Anda di halaman 1dari 4

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat dan dapat menimbulkan gangguan fungsi otak fokal atau global dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat meyebabkan kematian, tanpa disertai penyebab lain yang jelas selain vaskuler (WHO, 2005). Menurut WHO, stroke menjadi penyakit tertinggi kedua yang menyebabkan kematian dan menjadi penyakit tertinggi keenam yang menyebabkan kecacatan. Dampak yang ditimbulkan dari penyakit stroke dapat mengakibatkan kecacatan yang mempengaruhi kualitas hidup. Biaya medis yang tinggi juga menjadi salah satu penyebab kecacatan yang dapat berpengaruh pada kualitas hidup pasien stroke di masyarakat (WHO, 2004). Kasus stroke di seluruh dunia diperkirakan mencapai 50 juta jiwa, dan 9 juta di antaranya menderita kecacatan berat. Yang lebih memprihatinkan lagi 10% diantaranya mengalami kematian. Tingginya angka kejadian stroke disebabkan oleh perubahan tingkah laku dan pola hidup masyarakat (Yayasan Stroke Indonesia, 2012). Kejadian stroke di India menjadi salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di dunia. Sekitar 20 juta orang setiap tahun menderita stroke dan 5 juta diantaranya tidak dapat bertahan hidup (Dalal et al, 2007). 85% kematian global di negara berkembang disebabkan oleh

stroke (Gupta et al, 2008). Stroke menjadi penyebab kematian nomor empat di Singapura dengan kejadian 1,8/1000 penduduk yang memiliki angka

kematian kasar 40,4/100000 dengan prevalensi 3,65% pada tahun 2006 dan merupakan salah satu penyebab utama kematian di sepuluh rumah sakit di Singapura (Chen, 2008). Stroke dibagi menjadi dua berdasarkan penyebabnya yaitu stroke yang diakibatkan oleh tersumbatnya pembuluh darah (stroke iskemik) dan stroke yang diakibatkan oleh pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Menurut penelitian di Amerika Serikat, insidensi kejadian stroke sebesar 4.600.000 dengan 600.000 serangan stroke setiap tahunnya. Hal ini menjadi penyebab umum kematian dan kecacatan serius dalam jangka waktu yang lama. Penderita stroke memiliki waktu rehabilitasi yang lebih panjang setelah pasien dengan cedera tulang belakang dan disfungsi otak. Setiap tahunnya 500.000 orang Amerika terserang stroke, dengan insidensi 400.000 orang terkena stroke iskemik dan 100.000 orang terkena stroke hemoragik (Trakya University, 2010). Stroke menjadi penyebab kematian pertama dari penderita rawat inap di Rumah Sakit Indonesia (Departemen Kesehatan, 2005). Menurut Misbach 2009, stroke merupakan penyebab utama kematian di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Data yang didapatkan dari Yayasan Stroke Indonesia menyatakan bahwa terjadi peningkatan kasus stroke setiap tahun di Indonesia dan menjadi pembunuh nomor satu (Waluyo, 2009). Stroke menyebabkan penurunan kualitas hidup yang signifikan termasuk pasien yang tidak mengalami kecacatan post stroke (Dhamoon, 2010). Pengukuran kualitas hidup pasien stroke digunakan untuk menilai

instrument multidimensi yang terdiri dari fungsional, fisik, kognitif, psikologis dan elemen sosial (Trakya University, 2010). Kualitas hidup pasca stroke berhubungan dengan prognosis masingmasing jenis stroke. Prognosis digunakan sebagai acuan untuk

memprediksikan kualitas hidup pasien sesuai dengan ilmu-ilmu medis. Kualitas hidup berhubungan dengan tingkat kemampuan seseorang untuk memaksimalkan fungsi fisik, psikologis, vokasi, dan sosial (Taylor, 2007). Kualitas hidup menjadi pertimbangan penting dalam upaya pencegahan

stroke dan memperbaiki status kesehatan setelah stroke serta mengurangi dampak negatif stroke terhadap kehidupan pasien (Rehabil, 2008; Sarafino, 2004).

B. Perumusan Masalah Apakah terdapat perbedaan kualitas hidup pasien pasca stroke antara stroke hemoragik dan stroke non hemoragik di RSUD Margono Soekarjo?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien pasca stroke antara stroke hemoragik dan stroke non hemoragik di RSUD Margono Soekarjo. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui persentase kualitas hidup pasien pasca stroke hemoragik b. Mengetahui persentase kualitas hidup pasien pasca stroke non hemoragik

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini bermanfaat untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang saraf serta menunjang hipotesis mengenai perbedaan kualitas

hidup pasien pasca stroke antara stroke hemoragik dan stroke non hemoragik di RSUD Margono Soekarjo. 2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti Mengenali dan mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien pasca stroke antara stroke hemoragik dan stroke non hemoragik di RSUD Margono Soekarjo. b. Bagi pemerintah dan instansi terkait 1) Menambah kepustakaan informasi di bidang saraf mengenai kualitas hidup pasien pasca stroke. 2) Sebagai acuan untuk melakukan tindakan (penanganan) yang tepat untuk pasien stroke hemoragik dan stroke non hemoragik. 3) Memberikan informasi mengenai terapi rehabilitasi medik pada pasien pasca stroke hemoragik dan stroke non hemoragik. c. Bagi masyarakat 1) Masyarakat dapat mengetahui kualitas hidup pasien pasca stroke yang dijadikan acuan untuk menghindari penyakit tersebut. 2) Bagi pasien yang sudah terdiagnosis stroke dapat menghindari faktor pencetus terjadinya serangan stroke berulang.