P. 1
Tumor Kandungan

Tumor Kandungan

4.5

|Views: 621|Likes:
Dipublikasikan oleh baztarakan

More info:

Published by: baztarakan on Jul 27, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2010

pdf

text

original

RINTIHAN PENDERITA TUMOR

( serial ayat-ayat dhu’afa)
Oleh : Syamsi Sarman

Tak ingin berlarut-larut, aku bergegas memimpin tim BAZ Tarakan menuju Juata Permai. Ada informasi yang kami terima tentang seorang ibu yang menderita tumor kandungan di sana. Ternyata mobil kami tidak bisa mendekati lokasi sasaran. Setelah berkoordinasi dengan ketua RT dan pengurus masjid setempat, kamipun menyambung perjalanan dengan berboncengan sepeda motor. Wah, jalannya cukup membuat sport jantung, berliku-liku, becek dan licin. Sesekali kami harus menyeberangi parit kecil dengan jembatan hanya sekeping papan. Untunglah si joki motor sangat piawai membawa sepeda motornya, walaupun badanku terjungkaljungkal di jok belakang. Perjalanan yang mirip lomba motor cross ini akhirnya tiba di sebuah rumah panggung yang beberapa bagiannya nampak belum selesai. Walau masih beberapa meter lagi dari rumah itu, namun kami bisa mendengar rintihan perempuan yang mengerang kesakitan. Tetangganya berkomentar, ”Biasa pak, kami sudah biasa mendengar suara ibu itu.” Ah, membuat rasa ingin tahuku semakin besar. Segera kami naik bergantian melalui tangga yang terbuat dari kayu berpalang. Kami harus berjalan pelan dan hati-hati menginjak beberapa bagian lantai yang belum selesai di pasang. Dari pintu masuk itu kami langsung menyaksikan seorang ibu setengah baya tersandar di dinding bertopang bantal. Ia duduk di tilam usang yang terhampar di lantai. Di kiri kanannya tampak dua anak perempuannya yang dengan tekun merawat keperluan ibunya. Si kakak yang sudah beranjak gadis bergegas memperbaiki sarung penutup badan ibunya. Sedangkan si adik yang seumur tujuh tahunan hanya duduk termangu memandangi ibunya yang terus menerus mengerang manahan sakit. Sesungguhnya aku risih juga melihat pemandangan itu. Sekilas nampak dari balik baju kaos yang dikenakannya, perut ibu itu menyembul layaknya orang hamil sembilan bulan. Kubiarkan rekan perempuan kami yang lebih banyak berbicara dengan ibu itu. Perut ibu itu besar bukan karena hamil. Bundaran besar yang kencang mengkilap itu adalah tumor ganas yang dideritanya lebih dari dua tahun. Aku hampir tak berkata apapun membayangkannya. Jerawat yang meradang di sisi hidung sebesar biji kacang ijo saja sakitnya luar biasa. Apatah lagi tumor sebesar itu, subhanallah zikirku dalam hati. Tanpa pikir panjang, kugunakan ponselku untuk memesan mobil ambulance dari puskesmas terdekat. Dengan bantuan beberapa warga, ibu inipun kami gotong hingga mencapai mobil ambulance yang sudah sedia di muara jalan masuk. Mobil kami beriringan menuju RSUD Tarakan. Setelah menyelesaikan segala sesuatunya di loket IGD, si ibu penderita tumor kandungan inipun langsung dibawa ke ruang perawatan. Setelah dikonsultasikan ke dokter spesialis kandungan, ternyata kasus ini bisa ditangani di RSUD ini saja. Kami sangat gembira, karena tidak perlu merujuk ke luar daerah dengan berbagai macam resikonya. Setelah sempat menunggu beberapa hari karena kondisi ibu yang kurang stabil, akhirnya tim dokter RSUD Tarakan melaksanakan operasi bedah untuk mengangkat tumor kandungan ibu itu. Allah Maha Kasih kepada hamba-Nya. Operasi itu berhasil tanpa banyak hambatan, walau pasca bedah kondisi ibu agak menurun dan harus istirahat total. Informasi yang kami terima dari petugas di RSUD bahwa tumor yang diangkat itu beratnya lebih kurang sembilan kilo, subhanallah aku kembali menggumamkan zikir.

Masa-masa kritis telah lewat. Ibu mantan penderita tumor itu sudah terlihat lebih segar dan ceria. Ia terlihat lebih ramping dari badan sebelumnya. Ya ialah, beban di perutnya telah dibuang. Anak-anaknya masih terus mendampingi ibunya. Kasian anak-anak ini, mereka terpaksa berhenti sekolah demi mendampingi dan melayani keperluan ibu yang tentu sangat mereka cintai. Sang ayah yang sehari-harinya sebagai tukang ojek telah lama pergi entah kemana. Andai tidak ada rencana pulang kampung ke Sulawesi, kami telah merencanakan untuk menyekolahkan kembali kedua anak malang itu. Ibu yang sudah berangsur pulih ini memilih pulang kampung membawa anak-anaknya untuk hidup bersama orang tuanya di Sulawesi. Setelah menyelesaikan segala sesuatunya di RSUD Tarakan, dan dengan berbekal obat-obatan yang diberikan dokter, ibu beserta kedua anaknya ini kami berangkatkan ke Sulawesi sebagaimana yang mereka inginkan. Kami mengiringinya dengan do’a semoga mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik di sana. Ya Allah gantikanlah musibah yang mereka terima dengan kebaikan dari sisi-Mu. Berikan pula berkah dan balasan pahala kepada para muzakki yang dengan uang zakat mereka, ibu dan anak-anak itu bisa terbebas dari penderitaannya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->