Anda di halaman 1dari 25

DAMPAK SOSIAL KEBERADAAN USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR PADA WILAYAH PEMUKIMAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

Oleh : Erman Safril

(di bawah bimbingan Asdi Agustar dan Irsan Riyanto)

ABSTRAK

Telur merupakan sumber protein hewani yang harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani lainnya, dihasilkan oleh jenis unggas yaitu ayam, itik, angsa dan jenis unggas lainnya. Ayam merupakan jenis unggas yang paling populer dan paling banyak dikenal saat ini. Produk ayam berupa daging dan telur, limbahnya berupa pupuk organik berguna untuk usaha pertanian dan perikanan. Kebutuhan akan telur dan daging ayam tersebut menyebabkan tumbuhnya usaha peternakan ayam ras mulai dari skala kecil, menengah dan besar. Usaha peternakan ayam yang berada di lingkungan masyarakat dirasakan mulai mengganggu warga, terutama peternakan ayam yang lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk. Masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan ayam ras karena masih banyak peternak yang mengabaikan penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan ayam ras berupa feses, sisa pakan, air dari pembersihan ternak menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat di sekitar lokasi peternakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan lingkungan usaha peternakan ayam ras petelur pada wilayah pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota dan mengetahui dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur pada wilayah pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota. Teknik analisa data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Purposive Sampling. Untuk tujuan pertama diperoleh 30 sampel usaha peternakan dan untuk tujuan kedua diperoleh 120 sampel masyarakat yang berada dekat dengan usaha peternakan ayam ras petelur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner, observasi langsung dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh peternak ayam ras petelur di Kabupaten Lima Puluh Kota sudah cukup baik. Sedangkan dampak sosial keberadaan usaha ayam petelur pada masyarakat yang berada di sekitar kandang belum memberikan dampak yang positif.

Kata kunci : pengelolaan lingkungan, dampak sosial,

Pendahuluan

Usaha sektor peternakan merupakan

bidang usaha yang memberikan peranan sangat

besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani dan berbagai keperluan industri. Protein asal

ternak ini memiliki fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari manusia karena mengandung

berbagai asam amino yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kecerdasan manusia. Peranan ini

tidak dapat di gantikan oleh sumber protein nabati.

Telur

adalah

sumber protein hewani yang harganya relatif

lebih murah dibandingkan

dengan protein hewani lainnya, dihasilkan oleh jenis

unggas

yaitu ayam, itik, angsa dan jenis

unggas lainnya. Ayam merupakan jenis unggas yang paling populer dan paling banyak dikenal

saat ini. Produk ayam berupa daging dan telur, limbahnya berupa pupuk organik berguna untuk

usaha pertanian dan perikanan. Kebutuhan akan

telur dan daging ayam tersebut menyebabkan

tumbuhnya usaha peternakan ayam ras mulai dari skala kecil, menengah dan besar.

Menurut Setyowati (2008), banyaknya usaha peternakan ayam yang berada di lingkungan

masyarakat dirasakan

mulai mengganggu

warga, terutama peternakan ayam yang lokasinya

dekat dengan pemukiman

penduduk. Masyarakat banyak

mengeluhkan dampak buruk dari

kegiatan usaha peternakan ayam

ras

karena masih banyak

peternak

yang

mengabaikan

penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan ayam

ras berupa feses, sisa pakan, air

dari pembersihan ternak menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat di sekitar lokasi

peternakan tersebut.

Setiap

kegiatan

pembangunan,

dimanapun

dan

kapanpun

pasti

akan

menimbulkan

dampak. Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas yang dapat

bersifat alamiah, baik kimia, fisik maupun biologi (Soemarwoto, 1994). Dampak tersebut dapat

bernilai positif yang berarti memberi manfaat bagi kehidupan manusia dan dapat bernilai negatif

yaitu timbulnya resiko yang merugikan masyarakat. Dampak positif pembangunan sangatlah

banyak, diantaranya adalah meningkatnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara merata;

meningkatnya

pertumbuhan

ekonomi

secara

bertahap;

meningkatnya

kemampuan

dan

penguasaan teknologi; memperluas dan pemerataan

penyerapan tenaga kerja dan kesempatan

berusaha; menunjang dan memperkuat stabilitas nasional yang sehat dan dinamis dalam rangka

memperkokoh ketahanan nasional. Dampak positif pembangunan lainnya terhadap lingkungan

hidup, misalnya terkendalinya hama dan penyakit; tersedianya air bersih; terkendalinya banjir;

dan lain-lain; sedangkan dampak negatif akibat pembangunan terhadap lingkungan adalah

masalah pencemaran lingkungan dan belum terdistribusinya hasil-hasil pembangunan secara

merata di masyarakat.

Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah

satu

sentra produksi utama telur ayam

ras di Sumatera Barat. Usaha peternakan ayam ras petelur di kabupaten ini pada satu sisi telah

berdampak positif

dalam meningkatkan pendapatan dan

perekonomian masyarakat

yang

melibatkan banyak peternak dengan skala usaha mulai dari ribuan ekor, sampai dengan puluhan

ribu bahkan ratusan ribu ekor ayam per peternak. Jumlah populasi ayam ras petelur Kabupaten

Lima Puluh Kota menurut data Dinas Peternakan Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2009

berjumlah 4.734.589 ekor yang tersebar hampir di semua Kecamatan (Disnakkan, 2009). Akan

tetapi di sisi lain usaha ayam ras petelur ini menimbulkan dampak negatif

berupa pencemaran

bau busuk yang disebabkan oleh kotoran ayam, keadaan ini diperparah lagi oleh sikap peternak

yang tidak melakukan pengelolaan lingkungan yang baik dan sering menutup diri terhadap

lingkungan tempat usaha ayamnya berada. Hal inilah

yang sering menimbulkan

gesekan

dan

konflik antara peternak dengan masyarakat di sekitar kandang usaha ayam ras petelur.

Upaya Pengelolaan lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah

salah satu instrument pengelolaan lingkungan yang merupakan bagian dari persyaratan perizinan

bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan suatu

usaha atau kegiatan di berbagai sektor. UKL-

UPL telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 86 tahun 2002 tentang

Pedoman UKP dan UPL,

namun sampai saat ini masih ditemukan banyak kendala dalam

pelaksanaannya. Pemerintah Daerah

Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai pelaksana

lapangan

juga belum

banyak

melakukan sosialisasi mengenai usaha peternakan dan pengelolaan

lingkungan serta dampak yang

ditimbulkannya. Aktivitas ini tidak hanya pada sosialisasi saja

tetapi

juga

perlu

ditindak

lanjuti

dengan

penertiban

dan

pengaturan

izin

usaha

maupun

pemberian pengetahuan bagi para peternak dalam pengelolaan limbah khususnya supaya tidak

membahayakan manusia maupun lingkungan hidup. Walaupun dampak yang ditimbulkan akibat

dari

cemaran

bau

busuk

dalam

waktu

dekat

belum

terasa,

namun

lama kelamaan

akan

menyebabkan berbagai penyakit, ini dapat pula berakibat menurunnya produktivitas masyarakat.

Dampak sosial dari keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur terhadap masyarakat

ada yang bersifat positif yaitu berupa adanya peluang dan kesempatan untuk bekerja, terjadinya

peningkatan perekonomian

masyarakat dan termotivasinya masyarakat sekitar untuk berusaha

ayam ras petelur atau usaha lainnya.

Dampak negatif dari usaha peternakan ayam ras petelur adalah akibat dari kotoran ayam

yang menimbulkan bau

busuk. Hal ini di tandai dengan adanya

pengaduan masyarakat, sejak

tahun 2007 - 2010 Pemerintah Daerah Lima Puluh Kota telah menerima

6 (enam) pengaduan

dan

keberatan

masyarakat

terhadap

keberadaan

usaha

peternakan

ayam

ras petelur di

lingkungan pemukiman penduduk, karena cemaran dari kotoran ayam yang menimbulkan bau

busuk

(Dinas Peternakan Lima Puluh Kota, 2010). Ketegasan Pemerintah Daerah dalam

menegakkan aturan untuk

mengawasi

dan mengontrol usaha peternakan ayam ras yang

mencemari lingkungan sangat dibutuhkan agar keresahan yang timbul akibat keberadaan usaha

peternakan ayam

ras di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat diminimalisir,

sehingga bau busuk

dari usaha ayam ras petelur dapat dikurangi.

Dengan demikian

keberadaan usaha peternakan

ayam ras petelur dapat diterima sebagai usaha yang tidak merusak lingkungan dan menjadi

andalan dalam

meningkatkan

taraf

hidup dan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Lima

Puluh Kota. Adapun tujuan penelitian ini adalah

mengetahui pengelolaan lingkungan usaha

peternakan ayam ras petelur pada wilayah pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota dan

mengetahui

dampak

sosial

keberadaan

usaha

peternakan

pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Metode Penelitian

ayam

ras

petelur

pada

wilayah

Populasi

Metode Pengambilan Sampel

Kriteria Sampel

Jumlah

Analisa Data

sampel

Usaha Peternakan ayam ras petelur

 

Umur usaha 5 th Populasi ayam 5000 ekor

 

Statistik

Purposive Samplng

30

Deskriptif

Masyarakat yang berada di sekitar usaha peternakan ayam ras petelur

 

Masyarakat yang berada pada 4 arah mata angin dari usaha peternakan

 

Statistik

Purposive Sampling

120

Deskriptif

Kriteria Penilaian

Tujuan

Kriteria Penilaian

Mengetahui pengelolaan lingkungan usaha peternakan ayam ras petelur

a. Pengelolaan baik apabila skornya > 50

b. Pengelolaan cukup baik apabila skor 26 50

 

c. Pengelolaan kurang baik apabila skor < 26

Mengetahui dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur

a. Dampak baik untuk skor > 29

b. Dampak netral untuk skor 19 29

 

c. Dampak kurang baik untuk skor < 19

Hasil dan Pembahasan

Pengelolaan Lingkungan Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur di Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota

Pengelolaan lingkungan yang telah diterapkan peternak ayam ras di Kecamatan Harau,

Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat dalam pelaksanaan biosekuriti yang dilakukan

peternak.

Biosekuriti

merupakan

serangkaian

kegiatan

yang memiliki

tujuan

utama

yaitu

meminimalkan

keberadaan

penyebab

berkembang biak dan

(Sudarisman, 2000).

meminimalkan

penyakit,

meminimalkan

kesempatan

agen

penyakit

tingkat

kontaminasi lingkungan

oleh agen penyakit

Menurut

Ritonga (2008) Penerapan biosekuriti meliputi 3 (tiga) aspek menurut

yaitu :

aspek sanitasi, aspek isolasi, dan aspek pengaturan lalu lintas keluar masuk barang ke area

peternakan. Data tentang penerapan biosekuriti yang dilakukan peternak, dikumpulkan melalui

kuisioner yang disebarkan kepada 30 peternak responden. Kuisioner yang diberikan kepada

responden dilengkapi dengan 5 pilihan jawaban yaitu tidak pernah (TP), sangat jarang (SJ),

kadang-kadang (KK), sering (SR) dan selalu (SL).

adalah :

Adapun 3 aspek biosekuriti yang dimaksud

Aspek Sanitasi

Kegiatan-kegiatan

yang

mendukung

sanitasi

sebagai

hasil

penilaian

pada

usaha

peternakan ayam ras petelur dapat dilihat pada Tabel 4.7. Hasil survey menyatakan bahwa 80%

dari responden belum melakukan desinfeksi menyeluruh terhadap orang, peralatan dan material

yang ada dalam kandang, dengan alasan bahwa melakukan penyemprotan dengan desinfektan

biayanya cukup tinggi, sementara saat ini wabah penyakit ayam ras sudah tidak ada lagi.

Penyemprotan dilakukan bila ada wabah berjangkit, misalnya flu burung. Namun

jika wabah

mulai berangsur

hilang,

kegiatan penyemprotan dihentikan. Peternak yang sudah melakukan

kegiatan ini secara rutin 20%, ini adalah peternak skala besar dan

memahami pentingnya penyemprotan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2003), yaitu

melakukan desinfeksi di dalam kandang dan peralatannya secara rutin dan ketat.

Pentingnya biosekuriti

ditegaskan oleh seorang informan kunci Drh Andi bahwa

biosekuriti itu perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Dalam jangka

pendek, manfaat atau keuntungan dari penyemprotan ini memang tidak kelihatan secara nyata,

namun dalam jangka panjang akan memberikan manfaat yang relative banyak. Ditambahkan

oleh

Drh

Andi,

biosekuriti

dapat

bersifat

seperti

asuransi,

dimana

manfaatnya

diketahui

belakangan. Biosekuriti ini harus dilakukan kepada setiap orang, barang dan peralatan.

Tabel 1 Hasil Kegiatan pelaksanaan Sanitasi

     

N = 30

 

No

Kegiatan

TP

SJ

KK

S

SL

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

1

Melakukan desinfeksi menyeluruh terhadap orang, peralatan dan material lain yang ada dalam kandang.

80

0

0

0

20

 

Melakukan desinfeksi terhadap

         

2

kotoran ayam setiap hari.

70

3

3

3

20

 

Melakukan pembersihan tempat

         

3

makan dan minum setiap hari.

63

0

17

3

17

4

Menghindari tercecernya pakan dan melakukan pembersihan dalam kandang dan sekelilingnya, terutama terhadap bulu-bulu ayam

70

3

20

7

0

 

Menghindari penumpukan sampah

         

5

dengan melakukan pembakaran setiap hari.

40

0

33

7

20

Sumber : Hasil Kuisioner Keterangan:

TP

: Tidak Pernah

S

: Sering

SJ

:

Sangat Jarang

SL

: Selalu

KK

: Kadang-Kadang

 

mobil yang masuk ke lokasi peternakan

harus disemprot, ini dilakukan tidak hanya saat kasus

terjadi saja. Sayangnya kondisi biosekuriti sekarang sudah ada

yang kendor,

kalau ada orang masuk peternakan, mereka boleh langsung masuk tanpa

disemprot. Biosekuriti yang dilakukan secara ketat dan kontinyu adalah pada usaha pembibitan

ayam ras petelur atau ayam ras pedaging (breeding farm).

Hasil survey memperlihatkan 70%

responden belum melakukan

kegiatan

desinfeksi

terhadap kotoran ayam

setiap

hari dengan alasan melakukan desinfeksi setiap hari biayanya

cukup tinggi,

peternak merasa ini tidak begitu penting untuk dilakukan,

hal disebabkan

kurangnya

pengetahuan peternak dan menganggap wabah atau penyakit sudah tidak ada lagi.

Peternak yang sudah melakukan desinfeksi terhadap kotoran ayam ras petelur baru 20%, sesuai

juga dengan pendapat Abidin (2003), melakukan desinfeksi kotoran ayam secara rutin setiap

hari. Peternak yang telah melakukan penyemprotan setiap hari adalah peternak yang telah

memiliki usaha dengan skala besar.

Berdasarkan

hasil

survey

diperoleh

data

bahwa

63%

dari

responden

sudah

melaksanakannya kegiatan pembersihan tempat makan dan minum dilakukan setiap hari, hal ini

sudah cukup disadari oleh peternak dan menurut mereka

apabila tempat minum ini tidak

dibersihkan, akan menjadi media berkembangnya bibit penyakit, atau juga sisa-sisa makanan

yang

terdapat pada tempat pakan akan dimakan oleh tikus, dan tikus ini juga termasuk vektor

pembawa bibit penyakit.

Kegiatan untuk menghindari tercecernya pakan dan melakukan

penyapuan di dalam

kandang dan disekelilingnya, data yang diperoleh

70% responden belum melakukan kegiatan

ini. bukanlah sesuatu hal yang penting untuk dilakukan dan

menurut mereka

tidak terlalu

berpengaruh terhadap kesehatan dan produktifitas ayam. Pada dasarnya kegiatan ini sangat

penting

dilakukan

terutama

pada

ayam

periode

grower

karena

untuk

menghindari

ayam

memakan bulu-bulu dari ayam yang sakit, hal ini sesuai dengan pendapat (Rahmadi, 2009)

Kegiatan menghindari penumpukan sampah dengan melakukan pembakaran sampah

setiap hari,

baru 20%

yang

melakukannya secara rutin. Responden

berpendapat perlu

dilakukan pembakaran sampah untuk memusnahkan bibit penyakit.

Empat puluh persen( 40%)

peternak belum melakukan pembakaran sampah setiap hari karena mereka menganggap itu tidak

begitu penting untuk dilakukan.

Desinfeksi harus dilakukan terhadap semua yang akan masuk ke kandang baik itu petugas

kandang,

karyawan,

peralatan

seperti

gerobak,

sepatu

dan

lain

sebagainya.

Seperti

yang

diungkapkan juga oleh praktisi peternakan Drh Andi, bahwa desinfeksi harus menyeluruh, terus

menerus dan tidak boleh hanya pada saat ada kasus saja.

Menurut Lastiati (2011) bahwa salah satu cara penanggulangan penyakit gumboro pada

unggas adalah dengan melakukan perbaikan dalam sanitasi. Hal ini juga diyakini oleh salah

seorang peternak di Kecamatan Harau, Beni Murdani mengatakan bahwa sanitasi

(kebersihan)

kandang sangat penting dilakukan untuk menjaga kesehatan ayam dari penularan bibit penyakit.

Pada intinya, kebersihan peralatan, orang dan material yang digunakan dalam melakukan

proses produksi sangat berpengaruh pada kesehatan ayam. Kesehatan ayam akan berpengaruh

pada produktifitas ayam dan produktifitas ayam

usaha ayam ras petelur ke depannya (Abidin 2003).

Aspek Isolasi

tentu saja sangat menentukan keberlanjutan

Kegiatan-kegiatan yang mendukung isolasi sebagai hasil penilaian pada usaha peternakan

ayam ras petelur dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2 Hasil Kegiatan pelaksanaan Isolasi

     

N = 30

No

 

Kegiatan

TP

SJ

KK

S

SL

 

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

1

Mencegah masuknya hewan peliharaan (anjing dan kucing) masuk ke kandang

77

0

0

0

23

2

Mencegah masuknya unggas peliharaan lain (itik, ayam buras, kalkun, angsa) masuk ke dalam kandang

47

0

20

0

33

3

Melakukan pembasmian serangga dan hama tikus.

13

17

53

0

17

4

Menghindari

burung

liar

masuk

100

0

0

0

0

kandang

5

Membuat pagar pembatas permanen.

57

0

0

0

43

Sumber : Hasil Kuisioner Keterangan:

Tp

: Tidak pernah

S

: Sering

Sj

:

Sangat Jarang

Sl

: Selalu

Kk

: Kadang-kadang

 

Mencegah masuknya hewan

peliharaan (anjing dan

kucing) masuk ke kandang belum

dapat dilakukan secara baik oleh peternak. Karena sistem perkandangan ayam ras yang dimiliki

peternak belumlah sistem kandang tertutup, sehingga masih terbuka peluang hewan peliharaan

masuk ke dalam kandang. Sebagian peternak ada yang menjadikan

anjing sebagai penjaga

kandang. Dari 30 responden, baru 23% responden yang telah melakukan upaya pencegahan

masuknya hewan peliharaan masuk ke dalam kandang. Tujuh puluh tujuh persen responden

belum melakukan, hal

ini disebabkan

oleh

kurangnya kesadaran peternak tentang resiko

membiarkan hewan lain berada dalam area kandang.

Untuk kegiatan

mencegah masuknya unggas peliharaan lain (itik, ayam buras, kalkun,

angsa) masuk ke dalam kandang, peternak yang sudah melakukan kegiatan ini adalah 33%, ini

sesuai dengan pendapat Abidin (2003) untuk menghindari kontak dengan hewan lain. Empat

puluh tujuh persen (47%) responden belum melakukan kegiatan ini karena unggas peliharaan

lain dibiarkan bebas dalam kandang untuk memakan makanan yang jatuh di bawah kandang

ayam ras.

Kegiatan pembasmian serangga dan hama tikus, ternyata didapat hasil responden yang

melakukan secara rutin sekitar 17%, hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2003) bahwa perlu

di cegah adanya serangga dan tikus, diberantas dengan menggunakan insektisida yang sesuai.

Peternak yang membasmi serangga atau hama tikus di saat tertentu saja, memiliki persentase

terbesar yaitu 53%.

Pembasmian

hama tikus di dalam kandang perlu dilakukan

karena tikus

adalah sumber penyakit.

Menurut Candra (2005) menyatakan bahwa lingkungan yang bersih

dan sehat merupakan cara ampuh untuk memberantas tikus secara alami. Jika tikus semakin

banyak populasinya di dalam kandang, maka peluang

timbulnya

penyakit pada ayam

ras

petelur juga akan semakin besar . Tikus akan memakan

sisa makanan ayam, saat makan

tikus

akan

mengeluarkan

kotoran

(berak),

kotoran

tikus

termakan

oleh

ayam

dan

dapat

menyebabkan ayam menjadi sakit.

Untuk menghindari burung liar masuk kandang belum bisa diatasi oleh

Kecamatan

Harau,

dimana

100%

belum

dapat

melakukannya.

Peternak

peternak di

belum

bisa

mengantisipasi burung liar karena kandang belum di buat dengan sistem tertutup. Burung liar ini

dapat menjadi membawa bibit penyakit (agent) ke ayam ras petelur. Menurut Abidin 2003,

sistem kandang tertutup belum banyak yang menggunakan di Indonesia karena butuh investasi

besar, keuntungan yang diperoleh peternak cenderung meningkat.

Pembuatan

pagar pembatas permanen,

57% peternak belum membuat pagar pembatas

permanen.

Hal ini terkait dengan kemampuan keuangan

peternak, dan

kesadaran yang masih

rendah

akan

pentingnya

pagar

pembatas

tersebut.

Peternak

yang

belum

membuat

pagar

permanen, membuat pagar kandangnya dengan bambu.

Aspek Pengaturan Lalu Lintas Keluar masuk barang /orang

Kegiatan-kegiatan yang mendukung

pengaturan lalu lintas orang, barang dan mobil

masuk ke area usaha peternakan ayam ras petelur dapat dilihat pada tabel 3.

Untuk kegiatan melakukan penyemprotan dengan desinfektan terhadap barang atau

peralatan

yang akan masuk area kandang, dari hasil data survey di dapat hasil 20%, hal ini

perkuat oleh pendapat Abidin (2003) bahwa kontak antara bibit pembawa penyakit dengan ayam

ras petelur harus di cegah, dengan cara membatasi kontak dunia luar dengan ayam ras petelur

yang dipelihara. Peternak yang belum melakukan

ini cukup banyak yaitu 67%, peternak

berpendapat bahwa wabah penyakit sudah tidak kelihatan gejalanya, sedangkan biaya untuk

melakukan penyemprotan memerlukan biaya yang cukup besar.

Kegiatan melakukan penyemprotan dengan desinfektan terhadap kendaraan yang akan

masuk ke dalam areal kandang, hasil yang

di dapat 70% peternak belum melakukan. Hal ini

disebabkan oleh kurangnya kesadaran peternak pentingnya melakukan penyemprotan kendaraan

yang masuk kandang, pada hal bibit penyakit bisa ikut terbawa masuk kandang melalui

kendaraan.

Tabel 3 Hasil kegiatan dalam pengaturan Lalu Lintas orang, barang dan mobil keluar masuk area peternakan

     

N = 30

No

 

Kegiatan

TP

SJ

KK

S

SL

 

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

1

Melakukan penyemprotan dengan desinfektan terhadap barang atau peralatan yang akan masuk area kandang.

67

0

0

13

20

2

Melakukan penyemprotan dengan desinfektan kendaraan yang akan masuk ke dalam kandang

70

0

20

0

10

3

Menghindari pinjam meminjam peralatan antar kandang

0

0

30

0

70

 

Melarang

orang

yang

tidak

         

4

berkepentingan

masuk

ke

dalam

20

0

43

0

37

kandang

5

Sopir, sales atau petugas lainnya sebaiknya ganti pakaian khusus dan lakukan penyemprotan sebelum masuk ke area kandang

80

0

10

0

10

Sumber : Hasil kuisioner Keterangan:

TP

: Tidak Pernah

S

: Sering

SJ

:

Sangat Jarang

SL

: Selalu

KK

: Kadang-Kadang

 

tersebut. Peternak yang sudah melakukan baru 10%, hal ini sesuai dengan pendapat Abidin

(2003), yang menyatakan melakukan pencelupan atau penyemprotan desinfektan kendaraan yang

masuk kandang. Kegiatan ini

baru dilakukan oleh usaha peternakan skala besar dan sudah

memahami pentingnya biosekuriti.

Untuk kegiatan

menghindari

pinjam

meminjam

peralatan antar kandang, ini sudah

dilakukan oleh sebahagian besar

peternak

yaitu sekitar 70%.

menyadari bahwa meminjam peralatan antar kandang akan mengancam

Karena peternak sudah

kesehatan ayam, sebab

dengan pinjam

meminjam peralatan antar kandang dapat terjadinya penularan bibit penyakit

antar kandang.

Melarang orang yang tidak berkepentingan

masuk ke dalam kandang, dari hasil survey

dilapangan di dapat data 37% responden melakukan kegiatan ini, hal ini sesuai dengan pendapat

Winarno (2009), tidak membiarkan orang yang tidak berkepentingan masuk kandang.

Empat

pulu tiga persen (43%) responden

menjawab melakukan sewaktu-waktu atau kadang-kadang

saja yaitu ketika wabah penyakit sedang meluas maka dilakukan pelarangan terhadap yang tidak

berkepentingan masuk ke dalam kandang.

Peternak

telah menyadari bahwa kontak langsung

antara ayam

ras dengan orang harus dihindari, agar keselamatan ayam dapat terjaga. Jika

seseorang yang masuk ke dalam kandang sedang flu dapat menular ke ayam, ayam sehat dapat

menjadi sakit.

Sewaktu wabah penyakit

ayam sedang berjangkit kebanyakan

peternak

melarang dengan ketat orang masuk kandang, namun setelah

wabah mereda atau,

peternak

longgar lagi melarang orang masuk ke dalam kandang.

Sopir, sales atau petugas lainnya harus mengganti pakaian

khusus dan

di semprot

sebelum masuk ke area kandang,

belum banyak yang melakukan hal ini yaitu baru sebanyak

10%.

Peternak yang belum melakukan cukup banyak yaitu sebesar 80%. Peternak yang sudah

melakukan hal ini adalah yang berskala besar dan

telah memiliki komitmen kuat dengan

biosekuriti

yang sudah melakukan penyemprotan kendaraan atau orang yang masuk ke areal

kandang,

namun jumlahnya masih sedikit sekali.

Peternak yang belum melakukan dengan

alasan wabah sudah tidak ada, sedangkan biayanya cukup mahal.

Peternak ayam ras petelur yang ada di Kecamatan Harau belum sepenuhnya melakukan

biosekuriti terhadap ternak yang mereka miliki. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yaitu ;

1) kesadaran peternak terhadap pentingnya biosekuriti yang masih rendah, 2) skala usaha mereka

yang masih belum terlalu besar sehingga biaya untuk melaksanakan biosekuriti dirasakan cukup

mahal. Pada hal biosekuriti tersebut sangat penting bagi kesehatan ayam. Beberapa penyakit

ayam seperti flu burung, gumboro dan penyakit ayam lainnya dapat diantisipasi dengan

penerapan biosekuriti yang baik. Sebagaimana disebutkan oleh

Winarno (2009) bahwa untuk

mengantisipasi

terhadap

pencegahan

antara

lain

resiko

:

(a)

penularan

penyakit

Ayam/

unggas

yang

flu

burung,

dapat

dilakukan

positip

terserang

penyakit

AI

upaya

harus

dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur; (b) Melakukan sanitasi lingkungan kandang

serta hal-hal yang berhubungan dengan usaha peternakan ayam; (c) Membuang kotoran ayam 3

hari sekali ; (d) Kecuali yang berkepentingan, dilarang keluar-masuk lokasi peternakan ayam; (e)

Melakukan vaksinasi pada ayam/ unggas di sekitar lokasi yang terkena penyakit AI, pada jarak

radius 1 kilometer; (f) Memutus rantai awal sumber penularan dengan memusnahkan (stamping

out) pada unggas yang terinfeksi sesuai prosedur.

Informan

Kunci

mengungkapkan bahwa

Drh

Mukmin,

seorang

konsultan

dan

praktisi

usaha

peternak

sejak mewabahnya flu burung tahun 2003, di Kabupaten Lima Puluh

Kota ada peningkatan pelaksanaan biosekuriti. Namun setelah

wabah flu burung mereda,

biosekuriti menjadi longgar kembali dan kewaspadaan pun berkurang malahan banyak peternak

terutama yang berskala kecil menganggap keadaan sudah aman dari wabah. Peternak yang tetap

konsisten melaksanakan biosekuriti adalah peternak besar dan yang banyak bersentuhan dengan

teknikal servis perusahaan suplier makanan dan obat-obatan

unggas dan peternak yang selalu

mengikuti perkembangan usaha perunggasan baik dari majalah perunggasan maupun mengikuti

seminar-seminar tentang biosekuriti. Peternak yang

bahwa

penerapan

biosekuriti

hanya

menambah

berorientasi bisnis semata,

menganggap

pengeluaran

saja.

Program

biosekuriti

seyogyanya menjadi rutinitas bagi peternak dan dilakukan secara terus menerus karena berguna

untuk menjaga kesehatan dan produktifitas ayam ras petelur dalam jangka panjang.

Penentuan Kategori Pengelolaan Lingkungan Usaha Ayam Ras

Untuk menentukan penilaian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan oleh peternak ayam ras petelur di Kecamatan Harau, maka dilakukan penghitungan skor jawaban responden atas pernyataan untuk semua aspek yang dinilai yaitu meliputi aspek sanitasi, aspek isolasi dan aspek pengaturan lalu lintas orang/barang. Skor dihitung dengan cara mengalikan jawaban yang dipilih responden dengan bobot pernyataan. Setelah itu skor dijumlahkan secara keseluruhan untuk ketiga aspek tersebut sehingga didapatkan total skor. Angka total skor kemudian dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu baik, cukup baik dan kurang baik. Kategori baik diberikan untuk skor 51-75, kategori cukup baik dengan skor 26-50 dan kategori kurang baik untuk skor 1-25. Perhitungan skor untuk masing-masing aspek dapat dilihat pada lampiran 1. Tabel 4. berikut ini menampilkan penentuan kategori pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh peternak ayam ras petelur di Kecamatan Harau.

Tabel 4. Penentuan Kategori Pengelolaan Lingkungan yang dilakukan oleh peternak ayam ras petelur di Kecamatan Harau

   

Nama

Peternak

 

Sub total (Skor)

     

No

Aspek

Aspek

Aspek

pengaturan

Total Skor

Kategori

Sanitasi

Isolasi

lalin orang/barang

1

Bayu

7

9

 

7

23

kurang baik

2

Ahmad Afandi

5

17

 

11

33

cukup baik

3

Syahrial

9

7

 

11

27

cukup baik

4

M.Dt. Gj

13

13

 

15

41

cukup baik

5

Hamdi

7

7

 

12

26

cukup baik

6

Syukrianda

19

11

 

11

41

cukup baik

7

H.

Ida Asrul

9

9

 

13

31

cukup baik

8

Yanti Z.

13

13

 

12

38

cukup baik

9

Eti Lubis

7

9

 

13

29

cukup baik

10

Afdal Zikri

21

15

 

9

45

cukup baik

11

Defrianto

16

7

 

12

35

cukup baik

12

Seno

5

11

 

15

31

cukup baik

13

Safri

9

7

 

13

29

cukup baik

14

B.

Diantoro

9

17

 

11

37

cukup baik

15

Rinal

11

15

 

11

37

cukup baik

16

Yon Fitri

5

11

 

18

34

cukup baik

17

Darwin

11

21

 

11

43

cukup baik

18

Purwono

5

17

 

15

37

cukup baik

19

Ujang Ramli

11

13

 

21

45

cukup baik

20

Feri

7

11

 

12

30

cukup baik

21

Bujang

13

15

 

10

38

cukup baik

22

Afdila

16

13

 

17

46

cukup baik

23

Syailendra

5

10

 

13

28

cukup baik

24

Hj. Im

7

11

 

14

32

cukup baik

25

Beni Murdani

7

10

 

9

26

cukup baik

26

Eza

7

14

 

10

31

cukup baik

27

Ujang C

18

9

 

23

50

cukup baik

28

H.

Yori

11

15

 

17

43

cukup baik

29

H.Yan

10

15

 

13

38

cukup baik

30

Lusi

12

13

 

13

38

cukup baik

 

Total

305

365

 

392

1062

 

Persepsi

pemukiman

masyarakat

terhadap

keberadaan

usaha

peternakan

ayam

ras

petelur

di

Adapun dampak yang ingin dilihat dari keberadaan usaha peternakan ayam petelur pada

pemukiman

penduduk

meliputi

dampak

terhadap

pendapatan

keluarga,

perekonomian

masyarakat, penyerapan tenaga kerja, distribusi pendapatan, harga tanah, motivasi berusaha,

pencemaran udara (bau) dan banyaknya lalat. Jawaban responden terhadap kuisioner yang telah

disebarkan dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Jawaban responden terhadap indikator penilaian dampak sosial

     

N = 120

No

Indikator

TS

KS

CS

S

SS

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

 

Usaha peternakan ayam ras petelur secara

         

1

langsung berpengaruh positif terhadap pendapatan keluarga.

47

3

3

11

37

 

Usaha ayam ras petelur secara langsung

         

2

berpengaruh positif terhadap pendapatan ekonomi masyarakat sekitarnya

45

18

0

19

18

 

Dengan adanya usaha ayam ras petelur, terjadi

         

3

peningkatan penyerapan tenaga kerja.

32

36

0

17

15

 

Terjadinya peningkatan kesenjangan distribusi

         

4

pendapatan masyarakat akibat adanya usaha ayam ras petelur.

44

43

0

3

9

 

Terjadinya peningkatan harga tanah dengan

         

5

keberadaan usaha ayam ras petelur.

9

4

13

34

39

 

Meningkatnya motivasi berusaha dengan adanya

         

6

usaha ayam ras

40

24

0

23

13

7

Usaha Peternakan ayam ras petelur menimbulkan pencemaran udara (bau)

10

15

0

62

13

8

Usaha peternakan ayam ras petelur mengakibatkan banyaknya lalat

9

6

24

44

17

Sumber : Hasil Kuisioner Keterangan:

TS

: Tidak Setuju

S

: Setuju

KS

:

Kurang Setuju

SS

:

Sangat Setuju

CS

:

Cukup Setuju

Untuk indikator dampak usaha ayam ras petelur terhadap

peningkatan pendapatan

keluarga

, 47% responden menyatakan

tidak

setuju, 3% menyatakan

kurang setuju, 3%

menyatakan cukup setuju dan 11% menyatakan setuju serta 37% menyatakan sangat setuju. Hal

ini memperlihatkan bahwa hampir setengah responden menyatakan bahwa keberadaan usaha

ayam ras petelur belum memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan pendapatan

keluarga.

Keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur belum memberikan dampak positif

terhadap pendapatan keluarga, dalam arti kata bahwa pendapatan keluarga dari masyarakat yang

tinggal disekitar kandang belum meningkat secara signifikan. Hal ini berbeda dengan beberapa

daerah

lain yang telah diteliti, misalnya di Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Hasil

penelitian menyatakan bahwa

keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur berdampak positif

terhadap peningkatan pendapatan (Wahyuningtiyas, 2008). Menurut informan kunci Suwandi

menyatakan bahwa belum terasanya peningkatan pendapatan

oleh penduduk yang berada di

sekitar usaha peternakan, salah satu penyebabnya adalah karena sebagian besar peternak tidak

mengambil tenaga kerja dari penduduk tersebut. Mereka cenderung membawa tenaga kerja dari

tempat mereka berasal (kebanyakan dari peternak bukan penduduk asli Kecamatan Harau).

Untuk indikator dampak usaha peternakan ayam ras petelur terhadap perekonomian

masyarakat, ternyata hasil jawaban responden 45% menjawab tidak setuju, , 19% responden

menjawab setuju dan 18% responden sangat setuju. Hal ini berarti bahwa keberadaan

usaha

peternakan belum berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat secara umum.

Keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur belum memberikan dampak positif

terhadap

perekonomian

masyarakat

secara

umum.

Menurut

informan

kunci

Suwandi

menyatakan bahwa usaha peternakan ayam ras petelur masih banyak mendatangkan tenaga kerja

dari luar tempat usahanya. Hal ini disebabkan oleh pengalaman kerja ataupun keterampilan kerja

yang masih rendah.

Usaha peternakan ayam

ras petelur di Kecamatan Harau belum menjadi

usaha yang mempengaruhi perekonomian masyarakat karena jumlah populasi ayam yang belum

terlalu banyak dan distributor

makanan ayam ras tidak berada di kecamatan ini.

Berbeda dari

pendapat

Wahyuningtias (2008) pada penelitiannya yang menyatakan bahwa keberadaan usaha

peternakan ayam yang terdapat di Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar, telah memberikan

dampak positif terhadap kehidupan

masyarakat di sekitar perusahaan,

terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

dimana secara ekonomi

Untuk indikator dampak usaha peternakan ayam

ras petelur terhadap peningkatan

penyerapan tenaga kerja,

32% responden menjawab tidak setuju, 36% menyatakan kurang

setuju,

17%

menyatakan

setuju

dan

15%

menyatakan

sangat

setuju.

Berdasarkan

hasil

wawancara dengan responden, bahwa dari 136 orang

tenaga kerja yang terserap di 30 usaha

peternakan

ayam

ras petelur,

baru 43 orang tenaga kerja lokal yang dapat terserap. Ini

menunjukan bahwa

keberadaan usaha ayam

ras petelur belum mengutamakan tenaga kerja

lokal, tetapi didatangkan dari daerah

lain. Tenaga kerja lokal yang digunakan sebagian besar

hanyalah tenaga kerja tidak tetap

seperti buruh bongkar muat. Hal ini sejalan dengan jawaban

responden untuk indikator peningkatan pendapatan keluarga.

Keberadaan

usaha

ayam

ras

petelur

belum

memberikan

dampak

positif

terhadap

peningkatan penyerapan tenaga kerja. Untuk 30 usaha peternakan yang menjadi responden,

penelitian menyerap tenaga kerja sebanyak

136 orang. Dari jumlah tersebut

yang merupakan

tenaga kerja lokal berjumlah

40 orang atau lebih kurang 30% (hasil wawancara). Ini berarti

masih sedikit tenaga kerja lokal yang terserap dari usaha peternakan ayam

ras petelur tersebut.

Menurut

Informan kunci Suwandi, menyatakan bahwa pengusaha ternak ayam ras petelur

seharusnya memperkerjakan lebih banyak penduduk setempat agar kecemburuan terhadap usaha

peternakan dan pekerja dari luar tidak meningkat.

Dampak usaha ayam ras petelur terhadap adanya kesenjangan distribusi pendapatan di

masyarakat sekitar usaha ayam ras, 44%

responden menjawab tidak setuju, 43% menyatakan

kurang setuju, 3% menyatakan setuju dan 9% menyatakan sangat setuju. Hal ini menggambarkan

bahwa belum adanya kesenjangan distribusi pendapatan di masyarakat.

Dampak usaha peternakan ayam ras petelur terhadap kesenjangan distribusi pendapatan

di Kecamatan Harau, responden menyatakan belum terjadi kesenjangan distribusi pendapatan di

masyarakat. Berbeda dengan daerah lain, ayam ras petelur cendrung menyebabkan kesenjangan

pendapatan di masyarakat. Seperti yang terjadi Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar, bahwa

telah terjadi ketidakmerataan peningkatan pendapatan yang menimbulkan kesenjangan distribusi

pendapatan dan disisi lain juga terjadi perubahan

pola hidup dalam

masyarakat,

dimana

masyarakat menjadi lebih konsumtif (Wahyuningtyas, 2008).

Terjadinya kenaikan

harga tanah di Kecamatan Harau

belum dapat dikatakan sebagai

dampak positif dari keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur. Kenaikan harga tanah

mungkin saja disebabkan oleh berpindahnya Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota ke Kecamatan

Harau, menjadikan daerah

ini sebagai pusat pertumbuhan untuk membangun perumahan.

Kebutuhan lahan meningkat dengan pesat, sehingga harga tanah menjadi melambung.

Untuk dampak usaha ayam

ras petelur terhadap motivasi berusaha, 40% responden

menjawab tidak setuju, 24% menjawab kurang setuju, 23% menjawab setuju dan 13% menjawab

sangat setuju. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan usaha ayam ras petelur belum memotivasi

masyarakat untuk memulai usaha baru.

Usaha peternakan ayam ras petelur belum menjadi motivasi bagi masyarakat sekitarnya

untuk melakukan usaha yang sama, karena berusaha dibidang ayam ras perlu keterampilan

teknis, jiwa kewirausahaan dan modal

yang harus mencukupi. Sedikit sekali masyarakat

sekitarnya yang termotivasi dengan keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur di lingkungan

mereka.

Dampak usaha ayam ras petelur terhadap pencemaran udara (bau), 10% responden

menyatakan tidak setuju, 15% menyatakan kurang setuju, 62% menyatakan setuju dan 13%

menyatakan

sangat

setuju.

Hasil

ini

menggambarkan

bahwa

sebahagian

besar

responden

merasakan pencemaran udara (bau) dari usaha ayam petelur yang berada di pemukiman mereka.

Pencemaran bau merupakan dampak negatif dari usaha peternakan ayam ras petelur di

pemukiman

penduduk

di

Kecamatan

Harau.

Informan

Kunci

Ben

menyatakan

bahwa

pencemaran

lingkungan di kandang ayam ras petelur ini bertambah dengan adanya beberapa

peternak yang ingin mendapatkan

makanan ayam yang berasal dari

keuntungan

lebih dengan memberikan

bahan campuran

ikan yang tidak terjual di pasar dan harganya relatif

lebih

murah, pemberian makan cara ini menimbulkan efek bau yang sangat menyengat pada kotoran

ayam.

Untuk

dampak

usaha

ayam

ras

petelur

terhadap

banyaknya

lalat,

9%

responden

menjawab tidak setuju, 6% kurang setuju, 24% menjawab cukup setuju, 44% menjawab setuju

dan 17% menjawab sangat setuju. Hasil ini menggambarkan bahwa usaha ayam ras petelur

mengakibatkan banyaknya lalat bermunculan di sekitar lokasi kandang.

Banyaknya lalat merupakan dampak negatif dari usaha peternakan ayam ras petelur di

pemukiman. Kebiasaan lalat suka mencari

tempat-tempat yang berbau busuk menyebabkan

kandang ayam ras petelur banyak

dihinggapi lalat

untuk berkembang biak. Masyarakat di

sekitar kandang ayam ras merasa terganggu dengan banyaknya lalat yang masuk ke rumah dan

hinggap ke makanan yang mereka makan. Menurut masyarakat ribuan lalat yang masuk ke

rumah sangat menggangu dan menyebabkan ketidak nyaman.

Penentuan Kategori Dampak Sosial Keberadaan Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur di

Pemukiman

Dampak sosial usaha peternakan ayam ras petelur terhadap masyarakat yang berada di

sekitar usaha peternakan ayam

ras,

diukur dari pendapat/persepsi

masyarakat terhadap

keberadaan usaha peternakan ayam

ras tersebut. Untuk menetapkan kategori tentang persepsi

masyarakat terhadap keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur didasarkan pada total skor

dari jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Setiapa pertanyaan diberi skor 1 sampai dengan 5

dengan

menyatakan setuju atau tidak setuju berdasarkan skala Likert, yaitu : Skor 1 untuk

menyatakan tingkatan tidak setuju

Skor 2 untuk menyatakan tingkatan kurang setuju

Skor 3 untuk menyatakan tingkatan cukup setuju

Skor 4 untuk menyatakan tingkatan setuju

Skor 5 untuk menyatakan tingkatan sangat setuju

setelah

Skor

1 sampai dengan 5

dimasukkan dalam

8 pertanyaan kemudian dikalkulasikan,

itu dilakukan penentuan kategori yang terdiri dari tiga kategori

yaitu

baik, netral dan

kurang baik. Kategori baik

skor 8- 18.

untuk skor 30-40, netral untuk skor 19-29 dan kurang baik untuk

Penentuan kategori dampak sosial

keberadaan

usaha peternakan ayam

ras petelur dari

120 responden dapat dilihat pada lampiran 2. Tabel 6 berikut ini menampilkan kategori dampak

sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur di pemukiman.

Tabel 6. Kategori dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur pada pemukiman penduduk di Kec. Harau

No

Skor

Kategori

Jumlah Responden

%

 

1 30-40

Baik

24

20

 

2 19-29

Netral

67

56

 

3 8-18

Kurang Baik

29

24

Sumber : Hasil Olahan

Dari

tabel di atas dapat dilihat bahwa 56% responden berpendapat netral terhadap

keberadaan usaha ayam ras petelur yang berada dekat pemukiman mereka.

Hal ini bisa

disebabkan oleh adanya anggota keluarga mereka yang bekerja pada usaha peternakan tersebut,

walaupun disisi lain mereka juga merasakan dampak bau dan

lalat. Disamping itu kepedulian

peternak terhadap masyarakat sekitar dengan cara memberikan santunan (THR, Sosial) juga turut

mengurangi persepsi yang negatif terhadap usaha peternakan tersebut.

Responden yang menilai keberadaan usaha ayam ras petelur dengan kategori baik yaitu

sebanyak 20%, adalah masyarakat yang telah merasakan dampak positif keberadaan usaha

peternakan tersebut namun tidak merasakan dampak negatif berupa bau dan banyaknya lalat.

Dampak positif tersebut dapat berupa peningkatan pendapatan keluarga atau perekonomian

masyarakat secara umum, membuka peluang usaha, atau pun motivasi berusaha/berbisnis.

Masyarakat

yang

memberikan

penilaian

kurang

baik

terhadap

keberadaan

usaha

peternakan ayam ras petelur sebanyak 24% adalah masyarakat yang merasakan dampak negatif

dari usaha peternakan tersebut

Masyarakat

ini merasakan dampak negatif

yang lebih besar

dibandingkan dampak positifnya. Pencemaran bau dan banyaknya lalat lebih mereka rasakan

dibandingkan dengan dampak positif berupa peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja.

Kesimpulan

Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.

Pengelolaan

lingkungan

yang dilakukan

pada pemukiman penduduk di

Kecamatan

oleh peternak ayam

ras petelur yang berada

Harau

sudah tergolong cukup

baik

(96%

cukup baik, 4% kurang baik).

Dari ketiga aspek biosekuriti yang dinilai, aspek sanitasi

memperoleh skor paling rendah diantara aspek lainnya. Sedangkan aspek sanitasi sangat

menentukan dalam pengurangan bau.

2. Keberadaan

usaha peternakan ayam ras petelur

belum memberikan dampak baik

terhadap masyarakat sekitarnya. Hal ini terlihat dari hasil jawaban responden yaitu 56%

masyarakat berpendapat netral, 20% baik dan 24% kurang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2003. Meningkatkan Produktifitas Ayam Ras Petelur. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Chandra. B, 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

Lastiati.

A.

2011.

Biosekuriti

dan

Sanitasi

Kunci

Pengendalian

http://www.disnak-jatim.go.id. download 2 Juli 2011

Penyakit

Gumboro.

Nasir, M. 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta. Prasetyo, B. dan Lina M.J, 2005. Metode Penelitian Kuantitatif, Teori dan Aplikasi, Rajagrafindo Persada. Jakarta.

Riduwan, 2004. Metode dan Teknik Penyusunan Thesis. Alfabeta. Bandung

Wahyuningtyas. E. 2008. Dampak Keberadaan Peternakan Unggas Terhadap Perubahan Kehidupan Sosial Dan Ekonomi Masyarakat. di Desa Plosoarang, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

Winarno, 2009. Mengantisipasi Penyakit Flu Burung. http://www.deptan.go.id. Download 4 juli 2011