Anda di halaman 1dari 10

PERCOBAAN VII Protein dan Karbohidrat : Sifat dan Reaksi kimia Nama : Yehezkiel VIctorio NIM : 10412028 Asisten

: Raisa NIM Asiten : 10509072 Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2013 Tanggal Pengumpulan Laporan : 18 oktober 2013 Kelompok : 4

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

PERCOBAAN VII Protein dan Karbohidrat : Sifat dan Reaksi Kimia


I. Tujuan Percobaan 1.

Menentukan hasil identifikasi senyawa protein dan asam amino berdasarkan gugus yang dikandung dengan uji millon, uji sulfur, reaksi asam nitrat, uji biuret , dan uji xantoproteat. Menentukan hasil uji kimia terhadap sampel karbohidrat dengan uji molisch,uji benedict,ujibarfoed,dan uji hidrolisis glukosa.

2.

II. Prinsip Percobaan

Karbohidrat dapat didefinisikan sebagai aldehid/keton polihidroksi. Dalam tubuh digunakan sebagai sumber energi. Karbohidrat ini diserap tubuh melalui sistem pencernaan dalam bentuk monosakarida (glukosa), jadi karbohidrat yang didapat dalam bentuk polisakarida (mis: amilum) harus dipecah terlebihdahulu menjadi bentuk monosakarida

(glukosa) agar dapat diserap oleh tubuh. Agar efektif dan efisien, pemecahan molekul ini membutuhkan biokatalis, yaitu enzim. Enzim yang digunakan unuk memecahkan amilum menjadi glukosa adalah amilase yang terdapat pada saliva dan cairan pankreas. Protein adalah polimer dari asam amino. Asam amino ini merupakan ikatan HOOCCH(NH2)-R dimana R adalah gugus samping dari asam amino dan menentukan sifat asam amino tersebut secara keseluruhan. Gugus R ini sangat beraneka ragam. Pada fenilalanin, triptofan dan tirosin, gugus R yang dimilikinya mengandung gugus fenil yang dapat dideteksi dengan menggunakan uji xantoprotein. Protein yang masuk ke dalam tubuh akan dicerna oleh sistem pencernaan menjadi satuan asam amino dan nantinya akan disusun kembali menjadi protein yang diinginkan.

III.Data Pengamatan A.Uji Kimia Protein dan Asam Amino

Tabel Uji Millon Senyawa Kasein Tirosin


Tabel Uji Ninhidrin
Larutan Kasein Glisin

Hasil Pengujian Terbentuk endapan berwarna kecoklatan Larutan berwarna jingga kecoklatan
Hasil Pengujian Endapan Putih dan Larutan Bening Larutan Ungu

Tabel Uji Sulfur Larutan Kasein Sistein

Hasil Pengujian Endapan Putih dan Larutan Bening Larutan dengan endapan Berwarna Hitam

Tabel Reaksi dengan Asam Nitrit


Larutan Glisin+HCl 10% HCl 10% Kasein Hasil Pengujian Larutan Bening dan Terbentuk Gelembung Larutan Bening tanpa Gelembung Larutan Bening dengan Endapan Putih dan Gelembung

Tabel Uji Biuret


Larutan Urea Hasil Pengujian Larutan Berwarna Ungu

Tabel Uji Xanthoproteat


Larutan Kasein Hasil Pengujian Terbentuk Endapan dan Larutan Warna Kuning

B.Uji Kimia untuk Karbohidrat

Tabel Uji Molisch


Hasil Pengujian Larutan Glukosa Laktosa Sukrosa Maltosa Fruktosa

Tidak Terbentuk cincin furfural ungu Tidak Terbentuk cincin furfural ungu Terbentuk cincin furfural ungu Tidak Terbentuk cincin furfural ungu Terbentuk cincin furfural ungu

Tabel Uji Benedict


Hasil Pengujian Larutan Glukosa Laktosa Sukrosa Maltosa

Terbentuk endapan Jingga tua Terbentuk endapan Jingga tua Terbentuk endapan Jingga tua Terbentuk endapan Jingga tua

Fruktosa

Terbentuk endapan Jingga tua

Tabel Uji Barfoed


Hasil Pengujian Larutan Glukosa Laktosa Sukrosa Maltosa Fruktosa

Terbentuk endapan Merah Tidak terbentuk endapan Tidak terbentuk endapan Tidak terbentuk endapan Terbentuk endapan merah

Tabel Uji Hidrolisis Glukosa


Hasil Pengujian dengan Tes Tape Larutan Sukrosa Laktosa Glukosa pada skala 0,2 Negatif Hasil Pengujian Benedict Larutan Orange Larutan Orange dengan endapan hijau Larutan Orange Larutan orange dengan endapan Hijau

Maltosa Kanji

Glukosa pada skala 2,5 Negatif

Gambar secara berturut turut dari kiri kekanan adalah Keadaan awal larutan kanji,larutan sukrosa, larutan maltosa,larutan laktosa

Gambar hasil uji benedict secara berturut turut dari kiri kekanan adalah Keadaan awal larutan Laktosa,larutan sukrosa, larutan maltosa,larutan kanji

IV.Hasil Perhitungan Tidak ada Perhitungan

V. Pembahasan 1. Uji Millon


Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Uji millon dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa yang mengandung gugus hidroksi fenolik. Prinsip dari uji millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa kasein mengandung gugus hidroksi fenolik walaupun hasil uji yang didapat berbeda dengan tirosin tetapi memiliki kemiripan hanya dengan intensitas yang lebih rendah.

2. Uji Ninhidrin
Uji Ninhidrin digunakan untuk mendeteksi adanya -amino dan protein yang mengandung gugus amina bebas . melalui reaksi dibawah ini molekul-molekul tersebut akan menghasilkan warna biru tua. Protein yang mengandng sedikitnya satu gugus karboksil dan gugus asam amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk persenyawaan berwarna. Uji ini bersifat umum untuk semua asam amino, dan menjadi dasar penentuan kuantitatif asam amino. Pada uji ini, hanya kasein yang menunjukkan uji negatif terhadap ninhidrin. Hal ini disebabkan karena pada

kasein tidak mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan amino yang terbuka.

3. Uji Sulfur
Uji sulfur digunakan untuk mengidentifikasi adanya belerang dalam asam amino. Reaksi ini dapat dilakukan dengan penambahan timbale asetat dan basa. Reaksi Pb-asetat dengan asam-asam amino tersebut akan membentuk endapan berwarna kelabu, yaitu garam PbS. Penambahan NaOH dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat membentuk PbS. Dari data hasil percobaan yang diperoleh dapat diketahui bahwa sistein mengandung unsur S dalam molekulnya. Hal ini ditunjukkan oleh perubahan warna pada sistein yang menjadi hitam bening mengindikasikan adanya timbale sulfide yang berwarna hitam.

4. Uji Dengan Asam Nitrit


Reaksi dengan asam nitrit merupakan reaksi yang menunjukkan adanya amina primer pada protein yang diuji. Gelembung udara pada tabung reaksi dengan glisin dan kasein menunjukkan adanya gas nitrogen yang terbentuk akibat reaksi niitrit ini. HCL yang ditambahkan berfungsi sebagai pensuasana asam.

5. Uji Biuret
Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua molekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa(akibat adanya NaOH) akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam- amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning. Pada hasil percobaan didapatkan Larutan urea menjadi warna ungu, karena urea memiliki lebih dari 2 ikatan peptida maka hasil ini dapat diterima.

6. Uji Xanthoproteat
uji dengan asam nitrat ini dikenal dengan uji xantoproteat. Uji ini dapat mengidentifikasi adanya gugus aromatic pada suatu senyawa. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tirosin, fenilalanin dan triptofan. Reaksi positif ditunjukkan oleh kasein pada uji nitrit ini, yang berupa warna kuning pada larutannya. Sebelum ditambahkan basa, terdapat cincin orange pada tabung reaksi, dan setelah ditambahkan basa terbentuk endapan kuning pada larutan kuning. Kedua hasil pengamatan tersebut mengindikasikan adanya gugus aromatic pada struktur molekul kasein.

7. Uji Molisch
Uji molisch adalah uji kimia kualitatif untuk mengetahui adanya karbohidrat. Uji Molisch dinamai sesuai penemunya yaitu Hans Molisch, seorang alhi botani dari Australia. Uji ini didasari oleh reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat membentuk cincin furfural yang berwarna ungu. Reaksi

positif ditandai dengan munculnya cincin ungu di purmukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Molisch, yaitu -naphthol dicampur dengan sukrosa ,laktosa, glukosa,fruktosa,maltosa yang terlarut dalam etanol. Setelah pencampuran atau homogenisasi, H2SO4 pekat perlahan-lahan dituangkan melalui dinding tabung reaksi agar tidak sampai bercampur dengan larutan atau hanya membentuk lapisan. H2SO4 pekat (dapat digantikan asam kuat lainnya) berfungsi untuk menghidrolisis ikatan pada sakarida untuk menghasilkan furfural. Furfural ini kemudian bereaksi dengan reagent Molisch, -naphthol membentuk cincin yang berwarna ungu.

Pada hasil percobaan uji molisch terbentuk cini-cin furfural ungu pada sukrosa dan fruktosa menandakan kedua senyawa tersebut dapat di dehidrasi sedangkan tidak dengna maltosa ,glukosa,dan laktosa.

8. Uji Benedict
Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Nama Benedict merupakan nama seorang ahli kimia asal Amerika, Stanley Rossiter Benedict (17 Maret 1884-21 Desember 1936). Benedict lahir di Cincinnati dan studi di University of Cincinnati. Setahun kemudian dia pergi ke Yale University untuk mendalami Physiology dan metabolisme di Department of Physiological Chemistry. Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Hal ini menjelaskan hasil pengamatan positif pada maltosa, laktosa,glukosa dan sukrosa karena kesemuanya memilik gugus aldehid namun hasil positif pada fruktosa, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, diakibatkan karena fruktosa memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict.

9. Uji Barfoed
Pada uji barfoed untuk mendeteksi karbohidrat yang tergolong monosakarida. Pereaksi barfoed terdiri dari kupri asetat dan asam asetat. Ke dalam 5 ml peraksi dalam tabung reaksi ditambahkan 1 ml larutan contoh, kemudian tabung reaksi ditempatkan dalam air mendidih selama 1 menit. Endapan berwarna merah orange menunjukkan adanya monosakarida dalam contoh. Ion Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Hal inilah yang mndasari uji Barfoed. Pada uji Barfoed, yang terdeteksi monosakarida membentuk endapan merah bata karena terbentuk hasil Cu2O. berukut reaksinya : O O Cu2+ asetat RCH + RCOH + Cu2O+ CH3COOH n-glukosa Pada hasil pengujian barfoed didapatkan hasil positif pada Glukosa dan fruktosa dan negatif pasa sukrosa, maltosa dan laktosa, hal ini disebabkan karena glukosa dan fruktosa merupakan monosakarida yang mudah direduksi dan menghasilkan warna merah bata.

10.

Uji Hidrolisis Glukosa Disakarida dan polisakarida dapat terhidrolisis didalam larutan asam menjadi monosakarida penyusunya sehingga kemudian dapat dilakukan uji benedict untuk menentukan apakah reaksi hidrolisis telah berlangsung.Tes-Tape dapat digunakan untuk menghitung kadar glukosa dalam larutan hasil hidrolisis. Pada percobaan uji hidrolisis glukosa dengan sampel sukrosa, laktosa, maltosa, dan larutan kanji. Penggunaan HCl berfungsi sebagai pensuasana asam deimana reaksi hidrolisis umumnya terjadi. Pemanasan bertujuan untuk memutuskan ikatan pada disakaridan dan polisakarida. Penggunaan NaOH adalah sebagai pensuasana netral dengan bereaksi dengan HCL dan membentuk garam NaCl dan air. Dari hasil percobaan didapatkan hasil positif pada sukrosa dan maltosa dengan derajat secara berturut-turut 0,1 dan 2. Pada laktosa dan kanji didapati hasil negatif. Hal ini dikarenakan sangat sulit menghidrolisis laktosa dan kanji. Terutama pada kanji dikarenakan larutan kental sehingga reagen tidak bisa bereaksi dengan baik akibat keterbatasan ruang gerak. Pada pengujian benedict pada keempatnya dihasilkan hasil positif yang berarti keempatnya mengandung gugus aldehid.

VI. Kesimpulan 1. Dari hasil percobaan Millon dapat disimpulkan kasein dan tirosin mengandung gugus hidroksi fenolik kemudian pada hasil uji ninhidrin terkandung gugus amina bebas pada senyawa Glisin. Pada percobaan uji sulfur disimpulkan bahwa Kasein tidak mengandung sulfur sedangkan sistein mengandung sulfur. Dari hasil percobaan Asam Nitrit disimpulkan bahwa adanya amina primer terdeteksi pada senyawa glisin dan kasein. Dari hasil uji Biuret didapatkan bahwa dalam urea

terkandung lebih dari 2 ikatan peptida. Dari pengujian xantoproteat didapatkan terdapat gugus aromatik dalam kasein. 2. Dari hasil pengujian Molisch disimpulkan bahwa sukrosa dan fruktosa merupakan senyawa yang sangat mudah di hidrolisis. Dari hasil pengujian Benedict didapatkan hasil positif pada semua sampel menandakan kesemuanya mengandung gula pereduksi kecuali fruktosa. Pada hasil uji Barfoed hasil postif didapatkan pada molekul monosakarida sedangkan pada hidrolisis glukosa semua memiliki gula pereduksi dan maltosa dan sukrosa dapat direduksi. VII. Daftar Pustaka

Harvey, David. 2009. Analytical Chemistry 2.0. McGraw-Hill Companies, p. 599-605. Mayo, D.W., Pike, R.M., Trumper, P.K., Microscale Organic Laboratory, 3rd edition, John Wiley & Sons,New York, 1994 , p. 233-240 Pasto, D., Johnson, C., Miller, M., Experiments and Techniques in Organic Chemistry, Prentice Hall Inc.,New Jersey, 1992, p 150-176 Williamson, Macroscale and Microscale Organic Experiments, 3rd edition,Boston, 1999, p 180

Anda mungkin juga menyukai