Anda di halaman 1dari 21

Goals standart

Optimum therapeutic response with minimum


adverse effects
Individualization of drug dosage regimen : drugs with
a narrow therapeutic window

Drugs w/ narrow ther window
Drug Disease/condition Therapeutic window
Amikacin
Carbamazepine
Digoxin
Gentamicin
Lidocaine
Lithium
Phenytoin
Procainamide
Theophylline
Tobramycin
Valproic acid
Vancomycin
Gram-negative infection
Epilepsy
Cardiac dysfunction
Gram-negative infection
Ventricular arrhythmias
Manic & recurrent depression
Epilepsy
Ventricular arrhythmias
Asthma
Gram-negative infection
Epilepsy
Penicillin-resistant infection
20-30 mcg/mL
4-12 mcg/mL
1-2 ng/mL
5-10 mcg/mL
1-5 mcg/mL
0.6-1.2 mEq/L
10-20 mcg/mL
4-10 mcg/mL
10-20 mcg/mL
5-10 mcg/mL
50-100 mcg/mL
20-40 mcg/mL
Dosage regimen design
Dosage
Regimen
Activity-toxicity
-Therapeutic window
-Side effects
-Toxicity
-conc-response rel
Pharmacokinetics:
ADME

Clinical Factors
-Patients (age, weight, patophysiologic cond
-Management of ther (multiple drug ther,
convenience (kenyaman) of
regimenregimen, compliance/kepatuhan of
patient)

Other factors:
-Route of adm
-Dosage form
-Tolerance-dependence
-Drug interaction
-Cost
Dosage regimen design
Pendekatan yang paling akurat untuk merancang
regimen dosis :
Menghitung dosis berdasarkan farmakokinetik
obat pada pasien individu.
Dosis awal diperkirakan menggunakan parameter
farmakokinetik populasi rata-rata yg diperoleh
dari literatur.
Clin Pharm software untuk obat dengan jendela
sempit ada tersedia (Datakinetics dll)
3 methods
1. Dosage regimens based on population averages:
(a) the fixed model
(b) the adaptive model
2. Dosage regimens based on partial pharmacokinetic
parameters
3. Empirical dosage regimens

1. Dosage regimens based on
population averages
Diperoleh dari studi klinis dalam literatur obat :
1. Model tetap,
Mengasumsikan bahwa parameter farmakokinetik rata-
rata penduduk dapat digunakan secara langsung untuk
menghitung regimen dosis untuk pasien tanpa
perubahan apapun.




Parameter farmakokinetik :
tetapan laju absorpsi, K
faktor bioavailabilitas, F
volume distribusi, V
d

tetapan laju eliminasi, K

Diasumsikan tetap konstan; mengikuti model
satu kompartemen.
Praktisi dapat menggunakan dosis yang biasa
disarankan atau membuat penyesuaian kecil
berdasarkan berat badan pasien dan / atau usia

2. Model adaptif
Regimen dosis dihitung dengan menggunakan
variabel pasien seperti :
Berat badan, usia, jenis kelamin, luas
permukaan tubuh, dan patophysiology pasien
yang diketahui seperti penyakit ginjal serta
parameter farmakokinetik obat yg telah
umum.
Model ini diasumsikan bahwa klirens obat
tidak berubah dari satu dosis ke yang
berikutnya.

2. Dosage regimens based on partial
pharmacokinetic parameters
Untuk obat dengan profil farmakokinetik yang tidak
diketahui atau tidak tersedia
perlu dibuat beberapa asumsi untuk menghitung regimen
dosis.
Exp: membiarkan % F = 1 sama atau 100 :
risiko jika obat kurang lengkap terabsorpsi sistemik, maka
penderita akan "undermedicated" dari pada
"overmedicated
Asumsi akan tergantung pada tingkat keamanan, efikasi
dan terapi obat

3. Empirical dosage regimens
Not based on pharmacokinetic variables, but on
empirical clinical data, personal
experience/pengalaman pribadi and clinical
observations.


Dalam banyak kasus, dokter memilih suatu aturan
dosis untuk penderita tanpa menggunakan berbagai
variabel farmakokinetik.
Dalam keadaan ini, dokter membuat keputusan yang
didasarkan atas data klinik empirik, pengalaman
pribadi, dan pengamatan.
Dokter menggolongkan penderita sebagai wakil dari
suatu populasi klinik yang sama yang telah diteliti
dengan baik yang menggunakan obat dengan berhasil.

Conversion from intravenous
infusion to oral dosing
Pada pasien rawat inap : pasien rawat jalan
Metode: mengasumsikan bahwa Css setelah infus IV
adalah identik dengan yang diinginkan : C

av
after
multiple oral doses.
Metode1
Metode ini beranggapan bahwa konsentrasi tunak
obat dalam plasma, C
ss
setelah infusi IV identik
dengan C
av
~ yang diinginkan setelah pemberian
oral dosis ganda.

. Cl
F.D

[AUC]

.k V
F.D
C
T
0 0
d
0
av
= = =

.e
e - 1
1
V
F.Do
C
p
kt -
k -
d
maks
|
.
|

\
|
=

t k -
k -
d
a
min
.e
e - 1
1
) ( V
F.Do . k
C
|
.
|

\
|

k k
a
Dalam aplikasinya :
S = Bentuk garam dari Obat; DO/t = Kecepatan dosis
Contoh
Seorang pasien asma, pria dewasa (umur 55, berat
badan 78 kg) dipertahankan dengan infusi intravena
aminofilina pada laju 34 mg/jam. Konsentrasi tunak
teofilina adalah 12 g/ml dan klirens tubuh total
adalah 3,0 I/jam.
Hitung aturan dosis oral yang sesuai dari teofilina
untuk pasien ini.

Aminofilina adalah suatu garam dari teofilina yang
larut dan mengandung 85% teofilina (S = 0,85).
Teofilina 100% "bioavailable (F =1) setelah pemberian
suatu dosis oral.
Karena klirens tubuh total Cl
T
= K.Vd, Persamaan tadi
dapat dinyatakan sebagai :

Sehari (24 jam) : 28,9 x 24 = 693,6 mg / hari 700 mg/hari

Pengaturannya?
Dosis 700 mg/hari dapat diberikan dalam 2 cara :
a) 350 mg setiap 12 jam atau
b) 175 mg setiap 6 jam
Dua-duanya akan menghasilkan C
av
(ss) yang sama, namun
C
max
dan C
min
akan berbeda.

Saran : Berikan obat dalam cara (a) secara sustained- release, untuk
menghindari konsentrasi obat yg tinggi secara berlebihan.
Metode 2 menganggap bahwa kecepatan infusi intravena (mg/hr)
sama dengan kecepatan dosis oral yang diinginkan
Contoh :
Dengan menggunakan contoh pada metode 1, perhitungan
berikut dapat digunakan.

Solusi :
Aminophylline yang diberikan scr Infus IV pada kecepatan 34
mg/hr. Total dosis per hari dari amonofilin adl 34 mg/hr x 24 hr
= 816 mg.
Dosis per hari ekivalen dengan teofilin adalah 816 x 0.85 = 693.6
mg.
Jadi, patient seharusnya menerima kira-kira 700 mg theophylline
per hari atau 350 mg teofilin lepas lambat setiap 12 jam
Metode 2
10000/10.000
693 mg/hari = 34 mg/jam x 24 jam x 0,85
Oral = 693 mg =700 mg/hari F = 1
F = 0,90 = 1/0,9 x 700 mg