Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PERCEPTORAN

Diajukan Oleh : Annida Nurul Haq (0918011005) Arif Yudho Prabowo (0918011031) Bian Rahmadi Medikanto (0918011036) Elis Sri Alawiyah (0918011041) Preceptor dr. Hi. Yusmaidi, Sp.B

---------------------------------------------------------------------------------SMF BEDAH RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG JUNI -2013

Mittelschmerz Mittelschmerz (baca: miselmers) (Jerman) atau middle pain (Inggris) merupakan rasa nyeri yang muncul pada saat menstruasi atau lebih tepatnya nyeri yang muncul pada pertengahan menstruasi. Pada ovulasi biasanya terjadipengeluaran sejumlah darah dan cairan folikel sehingga menghasilkan nyeri perut sedang hingga berat. Jika jumlah cairan lebih dari biasanya dan berasal dari ovarium sebelah kanan, nyerinya seperti appendisitis dimana rasa sakit dan nyeri terasa menyebar. Leukositosis dan demam dapat terjadi tapi dengan nilai peningkatan yang minimal atau sama sekali tidak ada. Karena nyeri ini timbul di tengah-tengah dari siklus menstuasi, maka sering disebut mittelschmerz. Sumber: Schwartzs Principles of Surgery 9th Edition. Sebab-sebab yang Menyebabkan Jalan Membungkuk 1. Appendisitis 2. Osteoporosis 3. Dismenore 4. Mittelschmerz 5. Obesitas 6. Dispepsia 7. Spondilitis 8. Spondiloartrosis 9. Colic renal 10. Colic abdomen 11. Malnutrisi Sumber: Schwartzs Principles of Surgery 9th Edition; Doktersehat.com; gayahidup.inilah.com; Ceftriaxon Komposisi Tiap vial Ceftriaxon mengandung Ceftriaxon Sodium setara dengan ceftriaxon 1 gram. Farmakologi (Cara Kerja Obat)

ceftriaxon merupakan golongan obat cefalosporin. Ceftriaxon mempunyai spectrum luas dan waktu paruh eliminasi 8 jam. Ceftriaxon efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif. Ceftriaxon juga sangat stabil terhadap enzim betalaktamase yang dihasilkan oleh bakteri. Indikasi infeksi-infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri-bakteri gram positif maupun gram negatif yang resisten atau kebal terhadap antibiotik lain : Infeksi saluran pernapasan Infeksi saluran kemih Infeksi gonore Sepsis Meningitis Infeksi tulang dan jaringan lunak Infeksi kulit

Kontraindikasi Hipersensitif terhadap ceftriaxon atau cefalosporin lain Dosis Dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun, 1-2 gr skali sehari secara IV. Dosis lebih dari 4 gram sehari harus diberikan dengan interval 12 jam. Bayi dan anak-anak dibawah umur 12 tahun 1. Bayi 14 hari: 20-50 mg/kg BB sekali sehari 2. Bayi 15 hari s/d 12 tahun: 20-80 mg/kg BB sekali sehari 3. Anak-anak dengan BB 50 kg atau lebih dapat digunakan dosis dewasa melalui infus paling sedikit > 30 menit Efek samping Gangguan pencernaan : diare, mual, muntah, stomatitis, glositis. Reaksi kulit: dermatitis, pruritis, urtikaria, edema, eritema multiform dan reaksi anafilaktik. Hematologi: anemia hemolitik, trombositosis, leukopeni dan granulositopenia. Gangguan sistem saraf pusat: sakit kepala. Efek samping lokal: iritasi akibat dari peradangan dan nyeri pada tempat yang diinjeksi. Gangguan fungsi ginjal: untuk sementara terjadi peningkatan BUN. Gangguan fungsi hati: untuk sementara terjadi peningkatan SGOT atau SGPT. Peringatan dan perhatian

Pada penyakit ginjal dan gangguan hepar, konsentrasi ceftriaxon dalam plasma harus tetap dimonitor. Ceftriaxon tidak diperbolehkan untuk wanita hamil. Pada penggunaan jangka lama, profil darah harus diperiksa secara teratur. Metronidazole Indikasi Metronidazole efektif untuk pengobatan 1. Trikomoniasis, seperti vaginitis dan uretritis yang disebabkan oleh Trichomoniasis vaginalis. 2. Amebiasis, seperti amebiasis intersisial dan amebiasis hepatik yang disebabkan oleh E. histolotyca. 3. Sebagai obat pilihan untuk giardiasis Kontraindikasi Penderita yang hipersensitif terhadap metronidazole atau derivat nitroimidazol lainnya dan kehamilan trimester 1. Komposisi Tiap tablet mengandung metronidazole 250 mg Tiap tablet salut selaput mengandung metronidazole 500mg Cara Kerja Metronidazole adalah antibakteri dan antiprotozoa sintetik derivat nitroinidazol yang mempunyai aktifitas bakterisid, amebisid dan trikomonosid Dalam sel atau mikroorganisme metronidazol mengalami reduksi menjadi produk polar. Hasil produk ini mempunyai aksi antibakteri dengan jalan menghambat sintesa asam nukleat. Metronidazole efektif terhadap Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Giardia lambia. Metronidazol bekerja efektif baik lokal maupun sistemik. Dosis Trikomoniasis: pasangan seksual dan penderita dianjurkan menerima pengobatan yang sama dalam waktu yang bersamaan, dewasa= Untuk pengobatan 1 hari 2X1gr atau 1X2gr/ hari. Untuk pengobatan 7hari: 3X250mg selama 7 hari berturut-turut. Amebiasis: Dewasa= 3X750mg selama 10 hari, Anak-anak= 35-50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3 selama 10 hari. Giardiasis: Dewasa= 3X250-500mg selama 5-7 hari atau 1X2gr selama 3 hari. Anak-anak= 3X5mg/kgBB selama 5-7 hari Efek samping Mual, sakit kepala, anoreksia, diare, nyeri epigastrium dan konstipasi

Sumber: www.decacare.com Karnovsky Index Karnovsky Score 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Karnovsky Score 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Definisi Normal, tidak ada keluhan Mampu melakukan aktifitas normal tapi gejala dan tanda minimal Aktifitas normal dengan usaha, terdapat beberapa gejala dan tanda penyakit Mampu merawat diri sendiri tetap tidak bisa kerja normal atau kerja aktif Membutuhkan bantuan atau asisten tambahan tapi masih mampu untuk melakukan kebutuhan pribadi (dominan) Dipertimbangkan asisten dan medical care berkala Tidak bisa melakukan aktivitas, membutuhkan asisten dan perawatan khusus Ketidakmampuan berat dan diindikasikan dirawat di RS meskipun tidak dekat dengan kematian Sangat sakit dan harus dirawat di rumah sakit, perawatan pendukung aktif diperlukan Sekarat, proses fatal berkembang cepat Meninggal Definisi Normal, tidak ada keluhan Mampu melakukan aktifitas normal tapi gejala dan tanda minimal Aktifitas normal dengan usaha, terdapat beberapa gejala dan tanda penyakit Mampu merawat diri sendiri tetap tidak bisa kerja normal atau kerja aktif Membutuhkan bantuan atau asisten tambahan tapi masih mampu untuk melakukan kebutuhan pribadi (dominan) Dipertimbangkan asisten dan medical care berkala Tidak bisa melakukan aktivitas, membutuhkan asisten dan perawatan khusus Ketidakmampuan berat dan diindikasikan dirawat di RS meskipun tidak dekat dengan kematian Sangat sakit dan harus dirawat di rumah sakit, perawatan pendukung aktif diperlukan Sekarat, proses fatal berkembang cepat Meninggal

TUMOR APPENDIKS

Tumor apendiks tidak menyebabkan masalah diagnostik karena kebanyakan ditemukan kebetulan saat operasi, biasanya bagi keadaan patologi selain apendisitis akuta. Tantangannya adalah dalam melakukan operasi yang tepat, bila ditemukan tumor ganas. Karsinoid Karsinoid adalah tumor terlazim dengan insiden 0,5%. Tumor ini bertanggung jawab bagi setengah dari semua karsinoid traktus gastrointestinal. Berbeda dari yang terakhir ini, hanya 2 persen jenis apendiks bermetastasis ke kelenjar limfe regional. Metastasis lebih jauh dan sindrom karsinoid sangat jarang. Sampai belakangan ini kebanyakan ahli bedah melakukan apendektomi sederhana bagi karsinoid berdiameter kurang dari 2cm dan hemikolektomi kanan bagi tumor yang lebih besar atau ada yang metastasis dalam kelenjar limfe regional, karena metastasis timbul dari tumor berdiameter 1-2 cm maka hemikolektomi kanan merupakan tindakan terpilih bagi karsinoid apendiks berdiameter lebih dari 1cm. Adenokarsinoma Tumor ganas apendiks kedua terlazim adalah adenokarsinoma. Kecenderungan tumor ini bermetastasis telah ditegakkan oleh fakta bahwa sekitar 10% pasien menderita penyakit yang tersebar luas pada saat operasi, dan kelangsungan hidup 5 tahun setelah hemikolektomi karena hanya 60%. Mukokel Mukokel apendiks adalah istilah membingungkan, karena ada 3 jenis yangberbeda 1. Neoplasma maligna sejati (adenokarsinoma tingkat rendah atau kistadenokarsinoma musinosa) 2. Neoplasma jinak(kistadenoma) 3. Tumor yang bukan neoplastik Mukokel terjadi akibat obstruksi menahun bagian proksimal apendiks dan sekresi musin kedalam bagian distal. Karena tak mungkin membedakan satu jenis dari lainnyadengan pemeriksaan makroskopik, maka untuknya bahwa apendektomi merupakan operasi yang tepat bagi semua mukokel. Tujuannya adalah untuk mencegah ruptur mukokel dan tumpahan isinya kedalam kavitas peritoneal. Sumber: Schwartzs Principles of Surgery 9th Edition; Tekanan Vena Jugularis Tekanan vena jugularis merupakan gambaran/cermin secara tidak langsung atas fungsi pemompaan ventrikel. Karena setiap kegagalan pemompaan ventrikel menyebabkan

terkumpulnya darah lebih banyak pada sistem vena. Analog dengan keadaan ini adalah over load cairan infuse yang diberikan juga meningkatkan tekanan vena jugularis. Jadi, dengan inspeksi dapat tampak apakah vena jugularis mengembang dengan nyata atau tidak. Maka nilai tekanan vena jugularisnya: Menulis dan Membaca Hasil Misal = 5+2 5: adalah jarak dari atrium ka ke sudut manubrium +2: hasilnyameniscus Bila permukaan kolom darah tepat pada bidang horizontal tersebut, maka: JVP = 5 + 0 cm air. Angka 5 berasal dari jarak Atrium Kanan ke titik Angulus Ludovici kira-kira 5 cm. Angulus strenalis diapakai sebagai titik acuan karena pada pusat RA terletak 5cm dibawah angulus sternalis pada semua posisi penderita. Cari titik tertinggi pulsasi pada V. jugularis interna dekstra. Sudut sternum terletak 5cm diatas atrium kanan pada dewasa (tidak berubah meskipun pada posisi supine, semi fowler, fowler atau duduk), tekanan hidrostatik di atrium kanan (cm H2O) setara dengan tinggi vertical (cm) kepala vena diatas sudut sterna ditambah 5cm. sumber Luckmann & Sorensen. (1993). Medical surgical nursing a psychophysiologic approach. (4th ed.). Philadelphia: W.B. Saunder Company Lanros & Barber. (1997). Emergency nursing with certification preparation & review. (4th ed.). Connecticut: Appleton & Lange.

Diagnosis banding apendisitis kronik eksaserbasi akut pada kasus: 1. Apendisitis infiltrate Apendisitis infiltrate adalah proses radang apendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum dan usus-usus dan peritoneum disekitarnya sehingga membentuk massa (appendiceal mass). Umumnya massa apendiks terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis umum. Appendisitis infiltrat didahului oleh keluhan appendisitis akut yang kemudian disertai adanya massa periapendikular. Gejala klasik apendisitis akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri beralih kekuadran kanan, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah. Pada

permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif. 2. Abses apendisitis Apendisitis abses terjadi bila masa lokal yang terbentuk berisi nanah. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, teraba pembengkakan masa, dan leukosit meningkat. Sumber Reksoprodjo, S., dkk.1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bina Rupa Aksara. Jakarta. Mansjoer,A., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua. Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. De jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. Appendicogram Appendicogram merupakan hasil pemeriksaan berupa foto barium sulfat usus buntu yang dapat membantu melihat terjadinya sumbatan atau adanya kotoran (skibala) di dalam lumen usus buntu. Appendikografi Appendikografi adalah teknik pemeriksaan radiologi untuk memvisualisasikan appediks dengan menggunakan kontras media positif barium sulfat.

Perbedaan antara Appendicogram dengan Appendikografi adalah Appendicogram merupakan hasil pemeriksaan berupa gambaran foto, sedangkan Appendikografi adalah teknik pemeriksaannya. Sumber : Sanyoto, D., 2007. Masa Remaja dan Dewasa. Dalam: Utama, Hendra, ed. Bunga Rampai Masalah Kesehatan dari dalam Kandungan sampai Lanjut Usia. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 297-300. Pierce A, Neil R. At a glance ilmu bedah. Alih bahasa. Umami V. Jakarta: Erlangga, 2007