Anda di halaman 1dari 13

ICE CREAM

Aku menyayanginya. Selalu ingin bersamanya. Benda bulat berhiaskan permata telah melingkar di jari manis kami. Jas pengantin pun telah selesai ku coba hari ini. Hanya tinggal hitungan bulan kami akan mengikrarkan sumpah sehidup semati menjalankan ibadah dengan membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rohmah. Aku mau ice cream, ucap Lily sambil menarik tangan ku memasuki toko ice cream. Kami memiliki banyak kesamaan. Tapi untuk yang satu ini tidak. Aku tidak suka ice cream. Tapi Lily, Sang Bidadari ku sangat suka dengan ice cream. Rasa apa, Nona? tanya seorang pelayan pada Lily. 1 strawberi, 1 vanila aku ingin ada 2 ceri di atasnya. Aku dan Lily duduk menunggu ice cream siap untuk disajikan. Hei, kalau aku memintamu untuk makan ice cream, apa kau tetap tidak mau? tanya Lily padaku.

Bukankah kau selalu memintaku seperti itu dan jawabanku selalu sama, jawabku dengan ringan. Jika aku bisa mati kalau kau tidak mau makan ice cream, bagaimana? Itu tidak akan terjadi, Bagaimana kau bisa menjamin? Lily selalu membuatku gemas dengan pertanyaan-pertanyaannya yang seperti anak kecil. Perbedaan umur kami 4 tahun. Kami bertemu di Italia. Kuliah bersama di sana. Aku jatuh cinta padanya begitu pula dia, jatuh cinta padaku. Itulah yang dia katakan. Ice cream datang. Lily pun menyantapnya. Kau pasti menyesal, Lily menggodaku sambil memasukan 1 sendok ice cream ke dalam mulutnya. Sekarang, bagaimana kalau aku bisa mati sesaat setelah aku makan ice cream dari tangan mu? Itu tidak mungkin terjadi, Bagaimana kau bisa menjamin? Seperti kau yang bisa menjamin bahwa aku tidak akan mati karena kau tidak mau makan ice cream. Lily selalu bisa menjawab pertanyaanku dengan cerdik. Mungkin itu yang membuat diriku tertarik padanya. Kami kembali menyusuri di Kota Kembang. Lily menggenggam tanganku erat. Dia tidak pernah melepas tanganku saat kami sedang jalan bersama. Dengar, aku akan berikan penghargaan untuk seseorang yang bisa membuatmu makan ice cream. Oh ya? Boleh aku tau apa penghargaannya? Dirimu. Akan aku berikan dirimu untuknya. Kau yakin ?

Ya. Seutuhnya. Kata kata Lily membuatku berpikir apa sebenarnya yang ada dalam otak Lily. Hari terus berlalu. Cuaca tetap dingin. Rintik rintik hujan masih membasahi Bandung. Siang itu, aku pergi ke toko ice cream yang beberapa waktu yang lalu aku dan Lily datangi. Sepi. Hanya ada satu pelayan di balik meja yang sedang membuat ice cream. Ehm... maaf Nona, sapaku basa basi. Selamat siang, Tuan, jawab si pelayan. Tidak ada pelanggan, untuk apa kau buat ice cream? Apa maksud anda? Maaf saya tidak bermaksud menyinggung perasaan? Saya................. Andira. Panggil saja Dira, Aku mengulurkan tanganku. Dara, gadis pelayan membalas uluran tanganku. Baiklah Nona Dara, bisa bantu saya? Maaf Tuan, saya bingung dengan sikap dan kata kata Anda, Panggil saja saya Dira, begini saya punya masalah. Aku menceritakan semuanya pada Dara. Ya aneh. Seorang gadis pelayan toko ice cream yang baru saja aku ketahui namanya. Aku ceritakan kisahku dengan Lily padanya. Dengarkan saya Tuan... ehm, maksud saya Dira. Calon istri anda menginginkan anda memakan ice cream karena dia ingin membagi kebahagiaannya dengan anda. Dia sangat bahagia saat menikmati ice cream. Dia pasti sangat menyayangi anda sehingga dia ingin berbagi kebahagiaannya dengan anda, Dara menjelaskan panjang lebar padaku. Bagaimana aku bisa makan ice cream? Latih saja diri anda sedikit demi sedikit,

Aku pulang dengan membawa setengah jawaban. Begitu simple dan sederhananya pikiran Lily. Dia ingin membagi kebahagiaannya dengan ku tapi aku tak pernah berpikir ke arah itu. Padahal itu semua hal yang wajar sepasang calon suami istri berbagi kebahagiaan. Tapi aku tak temukan jawaban bagaimana aku bisa makan ice cream, benda dingin dengan aneka warna dan rasa. Aku selalu ingin membahagiakan Lily. Aku terdiam dalam keheningan malam. Menatap padang bintang lewat jendela kamar. Merasakan dinginnya angin malam di kota kelahiranku. Dara........... gumamku pelan. Perlahan keyakinanku muncul. Ya, Dara hanya dia yang dapat membantu diriku. Aku memacu Honda Jazz silver ku dengan kecepatan maksimum. Kuhentikan mobilku tepat di depan toko ice cream. Tepat saat aku keluar dari mobil Dara melangkahkan kakinya dari dalam toko. Dara!! panggilku. Dia menoleh. Rambutnya yang diikat bagaikan ekor kuda mengikuti gerakkan kepalanya. Apa yang membuat anda ke mari malam malam begini? tanya Dara sambil membetulkan sabuk pengamannya. Saya butuh bantuan kamu. Aku katakan maksudku datang menemuinya. Anda ingin saya melatih anda untuk makan ice cream? tanya Dara heran. Pertanyaannya disusul denagn tawa kecil dari mulutnya. Tawa kecil Dara membuat aku tak bisa berkata kata. Wajar, dia mentertawakan aku. Maaf, ucap Dara menghentikan tawanya. Kamu mau bantu saya kan ? tanyaku pada Dara. Dara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Saya antar kamu pulang, ucapku menawarkan bantuan sebagai tanda terima kasih.

Sudah malam, bukankah anda harus ke tempat calon istri anda ? Dara menolak. Tidak. Dia pasti sudah istirahat. Bagaimana ? Baiklah. Di depan nanti belok kanan, Dara menerima bantuanku. Berapa umurmu? aku memulai obrolan ringan dengan Dara. 19 tahun, Wow!! Muda sekali. Tidak terlihat umurmu 19 tahun, karena pikiranmu cukup dewasa. Anda tidak perlu memuji. Itu bukan pujian tapi kenyataan. Kau suka ice cream ? Ya. Tidak hanya memakannya tapi saya juga membuatya. Ehm..... berhenti di depan gang itu. Aku mengentikan mobilku sesuai perintah Dara. Di sebuah gang kecil dengan satu lampu neon yamg meneranginya. Kau tinggal di sini ? tanyaku. Ya, di dalam gang kecil ini. Sendiri ? Dengan orang tua saya dan satu adik. Dara berjalan ke dalam gang itu setelah mengucapkan terima kasih padaku. Sepanjang jalan aku berpikir dan tertawa kecil dalam hatiku. Seorang pria berusia 26 tahun meminta bantuan kepada seorang gadis pelayan berusia 19 tahun untuk melatihnya makan ice cream. Pagi ini, Bandung cerah ceria. Matahari menyapaku dengan ramah saat ku buka jendela kamarku. Embun pagi membasahi dedaunan. Pemandangan itu semakin sempurna saat ku lihat wajah yang sangat aku cintai dihiasi senyuman di bibirnya.

Blouse biru muda yang melekat di tubuhnya senada dengan warna langit yang terus menatapnya. Setiap pagi Lily meletakan bunga di vas ruang keluarga rumahku. Hari ini mawar putih, ucapku sambil menruni tangga. Kau tidak menyukainya? tanya Lily. Aku suka apapun yang kau suka, Oh ya? Bagaimana dengan ice cream? Lily tersenyum nakal. Aku suka ice cream tapi tidak bisa memakannya. Kau puas ? Baiklah. Apa yang akan kita lakukan hari ini? Lily mengalihkan pembicaraan. Melihat kebun strawberiku, jawabku. Lily memelukku erat sebagai tanda betapa senang hatinya. Terakhir kali aku dan Lily menginjakan kaki di kebun strawberi milik keluargaku adalah 3 tahun yang lalu. Saat kami pulang berlibur dari Itali. Lily menyukai aroma di kebun strawberi. Segar dan harum. Itu yang selalu ia katakan padaku. Aku mengambil beberapa gambar Lily di kebun dengan kamera. Lily manis saat dilihat dari kamera, tapi akan lebih manis jika dilihat tanpa bantuan kamera. Aku memetik satu keranjang strawberi. Hei, kau mau makan strawberi di rumah? tanya Lily. Entahlah, jawabku singkat. Lalu untuk apa kau petik sebanyak itu? Ku simpan. Untuk hiasan lemari es, Kau menyebalkan! Lily memasang wajah cemberutnya. Tapi kau mencintaiku, ucapku tersenyum kecil. Lily tersenyum dan bersandar di bahuku. Aku mengantar Lily pulang. Dia tinggal di Bandung. 1 jam dari rumahku. Setelah itu aku melesat ke toko ice cream. Dara, aku mengingatnya saat aku tiba di kebun strawberi.

Hari ini toko ice cream cukup ramai. Aku duduk di sudut koridor. Ice cream vanilla, ucap Dara sambil meletakan 1 porsi ice cream di atas mejaku. Dia menemuiku setelah toko mulai sepi. Kita mulai latihan hari ini? tanyaku. Dara menangguk, saya buatkan ini untuk anda jadi, anda harus menghabiskannya. Aku mulai memakannya satu sendok. Lidahku dingin. Bahkan tenggorokanku nyaris tak mampu menelannya. Bagaimana ? tanya Dara. Wow!! Mungkin ini rasanya makan salju. Coba sekali lagi. Aku melakukannya lagi. Dara tersenyum di hadapanku. Manis, ucapku. Baiklah.... habiskan!! Dara gadis yang manis, apalagi saat ia tersenyum. Itu yang ada di pikiranku. Dia juga sopan. Terima kasih ya, ucapku pamit. Saya juga berterima kasih, anda sudah mau menghabiskan ice cream yang saya buat. Kau suka strawberi? Iya. Saya suka. Baiklah ku jemput kau setelah toko tutup. Untuk apa? Mengajariku sedikit. Baiklah aku pamit. Aku pulang ke rumah. Dara mengubahku. Saat itu aku telah merasakan ice cream. Ada yang aneh denganku. Aku merasa berbeda. Sampai malam itu tiba. Aku dan Honda Jazz ku menjemput Dara usai toko tutup.

Dara cukup terkejut saat berhenti di depan rumahku. Wajahnya dapat ku baca dengan jelas. Maaf, apa yang anda ingin lakukan? tanya Dara. Sebelumnya saya minta maaf. Ini rumah saya. Saya tidak ada maksud apa apa. Begini Dara, bisakah kamu tidak memanggil saya dengan sebutan anda ? panggil saja saya Dira atau Kak Dira. Bagaimana? Dara menatapku. Mata Dara cukup indah. Dia menganggukan kepalanya. Matanya mengelilingi setiap sudut ruangan saat ia masuk ke dalam rumahku. Aku keluar degan satu keranjang strawberi di tanganku. Ini maksudku. Kita buat ice cream strawberi. Dara tertawa. Lepas, sampai mukanya memerah. Dara menyiapkan semua bahannya. Dia mulai banyak bicara. Di sanalah aku mengenal Dara. Dia bercerita tentang keluarganya, dirinya , dan cita citanya. Dia ceria. Dara gadis remaja yang manis. Kak Dira bisa tolong potong kejunya? Aku suka saat Dara memanggilku kakak, entahlah. Yang jelas aku sangat senang. Pukul 21.30 aku mengantar Dara pulang. Mulai malam itu, tiada hari tanpa Dara. Tawa dan candanya selalu menghiasi setiap waktu latihan makan ice cream maupun membuat ice cream. Aku bahagia, karena Dara. Dua bulan telah ku jalani ini semua. Suatu hari di taman. Kau mau? tanya Dara sambil menangkat satu lolipop di tangannya padaku. Untukmu saja. Kak Dira.... aku sayang kak Dira, ucap Dara. Aku tersenyum. Dara sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Kau tidak sayang aku? tanya Dara.

Aku menyayangimu, jawabku. Lily. Tiba tiba aku mengingatnya. Lily tidak pernah tahu tentang Dara sampai saat ini. Entah apa yang telah aku lakukan. Pagi hari aku pergi dengan Lily, sore hingga malam hari aku bersama Dara. Malam itu aku bersama Lily, menatap bitang berdua dari atap rumahku. Biiip. Ponselku berbunyi. Dara sayang Kak Dira sebuah pesan dari Dara. Aku menatap lily. Menyerahkan ponselku padanya. Lily membacanya. Ada garis kekecewaan yang terlihat jelas dari wajahnya. Siapa Dara? tanya Lily. Dia adikku, maksudku sudah ku anggap seperti adikku. Dia pelayan toko ice cream. Aku yang mendekatinya, demi dirimu. Aku telah mengenalnya selama 2 bulan ini. Dia ceria, baik hati, pintar dan manis. Aku bisa makan ice cream sesuai dengan keinginanmu karena Dara. Lily mendengarkanku, menatapku. Matanya berkaca kaca. Aku harus memberikan dirimu padanya? tanya Lily. Aku diam. Lily pernah berkata akan memberikan diriku seutuhnya kepada orang yang bisa membuatku makan ice cream. Kau menyayanginya? Lily menangis. Hei, jangan menangis, aku menghapus air mata yang membasahi pipinya. Aku tanya padamu, kau menyayanginya? Aku terdiam. Aku bigung Lily meneteskan air matanya dan aku juga bingung pada perasaanku sendiri. Aku menyayangimu Lily, ucapku. Kita akan menikah, ucap Lily. Ya. Pasti. Lily meraih ponselku dia menulis pesan singkat untuk Dara. Menurutku Lily agak berlebihan. Aku takut Dara tersinggung.

Aku mengantar Lily pulang. Sebelum aku tertidur, aku kirim pesan pada Dara. Tidak ada balasan. Tak seperti biasanya. Dara selalu membalas pesanku. Aku menuggu balasan pesan Dara hingga pagi tiba. Tak ada pesan masuk di ponselku. Pukul 11 siang. Siang KDira. Dara cuma mau minta maaf. Dara ga pernah ada maksud untuk rusak hub. KDira dan kLily. Dara sayang KDira. Dara tau, dara yang salah. Maaf ya Ka... Itulah pesan Dara. Aku membalasnya. Siang Dara. Dara ga salah. Kakak yang cerita ke Lily ttg Dara. Dara jangan marah ya, maafin kakak juga. 15 menit kemudian Dara kembali membalas pesanku. Kakak ga salah. Dara ngerti banget hubungan kLily dan K Dira. Dara juga ngerti perasaan kLily. Dara tau kita bukan saudara kandung, tapi Dara seneng punya kakak. Dara bisa cerita semuanya ke KDira. Aku membacanya. Aku tahu ada keraguan dalam diriku. Aku tidak tahu apa perasaanku terhadap Dara. Keesokan harinya, pukul 20.00 di toko ice cream. Kita hentikan semua ini Kak, ucap Dara. Aku memandangnya dalam dalam. Wajah Dara memerah, seakan akan suhu tubuhnya meningkat. Apa perasaan Dara terhadap Kakak? tanyaku. Dara mengangkat wajahnya dan memandangku. Apa maksud kakak? Dara anggap Ka Dira seperti kakak Dara sendiri. Kak Dira sayang Dara. Tapi kakak lebih sayang Lily. Dara terdiam. Wajahnya menunduk. Ia menyembunyikan air matanya.

Dara sayang kakak. Dara bingung nanti kalau Kak Dira menikah sama Kak Lily, Dara sendirian lagi. Kak Dira akan sibuk sama Kak Lily dan keluarga. Ssssttttt.......... Dara. Dengarkan kakak. Kak Dira akan tetap jadi kakak buat Dara, biarpun nanti Kak Dira sudah menikah. Dara bisa cerita kaya sekarang sampai kapanpun Dara mau, aku berusaha menenangkan Dara. Bagaimana dengan Kak Lily? Kak Lily ga suka sama Dara. Kak Lily ga suka kalau kita deket. Kak Lily belum pernah mengenal Dara. Kakak yakin, begitu Lily kenal kamu, pasti dia suka. Dara ga yakin Kak. Dara ga mau jauh dari Kak Dira. Tanganku membelai kepala Dara. Jujur aku sangat ingin memeluknya. Mendekap tubuh Dara. Ya, aku akan memeluknya. Sebelum tanganku merengkuh tubuh mungil Dara, Lily muncul dalam ingatanku. Tanganku kembali membelai kepala Dara. Maafin kakak, karena perlakuan kakak selama ini membuat kamu terluka pada akhirnya. Dara, kakak mohon jawab pertanyaan kakak dengan jujur. Apa perasaan Dara yang sebenarnya terhadap Kak Dira? Dara sayang kakak. Dara ga mau jauh dari Kak Dira. Dara ga mau sendirian. Di hati kecil Dara tersimpan berjuta perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan. Itulah yang aku tangkap. Malam itu aku mengantar Dara pulang. Sebelum aku tidur, aku menelfon Dara. Kami berbincang bicang. Terkadang bercanda dan tertawa. Sampai pkul 03.00 WIB. Aku sadar aku tak bisa seperti ini untuk selamanya. Aku harus memilih, walaupun aku tahu akan ada yang terluka tapi itu akan lebih baik daripada tidak. Aku dan Dara jarang berkomunikasi lagi. 1 bulan menjelang hari pernikahanku. Aku mengirim pesan pada Dara.

Dara... itulah isi pesanku. Lama. Sampai 1 jam aku baru dapat balsan dari Dara. Iya, ada apa kak? Aku membalas lagi, kakak ngerasa Dara jauhin kakak. Padahal dulu Dara bilang ga mau jauh dari Kak Dira. Maaf ka. Dara ga mau buat ka Dira repot lagi. Dara kini berubah. Pesanku jarang dibalas. Bahasa pesannya pun tak seceria dulu. Oke dech kalo mau Dara begitu. Kakak seneng kalo Dara seneng. O iya, kakak nikah tanggal 8 Februari. Dara bisa dateng? Ga. Makasih. Balasan singkat dari Dara. Knp? Dara ada acara lain. Maaf ya kak. Aku rasa itu permintaan maaf Dara yang terakhir. Karena pesan pesanku yang selanjutnya tak pernah dibalas. Aku masih tetap mengunjungi toko ice cream tanpa Lily tahu. Tapi aku tidak pernah lagi masuk ke dalam toko. Hatiku berkata, jangan langkahkan kakimu ke dalam toko ice cream sebelum pernikahanmu terlaksana. Aku sering memandang Dara dari kejauhan. Dia bekerja seperti biasa. Dara adalah gadis yang pandai menyembunyikan perasaannya. Dari luar dia terlihat biasa tapi entahlah apa yang dia rasa dalam dirinya. Aku menikahi Lily tanggal 8 Februari 2010. kami tinggal di rumahku. Aku mulai makan ice cream. Lily bahagia melihatnya. Aku juga membuatkannya ice cream strawberi. 1 bulan setelah menikah, tiba tiba aku ingat Dara. Apa kabar dirinya? Siang itu aku memacu mobilku menuju toko ice cream. Aku melangkahkan kakiku ke dalam. Ada 1 gadis pelayan di balik meja. Ada yang bisa saya bantu Tuan? Saya mau tanya, kamu kenal Dara? Dara? Ada perlu apa ya?

Saya..... bisa bertemu dengannya? Oh, maaf Tuan. Dara sudah tidak bekerja lagi di sini. Dia dapat beasisiwa ke Itali untuk belajar membuat ice cream. Pemilik toko ini yamg merekomendasikannya. Itali? Iya. Sudah 1 bulan yang lalu dia ke Itali. Tepatnya tanggal 8 Februari. Dara . dia telah pergi ke Itali tanpa memberitahuku. Dia pergi di hari pernikahanku. Dara membawa rahasia hatinya ke Itali untuk meraih mimipinya. Dara terluka. Itu pasti. Padahal aku berharap melihat Dara dan Lily berbincang bincang dengan akrab. Dua orang yang aku sayangi. Aku tak pernah tahu isi hati Dara. Hanya Dara dan Tuhan yang tahu. Dara adalah orang yang membuatku bahagia. Ia juga membuat Lily bahagia. Karena Dara aku bisa makan ice cream.