Anda di halaman 1dari 49

Proses Frais (Milling) A.

Definisi Proses pemesinan frais (milling) didefinisikan sebagai teknologi penyayatan/pemotongan logam menggunakan pisau potong dengan mata potong jamak untuk menghilangkan/menyayat logam. Selama pengefraisan, pisau melakukan gerak pemotongan, sedangkan benda kerja (yang dipasang pada meja mesin frais) melakukan gerak pemakanan. Teknik frais didefinisikan menurut posisi relatif pisau terhadap benda kerja dan menurut denominasi/jenis pisau. B. Teknik Frais 1. Frais Periperal (Peripheral Milling) Frais periperal adalah metode pengefraisan yang digunakan pada mesin frais tipe horisontal. Sisi pemotong pada pisau frais yang biasa terletak pada pinggiran/tepi pisau. Frais periperal dibagi menjadi frais naik dan frais turun (up and down milling). a. Frais Naik (Up Milling) Selama proses up milling (Gambar 1), pisau frais berputar berlawanan dengan arah pemakanan dari benda kerja. Arah gerak pemakanan (Gambar 2) ditandai dengan sudut gerak pemakanan . Jika selama gigi tunggal kontak dengan bahan (mulai dari saat gigi akan kontak dengan bahan-masuknya pisau-sampai pisau keluar), tetap kurang dari 90o, maka itu adalah prosedur proses up milling. Selama up milling, bahan benda kerja dibuang/dihilangkan oleh gaya resultan. Ada resiko bahwa benda kerja dapat tertarik keluar dari jepitan atau meja frais akan goyah. Oleh karena itu perlu jig dan penjepit yang disesain khusus agar mampu mencegah kerusakan benda kerja atau pisau.

Gambar 1. Prinsip up milling disertai arah gaya terhadap benda kerja b. Frais turun (Down Milling)

Gambar 2. Sudut gerak pemakanan selama frais periperal pada jenis up milling (<90o)

Selama proses down milling (Gambar 3), arah rotasi pisau frais adalah sama dengan arah pemakanan benda kerja. Pisau frais menyayat mulai dari bagian geram (chip) yang paling tebal. Pada down milling, sudut gerak pemakanan (Gambar 4) berkisar 90o-180o. Gaya resultan menekan benda kerja terhadap bidang dasar (base). Dalam kasus dimana arbor pisau kurang kencang, pisau frais naik ke benda kerja, dan tepi pemotongan putus (gempil).

Gambar 3. Prinsip down milling, disertai arah gaya terhadap benda kerja

Gambar 4. Sudut gerak pemakanan selama frais periperal pada jenis down milling (>90o)

Selama down milling arah gaya resultan searah dengan arah gerak pemakanan. Dengan demikian, jika sekrup/ulir pemakanan (pada meja frais) mengalami backlash, gaya resultan membuat sisi lead-bearing pada sekrup/ulir pemakanan berubah pada setiap awal pemotongan 2

karena meja mesin frais tertekan dan ditarik oleh pisau. Mesin frais untuk down milling harus memiliki feed drive tanpa backlash, cutter arbour dan frame dengan kekakuan/kekencangan tinggi. 2. Frais Muka (Face Milling) Pada face milling pisau dipasang pada spindel yang memiliki sumbu putar tegak lurus (ortogonal) terhadap permukaan benda kerja. Namun, pada face milling, pisau tidak hanya memotong dengan mukanya, sesuai yang ditunjukkan dari namanya, namun, seperti pada peripheral milling, penghilangan logam terutama dilakukan pada bagian sisi/tepi dari pemotong. Bagian muka/ujung pisau adalah bagian yang berfungsi sebagai sisi pemotongan sekunder dan menghaluskan permukaan benda yang difrais (Gambar 5). Akibatnya, permukaan dari benda yang difrais mempunyai kualitas permukaan yang tinggi.

Gambar 3. Prinsip face milling Selama face milling, prosedur up milling dan down milling dilakukan secara bergantian. Di awal prosedur pemotongan, arah putaran adalah berlawanan dengan arah pemakanan dari benda kerja (up milling). Namun, mulai dari pertengahan benda kerja (Gambar 6), prosedurnya menyatu dengan down milling. Pergantian prosedur antara up milling dan down milling mampu mengkompensasi sebanyak mungkin penyimpangan gaya pemotongan dan dengan demikian mampu meringankan beban sisi pemotongan. Sehingga face milling memungkinkan untuk pengefraisan logam dengan kecepatan tinggi.

Gambar 6. Pergantian up milling dan down milling selama face milling Jika selama face milling sudut gerak pemakanan A > 0 (lihat pada pembahasan angle of approach), kemudian saat mulai dipotong, ada ruangan untuk tatal, dan sekaligus mata pisau memotong tanpa bergeser terlebih dahulu. 3. Frais Bentuk (Form Milling) Frais bentuk (form milling) adalah sebutan untuk sebuah prosedur pengefraisan dengan pisau frais yang dibentuk sesuai kontur/bentuk akhir dari benda yang akan dihasilkan (Gambar 7). Jika tidak dimungkinkan untuk menghasilkan geometri benda kerja yang spesifik dengan satu pisau seperti telah dijelaskan sebelumnya, maka biasanya beberapa bentuk pisau akan disatukan (Gambar 8) dalam satu set, disebut sebagai gang cutter. Form milling juga termasuk frais ulir, karena menggunakan pisau yang dapat disamakan dengan bentuk/profil ulir . pisau potongnya dibedakan sebagai berikut:

Gambar 7. Jenis pisau potong setengah lingkaran

Gambar 8. Gang cutter (dengan 6 elemen), 1 spacing collars, 2 peripheral milling cutter, 3 staggeredtooth side and face milling cutter, 4 peripheral milling cutter, 5 angle cutter, 6 cutter arbour 4

Long-thread milling Dalam long-thread milling (Gambar 9) pisau frais bentuk piringan (pisau frais dari jenis yang yang telah dijelaskan sebelumnya) menembus benda kerja. Mesin frais long-thread dengan sistem feed gear dan lead screw menghasilkan pemakanan longitudinal oleh pisau frais. Di sini benda kerja dapat berputar baik dalam arah yang sama atau berlawanan dengan pisau frais (up atau down milling). Gambar 9. Konfigurasi pisau frais dan benda kerja pada long-thread milling

Short-thread milling Dalam short-thread milling (Gambar 10), pisau frais berbentuk rol menusuk/menembus benda kerja pada kedalaman penuh, sedangkan benda kerja berputar sekitar 1/6 dari kelilingnya. Ulir selesai difrais setelah 1 revolusi benda kerja.

Gambar 10. 1. Konfigurasi pisau frais dan benda kerja dalam short-thread milling untuk ulir luar 2. Konfigurasi pisau frais dan benda kerja dalam short-thread milling untuk ulir dalam 5

4. Frais Alur (Groove Milling) Groove milling dikerjakan dengan pisau end mill atau side and face mill. Tergantung pada prosedur yang dipilih ketika membuat groove, metode ini diklasifikasikan seperti di bawah ini: Gambar 11. Prinsip plunge milling 1. Frais kedalaman 2. Pemakanan frais pada arah longitudinal 3. Pisau bergerak keluar

a. Plunge Milling untuk Membuat Alur Pada awal plunge milling (Gambar 11.), pisau end mill memotong ke kedalaman penuh dari alur seperti pada proses drill. Selanjutnya sepanjang alur (groove) diproses dalam sekali potong. Karena besarnya jarak pemakanan kedalaman yang ditempuh pisau, untuk sekali pemakanan longitudinal dalam kasus ini dibuat pendek. b. Line Milling untuk Membuat Alur Dengan metode ini, kedalaman alur diproses baris demi baris, bukan dalam satu langkah. Pisau end mill menusuk/menembus benda kerja hanya dangkal dan kemudian memfrais sepanjang alur frais penuh. Pada posisi akhir, pisau frais memotong sedikit lebih dalam. Kemudian pisau memfrais sepanjang alur frais secara utuh dalam arah pemakanan yang berlawanan. Siklus ini diulang sampai pada kedalaman alur yang ingin dicapai (Gambar 12). Karena pemakanan pada arah turun yang rendah untuk setiap langkah, dalam teknik ini, operator dapat mengatur pemakanan longitudinal yang lebih tinggi.

Gambar 12. Prinsip line milling untuk membuat alur

c. Frais Alur dengan Side and Face Milling Cutter Pengefraisan kontinu pada slot atau alur yang panjang (misalnya untuk profil multi-spline) kebanyakan menggunakan pisau frais berbentuk piringan biasa. Penghasilan geram per satuan waktu lebih besar daripada dua metode yang dijelaskan sebelumnya. Gambar 13. Prinsip groove milling dengan side and face milling cuter

C. Aplikasi Teknik Frais 1. Frais Periperal (Peripheral Milling) Adalah tidak mungkin untuk mencapai kualitas permukaan yang sangat baik karena kondisi pemotongan yang sangat tidak menguntungkan (ruangan untuk geram yang tak merata) selama peripheral milling. Akibatnya, peripheral milling terutama digunakan untuk memotong permukaan yang lebih kecil dan untuk membentuk profil dengan cutter gang (Gambar 8). Peripheral milling dalam hubungannya dengan face milling akan menguntungkan jika diterapkan sebagai face side milling bahkan untuk membuat permukaan bertingkat (Gambar 14). Saat menggunakan mesin dengan desain yang sesuai, down milling menghasilkan kualitas permukaan yang lebih baik daripada up milling. Gambar 14. 1. Kontur yang dihasilkan dengan shell end mill DIN 841 2. Alur yang dihasilkan dengan side and face milling cutter

2. Frais Muka (Face Milling) Face milling digunakan untuk menghasilkan permukaan pesawat. Dalam face milling, kepala pisau saat ini menggunakan cemented carbide. Sebuah pedoman umum menyatakan bahwa face milling menjadi prioritas daripada peripheral milling. 3. Frais Bentuk (Form Milling) Permukaan yang dibentuk dengan kontur yang spesifik seperti radius, prisma, sudut untuk dovetail slide dll dibuat dengan form milling. Gang cutters digunakan untuk menghasilkan kontur dengan bentuk profil yang berbeda. Thread milling, long-thread milling dengan pisau frais profil dan short-milling dengan profil pisau frais biasa adalah varian spesial dari form milling. Form milling juga dapat diterapkan untuk memfrais roda gigi dengan teknik single pitch. 4. Frais Alur (Groove Milling) Groove milling didefinisikan sebagai metode untuk menghasilkan alur yang panjangnya terbatas, misalnya alur untuk feather keys menurut DIN 6885, atau alur kontinu, misalnya profil milti-splined untuk splineshafts menurut DIN 5461. D. Ketelitian yang Dapat Dicapai dengan Frais Ketelitian dalam mm IT 8 IT 6 IT 7 Kualitas permukaan selama finishing (peak to-valley height) Rt dalam m 30 10 20-30

Metode Peripheral milling Face milling Form milling

E. Perhitungan Gaya dan Daya 1. Frais Periperal (Peripheral Milling) Pisau side and face milling adalah lurus bergigi lurus, heliks atau staggered-tooth. Pisau frais biasa yang lebih luasmempunyai sisi potong

pada posisi slope (lereng), ditandai dengan sudut heliks (Gambar 16). a. Sudut pendekatan Sudut pendekatan dapat dihitung dari kedalaman potong dan diameter pisau frais (Gambar 15).

Gambar 15. Geram yang belum terbentuk selama peripheral milling

b. Pemilihan diameter pisau frais Untuk peripheral milling dan face milling, diameter pisau frais D direkomendasikan untuk kurang lebih sama dengan lebar pemotongan ap .

(Gambar 16) A c. Kecepatan pisau frais

(lihat Tabel 71)

d. Kecepatan pemakanan pada meja mesin frais

e. Lebar pemotongan Untuk frais bergigi lurus:

Untuk pisau frais dengan sudut heliks (lihat Gambar 16):

Gambar 16. Lebar pemotongan ap selama peripheral milling, 1 pisai frais, 2 benda kerja, Gambar a: ap didefinisikan sebagai lebar pisau frais, Gambar b: ap ditentukan oleh lebar benda kerja f. Ketebalan geram rata-rata (Gambar 17) Selama peripheral milling, ketebalan geram bervariasi, yang mana geram bertambah atau berkurang sesuai arah pemakanan. Ketebalan geram mencapai ukuran maksimal fz selama mata potong pisau frais masuk (down milling) ke dalam atau keluar (up milling) dari benda kerja. Akibatnya ketebalan geram rata-rata yang diasumsikan selama pengefraisan.

10

Gambar 17. Ketebalan geram rata-rata hm hm diukur pada s/2

Ukuran hm berhubungan dengan pendekatan sudut tengah (s/2). Ketebalan geram terjadi pada s/2 dinamakan ketebalan geram ratarata hm. Hal ini dapat ditentukan sesuai persamaan di bawah ini:

g. Gaya pemotongan spesifik Gaya pemotongan spesifik dikoreksi dengan faktor , Kv, Kver dan Kst dengan mempertimbangkan pengaruh sudut rake, kecepatan potong, keausan kompresi geram. Untuk kepentingan penyederhanaan, diasumsikan peningkatan dari kc 30% karena keausan yang muncul pada pisau. Tetapi dalam prakteknya ini dapat lebih besar.

Pengaruh kecepatan potong Kv dipertimbangkan oleh faktor koreksi Kv.

11

Gaya pemotongan spesifik

h. Gaya potong rata-rata per sisi potong pisau frais

i. Jumlah sisi potong yang bersentuhan/kontak

12

j. Daya input mesin

k. Frais muka (face milling) 1) Sudut pendekatan Keputusan apakah akan menggunakan face milling dengan up atau down milling tergantung dari rasio

Dan sudut gerak pemakanan E yang dihasilkan pada akhir pemotongan. Gambar 18.a prinsip face milling A>0o

Gambar 18.b prinsip face milling

13

Untuk frais menurut gambar 169b, bahwa:

2) Pemilihan diameter pisau frais Untuk mendapatkan kondisi kontak yang sesuai, diameter pisau frais yang dipilih harus lebih besar dari lebar pengefraisan B.

14

Namun, diameter pisau frais harus tidak lebih besar dari 150% dari diameter spindel frais.

3) Pengefraisan lateral offset Untuk mendapatkan ketebalan geram optimal pada awal dan akhir pemotongan, senter pisau frais digeser ke tengah benda kerja. Sebagai pedoman praktis (gambar 18) bahwa:

Dari sini kita peroleh:

4) Lebar pemotongan (Gambar 19)

Gambar 19. Parameter pemotongan selama face milling

15

5) Ketebalan potong Untuk menghitung ketebalan potong pada posisi benda kerja yang spesifik, kita menggunakan persamaan di bawah ini:

Selama face milling, ketebalan potong berubah melebihi panjang kontak menuju tengah benda kerja, rata-rata ketebalan geram hm digunakan untuk perhitungan

6) Gaya pemotongan spesifik

Faktor koreksi faktor , Kv, Kver dan Kst , sama dengan yang digunakan pada peripheral milling:

7) Gaya potong rata-rata per sisi potong pisau frais

16

8) Jumlah sisi potong yang bersentuhan/kontak

9) Daya input mesin

l. Perhitungan sederhana dari kecepatan pembuangan/penghilangan volume untuk peripheral dan face milling Untuk metode ini, kecepatan pembuangan/penghilangan volume (potong per menit) Q didasarkan pada.

Daya input mesin yang diperlukan diperoleh dari rasio Q dan konstanta K material. Konstanta material ini ditambahkan pada gaya potong spesifik kc dan yang umum digunakan faktor konversi: 17

Tabel 1. Konstanta material K (dikutip dari Neuhuser, Mhlacker)

F. Waktu Pemesinan Selama Proses Frais Untuk semua teknik frais, berlaku hubungan berikut ini:

Dibandingkan dengan teknik frais yang berbeda, perbedaan hanya terdapat dalam jalur total L yang akan dimasukkan.

18

1. Frais periperal (peripheral milling)

Gambar 20. Jalur peripheral milling

total

selama

Selama finishing, pemotongan ulang dan pembentukan permukaan yang tidak rata, dapat kita samakan lu=la. Dengan demikian, kita peroleh persamaan untuk jalur total di atas. 2. Frais muka (face milling) a. Central face milling Untuk pengasaran (roughing):

Untuk finishing:

19

Gambar 21. Jalur total L selama face milling b. Frais muka eksentrik (eccentrical face milling) Untuk pengasaran (roughing):

Untuk finishing:

Gambar 22. Jalur total L selama eccentric face milling 3. Frais alur (groove milling)

20

Gambar 23. Jalur groove milling

4. Short-thread milling

5. Long-thread milling

21

G. Milling Cutter 1. Bentuk sisi potong dan jumlah gigi pada pisau frais Ada perbedaan mendasar antara pointed tooth dan round cutting edges. Pointed tooth milling cutter edge (Gambar 24) dibentuk dengan frais, sedangkan bentuk rounded cutting edges dibuat dengan menghilangkan (bentuk heliks logaritmik). Pisau frais standar adalah pointed tooth. Digunakan untuk hampir semua pekerjaan frais.

Gambar 24. Bentuk sisi potong pada pisau frais a) Bentuk gigi pointed tooth, b) bentuk gigi relieved mill 2. Arah galur (Flute), sudut helix dan arah pemotongan pada pisau frais Sudut dan permukaan pada mata potong pisau atau gigi didefinisikan sama dengan pemutaran/pembalikan pisau.

22

Gambar 25. Sudut heliks, arah galur dan arah pemotongan pada pisau frais biasa, shell end mill dan end mill cutter (dikutip dari DIN 857) Selain sudut yang telah diperkenalkan dalam buku ini (lihat Gambar 24) tool orthogonal clearance , wedge angle dan rake angle , sudut inklinasi sangat penting di sini. Pada pisau frais, disebut dengan sudut helix. Seperti diperlihatkan dalam gambar 25, sisi potong mungkin memiliki heliks putaran tangan kanan dan kiri. Untuk heliks putar kanan, galur berkerut di sebelah kanan, yang berarti bahwa kecondongannya dari kiri ke kanan bawah. Inklinasi adalah independen/tidak bergantung terhadap arah, dari yang terlihat. Pada pisau frais biasa, shell end mills dan pisau end mill, tidak kita bedakan hanya dari galurnya, tetapi juga arah pemotongan pisau. Sebuah pisau frais dianggap potong kanan, jika berputar ke kanan, dilihat dari driving end. 23

3. Geometri sisi potong pada pisau frais Irisan dari mata potong pisau dapat dibandingkan dengan irisan dari turning tool. Gambar 26 memaparkan kondisi geometris pada pisau frais biasa. Kondisi geometris pada kepala pisau diilustrasikan pada Gambar 27. Persamaan antara pahat bubut dan frais dapat terlihat. Untuk kepala pisau, plan angle berkisar antara 45o-90o.

Gambar 26. Sudut potong dan permukaan pisau frais biasa (dikutip dari DIN 6581)

24

Gambar 27. Sudut dan sisi potong kepala cutter (dikutip dari DIN 6581) 4. Variasi desain pisau frais biasa dan rentang aplikasi Tipe pisau frais

25

Tabel 2. Kisaran aplikasi tipe-tipe pisau (dikutip dari DIN 1836)

a. Lebar pisau frais biasa (Gambar 28) Kisaran aplikasi Digunakan untuk pengasaran/roughing dan finishing permukaan benda kerja yang dikerjakan dengan mesin frais horisontal. Untuk pemotongan tingkat berat, 2 pisau frais biasa dipasangkan, berarti bahwa mereka digabungkan melalui semacam claw toothing (Gambar 29). Heliks kedua bagian pisau frais yang berpasangan saling berlawanan. Akibatnya, gaya aksial saling mengimbangi satu sama lain.

Gambar 28. Pisau frais biasa dengan pengunci

26

Gambar 29. Pasangan pisau frais biasa Standar:

Dimensi:

b. Shell end mills Kisaran aplikasi: Shell end mill (Gambar 30) bukan hanya sisi potong periperal, tetapi juga sisi potong pada sisi muka. Sehingga, dapat digunakan untuk memproduksi permukaan biasa dan ortogonal.

Gambar 30. Shell end mill with cotter

27

c. Sisi dan muka pisau frais(Side and face milling cutters) Kisaran aplikasi: Sisi dan muka pisau frais dilengkapi dengan sisi potong muka sirkumferensial pada kedua sisinya (Gambar 31). Tipe ini digunakan untuk menghasilkan benda kerja cecara kontinu hingga lebarnya 32 mm. Sisi dan muka pisau fraistersedia dalam desain straight-tooth dan staggered-tooth. Staggered-tooth mill sisi potongnya menembus material langkah demi langkahnya lebih tenang. Untuk alasan ini, staggered-tooth milling cutter (bentuk A) digunakan untuk pemotongan kelas berat. Straight-tooth milling cutters (bentuk B) digunakan untuk produksi alur datar.

Gambar 31. Side and face milling cutter, staggered-tooth, bentuk A

Gambar 32. Side and face milling cutter, staggered-tooth, bentuk B

28

d. Slot drills Kisaran aplikasi: Slot drills atau pisau alur digabungkan staggered-tooth side dan face milling cutters yang lebarnya bisa menyesuaikan dengan spacer (Gambar 33). Dimensi untuk setting lebar kira-kira 1/10-1/8 lebar nominal pisau. Slot drill cuts, seperti side and face milling cutter, pada 3 sisi.

Gambar 33. ISO side and face milling cutter with inserted cemented carbide tips

e. Pisau frais sudut dan pisau sudut tunggal Kisaran aplikasi: Pisau frais sudut menurut DIN 1823 digunakan untuk menghasilkan 29

blockouts dan recesses, seperti alur pada pisau (Gambar 34). Pisau sudut tunggal DIN 842, yang mempunyai tepi potong tambahan pada mukanya, digunakan untuk menghasilkan rongga guideyawy (misalnya dovetails guides) (Gambar 35). Sudut potong frais (sudut t) adalah 50o untuk pisau sudut tunggal. Untuk desin khusus, sudut ini berkisar antara 55o-80o.

Gambar 34. Pisau frais sudut

Gambar 35. Pisau sudut tunggal

30

f. Pisau frais bentuk V dan pisau frais melingkar Kisaran penggunaan: Bentuk V atau pisau sudut sama (Gambar 36) menghasilkan bentuk prismatis dengan sudut 45o, 60o, dan 90o. Pisau bulat sudut tunggal dan pisau radius (Gambar 37) digunakan untuk menghasilkan kontur melingkar. Pisau radius dibagi sesuai dengan arah radius cembung (melengkung ke luar) dan cekung (melengkung ke dalam) dan pisau bulat sudut tunggal. Pisau frais ini memungkinkan untuk membuat radius sampai 20 mm.

Gambar 36. Pisau frais bentuk V

31

Gambar 37 pisau frais melingkar a) pisau radius luar (cembung) b) pisau radius dalam (cekung) c) pasangan pisau radius yang dapat diatur d) pisau bulat sudut tunggal g. Pisau end mill Seperti pada twist drills, kami membagi pisau end mill dalam pisau dengan shank silindris dan pisau frais dengan tapper shank (morse taper 1-5, tergantung pada masing-masing diameter pisau frais). Kisaran aplikasi: 1. End mill untuk frais periperal dan frais muka/face milling (Gambar 38) 2. Slotting end mill (Gambar 39) 3. Pisau end mill untuk alur T (Gambar 40)

32

Gambar 38. Pisau end mill

Gambar 39. Slotting end mill

33

Gambar 40. End mill cutter untuk alur T

5. Kepala pisau

Gambar 41. Kepala pisau untuk slab milling

34

Gambar 42. Kepala pisau untuk pisau frais sudut

Gambar 43. Indexable inserts bentuk dasar

35

Gambar 44. Kepala pisau dengan exchangeable indexable milling inserts

Gambar 45. Pisau frais muka (kepala pisau) Tabel 3. Dimensi kepala pisau (mm) menurut DIN 2079

36

6. Penyangga untuk pisau frais lurus a. Arbor pisau frais

Gambar 46. Arbor pisau frais 1 grooved shaft, 2 steep taper, 3 thread with locknut, 4 shoulder Standar arbor pisau frais dijelaskan di bawah ini:

Gambar 47. Arbor pisau frais yang terpasang kuat pada mesin frais

Gambar 48. Arbor pisau frais dengan side and face milling cutters dan step bearings

37

b. Shell end mill arbours

Gambar 49. Shell end mill arbour with keyway menurut DIN 6360

Gambar 50. Shell end mill arbour dengan cross-slot menurut DIN 6361 c. Milling adaptors Milling adaptors (DIN 6364) digunakan untuk memasang pisau end mill dengan morse taper dan sarung tirus (Gambar 51).

Gambar 51. Milling adaptors untuk pisau dengan morse taper dan tapped shank d. Milling collet

Gambar 52. Milling collet for milling cutters with cylindrical shank a) untuk pisau frais dengan lateral lock-in area b) clamping chuck with collet 38

7. Pemasangan dan pengikatan kepala pisau

Gambar 53. Pemasangan langsung dalam spindel mesin a) Dengan senter luar DIN 2079 A b) dengan senter dalam

Gambar 54. Adaptor penahan kepala pisau frais a) spindle- and cutter head side centered outside b) spindle side centred outside, cutter head side centered inside

8. Material pemotong a. Pisau yang dibuat dari high speed steel 1) Common high speed steel

2) High speed steels alloyed with cobalt

39

3) HSS-ES steels (cobalt-based super alloys)

b. Cemented carbide H. Kegagalan Proses Frais

40

I. Tabel Referensi

41

42

J. Contoh

43

44

45

46

47

K. Gear machining techniques 1. Proses pemotongan untuk menghasilkan gigi Dalam semua teknik, benda kerja dan pahat bergerak memutar.

1.1 Gear hobbing Dilakukan dengan putaran kontinu. Pisau dan benda kerja berputar pada waktu bersamaan

1.2 Gear shaping/pembentukan gigi Selama pemotongan gigi, gigi potong dan benda kerja berputar saling berlawanan satu sama lain.

1.3 Gear planing Disebut juga slotting adalah metode untuk menghasilkan pitch. Pisau bergerak memotong secara vertikal.

48

2. Form milling Putaran pisau frais dan benda kerja bergeser saling melawan satu sama lain dalam arah aksis benda kerja.

3. Gear grinding Benda kerja melakukan gerak pemakanan dalam arah aksial, bergerak maju-mundur.

49