimumnya adalah

U mf =

(P

Pg )g Pg

. mf

(13)

Beberapa persamaan lain untuk menghitung harga Umf dapat dilihat di dalam pustaka. IV.4 Karakteristik Unggun Terfluidakan Karakteristik unggun terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik antara penurunan tekanan (P) dan kecepatan superfisial (u). Untuk keadaan yang ideal, kurva hubungan ini berbentuk seperti Gambar 8.

Gambar 8 Kurva karakteristik fluidisasi ideal

Garis A-B dalam grafik menunjukkan hilang tekan pada daerah unggun diam (porositas unggun = 0). Garis B-C menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan. Garis D-E menunjukkan hilang tekan dalam daerajh unggun diam pada waktu menurunkan

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 9 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

kecepatan alir fluida. Harga penurunan tekanannya, untuk kecepatan aliran fluida tertentu, sedikit lebih rendah dari pada harga penurunan tekanan pada saat awal operasi. Penyimpangan dari keadaan ideal: 1. Interlock Karakteristik fluidisasi seperti digambarkan pada kurva fluidisasi ideal hanya terjadi pada kondisi yang betul-betul ideal dimana butiran zat padat dengan mudah saling melepaskan pada saat terjadi kesetimbangan antara gaya seret dengan berat partikel. Pada kenyataannya, keadaan di atas tidak selamanya bisa terjadi karena adanya kecenderungan partikel-partikel untuk saling mengunci satu dengan lainnya (interlock), sehingga akan terjadi kenaikan hilang tekan (P) sesaat sebelum fluidisasi terjadi. Fenomena interlock tetap menjadi unggun terfluidakan. 2. Fluidisasi heterogen (aggregative fluidization) Jenis penyimpangan yang lain adalah kalau pada saat fluidisasi partikel-partikel padat tidak terpisah-pisah secara sempurna tetapi berkelompok membentuk suatu agregat. Keadaan yang seperti ini disebut sebagai fluidisasi heterogen atau aggregative fluidization. Tiga jenis fluidisasi heterogen yang biasa terjadi adalah karena timbulnya: a. penggelembungan (bubbling), ditunjukkan pada Gambar 10a, b. penorakan (slugging), ditunjukkan pada Gambar 10b, c. saluran-saluran fluida yang terpisahkan (chanelling), ditunjukkan pada Gambar 10c, ini dapat dilihat pada Gambar 9, terjadi pada awal fluidisasi saat terjadi perubahan kondisi dari unggun

Umf Gambar 9 Kurva karakteristik fluidisasi tidak ideal karena terjadi interlock

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 10 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Gambar 10 Tiga jenis agregative fluidization

Bentuk

kurva

karakteristik

untuk

unggun

terfluidakan

yang

mengalami

penyimpangan dari keadaan ideal yang disebabakan oleh tiga jenis fenomena di atas dapat dilihat dalam pustaka (1) dan (3). IV.5 Evaluasi Parameter-Parameter dalam Peristiwa Fluidisasi IV.5.1 Densitas Partikel Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang tidak menyerap air atau zat cair lain bisa dilakukan dengan memakai piknometer. Sedangkan untuk partikel berpori, cara di atas akan menimbulkan kesalahan yang cukup besar karena air atau cairan akan memasuki pori-pori di dalam partikel, sehingga yang diukur bukan lagi densitas partikel (berikut pori-porinya) seperti yang diperlukan di dalam persamaan-persamaan yang ditulis di muka, tetapi densitas bahan padatnya (tidak termasuk pori-pori di dalamnya). Untuk partikel-partikel yang demikian, ada cara lain yang biasa digunakan, yaitu dengan memakai metoda yang diturunkan Ergun. Prosedur percobaannya bisa dilihat di dalam pustaka 3 dalam Daftar Pustaka, di halaman 57 dan 58. IV.5.2 Bentuk Partikel Didalam persamaan-persamaan yang telah diturunkan sebelumnya partikelpartikel padatnya dianggap sebagai butiran-butiran yang berbentuk bola dengan diameter rata-rata dp. Untuk partikel-partikel yang mempunyai bentuk lain, harus diadakan suatu koreksi yang menyatakan bentuk sebenarnya partikel yang ditinjau. Faktor koreksi ini disebut sebagai faktor bentuk atau derajat kebolaan suatu partikel yang didefinisikan sebagai:

s =

Ap A

luas permukaan bola pada volume sama (14) luas permukaan partikel

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 11 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Derajat kebolaan (s) bisa dipakai langsung dalam persamaan-persamaan terdahulu dengan mengganti dp menjadi s.dp, sehingga persamaan Ergun dapat ditulis menjadi:

(1 - f ).. (1 - ) 2 u g P g c = 150 2 f 3 .2 + 1,75 u2 3 ( s .d p ) L d p . f ( s .d p ) dp. f


dimana s = 1 untuk partikel berbentuk bola s < 1 untuk partikel berbentuk bola IV.5.3 Diameter Partikel

(15)

Diameter partikel biasanya diukur berdasarkan analisa ayakan. Prosedur penentuan dan perhitungan bisa dilihat dalam pustaka ke-1 (dalam Daftar Pustaka) halaman 67 sampai 69 atau pustaka ke-3 (dalam Daftar Pustaka) halaman 61. Prosedur perhitungannya dapat dilihat pada Bagian V.4 Rancangan Percobaan, Contoh Data dan Langkah Perhitungan. IV.5.4 Porositas Unggun Porositas unggun menyatakan fraksi kosong di dalam unggun yang secara matematik bisa ditulis sebagai berikut:

=
dimana = porositas unggun

Vu Vp Vu

Vu = volume unggun Vp = volume partikel Harga porositas unggun ini sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri butiran padat yang membentuk unggun tersebut, atau dengan perkataan lain, porositas unggun merupakan fungsi dari faktor bentuk atau derajat kebolaan partikel-partikelnya. Salah satu hasil eksperimen yang menggambarkan pengaruh derajat kebolaan terhadap porositas unggun diberikan oleh Brown dan diperlihatkan pada Gambar 11. IV.6. Pendekatan dalam Percobaan Pengukuran densitas partikel dilakukan menggunakan piknometer dengan valome tertentu dengan tipol sebagai fluidanya. Tipol digunakan karena memiliki tegangan permukaan dan viskositas tinggi sehingga cenderung tidak memasuki pori-pori partikel. Dengan demikian asumsu partikel padatan berbentuk bola dapat digunakan.

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 12 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Kecepatan minimum fluidisasi dapat ditentukan secara grafis dan teoritis. Teknik grafis dapat dilakukan apabila tersedia kurva karakteristik fluidisasi. (antara log u terhadap log P). Dengan menarik garis vertikal pada titik mulai konstannya log P atau titik yang menunjukkan adanya fenomena interlock dapat diperpikrakan Umf. Karena fluktuasi nilai dibanding kurva fluidisasi ideal, perkiraan ini kurang akurat. Supaya Umf perkiraan mendekati nilai sebenarnya, penarikan garis pada titik konstan P dilakukan saat kurva fluidisasi mengalurkan data kecepatan tinggi ke rendah. Diharapkan saat kecepatan menurun fenomena interlock dapat dikurangi. Interlock menyebabkan partikel menyatu (biasanya karena basah atau karena kelembaban udara) sehingga kecepatan udara yang dibutuhkan untuk memfluidisasikan partikel tersebut juga bertambah besar. Akibatnya umf yang teramati cenderung lebih tinggi daripada nilai sebenarnya.

Gambar 11 Hubungan antara derajat kebolaan partikel dengan porositas unggun

V. Rancangan Percobaan

V.1 Perangkat dan Alat Ukur Peralatan yang dipakai selama percobaan terbagi dalam 2 kategori, yaitu: A. Peralatan utama yang terdiri dari: 1. Satu set kolom fluidisasi sistem padat-gas, yang berupa dari kolom gelas berdinding halus seperti pada Gambar 7. Didalam kolom ini unggun padatan difluidisasikan 2. Sumber fluida bertekanan 3. Alat pengatur laju alir berupa kerangan jarum 4. Alat ukur laju alir fluida yang terdiri dari venturimeter, dry gas meter 5. Alat ukur perbedaan tekanan sepanjang kolom yang berupa manometer pipa-U yang berisi air berwarna atau air raksa

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 13 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

B. Peralatan pembantu yang terdiri atas: 1. Wet test meter untuk mengkalibrasi flowmeter di dalam rangkaian peralatan utama 2. Piknometer untuk menentukan densitas partikel 3. Timbangan 4. Jangka sorong dan penggaris 5. Stopwatch 6. Gelas ukur 7. Ayakan Wet Test Meter Fungsi Prinsip kerja Persamaan : kalibrasi venturimeter : untuk kalibrasi diukur luas penampang kolom (A) dan waktu (t) : U = V / (A.t)

yang dibutuhkan jarum untuk melakukan 1 putaran sesuai skala alat Dimana V adalah volumetrik satu putaran jarum skala, dan U adalah laju alir linear. Untuk kalibrasi venturimeterdibuat kurva h (pembacaan venturimeter) terhadap U, sehingga diperoleh persamaan kalibrasinya. Venturimeter Fungsi Prinsip kerja : pengukuran laju alir partikel : laju alir fluida adalah ekivalen dengan beda tinggi fluida pada

kaki manometernya. Manometer Fungsi Prinsip kerja kaki manometer. Piknometer Fungsi Prinsip kerja : menghitung densitas : massa jenis/ densitas zat yang dicari () adalah : menghitung besar pressure drop : besar pressure drop ekivalen dengan beda tinggi fluida pada

= Mpikno berisi zat Mpikno kosong/ Vpikno

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 14 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

bila digunakan air sebagai satandar volume pikometer (Vpikno): Vpikno = (Mpikno berisi air Mpikno kosong) /air literatur , air = f(T) V.2 Tata Laksana Percobaan Pelaksanaan pekerjaan dapat dibagi dalam 2 tahap: 1. Tahap persiapan Pada tahap persiapan ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. penentuan densitas butiran padatan dengan menggunakan metoda Ergun atau dengan piknometer 2. Pengukuran dimensi kolom dengan memakai jangka sorong 3. Penentuan ukuran butiran padat dengan memakai analisa ayakan 4. Kalibrasi flowmeter dengan wet test meter 2. Pada tahap operasi dilakukan aktivitas-aktivitas berikut: 1. Kalibrasi kolom kosong, yaitu mengukur penurunan tekanan di dalam grid yang terdapat di bagian dasar kolom untuk laju alir yang berbedabeda, penurunan tekanan ini dilihat dengan mengukur beda permukaan cairan yang ada di dalam manometer pipa U. 2. 3. Mengisi kolom dengan butiran-butiran padatan dalam jumlah tertentu Mengukur penurunan tekanan (P) di dalam kolom yang berisi padatan untuk laju alir yang berbeda-beda. Laju alir fluida divariasikan mulai dari kecepatan rendah samapai pada suatu keadaan dimana penorakan di dalam unggun sudah tampak menyolok. Dari titik ini laju alir fluida kemudian diturunkan kembali perlahan-lahan sampai dicapai titik terendah dimana operasi dimulai. Selama operasi berlangsung harus dilihat dan dicatat segala fenomena yang terjadi di dalam unggun.

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 15 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Gambar 7 Skema alat praktikum Modul Fluidisasi Keterangan instalasi peralatan pada Gambar 7: D = distributor KD = kerangan diafragma KER =kerangan KJ = kerangan jarum KOL = kolom M1 = manometer tabung Bourdon untuk mengukur tekanan gas keluar M2 = manometer tabung Bourdon untuk mengukur tekanan dalam tangki TGN = sumber fluida bertekanan MU1 = manometer pipa U berisi air untuk mengukur tekanan gas antara tap 1 dan tap 2 MU2 = manometer pipa U berisi air untuk mengukur tekanan gas antara tap 1 terhadap udara luar R U = flowmeter = unggun butiran padat

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 16 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

V.3. Diagram Kerja Praktikum Fluidisasi V.3.1. Penentuan Densitas Padatan dengan Piknometer
Ambil Piknometer yang sudah dikalibrasi dan diketahui bervolume V, keringkan Pikno yang sama, cuci, keringkan

Timbang massa piknometer kosong

Isi partikel padatan, sampai pikno kira-kira terisi -nya

Masukkan tipol sampai penuh

Timbang massa pikno+partikel

Penuhi dengan tipol

Timbang pikno + tipol

Hitung massa padatan

Timbang massa pikno+partikel+tipol

Hitung massa tipol Vpikno = V tipol

Hitung volume padatan

Hitung massa tipol

Hitung densitas tipol Hitung densitas padatan

Hitung volume tipol

V.3.2 Kalibrasi Venturimeter dengan Wet Test Meter


Teliti Vol. 1 putaran wet test meter V wet test meter = x L

Alirkan udara melalui venturimeter, perhatikan ? hv. ? hv = y m

Hitung laju alir linear (v)

Variasikan ? hv, ulangi percobaan Ukur dkolom, hitung L permukaan kolom

Hitung waktu udara mengaliri 1 put. wet test meter t = z detik

Buat kurva ? hv (sb X) vs v (sbY) Linearisasi

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 17 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

V.3.3 Kalibrasi Kolom Kosong


Kolom Kosong

Alirkan udara melalui venturimeter, perhatikan ? hv. ? hv = x m

Variasikan ? hv, ulangi percobaan

Grid dalam kolom kosong akan menunjukkan ketinggian tertentu hm grid = y cm

Buat kurva ? hv (sb X) vs ? hm grid (sbY)

V.3.4 Percobaan Utama


Partikel padatan dpartikel = cm partikel = gr/cm3 Alirkan udara fluidisasi

Isi kolom fluidisasi dengan partikel padatan sampai ketinggian tertentu hpartikel = cm

Ulangi percobaan, variasikan kecepatan dari kecil ke besar, lalu dari besar ke kecil

Amati hv = cm Amati hm = cm hm tersebut adalah hm teramati

Hitung v (dari v = v (hv ))

Hitung hm grid (dari hm grid = f (hv ))

Alurkan log P terhadap log v (Kurva Karakteristik Fluidisasi)

Hitung hm unggun ( hm unggun = hm teramati hm grid)

Hitung P (dari P = .g.h)

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 18 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

V.4 Data Percobaan Data yang diperlukan dalam percobaan fluidisasi ini adalah: 1. Variabel percobaan Variabel percobaan adalah data yang sengaja divariasikan sehingga didapat informasi yang diinginkan sesuai tujuan praktikum fluidisasi. Variabel percobaan fluidisasi adalah densitas partikel, ukuran partikel, keseragaman partikel, jenis partikel, tinggi unggun, laju alir fluida. Densitas dan keseragaman partikel dapat divariasikan dengan mencampur partikel yang berbeda ukuran maupun berbeda jenis. Ukuran partikel divariasikan dengan melakukan pengayakan dengan nomor mesh tertentu. 2. Parameter percobaan Parameter percobaan adalah data yang diambil dalam percobaan yang berubahubah karena dilakukan variasi variabel. Parameter dalam praktikum fluidisasi ini adalah pressure drop dan kecepatan minimum fluidisasi (Umf) 3. Data-data tambahan Selain 2 data pokok di atas ada dat alain uang diperlukan dalam perhitungan nilai variabel dan parameter dalam percobaan fluidisasi: 1. ukuran ayakan, diperlukan untuk menentukan diameter partikel 2. massa dan volume piknometer, diperlukan untuk menghitung densitas partikel padatan 3. diameter kolom, diperlukan untuk kalibrasi venturimeter 4. tinggi unggun, diperlukan untuk menghitung Umf teoretik 5. data literatur massa jenis air pada temperatur pengukuran diperlukan untuk menghitung volume piknometer 6. data literatur densitas dan viskositas fluida (udara) pada tekanan dan temperatur praktikum untuk perhitungan Umf teoretik 7. volume wet test meter 1 putaran diperlukan untuk perhitungan kalibrasi venturimeter. Contoh lembar data untuk praktikum fluidisasi ini adalah sebagai berikut: 1. Diameter Mesh Ayakan
No. Mesh d (mm)

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 19 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

2. Densitas Air pada Berbagai Temperatur (Literatur)


Temperatur (0C) Sumber (g/mL)

3. Densitas Udara pada Berbagai Temperatur (Literatur)


Temperatur (0C) Sumber (g/mL)

4. Viskositas Udara pada Berbagai Temperatur (Literatur)


Temperatur (0C) Sumber (cP)

5. Diameter Partikel
RUN Jenis Partikel No. Mesh d (mm)

6. Perhitungan Denistas Partikel Massa piknometer kosong = Massa piknometer + tipol = Massa tipol = Densitas Tipol =
RUN Massa Piknometer + Partikel (g)

g g mL
Densitas Partikel (g/mL)

g g/mL
Massa Piknometer + Partikel + tipol (g)

Volume piknometer = volume tipol =

7. Kalibrasi Venturimeter Diameter Kolom = Vol. Wet Test Meter = Luas Kolom =
hv (cm)

cm mL cm2
t (s) u (cm/s)

Data Kalibrasi Venturimeter

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 20 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

8. Kalibrasi Kolom Kosong


hv (cm) hm grid (cm)

8. Penentuan Kurva Karakteristik Fluidisasi


hv (cm) hm total (cm) hm grid (cm) hm (cm) L (cm) Fenomena u (cm/s) P (N/m2) log u log P

V.5 Bahan/ Zat Kimia 1. Fluida cair dan gas sebagai media untuk membuat unggun terfluidisasi 2. Partikel-partikel padat sebagai unggun yang akan difluidisasi 3. Tipol untuk analisis densitas V.6 Langkah Perhitungan V.6.1 Perhitungan Diameter Partikel Misal diperoleh data: Perhitungan diameter partikel yang melewati mesh 10 tetapi tertahan di mesh 14 Diketahui: mesh 10, dp = 1.651 mm mesh 14, dp = 1.168 mm maka

dp =

1.651 + 1.168 = 1.4095 mm 2

V.6.2 Perhitungan Densitas Partikel Misalkan data: - massa piknometer + tipol = 21,871 g - massa piknometer kosong = 11,596 g Maka massa tipol = 21,871 11,596 = 10,275 g Volume tipol = 10 cm3 Densitas tipol =

massa tipol 10,275 g = volume tipol 10 mL

- massa piknometer + partikel = 15,263 g - massa piknometer kosong = 11,596 g

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 21 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Maka massa partikel = 15,263 11,596 = 3,667 g - massa piknometer + partikel + tipol = 24,195 g - massa piknometer + partikel = 15,263 g Maka massa tipol = 24,195 15,263 = 8,932 g Volume tipol =

massa tipol 8,932 = = 8,689 mL densitas tipol 1,028


= 10 mL 8,689 mL = 1,311 mL

Volume partikel = volume piknometer volume tipol

Densitas partikel =

massa partikel 3,667 g = = 2,806 volume partikel 1,311 mL

V.6.3.Kalibrasi Venturimeter Misalkan data: Volume wet test meter = 10 L = 10000 cm2 hv = 1,8 cmHg Waktu yang diprelukan untuk 1 putaran venturimeter = 56 s Diameter kolom = 2,5 cm Luas kolom = v=

2 .D = .(2,5) 2 = 4,9063 cm 2 4 4

Volume 10000 cm 3 = = 36,397 cm/s Luas.Waktu 4,9063 cm 2 .56 s

Dengan mengalurkan data v terhadap hv didapat kurva kalibrasi dengan persamaan garis linear yang menyatakan hubungan v sebagai fungsi hv. V.6.4 Kalibrasi Kolom Kosong Tujuan kalibrasi kolom kosong adalah mendapatkan hubungan antara hm grid terhadap hv. Kurva kalibrasi ini didapatkan dengan mengalurkan data hm grid terhadap hv pada beberapa titik, sehingga didapatkan persamaan garis linear yang menunjukkan hm grid sebagai fungsi hv.

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 22 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

V.6.5 Penentuan Kurva Karakteristik Fluidisasi Misalkan data: pasir dengan mesh -10+14 hv = 0,3 cmHg hm = 3,3 cmH2O dengan kalibrasi venturimeter (v = f (hv)) didapat v = 4,3779 cm/s dengan kalibrasi kolom kosong (hm grid = f (hv)) didapat hm grid = 3,4655 cmH2O dihitung hm unggun = hm pengamatan - hm grid hm unggun = 3,3 2,4655 = 0,8345 cmH2O P = p.g. hm unggun = 2,806. 9,8. 0,8345 = 15131 Pa Dengan mengalurkan log P terhadap log v didapat kurva karakteristik fluidisasi. V.6.6 Perhitungan Umf A. Cara Visual Umf ditentukan pada saat terjadi perubuhan fenomena fluidisasi dari terfludisasi menjadi unggun diam. Karena itu harus diamati perubahan fenomena fluidisasi saat kecepatan fluida diturunkan. B. Cara Grafik Umf ditentukan pada saat terjadi pembelokan pada arah menurun dari grafik/ kurva karakteristik fluidisasi yang telah dibuat berdasarkan hasil percobaan. C. Secara Teoretis dengan Persamaan Ergun Persamaan Ergun:

Maka:

U mf =
dimana:

d p * ( p f )* g * ( mf )3 1.75 * f

dp = diameter partikel (cm) p = densitas partikel (g/cm3) f = densitas fluida (g/cm3) g = konstanta gravitasi (cm/s2) mf = porositas kolom

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 23 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

D. Secara Teoretis dengan Persamaan Wen Yu

U mf =
dimana:

d p * ( p f )* g
2

1650 * f

dp = diameter partikel (cm) p = densitas partikel (g/cm3) f = densitas fluida (g/cm3) g = konstanta gravitasi (cm/s2) f = viskositas fluida (cP) Dari persamaan ini terlihat bahwa Wen Yu mendekati partikel sebagai bola, derajat kebolaan 1. V.7 Contoh Pengolahan Data V.7.1 Kalibrasi Venturimeter Misalkan diperoleh data kalibrasi venturimeter dengan wet test meter berikut:
hv (cm) 1.1 1.6 2 2.5 3.3 4 4.9 5.7 6.3 6.8 8.3 9.3 10 10.9 11.9 31.1 14.2 15.4

t (s) 41.71 37.28 32 29.7 29.26 29.09 28.44 27.7 26.99 26.09 25.2 24.85 24.26 23.77 23.57 23.04 22.38 22.18

u (cm/s) 12.38816626 13.86025791 16.14720046 17.39765706 17.65927597 17.76247559 18.16843934 18.65380559 19.14451333 19.80492199 20.50438154 20.79317565 21.29886294 21.73792237 21.92237653 22.42666731 23.08804356 23.29623151

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 24 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Dari seri data tersebut diperoleh kurva Kalibasi Venturimeter sebagai berikut:
Kalibrasi Venturim eter 26 24 22 u (cm/s) 20 18 16 14 12 10 0 10 20 Delta hv (cm ) 30 40 y = -0.024x 2 + 1.0294x + 13.498 R2 = 0.9302

Maka persamaan kalibrasi venturimeter itu adalah: u = -0.024*(hv)2+1.0294*(hv)+13.498 V.7.2 Kalibrasi Kolom Kosong Misalkan diperoleh data kalibrasi kolom kosong (grid) dengan venturimeter berikut:
hv (cm) 0.4 0.6 0.9 1.2 1.6 2.2 3.1 3.8 4.6 5.3 6 7.2 hm grid (cm) 2.7 3.8 4 5 5.5 6.5 7.5 8.5 9.3 10.1 11.2 12.4

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 25 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

Dari seri data tersebut diperoleh kurva Kalibasi Kolom Kosong sebagai berikut:
Kalibrasi Kolom Kosong 14 12 Delta hm grid (cm) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 Delta hv (cm ) 6 8 y = 1.3556x + 3.0398 R2 = 0.9851

Maka persamaan kalibrasi kolom kosong itu adalah: (hm grid) = 1.3556*(hv)+ 3.0398 V.7.3 Hasil Salah Satu Run Percobaan Utama Misalkan data berikut adalah hasil tempuhan percobaan utama dengan variasi tertentu:
hv (cm) 0.1 0.1 0.2 0.3 0.8 1 1.1 1.7 2.2 3 4 4.6 5.2 6.2 7.2 8.8 9.5 11.2 12.6 hm total (cm) 0.8 1.7 2.9 4.2 5.3 6.3 7.3 8.3 9.2 10 11.5 12.6 13.4 14.6 15.8 17.3 18.4 20.3 21.8 hm grid (cm) 1.17536 1.17536 2.31092 3.44648 4.12428 4.3954 4.53096 5.34432 6.02212 7.1066 8.4622 9.27556 10.08892 11.44452 12.80012 14.96908 15.918 18.22252 20.12036 hm (cm) 0.37536 0.52464 0.58908 0.75352 1.17572 1.9046 2.76904 2.95568 3.17788 2.8934 3.0378 3.32444 3.31108 3.15548 2.99988 2.33092 2.482 2.07748 1.67964

L (cm) 3.1 3.1 3.1 3.1 3.2 3.2 3.2 3.4 3.5 3.6 3.6 3.6 3.6 3.7 3.7 3.8 3.8 3.8 3.8

Fenomena Fixed Fixed Fixed Fixed E E E,B E,S C C C C C C,S C,S,F C,S,F C,S,F C,S,F S,F

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 26 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

14 14.8 13.8 12.4 11.2 10.3 9.4 7.8 7 5.8 5.3 4.3 3.8 2.8 2 1.2 0.8
hv (cm) 0.1 0.1 0.2 0.3 0.8 1 1.1 1.7 2.2 3 4 4.6 5.2 6.2 7.2 8.8 9.5 11.2 12.6 14 14.8 13.8 12.4 11.2 10.3 9.4 7.8 7 5.8

23 24 22.8 21.8 20.4 19.2 18 16.3 15.4 14.2 13 11.5 10.5 9 7.1 5.2 4
hm (cm) 0.37536 0.52464 0.58908 0.75352 1.17572 1.9046 2.76904 2.95568 3.17788 2.8934 3.0378 3.32444 3.31108 3.15548 2.99988 2.33092 2.482 2.07748 1.67964 0.9818 0.89732 1.05292 1.95076 2.17748 2.19752 2.21756 2.68652 2.871 3.29772

22.0182 23.10268 21.74708 19.84924 18.22252 17.00248 15.78244 13.61348 12.529 10.90228 10.22448 8.86888 8.19108 6.83548 5.751 4.66652 4.12428 u 13.6007 13.6007 13.70292 13.80466 14.30616 14.5034 14.6013 15.17862 15.64652 16.3702 17.2316 17.7254 18.20192 18.95772 19.66552 20.69816 21.1113 22.01672 22.6582 23.2056 23.47616 23.13316 22.57232 22.01672 21.55466 21.05372 20.06716 19.5278 18.66116

0.9818 0.89732 1.05292 1.95076 2.17748 2.19752 2.21756 2.68652 2.871 3.29772 2.77552 2.63112 2.30892 2.16452 1.349 0.53348 0.12428 P 756.30536 1057.0866 1186.9255 1518.2524 2368.9347 3837.5404 5579.2833 5955.3405 6403.0469 5829.8538 6120.8025 6698.3477 6671.4289 6357.9135 6044.3982 4696.5241 5000.9322 4185.8729 3384.273 1978.2092 1807.9921 2121.5074 3930.5473 4387.3609 4427.7391 4468.1173 5413.0154 5784.7205 6644.5101

3.9 4 4 3.9 3.8 3.8 3.8 3.8 3.6 3.6 3.6 3.6 3.5 3.4 3.4 3.4 3.4 log u 1.1335613 1.1335613 1.1368131 1.1400257 1.1555231 1.1614698 1.1643915 1.1812323 1.1944178 1.214054 1.2363256 1.248596 1.2601172 1.2777861 1.2937054 1.3159317 1.324515 1.3427526 1.3552254 1.3655928 1.3706271 1.364235 1.3535762 1.3427526 1.3335412 1.3233288 1.3024859 1.2906533 1.2709386

S,F S,F S,F S,F B,F B,S,F B,S,F B,S,F C,B,F C,B,F C,F E,C E,C E,C E E Fixed log P 2.8786972 3.0241106 3.0744235 3.181344 3.3745531 3.584053 3.7465784 3.7749066 3.8063867 3.7656577 3.7868084 3.8259677 3.8242189 3.8033146 3.7813531 3.6717766 3.699051 3.621786 3.5294654 3.2962722 3.2571965 3.3266446 3.594453 3.6422034 3.646182 3.6501246 3.7334393 3.7622824 3.822463

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 27 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

5.3 4.3 3.8 2.8 2 1.2 0.8

2.77552 2.63112 2.30892 2.16452 1.349 0.53348 0.12428

18.27966 17.48066 17.06316 16.19216 15.4608 14.69872 14.30616

5592.3397 5301.3911 4652.1967 4361.2481 2718.0731 1074.8982 250.40929

1.2619681 1.2425578 1.2320595 1.2093048 1.189232 1.1672795 1.1555231

3.7475935 3.7243898 3.6676581 3.6396108 3.4342611 3.0313673 2.3986504

Dari data tersebut dapat dibuat Kurva Karakteristik Fluidisasi sebagai berikut:
Kurva Karakteristik Fluidisasi 4 3.8 3.6 3.4 log delta P 3.2 3 2.8 2.6 2.4 2.2 2 1.1 1.15 1.2 1.25 log u 1.3 1.35 1.4

Perioda Laju Menurun

Periode Laju Naik

V.7. 4. Perhitungan Kecepatan Minimum Fluidisasi A. Cara Visual Dari rangkaian data yang didapatkan dapat diperkirakan fluidisasi minimum terjadi saat laju alir udara 14,3 cm/s. B. Cara Grafik Dengan garis bantu pada Kurva Karakteristik Fluidisasi diperkirakan fluidisasi minimum terjadi saat laju alir udara log-1(1,2) = 15,84 cm/s C. Secara Teoretis dengan Persamaan Ergun Persamaan Ergun:

U mf =
jika

d p * ( p f )* g * ( mf )3 1.75 * f

dp = 0.14095 cm p = 2.806 g/cm3

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 28 dari 29

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

f = 0.00118 g/cm3 g = 981 cm/s2 mf = 0.65 Maka

U mf = U mf
2

0.14095 * (2.806 0.00118) * 981 * (0.65)3 1.75 * 0.00118 = 227.106 cm/s

D. Secara Teoretis dengan Persamaan Wen Yu

U mf =
dimana:

d p * ( p f )* g 1650 * f

dp = 0.14095 cm p = 2.806 g/cm3 f = 0.00118 g/cm3 g = 981 cm/s2 f = 1.8*10-4 cP Maka :

U mf U mf

0.14095 2 * (2.806 0.00118) * 981 = 1650 * 1.8 * 10 -4 = 18.41 cm/s

Dari perhitungan-perhitungan tersebut terlihat besarnya ketidak sesuaian anatara kecepatan minimum fluidisasi yang diperoleh dengan percobaan dengan kecepatan minimum fluidisasi dengan perhitungan sesuai teori. Mengapa?

Daftar Pustaka 1. Fee, C.J., A Simple but Effective Fluidized-Bed Experiment, Chem. Eng. Educ., Summer 1994, pp. 214-217 2. Kunii, D., and Levenspiel, O., Fluidization Engineering, Butterworth-Heinemann, Boston, 1991 3. Buku-buku lain yang memuat topik fluidisasi.

Modul 2.13 Fluidisasi

Halaman 29 dari 29