Anda di halaman 1dari 25

DAMPAK SOSIAL KEBERADAAN USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR PADA WILAYAH PEMUKIMAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

Oleh : Erman Safril (di bawah bimbingan Asdi Agustar dan Irsan Riyanto) ABSTRAK Telur merupakan sumber protein hewani yang harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani lainnya, dihasilkan oleh jenis unggas yaitu ayam, itik, angsa dan jenis unggas lainnya. Ayam merupakan jenis unggas yang paling populer dan paling banyak dikenal saat ini. Produk ayam berupa daging dan telur, limbahnya berupa pupuk organik berguna untuk usaha pertanian dan perikanan. Kebutuhan akan telur dan daging ayam tersebut menyebabkan tumbuhnya usaha peternakan ayam ras mulai dari skala kecil, menengah dan besar. Usaha peternakan ayam yang berada di lingkungan masyarakat dirasakan mulai mengganggu warga, terutama peternakan ayam yang lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk. Masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan ayam ras karena masih banyak peternak yang mengabaikan penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan ayam ras berupa feses, sisa pakan, air dari pembersihan ternak menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat di sekitar lokasi peternakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan lingkungan usaha peternakan ayam ras petelur pada wilayah pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota dan mengetahui dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur pada wilayah pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota. Teknik analisa data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Purposive Sampling. Untuk tujuan pertama diperoleh 30 sampel usaha peternakan dan untuk tujuan kedua diperoleh 120 sampel masyarakat yang berada dekat dengan usaha peternakan ayam ras petelur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner, observasi langsung dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh peternak ayam ras petelur di Kabupaten Lima Puluh Kota sudah cukup baik. Sedangkan dampak sosial keberadaan usaha ayam petelur pada masyarakat yang berada di sekitar kandang belum memberikan dampak yang positif. Kata kunci : pengelolaan lingkungan, dampak sosial, Pendahuluan Usaha sektor peternakan merupakan bidang usaha yang memberikan peranan sangat besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani dan berbagai keperluan industri. Protein asal ternak ini memiliki fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari manusia karena mengandung

berbagai asam amino yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kecerdasan manusia. Peranan ini tidak dapat di gantikan oleh sumber protein nabati. Telur adalah sumber protein hewani yang harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani lainnya, dihasilkan oleh jenis unggas yaitu ayam, itik, angsa dan jenis unggas lainnya. Ayam merupakan jenis unggas yang paling populer dan paling banyak dikenal saat ini. Produk ayam berupa daging dan telur, limbahnya berupa pupuk organik berguna untuk usaha pertanian dan perikanan. Kebutuhan akan telur dan daging ayam tersebut menyebabkan tumbuhnya usaha peternakan ayam ras mulai dari skala kecil, menengah dan besar. Menurut Setyowati (2008), banyaknya usaha peternakan ayam yang berada di lingkungan masyarakat dirasakan mulai mengganggu warga, terutama peternakan ayam yang lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk. Masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan ayam ras karena masih banyak peternak yang mengabaikan

penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan ayam ras berupa feses, sisa pakan, air dari pembersihan ternak menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat di sekitar lokasi peternakan tersebut. Setiap kegiatan pembangunan, dimanapun dan kapanpun pasti akan menimbulkan dampak. Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas yang dapat bersifat alamiah, baik kimia, fisik maupun biologi (Soemarwoto, 1994). Dampak tersebut dapat bernilai positif yang berarti memberi manfaat bagi kehidupan manusia dan dapat bernilai negatif yaitu timbulnya resiko yang merugikan masyarakat. Dampak positif pembangunan sangatlah banyak, diantaranya adalah meningkatnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara merata; meningkatnya pertumbuhan ekonomi secara bertahap; meningkatnya kemampuan dan

penguasaan teknologi; memperluas dan pemerataan penyerapan tenaga kerja dan kesempatan berusaha; menunjang dan memperkuat stabilitas nasional yang sehat dan dinamis dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional. Dampak positif pembangunan lainnya terhadap lingkungan hidup, misalnya terkendalinya hama dan penyakit; tersedianya air bersih; terkendalinya banjir; dan lain-lain; sedangkan dampak negatif akibat pembangunan terhadap lingkungan adalah masalah pencemaran lingkungan dan belum terdistribusinya hasil-hasil pembangunan secara merata di masyarakat. Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah satu sentra produksi utama telur ayam ras di Sumatera Barat. Usaha peternakan ayam ras petelur di kabupaten ini pada satu sisi telah berdampak positif dalam meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat yang

melibatkan banyak peternak dengan skala usaha mulai dari ribuan ekor, sampai dengan puluhan ribu bahkan ratusan ribu ekor ayam per peternak. Jumlah populasi ayam ras petelur Kabupaten Lima Puluh Kota menurut data Dinas Peternakan Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2009 berjumlah 4.734.589 ekor yang tersebar hampir di semua Kecamatan (Disnakkan, 2009). Akan tetapi di sisi lain usaha ayam ras petelur ini menimbulkan dampak negatif berupa pencemaran bau busuk yang disebabkan oleh kotoran ayam, keadaan ini diperparah lagi oleh sikap peternak yang tidak melakukan pengelolaan lingkungan yang baik dan sering menutup diri terhadap lingkungan tempat usaha ayamnya berada. Hal inilah yang sering menimbulkan gesekan dan konflik antara peternak dengan masyarakat di sekitar kandang usaha ayam ras petelur. Upaya Pengelolaan lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah salah satu instrument pengelolaan lingkungan yang merupakan bagian dari persyaratan perizinan bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan suatu usaha atau kegiatan di berbagai sektor. UKLUPL telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 86 tahun 2002 tentang

Pedoman UKP dan UPL,

namun sampai saat ini masih ditemukan banyak kendala dalam

pelaksanaannya. Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai pelaksana lapangan juga belum banyak melakukan sosialisasi mengenai usaha peternakan dan pengelolaan

lingkungan serta dampak yang ditimbulkannya. Aktivitas ini tidak hanya pada sosialisasi saja tetapi juga perlu ditindak lanjuti dengan penertiban dan pengaturan izin usaha maupun pemberian pengetahuan bagi para peternak dalam pengelolaan limbah khususnya supaya tidak membahayakan manusia maupun lingkungan hidup. Walaupun dampak yang ditimbulkan akibat dari cemaran bau busuk dalam waktu dekat belum terasa, namun lama kelamaan akan menyebabkan berbagai penyakit, ini dapat pula berakibat menurunnya produktivitas masyarakat. Dampak sosial dari keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur terhadap masyarakat ada yang bersifat positif yaitu berupa adanya peluang dan kesempatan untuk bekerja, terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat dan termotivasinya masyarakat sekitar untuk berusaha ayam ras petelur atau usaha lainnya. Dampak negatif dari usaha peternakan ayam ras petelur adalah akibat dari kotoran ayam yang menimbulkan bau busuk. Hal ini di tandai dengan adanya pengaduan masyarakat, sejak tahun 2007 - 2010 Pemerintah Daerah Lima Puluh Kota telah menerima 6 (enam) pengaduan dan keberatan masyarakat terhadap keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur di lingkungan pemukiman penduduk, karena cemaran dari kotoran ayam yang menimbulkan bau busuk (Dinas Peternakan Lima Puluh Kota, 2010). Ketegasan Pemerintah Daerah dalam mengawasi dan mengontrol usaha peternakan ayam ras yang

menegakkan aturan untuk

mencemari lingkungan sangat dibutuhkan agar keresahan yang timbul akibat keberadaan usaha peternakan ayam ras di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat diminimalisir, sehingga bau busuk dari usaha ayam ras petelur dapat dikurangi. Dengan demikian keberadaan usaha peternakan

ayam ras petelur dapat diterima sebagai usaha yang tidak merusak lingkungan dan menjadi andalan dalam meningkatkan taraf hidup dan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Lima Puluh Kota. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengelolaan lingkungan usaha peternakan ayam ras petelur pada wilayah pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota dan mengetahui dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur pada wilayah pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Metode Penelitian
Populasi Usaha Peternakan ayam ras petelur Masyarakat yang berada di sekitar usaha peternakan ayam ras petelur Metode Pengambilan Sampel Purposive Samplng Kriteria Sampel Umur usaha 5 th Populasi ayam 5000 ekor Masyarakat yang berada pada 4 arah mata angin dari usaha peternakan Jumlah sampel 30 Analisa Data Statistik Deskriptif

Purposive Sampling

120

Statistik Deskriptif

Kriteria Penilaian Mengetahui pengelolaan lingkungan usaha peternakan ayam ras petelur Mengetahui dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur
Tujuan

a. Pengelolaan baik apabila skornya > 50 b. Pengelolaan cukup baik apabila skor 26 50 c. Pengelolaan kurang baik apabila skor < 26 a. Dampak baik untuk skor > 29 b. Dampak netral untuk skor 19 29 c. Dampak kurang baik untuk skor < 19

Kriteria Penilaian

Hasil dan Pembahasan Pengelolaan Lingkungan Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur di Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota Pengelolaan lingkungan yang telah diterapkan peternak ayam ras di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat dalam pelaksanaan biosekuriti yang dilakukan peternak. Biosekuriti merupakan serangkaian kegiatan yang memiliki tujuan utama yaitu meminimalkan keberadaan penyebab penyakit, meminimalkan kesempatan agen penyakit berkembang biak dan meminimalkan tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit (Sudarisman, 2000). Menurut Ritonga (2008) Penerapan biosekuriti meliputi 3 (tiga) aspek menurut yaitu : aspek sanitasi, aspek isolasi, dan aspek pengaturan lalu lintas keluar masuk barang ke area peternakan. Data tentang penerapan biosekuriti yang dilakukan peternak, dikumpulkan melalui kuisioner yang disebarkan kepada 30 peternak responden. Kuisioner yang diberikan kepada responden dilengkapi dengan 5 pilihan jawaban yaitu tidak pernah (TP), sangat jarang (SJ), kadang-kadang (KK), sering (SR) dan selalu (SL). Adapun 3 aspek biosekuriti yang dimaksud adalah : Aspek Sanitasi Kegiatan-kegiatan yang mendukung sanitasi sebagai hasil penilaian pada usaha

peternakan ayam ras petelur dapat dilihat pada Tabel 4.7. Hasil survey menyatakan bahwa 80% dari responden belum melakukan desinfeksi menyeluruh terhadap orang, peralatan dan material yang ada dalam kandang, dengan alasan bahwa melakukan penyemprotan dengan desinfektan biayanya cukup tinggi, sementara saat ini wabah penyakit ayam ras sudah tidak ada lagi. Penyemprotan dilakukan bila ada wabah berjangkit, misalnya flu burung. Namun jika wabah mulai berangsur hilang, kegiatan penyemprotan dihentikan. Peternak yang sudah melakukan kegiatan ini secara rutin 20%, ini adalah peternak skala besar dan 6

memahami pentingnya penyemprotan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2003), yaitu

melakukan desinfeksi di dalam kandang dan peralatannya secara rutin dan ketat. Pentingnya biosekuriti ditegaskan oleh seorang informan kunci Drh Andi bahwa

biosekuriti itu perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Dalam jangka pendek, manfaat atau keuntungan dari penyemprotan ini memang tidak kelihatan secara nyata, namun dalam jangka panjang akan memberikan manfaat yang relative banyak. Ditambahkan oleh Drh Andi, biosekuriti dapat bersifat seperti asuransi, dimana manfaatnya diketahui belakangan. Biosekuriti ini harus dilakukan kepada setiap orang, barang dan peralatan. Tabel 1 Hasil Kegiatan pelaksanaan Sanitasi N = 30 No Kegiatan
TP (%) SJ (%) KK (%) S (%) SL (%)

2 3

Melakukan desinfeksi menyeluruh terhadap orang, peralatan dan material lain yang ada dalam kandang. Melakukan desinfeksi terhadap kotoran ayam setiap hari. Melakukan pembersihan tempat makan dan minum setiap hari.

80

20

70 63

3 0

3 17

3 3

20 17

Menghindari tercecernya pakan dan melakukan pembersihan 4 dalam kandang dan sekelilingnya, terutama terhadap bulu-bulu ayam Menghindari penumpukan sampah 5 dengan melakukan pembakaran setiap hari. Sumber : Hasil Kuisioner Keterangan:
TP SJ KK : Tidak Pernah : Sangat Jarang : Kadang-Kadang

70

20

40

33

20

S SL

: Sering : Selalu

mobil yang masuk ke lokasi peternakan harus disemprot, ini dilakukan tidak hanya saat kasus terjadi saja. Sayangnya kondisi biosekuriti sekarang sudah ada yang kendor, kalau ada orang masuk peternakan, mereka boleh langsung masuk tanpa

disemprot. Biosekuriti yang dilakukan secara ketat dan kontinyu adalah pada usaha pembibitan ayam ras petelur atau ayam ras pedaging (breeding farm). Hasil survey memperlihatkan 70% responden belum melakukan kegiatan desinfeksi

terhadap kotoran ayam setiap hari dengan alasan melakukan desinfeksi setiap hari biayanya cukup tinggi, peternak merasa ini tidak begitu penting untuk dilakukan, hal disebabkan

kurangnya pengetahuan peternak dan menganggap wabah atau penyakit sudah tidak ada lagi. Peternak yang sudah melakukan desinfeksi terhadap kotoran ayam ras petelur baru 20%, sesuai juga dengan pendapat Abidin (2003), melakukan desinfeksi kotoran ayam secara rutin setiap hari. Peternak yang telah melakukan penyemprotan setiap hari adalah peternak yang telah memiliki usaha dengan skala besar. Berdasarkan hasil survey diperoleh data bahwa 63% dari responden sudah melaksanakannya kegiatan pembersihan tempat makan dan minum dilakukan setiap hari, hal ini sudah cukup disadari oleh peternak dan menurut mereka apabila tempat minum ini tidak

dibersihkan, akan menjadi media berkembangnya bibit penyakit, atau juga sisa-sisa makanan yang terdapat pada tempat pakan akan dimakan oleh tikus, dan tikus ini juga termasuk vektor pembawa bibit penyakit. Kegiatan untuk menghindari tercecernya pakan dan melakukan penyapuan di dalam kandang dan disekelilingnya, data yang diperoleh 70% responden belum melakukan kegiatan ini. bukanlah sesuatu hal yang penting untuk dilakukan dan menurut mereka tidak terlalu

berpengaruh terhadap kesehatan dan produktifitas ayam. Pada dasarnya kegiatan ini sangat

penting dilakukan terutama pada ayam periode grower karena untuk menghindari ayam memakan bulu-bulu dari ayam yang sakit, hal ini sesuai dengan pendapat (Rahmadi, 2009) Kegiatan menghindari penumpukan sampah dengan melakukan pembakaran sampah setiap hari, baru 20% yang melakukannya secara rutin. Responden berpendapat perlu

dilakukan pembakaran sampah untuk memusnahkan bibit penyakit. Empat puluh persen( 40%) peternak belum melakukan pembakaran sampah setiap hari karena mereka menganggap itu tidak begitu penting untuk dilakukan. Desinfeksi harus dilakukan terhadap semua yang akan masuk ke kandang baik itu petugas kandang, karyawan, peralatan seperti gerobak, sepatu dan lain sebagainya. Seperti yang diungkapkan juga oleh praktisi peternakan Drh Andi, bahwa desinfeksi harus menyeluruh, terus menerus dan tidak boleh hanya pada saat ada kasus saja. Menurut Lastiati (2011) bahwa salah satu cara penanggulangan penyakit gumboro pada unggas adalah dengan melakukan perbaikan dalam sanitasi. Hal ini juga diyakini oleh salah seorang peternak di Kecamatan Harau, Beni Murdani mengatakan bahwa sanitasi (kebersihan) kandang sangat penting dilakukan untuk menjaga kesehatan ayam dari penularan bibit penyakit. Pada intinya, kebersihan peralatan, orang dan material yang digunakan dalam melakukan proses produksi sangat berpengaruh pada kesehatan ayam. Kesehatan ayam akan berpengaruh pada produktifitas ayam dan produktifitas ayam tentu saja sangat menentukan keberlanjutan usaha ayam ras petelur ke depannya (Abidin 2003). Aspek Isolasi Kegiatan-kegiatan yang mendukung isolasi sebagai hasil penilaian pada usaha peternakan ayam ras petelur dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2 Hasil Kegiatan pelaksanaan Isolasi N = 30 No 1 2 Kegiatan Mencegah masuknya hewan peliharaan (anjing dan kucing) masuk ke kandang Mencegah masuknya unggas peliharaan lain (itik, ayam buras, kalkun, angsa) masuk ke dalam kandang Melakukan pembasmian serangga dan hama tikus. Menghindari burung liar masuk kandang Membuat pagar pembatas permanen. Sumber : Hasil Kuisioner Keterangan:
Tp Sj Kk TP (%) SJ (%) KK (%) S (%) SL (%)

77

23

47 13 100 57
S Sl

0 17 0 0

20 53 0 0
: Sering : Selalu

0 0 0 0

33 17 0 43

3 4 5

: Tidak pernah : Sangat Jarang : Kadang-kadang

Mencegah masuknya hewan peliharaan (anjing dan kucing) masuk ke kandang belum dapat dilakukan secara baik oleh peternak. Karena sistem perkandangan ayam ras yang dimiliki peternak belumlah sistem kandang tertutup, sehingga masih terbuka peluang hewan peliharaan masuk ke dalam kandang. Sebagian peternak ada yang menjadikan anjing sebagai penjaga kandang. Dari 30 responden, baru 23% responden yang telah melakukan upaya pencegahan masuknya hewan peliharaan masuk ke dalam kandang. Tujuh puluh tujuh persen responden belum melakukan, hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran peternak tentang resiko membiarkan hewan lain berada dalam area kandang. Untuk kegiatan mencegah masuknya unggas peliharaan lain (itik, ayam buras, kalkun, angsa) masuk ke dalam kandang, peternak yang sudah melakukan kegiatan ini adalah 33%, ini sesuai dengan pendapat Abidin (2003) untuk menghindari kontak dengan hewan lain. Empat 10

puluh tujuh persen (47%) responden belum melakukan kegiatan ini karena unggas peliharaan lain dibiarkan bebas dalam kandang untuk memakan makanan yang jatuh di bawah kandang ayam ras. Kegiatan pembasmian serangga dan hama tikus, ternyata didapat hasil responden yang melakukan secara rutin sekitar 17%, hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2003) bahwa perlu di cegah adanya serangga dan tikus, diberantas dengan menggunakan insektisida yang sesuai. Peternak yang membasmi serangga atau hama tikus di saat tertentu saja, memiliki persentase terbesar yaitu 53%. Pembasmian hama tikus di dalam kandang perlu dilakukan karena tikus adalah sumber penyakit. Menurut Candra (2005) menyatakan bahwa lingkungan yang bersih dan sehat merupakan cara ampuh untuk memberantas tikus secara alami. Jika tikus semakin banyak populasinya di dalam kandang, maka peluang timbulnya penyakit pada ayam ras petelur juga akan semakin besar . Tikus akan memakan sisa makanan ayam, saat makan tikus akan mengeluarkan kotoran (berak), menyebabkan ayam menjadi sakit. Untuk menghindari burung liar masuk kandang belum bisa diatasi oleh peternak di Kecamatan Harau, dimana 100% belum dapat melakukannya. Peternak belum bisa mengantisipasi burung liar karena kandang belum di buat dengan sistem tertutup. Burung liar ini dapat menjadi membawa bibit penyakit (agent) ke ayam ras petelur. Menurut Abidin 2003, sistem kandang tertutup belum banyak yang menggunakan di Indonesia karena butuh investasi besar, keuntungan yang diperoleh peternak cenderung meningkat. Pembuatan pagar pembatas permanen, 57% peternak belum membuat pagar pembatas permanen. Hal ini terkait dengan kemampuan keuangan peternak, dan kesadaran yang masih 11 kotoran tikus termakan oleh ayam dan dapat

rendah akan pentingnya pagar pembatas tersebut. Peternak yang belum membuat pagar permanen, membuat pagar kandangnya dengan bambu. Aspek Pengaturan Lalu Lintas Keluar masuk barang /orang Kegiatan-kegiatan yang mendukung pengaturan lalu lintas orang, barang dan mobil masuk ke area usaha peternakan ayam ras petelur dapat dilihat pada tabel 3. Untuk kegiatan melakukan penyemprotan dengan desinfektan terhadap barang atau peralatan yang akan masuk area kandang, dari hasil data survey di dapat hasil 20%, hal ini perkuat oleh pendapat Abidin (2003) bahwa kontak antara bibit pembawa penyakit dengan ayam ras petelur harus di cegah, dengan cara membatasi kontak dunia luar dengan ayam ras petelur yang dipelihara. Peternak yang belum melakukan ini cukup banyak yaitu 67%, peternak

berpendapat bahwa wabah penyakit sudah tidak kelihatan gejalanya, sedangkan biaya untuk melakukan penyemprotan memerlukan biaya yang cukup besar. Kegiatan melakukan penyemprotan dengan desinfektan terhadap kendaraan yang akan masuk ke dalam areal kandang, hasil yang di dapat 70% peternak belum melakukan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran peternak pentingnya melakukan penyemprotan kendaraan yang masuk kandang, pada hal bibit penyakit bisa ikut terbawa masuk kandang melalui kendaraan.

12

Tabel 3 Hasil kegiatan dalam pengaturan Lalu Lintas orang, barang dan mobil keluar masuk area peternakan N = 30 No 1 Kegiatan Melakukan penyemprotan dengan desinfektan terhadap barang atau peralatan yang akan masuk area kandang. Melakukan penyemprotan dengan desinfektan kendaraan yang akan masuk ke dalam kandang Menghindari pinjam meminjam peralatan antar kandang TP SJ KK S SL (%) 20 (%) (%) (%) (%) 67 0 0 13

2 3

70 0 20

0 0 0

20 30 43

0 0 0

10 70 37

Melarang orang yang tidak berkepentingan masuk ke dalam 4 kandang Sopir, sales atau petugas lainnya sebaiknya ganti pakaian khusus dan 5 lakukan penyemprotan sebelum masuk ke area kandang Sumber : Hasil kuisioner Keterangan:
TP SJ KK : Tidak Pernah : Sangat Jarang : Kadang-Kadang

80

10

10

S SL

: Sering : Selalu

tersebut. Peternak yang sudah melakukan baru 10%, hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2003), yang menyatakan melakukan pencelupan atau penyemprotan desinfektan kendaraan yang masuk kandang. Kegiatan ini baru dilakukan oleh usaha peternakan skala besar dan sudah memahami pentingnya biosekuriti. Untuk kegiatan menghindari pinjam meminjam peralatan antar kandang, ini sudah dilakukan oleh sebahagian besar peternak yaitu sekitar 70%. Karena peternak sudah

menyadari bahwa meminjam peralatan antar kandang akan mengancam kesehatan ayam, sebab

13

dengan pinjam meminjam peralatan antar kandang dapat terjadinya penularan bibit penyakit antar kandang. Melarang orang yang tidak berkepentingan masuk ke dalam kandang, dari hasil survey dilapangan di dapat data 37% responden melakukan kegiatan ini, hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (2009), tidak membiarkan orang yang tidak berkepentingan masuk kandang. Empat pulu tiga persen (43%) responden menjawab melakukan sewaktu-waktu atau kadang-kadang saja yaitu ketika wabah penyakit sedang meluas maka dilakukan pelarangan terhadap yang tidak berkepentingan masuk ke dalam kandang. antara ayam Peternak telah menyadari bahwa kontak langsung

ras dengan orang harus dihindari, agar keselamatan ayam dapat terjaga. Jika

seseorang yang masuk ke dalam kandang sedang flu dapat menular ke ayam, ayam sehat dapat menjadi sakit. Sewaktu wabah penyakit ayam sedang berjangkit kebanyakan peternak

melarang dengan ketat orang masuk kandang, namun setelah wabah mereda atau, peternak longgar lagi melarang orang masuk ke dalam kandang. Sopir, sales atau petugas lainnya harus mengganti pakaian khusus dan di semprot sebelum masuk ke area kandang, belum banyak yang melakukan hal ini yaitu baru sebanyak 10%. Peternak yang belum melakukan cukup banyak yaitu sebesar 80%. Peternak yang sudah melakukan hal ini adalah yang berskala besar dan telah memiliki komitmen kuat dengan

biosekuriti yang sudah melakukan penyemprotan kendaraan atau orang yang masuk ke areal kandang, namun jumlahnya masih sedikit sekali. Peternak yang belum melakukan dengan alasan wabah sudah tidak ada, sedangkan biayanya cukup mahal. Peternak ayam ras petelur yang ada di Kecamatan Harau belum sepenuhnya melakukan biosekuriti terhadap ternak yang mereka miliki. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yaitu ; 1) kesadaran peternak terhadap pentingnya biosekuriti yang masih rendah, 2) skala usaha mereka

14

yang masih belum terlalu besar sehingga biaya untuk melaksanakan biosekuriti dirasakan cukup mahal. Pada hal biosekuriti tersebut sangat penting bagi kesehatan ayam. Beberapa penyakit ayam seperti flu burung, gumboro dan penyakit ayam lainnya dapat diantisipasi dengan penerapan biosekuriti yang baik. Sebagaimana disebutkan oleh Winarno (2009) bahwa untuk

mengantisipasi terhadap resiko penularan penyakit flu burung, dapat dilakukan upaya pencegahan antara lain : (a) Ayam/ unggas yang positip terserang penyakit AI harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur; (b) Melakukan sanitasi lingkungan kandang serta hal-hal yang berhubungan dengan usaha peternakan ayam; (c) Membuang kotoran ayam 3 hari sekali ; (d) Kecuali yang berkepentingan, dilarang keluar-masuk lokasi peternakan ayam; (e) Melakukan vaksinasi pada ayam/ unggas di sekitar lokasi yang terkena penyakit AI, pada jarak radius 1 kilometer; (f) Memutus rantai awal sumber penularan dengan memusnahkan ( stamping out) pada unggas yang terinfeksi sesuai prosedur. Informan Kunci Drh Mukmin, seorang konsultan dan praktisi usaha peternak mengungkapkan bahwa sejak mewabahnya flu burung tahun 2003, di Kabupaten Lima Puluh Kota ada peningkatan pelaksanaan biosekuriti. Namun setelah wabah flu burung mereda,

biosekuriti menjadi longgar kembali dan kewaspadaan pun berkurang malahan banyak peternak terutama yang berskala kecil menganggap keadaan sudah aman dari wabah. Peternak yang tetap konsisten melaksanakan biosekuriti adalah peternak besar dan yang banyak bersentuhan dengan teknikal servis perusahaan suplier makanan dan obat-obatan unggas dan peternak yang selalu mengikuti perkembangan usaha perunggasan baik dari majalah perunggasan maupun mengikuti seminar-seminar tentang biosekuriti. Peternak yang berorientasi bisnis semata, menganggap bahwa penerapan biosekuriti hanya menambah pengeluaran saja. Program biosekuriti

seyogyanya menjadi rutinitas bagi peternak dan dilakukan secara terus menerus karena berguna untuk menjaga kesehatan dan produktifitas ayam ras petelur dalam jangka panjang. 15

Penentuan Kategori Pengelolaan Lingkungan Usaha Ayam Ras Untuk menentukan penilaian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan oleh peternak ayam ras petelur di Kecamatan Harau, maka dilakukan penghitungan skor jawaban responden atas pernyataan untuk semua aspek yang dinilai yaitu meliputi aspek sanitasi, aspek isolasi dan aspek pengaturan lalu lintas orang/barang. Skor dihitung dengan cara mengalikan jawaban yang dipilih responden dengan bobot pernyataan. Setelah itu skor dijumlahkan secara keseluruhan untuk ketiga aspek tersebut sehingga didapatkan total skor. Angka total skor kemudian dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu baik, cukup baik dan kurang baik. Kategori baik diberikan untuk skor 51-75, kategori cukup baik dengan skor 26-50 dan kategori kurang baik untuk skor 1-25. Perhitungan skor untuk masing-masing aspek dapat dilihat pada lampiran 1. Tabel 4. berikut ini menampilkan penentuan kategori pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh peternak ayam ras petelur di Kecamatan Harau.

16

Tabel 4. Penentuan Kategori Pengelolaan Lingkungan yang dilakukan oleh peternak ayam ras petelur di Kecamatan Harau
No Nama Peternak Bayu Ahmad Afandi Syahrial M.Dt. Gj Hamdi Syukrianda H. Ida Asrul Yanti Z. Eti Lubis Afdal Zikri Defrianto Seno Safri B. Diantoro Rinal Yon Fitri Darwin Purwono Ujang Ramli Feri Bujang Afdila Syailendra Hj. Im Beni Murdani Eza Ujang C H. Yori H.Yan Lusi Total Aspek Sanitasi 7 5 9 13 7 19 9 13 7 21 16 5 9 9 11 5 11 5 11 7 13 16 5 7 7 7 18 11 10 12 305 Sub total (Skor) Aspek Aspek pengaturan Isolasi lalin orang/barang 9 7 17 11 7 11 13 15 7 12 11 11 9 13 13 12 9 13 15 9 7 12 11 15 7 13 17 11 15 11 11 18 21 11 17 15 13 21 11 12 15 10 13 17 10 13 11 14 10 9 14 10 9 23 15 17 15 13 13 13 365 392 Total Skor 23 33 27 41 26 41 31 38 29 45 35 31 29 37 37 34 43 37 45 30 38 46 28 32 26 31 50 43 38 38 1062 Kategori kurang baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik cukup baik

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

17

Persepsi masyarakat pemukiman

terhadap keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur di

Adapun dampak yang ingin dilihat dari keberadaan usaha peternakan ayam petelur pada pemukiman penduduk meliputi dampak terhadap pendapatan keluarga, perekonomian masyarakat, penyerapan tenaga kerja, distribusi pendapatan, harga tanah, motivasi berusaha, pencemaran udara (bau) dan banyaknya lalat. Jawaban responden terhadap kuisioner yang telah disebarkan dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Jawaban responden terhadap indikator penilaian dampak sosial
Indikator Usaha peternakan ayam ras petelur secara langsung berpengaruh positif terhadap pendapatan keluarga. Usaha ayam ras petelur secara langsung berpengaruh positif terhadap pendapatan ekonomi masyarakat sekitarnya Dengan adanya usaha ayam ras petelur, terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja. Terjadinya peningkatan kesenjangan distribusi pendapatan masyarakat akibat adanya usaha ayam ras petelur. Terjadinya peningkatan harga tanah dengan keberadaan usaha ayam ras petelur. Meningkatnya motivasi berusaha dengan adanya usaha ayam ras Usaha Peternakan ayam ras petelur menimbulkan pencemaran udara (bau) Usaha peternakan ayam ras petelur mengakibatkan banyaknya lalat N = 120 TS (%) 47 KS (%) 3 CS (%) 3 S (%) 11 SS (%) 37

No 1

45

18

19

18

32

36

17

15

44

43

5 6

9 40 10 9

4 24 15 6

13 0 0 24

34 23 62 44

39 13 13 17

7 8

Sumber : Hasil Kuisioner Keterangan: 18

TS KS CS

: Tidak Setuju : Kurang Setuju : Cukup Setuju

S SS

: Setuju : Sangat Setuju

Untuk indikator dampak usaha ayam ras petelur terhadap

peningkatan pendapatan

keluarga , 47% responden menyatakan tidak setuju, 3% menyatakan kurang setuju, 3% menyatakan cukup setuju dan 11% menyatakan setuju serta 37% menyatakan sangat setuju. Hal ini memperlihatkan bahwa hampir setengah responden menyatakan bahwa keberadaan usaha ayam ras petelur belum memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan pendapatan keluarga. Keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur belum memberikan dampak positif terhadap pendapatan keluarga, dalam arti kata bahwa pendapatan keluarga dari masyarakat yang tinggal disekitar kandang belum meningkat secara signifikan. Hal ini berbeda dengan beberapa daerah lain yang telah diteliti, misalnya di Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Hasil penelitian menyatakan bahwa keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan (Wahyuningtiyas, 2008). Menurut informan kunci Suwandi menyatakan bahwa belum terasanya peningkatan pendapatan oleh penduduk yang berada di sekitar usaha peternakan, salah satu penyebabnya adalah karena sebagian besar peternak tidak mengambil tenaga kerja dari penduduk tersebut. Mereka cenderung membawa tenaga kerja dari tempat mereka berasal (kebanyakan dari peternak bukan penduduk asli Kecamatan Harau). Untuk indikator dampak usaha peternakan ayam ras petelur terhadap perekonomian masyarakat, ternyata hasil jawaban responden 45% menjawab tidak setuju, , 19% responden menjawab setuju dan 18% responden sangat setuju. Hal ini berarti bahwa keberadaan usaha peternakan belum berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat secara umum. Keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur belum memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat secara umum. Menurut informan kunci Suwandi 19

menyatakan bahwa usaha peternakan ayam ras petelur masih banyak mendatangkan tenaga kerja dari luar tempat usahanya. Hal ini disebabkan oleh pengalaman kerja ataupun keterampilan kerja yang masih rendah. Usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Harau belum menjadi usaha yang mempengaruhi perekonomian masyarakat karena jumlah populasi ayam yang belum terlalu banyak dan distributor makanan ayam ras tidak berada di kecamatan ini. Berbeda dari pendapat Wahyuningtias (2008) pada penelitiannya yang menyatakan bahwa keberadaan usaha peternakan ayam yang terdapat di Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar, telah memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat di sekitar perusahaan, dimana secara ekonomi terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk indikator dampak usaha peternakan ayam ras petelur terhadap peningkatan

penyerapan tenaga kerja, 32% responden menjawab tidak setuju, 36% menyatakan kurang setuju, 17% menyatakan setuju dan 15% menyatakan sangat setuju. wawancara dengan responden, bahwa dari 136 orang peternakan ayam Berdasarkan hasil

tenaga kerja yang terserap di 30 usaha

ras petelur, baru 43 orang tenaga kerja lokal yang dapat terserap. Ini

menunjukan bahwa keberadaan usaha ayam ras petelur belum mengutamakan tenaga kerja lokal, tetapi didatangkan dari daerah lain. Tenaga kerja lokal yang digunakan sebagian besar hanyalah tenaga kerja tidak tetap seperti buruh bongkar muat. Hal ini sejalan dengan jawaban responden untuk indikator peningkatan pendapatan keluarga. Keberadaan usaha ayam ras petelur belum memberikan dampak positif terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja. Untuk 30 usaha peternakan yang menjadi responden, penelitian menyerap tenaga kerja sebanyak 136 orang. Dari jumlah tersebut yang merupakan tenaga kerja lokal berjumlah 40 orang atau lebih kurang 30% (hasil wawancara). Ini berarti masih sedikit tenaga kerja lokal yang terserap dari usaha peternakan ayam ras petelur tersebut. Menurut Informan kunci Suwandi, menyatakan bahwa pengusaha ternak ayam ras petelur 20

seharusnya memperkerjakan lebih banyak penduduk setempat agar kecemburuan terhadap usaha peternakan dan pekerja dari luar tidak meningkat. Dampak usaha ayam ras petelur terhadap adanya kesenjangan distribusi pendapatan di masyarakat sekitar usaha ayam ras, 44% responden menjawab tidak setuju, 43% menyatakan kurang setuju, 3% menyatakan setuju dan 9% menyatakan sangat setuju. Hal ini menggambarkan bahwa belum adanya kesenjangan distribusi pendapatan di masyarakat. Dampak usaha peternakan ayam ras petelur terhadap kesenjangan distribusi pendapatan di Kecamatan Harau, responden menyatakan belum terjadi kesenjangan distribusi pendapatan di masyarakat. Berbeda dengan daerah lain, ayam ras petelur cendrung menyebabkan kesenjangan pendapatan di masyarakat. Seperti yang terjadi Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar, bahwa telah terjadi ketidakmerataan peningkatan pendapatan yang menimbulkan kesenjangan distribusi pendapatan dan disisi lain juga terjadi perubahan pola hidup dalam masyarakat, dimana masyarakat menjadi lebih konsumtif (Wahyuningtyas, 2008). Terjadinya kenaikan harga tanah di Kecamatan Harau belum dapat dikatakan sebagai dampak positif dari keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur. Kenaikan harga tanah mungkin saja disebabkan oleh berpindahnya Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota ke Kecamatan Harau, menjadikan daerah ini sebagai pusat pertumbuhan untuk membangun perumahan.

Kebutuhan lahan meningkat dengan pesat, sehingga harga tanah menjadi melambung. Untuk dampak usaha ayam ras petelur terhadap motivasi berusaha, 40% responden menjawab tidak setuju, 24% menjawab kurang setuju, 23% menjawab setuju dan 13% menjawab sangat setuju. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan usaha ayam ras petelur belum memotivasi masyarakat untuk memulai usaha baru. Usaha peternakan ayam ras petelur belum menjadi motivasi bagi masyarakat sekitarnya untuk melakukan usaha yang sama, karena berusaha dibidang ayam ras perlu keterampilan 21

teknis, jiwa kewirausahaan dan modal yang harus mencukupi. Sedikit sekali masyarakat sekitarnya yang termotivasi dengan keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur di lingkungan mereka. Dampak usaha ayam ras petelur terhadap pencemaran udara (bau), 10% responden menyatakan tidak setuju, 15% menyatakan kurang setuju, 62% menyatakan setuju dan 13% menyatakan sangat setuju. Hasil ini menggambarkan bahwa sebahagian besar responden merasakan pencemaran udara (bau) dari usaha ayam petelur yang berada di pemukiman mereka. Pencemaran bau merupakan dampak negatif dari usaha peternakan ayam ras petelur di pemukiman penduduk di Kecamatan Harau. Informan Kunci Ben menyatakan bahwa

pencemaran lingkungan di kandang ayam ras petelur ini bertambah dengan adanya beberapa peternak yang ingin mendapatkan keuntungan lebih dengan memberikan bahan campuran makanan ayam yang berasal dari ikan yang tidak terjual di pasar dan harganya relatif lebih murah, pemberian makan cara ini menimbulkan efek bau yang sangat menyengat pada kotoran ayam. Untuk dampak usaha ayam ras petelur terhadap banyaknya lalat, 9% responden menjawab tidak setuju, 6% kurang setuju, 24% menjawab cukup setuju, 44% menjawab setuju dan 17% menjawab sangat setuju. Hasil ini menggambarkan bahwa usaha ayam ras petelur mengakibatkan banyaknya lalat bermunculan di sekitar lokasi kandang. Banyaknya lalat merupakan dampak negatif dari usaha peternakan ayam ras petelur di pemukiman. Kebiasaan lalat suka mencari tempat-tempat yang berbau busuk menyebabkan kandang ayam ras petelur banyak dihinggapi lalat untuk berkembang biak. Masyarakat di sekitar kandang ayam ras merasa terganggu dengan banyaknya lalat yang masuk ke rumah dan

22

hinggap ke makanan yang mereka makan. Menurut masyarakat ribuan lalat yang masuk ke rumah sangat menggangu dan menyebabkan ketidak nyaman.

Penentuan Kategori Dampak Sosial Keberadaan Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur di Pemukiman Dampak sosial usaha peternakan ayam ras petelur terhadap masyarakat yang berada di sekitar usaha peternakan ayam ras, diukur dari pendapat/persepsi masyarakat terhadap

keberadaan usaha peternakan ayam ras tersebut. Untuk menetapkan kategori tentang persepsi masyarakat terhadap keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur didasarkan pada total skor dari jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Setiapa pertanyaan diberi skor 1 sampai dengan 5 dengan menyatakan setuju atau tidak setuju berdasarkan skala Likert, yaitu : Skor 1 untuk menyatakan tingkatan tidak setuju Skor 2 untuk menyatakan tingkatan kurang setuju Skor 3 untuk menyatakan tingkatan cukup setuju Skor 4 untuk menyatakan tingkatan setuju Skor 5 untuk menyatakan tingkatan sangat setuju Skor 1 sampai dengan 5 dimasukkan dalam 8 pertanyaan kemudian dikalkulasikan, setelah itu dilakukan penentuan kategori yang terdiri dari tiga kategori yaitu baik, netral dan kurang baik. Kategori baik untuk skor 30-40, netral untuk skor 19-29 dan kurang baik untuk skor 8- 18. Penentuan kategori dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur dari 120 responden dapat dilihat pada lampiran 2. Tabel 6 berikut ini menampilkan kategori dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur di pemukiman.

23

Tabel 6. Kategori dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur pada pemukiman penduduk di Kec. Harau No 1 2 3 Skor 30-40 19-29 8-18 Kategori
Baik Netral Kurang Baik

Jumlah Responden
24 67 29

%
20 56 24

Sumber : Hasil Olahan Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa 56% responden berpendapat netral terhadap

keberadaan usaha ayam ras petelur yang berada dekat pemukiman mereka. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya anggota keluarga mereka yang bekerja pada usaha peternakan tersebut, walaupun disisi lain mereka juga merasakan dampak bau dan lalat. Disamping itu kepedulian peternak terhadap masyarakat sekitar dengan cara memberikan santunan (THR, Sosial) juga turut mengurangi persepsi yang negatif terhadap usaha peternakan tersebut. Responden yang menilai keberadaan usaha ayam ras petelur dengan kategori baik yaitu sebanyak 20%, adalah masyarakat yang telah merasakan dampak positif keberadaan usaha peternakan tersebut namun tidak merasakan dampak negatif berupa bau dan banyaknya lalat. Dampak positif tersebut dapat berupa peningkatan pendapatan keluarga atau perekonomian masyarakat secara umum, membuka peluang usaha, atau pun motivasi berusaha/berbisnis. Masyarakat yang memberikan penilaian kurang baik terhadap keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur sebanyak 24% adalah masyarakat yang merasakan dampak negatif dari usaha peternakan tersebut..Masyarakat ini merasakan dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dampak positifnya. Pencemaran bau dan banyaknya lalat lebih mereka rasakan dibandingkan dengan dampak positif berupa peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja.

24

Kesimpulan Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh peternak ayam ras petelur yang berada pada pemukiman penduduk di Kecamatan Harau sudah tergolong cukup baik (96% cukup baik, 4% kurang baik). Dari ketiga aspek biosekuriti yang dinilai, aspek sanitasi memperoleh skor paling rendah diantara aspek lainnya. Sedangkan aspek sanitasi sangat menentukan dalam pengurangan bau. 2. Keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur belum memberikan dampak baik

terhadap masyarakat sekitarnya. Hal ini terlihat dari hasil jawaban responden yaitu 56% masyarakat berpendapat netral, 20% baik dan 24% kurang baik.

DAFTAR PUSTAKA Abidin, Z. 2003. Meningkatkan Produktifitas Ayam Ras Petelur. Agromedia Pustaka. Jakarta. Chandra. B, 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. Lastiati. A. 2011. Biosekuriti dan Sanitasi Kunci Pengendalian Penyakit Gumboro . http://www.disnak-jatim.go.id. download 2 Juli 2011 Nasir, M. 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta. Prasetyo, B. dan Lina M.J, 2005. Metode Penelitian Kuantitatif, Teori dan Aplikasi, Rajagrafindo Persada. Jakarta. Riduwan, 2004. Metode dan Teknik Penyusunan Thesis. Alfabeta. Bandung Wahyuningtyas. E. 2008. Dampak Keberadaan Peternakan Unggas Terhadap Perubahan Kehidupan Sosial Dan Ekonomi Masyarakat. di Desa Plosoarang, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Winarno, 2009. Mengantisipasi Penyakit Flu Burung. http://www.deptan.go.id. Download 4 juli 2011

25