Anda di halaman 1dari 840

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 1

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

Ikhtishar
A. Pengertian Shalat
1. Bahasa 2. Istilah

B. Pensyariatan Shalat
1. Umat Terdahulu 2. Awal Kenabian Muhammad 3. Shalat Fardhu Lima Waktu

C. Dalil Pensyariatan Shalat


1. Dalil dari Al-Quran 2. Dalil dari As-Sunnah 3. Dalil dari Ijma'

A. Pengertian Shalat 1. Bahasa Dalam bahasa Arab, kata shalat bermakna doa (). Kata shalat dengan makna doa dicontohkan di dalam Al-Quran AlKariem pada ayat berikut ini.


Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan shalatlah (doakanlah mereka). (QS. At-Taubah : 103)

Dalam ayat ini, kata shalat yang dimaksud sama sekali

41

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

bukan dalam makna syariat, melainkan dalam makna bahasanya secara asli yaitu berdoa. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits Muslim, bahwa Rasulullah SAW bila ada orang membayar zakat, maka beliau mendoakan keberkahan buat orang itu.

: :

Dari Abdullah bin Abi Aufa berkata bahwa Rasulullah SAW bila ada suatu kaum menyerakan zakat, maka beliau mengucapkan Allahumma shalli 'alaihim. (HR. Muslim)

Bahkan ketika Abdullah bin Abi Aufa menyerahkan zakatnya sendiri, maka Rasulullah SAW mengucapkan shalawat untuknya.


Namun sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa perintah untuk membacakan doa atau shalawat kepada orang yang menyerahkan zakat ini telah dinasakh, sehingga kemudian sudah tidak lagi diperbolehkan membaca shalawat kecuali hanya kepada Rasulullah SAW saja.1 2. Istilah Adapun menurut istilah dalam ilmu syariah, shalat didefinisikan oleh para ulama sebagai : 2


Serangkaian ucapan dan gerakan yang tertentu yang dimulai
1 2

Al-Qurthubi, Al-Jami' li ahkamil Quran, Fathul Qadir jilid 1 hal. 191, Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 120, Kasysyaf Al-Qinaa' jilid 1 hal. 221.

42

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 1

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dikerjakan dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

Al-Hanafiyah punya pengertian sendiri tentang definisi shalat, yaitu :

Nama untuk serangkaian perbuatan yang sudah dikenal, di antaranya berdiri, ruku' dan sujud.

B. Pensyariatan Shalat Shalat adalah ibadah yang telah disyariatkan sejak masa yang lama, kepada semua Nabi dan ummatnya, di semua peradaban dan masa. Juga sudah disyariatkan sejak awal mula turun wahyu di masa kenabian Muhammad SAW. Dan akhirnya disempurnakan lagi pada peristiwa Mi'raj ke Sidratil Muntaha. 1. Umat Terdahulu Tidak ada seorang Nabi atau rasul, kecuali telah diperintahkan untuk mengerjakan ibadah shalat. Meski barangkali tata cara dan aturannya mengalami perbedaan, sesuai dengan apa yang Allah tetapkan, namun intinya tiap risalah yang turun selalu ada kewajiban shalat di dalamnya. a. Anak Cucu Nabi Adam Anak cucu keturunan Nabi Adam 'alaihissalam dan para Nabi diceritakan di dalam Al-Quran bahwa mereka diperintahkan untuk bersujud (shalat).

43

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orangorang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam : 59)

b. Nabi Ibrahim Nabiyullah Ibrahim 'alaihissalam sebagai abul anbiya' (bapak dari para nabi) juga menerima perintah dalam syariat yang turun kepadanya untuk mengerjakan shalat. Dan hal itu tercermin dari doa beliau agar anak keturunannya termasuk orang yang mengerjakan shalat.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat (QS. Ibrahim : 37)

c. Nabi Musa Bangsa yahudi dan bangsa Mesir yang dipimpin oleh Nabi Musa dan saudaranya Nabi Harun 'alaihimassalam juga telah diperintahkan untuk mengerjakan shalat.


Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu

44

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 1

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman". (QS. Yunus : 87)

d. Nabi Zakaria Bani Israel di masa kemudian juga diperintahkan shalat lewat Nabi Zakaria 'alaihissalam sebagaimana disebutkan AlQuran.

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan Shalat di mihrab (QS. Ali Imran : 39)

e. Nabi Isa Umat Nasrani juga disyariatkan untuk mengerjakan shalat lewat Nabi Isa 'alaihissalam. Beliau juga melaksanakan shalat sebagaimana disebutkan Al-Quran.


Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) Shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup (QS. Maryam : 31)

Selain dalil dari Al-Quran, juga ada banyak dalil dari hadits nabawi yang menerangkan bahwa para Nabi terdahulu telah disyariatkan untuk mengerjakan shalat. Salah satunya adalah hadits berikut ini :

Sesungguhnya kami para Nabi telah diperintahkan untuk mengakhirkan sahur, mempercepat berbuka puasa, dan meletakkan tangan kanan kami di atas tangan kiri dalam shalat (HR. At-Thabrani)

Meski kita sebagai umat Islam tidak mengakui Bible sebagai kitab suci, namun kalau kita mau teliti, di dalamnya juga ada isyarat yang menjadi petunjuk adanya syariat shalat kepada

45

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

para Nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW. Tentu tidak lengkap pencatatannya, tapi masih dapat ditelusuri, antara lain :
Shalat Nabi Musa Segera Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah, seraya berkata :"Jika aku telah mendapat kasih....... " Keluaran 34:8-9 Shalat Nabi Sulaiman (Salomo) Kemudian berdirilah Salomo di depan mezhab Tuhan, dan ditadahkanlah tangannya ke langit, lalu ia berkata : "Ya Tuhan Allah Israel.........." I Raja2 8 :22 Shalat Nabi Yusak (Yosua) Jawabnya : "Bukan, tetapi akulah panglima bala tentara Tuhan, sekarang aku datang. "Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata "Apakah yang akan dikatakan kepada............ Yosua 5 :14 Shalat Nabi Ayub Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya dan mencukur kepalanya kemudian sujudlah ia dan menyembah........... Ayub 1 : 20-21 Shalat Nabi Isa Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya: "Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan....Matius 26:39 Yesus berlutut dan berdoa....... Lukas 22: 41-41 Yesus merebahkan diri ketanah dan berdoa..... Markus 14: 35-6 Shalat orang Israel (yahudi) Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah..... Keluaran 12 : 27-28 Berlutulah mereka diatas lantai dengan muka mereka sampai ke tanah, lalu sujud menyembah dan ......... II Tawarikh 7:3

Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa gerakan shalat para Nabi terdahulu juga bangsa Yahudi, versi Bible adalah berdiri, berlutut, sujud, menyembah, menengadahkan tangan dan berdoa memuji kebesaran Tuhan dan meminta pertolongan.

46

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 1

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

2. Awal Kenabian Muhammad Selama ini tidak jarang orang yang mengira bahwa shalat baru disyariatkan kepada umat Islam semenjak terjadinya peristiwa miraj ke Sidratil Muntaha. Anggapan ini tidak keliru sepenuhnya, namun yang sesungguhnya bahwa persitiwa Mikraj itu untuk menyempurnakan syariat shalat dan mewajibkan shalat lima waktu. Sebelum shalat lima waktu yang wajib disyariatkan, sesungguhnya Rasulullah SAW dan para shahabat sudah disyariatkan untuk menjalankan ibadah shalat. Hanya saja ibadah shalat itu belum seperti shalat 5 waktu yang disyariatkan sekarang ini.

Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah (shalatlah) di sepanjang malam kecuali sedikit (QS. Al-Muzzammil : 1-2)

Ayat-ayat ini, oleh para mufassirin, disebut-sbut sebagai ayat yang turun kedua kali setelah kali yang pertama, yaitu lima ayat awal surat Al-'Alaq. Aisyah radhiyallahuanha menyebutkan bahwa ayat itu menjadi dasar bahwa dahulu Rasulullah SAW dan para shahabat telah menjalankan ibadah shalat di malam hari sebagai kewajiban. Setidaknya selama setahun sebelum kewajiban shalat malam itu diringankan menjadi shalat sunnah. Sedangkan Said bin Jubair mengatakan bahwa Rasulullah SAW dan para shahabat difardhukan melakukan shalat malam selama 10 tahun lamanya. 3 3. Shalat Fardhu Lima Waktu Barulah pada malam mi'raj disyariatkan shalat 5 kali dalam sehari semalam yang asalnya 50 kali. Peristiwa ini dicatat dalam sejarah terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-5 sebelum peristiwa hijrah Nabi SAW ke Madinah, sebagaimana tertulis
3

Al-Imam Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkamil Al-Quran, jilid 12 hal. 348

47

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

dalam hadits nabawi berikut ini :

:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu"Telah difardhukan kepada Nabi SAW shalat pada malam beliau diisra'kan 50 shalat, kemudian dikurangi hingga tinggal 5 shalat saja. Lalu diserukan,"Wahai Muhammad, perkataan itu tidak akan tergantikan. Dan dengan lima shalat ini sama bagi mu dengan 50 kali shalat". (HR. Ahmad, An-Nasai dan dishahihkan oleh AtTirmizy)

Sebagian dari mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa shalat disyariatkan pada malam miraj, namun bukan 5 tahun sebelum hijrah, melainkan pada tanggal 17 Ramadhan, satu setengah tahun sebelum hijrah nabi. C. Dalil Pensyariatan Shalat Shalat diwajibkan dengan dalil yang qath'i dari Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma umat Islam sepanjang zaman. Tidak ada yang menolak kewajiban shalat kecuali orang-orang kafir atau zindiq. Sebab semua dalil yang ada menunjukkan kewajiban shalat secara mutlak untuk semua orang yang mengaku beragama Islam yang sudah baligh. Bahkan anak kecil sekalipun diperintahkan untuk melakukan shalat ketika berusia 7 tahun. Dan boleh dipukul bila masih tidak mau shalat usia 10 tahun, meski belum baligh. 1. Dalil dari Al-Quran Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Kariem :


48

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 1

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam agama yang lurus, supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah : 5)


Maka dirikanlah shalat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. (QS. Al-Hajj : 78)


Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa : 103)


Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku.(QS. Al-Baqarah : 43)

Dan masih banyak lagi perintah di dalam kitabullah yang mewajibkan umat Islam melalukan shalat. Paling tidak tercatat ada 12 perintah dalam Al-Quran lafaz aqiimush-shalata ( ) yang bermakna "dirikanlah shalat" dengan fi'il Amr (kata perintah) dengan perintah kepada orang banyak (khithabul jam'i). Di antaranya pada ayat-ayat berikut ini :
Surat Al-Baqarah ayat 43, 83 dan110 Surat An-Nisa ayat 177 dan 103 Surat Al-An'am ayat 72 Surat Yunus ayat 87 Surat Al-Hajj : 78 Surat An-Nuur ayat 56 Surat Luqman ayat 31 Surat Al-Mujadalah ayat 13 Surat Al-Muzzammil ayat 20.

Dan ada 5 perintah shalat dengan lafaz "aqimish-shalata" (

49

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

)yang bermakna "dirikanlah shalat" dengan khithab hanya

kepada satu orang, yaitu pada :


Surat Huud ayat 114 Surat Al-Isra' ayat 78 Surat Thaha ayat 14 Surat Al-Ankabut ayat 45 Surat Luqman ayat 17.

2. Dalil dari As-Sunnah Di dalam sunnah Rasulullah SAW, ada banyak sekali perintah shalat sebagai dalil yang kuat dan qath'i tentang kewajiban shalat. Diantaranya adalah beberapa hadits berikut ini :

Dari Ibni Umar radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Islam didirikan di atas lima haldan penegakan shalat". (HR. Bukhari dan Muslim)

...


Pokok masalah adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah. (HR. Tirmizy)

Masalah yang pertama kali akan ditanyakan kepada seorang hamba di hari kiamat adalah shalat. Bila shalatnya itu baik, maka dia beruntung dan sukses, namun bila rusak maka dia kecewa dan rugi. (HR. Tirmizy)

3. Dalil dari Ijma' Bahwa seluruh umat Islam sejak zaman Nabi SAW hingga hari ini telah bersepakat atas adanya kewajiban shalat dalam agama Islam, lima kali dalam sehari semalam. Dengan adanya dalil dari Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma' di

50

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 1

Bab 1 : Pengertian & Pensyariatan

atas, maka lengkaplah dalil kewajiban shalat bagi seorang muslim. Mengingkari kewajiban shalat termasuk keyakinan yang menyimpang dari ajaran Islam, bahkan bisa divonis kafir bila meninggalkan shalat dengan meyakini tidak adanya kewajiban shalat.

51

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Ikhtishar
A. Hikmah-hikmah Yang Sering Dipakai
1. Kesehatan 2. Olahraga 3. Ketenangan Jiwa 4. Kedisiplinan 5. Mistik

B. Terjebak Hikmah
1. Memberi Semangat dan Motivasi 2. Mencari Popularitas

C. Shalat Berdasarkan Tutunan


1. Tidak Ada Rahasia 2. Hasil Imajinasi

Di tengah umat Islam ada banyak berkembang kajian yang mengaitkan shalat dan tujuannya secara duniawi. Biasanya tujuan shalat secara dunia seringkali dikaitkan dengan kesehatan tubuh, ketenangan jiwa, kedisiplinan bahkan dengan sain. A. Hikmah-hikmah Yang Sering Dipakai Seringkali kita mendengar dan membaca ulasan tentang hikmah shalat, yaitu manfaat shalat secara ukuran duniawi. Di antara hikmah yang sering disinggung adalah kesehatan, olahraga, ketenangan jiwa, kedisiplinan dan juga mistik.

53

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

1. Kesehatan Shalat dan kaitannya dengan kesehatan diungkapkan salah satunya dalam desertasi doktor yang ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Soleh yang berjudul Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi . Dalam disertasi itu dijelaskan bahwa tiap gerakan shalat ternyata punya nilai dan manfaat tersendiri dari sisi kesehatan. Misalnya gerakan sujud. Sujud menurut disertasi ini adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya. Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi). 2. Olahraga Sebagian orang ada yang berupaya untuk 'memperkosa' ibadah shalat menjadi gerakan-gerakan yang terkait dengan olahraga. Gerakan-gerakan shalat yang asalnya dari ketentuan Allah SWT itu dikupas dan dijelaskan manfaatnya sesuatu dengan tujuan olahraga.

54

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Misalnya gerakan berdiri tegak, diasumsikan akan meluruskan tulang belakang dan melancarkan aliran darah. Atau gerakan ruku' yang membungkuk, akan mengencangkan otot-otot pada punggung. Atau posisi sujud akan mengalirkan lebih banyak darah ke kepala dan seterusnya. Dalam kasus tertentu secara kebetulan bisa saja kita terima hal penjelasan itu. Namun jangan sampai kita salah arah, sehingga beranggapan bahwa tujuan shalat itu adalah berolahraga dan meregangkan otot-otot yang kaku. Sebab Allah SWT dan Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah mengaitkan shalat dan olah raga, baik secara eksplisit atau pun secara implisit. Yang dikhawatirkan adalah apabila ada ketidak-sesuaian aturan dalam gerakan dan posisi shalat dengan aturan dalam berolah-raga. Maka akan terjadi kebingungan, manakah dari keduanya yang harus diikuti. Dan akan menjadi fatal akhirnya ketika gerakan dan posisi shalat yang datang dari nash-nash syariah harus 'dikalahkan' dengan ketentuan yang berlaku dalam dunia olahraga. Sayangnya, kita justru lebih sering mendengar hal seperti ini dalam kenyataannya. Sehingga ritual shalat berubah acuannya dari wahyu kepada semata-mata logika olahraga. 3. Ketenangan Jiwa Sebagian dari umat Islam ada yang mengaitkan antara shalat dan kondisi jiwa seseorang. Seolah-olah ingin memaksakan bahwa di antara manfaat shalat itu menyebabkan jiwa menjadi tenang. Padahal ketenangan jiwa yang dimaksud ternyata hanya hasil adaptasi dari praktek-praktek kontemplasi dan yoga. Keduanya dicoba dikawinkan dengan gerakan-gerakan shalat, yang seharusnya murni bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Berbagai gerakan dan posisi shalat disebut-sebut mengandung unsur tertentu, yang dapat membantu agar seseorang bisa melakukan kontemplasi. Shalat yang benar

55

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

dikatakan apabila bisa benar-benas mengosongkan pikiran. Sayang sekali kemudian banyak orang yang terpana dengan cara-cara seperti ini. Dan apa yang dikhawatirkan kemudian terjadi, yaitu shalat akhirnya mengalami perubahan bentuk dari aslinya menjadi tapa dan yoga. Padahal Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk mengosongkan pikiran, apalagi dalam shalat. Sebab kalau pikiran kososng dalam shalat, yang terjadi malah lupa apa yang sedang dikerjakan. Padahal shalat itu tidak lain merupakan aktifitas dzikir dan fikir, karena di dalam shalat kita membaca lafadz-lafadz wahyu yang Allah turunkan, dimana lafadz itu bukan mantera untuk mengosongkan pikiran, melainkan hukum dan ketentuan Allah SWT. Kalau pikiran jadi kosong, maka shalatnya menjadi rusak. Ada juga yang meyakini bahwa shalat harus bisa membuat orang jadi lupa akan rasa sakit di badan. Dan yang menjadi korban biasanya adalah mitos yang dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu. Konon dikabarkan bahwa ketika terkena anak panah yang menancap di tubuhnya dalam perang, beliau melakukan shalat dua rakaat dengan khusyu', sehingga ketika anak panah itu dicabut, beliau tidak merasakan sakit sedikit pun. Tentu hal itu sama sekali tidak berdasar pada nash-nash syariat Islam. Sebab selain hadits itu palsu dan tidak jelas sumbernya, jutru Rasulullah SAW ketika shalat sangat tahu keadaan di sekelilingnya. Beliau SAW memperlama sujud ketika tahu cucunya naik di atas punggungnya, namun beliau SAW mempercepat shalatnya ketika mendengar tangis bayi. Kalau Rasulullah SAW shalat dan tidak ingat apa-apa, tidak mungkin beliau memperlama sujud atau mempercepat shalatnya. 4. Kedisiplinan Sebagian orang mengaitkan hikmah shalat kedisiplinan. Di antara manfaat shalat adalah melatih kedisiplinan para jamaah, dimana shalat jamaah merupakan model pelatihan untuk

56

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

membentuk watak kedisiplinan. Di antaranya disiplin waktu, karena setiap shalat fardhu sudah punya waktu masing-masing. Sehingga apabila dijalankan dengan benar, maka shalat itu menjad sarana mendisiplinkan diri. Secara subjektif, boleh saja seseorang mengaku mendapatkan hikmah dari shalat berupa kedisiplinan waktu. Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa arti dan maksud dari shalat adalah agar seorang muslim bisa berdisiplin dalam mengatur waktunya. Sebab ada sedemikian banyak orang yang disiplin dalam waktunya, bukan karena rajib shalat. Sebaliknya, banyak orang yang disiplin menjalankan shalatnya, tapi kurang disiplin dalam masalah waktunya. Maka harus diakui bahwa sesungguhnya tidak ada hubungan apapun antara aktifitas shalat sebagai ibadah dengan tingkat kedisiplinan pelakunya. 5. Mistik Ada lagi orang yang mengait-ngaitkan shalat ini dengan apa yang mereka sebut dengan sain, walaupun sebenarnya justru sama sekali bukan sain melainkan mistik. Misalnya Prof. Riset. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS. dalam bukunya, The Science of Shalat. Dalam buku itu, penulisnya menyampaikan apa yang belum pernah ditulis oleh siapa pun di dunia ini tentang kaitan waktuwaktu shalat dengan apa yang disebutnya sebagai sain. Seolah-olah ada kesan bahwa ibadah shalat itu sangat ilmiyah, karena ada kecocokan dengan dunia sain modern. Sayangnya, kalau kita telusuri lebih dalam, lama-lama dahi kita jadi berkerut-kerut, karena apa yang dikatakannya sebagai sain ternyata sangat jauh dari kenyataan. Menurutnya setiap peralihan waktu shalat, bersamaan dengan terjadinya perubahan energi alam yang dapat diukur dan dirasakan melalui perubahan warna alam. Ini aneh di

57

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

telinga kita, apa yang dimaksud dengan energi alam? Kita mengenal energi yang bersumber dari alam, misalnya minyak bumi, batu bara, gas dan sebagainya. Tetapi energi alam berupa perubahan warna alam? Dunia sain yang sesungguhnya tidak pernah mengenal istilah aneh itu. Menurut buku itu, konon pada waktu subuh, alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok), maka orang yang tidak bangun shubuh memiliki pengaruh terhadap sistem metabolisme tubuh manusia, rezeki dan cara berkomunikasi. Mereka yang masih tertidur pulas pada waktu subuh akan menghadapi masalah rezeki dan komunikasi, karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika ruh dan jasad masih tertidur. Tentu asumsi ini perlu dikritisi, kalau mau dikaitkan dengan sain. Apa benar orang yang tidak shalat shubuh akan mengalam masalah dengan metobolisme tubuh? Bukankah semilyar orang di China yang komunis itu tidak pernah shalat, adakah data bahwa seluruh penduduk RRC itu mengalami masalah dengan metabolisme tubuh? Buku itu juga menjelaskan bahwa ketika memasuki waktu zhuhur, warna alam menguning dan berpengaruh terhadap perut dan sistem pencernaan, hati dan keceriaan seseorang. Jadi, mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan shalat zhuhur berulang-ulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaannya serta berkurang keceriaannya. Aneh sekali kalau dikatakan warna alam menguning. Alam itu luas, terdiri dari daratan, lautan, atmosfir bahkan angkasa luar. Alam yang mana yang berwarna kuning? Lalu apa hubungannya dengan sistem pencernaan, hati dan keceriaan seseorang? Dan masih banyak lagi asumsi-asumsi yang dikait-kaitkan dengan shalat dan mistik serta tahayul dalam buku itu. B. Terjebak Hikmah

58

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Dalam pandangan syariat Islam, shalat tidak pernah dikaitkan dengan hikmah dan manfaat secara duniawi. Sebab shalat semata-mata hanya ibadah ritual, dimana Allah SWT sebagai Tuhan yang disembah telah menetapkan teknis detail tata cara kita menyembah-Nya. Meski pun kita tidak menampik bahwa boleh saja secara kebetulan, ketika seseorang mengerjakan ibadah shalat, dia mendapatkan keuntungan yang bersifat duniawi. Ada juga orang yang ketika mengerjakan shalat, rasa kantuknya menjadi hilang. Hal itu karena sebelum shalat dia berwudhu dan membasuh wajahnya dengan air. Pantas saja rasa kantuknya hilang. Namun bukan berarti kita boleh menyimpulkan bahwa shalat adalah obat yang bisa mengusir rasa kantuk. Dan dalam kasus tertentu, karena terlihat rajin shalat ke masjid oleh calon mertua, akhirnya pinangan diterima dengan tangan terbuka. Namun kita tidak boleh membuat kesimpulan bahwa salah satu hikmah shalat adalah melunturkan hati calon mertua. Tujuan kita mengerjakan shalat harus bersih, tidak diliputi dengan tujuan-tujuan yang dibuat-buat, atau dikait-kaitkan dengan hikmah duniawi. Tujuan shalat semata-mata hanya menuruti kemauan Allah SWT dalam rangka beribadah kepadaNya, sesuai dengan prosedur yang telah Dia tetapkan. 1. Memberi Semangat dan Motivasi Ada sebagian kalangan yang sering berargumen bahwa tujuan dari menyebutkan banyak hikmah shalat adalah agar bisa memberikan semacam motivasi kepada mereka yang masih suka malas dalam mengerjakan shalat. Niatnya memang mulia, yaitu agar mereka berubah jadi rajin shalat. Namun kalau caranya kurang tepat, justru dikhawatirkan malah akan jadi bumerang kepada diri sendiri. Memotivasi orang untuk rajin shalat tentu bukan dengan cara mengiming-imingi dengan hikmah-hikmah duniawi. Sebab yang namanya hikmah sifatnya sangat relatif, kadang benar dan

59

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

kadang tidak benar. Siapa yang bisa menjamin bahwa dengan membiasakan diri mengerjakan shalat berjamah, maka akan hal itu akan melahirkan sikap disiplin? Belum tentu juga hasilnya seperti ini. Buktinya, bangsa Arab adalah bangsa yang paling tidak disiplin di dunia ini, padahal mereka tiap hari shalat berjamaah. 2. Mencari Popularitas Selain bertujuan untuk memberi semangat agar orang rajin mengerjakan shalat, juga ada tujuan sekedar untuk mendapatkan popularitas diri atas apa yang disampaikan. Seolah-olah bila mampu memberikan statemen yang belum pernah orang sampaikan sebelumnya, maka ada semacam kebanggaan tersendiri, karena bisa berbeda dengan yang lain. Dan tentu saja menjadi populer, sehingga kemudian bisa dijadikan komoditas yang dijual kepada khalayak, baik berupa buku, paket pelatihan, dan tayangan di media. Ujung-ujungnya, pelajaran shalat dengan cara seperti itu hanya dijadikan alat untuk mendatangkan popularitas dan materi semata. C. Shalat Berdasarkan Tuntunan Namun yang menjadi pertanyaan penting adalah : apakah semua kaitan antara shalat dengan kesehatan atau tujuan-tujuan lainnya itu bisa diterima dalam syariat Islam? Dan apakah menjadi tugas kita untuk mencari manfaat dan hikmah di balik tiap gerakan ritual shalat? Dan bisakah semua itu dipertanggung-jawabkan sebagai bagian dari ilmu tentang shalat, ataukah sifatnya hanya manfaat yang bersifat subjektif dan kebetulan saja? Sebenarnya gerakan shalat dan juga bacaannya merupakan tata cara peribadatan yang bersifat ritual, turun dari langit dibawa oleh Malaikat Jibril alaihissalam, sebagai paket amanat yang harus dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dan ummatnya.

60

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Kejadiannya setelah malam sebelumnya, Rasulullah SAW menerima perintah prinsip shalat lima waktu dalam peristiwa mikraj ke Sidratil Muntaha. Ketika mengajarkan gerakan dan bacaan shalat itu, Jibril tidak memberi keterangan apapun tentang makna atau rahasia di balik gerakan dan ucapan di dalam shalat. Jibril hanya memberi contoh kepada Rasulullah SAW berbagai gerakan itu seperti berdiri, bersedakep, ruku, itidal, sujud, duduk di antara dua sujud atau duduk tahiyat. Dan Rasulullah SAW sebagai penerima paket ritual ibadah shalat, juga tidak bertanya tentang makna gerakan-gerakan itu. Beliau hanya menirukan apa yang diajarkan Jibril apa adanya saja, tanpa ada satu pun penjelasan. Hingga beliau SAW wafat, tidak pernah terlontar dari mulut beliau tentang makna gerakan dan posisi tubuh saat shalat. Para shahabat ridhwanullahi alaihim kemudian mengerjakan gerakan shalat sebagaimana mereka melihat beliau SAW mengerjakannya. Namun dari 124.000 orang shahabat, tidak satu pun dari mereka yang kemudian mencoba-coba sambil iseng untuk memaknai gerakan dan posisi shalat itu. Bahkan sampai 14 abad kemudian umat Islam di seluruh permukaan bumi ini mengerjakan shalat, tidak ada satu pun yang mencari-cari atau mengarang-ngarang sendiri tentang makna dan posisi tubuh dalam shalat. 1. Tidak Ada Rahasia Pada hakikatnya gerakan shalat itu tidak boleh dicarikan makna atau rahasia, karena memang tidak pernah ada penjelasan dari Allah SWT untuk itu. Karena gerakan itu semata-mata merupakan gerakan ritual yang merupakan ketetapan dari Allah, dimana Dia hanya mau disembah hanya dengan cara itu. Allah SWT sama sekali tidak memberikan penjelasan atau pun alasan tentang makna-maknanya. Perbedaan paling nyata antara agama Islam dengan agama lain adalah masalah originalitas. Alasan kita untuk tetap memeluk Islam adalah karena hanya Islam saja agama yang

61

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

masih utuh terjaga orisinalitasnya, tidak tercampur dengan unsur kreasi dan rekayasa manusia. Agama samawi yang pernah Allah turunkan sudah cukup banyak, bahkan tidak kurang 124.000 Nabi dan rasul telah diutus. Tapi nyaris tak satu pun yang selamat dari penodaan tangan-tangan manusia, termasuk penyelewengan dan pemutarbalikan. Maka ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, semua agama yang pernah diturunkan sebelumnya dibatalkan dan tidak berlaku lagi. Cukup satu agama saja yang berlaku dan cukup satu Nabi saja yang dijadikan rujukan, yatiu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Apa yang diajarkan oleh beliau, maka itulah agama Islam. Sebaliknya, apa yang tidak beliau ajarkan, berarti hal itu bukan bagian dari agama Islam. Gerakan shalat yang kita lakukan setiap hari tidak lain adalah gerakan yang beliau ajarkan. Asal gerakan-gerakan itu bersumber dari Allah SWT, yang disampaikan melalui malaikat Jibril alaihissalam. Rasulullah SAW diminta memperhatikan tata cara gerakan shalat yang didemonstrasikan oleh malaikat yang paling mulia itu, kemudian beliau SAW mengikuti gerakan-gerakan itu dengan seksama. Setelah itu, barulah di depan para shahabat, beliau mempraktekkan gerakan-gerakan shalat yang baru saja beliau saksikan langsung dengan kedua bola mata beliau dari gerakan malaikat Jibril. Para shahabat diminta untuk memperhatikan dengan seksama, seraya beliau bersabda,

"Shalatlah kalian seperti apa yang telah kalian lihat aku shalat". (HR. Ibnu Hibban)

Maka seluruh shahabat menjalankan gerakan shalat persis sebagaimana mereka melihat dan menyaksikan langsung

62

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Rasulullah SAW melakukannya. Gerakan-gerakan itu adalah ritual ibadah yang asli dan original, datang langsung dari Sang Pencipta alam semesta, Allah SWT. Diturunkan sebagai tata cara ritual bagaimana cara menyembah-Nya. Dan Allah SWT hanya ridha kalau disembah dengan cara demikian. Seandainya gerakan-gerakan itu diganti, atau dimodifikasi, atau dikarang-karang sendiri oleh otak manusia, sudah bisa dipastikan bahwa Allah SWT tidak akan ridha. Bahkan meski seseorang berniat untuk mempersembahkan sebuah koreografi gerakan peribadatan yang dahsyat, tetap saja Allah SWT tidak akan menerimanya sebagai bentuk peribadatan. Sebab Allah SWT sudah menetapkan kehendak-Nya. Dia tidak mau disembah kecuali dengan gerakan-gerakan ritual khusus yang Dia sendiri menentukannya. Walhasil, gerakan-gerakan itu memang semata-mata gerakan 'magis', yang kita tidak pernah tahu kenapa harus demikian. Allah SWT ketika memerintahkan gerakan-gerakan itu kepada Nabi-Nya lewat Jibril, tidak menyertakan rahasia atau makna, apalagi manfaat dari semua itu. 2. Hasil Imajinasi Maka siapa pun yang mencoba untuk mencari makna, apalagi mengaku-ngaku mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik semua gerakan itu, kita sepakat bahwa pastilah semua itu hanya dusta penuh hayal yang cuma sekedar hasil imajinasi otak manusia. Wajar bila tidak diridhai Allah SWT, bahkan sebaliknya, malah mendatangkan murka dari-Nya, karena telah mencampuri apa yang menjadi hak dan wewenang Allah. Itulah perbedaan paling prinsipil antara ritual ibadah dalam Islam dengan ritual ibadah dalam agama paganis para penyembah berhala. Tata cara ibadah ritual dalam Islam telah diatur sedemikian rupa langsung oleh Allah, dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, tanpa sedikit pun campur tangan kretifitas manusia.

63

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Sedangkan ritual ibadah agama selain Islam, baik yang dilakukan oleh kalangan penyembah berhala, atau pun agama samawi lain yang sudah tidak berlaku lagi, mereka dengan sepenuh kreatifitas imajinatif, serta dengan luapan hayal yang tinggi, berlomba-lomba menciptakan berbagai macam bentuk ritual peribadatan. Tentu saja sembari berusaha memaknai setiap gerakan ritual itu, tentu sesuai dengan nafsu, rasa, cara pandang, dan selera masing-masing. Agama-agama itu hanyalah sesuatu yang diciptakan oleh tangan-tangan kreatif manusia, persis seperti seni budaya yang merupakan hasil akal budi. Ibarat pencak silat, dimana sang suhu menciptakan berbagai macam kreasi jurus, semua adalah hasil pemikiran akal. Tiap jurus memang mengandung makna tertentu. Semua itu tidak berlaku pada ritual ibadah shalat dalam Islam. Tidak ada satu pun yang berhak menjelaskan rahasia dan makna di balik tiap gerakan shalat, karena gerakan-gerakan itu memang bukan untuk diterjemahkan maknanya. Gerakan itu untuk dijalankan sebagai bentuk perintah dalam beribadah.

64

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Ikhtishar
A. Dalil Tentang Meninggalkan Shalat
1. Dalil Pertama 2. Dalil Kedua 3. Dalil Ketiga

B. Kafir Karena Meninggalkan Shalat


1. Jumhur 2. Mazhab Al-Hanabilah

C. Hukuman di Dunia
1. Tidak Boleh Dibunuh 2. Dibunuh Bukan Karena Kafir 3. Dibunuh Karena Kafir 4. Pendapat Yang Lain

D. Hukuman di Akhirat
1. Neraka Saqar 2. Lembah Wail 3. Hadits Palsu : 15 Jenis Siksaan

E. Bangsa Indonesia dan Shalat


1. Tidak Suka Shalat 2. Shalat Dalam Berbagai Kondisi 3. Minder

F. Terlanjur Meninggalkan Shalat


1. Taubat 2. Qadha'

65

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Posisi shalat dalam syariat Islam menduduki tempat yang amat penting, sehingga meninggalkan shalat, khususnya shalat lima waktu, akan berakibat fatal. Meninggalkan shalat lima waktu bukan hanya berdosa, tetapi dalam kasus tertentu bisa juga berdampak sampai pada gugurnya keislaman seseorang. A. Dalil Tentang Orang Yang Meninggalkan Shalat Tentang gugurnya status keislaman, atau kufurnya orang yang meninggalkan shalat lima waktu, kita menemukan ada beberapa dalil nash hadits, di antaranya : 1. Dalil Pertama

Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkan shalat maka telah kafir. (HR. Tirmizy)

2. Dalil Kedua

-
Antara seseorang dan kekafiran adalah shalat (HR. Muslim)

3. Dalil Ketiga

:
B. Kafir Karena Meninggalkan Shalat

Para shahabat Rasulullah SAW tidak memandang suatu perbutan yang bila ditinggalkan menjadikan kafir kecuali shalat.

Meski di atas telah disampaikan berbagai dalil dari haditshadits nabawi, namun para ulama berbeda pendapat tentang batasan meninggalkan shalat yang berdampak kepada kekafiran pelakunya.

66

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

1. Jumhur Jumhur ulama membedakan batas antara kafir dan tidak dalam hal meninggalkan shalat pada masalah keyakinan atau aqidah, bukan semata-mata karena seseorang meninggalkan shalat. a. Kafir Orang yang kafir adalah orang yang meninggalkan shalat sambil meyakini bahwa shalat bukan bagian dari perintah Allah yang diwajibkan. Hanya saja mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah mengecualikan bila seorang jahidushshalah disebabkan karena dia baru saja masuk Islam. Dia masih sangat awam dan benarbenar tidak tahu kalau ternyata shalat lima waktu itu ternyata bagi seorang muslim hukumnya wajib. Maka mereka ini tidak divonis murtad. b. Berdosa Besar Namun bila seseorang meninggalkan shalat, tetapi dirinya masih meyakini bahwa shalat lima waktu hukumnya wajib, maka dia tidak dianggap kafir. Namun dia berdosa besar karena meninggalkan kewajiban yang paling utama dalam masalah ibadah. 2. Mazhab Al-Hanabilah Namun dalam masalah batsan kafir atau tidak karena meninggalkan shalat, mazhab Al-Hanabilah agak berbeda dengan umumnya pendapat jumhur ulama. a. Kafir Mazhab Al-Hanabilah memandang bahwa seorang muslim yang meninggalkan shalat secara sengaja tanpa udzur yang syar'i telah keluar dari agama Islam alias murtad dari agamanya. Meski pun dia masih mengakui bahwa shalat lima waktu itu hukumnya wajib. Dalam mazhab Al-Hanabilah, batas kafir atau tidaknya seseorang meninggalkan shalat bukan sebatas apakah dia masih

67

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

meyakini apakah shalat lima waktu itu wajib atau tidak, melainkan batasnya adalah apakah ketika meninggalkan shalat ada unsur kesengajaan atau tidak. Bila seseorang secara sengaja meninggalkan shalat, tanpa ada udzur yang dibenarkan, maka hukumnya dia telah murtad dan keluar dari agama Islam. b. Berdosa Besar Namun bila motivasi ketika meninggalkan shalat sematamata karena tidak sengaja, maka dia berdosa besar. C. Hukuman di Dunia Secara duniawi, hukuman seorang muslim yang tidak mau mengerjakan shalat menurut para ulama antara lain : 1. Tidak Boleh Dibunuh Menurut kalangan Al-Hanafiyah, orang muslim yang tidak mau mengerjakan shalat hukumannya di dunia ini adalah dipenjara atau dipukul dengan keras hingga keluar darahnya. Hal itu terus dilaksanakan sehingga dia merasa kapok dan mau mengerjakan shalat. Bila tidak mau juga, maka dibiarkan terus di dalam penjara hingga mati. Namun dia tidak boleh dibunuh kecuali nyata-nyata mengingkari kewajiban shalat. Seperti berkeyakinan secara sadar sepenuhnya bahwa di dalam Islam tidak ada perintah shalat. 2. Dibunuh Bukan Karena Kafir Dalam pandangan kedua mazhab ini, orang yang tidak mau shalat hukumnya tidak kafir, akan tetapi dia tetap harus dibunuh. Kebolehan untuk dibunuhnya itu karena dasar hudud (hukum dari Allah), bukan karena pelakunya kafir. Sehingga orang itu tidak dianggap sebagai kafir yang keluar dari Islam. Kasusnya mirip dengan seorang muslim yang berzina, mencuri, membunuh dan sejenisnya. Mereka ini wajib dihukum hudud meski statusnya tetap muslim. Sehingga jasadnya pun tetap harus dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan Islam.

68

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Jumhur ulama sepakat bahwa muslim yang tidak mengerjakan shalat bukan karena jahd (sengaja tidak mengakui kewajiban shalat), tidak dianggap orang kafir. Dasarnya adalah firman Allah SWT :


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa : 48)

3. Dibunuh Karena Kafir Sedangkan Al-Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa seorang muslim yang meninggalkan shalat harus dibunuh atas dasar bahwa dirinya telah kafir. Pendapat itu didasarkan pada firman Allah SWT :


Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. (QS. At-Taubah : 5)

Juga ada dalil dari hadits Rasulullah SAW :


Batas antara seorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah
69

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

meninggalkan shalat (HR. Muslim)

Namun pendapat yang rajih (lebih kuat) dalam masalah ini adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa bila seorang tidak shalat hanya karena alasan malas, lalai atau baru masuk Islam, maka tidak dianggap kafir. Barulah dikatakan kafir kalau dia secara tegas menolak atau tidak menerima adanya kewajiban shalat dalam Islam. 4. Pendapat Ulama Yang Lain Sedangkan para ulama lainnya mengatakan bahwa bila ada seorang muslim yang malas tidak mau mengerjakan shalat tanpa udzur syar'i, maka dia dituntut untuk bertobat (yustatab) dengan masa waktu tiga hari. Artinya, bila selama masa tiga hari itu dia tidak bertaubat dan kembali menjalankan shalat, maka halal darahnya dan boleh dibunuh. D. Hukuman di Akhirat Setidaknya ada dua nama neraka yang disebut-sebut di dalam Al-Quran buat mereka yang tidak mengerjakan shalat. Neraka yang pertama bernama Neraka Saqar, dan yang kedua bernama Neraka Wail. 1. Neraka Saqar Di dalam Al-Quran diceritakan bagaimana orang-orang yang sedang disiksa di dalam neraka Saqar diwawancarai tentang penyebab mereka sampai dijebloskan masuk ke dalamnya. Meski ada beberapa penyebab, ternyata jawaban mereka yang pertama kali karena mereka meninggalkan shalat.

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat (QS. Al-Muddatstsir : 42-43)

Disebutkan dalam ayat sebelumnya

bahwa sebagian

70

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

penghuni surga yang termasuk ashabul yamin bertanya-tanya tentang nasib keluarga dan orang-orang terdekat mereka yang ternyata tidak masuk ke dalam surga.

Di dalam surga mereka bertanya-tanya (QS. Al-Muddatstsir : 40)

Ternyata keluarga atau teman-teman yang mereka cari itu tidak berada di surga, tetapi berada di dalam neraka. Dan nasib mereka sangat mengenaskan, karena sedang disiksa di dalam neraka Saqar. Lalu lewat malaikat pertanyaan itu disampaikan kepada keluarga dan orang terdekat yang penghuni neraka Saqar itu. Al-Kalbi mengatakan bahwa seorang penghuni surga bertanya kepada seorang penghuni neraka dengan memanggil namanya, "Hai Fulan, kenapa kamu masuk ke dalam neraka Saqar?". 1 Ternyata penyebab nomor satu adalah lantaran mereka meninggalkan shalat. Tentu yang dimaksud dengan shalat yang ditinggalkan disini bukan shalat sunnah. Sebab shalat sunnah itu tidak berdosa kalau ditinggalkan. Shalat yang ditinggalkan disini dan menjadi penyebab seseorang dijebloskan ke dalam neraka Saqar maksudnya adalah shalat fardhu yang lima waktu. Demikian juga dengan tiga dosa berikutnya, yaitu tidak memberi makan fakir miskin, bergabung dengan kebatilan serta mengingkari hari kiamat. Dikatakan : Tidak memberi makan fakir miskin, tentu yang dimaksud bukan infaq yang sifatnya sunnah. Yang dimaksud adalah zakat yang memang merupakan bagian dari rukun Islam, dimana Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu memerangi orang-orang yang mengingkari kewajiban zakat. 2. Lembah Wail

Fathul Qadir,

71

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Sedangkan dalil tentang Neraka Wail terdapat di dalam ayat berikut ini :

Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu yang lalai dari mengerjakan shalatnya. (QS. Al-Ma'un : 4-5)

a. Bukan Tidak Khusyu Banyak orang menjadikan ayat ini sebagai ancaman buat orang yang tidak khusyu dalam shalatnya. Sehingga seolaholah orang shalatnya tidak khusyu akan mencapatkan kecelakaan. Padahal sebenarnya ayat ini bukan bicara tentang orang yang tidak khusyu dalam shalat, melainkan bicara tentang orang yang meninggalkan atau sengaja tidak mengerjakan shalat. Yang perlu digaris-bawahi dari ayat ini adalah penggunakan kata an-shalatihim ( ) yang artinya lalai dari mengerjakan shalat. Lalai dari mengerjakan bukan tidak khusyu, tetapi tidak mengerjakan shalat alias meninggalkan shalat. Memang seandainya Allah SWT menggunakan kata fishalatihim () , maka barulah artinya adalah lalai dalam arti tidak khusyu di dalam shalat. b. Makna Wail Sebagian ulama mengatakan bahwa selain makna wail adalah celaka, juga merupakan nama sebuah lembah di dalam neraka. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Telah diperlihatkan neraka Jahannam kepadaku, maka Aku tidak melihat lembah yang lebih besar dari Al-Wail.

Ibnu Al-Abbas radhiyallahuanhu mengatakan bahwa Al-Wail adalah nama sebuah lembah yang terdapat di dalam neraka Jahannam, di dalamnya mengalir nanah dari penghuni

72

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Jahannam.2 An-Nu'man bin Basyir menyebutkan bahwa Al-Wail adalah nama sebuah lembah (wadi) di dalam neraka Jahannam, yang di dalamnya terdapat azab yang bermacam-macam. 3 Diriwayatkan bahwa Al-Wail adalah lembah di dalam neraka Jahannam yang mengalirkan nanah dari para penduduk Jahannam. 3. Hadits Palsu : 15 Jenis Siksaan Namun kita harus berhati-hati dalam menggunakan dalil dari hadits nabawi, meski tujuannya benar dan baik. Sebab berdalil dengan hadits nabawi mensyaratkan kita harus mengerti status hukum hadits tersebut. Sayangnya, begitu banyak beredar hadits-hadits palsu tentang ancaman siksa bagi mereka yang meninggalkan shalat atau melalaikannya. Di antaranya adalah hadits berikut ini :

: ...
Siapa yang lalai di dalam shalatnya, maka Allah akan menghukumnya dengan 15 hukuman : enam hukuman di dunia, tiga hukuman ketika mati, tiga hukuman di dalam kubur dan tiga kematian ketika keluar dari kubur . . .

Rincian kelimabelas hukuman itu adalah : Lima hukuman di dunia : (1) Allah mencabut keberkahan dari umurnya, (2) Allah tidak mengabulkan doanya, (3) Tanda keshalihan dihilangkan dari wajahnya, (4) Dimurkai oleh seluruh makhluk Allah, (5) Allah tidak memberi pahala atas ibadahnya, (6) Allah tidak memasukkannya ke dalam doa para mukminin. Tiga hukuman saat kematian : (1) Mati dengan hina, (2) Mati dalam keadaan lapar, (3) Mati dalam keadaan kehausan meski
2 3

Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Quran jilid 13 hal. 9 Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Quran jilid 12 hal. 440

73

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

minum air dari seluruh lautan. Tiga hukuman ketika di alam kubur : (1) Allah menyempitkan kuburnya hingga tulang-tulang iganya saling bersilangan, (2) Allah membakarkan untuknya api yang berbara. Tiga hukuman di hari kiamat : (1) Allah SWT mengutus makhluk yang menghapus wajahnya, (2) Allah SWT memandangnya dengan pandangan marah, yang dengan pandangan itu, maka lepas daging dari tulangnya, (3) Allah SWT menghisabnya dengan sulit dan dilemparkan dirinya ke dalam neraka. Hadits ini 100% adalah hadits palsu, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi dalam kitab Lisanul Mizan. Hal senada juga disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahwa hadits ini adalah hadits maudhu' atau hadits palsu. Dan hukumnya haram bagi kita untuk menggunakan hadits ini sebagai dalil, meski pun manfaatnya sejalan dengan apa yang menjadi kewajiban kita. Maka cukuplah kita menggunakan dua dalil di atas, yaitu dalil dari dua ayat Al-Quran, yang keshahihannya telah dijamin untuk selama-lamanya. E. Bangsa Indonesia dan Shalat 1. Tidak Suka Shalat Kalau kita jujur dan sedikit lebih memperhatikan, ada gejala aneh yang merasuki umat Islam di negeri ini, yaitu kurang serius mengerjakan shalat fardhu, khususnya di tempat-tempat yang menurut kebiasaan mereka dianggap kurang lazim. Misalnya shalat di pinggir jalan, tanah, trotoar, lantai, tempat parkir, basement, rerumputan, atau di atas pesawat terbang dan kereta api. Semua itu masih sering dirasa kurang lazim oleh kebanyakan umat Islam. Sehingga lebih banyak yang memilih untuk tidak shalat, atau beralasan menjama' shalat, ketimbang mengerjakan shalat di tempat yang demikian. Di kereta api malam, dari sepuluh gerbong penumpang,

74

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

yang kita lihat melaksanakan shalat shubuh di atas kereta bisa dihitung dengan jari. Pemandangan ini bukan di Eropa atau Amerika yang minoritas muslim, tetapi di negeri kita yang merupakan umat Islam terbesar di dunia. Demikian juga bus-bus malam, umumnya tidak berhenti untuk shalat shubuh. Padahal sopir dan para penumpangnya, mayoritas mengaku beragama Islam. Padahal shalat lima waktu adalah kewajiban yang merupakan fardhu 'ain bagi setiap muslim dan muslimah. Allah telah menentukan waktu-waktunya. Sebagaimana Allah SWT juga telah memberikan rukhsah (keringanan) bagi musafir atau orang sakit dalam pelaksanaannya. 2. Minder Ada gejala aneh yang merasuki umat Islam, yaitu merasa minder kalau mengerjakan shalat pada waktunya, namun di tempat yang menurut kebiasaan mereka dianggap kurang lazim. Barangkali di rumah atau di tempat dan waktu yang normal, mereka termasuk orang yang rajin shalat. Bahkan sewaktu memilih lokasi rumah, salah satu pertimbangannya adalah yang dekat dengan masjid, biar bisa tiap hari shalat. Dan kalau pergi haji mendapat tempat yang jauh dari masjid AlHaram, ikut protes lantaran merasa sulit untuk shalat. Tetapi giliran di perjalanan, dan sebenarnya tidak ada udzur apa pun untuk mengerjakannya, entah bagaimana sampai ada rasa enggan mengerjakan shalat. Dan salah satu alasannya, ada rasa minder, rasanya kok tidak enak shalat dilihat banyak orang. Nah ini adalah perasaan yang tergolong aneh. Seharusnya yang merasa minder dan tidak enak itu justru yang beragama Islam tapi tidak shalat, dan bukan sebaliknya. Tapi begitulah yang terjadi, justru kebanyakan penghalang utama dari tidak shalatnya umat Islam di tempat keramaian justru karena tenggang rasa, takut dibilang sok alim, sok suci, sok jadi ustadz dan seterusnya. Jadi tidak shalatnya bukan karena tidak bisa tata cara shalat,

75

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

juga bukan karena takut pakaiannya ada najisnya. Bukan itu penghalangnya. Tetapi penghalangnya adalah rasa minder, tidak pede, kurang rasa percaya diri, tidak merasa bangga menjadi umat Islam yang taat, dan segudang perasaan lain yang campur aduk, tetapi tetap satu tema : inferiority complex! Seluruh ulama tanpa terkecuali telah berijma' bahwa shalat lima waktu sehari semalam hukumnya wajib, bagi setiap mukallaf, yaitu beragama Islam, akil dan baligh. Namun kadang shalat fardhu lima waktu ditinggalkan oleh seorang mukallaf. Dalam hal ini ada banyak keadaan orang meninggalkan shalat. F. Terlanjur Meninggalkan Shalat Apabila seseorang sudah terlanjur meninggalkan shalat fardhu dan waktunya sudah habis atau sudah terlewat, maka yang harus dilakukan adalah bertaubat dan minta ampun kepada Allah atas kelalaiannya dari mengerjakan shalat. Selain itu dia tetap wajib untuk mengerjakan shalat yang telah ditinggalkannya itu dengan mengerjakan shalat yang sama, meski waktunya sudah habis. Dan shalat itu disebut dengan shalat qadha. 1. Taubat Taubat wajib dilakukan apabila ada unsur kesengajaan ketika meninggalkan shalat fardhu dan tidak ada udzur syari yang meringankan. Sebab perbuaan meninggalkan shalat fardhu itu termasuk dosa besar. Maka agar dosa itu terhapus, caranya adalah dengan bertaubat. Dan bila ada seorang hamba yang bertaubat, tentu Allah SWT berpantang untuk menolaknya. Sebab Allah SWT sudah menjamin hal itu dalam Al-quran :


76

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?

2. Qadha Jumhur ulama selain mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa meski pun orang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja tanpa udzur syari, maka dia tetap diwajibkan untuk membayar hutang shalatnya, yaitu shalat qadha. Sebab terlewatnya waktu shalat tidak menggugurkan kewajiban shalat. Hal itu mengingat bahwa Rasulullah SAW dan para shahabat pernah terlewat dari mengerjakan shalat dan telah habis waktunya, namun beliau dan para shahabat tetap melaksanakan shalat yang jadi kewajiban mereka, meski waktunya sudah habis. Dan taubat yang telah dilakukan tidak lantas membuat kewajiban membayar hutang shalat menjadi gugur. Sebab taubat itu dilakukan untuk menghapus dosa atas kelalaian mengerjakan shalat pada waktunya. Sedangkan kewajiban untuk membayar hutang atas shalat yang ditinggalkan tetap masih ada. Maka selain bertaubat, yang harus dilakukan adalah membayar hutang. Kita bisa membuat perumpamaan masalah ini dengan kasus orang yang mengemplang hutang uang. Misalnya si A pinjam uang kepada si B sebesar 10 juta rupiah. Sesuai kesepakatan, hutang itu harus dibayarkan setahun kemudian. Ternyata sudah lewat setahun, A belum punya uang untuk membayar hutang. Maka seperti biasanya orang yang hutang, A pun menghilang tak tentu rimbanya, karena menghindari tagihan hutang dari B. Singkat cerita, 5 tahun kemudian A bertemu dengan B dalam kesempatan lebaran, dimana acara itu intinya maafmaafan. Tentu A tidak bisa begitu saja bilang ke B,Bersama hari Raya Idul Fitri, saya mohon maaf lahir batin kepada Anda dan mohon hutang 10 juta saya dianggap lunas ya. Tentu tidak bisa demikian. Urusan minta maaf karena mangkir tidak bayar hutang pada waktunya mungkin bisa

77

Bab 3 : Hukum Meninggalkan Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

diselesaikan dengan minta maaf. Akan tetapi hutang uang 10 juta tidak bisa selesai dengan sepotong kata minta maaf. Sebab hutang uang tetap hutang. Terkecuali bila B memang mengikhlaskan uangnya ditilep oleh A, tentu hal itu lain urusan. Pendeknya, selama hayat masih di kandung badan, hutang shalat itu tetap masih tergantung pada pundak seseorang. Dan tentang bagaimana shalat qadha ini, kita akan bahas pada bab khusus nanti, insya Allah.

78

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Ikhtishar
A. Shalat Pada Waktunya
1. Dalil Waktu Shalat 2. Waktu Shalat Dalam Fiqih

B. Urutan Waktu Shalat


1. Waktu Shalat Zhuhur 2. Waktu Shalat Ashar 3. Waktu Shalat Maghrib 4. Waktu Shalat Isya' 5. Waktu Shalat Shubuh

C. Menunda atau Mengakhirkan Shalat


1. Mengakhirkan karena Tidak Ada Air 2. Mengakhirkan Shalat Isya' 3. Menunda Shalat Dzhuhur 4. Menunda Shalat Maghrib Mendahulukan Berbuka 5. Menunda Shalat Agar Jamaah Berkumpul 6. Menunda Shalat Bila Makanan Telah Terhidang

C. Lima Waktu Yang Diharamkan Shalat


1. Dalil Nash 2. Shalat Yang Dilarang 3. Lima Waktu

A. Shalat Pada Waktunya Shalat fardhu hanya sah dan boleh dikerjakan pada waktu-

79

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

waktu yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Bila shalat itu dikerjakan di luar waktu yang telah ditetapkan dengan sengaja, tanpa udzur syar'i, maka hukumnya tidak sah. Semua itu dengan pengecualian, yaitu bila ada uzur tertentu yang memang secara syariah bisa diterima. Seperti mengerjakan shalat dengan dijama' pada waktu shalat lainnya. Atau shalat buat orang yang terlupa atau tertidur, maka pada saat sadar dan mengetahui ada shalat yang luput, dia wajib mengerjakannya meski sudah keluar dari waktunya. Adapun bila mengerjakan shalat di luar waktunya dengan sengaja dan di luar ketentuan yang dibenarkan syariat, maka shalat itu menjadi tidak sah. Dalam hal keharusan melakukan shalat pada waktunya, Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran :


Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa : 103)

1. Dalil Waktu Shalat Di dalam Al-Quran sesungguhnya sudah ada sekilas tentang penjelasan waktu-waktu shalat fardhu, meski tidak terlalu jelas diskripsinya. Namun paling tidak ada tiga ayat di dalam Al-Quran yang membicarakan waktu-waktu shalat secara global.

Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. (QS. Huud : 114)

Menurut para mufassriin, di ayat ini disebutkan waktu shalat, yaitu kedua tepi siang, yaitu shalat shubuh dan ashar. Dan pada bahagian permulaan malam, yaitu Maghrib dan Isya'.


80

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat


Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur'anal fajri. Sesungguhnya Qur'anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra' : 78)

Menurut para mufassrin, di dalam ayat ini disebutkan waktu shalat yaitu sesudah matahari tergelincir, yaitu waktu untuk shalat Zhuhur dan Ashar. Sedangkan gelap malam adalah shalat Maghrib dan Isya' dan qur'anal fajri yaitu shalat shubuh. Namun yang lebih spesifik menegaskan waktu-waktu shalat yang lima waktu adalah hadits-hadits Rasululah SAW yang shahih dan qath'i. Tidak kalah qath'inya dengan dalil-dalil dari Al-Quran Al-Kariem. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini :

: : : : - : .
"Bangunlah dan lakukan shalat". Maka beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau SAW melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi SAW didatangi oleh Jibril alaihissalam dan berkata kepadanya,

81

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya' menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau SAW melakukan shalat Isya' ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar menjelang. (HR. Ahmad, Nasai dan Tirmizy)1

Selain itu ada hadits lainnya yang juga menjelaskan tentang waktu-waktu shalat. Salah satunya adalah hadits berikut ini :

Dari As-Saib bin Amir radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW bersabda,"Ummatku selalu berada dalam kebaikan atau dalam fithrah selama tidak terlambat melakukan shalat Maghrib, yaitu sampai muncul bintang".(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

2. Waktu Shalat Dalam Fiqih Dari isyarat dalam Al-Quran serta keterangan yang lebih jelas dari hadits-hadits nabawi, para ulama kemudian menyusun tulisan dan karya ilmiah untuk lebih jauh mendiskripsikan apa yang mereka pahami dari nash-nash itu. Maka kita dapati deskripsi yang jauh lebih jelas dalam kitabkitab fiqih yang menjadi masterpiece para fuqaha. Diantaranya yang bisa disebutkan adalah :
Kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 151-160 Kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 331 s/d 343 Kitab Al-Lubab jilid 1 halaman 59 - 62 Kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 43

Di dalam kitab Nailul Authar karya Al-Imam Asy-Syaukani disebutkan bahwa Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang waktu-waktu shalat. Hadits ini berbicara tentang Jibril yang shalat menjadi imam bagi Nabi SAW.

82

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 219-338 Kitab Asy-Syarhul-Kabir jilid 1 halaman 176-181 Kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 121 - 127 Kitab Al-Muhadzdzab jilid 1 halaman 51 - 54 Kitab Kasysyaf Al-Qanna' jilid 1 halaman 289 - 298.

Di dalam kitab-kitab itu kita dapati keterangan yang jauh lebih spesifik tentang waktu-waktu shalat. Kesimpulan dari semua keterangan itu adalah sebagai berikut : B. Lima Waktu Waktu Shalat Wajib Lima waktu shalat fardhu biasanya disebutkan dengan urutan : Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Yang menjadi pertanyaan adalah : kenapa urutannya dimulai dengan waktu Zhuhur? Kenapa bukan dimulai dari waktu Shubuh? Bukankah kita memulai hari dari kita bangun tidur dan shalat yang pertama kali kita lakukan adalah shalat Shubuh? Ada juga yang bertanya, kenapa juga bukan dimulai dari waktu Isya? Karena ada sebagian kalangan yang membuat singkatan urutan waktu shalat Isya, Subuh, Lohor, Asar, Maghrib menjadi I-S-L-A-M. Padahal yang benar adalah Zhuhur, bukan Lohor. Dasar yang digunakan para ulama dalam membuat urutan itu adalah berdasarkan urutan pensyariatannya. Ketika Rasulullah SAW menerima perintah shalat 5 waktu di malam miraj beliau, Allah SWT belum mendiskripsikan shalat apa saja yang harus dikerjakan. Juga belum ada penjelasan tentang nama-nama shalat serta kapan waktu yang ditetapkan untuk shalat-shalat itu. Seusai miraj, beliau SAW pulang ke rumah tanpa membawa detail rincian shalat. Barulah keesokan harinya, ketika matahari berada di atas kepala, datanglah malaikat Jibril alaihissam kepada beliau dan mulai menjelaskan shalat apa saja yang harus dikerjakan, beserta waktu yang ditentukan. Dan shalat yang pertama kali dijelaskan dan dikerjakan adalah mulai dari Shalat Zhuhur, sebagaimana hadits di atas.

83

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

1. Waktu Shalat Zhuhur Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat. Istilah yang sering digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah 'tergelincirnya' matahari, sebagai terjemahan bebas dari kata zawalus syamsi () . Namun istilah ini seringkali membingungkan, karena kalau dikatakan bahwa 'matahari tergelincir', sebagian orang akan berkerut keningnya, "Apa yang dimaksud dengan tergelincirnya matahari?". Zawalusy-syamsi adalah waktu dimana posisi matahari ada di atas kepala kita, namun sedikit sudah mulai bergerak ke arah barat. Jadi tidak tepat di atas kepala. Dan waktu untuk shalat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri. Misalnya kita menancapkan tongkat yang tingginya 1 meter di bawah sinar matahari pada permukaan tanah yang rata. Bayangan tongkat itu semakin lama akan semakin panjang seiring dengan semakin bergeraknya matahari ke arah barat. Begitu panjang bayangannya mencapai 1 meter, maka pada saat itulah waktu Zhuhur berakhir dan masuklah waktu shalat Ashar. Ketika tongkat itu tidak punya bayangan baik di sebelah barat maupun sebelah timurnya, maka itu menunjukkan bahwa matahari tepat berada di tengah langit. Waktu ini disebut dengan waktu istiwa'. Pada saat itu, belum lagi masuk waktu zhuhur. Begitu muncul bayangan tongkat di sebelah timur karena posisi matahari bergerak ke arah barat, maka saat itu dikatakan zawalus-syamsi atau 'matahari tergelincir'. Dan saat itulah masuk waktu zhuhur. Namun shalat Zhuhur hukumnya mustahab saat siang sedang panas-panasnya untuk diundurkan beberapa waktu. Tujuannya agar meringankan dan bisa menambah khusyu2. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

As-Sayyid Sabiq, Fiqhussunnah, jilid 1 hal. 95

84

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila dingin sedang menyengat, menyegerakan shalat. Tapi bila panas sedang menyengat, beliau mengundurkan shalat. (HR. Bukhari)

2. Waktu Shalat Ashar Waktu shalat Ashar dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri. Dan selesainya waktu shalat Ashar ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Dalil yang menujukkan hal itu antara lain hadits berikut ini :

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Dan orang yang mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan shalat Ashar". (HR. Muttafaq alaihi).

Namun jumhur ulama mengatakan bahwa dimakruhkan melakukan shalat Ashar tatkala sinar matahari sudah mulai menguning yang menandakan sebentar lagi akan terbenam. Sebab ada hadits Nabi yang menyebutkan bahwa shalat di waktu itu adalah shalatnya orang munafiq.


Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata,Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,"...Itu adalah shalatnya orang munafik yang duduk menghadap matahari hingga saat matahari berada di antara dua tanduk syetan, dia berdiri dan membungkuk 4 kali,

85

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

tidak menyebut nama Allah kecuali sedikit". (HR. Jamaah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).

Bahkan ada hadits yang menyebutkan bahwa waktu Ashar sudah berakhir sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinar matahari mulai menguning di ufuk barat sebelum terbenam.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Dan waktu shalat Ashar sebelum matahari menguning".(HR. Muslim)

Shalat Ashar adalah shalat wustha menurut sebagian besar ulama. Dasarnya adalah hadits Aisyah radhiyallahu 'anha.

: -
Dari Aisyah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW membaca ayat :"Peliharalah shalat-shalatmu dan shalat Wustha". Dan shalat Wustha adalah shalat Ashar. (HR. Abu Daud dan Tirmizy dan dishahihkannya) Dari Ibnu Mas'ud dan Samurah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalat Wustha adalah shalat Ashar". (HR. Tirmizy)

Namun masalah ini memang termasuk dalam masalah yang diperselisihkan para ulama. Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar menyebutkan ada 16 pendapat yang berbeda tentang makna shalat Wustha. Salah satunya adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa shalat Wustha adalah shalat Ashar. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa shalat itu adalah shalat Shubuh.3 3. Waktu Shalat Maghrib
3

Asy-Syaukani, Nailul Authar, jilid 1 hal. 311

86

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Sudah menjadi ijma' (kesepakatan) para ulama bahwa waktu shalat Maghrib dimulai sejak terbenamnya matahari. Terbenamnya matahari adalah sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

Dari Abdullah bin Amar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega)". (HR. Muslim).

Istilah 'syafaq' menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi'iyah adalah mega yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa 'syafaq' adalah warna keputihan yang berada di ufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telah hilang. Dalil beliau adalah :
Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Dan akhir waktu Maghrib adalah hingga langit menjadi hitam". (HR. Tirmizy)4

4. Waktu Shalat Isya' Waktu shalat Isya dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib, dan terus berlangsung sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat shubuh.

Dari Abi Qatadah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang yang belum shalat hingga datang waktu shalat

Menurut kitab Nashbur-rayah bahwa hadits ini sanadnya tidak shahih

87

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

berikutnya". (HR. Muslim)

Sedangkan waktu mukhtar (pilihan) untuk shalat 'Isya' adalah sejak masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam, atas dasar hadits berikut ini.

: :
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Rasulullah SAW menunda shalat Isya' hingga lewat tengah malam, kemudian beliau keluar dan melakukan shalat. Lantas beliau bersabda,"Sesungguhnya itu adalah waktunya, seandainya aku tidak memberatkan umatku.". (HR. Muslim)

: : :
Dan waktu Isya kadang-kadang, bila beliau SAW melihat mereka (para shahabat) telah berkumpul, maka dipercepat. Namun bila beliau melihat mereka berlambat-lambat, maka beliau undurkan. (HR. Bukhari Muslim) Dari Abi Bazrah Al-Aslami berkata,Dan Rasulullah suka menunda shalat Isya, tidak suka tidur sebelumnya dan tidak suka mengobrol sesudahnya. (HR. Bukhari Muslim)

5. Waktu Shalat Shubuh Seringkali orang terkecoh dengan dua istilah, yaitu shalat Fajr dan shalat shubuh. Padahal sesunguhnya keduanya adalah satu. Shalat Fajr itu adalah shalat shubuh dan shalat shubuh adalah shalat Fajr.

88

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Orang-orang di Hijaz (Jazirah Arabia) terbiasa menyebut shalat shubuh dengan istilah shalat Fajr. Sedangkan bangsa Indonesia terbiasa menggunakan istilah shalat shubuh. Namun keduanya satu juga, itu itu juga. Waktu shalat Fajr atau shalat shubuh dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajr atau dalam bahasa Indonesianya menjadi fajar bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar, bukanlah terbitnya matahari. Fajar adalah cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Waktu shubuh (dan juga waktu Isya') amat berhubungan dengan adanya pembiasan sinar matahari oleh atmosfer bumi. Seandainya tidak ada atmosfer di bumi, maka begitu matahari terbenam langit akan gelap sama sekali, atau sebelum matahari terbit langit juga masih gelap sama sekali. Seperti terbenamnya matahari bila kita berada di bulan yang tidak punya atmosfir. Karena adanya atmosfer itulah, sinar matahari yang berada di bawah ufuk masih mampu dibiaskan oleh atmosfer bumi sehingga langit masih agak terang, belum gelap sama sekali. Dan sebaliknya, meski matahari belum muncul di ufuk Timur, namun oleh atmosfir bumi, sinarnya sudah dibiaskan terlebih dahulu, sehingga langit (sebenarnya atmosfir bumi) sudah mengalami terang terlebih dahulu, sebelum daratannya. Kalau kedalaman matahari di bawah ufuk belum melebihi batas astronomical twilight, maka belum ada intensitas cahaya matahari yang ada di langit. Langit masih gelap, dan saat itu belum masih waktu shubuh. Di dalam syariah, kita mengenal ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. a. Fajar Kadzib Fajar kazib adalah fajar yang 'bohong' sesuai dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor sirhan (srigala),

89

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

kemudian langit menjadi gelap kembali. Fajar kadzib berupa cahaya putih yang muncul secara vertikal (dari bawah ke atas atau timur ke barat). Cahaya ini tidak muncul secara merata di ufuk timur, artinya ada sisi ufuk yang gelap dan ada yang terkena cahaya. Setelah itu, alam kembali menjadi gelap karena fajar telah menghilang. Fenomena ini dikenal dengan fajar kadzib. b. Fajar Shadiq Sedangkan fajar yang kedua adalah fajar shadiq, yaitu fajar yang benar-benar fajar. Bentuknya berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur. Munculnya beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shalat Shubuh. Bedanya dengan fajar yang kadzib, fajar shadiq ini diikuti dengan cahaya yang semakin terang, dan semakin terang hingga terbitlah matahari. Menurut Ibn Jarir Ath-Thabari, sifat sinar Subuh yang terang itu menyebar dan meluas di langit, sinarnya atau terang cahayanya memenuhi dunia, hingga memperlihatkan jalan-jalan menjadi jelas. Jadi ada dua kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar yang pertama disebut dengan fajar kazib dan fajar yang kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari yang menandakan habisnya waktu shubuh. Di antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah waktu untuk melaksanakan shalat Shubuh. Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini :

: - : -
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,"Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang mengharamkan makan dan menghalalkan

90

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

shalat. Kedua, fajar yang mengharamkan shalat (shalat Shubuh) dan menghalalkan makan". (HR. Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim)

Batas akhir waktu shubuh adalah terbitnya matahari sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari". (HR. Muslim)

c. Fajar dalam tinjauan Astronomi Beberapa jam sebelum matahari terbit, di ufuk timur tampak cahaya kuning kemerah-merahan yang menjadi waktu berakhirnya gelap malam menuju siang yang terang benderang. Cahaya tersebut merupakan pembiasan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang ada di angkasa. Semakin dekat posisi matahari terhadap ufuk, semakin terang pula cahaya tersebut. Dalam astronomi, cahaya tersebut dikenal dengan istilah twilight atau cahaya fajar.
Astronomical Twilight

Kondisi ini terjadi saat posisi matahari masih berada antara 18 sampai - 12 di bawah ufuk. Dalam keadaan ini, bendabenda di lapangan terbuka belum tampak batas-batas bentuknya. Semua bintang baik yang terang maupun yang samar masih tampak.
Nautical Twilight

Kondisi ini terjadi saat posisi matahari berada antara 12sampai - 6 di bawah ufuk. Dalam keadaan ini, benda-benda di lapangan terbuka masih samar batas-batas bentuknya. Sedangkan bintang yang bisa dilihat adalah semua bintang terang.
Civil Twilight

Kondisi ini terjadi saat posisi matahari berada antara- 6 sampai 0 di bawah ufuk. Dalam keadaan ini, benda-benda di

91

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

lapangan terbuka sudah tampak batas-batas bentuknya. Sedangkan bintang yang bisa dilihat hanyalah sebagian bintang terang saja. Yang menjadi pertanyaan menarik adalah, yang manakah dari ketiga posisi matahari di atas yang merupakan waktu shubuh? Dalam hal ini ternyata kita menemukan fakta bahwa tiap sistem penanggalan di berbagai negara Islam berbeda-beda dalam menetapkannya. Berikut adalah tabel yang menjabarkan bagaimana perbedaan itu di masing-masing negara Islam :
Posisi Matahari - 18 - 19,5 - 15 - 18 - 18 Agama - 20

Sistem / Negara 1. Ummul Qura (Saudi Arabia) 2. Egyptian General Authority of Survey (Mesir) 3. Islamic Society of North America (Amerika Utara) 4. Moslem World League 5. University of Islamic Science (Pakistan) 6. Badan Hisab dan (Indonesia) Rukyat Departemen

Perbedaan ini harus diakui sebagai realitas perbedaan dalam masalah ijtihad. Dan memang dimungkinkan terjadinya perbedaan pendapat di atas, karena banyak faktor. Di antaranya faktor geografis, karena perbedaan lintang, faktor intensitas cahaya di langit ketika ada bulan purnama atau bulan mati, faktor awan, cahaya dari permukaan bumi (lampu) dan lainnya. Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama RI konon merujuk kepada hasil perhitungan Sa'adudin Jambek, ahli hisab Indonesia masa lalu yang menggunakan angka - 20 .

92

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Sedangkan Al-Biruni, seorang cendekiawan Islam yang terbesar pada masanya, mengusulkan agar astronomical twilight alias kedudukan matahari 18 derajat di bawah horison, sebagai awal fajar, seperti termaktub dalam al-Qanun al-Mas'udi. C. Menunda atau Mengakhirkan Shalat Selama waktu shalat masih ada, mengakhirkan shalat hingga ke bagian akhir dari waktunya oleh para ulama disepakati kebolehannya. Dan bahwa shalat masih dibenarkan untuk dikerjakan. Karena prinsipnya agama Islam diturunkan sebagai bentuk keringanan, dan bukan sebagai agama yang menghukum manusia. Sehingga Allah SWT memberikan kelonggaran buat manusia untuk mengerjakan shalat, bukan pada waktu yang sempit dan terbatas, namun diberikan keluasan untuk mengerjakan shalat fardhu di dalam rentang waktu yang lebar. Rasulullah SAW bersabda :

Shalat di awal waktu akan mendapat keridhaan dari Allah. Shalat di tengah waktu mendapat rahmat dari Allah. Dan shalat di akhir waktu akan mendapatkan maaf dari Allah. (HR. AdDaruquthuni)

Namun bila seseorang dengan lalai dan sengaja menundanunda pengerjaan shalat, hingga terlewat waktunya, para ulama sepakat dia telah berdosa. Terkadang mengakhirkan shalat justru malah lebih dianjurkan, apabila ada alasan yang syar'i dan dibenarkan secara hukum. Antara lain : 1. Mengakhirkan karena Tidak Ada Air Dalam keadaan kelangkaan air untuk berwudhu, namun masih ada keyakinan dan harapan untuk mendapatkannya di akhir waktu, para ulama sepakat memfatwakan bahwa shalat lebih baik ditunda pelaksanaannya, bahkan meski sampai di

93

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

bagian akhir dari waktunya.5 Mazhab Asy-Syafi'iyah menegaskan lebih utama menunda shalat tetapi dengan tetap berwudhu' menggunakan air, dari pada melakukan shalat di awal waktu, tetapi hanya dengan bertayammum dengan tanah.6 2. Mengakhirkan Shalat Isya' Meski shalat di awal waktu itu lebih utama, kenyataaanya hal itu tidak bersifat mutlak. Sebab ternyata Rasulullah SAW sendiri tidak selamanya shalat di awal waktu. Ada kalanya beliau menunda shalat hingga beberapa waktu, namun tetap masih di dalam waktunya. Salah satunya adalah shalat Isya' yang kadang beliau mengakhirkannya, bahkan dikomentari sebagai waktu shalat yang lebih utama.

: -
Dari Abi Bazrah Al-Aslami berkata,Dan Rasulullah suka menunda shalat Isya, tidak suka tidur sebelumnya dan tidak suka mengobrol sesudahnya. (HR. Bukhari Muslim)

3. Menunda Shalat Dzhuhur Terkadang bila siang hari sedang panas-panasnya, Rasulullah SAW menunda pelaksanaan shalat Dzhuhur. Sehingga para ulama pun mengatakan bahwa hukumnya mustahab bila sedikit diundurkan, khususnya bila siang sedang panas-panasnya, dengan tujuan agar meringankan dan bisa menambah khusyu7. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Hasyiyatu Ibnu Abidin jilid 1 hal. 66, Kasysyaf Al-Qinaa' jilid 1 hal. 178 Ibnu Qudamah, Mughni Al-Muhtaj, jilid 1 hal. 89 7 As-Sayyid Sabiq, Fiqhussunnah, jilid 1 hal. 95
5 6

94

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila dingin sedang menyengat, menyegerakan shalat. Tapi bila panas sedang menyengat, beliau mengundurkan shalat. (HR. Bukhari)

4. Menunda Shalat Maghrib Mendahulukan Berbuka Terkadang Rasulullah SAW juga menunda pelaksaan shalat Maghrib, khususnya bila beliau sedang berbuka puasa. Padahal waktu Maghrib adalah waktu yang sangat pendek.

Senantiasa manusia dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Menunda Shalat Agar Jamaah Berkumpul Bahkan beliau seringkali memperlambat dimulainya shalat bila melihat jamaah belum berkumpul semuanya. Misalnya dalam shalat Isya', beliau seringkali menunda dimulainya shalat manakala dilihatnya para shahabat belum semua tiba di masjid.

Dan waktu Isya kadang-kadang, bila beliau SAW melihat mereka (para shahabat) telah berkumpul, maka dipercepat. Namun bila beliau melihat mereka berlambat-lambat, maka beliau undurkan. (HR. Bukhari Muslim)

6. Menunda Shalat Bila Makanan Telah Terhidang Shalat juga lebih utama untuk ditunda atau diakhirkan manakala makanan telah terhidang. Beliau SAW juga menganjurkan untuk menunda shalat manakala seseorang sedang menahan buang hajat. Itulah petunjuk langsung dari Rasulullah SAW dalam hadits

95

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

shahih :


Tidak ada shalat ketika makanan telah terhidang atau menahan kencing atau buang hajat. (HR. Muslim)

Maka mengakhirkan atau menunda pelaksanaan shalat tidak selamanya buruk, ada kalanya justru lebih baik, karena memang ada 'illat yang mendasarinya. Dalam format shalat berjamaah di masjid, wewenang untuk mengakhirkan pelaksanaan shalat berada sepenuhnya di tangan imam masjid. D. Lima Waktu Shalat Yang Diharamkan Ada lima waktu dalam sehari semalam yang diharamkan atau dimakruhkan bagi kita untuk melakukan shalat di dalamnya. 1. Dalil Nash Tiga di antaranya terdapat dalam satu hadits yang sama, sedangkan sisanya yang dua lagi berada di dalam hadits lainnya.

:
Dari 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani radhiyallahu anhu berkata,"Ada tiga waktu shalat yang Rasulullah SAW melarang kami untuk melakukan shalat dan menguburkan orang yang meninggal di antara kami. [1] Ketika matahari terbit hingga meninggi, [2] ketika matahari tepat berada di tengah-tengah cakrawala hingga bergeser sedikit ke barat dan [3] berwarna matahari berwarna

96

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

kekuningan saat menjelang terbenam. (HR. Muslim)

Sedangkan dua waktu lainnya terdapat di dalam satu hadits berikut ini :

: :

Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata,"Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Tidak ada shalat setelah shalat shubuh hingga matahari terbit. Dan tidak ada shalat sesudah shalat Ashar hingga matahari terbenam.(HR. Bukhari dan Muslim).

2. Shalat Yang Dilarang Jumhur ulama sepakat bahwa meski hadits-hadits di atas tidak menyebutkan nama atau jenis shalat tertentu yang dilarang, namun bukan berarti semua shalat hukumnya terlarang untuk dikerjakan pada waktu-waktu tersebut. Para ulama umumnya menyimpulkan bahwa sebenarnya larangan untuk shalat pada kedua waktu ini hanya bagi orang yang ingin melakukan shalat sunnah mutlak saja, sedangkan bila shalat yang dikerjakan punya alasan atau kepentingan tertentu, seperti menshalati jenazah yang wafat, tidak termasuk larangan. Jadi boleh saja umat Islam menguburkan jenazah saudaranya setelah shalat shubuh sebelum matahari terbit, juga boleh menguburkan setelah shalat Ashar di sore hari. 3. Lima Waktu Maka kalau kedua hadits di atas kita simpulkan dan diurutkan, kita akan mendapatkan 5 waktu yang di dalamnya tidak diperkenankan untuk melakukan shalat, yaitu :

97

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

a. Saat Matahari Terbit Saat mahatari sedang dalam proses terbit dari balik bumi hingga menyembul seluruh bulatannya di ufuk adalah waktu yang terlarang bagi kita untuk melakukan shalat sunnah mutlak. Namun buat mereka yang mengejar shalat shubuh yang tertinggal, tentu waktu itu bukan merupakan larangan. b. Setelah Shalat Shubuh Setelah shalat shubuh hingga matahari agak meninggi. Tingginya matahari sebagaimana di sebutkan di dalam hadits Amru bin Abasah adalah qaida-rumhin aw rumhaini. Maknanya adalah matahari terbit tapi baru saja muncul dari balik horison setinggi satu tombak atau dua tombak. Dan panjang tombak itu kira-kira 2,5 meter 7 dzira' (hasta) atau 12 jengkal, sebagaimana disebutkan oleh mazhab AlMalikiyah. c. Waktu Istiwa' Waktu istiwa' adalah ketika matahari tepat berada di atas langit atau di tengah-tengah cakrawala. Maksudnya tepat di atas kepala kita. Tapi begitu posisi matahari sedikit bergeser ke arah barat, maka sudah masuk waktu shalat Zhuhur dan boleh untuk melakukan shalat sunnah atau wajib. d. Saat Terbenam Matahari Yang dikatakan saat terbenamnya matahari adalah saat-saat langit di ufuk barat mulai berwarna kekuningan yang menandakan sang surya akan segera menghilang ditelan bumi. Begitu terbenam, maka masuklah waktu Maghrib dan wajib untuk melakukan shalat Maghrib atau pun shalat sunnah lainnya. e. Setelah Melakukan Shalat Ashar Setelah melakukan shalat Ashar hingga matahari terbenam juga termasuk waktu yang dilarang untuk shalat. Maksudnya,

98

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 4 : Waktu-waktu Shalat

bila seseorang sudah melakukan shalat Ahsar, maka haram baginya untuk melakukan shalat lainnya hingga terbenam matahari, kecuali ada penyebab yang mengharuskan. Namun bila dia belum shalat Ashar, wajib baginya untuk shalat Ashar meski sudah hampir Maghrib.

99

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 5 : Tempat Shalat

Bab 5 : Tempat Shalat

Ikhtishar
A. Tempat Yang Dibolehkan Shalat
1. Seluruh Permukaan Tanah 2. Tidak Bersentuhan Najis

B. Tempat Yang Utama Untuk Shalat


1. Masjid 2. Rumah

C. Tempat Yang Terlarang Untuk Shalat


1. Tempat Kotoran 2. Tempat Penyembelihan Hewan 3. Kuburan 4. Jalanan 5. Kamar Mandi 6. Tempat Unta

D. Shalat di Tempat Ibadah Agama Lain


1. Syarat Kebolehan 2. Dasar Kebolehan 3. Pendapat Yang Melarang

Pada bab ini kita akan membahas tentang tempat-tempat shalat, terkait dengan tempat yang dibolehkan, tempat yang utama dan juga tempat yang dilarang atau dimakruhkan untuk shalat. A. Tempat Yang Dibolehkan Shalat

101

Bab 5 : Tempat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

1. Seluruh Permukaan Tanah Pada dasarnya seluruh permukaan tanah adalah tempat yang dibolehkan untuk shalat, baik dengan menggunakan alas semacam sejadah atau pun tanpa sejadah. Sebab pada dasarnya tanah itu hukumnya suci. Bahwa permukaan tanah itu suci dan kita dibolehkan langsung shalat di atas tanah, tentu ada dasar-dasarnya, antara lain : a. Tanah Adalah Masjid Rasulullah SAW 14 abad yang lalu telah menegaskan bahwa tanah atau permukaan tanah tidak lain adalah masjid, dalam arti boleh dilakukan shalat di atasnya. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :
s : -

Dari Abi Umamah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda"Telah dijadikan tanah seluruhnya untukkku dan ummatku sebagai masjid dan pensuci. Dimanapun shalat menemukan seseorang dari umatku maka dia punya masjid dan media untuk bersuci. (HR. Ahmad)

Dan hadits ini juga menegaskan bahwa selain kita boleh shalat langsung di atas tanah, ternyata tanah itu sendiri merupakan salah satu media untuk kita bersuci, yaitu untuk bertayammum. b. Masjid Nabi SAW Tidak Ada Alasnya Di masa awal mula berdirinya, masjid Nabawi di kota Madinah Al-Munawwarah tidak memiliki alas pada sebagian lantainya, sehingga para shahabat shalat di atas tanah atau pasir. Oleh karena itu seringkali wajah mereka terkena pasir tanah seusai sujud, sebagaimana tersirat dalam hadits berikut ini :

102

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 5 : Tempat Shalat


Dari Mu'aiqib radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda,"Janganlah kalian menyapu (tempat sujud) ketika sedang shalat. Tetapi bila terpaksa dilakukan, lakukan sekali saja untuk menyapu kerikil (HR. Abu Daud)

Bahkan para shahabat terbiasa di masa itu untuk masuk masjid tanpa melepas sepatu atau sandal mereka. Jadi merkea shalat sambil bersepatu atau memakai sendal. Namun untuk itu mereka diminta untuk mengkesetkesetkan sepatu dan sendal mereka terlebih dahulu sebelum masuk masjid. Dan hal itu dibenarkan dalam syariah Islam, sebagaimana diceritakan dalam hadits berikut ini :


Dari Abi Sa'id Al Khudri berkata bahwasanya Rasulullah SAWshalat kemudian melepas sandalnya dan orang-orang pun ikut melepas sandal mereka, ketika selesai beliau bertanya: "Kenapa kalian melepas sandal kalian?" mereka menjawab, "Wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal maka kami juga melepas sandal kami, " beliau bersabda: "Sesungguhnya Jibril menemuiku dan mengabarkan bahwa ada kotoran di kedua sandalku, maka jika di antara kalian mendatangi masjid hendaknya ia membalik sandalnya lalu melihat apakah ada kotorannya, jika ia melihatnya maka hendaklah ia gosokkan kotoran itu ke tanah, setelah itu hendaknya ia shalat dengan mengenakan keduanya." (HR.

103

Bab 5 : Tempat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Ahmad)

Di dalam hadits yang lain disebutkan juga perihal mengeset-ngesetkan sendal ke tanah sebelum shalat.


Bila sepatu atau sandal kalian terkena najis maka keset-kesetkan ke tanah dan shalatlah dengan memakai sendal itu. Karena hal itu sudah mensucikan (HR. Abu Daud)

Semua dalil di atas menunjukkan bahwa masjid di masa Rasulullah SAW tidak beralas, dan mereka pun shalat langsung di atas tanah, sehingga wajah mereka terkena debu, pasir atau tanah. 2. Tidak Bersentuhan Dengan Najis Namun meski dibolehkan untuk shalat langsung di atas tanah, bukan berarti boleh dilakukan di sembarang tanah. Sebab bila di atas tanah itu ada benda-benda najis, tentu saja shalat itu tidak sah dilakukan. Sebab salah satu syarat sah shalat adalah tidak terkena benda najis, baik pada badan, pakaian atau tempat shalat. Maka shalat di atas benda najis, baik najis itu di atas tanah langsung, atau pun di atas karpet di dalam masjid, jelas tidak dibenarkan. Maka para ulama memvokuskan bahwa intinya adalah tidak boleh shalat dengan posisi badan, pakaian atau tempat shalatnya terkena najis. Sedangkan bila ada penghalang antara najis dengan badan orang yang shalat, maka hal itu tidak mengapa. Misalnya di atas tanah ada benda-benda najis, lalu agar terhindar dari najis, tanah itu diberi alas yang tidak tembus najis. Maka dalam hal ini shalat yang dilakukan di atas alas yang tidak tembus najis hukumnya sah.

104

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 5 : Tempat Shalat

B. Tempat Yang Utama Untuk Shalat Lepas dari boleh tidaknya shalat di atas permukaan tanah, namun biar bagaimana pun ada tempat-tempat shalat yang lebih utama untuk dipilih, yaitu masjid atau rumah. Alasan keutamaannya bukan semata-mata karena terhindar dari masalah najis, tetapi karena memang ada perintah langsung untuk shalat di dalamnya. 1. Masjid a. Shalat di Masjid Bukan Syarat Sah Shalat Agama Islam membolehkan umatnya shalat dimana saja dan tidak harus dikerjakan di dalam masjid. Shalat di dalam masjid bukan merupakan syarat sah shalat. Hal ini berbeda dengan syariat yang Allah SWT turunkan kepada umat terdahulu, dimana pada sebagiannya, mereka disyaratkan untuk mengerjakan shalat di tempat-tempat khusus. Misalnya Nabi Zakaria alaihissalam, beliau diperintahkan untuk mengerjakan shalat, tetapi syaratnya bahwa ibadah ritual itu harus dikerjakan di dalam mihrabnya. Oleh karena itu kita sering membaca dalam Al-Quran bahwa beliau kerjanya keluar masuk mihrab, karena wajibnya shalat harus di dalam mihrab.


Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. (QS. Maryam 11)

Mihrab juga digunakan oleh Maryam ibunda Nabi Isa untuk beribadah kepada Allah SWT.

Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. (QS. Ali Imrah : 37)

Namun buat kita umat Muhammad, shalat tidak wajib

105

Bab 5 : Tempat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

dikerjakan di dalam masjid. Bahkan tidak ada satu pun jenis shalat yang syaratnya harus dikerjkaan di dalam masjid. Termasuk juga shalat Jumat, tidak disyaratkan dalam sahnya shalat Jumat untuk dikerjakan di dalam masjid. Maka shalat Jumat tetap sah meski pun dilaksanakan di tempat selain masjid. b. Shalat di Masjid Lebih Utama Namun meski pun bukan merupakan syarat sah shalat, tetap saja shalat di masjid untuk beberapa jenis shalat tertentu dan untuk kalangan tertentu hukumnya lebih utama dan lebih dianjurkan.
Pertama : Shalat Fardhu Lima Waktu

Jumhur ulama umumnya mengatakan bahwa bagi para lakilaki, hukumnya lebih utama untuk mengerjakan shalat fardhu secara berjamaah di dalam masjid. Bahkan ada sebagain ulama yang berpendapat hukumnya bukan sunnah melainkan fardhu 'ain, fardhu kifayah dan syarat sah shalat.1 Dasar pendapat ini diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini :

. : .
Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan
1

Silahkan lihat Bagian Kedua Bab Pertama : Shalat Berjama'ah

106

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 5 : Tempat Shalat

dua puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhu'nya, kemudian mendatangi masjid dimana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid....dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa,"Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia. Dan dia tetap dianggap masih dalam keadaan shalat selama dia menunggu datangnya waktu shalat.". (HR. Bukhari Muslim) Kedua : Shalat Jumat

Meski pun shalat Jumat tidak disyaratkan untuk dilaksanakan di dalam masjid, namun tempat yang paling afdhal untuk melakukannya memang di masjid. Bahkan semakin besar masjidnya, akan semakin afdhal. Hal itu karena shalat Jumat memang lebih diperuntukkan sebagai shalat dimana umat Islam berkumpul merayakan hari Jumat. Semakin tempat itu dapat menampung jumlah jamaah yang lebih besar, maka semakin baik nilainya di sisi Allah.
Ketiga : Shalat Tarawih

Di antara shalat sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan dengan cara berjamaah di masjid adalah shalat tarawih. Sebab sejak awal di masa Rasulullah SAW dan masa berikutnya, shalat tarawih memang dikerjakan di dalam masjid secara berjamaah pada malam-malam bulan Ramadhan. 2 Dan secara umum, orang yang datang ke masjid, baik untuk shalat atau untuk ibadah lainnya memang diberikan pahala tersendiri oleh Allah SWT.

Silahkan lihat pada Bagian Ketiga Bab Shalat Tarawih

107

Bab 5 : Tempat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya. (HR. Muslim)


Siapa yang bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju masjid untuk melaksanakan kewajiban shalat dari sekian banyak kewajiban yang dibebankan oleh Allah Subhanahu wa Taala, maka dua langkah kakinya, salah satunya menghapuskan dosa, dan langkah satunya lagi mengangkat derajatnya. (HR. Muslim)


Siapa yang berjalan di waktu pagi atau sore menuju masjid, niscaya Allah menyiapkan tempat kembalinya kelak di sorga, setiap kali ia pergi pagi atau sore ke masjid. (HR. Bukhari)


Manusia yang paling agung dalam shalatnya adalah yang paling jauh jarak yang ditempuhnya, dan orang yang menunggu shalat (di masjid) supaya bisa shalat bersama imam, adalah lebih besar pahalanya dari pada orang yang shalat (berjamaah) kemudian tidur. (HR. Bukhari)

2. Rumah Namun ada kalanya shalat di dalam rumah lebih utama dari pada shalat di dalam masjid.

108

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 5 : Tempat Shalat

a. Wanita Para wanita tidak diwajibkan atau tidak diutamakan untuk mengerjakan shalat fardhu lima waktu secara khusus di dalam masjid. Mereka diberikan kebebasan untuk mengerjakan shalat lima waktu dimana saja mereka suka, dengan nilai dan derajat yang sama. Bahkan ada banyak hadits yang menyebutkan bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita untuk menunaikan shalatnya adalah di dalam rumahnya. b. Shalat Sunnah Lebih Utama di dalam Rumah

.
Kerjakanlah shalat (sunnah) di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang adalah yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat wajib. (HR. Bukhari Muslim) Jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di masjidnya, maka hendaklah ia memberi jatah shalat bagi rumahnya. Karena sesungguhnya Allah menjadikan cahaya dalam rumahnya melalui shalatnya. (HR. Muslim)

C. Tempat Yang Terlarang Untuk Shalat Ada beberapa tempat yang oleh para ulama secara berdasarkan nash-nash hadits disebutkan sebagai tempat yang terlarang atau dimakruhkan untuk dilakukan shalat di atasnya. Ada tujuh macam tempat yang disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai tempat yang kita tidak boleh melakukan shalat di dalamnya, yaitu tempat sampah, tempat penyembelihan hewan, kuburan, jalanan, kamar mandi, tempat unta dan di atas

109

Bab 5 : Tempat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

baitullah. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

:
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW melarang shalat di tujuh tempat, yaitu tempat kotoran, tempat penyembelihan hewan, kuburan, jalanan, kamar mandi, tempat unta dan di atas baitullah. (HR. Tirmizy)

Tanah seluruhnya adalah masjid (boleh untuk shalat), kecuali kamar mandi dan kuburan. (HR. Abu Daud)

1. Tempat Kotoran Hadits di atas menyebutkan bahwa tempat yang terlarang untuk shalat adalah mazbalah. Dan mazhbalah sering diartikan sebagai tempat sampah yang kotor serta najis, dimana shalat memang tidak sah bila dilakukan di tempat yang nyata-nyata najis. Di masa sekarang ini yang bisa dikategorikan sebagai mazbalah misalnya septik-tank yaitu tempat pembuangan air kotor, dan juga comberan atau tempat-tempat lainnya yang jelas-jelas isinya adalah benda najis. 2. Tempat Penyembelihan hewan Tempat penyembelihan hewan tidak diperkenankan untuk dijadikan tempat shalat. Alasannya karena tempat itu pastilah dipenuhi dengan darah hewan, termasuk kotoran-kotorannya. 3. Kuburan Selain lewat hadits di atas, ada juga hadits lain yang secara khsusus melarang kita shalat di kuburan, yaitu :

110

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 5 : Tempat Shalat

Janganlah kalian menjadikan kubur-kubur itu sebagai masjid, karena Aku melarang kalian melakukannya. (HR. Muslim)

4. Jalanan Dilarangnya shalat di jalanan bukan karena alasan takut najis, tetapi karena dua hal. Pertama, karena fungsi jalanan adalah tempat orang lewat. Kalau tempat itu diubah fungsi menjadi tempat shalat, maka hal itu menggangu kelancaran orang lewat. Padahal dalam syariat Islam, hak-hak pengguna jalan sangat dihormati dan diberi kedudukan yang tinggi. Maka shalat yang dilakukan di tengah jalan sehingga mengganggu orang yang lewat, bukan shalat yang dibenarkan. Kedua, orang yang shalat di jalan tentu akan terganggung konsentrasinya dengan adanya orang yang lewat di jalan itu. Maka kalau masih ada tempat yang lain, seharusnya shalat tidak dilakukan di jalanan. Namun shalat di pinggir jalan tidak berlaku manakala waktu shalat sudah hampir habis dan kita belum menunaikannya. Dalam keadaan itu, shalat di pinggir jalan menjadi wajib hukumnya. 5. Kamar Mandi Kamar mandi di masa Rasulullah SAW dan di masa kita sekarang ini secara umum adalah tempat berkumpulnya bendabenda najis. Oleh karena di dalam hadits yang menyebutkan tempat-tempat yang terlarang shalat, salah satunya adalah kamar mandi. Namun bila dalam keadaan terpaksa seseorang tidak bisa melakukan shalat kecuali di dalam kamar mandi, seperti orang yang dikurung di kamar mandi, atau yang terjebak atau terkunci, atau ada musuh dan sembunyi di dalam kamar mandi, maka shalat tetap wajib dilakukan. 6. Tempat Unta

111

Bab 5 : Tempat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Tempat terlarang lainnya yang disebutkan di dalam hadits di atas adalah tempat unta atau kandang unta. Dan secara khusus ada hadits lain yang menyebutkan larangan itu sekaligus juga dengan alasan pelarangannya.

Shalatlah kalian di kandang kambing & jangan kalian shalat di tempat menderumnya unta. (HR. At-Tirmizi)

Sebab terlarangnya shalat di kandang unta bukan sematamata karena kotoran unta itu najis, akan tetapi sebabnya telah ditegaskan dalam hadits. Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:


Shalatlah kalian di kandang kambing & jangan shalat di kandang unta, sebab ia diciptakan dari setan. (HR. An-Nasai, Ibnu Majah, & Ahmad)

Dalam riwayat salah satu riwayat Ahmad, Janganlah kalian shalat di tempat penambatan unta, karena dia diciptakan dari jin. Tidakkah kalian lihat matanya & keadaannya ketika sedang mengamuk? Maka dari sini, mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Malikiah menyatakan bahwa sebab larangan shalat di kandang unta adalah karena sifat unta yang suka mengamuk. Kadangkala unta mengamuk sementara orang itu sedang mengerjakan shalat sehingga dia terpaksa memutuskan shalatnya, atau dapat membahayakan dirinya, atau dapat mengganggu konsentrasinya dan memalingkannya dari kekhusyuan dalam shalat. Karenanya berdasarkan hal ini, perlu dibedakan hukum shalat antara unta itu sedang berada di kandangnya atau tidak.

112

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 5 : Tempat Shalat

Jika unta itu sedang di kandangnya, maka tak boleh shalat di situ, sementara jika dia sedang di luar kandang dan tak dikhawatirkan dia akan kembali di tengah dia sedang shalat, maka insya Allah boleh shalat di kandang unta. D. Shalat di Tempat Ibadah Agama Lain Melakukan shalat di dalam rumah ibadah milik agama lain seperti gereja, vihara, kuil, candi, dan sebagainya, hukumnya berbeda-beda dan tengantung dari situasinya. Ada yang hukumnya boleh, makruh dan sebagain ulama juga ada yang sampai mengharamkannya. Jumhur ulama berpendapat bahwa pada dasarnya dibolehkan shalat di dalam rumah ibadah agama lain, dengan beberapa syarat, antara lain : 1. Syarat Kebolehan a. Syarat Pertama : Tidak Bercampur Dengan Ibadah Mereka Yang diharamkan adalah melakukan shalat dengan bercampur-baur dengan ibadah yang juga sedang mereka lakukan. Maka dalam hal ini hukumnya menjadi haram. Hal itu karena pada dasarnya ada larangan untuk melakukan ibadah bersama dengan orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Kafirun.


Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku". (QS. AlKafirun : 1-5)

113

Bab 5 : Tempat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

b. Syarat Kedua : Bukan Sengaja Memilih Maksudnya shalatnya kita di dalam rumah ibadah orang kafir itu bukan semata-mata karena kita menyengaja atau lebih memilih untuk shalat di dalamnya. Kalau secara khusus sengaja melakukan, maka hukumnya menjadi makruh. 2. Dasar Kebolehan Ada pun dasar kebolehan untuk melakukan shalat di dalam rumah ibadah orang kafir antar lain adalah a. Rasulullah SAW Shalat di Tengah 360 Berhala Rasulullah SAW selama 13 tahun lamanya shalat di depan Ka'bah dengan dikelilingi 360 berhala yang disembah oleh orang-orang Arab Jahiliyah. Meski disebut sebagai masjid Al-Haram, namun pada kenyataannya tempat itu adalah tempat ibadahnya orang-orang Arab Jahiliyah. Mereka bukan hanya menyembah Allah SWT tetapi juga menyembah Latta, Mana dan Uzza serta ratusan berhala lainnya. b. Rasulullah SAW Shalat di Betlehem Selain itu, Rasulullah SAW juga shalat di masjid Al-Aqsha ketika beliau diisra'kan kesana, padahal saat itu tempat tersebut masih merupakan tempat ibadah agama nasrani saat itu. Setiap tahun umat Kristiani merayakan beragam ibadah ritual di tempat itu, bahkan mereka menyembah Nabi Isa alaihissalam di tempat tersebut. Namun beliau SAW diriwayatkan melakukan shalat di tempat itu. Adapun apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab radhiyallahuanhu dalam penaklukan Baitul Maqdis di Betlehem, dimana pada waktu shalat beliau memilih shalat diluar gereja, bukan karena hukumnya haram shalat di dalam gereja. Namun hal itu beliau lakukan untuk mengayomi umat Kristiani saat itu agar tidak dijatuhkan mentalnya, serta untuk menghindari prasangka buruk mereka bahwa Islam ingin semata-mata hanya ingin menghancurkan agama lain dengan

114

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 5 : Tempat Shalat

cara mengubah gereja menjadi masjid. Maka Umar pun memilih tempat di halaman masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dan hingga kini tempat itu kemudian dibangunkan bangunan tersendiri dan disebut dengan Masjid Umar. 3. Pendapat Yang Melarang Namun ada juga sebagian kalangan yang melarang atau mengharamkan shalat di dalam tempat ibadah orang kafir. Alasannya karena tempat itu dipenuhi dengan setan serta simbol-simbol kemungkaran.

115

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Ikhtishar
A. Syarat Wajib
1. Beragama Islam 2. Baligh 3. Berakal

B. Syarat Sah Shalat


1. Muslim 2. Tahu Waktu Shalat Sudah Masuk 3. Suci dari Hadats Besar dan Kecil 4. Suci Badan, Pakaian dan Tempat 5. Menutup Aurat 6. Menghadap ke Kiblat

Syarat shalat adalah hal yang harus terpenuhi untuk sahnya sebuah ibadah shalat. Syarat ini harus ada sebelum ibadah shalat dilakukan. Bila salah satu dari syarat ini tidak terdapat, maka shalat itu menjadi tidak sah hukumnya. Syarat shalat itu ada dua macam. Pertama, syarat wajib, yaitu syarat yang bila terpenuhi, maka seseorang diwajibkan untuk melakukan shalat. Kedua, syarat sah, yaitu syarat yang harus terpenuhi agar ibadah shalat itu menjadi sah hukumnya. A. Syarat Wajib Bila semua syarat wajib terpenuhi, maka wajiblah bagi seseorang yang telah memenuhi syarat wajib untuk melakukan ibadah shalat. Sebaliknya, bila salah satu dari syarat wajib itu

117

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

tidak terpenuhi, maka dia belum diwajibkan untuk melakukan shalat. Adapun yang termasuk dalam syarat wajib shalat adalah hal-hal berikut ini. 1. Beragama Islam Seseorang harus beragama Islam terlebih dahulu agar punya beban kewajiban shalat. Selama seseorang belum menjadi muslim, maka tidak ada beban kewajiban shalat baginya. Tidak ada konsekuensi hukuman buat non-muslim bila tidak mengerjakan shalat di dunia ini. Artinya, orang yang memang statusnya bukan muslim, tidak berlaku atasnya hukuman di dunia ini bila dia meninggalkan shalat. Berbeda dengan orang yang statusnya muslim tapi meninggalkan shalat, maka para ulama berpendapat bahwa mereka itu berhak untuk dijatuhi beberapa jenis hukuman. Namun meski orang bukan muslim yang tidak mengerjakan shalat itu tidak dihukum di dunia ini, di akhirat nanti dia tetap akan disiksa dan dibakar di neraka. Sebab khitab dari Allah SWT tentang perintah shalat ini berlaku untuk muslim dan non muslim. Hanya saja bila non muslim mengerjakan shalat, shalatnya tetap tidak sah, kecuali setelah dia masuk Islam. Sedangkan seorang muslim bila tidak shalat, selain disiksa di akhirat, di dunia ini pun harus dijatuhi hukuman oleh pemerintah Islam atau mahkamah syar'iyah. Itulah yang membedakan antara kewajiban shalat seorang muslim dengan non muslim. Namun bila ada seorang kafir yang masuk Islam, tidak ada kewajiban untuk mengqadha' atau mengganti shalat yang selama ini ditinggalkannya. Hal itu berdasarkan firman Allah SWT :

118

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu : "Jika mereka berhenti, niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosadosa mereka yang sudah lalu. Dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku sunnah orang-orang dahulu ".(QS. Al-Anfal : 38)

Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya :

Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Keislaman seseorang akan menghapus semua dosa sebelumnya". (HR. Ahmad, At-Tabarany dan Al-Baihaqi).

Namun sebaliknya, bila ada seorang muslim murtad dari agama Islam. Lalu masuk lagi ke dalam agama Islam, maka shalat yang pernah ditinggalkannya wajib digantinya dengan qadha'. Hal itu dimaksudkan sebagai hukuman untuknya dan juga karena kekufurannya yang hanya sesaat itu tidak lah menggugurkan kewajibannya kepada Allah. Persis seperti hutang seseorang kepada sesama manusia. Tetap wajib dibayarkan meski seseorang murtad dari Islam. Namun menurut pendapat kalangan Al-Hanafiyah, orang yang murtad tidak wajib untuk mengqadha' shalat yang ditinggalkannya, lantaran pada hakikatnya dia adalah seorang non muslim yang tidak wajib shalat. 2. Baligh Seorang anak kecil yang belum mengalami baligh tidak wajib shalat. Dasarnya adalah sabda Rasululah SAW :

: :
Dari Ali radhiyallahu anhu dan Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Pena telah diangkat dari tiga orang, dari seorang yang tidur hingga terjaga, dari seorang anak kecil

119

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

hingga mimpi dan dari seorang gila hingga waras "(HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim)

Pada anak laki-laki, baligh ditandai dengan telah keluarnya mani. Sedangkan pada anak perempuan, baligh ditandai dengan telah keluarnya darah haidh, minimal di usia 9 tahun menurut hitungan tahun qamariyah. Meskipun seorang anak kecil belum baligh, namun orangtua mereka tetap dianjurkan untuk memerintahkan shalat ketika anak-anak itu berusia 7 tahun. Dan boleh dipukul bila masih belum mau mengerjakannya setelah berusia 10 tahun. Dalilnya adalah hadits berikut ini :

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Perintahkanlah anakmu untuk shalat pada usia 7 tahun dan pukullah pada usia 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka (anak-anak laki dan anak-anak perempuan)".(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim)

Perintah ini bukan untuk anak melainkan kepada para orang tua, yakni mereka diwajibkan untuk memerintahkan anaknya shalat pada usia 7 tahun. Sebagaimana firman Allah SWT :

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat itu adalah bagi orang yang bertakwa.".(QS. Thaha : 132)

3. Berakal

120

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Kewajiban shalat lima waktu hanya berlaku buat mereka yang berakal alias waras otaknya. Sedngkan orang yang tidak waras seperti gila, ayan dan berpenyakit syaraf tidak wajib mengerjakan shalat. Sebab orang yang demikian tidak sadar diri dan tidak mampu berpikir. Maka tidak ada beban kewajiban beribadah atas dirinya. Kewajiban shalat hanya ada pada saat mereka sadar dan waras, dimana terkadang memang seseorang tidak selamanya gila atau hilang akal. Namun begitu ketidak-sadaran atas dirinya datang, maka dia tidak wajib mengerjakan shalat. Menurut jumhur ulama, orang yang sempat untuk beberapa saat hilang kewarasannya, begitu sudah kembali ingatannya tidak wajib mengqadha' shalat. Namun hal itu berbeda dengan pendapat kalangan Al-Hanafiyah yang justru mewajibkannya untuk mengqadha' shalat. Sedangkan bila hilang kesadaran karena seseorang minum khamar dan mabuk, maka dia wajib mengqadha' shalatnya. Demikian juga hal yang sama berlaku pada orang yang tidur, begitu dia bangun, wajiblah atasnya mengqadha' shalat yang terlewat. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang lupa shalat hendaklah segera shalat begitu ingat. Tidak ada kaffarah atasnya kecuali hanya melakukan shalat itu saja".(HR. Bukhari dan Muslim)

Tiga hal di atas adalah syarat-syarat wajib shalat, dimana bila syarat itu terpenuhi pada diri seseorang, wajiblah atasnya untuk melakukan shalat. B. Syarat Sah Shalat Sebagaimana dijelaskan di atas, syarat sah shalat adalah halhal yang harus terpenuhi sebelum seseorang mengerjakan shalat

121

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

agar shalatnya menjadi sah hukumnya. Diantaranya adalah muslim, berakal, tahu sudah masuk waktu, suci dari hadats, suci dari najis, menutup aurat dan menghadap kiblat. 1. Muslim Berstatus muslim selain menjadi syarat wajib, juga sekaligus menjadi syarat sah dalam shalat. Artinya, tidak sah niat, bacaan dan gerakan shalat yang dilakukan oleh orang kafir, meski seluruhnya sudah benar. Di akhirat nanti, tetap saja orang kafir yang melakukan ritual shalat dihukum dengan sebab tidak shalat. Sebab shalat yang dilakukannya tidak sah dalam kacamata syariah. 2. Berakal Keadaan seseorang yang sehat akalnya selain menjadi syarat wajib, juga menjadi syarat sah dalam shalat. Dengan kata lain, orang gila yang akalnya tidak bekerja dengan benar, maka tidak sah shalatnya. Lalu apa kaitannya kita membahas orang gila yang melakukan shalat? Kalau orang gila melakukan shalat sendirian, memang tidak ada masalah. Tetapi akan akan menjadi masalah apabila ada orang yang di belakang orang gila. Hukumnya menjadi tidak sah. Dasarnya sebagaimaan nanti akan dijelaskan dalam bab shalat berjamaah, bahwa syarat seorang menjadi imam adala bahwa shalatnya itu harus shalat yang sah. Karena syarat sahnya shalat adalah berakal alias berakal dan shalatnya orang gila tidak sah, maak menjadi makmum dari orang gila pun hukumnya menjadi tidak sah. 3. Tahu Waktu Shalat Sudah Masuk Bila seseorang melakukan shalat tanpa pernah tahu apakah waktunya sudah masuk atau belum, maka shalatnya itu tidak memenuhi syarat. Sebab mengetahui dengan pasti bahwa waktu shalat sudah masuk adalah bagian dari syarat sah shalat.

122

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Bahkan meski pun ternyata sudah masuk waktunya, namun shalatnya itu tidak sah lantaran pada saat shalat dia tidak tahu apakah sudah masuk waktunya atau belum. Tidak ada bedanya, apakah seseorang mengetahui masuknya shalat dengan yakin atau sekedar berijtihad dengan dasar yang kuat dan bisa diterima. Dasar keharusan adanya syarat masuk waktu ini adalah firman Allah SWT :


Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa : 103)

4. Suci dari Najis : Badan, Pakaian dan Tempat Tidak sah seseorang shalat dalam keadaan badannya terkena najis, juga bila pakaian atau tempat shalatnya terkena najis. Sebelum berwudhu, wajiblah atasnya untuk menghilangkan najis dan mencucinya hingga suci. Setelah barulah berwudhu' untuk mengangkat hadats dan mulai shalat. Dalil keharusan sucinya badan dari najis adalah
"Bila kamu mendapat haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan bila telah usai haidh, maka cucilah darah dan shalatlah".(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil keharusan sucinya pakaian dari najis adalah firman Allah SWT :


"Dan pakaianmu, bersihkanlah".(QS. Al-Muddatstsir : 4)

Ibnu Sirin mengatakan bahwa makna ayat ini adalah perintah untuk mencuci pakaian dengan air. Hadits yang menceritakan seorang arab badawi yang kencing di dalam masjid. Oleh Rasulullah SAW diperintahkan untuk menyiraminya dengan seember air. 5. Suci dari Hadats Kecil dan Besar

123

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Hadats besar adalah haidh, nifas dan janabah. Dan untuk mengangkat atau menghilangkan hadats besar harus dengan mandi janabah, namun boleh dengan tayammum bila tidak ada air. Sedangkan hadats kecil adalah kondisi dimana seseorang tidak punya wudhu atau batal dari wudhu'nya. Dan untuk mengangkat hadats kecil ini bisa dilakukan dengan wudhu', namun boleh dengan bertayammum bila tidak ada air. Allah SWT berfirman :


Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (QS. AlMaidah : 6)

Selain itu ada hadits Rasulullah SAW berikut ini :

:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Allah tidak menerima shalat tanpa thaharah".(HR. Jamaah kecuali Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Allah tidak menerima shalat seorang kamu bila berhadats sampai dia berwudhu'"(HR. Bukhari, Muslim, Abu

124

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Daud dan Tirmizy).

6. Menutup Aurat Tidak sah seseorang melakukan shalat bila auratnya terbuka, meski pun dia shalat sendirian jauh dari penglihatan orang lain. Juga meski dia shalat di tempat yang gelap tidak ada sinar sedikitpun. Dalil atas kewajiban menutup aurat pada saat melakukan shalat adalah firman Allah SWT berikut ini :


Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap mesjid.(QS. Al-A'raf : 31)

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata bahwa yang dimaksud dengan perhiasan dalam ayat ini maksudnya adalah pakaian yang menutup aurat. Selain itu ada hadits Nabi yang menegaskan kewajiban wanita memakai khimar pada saat shalat.

Dari Aisyah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidak sah shalat seorang wanita yang sudah mendapat haidh kecuali dengan memakai khimar.(HR. AlKhamsah kecuali An-Nasai).

Khimar adalah kerudung yang menutup kepala seorang wanita.


Dari Aisyah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai Asma', bila seorang wanita sudah mendapat haidh maka dia tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini". Lalu beliau SAW menunjuk kepada wajah dan kedua tapak tangannya. (HR. Abu Daud - hadits mursal).

Kewajiban menutup aurat ini berlaku bagi setiap wanita yang sudah pernah haidh baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Dengan pengecualian bila dia berada di dalam rumahnya

125

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

yang terlindung mahramnya.

dari

penglihatan

laki-laki

yang

bukan

7. Menghadap ke Kiblat Tidak sah shalat yang dikerjakan manakala tidak dilakukan dengan menghadap ke kiblat. Dalilnya adalah firman Allah SWT :


"Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.(QS. Al-Baqarah : 150)

a. Keharusan Berijtihad Bila seseorang tidak tahu kemana arah kiblat, maka wajiblah baginya mencari tahu sebisanya dan berijtihad (baca: bersungguh-sungguh) dalam mendapatkan informasi tentang arah kiblat. Meski pun hasilnya bisa berbeda-beda karena minimnya informasi. Hal itu tidak mengapa asalkan sudah berijtihad sebelumnya. Sebab dahulu para shahabat pernah mengalami kejadian dimana mereka shalat pada malam yang sangat gelap tanpa sinar sedikitpun dan juga tidak tahu arah kiblat. Lalu akhirnya mereka shalat menghadap ke arah apa yang mereka hayalkan saja. Saat Rasulullah diberitahu hal itu, beliau membaca firman Allah SWT :


b. Teknik Mendapatkan Arah Ka'bah
Pertama : Memanfaatkan Bayangan Sinar Matahari

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 115)

126

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Salah satu warisan dari para ulama di masa lalu yang masih sangat bermanfaat secara langsung adalah tentang posisi matahari. Kita mengenal matahari bergerak secara semu dari Timur ke Barat setiap hari. Namun lintasannya itu ternyata juga bergerak dari Utara ke Selatan dan sebaliknya dalam kurun waktu setahun. Para ahli telah menghitung perputaran bumi dan telah memastikan bahwa semua tempat di muka bumi yang berada di antara 22 1/2 derajat lintang Utara dan 22 1/2 lintang Selatan pasti akan dilewati oleh matahari, dua kali setahun. Meski hanya dalam bilangan menit saja. Kota Makkah pun mengalami saat-saat di mana matahari akan tepat berada di atasnya, dua kali dalam setahun. Setiap tahun tepat pada tanggal 26 sampai 30 Mei untuk yang pertama dan tanggal 14 s/d 18 Juli untuk yang kedua, matahari akan berada tepat di atas kota suci Mekkah Al-Mukarramah. Kejadian ini akan tetap terus berlangsung tiap tahun sepanjang masa untuk tanggal-tanggal yang sama. Bila pada detik-detik matahari sedang berada tepat di atas kota Makkah, maka semua orang yang tinggal di berbagai belahan bumi lainnya yang masih bisa melihat matahari, akan dengan mudah bisa menetapkan posisi kota Makkah. Caranya cukup dengan melihat posisi matahari berada, karena tepat di bawahnya terletak kota Makkah. Pada kejadian itu tentu saja Makkah sedang berada dalam posisi tengah hari, kira-kira jam 12.18 di bulan Mei atau jam 12.27 di bulan Juli. Tetapi bagi wilayah lain, boleh jadi ada perbedaan jam. Atau kalau kita gunakan standar GMT berarti jam 09.18 dan jam 09.27. Khusus untuk waktu Indonesia bagian barat, detik-detik matahari tepat berada di kota Makkah pada tanggal 26 sampai 30 Mei pada jam 16.18 WIB. Sedangkan pada tanggal 14 sampai 18 Juli pada jam 16.27 WIB. Rentang waktunya hanya sekitar lima menit saja, begitu waktu bergerak lagi, maka posisi matahari akan bergeser lagi,

127

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

tidak lagi ada di atas kota Makkah. Kalau tidak ada mendung atau awan yang menutupi, pada detik-detik itu selama kurang lebih 5 menit, posisi matahari akan tepat berada di atas kota Makkah. Jadi tinggal kita tandai saja posisi arah matahari, di situlah posisi ka'bah yang tepat berada di tengah kota suci Makkah AlMurramah. Kalau terlewat, masih ada kesempatan kedua, kita tunggu sampai nanti bulan Juli, tepatnya tanggal 14 s/d 18 Juli. Kita lihat matahari pada jam 16.27 sore hari. Saat itu menurut perhitungan, matahari akan kembali melewati tepat di atas kota Makkah, dalam perjalanan semunya ke arah Selatan.
Negara Yang Tidak Bersamaan Siangnya Dengan Makkah

Khusus untuk negeri yang berlawanan siang dan malam dengan kota Makkah, bisa diperhitungkan dengan posisi lawannya di balik bumi. Posisi matahari yang tepat berada di balik bumi yang berlawanan dengan kota Makkah bisa dijadikan patokan. Yaitu setiap tahun pada 28 November 21:09 UT (29 November 04:09 WIB) dan 16 Januari 21:29 UT (17 Januari 04:29 WIB). Jadi logikanya, arah kiblat adalah arah yang berlawanan dengan arah matahari pada hari dan jam serta menit tersebut di atas. Halangannya cuma satu, yaitu cuaca buruk. Dalam keadaan cuaca buruk yang tidak bersahabat, matahari tidak terlihat, metode ini jadi tidak berguna. Karena metode ini mengandalkan penglihatan kita langsung ke arah posisi matahari. Seandainya cuaca cerah dan matahari nampak bersinar, maka anak kecil juga bisa menetapkan karah kiblat. Syariah Islam itu mudah memang.
Google Earth

Selain dengan menggunakan cara konvensional, kita juga bisa memanfaatkan teknologi modern dengan bantuan internet, yaitu Google Earth.

128

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Google Earth sebenarnya kumpulan dari puluhan ribu foto udara dan satelite yang digabung-gabungkan sedemikian rupa dalam sebuah software. Kita bisa melihat foto udara berbagai macam tempat di permukaan bumi termasuk foto udara masjid Al-Haram di Mekkah. Dan yang menarik, kita juga bisa menarik garis lurus dari masjid Al-Haram ke titik mana saja yang ingin kita ketahui arahnya. Sekaligus juga kita bisa mengetahui jarak lurus antara kedua titik itu. Setidaknya meski tidak bisa dijadikan sandaran utama, tapi sekedar untuk panduan awal, rasanya boleh juga dicoba. Tentu tetap harus diukur oleh orang yang profesional untuk kekuatan hukumnya. Memanfaatkan Goggle Earth itu free tanpa bayar, syaratnya harus menggunakan komputer yang terkoneksi dengan internet. Sebelumnya perlu download dulu softwarenya di http://earth.google.com dengan gratis. Setelah itu kita sudah bisa mulai melakukan pengukuran. 1. Pertama yang harus kita lakukan adalah mencari posisi masjid Al-Haram Makkah "dari atas langit", caranya bisa dengan mengetikkan key word : mekkah.

2.

Dan Google Earth akan membawa Anda terbang ke langit kota Mekkah. Dalam hitungan detik di layar muncul tampilan seperti ini.

129

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

3.

Tandai masjid itu dengan tombol tambahkan tanda letak (Add ReplaceMark) dan namai masjid Al-Haram.

Nama itu seharusnya muncul di menu sebelah kiri. 4. Sekarang cari tentukan lokasi masjid, rumah atau tempat yang mau kita ukur letaknya dari masjid Al-Haram. Kali ini lebih mudah, karena di menu sebelah kiri bagian atas sudah ada form untuk melakukan pencarian. Tuliskan nama tempat atau masjid, misalnya masjid Istiqlal di Jakarta. Ketiklah : istiqlal jakarta. Maka Google Earth akan membawa Anda terbang ke Indonesia, tepatnya Jakarta, persis di atas masjid Istiqlal. Kalau benar, hasilnya akan seperti ini.

130

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

5.

Sekarang tinggal memberi lagi tanda place mark sekali lagi. Klik tombol dan namai dengan : masjid Istiqlal. Kalau benar akan muncul seperti ini :

6.

Sekarang kita sudah punya dua titik koordinat. Pertama masjid Al-Haram di Makkah dan kedua masjid Istiqlal di Jakarta. Tampilannya ada di sebelah kiri seperti gambar ini :

Kalau kita klik dua kali pada masjid Al-Haram, maka kita akan terbang ke Mekkah dan tampillah foto udara kota Mekkah khususnya masjid Al-Haram. Dan kalau klik dua kali pada masjid Istiqlal, maka kita akan terbang kembali ke Jakarta. Sekarang tugas kita adalah membuat garis lurus antara

131

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

kedua titik itu. Nanti berdasarkan garis lurus itulah arah ka'bah (qiblat) akan menjadi nampak jelas terlihat. Garis ini akan membuktikan apakah arah kiblat masjid Istiqlal sudah tepat benar atau masih melenceng. 7. Untuk membuat garis lurus, kita mulai dari mengklik dua kali masjid Al-Haram, dan bila sudah tepat lokasinya, kita klik tombol : perlihatkan penggaris. 8. Letakkan awal penggaris tepat di masjid Al-Haram, lalu klik dua kali masjid Istiqlal. Kita terbang ke Jakarta dan garis kuning penggaris akan ikut sampai ke Jakarta. 9. Tepat di atas masjid Istiqlal, kita klik sekali lagi untuk menandai batas akhir penggaris.

Ini adalah contoh hasil pengukuran arah dan jarak dari masjid Al-Haram di Makkah ke Masjid Istiqlal di Jakarta. Garis putih atau kuning itu menunjukkan arah masjid sudah benar dan ternyata jaraknya 7.900-an km. Dan arah kiblat masjid Istiqlal ini benar, karena sejajar dengan garis. Anda bisa melakukan percobaan yang sama dengan masjidmasjid lain di mana saja anda suka. Caranya kira seperti yang sudah disebutkan di atas. c. Shalat Tanpa Menghadap Kiblat Namun syarat harus menghadap ke kiblat ini tidak mutlak, karena masih ada beberapa pengecualian karena ada alasan yang memang tidak mungkin dihindari.

132

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 6 : Syarat-syarat Shalat

Pertama : Shalat Khauf

Dibolehkan tidak menghadap kiblat pada saat shalat khauf, yaitu shalat yang dilakukan pada saat perang menghadapi musuh. Maka bolehlah tidak menghadap kiblat tetapi malah menghadap ke arah dimana musuh berada. Kebolehan ini karena memang telah dilakukan di masa Rasulullah SAW dan telah dijelaskan teknisnya dalam haditshadits nabawi.
Kedua : Shalat Sunnah atau Nafilah

Boleh tidak menghadap kiblat pada saat shalat sunnah (nafilah) di atas kendaraan. Sebab dahulu Rasulullah SAW pernah melakukannya.

: :
Dari Amir bin Rabiah radhiyallahu anhu berkata,"Aku melihat Rasulullah SAW shalat di atas untanya dengan menghadap kemana pun arah untanya. (HR. Bukhari dan Muslim) Al-Bukhari menambahkan : beliau membungkuk (saat rukuk dan sujud). At-Tirmizy berkata,Namun beliau tidak melakukanya pada shalat wajib. Ketiga : dalam keadaan sakit

Al-Malikiyah dan Al-Hanafiyah memberikan kelonggaran lainnya yaitu bila seseorang dalam keadaan sakit yang parah dan membuatnya tidak bisa berubah posisi menghadap ke kiblat. Pada kondisi demikian, maka dibolehkan baginya shalat menghadap kemana saja yang dia mampu melakukannya.

133

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Ikhtishar
A. Pengertian Rukun
1. Bahasa 2. Istilah

B. Perbedaan Ulama Dalam Penetapan Rukun


1. Al-Hanafiyah 2. Al-Malikiyah 3. Asy-Syafiiyah 4. Al-Hanabilah

C. Rukun Shalat Dalam Mazhab Asy-Syafi'iyah


1. Versi 13 Rukun 2. Versi 14 Rukun 3. Versi 17 Rukun

D. Niat
1. Pengertian 2. Dalil 3. Rukun atau Syarat? 4. Melafadzkan Niat

E. Takbiratul Ihram
1. Makna 2. Kedudukan 3. Takbir Makmum Bersama Imam

F. Berdiri
1. Dalil 2. Orang Sakit Boleh Tidak Berdiri

135

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

3. Khusus Shalat Fardhu 4. Syarat Berdiri

G. Membaca Al-Fatihah
1. Jumhur vs Al-Hanafiyah 2. Apakah Makmum Wajib Membaca Al-Fatihah? 3. Apakah Basmalah Termasuk Al-Fatihah?

H. Ruku'
1. Perintah 2. Wajib Thuma'ninah 3. Bacaan Ruku' 4. Membaca Al-Quran dan Doa Saat Ruku' 5. Ruku' Sebagai Batas Ikut Satu Rakaat 6. Ruku' Laki-laki dan Perempuan

I. I'tidal
1. Jumhur vs Al-Hanafiyah 2. Bacaan I'tidal 3. Posisi Tangan

J. Sujud
1. Pengertian 2. Pensyariatan 3. Mana Lebih Dahulu : Tangan atau Lutut? 4. Bekas Sujud

K. Duduk Antara Dua Sujud


1. Posisi Duduk 2. Dalil 3. Bacaan

L. Duduk Tasyahhud Akhir


1. Al-Hanafiyah 2. Al-Malikiyah 3. Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah

M. Membaca Lafazdz Tasyahhud Akhir


1. Versi Pertama 2. Versi Kedua

136

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

N. Membaca Shalawat
1. Hukum 2. Dalil

O. Mengucapkan Salam Pertama


1. Dalil 2. Salam Pertama dan Kedua 3. Lafadz Salam 4. Salam Menjadi Doa

P. Tertib
1. Pengertian 2. Dalil

Q. Thuma'ninah
1. Pengertian 2. Kedudukan 3. Dalil

A. Pengertian 1. Bahasa Makna kata rukun ( )dalam bahasa Arab adalah sudut atau tiang pada suatu bangunan. Rukun sering juga disebut dengan :

bagian yang kuat dan perkara yang lebih besar.

Rukun juga sering disebut sebagai anggota dari suatu badan, atau al-jawarih (). Hal itu seperti yang disebutkan di dalam hadits riwayat Muslim :

Dikatakan kepada rukun-rukunnya : Berbicaralah. Maksudnya

137

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

anggota badannya. (HR. Muslim)

Rukun dari sesuatu artinya sisi-sisi dari sesuatu itu, seperti diungkapkan di dalam Kamus Al-Muhith :


Dan rukun dari segala sesuatu adalah sisi-sisinya, yang dijadikan tempat bersandar dan berdiri. 2. Istilah Fiqih Dalam istilah ilmu fiqih, rukun didefinisikan sebagai :

Segala yang membuat sesuatu tidak akan akan terwujud tanpanya.1

Sehingga rukun haji haji adalah segala hal yang tanpa perbuatan itu membuat ibadah haji menjadi tidak sah. Atau dengan kata lain : Segala hal yang tanpanya membuat sebuah ibadah haji menjadi tidak sah. Bila seseorang yang melakukan ritual ibadah haji meninggalkan satu dari sekian banyak rukun-rukun haji, baik disengaja atau tidak sengaja, maka ibadah hajinya itu tidak sah hukumnya. Karena itu ketika kita bicara tentang rukun-rukun shalat, berarti kita bicara tentang bagian-bagian yang paling fundamental dan asasi dalam shalat. Bila salah satu dari rukunrukun ini rusak atau tidak dikerjakan, maka seluruh rangkaian ibadah shalat itu menjadi batal dan tidak sah. B. Perbedaan Ulama dalam Penetapan Rukun Shalat Namun meski sangat fundamental, para ulama mazhab yang paling masyhur berbeda-beda pendapatnya ketika menetapkan mana yang menjadi bagian dari rukun shalat.
1

Lisanul Arab pada madah ()

138

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

1. Al-Hanafiyah : 6 Rukun Kalangan mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa jumlah rukun shalat hanya ada 6 perkara saja, yaitu takbiratul ihram, berdiri, membaca surat Al-Fatihah, ruku, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Selebihnya dalam pandangan mazhab ini bukan termasuk rukun, meski tetap wajib dikerjakan. 2. Al-Malikiyah : 14 Rukun Sedangkan Al-Malikiyah menyebutkan bahwa rukun shalat ada lebih banyak dari itu, yaitu sampai 14 perkara. Masing-masing adalah niat, takbiratul-ihram, berdiri, membaca Al-Fatihah, ruku', i'tidal (bangun dari ruku'), sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahhud akhir, membaca tasyahhud akhir, membaca shalawat kepada Nabi SAW, salam, tertib dan tuma'ninah. 3. Asy-Syafiiyah : 13-17 Rukun Lebih banyak lagi adalah mazhab As-Syafi'iyah yang menyebutkan bahwa shalat itu punya sekurang-kurangnya 13 rukun. Dan jumlah rukun ini bisa mencapai 17 perkara bila semua thumaninah disebutkan secara tersendiri pada tiap gerakan ruku', sujud', i'tidal, dan duduk di antara dua sujud. 4. Al-Hanabilah : 13 Rukun Dan mazhab Al-Hanabilah menyebutkan jumlah rukun dalam shalat ada 13 rukun. Kecuali pada masalah niat yang bukan termasuk rukun, masing-masing rukun shalat pada mazhab ini sama dengan mazhab Al-Malikiyah. Untuk lebih jelasnya silahkan perhatikan tabel berikut ini yang kami buat berdasarkan kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah Az-Zuhaily.

139

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Tabel Perbandingan Rukun Shalat Antar Mazhab

Gerakan / Bacaan
1. Niat 2. Takbiratul-ihram 3. Berdiri 4. Membaca Al-Fatihah 5. Ruku' 6. I'tidal (bangun dari ruku') 7. Sujud 8. Duduk Antara Dua Sujud 9. Duduk Tasyahhud Akhir 10. Membaca Tasyahhud Akhir 11. Membaca Shalawat 12. Salam 13. Tertib 14. Tuma'ninah TOTAL

Hanafi

Malik

Syafi'i

Hambali

X x X X X X X X X 5

14

14

x 13

C. Rukun Shalat Dalam Mazhab Asy-Syafi'iyah Di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah, kalau kita tanyakan keapda para ulama, ternyata ada beberapa perbedaan dalam menetapkan jumlah rukun shalat. Ada yang menyebutkan

140

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

bahwa rukun shalat itu 13 perkara, ada yang 14 perkara dan ada juga yang 17 perkara. Namun kalau kita teliti lebih dalam, ternyata perbedaan itu hanya dalam cara menghitungnya. Sedangkan esensinya tetap sama dan tidak ada perbedaan. Titik pangkalnya ada pada rukun thuma'ninah. Mereka sepakat bahwa thuma'ninah itu bagian dari rukun shalat, tetapi mereka tidak sepakat apakah harus dihitung satu persatu, atau semua thuma'ninah di beberapa rukun tidak dihitung. 1. Versi 13 Rukun Versi yang 13 rukun menghitung bahwa jumlah rukun shalat itu hanya tiga belas saja, bukan 14 atau 17. Titik pangkalnya ketika menghitung thuma'ninah, dihitung langusng bersama dengan beberapa rukun. Sehingga hitungannya menjadi seperti berikut ini :
1. Niat 2. Takbiratul Ihram 3. Berdiri 4. Membaca Surat Al-Fatihah 5. Ruku' & Thuma'ninah 6. I'tidal & Thuma'ninah 7. Sujud & Thuma'ninah 8. Duduk di antara Dua Sujud & Thuma'ninah 9. Duduk Tasyahhud Akhir 10. Mambaca Lafadz Tasyahhud 11. Membaca Shalawat 12. Mengucap Salam Pertama 13. Tertib

2. Versi 14 Rukun Versi yang 14 rukun menyebutkan thuma'ninah secara tersendiri, sehinngga dari 13 rukun ditambah satu lagi yang ke14, yaitu thuma'ninah.
1. Niat 2. Takbiratul Ihram 3. Berdiri 4. Membaca Surat Al-Fatihah 5. Ruku' 6. I'tidal 7. Sujud 8. Duduk di antara Dua Sujud 9. Duduk Tasyahhud Akhir 10. Mambaca Lafadz Tasyahhud 11. Membaca Shalawat 12. Mengucap Salam Pertama 13. Tertib 14. Thuma'ninah pada ruku, itidal, sujud

141

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

dan duduk di antar dua sujud

3. Versi 17 Rukun Sebagian ulama ada yang memasukkan Thuma'ninah ini pada masing-masing gerakan ruku', itidal, sujud dan duduk di antara dua sujud. Sehingga jumlah rukun shalat bertambah menjadi 17 perkara, seperti pada tabel berikut ini :
1. Niat 2. Takbiratul Ihram 3. Berdiri 4. Membaca Surat Al-Fatihah 5. Ruku' 6. Thuma'ninah 7. I'tidal 8. Thuma'ninah 9. Sujud 10. Thuma'ninah 11. Duduk di antara Dua Sujud 12. Thuma'ninah 13. Duduk Tasyahhud Akhir 14. Mambaca Lafadz Tasyahhud 15. Membaca Shalawat 16. Mengucap Salam Pertama 17. Tertib

D. Niat Rukun yang pertama dalam ibadah shalat -dan juga semua ibadah ritual lainnya- adalah niat. Sebuah ibadah tanpa niat tidak dinilai sebagai ibadah oleh Allah SWT. 1. Pengertian Para ulama punya beberapa definisi niat, salah satunya apa yang ditetapkan oleh mazhab Al-Hanafiyah :


Bermaksud untuk taat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam bentuk mengerjakan suatu perbuatan. Mazhab Al-Malikiyah mendefinisikan niat sebagai :

Seseorang bermaksud dengan hatinya atas apa yang diinginkan

142

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

pada perbuatannya.

Dalam hal ini Al-Malikiyah menegaskan bahwa niat itu masuk dalam bab tekat dan keinginan dan bukan ilmu dan keyakinan. Adapun mazhab Asy-Syafiiyah menyebutkan bahwa niat itu adalah :

Bermaksud untuk mendapatkan sesuatu yang disertai dengan perbuatan.

Dan mazhab Al-Hanabilah mendefinisikan niat sebagai :


Tekat hati untuk mengerjakan suatu ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah SWT

Ibadah itu dikerjakan dengan hanya mengharap Allah. Dan bukan dengan mengharap yang lain, seperti melakukannya demi makhluk, atau mencari harta dan pujian dari manusia, atau agar mendapatkan kecintaan dari memuji mereka. 2. Dalil Atas Keharusan Niat Bahwa setiap bentuk ibadah membutuhkan niat, didasari oleh hadits nabawi berikut ini :

Sesungguhnya amal ibadah itu harus dengan niat. Dan setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. (HR. Bukhari)

Selain itu juga ada hadits yang menyebutkan betapa pentingnya kedudukan niat di dalam hati.

143

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1


Sesungguhnya Allah tidak melilhat pada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan perbuatan kalian. (HR. Muslim)

3. Niat : Rukun, Syarat atau Fardhu? Pada ulama berbeda pendapat tentang posisi niat dalam suatu ibadah, apakah menjadi rukun, syarat atau fardhu. a. Rukun Mazhab Asy-Syafiiyah selalu menempatkan niat sebagai rukun dari suatu perbuatan ibadah formal, seperti wudhu, tayammum, mandi janabah, shalat, haji dan sebagainya. Dasarnya karena pengertian niat dalam mazhab AsySyafiiyah adalah tekat untuk mengerjakan sesuatu yang beriringan dengan pengerjaannya. Artinya, niat itu dilakukan bersamaan dengan perbuatan, bukan dikerjakan sebelumnya. Dan apa-apa yang sudah masuk di dalam perbuatan, maka posisinya bukan syarat tetapi rukun. Umumnya kita bangsa Indonesia yang nota bene bermazhab Asy-Syafiiyah, sejak kecil selalu diajarkan tentang rukun-rukun ibadah, dan niat selalu berposisi pada urutan pertama dalam hampir semua jenis ibadah. b. Syarat Sebaliknya, umumnya mazhab-mazhab lain seperti AlHanafiyah, Al-Malikiyah dalam pendapat yang zhahir dan juga Al-Hanabilah mengatakan bahwa kedudukan niat dalam ibadah adalah syarat sah, dan bukan rukun dari ibadah itu. Hal itu disebabkan karena dalam pandangan mereka bahwa niat itu harus sudah ada di dalam hati sebelum suatu ibadah dilakukan. Dan apa-apa yang harus sudah ada sebelum ibadah dilakukan, namanya syarat dan bukan rukun. c. Fardhu Sementara itu, sebagian kalangan mazhab Al-Malikiyah

144

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

justru berpendapat bawha posisi niat itu bukan rukun dan juga bukan syarat, tetapi sebuah fardhu dalam ibadah. 4. Melafadzkan Niat Sudah menjadi perdebatan panjang sejak zaman penjajahan dahulu tentang hukum membaca ushalli. Sebagian kalangan dari umat Islam mengharuskannya dan berkeyakinan bahwa shalat yang tidak diawali dengan membaca ushalli adalah shalat yang tidak sah. Sementara yang lainnya malah menolak dan justru berfatwa sebaliknya, mereka memvonis bahwa shalat pakai ushalli adalah bidah dan berdosa kalau dikerjakan. Di masa lalu, khususnya di pedalaman dan desa-desa, urusan perdebatan masalah ushalli ini cukup sering dijadikan bahan saling mengejek dan menghina antara satu elemen umat Islam dengan yang lainnya. Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan ushalli ini dalam pandangan ilmu fiqih perbandingan mazhab? Sesungguhnya istilah ushalli ini bukan istilah yang lazim digunakan dalam literatur ilmu fiqih. Yang baku adalah istilah at-talaffudz bi an-niyyah () , yaitu melafadzkan niat.
Tempat Niat Dalam Hati

Dan sebenarnya seluruh ulama dari empat mazhab sudah sepakat bahwa yang namanya niat itu terletak di dalam hati dan bukan di lidah. Setidaknya, begitulah yang mereka definisikan, sebagaimana tercantum di atas. Tidak satu pun dari ulama mazhab yang menyebutkan bahwa niat itu adalah melafadzkan suatu teks tertentu di lidah kita. Sehingga semua sepakat, bahwa orang yang melafadzkan niat shalat, tetapi di hatinya sama sekali tidak berniat untuk shalat, maka apa yang diucapkannya itu sama sekali bukan niat. Misalnya ada seorang guru agama pagi-pagi sekali di depan kelasa mengajarkan lafadz niat itu di depan murid-muridnya. Dengan suara nyaring di depan kelas, pak guru itu mengulangulang lafadz :

145

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Sengaja aku shalat fardhu Maghrib tiga rakaat menghadap kiblat karena Allah taala

Lalu murid-muridnya pun berteriak mengulangi apa yang diucapkan pak guru. Dan begitu berulang-ulang sampai lebih dari 10 kali hingga mereka hafal luar kepala. Yang jadi pertanyaan, setelah melafadzkan ushalli lebih dari 10 kali dengan suara nyaring, apakah pak guru dan muridmuridnya itu memang benar-benar berniat untuk segera melakukan shalat Maghrib? Jawabnya tentu tidak. Karena lafadz itu sekedar diajarkan atau dilatih untuk dihafal saja, bukan benar-benar ada niat mau shalat. Lagian, mereka mengucapkannya pagi-pagi di kelas, sementara shalat Maghrib itu sendiri waktunya saat matahari terbenam. Contoh ini menunjukkan dengan mudah, bahwa melafadzkan niat itu tidak ada hubungannya dengan niat itu. Walau pun kita melafadzkannya berkali-kali, bahkan dengan suatu yang sekedar-kerasnya, selama di dalam hati kita tidak berniat, namanya bukan niat.
Lidah Berbeda Dengan Hati : Mana Yang Dipakai?

Bila apa yang dilafadzkan lidah karena satu dan lain hal, ternyata tidak sesuai dengan yang ada di dalam hati sebagai maksud dan tujuan, lalu manakah yang dipakai, apakah yang dilafadzkan ataukah yang diniatkan di dalam hati? Para ulama berdasarkan definisi dan pengertian niat, sepakat menyebutkan bahwa niat itu adalah apa yang tersirat di dalam hati, dan bukan apa yang diucapkan oleh lidah. Sehingga kalau keduanya saling berbeda, entah salah, tidak sengaja atau lupa, maka yang dipakai menjadi pegangan adalah apa yang terbersit di dalam hati. Dan bukan apa yang diucapkan lidah. Sebab niat itu adalah aktifitas hati.
Bolehkah Melafadzkan?

146

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Pada dasarnya kita tidak menemukan ada contoh melafadzan niat shalat ini dari hadits-hadits nabawi, atau dari atsar pada shahabat. Kalau pun ada, sebagian kalangan mengambil qiyas dari jenis ibadah yang lain, seperti ibadah haji, dimana Rasulullah SAW melafadzkan kalimat : Labbaikallahummah hajjan () . Oleh sebagian kalangan, ucapan beliau SAW itu dianggap melafadzkan niat dalam melaksanakan ibadah haji. Lalu diqiyaskan lafadz in dengan lafadz niat dalam ibadah shalat. Lalu pertanyaan yang paling esensial, apa hukum melafadzkan niat itu sendiri. Apakah sunnah atau sebaliknya malah menjadi makruh? Dalam hal ini ternyata para ulama berbeda pendapat. Mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah berpendapat hukumnya sunnah. Tujuannya agar apa yang di lidah itu sesuai dengan apa yang di hati. Pada posisi tengah-tengah ada mazhab Al-Malikiyah yang berpendapat membolehkannya. Dan bagi mereka, melafadzkan itu hanya boleh saja dan tidak sampai menganggapnya sunnah. Dan meninggalkannya malah dianggap lebih baik dan lebih utama. Dengan pengecualian dalam kasus seorang yang punya penyakit selalu ragu-ragu, maka mereka lebih utama bila melafadzkan niat shalat. Namun sebagian ulama dari mazhab Al-Hanafiyah dan sebagian ulama mazhab Al-Hanabilah memakruhkannya. E. Takbiratul Ihram Rukun yang kedua dalam ibadah shalat adalah mengucapkan takbir permulaan, atau sering juga disebut takbiratul-ihram () . Dan di dalam mazhab Al-Hanafiyah, sering juga disebut dengan takbir al-iftitah ( ) atau takbir tahrimiyah () . 1. Makna Makna takbiratul ihram adalah ucapan takbir yang

147

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

menandakan dimulainya pengharaman, yaitu mengharamkan segala sesuatu yang tadinya halal menjadi tidak halal atau tidak boleh dikerjakan di dalam shalat, seperti makan, minum, berbicara dan sebagainya. Dalil tentang kewajiban bertakbir adalah firman Allah SWT :


Dan Tuhanmu agungkanlah (bertakbirlah untuknya). (QS. AlMuddatstsir : 3)

Juga ada dalil dari hadits Rasulullah SAW :

:
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Kunci shalat itu adalah kesucian dan yang mengharamkannya (dari segala hal di luar shalat) adalah takbir". (HR. Khamsah kecuali An-Nasai) Dari Rufa'ah Ibnu Rafi' bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidak sah shalat serorang hamba hingga dia berwudhu' dengan sempurna dan menghadap kiblat lalu mengucapkan Allahu Akbar. (HR. Ashabus Sunan dan Tabarany) Bila kamu shalat maka bertakbirlah. (HR. Muttafaqun Alaihi)

2. Kedudukan Takbiratul Ihram Lafaz takbiratul-ihram adalah mengucapkan lafadz Allahu Akbar, artinya Allah Maha Besar. Sebuah dzikir yang murni dan bermakna pengakuan atas penghambaan diri anak manusia kepada Sang Maha Pencipta. Ketika seseorang mengucapkan takbiratul-ihram, maka dia telah menjadikan Allah SWT sebagai prioritas perhatiannya dan menafikan hal-hal lain selain urusan kepada Allah dan aturan dalam shalatnya. Lafaz ini diucapkan ketika semua syarat wajib dan syarat sah shalat terpenuhi. Jadi dilakukan ketika sudah menghadap ke kiblat dalam keadaan suci badan, pakaian dan tempat dari najis

148

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

dan hadats. Begitu juga sudah menutup aurat, tahu bahwa waktu shalat sudah masuk dan lainnya. 3. Takbir Makmum Bersama Imam Jumhur ulama mengharamkan makmum memulai takbir permulaan shalat ini kecuali bila imam sudah selesai bertakbir. Dengan dasar berikut ini :

:
Imam itu dijadikan untuk diikuti, maka jangan berbeda dengannya. Bila dia bertakbir maka bertakbirlah (HR. Muttafaq Alaihi)

Sedangkan kalangan Al-Hanafiyah membolehkan makmum bertakbir bersama-sama dengan imam. F. Berdiri Berdiri tegak telah disepakati oleh para ulama sebagai bagian dari rukun shalat. Shalat fardhu wajib dilakukan dengan berdiri, bila tidak ada udzur syari. 1. Dalil Dalil tentang keharusan berdiri di dalam shalat ada banyak, diantaranya dalil berdasarkan firman Allah SWT :


Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'. (QS. Al-Baqarah : 238)

Juga ada hadits nabawi yang mengharuskan berdiri untuk shalat.


149

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1


Dari 'Imran bin Hushain radhiyallahuanhu bahwa beliau bertanya kepada Nabi SAW tentang shalat seseorang sambil duduk, beliau bersabda,"Shalatlah dengan berdiri, bila tidak sanggup maka sambil duduk dan bila tidak sanggup sambil berbaring".(HR. Bukhari)

2. Orang Sakit Boleh Tidak Berdiri Hadits ini juga sekaligus menjelaskan bahwa berdiri hanya diwajibkan untuk mereka yang mampu berdiri. Sedangkan orang-orang yang tidak mampu berdiri, tentu tidak wajib berdiri. Misalnya orang yang sedang sakit yang sudah tidak mampu lagi berdiri tegak. Orang yang sedang sakit bila tidak mampu berdiri tegak, dibolehkan berdiri dengan bersandar pada dinding atau tongkat demi untuk menopang tubuhnya. Dan apabila dirasa hal itu belum cukup, dia dibolehkan shalat sambil duduk. Namun bila kemudian dia merasa mampu untuk berdiri, maka shalatnya kembali dilakukan sambil berdiri. Dan bila dirasa duduk pun tidak memungkinkan, maka orang yang sedang sakit itu boleh shalat sambil berbaring. Bahkan orang sakit itu bila tidak mampu bergerak sama sekali, cukuplah baginya menganggukkan kepada saja menurut Al-Hanafiyah, atau dengan mengedipkan mata atau sekedar niat saja seperti pendapat Al-Malikiyah. As-Syafi'iyah dan AlHanabilah mengatakan bahwa bisa dengan mengerakkan anggota tubuh itu di dalam hati. 3. Khusus Shalat Fardhu Juga perlu diperhatikan bahwa kewajiban berdiri dalam shalat hanya berlaku untuk shalat fardhu saja. Sedangkan untuk shalat nafilah (sunnah) tidak diwajibkan berdiri, meskipun mampu berdiri. Jadi seseorang diperbolehkan melakukan shalat sunnah dengan duduk saja tidak berdiri, meski badannya sehat dan mampu berdiri.

150

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat


Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW shalat di atas kendaraannya menuju ke arah Timur. Namun ketika beliau mau shalat wajib, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)


Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW shalat di atas kendaraannya, menghadap kemana pun kendaraannya itu menghadap. Namun bila shalat yang fardhu, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

Hadits ini menegaskan bahwa beliau SAW tidak melakukan shalat fardhu yang lima waktu di atas punggung unta. Shalat di atas punggung unta itu hanya manakala beliau melakukan shalat sunnah saja. Sedangkan untuk shalat fardhu 5 waktu, bila kebetulan beliau sedang dalam perjalanan, beliau kerjakan dengan turun dari untanya, menjejak kaki ke atas tanah

Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan shalat witir di atas untanya. (HR. Bukhari)

4. Syarat Berdiri Para fuqaha mazhab sepakat mensyaratkan bahwa berdiri yang dimaksud adalah berdiri tegak. Tidak boleh bersandar pada sesuatu seperti tongkat atau tembok, kecuali buat orang yang tidak mampu. Terutama bila tongkat atau temboknya dipisahkan, dia akan terjatuh. Adapun As-Syafi'iyah tidak mengharamkan melainkan

151

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

hanya memakruhkan saja. Dan Al-Malikiyah hanya mewajibkan berdiri tegak tanpa bersandar kepada benda lain pada saat membaca Al-Fatihah saja. Sedangkan di luar bacaan Al-Fatihah dibolehkan bersandar. G. Membaca Al-Fatihah 1. Jumhur vs Mazhab Al-Hanafiyah Jumhur ulama seperti mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah sepakat menyebutkan bahwa membaca surat Al-Fatihah adalah rukun shalat, dimana shalat seseorang tidak sah tanpa membacanya. Dalil yang mereka kemukakan adalah hadits nabawi yang secara tegas menyebutkan tidak sahnya shalat tanpa membaca surat Al-Fatihah :

Dari Ubadah bin Shamit ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,Tidak sah shalat kecuali dengan membaca ummilquran (surat Al-Fatihah)"(HR. Bukhari Muslim)

Namun mazhab Al-Hanafiyah agak sedikit berbeda. Mereka menyebutkan bahwa meski surat Al-Fatihah ini tetap harus dibaca, namun kedudukan surat Al-Fatihah bukan termasuk rukun di dalam shalat. Menurut mereka, kedudukannya sebatas pada wajib saja. Dasar pendapat Al-Hanafiyah ini merujuk kepada ayat AlQuran tentang apa yang harus dibaca di dalam shalat :

Maka bacalah apa yang mudah dari ayat Al-Quran. (QS.AlMuzzammil : 20)

2. Apakah Makmum Wajib Membaca Al-Fatihah? Ketentuan bahwa membaca surat Al-Fatihah adalah rukun shalat adalah pendapat jumhur ulama, khususnya bagi orang

152

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

yang shalat sendirian (munfarid) atau bagi imam yang memimpin shalat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca surat Al-Fatihah bagi makmum yang shalat dibelakang imam, apakah tetap wajib membacanya, ataukah bacaan imam sudah cukup bagi makmum, sehingga tidak perlu lagi membacanya? a. Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa seorang makmum dalam shalat jamaah yang jahriyah (yang bacaan imamnya keras) untuk tidak membaca apapun kecuali mendengarkan bacaan imam. Sebab bacaan imam sudah dianggap menjadi bacaan makmum. Namun kedua mazhab ini sepakat untuk shalat yang sirriyah, dimana imam tidak mengeraskan bacaannya, para makmum lebih disukai (mustahab) untuk membacanya secara perlahan juga. Dasar landasan pendapat mereka adalah hadits Nabi SAW berikut ini :

Orang yang punya imam maka bacaan imam adalah bacaan baginya.(HR. Ibnu Majah)

b. Mazhab Al-Hanafiyah Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa makmum secara mutlak tidak perlu membaca surat Al-Fatihah, baik di dalam shalat jahriyah atau pun sirriyah. Bahkan mereka sampai ke titik mengharamkan makmum untuk membaca AlFatihah di belakang imam. Dasar pelarangan ini adalah ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan kewajiban mendengarkan bacaan imam.


153

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Dan apabila dibacakan Al-Quran, dengarkannya dan perhatikan. (QS. Al-Araf : 204)

Dalam mazhab ini, minimal yang bisa dianggap sebagai bacaan Al-Quran adalah sekadar 6 huruf dari sepenggal ayat. Seperti mengucapkan tsumma nazhar, dimana di dalam lafaz ayat itu ada huruf tsa, mim, mim, nun, dha' dan ra'. Namun ulama mazhab ini yaitu Abu Yusuf dan Muhammad mengatakan minimal harus membaca tiga ayat yang pendek, atau satu ayat yang panjangnya kira-kira sama dengan tiga ayat yang pendek. 2 c. Mazhab As-Syafi'i Mazhab As-syafi'iyah mewajibkan makmum dalam shalat jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah, baik dalam shalat jahriyah maupun shalat sirriyah. Dasarnya disebutkan : adalah hadits-hadits shahih yang sudah

Dari Ubadah bin Shamit ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,Tidak sah shalat kecuali dengan membaca ummilquran (surat Al-Fatihah)"(HR. Bukhari Muslim)

Tidak sah shalat dimana seseorang tidak membaca Fatihatulkitab (surat Al-Fatihah) (HR)

Namun mazhab Asy-Syafiiyah juga memperhatikan kewajiban seorang makmum untuk mendengarkan bacaan imam, khususnya ketika di dalam shalat jahriyah.


Dan apabila dibacakan Al-Quran, dengarkannya dan perhatikan.
2

Addur Al-Mukhtar jilid 1 hal. 415, Fathul Qadir jilid 1 hal. 193-205322, Al-Badai' jilid 1 hal. 110, Tabyinul Haqaiq jilid 1 hal. 104

154

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

(QS. Al-Araf : 204)

Disini ada dua dalil yang secara sekilas bertentangan. Dalil pertama, kewajiban membaca surat Al-Fatihah. Dalil kedua, kewajiban mendengarkan bacaan surat Al-Fatihah yang dibaca imam. Dalam hal ini mazhab Asy-syafiiyah nampaknya menggunakan tariqatul-jami () , yaitu menggabungkan dua dalil yang sekilas bertentangan, sehingga keduanya bisa tetap diterima dan dicarikan titik-titik temu di antara keduanya. Thariqatul-jami yang diambil adalah ketika imam membaca surat Al-Fatihah, makmum harus mendengarkan dan memperhatikan bacaan imam, lalu mengucapkan lafadz amin bersama-sama dengan imam. Begitu selesai mengucapkan, masing-masing makmum membaca sendiri-sendiri surat AlFatihah secara sirr (tidak terdengar). Dalam hal ini, imam yang mengerti thariqatul-jami yang diambil oleh mazhab Asy-Syafiiyah ini akan memberikan jeda sejenak, sebelum memulai membaca ayat-ayat Al-Quran berikutnya. Dan jeda itu bisa digunakan untuk bernafas dan beristirahat sejenak. Namun dalam pandangan mazhab ini, kewajiban membaca surat Al-Fatihah gugur dalam kasus seorang makmum yang tertinggal dan mendapati imam sedang ruku'. Maka saat itu yang bersangkutan ikut ruku' bersama imam dan sudah terhitung mendapat satu rakaat.3 3. Apakah Basmalah Termasuk Al-Fatihah? Terkait dengan surat Al-Fatihah, sering menjadi perdebatan orang-orang awam tentang bacaan basmalah (bismillahirrahmanirrahim) di dalam surat Al-Fatihah. Ada sebagian orang yang tidak membaca basmalah saat membaca surat Al-Fatihah, dan hal itu menjadi bahan perdebtan yang tidak ada habisnya. Masalah ini kalau kita mau runut ke belakang, ternyata
3

Al-Imam An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 344 s/d 350

155

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

berhulu dari perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah lafadz basmalah itu bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan. Sebagian ulama mengatakan basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, dan sebagian yang lain mengatakan bukan. a. Mazhab Al-Hanafiyah Mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Kalau pun kita membacanya di awal surat Al-Fatihah, kedudukannya sunnah ketika membacanya. Namun mazhab ini tetap mengatakan bahwa bacaan basmalah pada surat Al-Fatihah sunnah untuk dibaca, dengan suara yang sirr atau lirih. b. Mazhab As-Syafi'iyah Menurut mazhab As-Syafi'iyah, lafaz basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga wajib dibaca dengan jahr (dikeraskan) oleh imam shalat dalam shalat jahriyah. Dalilnya adalah hadits berikut ini :

) : (
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Bila kamu membaca surat Al-Fatihah, maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena bismillahir rahmanirrahim adalah salah satu ayatnya". (HR. Ad-Daruquthuny).

Fatihatul-kitab (surat Al-Fatihah) berjumlah tujuh ayat. Ayat pertama adalah bismillahirrahmanirrahim. (HR. Al-Baihaqi)4

:
4

As-Sunan Al-Kubra, jilid 2 hal. 45

156

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat


Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan isnad yang shahih dari Ummi Salamah. Dan dalam kitab Al-Majmu' ada 6 orang shahabat yang meriwayatkan hadits tentang basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah.5 c. Mazhab Al-Malikiyah Sedangkan pandangan mazhab Al-Malikiyah, basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata,Aku shalat di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahuanhum. Mereka memulai qiraat dengan membaca Al-Hamdulillahirabbil alamin, dan tidak membaca bismillahirramanirrahim di awal qiraat atau di akhirnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada satu pendapat di kalangan ulama mazhab Al-Malikiyah yang membolehkan seseorang membaca basmalah di dalam AlFatihah, namun khusus untuk shalat sunnah dan bukan shalat wajib. d. Mazhab Al-Hanabilah Sedangkan dalam pandangan Al-Hanabilah, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak dibaca secara
5

Al-Imam An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 302

157

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr). Bila kita perhatikan imam Al-Masjidil Al-haram di Mekkah, tidak terdengar membaca basmalah, namun mereka membacanya. Umumnya orang-orang disana bermazhab Hanbali. H. Ruku' Ruku' adalah gerakan membungkukkan badan dan kepala dengan kedua tangan diluruskan ke lulut kaki. Dengan tidak mengangkat kepala tapi juga tidak menekuknya. Juga dengan meluruskan punggungnya, sehingga bila ada air di punggungnya tidak bergerak karena kelurusan punggungnya. 1. Perintah Perintah untuk melakukan ruku' adalah firman Allah SWT.


Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. Al-Hajj : 77)

Dan juga hadits Rasulullah SAW berikut ini.

Dari Aisyah radhiyallahu anhu berkata,"Aku melihat beliau SAW ketika ruku' meletakkan tangannya pada lututnya." (HR. Muttafaqun Alaihi)

2. Wajib Thuma'ninah Untuk sahnya gerakan ruku', posisi seperti ini harus terjadi dalam beberapa saat. Tidak boleh hanya berupa gerakan dari berdiri ke ruku' tapi langsung bangun lagi. Harus ada jeda waktu sejenak untuk berada pada posisi ruku' yang disebut dengan istilah thuma'ninah. Dalilnya adalah sabda Nabi SAW berikut ini :

158

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Dari Abi Qatadha berkata bahwa Rasululah SAW bersabda,"Pencuri yang paling buruk adalah yang mencuri dalam shalatnya". Para shahabat bertanaya,"Ya Rasulallah, bagaimana mencuri dalam shalat?". "Dengan cara tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya". atau beliau bersabda,"Tulang belakangnya tidak sampai lurus ketika ruku' dan sujud". (HR. Ahmad, Al-Hakim, At-Thabarany, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban)

3. Bacaan Ruku' Disunnahkan untuk membaca tasbih pada saat ruku', dengan dasar hadits berikut ini.

:
Ketika turun ayat (Maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu yang agung), Rasulullah SAW bersabda,"Jadikanlah tasbih itu di dalam ruku'mu.

Namun apa lafadz tasbih dan berapa kali yang dibaca, para ulama berbeda pendapat. a. Mazhab Al-Hanafiyah Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa tasbih di dalam ruku' hukumnya sunnah yang harus diulang tiga kali. Apabila ketika ruku' seseorang tidak membaca tasbih, atau kurang dari tiga kali, hukumnya makruh. b. Mazhab Al-Malikiyah Di dalam mazhab Al-Malikiyah, tasbih dalam ruku' hukumnya mandub, apa pun lafadznya tidak menjadi masalah.

159

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Dan tidak harus tiga kali. Lafadz tasbih yang paling utama menurut mazhab ini adalah :

Maha suci Allah yang Maha Agung dengan segala pujian untukNya.

c. Mazhab Asy-Syafi'iyah Dalam mazhab Asy-Syafi'iyah disunnahkan tasbih minimal sekali, setidak-tidaknya ucapan subhanallah () , atau subhana rabbi () . Namun kalau mau lebih sempurna, adalah subhana rabbiyal adhimi wa bihamdih () , diucapkan tiga kali, dan boleh juga lebih dari tiga, yaitu lima, tujuh, sembilan atau sebelas kali. Namun bila dalam shalat berjamaah yang lima waktu, imam tidak diperkenankan untuk membaca lebih dari tiga kali. Ini merupakan ketentuan dalam shalat fardhu berjamaah, imam lebih disunnahkan untuk melaksanakan shalat yang ringan dan singkat. Sedangkan bila ruku' dalam shalat sunnah, dipersilahkan untuk memperpanjang bacaannya, misalnya seperti lafadz berikut ini :


Ya Allah, untuk-Mu Aku ruku', kepada-Mu Aku beriman, kepadaMu Aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku dan kaki khusyu' kepada-Mu.

4. Membaca Ayat Al-Quran dan Doa Saat Ruku' a. Ayat Al-Quran Para ulama sepakat memakruhkan bacaan Al-Quran di dalam ruku'. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ali

160

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

bin Abu Thalib berikut ini :


Rasulullah SAW melarangku (Ali bin Abi Thalib) untuk membaca Al-Quran dimana Aku dalam keadaan ruku' dan sujud. (HR. Muslim)


Aku dilarang untuk membaca Al-Quran dalam posisi ruku' dan sujud. Di dalam ruku' hendaknya agungkanlah Tuhanmu. Di dalam sujud hendaknya bersungguh-sungguh dalam berdosa, semoga dikabulkan. (HR. Muslim)

Alasan lainnya adalah karena ruku' dan sujud itu posisi yang rendah, sehingga tidak layak baca Al-Quran dalam posisi yang rendah. Mengingat Al-Quran itu seharusnya berada pada tempat yang tinggi, maka tidak layak dibaca ketika seseorang merendahkan kepalanya. b. Berdoa Ketika Ruku Para ulama berbeda pendapat atas hukum memanjatkan atau membaca doa ketika ruku'. Mazhab Al-Malikiyah memakruhkan doa ketika ruku', sedangkan mazhab AsySyafi'iyah membolehkan. Dasar yang digunakan adalah bahwa Rasulullah SAW memperbanyak lafadz yang bermakna doa, baik dalam ruku' maupun sujudnya.

:
Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW
161

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

memperbanyak dalam ruku' dan sujud beliau bacaan : Maha suci Engkau Ya Allah tuhan kami dan dengan pujian kepada-Mu, Ya Allah ampunilah kami. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Ruku' Sebagai Batas Ikut Satu Rakaat Seluruh ulama sepakat bahwa ruku' adalah batas dapatnya satu rakaat makmum yang shalat di belakang imam. Dimana syaratnya, makmum minimal harus sama-sama berposisi ruku' bersama imam, meski hanya sejenak saja. Dasarnya adalah hadits berikut ini :


Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Siapa yang mendapatkan ruku' (bersama imam) maka dia telah mendapatkan satu rakaat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itulah maka mazhab Asy-Syafi'iyah menganjurkan sebaiknya imam memperlama durasi ruku'nya, apabila tahu ada jamaah yang tertinggal ingin mendapatkan ruku' bersamanya. Namun dengan syarat bahwa orang yang ditunggu itu memang sudah ada di dalam masjid dan siap mengikuti imam. Tapi kalau orang yang ditunggu itu masih di luar masjid, atau belum berwudhu' misalnya, maka tidak perlu ditunggu. Syarat yang lain bahwa masa menunggu itu tidak terlalu lama, dan tidak sampai menimbulkan protes dari makmum yang sudah ikut berjamaah, atau malah membuyarkan konsentrasi mereka. 6. Ruku' Laki-laki dan Perempuan Para ulama fiqih menyebutkan bahwa perbedaan ruku'nya laki-laki dan wanita adalah pada letak tangannya. Laki-laki melebarkan tangannya atau merenggangkan antara siku dengan perutnya. Sedangkan untuk wanita, mereka melakukan

162

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

sebaliknya, yaitu mendekatkan tangannya ke tubuhnya6. I. I'tidal I'tidal adalah gerakan bangun dari ruku' dengan berdiri tegap dan merupakan rukun shalat yang harus dikerjakan menurut jumhur ulama. Dasarnya adalah firman Allah SWT yang menyebutkan hanya ruku' dan sujud tanpa menyebutkan i'tidal.


Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. Al-Hajj : 77)

1. Itidal Rukun : Jumhur vs Al-Hanafiyah Jumhur ulama dari mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Haanbilah sepakat menetapkan bahwa i'tidal adalah rukun dari shalat. Namun pendapat Al-Hanafiyah yang agak tidak kompak sesama mereka. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa i'tidal tidak termasuk rukun shalat, melainkan hanya kewajiban saja. Sebab i'tidal hanyalah konsekuensi dari tuma'ninah. Namun sebagian ulama mazhab ini seperti Abu Yusuf dan yang lainnya mengatakan bahwa i'tidal adalah rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Menurut mereka, bila seseorang shalat tanpa i'tidal maka shalatnya batal dan tidak sah. 2. Bacaan Itidal Bacaan yang diperintahkan ketika itidal, sekurangkurangnya adalah tahmid rabbana wa laka al-hamdu. Dasarnya
6

Fathul Qadir jilid 1 hal. 193-208, Ad-Dur al-Mukhtar jilid 1 hal. 416, As-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 hal. 313, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah hal. 62, Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 163, Kassyaf AlQanna' jilid 1 hal. 452, Al-Muhazzab jilid 1 hal. 74

163

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

adalah beberapa hadits berikut ini :


Dari Abu Hurairah bahwasa Nabi SAW mengucapkan Sami allahu Liman Hamidahu (Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya) ketika mengangkat punggungnya dari ruku'. Kemudian ketika berdiri, beliau membaca :


Wahai Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain ada tambahan sebagai berikut :


Barangsiapa bacaannya bersamaan dengan bacaan malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari)

Dan kalau mungkin, disunnahkan ditambah dengan bacaanbacaan yang antara lain ditunjukkan dalam hadits berikut:
Dari Ubaid bin al-Hasan dari Abu Aufa, ia berkata bahwa Rasulullah SAW ketika mengangkat kepalanya dari ruku mengucapkan, sami allahu liman hamidah :


Ya Allah ya Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu. (Musnad al-Mustkhraj ala shahih Muslim)

Dan bisa juga bacaan lainnya yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini :
Dari Rafi, sesungguhnya ia berkata bahwa pada suatu hari kami shalat di belakang Rasulullah maka tatkala beliau bangkit dari ruku, beliau mengucapkan sami'allahu li man hamidah. Kemudian ada seorang laki-laki di belakang beliau yang membaca:

Ya Allah ya Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala pujian yang banyak,

164

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

yang baik dan yang ada barakah di dalamnya. Maka tatkala Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat, beliau bertanya, Siapa yang tadi membaca doa. Seorang laki-laki menjawab, Saya! Maka Rasulullah SAW berkata, Saya melihat 37 Malaikat tergopoh-gopoh untuk segera menjadi penulis yang pertama. (HR. Khuzaimah).

Dan bisa juga bacaan lainnya yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini :
Dari Abu Said al-Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah SAW ketika bangun dari ruku (itidal) beliau mengucapkan:

.
Ya Allah, bagi Engkaulah segala puja dan puji, sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang engkau kehendaki. Ya Allah Tak ada yang mampu menghalangi apa yang akan Engkau berikan dan tidak ada pula yang mampu memberikan apa yang Engkau larang dan tidaklah kekayaan itu dapat menolong yang empunya kecuali seizin Engkau. (HR. Muslim)

3. Posisi Tangan Umumnya para ulama mengatakan bahwa posisi tangan adalah lurus dan badan tegak dengan sikap sempurna. Namun ada juga yang mengatakan bahwa posisi tangan bersedekap a. Lurus Pendapat ini mengatakan bahwa posisi tangan lurus dan tidak bersedekap. Pendapat ini didasarkan pada pengertian dari hadits-hadits berikut ini:
Kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri dengan tegak [sehingga tiap-tiap ruas tulang belakangmu kembali pata tempatnya]. (dalam riwayat lain disebutkan: Jika kamu berdiri itidal, luruskanlah punggungmu dan tegakkanlah kepalamu sampai ruas tulang punggungmu mapan ke tempatnya). (HR. Bukhari dan Muslim)

165

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Selain itu juga ada hadits lainnnya yang senada :


Allah, Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia tidak mau melihat shalat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya ketika berdiri di antara ruku dan sujudnya (itidal, pent.) (HR. Ahmad dan Thabarani)

Dan juga hadits berikut ini :


Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata bahwa apabila beliau SAW mengangkat kepalanya dari ruku', maka tidak langsung sujud sebelum berdiri lurus terlebih dahulu (HR. Muslim) Dari Ibnu Atha, ia berkata,"Aku mendengar Abu Humaid berkata, Rasulullah SAW ketika shalatkemudian beliau itidal sampai semua tulangnya kembali ke tempat semula. (HR. Ibnu Hibban)

b. Bersedekap Pendapat kedua adalah pendapat yang mengatakan bahwa pasa saat i'tidal, posisi tangan kanan di atas tangan kiri atau menggenggamnya dan menaruhnya di dada, ketika telah berdiri. Hal itu berdasarkan hadits-hadits di bawah ini:
Wa-il bin Hujr berkata: Saya melihat Rasulullah SAW apabila beliau berdiri dalam shalat, beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya. (HR. An-Nasai)

Selain itu juga ada dalil yang lainnya :


Dari Sahl bin Sad ia berkata bahwa para sahabat diperintah agar meletakkan tangan kanannya atas lengan kirinya dalam shalat. (HR. Bukhari)

J. Sujud 1. Pengertian Secara bahasa, sujud berarti al-khudhu' () at-tazallul ( )yaitu merendahkan diri badan. al-mailu ( )yaitu mendoncongkan badan ke depan. Sedangkan secara syar'i, yang dimaksud dengan sujud

166

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

menurut jumhur ulama adalah meletakkan 7 anggota badan ke tanah, yaitu wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung kedua tapak kaki. 2. Pensyariatan Sujud Al-Quran Al-Kariem memerintahkan kita untuk melakukan sujud kepada Allah SWT. Dasarnya adalah hadits Nabi :

: : - -
Dari Ibnu Abbas ra berkata,"Aku diperintahkan untuk sujud di atas 7 anggota. (Yaitu) wajah (dan beliau menunjuk hidungnya), kedua tangan, kedua lutut dan kedua tapak kaki.(HR. Bukhari dan Muslim)7

3. Mana Lebih Dulu : Lutut atau Tangan? Dalam masalah ini ada dua dalil yang sama-sama kuat namun menunjukkan cara yang berbeda. Sehingga menimbulkan perbedaan pendapat juga di kalangan ulama. Jumhur ulama umumnya mengatakan bahwa yang disunnahkan ketika sujud adalah meletakkan kedua lutut di atas tanah telebih dahulu, baru kemudian kedua tangan lalu wajah. Dan ketika bangun dari sujud, belaku sebaliknya, yang diangkat adalah wajah dulu, kemudian kedua tangan baru terakhir lutut. Dasar dari praktek ini adalah hadits berikut ini.

:
Dari Wail Ibnu Hujr berkata,"Aku melihat Rasulullah SAW bila sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dan
7

Nailul Authar jilid 2 hal. 253

167

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

bila bangun dari sujud beliau mengangkat tangannya sebelum mengangkat kedua lututnya. (HR. Khamsah kecuali Ahmad)

Namun Al-Malikiyah berpendapat sebaliknya, justru yang disunnahkan untuk diletakkan terlebih dahulu adalah kedua tangan baru kemudian kedua lututnya. Dalil mereka adalah hadits berikut ini :

-
Dari Abi Hurariah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasululah SAW bersabda,"Bila kamu sujud janganlah seperti duduknya unta. Hendaklah kamu meletakkan kedua tangan terlebih dahulu baru kedua lutut. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Tirmizy)

Ibnu Sayid An-Nas berkata bahwa hadits yang menyebutkan tentang meletakkan tangan terlebih dahulu lebih kuat. Namun Al-Khattabi mengatakan bahwa hadits ini lebih lemah dari hadits yang sebelumnya. Maka demikianlah para ulama berbeda pendapat tentang mana yang sebaiknya didahulukan ketika melakukan sujud. Dan Imam An-Nawawi berkata bahwa diantara keduanya tidak ada yang lebih rajih (lebih kuat). Artinya, menurut beliau keduanya sama-sama kuat dan sama-sama bisa dilakukan. 4. Bekas Sujud Kehitaman di Dahi 'Bekas sujud' di dahi adalah sebuah istilah yang bisa kita dapat di dalam ayat Al-quran. Silahkan anda buka mushaf dan carilah surat ke-48, yaitu surat Muhammad dan perhatikan ayat yang ke-29. Di sana Allah SWT berfirman :


Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud . (QS. Al-Fath : 29)

Kalau kita perhatikan isi informasi ayat di atas, istilah 'bekas sujud' bukan hanya populer di dalam Al-Quran, melainkan juga

168

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

ada di dalam kitab sebelumnya, seperti Taurat dan Injil, yang asli tentunya. Dan 'bekas sujud' itu menjadi ciri khas para shahabat Nabi Muhammad SAW. Namun ada hal yang perlu digaris-bawahi secara hati-hati. Sebab banyak di antara umat Islam yang kemudian memahami ayat ini secara harfiyah. Bekas sujud itu kemudian dipahami sebagai warna kulit yang kehitaman di dahi seseorang. Apakah memang benar? Dan apakah warna kehitaman di dahi itu selalu menunjukkan keimanan dan ketaqawaan seseorang? Nah, di sini kita harus sedikit lebih cermat. Memang bisa saja karena seseorang banyak melakukan shalat, termasuk shalat malam, maka secara tidak sengaja, dahinya jadi berwarna kehitaman. Tentu hal ini baik, bukan sekedar karena dahinya berwarna hitam, tetapi karena memang banyak shalat. Namun kalau secara sengaja ditekan-tekannya dahinyake lantai, agar bisa membekas dan akhirnya berwarna kehitaman, tentu lain urusannya. Sebab esensi ayat itu bukan para warna hitam di dahi, melainkan karena banyaknya shalat. Dan banyak shalat itulah yang ingin dikemukakan oleh ayat ini, yakni bahwa mereka adalah orang yang sering dan banyak melakukan shalat. Dan disebutkan dengan istilah bekas sujud, karena sujud itu identik dengan shalat, ditambah lagi sujud itu selalu dilakukan 2 kali dalam satu rakaat. Padahal semua gerakan yang lain hanya dilakukan 1 kali saja. Namun perlu ditekankan bahwa orang yang dahinya jadi kehitaman memang karena banyak melakukan sujud itu salah. Insya Allah dia akan mendapatkan keutamaan karena banyak shalatnya. Hanya yang perlu dipahami adalah warna kehitaman di dahi itu tidak selalu menunjukkan bahwa orang itu banyak shalat. Dan juga belum tentu ada jaminan bahwa shalatnya itu pasti diterima Allah SWT. Dan bukan juga lambang dari ketaqwaan seseorang. Malah kita harus hati-hati dalam masalah dahi hitam ini,

169

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

sebab alih-alih mendapat pahala, boleh jadi kalau diiringi dengan rasa sombong dan riya', malah akan jadi bumerang. Bukankah Allah SWT telah berfirman tentang celakanya orang yang shalat namun lalai dan berperilakuriya'. Dan salah satu pintu riya' dari ibadah shalat ini adalah memamerkan dahi yang berwarna kehitaman itu di depan manusia. Lalu seolah berbangga bahwa dirinya adalah orang paling dekat kepada Allah serta selalu paling benar dalam semua hal.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al-Maun: 1-3) Bekas Sujud Akan Nampak di Akhirat

Kita menemukan hadits yang shahih terkait dengan fungsi 'bekas sujud' ini. Namun manfaatnya bukan untuk dikenal orang di alam dunia ini, melainkan untuk bisa dikenali Allah SWT di akhirat nanti.
Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka, maka Dia memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allah. Lalu malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenali karena ada bekas sujud pada wajahnya. Dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka keluar dari neraka. Seluruh anak Adam bisa dimakan api neraka, kecuali bekas sujud. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa orang yang shalatnya baik di dunia ini dan punya bekas sujud, nanti di akhirat kalau sudah terlanjur masuk neraka, akan dikeluarkan dari dalamnya. Dan cara untuk mengenalinya adalah dari cahaya bekas sujud yang memancar dari dahinya. Dan bahwa cahaya bekas sujud itu tidak akan hilang termakan oleh panasnya api neraka. Adapun bekas sujud yang sifatnya seperti cahaya di akhirat nanti, kita dapati keterangannya dari hadits lainnya berikut ini.

170

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari kiamat kelak." Para shahabat bertanya, "Ya Rasulallah, bagaimana anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?" Beliau menjawab, "Tidakkah kamu lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya? Bukankah kamu dapat mengenalinya?" "Ya", jawab shahabat. "Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudhu'. (HR Ahmad dan Tirmizy)

Semoga Allah SWT menjadikan dahi kita ini memancarkan cahaya di akhirat nanti, sehingga termasuk orang yang akan dibela oleh Rasulullah SAW. K. Duduk Antara Dua Sujud Duduk antara dua sujud adalah rukun menurut jumhur ulama, yaitu mazhab Al-Malikiyah, Asy-syafiiyah dan AlHanabilah. Sedangkan menurut mazhab Al-Hanafiyah, duduk antara dua sujud ini hukumnya hanya merupakan kewajiban dan bukan termasuk dalam rukun shalat. 1. Posisi Duduk Posisi duduknya adalah duduk iftirasy (), yaitu dengan duduk melipat kaki ke belakang dan bertumpu pada kaki kiri. Maksudnya kaki kiri yang dilipat itu diduduki, sedangkan kaki yang kanan dilipat tidak diduduki namun jari-jarinya ditekuk sehingga menghadap ke kiblat. Posisi kedua tangan diletakkan pada kedua paha dekat dengan lutut dengan menjulurkan jari-jarinya.

171

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

2. Dalil Dalil nash tentang duduk ini adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini :

Kemudian beliau SAW melipat kaki kirinya dan duduk di atasnya.

Dan beliau mengiftirasykan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan.

3. Bacaan Ketika duduk diantara dua sujud, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW membaca beberapa lafadz yang berbeda. Di antaranya adalah lafadz-lafadz berikut ini :


Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku petunjuk, jadikanlah aku sehat dan berilah rizki. (HR Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Ata boleh juga membaca lafadz lain yang lebih singkat, seperti berikut ini :


Wahai Tuhan, ampunilah aku, ampunilah aku

L. Duduk Tasyahhud Akhir Duduk tasyahhud akhir merupakan rukun shalat menurut jumhur ulama dan hanya kewajiban menurut Al-Hanafiyah. 1. Al-Hanafiyah Menurut Al-Hanafiyah, posisi duduk tasyahhud akhir sama dengan posisi duduk antara dua sujud, yaitu duduk iftirasy. Dalilnya adalah hadits berikut :

172

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Dari Wail Ibnu Hajar,"Aku datang ke Madinah untuk melihat shalat Rasulullah SAW. Ketika beliau duduk (tasyahhud), beliau duduk iftirasy dan meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya dan menashabkan kakinya yang kanan". (HR. Tirimizy)8

2. Al-Malikiyah Adapun Al-Malikiyah sebagaimana diterangkan di dalam kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir menyunnahkan untuk duduk tawaruk baik pada tasyahhud awal maupun untuk tasyahhud akhir. Dalilnya adalah hadits Nabi :
Dari Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah SAW duduk di tengah shalat dan akhirnya dengan duduk tawaruk.

3. Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah Sedangkan jumhur ulama menetapkan bahwa posisi duduk untuk tasyahhud akhir adalah duduk tawaruk. Posisinya hampir sama dengan istirasy, namun posisi kaki kiri tidak diduduki melainkan dikeluarkan ke arah bawah kaki kanan. Sehingga duduknya di atas tanah tidak lagi di atas lipatan kaki kiri seperti pada iftirasy. Asy-Syafi'iyah dan AlHanabilah sama-sama berpendapat bahwa untuk duduk tasyahhud akhir, yang disunnahkan adalah duduk tawaruk ini. Namun keduanya berbeda pendapat ketika bicara tentang duduk tasyahhud akhir untuk shalat yang dua rakaat dan tidak
8

Hadits hasan shahih - Nailul Authar jilid 2 hal. 273

173

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

ada tasyahhud awalnya, seperti shalat shubuh, shalat Jumat, shalat witir satu rakaat, shalat Dhuha, shalat Idul Fithri dan Idul Adha serta umumnya shalat-shalat Sunnah yang lainnya. Pertanyaannya : apakah duduknya tawaruk atau iftirasy? a. Madzhab Syafii: Madzhab Syafii berpendapat bahwa duduk pada saat tasyahud akhir baik yang memiliki dua rakaat maupun yang hanya memiliki satu tasyahud maka semuanya dilakukan dengan duduk tawarruk. Mereka berdalil dengan hadits Abu Humaid As Saidi, beliau berkata:

.
Aku adalah orang yang paling hafal shalatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diantara kalian. Aku melihat beliau apabila bertakbir maka beliau mensejajarkan kedua tangannya dengan kedua pundaknya, apabila beliau ruku maka beliau meletakkan kedua tangannya diatas kedua lututnya kemudian beliau meluruskan punggungnya, apabila beliau bangun dari ruku maka beliau berdiri tegak hingga tulang punggungnya kembali ketempat asalnya, apabila beliau sujud maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan juga tidak melekatkannya (pada lambungnya) serta beliau menghadapkan jari-jari kaki beliau kearah kiblat, apabila beliau duduk pada rakaat kedua maka beliau duduk

174

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy), dan apabila beliau duduk pada rakaat terakhir maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya serta beliau duduk diatas tempat duduknya bukan diatas kaki kirinya- (duduk tawarruk). (HR. Al Bukhari).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, Imam Syafii dan para sahabat kami berkata: Hadits Abu Humaid jelas membedakan antara dua duduk tasyahud, sedangkan hadits-hadits yang lainnya adalah hadits yang muthlaq, maka wajib dibawakan sesuai dengan hadits ini (hadits Abu Humaid). Barangsiapa yang meriwayatkan duduk tawarruk, maka yang dimaksud adalah duduk tasyahud akhir, dan barangsiapa yang meriwayatkan duduk iftirasy, maka yang dimaksud adalah duduk tasyahud awal, dan harus diadakan penggabungan (Al Jamu) antara hadits-hadits yang shahih, terlebih hadits Abu Humaid As Saidi ini telah disetujui oleh sepuluh orang pembesar para sahabat radhiyallahu anhum.9 Hadits Abu Humaid ini juga datang dengan lafazh-lafazh lain yang semakin memperkuat pendapat madzhab Syafii ini, diantaranya:

.
Hingga tatkala sampai sujud terakhir yang ada salamnya, maka Nabi mengeluarkan kaki kirinya dan beliau duduk dengan tawarruk diatas sisi kiri beliau. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Diantaranya juga:

An-Nawawi, Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 413

175

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Hingga tatkala sampai pada sujud yang merupakan penutup shalat, maka beliau mengangkat kepalanya dari dua sujud tersebut dan beliau mengeluarkan kakinya serta duduk tawarruk diatas kakinya. (HR. Ibnu Hibban).

Diantaranya juga:


Apabila sampai kepada rakaat terakhir yang menutup shalat, maka beliau mengeluarkan kaki kirinya dan beliau duduk tawarruk diatas sisinya kemudian beliau salam. (HR. An Nasai)

b. Madzhab Hanbali Madzhab Hanbali berpendapat bahwa untuk shalat yang hanya memiliki satu tasyahud maka duduknya adalah duduk iftirasy. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, Dan tidaklah dilakukan duduk tawarruk kecuali pada shalat yang memiliki dua tasyahud, yaitu pada tasyahud yang kedua.10 Mereka berdalil dari beberapa hadits, diantaranya hadits Aisyah radhiyallahuanha :


Adalah beliau (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rakaat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy). (HR. Muslim).


10

Selain itu juga ada hadits Abdullah bin Az Zubair radhiyallahu anhuma :

Ibnu Qudamah, Al-Mughni jilid 2hal. 227

176

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila duduk pada dua rakaat, beliau menghamparkan yang kiri dan menegakkan yang kanan (duduk iftirasy). (HR. Ibnu Hibban).


Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika duduk dalam shalat beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy). (HR. Ibnu Khuzaimah).

Dan ada juga hadits Wail bin Hujr radhiyallahuanhu :

M. Membaca Lafazdz Tasyahhud Akhir Rukun shalat yang kesepuluh adalah membaca lafadz doa tasyahhud akhir. Ada banyak hadits yang kita terima tentang lafadz ini. 1. Versi Pertama Salah satu di antaranya yang paling masyhur adalah riwayat Muslim berikut ini :

Segala penghormatan, shalat dan kebaikan-kebaikan tercurah kepada Allah. Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi begitu juga rahmat Allah dan barakah-Nya. Keselamatan semoga terlimpahkan kepada kita dan hambahamba Allah yg shalih. Aku bersaksi bahwa tdk ada sesembahan yg haq melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adl hamba dan utusan-Nya.

177

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

2. Versi Kedua Ada juga riwayat yang lain dengan sedikti perbedaan redaksi :


N. Membaca Shalawat 1. Hukum Ada perbedaan pendapat tentang hukum membaca shalawat pada tahiyat akhir, antara yang mengatakan rukun dan sunnah. a. Rukun Mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah menegaskan bahwa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sehabis membaca doa tasyahhud merupakan rukun shalat. Dan lafadz shalawat itu diucapkan dalam posisi duduk tasyahud akhir. Sedangkan membaca shalawat ibrahimiyah hukumnya sunnah menurut mazhab asy-Syafiiyah, dan wajib menurut mazhab Al-Hanabilah. b. Sunnah Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah memandang bahwa membaca shalawat atas Nabi SAW hukumnya sunnah, bukan merupakan kewajiban. 2. Dalil Adapun dalil atas keharusan membaca shalawat kepada Nabi SAW dalam tasyahhud akhir ini adalah hadis-hadits berikut ini. Di antaranya adalah hadits Kaab bin Ujrah. Beliau berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya oleh para shahabat,Allah telah mengajarkan bagaimana caranya memberi salam kepada Anda, lantas bagaimana caranya kami bershalawat kepada Anda?.

178

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -1

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Maka Rasulullah SAW bersabda,Katakanlah :


Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung. Ya Allah berilah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung. (HR. Bukhari dan Muslim)


Bila salah seorang dari kalian shalat, maka awali dengan mengagungkan dan memuji tuhannya, kemudian bershalawat kepada Nabi, kemudian barulah meminta apa yang dia inginkan. (HR. At-Tirmizy)

Selain itu juga ada hadits lain riwayat Al-Atsram bin Fudhalah bin Ubaid radhiyallahuanhu. Beliau menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah. Maka beliau SAW bersabda :

O. Mengucapkan Salam Pertama Salam merupakan bagian dari fardhu dan rukun shalat yang juga berfungsi sebagai penutup shalat. 1. Dalil Dalilnya tentang salam sebagai rukun shalat dan juga sebagai penutup shalat adalah hadits berikut :

179

Bab 7 : Rukun-rukun Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Kunci shalat itu adalah kesucian (thahur) dan yang mengharamkannya (dari segala hal di luar shalat) adalah takbir". (HR. Muslim)11

2. Salam Pertama dan Kedua Dalam shalat dikenal ada dua salam, yaitu salam pertama dan kedua. Tentang hukum masing-masing salam itu, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. a. Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafiiyah Salam pertama adalah fardhu shalat menurut para fuqaha, seperti Al-Malikiyah dan Asy-Syafiiyah. Sedangkan salam yang kedua bukan fardhu melainkan sunnah. b. Mazhab Al-Hanabilah Namun menurut Al-Hanabilah, kedua salam itu hukumnya fardhu, kecuali pada shalat jenazah, shalat nafilah, sujud tilawah dan sujud syukur. Pada keempat perbuatan itu, yang fardhu hanya salam yang pertama saja12. 3. Lafadz Salam Menurut As-Syafii, minimal lafadz salam itu adalah ( ), cukup sekali saja. Sedangkan menurut Al-Hanabilah, salam itu harus dua kali dengan lafadz () , dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak disunnahkan untuk meneruskan lafadz ()
Menurut Al-Hakim hadits ini shahih dengan syarat dari Muslim. Hadits ini juga mutawatir yang diriwayatkan oleh 7 shahabat lihat An-Nuzhum Al-Mutanatsir hal. 57 12 Al-Qawanin Al-Fiqhiyah jilid 66, Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 177, Hasyiyatul Bajuri jilid 1 hal. 163, Kasysyaf Al-Qanna jilid 1 hal. 454, Al-Mughni jilid 1 hal. 551-558, As-Syarhush-shaghir jilid 1 hal. 315-321, Asysyarhulkabir jilid 1 hal. 240
11

180

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Ikhtishar
A. Pembagian Jenis-jenis Sunnah Dalam Shalat
1. Mazhab Al-Hanafiyah 2. Mazhab Al-Malikiyah 3. Mazhab As-Syafiiyah 4. Mazhab Al-Hanabilah

B. Berbagai Sunnah dalam Shalat


1. Mengangkat Tangan Takbiratul Ihram 2. Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri 3. Melihat ke Tempat sujud 4. Doa Istiftah 5. Membaca Taawwudz dan Basmalah 6. Mengucapkan Amin 7. Merenggangkan Kedua Tumit 8. Membaca Ayat Al-Quran 9. Takbir Antara Rukun 10. Meletakkan Lutut saat Sujud 11. Sunnah Dalam Sujud 12. Doa Duduk Antara Dua Sujud 13. Bertasyahhud awal 14. Meletakkan Tangan di Paha 15. Menggerakkan Jari Saat Tahiyat 16. Shalawat Nabi Pada Tasyahhud Akhir 17. Doa Sesudah Shalawat 18. Menoleh ke Kanan Kiri 19. Melirihkan Salam Kedua

185

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

20. Menunggu Imam Selesai Salam 21. Khusyu' dan Tadabbur

Selain hal-hal yang bersifat syarat dan rukun, di dalam ibadah shalat juga ada ucapan dan gerakan yang hukumnya sunnah. Bila dikerjakan tentunya akan memberi nilai tambah dari segi keutamaan yang pahala, namun tidak mengikat untuk harus dikerjakan. A. Pembagian Jenis-jenis Sunnah Dalam Shalat Kalau kita teliti secara lebih dalam dan seksama, ternyata tiap ulama dan tiap mazhab punya beberapa musthalah yang detail tentang hal-hal yang terkiat dengan sunnah shalat. 1. Mazhab Al-Hanafiyah Mazhab Al-Hanafiyah membagi sunnah shalat menjadi dua macam, yaitu sunnah dan adab. a. Sunnah Yang dimaksud dengan sunnah adalah sunnah muakkadah, dimana Rasulullah SAW dan para para khulafaurrasyidin selalu mengerjakannya meski tidak sampai level kewajiban. Dan dari segi hukum, apabila perbuatan ini ditinggalkan secara sengaja, maka akan mendatangkan keburukan dan dosa. b. Adab Sedangkan yang dimaksud dengan adab adalah sunnah yang tidak muakkadah (ghairu muakkadah). Di dalamnya termasuk segala perbuatan yang sifatnya lebih utama untuk dikerjakan, tetapi bila ditinggalkan dengan sengaja, maka tidak melahirkan dosa atau keburukan. 2. Mazhab Al-Malikiyah Mazhab Al-Malikiyah membagi sunnah-sunnah shalat menjadi dua macam, yaitu sunnah dan mandub.

186

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

a. Sunnah Yang dimaksud dengan istilah sunnah dalam mazhab AlMalikiyah adalah sunnah muakkadah. b. Mandub Sedangkan yang dimaksud dengan mandub dalam mazhab ini adalah sunnah yang tidak muakkadah. 3. Mazhab Asy-Syafiiyah Menurut Asy-syafiiyah, sunnah-sunnah dalam shalat itu ada dua macam, yaitu sunnah abadh ( )dan sunnah haiah () . Kalau kita bandingkan antara rukun, syarat, serta sunnah abadh dan sunnah haiah dalam shalat, bisa kita ibaratkan tubuh manusia. Rukun Shalat : diibaratkan kepala manusia. Seseorang tidak mungkin hidup tanpa kepala, sehingga shalat pun tidak sah bila rukunnya tidak terpenuhi. Syarat Shalat : diibaratkan seperti nyawa kehidupan seseorang. Bila syarat shalat tidak terpenuhi, bisa kita bayangkan layaknya seorang yang jasadnya utuh, tetapi tubuhnya tidak bernyawa alias mati. Sunnah Abadh : diibaratkan seperti anggota tubuh manusia. Seseorang dianggap cacat manakala tidak punya tangan atau kaki, tetapi dia masih bisa hidup. Sunnah Haiat : diibaratkan seperti rambut yang tumbuh di kepala seseorang. Orang yang botak kepalanya tidak bisa dibilang cacat atau mati. Dia hidup, sehat dan tidak punya cacat, tetapi penampilannya kurang indah. a. Sunnah Abadh Kata abadh berasal dari kata badh ( ), yang maknanya adalah bagian dari sesuatu, atau part of. Pada ilustrasi di atas, sunnah abadh di dalam shalat diibaratkan anggota tubuh yang vital, seperti tangan dan kaki. Tangan dan kaki adalah bagian utama dari tubuh, meski seseorang bisa hidup tanpa tangan dan kaki, tetapi hidupnya cacat.

187

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Di dalam mazhab Asy-Syafiiyah, gerakan dan bacaan yang termasuk sunnah abadh ini bila terlupa dikerjakan, maka harus diganti atau ditebus dengan sujud sahwi. Namun hukum sujud sahwi itu sunnah, bukan wajib.
Pertama : Tasyahhud Awal

Dalam tasyahhud awal, ada tiga sunnah abadh yang berbeda, yaitu duduknya, bacaan lafadz tasyahhud-nya dan membaca shalawat atas Nabi SAW setelah bacaan tasyahhud.
Kedua : Shalawat Buat Keluarga Nabi Pada Tasyahud Akhir

Adapun pada tasyahhud akhir yang menjadi sunnah abadh adalah membaca shalawat kepada keluarga Nabi SAW.
Ketiga : Qunut Shubuh dan Witir Mulai Pertengahan Ramadhan

Mazhab Asy-Syafiiyah memasukkan doa qunut pada shalat shubuh dan shalat witir, khususnya setelah pertengahan bulan Ramadhan, sebagai sunnah abadh. Bila salah satu dari hal-hal di atas tidak dikerjakan, maka ada ketentuan untuk mengerjakan sujud sahwi. b. Sunnah Haiat Sunnah haiat adalah sunnah yang tidak disyariatkan untuk sujud sahwi apabila ditinggalkan. Dan yang termasuk ke dalamnya adalah segala sunnah yang tidak termasuk ke dalam sunnah abadh. 4. Mazhab Al-Hanabilah Mazhab Al-Hanabilah tidak membagi sunnah shalat sebagaimana ketiga mazhab lainnya. Namun mazhab ini membaginya berdasarkan sunnah aqwal (ucapan) dan sunnah afal atau haiat (perbuatan atau posisi tubuh), namun keduanya berada pada level dan derajat yang sama. B. Berbagai Sunnah Dalam Shalat Di antara perbuatan dan perkataan yang umumnya dianggap sebagai sunnah dalam shalat oleh para ulama, dengna

188

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

segala detail istilahnya adalah hal-hal berikut ini : 1. Mengangkat Tangan Takbiratul Ihram Al-Malikiyah dan As-Syafi'iyah menyebutkan bahwa disunnahkan untuk mengangkat tangan saat takbiratul ihram, yaitu setinggi kedua pundak. Dalil yang digunakan adalah hadits berikut ini :


Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya setinggi pundaknya saat memulai shalatnya (HR. Muttafaq 'Alaihi)

Dan Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa laki-laki mengangkat tangan hingga kedua telinganya sedangkan wanita mengangkat sebatas pundaknya saja. Dalilnya yang mendasarinya adalah hadits berikut :

Dari Wail bin Hajr radhiyallahu anhu bahwa dia melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ketika memulai shalat, lalu bertakbir dan meluruskan kedua tanggannya setinggi kedua telinganya.(HR. Muslim)


Dari Al-Barra' bin Azib bahwa Rasulullah SAW bila shalat mengangkat kedua tanggannya hingga kedua jempol tangannya menyentuh kedua ujung telinganya (HR. Ahmad, AdDaruquthny)

Sedangkan Al-Hanabilah menyebutkan bahwa seseorang boleh memilih untuk demikian atau mengangkat tangannya hingga kedua ujung telinganya.

189

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Dalilnya adalah bahwa keduanya memang punya dasar hadits yang bisa dijadikan sandaran. Saat mengangkat kedua tangan, dianjurkan agar jari-jari terbuka tidak mengepal, sebagaimana pendapat jumhur, serta menghadap keduanya ke arah kiblat. 2. Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri Jumhur ulama selain Al-Malikiyah mengatakan bahwa disunnahkan untuk meletakkan tapak tangan kanan di atas tapak tangan kiri, dengan dalil berikut ini :


Dari Wail bin Hajr radhiyallahu anhu bahwa dia melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ketika memulai shalat, lalu bertakbir dan meletakkan tangan kanannya di atas tapak tangan kirinya, atau pergelangannya atau lengannya. (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa'i)

Sedangkan dimana diletakkan kedua tangan itu, para ulama sejak dahulu memang berbeda pendapat. Ada yang mengatakan di bawah pusat, ada juga yang mengatakan di antara dada dan pusat, dan ada juga yang mengatakan di dada. a. Di bawah Pusar Mereka yang mengatakan bahwa posisi tangan itu di bawah pusar diantaranya adalah Al-Hanafiyah, dengan landasan hadits berikut ini :

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra,"Termasuk sunnah adalah meletakkan kedua tangan di bawah pusat".(HR. Ahmad dan Abu Daud).

Tentu perkataan Ali bin Abi Thalib ini merujuk kepada

190

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

praktek shalat menyaksikannya.

Rasulullah

SAW,

sebagaimana

beliau

b. Antara Pusar dan Dada Diantara yang berpendapat demikian adalah Asy-Syafi'iyah. Dan bahwa posisinya agak miring ke kiri, karena disitulah posisi hati, sehingga posisi tangan ada pada anggota tubuh yang paling mulia. Dalilnya adalah hadits berikut ini :

Dari Wail bin Hajr radhiyallahu anhu berakta,Aku melihat Rasulullah SAW shalat dan meletakkan kedua tangannya di atas dada.(HR. Ibnu Khuzaemah)1

Sedangkan Al-Malikiyah tidak menganggap meletakkan tangan di atas dada dan lainnya itu sebagai sunnah. Bagi mazhab ini, posisi tangan dibiarkan saja menjulur ke bawah. Bahkan mereka mengatakan bahwa hal itu kurang disukai bila dilakukan di dalam shalat fardhu 5 waktu, namun dibolehkan bila dilakukan dalam shalat sunnah (nafilah). 3. Melihat ke Tempat sujud As-Syafi'iyah dan para ulama lainnya mengatakan bahwa melihat ke arah tempat sujud adalah bagian dari sunnah shalat. Sebab hal itu lebih dekat ke arah khusyu'. Selain itu memang ada dalilnya.


Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bila memulai shalat, tidak melihat kecuali ke arah tempat
1

Hadits ini shahih meski lewat sanad yang lemah, namun banyak syawahid yang menguatkannya.

191

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

sujudnya.2

Kecuali saat tahiyat, maka pandangan diarahkan ke jari tangan kanannya. Sebagaimana disebutkan pada hadits berikut :
Dari Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu anhu bahwa apabila Rasulullah SAW duduk dalam tasyahhud, beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan meletakkan tangan kirinya di atas tangan kirinya lalu menunjuk dengan telunjuknya dan pandangan matanya tidak lepas dari telunjuknya itu". (HR. Ahmad, An-Nasai, Abu Daud)

4. Doa Istiftah Doa istiftiftah juga seringkali disebut dengan doa iftitah atau do'a tsana'. Semuanya merujuk pada lafadz yang sama. Hukum membacanya adalah sunnah menurut jumhur ulama, kecuali AlMalikiyah yang menolak kesunnahannya. Sedangkan lafadznya memang sangat banyak versinya. Dan bisa dikatakan bahwa semuanya bersumber dari Rasulullah SAW.

:
Dari Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca : Maha suci Engkau dan segala puji untuk-Mu. Diberkahilah asma-Mu, tinggilah keagungan-Mu. Dan tiada tuhan kecuali Engkau.(HR. Muslim)3

Lafaz ini diriwayatkan oleh Asiyah radhiyallahu anhu dengan perawi Abu Daud dan Ad-Daruquthuny.

" : . . . "
2 3

Hadits Dhaif, Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hadits ini tidak diketahuinya. Hadits riwayat Muslim ini derajatnya shahih, namun oleh Al-Hafidz ibnu Hajar dikatakan sanadnya munqathi (terputus). Sedangkan riwayat Ad-Daruquthuni maushul dan dia mauquf.

192

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

" : . . . .
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dari Rasulullah SAW bahwa beliau bila berdiri untuk shalat membaca :Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan Yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri sedangkan aku bukan bagian dari orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.Tiada sekutu baginya dan dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku termasuk bagian dari orang-orang muslim.(HR. Muslim)

Lafaz ini sampai kepada kita lewat perawi yang kuat seperti Imam Muslim, Ahmad dan Tirmizy dan dishahihkan oleh Ali bin Abi Thalib. Lafaz ini sebenarnya juga lafadz yang juga ada di dalam ayat Al-Quran Al-Kariem, kecuali bagian terakhir tanpa kata "awwalu". Selain itu juga ada lafdaz lainnya seperti di bawah ini :

: : :
Dari Abi Hurairah radhiyallah anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bila bertakbir memulai shalat, beliau diam sejenak sebelum mulai membaca (Al-Fatihah). Maka aku bertanya padanya dan beliau menjawab,Aku membaca : Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engaku mensucikan pakaian dari kotoran. Ya Allah, mandikan aku dengan air, salju dan embun". (HR. Muttafaq alaihi)

193

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

5. Taawwudz dan Basmalah Taawwudz adalah berlindung kepada Allah, lafadznya adalah :


Aku berlindung kepada Allah dari setan yang dirajam

Jumhur ulama yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa lafadz taawwudz merupakan bagian dari sunnah shalat, yang diucapkan sesudah membaca doa iftitah dan sebelum melafazkan surat Al-Fatihah. Dalilnya adalah firman Allah SWT :

Apabila kamu membaca Al-Quran maka berlindunglah kepada Allah dari setan yang dirajam. (QS. An-Nahl : 98)

Sedangkan mazhab Al-Malikiyah berpendapat bahwa hukum melafadzkan taawwudz tergantung pada hukm shalatnya. Kalau diucapkan dalam shalat fardhu maka hukumnya makruh, tetapi tidak makruh kalau dilakukan pada shalat sunnah. 6. Mengucapkan Amin Dalilnya adalah hadits Nabi berikut ini

) : : ( ) : . ( : . ": " :
194

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Dari Nu'aim Al-Mujammir radhiyallahu anhu berkata,Aku shalat di belakang Abu Hurairah, beliau membaca : bismillahirrahmanirrahim. Kemudian beliau membaca ummulquran (Al-Fatihah), hingga beliau sampai kata (waladhdhaallin) beliau mengucapkan : Amien. Dan beliau mengucapkannya setiap sujud. Dan bila bangun dari duduk mengucapkan : Allahu akbar. Ketika salam beliau berkata : Demi Allah Yang jiwaku di tanganNya, aku adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. (HR. An-Nasai dan Ibnu Khuzaemah).

{ } : .
Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Apabila imam mengucapkan "Amien", maka ucapkanlah juga. Siapa yang amin-nya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka Allah mengampunkan dosadosanya yang telah lampau.(HR. Jamaah kecuali At-Tirmizy)

7. Merenggangkan Kedua Tumit Menurut mazhab Al-Hanafiyah, disunnahkan untuk merenggangkan kedua tumit saat berdiri kira-kira selebar 4 jari. Sebab posisi yang demikian sangat dekat dengan khusyu'. Imam As-Syafi'i mengatakan bahwa jaraknya kira-kira sejengkal. Dan makruh untuk menempelkan keduanya karena menghilangkan rasa khusyu'. Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan disunnahkan untuk merenggangkannya tapi tidak terlalu lebar dan tidak terlalu dekat. 4 8. Membaca Ayat Al-Quran Membaca sebagian surat Al-Quran setelah membaca AlFatihah disunnahkan berdasarkan hadits berikut ini :
Dari Qatadah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW membaca dalam shalat Zhuhur pada dua rakaatnya yang
4

Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Dr. Wahbah Az-Zuhaili, jilid 2 hal. 70

195

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

pertama surat Al-Fatihah dan dua surat, beliau memanjangkannya di rakaat pertama dan memendekkannya di rakaat kedua. Terkadang beliau mendengarkan ayat. Beliau SAW membaca dalam shalat Ashar pada dua rakaatnya yang pertama surat Al-Fatihah dan dua surat, beliau memanjangkannya di rakaat pertama dan memendekkannya di rakaat kedua. Dan beliau beliau memanjangkannya di rakaat pertama shalat shubuh dan memendekkannya di rakaat kedua. (HR. Muttafaqun 'alaihi).

Dari Abu Bazrah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW membaca dalam shalat shubuh dari 60-an ayat hingga 100an ayat.". (HR. Muttafaqun 'alaihi)

9. Takbir Antara Rukun Pada setiap pergantian gerakan yang merupakan rukun shalat, disunnahkan untuk bertakbir. Dasarnya adalah hadits berikut ini :


Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata,"Aku melihat Nabi SAW bertakbir setiap bangun atau turun, baik berdiri atau duduk". (HR. Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmizy dengan status shahih).

Kecuali pada saat bangun dari ruku', maka bacaannya adalah "sami'allahu liman hamidah". Maknanya, Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya. 10. Meletakkan Lutut saat Sujud Meletakkan kedua lutut lalu kedua tangan kemudian wajah ketika turun sujud dan sebaliknya Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Kedua pendapat yang anda tanyakan itu masing-masing memiliki dalil

196

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

dari hadits Rasulullah SAW. Baik yang mengatakan tangan dulu baru lutut atau yang sebaliknya, lutut dulu baru tangan. a. Tangan Lebih Dulu


Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,bila kamu sujud, maka janganlah duduk seperti cara duduknya unta. Hendaklah dia meletakkan tangannya terlebih dahulu sebelum lututnya.

Para fuqaha yang berpendapat bahwa tangan terlebih dahulu sebelum lutut diantaranya adalah: Al-Hadawiyah, Imam Malik menurut sebagian riwayat dan Al-auzai. b. Lutut Lebih Dulu


Dari Wail bin Hujr berjata,Aku melihat Rasulullah SAW bila sujud meletakkan kedua lututnya sebelum tangannya.

Sedangkan para fuqaha yang berpendapat bahwa tangan terlebih dahulu sebelum lutut diantaranya adalah: mazhab Imam Abu Hanifah dan mazhab Imam Asy-Syafii serta menurut sebagian riwayat mazhab Imam Malik. Mereka menolak pendapat yang mengatakan bahwa tangan yang diletakkan terlebih dahulu sebelum lutut karena menurut anggapan mereka hadits yang digunakan ada masalah. Karena dalam matannya ada ketidak-konsistenan, karena disebutkan bahwa jangan duduk seperti duduknya unta, lalu diteruskan dengan perintah untuk meletakkan tangan terlebhi dahulu. Hal ini justru bertentangan. Karena unta itu bila duduk, justru kaki depannya terlebih dahulu baru kaki belakang. Sedangkan perintahnya jangan menyamai unta, artinya seharusnya kaki

197

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

terlebih dahulu baru tangan. Ketidak-konsistenan ini dikomentari oleh Ibnul Qayyim bahwa ada kekeliruan dalam hadits yang diriwayatkan oleh AlBukhari ini. Perintahnya terbalik, seharusnya bunyi perintahnya adalah untuk meletakkan lutut terlebih dahulu bahru tangan. Dan kemungkinan terbaliknya suatu lafaz dalam hadits bukan hal yang tidak mungkin. 11. Sunnah Dalam Sujud Disunnahkan untuk memperbanyak doa pada saat sujud. Dengan dalil sunnah beriku ini.

Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa. (HR Muslim)

-
Dari Abi Said radhiyallahu anhu berkata bahwa Nabi SAW bersabda,"Wahai Muaz, bila kamu meletakkan wajahmu dalam sujud, katakanlah : Ya Allah, tolonglah aku untuk bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu."

12. Doa Duduk Antara Dua Sujud Menurut mazhab As-Syafi'iyah, Al-Hanabilah dan AlMalikiyah, doa yang dibaca ketika duduk di antara dua sujud adalah lafadz berikut ini.


Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku, berikah aku kekuatan, angkatlah aku, beri aku rezeki, tunjuki aku dan sehatkan aku".

Dalilnya adalah riwayat berikut ini :


Dari Huzaifah radhiyallahu anhu berkata bahwa dirinya shalat

198

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

bersama dengan Rasulullah SAW. Beliau mengucapkan antara dua sujud : Rabbighfirli".(HR. An-Nasai dan Ibnu Majah)

13. Mengucapkan Tasyahhud Awal Tasyahhud awal diucapkan pada rakaat kedua setelah sujud yang kedua. Hukumnya sunnah menurut para fuqaha, kecuali Al-Hanafiyah menyebutnya wajib.

-
Bila kamu duduk pada tiap dua rakaat maka ucapkanlah,"Segala kehormatan, shalawat dan kebaikan buat Allah. Salam kepadamu wahai Nabi dengan segala rahmat dan keberkahannya. Salam juga bagi kami dan buat hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya". Lalu silahkan pilih doa yang paling disukai dan panggillah tuhannya azza wa jalla. (HR. Ahmad dan An-Nasai)

Mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa disunnahkan duduk iftirasy untuk tasyahhud awwal. Duduk iftirasy adalah posisi duduk di atas tumit kiri setelah menggeletakkannya dan menegakkan telapak kaki yang kanan. Dalilnya adalah hadits berikut ini :

Dari Wail bin Hujr radhiyallahu 'anhu bahwa dirinya telah melihat Nabi SAW shalat dan sujud kemudian duduk dengan

199

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

mengiftirasykan kaki kirinya. (HR. Buhkari)

Sedangkan mazhab Al-Malikiyah berpendapat bahwa duduk tasyahhud awwal dan tasyahhud akhir sama saja, yaitu duduk tawarruk. Duduk tawaruk adalah duduk dengan meletakkan pinggul dilantai dengan mengeluarkan telapak kaki yang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan menegakkan telapak kaki yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini di rakaat terakhir sebelum salam. Dasarnya adalah hadits berikut ini :


14. Meletakkan Tangan di Paha

Dari Ibnu Masud radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi SAW duduk di tengah dan akhir shalat dengan posisi tawarruk. 5

Pada saat dudud di antara dua sujud atau tahiyat awal mau pun akhir, disunnahkan agar kedua tangan diletakkan di atas kedua paha, sebagaimana hadits berikut ini :

Kemudian beliau duduk dengan mengiftirasykan kaki kirinya dan meletakkan tapak tangan kanannya di atas paha dan lutut kirinya. Dan menjadikan siku kanan di atas paha kanan. (HR. Ahmad, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

15. Menggerakkan Jari Saat Tahiyat Masalah menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat di dalam shalat adalah masalah khilafiyah yang termasuk paling klasik, karena sejak zaman dahulu, para ulama sudah berbeda
5

Al-Mughni jilid 1 halama 533

200

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

pendapat. Perbedaan pendapat di antara mereka tidak kunjung selesai sampai ribuan tahun lamanya, bahkan sampai hari ini. Masalahnya bukan karena para ulama itu hobi berbeda pendapat, juga bukan karena yang satu lebih shahih dan yang lain kurang shahih. Juga bukan karena yang satu lebih mendekat kepada sunnah dan yang lain kurang dekat. Masalahnya sangat jauh dan tidak ada kaitannya dengan semua itu. Titik masalahnya hanya kembali kepada cara memahami naskah hadits, di mana ada dalil yang shahih yang disepakati bersama tentang keshahihannya, namun dipahami dengan cara yang berbeda oleh masing-masing ulama. Sayangnya, teks hadits itu sendiri memang sangat dimungkinkan untuk dipahami dengan cara yang berbeda-beda. Alias tidak secara spesifik menyebutkannya dengan detail dan rinci. Yang disebutkan hanyalah bahwa Rasulullah SAW menggerakkan jarinya, tetapi apakah dengan teknis terusterusan dari awal tahiyat hingga selesai, ataukah hanya pada saat mengucapkan 'illallah' saja, tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan hal-hal itu. a. Dalil-dalil tentang Menggerakkan Jari
Kemudian beliau duduk dengan mengiftirasykan kaki kirinya dan meletakkan tapak tangan kanannya di atas paha dan lutut kirinya. Dan menjadikan siku kanan di atas paha kanan. Kemudian beliau menggenggam dua jarinya dan membuat lingkaran jari serta mengangkat jari telunjuknya. Aku melihatnya menggerakkan jari itu dan beliau berdoa. (HR. Ahmad, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)


Dari Wail bin Hujr berkata tentang sifat shalat Rasulullah SAW, "Kemudian beliau mengenggam dua jarinya dan membentuk lingkaran, kemudian mengangkat tangannya. Aku melihat beliau menggerakkan jarinya itu dan berdoa". (HR Ahmad, An-Nasai,

201

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Abu Daud dan lainnya dengan sanad yang shahih) Dari Abdullah bin Umar ra berkata, "Rasulullah SAW bila duduk dalam shalat meletakkan kedua tangannya pada lututnya, mengangkat jari kanannya (telunjuk) dan berdoa". (HR Muslim)

Dengan adanya kedua dalil ini, para ulama sepakat bahwa menggerakkan jari di dalam shalat saat tasyahhud adalah sunnah. Para ulama yang mengatakan hal itu antara lain adalah Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad bin Hanbal serta satu pendapat di dalam mazhab Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahumullah. Tinggal yang jadi titik perbedaan adalah cara mengambil pengertian dari kata 'menggerakkan'. b. Mazhab Al-Hanafiyah Mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa gerakan menjulurkan jari itudilakukan saat mengucapkan kalimat nafi (laa illaha), begitu masuk ke kalimat isbat (illallaah) maka jari itu dilipat kembali. Jadi menjulurkan jari adalah isyarat dari nafi dan melipatnya kembali adalah isyarat kalimat itsbat. c. Mazhab Al-Malikiyah Mazhab Al-Malikyah mengatakan bahwa sunnahnya menggerak-gerakkan jari tangan ke arah kanan dan kiri sepanjang lafadz tasyahhud diucapkan, sebagaimana disebutkan di dalam hadits.6 d. Mazhab Asy-Syafi'iyah Sebagian ulama seperti kalangan mazhab As-Syafi'i mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menggerakan hanyalah sekali saja, yaitu pada kata 'illallah'. Setelah gerakan sekali itu, jari itu tetap dijulurkan dan tidak dilipat lagi. Demikian sampai usai shalat. Al-Baihaqi mengatakan bahwa yang yang dimaksud dengan 'menggerakkan' itu bukan bergerak-gerak terus dari awal hingga akhir, melainkan hanya meluruskan atau mengacungkan jari telunjuk sekali pada saat membaca dua kalimat syahadat.
6

Asy-Syarhushshaghir jilid 1 hal. 330

202

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Sebab ada hadits lain yang juga shahih tapi menyebutkan bahwa beliau SAW tidak menggerak-gerakkan jari, tetapi hanya menunjuk saja.

Beliau menunjuk dengan jarinya tapi tidak menggerakkannya (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Majah)

e. Mazhab Al-Hanabilah Mazhab ini berpendapat bahwa mengerakkan jarinya hanya pada setiap menyebut lafadz Allah di dalam tasyahhud. Sepanjang Doa Tahiyat Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa tidak ada ketentuannya, sehingga dilakukan gerakan jari itu sepanjang membaca tasyahhud. Yang terakhir itu juga merupakan pendapat Syeikh Al-Albani. Sehingga beliau cenderung mengambil pendapat bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz tasyahhud. 7 Akan tetapi, sekali lagi kami katakan itu adalah ijtihad karena tidak adanya dalil yang secara tegas menyebutkan hal itu. Sehingga antara satu ulama dengan ulama lainnya sangat mungkin berbeda pandangan. Selama dalil yang sangat teknis tidak atau belum secara spesifik menegaskannya, maka pintu ijtihad lengkap dengan perbedaannya masih sangat terbuka luas. Dan tidak ada orang yang berhak menyalahkan pendapat orang lain, selama masih di dalam wilayah ijtihad. Pendeknya, yang mana saja yang ingin kita ikuti dari ijtihad itu, semua boleh hukumnya. Dan semuanya sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. 16. Shalawat Nabi Pada Tasyahhud Akhir Mazhab As-Syafi'iyyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa shalawat kepada Nabi dalam tasyahhud akhir hukumnya
7

Nashiruddin Al-Albani, Sifat Shalat Nabi hal. 140

203

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

wajib. Sedangkan shalawat kepada keluarga beliau SAW hukumnya sunnah menurut As-Syafi'iyah dan hukumnya wajib menurut Al-Hanabilah.8 Sedangkan menurut Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah, membaca shalawat kepada Nabi pada tasyahhud akhir hukumnya sunnah.9 Adapun lafaz shalawat kepada Nabi dalam tasyahhud akhir seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW adalah :


Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya, sebagaimana shalawat-Mu kepada Ibrahim dan kepada keluarganya. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana barakah-Mu kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Agung. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad) Lafaz Sayyidina : Taswid

Istilah taswid ( )adalah menyapa atau menyebut nama seseorang yang dihormati dan dicintai dengan lafadz : sayyidina (). Ketika menyebut nama Muhammad SAW, banyak para ulama yang mengajurkan kita menyapa beliau dengan lafadz sayyidina. Meskipun kita juga menemukan banyak pendapat ulama lain yang melarangnya. Dasar atas anjuran kita menyebut nama Rasulullah SAW dengan sayyidina antara lain sabda beliau SAW sendiri :

8 9

Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 173, Al-Mughni jilid 1 hal. 541 Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 hal. 478, Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 hal. 319

204

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat


Aku adalah junjungan dari anak-anak Adam

Dan Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhu bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan lafadz sebagai berikut :


Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada sayyidil mursalin.

Dan sebagian ulama membolehkan penggunaan sayyidina di dalm shalat, yaitu ketika membaca shalawat ibrahimiyah dalam tasyahhud. Sedangkan sebagian yang lain melarang penggunaan lafadz sayyidina di dalam shalat, namun membolehkan di luar shalat. Dan ada juga kalangan yang melarang lafadz sayyidina baik di dalam shalat atau pun di luar shalat. Di antara para ulama yang membolehkan kita menggunakan lafadz sayyidina di dalam shalat adalah para ulama mutaakhkhirin dari mazhab Al-Hanafiyah dan AsSyafi'iyah. Dari mazhab Asy-Syafi'iyah tercatat nama-nama seperti Al'Izz Ibnu Abdissalam, Ar-Ramli, Al-Qalyubi, dan juga AsySyarqawi. Sedangkan ulama mutaakhkhirin dari mazhab AlHanafiyah tercatat Al-Haskafi dan Ibnu 'Abidin. Dan dari kalangan mazhab Al-Maliki tercatat nama An-Nafarawi. Mereka menyunnahkan penggunaan kata 'sayyidina' saat mengucapkan shalawat kepada Nabi SAW (shalawat Ibrahimiyah). Landasan atas pendapat mereka ini adalah bahwa penambahan kabar atas apa yang sesungguhnya memang ada merupakan bagian dari suluk adab. Jadi lebih utama digunakan dari pada ditinggalkan. 10 Sedangkan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah
10

Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 hal. 479, Hasyiyah Al-Bajuri jilid 1 hal. 162 dan Syarhu AlHadhramiyah hal. 253

205

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

SAW berkata :
Janganlah kamu memanggilku dengan sebutan 'sayyidina' di dalam shalat'

adalah hadits maudhu' (palsu) dan dusta.11 Sedangkan kalangan ulama yang melarang lafadz sayyidina diucapkan di dalam shalat mendasarkan pendapatnya bahwa contoh lafadz shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW tidak ada lafadz sayyidina. Bahkan sebagian kalangan sampai membid'ahkan lafadz ini bila dibaca dalam shalat, dengan alasan bahwa bacaan shalat itu tidak boleh ditambah-tambahi dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. 17. Doa Sesudah Shalawat Disunnahkan apabila telah selesai membaca lafadz tahiyah bagi orang yang shalat untuk membaca doa-doa yang disukainya. Dasarnya adalah hadits Rasulullah SAW :

- : . :

Apabila salah seorang dari kalian duduk (tahiyat akhir) dalam shalatnya, maka hendaklah dia membaca : at-tahiyatu lillah sampai akhir, kemudian silahkan memilih (doa) dari masalahmasalah yang dia inginkan atau yang dia sukai (HR. Muslim)

Sedangkan dalam riwayat Bukhari disebutkan : Hendaklah dia memilih dari doa-doa yang dia sukai dan berdoa dengan lafadz itu

Diantara doa yang masyhur dan ma'tsur (diwariskan dari Nabi SAW) adalah lafaz berikut ini :
Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina azabannar.
11

lAsna Al-Mathalib fi Ahaditsi Mukhtalaf Al-Marathib karya Al-Hut Al-Bairuti hal. 253

206

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Atau lafaz berikut ini :

Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang besar. Tiada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau. Maka ampunilah diriku dengan ampunan dari-Mu. Kasihanilah diriku ini karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. (HR. Bukhari dan Muslim dan lafaznya dari Muslim)

Doa yang lainnya adalah sesuai dengan yang disebutkan di dalam hadits berikut ini :

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Bila kalian telah selesai dari tasyahhud akhir maka berlindunglah kepada Allah dari empat hal : [1] dari azab jahannam, [2] dari azab kubur, [3] dari fitnah makhluk hidup dan makhluk mati, [4] dari fitnah al-masih Dajjal.

Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk membaca doa ini dalam tasyahhud akhir.12 18. Menoleh ke Kanan dan Kiri Disunnhakan untuk menolek ke kanan dan ke kiri saat mengucap dua salam
Dari Said bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu berkata,'Aku melihat Nabi SAW melakukan salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putih pipi beliau'.(HR. Muslim)

Dalam lain riwayat disebutkan


12

Subulus Salam jilid 1 hal. 194

207

Bab 8 : Sunnah-sunnah Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

'Nabi SAW melakukan salam ke kanan hingga terlihat putih pipi beliau dan melakukan salam ke kiri hingga terlihat putih pipi beliau'.(HR. Ad-Daruquthuny)

As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa ketika memulai lafaz salam (assalamu 'alaikum), wajah masih menghadap kiblat. Ketika mengucapkan (warahmatullah), barulah menoleh ke kanan dan ke kiri. 19. Melirihkan Salam Kedua Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah menyunnahkan untuk melirihkan ucapan salam kedua dan mengeraskan ucapan salam yang pertama. Demikian juga dengan Al-Malikiyah, mereka mengatakan disunnahkan untuk melirihkan salam yang kedua dan menjaharkan salam yang pertama, baik sebagai imam, sebagai makmum atau pun bila shalat sendiri. 20. Menunggu Imam Selesai Salam Disunnahkan bagi makmum untuk tidak segera mengucapkan salam kecuali setelah imam selesai dengan kedua salamnya. Hal itu dikarenakan untuk berjaga-jaga apabila ternyata imam masih akan melakukan sujud sahwi. Menunda salam bagi makmum hingga imam selesai dengan kedua salamnya adalah sunnah menurut Al-Hanafiyah. 21. Khusyu' dan Tadabbur Al-Imam As-Syafi'i menyebutkan bahwa disunnahkan untuk melakukan shalat dengan khusyu' serta tadabbur (merenungkan) bacaan Al-Quran pada shalat. Termasuk juga bacaan-bacaan lain (dzikir) dalam shalat. Beliau juga menyunnahkan untuk memulai shalat dengan segenap konsentrasi, mengosongkan hati dari segala pikiran duniawi, karena hal itu lebih memudahkan seseorang untuk bisa khusyu' dalam shalatnya.

208

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Bab 9 : Batalnya Shalat

Ikhtishar
A. Hal-hal Yang Membatalkan Shalat
1. Kehilangan Salah Satu Dari Syarat Sah Shalat 2. Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat 3. Berbicara di Luar Shalat 4. Bergerak di Luar Gerakan Shalat 5. Makan dan Minum 6. Mendahului Imam dalam Shalat Jama'ah 7. Terdapatnya Air bagi Yang Tayammum

B. Kewajiban Membatalkan Shalat


1. Istighatsah 2. Takut Atas Kecelakaan Orang Lain 3. Kebakaran 4. Serangan Hewan Buas

C. Kebolehan Membatalkan Shalat


1. Pencurian 2. Gosongnya Masakan 3. Khawatir Anak 4. Kekhawatiran Musafir Atas Pencoleng 5. Kebelet 6. Panggilan Orang Tua Dalam Shalat Sunnah

D. Perkara Yang Tidak Membatalkan Shalat


1. Mencegah Orang Lewat 2. Membunuh Hewan 4. Menjawab Salam dengan Isyarat 5. Memegang Mushaf

209

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

6. Membersihkan Tempat Sujud 7. Melirik 8. Tersenyum 9. Menggendong Bayi

A. Hal-hal Yang Membatalkan Shalat Ada begitu banyak hal yang bisa mengakibatkan shalat yang dikerjakan menjadi batal. Dan diantara hal-hal yang membatalkan shalat sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para fuqaha adalah sebagai berikut : Ada begitu banyak hal yang dapat membatalkan shalat, sebagiannya telah menjadi kesepakatan ulama tanpa khilaf, sebagian lainnya juga membatalkan namun masih khilaf para ulama di dalamnya. Di antara hal yang sering dibicarakan sebagai pembatal shalat adalah berbicara, makan dan minum, banyak gerakan dan terus menerus, kehilangan salah satu dari syarat sah shalat, tertawa, murtad dan hilang akal, berubah niat, meninggalkan salah satu rukun shalat, mendahului imam dalam shalat jama'ah, terdapatnya air bagi yang shalat dengan bertayammum, dan mengucapkan salam secara sengaja. Kita akan bahas hal-hal di atas satu persatu. 1. Kehilangan Salah Satu Dari Syarat Sah Shalat Sebagaimana kita ketahui bahwa di antara syarat-syarat sahnya shalat antara lain adalah muslim, berakal, tahu sudah masuk waktu, suci dari najis, suci dari hadats, menutup aurat dan menghadap kiblat. a. Murtad Syara pertama orang yang mengerjakan shalat adalah statusnya harus menjadi seorang muslim. Bila status

210

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Bab 9 : Batalnya Shalat

Ikhtishar
A. Kehilangan Salah Satu Dari Syarat Sah Shalat
1. Murtad 2. Gila 3. Belum Masuk Waktu 4. Tersentuh Najis 5. Mengalami Hadats Kecil atau Besar 6. Terbuka Aurat Secara Sengaja 7. Bergeser Dari Arah Kiblat

B. Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat


1. Kehilangan Niat 2. Tidak Membaca Surat Al-Fatihah

C. Berbicara di Luar Shalat


1. Bicara Yang Membatalkan Shalat 2. Bicara Yang Tidak Membatalkan Shalat

D. Bergerak di Luar Gerakan Shalat


1. Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah 2. Mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah

E. Makan dan Minum


1. Al-Hanafiyah 2. Al-Malikiyah 3. As-Syafiiyah 4. Al-Hanabilah

F. Mendahului Imam dalam Shalat Jama'ah G. Terdapatnya Air bagi Yang Tayammum

209

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

H. Yang Tidak Membatalkan Shalat


1. Mencegah Orang Lewat 2. Membunuh Hewan 4. Menjawab Salam dengan Isyarat 5. Memegang Mushaf 6. Membersihkan Tempat Sujud 7. Melirik 8. Tersenyum 9. Menggendong Bayi

Ada begitu banyak hal yang bisa mengakibatkan shalat yang dikerjakan menjadi batal. Dan diantara hal-hal yang membatalkan shalat sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para fuqaha adalah sebagai berikut : Ada begitu banyak hal yang dapat membatalkan shalat, sebagiannya telah menjadi kesepakatan ulama tanpa khilaf, sebagian lainnya juga membatalkan namun masih khilaf para ulama di dalamnya. Di antara hal yang sering dibicarakan sebagai pembatal shalat adalah berbicara, makan dan minum, banyak gerakan dan terus menerus, kehilangan salah satu dari syarat sah shalat, tertawa, murtad dan hilang akal, berubah niat, meninggalkan salah satu rukun shalat, mendahului imam dalam shalat jama'ah, terdapatnya air bagi yang shalat dengan bertayammum, dan mengucapkan salam secara sengaja. Kita akan bahas hal-hal di atas satu persatu. A. Kehilangan Salah Satu Dari Syarat Sah Shalat Sebagaimana kita ketahui bahwa di antara syarat-syarat sahnya shalat antara lain adalah muslim, berakal, tahu sudah masuk waktu, suci dari najis, suci dari hadats, menutup aurat dan menghadap kiblat. 1. Murtad

210

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Syara pertama orang yang mengerjakan shalat adalah statusnya harus menjadi seorang muslim. Bila status keislamannya terlepas, maka otomatis shalatnya menjadi batal. Maka orang yang sedang melakukan shalat, lalu tiba-tiba murtad, maka batal shalatnya. Mungkin ada orang yang bertanya, bagaimana bisa seseorang yang sedang shalat, tiba-tiba berubah menjadi murtad? Murtad atau keluar dari agama Islam bisa saja terjadi tibatiba, misalnya ketika seseorang tiba-tiba mengingkari wujud Allah SWT, atau mengingkari kerasulan Muhammad SAW, termasuk juga mengingkari kebenaran agama Islam sebagai agama satu-satunya yang Allah ridhai. Bila sesaat setan masuk ke dalam pikiran sambil meniupkan pikiran sesatnya itu, lalu seseorang itu sampai kepada tingkat meyakini apa yang ditiupkan setan itu, maka boleh jadi tidak sempat murtad sebentar. Kalau pun saat itu dia segera sadar, maka shalat yang dilakukannya dianggap batal dan harus diulang lagi. Mengapa demikian? Karena kekufuran itu merusak amal dan membuatnya menjadi sia-sia. Dalilnya adalah firman Allah SWT :

Jika kamu mempersekutukan niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. AzZumar : 65)

2. Gila Demikian juga dengan orang yang tiba-tiba menjadi gila atau hilang akal saat sedang shalat, maka shalatnya juga batal. Sebab syarat sah dalam ibadah shalat salah satunya adalah berakal. Shalat yang dilakukan oleh orang gila atau kehilangan akalnya, tentu shalat itu tidak sah. Dan bila gila itu datangnya kumat-kumatan, sebentar datang dan sebentar hilang, maka bila terjadi ketika sedang shalat, maka shalat itu menjadi batal.

211

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

3. Belum Masuk Waktu Di antara syarat sah shalat adalah bahwa mengetahui bahwa waktu shalat sudah masuk. Sebab shalat itu tidak sah dilakukan bila belum lagi masuk waktunya. Maka bila seseorang yang sedang mengerjakan shalat, kemudian terbukti bahwa di tengah shalat itu baru masuk waktunya, otomatis shalatnya itu menjadi batal dengan sendirinya. Hukum shalat sebelum waktunya jauh berbeda dengan shalat yang dilakukan pada waktu yang sudah terlewat. Bila waktunya sudah lewat, shalat masih sah dilakukan, bahkan dalam kaitanya dengan shalat fardhu, hukumnya tetap wajib dikerjakan. 4. Tersentuh Najis Suci dari najis adalah salah satu syarat sah shalat. Tidak sah shalat seseorang kalau badan, pakaian atau tempatnya shalatnya masih terkena najis. Maka bila ditengah-tengah shalat seseorang terkena atau tersentuh benda-benda najis, maka secara otomatis shalatnya itu pun menjadi batal. Namun yang perlu diperhatikan adalah batalnya shalat itu hanya apabila najis itu tersentuh tubuhnya atau pakaiannya. Adapun tempat shalat itu sendiri bila mengandung najis, namun tidak sampai tersentuh langsung dengan tubuh atau pakaian, shalatnya masih sah dan bisa diteruskan. Asalkan dia bergeser dari tempat dimana najis itu terjatuh. Selain sumber najis itu dari luar, bisa juga najis itu datang dari dalam tubuh sendiri. Maka bila ada najis yang keluar dari tubuhnya hingga terkena tubuhnya, seperti mulut, hidung, telinga atau lainnya, maka shalatnya batal. Namun bila kadar najisnya hanya sekedar najis yang dimaafkan, yaitu najis-najis kecil ukurannya, maka hal itu tidak membatalkan shalat.

212

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

5. Mengalami Hadats Kecil Bila seseorang mengalami hadats besar atau kecil, maka batal pula shalatnya, baik hal itu terjadi tanpa sengaja atau secara sadar, ataupun dengan sengaja dan sepenuh kesadaran. Hal-hal yang membuat seseorang berhadats kecil dan bisa membatalkan wudhu' ada beberapa hal. Sebagian disepakati para ulama dan sebagian lainnya masih menjadi khilaf atau perbedaan pendapat. a. Keluarnya Sesuatu Lewat Kemaluan Yang dimaksud kemaluan itu termasuk bagian depan dan belakang. Dan yang keluar itu bisa apa saja termasuk benda cair seperti air kencing, mani, wadi, mazi, atau apapun yang cair. Juga berupa benda padat seperti kotoran, batu ginjal, cacing atau lainnya. Pendeknya apapun juga benda gas seperti kentut. Kesemuanya itu bila keluar lewat dua lubang qubul dan dubur membuat wudhu' yang bersangkutan menjadi batal. Dasarnya adalah firman Allah SWT berikut ini :


Atau bila salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air. (QS. Al-Maidah : 6) Juga berdasarkan hadits nabawi :

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersasabda,Bila seseorang dari kalian mendapati sesuatu pada perutnya lalu dia merasa ragu apakah ada sesuatu yang keluar atau tidak, maka tidak perlu dia keluar dari masjid, kecuali dia mendengar suara atau mencium baunya. (HR. Muslim)

b. Tidur Tidur yang bukan dalam posisi tetap (tamakkun) di atas

213

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

bumi. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW .

Siapa yang tidur maka hendaklah dia berwudhu' (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur yang membuat hilangnya kesadaran seseorang. Termasuk juga tidur dengan berbaring atau bersandar pada dinding. Sedangkan tidur sambil duduk yang tidak bersandar kecuali pada tubuhnya sendiri tidak termasuk yang membatalkan wudhu' sebagaimana hadits berikut :
s : - -

Dari Anas radhiyallahuanhu berkata bahwa para shahabat Rasulullah SAW tidur kemudian shalat tanpa berwudhu' (HR. Muslim) - Abu Daud menambahkan : Hingga kepala mereka terkulai dan itu terjadi di masa Rasulullah SAW.

c. Hilang Akal Hilang akal baik karena mabuk atau sakit. Seorang yang minum khamar dan hilang akalnya karena mabuk maka wudhu' nya batal. Demikian juga orang yang sempat pingsan tidak sadarkan diri juga batal wudhu'nya. Demikian juga orang yang sempat kesurupan atau menderita penyakit ayan dimana kesadarannya sempat hilang beberapa waktu wudhu'nya batal. Kalau mau shalat harus mengulangi wudhu'nya. d. Menyentuh Kemaluan Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

-
214

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Siapa yang menyentuh kemaluannya maka harus berwudhu (HR. Ahmad dan At-Tirmizy)

Para ulama kemudian menetapkan dari hadits ini bahwa segala tindakan yang masuk dalam kriteria menyentuh kemaluan mengakibatkan batalnya wudhu. Baik menyentuh kemaluannya sendiri ataupun kemaluan orang lain. Baik kemaluan laki-laki maupun kemaluan wanita. Baik kemaluan manusia yang masih hidup ataupun kemauan manusia yang telah mati (mayat). Baik kemaluan orang dewasa maupun kemaluan anak kecil. Bahkan para ulama memasukkan dubur sebagai bagian dari yang jika tersentuh membatalkan wudhu. Namun para ulama mengecualikan bila menyentuh kemaluan dengan bagian luar dari telapak tangan dimana hal itu tidak membatalkan wudhu'. e. Menyentuh Kulit Lawan Jenis Menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram tanpa ada lapisan atau penghalan, termasuk hal yang membatalkan wudhu menurut pendapat para ulama. Di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram termasuk yang membatalkan wudhu'. Namun hal ini memang sebuah bentuk khilaf di antara para ulama. Sebagian mereka tidak memandang demikian. Sebab perbedaan pendapat mereka didasarkan pada penafsiran ayat Al-Quran yaitu :

Atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik. (QS. An-Nisa : 43)

Sebagian ulama mengartikan kata menyentuh sebagai kiasan yang maksudnya adalah jima (hubungan seksual). Sehingga bila hanya sekedar bersentuhan kulit tidak membatalkan wuhu. Ulama kalangan As-Syafiiyah cenderung mengartikan kata menyentuh secara harfiyah, sehingga menurut mereka

215

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu membatalkan wudhu. Menurut mereka bila ada kata yang mengandung dua makna antara makna hakiki dengan makna kiasan, maka yang harus didahulukan adalah makna hakikinya. Kecuali ada dalil lain yang menunjukkan perlunya menggunakan penafsiran secara kiasan. Dan Imam Asy-Syafii nampaknya tidak menerima hadits Mabad bin Nabatah dalam masalah mencium. Namun bila ditinjau lebih dalam pendapat-pendapat di kalangan ulama Syafiiyah, sebenarnya kita masih juga menemukan beberapa perbedaan. Misalnya sebagian mereka mengatakan bahwa yang batal wudhunya adalah yang sengaja menyentuh sedangkan yang tersentuh tapi tidak sengaja menyentuh maka tidak batal wudhunya. Juga ada pendapat yang membedakan antara sentuhan dengan lawan jenis non mahram dengan pasangan (suami istri). Menurut sebagian mereka bila sentuhan itu antara suami istri tidak membatalkan wudhu. Dan sebagian ulama lainnya lagi memaknainya secara harfiyah sehingga menyentuh atau bersentuhan kulit dalam arti fisik adalah termasuk hal yang membatalkan wudhu. Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah dan juga semua salaf dari kalangan shahabat. Sedangkan Al-Malikiyah dan jumhur pendukungnya mengatakan hal sama kecuali bila sentuhan itu dibarengi dengan syahwat (lazzah) maka barulah sentuhan itu membatalkan wudhu. Pendapat mereka dikuatkan dengan adanya hadits yang memberikan keterangan bahwa Rasulullah SAW pernah menyentuh para istrinya dan langsung mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi.


216

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Dari Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah radhiyallahuanhadari Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu.(HR. Turmuzi Abu Daud An-Nasai Ibnu Majah dan Ahmad).

6. Mengalami Hadats Besar Selain terkena hadats kecil, yang ikut juga membatalkan seseorang dari shalatnya adalah terkena atau mendapatkan hadats besar. Maksudnya, kalau pada saat sedang shalat, seseorang mengalami hal-hal yang mengakibatkan terjadinya hadats besar, maka secara otomatis shalatnya batal. Para ulama menetapkan paling tidak ada 6 hal yang mewajibkan seseorang untuk mandi janabah. Tiga hal di antaranya dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan. Tiga lagi sisanya hanya terjadi pada perempuan. a. Keluar Mani Keluarnya air mani menyebabkan seseorang mendapat janabah baik dengan cara sengaja (masturbasi) atau tidak. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abi Said Al-Khudhri radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda"Sesungguhnya air itu (kewajiban mandi) dari sebab air (keluarnya sperma). (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun ada sedikit berbedaan pandangan dalam hal ini di antara para fuqaha'. Mazhab Al-Hanafiyah Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mensyaratkan keluarnya mani itu karena syahwat atau dorongan gejolak nafsu baik keluar dengan sengaja atau tidak sengaja. Yang penting ada dorongan syahwat seiring dengan

217

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

keluarnya mani. Maka barulah diwajibkan mandi janabah. Sedangkan mazhab Asy-syafi'iyah memutlakkan keluarnya mani baik karena syahwat ataupun karena sakit semuanya tetap mewajibkan mandi janabah. Sedangkan air mani laki-laki itu sendiri punya ciri khas yang membedakannya dengan wadi dan mazi : Dari aromanya air mani memiliki aroma seperti aroma 'ajin (adonan roti). Dan seperti telur bila telah mengering. Keluarnya dengan cara memancar sebagaimana firman Allah SWT : Rasa lezat ketika keluar dan setelah itu syahwat jadi mereda.

- - : ! : - .
Dari Ummi Salamah radhiyallahu anha bahwa Ummu Sulaim istri Abu Thalhah bertanya"Ya Rasulullah sungguh Allah tidak mau dari kebenaran apakah wanita wajib mandi bila keluar mani? Rasulullah SAW menjawab"Ya bila dia melihat mani keluar". (HR. Bukhari dan Muslim)

Mani Wanita

Hadits ini menegaskan bahwa wanita pun mengalami keluar mani bukan hanya laki-laki. b. Bertemunya Dua Kemaluan Yang dimaksud dengan bertemunya dua kemaluan adalah kemaluan laki-laki dan kemaluan wanita. Dan istilah ini disebutkan dengan maksud persetubuhan (jima'). Dan para ulama membuat batasan : dengan lenyapnya kemaluan (masuknya) ke dalam faraj wanita atau faraj apapun baik faraj hewan. Termasuk juga bila dimasukkan ke dalam dubur baik dubur

218

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

wanita ataupun dubur laki-laki baik orang dewasa atau anak kecil. Baik dalam keadaan hidup ataupun dalam keadaan mati. Semuanya mewajibkan mandi di luar larangan perilaku itu. Hal yang sama berlaku juga untuk wanita dimana bila farajnya dimasuki oleh kemaluan laki-laki baik dewasa atau anak kecik baik kemaluan manusia maupun kemaluan hewan baik dalam keadaan hidup atau dalam keadaan mati termasuk juga bila yang dimasuki itu duburnya. Semuanya mewajibkan mandi di luar masalah larangan perilaku itu. Semua yang disebutkan di atas termasuk hal-hal yang mewajibkan mandi meskipun tidak sampai keluar air mani. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

s :

Dari Aisyah radhiyallahuanhaberkata bahwa Rasulullah SAW bersabda"Bila dua kemaluan bertemu atau bila kemaluan menyentuh kemaluan lainnya maka hal itu mewajibkan mandi janabah. Aku melakukannya bersama Rasulullah SAW dan kami mandi.

s : - " : "

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda"Bila seseorang duduk di antara empat cabangnya kemudian bersungguh-sungguh (menyetubuhi) maka sudah wajib mandi. (HR. Muttafaqun 'alaihi). Dalam riwayat Muslim disebutkan : "Meski pun tidak keluar mani"

c. Meninggal Seseorang yang meninggal maka wajib atas orang lain yang

219

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

masih hidup untuk memandikan jenazahnya. Dalilnya adalah sabda Nabi Saw tentang orang yang sedang ihram tertimpa kematian :


Rasulullah SAW bersabda"Mandikanlah dengan air dan daun bidara. (HR. Bukhari dan Muslim)

d. Haidh Haidh atau menstruasi adalah kejadian alamiyah yang wajar terjadi pada seorang wanita dan bersifat rutin bulanan. Keluarnya darah haidh itu justru menunjukkan bahwa tubuh wanita itu sehat. Dalilnya adalah firman Allah SWT dan juga sabda Rasulullah SAW :


Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. AlBaqarah : 222)

-
Nabi SAW bersabdaApabila haidh tiba tingalkan shalat apabila telah selesai (dari haidh) maka mandilah dan shalatlah. (HR Bukhari dan Muslim)

e. Nifas

220

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita setelah melahirkan. Nifas itu mewajibkan mandi janabah meski bayi yang dilahirkannya itu dalam keadaan mati. Begitu berhenti dari keluarnya darah sesudah persalinan atau melahirkan maka wajib atas wanita itu untuk mandi janabah. Hukum nifas dalam banyak hal lebih sering mengikuti hukum haidh. Sehingga seorang yang nifas tidak boleh shalat puasa thawaf di baitullah masuk masjid membaca Al-Quran menyentuhnya bersetubuh dan lain sebagainya. f. Melahirkan Seorang wanita yang melahirkan anak meski anak itu dalam keadaan mati maka wajib atasnya untuk melakukan mandi janabah. Bahkan meski saat melahirkan itu tidak ada darah yang keluar. Artinya meski seorang wanita tidak mengalami nifas namun tetap wajib atasnya untuk mandi janabah lantaran persalinan yang dialaminya. 7. Terbuka Aurat Secara Sengaja Bila seseorang yang sedang melakukan shalat tiba-tiba terbuka auratnya, maka shalatnya otomatis menjadi batal. Maksudnya bila terbuka dalam waktu yang lama. Sedangkan bila hanya terbuka sekilas dan langsung ditutup lagi, para ulama mengatakan tidak batal menurut As-Syafi'iyah dan AlHanabilah. Namun Al-Malikiyah mengatakan secepat apapun ditutupnya, kalau sempat terbuka, maka shalat itu sudah batal dengan sendirinya. Namun perlu diperhatikan bahwa yang dijadikan sandaran dalam masalah terlihat aurat dalam hal ini adalah bila dilihat dari samping, atau depan atau belakang. Bukan dilihat dari arah bawah seseorang. Sebab bisa saja bila secara sengaja diintip dari arah bawah, seseorang akan terlihat auratnya. Namun hal ini tidak berlaku. 7. Bergeser Dari Arah Kiblat Bila seserang di dalam shalatnya melakukan gerakan hingga

221

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

badannya bergeser arah hingga membelakangi kiblat, maka shalatnya itu batal dengan sendirinya. Hal ini ditandai dengan bergesernya arah dada orang yang sedang shalat itu, menurut kalangan As-Syafi'iyah dan AlHanafiyah. Sedangkan menurut Al-Malikiyah, bergesernya seseorang dari menghadap kiblat ditandai oleh posisi kakinya. Sedangkan menurut Al-Hanabilah, ditentukan dari seluruh tubuhnya. Keharusan menghadap kitblat ini terutama berlaku untuk shalat fardhu, sedangkan pada shalat sunnah, hukumnya tidak seketat shalat fardhu, menghadap kiblat tidak menjadi syarat shalat. Hal itu karena Rasulullah SAW pernah melakukannya di atas kendaraan dan menghadap kemana pun kendaraannya itu mengarah. Namun yang dilakukan hanyalah shalat sunnah, adapun shalat wajib belum pernah diriwayatkan bahwa beliau pernah melakukannya. Sehingga sebagian ulama tidak membenarkan shalat wajib di atas kendaraan yang arahnya tidak menghadap kiblat. B. Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat Apabila ada salah satu rukun shalat yang tidak dikerjakan, maka shalat itu menjadi batal dengan sendirinya. Dan sebagaimana kita bahas sebelumnya, bahwa rukun shalat itu ada 13 perkara, bahkan sebagian ulama menambahi bilangannya, sesuai dengan perbedaan pendapat masing-masing. Maka bila salah satu dari rukun-rukun itu tidak dikerjakan, seketika itu juga shalat menjadi batal hukumnya. 1. Kehilangan Niat Seseorang yang sedang shalat, lalu tiba-tiba niatnya berubah, maka shalatnya menjadi batal. Yang dimaksud dengan berubah niat disini adalah bila terbetik niat untuk menghentikan shalat yang sedang dilakukannya di dalam hatinya, maka saat itu juga shalatnya

222

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

telah batal. Sebab niatnya telah rusak, meski dia belum melakukan hal-hal yang membatalkan shalatnya. Karena niat itu menjadi salah satu rukun shalat yang utama dalam mazhab Asy-Syafiiyah, atau menjadi syarat sah shalat dalam pandangan mazhab yang lain. Maka seorang yang melakukan shalat, bila kehilangan salah satu rukun atau syarat sah shalat, otomatis shalatnya pun menjadi rusak, alias batal. 2. Tidak Membaca Surat Al-Fatihah Seluruh ulama sepakat bahwa membaca surat Al-Fatihah adalah bagian dari rukun shalat. Sehingga bila ada orang yang sengaja atau lupa tidak membaca surat Al-Fatihah lalu langsung ruku', maka shalatnya menjadi batal. Dalilnya adalah hadits nabawi yang secara tegas menyebutkan tidak sahnya shalat tanpa membaca surat AlFatihah :


Dari Ubadah bin Shamit ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,Tidak sah shalat kecuali dengan membaca ummilquran (surat Al-Fatihah)"(HR. Bukhari Muslim)

Namun dalam hal ini dikecualikan dalam kasus shalat berjamaah dimana memang sudah ditentukan bahwa imam menanggung bacaan fatihah makmum, sehingga seorang yang tertinggal takbiratul ihram dan mendapati imam sudah pada posisi rukuk, dibolehkan langsung ikut ruku' bersama imam dan telah mendapatkan satu rakaat. Demikian pula dalam shalat jahriyah (suara imam dikeraskan), dengan pendapat yang mengatakan bahwa bacaan Al-Fatihah imam telah menjadi pengganti bacaan Al-Fatihah buat makmum, maka bila makmum tidak membacanya, tidak membatalkan shalat. C. Berbicara di Luar Shalat Sebenarnya shalat itu adalah gabungan dari perkataan dan

223

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

gerakan. Maka pada dasarnya shalat itu adalah berbicara atau berkata-kata. Namun yang dimaksud dengan berbicara yang membatalkan shalat maksudnya adalah pembicaraan yang diluar shalat, di antara pembicaraan dengan sesama manusia secara lisan (verbal), di luar dari yang telah ditetapkan sebagai bacaan shalat. Dasar larangan berbicara di dalam shalat antara lain adalah hadits-hadits berikut ini :

:
Dari Zaid bin Al-Arqam radhiyallahu anhu berkata,"Dahulu kami bercakap-cakap pada saat shalat. Seseorang ngobrol dengan temannya di dalam shalat. Yang lain berbicara dengan yang disampingnya. Hingga turunlah firman Allah SWT "Berdirilah untuk Allah dengan khusyu". Maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara dalam shalat". (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah)

Selain itu juga ada hadits lainnya :


Shalat ini tidak boleh di dalamnya ada sesuatu dari perkataan manusia. Shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al-Quran (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasa'i dan Abu Daud)

Para ulama memasukkan ke dalam kategori berbicara adalah menjawab sesuatu perkataan, baik perkataan imam dalam bacaannya atau pun perkataan orang lain. 1. Bicara Yang Membatalkan Shalat Dan termasuk dalam perkara menjawab perkataan orang lain misalnya :

224

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

a. Tertawa Masih dekat dengan berbicara adalah tertawa. Jumhur ulama diantaranya Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan AlHanabilah sepakat bahwa orang yang tertawa dalam shalatnya, maka shalatnya batal. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :

Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah bersabda,"Tertawa itu membatalkan shalat tapi membatalkan wudhu" (HR.Ad-Daruquthuny)


SAW tidak

Namun umumnya para ulama sepakat bahwa batasan tertawa adalah tertawa yang sampai mengeluarkan suara. Sedangkan bila tertawa itu hanya sebatas tersenyum, belumlah sampai batal puasanya. Mazhab Asy-Syafi'iyah memberikan batasan bila suara tertawa itu melebihi dua huruf, maka shalat itu batal.1 b. Mengucapkan Salam dan Menjawabnya Bila seseorang mengucapkan salam secara sengaja dan sadar, maka shalatnya batal. Sebab fungsi salam di dalam shalat adalah sebagai penutup dari shalat, sehingga bila penutup itu dilakukan, para ulama mengatakan shalatnya otomatis selesai. Dasarnya adalah hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa salam adalah hal yang mengakhiri shalat.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Kunci shalat itu adalah kesucian dan yang mengharamkannya (dari segala hal di luar shalat) adalah

Mughni AL-Muhtaj jilid 1 hal. 159

225

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

takbir". (HR. Muslim)2

Menjawab shalat memang hukumnya wajib. Tetapi kalau dilakukan ketika shalat, jawaban salam itu membatalkan shalat. c. Membaca Shalawat Ketika mendengar nama beliau SAW disebut, memang disunahkan bagi kita untuk membaca shalatwat. Tetapi bil shalawat itu diucapkan di dalam shalat, padahal bukan bagian dari ayat Al-Quran atau tasyahhud, maka termasuk membatalkan. d. Mendoakan Orang Bersin Orang yang bersin disunnahkan untuk mengucapkan lafadz alhamdulilah, dan yang mendengar disunnahkan mendoakan dengan lafadz yarhamukallah, lalu yang bersin disunnahkan menjawab dengan lafadz yahdina wa yushlihu balakum. Akan tetapi manakala semua itu dilakukan di dalam shalat, maka batal shalat mereka. e. Mengucapkan Shadaqallahul-Adzhim Sebagian orang ada yang terbiasa membaca lafadz shadaqallahul-adzhim seusai membaca ayat-ayat Al-Quran. Dan sebagian lainnya memakruhkan, karena takut dianggap bagian dari Al-Quran. Lepas dari perbedaan pendapat di antara mereka, yang pasti bila orang yang sedang shalat mengakhiri bacaan ayat Al-Quran dengan lafadz tersebut, shalatnya batal. f. Mengucapkan Istirja' Lafadz istirj adalah ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Biasanya kita ucapkan manakala kita menghadapi cobaan, bala, musibah, kematian dan sebagainya, baik kita langsung yang mengalaminya, atau dialami oleh orang lain. Tetapi manakala lafadz itu diucapkan pada saat seseorang
2

Menurut Al-Hakim hadits ini shahih dengan syarat dari Muslim. Hadits ini juga mutawatir yang diriwayatkan oleh 7 shahabat lihat An-Nuzhum Al-Mutanatsir hal. 57

226

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

melakukan shalat, maka shalatnya batal. g. Suara Tanpa Arti Dan juga termasuk dikatakan telah berbicara atau berkatakata adalah apabila seseorang berdehem, mengaduh, menangis, merintih, menguap dan sebagainya, semua itu dilakukan tanpa udzur hingga mengeluarkan suara atau membentuk kata yang terdiri dari 2 huruf atau lebih. 2. Bicara Yang Tidak Membatalkan Shalat Sedangkan bicara yang tidak termasuk membatalkan shalat antara lain al-fathu dan doa-doa yang kita susun dan dibaca di dalam shalat. a. Al-Fath Dibolehkan bagi makmum mengingatkan bacaan ayat AlQuran yang imam melupakannya. Istilahnya adalah al-fath, yang artinya 'membuka'. Maksudnya, membuka diamnya imam yang lupa atau bingung dengan bacaannya yang tersilap. Asalkan niatnya untuk membaca Al-Quran dan bukan untuk berdialog atau talqin, hukumnya boleh. Bahkan mazhab Asy-syafi'I mewajibkannya. Dasarnya adalah hadtis berikut :

. : : :
Dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhu bahwa Nabi SAW melakukan shalat dan membaca ayat Al-Quran, namun ada yang tersilap. Ketika selesai shalat beliau bertanya kepada Ayahku (Umar bin Al-Khttab),"Apakah kamu shalat bersama kita?". Umar menjawab,"Ya". Nabi bertanya,"Apa yang menghalangimu (dari mengingatkan Aku)?". (HR. Abu Daud)

Namun bila fath itu ditujukan kepada selain imam, maka hukumnya membatalkan shalat. Al-Fathu adalah istilah yang digunakan di dalam shalat

227

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

berjamaah, dimana makmum yang berada di belakang imam mengoreksi bacaan atau gerakan imam yang keliru. Rasulullah SAW mensyariatkan fath kepada makmum bila mendapati imam yang lupa bacaan atau gerakan, sedangkan buat jamaah wanita cukup dengan bertepuk tangan

Tasbih untuk laki-laki dan bertepuk buat wanita (HR. Muslim)

Makmum boleh membetulkan bacaan imam yang salah, keliru atau terlupa, dengan bersuara yang sekiranya bisa didengar oleh imam. Demikian juga makmum boleh menyebut lafadz subhanallah, apabila mengetahui imam bersalah dalam gerakan, seperti hampir mau menambah jumlah rakaat dari empat menjadi lima, atau sebaliknya, belum sampai empat rakaat sudah mau duduk tahiyat akhir. Ketika makmum mengucapkan tasbih ini, tidak dianggap dia telah batal dari shalatnya. Sebab melakukan fath ini adalah hal yang pernah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. b. Melafadzkan Doa Melafadz doa tidak membatalkan shalat, karena pada dasarnya shalat itu memang doa. Bahkan di dalam shalat ada posisi tertentu yang memang kita dianjurkan untuk memperbanyak doa.

Posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ketika sujud, maka perbanyaklah doa pada waktu sujud (HR. Muslim)


228

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Aku dilarang untuk membaca Al-Quran dalam keadaan ruku atau sujud. Ketika ruku agungkanlah Rabb, sedangkan ketika sujud maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu. (HR. Muslim)

Lafadz doa yang paling utama adalah lafadz yang diambil dari ayat-ayat Al-Quran, kemudian dari sunnah Rasulullah SAW yang matsur. Namun bukan berarti berdoa dengan lafadz yang kita susun sendiri menjadi terlarang. Meski pun lafadz doa nampak seperti pembicaraan di luar shalat, namun berdoa di dalam shalat dengan lafadz yang kita karang sendiri dibolehkan. Syaratnya doa itu harus berbahasa Arab. Bila doa itu dilakukan dalam bahasa Indonesia atau bahasa selain Arab, maka doa itu termasuk dianggap lafadz di luar shalat. D. Bergerak di Luar Gerakan Shalat Para ulama sepakat bahwa gerakan di luar shalat yang dilakukan berulang-ulang akan membatalkan shalat. Namun mereka berbeda pendapat dalam batasannya. 1. Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah Batasan gerakan yang banyak menurut kedua mazhab ini adalah apa yang diyakini oleh orang lain sebagai gerakan bukan shalat, maka hal itu termasuk gerakan yang banyak. Tetapi bila orang lain masih ragu-ragu apakah seseorang sedang shalat atau tidak, maka hal itu belum membatalkan. Ibnu Abidin mengatakan harus ditambahkan bahwa gerakan yang banyak dan membatalkan shalat itu di luar dari gerakan untuk membunuh ular dan kalajengking, karena Rasulullah SAW memerintahkan untuk melakukannya. 2. Mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah Yang dimaksud adalah gerakan yang banyak dan berulangulang terus itu standarnya adalah al-urf. Al-Urf maksudnya kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat. Bila di tengah masyarakat suatu gerakan di dalam shalat dianggap sudah

229

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

keluar dari konteks shalat, maka gerakan itu membatalkan shalat. Sebaliknya, bila urf di tengah masyarakat menganggap gerakan itu masih dalam kategori shalat, maka shalatnya tidak batal. Mazhab As-syafi'i memberikan batasan bahwa dua langkah yang dilakukan oleh orang yang sedang shalat, belum termasuk membatalkan, karena dianggap masih sedikit. Tetapi langkah yang ketiga sudah membatalkan, karena tiga adalah angka banyak yang minimal. Demikian juga dengan gerakan lainnya, bila sampai tiga kali gerakan berturut-turut sehingga seseorang batal dari shalatnya. Namun bukan berarti setiap ada gerakan langsung membatalkan shalat. Sebab dahulu Rasulullah SAW pernah shalat sambil menggendong anak (cucunya).
Rasulullah SAW shalat sambil mengendong Umamah, anak perempuan dari anak perempuannya. Bila beliau SAW sujud, anak itu diletakkannya dan bila berdiri digendongnya lagi". (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan beliau SAW memerintah orang yang sedang shalat untuk membunuh ular dan kalajengking (al-aswadain). Dan beliau juga pernah melepas sandalnya sambil shalat. Kesemuanya gerakan itu tidak termasuk yang membatalkan shalat. Intinya kalau gerakan itu diciptakan sendiri dan tidak termasuk gerakan di dalam shalat, lantas dilakukan berulangulang, maka gerakan itu membatalkan shalat. Sedangkan bila gerakan itu didasari dari hadits Nabi SAW bahwa beliau pernah melakukannya di dalam shalat, maka hukumnya tidak membatalkan shalat. Sebab kalau kita mengatakan bahwa gerakan itu membatalkan shalat, maka shalat Rasulullah SAW pun seharusnya kita bilang batal. Padahal beliau justru sumber dalam masalah hukum-hukum shalat. E. Makan dan Minum

230

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Makan dan minum termasuk perbuatan yang membatalkan shalat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang detaildetailnya. 1. Al-Hanafiyah Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan walau pun seseorang lupa menelan biji kecil, shalatnya dianggap batal. Demikian juga gerakan mengunyah makanan bila tiga kali berturut-turut, meski tidak ditelan, sudah dianggap membatalkan shalat. Gula yang ada di mulut bila larut dengan ludahnya, juga termasuk ke dalam hal yang membatalkan shalat. Ibnu Abidin menyebutkan yang termasuk kategori makan ada dua. Pertama, gerakan mengunyah makanan meski tidak ditelan. Kedua, menelan makanan atau minuman meski tidak mengunyah. 2. Al-Malikiyah Mazhab Al-Malikiyah membedakan antara makan minum yang disengaja dengan yang terlupa. Makan minum dengan sadar dan sengaja, tentu membatalkan shalat. Namun bila makan dan minum itu dilakukan tanpa sadar alias lupa, maka shalatnya tetap sah. Hal ini persis dengan bila orang puasa dan terlupa sehingga memakan makanan di siang hari. Untuk itu, orang yang makan sambil shalat, kalau memang benar-benar lupa, disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi. 3. As-Syafiiyah Mazhab Asy-Syafiiyah mengatakan bila orang menelan makanan atau minuman, meski jumlahnya sangat sedikit atau kecil, tetap saja membatalkan shalat. Bahkan meski dia tidak menginginkannya. Mazhab ini juga menyebutkan bahwa melakukan banyak gerakan mengunyah makanan termasuk hal yang membatalkan shalat, meski makanan itu tidak sampai tertelan. Hal-hal yang tidak termasuk membatalkan dalam perkara makanan menurut mazhab ini antara lain : kasus terlupa, baru

231

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

kenal Islam, tidak ada ulama, Orang yang makan waktu shalat karena lupa, shalatnya tidak dianggap batal, sebagaimana orang yang makan karena terlupa pada saat berpuasa. Orang yang baru saja masuk Islam dan masih jahil atas ilmu-ilmu syariah, bila dia shalat sambil memakan makanan atau meminum minuman, dalam kadar tertentu diperbolehkan. Bila ada orang Islam yang hidup terpisah dari masyarakat Islam, tanpa ada ulama yang mengerti hukum Islam, lalu dia shalat dan karena ketidak-tahuannya dia makan ketika shalat, dalam kasus ini ada keringanan. 4. Al-Hanabilah Mazhab Al-Hanabilah membedakan antara shalat fardhu dengan shalat sunnah. Orang yang sedang melakukan shalat fardhu bila dia memakan sesuatu atau meminumnya, maka shalatnya batal. Meski pun yang dimakan itu sedikit. Namun bila makan dan minum pada waktu shalat sunnah, maka hal itu tidak membatalkan shalatnya. Kecuali apabila jumlah yang dimakan itu sangat banyak. F. Mendahului Imam dalam Shalat Jama'ah Bila seorang makmum melakukan gerakan mendahului gerakan imam, seperti bangun dari sujud lebih dulu dari imam, maka batal-lah shalatnya. Namun bila hal itu terjadi tanpa sengaja, maka tidak termasuk yang membatalkan shalat. As-Syafi'iyah mengatakan bahwa batasan batalnya shalat adalah bila mendahului imam sampai dua gerakan yang merupakan rukun dalam shalat. Hal yang sama juga berlaku bila tertinggal dua rukun dari gerakan imam. G. Terdapatnya Air bagi Yang Tayammum Seseorang yang tidak mendapatkan air untuk bersuci dari hadats, lalu bersuci dengan cara bertayammum untuk shalat, bila ketika shalat tiba-tiba terdapat air yang bisa dijangkaunya

232

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

dan cukup untuk digunakan berwudhu', maka saat itu otomatis shalatnya batal. Karena halangan dari bersuci dengan air sudah tidak ada lagi. Maka begitu shalatnya batal, dia harus berwudhu' saat itu dan mengulangi lagi shalatnya. Lain halnya bila shalat sudah dikerjakan, dan air baru kemudian ditemukan. Maka dalam keadaan seperti itu dia punya satu di antara dua pilihan. Pertama, dia boleh mengulangi shalatnya dengan berwudhu. Kedua, dia tidak perlu lagi mengulangi shalatnya, karena sudah ditunaikan secara sah. H. Yang Tidak Membatalkan Shalat Di tengah masyarakat ada banyak dugaan bahwa suatu perbuatan tertentu membatalkan shalat. Tetapi ternyata ada dalil yang tegas bahwa hal itu tidak membatalkan shalat. Di antara hal-hal yang membatalkan shalat adalah bergerak yang terlalu banyak sehingga membuat shalat menjadi rusak. Namun apabila gerakan itu termasuk hal yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, meski pada kondisi normalnya bukan termasuk bagian dari gerakan shalat, tentu hukumnya tidak membatalkan shalat. Di antara gerakan yang bukan termasuk bagian shalat, namun ada contoh dari Nabi SAW melakukan gerakan itu, karena suatu kebutuhan antara lain adalah : 1. Mencegah Orang Lewat Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mencegah seseorang lewat di depan kita bila kita sedang melakukan shalat. Bahkan bila orang itu tetap memaksa untuk lewat juga, beliau SAW memerintahkan kita untuk membunuhnya, karena pada hakikatnya orang itu tidak lain adalah syaithan. Hadits yang menegaskan hal itu adalah hadits shahih berikut ini :

233

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

:
Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabd,"Jika kamu shalat jangan biarkan seorang pun lewat di depannya, haruslah dia mencegahnya semampunya. Kalau orang yang mau lewat itu mengabaikan, maka bunuhlah dia, karena dia adalah setan. (HR. Muslim)

Larangan lewat di depan orang shalat itu berlaku untuk kedua belah pihak, baik orang yang shalat atau pun orang yang lewat, keduanya harus mengindarinya. Orang yang shalat harus mencegahnya, dan orang yang mau lewat juga diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :

:
Dari Abu Juhaim radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Seandainya orang yang lewat di depan orang shalat itu tahu apa yang akan menimpanya, maka menunggu selama 40 akan lebih baginya dari pada lewat di depan orang shalat. (HR. Muslim)

Rasulullah SAW tidak menjelaskan apa yang beliau maksud dengan angka 40 itu, apakah 40 hari, 40 bulan atau 40 tahun. Tetapi intinya, gerakan untuk mencegah orang lewat di hadapan kita, entah dengan isyarat tangan atau cara lainnya, tidak termasuk gerakan yang membatalkan shalat. 2. Membunuh Hewan Di masa Nabi SAW, masjid Nabawi dan rumah-rumah penduduk Madinah umumnya hanya beralaskan tanah atau pasir. Sehingga tidak terbayang oleh kita di masa sekarang ini kalau sedang shalat di masjid, tiba-tiba ada ular atau hewan

234

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

beracun semacam kalajengking. Dan tentunya juga tidak terbayang oleh kita di masa sekarang ini, kalau Rasulullah SAW dan para shahabat terbiasa di masa itu shalat dengan mengenakan alas kaki, baik sandal atau sepatu, baik di dalam rumah atau di dalam masjid. Dan kemungkinan seseorang sedang shalat tiba-tiba muncul hewan berbahaya yang bisa mencelakakan, sangat mungkin terjadi, bahkan pernah dialami langsung oleh Rasulullah SAW dan para shahabat beliau. Maka beliau SAW membolehkan bagi orang yang sedang shalat lalu hendak dimangsa hewan yang beracun, maka dia boleh membunuhnya, tanpa harus batal dari shalat. Dalil yang menjelaskan hal itu antara lain adalah hadits berikut ini :

: : . - .
Dari Aisyah radhiyallahuanha istri Nabi SAW berkata bahwa Rasulullah SAW sedang shalat di rumah, datanglah Ali bin Abi Thalib. Ketika melihat Rasulullah SAW sedang shalat, maka Ali pun ikut shalat di sebelah beliau. Lalu datanglah kalajengking hingga berhenti di dekat Rasulullah SAW namun meninggalkannya dan menghadap ke Ali. Ketika Ali melihat kalajengking itu, Ali pun meninjaknya dengan sandalnya. Dan Rasulullah SAW memandang tidak mengapa pembunuhan itu terjadi (dalam shalat). (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabarani)

Selain itu juga ada hadits lainnya, dimana beliau SAW

235

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

memang memerintahkan untuk membunuh kalajengking dan ular.

. -
Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW memerintahkan untuk membunuh dua hewan hitam, yaitu kalajengking dan ular. (HR. Ahmad, At-Tirmizy, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah)

-
Bunuhlah dua hewan hitam (kalajengking dan ular). (HR. Abu Daud dan Al-Baihaqi)

Barangkali di masa itu memang kalajengking dan ular ini seringkali mengganggu shalat seseorang. 4. Menjawab Salam dengan Isyarat Rasulullah SAW mengajarkan orang yang shalat untuk menjawab salam dengan isyarat. Dan hal itu tidak dianggap sebagai hal yang membatalkan shalat seseorang. Dasarnya adalah hadits nabawi berikut diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahuanhu : ini yang

- : : : - .
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW masuk ke masjid Bani Amr bin 'Auf (masjid Quba').

236

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Datanglah beberapa orang dari Anshar memberi salam kepada beliau SAW. Ibnu Umar bertanya kepada Shuhaib yang saat itu bersama Nabi SAW,"Apa yang dilakukan beliau SAW bila ada orang yang memberi salam dalam keadaan shalat?". Shuhaib menjawab,"Beliau memberi isyarat dengan tangannya. (Hr. Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan An-Nasa'i)

Selain itu juga ada hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik rahimahullah.

-
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu berakta,"Bila salah seorang dari kalian diberi salam dalam keadaan shalat, maka janganlah berkata-kata, tetapi hendaklah dia memberi isyarat dengan tangannya". (HR. Malik)

: -
Dari Abi Hurairah dari Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhuma berakata : Ketika Aku tiba dari Habaysah, Aku mendatangi Rasulullah SAW yang sedang shalat, lalu Aku memberi salam kepadanya. Beliau pun memberi isyarat dengan kepalanya. (HR. Al-Baihaqi)

5. Memegang Mushaf Meski ada khilaf dalam hukum shalat sambil memegang mushaf, antara mereka yang membolehkan dan yang memaksurhkan, namun ada keterangan dari bahwa Aisyah radhiyallahuanha tentang shalat dengan memegang mushhaf.

. -
237

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Dari Aisyah istri Rasulullah SAW bahwa ghulam (pembantu)-nya menjadi imam shalat atas dirinya sambil memegang mushaf. (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah)

Bahkan ada juga riwayat lain yang menyebutkan bahwa Aisyah radhiyallahuanha sendiri yang shalat sambil membaca dari mushaf.

-
Ibnu At-Taimi meriwayatkan dari ayahnya bahwa Aisyah radhiyallahuanha membaca mushaf dalam keadaan shalat. (HR. Abdurrazzaq)

Sebagian ulama menyebutkan bahwa shalat sambil membaca dari mushaf ini dibolehkan khususnya untuk shalat sunnah saja, seperti shalat tahajjud, tarawih atau shalat Dhuha. Sedangkan untuk shalat fardhu, tidak dibenarkan untuk membaca dari musfah. Pertama, karena aturan shalat fardhu secara umum lebih ketat, misalnya disyaratkan menghadap kiblat, berdiri dan sebagainya. Sedangkan shalat sunnah, dibolehkan menghadap kemana saja dan boleh juga dikerjakan sambil duduk, meski tanpa udzur. Kedua, karena umumnya shalat fardhu lima waktu tidak dianjurkan untuk berlama-lama, sehingga yang dibaca hanya ayat-ayat yang pendek saja. Dan shalat fardhu ini umumnya diimami oleh mereka yang banyak menghafal ayat Al-Quran di dalam sebuah masjid. Sekedar untuk diketahui, bahwa yang disebut mushaf pada masa itu tidak seperti mushaf di masa sekarang ini. Saat itu, khususnya sebelum masa Penulisan dan penjilidan, mushaf itu masih berupa lembaran-lembaran kulit, kayu atau benda-benda lain, yang di atasnya dituliskan ayat-ayat Al-Quran. 6. Membersihkan Tempat Sujud

238

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat

Bila tempat sujud kotor atau berdebu, seorang yang sedang mau melakukan sujud dibolehkan membersihkannya, asalkan gerakannya sekali saja dan tidak berulang-ulang.


Dari Mu'aiqib radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda,"Janganlah kalian menyapu (tempat sujud) ketika sedang shalat. Tetapi bila terpaksa dilakukan, lakukan sekali saja untuk menyapu kerikil (HR. Abu Daud)

Di atas sudah dijelaskan bahwa di masa itu umumnya Rasulullah SAW dan para shahabat shalat tidak di atas tikar, karpet atau sejadah. Mereka terbiasa shalat di atas tanah begitu saja. Maka kalau sampai harus membersihkan kerikil pas di bagian yang akan dijadikan tempat sujud, sangat masuk akal terjadinya. 7. Melirik Termasuk perbuatan yang tidak membatalkan shalat adalah gerakan bola mata, yaitu melirik dengan ada kepentingannya. Hal itu berdasarkan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah shalat sambil melirik ke kanan dan ke kiri.

.
Rasulullah SAW melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri tanpa menolah (HR. Al-Hakim dan Ibnu Khuzaemah)

Tentunya hal seperti itu beliau lakukan bukan dengan maksud bermain-main, atau tidak khusyu. Tetapi boleh jadi karena ada hal-hal yang membuat beliau harus melakukannya. 8. Tersenyum

239

Bab 8 : Batalnya Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Seorang yang sedang shalat lalu tersenyum, oleh Rasulullah SAW tidak dikatakan shalatnya batal. Beliau menegaskan bahwa yang membatalkan shalat itu adalah tertawa, khususnya bila tertawa dengan mengeluarkan suara bahkan terbahak-bahak. Dalil atas tidak batalnya orang yang shalat sambil tersenyum adalah hadits-hadits berikut ini :

: . -
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda,"Senyum itu tidak membatalkan shalat tetapi yang membatalkan adalah tertawa. (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah)

Kelihatan gigi ketika tersenyum tidak membatalkan shalat, yang membatalkan shalat itu adalah tertawa dengan suara keras. (HR. Ath-Thabarani)

9. Menggendong Bayi Barangkali agak aneh dalam pikiran kita bahwa Rasulullah SAW pernah shalat sambil menggendong bayi. Tetapi memang begitulah kenyataannya, beliau pernah shalat sambil menggendong sang cucu.


Dari Abi Qatadah bahwa Rasulullah SAW pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab bin Rasululah SAW.(HR. Muslim)


240

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat-1

Shalat Bab 8 : Batalnya Shalat


Dari Abi Qatadah radhiyallahuanhu berkata, Aku pernah melihat Nabi SAW mengimami orang shalat, sedangkan Umamah binti Abil-Ash yang juga anak perempuan dari puteri beliau, Zainab berada pada gendongannya. Bila beliau SAW ruku' anak itu diletakkannya dan bila beliau bangun dari sujud digendongnya kembali (HR. Muslim)

Semua gerakan di atas meski termasuk gerakan di luar shalat, namun karena Rasulullah SAW pernah melakukannya dan beliau tidak mengatakan gerakan itu membatalkan shalatnya. Maka dalam hal ini para ulama berpendapat bahwa bila ada kepentingannya, dan terpaksa harus melakukan gerakangerakan di atas, tentu tidak membatalkan shalat. Artinya, meski semua hal di atas dikerjakan, shalat tetap sah dan tidak perlu diulang lagi.

241

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Ikhtishar
A. Sejarah Shalat Jamaah B. Anjuran untuk Shalat Berjamaah C. Hukum Berjamaah Dalam Shalat
1. Syarat Sah Shalat 2. Disunnahkan Berjamaah 3. Dibolehkan Berjamaah

D. Hukum Shalat Berjamaah Untuk Shalat Lima Waktu


1. Fardhu Kifayah 2. Fardhu 'Ain 3. Sunnah Muakkadah 4. Syarat Sahnya Shalat

E. Yang Diperintahkan Untuk Shalat Jamaah


1. Muslim 2. Laki-laki 3. Merdeka 4. Tidak Punya Uzur Syar'i 5. Shalat Fardhu Lima Waktu

F. Masbuk
1. Ikut Satu Rakaat Terakhir 3. Minimal Ikut Satu Takbir Terakhir

Diantara keistimewaan ajaran Islam adalah disyariatkannya banyak bentuk ibadah yang dilakukan dengan cara berjamaah. Ibadah itu kemudian menjadi semacam representasi sebuah

245

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

muktamar Islam, dimana umat Islam berkumpul bersama pada satu tempat dan satu waktu. Mereka bisa saling bertemu, bertatap muka, saling mengenal dan saling berinteraksi satu sama lain. Bahkan mereka bisa saling belajar atas apa yang telah mereka pahami. Allah telah memerintahkan umat Islam untuk berjamaah terutama dalam beribadah kepada-Nya. Maka redaksional perintahnya pun datang dengan bentuk jamak.


Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.(QS. Al-HAjj : 77-78)

Umat Islam berdiri di hadapan tuhan mereka pun secara berjamaah, hal itu tercermin dalam ayat-ayat dalam surat AlFatihah yang juga menggunakan kata 'kami'.


Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.(QS. Al-Fatihah : 6-7)

A. Sejarah Shalat Jamaah Jauh sebelum disyariatkan shalat 5 waktu saat mi'raj Nabi SAW, umat Islam sudah melakukan shalat jamaah, namun siang hari setelah malamnya beliau mi'raj, datanglah malaikat Jibril alaihissalam mengajarkan teknis pengerjaan shalat dengan berjamaah. Saat itu memang belum ada syariat Adzan, yang ada baru panggilan untuk berkumpul dalam rangka shalat. Yang dikumandangkan adalah seruan 'ash-shalatu jamiah', lalu Jibril alaihissalam shalat menjadi imam buat Nabi SAW kemudian Nabi SAW shalat menjadi imam buat para shahabat lainnya.

246

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Namun syariat untuk shalat berjamaah memang belum lagi dijalankan secara sempurna dan tiap waktu shalat, kecuali setelah beliau SAW tiba di Madinah dan membangun masjid. Saat itulah shalat berjamaah dilakukan tiap waktu shalat di masjid dengan ditandai dengan dikumandangkannya adzan. Nabi SAW meminta Bilal radhiyallahu anhu untuk melantunkan adzan dengan sabda beliau SAW :
Wahai Bilal, bangunlah dan lihatlah apa yang diperintahkan Abdullah bin Zaid dan lakukan sesuai perintahnya. (HR. Bukhari)

B. Anjuran untuk Shalat Berjamaah

Rasulullah SAW bersabda,'Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat'. (HR Muslim)1

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari2 pada kitab Adzan telah menyebutkan secara rinci apa saja yang membedakan keutamaan seseorang shalat berjamaah dengan yang shalat sendirian. Diantaranya adalah ketika seseorang menjawab Adzan, bersegera shalat di awal waktu, berjalannya menuju masjid dengan sakinah, masuknya ke masjid dengan berdoa, menunggu jamaah, shalawat malaikat atas orang yang shalat, serta permohonan ampun dari mereka, kecewanya syetan karena berkumpulnya orang-orang untuk beribadah, adanya pelatihan untuk membaca Al-Quran dengan benar, pengajaran rukunrukun shalat, keselamatan dari kemunafikan dan seterusnya. Semua itu tidak didapat oleh orang yang melakukan shalat dengan cara sendirian di rumahnya. Dalam hadits lainnya disebutkan juga keterangan yang cukup tentang mengapa shalat berjamaah itu jauh lebih berharga dibandingkan dengan shalat
1 2

Al-masajid wa mawwadhiusshalah no. 650 Fathulbari jilid 2 hal. 133

247

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

sendirian.

. : .

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan dua puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhu'nya, kemudian mendatangi masjid dimana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid....dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa,"Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia. Dan dia tetap dianggap masih dalam keadaan shalat selama dia menunggu datangnya waktu shalat.". (HR. Bukhari Muslim)

Pada kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda :

Dari Abi Darda' radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya". (HR Abu

248

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Daud dan Nasai)3

-
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata bahwa aku melihat dari kami yaitu tidaklah seseorang meninggalkan shalat jamaah kecuali orang-orang munafik yang sudah dikenal kemunafikannya atau seorang yang memang sakit yang tidak bisa berjalan". (HR. Muslim)


Siapa yang mendengar adzan namun tidak mendatanginya untuk shalat, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bagi orang yang uzur". (HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim) Dalam riwayat yang lain juga ada hadits yang senada

- : - : :
Dari Ibni Abbas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Siapa yang mendengar adzan. Dan tidak ada halangan dari mengerjakannya berupa udzur, -Merkea bertanya,"Udzur itu apa Ya Rasul?". Beliau menjawab,"Takut dan sakit". maka tidak diterima shalatnya. (HR. Ibnu Majah, AdDaruquthuni, Ibnu Hibban, Al-Hakim)

Pada kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda :

: :
3

Abu Daud 547 dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan

249

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. (HR. Bukhari dan Muslim)

C. Hukum Berjamaah Dalam Shalat Tidak semua shalat disyariatkan untuk dilakukan dengan berjamaah, sebagian shalat ada yang justru lebih utama untuk dikerjakan sendirian. Maka para ulama membagi shalat berjamaah itu menjadi beberapa hukum, antara lain ada yang hukumnya wajib dan menjadi syarat sah shalat, ada yang hukumnya sunnah dan ada yang tidak disunnahkan. 1. Syarat Sah Shalat Diantara shalat yang syaratnya harus dikerjakan dengan berjamaah adalah shalat Jumat, shalat Idul Fithri dan Idul Adha. a. Shalat Jumat Jumhur ulama menyebutkan bahwa shalat Jumat itu minimal dilakukan oleh 40 orang mukallaf, yaitu mereka yang beragama Islam, aqil, baligh, muqim, sehat, laki-laki dan merdeka. Mazhab Al-Hanafiyah membolehkan shalat Jumat bila dikerjakan hanya oleh tiga orang, tetapi tetap tidak sah bila hanya dikerjakan sendirian. Mazhab Al-Malikiyah menyebutkan minimal shalat Jumat dikerjakan oleh 12 orang, tetapi kalau dikerjakan hanya oleh satu orang saja, jelas shalat itu tidak sah. b. Dua Shalat Ied Dalam mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah, berjamaah menjadi syarat sah Shalat Idul Fithri dan Shalat Idul Adha. Artinya, keduanya tidak sah apabila dikerjakan tanpa berjamaah atau hanya oleh seorang saja.4 Dasarnya karena di masa Rasulullah SAW tidak pernah
4

Hasyiyatu Ibnu Abdin, jilid 1 hal. 275

250

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

sekalipun shalat ini dikerjakan, kecuali dihadiri oleh banyak orang, bahkan jumlahnya melebihihi jumlah yang hadir pada shalat Jumat. Hal itu lantaran RAsulullah SAW juga memerintahkan agar para budak dan wanita haidh untuk ikut menghadirinya, padahal dalam shalat Jumat mereka tidak diperintahkan hadir.

: : -
Dari Ummu Athiyyah radhiyallahuanha ia berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan hamba sahaya dan wanita haidh pada hari Iedul Fithri dan Iedul Adha, agar mreka dapat menyaksikan kebaikan dan undangan muslimin. Dan wanita yang haidh menjauhi tempat shalat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun dalam pandangan mazhab Asy-Syafi'iyah dan AlMalikiyah, mengerjakan shalat kedua shalat ini dengan berjamaah hukumnya sunnah, dan bukan syarat sah shalat. 5 2. Disunnahkan Berjamaah Sedangkan shalat yang disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah adalah shalat tarawih, shalat khusuf dan kusuf, shalat istisqa'. a. Shalat Tarawih dan Witir Para ulama umumnya berpendapat bahwa meski pun shalat tarawih dan witir sah untuk dilakukan secara sendirian, namun melakukannya dengan berjamaah hukumnya sunnah atau mustahab. Mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah menggunakan istilah sunnah, sedangkan mazhab Al-Maliliyah dn Al-

Mughni Al-Muhtaj, jilid 1 hal. 225

251

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Hanabilah menggunakan istilah mustahab. 6 b. Shalat Khusuf dan Kusuf Kusuf ( )adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari. Khusuf ( )adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari. Kedua shalat ini tidak pernah dilakukan di masa Nabi SAW kecuali dengan berjamaah juga. Dalilnya adalah hadits berikut :

Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari).

Menurut pendapat As-Syafi'iyah, dalam shalat gerhana disyariatkan untuk disampaikan khutbah di dalamnya. Khutbahnya seperti layaknya khutbah Idul Fithri dan Idul Adha dan juga khutbah Jumat. Dalilnya adalah hadits Aisyah ra berikut ini :

:
Dari Aisyah ra berkata,"Sesungguhnya ketika Nabi SAW selesai
6

Bada'i Ash-Shana'i, jilid 1 hal. 288

252

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

dari shalatnya, beliau berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia dengan memuji Allah, kemudian bersabda, "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim)

c. Shalat Istisqa' Shalat Istisqa tidak pernah dilaksanakan di masa RAsulullah SAW kecuali dilakukan dengan berjamaah. Namun para ulama menyebutkan bahwa hukumnya sunnah untuk dilaksanakan dengan berjamaah. Mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menyebutkan bahwa disunnahkan shalat istisqa' untuk dilaksanakan dengan berjamaah. Sedangkan mazhab AlHanafiyah memang tidak mensyariatkan shalat istisqa' ini dalam pandangannya. 7 Dan yang afdhal shalat ini dilaksanakan dengan mengerahkan semua anggota masyarakat, termasuk para wanita dan anak-anak untuk hadir. Hal ini memberikan isyarat bahwa seluruh hamba Allah SWT telah bersimpuh memohon turunnya hujan. Disunnahkan untuk disampaikan khutbah baik sebelum atau sesudah shalat. Namun dalam teknisnya para ulama berbeda pendapat, apakah khutbah itu terdiri dari dua khutbah atau cukup dengan satu khutbah saja. 3. Dibolehkan Berjamaah Selain yang hukumnya wajib dan sunnah, ada juga shalat yang hukumnya boleh dikerjakan berjamaah. Dalam hal ini walaupun boleh dikerjakan berjamaah namun tidak terlalu dianjurkan. Karena yang lebih utama dilakukan dengan sendirian. Di antaranya adalah shalat sunnah rawatib, yaitu
Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 114

253

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

a. Shalat Tahajjud Shalat malam (tahajjud) lebih sering dilakukan oleh Rasulullah SAW sendirian di rumahnya. Walau pun kita menerima riwayat bahwa kadang beliau shalat malam dan ada yang menjadi makmum di belakangnya. Namun bila dihitug-hitung, memang benar bahwa frekuensi dimana Rasulullah SAW shalat tahajjud sendirian lebih banyak dibadingkan dengan berjamaah. Rasulullah SAW pernah melakukannya sekali dengan Huzaifah, sekali dengan Ibnu Abbas, dan sekali dengan Anas dan ibunya. Sehingga ada pendapat yang memakruhkan shalat tahajjud dengan berjamaah, misalnya para ulama dari kalangan AlHanafiyah dan Asy-Syafi'iyah. Mereka berpendapat bahwa ijtima' (berkumpulnya) manusia untuk menghidupkan malam hanya dibenarkan untuk shalat tarawih di bulan Ramadhan. Di luar itu menurut mereka disunnahkan untuk melakukannya dengan secara sendiri sendiri. Mazhab Al-Hanabilah tidak memakruhkan shalat tahajjud yang dilakukan dengan berjamaah. Sedangkan Al-Malikiyah memberikan kesimpulan bahwa bila jamaah shalat tahajjud itu tidak terlalu banyak dan bukan di tempat yang masyhur, hukumnya boleh tanpa karahah. b. Shalat Sunnah Qabliyah dan Ba'diyah Di antara shalat yang lebih utam dikerjakan sendirian aalah shalat sunnah sebelum shalat fardhu (qabliyah) dan sesudah shalat fardhu (ba'diyah). Namun dalam pandangan mazhab Asy-Syafi'iyah, dibenarkan bila ada orang yang sedang shalat ba'diyah, lalu ada orang yang ikut menjadi makmum di belakangnya, walaupun niatnya bukan dengan niat shalat yang sama. c. Shalat Tahiyyatul Masjid Shalat tahiyyatul masjid adalah shalat yang lebih sering dikerjakan sendirian oleh Rasulullah SAW. Sehingga para ulama

254

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

tidak mengajurkan agar shalat ini dikerjakan dengan berjamaah.

D. Hukum Shalat Berjamaah Untuk Shalat Lima Waktu Di kalangan ulama berkembang banyak pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Ada yang mengatakan fardhu 'ain, sehingga orang yang tidak ikut shalat berjamaah berdosa. Ada yang mengatakan fardhu kifayah sehingga bila sudah ada shalat jamaah, gugurlah kewajiban orang lain untuk harus shalat berjamaah. Ada yang mengatakan bahwa shalat jamaah hukumnya fardhu kifayah. Dan ada juga yang mengatakan hukumnya sunnah muakkadah. Berikut kami uraikan masing-masing pendapat yang ada beserta dalil masing-masing. 1. Fardhu Kifayah Yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Asy-Syafi'i dan Abu Hanifah8. Demikian juga dengan jumhur (mayoritas) ulama baik yang lampau (mutaqaddimin) maupun yang berikutnya (mutaakhkhirin). Termasuk juga pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah. Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan shalat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada disitu. Hal itu karena shalat jamaah itu adalah bagian dari syiar agama Islam. Di dalam kitab Raudhatut-Thalibin karya Imam An-Nawawi disebutkan bahwa : Shalat jamaah itu itu hukumnya fardhu 'ain untuk shalat Jumat. Sedangkan untuk shalat fardhu lainnya, ada beberapa pendapat. Yang paling shahih hukumnya adalah fardhu kifayah, tapi juga ada yang mengatakan hukumnya sunnah dan yang lain lagi mengatakan hukumnya fardhu 'ain.
8

Ibnu Habirah dalam kitab Al-Ifshah jilid 1 hal. 142

255

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Adapun dalil mereka ketika berpendapat seperti di atas adalah :

Dari Abi Darda' radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya". (HR Abu Daud dan Nasai) Dari Malik bin Al-Huwairits bahwa Rasulullah SAW,'Kembalilah kalian kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka shalat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila waktu shalat tiba, maka hendaklah salah seorang kalian melantunkan adzan dan yang paling tua menjadi imam.(HR. Muslim) Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. (HR. Muslim)

Al-Khatthabi berkata bahwa kebanyakan ulama As-Syafi'i mengatakan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu 'ain dengan berdasarkan hadits ini9. 2. Fardhu 'Ain Yang berpendapat demikian adalah Atho' bin Abi Rabah, Al-Auza'i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, umumnya ulama Al-Hanafiyah dan mazhab Hanabilah. Atho' berkata bahwa kewajiban yang harus dilakukan dan tidak halal selain itu, yaitu ketika seseorang mendengar Adzan, haruslah dia mendatanginya untuk shalat.10 Dalilnya adalah hadits berikut :
Dari Aisyah radhiyallahu anhu berkata,'Siapa yang mendengar
9

10

Ma'alimus-Sunan jilid 1 hal. 160 Mukhtashar Al-Fatawa Al-MAshriyah hal. 50

256

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

adzan tapi tidak menjawabnya (dengan shalat), maka dia tidak menginginkan kebaikan dan kebaikan tidak menginginkannya 11.

Dengan demikian bila seorang muslim meninggalkan shalat jamaah tanpa udzur, dia berdoa namun shalatnya tetap sah.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api". (HR. Bukhari dan Muslim) 12.

3. Sunnah Muakkadah Pendapat ini didukung oleh mazhab Al-Hanafiyah dan AlMalikiyah sebagaimana disebutkan oleh imam As-Syaukani13. Beliau berkata bahwa pendapat yang paling tengah dalam masalah hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya fardhu 'ain, fardhu kifayah atau syarat sahnya shalat, tentu tidak bisa diterima. Al-Karkhi dari ulama Al-Hanafiyah berkata bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah, namun tidak disunnahkan untuk tidak mengikutinya kecuali karena uzur. Dalam hal ini pengertian kalangan mazhab Al-Hanafiyah tentang sunnah muakkadah sama dengan wajib bagi orang lain. Artinya, sunnah muakkadah itu sama dengan wajib14.

Al-Muqni' 1/193 Shahih Bukhari 644, 657, 2420, 7224; Shahih Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya 13 Nailul Authar jilid 3 hal. 146 14 kitab Bada'ius-Shanai' karya Al-Kisani jilid 1 hal. 76
11 12

257

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Khalil, seorang ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Al-Mukhtashar mengatakan bahwa shalat fardhu berjamaah selain shalat Jumat hukumnya sunnah muakkadah15. Ibnul Juzzi berkata bahwa shalat fardhu yang dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu sunnah muakkadah16. Ad-Dardir berkata bahwa shalat fardhu dengan berjamaah dengan imam dan selain Jumat, hukumnya sunnah muakkadah17. Dalil yang mereka gunakan untuk pendapat mereka antara lain adalah dalil-dalil berikut ini :
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. (HR. Muslim)18

Ash-Shan'ani dalam kitabnya Subulus-Salam jilid 2 halaman 40 menyebutkan setelah menyebutkan hadits di atas bahwa hadits ini adalah dalil bahwa shalat fardhu berjamaah itu hukumnya tidak wajib. Selain itu mereka juga menggunakan hadits berikut ini :
Dari Abi Musa radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Sesungguhnya orang yang mendapatkan ganjaran paling besar adalah orang yang paling jauh berjalannya. Orang yang menunggu shalat jamaah bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur.19

4. Syarat Sahnya Shalat Pendapat keempat adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukum syarat fardhu berjamaah adalah syarat sahnya shalat. Sehingga bagi mereka, shalat fardhu itu tidak sah kalau tidak dikerjakan dengan berjamaah.

Lihat Jawahirul Iklil jilid 1 halama 76. Qawanin Al-Ahkam As-Syar'iyah hal. 83 17 Asy-Syarhu As-Shaghir jilid 1 hal. 244 18 Shahih Muslim 650, 249 19 Fathul Bari jilid 2 hal. 278
15 16

258

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Yang berpendapat seperti ini antara lain adalah Ibnu Taymiyah dalam salah satu pendapatnya20. Demikian juga dengan Ibnul Qayyim, murid beliau. Juga Ibnu Aqil dan Ibnu Abi Musa serta mazhab Zhahiriyah21. Termasuk diantaranya adalah para ahli hadits, Abul Hasan AtTamimi, Abu Al-Barakat dari kalangan Al-Hanabilah serta Ibnu Khuzaemah. Dalil yang mereka gunakan adalah :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersaba,'Siapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada lagi shalat untuknya, kecuali karena ada uzur.(HR Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)22 Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api". (HR. Bukhari dan Muslim) 23

: : : : :
Majmu' Fatawa jilid 23 hal. 333 Al-Muhalla jilid 4 hal. 265 22 Sunan Ibnu Majah 793, Sunan Ad-Daruquthuny 1/420, Ibnu Hibban 2064 dan Al-Hakim 1/245 23 Shahih Bukhari 644, 657, 2420, 7224 Shaih Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya
20 21

259

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata,"Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya,'Apakah kamu dengar adzan shalat?'. 'Ya', jawabnya. 'Datangilah', kata Rasulullah SAW. (HR. Muslim)

Setiap orang bebas untuk memilih pendapat manakah yang akan dipilihnya. Dan bila kami harus memilih, kami cenderung untuk memilih pendapat menyebutkan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah muakkadah, karena jauh lebih mudah bagi kebanyakan umat Islam serta didukung juga dengan dalil yang kuat. Meskipun demikian, kami tetap menganjurkan umat Islam untuk selalu memelihara shalat berjamaah, karena keutamaannya yang disepakati semua ulama. E. Yang Diperintahkan Untuk Shalat Berjamaah Para ulama memang berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah menjadi beberapa hukum, yaitu fardhu kifayah, fardhu 'ain, sunnah muakkadah dan syarat sah shalat. Namun semua sepakat bahwa hukum-hukum di atas hanya berlaku bagi sebagian orang saja, yaitu muslim, laki-laki, merdeka, tidak punya udzur syar'i dan terbatas hanya pada shalat lima waktu. 1. Muslim Yang terkena hukum shalat berjamaah hanya mereka yang muslim atau bergama Islam, sedangkan mereka yang beragama di luar Islam, tentu tidak termasuk di dalamnya. 2. Laki-laki Yang termasuk di dalam hukum-hukum di atas sebagaimana disebutkan oleh para ulama, terbatas terbatas pada para laki-laki, sedangkan hukum shalat berjamaah buat wanita berbeda lagi.

260

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

3. Merdeka Hukum shalat berjamaah hanya berlaku untuk orang yang merdeka, sedangkan budak tidak termasuk di dalam hukum shalat berjamaah. 4. Tidak Punya Uzur Syar'i Orang yang punya udzur syar'i tidak terkena dalam hukum shalat berjamaah. Misalnya orang sakit, musafir dan lainnya, tentu tidak termasuk di dalamnya. 5. Shalat Fardhu Lima Waktu Yang termasuk di dalam hukum shalat berjaamah hanya sebatas shalat lima waktu saja. Sedangkan shalat jamaah lainnya yang hukumnya sunnah tidak wajib dihadiri. Seperti shalat Idul Fitri, Idul Adha, Shalat Istisqa' atau shalat gerhana matahari dan bulan. F. Masbuk Istilah masbuq berasal dari kata sabaqa yasbiqu ( - ), artinya melewati atau mendahului. Dan kata masbuq artinya orang yang didahului oleh orang lain atau orang yang terlewati. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini ditulis menjadi masbuk dengan makna yang sama. Kata masbuk ini kemudian disematkan buat orang yang shalat dan telah didahului oleh imam dan jamah yang lain, baik terlewat takbiratul ihram atau pun terlewat rakaatnya. Yang menjadi pertanyaan adalah kapan seorang masbuq dikatakan mendapatkan shalat berjamaah Shalat berjamaah yang afdhal adalah dilakukan bersama imam sejak mula sebelum imam memulai shalat. Bahkan sejak mendengar panggilan Adzan. Namun bila ada seorang masbuk, sampai batas manakah dia masih bisa mendapat shalat berjamaah dan keutamaannya? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa minimal seorang makmum harus

261

Bab 1 : Shalat Berjamaah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

mendapatkan satu rakaat sempurna bersama imam. Sedangkan yang lain mengatakan minimal seorang makmum ikut satu kali takbir bersama imam. Lebih dalam lagi Penulis uraikan berikut ini. 1. Ikut Satu Rakaat Terakhir Sebagian ulama mengatakan bahwa bila makmum itu masih bisa ikut satu rakaat penuh bersama imam, maka dia termasuk mendapatkan shalat berjamaah. Diantara yang berpendapat demikian seperti para ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah, Al-Ghazali dari kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah, sebuah riwayat dari imam Ahmad bin Hanbal, zahir pendapat Ibnu Abi Musa, Ibnu Taymiyah, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab serta Syeikh Abdurrahman bin As-Sa'di. Adapun dasar pendapat mereka antara lain dalil-dalil berikut ini:


Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Siapa yang mendapatkan satu rakaat bersama imam, maka dia mendapatkan shalat'.(HR. Bukhari Muslim).

Selain itu juga ada hadits lainnya yang sejalan :


Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Siapa yang mendapatkan satu rakaat dalam shalat jumat atau shalat lainnya, maka dia mendapatkan shalat'.(HR. Ibnu Majah, An-Nasai, Ibnu Khuzaemah, Al-Hakim)24

Ibnu Taymiyah menambahkan bahwa bila seorang makmum ikut sebuah shalat jamaah tapi kurang dari satu rakaat bersama imam, tidak bisa dikatakan telah ikut shalat jamaah. Sebab gerakan yang kurang dari satu rakaat tidak bisa dihitung sebagai rakaat shalat, sehingga bila makmum hanya mendapatkan kurang dari satu rakaat bersama imam, yaitu baru
24

Sunan Ibnu Majah 1/202, Sunan An-Nasai 3/112, Sunan Ibnu Khuzaemah 3/173, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/291 menshahihkan hadits ini hadits ini dari tiga jalannya.

262

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 1 : Shalat Berjamaah

masuk ke dalam shalat setelah imam bangun dari ruku' pada rakaat terakhir, maka dia dianggap tidak mendapatkan shalat jamaah, meski pun pada gerakan terakhir sempat shalat bersama imam. 2. Minimal Ikut Satu Takbir Terakhir Sebagian ulama lain mengatakan bahwa bila makmum masih mendapatkan satu takbir terakhir sebelum imam mengucapkan salam, maka dia mendapatkan shalat berjamaah. Yang berpedapat seperti ini antara lain adalah ulama kalangan Al-Hanafiyah dan As-Syafi'iyah serta riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad bin Hanbal beserta para murid beliau. 25 Adapun dalil yang mereka kemukakan antara lain adalah hadits-hadits berikut ini :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Nabi SAW bersabda,'Bila kalian menjalankan shalat janganlah mendatanginya dengan berlari, tapi berjalan saja. Kalian harus melakukannya dengan sakinah (tenang), apa yang bisa kamu dapat lakukanlah dan apa yang tertinggal sempurnakanlah.'(HR. Muslim)26.

Dari hadits ini bisa dikatakan bahwa siapa yang ikut shalat jamaah pada saat imam sedang sujud atau duduk tasyahhud akhir, disebutkan telah mendapatkan shalat berjamaah, tinggal dia menggenapkan apa-apa yang tertinggal. Karena itulah bila dia masih mendapatkan satu kali takbir imam yang terakhir sebelum salam, yaitu takbir ketika bangun dari sujud terakhir sebelum tasyahhud akhir, maka dia dikatakan sudah ikut shalat jamaah.

Hasyiatu Ibnu Abidin jilid 2 hal. 59, kitab Al-Majmu' jilid 4 hal. 151 serta kitab Al-Inshaf jilid 2 hal. 221 26 Shahih Muslim jilid 1 hal. 420
25

263

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2 :

Bab 2 : Imam Shalat

Bab 2 : Imam Shalat

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah

B. Syarat Imam
1. Muslim 2. Berakal 3. Baligh 4. Laki-laki Menjadi Imam Buat Perempuan 5. Mampu Membaca Al-Quran 6. Tidak Berpenyakit 7. Mampu Mengerjakan Semua Rukun Shalat 8. Tidak Kehilangan Syarat Sah Shalat 9. Niat

C. Yang Lebih Berhak Menjadi Imam


1. Lebih Paham Fiqih 2. Lebih Fasih 3. Yang Punya Wilayah

C. Tugas dan Wewenang Imam


1. Memberi Izin Adzan dan Iqamah 2. Memeriksa Kerapatan dan Kelurusan Barisan 3. Memberi Informasi Yang Diperlukan 4. Meringankan Shalat 5. Menunggu Masbuk 6. Istikhlaf

265

Bab 2 : Imam Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

A. Pengertian 1. Bahasa 2. Istilah

B. Syarat Imam Seorang imam adalah pimpinan dalam shalat berjamaah, dimana tanpa imam tidak ada shalat jamaah. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang imam shalat sebenarnya amat sederhana, yaitu shalat yang dia lakukan itu hukumnya sah, setidaknya menurut makmum yang ikut shalat di belakangnya. Maka syarat seorang imam pada hakikatnya sama dengan syarat untuk seorang yang melakukan shalat. Namun untuk lengkapnya, kami sampaikan juga tulisan para fuqaha muktamad tentang syarat-syarat imam 1. Muslim Beragama Islam adalah syarat pertama seorang imam. Dan syarat ini sudah pasti ada, sebab jangankan menjadi imam, sekedar shalat saja pun seseorang disyaratkan harus beragama Islam. Namun boleh jadi pernah ada kasus di masa lalu, dimana ada orang menjadi imam shalat padahal bukan muslim, sehingga para ulama mencantumkan syarat keislaman sebagai syarat nomor satu sebagai seorang imam. Namun kalau benar hal itu terjadi, mungkin sewaktu menjadi imam dirinya tidak mengaku, tetapi lama-lama ketahuan juga bahwa sebenarnya dia seorang non muslim, yang menjadi pertanyaan adalah apakah shalat para makmum itu sah? Dalam hal ini mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah

266

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2 :

Bab 2 : Imam Shalat

mengatakan bahwa tidak perlu lagi makmum mengulangi shalatnya, karena ketidak-tahuan iu membuat shalat mereka sah. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan mazhab AsySyafiiyah mengatakan bahwa makmum berkewajiban untuk mengulangi shalatnya, sebab makmum telah lalai dari memeriksa keislaman sang imam. 2. Berakal Seluruh ulama sepakat bahwa syarat yang juga harus terpenuhi bagi seorang imam harus berakal. Sehingga orang yang mabuk, gila, ayan dan sejenisnya, tidak sah untuk menjadi imam, karena shalatnya sendiri pun juga tidak sah.1 3. Baligh Seluruh fuqaha dari mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa seorang imam baru sah memimpin shalat fardhu bila dia telah berusia baligh. Dalam pandangan mereka, seorang anak yang baru sekedar mumayyiz tidak sah bila menjadi imam shalat fardhu. Beda antara mumayyiz dengan baligh adalah bahwa baligh itu sudah mimpi dan keluar mani. Sedangkan mumayyiz secara biologis memang belum keluar mani, namun secara akal dan kesadaran sudah paham dan mengerti, dia bisa membedakan mana baik dan mana buruk. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :


Janganlah kamu majukan (jadikan imam) anak-anak kecil di antara kalian. (HR. Ad-Dailami).2

Shalat seorang anak yang belum baligh jatuhnya menjadi sunnah, meski pun dia melakukan shalat 5 waktu. Dalam
1 2

Jawahirul Iklil hal. 78 Hadits ini lemah sekali sanadnya sebagaimana disebutkan di dalam Kanzul Ummal jilid 7 hal. 588

267

Bab 2 : Imam Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

pandangan mereka, orang yang melakukan shalat wajib tidak boleh bermakmum di belakang orang yang shalat sunnah.3 Sedangkan mazhab Asy-Syafiiyah mengatakan bahwa anak yang sudah mumayyiz meski belum baligh sudah sah bila menjadi imam shalat fardhu maupun shalat sunnah dengan makmum orang dewasa. Dasarnya adalah hadits bahwa Amru bin Salamah menjadi imam ketika masih berusia 6 atau 7 tahun.


Dari Amru bin Salamat radhiyallahuanhu bahwa dirinya menjadi imam atas suatu kaum di masa Rasulullah SAW ketika masih berusia enam atau tujuh tahun. (HR. Al-Bukhari)

Hal yang sama juga terjadi pada diri Abdullah bin Abbas radhiyallahuanhu, yang ketika masih kecil sudah mumayyiz tapi belum baligh, sudah menjadi imam shalat bagi kaumnya. Namun demikian, tetap saja mazhab ini lewat Al-Buwaithy mengutamakan imam yang sudah baligh dari pada yang baru mumayyiz, meski yang baru mumayyiz ini barangkali lebih fasih bacaannya.4 4. Laki-laki Menjadi Imam Buat Perempuan Tanpa pengecualian, seluruh fuqaha sepakat bahwa seorang perempuan hanya boleh menjadi imam sesama perempuan saja, sedangkan bila mengimami makmum laki-laki, hukumnya tidak sah. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :

Janganlah seorang wanita menjadi imam buat lakilaki. (HR.

3 4

Kasysyaf Al-Qinaa jilid 1 hal. 480 Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal. 168

268

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2 :

Bab 2 : Imam Shalat

Ibnu Majah)5

Posisikan para wanita di belakang sebagaimana Allah SWT memposisikan mereka di belakang.(HR. Abdurrazzaq)6

Sedangkan bila seorang wanita mengimami jamaah yang semuanya wanita, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah membolehkan sepenuhnya. Dasarnya adalah izin yang Rasulullah SAW berikan kepada Ummu Waraqah kala mengimami shalat fardhu berjamaah dengan makmum yang semuanya terdiri dari wanita.

Dari Ummu Waraqah radhiyallahuanha bahwa Nabi SAW mengizinkannyua menjadi imam bagi wanita anggota keluarganya. (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Namun mazhab meski membolehkan tetapi mazhab AlHanafiyah masih memakruhkan imam perempuan, meski semua jamaahnya perempuan. Dasarnya karena menurut pandangan mereka, wanita adalah orang yang tidak bisa terlepas dari sifat naqsh (kekurangan). Sebagaimana mereka tidak disunnahkan untuk melantunkan adzan dan iqamah, maka mereka juga tidak disunnahkan untuk menjadi imam, meski dengan sesama jamaah wanita. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah tegas-tegas menolak perempuan menjadi imam, meski semua jamaahnya wanita, baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. 7 5. Mampu Membaca Al-Quran Syarat mampu membaca Al-Quran disini maksudnya
Al-Bushiri dalam Az-Zawaid mengatakan bahwa dua perawi hadits ini, yaitu Ali bin Zaid bin Jad'an dan Abdulah bin Ahmad Al-Adwi, termasuk orang dhaif dalam meriwayatkan hadits. 6 Ibnu Hajar Al-Asqalani menshahihkan hadits ini dalam Fathul Bari jilid 1 hal. 400 7 Ad-Dasuqi jilid 1 hal. 426
5

269

Bab 2 : Imam Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

adalah mampu melafadzkan ayat-ayat Al-Quran Al-Kariem, setidak-tidaknya bacaan surat Al-Fatihah yang menjadi rukun dalam shalat pada tiap rakaatnya. Hal ini mengingat bahwa para ulama banyak mengatakan bahwa bacaan Al-Fatihah makmum ditanggung oleh imam. Maka kalau bacaan imamnya bermasalah, tentu saja shalat berjamaah itu menjadi terkena imbasnya. Maka makruh hukumnya orang yang terbata-bata dalam melafadzkan Al-Quran untuk menjadi imam, seperti fa'fa', yaitu orang yang selalu mengulang-ulang huruf fa', juga tam-tam, yaitu mereka yang sering mengulang-ulang huruf ta'. 6. Tidak Berpenyakit Yang dimaksud tidak berpenyakit disini adalah orang imam tidak boleh berpenyakit yang sekiranya membatalkan shalatnya, seperti orang yang sakit kencing, dimana dia tidak bisa menahan kencingnya dan keluar dengan sendirinya. Orang Arab mengistilahkan dengan penyakit salasul-baul. Begitu juga orang yang selalu kentut dan tidak bisa menahannya, tidak boleh menjadi imam. Termasuk juga orang yang luka dan darahnya mengalir terus tidak berhenti sehingga membasahi tubuh, pakaian atau tempat shalat. Orang-orang seperti ini meski selalu basah dengan najis, tidak gugur kewajibannya untuk menjalankan shalat fardhu. Namun mengingat dia punya masalah dengan najis dan shalatnya bernilai darurat, maka tidak layak bila dia menjadi imam. 8 7. Mampu Mengerjakan Semua Rukun Shalat Seorang imam dituntut untuk bisa mengerjakan semua rukun shalat secara lengkap dan sempurna. Sebab rukun shalat ada tiang-tiang penyangga bangunan, dimana bila salah satu tiang penyangga utama itu runtuh, maka bangunan itu pun
8

Al-Fatawa Al-Hindiyah jilid 1 hal. 84, Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 241

270

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2 :

Bab 2 : Imam Shalat

akan runtuh juga. Dan kedudukan seseorang yang shalat sebagai imam mengharuskannya mampu mengerjakan semua rukun shalat secara lengkap tanpa kurang satu pun. Berbeda dengan makmum yang dibolehkan kekurangan satu atau dua rukun, selama masih bisa ditanggung imam. Misalnya membaca surat Al-Fatihah yang merupakan rukun shalat, bila imam sudah membacanya, maka makmum yang masbuk dan mendapati imam sedang dalam posisi ruku' dianggap telah gugur kewajibannya untuk membaca surat AlFatihah. Makmum dihitung sudah mendapatkan satu rakaat manakala masih sempat ruku' sejenak bersama imam. 8. Tidak Kehilangan Syarat Sah Shalat Seorang imam dituntut untuk tidak kekurangan satu pun dari syarat sah shalat. Sebagaimana sudah dijelaskan pada baba sebelumnya, diantara syarat sah shalat adalah : Tahu Waktu Shalat Sudah Masuk Suci dari Hadats Besar dan Kecil Suci Badan, Pakaian dan Tempat Menutup Aurat Menghadap ke Kiblat Bila seorang imam kekurangan satu saja dari syarat sah shalat di atas, maka dia tdak sah menjadi imam. Misalnya seorang imam tidak bisa mengangkat hadats, karena tidak ada air dan tanah sekaligus, maka meski wajib tetap shalat, namun tidak perlu shalat berjamaah. Karena imamnya tidak memenuhi syarat sah shalat. 9. Niat Apakah untuk menjadi imam shalat disyaratkan berniat menjadi imam sejak awal shalat jamaah dilakukan? Umumnya para ulama seperti Asy-syafi'iyah dan AlMalikiyah tidak mensyaratkan niat untuk menjadi imam sejak awal shalat. Sehingga seorang yang shalat sejak awal niatnya

271

Bab 2 : Imam Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

shalat munfarid (sendirian), lalu ada orang lain mengikutinya dari belakang, hukumnya sah dan boleh.9 Sebaliknya, dalam pandangan mazhab Al-Hanafiyah, hukumnya tidak boleh, kecuali imam dan makmum sama-sama shalat sunnah. Sedangkan bila niatnya shalat wajib, tidak sah hukumnya untuk bermakmum kepada seseorang yang sedang shalat sendiri dan tidak berniat menjadi imam. C. Yang Lebih Berhak Menjadi Imam Kalau sebelumnya kita sudah membahas syarat-syarat menjadi imam, sehingga bila syarat itu tidak terpenuhi, maka seseorang tidak boleh menjadi imam, maka sekarang kita bicara bila di antara jamaah shalat semuanya sudah memenuhi syaratsyarat itu, lalu menjadi pertanyaan sekarang adalah siapakah yang lebih berhak menjadi imam? Siapa yang harus didahulukan? Masalah ini seringkali jadi bahan perdebatan, lantaran sering terjadi orang-orang saling tunjuk hidung orang lain untuk menjadi imam. Kadang-kadang dasarnya dibuat-buat, misalnya karena seseorang sudah menikah sedangkan jamaah lainnya belum menikah, maka yang sudah menikah dimajukan menjadi imam. Kadang karena usia, dimana orang yang lebih tua seringkali dijadikan imam. Bahkan kadang ada juga pertimbangan karena keturunan, mentang-mentang anak kiyai, ustadz atau mengaku sebagau dzurriyah (keturunan) Rasulullah SAW, lantas dinobatkan menjadi imam shalat jamaah. Namun yang menjadi pertanyaan, benarkan alasan-alasan itu? Dan kalau benar, pertimbangan manakah yang harus didahulukan? 1. Lebih Paham Fiqih Jumhur ulama, yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah lebih mendahulukan orang yang afqah, yaitu
9

Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal. 204

272

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2 :

Bab 2 : Imam Shalat

lebih mengerti ilmu fiqih, khususnya fiqih shalat untuk menjadi imam shalat berjamaah, dari pada orang lebih yang fasih dalam bacaan ayat Al-Quran.10 Dasarnya adalah Rasulullah SAW ketika berhalangan dari ikut shalat berjamaah pada detik-detik menjelang wafatnya, beliau meminta Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu yang lapasitasnya lebih faqih dalam urusan agama, dibandingkan shahabat yang lain untuk menggantikannya menjadi imam shalat berjamaah. Padahal saat itu ada banyak shahabat beliau yang bacaannya jauh lebih fasih, seperti Ubay bin Ka'ab radhiyallahuanhu. Bahkan Rasulullah SAW mengakui bahwa Ubay bin Kaab adalah orang yang paling fasih bacaan Al-Qurannya.

Orang yang paling fasih bacaannya diantara kalian adalah Ubay. (HR. Tirmizy)

Dan hal yang sama juga diakui oleh banyak shahabat Nabi, diantaranya pengakuan Abu Said Al-Khudhri. Beliau radhiyallahuanhu tegas menyatakan,"Abu Bakar adalah orang yang paling tinggi ilmunya di antara kita semua". Namun beliau SAW tidak meminta Ubay bin Kaab yang menggantikan posisi dirinya sebagai imam shalat berjamaah di masjid Nabawi saat itu. Justru beliau meminta Abu Bakar AshShiddiq radhiyallahuanhu, yang nota bene adalah orang yang paling paham ilmu agama dan syariah Islam. 2. Lebih Fasih Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang lebih berhak untuk menjadi imam dalam shalat jamaah adalah orang yang lebih fasih bacaannya. Mazhab ini menomor-satukan masalah kefasihan bacaan Al-Quran ketimbang keluasan dan
10

Fathul Qadir jilid 1 hal. 303. Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal. 175

273

Bab 2 : Imam Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

kedalaman ilmu fiqih.11 Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :

Bila ada tiga orang, maka salah satu dari mereka menjadi imam. Dan orang yang lebih berhak menjadi imam adalah yang lebih aqra' di antara mereka. (HR. Muslim dan Ahmad)

Selain urusan kefasihan atau kefaqihan, ada hadits lain yang membicarakan tentang bilamana para jamaah shalat punya kemampuan yang setaraf, lalu pertimbangan apalagi yang harus dijadikan dasar. Di antaranya masalah siapa yang lebih paham dengan sunnah nabawiyah, juga yang lebih dahulu berhijrah, yang lebih tua usianya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini :


Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah orang yang lebih aqra' pada kitabullah. Bila peringkat mereka sama dalam masalah qiraat, maka yang lebih paham dengan sunnah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih dahulu berangkat hijrah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih banyak usianya. Namun janganlah seorang menjadi imam buat orang lain di wilayah kekuasaan orang lain itu, jangan duduk di rumahnya kecuali dengan izinnya. (HR. Muslim)

3. Yang Punya Wilayah Hadits di atas juga mengisyaratkan bahwa orang yang menjadi penguasa suatu wilayah, baik negara, provinsi, daerah,
11

Kasysyaf Al-Qinaa' jilid 1 hal. 471

274

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2 :

Bab 2 : Imam Shalat

kampung dan bahkan rumah tangga, bila berhak menjadi imam. Tentu bila dalam hal kefaqihan dan kefasihan punya derajat yang sama. D. Tugas dan Wewenang Imam Imam punya tugas yang dibebankan di pundaknya dan juga dan wewenang yang menjadi wilayah kekuasaannya. Di antaranya adalah : 1. Memberi Izin Adzan dan Iqamah Adzan dan iqamah adalah tugas muadzdzin, namun kapan dibolehkan bagi muadzdzin untuk menjalankan tugasnya, komandonya berada di tangan imam. Dalam hal shalat berjamaah di masjid, imam masjid punya wewenang untuk mengundurkan jadwal shalat berjamaah, sehingga sebelum mengumandangkan adzan, seorang muadzdzin meminta izin terlebih dahulu kepada imam. Bila izin diberikan, tugas dijalankan. Sebaliknya, bila izin tidak diberikan, maka muadzdzin harus tunduk kepada ketetapan imam. Dasar dari wewenang ini adalah tindakan Bilal bin Rabah radhiyallahuanhu ketika menjadi muadzdzin Rasulullah SAW. Beliau selalu meminta izin terlebih dahulu bila akan mengerjakan tugasnya sebagai muadzdzin, baik untuk adzan maupun iqamah. Dan tidak akan melantunkan iqamah manakala beliau belum mendapat izin dari Rasulullah SAW. Perhatikan bahwa istilah muadzdzin melekat dengan nama Rasulullah SAW, menjadi muadzdzin Rasulullah. Ini menandakan bahwa Bilal selalu berkoordinasi dengan Rasulullah SAW dalam menjalankan tugasnya. 2. Memeriksa Kerapatan dan Kelurusan Barisan Sebelum shalat berjamaah dijalankan, tugas dan wewenang imam shalat adalah memastikan apakah barisan makmum di belakangnya sudah rapat dan lurus atau belum. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

275

Bab 2 : Imam Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Luruskan barisan kalian dan rapatkan, karena Aku bisa melihat kalian dari balik punggungku. (HR. Bukhari)

: :
Sesungguhnya Nabi SAW bila akan memulai menjadi imam shalat beliau melihat ke kanan dan berkata,"Luruskan barisan kalian". Dan juga menengok ke kiri sambil berkata,"Luruskan barisan kalian". (HR. Abu Daud)

3. Memberi Informasi Yang Diperlukan Dianjurkan bagi imam sebelum memulai shalat jamaah, untuk menjelaskan apa-apa yang akan dilakukan di dalam shalat nanti, apabila ada hal-hal yang di luar kebiasaan. Misalnya dalam shalat qashar, yaitu shalat Dzhuhur, Ashar atau Isya', yang seharusnya empat rakaat menjadi hanya dua rakaat. Sebelum memulai sebaiknya imam memberi informasi terlebih dahulu kepada makmum agar mereka tidak terkecoh. Demikian juga dalam shalat witir, terkadang ada yang melakukannya dua rakaat plus satu rakaat. Dan ada juga yang mengerjakannya langsung tiga rakaat. Karena banyak variasinya, maka sangat baik bila sebelumnya imam telah menginformasikan terlebih dahulu. Demikian juga, bila imam berniat akan melakukan sujud tilawah saat membaca ayat sajdah, bila makmu belum terbiasa melakukannya, sebaiknya imam menjelaskan terlebih dahulu, agar makmum tidak terkaget-kaget. 4. Meringankan Shalat Kesalahan yang seringkali dilakukan oleh imam shalat jamaah adalah memperlama gerakan dan bacaan shalat, termasuk memperlama ruku' dan sujud. Barangkali dikiranya, semakin lama shalat itu dijalankan, semakin besar pahalanya.

276

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2 :

Bab 2 : Imam Shalat

Padahal justru syariat Islam lebih mengutamakan shalat yang singkat dan tidak berlama-lama, khususnya dalam shalat berjamaah lima waktu. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :


Bila kalian menjadi imam buat orang-orang, maka ringankanlah. Sebab di antara mereka barangkali ada orang sakit, lemah dan tua. (HR. Bukhari)

Pernah suatu ketika Muadz bin Jabal radhiyallahuanhu menjadi imam shalat jamaah, lalu beliau memperlama durasi shalat itu. Ketika Rasulullah SAW mendengar kabar itu, beliau pun menegur shahabatnya dengan hadits yang diriwayatkan sampai kepada kita :

Apakah kamu mau menjadi sumber fitnah wahai Muadz? Shalatlah bersama suatu kaum sesuai dengan kemampuan orang yang paling lemah di antara mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan bila seseorang shalat sendirian, apalagi shalat malam, maka lebih utama kalau dilakukan dalam durasi yang lama. Kalau pun ada makmum yang ikut dalam shalat malam yang lama itu, setidaknya hal itu bukan kewajiban, melainkan memang keinginan makmum itu sendiri. 5. Menunggu Masbuk Seorang imam dianjurkan untuk dapat memberi kesempatan kepada para makmum agar bisa mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Salah satu caranya adalah anjuran bagi imam agar memberi kesempatan makmum yang tertinggal (masbuk) agar mendapatkan rakaat. Misalnya, bila imam merasakan ada orang yang sedang berupaya untuk mendapatkan satu rakaat bersama imam, maka

277

Bab 2 : Imam Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

imam dianjurkan untuk memperlama hingga makmum yang tertinggal itu bisa mendapatkan rakaat itu. Batasnya adalah ruku', dimana imam dibenarkan untuk sedikit lebih memperlama panjang ruku'nya demi agar makmum bisa mengejarnya. Hal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dimana beliau agak memperlama rakaat pertama dan tidak segera ruku dan sujud, hingga beliau tidak lagi mendengar langkah-langkah kaki dari makmumnya yang sedang berjalan menuju barisan shalat. Bahkan beliau seringkali memperlambat dimulainya shalat bila melihat jamaah belum berkumpul semuanya. Misalnya dalam shalat Isya', beliau seringkali menunda dimulainya shalat manakala dilihatnya para shahabat belum semua tiba di masjid.

: - : :
Dan waktu Isya kadang-kadang, bila beliau SAW melihat mereka (para shahabat) telah berkumpul, maka dipercepat. Namun bila beliau melihat mereka berlambat-lambat, maka beliau undurkan. (HR. Bukhari Muslim) Dari Abi Bazrah Al-Aslami berkata,Dan Rasulullah suka menunda shalat Isya, tidak suka tidur sebelumnya dan tidak suka mengobrol sesudahnya. (HR. Bukhari Muslim)

Semua ini dalam pandangan mazhab Asy-syafi'iyah dan AlHanabilah merupakan anjuran, namun sebaliknya mazhab AlMalikiyah dan Al-Hanafiyah tidak menganjurkannya.12 6. Istikhlaf
12

Al-Muhadzdzab jilid 1 hal. 102

278

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2 :

Bab 2 : Imam Shalat

Apabila imam batal dari shalat atau wudhu'nya, sedangkan makmum tidak mengalaminya, maka disunnahkan agar imam melakukan istikhlaf. Istikhlaf adalah tindakan imam yang mengalami batal dalam shalatnya, lalu meminta kepada salah satu makmumnya, biasanya yang berdiri tepat di belakangnya, untuk maju menggantikan posisinya sebagai imam. Semua dilakukan ketika shalat jamaah sedang berlangsung. Istikhlaf dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu ketika menjadi imam shalat. Tiba-tiba beliau mengetahui bahwa Rasulullah SAW datang ke masjid ikut shalat jamaah. Maka Abu Bakar melakukan istikhlaf, Rasulullah SAW kemudian maju mengantikan dirinya menjadi imam. Istikhlaf juga dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu ketika beliau ditusuk dengan khanjar (sejenis belati) oleh pembunuhnya, kala beliau sedang menjadi imam saat shalat shubuh di masjid Nabawi. Dalam keadaan payah beliau menarik orang yang berdiri di belakangnya untuk menggantikan dirinya menjadi imam. Istikhlaf juga dilakukan oleh Utsman bin Al-Affan radhiyallahuanhu dengan kejadian yang sama, yaitu ketika beliau menjadi imam shalat shubuh dan ditikam dari belakang. Shalat berjamaah tidak lantas bubar, dan beliau meminta orang yang berdiri di belakangnya untuk menggantikan dirinya menjadi imam shalat.

279

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 3 : Makmum

Bab 3 : Makmum

Ikhtishar
A. Pengertian Makmum
1. Bahasa 2. Istilah

B. Syarat Makmum
1. Niat 2. Kesatuan Shalat Dengan Imam 3. Tidak Melewati Posisi Imam 4. Berada Pada Tempat Yang Sama 5. Mengikuti Gerakan Dasar Imam

C. Posisi Makmum
1. Jenis Kelamin 2. Jumlah Makmum

D. Putusnya Kemakmuman
1. 2. 3.

A. Pengertian Makmum 1. Bahasa Secara bahasa, kata makmum ( )adalah bentuk isim fa'il dari ammama - yuammimu - ma'muman ( - - ). Artinya adalah orang yang diimami. 2. Istilah

281

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Yang dimaksudnya dengan makmum adalah :


Orang yang shalat mengikuti shalat imam

3. Iqtida', Ittiba' dan Ta'assi Dalam istilah shalat berjamaah dikenal tiga istilah yang mirip, yaitu iqtida', ittiba' dan ta'assi. a. Iqtida' Iqtida' ( )adalah kata yang dibentuk dari kata dasarnya, qudwah (). Secara sederhana qudwah dimaknai sebagai panutan dan ikutan. Maka melakukan iqtida' adalah menjadikan sesuatu sebagai qudwah atau panutan. Dalam hal ini seorang makmum ber-iqtida' kepada imamnya, yaitu menjadikan imamnya sebagai panutan atau ikutan dalam shalat. b. Ittiba' Secara bahasa, ittiba' ( )adalah :

Berjalan di belakang mengikuti orang lain

Maka mengantarkan jenazah ke kubur disebut ittiba'uljanazah. Dan Allah SWT berfirman :

Maka siapa yang mendapat permaafan dari saudaranya hendaklah mengikuti dengan cara yang baik. (QS. Al-Baqarah : 178)

Orang yang menjadi makmum adalah orang yang ber-ittiba' kepada imamnya dalam shalat.

282

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 3 : Makmum

c. Ta'assi Ta'assi ( ) adalah bentukan dari uswah (), yang dalam bahasa Indonesia bermakna teladan. Sebagaimana firman Allah SWT :

Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu . (QS. Al-ahzab : 21)


shalat pada

Menjadi makmum dalam melakukan ta'assi kepada imam. B. Syarat Makmum

hakikatnya

Untuk sah menjadi makmum, ada banyak syarat yang diajukan oleh para ulama dan disepakati. Diantara syarat itu adalah niat jadi makmum, kesatuan shalat makmum dengan imam, Makmum tidak boleh melewati posisi imam, berada pada tempat yang sama dengan imam, dan mengikuti gerakan imam. 1. Berniat Menjadi Makmum Para ulama berbeda pendapat apakah imam shalat harus berniat sebagai imam sejak awal shalatnya. Sebagian mensyaratkan sebagaimana mazhab Al-Hanabilah, dan yang lainnnya yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan AsySyafi'iyah tidak mensyaratkan niat bagi imam. Namun kalau buat makmum, jumhur ulama seluruhnya sepakat bahwa shalat seorang makmum tidak sah apabila tidak berniat untuk menjadi makmum. Artinya, mau tidak mau semua makmum harus pasang niat sejak awal, kalau mau shalatnya sebagai makmum dinilai sah. a. Lafadz Niat Jumhur ulama sepakat bahwa niat itu tempatnya di hati dan bukan di lisan. Artinya, bila seseorang tidak melafadzkan niat, namun telah berniat di dalam hati, niat itu sudah tercapai. 1
1

Ibnu Abdin, jilid 1 hal. 178 - 279 - 370

283

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Namun mereka berbeda pendapat tentang melafadzkan niat. Mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafi'iyah dan sebagain pendapat di kalangan Al-Hanabilah sepakat mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya mustahab. Sedangkan sebagian ulama ada yang membid'ahkannya. b. Waktu Niat Jumhur ulama mensyaratkan niat menjadi makmum ini minimal harus bersamaan dengan takbiratul-ihram, atau boleh juga lebih dahulu dari takbiratul-ihram asalkan tidak terlalu jauh atau tidak dipisah dengan pekerjaan lain. Dan mereka sepakat bahwa niat untuk menjadi makmum tidak boleh dilakukan bila shalat sudah dimulai dan sudah berjalan. Sehingga dalam pandangan mereka, orang yang memulai shalat dengan niat shalat sendirian, tidak boleh atau tidak sah bila tiba-tiba di tengah shalat bermakmum pada orang lain. 2. Kesatuan Shalat Makmum Dengan Shalat Imam Syarat kedua adalah kesatuan atau kesamaan antara shalat makmum dengan shalat imam. Namun para ulama terpecah menjadi dua pendapat ketika membicarakan kesamaan di bidang apa. Sebagian mengatakan bahwa kesamaan shalat itu harus pada semua sisinya, sebagian lain hanya pada kerangka dasarnya saja. a. Harus Sama Pada Sebab, Gerakan dan Sifat Jumhur ulama diantaranya mazhab Al-Hanafiyah, AlMalikiyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa shalat makmum harus sama dan satu kesatuan dengan shalat imam. Yang harus sama setidaknya pada sebab, gerakan dan sifatnya.2 Dzhuhr dan Ashar : Menurut jumhur ulama, tidak sah seorang makmum yang niat shalat Dzhuhur tetapi bermakmum kepada imam yang sedang shalat Ashar. Dan juga tidak sah bila terjadi sebaliknya.

Badai' Ash-Shana'i, jilid 1 hal. 138

284

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 3 : Makmum

Qadha' Shalat : Walaupun keduanya sama-sama shalat Dzhuhur, tetap tidak sah bila makmum berniat shalat qadha' sedangkan imam tidak niat shalat qadha', atau sebaliknya.

Sunnah dan Fardhu : Mereka juga berpendapat bahwa tidak sah shalat seorang yang berniat mengerjakan shalat fardhu tetapi bermakmum kepada orang yang berniat shalat sunnah. Sedangkan bila dibalik, yaitu imam berniat shalat fardhu dan makmum berniat shalat sunnah, mereka masih membolehkan dan mengatakan shalat makmum itu sah hukumnya. Dalil yang mereka kemukakan adalah dalil yang bersifat umum, diantaranya sabda Rasulullah SAW :


Sesungguhnya seseorang dijadikan imam untuk diikuti. Bila imam bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Bila imam sujud maka sujudlah kalian. Bila imam bangun dari sujud maka kalian bangunlah dari sujud. Bila imam mengucap sami'allahuliman hamidah, maka ucapkanlah rabbana wa lakal hamdu. Bila imam shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian semua sambil duduk. (HR. Muslim)

b. Hanya Pada Kerangka Besar Saja Namun mazhab Asy-Syafi'iyah memahami hadits di atas bukan seperti apa yang dipahami jumhur ulama. Sehingga dalam pandangan mazhab ini, syarat kesamaan shalat imam dan makmum itu tidak pada keseluruhan sisi shalat, namun hanya pada sisi kerangka dan bentuknya secara umum. Madzhab Asy-Syaf'iyah tidak mengharuskan kesamaan pada sebab, gerakan dan sifat shalat, cukup hanya kesamaan dalam bentuk dasar dan posisi utama. Maka dalam mazhab ini hal-hal berikut ini dibenarkan dan dianggap sah : Dibenarkan seorang yang berniat shalat Dzhuhur

285

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

bermakmum sebaliknya.

kepada imam

yang

shalat Ashar,

atau

Dibenarkan orang yang berniat shalat qadha bermakmum kepada imam yang tidak sedang mengqadha' shalatnya, atau sebaliknya.

Dibenarkan orang yang shalat sunnah bermakmum kepada orang yang shalat wajib, atau sebaliknya. Namun mazhab Asy-Syafi'yah melarang orang yang shalat Dzhuhur bermakmum kepada orang yang mengerjakan shalat jenazah atau sebaliknya,begitu juga dengan orang yang melakukan shalat Khusuf dan Kusuf.3 Alasannya, karena bentuk shalat jenazah sangat berbeda dengan shalat Dzhuhur, karena tidak ada ruku', sujud, dan gerakan lainnya. Demikian juga shalat Khusuf dan Kusuf, gerakannya jauh berbeda dengan shalat biasa. 3. Makmum Tidak Melewati Posisi Imam a. Pendapat Jumhur VS Al-Malikiyah Hampir seluruh ulama mensyaratkan posisi makmum tidak boleh melebihi posisi imam, kecuali mazhab Al-Malikiyah.
Jumhur Ulama

Jumhur ulama di antaranya ulama dari mazhab AlHanafiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa posisi makmum tidak boleh melewati posisi imam. Paling tidak, minimal posisi makmum sejajar saja dengan degan imam. Dan kalau sampai melewati batas posisi imam, otomatis batal jadi makmum. Dasar dari ketentuan ini adalah hadits Rasulullah SAW di atas, yaitu tentang fungsi imam yang harus diikuti

Sesungguhnya seseorang dijadikan imam untuk diikuti. (HR. Muslim)


3

Mughni Al-Muhtaj, jilid 1 hal. 253

286

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 3 : Makmum

Dan tidak mungkin makmum bisa mengikuti imam kalau posisinya lebih di depan. Karena yang namanya mengikuti gerakan imam itu tidak mungkin berada di depannya, harus ada di belakangnya.
Mazhab Al-Malikiyah

Namun mazhab Al-Malikiyah tidak mensyaratkan masalah ini. Artinya boleh saja posisi makmum sedikit melewati imam, asalkan dipastikan makmum masih bisa mengikutinya. Mazhab ini berpendapat bahwa makmum sedikit lebih ke belakang dar imam hukumnya mandub. 4 b. Ukuran Saat Berdiri, Duduk dan Berbaring Posisi shalat itu kadang berdiri, kadang duduk dan kadang berbaring. Menurut jumhur ulama, yang dijadikan ukuran posisi makmum pada saat shalat berdiri adalah tumit atau belakang telapak kaki. Dalam bahasa Arab disebut dengan a'qib ().

a'qib ( = )tumit bagian belakang tapak kaki Dan harus dibedakan dengan mata kaki yang dalam bahasa Arabnya disebut ka'b (). Mata kaki adalah tulang yg menonjol kiri kanan pd kaki bagian bawah (pergelangan kaki). Sehingga apabila seorang tumit seorang makmum tidak melewati tumit imam, namun karena tapak kakinya panjang sehingga jari-jarinya melebihi jari-jari imam, tidak jadi masalah. Karena yang dihitung bukan ujung jar-jari kaki, melainkan tumit
4

Hasyiyatu Ibnu Abidin, jilid 1 hal. 350

287

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

atau bagian belakang telapak kaki. Sedangkan pada posisi duduk, yang dijadikan ukuran adalah pantat (). Dan pada posisi berbaring, ukurannya adalah perut atau lambung (). 4. Makmum dan Imam Berada Pada Tempat Yang Sama Para ulama sepakat bahwa shalat berjamaah itu tidak sah kalau dilakukan pada dua tempat yang berbeda, dimana imam berada di suatu tempat, dan makmumnya berada di tempat yang lain. Maka menjadi makmum shalat lewat televisi hukumnya tidak sah. Karena imam dan makmum berada pada dua tempat yang berbeda. a. Dalam Satu Masjid Tapi Terpisah Para ulama umumnya sepakat membolehkan makmum yang terpisah jarak tertentu dengan imamnya. shalat

Ada dua syarat dalam hal ini. Pertama, makmum dan imam sama-sama berada dalam satu gedung masjid, tidak terpisah pada dua gedung masjid yang berbeda. Syarat kedua bahwa makmum masih melihat atau mendengar suara imam, atau makum lain yang dibelakang imam. Sedangkan bila di dalam gedung masjid ada dinding atau tembok yang menghalangi pandangan makmum kepada imam atau makmum lainnya yang di belakang imam, atau menghalangi sampainya suara imam dan makmum yang lain, umumnya para ulama mengatakan bahwa hukumnya tidak sah. b. Imam Dalam Masjid Makmum Di Luar Masjid Umumnya para ulama membolehkan shalat makmum yang posisinya di luar gedung masjid, asalkan masih tersambung shafnya hingga ke dalam masjid. Maka shalat di pelataran masjid bermakmum kepada imam yang posisinya di dalam masjid itu sah, apabila jumlah jamaahnya membeludak hingga memenuhi halaman masjid. Namun yang menjadi masalah adalah apakah sah shalat

288

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 3 : Makmum

seorang makmum di luar masjid, sementara imam di dalam masjid, dan tidak ada sambungan sah, sehingga makmum benar-benar dipisahkan oleh halaman atau lapangan? Dalam hal ini para ulama mazhab berbeda pendapat tentang jarak yang dibolehkan : Al-Hanafiyah : maksimal berjarak dua shaf, kalau lebih dari jarak itu, maka shalat makmum di luar masjid yang dipisahkan dengan ruang kosong itu menjadi tidak sah. Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah: kedua mazhab ini memandang minimal makmum yang shalat di luar masjid masjid masih bisa melihat atau mendengar suara imam atau makmum yang di dalam masjid. Asy-Syafi'iyah : maksimal jarak makmum 300 dzira' (+ 100 meter) dari masjid. Bila melebihi jarak tersebut, hukumnya tidak sah.

Pengeras Suara Dan Monitor

Di masa lalu ketika para ulama berijtihad, belum ditemukan pengeras suara dan juga TV/LCD monitor. Yang menjadi titik perbedaan di masa sekarang ini adalah apakah pengeras suara dan TV/LCD monitor itu bisa memenuhi syarat-syarat di atas yang diajukan oleh para ulama? Dengan pengeras suara dan TV/LCD monitor, semua makmum yang berada di luar masjid masih bisa mendengar suara imam, bahkan masih bisa melihat gerak-gerik imam. Kalau pakai teknologi ini, malah jaraknya bisa jauh sekali, sampai ke jalanan dan sampai ke seantero kampung. Bahkan malah jaraknya menjadi nisbi alias tidak ada batas jarak maksimal, suara dan gambar imam bisa broadcast ke seluruh dunia lewat video/audio live streaming. Oleh karena itu ada sebagian kalangan ulama di masa kini yang tetap tidak mengakui pengeras suara atau TV/LCD monitor untuk membolehkan orang yang shalat snedirian di luar masjid untuk menjadi makmum kepada jamaah di dalam masjid. Demikian juga mereka tidak membolehkan makmum yang

289

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

berada di dalam masjid namun dipisahkan dengan tembok yang tertutup rapat, sehingga tidak terdengar suara imam atau makmum di belakangnya, dan juga tidak terlihat gerakgeriknya. xxx5. Mengikuti Gerakan Dasar Imam

xxxC. Posisi Barisan Makmum

xxx1. Jenis Kelamin xxx2. Jumlah Makmum

xxxD. Putusnya Kemakmuman

xxx1. xxx2. xxx3.

290

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

Bab 4 : Adzan

Ikhtishar
A. Pengertian Adzan
1. Bahasa 2. Istilah

B. Pensyariatan Adzan
1. Al-Quran 2. As-Sunnah

C. Hukum Adzan
1. Fardhu Kifayah 2. Sunnah Muakkadah

D. Keutamaan Adzan E. Syarat Adzan


1. Telah Masuk Waktu 2. Harus Berbahasa Arab 3. Tidak Bersahutan 4. Muslim, Laki, Akil Baligh. 5. Tertib Lafaznya

F. Lafadz Adzan
1. Empat Kali Takbir 2. Dua Takbir 3. Tatswib

G. Sunnah Adzan
1. Bersuara Lantang 2. Tempat Tinggi 3. Berdiri 4. Awal Waktu

291

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

H. Adzan Selain untuk Shalat


1. Kelahiran Bayi 2. Kebakaran 3. Perang 4. Terkena Pengaruh Jin 5. Musafir 6. Memasukkan Mayat ke dalam Kubur

A. Pengertian Adzan 1. Bahasa Makna kata adzan ( )dalam bahasa dari segi bahasa berarti pengumuman, permakluman atau pemberitahuan. Kata itulah yang diungkapkan dalam ayat Al-Quran Al-Kariem berikut ini :


Dan suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.(QS. AtTaubah : 3)

Selain itu, adzan juga bermakna seruan atau panggilan. Makna ini digunakan ketika Nabi Ibrahim alaihissalam diperintahkan untuk memberitahukan kepada manusia untuk melakukan ibadah haji.


Dan panggillah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj : 27)

292

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

2. Istilah Secara syariat, definisi adzan adalah :


Pengumuman atas waktu shalat fardhu dengan menggunakan lafadz tertentu yang diwariskan serta dengan sifat-sifat tertentu.1 Ibnu Qudamah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj mendefinisikan adzan sebagai perkataan tertentu yang berguna memberitahukan masuknya waktu shalat yang fardhu.2 Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar mendefinisikan adzan sebagai pengumuman atas waktu shalat dengan lafazlafaz tertentu. B. Pensyariatan Adzan Adzan disyariatkan dalam Islam atas dasar dalil dari AlQuran, As-sunnah dan ijma' para ulama. 1. Al-Quran


Dan apabila kamu menyeru untuk shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. (QS. Al-Maidah : 58)

2. As-Sunnah

:
1 2

Syarah Muntahal-iradat jilid 1 hal. 122 Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 133

293

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Dari Malik bin Huwairits radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada kami,"Bila waktu shalat telah tiba, hendaklah ada dari kamu yang beradzan".(HR. Bukhari dan Muslim)

- : - - : : - : . :
Dari Abdullah bin Zaid bin Abdirabbihi berkata,Ada seorang yang mengelilingiku dalam mimpi dan berseru : Allahu akbar alahu akbar, dan (beliau) membacakan adzan dengan empat takbir tanpa tarji, dan iqamah dengan satu-satu, kecuali qad qamatishshalah. Paginya Aku datangi Rasulullah SAW, maka beliau bersabda,"Itu adalah mimpi yang benar. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Selain itu, adzan bukan hanya ditetapkan hanya dengan mimpi sebagian shahabat saja, melainkan Rasululah SAW juga diperlihatkan praktek adzan ketika beliau diisra'kan ke langit.
Dari al-Bazzar meriwayatkan bahwa Nabi SAW diperlihatkan dan diperdengarkan kepadanya di malam Isra' di atas 7 lapis langit. Kemudian Jibril memintanya maju untuk mengimami penduduk langit, dimana disana ada Adam alaihissalam dan Nuh alaihissalam Maka Allah menyempurnakan kemuliaannya di antara para penduduk langit dan bumi.

Namun hadits ini riwayatnya teramat lemah dan gharib. Riwayat yang shahih adalah bahwa adzan pertama kali dikumandangkan di Madinah sebagai-mana hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Muslim. C. Hukum Adzan Para ulama berbeda pendapat tentang hukum adzan sebelum shalat.

294

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

1. Fardhu Kifayah Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan hukumnya fardhu kifayah, yaitu bagi mereka yang tidak dalam keadaan safar (ahlul hadhar), tinggal di pemukiman atau suatu masjid yang dilaksanakan shalat jamaah di dalamnya. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :

Bila datang waktu shalat, maka lakukanlah adzan oleh salah seorang darimu. Dan yang lebih besar menjadi imam. (HR. Bukhari)

2. Sunnah Muakkadah Hukum adzan menurut jumhur ulama selain al-Hanabilah adalah sunnah muakkadah, yaitu bagi laki-laki yang dikerjakan di masjid untuk shalat wajib 5 waktu dan juga shalat Jumat.3 Mazhab Asy-Syafiiyah mengatakan bahwa adzan hukumya fardhu kifayah untuk shalat Jumat saja, sedangkan shalat lima waktu yang lain, tidak menjadi fardhu kifayah. Sebab adzan hanya wajib bila shalat wajib dijalankan dengan berjamaah. Dan itu hanya pada shalat Jumat. Sedangkan selain untuk shalat tersebut, tidak disunnahkan untuk mengumandangkan adzan, misalnya shalat Iedul Fithri, shalat Iedul Adha, shalat tarawih, shalat jenazah, shalat gerhana dan lainnya. Sebagai gantinya digunakan seruan dengan lafaz "Ash-shalatu jamiatan" () . Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits berikut :
Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu anhu bahwa telah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah SAW, maka kepada orangorang diserukan : "Ash-shalatu Jami'ah".(HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan bagi jamaah shalat wanita, yang dianjurkan hanyalah iqamat saja tanpa adzan menurut As-Syafi'iyah dan
3

Lihat kitab Al-Muhgny jilid 1 hal. 403, kitab Kasysyaf Al-Qanna' jilid 1 hal. 267, kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 138

295

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Al-Malikiyah. Oleh sebab untuk menghindari fitnah dengan suara adzan wanita. Bahkan iqamat pun dimakruhkan oleh alHanafiyah. D. Keutamaan Adzan Adzan memiliki keutamaan yang besar sehingga andai saja orang-orang tahu keutamaan pahala yang didapat dari mengumandangkan Adzan, pastilah orang-orang akan berebutan. Bahkan kalau perlu mereka melakukan undian untuk sekedar bisa mendapatkan kemuliaan itu. Hal itu atas dasar hadits Nabi SAW :


Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Seandainya orang-orang tahu keutamaan adzan dan berdiri di barisan pertama shalat, dimana mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali harus mengundi, pastilah mereka mengundinya di antara mereka.."(HR. Bukhari)

Selain itu, ada keterangan yang menyebutkan bahwa nanti di akhirat, orang yang mengumandang-kan adzan adalah orang yang mendapatkan keutamaan dan kelebihan. Di dalam hadits lainnya disebutkan :

Dari Muawiyah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang adzan (muazzin) adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat". (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

Bahkan menurut Asy-syafi'iyah dan Al-Hanabilah, menjadi muadzdzin (orang yang mengumandangkan adzan) lebih tinggi kedudukannya dari pada imam shalat. Dalilnya adalah ayat Al-

296

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

Quran berikut ini :


Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(QS. Fushshilat : 33)

Menurut mereka, makna dari menyeru kepada Allah di dalam ayat ini adalah mengumandangkan adzan. Berarti kedudukan mereka paling tinggi dibandingkan yang lain. Namun pendapat sebaliknya datang dari Al-Hanafiyah, dimana mereka mengatakan bahwa kedudukan imam shalat lebih utama dari pada kedudukan orang yang mengumandangkan Adzan. Alasannya, Nabi Muhammad SAW dan para khulafaur-rasyidin dahulu adalah imam shalat dan bukan orang yang mengumandangkan adzan (muadzdzin). Jadi masuk akal bila kedudukan seorang imam shalat lebih tinggi dari kedudukan seorang muadzdzin. E. Syarat Adzan Untuk dibenarkannya adzan, maka ada beberapa syarat yang harus terpenuhi sebelumnya. Diantara syarat-syarat adzan adalah : 1. Telah Masuk Waktu Bila seseorang mengumandangkan adzan sebelum masuk waktu shalat, maka adzannya itu haram hukumnya sebagaimana telah disepakati oleh para ulama. Dan bila nanti waktu shalat tiba, harus diulang lagi adzannya. Kecuali adzan shubuh yang memang pernah dilakukan 2 kali di masa Rasulllah SAW. Adzan yang pertama sebelum masuk waktu shubuh, yaitu pada 1/6 malam yang terakhir. Dan adzan yang kedua adalah adzan yang menandakan masuknya

297

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

waktu shubuh, yaitu pada saat fajar shadiq sudah menjelang. 2. Harus Berbahasa Arab Adzan yang dikumandangkan dalam bahasa selain arab tidak sah. Sebab adzan adalah praktek ibadah yang bersifat ritual, bukan semata-mata panggilan atau menandakan masuknya waktu shalat. 3. Tidak Bersahutan Bila adzan dilakukan dengan cara sambung menyambung antara satu orang dengan orang lainnya dengan cara bergantian, hukumnya tidak sah. Sedangkan mengumandangkan adzan dengan beberapa suara vokal secara berberengan, dibolehkan hukumnya dan tidak dimakruhkan sebagaimana dikatakan Ibnu Abidin. Hal ini pertama kali dilakukan oleh Bani Umayyah. 4. Muslim, Laki, Akil Baligh. Adzan tidak sah bila dikumandangkan oleh non-muslim, wanita, orang tidak waras atau anak kecil. Sebab mereka semua bukan orang yang punya beban ibadah. Bahkan Al-Hanafiyah mensyaratkan bahwa orang itu tidak boleh fasik, bila sudah terjadi maka harus diulangi oleh orang lain yang tidak fasik. Al-Malikiyah mengatakan bahwa dia harus adil. 5. Tertib Lafaznya Tidak diperbolehkan untuk terbolak-balik dalam mengumandangkan lafadz adzan. Urutannya harus benar. Namun para ulama sepakat bahwa untuk mengumandangkan adzan tidak disyaratkan harus punya wudhu', menghadap kiblat, atau berdiri. Hukum semua itu hanya sunnah saja, tidak menjadi syarat sahnya adzan. Disunnahkan orang yang mengumandangkan adzan juga orang yang mengumandangkan iqamat. Namun bukan menjadi keharusan yang mutlak, lantaran di masa Rasululah SAW, Bilal

298

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

radhiyallahu anhu mengumandangkan adzan dan yang mengumandangkan iqamat adalah Abdullah bin Zaid, shahabat Nabi yang pernah bermimpi tentang adzan. Dan hal itu dilakukan atas perintah Nabi juga.4 F. Lafadz Adzan Ada beberapa versi adzan yang dipakai oleh para ulama. Hal itu karena memang ada beberapa versi hadits nabawi yang ternyata juga berbeda-beda. Titik perbedaannya ada pada jumlah takbir di awal adzan, dimana sebagian ulama menetapkan 4 kali takbir dan sebagian lainnya menetapkan hanya 2 kali takbir. 1. Empat Kali Takbir Mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa jumlah takbir di awal adzan empat kali, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abdullah bin Zaid yang bermimpi mendengar adzan, dan juga mimpi yang dialami oleh Umar bin Al-Khattab.5 Ketika isi mimpi tentang adzan itu diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau pun membenarkannya. Lafadz selengkapnya adalah :

Lihat kitab Nailul Authar jijlid 2 hal. 57, kitab Subulus Salam jilid 1 hal. 129, kitab Al-Mughny jilid 1 hal. 415-416 5 Al-Muhgni jilid 1 hal. 404
4

299

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

2. Dua Takbir Sedangkan adzan versi kedua adalah pendapat mazhab AlMalikiyah, yaitu hanya dua kali takbir di awal adzan. Pendapat ini juga didukung dua murid Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad. Dasarnya adalah praktek penduduk Madinah. Sebagaimana kita tahu bahwa diantara metode ijtihad mazhab Al-Malikiyah adalah amalu ahlil madinah () . Selain itu ternyata ada riwayat yang lain dari hadits Abdullah bin Zaid, yang ternyata disana hanya terdapat dua kali takbir di awalnya. 6 3. Tatswib Istilah tatswib maksudnya adalah penambahan lafadz khusus pada azdan shubuh, ( ) yang bermakna shalat itu lebih baik dari tidur. Lafadz ini ditambahkan setelah mengucapkan hayya alal-falah () . Hukum tatswib ini sunnah menurut jumhur ulama, dengan dasar hadits :

:
Sedangkan adzan shubuh, kamu mengucapkan : shalat itu lebih baik dari tidur, shalat itu lebih baik dari tidur. (HR. Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah)

Al-Badai jilid 1 hal. 147

300

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

Bilal radhiyallahuanhu sendiri mengatakan :


Rasululullah SAW memerintahkan Aku untuk bertatswib pada adzan shalat fajar, namun beliau melarang Aku bertatswib pada adzan Isya. (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmizi)

G. Sunnah Adzan Hal-hal yang disunnahkan dalam masalah adzan adalah berikut ini : 1. Bersuara Lantang Yang mengumandangkan adzan dianjurkan orang yang bersuara lantang dan bagus. Juga merupakan orang yang shalih, terpercaya, mengetahui waktu-waktu shalat dengan baik dan sudah baligh.
Pergilah kepada Bilal dan sampaikan apa yang kamu lihat dalam mimpi. Sesungguhnya Bilal itu suaranya lebih terdengar dari suaramu". (HR. Ahmad dan Abu Daud)

2. Tempat Tinggi Dianjurkan agar adzan dilakukan di tempat yang tinggi dekat masjid. Tentu saja tujuannya agar bisa lebih jauh terdengar. Di masa lalu orang-orang membangun bangunan yang tinggi seperti menara, lalu muadzdzin memanjat tempat tinggi itu untuk menjalankan tugasnya. Di masa sekarang ini, sistem pengeras suara sudah bisa dipasang di berbagai penjuru kota, sehingga pada hakikatnya sudah tidak lagi dibutuhkan bangunan menara yang tinggi untuk keperluan adzan. Kalau pun bangunan masjid masih saja memakai menara, kebanyakan hanya menekankan sisi artistiknya saja, sedangkan fungsinya tidak terlalu penting lagi. Kalau pun dibutuhkan bangunan yang tinggi untuk

301

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

meletakkan speaker pengeras, cukup dengan tower seperti tiang listrik PLN atau BTS operator celuler, yang lebih simple dan lebih murah. Cuma yang sedikit menjadi kendala dengan adanya teknologi pengeras suara adalah sisi syar'iyah suara adzan itu sendiri. Dalam hal ini, sebagian ulama mewajibkan bagi siapa saja yang mendengar suara adzan untuk mendatangi masjid. Di masa Rasullah SAW, adzan dikumandangkan tanpa bantuan sound system, jadi ada batas area terjauh yang masih terjangkau suara adzan.

- - : : : : :
Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata,"Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya,'Apakah kamu dengar adzan shalat?'. 'Ya', jawabnya. 'Datangilah', kata Rasulullah SAW. (HR. Muslim)

Tetapi di zaman sekarang, sound system itu membuat batasbatas tadi menjadi hilang. Batas terjauh jangkauan adzan menjadi hilang, dan setiap orang akan mendengar suara adzan dari masjid, dimana pun dan berapa pun jauhnya jaraknya. Bahkan kumandang adzan dari Masjid Al-Haram di Mekkah pun bisa kita dengar di Jakarta. Yang jadi kendala, apakah bila kita mendengar adzan dari masjid yang jaraknya 5 atau 10 km, juga wajib mendatangi masjid itu?

302

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

Lalu bagaimana dengan fenomena banyaknya masjid dan semua memakai pengeras suara? Lalu bersahut-sahutanlah suara adzan di penjuru kota. Lalu apakah kita harus mendatangi semua masjid itu? 3. Berdiri Dilakukan dengan berdiri dan dalam kondisi berwudhu'. Juga dianjurkan untuk meletakkan jarinya di telinganya agar kuat bersuara lantang. Juga disunnahkan menghadap ke kiblat kecuali pada lafaz hayya 'alash-shalah dan hayya 'alal falah, disunnahkan untuk memalingkan badan ke kanan dan ke kiri tanpa menggeser kakinya. Dalilnya adalah hadits berikut ini :

:
Dari Abi Juhaifah radhiyallahu anhu berkata,"Aku melihat Bilal mengumandangkan adzan dan mulutnya ke kanan dan ke sana dan kesini dan kedua jarinya berada pada kedua telinganya."(HR. Ahmad dan Tirmizy)

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan : Dan dia meletakkan jarinya berada pada telinganya.

Dalam riwayat Abu Daud disebutkan : beliau memalingkan lehernya ketika mengucapkan Hayya 'alash shalah ke kanan dan ke kiri tapi tidak berputar.

4. Awal Waktu Dilakukan di awal waktu shalat sehingga orang-orang bisa melakukan shalat lebih awal. 5. Menghadap Kiblat Mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah

303

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

berpendapat bahwa disunnahkan bagi orang yang melantunkan adzan untuk menghadap kiblat. Dasarnya karena para muadzdzin di masa Rasulullah SAW selalu menghadap kiblat. Hal itu disebutkan dalam hadits berikut ini :

Bahwa Bilal apabila bertakbir saat adzan menghadap kiblat.

H. Adzan Shubuh Dua Kali Tentang adzan subuh yang dikumandangkan dua kali. Adzan adalah pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan kalimat-kalimat tertentu. Adzan dikumandangkan di awal waktu, tanpa memajukan atau mengundurkannya, kecuali pada adzan subuh, maka dianjurkan memajukannya dari awal waktu jika dimungkinkan sehingga dapat membedakan antara adzan pertama dengan adzan kedua agar tidak simpang-siur. Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu menyatakan:
Bilal adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai terdengar Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan. [HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari kebolehan mendahulukan adzan Subuh dari waktunya adalah seperti yang diterangkan dalam Hadits riwayat Ahmad dan lainnya,


Dari Ibnu Masud bahwa Rasulullah SAW bersabda,Jangan sampai adzan Bilal menghentikan makan sahur kalian, karena dia adzan untuk mengingatkan orang yang shalat malam di masjid agar kembali ke rumah, dan untuk membangunkan orang yang tidur. (HR. Bukhari Muslim)

Dan dari nash-nash di atas, ada ulama yang cenderung

304

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

memahami bahwa adzan subuh dua kali hanya dilakukan ketika bulan Ramadlan. Imam Al Baihaqi berkata: Seluruh ulama membenarkan adanya adzan Shubuh yang dikumandangkan sebelum terbit fajar. Imam Nawawi dalam Syarah Muslim berkata : Para ulama menetapkan, bahwa Bilal ditugaskan membaca adzan sebelum fajar. Sesudah ia membacakan adzannya, duduklah ia menunggu fajar sambil berdzikir. Apabila terbit fajar, ia mengambil wudhu. Sesudah itu dia naik untuk membacakan adzan yang kedua di permulaan fajar (shubuh). Ibnu Hazm di dalam syarah Al-Muhalla berkata : Tidak boleh dilakukan adzan sebelum waktu shalat, selain shalat Shubuh saja. Untuk Shubuh boleh diadzankan dua kali, yang pertama sebelum terbit fajar, yang kedua setelah terbit fajar. Adzan yang kedua tidak boleh ditinggalkan, tidak boleh dicukupi dengan adzan yang pertama saja. Karena adzan yang pertama untuk sahur, yang kedua untuk shalat. Dalam Al Majmu Imam Nawawi berkata : Semua pengikut Syafii berpendapat, bahwa menurut sunnah adzan Shubuh dua kali, sekali sebelum fajar dan sekali sesudahnya. Dan amat utama dilakukan oleh dua muadzin. Seorang untuk sebelum shubuh dan seorang sesudah fajar. Dinukilkan oleh Ibnu Jarir bahwa para ulama telah berijma menetapkan adzan sebelum waktu tidaklah sah. Hendaklah adzan itu dilakukan apabila telah masuk waktu, kecuali untuk shalat shubuh. Untuknya sah dilakukan adzan sebelum waktunya. Demikianlah pendapat Malik, Asy Syafii, Ahmad, Al Auzai, Abu Yusuf, Abu Tsaur, Ishaq dan Daud. Imam Malik, Asy Syafii, Ahmad, Al Auzai, Abu Yusuf, Abu Tsaur, Ishaq, Daud dan jumhur ulama menetapkan : Dua Adzan untuk shalat shubuh. I. Adzan Selain untuk Shalat Sebagian ulama khususnya para ulama dalam mazhab Asy-

305

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Syafiiyah memandang bahw selain berfungsi untuk memanggil orang-orang untuk shalat berjamaah, adzan juga boleh dikumandangkan dalam konteks di luar shalat. Dr. Wahbah Az-Zuhaily, ulama kontemporer abad 20 menuliskan dalam kitabnya Al-Fiqhul Islami Wa Adillathu bahwa selain digunakan untuk shalat, adzan juga dikumandangkan pada beberapa even kejadian lainnya, seperti : 7 1. Kelahiran Bayi Mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah menyunnahkan adzan untuk bayi yang baru lahir, yaitu pada telinga kanan dan iqamat dikumandangkan pada telinga kirinya. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

:
Selain itu juga ada hadits lainnya :

Abu Rafi meriwayatkan : Aku melihat Rasulullah SAW mengadzani telinga Al-Hasan ketika dilahirkan oleh Fatimah. (HR. At-Tirmizy) 8


Orang yang mendapatkan kelahiran bayi, lalu dia mengadzankan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, tidak akan celaka oleh Ummu Shibyan. (HR. Abu Yala Al-Mushili)9

Ummu shibyan adalah sebutan untuk sejenis jin yang mengganggu anak kecil. Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz apabila mendapatkan kelahiran anaknya, beliau mengadzaninya pada

Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu jilid 1 hal. 720-721 Dengan sanad yang shahih sebagaimana tertulis pada kitab Tuhfatul Ahwadzi jilid 5 hal. 107 9 Hadits ini terdapat dalam kitab Musnad Abu Yala Al-Mushili. AL-Munawi mengatakan bahwa isnadnya lemah.
7 8

306

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 4 : Adzan

telinga kanan dan mengiqamatinya pada telinga kiri.10 Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menuliskan dalam kitabnya, Tuhfatul maudud bi ahkamil maulud, bahwa adzan pada telinga bayi dilakukan dengan alasan agar kalimat yang pertama kali didengar oleh seorang anak manusia adalah kalimat yang membesarkan Allah SWT, juga tentang syahadatain, dimana ketika seseorang masuk Islam atau meninggal dunia, juga ditalqinkan dengan dua kalimat syahadat.11 Selain mazhab Asy-Syafiiyah, umumnya ulama tidak menyunnahkannya, meski mereka juga tidak mengatakannya sebagai bidah. Mazhab Al-Hanafiyah menuliskan masalah adzan kepada bayi ini dalam kitab-kitab fiqih mereka, tanpa menekankannya. Namun mazhab Al-Malikiyah memkaruhkan secara resmi dan mengatakan bahwa adzan pada bayi ini hukumnya bidah. Walau pun ada sebagian ulama dari kalangan Al-Malkiyah yang membolehkan juga.12 2. Kebakaran Mazhab Asy-Syafi'iyah memangkan bahwa disunnahkan juga melantunkan adzan pada waktu terjadi kebakaran, dimana api berkobar melahap apa saja yang ada di sekitarnya. Dasarnya adalah bertabarruk kepada adzan dari berbagai bencana dahsyat yang menimpa. 3. Perang Mazhab Asy-Syafi'iyah juga memasukkan perang sebagai salah satu momentum untuk disunnahkan adzan. 4. Terkena Pengaruh Jin
Juga adzan dikumandangkan pada seseorang yang terkena pengaruh jin dan syetan (kesurupan). Sebab syetan akan lari bila mendengar suara adzan.
Ditakhrij oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannif jilid 4 hal. 3336 Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Tuhfatul maudud bi ahkamil maulud, hal. 22. 12 Nihayatul Muhtaj jilid 3 hal. 133
10 11

307

Bab 3 : Makmum

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Dasarnya adalah hadits berikut ini :

Sesungguhnya setan itu kalau mendengar suara adzan dia akan kabur (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Musafir
Mazhab Asy-syafi'iyah juga mensunnahkan bila adzan dikumandangkan di bagian belakang orang yang akan bepergian (musafir). Dan pemandangan ini sering kita lihat ketika ada orang mau berangkat pergi haji.

6. Memasukkan Mayat ke Dalam Kubur


Sebagian ulama juga membolehkan kumandang adzan pada saat menurunkan mayyit ke dalam liang kuburnya. Alasannya karena merupakan qiyas dari kelahiran, dimana seolah-olah mayyit itu baru lahir di alam barzakhnya.

Namun sebagian dari ulama mazhab Asy-Syafi'i ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak disunnahkan.
Namun semua hal di atas umumnya lebih merupakan ijtihad menyendiri dari mazhab Asy-Syafi'iyah. Sementara beberapa mazhab yang lain memandang perbuatan itu sebagai bid'ah, karena tidak adanya nash yang sharih tentang hal itu, baik dari Al-Quran atau dari sunnah nabawiyah.

308

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 5 : Iqamah

Bab 5 : Iqamah

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah

B. Hukum
1. Sunnah Muakkadah 2. Fardhu Kifayah

C. Lafadz Iqamah D. Syarat Buat Yang Melantunkan Iqamah


1. Islam 2. Laki-laki 3. Baligh 4. Berakal 5. Suci Dari Hadats

E. Sunnah Dalam Iqamah


1. Mempercepat Iqamah 2. Berdiri 3. Menghadap Kiblat 4. Pelantun Adzan 5. Menjawab Iqamah

F. Shalat Yang Tidak Disyariatkan Iqamah


1. Shalat Fardhu 2. Selain Shalat Fardhu

A. Pengertian

309

Bab 5 : Iqamah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

1. Bahasa Istilah iqamah ( )secara bahasa bermakna banyak, diantaranya adalah bermakna panggilan, berdiam atau bermukim dan juga bermakna menegakkan. 2. Istilah Dalam kajian ini, yang Penulis maksud dengan istilah iqamah adalah panggilan untuk segera memulai shalat berjamaah. Sebagaimana yang didefinisikan oleh para ulama :


Pemberitahuan kepada hadirin yang sudah siap untuk memulai ibadah shalat, dengan lafadz dan sifat-sifat tertentu. 1

B. Hukum Hukum mengumandangkan iqamah dalam pandangan para ulama ada perbedaan, sebagian mengatakan hukumnya sunnah muakkadah dan ada juga yang mewajibkannya dengan fardhu kifayah. 1. Sunnah Muakkadah Mazhab Al-Hanafiyah Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah memfatwakan bahwa mengumandangkan iqamah sebelum shalat hukumnya sunnah muakkadah. Dasarnya adalah petunjuk Rasulullah SAW kepada orang Arab yang salah dalam shalatnya, dimana beliau memerintahkan untuk melakukan ini dan itu, namun tidak termasuk di dalamnya mengumandangkan iqamah. Sehingga atas dasar itu maka iqamah bukan kewajiban, melainkan hanya sunnah yang amat dianjurkan (muakkadah). 2. Fardhu Kifayah
1

Fathul Qadir jilid 1 hal. 178

310

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 5 : Iqamah

Sedangkan mazhab Al-Hanabilah memfatwakan bahwa hukum melantunkan iqamah adalah fardhu kifayah. Artinya, bila seseorang telah melakukannya, gugurlah kewajiban bagi semua. Namun sebaliknya, bila tak seorang pun dari mereka ada yang melakukannya, maka semuanya justru akan terkena dosanya. Dasarnya bahwa dalam pandangan mazhab ini, iqamah termasuk bagian dari syiar agama Islam yang harus ditegakkankan, sebagaimana shalat berjamaah di masjid, jihad fi sabilillah dan juga kumandang adzan. Sehingga bila tak seorang pun muslim yang melakukannya, semuanya akan ikut berdosa. C. Lafadz Iqamah Lafadz iqamah sesungguhnya mirip sekali dengan adzan, kecuali ada penambahan lafadz tertentu, yaitu kalimat qad qamatisshalah ( ) setelah lafadz hayya 'alashshsalah. Perbedaannya pada masalah jumlah pengulangan dari masing-masing kalimat itu, dimana adzan dicuapkan dua kali dua kali, sedangkan iqamah diucapkan hanya sekali saja. Hal itu berdasarkan hadits berikut ini :

Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu bahwa Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah. (HR. Bukhari)


Dari Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu bahwa lafadz adzan pada masa Rasulullah SAW dua kali dua kali, sedangkan lafadz iqamah sekali sekali. (HR. Abu Daud dan An-Nasa'i)

Seluruh ulama sepakat bahwa urut-urutan lafadz iqamah

311

Bab 5 : Iqamah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

sama dengan urutan pada lafadz adzan. Namun mereka tidak sepakat pada masalah pengulangan tiap kalimatnya.

-
Jumhur ulama yaitu mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah berada dalam satu pendapat tentang pengulangannya lafadz Allahu Akbar yaitu dua kali. Sedangkan dalam pandangan mazhab Al-Hanafiyah lafadz Allahu Akbar diulang hingga menjadi 4 kali.

-
Ketiga mazhab di atas juga mengatakan bahwa lafadz Asyhadu Anlailaaha illallah dan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullahha masing-masing dibaca cukup satu kali. Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa masing-masing lafadz itu dibaca dua kali.

-
Ketiga mazhab melafazkannya masing-masing sekali, namun mazhab Al-Hanabilah melafazkannya masing-masing dua kali.

-
Yang agak berbeda pada bagian ini. Disini, justru mazhab Al-Hanafiyah kompak dengan dua mazhab lainnya, yaitu AsSyafi'iyah dan Al-Hanabilah dengan mengatakan bahwa lafadz ini dibaca dua kali. Dan giliran mazhab Al-Malikiyah yang berbeda dengan yang lain, dimana mazhab ini mengatakan bahwa lafadz ini diucapkan hanya sekali saja.

-
312

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 5 : Iqamah


Sedangkan untuk dua kalimat akhir yaitu Allahu Akbar dan Lailahaillah, keempat mazhab kompak mengatakan bahwa takbirnya dua kali. Sedangkan penutupnya yaitu lafadz lailahaillah dibaca cukup sekali saja. D. Syarat Buat Yang Melantunkan Iqamah Untuk sahnya iqamah ketika dilantunkan, maka orang yang melantunkannya harus memenuhi syarat-syarat berikut ini : 1. Islam Seorang yang melantunkan iqamah, sebagaimana juga disyaratkan dalam adzan, haruslah seorang muslim. Sehingga iqamah yang dilantunkan oleh orang yang murtad, atau seorang yang aslinya memang bukan muslim, hukumnya tidak sah. 2. Laki-laki Disyaratkan buat yang melantunkan iqamah harus berjenis kelamin laki-laki. Lalu bagaimana dengan perempuan, bolehkah atau sahkah bila melantunkan iqamah? Seluruh ulama sepakat bahwa wanita diharamkan melantunkan iqamah ketika jamaah shalat itu ada laki-lakinya. Namun bila seluruhnya perempuan, maka para ulama berbeda pendapat : Mazhab Al-Hanafiyah memakruhkannya dan tidak sampai mengharamkannya. Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengatakan hukumnya mustahab (disukai). Sedangkan mazhab Al-Hanabilah membolehkannya. 2 3. Baligh Umumnya para ulama dalam mazhab Al-Hanafiyah, AlMalikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sepakat dalam mazhab pendapat yang kuat, bahwa orang yang melantunkan
2

Al-Fatawa Al-Hindiyah jilid 1 hal. 54

313

Bab 5 : Iqamah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

iqamah harus yang sudah baligh. Lalu bagaimana dengan anak kecil yang belum baligh, apakah sah? Sebagian kecil dari ulama mazhab itu ada yang membolehkan, asalkan anak itu sudah mumayyiz, namun hukumnya tetap makruh. 4. Berakal Sepakat seluruh ulama bahwa orang yang melantunkan iqamah haruslah orang yang akalnya waras. Sehingga bila ada orang gila atau mabuk melantunkan iqamah, hukumnya tidak sah. Untuk itu tetap harus diulangi lagi iqamahnya. 5. Suci Dari Hadats Para ulama sepakat mensyaratkan bagi yang melantunkan iqamah uttuk suci dari hadats kecil maupun hadatas besar. Bila terlanjur dilantunkan oleh seseorang yang batal wudhu'nya, maka iqamah itu harus diulangi lagi. E. Sunnah Dalam Iqamah Ketika melantunkan melakukan hal-hal berikut : 1. Mempercepat Iqamah Disunnahkan dalam melantunkan iqamah untuk mempercepatnya. Sedangkan dalam adzan, yang disunnahkan adalah memperlamanya. Hal itu diungkapkan dalam hadits berikut ini : iqamah, disunnahkan untuk

Bila kamu melantunkan adzan maka perlambatlah namun bila kamu melantunkan iqamah maka percepatlah. (HR. Tirmizy)

2. Berdiri Disunnahkan bagi yang melantunkan iqamah untuk berdiri dengan tegak. Dan makruh hukumnya bila hanya dilakukan

314

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 5 : Iqamah

sambil duduk, kecuali bila memang yang bersangkutan punya udzur syar'i. 3. Menghadap Kiblat Seluruh ulama sepakat menyunnahkan untuk menghadap kiblat ketika seseorang melantunkan iqamah. 4. Pelantun Adzan Diutamakan dalam mazhab Asy-Syafi'iyah dan AlHanabilah buat orang yang melantunkan iqamah adalah orang yang sebelumnya telah melantunkan adzan. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

:
Dari Al-Harits Ash-Shuda'i berkata bahwa Rasulullah SAW mengutus Bilal untuk suatu keperluan, dan beliau SAW memerintahkan Aku untuk melantunkan adzan, maka Aku pun melakukannya. Kemudian Bilal kembali dan akan melantunkan iqamah, namun beliau SAW mencegahnya seraya berkata,"Saudara Shida' telah melantunkan adzan, maka biarlah dia yang melantunkan iqamah". (HR. Ibnu Majah) 3

Namun adzan dan iqamah dilantunkan oleh dua orang yang berbeda tidak salah juga. Dalam hal ini mazhab Al-Malikiyah mengatakan tidak mengapa. Dasarnya karena ada hadits yang membolehkan adzan dikumandangkan oleh seseorang, dan iqamah dilantunkan oleh orang lain lagi.

Hadits ini menurut Ibnu Hajar adalah hadits yang lemah sebagaimana disebutkan dalam AtTalkhish jilid 1 hal. 209

315

Bab 5 : Iqamah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

: : . :
Dari Abdillah bin Zaid radhiyallahuanhu bahwa dirinya telah bermimpi (tentang adzan). Lalu dia mendatangi Rasulullah SAW dan memberi khabar pada beliau, beliau pun bersabda,"Berikan kepada Bilal". Maka diberikan kepada Bilal dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Namun Abdullah bin Zaid menjawab,"Tapi saya yang mendapat mimpi itu dan Saya menginginkannya". Maka Rasulullah SAW pun menjawab, "Lantunkanlah iqamah". (HR. Abu Daud)

5. Menjawab Iqamah Kecuali mazhab Al-Hanafiyah, seluruh mazhab memfatwakan bahwa bagi orang yang mendengar lantunan iqamah disunnahkan untuk menjawabnya, sebagaimana menjawab ketika mendengar alunan suara adzan. Jawabannya adalah lafadz yang sama, ketika dibacakan lafadz takbir, maka dijawab dengan takbir. Ketika dibacakan tasyahhud, maka dijawab juga dengan tasyahhud. Namun ketika dibacakan lafadz hayya allshalah dan hayya alal-falah, jawabannya adalah hauqalah, yaitu bacaan la haula wala quwwata illa billah ( ) . Sedangkan ketika sampai pada bacaan qad qamatish-shalah, jawabannya adalah ( ), aqamahllahu wa adaamaha, yang artinya semoga Allah menegakkannya dan melanggengkannya. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

: :
Bilal melantunkan iqamah. Ketika sampai pada lafadz qad qamatish-shalah, Nabi SAW menjawab : aqamallahu adamaha. (HR. Abu Daud dan Tirmizy)

F. Shalat Yang Tidak Disyariatkan Iqamah

316

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 5 : Iqamah

Tidak semua shalat disyariatkan untuk dilantunkan iqamah sebelumnya. Hanya shalat tertentunya saja, yaitu shalat fardhu lima waktu, termasuk di dalamnya shalat Jumat. 1. Shalat Fardhu Dalam shalat lima waktu tetap disunnahkan adzan dan iqamah meski pun dilakukan dalam keadaan safar (perjalanan), baik dikerjakan secara berjamaah ataupun dikerjakan sendirian.
Shalat Sendirian

Meski pun seseorang mengerjakan shalat fardhu sendirian, namun kesunnahkan untuk melantunkan adzan dan iqamah tetap berlaku, sebagimana disebutkan dalam hadits nabawi berikut ini :

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahuanhu berkata bahwa dirinya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Tuhan kalian mengagumi seorang penggembala kambing di puncak gunung, dia mengumandangkan adzan dan melantunkan iqamah lantas melakukan shalat. Dan Allah azza wa jalla berfirman,"Lihatlah hamba-Ku ini, dia adzan dan iqamah serta melaksanakan shalat karena takut pada-Ku. Dan aku telah ampuni hamba-Ku dan kumasukkan dia ke dalam surga. (HR. An-Nasa'i dan Abu Daud ) Shalat Jama'

Namun khusus untuk shalat yang dijama', cukup dilantunkan adzan sekali saja, sedangkan iqamah tetap dilantunkan setiap memulai shalat.
Shalat Qadha'

Demikian juga bila shalat fardhu itu sudah terlewat, ketika melakukan qadha' atasnya tetap disyariatkan untuk dilantunkan adzan dan iqamat.

317

Bab 5 : Iqamah

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Dasarnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika terlewat 4 waktu shalat sekaligus, Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya'. Hal itu lantaran disibukkan oleh orang kafir dalam perang Khandaq di tahun kelima Hijriyah. Maka beliau baru sempat mengerjakan keempat shalat itu setelah tengah malam. Dan ternyata tiap masing-masing shalat itu dimulai dengan adzan dan iqamah sendiri-sendiri. 2. Selain Shalat Fardhu Sedangkan shalat yang lainnya meski pun disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah, namun shalat itu disyariatkan untuk dilantunkan iqamah dan adzan sebelumnya, di antaranya : Shalat Jenazah Shalat Tahajjud Shalat Witir Shalat Idul Fithr dan Idul Adha Shalat Gerhana matahari dan bulan Shalat Istisqa' Dalil yang mendasari tidak adanya adzan atau iqamah adalah hadits tentang tidak dilantunkannya adzan dan iqamat dalam shalat Ied berikut ini :

Dari Jabi bin Abdillah radhiyallahuanhu berkata,"Aku shalat Ied bersama Nabi SAW bukan hanya sekali dua kali, semua tidak pakai adzan atau iqamah. (HR. Muslim)

Juga dalil tentangtidak dilantunkannya adzan atau pun iqamat dalam shalat gerhana matahari atau gerhana bulan.

Telah terjadi gerhana pada masa Rasulullah SAW, maka beliau

318

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 5 : Iqamah

mengutus orang yang memanggil : ashshalatu jami'ah (HR. Bukhari dan Muslim)

319

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

Bab 6 : Shalat Jumat

Ikhtishar
A. Pensyariatan
1. Turun Wahyu Di Madinah 2. Turun Wahyu di Masa Mekkah

B. Dalil Pensyariatan
1. Al-Quran 2. As-Sunnah

C. Syarat Sah Sekaligus Syarat Wajib


1. Tempat 2. Izin Penguasa 3. Masuk Waktu

D. Syarat Wajib
1. Al-Iqamah bi Mishr 2. Laki-laki 3. Sehat 4. Baligh 5. Merdeka

E. Syarat Sah
1. Khutbah 2. Berjamaah 3. Tidak Ada Jamaah Ganda

F. Bacaan Pada Shalat Jumat


1. Surat Al-Jumuah dan Al-Munafiqun 2. Surat Al-A'la dan Al-Ghsyiyah

G. Adzan Shalat Jumat


1. Adzan Satu Kali

321

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

2. Adzan Dua Kali

H. Khutbah Jumat
1. Hukum 2. Syarat 3. Rukun

I. Shalat Sunnah Ba'diyah dan Qabliyah


1. Disunnahkan 2. Tidak Disunnahkan

J. Kasus-kasus Shalat Jumat


1. Bolehkah Dilaksanakan Bukan di Masjid? 2. Tertinggal Shalat Jumat 3. Shalat Dzhur Setelah Shalat Jumat?

A. Pensyariatan Ada sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kapan pertama kali shalat Jumat ini disyariatkan. 1. Turun Wahyu Di Madinah Pendapat pertama mengatakan bahwa pertama kali disyariatkan shalat Jumat adalah di Madinah Al-Munawarah, ketika Rasulullah SAW sudah tiba disana. Saat itu turunlah ayat kesembilan dari surat Al-Jumuah.


Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al-Jumuah : 9)

Namun shalat Jumat pertama kali dalam sejarah tidak dilakukan di Masjid Nabawi, melainkan di dalam masjid Kabilah Bani Salim bin Auf, yang terletak di tengah-tengah

322

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

lembah tempat tinggal kaum itu. Menurut pendapat pertama ini, tempat kejadiannya adalah ketika Rasulullah SAW melewati kabilah itu dalam perjalanan beliau menjelang sampai ke tengah kota Madinah, namun saat itu belum sampai mendirikan masjid An-Nabawi. 2. Turun Wahyu di Masa Mekkah Versi kedua menyebutkan bahwa turunnya perintah untuk mengerjakan shalat Jumat ini bukan pada saat Rasullah SAW di Madinah. Justru turunnya ketika beliau SAW masih di Mekkah, namun sebagian dari para shahabat sudah ada yang mulai berhijrah ke Madinah dan mulai membangun masyarakat Islam disana. Lantas Rasulullah SAW memerintahkan para shahabat di Madinah untuk mulai mengerjakan shalat Jumat, yang saat itu dipimpin pertama kali oleh As'ad bin Zurarah radhiyallahuanhu. Saat itulah disebut-sebut sebagai pertama kali diselenggarakan shalat Jumat dalam masa kenabian Muhammad SAW, justru tanpa kehadiran beliau SAW. Rasulullah SAW sendiri saat itu masih di Mekkah, dan keadaan beliau saat itu di Mekkah tidak dimungkinkan untuk mengerjakan shalat Jumat dengan para shahabat. Alasannya menurut sebagian ulama, seperti yang dituliskan oleh As-Sayyid Al-Bakri dalam Fathul Mu'in, adalah karena jumlah umat Islam yang tersisa di Mekkah saat kurang dari 40 orang, sehingga kewajiban shalat Jumat menjadi gugur.1 Alasan lain menurut sebagian ulama yang lain adalah karena kota Mekkah saat itu belum terhitung sebagai negeri Islam, sehingga kewajiban untuk mengerjakan shalat Jumat tidak berlaku. B. Dalil Pensyariatan Shalat Jumat disyariatkan di dalam Al-Quran Al-Kariem, As-sunnah an-Nabawiyah dan juga atas dasar ijma' seluruh
1

As-Sayyid Al-Bakri, Fathul Muin, jilid 2 hal. 52

323

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

umat Islam. Para ulama telah berijma' bahwa siapa yang mengingkari kewajiban shalat jumat, maka dia kafir karena mengingkari AlQuran dan As-Sunnah. 1. Al-Quran Di dalam Al-Quran, pensyariatan shalat jumat disebutkan di dakam sebuah surat khusus yang dinamakan dengan surat AlJumu'ah. Disana Allah telah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan shalat jumat sebagai bagian dari kewajiban dan fardhu 'ain atas tiap-tiap muslim yang memenuhi syarat.

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al-Jumuah : 9)

Di dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan umat Islam apabila dipanggil untuk mengerjakan shalat di hari Jumat, untuk segera berjalan mendatangi dzikrullah. Para ulama berbeda pendapat tentang makna kata dzikrullah ini. Sebagian mengatakan bahwa makna kata dzikrullah adalah shalat Jumat itu sendiri. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa makna dzikrullah adalah dua buah khutbah Jumat. 2. As-Sunnah Ada banyak hadits nabawi yang menegaskan kewajiban shalat jumat. Diantaranya adalah hadits berikut ini :


Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah

324

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

SAW bersabda,"Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang, yaitu budak, wanita, anak kecil dan orang sakit." (HR. Abu Daud)2

Dari Abi Al-Ja'd Adh-dhamiri radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah akan menutup hatinya." (HR. Abu Daud, Tirmizy, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)


Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa mereka mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar,"Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lupa".(HR. Muslim, An-Nasai dan Ahmad)

Berdasarkan riwayat di atas, meninggalkan shalat jumat termasuk dosa-dosa besar. Al-Hafidz Abu Al-Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh dalam kitabnya Ikmalul Mulim Bifawaidi Muslim berkata: Ini menjadi hujjah yang jelas akan kewajiban pelaksanaan shalat Jumat dan merupakan ibadah Fardhu, karena siksaan, ancamam, penutupan dan penguncian hati itu ditujukan bagi dosa-dosa besar (yang dilakukan), sedang yang dimaksud dengan menutupi di sini adalah menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan hidayah sehingga tidak bisa mengetahu mana yang baik dan mana yang munkar. 3 C. Syarat Sah dan Juga Syarat Wajib

Imam An-Nawawi berkata bahwa isnadnya shahih sesuai dengan syarat dari Bukhari. Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang menshahihkan hadits itu bukan hanya satu orang 3 Salah satu kitab penjelasan Shahih Muslim. Penjelasan ini pada jilid III hal. 265
2

325

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Kita biasa mengenal ada syarat sah dan syarat wajib. Syarat sah adalah syarat yang apabila ditinggalkan, maka suatu ibadah menjadi tidak sah. Sedangkan syarat wajib, adalah apabila tidak tersedia, suatu ibadah menjadi tidak wajib untuk dikerjakan. Dalam kasus Shalat Jumat ini, ada tiga macam syarat. Pertama, syarat sah dan sekaligus juga pada saat yang sama menjadi syarat wajib. Kedua, syarat wajib saja. Ketiga, syarat sah saja. Hal-hal yang termasuk syarat sah sekaligus menjadi syarat wajib antara lain : 1. Tempat Para ulama sepakat menetapkan bahwa adanya tempat tertentu untuk dilaksanakannya Shalat Jumat, menjadi syarat sah sekaligus menjadi syarat wajib. Artinya, bila kriteria tempat itu tidak memenuhi syarat sah dan syarat wajib, maka selain tidak sah dikerjakan, shalat Jumat juga menjadi tidak wajib 2. Izin Penguasa Izin penguasa atau kehadiran mereka, atau kehadiran perwakilan dari penguasa merupakan syarat sah dan syarat wajib shalat Jumat bagi mazhab Al-Hanafiyah. Adapun ketiga mazhab yang lain, yaitu Al-Malikiyah, Asysyafi'iyah dan Al-Hanabilah, ketiganya sama sekali tidak mensyaratkannya urusan kehadiran atau izin dari penguasa. Alasan yang dikemukakan mazhab Al-Hanafiyah tentang syarat ini bahwa praktek shalat Jumat di masa Rasulullah SAW dan di masa keempat khalifahnya selalu dihadiri oleh penguasa, atau atas seizin penguasa. 3. Masuk Waktu Syarat wajib dan syarat sah yang ketiga adalah masuknya waktu Jumat. Bila waktu sudah masuk, maka shalat Jumat hukumnya wajib dan sah untuk dikerjakan. Namun dalam hal waktu untuk mengerjakan shalat Jumat, ada perbedaan pendapat.

326

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

a. Jumhur Ulama Jumhur ulama yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah menyebutkan bahwa syarat wajib dan syarat sah shalat Jumat hanya berlaku manakala waktu shalat Dzhuhur sudah masuk hingga habisnya waktu shalat Dzhuhur, yaitu dengan masuknya waktu shalat Ashar. b. Mazhab Al-Hanabilah Sedangkan mazhab Al-Hanabilah berbeda pendapat dengan ketiga mazhab lainnya dalam hal ini. Mazhab berpendapat bahwa kewajiban untuk mengerjakan shalat Jumat sudah berlaku sejak pagi, yaitu sejak selesai shalat iedul fithr atau iedul adha. Dasar pendapat mazhab ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Sidan radhiyallahuanhu berikut ini :


Dari Abdullah bin Sidan berkata,"Aku ikut shalat Jumat bersama Abu Bakar, khutbah dan shalatnya dilakukan sebelum pertengahan siang". (HR. Ad-Daruquthny)

Selain itu juga ada hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahuanhu.


Dan diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud, Jabir, Saad dan Muawiyah radhiyallahuanhum, bahwa mereka shalat Jumat sebelum zawal, atau sebelum masuk waktu Dzhuhur. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.

Dari Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah SAW shalat Jumat kemudian kami mendatangi unta-unta kami ketika matahari zawal (masuk waktu Dzhuhur). (HR. Muslim)

327

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Namun demikian, dalam pandangan mazhab Al-Hanabilah ini tetap saja yang lebih utama adalah mengerjakan shalat Jumat setelah zawal, sebagaimana pendapat jumhur ulama. D. Syarat Wajib Syarat diwajibkannya shalat jumat adalah kewajiban shalat Jumat berlaku untuk sebagian dari umat Islam. Sebagian lagi tidak diwajibkan, yaitu para wanita, orang sakit, anak-anak, musafir, budak. 4 Di antara dalil-dalil yang dijadikan sandaran atas hal ini adalah hadits-hadits berikut ini :

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajiblah atas mereka shalat Jumat, kecuali orang sakit, musafir, wanita, anak-anak dan hamba sahaya. (HR. Ad-Daruqutny)

:
Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas empat orang, yaitu budak, wanita, anak-anak dan orang sakit." (HR. Abu Daud)5

1. Al-Iqamah bi Mishr Syarat al-iqamah bi mishr ( ) maksudnya adalah shalat Jumat wajib dilaksanakan oleh orang-orang yang beriqamah atau bermukim pada suatu negeri, kampung atau wilayah yang
4 5

Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd Al-Hafid jilid 1 hal. 380 Imam An-Nawawi berkata bahwa isnadnya shahih sesuai dengan syarat dari Bukhari. Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang menshahihkan hadits itu bukan hanya satu orang

328

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

lazim dihuni manusia. Setidak-tidaknya ada dua hal yang menjadi syarat wajib shalat Jumat, yaitu yang terkait dengan tempat atau mishr (), dan orang yang mengerjakan shalat. a. Al-Iqamah Makna al-iqamah ( ) maksudnya adalah berdiam, bermukim atau bertempat tinggal, sebagai lawan dari musafir. Maka yang diwajibkan untuk shalat Jumat terbatas pada mereka yang statusnya mukim dan bukan musafir. Shalat Jumat tidak wajibkan atas musafir yang sedang dalam perjalanan. Kalau dikatakan tidak diwajibkan maksudnya musafir tidak harus shalat Jumat. Tetapi bila dalam perjalanan musafir ikut dalam sebuah shalat Jumat, hukumnya sah dan tidak perlu mengerjakan shalat Dzhuhur. Batasan musafir adalah orang yang keluar dari negeri atau wilayah tempat tinggalnya, dengan tujuan tertentu yang pasti dan minimal berjarak 4 burud, atau kurang lebih 89 km. Dasar ketentuan minimal empat burud ini adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai penduduk Mekkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 burud, dari Mekkah ke Usfan". (HR. Ad-Daruquthuny)

Namun bila seorang musafir berniat untuk bermukim atau tinggal di suatu negeri dalam perjalanannya itu, maka status kemusafirannya pun berganti menjadi muqim. Dan sejak saat itu dia wajib mengerjakan shalat Jumat. Status kemusafiran juga akan habis bila seorang musafir berhenti di suatu negeri minimal 4 hari, di luar hari kedatangan dan kepulangan. Seorang yang bertugas ke luar kota lalu menetap di kota lain, dia masih berstatus musafir selama 4 hari saja, setelah itu bila masih menetap di kota itu, sudah dianggap

329

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

bermuqim. Status kemusafiran juga habis begitu sang musafir kembali ke negerinya. Oleh karena itu wajiblah atasnya untuk mengerjakan shalat Jumat bila sudah sampai negerinya. b. Mishr Istilah mishr ( )bukan berarti negara Mesir. Tetapi yang dimaksud sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab fiqih adalah :6


Negeri (kampung) yang besar, di dalamnya ada jalan-jalan dan pasar, serta adanya wali (hakim atau penguasa) yang mampu untuk membela orang yang dizalimi dari orang yang menzalimi, dimana orang-orang merujuk kepadanya dalam berbagai masalah.

Mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah mensyaratkan bahwa tempat itu harus ada bangunan yang bersifat permanen, baik terbuat dari kayu, batu, tanah liat, atau bahan-bahan yang lazim digunakan untuk perumahan atau pemukiman penduduk. Tempat mukim itu bukan tempat yang kadang-kadang ditinggal oleh penghuninya pada musim-musim tertentu, tetapi sepanjang tahun baik di musim dingin atau musim panas, tetap dijadikan tempat tinggal oleh penduduknya. Maka tempat tinggal yang bersifat sementara atau darurat tidak termasuk kategori tempat bermukim, sehingga tidak wajib diadakan shalat Jumat, seperti rumah orang penghuni sementara yang berpindah-pindah seperti di padang pasir, hutan, semak belukar atau pun lautan, mereka dianggap bukan sebagai tempat bermuqim. Oleh karena itu mereka tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat.
6

Badai'ushshanai', jilid 1 hal. 260

330

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

Bila seorang muslim berada di tempat yang bukan tempat bermukim yang lazim seperti itu, maka tidak ada kewajiban untuk mengerjakan shalat Jumat. 2. Laki-laki Yang diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat sebatas hanya yang berjenis kelamin laki-laki saja, sedangkan wanita tidak diwajibkan untuk shalat jumat. Namun bila seorang wanita mengerjakan shalat Jumat, maka kewajiban shalat zuhurnya telah gugur dan tidak perlu shalat zhuhur lagi. Di beberapa negara Islam, wanita pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Jumat dianggap lazim. Namun di Indonesia memang lazimnya para wanita tidak ikut shalat Jumat. Ada beberapa pertimbangan yang melatar-belakangi kecenderungan ini. Misalnya yang paling utama adalah faktor tidak cukupnya ruangan masjid bila harus menampung jamaah wanita. Khususnya bila kita lihat di perkotaan. Namun di pedesaan yang jumlah penduduknya sedikit, ada beberapa wanita yang ikut shalat Jumat. Dan hukumnya sah tidak ada larangan. 3. Sehat Yang diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat hanya mereka yang dalam keadaan sehat secara fisik. Sedangkan orang sakit dan tidak mampu untuk datang ke masjid, mereka tidak diwajibkan untuk shalat jumat. Untuk itu mereka tetap wajib mengerjakan shalat Dzhuhur, karena tetap merupakan kewajiban. 4. Baligh Yang diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat hanya mereka yang sudah berusia baligh. Sedang anak-anak yang belum baligh, tidak diwajibkan untuk datang ke masjid mengerjakan shalat jumat. Namun bila anak-anak yang belum baligh ini ikut dalam shalat Jumat dengan memenuhi rukun dan ketentuannya,

331

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

shalatnya sah dan di sisi Allah SWT menjadi shalat sunnah. 5. Merdeka Yang diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat sebatas orang-orang yang merdeka, yaitu selain hamba sahaya. Para budak dan hamba sahaya bukan termasuk mereka yang diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat. Namun ada ketentuan yang berlaku dalam masalah ini, antara lain : a. Izin Dari Tuan Tidak wajibnya hamba sahaya dan budak atas shalat Jumat hanya berlaku manakala tuan mereka memang tidak mengizinkan. Namun bila tuan mereka mengizinkan, maka hukum shalat Jumat menjadi wajib atas mereka. b. Budak Mukatab Seorang budak yang mukatab tetap diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jumat. Budak mukatab adalah budak yang sedang mencicil atau mengansur pembelian dirinya kepada tuannya. Dan syariat Islam sangat menganjurkan kita untuk membantu para budak untuk bisa mendapatkan kemerdekaannya, lewat zakat dan shadaqah. Di dalam Al-Quran disebutkan :


Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakanNya kepadamu. (QS. An-Nur : 33)

E. Syarat Sah 1. Khutbah

332

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

Shalat Jumat harus ada khutbah yang terdiri setidaknya dari dua khutbah dengan jeda duduk di antara keduanya. 2. Berjamaah As-Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah menyebutkan paling tidak ada 15 pendapat yang berbeda dalam menetukan batas minimal jumlah jamaah dalam shalat Jumat7. Meski boleh tidak mencapai 40 orang, bukan berarti setiap beberapa orang boleh menyelenggarakan sendiri-sendiri dengan 2 atau 3 orang. Bukan demikian pengertianya, tetapi bila memang tidak ada lagi orang muslim lainnya di suatu tempat. Syeikh Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa shalat Jumat boleh dilakukan oleh tiga orang, satu orang berkhutbah dan dua orang mendengarkan khutbah tersebut. Dan ini merupakan salah satu riwayat dari Ahmad dan merupakan pendapat sebagian ulama8. a. Al-Hanafiyah Al-Hanafiyah mengatakan bahwa jumlah minimal untuk sahnya shalat jumat adalah tiga orang selain imam. Nampaknya kalangan ini berangkat dengan pengertian lughawi (bahasa) tentang sebuah jamaah. Yaitu bahwa yang bisa dikatakan jamaah itu adalah minimal tiga orang. Bahkan mereka tidak mensyaratkan bahwa peserta shalat jumat itu harus penduduk setempat, orang yang sehat atau lainnya. Yang penting jumlahnya tiga orang selain imam atau khatib. Selain itu mereka juga berpendapat bahwa tidak ada nash dalam Al-Quran Al-Karim yang mengharuskan jumlah tertentu kecuali perintah itu dalam bentuk jama'. Dan dalam kaidah bahasa arab, jumlah minimal untuk bisa disebut jama adalah tiga orang.

Fiqih Sunnah jilid 1 hal. 288. As-Sayyid Sabiq sebenarnya mengutip dari kitab Fathul Bari karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani. 8 Al-Ikhtiyaarot Al-Fiqhiyyah Min Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah/ Al-Baly hal 145-146
7

333

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2


Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al-Jumuah : 9)

Kata kalian menurut mereka tidak menunjukkan 12 atau 40 orang, tetapi tiga orang pun sudah mencukupi makna jama. b. Al-Malikiyah Al-Malikiyah menyaratkan bahwa sebuah shalat jumat itu baru sah bila dilakukan oleh minimal 12 orang untuk shalat dan khutbah. Jumlah ini didapat dari peristiwa yang disebutkan dalam surat Al-Jumuah yaitu peristiwa bubarnya sebagian peserta shalat jumat karena datangnya rombongan kafilah dagang yang baru pulang berniaga. Serta merta mereka meninggalkan Rasulullah SAW yang saat itu sedang berkhutbah sehingga yang tersisa hanya tinggal 12 orang saja.


Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri . Katakanlah: 'Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan', dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.(QS. Al-Jumuah : 11)

Oleh kalangan Al-Malikiyah, tersisanya 12 orang yang masih tetap berada dalam shaf shalat Jumat itu itu dianggap sebagai syarat minimal jumlah peserta shalat Jumat. Dan menurut mereka, Rasulullah SAW saat itu tetap meneruskan shalat jumat dan tidak menggantinya menjadi shalat zhuhur.

334

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

c. Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menyaratkan bahwa sebuah shalat jumat itu tidak sah kecuali dihadiri oleh minimal 40 orang yang ikut shalat dan khutbah dari awal sampai akhirnya. Dalil tentang jumlah yang harus 40 orang itu berdasarkan hadits Rasulullah SAW :

Dari Ibnu Masud radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW shalat Jumat di Madinah dengan jumlah peserta 40 orang atau lebih. (HR. Ad-Daruquthuny)9.

Inil adalah dalil yang sangat jelas dan terang sekali yang menjelaskan berapa jumlah peserta shalat jumat di masa Rasulullah SAW. Menurut kalangan Asy-Syafi'iyah, tidak pernah didapat dalil yang shahih yang menyebutkan bahwa jumlah mereka itu kurang dari 40 orang. Tidak pernah disebutkan dalam dalil yang shahih bahwa misalnya Rasulullah SAW dahulu pernah shalat jumat hanya bertiga saja atau hanya 12 orang saja. Karena menurut mereka ketika terjadi peristiwa bubarnya sebagian jamaah itu, tidak ada keterangan bahwa Rasulullah SAW dan sisa jamaah meneruskan shalat itu dengan shalat Jumat. Dengan hujjah itu, kalangan Asy-Syafi'iyah meyakini bahwa satu-satu keterangan yang pasti tentang bagaimana shalat Rasulullah SAW ketika shalat jumat adalah yang menyebutkan bahwa jumlah mereka 40 orang. Bahkan mereka menambahkan syarat-syarat lainnya, yaitu bahwa keberadaan ke-40 orang peserta shalat jumat ini harus sejak awal hingga akhirnya. Sehingga bila saat khutbah ada sebagian peserta shalat jumat yang keluar sehingga jumlah
9

dengan isnad yang lemah

335

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

mereka kurang dari 40 orang, maka batallah jumat itu. Karena didengarnya khutbah oleh minimal 40 orang adalah bagian dari rukun shalat jumat dalam pandangan mereka. Seandainya hal itu terjadi, maka menurut mereka shalat itu harus dirubah menjadi shalat zhuhur dengan empat rakaat. Hal itu dilakukan karena tidak tercukupinya syarat sah shalat jumat. 3. Tidak Ada Jamaah Ganda Di dalam mazhab As-Syafi'i memang ada ketentuan bahwa tidak boleh ada 2 shalat Jumat di satu tempat yang sama atau berdekatan. Dalam beberapa literatur fiqih mazhab ini, memang ada ketentuan demikian. Namun perlu diperhatikan bahwa ketentuan ini tetap ada pengecualiannya. Pengecualiannya adalah bila di satu masjid sudah penuh dan tidak lagi menampung jamaah, maka dibolehkan dibuat lagi jamaah shalat Jumat di dekatnya. Dengan demikian, adanya dua masjid yang berdekatan yang keduanya sama-sama menyeleng-garakan shalat Jumat sangat dimungkinkan, selama masjid-masjid itu tidak mampu lagi menampung jamaah. Maka tindakan seorang jamaah yang shalat Zhuhur setelah shalat Jumat dengan alasan berjaga-jaga kalau-kalau shalat Jumat itu tidak syah adalah sikap yang mengada-ada serta berlebihan dalam agama. Padahal ketentuan-ketentuan seperti itu hanya ada dalam satu mazhab, sedangkan di mazhab lain tidak ada peraturan yang seketat itu. Seperti batasan minimal harus 40 orang jamaah atau tidak boleh ada dua Jumat berdekatan. Bukankah agama Islam ini adalah agama yang mudah? Kalau memang mudah, mengapa harus dibuat susah? Sementara di sisi lain, kita sebagai umat Islam masih kebanjiran pe-er lain yang harus diprioritaskan. Ketimbang kita meributkan hal-hal yang hanya baru dalam dugaan, bukankah sebaiknya kita memikirkan hal-hal yang lebih nyata dan mendesak?

336

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

F. Bacaan Pada Shalat Jumat Ada beberapa ayat atau surat yang dianjurkan untuk dibaca pada hari Jumat. 1. Surat Al-Jumuah dan Al-Munafiqun Disunnahkan bagi imam untuk membaca dua surat pada hari Jumat, yaitu surat Al-Jumuah pada rakaat pertama dan surat Al-Munafiqun pada rakaat kedua. Dasarnya adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu berikut ini :

- : :
Abu Hurairah mengimami kami shalat Jumat dan beliau membaca surat Al-Jumuah pada rakaat yang pertama dan pada rakaat yang kedua membaca idza jaa-akal munafiqun. Ketika usai shalat, Aku mendatanginya dan bertanya,"Ya Aba Hurairah, Anda membaca dua surat seperti yang dibaca oleh Ali bin Abi Thalib di Kufah". Abu Hurairah menjawab,"Aku telah mendengar Rasulullah SAW membaca kedua surat itu pada hari Jumat. (HR. Muslim)

2. Surat Al-A'la dan Al-Ghasyiyah Selain kedua surat di atas, juga disunnahkan untuk membaca pasangan dua buat surat, yaitu surat Al-A'la pada rakaat pertama dan surat Al-Ghsyiyah pada rakaat kedua. Dasarnya adalah hadits berikut ini :


337

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

- -
Rasulullah SAW membaca pada dua Shalat 'Ied dan Shalat Jumat : Sabbihismarabbikal a'la dan hal ataaka haditsul ghasyiah. (HR. Muslim)

Namun bukan berarti imam tidak boleh membaca ayat selain yang disebutkan di atas. Ayat-ayat di atas sifatnya lebih merupakan keutamaan, tetapi tidak berarti menjadi syarat sah atau kewajiban. G. Adzan Shalat Jumat Di tengah umat Islam kita melihat ada perbedaan dalam jumlah adzan Jumat. Sebagian masjid mengumandangkan adzan Jumat dua kali, dan sebagian lagi mengumandangkan adzan Jumat hanya sekali. Perbedaan pendapat itu berangkat dari cara memahami nash hadits shahih berikut ini dengan cara yang berbeda.


Dari As-Saib bin Yazid ra berkata, "Dahulu panggilan adzan hari Jumat awalnya pada saat imam duduk di atas mimbar, di masa Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar radhiyallahuanhuma. Ketika masuk masa Utsman dan manusia bertambah banyak, ditambahkan adzan yang ketiga di atas Zaura'.Tidak ada di zaman Nabi SAW muazzdin selain satu orang. (HR. Bukhari)10

1. Adzan Satu Kali Ada beberapa argumen yang dikemukana oleh merka yang berpendapat bahwa adzan Jumat cukup satu kali.
10

Zaura' adalah sebuah tempat yang terletak di pasar kota Madinah saat itu. Al-Qurthubi mengatakan bahwa Utsman ra memerinahkan untuk dikumandangkan adzan di suatu rumah yang disebut Zaura'.

338

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

a. Sunnah Rasulullah SAW Mereka yang berpendapat bahwa adzan Jumat cukup satu kali saja berargumen bahwa kita harus mengikuti Rasulullah SAW dan bukan mengikuti shahabatnya. Sebab yang wajib untuk diikuti adalah Rasulullah SAW, dimana beliau SAW adalah Nabi yang makshum dan dijaga oleh Allah SWT. Sedangkan selain Rasulullah SAW adalah manusia biasa, yang tidak luput dari salah dan alpa. Maka dari hadits shahih di atas, pendapat ini memandang bahwa yang benar adalah adzan satu kali saja, sebagaimana yang dilakukan di masa Rasulullah SAW. b. Tujuan Adzan Tambahan Argumentasi yang kedua dari kalangan ini adalah tujuan dikumandangkannya adzan dua kali di masa khalifah Utsman adalah untuk memanggil orang-orang yang masih sibuk di tempat kerja. Dan adzan itu sendiri tidak dilakukan di dalam masjid, melainkan di pasar atau di zaura', yaitu tempat yang tinggi. Maka untuk saat ini kita sudah tidak lagi membutuhkan adanya dua kali adzan. Sebab tujuannya sama sekali tidak ada relevan. Apalagi jarak antara kedua adzan itu hanya sebentar sekali, dan keduanya dikumandangkan di dalam masjid. 2. Adzan Dua Kali Pendapat yang mengatakan bahwa yang lebih utama dikerjakan adalah adzan dua kali melandaskannya dengan beberapa argumentasi : a. Perintah Nabi Untuk Mengikuti Shahabat Adzan dua kali yang dilakukan di masa Utsman ibnu Affan radhiyallahuanhu bukan sesuatu yang salah, keliru atau bid'ah, sebab Rasulullah SAW sendiri yang memerintahkan kita untuk mengikuti jejak para shahabat Nabi SAW. Hal itu sesuai dengan sabda beliau SAW :

339

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2


Siapa di antara kalian yang hidup sesudah masaku, akan menyaksikan ikhtilaf yang banyak. Maka kalian harus berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk dan yang lurus. (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Hadits ini jelas sekali menerangkan bahwa mengikuti para khalifah rasyidah itu juga termasuk perintah Rasulullah SAW. Dan Utsman bin Al-Affan radhiyallahuanhu disepakati oleh seluruh umat Islam sedunia sebagai salah satu dari empat khalifah yang mendapat petunjuk dan lurus. Kalau tindakan itu dikatakan bid'ah, berarti para shahabat Nabi yang mulia itu pelaku bid'ah. Kalau mereka pelaku bid'ah, maka haram hukumnya bagi kita untuk meriwayatkan semua hadits. Padahal tidak ada satu pun hadits Nabi yang sampai kepada kita, kecuali lewat para shahabat. Maka seluruh ajaran Islam ini menjadi batal dengan sendirinya kalau demikian. Sebab semua dalil, baik ayat AlQuran maupun semua hadits Nabi SAW, ternyata tidak ada yang sampai kepada kita, kecuali lewat para shahabat yang dituduh tela melakukan tindakan bid'ah itu. Maka mengatakan bahwa adzan 2 kali sebagai bid'ah sama saja dengan mengatakan bahwa para shahabat Nabi SAW seluruhnya sebagai pelaku bid'ah. Dan kalau semuanya pelaku bid'ah, maka agama Islam ini sudah selesai sampai di sini. Yang benar, praktek adzan Jumat 2 kali ini bagian dari sunnah yang utuh dalam syariah Islam, bukan bid'ah yang melahirkan dosa dan adzab. Karena telah dilakukan secara sadar oleh semua shahabat Nabi SAW radhiyallahuanhum. b. Ijma' Para Shahabat Selain itu, seluruh shahabat yang masih hidup di zaman Amirul Mukminin Utsman bin Al-Affan ridhwanullahi'alaihim juga menamini adzan dua kali pada hari Jumat. Tidak ada satu

340

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

pun dari mereka yang menentang adzan dua kali. Padahal di masa Ustman, para shahabat yang ulama dan agung masih hidup dan ikut melakukan shalat Jumat dengan dua adzan. Ini berarti shalat Jumat dengan dua adzan bukan semata-mata dikerjakan oleh Ustman saja, melainkan dilakukan oleh hampir semua shahabat Nabi SAW yang tinggal di Madinah saat itu. c. Praktek Seluruh Dunia Islam Dan di seluruh dunia Islam, baik di pusat pemerintahan atau pun di wilayah-wilayah yang jauh, adzan shalat Jumat selalu dikumandangkan dua kali. Sebab semua masjid di dunia ini mengacu kepada apa yang dipraktekkan di masjid AnNabawi Madinah. Al-Hafidz Ibnu Hajar sebagaimana dikutip oleh AsySyaukani di dala kitab Nailul Authar mengatakan bahwa praktek adzan 2 kali ini dilakukan bukan hanya oleh Khalifah Utsman rasaat itu, melainkan oleh semua umat Islam di mana pun. Bukan hanya di Madinah, melainkan di seluruh penjuru dunia Islam, semua masjid melakukan 2 kali adzan shalat Jumat. H. Khutbah Jumat Khutbah Jumat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian ibadah shalat Jumat. 1. Hukum Khutbah Jumat Umumnya para ulama sepakat bahwa khutbah Jumat termasuk syarat sah dari shalat Jumat, dimana shalat Jumat menjadi tidak sah apabila tidak didahului dengan dua khutbah. Dasarnya adalah bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berkhutbah Jumat kecuali khutbah beliau terdiri dari dua khutbah yang diselingi dengan duduk di antara keduanya. Dan jumhur ulama sepakat menyebutkan bahwa kedudukan kedua khutbah ini menjadi pengganti dari dua rakaat shalat Dzhuhur.

341

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Sedangkan bagi mazhab Al-Hanfiyah, yang disyaratkan hanya satu khutbah saja. Khutbah yang kedua bagi mereka hukumnya sunnah. 2. Syarat Khutbah Jumat Agar menjadi sah hukumnya, maka khutbah Jumat itu harus memenuhi beberapa syarat, antara lain : a. Pada Waktu Shalat Jumat Jumhur ulama dari Mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah, kecuali mazhab Al-Hanabilah, telah bersepakat bahwa khutbah Jumat disyaratkan untuk disampaikan di dalam waktu Jumat, atau waktu Dzhuhur di hari Jumat. Dan waktu shalat Dzhuhur dimulai tepat ketika matahari sedikit melewati atas kepala (zawal) hingga matahari condong ke arah Barat, dimana panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu. Namun Mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa khutbah Jumat sudah boleh disampaikan meski belum masuk waktu Dzhuhur. Dasarnya adalah riwayat yang disampaikan oleh Abdullah bin Silan yang berkata :

: :
Aku menghadiri shalat Jumat bersama Abu Bakar radhiyallahuanhu, khutbah dan shalatnya sebelum tengah hari. Dan Aku pernah menghadiri shalat Jumat bersama Umar radhiyallahuanhu, khutbah dan shalatnya ketika Aku katakan

342

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

telah tiba waktu tengah hari. Aku menghadiri shalat Jumat bersama Ustman radhiyallahuanhu, khutbah dan shalatnya ketika Aku katakan telah lewat tengah hari. Dan tidak kutemkan seorang pun yang menyalahkan atau mengingkarinya. (HR. Abdurrazzaq).11

b. Sebelum Shalat Syarat yang kedua untuk khutbah Jumat adalah harus dikerjakan sebelum shalat Jumat dilaksanakan. Apabila yang dilakukan terlebih dahulu adalah shalat baru kemudian khutbah, maka sehabis khutbah harus dikerjakan lagi shalat Jumat. Alasannya karena syarat khutbah Jumat itu harus diteruskan sesudahnya dengan shalat. Dan adanya syarat ini membedakan khutbah Jumat dengan khutbah-khutbah masyru'ah lainnya yang tidak disyaratkan harus diikuti dengan shalat. c. Dihadiri Jamaah Syarat ketiga dari khutbah Jumat adalah harus dihadiri dan didengarkan oleh sejumlah orang yang cukup. Namun berapa jumlah yang cukup, para ulama berbeda pendapat sesuai tabel berikut ini : Mazhab Al-Hanafiyah Mazhab Al-Malikiyah Mazhab Asy-Syafi'iyah Mazhab Al-Hanabilah 2 orang 12 orang 40 orang 40 orang

d. Mengeraskan Suara Para ulama sepakat bahwa khutbah itu harus bisa didengar
11

Abdurrazzaq, Al-Mushannif, jilid 3 hal. 175

343

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

oleh sejumlah orang. Dan caranya adalah dengan mengeraskan suara khatib. Namun di masa sekarang ini dengan adanya pengeras suara, dijamin suara khatib akan terdengar sampai mana pun yang dikehendaki. Sehingga pada dasarnya seorang khatib tidak harus berteriak-teriak, apabila tujuannya hanya sekedar suaranya bisa terdengar jauh. e. Muwalat Istilah muwalat artinya adalah tersambung. Maksudnya bahwa khutbah pertama harus tersambung dengan khutbah yang kedua, walau pun dipisahkan dengan duduk di antara dua khutbah. Demikian juga antara khutbah kedua dengan shalat, harus dilakukan secara tersambung, tidak boleh dipisahkan dengan pekerjaan lain yang memutuskan. Khutbah pertama dikatakan terpisah dengan khutbah kedua, atau khutbah kedua dibilang terpisah dengan shalat misalnya apabila selesai khutbah yang pertama atau kedua, khatib pulang ke rumahnya, atau menyantap makan siangnya, atau mengerjakan shalat dua rakaat. f. Berbahasa Arab Jumhur ulama dari Mazhab Al-Malikiyah, Asy-syafi'iyah dan Al-Hanablah umumnya sepakat mensyaratkan khutbah disampaikan dalam bahasa Arab, setidaknya dalam rukunrukunnya. Sedangkan selain yang rukun dibolehkan untuk disampaikan dalam bahasa selain Arab, demi untuk bisa dipahami oleh para pendengarnya. Mazhab Al-Malikiyah sampai mengatakan bila di suatu tempat tidak ada satu pun orang yang mampu menyampaikan khutbah dalam bahasa Arab, walaupun dengan membaca rukun-rukunnya saja, maka gugurlah kewajiban khutbah dan shalat Jumat. Dan disyaratkan pula khatib memahami apa yang dibacanya dalam bahasa Arab itu, bukan sekedar bisa

344

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

membunyikan saja. 12 Mazhab Asy-Syafi'iyah juga senada dengan mazhab AlMalikiyah dalam hal keharusan khutbah Jumat disampaikan dalam bahasa Arab. Fatwa dalam mazhab ini menyebutkan apabila tidak ada khatib yang mampu menyampaikan khutbah dalam bahasa Arab, meski hanya rukun-rukunnya saja, maka wajiblah hukumnya bagi khatib tersebut untuk belajar bahasa Arab. Sehingga belajar bahasa Arab itu dalam mazhab ini hukumnya menjadi fardhu kifayah. Dan apabila tidak seorang pun yang melakukan belajar bahasa Arab, maka semua jamaah ikut berdosa. Dan untuk itu gugurlah kewajiban shalat Jumat dan semua melakukan shalat Dzhuhur saja.13 Lalu apa dasar dan latar belakang jumhur ulama mengharuskan khutbah Jumat disampaikan dalam bahasa Arab, meski hanya rukunnya saja? Dasarnya adalah ittiba' kepada yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan generasi penerusnya hingga 14 abad kemudian. Padahal boleh jadi khutbah itu disampaikan di luar negeri Arab, dimana mayoritas penduduknya tidak mengerti bahasa Arab. Kebanyakan ulama memandang bahwa khutbah Jumat ini lebih merupakan ibadah ritual (ta'abbud), ketimbang bagaimana orang memahami isi pesan di dalamnya. Alasannya karena khutbah Jumat tidak lain merupakan pengganti dari dua rakaat shalat Dzhuhur. Dan shalat itu wajib berbahasa Arab, sehingga khutbah pun wajib disampaikan dalam bahasa Arab, meski tidak satu pun dari hadirin memahami isi khutbah itu. Mazhab Al-Hanafiyah adalah satu-satunya mazhab yang membolehkan khutbah Jumat disampaikan walau tidak berbahasa Arab. Dan perlu diketahui juga bahwa bukan hanya khutbah Jumat yang boleh disampaikan dengan bahasa selain Arab, shalat pun juga dibolehkan oleh mazhab ini dengan
12 13

Hasyiyatu Ad-Dasuqi, jilid 1 hal. 378 Nihayatul Muhtaj, jilid 2 hal. 304

345

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

menggunakan bahasa selain Arab. Namun kedua ulama besar di dalam mazhab Al-Hanafiyah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf, justru tidak sepakat dengan pendapat Al-Imam Abu Hanifah sendiri. Keduanya malah cenderung sepakat dengan pendapat jumhur ulama, yaitu bahwa khutbah Jumat tidak sah apabila tidak menggunakan bahasa Arab, meski hanya pada bagian rukunnya saja. 3. Rukun Para ulama berbeda pendapat ketika menyebutkan apa saja yang merupakan rukun dalam khutbah Jumat. Sehingga ketika dijumlahkan, ternyata jumlahnya berbeda-beda pada tiap mazhab. a. Mazhab Al-Hanafiyah Pandangan Mazhab Al-Hanafiyah barangkali cukup aneh terdengar buat telinga kita bangsa Indonesia, yang rata-rata bermazhab Asy-Syafi'iyah. Dalam pandangan mazhab AlHanafiyah, rukun khutbah jumat itu hanya satu, yaitu membaca hamdalah, tahlil dan tasbih. Dasarnya karena di dalam Al-Quran memerintahkan orangorang yang mendengar seruan untuk shalat pada hari Jumat, bersegera mendatangi dzikrullah.


Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al-Jumuah : 9)

Maka dalam pandangan mazhab ini, apa saja yang dibaca khatib di atas mimbar, asalkan termasuk dzikrullah, maka hukumnya sah. Dan dzikrullah itu tidak lain adalah hamdalah, tasbih dan tahlil, yaitu mengucapkan lafadz alhamdulillah, subhanallah dan lailaha illallah.

346

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

b. Mazhab Al-Malikiyah Mazhab Al-Malikiyah menyebutkan bahwa yang termasuk rukun dalam khutbah Jumat tidak cukup bila hanya lafadz dzikir saja sebagaimana pendapat mazhab Al-Hanafiyah di atas. Dalam pandangan mereka, khutbah Jumat itu minimal orang Arab menyebutnya sebagai khutbah, walau pun hanya dua bait kalimat seperti :

Bertaqwalah kepada Allah dalam apa yang Dia perintahkan dan berhentilah dari apa yang dilarangnya.

Namun Ibnul Arabi yang bermazhab Maliki agak sedikit berbeda dengan mazhabnya. Beliau menyatakan minimal khutbah Jumat itu menyebutkan hamdalah, shalawat kepada Nabi SAW, tahdzir (mengingatkan) dan tabsyir (memberi kabar gembira) serta beberapa petikan ayat Al-Quran. c. Mazhab Asy-Syafi'iyah : Lima Rukun Mazhab yang lebih lengkap dalam urusan rukun khutbah Jumat adalah mazhab Asy-Syafiiyah. Mazhab ini menetapkan setidaknya ada lima rukun khutbah Jumat, yaitu hamdalah, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, membaca petikan ayat Al-Quran, berwasiyat dan memohon ampunan buat kaum muslimin.
Pertama : Hamdalah

Hamdalah adalah mengucapkan lafadz alhamdulillah, innalhamda lillah, ahmadullah atau lafadz-lafadz yang sejenisnya. Dasarnya adalah hadits nabi SAW :

Semua perkataan yang tidak dimulai dengan hamdalah maka perkataan itu terputus. (HR Abu Daud) Kedua : Bershalawat Kepada Nabi SAW

347

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Shalawat kepada Rasulullah SAW bisa dengan lafadz yang sederhana, seperti :


Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhamamd

Tidak diharuskan menyampaikan salam, dan juga tidak harus dengan shalawat kepada keluarga beliau. Minimal sekali hanya sekedar shalawat saja.
Ketiga : Membaca Petikan Ayat Al-Quran


Rasulullah SAW membaca mengingatkan orang-orang beberapa ayat Al-Quran dan

Sebagian ulama mengatakan bahwa karena khutbah Jumat itu pengganti dari dua rakaat shalat yang ditinggalkan, maka membaca ayat Al-Quran dalam khutbah hukumnya wajib.
Keempat : Nasehat atau Washiyat

Nasihat atau washiyat yang menjadi rukun intinya sekedar menyampaikan pesan untuk taat kepada Allah SWT dan sejenisnya. Atau setidaknya untuk menjauhi larangan-larangan dari Allah SWT. Misalnya seperti lafadz berikut ini :


Taatilah Allah dan jauhilah maksiat Kelima : Doa dan Permohonan Ampunan

Doa atau pemohonan ampun untuk umat Islam dijadikan rukun yang harus disampaikan dalam khutbah Jumat menurut mazhab As-Ssyafi'iyah. Minimal sekedar membaca lafadz :


348

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

Ya Allah ampunilah orang-orang muslim dan muslimah

I. Shalat Sunnah Ba'diyah & Qabliyah Jumat Ba'diyah : Seluruh ulama dari empat mazhab sepakat bahwa shalat sunnah ba'diyah (seusai) Jumat adalah amalan yang disunnahkan dalam syariat Islam. Tidak ada khilaf di antara mereka dalam masalah ini, karena ada dalil yang shahih dan sharih.

Bila salah seorang dari kallian shalat Jumat, maka lakukan shalat empat rakaat sesudahnya. (HR. Bukhari)


Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW shalat sunnah sesudah Jumat dua rakaat di rumah beliau. (HR. Bukhari dan Muslim)

Qabliyah : Namun untuk shalat sunnah qabliyah, yaitu shalat sunnah yang secara khusus dilakukan sebelum shalat Jumat dilaksanakan, pendapat para ulama tidak menyatu. Muncul ketidak-sepakatan di antara mereka, ada yang berpendapat bahwa shalat qabliyah sebelum Jumat hukumnya sunnah, namun ada juga yang berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa shalat itu tidak disunnahkan secara khusus. Namun perlu diperhatikan bahwa seluruh ulama sepakat untuk membolehkan secara mutlak mengerjakan shalat sunnah sebelum Jumat, sebagaimana shalat mutlak yang lainnya. Yang tidak mereka sepakati adalah bila sifatnya merupakan shalat qabliyah yang merupakan bagian utuh dari shalat Jumat. 1. Disunnahkan Mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah berpendapat bahwa shalat sunnah qabliyah Jumat adalah shalat yang disunnahkan dan didukung dengan dalil-dalil yang sharih dan shahih. Beberapa ulama dari mazhab Al-Hanabilah pun ada

349

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

yang juga yang cenderung kepada pendapat ini, meski mazhab resmi mereka menyatakan tidak disunnahkan. Para ulama ahli fiqih khususnya dari kalangan madzhab Asy-Syafiiyah telah menuliskan dalam kitab-kitab mereka, antara lain : Shalat jumat itu sama dengan shalat Dhuhur dalam perkara yang disunnahkan untuknya. Maka disunnahkan sebelum jumat itu empat rakaat dan sesudahnya juga empat rakaat.14 Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu menyebutkan bahwa disunnahkan shalat sebelum dan sesudah Jumat. Minimalnya adalah dua rakaat qabliyyah dan dua rakaat badiyyah. Dan yang lebih sempurna adalah empat rakaat qabliyyah dan empat rakaat badiyyah.15 Dan dalam karya An-Nawawi yang lain, yaitu Minhajut Thalibin disebutkan bahwa disunnahkan shalat sebelum Jumat sebagaimana shalat sebelum Dzuhur. Al-Khatib Asy-Syarbini di dalam kitabnya, Al-Iqna, menyebutkan bahwa shalat Jumat itu sama seperti shalat Dzuhur, disunnahkan sebelumnya empat rakaat dan sesudahnya juga empat rakaat.16 Mereka mengajukan banyak hadits yang ternyata cukup kuat untuk dijadikan dasar argumentasi. a. Dalil Pertama Dalil pertama adalah apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahuanhu, dimana beliau terbiasa melakukan shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat Jumat.

Dari Ibnu Masud radhiyallahuanhu bahwasa beliau melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum Jumat dan shalat setelah
Hasiyah al-Bajuri jilid 1 hal. 137 An-Nawawi, Al-Majmu Syarah Muhazzab jilid 4 hal. 9 16 Al-Khatib Asy-Syarbini, Al-Iqna, jilid 1 hal. 99
14 15

350

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

Jumat empat rakaat pula. (HR. At-Tirmidzi)

Abdullah bin Masud radhiyallahuanhu merupakan sahabat Nabi SAW yang utama dan tertua, dipercayai oleh Nabi sebagai pembawa amanah sehingga beliau selalu dekat dengan nabi saw. Kalau seorang sahabat Nabi yang utama dan selalu dekat dengan beliau SAW mengamalkan suatu ibadah, maka tentu ibadahnya itu diambil dari sunnah Nabi SAW. Secara dzahir apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Masud ini tentu tidak lain berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi Muhammad SAW. Dan disebutkan pula bahwa Sufyan AtsTsauri dan Ibnul Mubarak beramal sebagaimana yang diamalkan oleh Abdullah bin Masud17. b. Dalil Kedua Dalil yang sifatnya umum bahwa antara adzan dan iqamah ada shalat yang disunnahkan.

:
Dari Abdullah bin Mughaffal Al-Muzanni bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat. (Beliau mengucapkan tiga kali), bagi siapa yang ingin melakukannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah hadits yang muttafaq 'alaihi dan tidak ada seorang ulamapun yang meragukan keshahihannya. Dari hadits ini kita dapat memahami bahwa Nabi SAW menganjurkan supaya diantara adzan dan iqamah itu dilakukan sholat sunnah dahulu. Meski dalil ini bersifat sangat umum dan tidak langsung terkait dengan shalat qabliyah Jumat, namun para pendukungnya mengatakan bahwa termasuk dalam katergori ini shalat sunnah qabliyah Jumat.

17

An-Nawawi, Al-Majmu jilid 4 hal. 10

351

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

c. Dalil Ketiga Dalil ini dikemukakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, dimana beliau mengatakan bahwa dalil yang paling kuat dalam masalah shalat sunnah qabliyah adalah hadits berikut ini :18

Dari Abdullah bin Zubair berkata bahwa Rasulallah SAW bersabda,"Tidaklah ada shalat fardhu kedua diawali dengan shalat (sunnah) dua rakaat. (HR. Ibnu Hibban)

Hadits ini jelas menyebutkan bahwa disunnahkan shalat qabliyah pada sebelum shalat fardhu. Dan shalat Jumat juga termasuk shalat yang difardhukan. Oleh karena sebelum shalat Jumat disunnahkan shalat. Ibnu Hibban dan As-Suyuthi berkata bahwa derajat hadits ini adalah shahih. d. Dalil Keempat Dalil keempat adalah apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar radhiyallahuanhu, dimana beliau juga selalu mengerjakan shalat sunnah sebelum shalat Jumat. Bahkan beliau menceritakan bahwa Rasulullah SAW juga melakukannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih berikut ini :

Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu bahwasanya ia senantiasa memanjangkan shalat qabliyah jumat. Dan ia juga melakukan shalat badiyyah jumat dua rakaat. Ia menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa melakukan hal demikian. (HR. AlBaihaqi dan Ibnu Hibban).

As-Syaukani berkata bahwa menurut Hafiz Al-Iraqi hadits Ibnu Umar itu shahih isnadnya. Al-Hafiz Ibnu Mulqin dalam
18

Fathul Bari, jilid 3 hal. 351

352

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

juga mengatakan bahwa isnad hadits ini sahih tanpa ada keraguan. Sedangkan Al-Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut persyaratan Imam Bukhari. Juga telah dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam shohihnya. e. Dalil Kelima Dalil kelima adalah hadits riwayat Ibnu Majah :

: . : :
Dari Abu Hurairah dan Abu Sufyan dari Jabir, keduanya berkata,"Telah datang Sulaik Al-Ghathfani ketika Rasulullah SAW tengah berkhutbah. Lalu Nabi bertanya kepadanya : Apakah engkau sudah shalat dua rekaat sebelum dating kesini? Dia mejawab : Belum. Nabi Saw. Bersabda: Shalatlah kamu dua rekaat dan ringkaskanlah shalatmu (HR. Ibnu Majah).19

Hadits menceritakan bagaimana Rasulu llah SAW memerintahkan kepada Sulaik untuk mengerjakan shalat sebelum mendengarkan khutbah. Dan shalat itu menurut para ulama pendukungnya adalah shalat sunnah qabliyyah Jumat, bukan shalat tahiyatul masjid. Al-Qalyubi mengatakan bahwa hadits ini nyata dan jelas berkenaan dengan shalat sunnah qabliyah jumat, bukan shalat tahiyyatul masjid. Hal itu karena ada pertanyaan dari Rasulullah SAW yang intinya menanyakan apakah Sulaik sudah shalat sebelum datang ke masjid. Seandainya yang dimaksud dengan shalat itu adalah shalat tahiyatul masjid, maka pertanyaan Rasulullah SAW menjadi tidak relevan. Sebab Rasulullah SAW ada di atas mimbar, dimana beliau SAW pasti dapat melihat apakah Sulaik sudah

19

Al-Imam Asy-Syaukani berkata bahwa hadits ini para perawinya adalah orang kepercayaan. Al-Hafidz Al-Iraqi berkata bahwa hadits Ibnu Majah ini adalah hadits shahih

353

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

shalat tahiyat masjid atau belum. Pertanyaan beliau SAW tentu terkait dengan shalat sunnah qabliyah, yang boleh saja dikerjakan di dalam rumah sebelum ke masjid. Al-Imam Asy-Syaukani ketika mengomentari hadits riwayat Ibnu Majah tersebut mengatakan dengan tegas bahwa sabda Nabi SAW :"sebelum engkau datang kesini", menunjukkan bahwa shalat dua rakaat itu adalah sunnah qabliyyah Jumat dan bukan shalat sunnah tahiyyatul masjid.20 f. Dalil Keenam Para pendukung pendapat ini juga berargumentasi dengan landasan bahwa shalat qabliyah Jumat disunnahkan karena mengikuti shalat aslinya, yaitu shalat qabliyah Dzhuhur. Sebagaimana dibolehkan menjama' shalat Jumat dengan shalat Ashar dalam pendapat mereka, maka kedudukan shalat Jumat itu setara dengan shalat Dzhuhur. Oleh karena itu sunnah-sunnah yang terkait dengan shalat Dzhuhur juga berlaku pada shalat Jumat. 2. Tidak Disunnahkan Pendapat kedua adalah pendapat resmi mazhab AlMalikiyah dan Al-Hanabilah. Kedua mazhab ini cenderung mengatakan bahwa tidak ada kesunnahan secara khusus berupa shalat antara adzan dan iqamah pada shalat Jumat. Namun kedua mazhab ini tetap mengakui bahwa disunnahkan shalat sunnah mutlak yang boleh dilakukan sebelum shalat Jumat secara umum. Yang mereka katakan bukan sunnah adalah shalat antara adzan Jumat dan iqamah, sebagaimana shalat qabliyah pada shalat Dzhuhur. a. Memahami Dengan Cara Berbeda Dalil yang umumnya mereka jadikan dasar argumentasi adalah dengan cara memahami hadits-hadits di atas dengan cara yang berbeda, tidak sebagaimana yang dipahami oleh Mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah.
20

Nailul Authar, jilid 3 hal. 318

354

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

Misalnya hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW shalat sunnah empat rakaat sebelum Jumat :

Dari Ibnu Masud radhiyallahuanhu bahwasa beliau melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum Jumat dan shalat setelah Jumat empat rakaat pula. (HR. At-Tirmidzi)

Oleh mereka dipahami dengan cara berbeda, yaitu bahwa shalat itu bukan shalat qabliyah Jumat, melainkan shalat zawal yang dilakukan sebelum shalat Dzhuhur. Demikian juga dengan riwayat Ibnu Umar ketika bercerita bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat sunnah dua rakaat sebelum Jumat :

Ibnu Umar radhiyallahuanhu menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa melakukan hal demikian. (HR. AlBaihaqi dan Ibnu Hibban).

Oleh mereka dipahami bahwa shalat itu bukan sebelum Jumat, tetapi sesudah Jumat. Sedangkan hadits yang menyebutkan bahwa antara adzan dan iqamah disunnahkan shalat :

Dari Abdullah bin Zubair berkata bahwa Rasulallah SAW bersabda,"Tidaklah ada shalat fardhu kedua diawali dengan shalat (sunnah) dua rakaat. (HR. Ibnu Hibban)

Oleh mereka dipahami bahwa khusus untuk shalat Jumat hadits itu tidak berlaku. Mereka menggunakan alasan yang dikemukakan oleh Ibnul Qayyim bahwa setelah Bilal selesai berazan, Nabi SAW langsung berkhotbah dan tidak ada satu pun sahabat yang melakukan shalat dua rakaat. Dan adzan di masa itu hanya sekali.

355

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

b. Mendhaifkan Hadits Selain itu mereka juga mengatakan bahwa dalil-dalil yang banyak digunakan oleh mereka yang mensunnahkan shalat qabliyah Jumat adalah hadits-hadits yang lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah. J. Kasus-kasus Shalat Jumat Ada beberapa kasus yang sering menjadi titik pertanyaan seputar pelaksanaan shalat Jumat, khususnya di negeri kita ini. Di antara pertanyaan itu adalah : 1. Bolehkan Dilaksanakan Bukan di Masjid? Pada dasarnya shalat jumat itu dilakukan di dalam masjid atau di dalam pusat pemukiman manusia. Bukan di hutan, padang pasir, pedalaman atau tempat-tempat yang sepi dari manusia. Di masa Rasulullah SAW dulu, orang-orang yang tinggal di badiyah (luar kota) harus berjalan jauh untuk masuk ke Madinah untuk bisa ikut shalat Jumat. Sebab shalat jumat tidak wajib dilaksanakan di luar wilayah pemukiman yang dihuni masyarakat. Disebutkan bahwa Umar bin al-Khattab pernah mengirim surat kepada penduduk Bahrain untuk melakukan shalat Jumat dimanapun21. Pada zaman kita sekarang ini bila mesjid penuh sedangkan jumlah orang yang akan melaksanakan shalat jumat tidak tertampung lagi, boleh membuat shalat jumat di tempat selain masjid. Dan memang secara statistik, jumlah masjid yang ada tidak mencukupi untuk menampung shalat seluruh kaum muslimin. Bila ada masjid nampak lengang, kemungkinan besar adalah kurangnya kesadaran masyarakat sekitar untuk melakukan shalat berjamaah. Jadi memang jumlah masjid itu kurang cukup
21

Di dalam kitab Nailul Authar jilid 2 hal. 498-499. Haditsnya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Imam Ahmad bin Hanbal mengomentari hadits ini bahwa isnadnya baik (jayyid)

356

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

dibandingkan dengan jumlah umat Islam. Boleh memanfaatkan suatu ruangan sebagai tempat shalat jumat, asalkan tempat itu bersih dan suci. Boleh menggunakan aula, ruang pertemuan, gedung parkir dan ruangan-ruangan lain yang layak disulap menjadi masjid untuk shalat jumat. Bahkan dalam kasus seperti itu, menurut sebagian pendapat, tempat itu untuk sementara waktu berubah hukumnya menjadi mesjid. Karena itu berlaku pula shalat sunnah dua rakaat tahiyatul masjid. Namun bila ada pendapat yang menolak hal ini, mungkin saja. Karena pendapat ini tidak mutlak kebenarannya, tetapi merupakan ijtihad para ulama berdasarkan mashlahat dan kepentingan umat. 2. Tertinggal Shalat Jumat Para ulama telah bersepakat bahwa siapa yang tertinggal ikut jamaah shalat jumat, maka harus shalat empat rakaat yaitu shalat zhuhur. Sedangkan batas apakah seseorang itu bisa dikatakan masih ikut shalat jumat atau tidak adalah bila minimal masih mendapat satu rakaat bersama imam dalam shalat jumat. Misal, pada shalat jumat ada seorang yang terlambat. Lalu dia ikut shalat bersama imam, sedangkan saat itu imam sudah berada pada rakaat kedua tapi belum lagi bangun dari ruku. Maka bila makmum itu masih sempat ruku bersama imam, berarti dia telah mendapat satu rakaat bersama imam. Dalam hal ini, dia mendapatkan shalat jumat karena minimal ikut satu rakaat. Jadi bila imam mengucapkan salam, maka dia berdiri lagi untuk menyelesaikan satu rakaat lagi. Tapi bila dia tidak sempat bersama imam pada saat ruku di rakaat kedua, maka dia tidak mendapat minimal satu rakaat bersama imam. Yang harus dilakukannya adalah tetap ikut dalam jamaah itu, tapi berniat untuk shalat zhuhur. Bila seseorang masuk masjid untuk shalat jumat, tetapi imam sudah i'tidal (bangun dari ruku') pada rakaat kedua, maka saat itu dia harus takbiratul ihram dan langsung ikut shalat berjamaah bersama imam tapi niatnya adalah shalat zhuhur. Bila

357

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

imam mengucapkan salam, maka dia berdiri lagi untuk shalat zhuhur sebanyak 4 rakaat. Ketentuan ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhuSiapa yang mendapatkan satu rakaat bersama imam, maka dia terhitung (mendapat) shalat itu. (Hadits Muttafaq Alaihi)22.

: -
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang mendapatkan satu rakaat pada shalat Jumat atau shalat lainnya, maka tambahkanlah rakaat lainnya, maka dia terhitung (mendapat) shalat itu. (HR. AnNasai, Ibnu Majah, Ad-Daruquthuni)23

Selain kedua dalil ini adalah beberapa hadits lain yang senada yang diriwayatkan oleh An-Nasai, Ad-Daruquhtuni dan lainnya. 3. Shalat Dzhur Setelah Shalat Jumat? Ada kasus pada masjid tertentu, setelah selesai shalat Jumat, langsung diadakan shalat Dzhuhur berjamaah. Alasannya, karena syak atau keraguan yang muncul takut shalat Jumat itu tidak sah, lantaran beberapa alasan : Pertama, tidak jauh dari masjid itu terdapat masjid lain yang jaraknya cukup dekat. Padahal konon ada aturan bahwa bila ada dua masjid berdekatan yang sama-sama melaksanakan shalat Jumat, maka salah satunya tidak sah. Yang tidak sah adalah
22 23

Shahih Bukhari 580, Shahih Muslim no. 607 Lafadz ini oleh Ad-Daruquthuni. Isnad hadits ini shahih, namun Abu Hatim menguatkan keirsalannya.

358

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

yang shalatnya belakangan. Kedua, ragu kalau-kalau di antara jamaah yang ikut shalat itu bukan termasuk orang yang muqim. Sebagaimana di perkotaan dimana umumnya masjid-masjid dipenuhi jamaah saat shalat Jumat. Namun belum tentu orang-orang yang memenuhi masjid itu termasuk orang yang muqim di sekitar masjid. Sementara dalam beberapa kitab fiqih di mazhab As-Syafi'i, ada disebutkan bahwa di antara syarat shalat Jumat itu harus dilakukan oleh minimal 40 orang yang muqim. Bila jumlah jamaahnya kurang dari 40 orang, maka tidak sah shalat Jumat itu. Demikian juga bila jumlah jamaahnya lebih dari 40 orang, tetapi banyak di antaranya bukan orang yang muqim, melainkan musafir, sehingga jumlah mereka yang muqim kurang dari 40 orang, maka shalat Jumat seperti ini juga dianggap tidak sah. Sehingga dengan demikian muncul kemudian ide untuk melaksanakan shalat Dzhuhur setelah shalat Jumat. Ini merupakan beberapa masalah yang sering diajukan kepada Penulis. Bahkan ada seorang ketua takmir masjid yang berterus terang kepada Penulis, bahwa dirinya pada setiap pulang dari shalat Jumat di masjid, selalu melakukan shalat Dzhuhur lagi di rumahnya. Hal itu dilakukan karena alasan yang pertama di atas. Untuk itu Penulis perlu memberikan jawaban agar tidak menimbulkan masalah. Pertama : Memang benar ada ketentuan bahwa di dalam satu wilayah tidak boleh diadakan beberapa shalat Jumat yang berbeda. Hal itu mengingat tujuan shalat Jumat adalah menyatukan seluruh kaum muslimin di satu tempat, sesuai dengan istilah jumat yang bersalah dari berkumpul atau berhimpun. Namun ketentuan ini tidak lantas menjadi sebuah syarat atau ketentuan yang bersifat kaku. Hal itu karena alasan yang sangat teknis di masa sekarang, apalagi di tengah perkotaan,

359

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

dimana kebanyakan masjid-masjid yang ada tidak menampung jumlah jamaah yang membeludak. Sehingga dirasa perlu dibangun masjid lainnya agar dapat menampung jamaah. Tentu saja akan lebih baik bila jamaah dapat tertampung di dalam masjid, dari pada shalat di jalan sehingga mengganggu lalu lintas jalan. Untuk tidak mengapa kalau dalam jarak yang tidak terlalu jauh juga didirikan masjid yang juga mengadakan shalat Jumat. Bahkan ketika di padang Arafah pun, tiap tenda boleh melakukan khutbah Arafah sendiri-sendiri, padahal ada khutbah yang diselenggarakan oleh pemerintah Saudi Arabia. Kedua, masalah kekhawatiran bahwa diantara jamaah shalat Jumat terdiri dari orang yang bukan muqim. Kita bisa menjawab bahwa istilah muqim itu adalah lawan kata dari musafir. Orang yang muqim adalah orang tidak dalam status musafir. Sehingga dalam hal ini, meski jamaah di masjid perkotaan itu memang tidak berumah di dekat masjid, bukan berarti statusnya adalah musafir. Mereka tetap dianggap orang yang muqim, meski rumahnya jauh dari masjid. Sebagai bukti bahwa mereka bukan musafir tapi orang yang statusnya muqim adalah bahwa mereka belum atau tidak boleh melakukan shalat jama' dan qashr. Seandainya mereka bukan muqimin tapi termasuk musafir, seharusnya mereka boleh menjama' dan mengqashar shalat, dan tidak perlu ikut shalat Jumat. 4. Wajibkah Shalat Jumat di Hari Lebaran? Ada kebingungan di tengah umat Islam terkait dengan kasus hari Jumat yang jatuh berbarengan dengan salah satu dari dua hari raya, yaitu Idul Fithr atau Idul Adha, apakah shalat Jumat gugur hukumnya dan boleh tidak dikerjakan, ataukah tetap wajib dikerjakan. Penyebab kebingungan ini karena adanya nash yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW membolehkan sebagian shahabat untuk tidak melaksanakan shalat Jumat ketika harinya

360

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

tetap jatuh di hari raya.


Dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata,Aku melihat Muawiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam, Apakah ketika bersama Rasulullah SAW Anda pernah menjumpai dua hari raya bertemu dalam satu hari? Zaid bin Arqam menjawab, Ya, saya pernah mengalaminya. Muawiyah bertanya lagi, Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika itu?. Zaid berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :


Siapa yang mau shalat Jumat maka lakukanlah shalat Jumat (HR. Ahmad)

Dalam hal ini, umumnya para ulama dari jumhur sepakat mengatakan bahwa hukum shalat Jumat tetap wajib dikerjakan, meski jatuh pada hari raya. Namun ada pendapat yang mengatakan sebaliknya, yaitu mazhab Al-Hanabilah. a. Tetap Wajib Jumhur ulama, yaitu para ulama dalam mazhab AlHanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah sepakat menegaskan bahwa hukum shalat Jumat tetap wajib dikerjakan meski jatuh bertepatan dengan hari raya, baik Idul Fithr atau Idul Adha. Mazhab Asy-Syafi'iyah membedakan antara penduduk suatu negeri dengan mereka yang hidup di padang pasir (nomaden). Keringanan untuk tidak shalat Jumat ini hanya berlaku buat mereka yang tinggal di daerah pedalaman, yang memang pada dasarnya tidak memenuhi syarat-syarat kewajiban shalat Jumat. Karena mewajibkan mereka untuk menunaikan shalat Jumat setelah shalat Ied dapat menyebabkan kesulitan bagi mereka. Ada banyak dalil yang dijadkan hujjah atas hal ini, antara lain :
Kuatnya Dalil Kewajiban Shalat Jumat

Shalat Jumat itu diwajibkan dengan ayat Al-Quran, yang

361

Bab 6 : Shalat Jumat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

dari segi nash merupakan nash sharih (jelas) dan qathi, baik dari segi tsubut maupun dari segi dilalah. Sehingga statusnya qath'iyuts-tsubut dan qath'iyud-dilalah.


Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli..(QS. Al-Jumuah : 9)

Sedangkan kebolehan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat hanya didasarkan pada nash yang tidak sharih dan juga tidak qath'i, yaitu hadits-hadits yang ketegasan dan keshahihannya masih diperselisihkan para ulama.
Rasulullah SAW dan Para Shahabat Tetap Shalat Jumat

Meski ada dalil dari Rasulullah SAW yang membolehkan sebagian orang untuk tidak shalat Jumat, namun dalam kenyataannya, Rasulullah SAW sendiri dan umumnya para shahabat tetap melakukan shalat Jumat. Hal itu terbukti dari hadits-hadits berikut ini :

Rasulullah SAW bersabda,"Dua hari raya jatuh di hari yang sama. Siapa tidak shalat Jumat silahkan, tetapi kami tetap mengerjakan shalat Jumat. (HR. Abu Daud)

Artinya meski hari itu bertemu dua hari raya, tidak berarti masjid Nabawi meliburkan shalat Jumat. Shalat Jumat tetap dilakukan oleh penduduk Madinah saat itu, terkecuali hanya beberapa orang saja yang dibolehkan untuk tidak ikut, karena udzur-udzur tertentu.
Yang Tidak Mewajibkan Tetap Menyarankan Shalat Jumat

Meski ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa shalat

362

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -2

Bab 6 : Shalat Jumat

Jumat hukumnya tidak wajib, seperti mazhab Al-Hanabilah, namun mereka tetap menganjurkan untuk tetap melakukan shalat Jumat, demi keluar dari khilaf dan kehati-hatian. Hal ini menunjukkan bahwa para ulama yang berpendapat tidak wajibnya shalat Jumat sekalipun juga tidak secara gegabah dalam berpendapat. Oleh karena itu jumhur ulama menyimpulkan bahwa shalat Ied (hari raya) tidak bisa menggantikan shalat Jumat. b. Tidak Wajib Adapun pendapat yang mengatakan bahwa shalat Jumat tidak wajib adalah mazhab Al-Hanabilah. Dalil yang mereka jadikan landasan tetap sama dengan dalil-dalil di atas, namun mereka mengambil kesimpulan bahwa keringanan itu berlaku untuk seluruh umat Islam, bukan hanya untuk penduduk yang tinggal di padang pasir.

363

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Bab 1 : Udzur Meninggalkan Shalat

Ikhtishar
A. Udzur Syar'i
1. Wanita Haidh dan Nifas 2. Gila 3. Belum Baligh 4. Bukan Muslim

B. Udzur Tidak Syar'i


1. Meragukan Sucinya Pakaian 2. Ketiadaan Air untuk Wudhu' 3. Menjama' Shalat di Rumah 4. Alasan Kebolehan Mengqadha' Shalat

C. Prinsip Mengerjakan Shalat


1. Mensiasati Waktu Shalat 2. Shalat Tidak Harus di Masjid 3. Ketentuan dalam Menjama' Shalat 4. Shalat di atas Kendaraan 5. Ketentuan dalam Qadha' Shalat

Seluruh ulama sepakat bahwa shalat lima waktu hukumnya wajib dijalankan oleh setiap muslim dalam keadaan apapun. Hal itu mengingat bahwa shalat lima waktu menjadi batas antara keislaman dan kekufuran seseorang. Dan shalat lima waktu adalah perkara yang pertama kali akan ditanya di hari kiamat nanti, sebelum amal-amal yang lain. Namun meski pun demikian, tetap saja syariat Islam

367

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

mengakui adanya udzur syar'i yang menimpa seseorang, sehingga hukum shalat yang asalnya fardhu 'ain berubah menjadi tidak wajib, bahkan malah terlarang, khusus untuk orang tersebut secara kasuistik. Kita mengenal udzur ada dua macam, yaitu udzur syar'i dan udzur tidak syar'i. A. Udzur Syar'i Dengan adanya udzur syar'i seperti ini, maka seorang memang 100% dicabut dari kewajiban untuk mengerjkan shalat, bahkan tidak perlu menggantinya, meski udzur itu sudah berlalu. Dan di antara udzur yang dibenarkan untuk meninggalkan shalat terbatas pada beberapa kasus saja, yaitu pada wanita yang mendapat darah haidh atau nifas, orang gila yang tidak berakal, anak-anak yang belum baligh dan orang yang statusnya bukan muslim alias orang kafir. 1. Wanita Haidh dan Nifas Wanita yang sedang mendapatkan darah haidh dan juga nifas adalah orang yang memiliki udzur syar'i. Kewajiban shalat lima waktu yang asalnya merupakan fardhu 'ain, dengan adanya haidh atau nifas, dicabut kewajibannya. Statusnya menjadi gugur kewajiban, sehingga tidak perlu diganti di kemudian hari. Dasar dari dicabutnya kewajiban shalat bagi wanita yang sedang haidh atau nifas adalah hadits berikut ini :

: s

Dari Aisyah ra berkata"Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha maka Rasulullah SAW bersabda

368

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

kepadanya"Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu janganlah shalat. Bila sudah selesai maka berwudhu'lah dan lakukan shalat. (HR. Abu Daud dan AnNasai).

Selain itu juga ada hadis lainnya:


Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda: Bila kamu mendapatkan haid maka tinggalkan shalat

Karena wanita haidh dan nifas tidak wajib mengerjakan shalat, maka juga tidak ada perintah untuk menggantinya di hari-hari suci dari haidh. Hal ini berbeda dengan puasa, dimana wanita yang haidh atau nifas dilarang berpuasa, namun tetap diwajibkan untuk mengganti puasa itu seusai suci dari haidh. Pembedaan hukum ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW sendiri, yaitu :

Dari Aisyah r.a berkata : Di zaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat haidh lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha salat (HR. Jamaah).

a. Gugur Kewajiban Syarat gugurnya kewajiban shalat adalah apabila haidh atau nifas terjadi sejak masuknya waktu shalat fardhu hingga berakhirnya waktu shalat. Selama masa waktu shalat fardhu berlangsung, haidh terus menerus terjadi, maka gugurlah kewajiban shalat. Bahkan shalat tidak boleh dikerjakan dan tidak perlu diganti. Sebagai ilustrasi, bila seorang wanita mendapat haidh sejak sebelum masuknya waktu Dzhuhur dan hingga habisnya waktu Dzhuhur dia masih dalam keadaan haidh, maka kewajiban shalat Dzhuhurnya gugur dengan sendirinya.

369

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

b. Tidak Gugur Kewajiban Namun bila seorang wanita mengalami haidh hanya pada sebagian waktu shalat, sedangkan sebagian waktu shalat yang lainnya dia dalam keadaan suci, maka kewajiban shalatnya tidak gugur. Dalam hal ini bisa terjadi dua jenis kejadian : Pertama : seorang wanita mendapat haidh, kemudian masuklah waktu shalat fardhu. Sebelum waktu shalat itu habis, dia telah suci dari haidh. Maka wanita itu tetap wajib mengerjakan shalat, karena ada durasi waktu dimana dia dalam keadaan suci. Contohnya ketika masuk waktu Dzhuhur seorang wanita masih dalam keadaan haidh. Namun jam 14.00, dipastikan darah haidhnya telah berhenti mengalir. Artinya dia telah suci dan waktu shalat Dhuhur masih ada. Dalam kejadian ini, yang wajib dilakukan adalah segera mandi janabah untuk mengangkat hadats besar, lalu segera mengerjakan shalat. Bila waktu shalat sudah habis, maka tetap saja shalat, karena kewajiban shalat tidak gugur dengan lewatnya waktu shalat. Sebagian ulama menyebut bahwa shalat yang dilakukan setelah lewat waktunya, apapun alasannya, dengan istilah shalat qadha'. Kedua : seorang wanita dalam keadaan suci lalu masuk waktu shalat dan belum sempat mengerjakannya, tiba-tiba dia mendapat darah haidh. Contoh gambarannya misalnya, ada seorang wanita yang ketika masuk waktu Dzhuhur masih dalam perjalanan. Niatnya akan mengerjakan shalat di rumah. Tapi ketika hampir mau mengerjakan shalat, tiba-tiba keluar darah haidh. Dalam dalam kasus ini, dia tidak boleh shalat, namun kewajiban shalatnya tidak gugur. Alasannya, karena ada masa waktu dimana dia masih suci dan waktu shalat sudah tiba. Untuk itu, nanti setelah masa haidh berlalu, seusai mengerjakan mandi janabah untuk mengangkat hadats, dia

370

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

harus mengganti shalatnya yang terlewat. Orang sering menyebutnya dengan istilah shalat qadha'. 2. Gila Orang gila pada dasarnya adalah orang tidak punya akal, meskipun dia punya otak di dalam batok tempurung kepalanya. Orang gila tidak punya kesadaran seperti umumnya orang normal. Karena itu dia kehilangan nilai-nilai yang cukup besar, termasuk rasa malu, sungkan, atau pun juga moral dan etika. Orang gila sama sekali tidak merasakan apa yang dirasakan oleh orang normal. Telanjang bulat di hadapan publik, menarinari, bernyanyi, meracau, kadang berteriak atau apapun yang dianggap aneh secara etitude, sama sekali tidak dirasakan oleh orang gila. Dengan kondisi yang demikian itu, hampir semua hukum yang berlaku di dunia ini membebaskan orang gila dari semua bentuk kesalahan. Sehingga kejahatan membunuh nyawa manusia yang dilakukan oleh orang gila, tidak bisa dianggap sebagai kejahatan. Orang gila bebas melakukan apa saja, tanpa harus terjerat dengan ketentuan hukum. Dalam banyak kisah lari dari jerat hukum, banyak pelaku kejahatan yang berpura-pura jadi orang gila, dan rela masuk ke pusat rehabilitasi atau tinggal di rumah sakit khusus jiwa. a. Gugur Beban Taklif Dalam hukum syariah, kedudukan orang gila bukan termasuk mukallaf, sehingga Allah SWT tidak memberi beban syariah kepada orang gila. Orang gila termasuk mereka yang mendapat udzur syar'i untuk 100% boleh meninggalkan shalat, puasa, haji, dan berbagai ibadah yang lain. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengeluarkan zakat dari harta milik orang gila. Sebagian berpendapat harta milik orang gila wajib dikeluarkan zakatnya. Namun sebagian lagi menolak hal itu, dengan alasan bahwa zakat itu merupakan ibadah yang membutuhkan niat dari pemiliknya.

371

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

Namun meski pun demikian, para ulama sepakat bahwa dalam urusan hak kepemilikan atas suatu harta, maka orang gila termasuk orang yang berhak memiliki. Contohnya orang gila yang mendapatkan harta warisan dari keluarganya yang wafat. Kegilaan tidak berakibat kepada gugurnya hak waris dan hak untuk memiliki harta benda. Maka untuk itu, harta milik orang gila diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan harta milik anak kecil, yaitu ada wali yang menjadi wakil dalam urusan harta. Dengan gugurnya taklif syariah seperti shalat, maka apabila ada orang gila yang tidak pernah mengerjakan shalat, tidak ada sedikit pun dosa atasnya yang harus ditanggungnya. Semua hal di atas khusus buat orang gila yang sifatnya terus menerus, sejak lahir atau setidaknya sejak baligh, hingga meninggal dunia. b. Gila Temporal Adapun orang gila yang sifatnya temporal, maka di saatsaat seseorang sedang tidak gila, maka tetap ada kewajiban untuk mengerjakan shalat lima waktu. Contohnya bila ada orang yang normal, lalu untuk masa waktu 3 bulan dia mengalami kegilaan, maka selama 3 bulan itu tidak 100% bebas dari mengerjakan shalat. Alasannya, karena selama 3 bulan itu dia dalam keadaan gila. Namun sebelum datangnya masa 3 bulan itu dan sesudahnya, dia tetap wajib mengerjakan shalat. Dan bila terlewat, maka dia wajib menggantinya. Menurut jumhur ulama, orang yang sempat untuk beberapa saat hilang kewarasannya, begitu sudah kembali ingatannya tidak wajib mengqadha' shalat. Namun hal itu berbeda dengan pendapat kalangan Al-Hanafiyah yang justru mewajibkannya untuk mengqadha' shalat. Sedangkan bila hilang kesadaran karena seseorang minum khamar dan mabuk, maka dia wajib mengqadha' shalatnya. 3. Belum Baligh

372

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Anak yang belum baligh bukan termasuk orang yang diwajibkan untuk mengerjakan shalat lima waktu. Namun demikian, usia yang belum baligh itu tidak menjadi penghalang baginya untuk mengerjakan shalat. a. Tidak Ada Dosa Bila Meninggalkan Seorang anak yang belum baligh, karena usianya yang belum mencukupi, maka Allah SWT tidak membebaninya dengan taklif syariah sebagaimana orang dewasa yang sudah baligh. Maka seorang anak kecil tidak diwajibkan mengerjakan shalat lima waktu. Sehingga apabila dia meninggalkannya, maka tidak ada dosa bagiannya. Dan tidak pula diwajibkan untuk mengganti shalat-shalat yang ditinggalkannya selama masa belum baligh itu. Artinya dengan kata lain, gugurlah kewajiban untuk mengerjakan shalat bagi anak yang belum memasuki usia baligh. b. Sah Mengerjakan Shalat Meski pun tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat, tetapi bila seorang anak sudah mumayyiz, lalu dia mampu mengerjakan semua gerakan dan bacaan shalat dengan benar, maka para ulama sepakat bahwa shalat yang dilakukannya itu sah. Tentu agar shalatnya sah, maka semua syarat sah dari shalat harus dipenuhi sebelumnya, seperti suci dari najis dan hadats, menghadap kiblat, menutup aurat, serta tahu bahwa waktu shalat sudah masuk ketika dia mulai mengerjakan shalat. Selain juga semua rukun shalat harus dikerjakan seluruhnya, mulai dari niat, takbiratul ihram, membaca surat AlFatihah hingga ke urutan terakhir yaitu mengucapkan salam. c. Termasuk Shalat Sunnah Karena seorang anak kecil tidak diwajibkan shalat lima waktu, namun kalau dia mengerjakannya dianggap sah, maka

373

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

para ulama sering mengatakan bahwa shalat itu merupakan shalat sunnah bagi anak yang belum baligh. Sebagaimana definisi sunnah yang umumnya banyak disebutkan para ulama ushul, yaitu suatu ibadah yang apabila dikerjakan akan mendatangkan pahala, namun apabila ditinggalkan tidak mendatangkan dosa. Maka kalau ada pertanyaan teka-teki : kapankah shalat Dzhuhur berubah hukumnya dari wajib menjadi sunnah? Maka jawabnya mudah saja, yaitu apabila shalat itu dikerjakan oleh anak yang sudah mumayyiz tapi belum baligh. d. Boleh Menjadi Imam Dan bukti bahwa shalat yang dilakukan itu sah, adalah dibolehkannya orang-orang dewasa bermakmum di belakang anak itu. Dasarnya adalah hadits bahwa Amru bin Salamah menjadi imam ketika masih berusia 6 atau 7 tahun.


Dari Amru bin Salamat radhiyallahuanhu bahwa dirinya menjadi imam atas suatu kaum di masa Rasulullah SAW ketika masih berusia enam atau tujuh tahun. (HR. Al-Bukhari)

Hal yang sama juga terjadi pada diri Abdullah bin Abbas radhiyallahuanhu, yang ketika masih kecil sudah mumayyiz tapi belum baligh, sudah menjadi imam shalat bagi kaumnya. Namun demikian, tetap saja mazhab ini lewat Al-Buwaithy mengutamakan imam yang sudah baligh dari pada yang baru mumayyiz, meski yang baru mumayyiz ini barangkali lebih fasih bacaannya.1 4. Bukan Muslim Orang yang bukan muslim alias kafir termasuk dalam kategori orang yang tidak dibebankan untuk mengerjakan shalat
1

Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal. 168

374

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

di dunia ini. Namun sifatnya tidak 100% bebas, sebagaimana wanita haidh, nifas atau orang gila dan anak kecil yang belum baligh. a. Menanggung Dosa Meninggalkan Shalat Para ulama umumnya sepakat bahwa meski di dunia ini orang kafir tidak wajib mengerjakan shalat, namun mereka tetap berdosa dan ada hitung-hitungan dosa tersendiri di akhirat ketika meninggalkan shalat. Sehingga dosa dan siksa bagi orang kafir di neraka juga berbeda-beda jumlah dan tingkatannya. Orang kafir yang mati masih muda, katakanlah setahun sejak baligh, maka dosadosanya ketika meninggalkan shalat relatif lebih sedikit, apabila dibandingkan dengan orang kafir yang meninggal dalam usia lanjut. Sebab jumlah shalat fardhu yang ditinggalkan tentu sangat banyak. Maka orang kafir yang mati di usia lanjut, tanpa pernah masuk Islam, akan jauh lebih banyak dosanya, dan lebih keras siksaannya. Maka daripada jadi orang kafir yang mati tua, mendingan jadi orang kafir yang mati muda. Tapi yang lebih baik adalah jadi orang yang ketika meninggal dunia, mati dalam keadaan muslim. b. Dosa Dihapus Dengan Masuk Islam Meski orang kafir harus menanggung dosa dari meninggalkan shalat seumur hidup, namun dosa-dosa itu bisa dengan mudah dihapus dalam sekejap saja. Caranya mudah, yaitu dengan masuk dan memeluk agama Islam. Rasulullah SAW telah bersabda :


Masuk Islamnya seseorang akan menghapus semua dosa sebelumnya

Inilah satu-satunya jalan untuk mendapatkan keselamatan

375

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

di akhirat bagi orang yang tidak memeluk agama Islam. Cukup dengan menyatakan diri masuk Islam, mengikrarkan dua kalimat syahadat, maka status kekafiran runtuh seiring dengan runtuhnya dosa. Begitu masuk Islam, seseorang akan berada pada posisi seolah-olah dia baru saja dilahirkan dari perut ibunya. Dia tidak punya dosa yang harus ditanggung di kemudian hari, khususnya dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT. c. Tidak Perlu Mengganti Shalat Para ulama sepakat bahwa karena orang kafir memang tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat, maka kalau pun mereka kemudian masuk Islam, pada hakikatnya tidak ada kewajiban atas mereka untuk mengganti shalat yang tidak dikerjakan. Namun hal ini khusus hanya berlaku buat orang yang asalnya kafir 100% alias lahir dalam keadaan bukan muslim. Dan hukumnya menjadi berbeda apabila kasusnya terjadi pada seorang muslim yang murtad keluar dari agama Islam, lalu kembali lagi masuk Islam. Dia tidak benar-benar kafir, tetapi lebih dekat dengan istilah 'cuti' dari keislaman. Para ulama memandang bahwa kedudukan hukum orang kafir asli berbeda dengan muslim yang murtad keluar dari agama Islam, lalu kembali lagi. Dan salah satu titik perbedaannya itu adalah bahwa muslim yang murtad itu, apabila nanti dia kembali lagi memeluk agama Islam, maka dia tetap diwajibkan mengganti shalatnya yang telah ditinggalkan selama masa murtadnya. B. Udzur Tidak Syar'i Di luar dari hal-hal yang menggugurkan kewajiban shalat, seperti wanita yang sedang mendapat haidh atau nifas, orang gila, anak yang belum baligh dan orang kafir, maka kewajiban shalat lima waktu tetap menjadi kewajiban yang asasi. Maka bagi seorang muslim, pantang untuk meninggalkan

376

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

shalat dalam keadaan apa pun. Walau pun mungkin ada saja alasan yang bisa dibuat-buat untuk seseorang meninggalkan shalat. Padahal sesungguhnya alasan itu tidak bisa dijadikan keringanan untuk meninggalkan shalat, karena memang tidak memenuhi ketentuan. Di antara alasan yang paling sering dibuat-buat untuk meninggalkan shalat : 1. Meragukan Sucinya Pakaian Alasan ini adalah alasan yang paling klasik dan paling sering dijadikan tameng dalam banyak kasus, untuk meligitimasi sikap malas mengerjakan shalat. Dengan alasan seperti ini, seolah-olah seseorang boleh meninggalkan shalat hanya karena dirinya merasa ragu-ragu apakah pakaiannya ada najisnya atau tidak. Anehnya, karena ada rasa ragu, alih-alih mencari alternatif bagaimana caranya agar najisnya hilang, yang dilakukan malah sekalian nekad tidak mengerjakan shalat. Kalau ditanya bagaimaan dengan shalatnya, jawabnya juga amat klasik, nanti saja saya jama' di rumah. Padahal alasan ini perlu diklarifikasi dulu, apa benar ada najis yang nampak zahir pada pakaiannya? Ataukah hanya sekedar rasa ragu belaka? Dalam banyak kasus, sebenarnya 100% tidak ada najis. Dan rasa ragu atas najis itu sebenarnya hanya dibuat-buat untuk dijadikan alasan. Tapi dalam kasus tertentu memang seringkali yang dijadikan kambing hitam adalah masalah pakaian yang sudah kumal dan bau keringat. Seolah-olah kumal dan bau keringat adalah najis. Padahal keringat manusia itu tidak najis. Kalau pun seseorang terkena najis pada pakaiannya, maka ada begitu banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk terhindar dari najis. Salah satunya dengan cara mencuci secara lokal pada bagian yang nyata-nyata terkena najis. Mencuci lokal artinya pakaian itu tidak harus dicuci secara keseluruhanya,

377

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

cukup dicuci tepat pada bagian yang terkena najis. Yang tidak terkena najis tentu saja tidak perlu dicuci. Teknik mencuci lokal seperti ini yang paling mudah adalah dengan mencubit bagian pakaian yang terkena najis tanpa harus melepas dari tubuh, lalu didekatkan ke kran air untuk dikucuri air. Kemudian dikucek sedikit hingga kira-kira najisnya telah hilang, dan selesai sudah. Cara lain agar terhindar najis adalah melepas pakaian itu apabila hendak shalat. Katakanlah yang kita anggap terkena najis itu celana dalam, maka silahkan shalat dengan melepas celana dalam. Dan shalat tetap sah walaupun dikerjakan tanpa memakai celana dalam. 2. Ketiadaan Air Untuk Wudhu Alasan lain yang juga paling sering dijadikan alibi untuk meninggalkan kewajiban shalat adalah tidak adanya air untuk mengerjakan wudhu'. Seolah-olah bila tidak ada tempat unutk berwudhu berupa kran atau kamar mandi, lantas tidak perlu berwudhu dan lebih baik tidak shalat. Anggapan ini tentu saja keliru, sebab sebenarnya kita hidup di tengah-tengah limpahan air, meski tidak harus berbentuk kran air. Bukankah di tengah jalanan yang macet itu justru banyak penjaja minuman kemasan? Apakah minuman kemasan bukan termasuk air? Bukankah di kanan kiri jalan itu ada gedung yang pasti memiliki kran air? Karena itu bertayammum di tengah kota yang berlimpah dengan air tidak dapat dibenarkan. Keringanan yang Allah berikan tidak berarti boleh dikerjakan sesukanya. Tayammum misalnya, baru boleh dikerjakan bila memang tidak didapat air setelah berusaha mencarinya. Namun dalam kondisi seseorang berada di tengah peradaban atau kota, tidak bisa dikatakan bahwa dia boleh bertayammum. 3. Menjama' Shalat di Rumah

378

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Alasan klasik lainnya yang sering dijadikan alibi untuk meninggalkan shalat adalah ungkapan,"Nanti shalatnya akan saya jama' setelah tiba di rumah". Seolah-olah dengan niat nanti menjama' di rumah, urusan shalat bisa ditinggalkan begitu saja tanpa rasa bersalah dan rasa dosa. Kenapa dikatakan salah dan dosa? Karena ada beberapa sebab, antara lain : a. Tidak Ada Jama' Bila Sudah Sampai Rumah Para ulama sepakat bahwa kalau pun seseorang diperbolehkan untuk menjama' dua shalat karena suatu hal, maka jama' itu hanya boleh dilakukan selama hal yang membolehkan jama' itu masih berlangsung. Misalnya seorang musafir dibolehkan untuk menjama' shalat. Maka ketentuannya adalah bahwa jama' itu hanya boleh dilakukan ketika sedang menjadi musafir. Bila seseorang belum mulai menjadi musafir, karena masih berada di dalam rumahnya, maka dia belum boleh menjama' shalatnya. Demikian pula bila seseorang sudah selesai menjadi musafir, misalnya karena sudah tiba di dalam rumahnya, maka saat itu sudah tidak sah dan tidak boleh lagi menjama' shalat. Penyebabnya karena syarat yang membolehkan jama' yaitu bepergian (safar) sudah tidak lagi berlangsung. Maka alasan orang yang meninggalkan shalat karena niatnya mau dijama' nanti setelah tiba di rumah adalah alasan yang keliru, tidak syar'i, batil dan jelas berdosa. b. Syarat Jama' Tidak Terpenuhi Para ulama sepakat bahwa hal-hal yang membolehkan shalat dijama' bukan hanya karena sebab perjalanan, tetapi juga oleh sebab-sebab yang lain. Misalnya karena hujan, haji, sakit, atau kejadian luar biasa yang tidak memungkinkan seseorang melakukan shalat. Namun macet di jalan yang berlangsung rutin setiap hari

379

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

sepulang kerja, jelas tidak termasuk dari salah satu hal yang membolehkan seseorang menjama' shalat. Macet dan berhenti lama di jalan bukan termasuk safar, karena safar itu harus memenuhi tiga syarat. Pertama, safar itu harus keluar kota dan tidak ada safar kalau di dalam kota. Kedua, safar itu minimal harus menempuh jarak 4 burud atau 16 farsakh, atau sekitar 90-an km jaraknya dari rumah. Ketiga, safar itu harus punya tujuan pasti dan bukan hanya berputar-putar di satu titik. Maka kalau shalat Maghrib dijama' dengan Isya' karena alasan macet, hukumnya tidak sah. Sebab macet tidak sama dengan safar. Macet juga bukan termasuk sakit, hujan atau haji. Macet juga bukan kejadian luar biasa yang menimpa seseorang. Sebab di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, macet sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Kalau suatu sore pulang kerja, jalanan sepi dan kosong, justru aneh dan menimbulkan tanda tanya besar. 4. Alasan Kebolehan Mengqadha' Shalat Alasan yang paling jahat dan tidak bertanggung-jawab ketika seseorang meninggalkan shalat adalah alasan bahwa shalatnya nanti akan diqadha'. Hukum secara sengaja meninggalkan shalat fardhu tanpa udzur yang syar'i dengan alasan nanti shalatnya mau diqadha' adalah haram dan tidak boleh. Bukan qadha'nya yang haram, melainkan sengaja meninggalkan shalatnya itu yang haram dan berdosa. Hukum melakukan shalat qadha' itu berbeda dengan melakukan jama'. Menjama' shalat dibenarkan asalkan syaratsyaratnya terpenuhi dari awal. Misalnya, seorang musafir ketika memasuki waktu maghrib boleh dan diharuskan berniat akan melakukan shalat Maghrib dengan cara dijama' dengan waktu Isya', sehingga dengan demikian, shalat Maghrib secara sah boleh ditinggalkan dengan sengaja dan diganti dengan niat akan dijama' di waktu Isya'.

380

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Namun tidak demikian halnya dengan qadha' shalat. Seseorang tidak diperkenankan untuk secara sengaja meninggalkan shalat, dengan niat nanti akan diqadha'. Sebab qadha itu merupakan jalan keluar apabila seseorang luput dari mengerjakan shalat karena sesuatu hal yang tidak bisa dihindari secara syar'i. Misalnya tertidur dan kesiangan, sakit, kecelakaan, lupa, atau hal-hal lain yang memang di luar kemampuan. Tetapi bila alasannya hanya sekedar ritual rutin bermacetmacet ria, meeting, rapat, resepsi pernikahan, nonton bola, masuk bioskop, atau janjian dengan rekan bisnis, semua itu bukan hal yang tidak bisa diantisipasi. Dan tentunya tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan shalat. C. Prinsip Mengerjakan Shalat 1. Mensiasati Waktu Shalat Jadi yang harus dilakukan adalah membuat perhitungan bagaimana agar bisa shalat Maghrib tepat pada waktunya. Misalnya bila dalam perjalanan pulang harus berganti bus, usahakan saat berganti bus itu untuk mencari tempat shalat. 2. Shalat Tidak Harus di Masjid Dalam hal ini tempat shalatnya tidak harus berupa masjid atau mushalla, tetapi sebuah tempat yang bersih di mana saja asal bisa melakukan shalat. Kita bisa shalat di emper toko, halaman, trotoar dan sebagainya. Karena kelebihan umat Nabi Muhammad SAW adalah dijadikan bumi ini sebagai masjid, dimana pun dirinya berada, dia wajib mengerjakan shalat. Maka shalat bisa dikerjakan dimana saja dan kapan saja, yang penting sudah punya wudhu. Bila tidak, bisa membawa bekal sebuah botol kemasan yang diisi dengan air dan berwudlu' cukup dengan air sebotol itu. Ini lebih ekonomis dari pada membeli air minum kemasan yang dijual di jalan. Alternatif kedua seperti yang dilakukan oleh banyak orang, kita bisa menunda waktu pulang hingga maghrib tiba, lalu tunaikan shalat maghrib di tempat kerja. Setelah itu barulah

381

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

pulang ke rumah. Konon bila pulang di atas Mahgrib, kemacetan jalan sudah mulai berkurang. Sedangkan shalat Isya' cukup dilakukan nanti di rumah karena waktu masih panjang. Dalam kasus tertentu, bila memang bus itu khusus karyawan dan bus jemputan yang mana teman-teman seperjalanannya sudah saling kenal, maka tidak ada salahnya bila jadi pelopor dengan mengusulkan kepada mereka agar bus itu bisa berhenti sejenak di pinggir tol agar bisa memberikan kesempatan kepada mereka yang muslim untuk mengerjakan shalat maghrib. Mungkin ide ini dianggap gila atau mengada-ada, tapi tidak ada salahnya dicoba? 3. Ketentuan dalam Menjama' Shalat Di dalam syariat Islam, bila syarat dan ketentuannyaterpenuhi, shalat boleh dijama' atau digabung untuk dikerjakan dalam satu waktu. Pada bab-bab berikutnya kita akan membahas secara khusus dan mendalam tentang segala hal yang berkaitan dengan shalat Jama'. 4. Shalat di Atas Kendaraan Alternatif yang terakhir untuk tetap bisa melaksanakan shalat adalah melakukannya di atas kendaraan. Dan syariat Islam memungkinkan kita untuk melakukan shalat di atas kendaraannya, dengan syarat dan ketentuan yang telah baku. Namun intinya bahwa shalat di atas kendaraan adalah hal yang masyru' dan pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.


Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW shalat di atas kendaraannya menuju ke arah Timur. Namun ketika beliau mau shalat wajib, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

382

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Dan beliau SAW memerintahkan Ja'far bin Abi Thalib untuk mengerjakan shalat di atas kapal laut.


Dari Ya'la bin Umayyah bahwa Nabi SAW melewati suatu lembah di atas kendaraannya dalam keadaan hujan dan becek. Datanglah waktu shalat, beliau pun memerintahkan untuk dikumandangkan adzan dan iqamat, kemudian beliau maju di atas kendaraan dan melalukan shalat, dengan membungkukkan badan (saat ruku' dan sujud), dimana membungkuk untuk sujud lebih rendah dari membungkuk untuk ruku'. (HR. Ahmad dan AlBaihaqi)

Namun shalat di atas kendaraan ini punya beberapa ketentuan, syarat dan hal-hal teknis yang wajib dipahami dengan mendalam. Untuk itu kita akan bahas secara lebih seksama di dalam bab berikutnya, insya Allah. 5. Ketentuan Dalam Mengqadha' Shalat Apabila sudah tidak ada alternatif lain kecuali meninggalkan shalat, maka tetap saja shalat itu wajib dikerjakan di waktu yang lain. Karena kewajiban shalat fardhu tidak gugur meski sudah terlewat waktunya. Untuk itu syariat Islam telah menetapkan adanya shalat qadha' dengan segala ketentuan dan syarat-syarat yang berlaku. Insya Allah khusus masalah mengqadha' shalat ini juga akan dibahas dalam satu bab khusus.

383

Bab 1 : Shalat dalam Berbagai Keadaan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -3

384

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

Bab 2 : Shalat Musafir

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah

B. Syarat Musafir
1. Keluar Dari Wathan 2. Punya Tujuan Tertentu 3. Jarak Tertentu 4. Safar Yang Mubah

C. Tempat Tinggal dan Wathan


1. Pengertian dan Batas Wathan 2. Jenis Wathan 3. Keringanan Berlaku Sejak Keluar Dari Wathan

D. Berakhirnya Kebolehan Qashar


1. Dalam Keadaan Safar Sepanjang Shalat 2. Pulang dan Sampai di Rumah 3. Melebihi Batas Waktu Menetap

A. Pengertian 1. Bahasa Secara bahasa, musafir itu adalah ism fa'il (pelaku) dari safar atau perjalanan. Secara etimologis, kata safar dalam bahasa Arab bermakna :

385

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Perjalanan menempuh suatu jarak

Lawan kata safar adalah hadhar, yaitu berada di suatu tempat, tidak bepergian menempuh jarak tertentu dengan tujuan tertentu. 2. Istilah Namun dalam istilah para fuqaha (ahli fiqih) yang dimaksud dengan safar bukan sekedar seseorang pergi dari satu titik ke titik yang lain. Namun makna safar dalam istilah para fuqaha adalah :


Seseorang keluar dari negerinya untuk menuju ke satu tempat tertentu, yang perjalanan itu menempuh jarak tertentu dalam pandangan mereka (ahli fiqih).

B. Syarat Musafir Kalau kita cermati definisi yang dibuat oleh para ulama di atas, maka istilah safar itu menyangkut tiga syarat utama, yaitu : keluar dari wathan, punya tujuan tertentu, dan ada jarak minimal dari tempat yang dituju. 1. Keluar Dari Wathan Kriteria safar yang pertama adalah keluar dari wathan, atau dari tempat tinggal. Sehingga seseorang tidak disebut sebagai musafir manakala dia tidak keluar dari wathan atau daerah tempat tinggalnya. Contohnya adalah seorang yang naik treadmill, salah satu alat kebugaran. Meski dia melangkahkan kaki menempuh hitungan 100 Km, tidak dikatakan telah menjadi musafir, mengingat secara fisik dirinya tidak kemana-mana dan tetap

386

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

berada di suatu tempat. Contoh lainnya adalah seseorang yang mengemudikan mobil dan masuk jalan tol dalam kota Jakarta. Meski alat pengukur jarak pada spedometer menyebutkan bahwa dia telah menempuh jarak lebih dari 100 km, namun kalau hanya berputar-putar saja di dalam Kota Jakarta, meski telah beberapa putaran, lalu pulang ke rumah, tidak disebut musafir. Contoh lainnya adalah warga Jakarta dan sekitarnya yang duduk berjam-jam dalam sehari di dalam kendaraan sambil menikmati kemacetan parah. Meski waktu yang dipakai untuk bermacet-macet itu lebih dari tiga jam, namun tidak disebut sebagai perjalanan atau safar. Kenapa? Karena belum keluar dari wathan atau wilayah tempat tinggal. Macet itu masih di dalam wilayah tempat tinggal. Sehingga berbagai fasilitas dan keringanan buat musafir, belum diperoleh manakala seseorang masih berada di dalam rumahnya sendiri atau berada di daerah tempat tinggalnya. Karena status seseorang belum dikatakan telah menjadi musafir, manakala dia belum keluar dari tempat tinggalnya. Dan demikian juga sebaliknya, semua fasilitas itu tidak berlaku lagi, manakala seseorang sudah kembali berada di tempat tinggalnya. Tentang pengertian wathan sebagaimana yang disebutkan dalam definisi ini, nanti akan kita bahas secara tersendiri. 2. Punya Tujuan Tertentu Kriteria kedua adalah bahwa perjalanan yang dilakuan harus punya tujuan tertentu yang pasti secara spesifik dan pasti, bukan sekedar berjalan tak tentu arah dan tujuan. Misalnya, orang yang melakukan perburuan hewan atau mengejar hewan yang lepas, dimana dia tidak tahu mau pergi kemana tujuan perjalanannya. Kalau ada orang masuk tol dalam kota Jakarta, lalu memutari Jakarta dua putaran, maka dia sudah menempuh jarak

387

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

kurang lebih 90 Km. Namun orang ini tidak disebut sebagai musafir. Alasannya karena apa yang dilakukannya itu tidak punya tujuan yang pasti. Demikian juga dengan pembalap di sirkuit. Meski jarak yang ditempuhnya ratusan kilmometer, tetapi kalau lokasi hanya berputar-putar di sirkuit itu saja, juga bukan termasuk musafir. Alasannya, karena tidak ada tujuannya kecuali hanya berputar-putar belaka. Maka orang yang menempuh jarak jauh tetapi tidak ada tujuan tertentu, tidak disebut sebagai musafir. 3. Jarak Tertentu Kriteria yang ketiga dari sebuah safar adalah adanya jarak minimal yang harus ditempuh dari wilayah tempat tinggalnya hingga ke tempat tujuannya. Tidak semua safar membolehkan kita untuk mengqashar shalat. Hanya safar dengan kriteria tertentu saja yang membolehkan kita mengqasharnya. Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menjama' shalat dilihat dari segi batas minimal jarak perjalanan. a. Jumhur Ulama Jumhur ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah, AsySyafi'iyah dan Al-Hanabilah umumnya sepakat bahwa minimal berjarak empat burud. Dasar ketentuan minimal empat burud ini ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai penduduk Mekkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 burud, dari Mekkah ke Usfan". (HR. Ad-Daruquthuny)

Selain dalil hadits di atas, dasar dari jarak minimal 4 burud adalah apa yang selalu dilakukan oleh dua ulama besar dari

388

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

kalangan shahabat, yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma. Mereka berdua tidak pernah mengqashar shalat kecuali bila perjalanan itu berjarak minimal 4 burud. Dan tidak ada yang menentang hal itu dari para shahabat yang lain. Dalil lainnya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Atsram, bahwa Abu Abdillah ditanya,
"Dalam jarak berapa Anda mengqashar shalat?". Beliau menjawab,"Empat burud". Ditanya lagi,"Apakah itu sama dengan jarak perjalanan sehari penuh?". Beliau menjawab,"Tidak, tapi empat burud atau 16 farsakh, yaitu sejauh perjalanan dua hari".

Para ulama sepakat menyatakan bahwa jarak 1 farsakh itu sama dengan 4 mil. Dalam tahkik kitab Bidayatul Mujtahid dituliskan bahwa 4 burud itu sama dengan 88,704 km1. Meski jarak itu bisa ditempuh hanya dengan satu jam naik pesawat terbang, tetap dianggap telah memenuhi syarat perjalanan. Karena yang dijadikan dasar bukan lagi hari atau waktu, melainkan jarak tempuh.
Dua Hari Perjalanan.

Dan semua ulama sepakat bahwa meski pun disebut masa perjalanan dua hari, namun yang dijadikan hitungan sama sekali bukan masa tempuh. Tetapi yang dijadikan hitungan adalah jarak yang bisa ditempuh di masa itu selama dua hari perjalanan. Pertanyannya, kalau memang yang dimaksud dengan jarak disini bukan waktu tempuh dua hari, lalu mengapa dalilnya malah menyebutkan waktu dan bukan jarak. Jawabnya karena di masa Rasulullah SAW dan beberapa tahun sesudahnya, orang-orang terbiasa menyebutkan jarak antar satu negeri dengan negeri lainnya dengan hitungan waktu tempuh, bukan dengan skala kilometer atau mil. Di masa sekarang ini, kita masih menemukan masyarakat yang menyebut jarak antar kota dengan hitungan waktu. Salah
1

Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd Al-Hafid, jilid 1 hal. 404

389

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

satunya di Jepang yang sangat maju teknologi perkeretaapiannya. Disana orang-oran terbiasa menyebut jarak satu kota dengan kota lainnya dengan hitungan jam. Maksudnya tentu bukan dengan jalan kaki melainkan dengan naik kereta cepat Sinkansen. Sedangkan perjalanan dua hari di masa Rasulullah SAW tentunya dihitung dengan berjalan kaki dengan langkah yang biasanya. Meski pun naik kuda atau unta, sebenarnya relatif masa tempuhnya kurang lebih sama. Karena kuda atau unta bila berjalan di padang pasir tentu tidak berlari, sebab tenaganya akan cepat habis. Perjalanan antar negeri di masa itu yang dihitung hanya perjalanan siang saja, sedangkan malam hari tidak dihitung, karena biasanya malam hari para khafilah yang melintasi padang pasir beristirahat. Masa tempuh seperti ini kalau dikonversikan dengan jarah temput sebanding dengan jarak 24 mil. Dan sebanding pula dengan jarak 4 burud, juga sebanding dengan 16 farsakh. Jarak ini juga sama dengan 48 mil hasyimi. b. Jarak 3 Hari Perjalanan Abu Hanifah dan para ulama Kufah mengatakan minimal jarak safar yang membolehkan qashar itu adalah bila jaraknya minimal sejauh perjalanan tiga hari, baik perjalanan itu ditempuh dengan menunggang unta atau berjalan kaki, keduanya relatif sama. Dan tidak disyaratkan perjalanan itu siang dan malam, tetapi cukup sejak pagi hingga zawal di siang hari. Safar selama tiga hari ini kira-kira sebanding dengan safar sejauh 3 marhalah. Karena kebiasaannya seseorang melakukan safar sehari menempuh satu marhalah. Dasar dari penggunaan masa waktu tiga hari ini adalah hadits Nabi SAW, dimana dalam beberapa hadits beliau selalu menyebut perjalanan dengan masa waktu tempuh tiga hari. Seperti hadits tentang mengusap sepatu, disana dikatakan bahwa seorang boleh mengusap sepatu selama perjalanan 3 hari.

390

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

Orang yang muqim mengusap sepatu dalam jangka waktu sehari semalam, sedangkan orang yang safar mengusap sepatu dalam jangka waktu tiga hari tiga malam. (HR. Ibnu Abi Syaibah)2

Demikian juga ketika Rasulullah SAW menyebutkan tentang larangan wanita bepergian tanpa mahram yang menyertainya, beliau menyebut perjalanan selama 3 hari.

Dari Ibnu Umar radhiyallhuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian sejauh 3 malam kecuali bersama mahram". (HR. Muslim)

Menurut mazhab Al-Hanafiyah, penyebutan 3 hari perjalanan itu pasti ada maksudnya, yaitu untuk menyebutkan bahwa minimal jarak perjalanan yang membolehkan qashar adalah sejauh perjalanan 3 hari. Kalau kita konversikan jarak perjalanan tiga hari, maka hitungannya adalah sekitar 135 Km. c. Beberapa Rute Jalan Berbeda Jarak Lepas dari perbedaan para fuqaha tentang jarak safar, muncul kemudian permasalahan baru, yaitu bagaimana bila untuk mencapai tujuan ternyata ada beberapa jalan yang ukuran jaraknya berbeda. Manakah yang kita gunakan, apakah menggunakan jarak terpendek ataukah jarak terjauh? Dalam hal ini umumnya para ulama mengatakan bahwa yang digunakan bukan jarak terdekat atau jarak terjauh. Yang digunakan adalah rute yang dipilih. Maksudnya, bila seseorang
2

Nashbur-rayah jilid 2 hal. 183

391

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

berjalan menggunakan rute pertama, yang jaraknya telah memenuhi batas jarak minimal, maka dia terhitung musafir dan mendapatkan fasilitas seperti kebolehan berbuka puasa, menqashar shalat dan sebagainya. Sebaliknya, bila rute yang dia tempuh ternyata tidak mencukupi jarak minimal safar, maka dia tidak atau belum lagi berstatus musafir. Sehingga tidak mendapatkan fasilitas keringan dalam hukum syariah. Abu Hanifah mengatakan yang digunakan adalah jarak terjauh. Misalnya ada dua rute, rute pertama membutuhkan waktu 3 hari perjalanan, sedangkan rute kedua membutuhkan hanya 1 hari perjalanan, maka yang dianggap adalah yang terjauh. Maka dalam urusan qashar shalat, jarak itu sudah membolehkan qashar.
Jarak Jakarta - Puncak

Dan apa yang telah dibahas para ulama di masa lalu nampaknya menjadi solusi di masa sekarang. Di tahun 70-an, sebelum ada jalan TOL Jakarta Bogor Ciawi (Jagorawi), penduduk Jakarta menghitung bahwa antara kota Jakarta dan Puncak Pass berjarak 90 km. Tetapi sekarang dengan lewat jalan tol, jarak itu berubah hanya 70-an km saja. Demikian juga dengan jarak antara Jakarta dan Bandung. Kalau di masa lalu jaraknya 180-an km, maka sekarang jaraknya hanya tinggal 120-an km. Ternyata perbedaan-perbedaan itu terjadi karena ada perbedaan rute di masa lalu dan di masa sekarang. Dahulu orang kalau mau ke Puncak harus lewat jalan Bogor Lama, lewat kota Bogor lalu Ciawi. Tetapi sekarang dari Jakarta ke Puncak sama sekali tidak lewat Bogor atau Ciawi, tetapi langsung memotong jalur. Begitu juga dengan rute Jakarta ke Bandung, dahulu harus lewat Bogor dan Ciawi bahkan lewat Sukabumi. Tetapi sekarang lewat jalan tol Cikampek ternyata rutenya menjadi jauh lebih singkat.

392

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

4. Safar Yang Mubah Kriteria yang keempat adalah kehalalan safar yang dilakukan. Halal disini maksudnya adalah bahwa perjalanan itu tujuannya bukan untuk melakukan maksiat atau kemungkaran yang dilarang Allah SWT. Perjalanan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencuri, merampok, membunuh nyawa tanpa hak, meminum khamar, berjudi, berpraktek riba, menjadi dukun, tukang ramal, mengerjakan sihir atau untuk berzina dan sejenisnya, adalah perjalanan yang tidak dibenarkan, sekaligus juga tidak memberikan fasilitas dan keringanan bagi pelakukan untuk melakukan shalat dengan jama' atau qashar. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah syarat ini berlaku atau tidak. a. Safar Yang Tidak Maksiat Jumhur ulama di antaranya Mazhab Al-Malikiyah, AsSyafi'iyah dan Al-Hanabilah menyebutkan tidak semua safar membolehkan keringanan, seperti kebolehan jama' dan qashar shalat. Mereka mensyaratkan bahwa safar itu minimal hukumnya mubah, bukan safar maksiat atau safar yang terlarang. Alasan yang mereka kemukakan Kalau kita pakai pendapat yang pertama, maka seorang yang melakukan safar dengan tujuan akan menjalani profesinya sebagai maling atau perampok, tidak mendapat fasilitas dan keringanan untuk menjama' atau mengqashar shalat. b. Safar Haji, Umrah dan Jihad Sementara ada sebagian ulama yang menyebutkan bahwa keringanan hukum bagi musafir hanya berlaku dalam safar yang tujuannya haji atau umrah saja. Kalau kita menggunakan pendapat ini, perjalanan untuk bisnis, tamasya, atau menghadiri undangan pernikahan, bukan perjalanan yang membolehkan kita untuk menjama' dan

393

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

mengqashar shalat. c. Semua Safar Termasuk Yang Maksiat Dan lawan dari pendapat pertama dan kedua di atas, adalah pandangan sebagian ulama yang membolehkan safar apa saja, baik halal atau haram tidak menjadi masalah. Di antara mazhab yang mengatakan hal ini adalah mazhab Al-Hanafiyah. Dalam pandangan mereka, ketika Allah SWT memberikan kemudahan untuk menjama' atau mengqashar shalat buat musafir, dalil yang digunakan adalah dalil yang umum dan mutlak, tanpa menyebutkan syarat-syarat tertentu, seperti tidak boleh dalam rangka kemaksiatan dan sebagainya.3 Kalau menggunakan pendapat yang ketiga, maling dan perampok kalau dalam perjalanan boleh melakukan shalat dengan menjama' atau mengqashar. Begitu juga dengan pembunuh, pezina, penjudi, peminum khamar dan seterusnya. C. Tempat Tinggal dan Wathan Pembahasan tentang safar tidak bisa dipisahkan dengan pembahasan tentang lawannya, yaitu orang yang bermukim di sebuah tempat, atau yang lebih dikenal dengan istilah alwathan. Kita tidak bisa memberi definisi yang tepat tentang status musafir, bila kita belum memberi definisi yang tepat juga tentang bermukim di dalam suatu wathan. Karena keduanya berbatasan langsung. Artinya, seorang musafir adalah orang yang tidak bermukim di suatu wathan, dan orang yang bermukim di suatu wathan bukan seorang musafir. 1. Pengertian dan Batas Wathan Di dalam kitab-kitab fiqih klasik, kita mengenal ada istilah wathan (). Dalam kamus bahasa Arab, kata wathan sering diartikan sebagai negeri. Sehingga ada ungkapan, hubbul wathani minal iman, cinta negeri termasuk bagian dari iman.
3

Al-Badai' jilid 1 hal. 93

394

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

Namun kalau kita lihat konteks penggunaan istilah wathan di masa Nabi SAW dan di masa sekarang, agaknya kurang tepat kalau wathan kita terjemahkan sebagai negeri, dan juga kurang pas kalau diterjemahkan menjadi negara. Mengapa? Karena di masa itu, Nabi SAW dianggap telah menjadi musafir ketika meninggalkan kota Madinah menuju ke Mekkah. Artinya, kita bisa menyimpulkan bahwa Madinah adalah sebuah wathan tersendiri, dan Mekkah adalah juga sebuah wathan tersendiri. Padahal di masa sekarang ini, kedua kota itu berada di dalam sebuah wilayah kedaulatan sebuah negara, yaitu Kerajaan Saudi Arabia. Barangkali kata wathan bisa juga kita terjemahkan sebagai kota, meski pun belum juga tepat 100%. Alasannya karena luas kota Madinah di masa Nabi SAW jauh lebih kecil dibandingkan dengan luas kota itu di masa sekarang ini. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa luas kota Madinah di masa itu hanya seluas Masjid An-Nabawi sekarang ini saja. Dan kalau dihitung dari jumlah penduduk, ada catatan sejarah yang dirilis oleh Markaz Buhuts wa Dirasat Al-Madinah, bahwa sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, jumlah penduduknya diperkirakan antara 12 ribu hingga 15 ribuan orang. Dengan kedatangan Nabi SAW ke Madinah, maka perlahan tapi pasti, jumlah penduduk Madinah pun semakin banyak, karena beliau memang menjadikan Madinah sebagai Darul-Hijrah, atau kota tujuan hijrah. Hasil penelitian Markaz Buhuts ini menyebutkan bahwa ketika beliau SAW wafat, kota Madinah sudah berpenduduk kurang lebih sekitar 30 ribuan orang.4 Luas Masjid An-Nabawi saat ini adalah 98.500 meter persegi. Dengan luas itu, masjid ini dapat menampung hingga 600 ribu orang yang shalat. Bahkan di musim haji, jamaah bisa meluap ke luar gedung dan mencapai satu juta orang.
4

Markaz Buhuts wa Dirasat Al-Madinah, Sukkan Al-Madinah Al-Munawwarah Qadiman wa Haditsan, 2009

395

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Maka bila dibandingkan dengan masa sekarang ini, kirakira yang dimaksud dengan wathan itu adalah desa atau kampung. Dan sayangnya, agak sulit menetapkan batasbatasnya kalau kita tinggal di kota besar semacam Jakarta ini. Meski Jakarta tidak lain hanyalah kampung, namun batas-batas antara satu kampung dengan kampung yang lain nyaris sudah sangat tersamar, mengingat kota Jakarta adalah gabungan dari beribu kampung yang menyatu. 2. Jenis Wathan Dalam ilmu fiqih, para ulama membagi wathan ini menjadi tiga macam, yaitu al-wathan al-ashli, wathan al-iqamah dan wathan as-sukna. Berikut adalah rinciannya masing-masing : a. Al-Wathan Al-Ashli Istilah al-wathan al-ashli ( ) bisa kita terjemahkan secara bebas sebagai tempat bermukim yang tetap dan sifatnya berlaku untuk seterusnya. Maksudnya adalah suatu tempat yang dijadikan oleh seseorang sebagai tempat untuk menetap bagi dirinya dan istri atau keluarganya. Tempat itu tidak harus merupakan tanah kelahirannya. Bisa saja tempat itu adalah negeri rantauan, namun dia telah berniat untuk tinggal dan menetap disitu untuk seterusnya. Secara hukum, tempat tinggal asli bagi seseorang menjadi tempat iqamah atau bermukim, sebagai lawan dari musafir. Artinya, bila seseorang berada di tempat aslinya, maka status yang disandangnya adalah sebagai orang yang bermukim dan bukan musafir. Dan status ini sangat berpengaruh pada hukum-hukum peribadatan, seperti kebolehan mengqashar shalat serta menjama'nya, kebolehan tidak puasa Ramadhan, masa kebolehan untuk mengusap sepatu, haramnya wanita bepergian (musafir) sendirian, serta masalah perwalian. Maksudnya, seseorang yang statusnya bermukim tidak punya hak untuk mengqashar dan menjama' shalat, juga tidak

396

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

punya hak untuk meninggalkan puasa Ramadhan. Masa dibolehkan bagi orang yang bermukim untuk mengusap sepatu hanya sehari semalam saja. Dan seterusnya. Tempat tinggal asli ini bagi seseorang dimungkin bukan hanya satu saja. Bisa saja seseorang punya tempat tinggal asli lebih dari satu, bisa dua atau lebih. Yang penting di masingmasing tempat itu ada keluarganya yang menetap untuk seterusnya. Dan yang dimaksud keluarga disini adalah istri dan anakanaknya, bukan orang tua, paman, bibi, sepupu dan kakek. Misalnya seorang beristri dua. Istri pertama dan anaknya tinggal di Bandung, sedangkan istri kedua dengan anak-anaknya tinggal di Jakarta. b. Wathan Iqamah Yang dimaksud dengan wathan iqamah ( ) adalah suatu tempat, dimana seseorang untuk sementara waktu yang pendek dan terbatas, berniat untuk singgah dan bermukim sementara. Istilah lain yang sering dipakai untuk menamainya adalah wathan al-musta'ar () , dan kadang juga bisa disebut dengan wathan al-hadits. () Contohnya adalah orang yang sedang bertugas ke luar kota dalam beberapa hari, seperti seminggu atau dua minggu. Sejak sebelum berangkat, dirinya sudah berniat akan menetapkan di suatu kota tertentu, untuk masa waktu tertentu. Contoh lainnya adalah apa yang dilakukan oleh para jamaah haji Indonesia, yang bermukim kurang lebih sebulan sampai 40 hari di Mekkah dan Madinah. Status para jamaah haji di kedua kota itu adalah orang yang mukim sementara saja. Maka kedua kota itu menjadi wathan iqamah. c. Wathan Sukna Yang dimaksud dengan wathan sukna ( ) adalah suatu tempat yang disinggahi oleh seorang mufasir tanpa berniat untuk menetap atau bermukim disitu.

397

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Perbedaan antara wathan iqamah dan wathan sukna adalah bahwa pada wathan iqamah seseorang memang berniat untuk bermukim walau pun tidak untuk seterusnya. Sedangkan pada wathan sukna, seseorang hanya berhenti untuk berisirahat sejenak, tanpa ada niat untuk tinggal atau bermukim, baik untuk waktu tertentu atau pun untuk selamanya. Contoh yang paling mudah adalah apa yang dialami oleh para penumpang pesawat terbang ketika mereka transit di suatu bandara pada sebuah kota. Boleh jadi transit itu hanya satu atau dua jam, tetapi kadang bisa sampai beberapa hari. 3. Keringanan Berlaku Sejak Keluar Dari Wathan Berbagai keringanan bagi musafir seperti mengqashar dan menjama' shalat sudah boleh dilakukan meski belum mencapai jarak yang telah ditetapkan. Asalkan sejak awal niatnya memang akan menempuh jarak sejauh itu. Shalat qashar sudah bisa dimulai ketika musafir itu sudah keluar dari kota atau wilayah tempat tinggal, tetapi belum boleh dilakukan ketika masih di rumahnya. Rasulullah SAW tidak mulai mengqashar shalatnya kecuali setelah beliau meninggalkan Madinah.


Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata,"Aku shalat Dzuhur bersama Rasulullah SAW di Madinah 4 rakaat, dan shalat Ashar bersama beliau di Dzil Hulaifah 2 rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)

D. Berakhirnya Safar Ada beberapa hal yang menyebabkan status kemusafiran seseorang berakhir. Di antaranya adalah hal-hal berikut ini : 1. Niat Untuk Menetap Bila seseorang dalam safarnya tiba-tiba berubah niat untuk

398

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

mukim di tempat tersebut, maka status kemusafirannya telah berakhir. Tidak selamanya seorang yang pergi meninggalkan rumah atau negerinya dianggap sebagai musafir. Boleh jadi meski tidak ada di rumah atau negerinya, seseorang telah menetap di kota atau negeri lain. Meski secara fisik dia belum sampai di rumah, tetapi kalau di hatinya ada niat bahwa dia akan menetap di suatu tempat itu, maka status safarnya berubah. 2. Pulang dan Sampai di Rumah Ketika seseorang mengadakan perjalanan jauh, selama itu pula dia disebut sebagai musafir. Tetapi ketika sang musafir memutuskan pulang dan secara fisik dirinya sudah tiba di rumah, maka saat itu statusnya sebagai musafir pun berakhir. Sehingga segala hal yang terkait dengan hukum-hukum musafir dengan sendirinya sudah tidak berlaku lagi. a. Punya Rumah Di Tempat Tujuan Agak sedikit menjadi masalah apabila seorang melakukan safar ke suatu tempat, namun ternyata di tempat itu dia punya rumah juga. Dalam hal ini apakah juga dianggap pulang ke rumah, sehingga status kemusafirannya terhenti, ataukah dia tetap musafir? Para ulama umumnya menyebutkan bahwa bila seseorang punya dua rumah di dua kota yang berbeda, maka ketika dia berada di salah satunya, maka statusnya bukan musafir. Namun syarat ini berlaku bila di dalam rumah itu ada keluarganya, yaitu istri dan anak-anaknya. Sedangkan bila hanya sekedar status kepemilikkan rumah, sementara dia tidak menghuninya, maka ketika berada di rumahnya sendiri, tanpa berniat untuk tinggal atau menetap, statusnya tetap musafir. 3. Melebihi Batas Waktu Menetap Ketika dia terus bergerak dalam safarnya itu, memang dia

399

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

masih tetap diperbolehkan mengqashar shalat. Tetapi ketika seorang musafir berhenti di satu titik dalam waktu yang cukup lama, apakah masih melekat pada dirinya status musafir? Berapa lama waktu yang ditolelir buat seorang agar masih dianggap musafir padahal dia diam di suatu tempat? Batasan berapa lama seseorang boleh tetap menjama' dan mengqashar shalatnya, ada beberapa perbedaan pendapat di antara para fuqaha. Tetapi ketika seorang musafir berhenti di satu titik dalam waktu yang cukup lama, apakah masih melekat pada dirinya status musafir? Berapa lama waktu yang ditolelir buat seorang masioh dianggap musafir padahal dia diam di suatu tempat? Batasan berapa lama seseorang boleh tetap menjama' dan mengqashar shalatnya, ada beberapa perbedaan pendapat di antara para fuqaha. Imam Malik dan Imam As-Syafi'i berpendapat bahwa masa berlakunya qashar bila menetap disuatu tempat selama 4 hari. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan At-Tsauri berpendapat bahwa masa berlakunya jama' dan qashar bila menetap disuatu tempat selama 15 hari. Dan Imam Ahmad bin Hanbal dan Daud berpendapat bahwa masa berlakunya jama' dan qashar bila menetap disuatu tempat lebih dari 4 hari, maka selesailah masa jama' dan qasharnya. Adapun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar. Ibnul Qayyim berkata,
Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat.

Ibnu Abbas berkata :


Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna. (HR. Bukhari)

400

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

E. Keringanan Syariat Buat Musafir Syariat Islam memberikan banyak keringanan buat musafir dalam praktek ritual syariah Islam. Di antaranya keringanan bersuci dengan mengusap khuff selama tiga hari, shlat qashar dan jama', gugurnya kewajiban shalat Jumat, bolehnya shalat di atas kendaraan dan bolehnya tidak berpuasa Ramadhan. 1. Keringanan Dalam Bersuci Di antara keringanan dalam bersuci dalam dibolehkannya orang yang sedang dalam keadaan safar untuk mengusap khufnya saat berwudhu selama masa waktu tiga hari. Pensyariatan mengusap khuff didasari oleh beberapa dalil antara lain hadis Ali r.a

: s
Dari Ali bin Abi Thalib berkata :Seandainya agama itu sematamata menggunakan akal maka seharusnya yang diusap adalah bagian bawah sepatu ketimbang bagian atasnya. Sungguh aku telah melihat Rasulullah mengusap bagian atas kedua sepatunya.(HR. Abu Daud dan Daru Qudni dengan sanad yang hasan dan disahihkan oleh Ibn Hajar)

Selain itu ada juga hadis lainnya


s -

Rasulullah menetapkan tiga hari untuk musafir dan sehari semalam untuk orang mukim (untuk boleh mengusap khuff). (HR. Muslim Abu Daud Tirmizi dan Ibn Majah.)

2. Keringanan Mengqashar Shalat dan Menjama'

401

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Seorang yang berstatus musafir diberikan keringanan oleh Allah SWT untuk mengqashar shalat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim.


Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS. An-Nisa : 110)

Satu-satunya penyebab dibolehkannya kita mengqashar shalat hanya karena sebab perjalanan sebagai musafir. Sedangkan keringanan menjama' shalat bukan terbatas hanya karena sebagai musafir saja, tetapi juga ada sebab-sebab lain yang membolehkan seseorang menjama' shalatnya. Di antaranya karena sakit, hujan, haji, atau kejadian luar biasa yang tidak terkendali. 3. Gugurnya Kewajiban Shalat Jumat Seorang laki-laki yang menjadi musafir secara syar'i, maka gugur kewajibannya untuk mengerjakan shalat Jumat. Di antara dalil-dalil yang dijadikan sandaran atas hal ini adalah hadits-hadits berikut ini :

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajiblah atas mereka shalat Jumat, kecuali orang sakit, musafir, wanita, anak-anak dan hamba sahaya. (HR. Ad-Daruqutny)

:
402

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas empat orang, yaitu budak, wanita, anak-anak dan orang sakit." (HR. Abu Daud)5

Dalam hal ini seorang musafir boleh memilih salah satu dari dua pilihan. Pertama, mengerjakan shalat Dzhuhur saja dan tidak mengerjakan shalat Jumat. Kedua, mengerjakan shalat Jumat saja dan tidak perlu lagi mengerjakan shalat Dzuhur. 4. Bolehnya Shalat Sunnah di Atas Kendaraan Seorang yang sedang dalam perjalanan, dibolehkan atasnya untuk melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya. Dia boleh shalat tanpa berdiri, ruku', sujud atau tidak menghadap kiblat. Dasarnya karena dahulu Rasulullah SAW pernah melakukan shalat sunnah nafilah di atas punggung unta ketika dalam safar yang beliau SAW lakukan.


Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW shalat di atas kendaraannya menuju ke arah Timur. Namun ketika beliau mau shalat wajib, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

Hadits ini adalah hadits shahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bukan hanya membolehkan untuk melakukan shalat di atas punggung unta, tetapi juga langsung menegaskan bahwa beliau SAW sendiri juga melakukannya.

Imam An-Nawawi berkata bahwa isnadnya shahih sesuai dengan syarat dari Bukhari. Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang menshahihkan hadits itu bukan hanya satu orang

403

Bab 2 : Shalat Musafir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW shalat di atas kendaraannya, menghadap kemana pun kendaraannya itu menghadap. Namun bila shalat yang fardhu, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

Hadits ini juga shahih, namun dengan tambahan penjelasan bahwa beliau SAW ketika shalat di atas punggung unta, tidak menghadap ke arah kiblat, tetapi menghadap kemana saja arah unta itu berjalan. Dan yang paling penting, hadits ini juga menegaskan bahwa beliau SAW tidak melakukan shalat fardhu yang lima waktu di atas punggung unta. 5. Keringanan Tidak Berpuasa Keringanan bagi musafir lainnya adalah dibolehkan untuk tidak mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, namun ada kewajiban untuk menggantinya di hari yang lain. Dasarnya adalah firman Allah SWT :

Dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya di hari lain (QS Al-Baqarah: 85)

Selain itu juga ada hadits Nabi SAW yang lebih menegaskan hal itu dalam contoh kasus.


Dari Ibnu 'Abbas radliallahuanhuma bahwa Rasulullah SAW pergi menuju Makkah dalam bulan Ramadhan dan Beliau berpuasa. Ketika sampai di daerah Kadid, Beliau berbuka yang kemudian orang-orang turut pula berbuka. (HR. Bukhari)


Ibnu Abbas radliallahuanhuma berkata bahwa Rasulullah SAW pada saat safar terkadang berpuasa dan kadang berbuka. Maka

404

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 2 : Shalat Musafir

siapa yang ingin tetap berpuasa, dipersilahkan. Dan siapa yang ingin berbuka juga dipersilahkan. (HR. Bukhari)

405

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Ikhtishar
A. Urgensi Kajian Shalat di atas Kendaraan
1. Bangsa Arab Terbiasa Melakukan Perjalanan 2. Penyebaran Islam ke Seluruh Dunia 3. Jamaah Haji 4. Realitas Muslim Perkotaan 5. Dosa Besar Meninggalkan Shalat

B. Pengertian C. Dasar Masyru'iyah


1. Nabi SAW Shalat di atas Punggung Unta 2. Shalat di atas Kapal Laut

D. Syarat Shalat di Atas Kendaraan


1. Berthaharah Dengan Benar 2. Menghadap Kiblat 3. Berdiri 4. Ruku' dan Sujud 5. Shalat Sunnah

E. Skala Prioritas Shalat Fardhu di Atas Kendaraan


1. Hindari Dengan Shalat Sebelum Naik Kendaraan 2. Boleh Menunda Shalat 3. Turun Dari Kendaraan 4. Tetap Shalat di atas Kendaraan

F. Teknik Shalat di atas Kendaraan


1. Shalat di Kapal Laut 2. Shalat di Pesawat Terbang 3. Shalat di Kereta Api

407

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

4. Shalat Ketika Menumpang Bus Antar Kota

G. Kendaraan Yang Tidak Memungkinkan Shalat


1. Shalat Dan Mengqadha Sesudahnya 2. Shalat Tapi Tidak Mengqadha Sesudahnya 3. Tidak Shalat dan Mengqadha Sesudahnya 4. Tidak Shalat dan Tidak Mengqadha Sesudahnya

Biasanya shalat dilakukan di atas tanah, baik di dalam masjid atau di dalam rumah, kali ini kita akan membahas tentang bagaimana teknis shalat di atas kendaraan. Mengingat seringkali seseorang tidak selalu berada di rumah, pada waktuwaktu shalat, justru sedang berada dalam perjalanan, bahkan lebih spesifik lagi, sedang berada di atas kendaraannya. A. Urgensi Kajian Shalat di atas Kendaraan Ada beberapa alasan mendasar kenapa kita perlu mengkaji dengan teliti tentang hukum shalat di atas kendaraan. 1. Bangsa Arab Terbiasa Melakukan Perjalanan Bangsa Arab sendiri, khususnya Kaum Quraisy, sebagai bangsa dan suku yang Allah SWT pilih sebagai penerima pertama agama Islam, yang dari tangan mereka kita menerima agama Islam, adalah bangsa dan suku pedagang. Mereka punya kebiasaan mengadakan perjalanan jauh sepanjang musim. Di musim panas mereka berniaga ke Utara, yaitu ke Negeri Syam. Sedangkan di musim dingin mereka berdagang ke Selatan, yaitu ke Negeri Yaman.


Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini. Yang

408

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. Al-Quraisy : 1-4)

Ketika mereka memeluk agama Islam, kebiasaan mengadakan perjalanan tetap mereka lakukan. Dan tentunya dalam perjalanan itu mereka tetap wajib mengerjakan shalat lima waktu, juga tetap disyariatkan melakukan shalat sunnah. 2. Penyebaran Islam ke Seluruh Dunia Apalagi tatkala agama Islam kemudian mereka sebarkan ke seluruh dunia masuk ke berbagai peradaban dunia yang lain. Islam masuk ke Asia baik ke Persia, India, China bahkan Asia Tenggara hingga Indonesia. Islam juga menyebar ke Afrika melalui Mesir, Libya, Tunis, Maghrib, Aljazair, terus menyeberang ke Utara menembus benua Eropa lewat selat Giraltar, masuk ke Spanyol di Semenanjung Ibera. Islam juga masuk ke Eropa lewat jalur Asia, setelah penaklukkan Konstantinopel di tahun 1453 M oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, sehingga wilayah-wilayah yang kini disebut sebagai Eropa Timur menjadi negeri Islam. Kesemua itu merupakan perjalanan-perjalanan dakwah, dimana setiap muslim tetap diwajibkan untuk melaksanakan shalat 5 waktu di atas kendaraan yang membawa mereka ke berbagai negeri. Karena tingginya kedudukan shalat dalam syariat Islam, dan pentingnya ibadah ini sebagai ciri seorang muslim, maka secara teknis ada aturan bagaimana tata cara shalat di atas kendaraan. 3. Jamaah Haji Setiap tahun ada lebih dari tiga juta jamaah haji yang menunaikan salah satu dari rukun Islam. Tentu selama perjalanan di atas kendaraan, baik dengan pesawat terbang, kapal laut, bus, kereta dan sebagainya, mereka tetap diwajibkan untuk mengerjakan shalat.

409

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Tentu amat memprihatinkan bila para jamaah haji yang ingin menunaikan rukun Islam yang kelima itu, justru tidak mengerti aturan-aturan shalat di atas kendaraan. Kalau sampai hal itu terjadi, maka hal itu mirip dengan kata pepatah, mencari jarum kapak hilang. Rukun Islam yang kelima yaitu haji dikerjakan, sambil meninggalkan rukun yang utama, yaitu shalat lima waktu. Maka semua orang yang ingin mengadakan perjalanan haji, wajib hukumnya belajar ilmu tentang shalat, khususnya hukumhukum shalat di atas kendaraan dan shalat dalam perjalanan. 4. Realitas Muslim Perkotaan Pertimbangan lain mengapa kita perlu melakukan studi tentang shalat di atas kendaraan adalah kebutuhan umumnya masyarakat muslim perkotaan. Mereka adalah tipikal penduduk yang tinggal di pinggir kota namun bekerja tiap hari di tengah kota. Setiap pagi dan petang mereka melakukan perjalanan masuk dan keluar dari kota. Yang paling utama menjadi problem adalah masalah shalat Maghrib di sore hari. Waktu Shalat Maghrib ini terbilang sangat singkat, namun justru di waktu itulah kurang lebih 4 juta penduduk Jakarta dan sekitarnya secara bersama-sama melakukan gerakan pulang dari tempat kerja ke rumahnya. Akibatnya, kemacetan luar biasa parah menjadi pemandangan sehari-hari. Pada saat itulah kemudian banyak timbul berbagai spekulasi tentang tata cara shalat di atas kendaraan. Maka kajian tentang hal itu dirasa amat penting dan menjadi kebutuhan praktis tapi strategis. 5. Dosa Besar Meninggalkan Shalat Meninggalkan shalat adalah perbuatan munkar, dimana pelakunya berdosa besar, apabila ditinggalkan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar'i. B. Pengertian Kendaraan di dalam banyak hadits Nabi SAW sering

410

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

disebut dengan istilah rahilah (). Pada kenyataannya, yang dimaksud dengan kendaraan di masa Rasulullah adalah unta. Unta adalah kendaraan yang paling ideal di negeri Arab, selain karena mampu mengangkut manusia dan barang dalam jumlah besar, unta juga mampu menempuh perjalanan jauh selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Unta juga mampu minum air dalam jumlah yang amat banyak, dan disimpan di bawah kulitnya. Sehingga selama berhari-hari perjalanan, unta tidak butuh minum. Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT memberi isyarat kepada kita untuk mempelajari unta secara khusus, karena punya banyak keunikan.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. (QS. Al-Ghasyiyah : 17)

Selain unta, yang difungsikan sebagai kendaraan di masa itu adalah kuda, keledai, bagal (hasil kawin antara kuda dan keledai). Selain hewan-hewan itu, kendaraan yang juga ditumpangi di masa beliau SAW adalah kapal laut. Kapal laut sudah ada di masa Rasulullah, dan juga punya kajian khusus tentang hukum shalat di atasnya. Di masa sekarang ini, jenis kendaraan sudah sedemikian banyak. Di darat ada mobil, bus, kereta api. Di laut ada berbagai jenis kendaraan, mulai dari perahu, fery penyeberangan, hingga kapal laut yang besar dan mampu mengangkut ribuan orang dan barang sekalipus. Di udara ada banyak kendaraan terbang, mulai dari pesawat pengangkut komersial, hingga pesawat yang menembus ruang angkasa. Semua itu masuk ke dalam pembahasan tentang shalat di atas kendaraan. C. Dasar Masyru'iyah Dasar masyruiyah tentang melakukan shalat di atas

411

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

kendaraan ditetapkan dari beberapa hadits nabawi, di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini : 1. Nabi SAW Shalat di atas Punggung Unta


Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW shalat di atas kendaraannya menuju ke arah Timur. Namun ketika beliau mau shalat wajib, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

Hadits ini adalah hadits shahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bukan hanya membolehkan untuk melakukan shalat di atas punggung unta, tetapi juga langsung menegaskan bahwa beliau SAW sendiri juga melakukannya.


Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW shalat di atas kendaraannya, menghadap kemana pun kendaraannya itu menghadap. Namun bila shalat yang fardhu, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

Hadits ini juga shahih, namun dengan tambahan penjelasan bahwa beliau SAW ketika shalat di atas punggung unta, tidak menghadap ke arah kiblat, tetapi menghadap kemana saja arah unta itu berjalan. Dan yang paling penting, hadits ini juga menegaskan bahwa beliau SAW tidak melakukan shalat fardhu yang lima waktu di atas punggung unta. Shalat di atas punggung unta itu hanya manakala beliau melakukan shalat sunnah saja. Sedangkan untuk shalat fardhu 5 waktu, bila kebetulan beliau sedang dalam perjalanan, beliau kerjakan dengan turun dari untanya, menjejak kaki ke atas

412

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

tanah, dan tentunya tetap dengan menghadap ke arah kiblat. Tidak menghadap ke arah mana saja untanya menghadap.

Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan shalat witir di atas untanya. (HR. Bukhari)

Hadits shahih di atas juga menjelaskan bahwa ketika Rasulullah SAW melakukan shalat witir yang hukumnya sunnah, beliau SAW melakukannya di atas punggung untanya. Namun memang pernah juga beliau SAW melakukan shalat wajib di atas punggung unta, akan tetapi keadaan yang terjadi saat itu memang tidak memungkinkan beliau untuk turun ke atas tanah. Hal itu terjadi lantaran saat itu sedang terjadi hujan, yang menyebabkan tanahnya menjadi becek atau berlumpur. Sehingga dalam keadaan tertentu memang masih dimungkinkan shalat wajib yang dikerjakan di atas punggung unta.


Dari Ya'la bin Umayyah bahwa Nabi SAW melewati suatu lembah di atas kendaraannya dalam keadaan hujan dan becek. Datanglah waktu shalat, beliau pun memerintahkan untuk dikumandangkan adzan dan iqamat, kemudian beliau maju di atas kendaraan dan melalukan shalat, dengan membungkukkan badan (saat ruku' dan sujud), dimana membungkuk untuk sujud lebih rendah dari membungkuk untuk ruku'. (HR. Ahmad dan AlBaihaqi)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang lain yang mengisahkan tentang shalat-shalat Rasulullah SAW di atas

413

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

kendaraan. 2. Shalat di atas Kapal Laut Selain shalat di atas punggung unta, kita juga menemukan dalil yang berupa perintah Rasulullah SAW kepada para shahabat untuk shalat di atas kapal laut. Sebuah hadits menceritakan bagaimana Rasulullah SAW memerintahkan kepada Jafar bin Abi Thalib untuk melakukan shalat di atas perahu atau kapal laut, ketika menuju ke negeri Habasyah.

Bahwa Nabi SAW ketika mengutus Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahuanhu ke Habasyah, memerintahkan untuk shalat di atas kapal laut dengan berdiri, kecuali bila takut tenggelam. (HR. Al-Haitsami dan Al-Bazzar)

D. Syarat Shalat di Atas Kendaraan Umumnya para ulama membolehkan shalat sunnah di atas kendaraan, namun mereka mengharuskan untuk turun dari kendaraan bila yang dikerjakan shalat wajib. Kalau pun terpaksa melakukan shalat wajib di atas kendaraan, maka ada syaratsyarat tertentu yang harus dipenuhi. Sedangkan dalam shalat wajib, hadits-hadits di atas tidak menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengerjakannya di atas kendaraan. Bahkan dua hadits Jabir menyebutkan dengan tegas bahwa beliau SAW turun dari kendaraan dan shalat di atas tanah menghadap ke kiblat. Kalau pun beliau SAW shalat fardhu di atas punggung unta, hal itu karena memang untuk turun ke atas tanah tidak dimungkinkan, lantaran saat itu turun hujan yang membuat tanah menjadi becek atau berlumpur. Selain itu ada hadits Nabi SAW yang lain dimana beliau memerintahkan Ja'far bin Abu Thalib yang menumpang kapal

414

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

laut ketika berhijrah ke Habasyah untuk shalat wajib sambil berdiri. Sehingga para ulama mengatakan bahwa shalat wajib tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan, kecuali dengan terpenuhinya syarat dan ketentuannya, antra lain : 1. Berthaharah Dengan Benar Syarat sah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah adalah suci dari hadats. Tidak sah sebuah shalat dilakukan apabila seseorang tidak dalam keadaan suci dari hadats. Maka seseorang yang sedang berada di atas kendaraan, apabila hendak melakukan shalat, dia wajib berwudhu' sebelumnya. Karena hadats kecil diangkat dengan cara berwudhu' selama masih ada air. Apabila air sudah sama sekali tidak ada, padahal sudah diusahakan, maka di akhir waktu shalat, boleh dilakukan tayammum. Namun yang perlu diperhatikan, apabila di atas kendaraan masih ada air, baik air minum atau pun kendaraan itu memiliki toilet, maka tayammum belum diperkenankan. Para ulama menyebutkan bahwa paling tidak ada enam hal yang membolehkan tayammum, di antaranya tidak adanya air, sakit, suhu yang sangat dingin, air yang tidak terjangkau, jumlah air yang tidak cukup, dan habisnya waktu shalat. Apabila salah satu dari enam keadaan itu terjadi, maka barulah dibolehkan tayammum. Namun untuk mengerjakan tayammum, kita butuh tanah, sebagaimana Allah SWT sebutkan :


Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang. (QS. An-Nisa : 43)

Para ulama mengatakan bahwa apa pun yang menjadi permukaan tanah, baik itu tanah merah, tanah liat, padang pasir, bebatuan, aspal, semen, dan segalanya termasuk dalam kategori tanah yang suci. Sedangkan debu-debu yang tidak terlihat

415

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

menempel di benda-benda di sekeliling kita, tidak dibenarkan untuk dijadikan media untuk bertayammum. Jadi kalau pun di atas kendaraan seseorang ingin bertayammum, maka dia harus membawa tanah sendiri. 2. Menghadap Kiblat Di antara perbedaan antara shalat wajib dan shalat sunnah adalah bahwa rukun syarat sah shalat wajib adalah menghadap ke kiblat. Sedangkan untuk ketentuan shalat sunnah, Allah SWT memberi keringanan sehingga boleh dikerjakan meski kita sedang berada di atas punggung unta dan tidak menghadap kiblat. Dasarnya adalah hadits-hadits di atas :


Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW shalat di atas kendaraannya, menghadap kemana pun kendaraannya itu menghadap. Namun bila shalat yang fardhu, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

3. Berdiri Dalam shalat wajib, berdiri adalah rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan secara mutlak, kecuali dalam keadaan yang darurat, seperti sedang sakit.



Dari 'Imran bin Hushain radhiyallahuanhu bahwa beliau bertanya kepada Nabi SAW tentang shalat seseorang sambil duduk, beliau bersabda,"Shalatlah dengan berdiri, bila tidak sanggup maka sambil duduk dan bila tidak sanggup sambil berbaring".(HR. Bukhari)

416

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Sedangkan shalat sunnah, boleh dikerjakan sambil duduk dan tidak diwajibkan berdiri, meski pun tidak sedang sakit. Dasarnya adalah hadits berikut ini :
Dari Abdullah bin Syaqiq Al Uqaili dia berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang shalat (sunnah)-nya Rasulullah SAW. Maka Aisyah radhiallahuanha menjawab:


Beliau SAW biasa melakukan shalat malam sekian lama sambil berdiri, dan beliau juga biasa melakukan shalat malam sekian lama sambil duduk. Jika beliau membaca sambil berdiri, maka beliau ruku dengan berdiri, dan jika beliau membaca sambil duduk, maka beliau ruku sambil duduk. (HR. Muslim)

4. Ruku' dan Sujud Gerakan rukuk dan sujud adalah dua rukun dalam shalat wajib yang mau tidak mau harus dilakukan dengan benar. Orang yang tidak sempurna ruku' dan sujudnya, yaitu yang tidak sampai benar-benar membungkuk dalam ruku', atau tidak benar-benar berposisi sujud, dikatakan sebagai pencuri yang paling buruk. Dasarnya adalah hadits berikut ini :


Dari Abi Qatadha berkata bahwa Rasululah SAW bersabda,"Pencuri yang paling buruk adalah yang mencuri dalam shalatnya". Para shahabat bertanaya,"Ya Rasulallah, bagaimana mencuri dalam shalat?". "Dengan cara tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya". Atau beliau bersabda,"Tulang belakangnya tidak sampai lurus ketika ruku' dan sujud". (HR. Ahmad, Al-Hakim, At-Thabarany, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban)

417

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Namun bila shalat yang dilakukan hanya shalat sunnah, maka diberi keringanan untuk tidak benar-benar ruku' dan sujud ketika berada di atas punggung unta, sebagaimana hadits berikut ini. Dari Amir bin Rabiah radhiallahuanhu berkata:


Aku melihat Rasulullah SAW di atas hewan tunggangannya melakukan shalat sunnah dengan memberi isyarat dengan kepala beliau kearah mana saja hewan tunggangannya menghadap. Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat wajib. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

5. Shalat Sunnah Dari dalil-dalil di atas, para ulama menyimpulkan bahwa shalat-shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di atas kendaraan umumnya hanya terbatas pada shalat yang hukumnya sunnah dan bukan shalat wajib. Ketika beliau SAW melakukan shalat wajib di atas punggung unta, karena keadaannya tidak memungkinkan untuk turun ke atas tanah. Tentang keharusan untuk tidak shalat wajib di atas punggung unta, menurut para ulama, hal itu terkait dengan kewajiban untuk berdiri, ruku dan sujud dengan sempurna bila kita melakukan shalat wajib. Dan juga syarat yang harus dipenuhi dalam shalat wajib, yaitu menghadap ke arah kiblat. Sedangkan khusus untuk shalat sunnah, memang tidak diharuskan dikerjakan dengan berdiri sempurna. Shalat sunnah boleh dikerjakan dengan duduk, meski tanpa udzur syar'i. Shalat sunnah juga diperkenankan untuk tidak menghadap ke arah kiblat.

418

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

E. Skala Prioritas Shalat Fardhu di Atas Kendaraan Dengan beratnya syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang akan melakukan shalat fardhu di atas kendaraannya, maka harus ada skala prioritas dalam mengerjakannya. 1. Hindari Dengan Shalat Sebelum Naik Kendaraan Yang paling utama kita lakukan agar terhindar dari beratnya shalat di atas kendaraan adalah kita wajib mengupayakan agar shalat terlebih dahulu sebelum kita naik kendaraan. Cara ini adalah cara paling aman dan lebih utama, karena afdhalnya shalat itu dikerjakan sejak awal waktu. Dan cara ini juga membuat kita terlepas dari ikhtilaf atau perbedaan pendapat. Misalnya para pekerja yang mau pulang ke rumahnya di sore hari. Buat mereka, akan jauh lebih baik untuk menunda kepulangan barang lima atau sepuluh menit untuk menunggu masuknya waktu Maghrib. Maksudnya agar dirinnya sempat menjalankan shalat itu terlebih dahulu. Cara itu jauh lebih baik ketimbang langsung terburu-buru pulang demi mengejar waktu, padahal akan ada problem shalat Maghrib yang boleh jadi tidak kebagian waktunya. 2. Boleh Menunda Shalat Apabila cara pertama sulit untuk dikerjakan karena satu dan lain hal, maka cara kedua boleh juga dilakukan, meski keutamaannya berkurang. Cara kedua ini adalah kita naik kendaraan terlebih dahulu sambil memperhitungkan dengan cermat bahwa kita masih kebagian waktu untuk mengerjakan shalat setibanya kendaraan nanti. Selama waktu shalat masih ada, mengakhirkan shalat hingga ke bagian akhir dari waktunya oleh para ulama disepakati kebolehannya. Dan bahwa shalat masih dibenarkan untuk dikerjakan. Karena prinsipnya agama Islam diturunkan sebagai bentuk keringanan, dan bukan sebagai agama yang menghukum manusia. Sehingga Allah SWT memberikan kelonggaran buat

419

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

manusia untuk mengerjakan shalat, bukan pada waktu yang sempit dan terbatas, namun diberikan keluasan untuk mengerjakan shalat fardhu di dalam rentang waktu yang lebar. Rasulullah SAW bersabda :

Shalat di awal waktu akan mendapat keridhaan dari Allah. Shalat di tengah waktu mendapat rahmat dari Allah. Dan shalat di akhir waktu akan mendapatkan maaf dari Allah. (HR. AdDaruquthuni)

Namun perlu diingat bahwa meski diperbolehkan, cara ini jelas punya resiko, khususnya kalau kita tinggal di Indonesia yang tidak pernah bisa diprediksi kemacetan atau keterlambatannya. Misalnya seorang pekerja di Jakarta yang sore hari mau pulang ke rumahnya di Depok. Asalkan dia bisa memastikan lewat pengalaman sehari-hari bahwa dia masih bisa mengerjakan shalat Maghrib di stasiun kereta api tujuan, maka hal itu dibolehkan. Kalau kereta api diperkirakan tiba pukul 18:45 sedangkan waktu Maghrib akan habis pukul 19:00, tentu masih ada sisa sedikit waktu untuk mengerjakan shalat Maghrib, meski dengan resiko tinggi. Dan seandainya kereta mengalami keterlambatan, maka barulah saat itu, mau tidak mau, shalat harus dikerjakan di atas kereta. 3. Turun Dari Kendaraan Ketika prediksi kita tidak akurat, maka seandainya kita masih bisa turun dari kendaraan dan melakukan shalat dengan benar, hal itu wajib kita lakukan. Misalnya ketika waktu Maghrib hampir habis, sementara seseorang terjebak di tengah lautan kemacetan Jakarta yang tidak ada habisnya. Ada dua pilihan saat itu, apakah kita tetap akan bertahan di dalam kendaraan sambil menikmati kemacetan tetapi kehilangan kesempatan untuk mengerjakan shalat

420

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Maghrib, ataukah kita turun dari kendaraan dan segera melaksanakan kewajiban kita? Tentu dalam hal ini yang wajib kita lakukan adalah pilihan kedua, yaitu segera turun dari kendaraan dan segera shalat. Pendeknya, selama kita masih bisa turun dari kendaraan, maka hal itu lebih utama untuk dikerjakan. 4. Tetap Shalat di atas Kendaraan Bila tiga kemungkinan di atas sama sekali mustahil untuk dikerjakan, barulah pada priorias keempat, kita dibenarkan untuk mengerjaan shalat di atas kendaraan. Memang ada jenis kendaraan tertentu yang nyaris mustahil bagi kita untuk turun sembarangan, misalnya kereta api, kapal laut atau pesawat udara. Kalau turun dari kendaraan tidak dimungkinkan, barulah kita shalat di atas kendaraan, tentu dengan tetap mengerjakan semua syarat dan rukunnya. F. Teknik Shalat di atas Kendaraan Ada beberapa jenis kendaraan dimana kita bisa dengan sempurna melaksanakan shalat, misalnya kapal laut, peswat udara dan kereta api. 1. Shalat di Kapal Laut Di masa lalu Rasulullah SAW memerintahkan kepada Ja'far bin Abil Thalib untuk shalat sambil berdiri di atas kapal yang membawanya pergi berhijrah ke Habasyah, sebagaimana hadits di atas. Shalat bisa dikerjakan dengan sempurna, kita bisa berdiri tegak, ruku sujud dan tentunya jelas menghadap kiblat, bila kita lakukan di atas kapal laut, baik kapal besar maupun kapal kecil. Penulis pernah berputar-putar naik perahu kecil dengan mesin di sekeliling Sungai Nil di kota Cairo. Dan di atas perahu kecil itu Penulis bisa menunaikan dua shalat dengan dijama' dan qashar, yaitu shalat Dzhuhur dan Ashar sekaligus. Shalat bisa dilakukan dengan posisi tetap berdiri sempurna,

421

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

dan arah shalat tetap ke arah kiblat. Ruku', i'tidal, sujud dan semua gerakan shalat berlangsung normal seperti layaknya di atas tanah. Di masa sekarang ini, kapal laut yang besar bahkan memiliki masjid di dalamnya yang dapat menampung ratusan orang. Penulis pernah menumpang kapal laut dan bisa shalat lima waktu dengan sangat sempurna di atasnya, karena masjid di kapal itu amat luas dan nyaman. Selain karpetnya bagus, masjid itu juga dilengkapi dengan penyejuk ruangan. Bahkan masjid di depan rumah Penulis kalah mewah dengan masjid di atas kapal itu. 2. Shalat di Pesawat Terbang Shalat fardhu dengan berdiri sempurna dan menghadap kiblat tepat ke arah ka'bah juga bisa dengan mudah dikerjakan di atas pesawat terbang, asalkan jenisnya bukan helikopter atau pesawat tempur. Di dalam pesawat terbang komesial, selalu ada tempat yang agak luas untuk kita bisa melakukan shalat dengan sempurna dilengkapi ruku' dan sujud. Tempat itu adalah pada bagian pintu masuk atau keluar. Tempat itu tidak pernah diisi dengan kursi, karena merupakan jalan para penumpang masuk atau keluar ketika pesawat berada di darat. Pada saat pesawat sedang terbang di angkasa, tentunya tempat itu tidak berfungsi sebagai jalan keluar masuk. Di tempat itulah kita bisa melakukan shalat dengan sempurna.
Bagaimana dengan arah kiblat?

Mudah saja. Di zaman maju sekarang ini, nyaris semua pesawat terbang dilengkapi dengan Global Positioning System (GPS). Di beberapa pesawat berbadan lebar, biasanya dipasang layar besar LCD di tengah kabin, dan salah satunya menampilkan posisi pesawat di atas peta dunia. Bahkan beberapa maskapai penerbangan yang baik menyediakan layar LCD di kursi masing-masing dan salah satu fungsinya bisa

422

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

sebagai GPS. Asalkan kita tidak terlalu awam dengan peta dunia, maka dengan mudah kita bisa menentukan mana arah kiblat kalau diukur dari posisi pesawat. Maka ke arah sanalah kita menghadapkan badan saat berdiri melaksanakan shalat.
Bagaimana dengan Waktu Shalat?

Waktu shalat di atas pesawat international memang agak rancu. Mengingat kita tidak tahu di atas kota apa kita saat ini sedang terbang. Bahkan mungkin malah bukan di atas kota, tetapi di atas laut, hutan, pegunungan, padang pasir dan sejenisnya, dimana memang tidak pernah dibuatkan jadwal waktu shalatnya. Jadi kalau pun kita tahu kita berada di atas titik koordinat tertentu, masih ada masalah besar yaitu tidak ada jadwal shalat untuk titik koordinat tersebut.
Maka yang jadi pertanyaan, kapan kita mulai shalat?

Jawabannya sebenarnya sederhana. Di atas pesawat yang terbang tinggi di langit itu kita justru dengan mudah bisa mengenali waktu shalat dengan sederhana. Untuk shalat Dzhuhur dan Ashar yang memang boleh dijama' itu, kita bisa melihat ke luar jendela. Selama matahari sudah lewat dari atas kepala kita dan belum tenggelam di ufuk barat, kita masih bisa menjama' kedua shalat itu. Untuk yakinnya, mari kita jama' ta'khir saja. Kenapa? Karena jama' ta'khir itu kita lakukan di waktu Ashar dan waktu Ashar bisa kita kenali dengan melihat ke luar jendela pesawat. Selama matahari sudah condong ke arah Barat namun belum tenggelam, maka itulah waktu Ashar. Untuk shalat Maghrib dan Isya, agar kita tidak terlalu ragu, sebaiknya kita shalat jama' ta'khir di waktu isya. Jadi setelah kita menyaksikan matahari betul-betul tenggelam di ufuk barat, kita tunggu kira-kira 1-2 jam. Saat itu kita amat yakin bahwa waktu Isya sudah masuk. Maka kita shalat Maghrib dan Isya' dengan

423

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

dijama' di waktu Isya'.


Bagaimana dengan shalat shubuh?

Shalat shubuh itu waktunya sejak terbit fajar hingga matahari terbit. Dan kalau kita berada di angkasa, mudah sekali mengenalinya. Cukup kita menengok keluar jendela, ketika gelap malam mulai hilang dan langit menunjukkan tanda-tanda terang namun matahari belum terbit, maka itulah waktu shubuh. Shalatlah shubuh pada waktu itu dan jangan sampai terlanjur matahari menampakkan diri. Jadi di atas pesawat yang terbang di angkasa, kita dengan mudah bisa menetapkan waktu shalat, bahkan tanpa harus melihat jam atau bertanya kepada awak pesawat.
Bagaimana Wudhu'nya?

Ini pertanyaan klasik tapi penting. Beberapa orang pernah berfatwa bahwa di dalam pesawat sebaiknya tidak usah wudhu' dan sebagai gantinya cukup bertayammum. Fatwa ini kelihatan bagus tetapi justru bermasalah besar. Mengapa? Ada dua masalah besar ketika orang mau tayammum di atas pesawat. Pertama, di dalam Al-Quran Al-Kariem Allah SWT menegaskan bahwa tayammum itu hanya boleh dikerjakan bila seseorang tidak menemukan air.


Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik, sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (QS.

424

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

An-Nisa' : 43)

Padahal di atas pesawat itu air berlimpah, baik untuk minum, juga untuk cuci muka bahkan untuk istinja'. Maka kebolehan tayammum menjadi gugur dengan sendiri dengan masih adanya air di atas pesawat. Kedua, di dalam Al-Quran Al-Kariem Allah SWT juga menegtaskan bahwa bertayammum hanya dibolehkan menggunakan tanah yang bersih. Masalah besarnya justru di atas pesawat itu malah tidak ada tanah. Jadi kalau mau bertayammum di atas pesawat, mau tidak mau para penumpang harus membawa bungkusan berisi tanah untuk dipakai tayammum. Kalau semua penumpang membuka bungkusan berisi tanah di atas pesawat, lalu salah satunya ada yang bersin, maka buyarlah tanah itu. Yang lain akan tersenggol dan tanahnya tumpah. Dan akhirnya pesawat itu penuh dengan tanah. Bukankah tayammum bisa dengan menggunakan permukaan kursi? Inilah masalahnya, perintah bertayammum di dalam AlQuran itu adalah menggunakan tanah. Bunyi ayatnya fatayammamu sha'idan tayyiba, bukan fatayammamu kursiyyan thayyiba. Sebab kursi di dalam pesawat udara itu jelas bukan tanah. Segala debu dan kotoran tentunya sudah dibersihkan dengan vacum cleaner. Sehingga kursi itu menjadi steril dari debu yang kelihatan. Kalau kursi pesawat international berdebu, pastilah para penumpang langsung bersih-bersin dan terkena radang saluran pernafasan (ISPA). Kalau pun kita masih ngotot mengatakan bahwa di kursi pesawat itu pasti masih tersisa debu, tentunya ada debu-debu ukuran mikroskopis, yang hanya bisa dilihat kalau kita mengintip lewat mikroskop. Tetapi perlu diingat bahwa debu atau molekul ukuran mikrospokis ini sesungguhnya bukan hanya ada di kursi, tetapi di udara yang kita hirup sekalipun juga ada. Kalau debu ukuran mikroskopis itu bisa digunakan untuk

425

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

bertayammum, maka seharusnya kita bisa bertayammum cukup dengan menggeleng-gelengkan kepala dan menggerak-gerakkan tangan saja, toh di udara sekitar wajah dan tangan kita ada banyak debu mikroskopis. Majelis Bahtsul Masail Nahdhatul Ulama secara tegas menetapkan bahwa bertayammum menggunakan kursi pesawat terbang itu hukumnya tidak sah, karena tidak memenuhi ketentuan tayammum.1 3. Shalat di Kereta Api Shalat wajib di atas kereta api dalam beberapa kasus masih dimungkinkan, asalkan bisa memenuhi beberapa syarat, diantara masih bisa berdiri, ruku' dan sujud serta bisa menghadap kiblat. Beberapa rangkaian Kereta Api Eksekutif misalnya, masih dimungkinkan kita melaksanakan shalat wajib dengan benar. Yang pertama kali kita pikirkan adalah meminimalisir shalat di atas kereta. Bila kereta bergerak dari stasiun Gambir di Jakarta pukul 21.00 malam, maka untuk shalat Maghrib dan Isya tidak perlu dilakukan di atas kereta, karena bisa kerjakan sebelumnya di rumah atau di stasiun. Tinggal yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana shalat shubuhnya, karena pada saat waktu shubuh itu kereta tidak berhenti secara khusus untuk melakukan shalat shubuh. 2 Untuk wudhu kita bisa melakukannya di toilet kereta. Karena umumnya kereta kelas bisnis dan eksekutif dilengkapi dengan toilet. Dan untuk tempat shalat, kita bisa memanfaatkan ruang di dekat sambungan antar gerbong, misalnya dengan menggelar koran atau jaket, kalau takut ada bekas najis. Dan untuk masalah arah kiblat, kita bisa sedikit
1 2

Lihat Bahtsul Masail Mungkin di masa mendatang, kalau Penulis bisa menjadi Direktur PTKA, bisa diatur bahwa diberi kesempatan kepada penumpang untuk turun sebentar kira-kira 15 menit untuk menunaikan shalat shubuh di stasiun tertentu.

426

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

memperkirakan dengan melihat kota asal dan kota tujuan. Misalnya kita naik kereta Argo Bromo Anggrek dari Jakarta ke Surabaya. Secara umum, kereta akan bergerak dari arah Barat ke Timur. Maka arah kiblat bisa kita perkirakan yaitu arah datangnya kereta, atau menghadap ke belakang. Dan sebaliknya, bila perjalanan kereta itu dari Surabaya ke Jakarta, maka kita shalat menghadap arah tujuan kereta, atau menghadap ke depan. Tentu saja arah ini tidak tepat benar ke arah kiblat, sebab biar bagaimana pun juga rel kereta api itu pasti berbelok-belok. Namun secara umum relatif arah rel kereta itu umunya lurus, kalau perlu memotong SAWah, desa, lembah, ngarai, gunung bahkan sampai dibuatkan terowongan. Semua menunjukkan bahwa sesungguhnya arah rel kereta api cenderung lurus. Maka kita bisa melakukan shalat shubuh 2 rakaat yang ringan saja, dimana syarat dan rukun shalat terpenuhi dengan lengkap. Syarat shalat yang pertama yaitu itu suci dari hadats kecil, kita lakukan dengan berwudhu' di toilet kereta dengan menggunakan air dan bukan dengan cara bertayammum. Syarat shalat yang kedua yaitu menghadap kiblat kita penuhi dengan memperkirakan arah kereta. Sedangkan rukun shalat wajib yaitu berdiri, bisa kita lakukan dengan sempurna di tempat dekat sambungan gerbong. Sebenarnya di lorong tengah-tengah antara kursi juga bisa, namun takut mengganggu dan terganggu oleh orang lewat. Urusan ini kita minimalisir dengan mencari ruang yang agak lega, yaitu di dekat sambungan. Sesungguhnya kalau shalat shubuh bisa saja kita gunakan lorong di tengah-tengah kursi penumpang, karena umumnya pada waktu shubuh itu, para penumpang masih lelap tidur. Toh kita bisa melakukan shalat dua rakaat hanya dalam hitungan 1 atau 2 menit saja. Kita tidak perlu membaca surat Al-Baqarah atau surat Yasin ketika shalat di atas kereta api.

427

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

4. Shalat Ketika Menumpang Bus Antar Kota Urusan shalat ketika kita menumpang bus umum antar kota atau antar negara, sebenarnya tidak terlalu sulit. Sebab pada dasarnya, bus antar kota itu adalah kendaraan yang selalu berhenti di terminal-terminal tertentu, atau di rest area tertentu. Sehingga pada dasarnya kita dapat memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk melakukan shalat fardhu. Dan untuk lebih utamanya, lakukan shalat fardhu itu dengan dijamak dan diqashar. Selain lebih cepat, umumnya para ulama lebih mengutamakan jama dan qashar ketika dalam perjalanan. Biasanya di tempat-tempat pemberhentian yang resmi seperti restoran, terminal atau pun rest area, tersedia mushalla dan juga toilet. Namun bila fasilitas itu tidak tersedia, tetap saja kita masih bisa melakukan shalat fardhu di sembarang tempat, asalkan bisa menghadap kiblat dengan benar, berdiri, ruku dan sujud dengan sempurna. Namun dalam kasus tertentu, seperti untuk shalat shubuh, seringkali bus antar kota itu tetap saja meluncur tanpa berhenti. Sebenarnya yang harus dilakukan oleh pengemudi adalah berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada para penumpang dapat melaksanakan shalat shubuh. Sebab berhenti sejenak barang 10 menit untuk sekedar melakukan shalat shubuh tentu tidak akan membuat perjalanan jadi terlambat. Kewajiban ini terutama tertumpu di pundak sang pengemudi. Bila pengemudi bus itu seorang muslim, minimal dia wajib melakukan shalat shubuh untuk dirinya sendiri. Dan tentunya dia juga wajib memberi kesempatan kepada penumpangnya yang muslim untuk melakukan shalat shubuh. Bila pengemudi itu tidak berhenti untuk shalat shubuh, maka penumpangnya yang muslim tentu berhak sekaligus berkewajiban untuk memberitahukan hal ini kepada si pengemudi bus, yaitu agar si pengemudi berhenti sejenak sekedar untuk melakukan shalat shubuh. Disinilah sesungguhnya letak kualitas seorang muslim diuji, apakah dia tergerak hatinya untuk memberitahukan si

428

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

pengemudi, ataukah dia hanya diam saja melihat kemungkaran terjadi di depan mata. Sayangnya yang justru paling sering kita temui, kebanyakan orang merasa sungkan untuk mengajak si pengemudi bus untuk berhenti sejenak sekedar untuk shalat. Bila si pengemudi adalah seorang non muslim, memang dia tidak wajib untuk mengerjakan shalat. Namun bukti bahwa dia punya niat baik mau hidup berdampingan dengan umat Islam sebagai kafir dzimmi adalah dia memberikan kesempatan kepada penumpang yang muslim untuk melakukan shalat shubuh. Bila dia tidak tahu adanya kewajiban seperti itu, maka penumpang yang muslim wajib memberitahukan. Dan tidak boleh hanya diam saja. G. Kendaraan Yang Tidak Memungkinkan Shalat Tetapi memang harus kita akui tidak semua kereta api berfasilitas yang memungkinkan kita shalat. Misalnya kereta api kelas ekonomi yang umumnya sangat parah. Apalagi di musim liburan atau musim mudik lebaran, praktis kita sama sekali tidak mungkin melakukan shalat, selain karena toiletnya tidak mengeluarkan air, juga toilet itu malah diisi para penumpang yang tidak kebagian kursi. Begitu juga tempat yang lega sudah tidak ada lagi, karena dijejali dengan ribuan penumpang yang berdesakan di setiap jengkal badan gerbong kereta. Satu-satunya tempat yang agak lapang adalah atap kereta. Tapi di musim ramai, seringkali atap kereta pun dipenuhi manusia. Maka kalau kita perhatikan syarat-syarat dari para ulama tentang shalat wajib di atas kendaraan, rasanya mustahil kita bisa melakukan shalat. Lalu apakah kita tidak shalat? Para ulama dalam hal ini berbeda pandangan menjadi empat pendapat. 1. Shalat di Kendaraan & Mengulangi Setelah Tiba Pendapat pertama mewajibkan shalat di atas kendaraan itu sebisa-bisanya, tetapi setelah turun nanti, wajib mengulangi atau

429

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

mengganti dengan shalat yang sempurna. Sebenarnya pendapat ini mengakui bahwa shalat di atas kendaraan yang seperti ini tidak sah hukumnya, karena tanpa wudhu atau tayammum, atau juga karena tidak berdiri menghadap kiblat, tidak ruku atau sujud dengan benar. Namun mereka tetap mengharuskannya, dengan dasar bahwa karena kita tetap wajib taat kepada Allah SWT dengan semampunya. Dalilnya adalah firman Allah SWT :


Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (QS. At-Taghabun : 16)

Karena itu shalat ini dikerjakan dengan sebisa-bisanya, walau pun hanya dengan mengucapkan lafadz-lafadznya saja, atau dengan isyarat menggerakkan bagian-bagian tubuhnya. Sebagian ulama mengistilahkan shalat seperti ini adalah shalat menghormati waktu, li hurmatil-waqti () . Karena shalat ini tidak sah hukumnya, maka kewajibannya belum gugur. Sehingga ketika sudah turun dari kendaraan itu dan shalat bisa dikerjakan dengan sempurna, masih ada kewajiban untuk menggantinya, meski waktunya telah lewat. Apabila waktunya masih ada, shalat itu diulangi lagi dengan sempurna, yaitu dengan berwudhu, berdiri, menghadap kiblat, ruku' dan sujud. Dan namanya adalah mengulangi shalat (i'adatushshalah). Sedangkan bila waktunya sudah lewat dan shalat itu diulangi lagi, namanya adalah mengqadha' shalat (qadha'ush-shalah). Misalnya bus tadi tiba di kota tujuan sudah lewat jam 08.00 pagi, maka sesampainya di kota tujuan itu, menurut pendapat ini kita masih tetap diwajibkan untuk melakukan shalat shubuh. Dan karena waktu shubuh telah lewat, maka shalat yang dilakukan di luar waktunya disebut dengan istilah shalat qadha. 2. Shalat di Kendaraan Tidak Mengulangi Sesudahnya

430

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Pendapat kedua ini sebenarnya mirip dengan pendapat di atas, yaitu mewajibkan kita shalat sebisa-bisanya di atas kendaraan. Meski pun shalat itu tanpa wudhu atau tayammum, juga tanpa menghadap kiblat, atau berdiri, ruku dan sujud. Perbedaannya dengan pendapat pertama, pendapat ini cenderung mengatakan bahwa bila shalat di atas kendaraan ini telah dikerjakan, maka kewajiban shalat telah gugur. Sehingga tidak perlu lagi shalat itu diulangi setibanya di tempat tujuan. Karena dianggap sudah sah dan diterima Allah SWT. Dan Allah SWT lebih tahu apa yang ada di dalam hati hamba-Nya. 3. Tidak Shalat di Kendaraan dan Mengqadha Sesudahnya Pendapat ketiga agak berbeda dengan pendapat pertama dan kedua. Dalam pandangan pendapat yang ketiga ini, karena semua syarat dan ketentuan sah-nya shalat tidak terpenuhi, maka kewajiban shalat menjadi gugur dengan sendirinya dalam keadaan seperti itu. Sehingga kita tidak perlu melakukan shalat apa pun, tidak juga shalat untuk menghormati waktu. Dasarnya karena Rasulullah SAW pun tidak pernah memberi contoh seperti apa shalat untuk menghormati waktu, yang tanpa memenuhi semua persyaratan yang diwajibkan. Namun kalau kewajiban shalat itu gugur, sifatnya hanya ketika sedang ada halangan. Sedangkan bila halangan itu sudah tidak ada lagi, maka kewajiban shalat kembali berlaku, meski sudah lewat waktunya. Dasar pendapat ini karena seseorang tetap akan ditanya di hari kiamat tentang shalat yang belum dikerjakannya. Maka untuk itu tetap wajib untuk mengganti shalat yang tidak dikerjakan itu, meski waktunya sudah lewat. Dengan kata lain, tetap wajib untuk mengqadha shalat meski waktunya sudah lewat. Dasar yang lain adalah apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW ketika berkecamuk perang Ahzab (Khandaq), dimana beliau pernah tidak mengerjakan empat shalat fardhu berturutturut, yaitu Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Namun setelah itu, beliau menggantinya di tengah malam, ketika keadaan telah

431

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

memungkinkan. 4. Tidak Shalat di Kendaraan dan Tidak Mengganti Pendapat yang keempat punya kemiripan dengan pendapat yang ketiga, yaitu tidak perlu mengerjakan shalat untuk menghormati waktu, karena tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW. Bedanya, pendapat keempat ini juga tidak mewajibkan untuk mengganti shalat yang tidak dikerjakan itu setelah tiba di tempat tujuan. Alasannya, karena mereka memang bahwa shalat qadha itu tidak disyariatkan. Dan pendapat terakhir itu sebenarnya tidak ada satupun ulama yang mengatakannya. Tetapi anehnya, justru tindakan nomor empat itulah yang rata-rata dikerjakan oleh umat Islam di negeri yang mayoritas muslim ini. Sebenarnya maksudnya adalah bahwa kebanyakan bangsa Indonesia ini memang tidak shalat sama sekali. Bukan hanya di atas kendaraan saja mereka tidak shalat, bahkan jangan-jangan di luar perjalanan pun, seperti ketika di rumah, shalat memang tidak dikerjakan. Meski demikian, jangan heran kalau kita akan mendengar lebih dari seribu alasan yang mereka kemukakan, untuk membela diri mereka. Di antaranya adalah masalah keraguan apakah pakaian mereka najis atau tidak. Selain itu juga alasan bahwa nanti diqadha' saja shalatnya di rumah, walaupun sudah bisa dipastikan bahwa qadha' shalat tidak akan dikerjakan.
Kesimpulan

Dari keempat pendapat di atas, pendapat yang paling hatihati adalah pendapat yang pertama, yaitu tetap shalat sebisabisanya di atas kendaraan, namun setibanya di tempat tujuan, shalat itu diganti dengan shalat qadha. Dan tentu saja yang paling berbahaya sekaligus juga berdosa adalah pendapat yang terakhir, karena intinya memang tidak shalat. Untuk memudahkannya, kita bisa buatkan tabel seperti

432

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

Bab 3 : Shalat di Kendaraan

berikut ini :
Shalat di Kendaraan Pendapat I Pendapat II Pendapat III Pendapat IV I'adah / Qadha'

Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang menjalankan pendapat yang pertama, atau setidaknya kedua atau ketiga, tetapi jangan sampai melaksanakan pendapat yang keempat, alias meninggalkan shalat dengan utuh.
Na'udzubillamin zalik.

433

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah

B. Masyru'iyah
1. Al-Quran 2. As-Sunnah

C. Qashar dan Itmam D. Hukum


1. Wajib 2. Sunnah 3. Pilihan

E. Kriteria Safar Yang Membolehkan Qashar


1. Jarak Safar 2. Safar Yang Mubah 3. Melewati Batas Tempat Tinggal 4. Dalam Keadaan Safar Sepanjang Shalat 5. Punya Tujuan Pasti

F. Penyebab Dibolehkannya Qashar dan Berakhirnya


1. Penyebab Dibolehkannya Qashar 2. Penyebab Habisnya Kebolehan Qashar

Ciri khas syariat Islam adalah keringanan dan kemudahan yang tersebar di hampir semua bagian ibadah. Salah satunya adalah keringanan untuk mengqashar shalat. Mengqashar

435

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

adalah mengurangi jumlah rakaat shalat ruba'iyah (yang jumlah rakaatnya empat) menjadi dua rakaat. Namun semua keringanan itu punya aturan, sejumlah syarat dan ketentuan untuk bisa dilakukan. Tidak boleh asal mengurangi begitu saja. A. Pengertian 1. Bahasa Makna kata qashr ( )secara bahasa adalah mengurangi atau meringkas. Disebutkan di dalam Al-Quran bahwa Rasulullah SAW bermimpi pergi haji, lalu sebagian shahabat ada yang mencukur botak kepalanya (muhalliqin) dan ada yang mencukur sebagian (muqashshirin)


Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. (QS. AlFath : 27)

2. Istilah Sedangkan secara istilah, definisi qashr shalat adalah mengurangi bilangan rakaat pada shalat fardhu, dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Shalat Shubuh yang jumlahnya dua rakaat, tidak ada ketentuan untuk mengqasharnya. Demikian juga Shalat Maghrib yang tiga rakaat, juga tidak ada ketentuan untuk mengqasharnya. Dan shalat sunnah pun tidak ada ketentuan qasharnya. B. Masyru'iyah

436

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Pengurangan jumlah rakaat dari empat menjadi tinggal dua adalah pensyariatan yang didasarkan pada nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah, serta dikuatkan dengan ijma' para ulama. 1. Al-Quran Asal kebolehan melakukan dalam melakukan pengurangan jumlah rakaat dari empat menjadi dua adalah firman Allah SWT. Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran al-Kariem tentang keringanan bagi orang yang sedang dalam perjalanan untuk mengurangi jumlah bilangan rakaat shalat.


Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS. An-Nisa : 110)

Di dalam ayat ini sebenarnya pensyariatan qashr shalat masih sangat terkait dengan syarat keadaan takut. Hal itu nampak jelas ketika ayat ini menyebutkan : in khiftum an yaftinakumulladzina kafaru. Ketika ayat ini turun di masa Nabi SAW, nyaris hampir seluruh perjalanan Nabi SAW berada di bahwa ancaman orangorang kafir, yaitu dalam keadaan perang. Yang kemudian menjadi masalah : apakah kebolehan mengqashar shalat ini hanya berlaku pada saat perang saja? Ataukah juga tetap berlaku meski tidak ada perang? Kalau hanya mengandalkan ayat ini saja, secara logika akal sehat, shalat qashar hanya berlaku pada saat perjalanan ke medan perang saja. Namun ternyata kita mendapatkan penjelasan dari hadits Nabi SAW berikut ini : 2. As-Sunnah Penjelasan dari As-Sunnah menegaskan bahwa shalat qashr itu bukan hanya terbatas pada keadaan perang saja, meski pun

437

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

ayatnya memang menyebutkan demikian.


Ya'la bin Umayyah bertanya kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu,"Kenapa kita tetap mengqashar shalat, padahal kita sudah berada dalam suasana aman?". Umar menjawab,"Aku juga pernah menanyakan hal yang serupa kepada Nabi SAW, dan beliau menjawab :


"Itu adalah sedekah yang Allah berikan kepada kalian, maka terima lah sedekah itu". (HR. Muslim)

Hadits shahih ini menepis berbagai penafsiran dan spekulasi bahwa shalat qashar terbatas hanya pada situasi perang saja. Dan bahwa dalam keadaan damai pun shalat qashar tetap berlaku. Sebenarnya hadits-hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu menqashar shalatnya di dalam setiap perjalanan yang beliau lakukan sudah mencapai hadits yang mutawatir, karena jumlahnya sangat banyak. Di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW dari riwayat istri beliau ummul mukminin :


Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata: Awal mula diwajibkan shalat itu 2 rakaat kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar) (HR Bukhari Muslim)

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata : Diwajibkan shalat dua rakaat kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah shalat witir di siang hari, kemudian disempurnakan (4 rakaat) bagi shalat

438

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

hadhar (tidak safar) dan ditetapkan bagi shalat safar (HR. Ahmad)

Dalam riwayat Al-Bukhari ada penambahan :

Kemudian beliau SAW hijrah maka diwajibkan shalat itu 4 rakaat dan ditetapkan bagi shalat safar atas yang perama (2 rakaat) (HR. Bukhari)

Abdullah bin Umar berkata,"Aku menemani Rasulullah SAW, beliau tidak pernah menambah shalat lebih dari 2 rakaat dalam safar, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Utsman." (HR. Bukhari Muslim)

C. Qashr dan Itmam Para ulama berbeda pendapat tentang yang manakah shalat yang asli, apakah aslinya dua rakaat lalu kemudian ditambah menjadi tiga dan empat rakaat? Ataukah aslinya empat rakaat, lalu kemudian Allah memberikan keringanan. 1. Jumhur Ulama Jumhur ulama diantaranya mazhab Al-Malikiyah, AsySyafiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa yang merupakan asal adalah shalat itu empat rakaat, lalu Allah SWT memberikan keringanan pada shalat yang empat rakaat untuk diqashar menjadi dua rakaat. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW, yang secara tegas menyebutkan bahwa qashr itu merupakan sedekahdari Allah SWT.


"Itu adalah sedekah yang Allah berikan kepada kalian, maka
439

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

terima lah sedekah itu". (HR. Muslim)

2. Mazhab Al-Hanafiyah Sedangkan Mazhab Al-Hanafiyah sepakat menyebutkan bahwa yang merupakan justru shalat qashar yang dua rakaat, sedangkan itmam yang empat rakaat merupakan tambahan. Dasarnya adalah hadits Rasulullah SAW ;


Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata: Awal mula diwajibkan shalat itu 2 rakaat kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar) (HR Bukhari Muslim)

D. Hukum Di kalangan ulama terdapat perrbedaan pendapat, apakah mengqashar shalat dalam safat itu wajib, sunnah atau pilihan. 1. Wajib Mazhab Abu hanifah mewajibkan qashar bagi orang yang melakukan perjalanan yang telah terpenuhi syaratnya. Istilah lain yang sering digunakan adalah azimah. Dan tidak boleh shalat dengan itmam, yaitu menyempurnakan dengan 4 rakaat dalam keadaan tersebut. Bila dilakukan hukumnya dosa. Dalil yang mereka gunakan adalah salah satu hadits di atas, dimana mereka menarik kesimpulan hukum menjadi wajib, bukan sunnah atau pilihan.


Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata: Awal mula diwajibkan

440

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

shalat itu 2 rakaat kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar). (HR Bukhari Muslim)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu berkata:Alah SWT telah mewajibkan di atas lidah Nabi kalian bahwa shalat dalam hadhar (tidak safar) sebanyak4 rakaat, dalam safar 2 rakaat dan dalam keadaan kahuf (takut) satu rakaat (HR. Muslim)

Dua hadits di atas memang tegas menyebut istilah 'mewajibkan', sehingga barangkali inilah adalan mazhab Hanafi untuk mewajibkan qashar shalat dalam perjalanan. 2. Sunnah Yang masyhur berpendapat bahwa mengqashar shalat hukumnya sunnah adalah mazhab Malikiyah. Dasarnya adalah tindakan Rasulullah SAW yang secara umum selalu mengqashar shalat dalam hampir semua perjalanan beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu


Abdullah bin Umar berkata,"Aku menemani Rasulullah SAW, beliau tidak pernah menambah shalat lebih dari 2 rakaat dalam safar, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Utsman." (HR. Bukhari Muslim)

3. Pilihan Yang berpendapat bahwa mengqashar shalat atau tidak itu merupakan pilihan adalah mazhab As-Syafi'iyah dan AlHanabilah. Namun bagi mereka, mengqashar itu tetap lebih afdhal,

441

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

karena merupakan sedekah dari Allah SWT.


Umar radhiyallahuanhu berkata,"(Qashar) adalah sedekah yang Allah berikan padamu, maka terimalah sedekah-Nya." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Allah SWT menyukai bila kita menerima sedekah-Nya


Ibnu Mas'ud berkata,"Sesungguhnya Allah suka bila sedekahnya diterima sebagaimana Dia suka bila kewajibannya dijalankan." (HR. Ahmad)1

Mereka juga berdalil dari tindakan para shahabat Nabi SAW dalam banyak perjalanan, kadang mereka mengqashar tapi kadang juga tidak mengqasharnya. Sehingga mengqashar atau tidak merupakan pilihan. Mereka tidak saling memandang aib atas apa yang dilakukan teman mereka. Selain itu Aisyah dan Rasulullah SAW pernah mengadakan perjalanan, dimana mereka saling berbeda dalam shalat, yang satu mengqashar yang lain tidak mengqashar.

. : : .
Aku pernah melakukan umrah bersama Rasullah SAW di bulan Ramadhan, beliau SAW berbuka dan aku tetap berpuasa, beliau mengqashar shalat dan aku tidak. Maka Aku berkata,"Dengan ibu dan ayahku, Anda berbuka dan aku berpuasa, Anda mengqashar dan Aku tidak". Beliau menjawab,"Kamu baik,

Hadits Dhaif

442

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

wahai Aisyah". (HR. Ad-Daruquthuny)2

E. Kriteria Safar Yang Membolehkan Qashar Tidak semua safar membolehkan kita untuk mengqashar shalat. Hanya safar dengan kriteria tertentu saja yang membolehkan kita mengqasharnya. 1. Niat Agar berstatus musafir, maka seseorang harus berniat dan menyengaja untuk melakukan safar. Syarat ini disepakati oleh semua ulama. Maka seorang yang diculik dengan paksa ke tempat yang jauh atau diasingkan ke negeri lain, padahal dalam dirinya tidak ada niat sedikit pun untuk melakukan safar, secara hukum syari bukan termasuk musafir. Niat untuk melakukan safar akan hilang ketika seseorang berhenti dalam perjalanannya dan mengubah niatnya dari musafir menjadi ingin tinggal dan menetap untuk seterusnya. Maka orang yang pergi merantau dari kampung ke Jakarta dengan tujuan untuk menetap di Jakarta, juga dianggap sudah bukan lagi musafir. Dia menjadi musafir hanya selama di kendaraan saja. Begitu sudah sampai di Jakarta, maka dia bukan musafir lagi. 2. Jarak Kriteria kedua dari safar yang membolehkan qashar adalah masalah jarak minimal dari keseluruhan safar itu. Sehingga tidak mentang-mentang orang keluar kota, lantas bisa disebut musafir. Minimal harus ada jarak tertentu agar safar itu membolehkan shalat qashar. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menjama' shalat dilihat dari segi batas minimal jarak perjalanan.

Nailul Authar jilid 3 hal. 202

443

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

a. Jumhur Ulama Jumhur ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah, AsySyafi'iyah dan Al-Hanabilah umumnya sepakat bahwa minimal berjarak empat burud. Dasar ketentuan minimal empat burud ini ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai penduduk Mekkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 burud, dari Mekkah ke Usfan". (HR. Ad-Daruquthuny)

Selain dalil hadits di atas, dasar dari jarak minimal 4 burud adalah apa yang selalu dilakukan oleh dua ulama besar dari kalangan shahabat, yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma. Mereka berdua tidak pernah mengqashar shalat kecuali bila perjalanan itu berjarak minimal 4 burud. Dan tidak ada yang menentang hal itu dari para shahabat yang lain. Dalil lainnya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Atsram, bahwa Abu Abdillah ditanya,
"Dalam jarak berapa Anda mengqashar shalat?". Beliau menjawab,"Empat burud". Ditanya lagi,"Apakah itu sama dengan jarak perjalanan sehari penuh?". Beliau menjawab,"Tidak, tapi empat burud atau 16 farsakh, yaitu sejauh perjalanan dua hari".

Para ulama sepakat menyatakan bahwa jarak 1 farsakh itu sama dengan 4 mil. Dalam tahkik kitab Bidayatul Mujtahid dituliskan bahwa 4 burud itu sama dengan 88,704 km3. Meski jarak itu bisa ditempuh hanya dengan satu jam naik pesawat terbang, tetap dianggap telah memenuhi syarat perjalanan. Karena yang dijadikan dasar bukan lagi hari atau waktu, melainkan jarak tempuh.
Dua Hari Perjalanan.
3

Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd Al-Hafid, jilid 1 hal. 404

444

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Dan semua ulama sepakat bahwa meski pun disebut masa perjalanan dua hari, namun yang dijadikan hitungan sama sekali bukan masa tempuh. Tetapi yang dijadikan hitungan adalah jarak yang bisa ditempuh di masa itu selama dua hari perjalanan. Pertanyannya, kalau memang yang dimaksud dengan jarak disini bukan waktu tempuh dua hari, lalu mengapa dalilnya malah menyebutkan waktu dan bukan jarak. Jawabnya karena di masa Rasulullah SAW dan beberapa tahun sesudahnya, orang-orang terbiasa menyebutkan jarak antar satu negeri dengan negeri lainnya dengan hitungan waktu tempuh, bukan dengan skala kilometer atau mil. Di masa sekarang ini, kita masih menemukan masyarakat yang menyebut jarak antar kota dengan hitungan waktu. Salah satunya di Jepang yang sangat maju teknologi perkeretaapiannya. Disana orang-oran terbiasa menyebut jarak satu kota dengan kota lainnya dengan hitungan jam. Maksudnya tentu bukan dengan jalan kaki melainkan dengan naik kereta cepat Sinkansen. Sedangkan perjalanan dua hari di masa Rasulullah SAW tentunya dihitung dengan berjalan kaki dengan langkah yang biasanya. Meski pun naik kuda atau unta, sebenarnya relatif masa tempuhnya kurang lebih sama. Karena kuda atau unta bila berjalan di padang pasir tentu tidak berlari, sebab tenaganya akan cepat habis. Perjalanan antar negeri di masa itu yang dihitung hanya perjalanan siang saja, sedangkan malam hari tidak dihitung, karena biasanya malam hari para khafilah yang melintasi padang pasir beristirahat. Masa tempuh seperti ini kalau dikonversikan dengan jarak tempuh sebanding dengan jarak 24 mil. Dan sebanding pula dengan jarak 4 burud, juga sebanding dengan 16 farsakh. Jarak ini juga sama dengan 48 mil hasyimi.

445

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

b. Jarak 3 Hari Perjalanan Abu Hanifah dan para ulama Kufah mengatakan minimal jarak safar yang membolehkan qashar itu adalah bila jaraknya minimal sejauh perjalanan tiga hari, baik perjalanan itu ditempuh dengan menunggang unta atau berjalan kaki, keduanya relatif sama. Dan tidak disyaratkan perjalanan itu siang dan malam, tetapi cukup sejak pagi hingga zawal di siang hari. Safar selama tiga hari ini kira-kira sebanding dengan safar sejauh 3 marhalah. Karena kebiasaannya seseorang melakukan safar sehari menempuh satu marhalah. Dasar dari penggunaan masa waktu tiga hari ini adalah hadits Nabi SAW, dimana dalam beberapa hadits beliau selalu menyebut perjalanan dengan masa waktu tempuh tiga hari. Seperti hadits tentang mengusap sepatu, disana dikatakan bahwa seorang boleh mengusap sepatu selama perjalanan 3 hari.

Orang yang muqim mengusap sepatu dalam jangka waktu sehari semalam, sedangkan orang yang safar mengusap sepatu dalam jangka waktu tiga hari tiga malam. (HR. Ibnu Abi Syaibah)4

Demikian juga ketika Rasulullah SAW menyebutkan tentang larangan wanita bepergian tanpa mahram yang menyertainya, beliau menyebut perjalanan selama 3 hari.

Dari Ibnu Umar radhiyallhuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian sejauh 3 malam kecuali bersama mahram". (HR. Muslim)

Menurut
4

mazhab

Al-Hanafiyah,

penyebutan

hari

Nashbur-rayah jilid 2 hal. 183

446

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

perjalanan itu pasti ada maksudnya, yaitu untuk menyebutkan bahwa minimal jarak perjalanan yang membolehkan qashar adalah sejauh perjalanan 3 hari. Kalau kita konversikan jarak perjalanan tiga hari, maka hitungannya adalah sekitar 135 Km. c. Tanpa Batas Minimal Sedangkan pendapat mazhab Zhahiri mengatakan tidak ada batas minimal seperti yang telah kami sebutkan di atas. Jadi mutlak safar, artinya berapa pun jaraknya yang penting sudah masuk dalam kriteria safar atau perjalanan. Di antara ulama yang mewakili kalangan ini salah satunya adalah Ibnu Taimiyah.5 Menurut pandangan mazhab ini, seseorang sudah disebut sebagai musafir meski jarak yang ditempuhnya hanya berjarak 3 farsakh atau 3 mil saja. Dasar pendapat ini adalah hadits berikut ini.


Anas berkata bahwa Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat (HR Muslim)6

Namun meski hadits ini shahih dari segi periwayatannya, namun cara menarik kesimpulannya yang tidak disepakati. Umumya para fuqaha mengartikan hadits ini bukan sebagai jarak safar yang membolehkan qashar, namun kapan shalat qashar sudah boleh mulai dikerjakan. Sementara safarnya itu sendiri tetap minimal berjarak empat burud atau enambelas farsakh. Ketika Rasulullah SAW mengadakan perjalanan dari Madinah ke Mekkah, beliau sudah mulai mengqashar sejak
5 6

Majmu' Fatawa jilid 12 hal. 18-14 dan 135 Ada keraguan pada perawi yaitu Syu'bah apakah 3 mil atau 3 farsakh.

447

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

masih di Dzil-Hulaifah, atau yang sekarang disebut dengan Bir Ali. Kalau diukur jaraknya hanya beberapa kilmometer saja dari Madinah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata,"Aku shalat Dzuhur bersama Rasulullah SAW di Madinah 4 rakaat, dan shalat Ashar bersama beliau di Dzil Hulaifah 2 rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi sebagaimana kita ketahui, tujuan safar beliau SAW bukan semata-mata mau pergi ke Dzil-hulaifah. Beliau SAW punya tujuan yang jauh, yaitu melakukan haji atau umrah ke Mekkah. 3. Mubah Safar yang dibolehkan buat kita untuk mengqashar shalat haruslah sebuah safar yang sejak awal memang diniatkan untuk hal-hal yang mubah atau dibolehkam. Sedangkan safar yang sejak awalnya sudah diniatkan untuk hal-hal yang haram dan tidak diridhai Allah SWT, tidak diberikan keringanan untuk mengqashar shalat. Syarat ini dikemukakan oleh Jumhur ulama kecuali AlHanafiyah yang mengatakan apapun tujuan safar, semua membolehkan qashar. Bahkan Mazhab As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang melakukan safar dalam rangka bermaksiat kepada Allah, bukan saja tidak boleh mengqashar shalatnya, tetapi juga tidak sah shalatnya. Alasannya, karena seperti orang yang tahu bahwa dirinya dalam keadaan hadats (tidak punya wudhu') tetapi tetap shalat juga. Sedangkan dalam pandangan Mazhab Al-Malikiyah, shalat orang itu tetap sah, tetapi kalau dia mengqashar shalatnya maka dia berdosa.

448

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Sedangkan safar yang hukumnya makruh, Mazhab AlHanabilah tetap tidak memperbolehkan, tetapi Mazhab AlMalikiyah dan As-syafi'iyah memperbolehkan. 4. Melewati Batas Tempat Tinggal Mengqashar shalat dalam safar itu sudah boleh dilakukan meski belum mencapai jarak yang telah ditetapkan. Asalkan sejak awal niatnya memang akan menempuh jarak sejauh itu. Shalat qashar sudah bisa dimulai ketika musafir itu sudah keluar dari kota atau wilayah tempat tinggal, tetapi belum boleh dilakukan ketika masih di rumahnya. Rasulullah SAW tidak mulai mengqashar shalatnya kecuali setelah beliau meninggalkan Madinah.


Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata,"Aku shalat Dzuhur bersama Rasulullah SAW di Madinah 4 rakaat, dan shalat Ashar bersama beliau di Dzil Hulaifah 2 rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Punya Tujuan Pasti Safar itu harus punya tujuan pasti, bukan sekedar berjalan tak tentu arah dan tujuan. Misalnya, orang yang melakukan perburuan hewan atau mengejar hewan yang lepas, dimana dia tidak tahu mau pergi kemana tujuan perjalanannya. Kalau ada orang masuk tol dalam kota Jakarta, lalu memutari Jakarta dua putaran, maka dia sudah menempuh jarak kurang lebih 90 Km. Namun orang ini tidak disebut sebagai musafir. Alasannya karena apa yang dilakukannya itu tidak punya tujuan yang pasti. Demikian juga dengan pembalap di sirkuit. Meski jarak yang ditempuhnya ratusan kilmometer, tetapi kalau lokasi hanya berputar-putar di sirkuit itu saja, juga bukan termasuk

449

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

musafir. Alasannya, karena tidak ada tujuannya kecuali hanya berputar-putar belaka. F. Penyebab Dibolehkannya Qashar dan Berakhirnya 1. Penyebab Kebolehan Qashar Para ulama umumnya sepakat bahwa mengqashar shalat itu hanya boleh dilakukan karena satu sebab saja, yaitu safar atau perjalanan. Di luar perjalanan, maka tidak ada keringanan atau kebolehan untuk mengerjakan shalat dengan cara dikurangi rakaatnya dari empat menjadi tinggal dua rakaat. Perbedaan antara qashar dengan jama' adalah bahwa safar adalah satu-satunya penyebab dibolehkannya qashar. Sedangkan jama' masih punya penyebab yang lain di luar safar, seperti sakit, hujan, dan lainnya.


Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS. An-Nisa : 110)

Meski pun ayat Al-Quran yang menjadi dasar qashar itu ketika takut musuh melakukan penyerangan, namun bukan berarti dibolehkan qashar hanya terbatas pada perang yang berlangsung. Yang disepakati para ulama bukan perangnya, tetapi perjalanan itu sendiri, baik karena perang atau pun bukan karena perang. Yang penting perjalanan itu memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Maka bisa kita simpulkan bahwa ketika seseorang berstatus musafir, maka dia boleh mengqashar shalat. Sebaliknya, bila statusnya sebagai musafir sudah berakhir, atau malah belum

450

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 4 : Mengqashar Shalat

menyandang status musafr, maka qashar tidak diperkenankan. Mazhab Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa kebolehan mengqashar shalat disyaratkan harus dalam keadaan safar sepanjang shalat itu berlangsung. Berarti shalat itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan safar sejak dari awal mulai shalat hingga salam. Maksudnya, jangan sampai safar sudah selesai ketika shalatnya sedang berlangsung. Hal ini bisa terjadi baik secara fisik atau secara niat. 2. Penyebab Habisnya Kebolehan Qashar Ada beberapa hal yang menyebabkan safar yang dilakukan oleh seseorang berakhir secara sah, antara lain dengan tiba kembali di rumah atau di tempat tinggal asli, atau dengan niat bermukim, atau tinggal sementara tetapi melewati batas waktu. a. Tiba di Rumah Contoh secara fisik misalnya, orang yang shalat qashar di dalam kapal dan kapalnya bergerak pulang menuju negerinya. Dalam hal ini, kalau kapal sudah bersandar di dermaga, maka hukum safarnya sudah selesai. Maka mengqashar shalat tidak lagi berlaku kalau kapal terlanjur bersandar. b. Niat Bermukim Contoh secara niat adalah bila seseorang dalam safarnya tiba-tiba berubah niat untuk mukim di tempat tersebut. Meski secara fisik dia masih ada dalam perjalanan, tetapi kalau di hatinya ada niat bahwa dia akan menetap di tempat itu, maka status safarnya berubah. Maka kalau niatnya itu muncul saat masih shalat, dia harus menggenapkan rakaatnya. c. Niat Tinggal Sementara Tapi Melewati Batas Waktu Ketika seorang musafir berhenti di satu titik dalam waktu yang cukup lama, apakah masih melekat pada dirinya status musafir? Berapa lama waktu yang ditolelir buat seorang masih dianggap musafir padahal dia diam di suatu tempat? Batasan berapa lama seseorang boleh tetap menjama' dan

451

Bab 4 : Mengqashar Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat- 3

mengqashar shalatnya, ada beberapa perbedaan pendapat di antara para fuqaha. Imam Malik dan Imam As-Syafi'i berpendapat bahwa masa berlakunya qashar bila menetap disuatu tempat selama 4 hari. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan At-Tsauri berpendapat bahwa masa berlakunya jama' dan qashar bila menetap disuatu tempat selama 15 hari. Dan Imam Ahmad bin Hanbal dan Daud berpendapat bahwa masa berlakunya jama' dan qashar bila menetap disuatu tempat lebih dari 4 hari, maka selesailah masa jama' dan qasharnya. Adapun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar. Ibnul Qayyim berkata,
Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat.

Ibnu Abbas berkata :


Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna. (HR. Bukhari)

452

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

Bab 5 : Menjama' Shalat

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah

B. Jenis Jama
1. Berdasarkan Shalat Yang Boleh Dijama 2. Berdasarkan Waktu Pengerjaannya

C. Ketentuan Jama Taqdim


1. Niat Sejak Shalat Yang Pertama 2. Berurutan 3. Al-Muwalat 4. Masih Berlangsungnya Safar

D. Ketentuan Jama Ta'khir


1. Niat 2. Safar Harus Masih Berlangsung

E. Momen Dibolehkannya Jama'


1. Safar 2. Sakit 3. Haji 4. Hujan 5. Kejadian Yang Tidak Memungkinkan

F. Menjama' Jumat dengan Ashar


1. Boleh 2. Tidak Boleh

453

Bab 5 : Menjama Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

A. Pengertian 1. Bahasa Secara bahasa, kata jama berarti menggabungkan, menyatukan ataupun mengumpulkan. Di dalam Al-Quran disebutkan kata jamu ( )ketika mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang turun tidak beraturan.


Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. (QS. Al-Qiyamah : 17)

2. Istilah Sedangkan secara istilah, shalat jama itu adalah : melakukan dua shalat fardhu, yaitu Dzhuhur dan Asar, atau Maghrib dan Isya secara berurutan pada salah satu waktunya. Di luar dari yang didefinisikan di atas, maka bukan termasuk shalat jama yang dimaksud. Shalat Dzhur tidak bisa dijama kecuali hanya dengan Ashar dan begitu juga sebaliknya. Shalat Marghrib tidak boleh dijama kecuali hanya dengan shalat Isya. Orang yang terlambat mengerjakan shalat karena waktunya sudah terlewat, maka dia wajib segera mengerjakan shalat yang terlewat itu. Dan setelah dia mengerjakan shalat fardhu untuk waktu berikutnya. B. Jenis Jama Jama bisa kita bagi berdasarkan shalatnya dan kapan dikerjakannya. 1. Berdasarkan Shalat Yang Boleh Dijama Shalat yang disyariatkan untuk bisa dijama hanya ada dua, yaitu :

454

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

a. Shalat Zhuhur Dijama Dengan Ashar Shalat Zhuhur hanya boleh dijama dengan shalat Ashar. Tidak boleh dijama dengan Shubuh, Maghrib atau Isya. Sedangkan shalat Jumat, apakah boleh dijama dengan Ashar, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan tidak boleh, sebagian lagi boleh. Dan sebagian lagi menyebutkan bahwa kebolehannya hanya apabila seseorang berniat shalat Dzhuhur meski ikut dalam barisan shaf shalat Jumat. b. Shalat Maghrib Dijama Dengan Isya Shalat yang juga boleh dijama selain Dzhuhur dengan Ashar adalah jama antara shalat Maghrib dan Isya. 2. Berdasarkan Waktu Pengerjaannya Selain pembagian di atas, dari segi kapan dikerjakan shalat jama ini juga bisa dibagi berdasarkan kapan shalat jama; ini dikerjakan. a. Jama Taqdim Jama taqdim adalah melakukan dua shalat fardhu pada waktu shalat yang pertama. Bentuknya ada dua. Pertama shalat Zhuhur dilakukan langsung berurutan dengan shalat Ashar, yang dilakukan pada waktu Zhuhur. Dan kedua, shalat Maghrib dan shalat Isya' dilakukan secara berurutan pada waktu Maghrib. b. Jama Takhir Sedangkan jama takhir adalah kebalikan dari jama taqdim, yaitu melakukan dua shalat fardhu pada waktu shalat yang kedua. Bentuknya juga ada dua. Pertama shalat Zhuhur dilakukan langsung berurutan dengan shalat Ashar, yang dilakukan pada waktu Ashar. Dan kedua, shalat Maghrib dan shalat Isya' dilakukan secara berurutan pada waktu Isya. C. Ketentuan Jama Taqdim

455

Bab 5 : Menjama Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Untuk dibolehkan dan sah-nya jama taqdim, paling tidak harus dipenuhi 4 syarat. Bila salah satu syarat ini tidak terpenuhi, tidak sah bila dilakukan jama taqdim. 1. Niat Sejak Shalat Yang Pertama Misalnya kita menjama shalat Zhuhur dengan shalat Ashjar di waktu Zhuhur, maka sejak berniat shalat Zhuhur kita juga harus sudah berniat untuk menjama dengan Ashar. Niat untuk menjama ini masih dibolehkan selama shalat Zhuhur belum selesai. Jadi batas kebolehan berniatnya hingga sebelum mengucapkan salam dari shalat Zhuhur. Bila selesai salam kita baru berniat untuk menjama', jama taqdim tidak boleh dilakukan. Sehingga shalat Ashar hanya boleh dilakukan nanti bila waktu Ashar telah tiba. 2. Berurutan Misalnya kita menjama shalat Maghrib dengan shalat Isya' dengan taqdim, yaitu di waktu Maghrib, maka keduanya harus dilakukan sesuai dengan urutan waktunya. Harus shalat Maghrib dulu yang dikerjakan baru kemudian shalat Isya'. Bila shalat Isya' yang dikerjakan terlebih dahulu, maka tidak sah hukumnya. Namun bila bukan jama taqdim, dimungkinkan untuk melakukannnya dengan terbalik, yaitu shalat Isya' dulu baru shalat Maghrib. Meski pun tetap lebih utama bila dilakukan dengan tertib urutan waktunya. 3. Al-Muwalat Maksudnya antara shalat yang awal dengan shalat kedua tidak boleh terpaut waktu yang lama. Boleh diselingi sekadar lama waktu orang melakukan shalat dua rakaat yang ringan. Juga boleh diselingi dengan mengambil wudhu'. Tapi tidak boleh bila diselingi pekerjaan lain dalam waktu yang terlalu lama. Disunnahkan di antara jeda waktu itu untuk mengulangi

456

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

iqamah, tapi bukan shalat sunnah. Sebab pada hakikatnya kedua shalat ini disatukan. Ketiga syarat ini berlaku mutlak untuk jama taqdim namun untuk jama ta'khir bukan menjadi syarat, hanya menjadi sunnah saja. 4. Masih Berlangsungnya Safar Masih berlangsungnya safar hingga takbiratul ihram shalat yang kedua. Misalnya kita menjama taqdim shalat Maghrib dengan Isya' di waktu Maghrib, maka pada saat Isya' kita harus masih dalam keadaan safar atau perjalanan. Paling tidak pada saat takbiratul ihram shalat Isya'. Hal itu terbayang kalau kita melakukannya di kapal laut misalnya. Kapal itu harus masih dalam pelayaran pada saat kita takbiratul ihram shalat Isya. Tidak mengapa bila selama shalat Isya itu, kapal sudah merapat ke pelabuhan negeri kita. D. Ketentuan Jama Ta'khir Sedangkan syarat dibolehkannya jama ta'khir hanya ada dua saja. Yaitu adalah : 1. Niat Berniat untuk menmaja' ta'khir sebelum habisnya waktu shalat yang pertama. Misalnya kita berniat untuk menjama shalat Maghrib dengan Isya di waktu Isya', maka sebelum habis waktu Maghrib, kita wajib untuk berniat untuk menjama takhir shalat Maghrib di waktu Isya'. Niat itu harus dilakuakan sebelum habisnya waktu shalat Maghrib. 2. Safar Harus Masih Berlangsung Safar masih berlangsung hingga selesainya shalat yang kedua. Kita masih harus berada di dalam perjalanan hingga selesai shalat Maghrib dan Isya'. Tidak boleh jama ta'khir itu dilakukan di rumah setelah safar sudah selesai. Sebab syarat menjama shalat adalah safar, maka bila safar telah selesai, tidak boleh lagi melakukan jama'. Oleh karena itu, bila kita mau menjama

457

Bab 5 : Menjama Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

ta'khir, jangan lakukan di rumah, melainkan sebelum sampai ke rumah atau selama masih dalam kondisi perjalanan.
Bolehkah Shalat Isya' Dulu Baru Maghrib?

Bila jama taqdim, tidak boleh mendahulukan shalat Isya', tapi boleh bila jama ta'khir. Namun tetap lebih utama bila dilakukan sesuai urutan shalatnya. Kecuali ada uzdur tertentu yang tidak memungkinkan mendahulukan shalat Maghirb. Misalnya, di waktu Isya di suatu masjid dimana orang-orang sedang shalat Isya', tidak mungkin para musafir yang singgah mengerjakan shalat Maghrib dengan berjamaah. E. Momen Dibolehkannya Jama' 1. Safar Syarat yang harus ada dalam perjalanan itu menurut ulama fiqih antara lain : a. Niat Safar Yang dimaksud dengan niat safar adalah seseorang memang menyengaja untuk melakukan perjalanan, sebagaimana lazimnya orang yang mau melakukan perjalanan jauh. Maka orang yang terbawa atau diculik ke tempat yang jauh tidak termasuk mereka yang berniat safar. Begitu juga orang yang lari dari kejaran musuh atau hewan buas sampai menempuh tempat yang jauh, pada hakikatnya tidak berniat untuk melakukan safar. Dan termasuk yang tidak bisa dibilang sebagai safar dengan niat adalah para pemburu yang membuntuti hewan buruannya hingga menempuh jarak yang cukup jauh, bila memang tidak berniat melakukan safar sejak awal, maka safarnya itu dianggap bukan safar yang membolehkan jama'. b. Memenuhi Jarak Minimal Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa umumnya para ulama menyebutkan bahwa jarak minimal dibolehkannya safar yaitu 4 burd atau 16 farsakh. Angka itu kalau kita konverikan di masa

458

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

sekarang ini setara dengan jarak 88, 656 km. Dan ada juga yang menghitung menjadi 88,705 km. Meski pun ada sebagian ulama berbeda dalam menentukan jarak minimal. Misalnya mazhab Al-Hanafiyah yang menyebutkan jarak 3 hari perjalanan. Maka angka itu kalau kita konversikan di masa sekarang berjarak kurang lebih 133 - 135 km. c. Keluar dari Tempat Tinggalnya Tidak dinamakan safar kecuali seseorang telah keluar dari rumahnya dan berangkat meninggalkan wilayah tempat tinggalnya. Di masa Rasulullah SAW, batas seseorang dianggap sudah menjadi musafir adalah ketika dia melewati pagar tembok batas kota Madinah. d. Bukan Safar Maksiat Safar yang dibolehkan buat kita untuk mengqashar shalat haruslah sebuah safar yang sejak awal memang diniatkan untuk hal-hal yang mubah atau dibolehkam. Sedangkan safaf yang sejak awalnya sudah diniatkan untuk hal-hal yang haram dan tidak diridhai Allah SWT, tidak diberikan keringanan untuk mengqashar shalat. Syarat ini dikemukakan oleh Jumhur ulama kecuali AlHanafiyah yang mengatakan apapun tujuan safar, semua membolehkan qashar. Sedangkan As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah mewakili kalangan jumhur ulama mengatakan seorang yang melakukan safar dalam rangka bermaksiat kepada Allah, bila dia shalat maka tidak sah shalatnya. Alasannya, karena seperti orang yang tahu bahwa dirinya dalam keadaan hadats (tidak punya wudhu') tetapi tetap shalat juga. Sedangkan buat Al-Malikiyah, orang itu bila mengqashar shalatnya akan berdosa, meski shalatnya tetap sah. Sedangkan safar yang hukumnya makruh, bagi AlHanabilah tetap tidak memperbolehkan, sedangkan Al-

459

Bab 5 : Menjama Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Malikiyah dan As-syafi'iyah memperbolehkan. e. Punya Tujuan Pasti Safar itu harus punya tujuan pasti, bukan sekedar berjalan tak tentu arah dan tujuan. Misalnya, orang yang melakukan perburuan hewan atau mengejar hewan yang lepas, dimana dia tidak tahu mau pergi kemana tujuan perjalanannya. Kalau ada orang masuk tol dalam kota Jakarta, lalu memutari Jakarta dua putaran, maka dia sudah menempuh jarak kurang lebih 90 Km. Namun orang ini tidak disebut sebagai musafir. Alasannya karena apa yang dilakukannya itu tidak punya tujuan yang pasti. Demikian juga dengan pembalap di sirkuit. Meski jarak yang ditempuhnya ratusan kilmometer, tetapi kalau lokasi hanya berputar-putar di sirkuit itu saja, juga bukan termasuk musafir. Alasannya, karena tidak ada tujuannya kecuali hanya berputar-putar belaka. 2. Sakit Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan jama' karena disebabkan sakit. Begitu juga Imam Malik dan sebagian pengikut Asy-Syafi'iyyah. Sedangkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah dari mazhab Al-Hanabilah menuliskan bahwa sakit adalah hal yang membolehkan jama' shalat. Syeikh Sayyid Sabiq menukil masalah ini dalam Fiqhussunnah-nya. Sedangkan Al-Imam An-Nawawi dari mazhab AsySyafi'iyyah menyebutkan bahwa sebagian imam berpendapat membolehkan menjama' shalat saat mukim (tidak safar) karena keperluan tapi bukan menjadi kebiasaan1. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Ibnu Sirin dan Asyhab dari kalangan Al-Malikiyah. Begitu juga Al-Khattabi menceritakan dari Al-Quffal dan Asysyasyi al-kabir dari
1

Syarah An-Nawawi jilid 5 hal. 219

460

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

kalangan Asy-Syafi'iyyah. Begitu juga dengan Ibnul Munzir yang menguatkan pendapat dibolehkannya jama' ini dengan perkataan Ibnu Abbas ra, beliau tidak ingin memberatkan ummatnya. Allah SWT berfirman :

Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan. (QS. Al-Hajj : 78)

Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak bagi orang pincang, tidak bagi orang sakit. (QS. Annur : 61)

Namun mazhab Al-Hanafiyah, sebagian mazhab AlMalikiyah dan Asy-Syafi'iyah menolak kebolehan menjama' shalat karena sakit. Alasannya karena tidak ada riwayat yang qath'i dari Rasulullah SAW tentang hal itu. 2 3. Haji Para jamaah haji disyariatkan untuk menjama' dan mengqashar shalat zhuhur dan Ashar ketika berada di Arafah dan di Muzdalifah dengan dalil hadits berikut ini :
Dari Abi Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu Bahwa Rasulullah SAW menjama' Maghrib dan Isya' di Muzdalifah pada haji wada'. (HR. Bukhari 1674).

4. Hujan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu Bahwa Rasulullah SAW shalat di Madinah tujuh atau delapan ; Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya'. Ayyub berkata,Barangkali pada malam turun hujan?. Jabir berkata,Mungkin. (HR. Bukhari dan Muslim)3. Dari Nafi' maula Ibnu Umar berkata,Abdullah bin Umar bila

Hasyiyatu Ibnu Abidin jilid 1hal. 255-256, Al-Muhadzdzab jilid 1 hal. 112 dan Asy-Syarhu AshShaghir jilid 1 hal. 673-674 3 Shahih Bukhari 543 dan Shahih Muslim 705
2

461

Bab 5 : Menjama Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

para umaro menjama' antara maghrib dan isya' karena hujan, beliau ikut menjama' bersama mereka. (HR. Ibnu Abi Syaibah)4.

Hal seperti juga dilakukan oleh para salafus shalih seperti Umar bin Abdul Aziz, Said bin Al-Musayyab, Urwah bin azZubair, Abu Bakar bin Abdurrahman dan para masyaikh lainnya di masa itu. 5 Selain itu ada juga hadits yang menerangkan bahwa hujan adalah salah satu sebab dibolehkannya jama' qashar.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu Bahwa Rasulullah SAW menjama' zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya' di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan. (HR. Muslim)6.

5. Kejadian Yang Tidak Memungkinkan Bila seseorang terjebak dengan kondisi dimana dia tidak punya alternatif lain selain menjama', maka sebagian ulama membolehkannya. Dalil yang digunakan adalah dalil umum seperti yang sudah disebutkan diatas. Allah SWT berfirman :

Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan (QS. Al-Hajj : 78)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu,"Beliau SAW tidak ingin memberatkan ummatnya. Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW menjama' zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya' di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan. (HR. Muslim)7.

Namun shalat jama' karena terjadi di luar hal-hal yang tidak mampu diantisipasi tidak boleh dilakukan kecuali dengan syarat

dengan sanad Shahih Imam Malik, Al-Muwattha', jilid 3 hal 40 6 Shahih Muslim 705 7 idem
4 5

462

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

a. Terjadi Secara Insidental Seseorang tidak boleh merencanakan untuk menjama' shalat dengan alasan terjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari kecuali dengan menjama', namun dilakukannya secara terencana. Kejadiannya harus bersifat di luar perhitungan dan terjadi tiba-tiba begitu saja. Seperti yang terjadi pada diri Rasulullah SAW tatkala terlewat dari shalat Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya sekaligus, gara-gara ada serangan atau kepungan musuh dalam perang Azhab (perang Khandaq). Beliau saat itu menjama' shalat yang tertinggal setelah lewat tengah malam, bukan ketika perjalanan, sebab beliau SAW dan para shahabat bertahan di dalam kota Madinah AlManuwwarah. Namun kejadian itu boleh dibilang hanya sesekali saja, bukan sesuatu yang bersifat rutin. Dan tentu saja tidak pernah direncanakan terlebih dahulu. b. Kejadiannya Bersifat Memaksa Syarat kedua adalah bersifat memaksa, yang tidak ada alternatif lain kecuali harus menjama'. Sifat memaksa disini bukan disebabkan karena kepentingan biasa, misalnya sekedar karena ada rapat, atau pesta pernikahan, atau kemacetan rutin yang melanda kota-kota besar. Sebab rapat itu hanya buatan manusia, demikian juga pesta pernikahan atau kemacetan rutin. Semua tidak termasuk hal yang bersifat memaksa yang membolehkan orang menjama' shalat. Yang bisa dikategorikan memaksa misalnya kejadian force majeure, yang dalam Bahasa Indonesia sebagian orang mengartikannya sebagai kejadian luar biasa (KLB). termasuk di dalamnya adalah kejadiankejadian seperti perang, demo anarkis, huru-hara, bencana alam, kecelakaan, banjir bandang, topan badai dan sejenisnya. Demonstrasi atau unjuk raja yang tertib dan dilakukan beberapa gelintir orang secara yang damai, bukan termasuk

463

Bab 5 : Menjama Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

force majeure. Demikian juga banjir dan air menggenang yang sudah jadi langganan penduduk ibukota, tidak termasuk di dalamnya. Tsunami di Aceh dan Mentawai, banjir bandang di Wasior Papua, gampa di Padang dan Yogya, erupsi Gunung Merapi di Jogja Jawa Tengah, serta terjebak di tengah kerusuhan massal tahun 1998 adalah contoh-contoh yang bisa dijadikan bahan perbandingan dari force majeur. F. Menjama' Jumat dengan Ashar Para ulama sepakat bahwa seorang musafir tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat, dan untuk itu dia cukup mengerjakan shalat Dzhuhur saja. Dan para ulama juga sepakat bahwa bila seorang musafir dalam perjalanannya mampir di suatu masjid yang sedang berlangsung shalat Jumat lalu ikut dalam shalat Jumat itu, maka kewajibannya untuk shalat Dzhuhur menjadi gugur. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah seusai mengerjakan shalat Jumat itu seorang musafir boleh langsung mengerjakan shalat Ashar dengan cara dijama', sebagaimana menjama' antara shalat Dzhuhur dengan shalat Ashar? Dalam hal ini berkembang perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama berpendapat bahwa shalat Jumat sebagaimana shalat Dzhuhur, bisa dijama' dengan shalat Ashar. Sementara sebagian ulama yang lain, dalam hal ini mazhab AlHanabilah, berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa shalat Jumat tidak bisa atau tidak boleh dijama' dengan shalat Ashar. Berikut ini adalah rincian perbedaan pendapat di tengah ulama : 1. Boleh Yang berpendapat bahwa shalat Jumat boleh dijama' dengan shalat Ashar adalah Jumhur ulama seperti mazhab AlHanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah. Pendapat mazhab Al-Malikiyah bisa kita temukan

464

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

tercantum dalam kitab-kitab mazhab tersebut antara lain kitab Syarah Al-Kharsyi wa Hasyiyatu Al-Adwi8 dan kitab Man'u AlJalil9. Pendapat mazhab Asy-Syafi'iyah dapat kita temukan dalam kitab-kitab mazhabnya antara lain kitab Al-Majmu' Syarah AlMuhadzdzab10, kitab Asna Al-Mathalib11, dan kitab Tuhfatul Habib12. Kalau kita telaah secara mendalam apa yang dijadiakn sebagai dasar atas pendapat mereka, maka bisa kita jabarkan menjadi beberapa poin penting, antara lain : a. Tidak Adanya Nash Yang Melarang Jumhur ulama menyebutkan bahwa tidak ada nash dari Nabi SAW atau pun dari para shahabat beliau yang melarang shalat Jumat dikerjakan dengan cara dijama' dengan shalat Ashar. Tidak ada satu pun nash yang sharih tentang hal itu, meskipun juga tidak ada nash yang membolehkan. Namun menurut Jumhur, seandainya menjama' antara shalat Jum'at dan shalat Ashar itu tidak boleh, seharusnya ada kita dapat larangan itu. Hal itu mengingat bahwa setiap orang pasti tidak terhindar dari melakukan safar di hari Jumat. Perjalanan antara Mekkah dan Madinah biasa ditempuh dalam waktu seminggu, pastilah semua orang yang menempuh jarak itu akan melewati hari Jumat di dalam perjalanan. b. Ittihadul Waqti Jumhur ulama mengatakan bahwa meski shalat Jumat dan shalat Dzhuhur itu berbeda, namun keduanya memiliki kesamaan yaitu ittihadul waqti () . Maksudnya, antara kedua punya waktu pelaksanaan yang satu, yaitu sejak tergelincir (zawal) matahari hingga masuknya waktu shalat
Syarah Al-Kharsyi wa Hasyiyatu Al-Adwi, jilid 2 hal. 72-73 Man'u Al-Jalil, jilid 1 hal. 424-425 10 An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal. 383 11 Asna Al-Mathalib, jilid 1 hal. 242 12 Tuhfatul Habib jilid 2 hal. 175
8 9

465

Bab 5 : Menjama Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Ashar. Maka kalau shalat Dzhuhur boleh dijama' dengan Ashar, otomatis shalat Jumat yang waktunya sama dengan shalat Dzhuhur pun berarti boleh dijama' dengan shalat Ashar c. Kesamaan 'Illat Dalam pandangan Jumhur ulama, meskipun antara shalat Jumat dan shalat Dzhuhur ada perbedaan dalam hukum dan ketentuan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa antara kedua ada begitu banyak persamaan dan 'illat. Menurut Jumhur ulama, salah satu hikmah dari dibolehkannya menjama' dua shalat di satu waktu adalah karena syariat Islam punya prinsip untuk memberi keringanan. Maka akan menjadi tidak konsisten apabila harus dibedakan antara shalat Jum'at dan shalat Dzhur dalam hal kebolehan untuk dikerjakan dengan cara dijama' dengan shalat Ashar. Bukankah seorang musafir boleh dan bebas memilih untuk melakukan atau tidak melakukan shalat Jum'at? Lantas mengapa kalau musafir itu memilih untuk mengerjakan shalat Jumat, keringanan yang Allah berikan kepadanya sebagai musafir harus dicabut? Apa kesalahan yang telah dilakukan oleh musafir itu sehingga dia kehilangan hak untuk menjama' shalatnya? d. Kebolehan Qiyas Dengan begitu banyak terdapatnya kesamaan hukum dan illat antara shalat Jumat dan shalat Dhuhur, maka boleh saja antara keduanya dilakukan qiyas. Salah satu shahabat yang menqiyas antara shalat Dzhuhur dengan shalat Jumat adalah Anas bin Malik radhiyallahuanhu. Dan qiyas ini juga didukung oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar AlAsqalani di dalam kitab Fathul Bari.13

13

Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, jilid 2 hal. 389

466

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

e. Prinsip Keringanan Pada dasarnya Allah SWT sebagai pembuat syariah telah memberikan keringanan kepada para musafir dalam menjalankan ibadah shalat dengan adanya jama' antara dua waktu shalat. Maka selama seseorang menjadi musafir, adalah merupakan ketentuan dari Allah bahwa dia berhak mendapatkan keringanan, tanpa harus dibedakan apakah dia menjama' shalat Dzhuhur dengan shalat Ashar ataukah dia menjama' shalat Jumat dengan Ashar. f. Prinsip Shalat Jama' Jumhur ulama sepakat bahwa tidak ada yang salah ketika seorang musafir menarik shalat Ashar ke waktu Dzhuhur untuk dikerjakan dengan cara dijama'. Lepas dari apakah shalat yang dikerjakan itu shalat Dzhuhur atau shalat Jumat. Sebab prinsip menjama' itu semata-mata hanya memindahkan pelaksanaan suatu shalat dari waktunya ke waktu shalat lainnya, baik sebagai jama' taqdim yang berarti shalat yang kedua dipindahkan waktu pengerjaannya ke waktu pertama, atau pun dengan cara jama' ta'khir yang berarti shalat yang seharusnya dikerjakan di waktu kedua dipindah untuk dikerjakan di waktu shalat yang pertama. Oleh karena itu, tidak ada yang salah ketika seorang musafir yang mengerjakan shalat Jumat untuk menarik shalat Ashar ke waktu pertama, dan dikerjakan langsung seusai mengerjakan shalat Jumat sebagai jama' taqdim. Namun mereka yang membolehkan dijama'nya shalat Juamt dan shalat Ashar mensyaratkan hanya bila jama' itu dilakukan dengan cara taqdim, yaitu mengerjakan shalat Jumat di waktu Dzhuhur. Sedangkan bila yang dilakukan adalah jama' ta'khir, yaitu shalat Jumat itu dikerjakan di waktu Ashar, maka mereka tidak membolehkan. 2. Tidak Boleh

467

Bab 5 : Menjama Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Sedangkan yang berpendapat bahwa shalat Jumat tidak boleh dijama' dengan shalat Ashar umumnya adalah pendapat di kalangan ulama mazhab Al-Hanabilah. Pendapat mazhab Al-Hanabilah dalam masalah ini bisa kita temukan tercantum dalam kitab-kitab mazhab tersebut antara lain kitab Kasysyaf Al-Qinna' 14 dan kitab Mathalib Ulin Nuha15. a. Tidak Adanya Nash Yang Membolehkan. Dalam pandangan mazhab Al-Hanabilah, tidak nash berupa hadits atau atsar yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW atau shahabat pernah melakukan shalat Jumat lalu disambung dengan mengerjakan shalat Ashar dengan cara dimaja' antara keduanya. Nash yang sampai kepada kita terbatas hanya dibolehkannya jama' antara shalat Dzhuhur dan Ashar atau jama' antara shalat Maghrib dan Isya'. Baik keduanya dilakukan di waktu yang pertama (jama' taqdim) atau pun di waktu yang kedua (jama' ta'khir). Sehingga tanpa adanya nash yang shahih, dalam prinsip dan pandangan mazhab ini, jama' antara shalat Jumat dan shalat Ashar tidak boleh dilakukan. b. Tidak Ada Qiyas Dalam Masalah Ritual Ibadah Yang berkembang dalam mazhab Al-Hanabilah adalah prinsip bahwa qiyas itu tidak berlaku dalam urusan ibadah ritual. Dan menjama' shalat Jumat dengan shalat Ashar berarti melakukan qiyas antara shalat Jumat dengan shalat Dzhuhur. Maka qiyas itu tidak berlaku dan tidak sah. c. Shalat Jumat Berbeda Dengan Shalat Dzuhur Yang juga dijadikan dasar melarang adanya jama' antara shalat Jumat dan shalat Ashar adalah bahwa shalat Jumat bukan shalat Dzhuhur. Keduanya punya banyak perbedaan yang asasi.
14 15

Kasysyaf Al-Qinna', jilid 2 hal. 21 Mathalib Ulin Nuha, jilid 1 hal. 755

468

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 5 : Menjama Shalat

Ada banyak hukum yang berlaku dalam shalat Jumat tapi tidak berlaku dalam shalat Dzhuhur. Dan demikian juga sebaliknya, ada banyak hukum yang berlaku pada shalat Dzhuhur yang tidak berlaku pada shalat Jumat. Oleh karena itu, keduanya tidak bisa disamakan dalam hukum. Dalam pandangan mazhab ini, tidak mentang-mentang shalat Dzhuhur boleh dijama' dengan shalat Ashar, lantas shalat Jumat pun jadi boleh dijama' juga. Sebab keduanya adalah ibadah yang berbeda.

469

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah 3. Makna Berdekatan

B. Dalil Pensyariatan
1. Hadits Pertama 2. Hadits Kedua 3. Hadits Ketiga 4. Hadits keempat 5. Hadits kelima 6. Hadits keenam

C. Ibadah Yang Bisa Diqadha' dan Tidak Bisa


1. Ibadah Yang Tidak Bisa Diqadha' 2. Ibadah Yang Bisa Diqadha'

D. Yang Berkewajiban Mengqadha'


1. Yang Berkewajiban 2. Yang Tidak Berkewajiban

E. Urgensi Mengqadha' Shalat Yang Terlewat


1. Agar Tidak Disiksa Dalam Neraka 2. Shalat Dihisab Pertama Kali

F. Hukum Mengerjakan Shalat Qadha' G. Syarat Mengerjakan Shalat Qadha'


1. Muslim 2. Akil 3. Baligh

471

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

H. Penyebab Shalat Terlewat Yang Diwajibkan Qadha'


1. Perang 2. Perjalanan 3. Sakit 4. Haidh atau Nifas 5. Tidak Adanya Air dan Tanah 6. Tertidur

I. Sengaja Meninggalkan Shalat, Wajibkah Mengqadha?


1. Jumhur Ulama 2. Sebagian Ulama

J. Tata Cara Qadha' Shalat


1. Sirr dan Jahr 2. Tertib 3. Adzan dan Iqamah 4. Qadha' Berjamaah 5. Waktu Pelaksanaan Qadha' 6. Qadha Shalat Pada Waktu Terlarang

A. Pengertian 1. Bahasa Qadha dalam bahasa Arab artinya adalah hukum ( )dan penunaian (). 1 2. Istilah Sedangkan qadha secara istilah dalam ibadah menurut Ibnu Abidin adalah :2

Mengerjakan kewajiban setelah lewat waktunya

Sedangkan Ad-Dardir menyebutkan dengan makna qadha'


1 2

Al-Mushbah Al-Munir jilid 7 hal. 72 Hasyiyatu Ibnu Abidin jilid 1 hal. 487

472

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

sebagai :3


Mengejar ibadah yang telah keluar waktunya

3. Makna Berdekatan Ada dua istilah lain yang sangat dekat maknanya dengan qadha, yaitu adaa' dan i'adah. a. Adaa' Bila suatu ibadah dikerjakan pada waktu yang telah lewat, disebut dengan istilah qadha. Sedangkan bila dikerjakan pada waktunya, disebut adaa' (). b. I'adah Sedangkan bila sebuah ibadah telah dikerjakan pada waktunya namun diulangi kembali, istilahnya adalah i'adah (). B. Dalil Pensyariatan Seluruh ulama sepakat bahwa pada dasarnya mengqadha' atau mengganti shalat yang terlewat merupakan ibadah yang disyariatkan dan bahkan diperintahkan di dalam syariat Islam. Di antara dalil yang menjadi landasan pensyariatan penggantian shalat yang terlewat adalah hadits-hadits berikut ini : 1. Hadits Pertama Rasulullah SAW menegaskan tentang shalat yang terlewat karena lupa harus diganti begitu ingat.


Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW bersabda,Siapa yang terlupa
3

Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 hal. 363 364

473

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

shalat, maka lakukan shalat ketika ia ingat dan tidak ada tebusan kecuali melaksanakan shalat tersebut dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (HR. Bukhari)4

Di dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani disebutkan : Ibrahim berkata bahwa orang yang telah meninggalkan sekali shalat sejak 20 tahun sebelumnya, maka dia wajib mengganti satu shalat itu saja.5 2. Hadits Kedua Al-Imam Muslim dalam kitab Shahihnya meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah tertinggal dari mengerjakan shalat Shubuh, yaitu ketika beliau SAW dan sebagian shahabat dalam perjalanan pulang dari perang Khaibar. Lalu mereka bermalam dan tertidur tanpa sengaja (ketiduran), meskipun sebenarnya beliau SAW telah memerintahkan Bilal bin Rabah untuk berjaga. Dan mereka tidak bangun kecuali matahari telah terbit dan cukup tinggi posisinya. Hadits ini diriwayatkan dan diredaksikan oleh Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dan lengkapnya hadits tersebut sebagai berikut :

.
Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata,"Ketika Rasulullah SAW kembali dari perang Khaibar, beliau berjalan di tengah malam hingga ketika rasa kantuk menyerang beliau, maka beliau pun berhenti untuk istirahat (tidur). Namun beliau berpesan kepada Bilal,"Bangunkan kami bila waktu shubuh tiba".


Sementara itu Bilal shalat seberapa dapat dilakukannya, sedang Nabi dan para shahabat yang lain tidur.
Al-Imam Al-Bukhari, Shahih, Kitab Mawaqit Ash-Shalah, bab man nasiya shalatan falyushalli idza dzakara jilid 2 hal. 8 5 Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, juz 4 hal. 59
4

474

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat


Ketika fajar hampir terbit, Bilal bersandar pada kendaraannya sambil menunggu terbitnya fajar. Namun rasa kantuk mengalahkan Bilal yang bersandar pada untanya. Maka Rasulullah SAW, Bilal dan para shahabat tidak satupun dari mereka yang terbangun, hingga sinar matahari mengenai mereka.

- . -
Yang mula-mula terbangun adalah Rasulullah SAW. Ketika terbangun, beliau berkata,"Mana Bilal". Bilal menjawab,"Demi Allah, Aku tertidur ya Rasulullah".

. ) (

Beliau bersada,"Bersiaplah". Lalu mereka menyiapkan kendaraan mereka. Lalu Rasulullah SAW berwudhu' dan memerintahkan Bilal melantunkan iqamah dan Nabi SAW mengimami shalat Shubuh. Seselesainya, beliau bersabda,"Siapa yang lupa shalat maka dia harus melakukannya begitu ingat. Sesungguhnya Allah berfirman,"Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku. (HR. Muslim)

Al-Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadits ini di dalam kitab Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil atas wajibnya mengqadha atau mengganti

475

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

shalat yang terlewat. Dan tidak ada bedanya, apakah shalat itu ditinggalkan karena adanya udzur syari seperti tertidur dan terlupa, atau pun ditinggalkan shalat itu tanpa udzur syari, seperti karena malas dan lalai.6 3. Hadits Ketiga Hadits ketiga ini sesungguhnya mash menceritakan kisah yang sama dengan hadits sebelumnya, namun dengan diredaksikan oleh shahabat yang berbeda, yaitu Abu Qatadah radhiyallahuanhu dan terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari.

: .

Dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya berkata,Kami pernah berjalan bersama Nabi SAW pada suatu malam. Sebagian kaum lalu berkata, Wahai Rasulullah, sekiranya anda mau istirahat sebentar bersama kami? Beliau menjawab: Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat. Bilal berkata, Aku akan membangunkan kalian. Maka mereka pun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggangannya. Namun ternyata rasa kantuk mengalahkannya dan akhirnya Bilal pun tertidur. Ketika Nabi SAW terbangun ternyata matahari sudah terbit, maka beliau pun bersabda:

An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid 5 hal. 181-183

476

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan! Bilal menjawab: Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya. Beliau lalu bersabda: Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla memegang ruh-ruh kalian sesuai kehendak-Nya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendak-Nya pula. Wahai Bilal, berdiri dan adzanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk shalat! kemudian beliau SAW berwudhu, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan shalat. (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari bab mawaqit ash-shalah. 4. Hadits Keempat Hadits yang keempat merupakan penggalan kisah dari peristiwa yang sama dengan di atas, namun dengan redaksi yang berbeda lagi.

: . - : -
Dari Imran bin Hushain radhiyallahuanhu berkata,"Kami dalam perjalaanan bersama dengan Rasulullah SAW. Kami berjalan di malam hari hingga sampai di penghujung malam, kami berhenti pada suatu tempat yang paling indah bagi musafir. Tidaklah ada yang membangunkan kami kecuali panasnya sinar matahari. Ketika Nabi SAW bangun, banyak orang mengeluh kepada beliau tentang apa yang menimpa mereka, lalu beliau menjawab,"Tidak mengapa", atau " tidak menjadi soal". "Lanjutkan perjalanan kalian". Maka beliau SAW pun berjalan hingga tidak terlalu jauh, beliau turun dan meminta wadah air dan berwudhu. Kemudian diserukan (adzan) untuk shalat dan beliau SAW mengimami

477

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

orang-orang. (HR. Bukhari).

5. Hadits Kelima Hadits yang kelima merupakan penggalan kisah dari peristiwa Perang Khandaq yang terjadi pada tahun kelima Hijriyah. Saat itu Madinah dikepung 10 ribu pasukan musuh dan umat Islam bertahan di dalam kota dengan membangun parit sepanjang 5 kilometer. Namun gara-gara suasana mencekam, Rasulullah SAW dan para shahabat sampai meninggalkan shalat fardhu.


Bahwa Umar bin Al Khaththab radhiyallahuanhu datang pada hari peperangan Khandaq setelah matahari terbenam sambil memaki-maki orang-orang kafir Quraisy dan berkata, Wahai Rasulullah, Aku belum melaksanakan shaat Ashar hingga matahari hampir terbenam! Nabi SAW menjawab, Demi Allah, Aku sendiri juga belum melaksanakannya. Kemudian kami berdiri menuju Bath-han, beliau berwudlu dan kami pun ikut berwudlu, kemudian beliau melaksanakan shalat Ashar setelah matahari terbenam, dan setelah itu dilanjutkan dengan shalat Maghrib. (HR. Al-Bukhari)

6. Hadits Keenam Hadits keenam ini masih terkait dengan peristiwa Perang Khandaq, namun diredaksikan oleh shahabat yang berbeda dan diriwayatkan oleh muhaddits yang berbeda. Shalat yang terlewat pun bukan hanya shalat Ashar,

478

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

melainkan empat waktu shalat yang berbeda, yaitu Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Lengkapnya hadits itu adalah sebagai berikut :

: :

Dari Nafi dari Abi Ubaidah bin Abdillah, telah berkata Abdullah,Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah SAW sehingga tidak bisa mengerjakan empat shalat ketika perang Khandaq hingga malam hari telah sangat gelap. Kemudian beliau SAW memerintahkan Bilal untuk melantunkan adzan diteruskan iqamah. Maka Rasulullah SAW mengerjakan shalat Dzuhur. Kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Ashar. Kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Maghrib. Dan kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Isya. (HR. At-Tirmizy dan AnNasai)

Hadits ini riwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmizy dan juga oleh Al-Imam An-Nasai. Yang diriwayatkan oleh An-Nasai dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An-Nasai. C. Ibadah Yang Bisa Diqadha' dan Tidak Bisa Para ulama sepakat bahwa tidak semua ibadah bisa dan sah untuk diqadha'. Sebagian ibadah memang bisa diqadha' apabila terlewat waktu dari mengerjakannya. Namun sebagian lain tidak bisa diqadha' apabila telah lewat waktunya. 1. Ibadah Yang Tidak Bisa Diqadha' Ada beberapa contoh ibadah yang tidak bisa diqadha' misalnya shalat Jumat dan shalat sunnah mutlak. Selain itu ibadah yang memang telah diharamkan pada orang tertentu untuk mengerjakannya, seperti wanita yang mendapat darah

479

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

haidh dan nifas untuk tidak mengerjakan shalat. a. Shalat Jumat Shalat Jumat adalah ibadah yang hanya sah dikerjakan pada waktunya dengan berjamaah. Dan apabila shalat Jumat pada suatu masjid telah usai dikerjakan, lalu ada orang yang datang terlambat, maka dia tidak bisa mengqadha' shalat Jumat itu sendirian. Yang harus dia lakukan saat itu adalah bukan mengqadha' shalat Jumat, melainkan kembali kepada shalat aslinya, yaitu shalat Dzhuhur. Shalat Dzhuhur bukanlah shalat Jumat, sehingga tidak dikatakan sebagai qadha'. b. Shalat Sunnah Mutlak Shalat sunnah mutlak tidak punya waktu tertentu untuk dikerjakan. Shalat ini bebas dikerjakan kapan saja, asalkan bukan pada waktu-waktu yang terlarang untuk dikerjakan.

Dan karena itu kita tidak mengenal penggantian atau qadha'

480

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

untuk shalat sunnah yang satu ini. c. Shalat Wanita Haidh dan Nifas Para ulama sepakat bahwa wanita yang sedang mendapat darah haidh dan nifas tidak dibolehkan untuk mengerjakan shalat. Dan shalat yang ditinggalkan tidak diperintahkan Allah untuk diqadha. Hal itu karena pada dasarnya wanita yang sedang haidh dan nifas telah gugur dari kewajiban untuk mengerjakan shalat. Kalau shalat sebagai kewajiban dasarnya sudah tidak diwajibkan, maka tidak dibutuhkan lagi qadha' atasnya. 2. Ibadah Yang Bisa Diqadha' Ibadah yang disyariatkan untuk diqadha' bila telah terlewat waktunya terbagi menjadi dua macam. Ada yang bisa diqadha' kapan saja tanpa terikat dengan waktu, namun ada juga yang terikat dengan waktu, sehingga qadha' yang dilakukan harus sesuai dengan jadwalnya. a. Diqadha Kapan Saja Maksudnya bahwa penggantain atau qadha boleh dilakukan kapan saja, tanpa harus terikat dengan waktu atau jadwal tertentu. Jadi kapan saja bisa dilakukan qadha. Diantaranya adalah hewan udhiyah, dan shalat lima waktu yang ditinggalkan. Bila seseorang terlewat dari menyembelih hewan qurban, maka menurut sebagian ulama, hewan itu boleh disembelih kapan saja, tanpa harus menunggu tahun depan ketika datang bulan Dzulhijjah. Demikian juga dengan shalat lima waktu yang ditinggalkan karena sebab tertentu, maka boleh diganti dengan mengqadha shalat tersebut kapan saja, tanpa harus menunggu waktu yang sama. Namun bukan berarti boleh ditunda-tunda, sebaliknya justru lebih utama kalau dikerjakan sesegera mungkin, agar segera bisa terlepas dari hutang kepada Allah.

481

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

b. Diqadha' Pada Waktunya Maksudnya adalah ibadah yang bila terlewat dari mengerjakannya, maka untuk menggantinya harus dilakukan pada waktu tertentu, tidak sah kalau dikerjakan di luar waktu tersebut. Di antaranya adalah ibadah haji dan shalat Idul Fithri atau Adha. Seseorang yang terlewat dari mengerjakan ibadah haji karena sesuatu hal, maka dia hanya boleh mengqadhanya ketika nanti tahun depan masuk lagi bulan haji. Dia tidak boleh mengerjakannya di luar bulan-bulan haji. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW bahwa haji itu hanya dilakukan pada hari Arafah :

Haji adalah (wuquf di ) Arafah (HR. Abu Daud dan Al-Hakim)

Demikian juga shalat Idhul Fithri dan Idul Adha yang terlewat waktunya, maka cara mengqadha nya menunggu keesokan harinya ketika waktu dhuha. Hal itu seperti yang terjadi pada Rasulullah SAW yang terlewat dari mengerjakan Shalat Idul Fithri, akibat terlambat mendapat berita jatuhnya tanggal 1 Syawwal. Maka beliau dan para shahabat mengqadha shalat Idul Fithri pada pagi hari keesokan harinya, yaitu tanggal 2 syawwal. D. Yang Berkewajiban Mengqadha' Tidak semua orang yang meninggalkan shalat diwajibkan untuk mengqadha' shalatnya. Hanya orang-orang tertentu saja yang diwajibkan. Sebagian lainnya memang tidak diperintah untuk mengqahda' shalat yang ditinggalkan karena satu dan lain hal. 1. Yang Berkewajiban Jumhur ulama sepakat bahwa mereka yang berkewajiban untuk mengerjakan qadha' adalah orang yang meninggalkan

482

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

shalat, baik karena terlupa, tertidur, terhambat dengan sesuatu hal, atau pun juga karena sengaja meninggalkannya. karena murtad lalu masuk Islam kembali, orang yang meninggalkan shalat karena mabuk dan orang yang sengaja meninggalkan shalat. a. Murtad Mazhab Asy-Syafi'iyah berketetapan bahwa hukuman buat seorang muslim yang sempat murtad sebentar lalu kembali lagi masuk Islam adalah bahwa dia diwajibkan untuk mengganti semua shalat yang telah ditinggalkan selama masa murtadnya itu. Bahkan meski selama murtad dia mengerjakan shalat, namun karena tidak sah shalat dikerjakan oleh orang kafir, maka dia tetap wajib mengganti shalatnya, karena dianggap tidak sah. b. Mabuk c. Sengaja Jumhur ulama sepakat bahwa meski seseorang meninggalkan shalat karena sengaja dan tanpa udzur syar'i, dia tetap diwajibkan untuk mengqadha'. Bahwa meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja itu berdosa sangat besar, namun bukan berarti kewajban untuk menggantinya di waktu lain menjadi gugur. Dosa besar yang dilakukan dengan sengaja tanpa udzur tidak membuat sebuah kewajiban menjadi gugur. Hujjah yang digunakan oleh Jumhur ulama dalam hal ini antara lain :
Orang Berjima Bulan Ramadhan Diwajibkan Qadha

sebagaimana ketentuan yang berlaku buat orang yang secara sengaja membatalkan puasa tanpa udzur yang syar'i. Selain diwajibkan untuk membayar denda kaffarat, yang bersangkutan tetap diwajibkan untuk mengganti puasa yang dirusaknya saat dia membatalkannya dengan sengaja.

483

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yang bersetubuh di siang hari bulan Ramadhan untuk mengganti puasanya bersama dengan membayar kaffarah. (HR. Al-Baihaqi)

2. Yang Tidak Berkewajiban Tidak semua orang yang meninggalkan shalat diwajibkan untuk mengqha' atau mengganti shalat. Ada beberapa orang yang tidak diwajibkan untuk mengqadha', di antaranya adalah anak-anak, wanita haidh dan nifas, baru masuk Islam, a. Anak-anak Seorang anak kecil yang belum mengalami baligh tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat, baik shalat fardhu yang lima waktu atau pun shalat sunnah. Oleh karena itu tidak ada kewajiban untuk mengganti shalat bagi anak kecil, apabila dia tidak mengerjakannnya. Dasarnya adalah sabda Rasululah SAW :

: :

Dari Ali radhiyallahu anhu dan Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Pena telah diangkat dari tiga orang, dari seorang yang tidur hingga terjaga, dari seorang anak kecil hingga mimpi dan dari seorang gila hingga waras "(HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim)

b. Wanita Haidh dan Nifas Wanita yang sedang haidh dan nifas diharamkan oleh syariat untuk mengerjakan shalat. Dasarnya adalah hadits-hadits berikut ini :

484

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

: s

Dari Aisyah ra berkata"Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadhah, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya"Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang keluar seperti itu janganlah shalat. Bila sudah selesai maka berwudhu'lah dan lakukan shalat. (HR. Abu Daud dan An-Nasai).

Sedangkan tidak adanya kewajiban untuk mengganti atau mengqadha' shalat bagi wanita yang meninggalkan shalat karena haidh dan nifas, didasari dengan hadits berikut ini :

Dari Aisyah r.a berkata : Di zaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat haidh lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha salat (HR. Jamaah).

c. Kafir Baru Masuk Islam Orang kafir tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat. Bahkan kalau dia mengerjakan shalat dalam keadaan kafir, maka shalat yang dilakukan tidak sah dan tidak diterima di sisi Allah SWT. Bila orang kafir itu kemudian masuk Islam, maka tidak ada kewajiban atasnya untuk mengganti shalat-shalat fardhu yang telah ditinggalkannya selama ini. Sebab selama ini dia bukan termasuk mukallaf, yaitu orang yang mendapat beban taklif untuk mengerjakan detail-detail syariah. Kalau ada orang kafir masuk Islam di usia 70 tahun, maka dia hanya diwajibkan mengerjakan shalat tetap ketika dia mengucapkan dua kalimat syahadat. Sedangkan masa 70 tahun dari hidupnya yang tidak pernah ada shalat itu, tidak diwajibkan untuk menggantinya. Sebab dengan masuknya

485

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

orang itu ke dalam agama Islam, maka otomatis semua dosanya kepada Allah SWT telah terhapus, namun tidak bila dosa itu kepada sesama manusia. Rasulullah SAW bersabda :


Masuk Islam itu menghapuskan dosa sebelumnya.

E. Urgensi Mengqadha' Shalat Yang Terlewat Shalat adalah kewajiban utama tiap muslim. Dan hal-hal yang sekiranya membuat seseorang terhalang dari melakukan shalat pada waktu tertentu di tempat tertentu, tidaklah membuat kewajiban shalat itu menjadi gugur. Orang yang karena satu dan lain hal, terlewat kewajiban shalatnya, tetap dibebankan kewajiban mengerjakan shalat. Dan bila tidak diganti dengan qadha' shalat, maka ancaman siksa sudah tegas di dalam kitabullah. 1. Agar Tidak Disiksa Dalam Neraka Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT menegaskan bahwa orang yang disiksa di dalam neraka Saqar adalah mereka yang tidak mengerjakan shalat.

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. (QS. Al-Muddatstsir : 42-43)

2. Shalat Dihisab Pertama Kali Amalan yang pertama kali akan ditanya di hari qiyamat adalah masalah shalat.

Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari manusia dari amalnya pada hari kiamat adalah masalah shalat. (HR. Abu

486

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

Daud)

F. Hukum Mengerjakan Shalat Qadha' Para ulama sepakat bahwa hukum mengqadha' shalat wajib yang terlewat tidak dikerjakan pada waktunya itu wajib, sebagaimana shalat hukum aslinya. Kalau shalat Dzhuhur itu shalat yang wajib, tetapi karena satu dan lain hal terlewat tidak dikerjakan, maka kewajiban untuk mengerjakan shalat Dzhuhur itu tetap ada dan wajib. Dan bila ditinggalkan tetap akan menanggung dosa besar, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, yaitu diceburkan ke dalam neraka Saqar. Al-Imam As-Suyuthi berkata bahwa setiap orang yang dibebani kewajiban untuk mengerjakan sesuatu, lalu tidak terlaksana, maka dia wajib mengqadha'nya agar mendapatkan kemashlahatan.7 G. Syarat Mengerjakan Shalat Qadha' Tidak semua orang diwajibkan untuk mengqadha' shalat yang terlewat. Mereka yang bukan mukallaf, bila memang tidak shalat atau shalatnya terlewat, tidak ada kewajiban untuk mengqadha' shalatnya. 1. Muslim Seorang muslim yang sudah dibebani untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, maka dia wajib mengqadha ibadahnya yang terlewat itu. Namun seorang yang baru saja masuk Islam dan sebelumnya belum pernah menjadi muslim, tidak ada kewajiban untuk mengqadha' shalatnya yang terlewat. Sebab sebelum menjadi muslim, memang tidak ada kewajiban untuk mengerjakan shalat. Sedangkan seorang muslim yang sempat murtad sebentar
7

Al-Asybah wa An-Nazhair hal. 401

487

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

lalu kembali lagi menjadi muslim, maka para ulama mengatakan bahwa bila dia sempat meninggalkan shalat, dia wajib menggantinya dengan menqadha'. Begitu juga bila dia pernah pergi haji, maka ketika dia sempat murtad dan kembali lagi masuk Islam, haji yang pernah dia lakukan itu hilang dan dia wajib mengerjakan lagi ibadah haji dari awal. 2. Akil Seorang yang tidak berakal memang tidak wajib mengerjakan shalat, seperti orang gila. Orang gila itu memang tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat fardhu. Maka kalau ada seorang muslim sempat beberapa saat gila, lalu dia sembuh dari gilanya, dan selama dia gila tidak mengerjakan shalat, tidak ada kewajiban untuk mengqadha' shalatnya yang terlewat. 3. Baligh Anak kecil yang belum baligh, pada dasarnya tidak dibebani dengan kewajiban mengerjakan shalat. Sehingga bila ada anak kecil tidak shalat, tentu di sisi Allah tidak berdosa. Manakala anak itu mencapai usia baligh, maka tidak ada kewajiban untuk membayar shalat yang sempat ditinggalkannya itu. Tidak ada qadha' shalat buat anak yang belum baligh. H. Penyebab Shalat Terlewat Yang Diwajibkan Qadha' Orang yang meninggalkan shalat karena sengaja meninggalkannya, entah karena malas atau lalai, dia wajib mengqadha'. Sebenarnya terlewatnya shalat itu bukan hanya disebabkan hal-hal negatif, seperti kemalasan, kelalaian atau kurang iman. Juga tidak melulu karena kemunafikan. Sebab ada hal-hal yang syar'i dimana seseorang berada pada keadaan dimana dia tidak mungkin melakukan shalat. Di antaranya :

488

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

1. Perang Rasulullah SAW pernah terlewat empat waktu shalat dalam perang Khandaq, yaitu shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya'. Maka ketika sudah dimungkinkan untuk melakukan shalat, beliau pun mengqadha' keempat shalat itu, meski waktunya sudah terlewat. 2. Perjalanan Hanya sebagian kendaraan yang bisa dengan benar kita dapat menjalankan shalat wajib dengan memenuhi syarat dan rukun shalat. Sebagian jenis angkutan lain seringkali tidak memungkinkan bagi kita untuk melaksanakan shalat di atasnya dengan memenuhi ketentuannya. Seperti Penulis gambarkan pada bab terdahulu, kereta api sebagai angkutan massal, murah dan meriah, seringkali kondisinya tidak memungkinkan kita untuk shalat dengan benar di atasnya. Apalagi di musim liburan atau musim mudik lebaran, praktis kita sama sekali tidak mungkin melakukan shalat, selain karena toiletnya tidak mengeluarkan air, juga toilet itu malah diisi para penumpang yang tidak kebagian kursi. Begitu juga tempat yang lega sudah tidak ada lagi, karena dijejali dengan ribuan penumpang yang berdesakan di setiap jengkal badan gerbong kereta. Satu-satunya tempat yang agak lapang adalah atap kereta. Tapi di musim ramai, seringkali atap kereta pun dipenuhi manusia. Dalam kasus dimana sangat tidak mungkin bagi kita untuk mengerjakan shalat, maka shalat yang terlewat itu wajib dibayar dengan melaksanakan shalat qadha'. 3. Sakit Seorang yang mengalami sakit yang parah sehingga tidak mampu mengerjakan shalat, lalu shalatnya jadi terlewat, maka dia wajib mengganti shalatnya itu.

489

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Misalnya dia pingsan tidak sadarkan diri. Maka kewajiban shalat tidak gugur, begitu dia siuman dan sadar diri, dia wajib membayar hutang shalatnya dengan shalat Qadha' sebanyak shalat yang ditinggalkannya. Demikian juga pasien yang sedang menjalani operasi, tentunya harus dibius terlebihi dahulu, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk melakukan shalat. Maka dia wajib mengganti shalat yang terlewat itu dengan shalat Qadha'. 4. Haidh atau Nifas Asalnya para wanita bila mendapatkan darah haidh dan nifas, gugur kewajiban shalatnya. Namun para ulama tetap mewajibkan para wanita untuk shalat bila telah selesai dari haidhnya dan masih ada waktu shalat. Kalau waktu shalat masih banyak, dan wanita itu telah mandi janabah, maka shalat bisa dengan mudah dikerjakan. Tetapi bila seorang wanita yang sedang haidh berhenti darahnya menjelang habisnya waktu shalat, padahal waktu yang tersisa tidak mencukupi untuk mandi janabah dan melakukan shalat, maka mau tidak mau shalat akan terlewat baginya. Sebagai contoh, waktu Ashar jatuh pada pukul 15.00, sedangkan darah haidhnya berhenti pada pukul 14.55. Artinya, tinggal lima menit lagi waktu shalat Dzhuhur akan habis, berarti wanita itu sudah wajib mengerjakan shalat Dzhuhur. Tetapi semua tahu bahwa lima menit itu pasti bukan waktu yang cukup untuk mandi janabah dan shalat. Meski secara hukum, wanita itu tetap wajib mengerjakan shalat Dzhuhur. Dalam keadaan ini, maka tanpa keinginan atau kesengajaan, shalat Dzhuhur jadi terlewat dengan sendirinya. Maka wanita itu tetap wajib melakukan shalat Dzhuhur segera setelah mandi janabah, meski waktu Ashar sudah masuk. Shalat Dzhuhur yang dikerjakan di waktu Ashar disebut shalat Qadha'.

490

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

5. Tidak Adanya Air dan Tanah Dalam kasus orang yang tidak mendapatkan air atau tanah sebagai sarana untuk bersuci, para ulama berbeda pendapat : Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa orang yang tidak mendapatkan air atau tanah untuk bersuci, maka dia tetap diwajibkan melakukan gerakan seperti orang yang sedang shalat, dengan ruku' dan sujud tapi tidak membaca surat AlFatihah atau ayat Al-Quran. 8 Nanti bila telah menemukan air atau tanah dan dimungkin shalat, wajib untuk mengulangi shalatnya. Sedangkan dalam pandangan mazhab Al-Malikiyah, orang tersebut tidak perlu melakukan shalat, tidak perlu mengulangi bila sudah memungkinkan dan juga tidak perlu mengqadha'. Sebab dalam pandangan mazhab ini, kewajiban shalat gugur dengan sendirinya pada saat tidak ada air dan tanah. 9 Dalam pandangan mazhab Asy-Syafi'iyah, orang tersebut tetap wajib melaksanakan shalat seperti biasa, dengan berniat shalat sesungguhnya, bukan sekedar melakukan gerakan seperti orang shalat sebagaimana mazhab Al-Hanafiyah. Dia tetap harus membaca Al-Fatihah dan bacaan shalat lainnya, meski tanpa wudhu atau tayammum, dengan niat menghormati waktu. Dan bila telah menemukan air atau tanah, maka dia wajib mengulangi shalatnya itu. 10 Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang itu harus tetap shalat apa adanya meski tanpa berwudhu' atau bertayammum. Dan tidak perlu mengulangi atau mengqada' shalatnya.11 6. Tertidur Di antara orang yang pernah terlewat shalat shubuhnya
Ad-Dur AlMukhtar jilid 1 hal. 232, Maraqi Al-Falah hal. 21. Asy-Syarh Al-Kabir jilid 1 hal. 162 10 Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab jilid 1 hal. 35 11 Muhgni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 105
8 9

491

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

karena tertidur adalah Rasulullah SAW sendiri.

:
"Apa yang harus dikerjakan buat orang yang tafrith (meremhkan) shalat". Rasulullah SAW menjawab,"Orang yang ketiduran tidaklah dikatakan tafrith (meremehkan). Sesungguhnya yang dinamakan meremehkan adalah orang yang tidak mengerjakan shalat sampai datang waktu shalat )berikutnya. (HR. Muslim

. . . - ) (
Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata,"Ketika Rasulullah
492

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

SAW kembali dari perang Khaibar, beliau berjalan di tengah malam hingga mengantuk, lalu beliau berhenti dan istirahat untuk tidur. Beliau berkata kepada Bilal,"Bangunkan kami bila waktu shubuh tiba". Sementar itu Bilal shalat seberapa dapat dilakukannya, sedang Nabi dan para shahabat yang lain tidur. Ketika fajar hampir terbit, Bilal bersandar pada kendaraannya sambil menunggu terbitnya fajar. Tetapi dia sangat mengantuk dan tertidur sehingga tidak dapat membangunkan Rasulullah SAW dan para shahabat yang lain. Sampai sinar matahari mengenai mereka. Yang mula-mula terbangun adalah Rasulullah SAW. Ketika terbangun, beliau berkata,"Mana Bilal". Bilal menjawab,"Demi Allah, Aku tertidur ya Rasulullah". Beliau bersada,"Bersiaplah". Lalu mereka menyiapkan kendaraan mereka. Lalu Rasulullah SAW berwudhu' dan memerintahkan Bilal melantunkan iqamah. Selesai itu Nabi SAW mengimami shalat Shubuh. Seselesainya, beliau bersabda,"Siapa yang lupa shalat maka dia harus melakukannya begitu ingat. Sesungguhnya Allah berfirman,"Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku. (HR. Muslim)

I. Sengaja Meninggalkan Shalat, Wajibkah Mengqadha? Para ulama sepakat tanpa terkecuali, bahwa bila seseorang meninggalkan shalat karena ada udzur yang syari, maka dia wajib mengganti shalatnya, meski pun waktunya telah lewat. Namun para ulama berbeda pendapat dalam kasus orang yang secara sengaja meninggalkan shalat fardhu, apakah dirinya masih diwajibkan untuk mengganti shalatnya yang telah ditinggalkannya itu dengan shalat qadha'? Perbedaan pendapat itu dipicu dari perbedaan pandangan, apakah status orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja itu kafir atau tidak. Jumhur ulama dari empat mazhab menyepakati bahwa seorang muslim yang meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja, maka dia berdosa besar, namun status tidak sampai kafir. Oleh karena itu dia tetap diwajibkan untuk mengganti

493

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

shalatnya. Sementara ada sebagian ulama yang berpandangan bahwa seorang muslim yang secara sengaja meninggalkan shalat fardhu tanpa alasan yang syar'i, statusnya menjadi murtad dan kafir. Maka sebagai orang yang kafir, tidak ada beban syariat baginya untuk mengerjakan shalat. Kalau pun shalat itu dikerjakan, hukumnya tidak sah, karena shalat itu hanya dikerjakan bila pelakunya beragama Islam. Dan oleh karena itu pula orang yang statusnya kafir, bila dia meninggalkan shalat lima waktu, tidak ada kewajiban untuk menggantinya. 1. Jumhur Ulama Jumhur ulama baik mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena sengaja, tetapi wajib mengganti shalatnya dengan shalat qadha'. Alasannya adalah bila yang sebabnya karena terlupa dan tidak sengaja tetap wajib mengganti, apalagi yang sengaja meninggalkannya. Tentu lebih wajib lagi untuk menggantinya. Sebab saat dia meninggalkannya sudah berdosa, dan kalau tidak diganti, tentu akan semakin besar dosanya. Mazhab ini mewajibkan orang yang meninggalkan shalat secara sengaja untuk mengganti shalatnya dengan shalat qadha. Asy-Syairazi menyebutkan bahwa siapa yang telah diwajibkan atasnya untuk mengerjakan shalat, namun dia belum mengerjakannya, hingga terlewat waktunya, wajiblah atasnya untuk mengerjakan shalat itu dengan mengqadha'nya. Al-Imam An-Nawawi menegaskan bahwa orang yang terlewat shalatnya, wajib untuk mengqadha'nya, baik terlewatnya shalat itu disebabkan udzur atau tanpa udzur. 12 Menurut mazhab ini, menyengaja tidak shalat tidak menggugurkan kewajiban shalat dan juga tidak menghanguskannya. Dalilnya adalah Rasulullah SAW tetap mewajibkan mengganti puasa ketika ada seseorang yang secara
12

Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 69

494

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

sengaja membatalkan puasanya di siang hari bulan Ramadhan. 2. Sebagian Ulama Sebagian ulama, di antaranya Ibnu Hazm dan kemudian banyak diikuti oleh tokoh-tokoh masa kini, bahwa seorang muslim yang secara sengaja meninggalkan shalat fardhu, hukumnya kafir. Cukup hanya dengan meninggalkan shalat secara sengaja tanpa udzur yang syari, maka sudah dianggap kafir, meski pun yang bersangkutan masih meyakini kewajiban shalat. Dan karena statusnya kafir, maka tidak ada kewajiban untuk mengganti shalat yang terlewat. Dan bila kembali lagi memeluk Islam, cukup bertaubat saja tanpa perlu mengganti shalatnya. Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusy di dalam kitabnya, AlMuhalla bi Atsar, menegaskan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka statusnya kafir. Dan karena statusnya kafir, orang tersebut tidak perlu mengganti shalat yang ditinggalkannya secara sengaja. 13 Syeikh Abdul Aziz bin Baz, mufti Kerjaan Saudi Arabia, berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat secara total selama kurun waktu tertentu, tidak perlu mengganti shalatnya. 14 Alasan yang dikemukakan pendapat ini adalah karena selama kurun waktu tertentu itu dirinya dianggap telah murtad atau keluar dari agama Islam. Dan sebagai orang yang bukan muslim, menurut pendapat ini, yang bersangkutan tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat.


Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat. (HR. Muslim)

13 14

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 242 http://www.binbaz.org.sa/mat/18110

495

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkan shalat maka dia telah kafir.

Bila yang bersangkutan kembali menjalankan agamanya, maka dia harus bersyahadat ulang untuk memperbaharui keimanan dan keislamannya kembali, seperti orang kafir yang baru masuk Islam. Dan oleh karena itu, dia tidak perlu mengganti shalat-shalat yang ditinggalkannya.
Konsekuensi

Sebenarnya pendapat yang lebih rajih dan kuat adalah pendapat jumhur ulama. Namun nampaknya tidak sedikit orang di masa kini yang tertarik mengikuti pendapat Ibnu Hazam, bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat tidak perlu mengganti shalatnya, cukup bertaubat saja dan memperbanyak amal shalih. Mungkin alasannya bahwa pendapat Ibnu Hazm dan sebagian ulama lainnya ini terlihat lebih ringan dibandingkan dengan pendapat jumhur ulama. Padahal sebenarnya justru terbalik, malah pendapat Ibnu Hazm ini sangat berat konsekuensinya. Perhatikan alasan Ibnu Hazm dan pendukungnya ketika mengatakan bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat tidak perlu mengganti shalatnya. Ternyata alasannya karena status orang tersebut kafir atau murtad. Dan oleh karena sudah kafir, maka tidak perlu mengganti shalat. Padahal ketika seorang mufti memberi vonis murtad kepada seseorang, maka ada banyak konsekuensi yang tidak disadari oleh sang memberi fatwa. Di antara konsekuensi vonis murtad adalah :
1. Gugur Amal Sebelumnya

Seorang muslim yang murtad dan keluar dari agama Islam, maka gugurlah amal-amal yang pernah dilakukan sebelumnya. Dasarnya adalah firman Allah SWT :

496

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat


Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah : 217)


Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS. Al-Maidah : 5)

Para ulama mengatakan bisa seorang sudah pernah mengerjakan ibadah haji dalam Islam, lalu murtad dan kembali lagi masuk Islam, maka ibadah haji yang pernah dikerjakannya menjadi gugur, seolah-olah dia belum pernah mengerjakannya. Dan oleh karena itu ada kewajiban untuk mengulangi ibadah haji.
2. Istrinya Haram

Seseorang yang murtad keluar dari agama Islam, maka bila dia punya istri atau suami, secara otomatis menjadi haram untuk melakukan hubungan suami istri. Hal itu karena Islam mengharamkan terjadinya pernikahan antara muslim dan kafir. Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bila salah satu pasangan murtad dari agama Islam, maka status pernikahan mereka menjadi fasakh (dibatalkan) tetapi bukan perceraian. Mazhab Al-Malikiyah memandang bahwa bila salah satu pasangan suami istri murtad, maka statusnya adalah talak bain. Konsekuensinya, mereka diharamkan menjalankan kehidupan rumah tangga sebagaimana layaknya suami istri. Bila yang murtad itu kembali lagi memeluk agama Islam dengan bersyahadat, maka mereka harus menikah ulang dari awal. Mazhab Asy-Syafiiyah menyebutkan bahwa bila salah satu pasangan murtad, maka belum terjadi furqah di antara mereka

497

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

berdua kecuali setelah lewat masa iddah. Dan bila pada masa iddah itu, si murtad kembali memeluk Islam, mereka masih tetap berstatus suami istri. Namun bila sampai lewat masa iddah sementar si murtad tetap dalam kemurtadannya, maka hukum pernikahan di antara mereka bukan cerai tetapi fasakh.
3. Haram Menikah Dengan Siapa pun

Pasangan suami istri bila salah satunya murtad, maka terlepaslah ikatan pernikahan di antara mereka berdua. Tetapi bila orang yang murtad ini belum menikah, maka para ulama sepakat bahwa haram hukumnya untuk menikah, baik dengan pasangan muslim, atau pun pasangan yang beragam lain, atau pun dengan pasangan yang sama-sama murtad. Hal itu karena orang yang murtad itu statusnya tidak beragama. Disini ada perbedaan mendasar antara murtad dan pindah agama. Murtad itu sebatas divonis keluar dari agama Islam, namun tidak lantas memeluk agama yang lain. Jadi status orang murtad itu tidak memeluk agama Islam dan juga tidak memeluk agama selain Islam, dia adalah orang yang statusnya tanpa agama. J. Tata Cara Qadha' Shalat Dalam pelaksanaannya, qadha' shalat ini mempunyai beberapa ketentuan dan aturan, antara lain : 1. Sirr dan Jahr Shalat lima waktu yang dikerjakan pada waktunya disunnahkan untuk dikeraskan (jahr) bacaannya pada waktu shalat Maghrib, Isya' dan Shubuh. Sedangkan bacaan pada shalat Dhuhur dan Ashar disunnah untuk dibaca secara lirih (sirr). Lalu bagimana dengan shalat yang terlewat dan diqadha', apakah jahr dan sir mengikuti asal shalatnya ataukah mengikuti waktu dilaksanakan qadha'? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat.

498

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

a. Jumhur : Ikut Waktu Asal Jumhur ulama di antaranya Mazhab Al-Hanafiyah, AllMalikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa jahr dan sirr dalam urusan shalat qadha mengikuti waktu asalnya. Jadi disunnahkan melirihkan bacaan pada qadha' shalat Dzhuhur dan Ashar, meski keduanya diqadha' pada malam hari. Dan begitu juga sebaliknya, disunnahkan mengeraskan bacaan pada qadha shalat Maghrib, Isya' dan Shubuh, meski pun ketiganya dilakukan pada siang hari. b. Asy-Syafi'iyah : Ikut Waktu Qadha' Sedangkan mazhab Asy-syafi'iyah justru berpendapat sebaliknya dalam urusan jahr dan sirr. Prinsipnya, bacaan qadha' shalat dikeraskan apabila dikerjakan pada malam hari, dan dilirihkan bila dilakukan pada siang hari. Jadi disunnahkan mengeraskan bacaan pada qadha' shalat Dzhuhur dan Ashar, apabila keduanya diqadha' pada malam hari. Dan begitu juga sebaliknya, disunnahkan melirihkan bacaan pada qadha shalat Maghrib, Isya' dan Shubuh, bila ketiganya dilakukan pada siang hari. 2. Tertib Para ulama sepakat bahwa prinsipnya shalat yang terlewat karena terlupa wajib dikerjakan begitu ingat, dan tidak boleh ditunda atau diselingi terlebih dahulu dengan melakukan shalat yang lain. Dan para ulama juga sepakat bahwa bila seseorang terlewat dari beberapa waktu shalat dalam satu hari yang sama, maka cara menggantinya adalah dengan mengurutkan shalat-shalat itu berdasarkan waktu. Mana yang waktunya lebih awal maka diqadha' terlebih dahulu, dan mana yang waktunya belakang, diqadha' belakangan. Dasarnya adalah praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika terlewat empat waktu shalat dalam satu hari yang sama, beliau SAW mengqadha'nya sesuai urutannya, mulai dari qadha' shalat Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan terakhir Isya'.

499

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Dari Nafi dari Abi Ubaidah bin Abdillah, telah berkata Abdullah,Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah SAW sehingga tidak bisa mengerjakan empat shalat ketika perang Khandaq hingga malam hari telah sangat gelap. Kemudian beliau SAW memerintahkan Bilal untuk melantunkan adzan diteruskan iqamah. Maka Rasulullah SAW mengerjakan shalat Dzuhur. Kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Ashar. Kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Maghrib. Dan kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Isya. (HR. At-Tirmizy dan AnNasai)

Namun para ulama umumnya tidak lagi mengharuskan qadha' shalat dilakukan dengan tertib sesuai urutannya manakala jumlah shalat yang diqadha sangat banyak. Sehingga yang mana saja yang dikerjakan terlebih dahulu, tidak menjadi masalah. Maka dalam hal ini ada ulama yang memperbolehkan shalat-shalat yang sama dikerjakan beberapa kali, berdasarkan waktunya. Misalnya, setiap selesai melakukan shalat Dzhuhur, maka seseorang boleh mengqadha beberapa shalat Dhuhur sesuai dengan jumlah yang diinginkannya, hingga sampai lunas semua hutang-hutangnya. Nanti ketika selesai menunaikan shalat Ashar, boleh diqadha' beberapa shalat Ashar yang dahulu pernah terlewat. Dan demikian juga dengan waktu yang lain, yaitu Maghrib, Isya' dan Shubuh. 3. Adzan dan Iqamah Jumhur ulama sepakat bahwa qadha shalat lima waktu tetap disunnahkan untuk didahului dengan adzan dan iqamah. Namun bila shalat yang dikerjakan terdiri dari beberapa shalat sekaligus, cukup dengan satu kali adzan namun masing-masing

500

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

shalat dipisahkan dengan iqamah yang berbeda. Namun bila masing-masing shalat qadha' itu dikerjakan dalam waktu yang terpisah, maka masing-masing disunnahkan untuk diawali dengan adzan dan iqamah.15 4. Qadha' Berjamaah Para ulama sepakat bahwa shalat qadha' boleh dilakukan dengan berjamaah, bahkan menjadi sunnah sebagaimana aslinya shalat lima waktu itu disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah. Dasarnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika terlewat dari shalat.


Kemudian diserukan (adzan) untuk shalat dan beliau SAW mengimami orang-orang. (HR. Bukhari).

Mazhab Asy-Syafi'iyah mensyaratkan adanya kesamaan bentuk shalat antara imam dan makmum, meski berbeda niat antara keduanya. Maka dibolehkan antara imam yang mengqadha' shalat Ashar dengan makmum yang menqadha' shalat Dzhuhur atau Isya'. Namun tidak dibenarkan bila imam mengqadha' shalat Dzhuhur, Ashar atau Isya', sementara makmumnya mengqadha' shalat Shubuh atau Maghrib. Untuk itu setidaknya dalam mazhab ini dibolehkan bila jumlah rakaat imam lebih sedikit dari jumlah rakaat yang dilakukan oleh makmumnya. 5. Waktu Pelaksanaan Qadha' Para ulama sepakat bahwa shalat yang terlewat wajib untuk diqadha', namun mereka berbeda pendapat apakah qadha' shalat itu harus dilaksanakan dengan sesegera mungkin, ataukah boleh ditunda. Sebagian ulama mengatakan qadha' shalat wajib dikerjakan sesegera mungkin, namun sebagian mengatakan boleh ditunda.
15

Maqaqi Al-Falah, hal. 108

501

Bab 6 : Mengqadha Shalat

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

a. Wajib Segera Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah menegaskan bahwa qadha' shalat yang terlewat wajib untuk segera ditunaikan. Keduanya berpendapat kewajiban shalat qadha' bersifat segera atau fauriy (). Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang memerintahkan untuk segera melakukan shalat begitu ingat tanpa menunda-nundanya.

Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW bersabda,Siapa yang terlupa shalat, maka lakukan shalat ketika ia (HR. Bukhari)

b. Tidak Wajib Segera Sedangkan mazhab Asy-Syafi'iyah menyebutkan bahwa seseorang yang tertinggal dari mengerjakan shalat, wajib atasnya untuk mengganti shalatnya. Namun tidak diharuskan untuk dikerjakan sesegera mungkin, apabila udzur dari terlewatnya shalat itu diterima secara syar'i. Dalam hal ini kewajiban qadha' shalat itu bersifat tarakhi (). Tetapi bila sebab terlewatnya tidak diterima secara syar'i, seperti karena lalai, malas, dan menunda-nunda waktu, maka diutamakan shalat qadha' untuk segera dilaksanakan secepatnya. Bolehnya menunda shalat qadha' yang terlewat dalam mazhab ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari berikut ini :

- -

Rasulullah beliau menjawab,"Tidak mengapa", atau " tidak menjadi soal". "Lanjutkan perjalanan kalian". Maka beliau SAW pun berjalan hingga tidak terlalu jauh, beliau turun dan meminta wadah air dan berwudhu. Kemudian diserukan (adzan) untuk

502

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 6 : Mengadha Shalat

shalat dan beliau SAW mengimami orang-orang. (HR. Bukhari).

6. Qadha Shalat Pada Waktu Terlarang a. Jumhur Ulama : Tidak Terlarang Jumhur ulama umumnya sepakat bahwa shalat boleh diqadha' kapan saja tanpa terikat dengan waktu-waktu yang terlarang untuk dikerjakan shalat di dalamnya. Sebab Rasulullah SAW memerintahkan untuk segera mengerjakan qadha' shalat yang terlewat begitu teringat. Sehingga bila teringat di waktu yang terlarang, shalat qadha' tetap diperbolehkan untuk dikerjakan. b. Mazhab Al-Hanafiyah : Tidak Boleh di Waktu Terlarang Namun mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa waktuwaktu yang terlarang untuk shalat itu berlaku juga untuk shalat qadha'. Dalam pandangan mazhab ini, di antara waktu-waktu yang terlarang untuk shalat adalah ketika matahari terbit, ketika matahari di atas kepala dan ketika matahari dalam proses terbenam. Alasan lain yang digunakan mazhab ini adalah karena ketika Rasulullah SAW mengqadha' shalat shubuh yang terlewat saat itu, ternyata beliau tidak langsung mengerjakannya saat itu juga. Beliau berjalan terlebih dahulu hingga beberapa saat, baru kemudian beliau mengqadha' shalat. Hal itu berarti qadha tidak harus dikerjakan sesegera mungkin, dan bila ada waktu-waktu yang terlarang, shalat qadha' harus dihindarkan darinya.

503

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

Ikhtishar
A. Orang Sakit Tetap Wajib Shalat B. Melakukan Sebisanya
1. Tidak Mampu Berdiri 2. Tidak Bisa Ruku 3. Tidak Bisa Sujud 4. Tidak Bisa Menghadap Kiblat

C. Orang Sakit Mengganti Shalat Yang Terlewat D. Orang Sakit Shalat Berjamaah
1. Menjadi Makmum 2. Tidak Menjadi Imam

E. Bolehkah Orang Sakit Menjama Shalat?


1. Tidak Boleh Dijama 2. Boleh Dijama

A. Orang Sakit Tetap Wajib Shalat Tidak ada keringanan bagi orang yang sedang sakit untuk meninggalkan shalat lima yang telah difardhukan Allah SWT. Kalau pun ada keringanan, bukan untuk meninggalkan shalat, melainkan keringanan untuk tidak melakkan gerakan-gerakan yang tidak mampu dilakukan. Udzur yang dibenarkan sehingga seseorang benar-benar boleh meninggalkan shalat terbatas pada hal-hal tertentu, antara lain udzur para wanita yang mendapat darah haidh atau nifas. Wanita yang mendapat haidh atau nifas. Mereka bukan

505

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

hanya dibolehkan untuk tidak mengerjakan shalat, bahkan haram hukumnya bila mengerjakan shalat. Bila seorang wanita meninggalkan shalat karena haidh, kewajiban shalatnya gugur secara total, dalam arti dia tidak perlu menggantinya di hari lain. Selain wanita haidh, orang yang diberi keringanan untuk menjama shalat adalah orang yang untuk sementara waktu boleh tidak shalat. Namun dia harus menggantinya di waktu lain, baik dalam format jama taqdim atau pun jama takhir. Namun orang yang menderita suatu penyakit, tidak diberi keringanan untuk meninggalkan shalat, kecuali bila dia sama sekali tidak sadar atau tidak mampu melakukannya meski sambil berbaring. Katakanlah orang yang kena musibah kecelakan, saat terjadinya kecelakaan itu, tentu dia harus segera mendapat pertolongan. Boleh jadi keadaannya setengah sadar meski tidak pingsan, dimana saat itu nyaris mustahil baginya untuk melaksanakan shalat. Maka kalau pun dia tertinggal waktu shalat, bukan berarti kewajiban shalatnya menjadi gugur. Sebaliknya, bila keadaannya telah memungkinkan, maka dia wajib mengganti shalatnya yang luput itu dengan shalat qadha. B. Melakukan Sebisanya Seseorang yang sakit tetap diwajibkan untuk mendirikan shalat dengan melakukan gerakan dan posisi-posisi shalat sebisa dan semampu yang dia lakukan, meski pun tidak sampai sempurna. Dalilnya adalah firman Allah SWT :


Dan bertaqwalah kepada Allah semampu yang kamu bisa (QS. At-Taghabun : 16)

Dan juga sabda Rasulullah SAW :


506

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

Bila kalian diperintah untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakannya semampu yang bisa kamu lakukan. (HR.Bukhari )

1. Tidak Mampu Berdiri Berdiri merupakan rukun di dalam shalat fardhu, dimana seorang bila meninggalkan salah satu dari rukun shalat, maka hukum shalatnya itu tidak sah. Namun bila seseorang karena penyakit yang dideritanya, dia tidak mampu berdiri tegak, maka dia dibolehkan shalat dengan posisi duduk.1 Dasarnya adalah hadits nabawi berikut ini :

:
Dari Imran bin Hushain berkata,Aku menderita wasir, maka aku bertanya kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda,Shalatlah sambil berdiri, kalau tidak bisa, maka shalatlah sambil duduk. Kalau tidak bisa, shalatlah di atas lambungmu. (HR. Bukhari)

2. Tidak Bisa Ruku Sebagaimana kita ketahui bahwa ruku di dalam shalat adalah rukun yang bila tidak dikerjakan, maka shalat itu tidak sah hukumnya. Di dalam Al-Quran Allah SWT telah menetapkan :

Ruku lah dan sujudlah (QS. Al-Hajj : 77)

Dan alasan sakit membolehkan seseorang tidak melakukan gerakan ruku yang seharusnya. Hanya saja para ulama agak sedikit berbeda tentang posisi yang menggantikan ruku. a. Jumhur Ulama Menurut jumhur ulama, orang yang tidak bisa melakukan
1

Asy-Syarhu Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 489

507

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

gerakan atau berposisi ruku, dia harus berdiri tegak, lalu mengangguk kepala, namun masih tetap berdiri.2 Dasarnya adalah hadits berikut ini :


Berdirilah untuk Allah dengan Khusyu

Maksudnya, bila orang sakit tidak mampu melakukan gerakan ruku, maka dia mengambil posisi dasar yaitu berdiri. Rukunya hanya dengan mengangguk saja. b. Al-Hanafiyah Namun menurut pendapat Al-Hanafiyah, orang yang tidak mampu melakukan gerakan ruku, secara otomatis tidak lagi wajib melakukan posisi berdiri. Sehingga dia shalat sambil duduk saja, rukunnya dengan cara mengangguk dalam posisi duduk, bukan dari posisi berdiri.3 3. Tidak Bisa Sujud Posisi sujud adalah bagian dari rukun shalat yang apabila ditinggalkan akan membuat shalat itu menjadi tidak sah. Sebagaimana ruku yang juga merupakan rukun shalat, sujud juga diperintahkan di dalam Al-Quran.

Ruku lah dan sujudlah (QS. Al-Hajj : 77)

Namun orang yang sakit dan tidak mampu untuk melakukan gerakan sujud, tentu tidak bisa dipaksa. Dia mendapatkan keringanan dari Allah SWT untuk sebisa-bisanya melakukan sujud, meski tidak sempurna. Orang yang bisa berdiri tapi tidak bisa sujud, dia cukup membungkuk sedikit saja dengan badan masih dalam keadaan berdiri. Dia tidak boleh berbaring, sambil menganggukkan
2 3

Al-Muhadzdzab jilid 1 hal. 81 Al-Hidayah, jilid 1 hal. 77

508

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

kepala untuk sujud. Bila hal itu dilakukannya malah akan membatalkan shalatnya.4 Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :


Bila kamu mampu untuk sujud di atas tanah, maka lakukanlah. Namun bila tidak, maka anggukan kepala. Jadikan sujudmu lebih rendah dari rukumu. (HR. Ath-Thabrani)

4. Tidak Bisa Menghadap Kiblat Seseorang yang sedang menderita sakit tertentu sehingga tidak mampu berdiri atau duduk, maka dia tetap wajib shlat dengan menghadap kiblat. Namun caranya memang agak berbeda-beda di antara para ulama. Sebagian mengatakan bahwa caranya dengan berbaring miring, posisi bagian kanan tubuhnya ada di bawah dan bagian kiri tubuhnya di atas. Mirip dengan posisi mayat yang masuk ke liang lahat. Dalilnya karena dalam pandangan mereka, yang dimaksud dengan menghadap kiblat harus dada dan bukan wajah. Maka intinya adalah bagaimana dada itu bisa menghadap kiblat. Dan caranya dengan shalat dengan posisi miring. Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah SAW sendiri yang memerintahkan untuk shalat di atas lambung. Dasarnya adalah hadits nabawi berikut ini :

:
Dari Imran bin Hushain berkata,Aku menderita wasir, maka aku bertanya kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda,Shalatlah
4

Ash-Syarhu Ash-Shaghir, jilid 9 hal. 493

509

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

sambil berdiri, kalau tidak bisa, maka shalatlah sambil duduk. Kalau tidak bisa, shalatlah di atas lambungmu. (HR. Bukhari)

Namun sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang menjadi ukuran dalam menghadap kiblat adalah kaki, bukan dada. Asalkan kakinya sudah menghadap kiblat, maka dianggap posisi badannya sudah memenuhi syarat. Maka orang yang sakit itu dalam posisi telentang dan kakinya membujur ke arah kiblat. Namun akan jauh lebih baik bila badannya bisa sedikit dinaikkan dan bersender di bantal, karena baik dada mau pun kaki sama-sama bisa menghadap kiblat. Umumnya ranjang di rumah sakit bisa ditinggikan di bagian kepala, maka ranjang seperti ini tentu akan lebih baik lagi. Adapun seseorang yang sakitnya amat parah sehingga tidak bisa lagi menggerakkan badan atau menggeser posisinya agar menghadap ke kiblat, dan juga tidak ada yang membantunya untuk menggeserkan posisi shalat menghadap ke kiblat, maka dia boleh menghadap ke arah mana saja. C. Orang Sakit Boleh Tayammum Dalam perkara bersuci untuk mengangkat hadats, apabila tidak dimungkinkan bagi orang yang sedang sakit untuk menggunakan air, baik untuk berwudhu' atau mandi janabah, maka para ulama menetapkan kebolehan bertayammum. Tidak boleh terkena air itu karena ditakutnya akan semakin parah sakitnya atau terlambat kesembuhannya oleh sebab air itu. Baik atas dasar pengalaman pribadi maupun atas petunjuk dari dokter atau ahli dalam masalah penyakit itu. Maka pada saat itu boleh baginya untuk bertayammum. Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini :


510

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

: s :

Dari Jabir radhiyallahuanhu berkata"Kami dalam perjalanan tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu dan pecah kepalanya. Namun (ketika tidur) dia mimpi basah. Lalu dia bertanya kepada temannya"Apakah kalian membolehkan aku bertayammum ?". Teman-temannya menjawab"Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Sebab kamu bisa mendapatkan air". Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati (akibat mandi). Ketika kami sampai kepada Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu bersabdalah beliau"Mereka telah membunuhnya semoga Allah memerangi mereka. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu ? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum ...(HR. Abu Daud, Ad-Daruquthuny).

D. Orang Sakit Mengganti Shalat Yang Terlewat Apabila karena alasan sakit seseorang terpaksa harus meninggalkan shalat fardhu dari waktunya, maka hukumnya secara syariah tidak berarti kewajiban shalat atasnya menjadi gugur. Shalat fardhu lima waktu tetap menjadi kewajiban atasnya, hanya saja ketika sakit dan tidak mampu dikerjakan, sementara tidak perlu dikerjakan. Misalnya ketika seorang pasien sedang dioperasi yang membutuhkan waktu panjang, dan tidak mungkin shalat-shalat itu dijamak sebelum atau sesudahnya. Maka apabila selama masa operasi kedokteran itu pasien harus meninggalkan beberapa waktu shalat, ada kewajiban untuk mengganti shalat-

511

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

shalat itu begitu nanti sudah mampu dilakukan. Demikian juga para ulama sepakat bahwa orang yang pingsan, hukumnya sama dengan orang yang tidur. Bila ada pasien berada dalam keadaan pingsan atau koma, maka semua shalat fardhu yang ditinggalkannya itu wajib diganti kalau sudah sehat. E. Orang Sakit Menjama Shalat Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan orang yang sedang sakit untuk menjama shalatnya. Sebagian ulama tidak memperbolehkannya, namun sebagian yang lain membolehkan adanya shalat jama bagi orang yang sedang sakit. 1. Tidak Boleh Dijama Mereka yang tidak membolehkan orang sakit untuk menjama shalat di antaranya adalah mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafiiyah, serta sebagian dari ulama dari mazhab AlMalikiyah. Dasarnya karena sama sekali tidak ada dalil apa pun dari Rasulullah SAW yang membolehkan hal itu. Dan selama tidak ada dalil, maka kita tidak boleh mengarang sendiri sebuah aturan tentang shalat.5 Sehingga setiap orang yang sakit wajib menjalankan shalat sesuai dengan waktu-waktu shalat yang telah ditetapkan, dan tidak ada istilah untuk dijama. 2. Boleh Dijama Mazhab Al-Hanabilah dan sebagian ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah berpendapat bahwa seorang yang sedang sakit diberi keringanan untuk menjama dua shalat, baik jama taqdim atau pun jama takhir. F. Orang Sakit Shalat Berjamaah Shalat berjamaah sangat dianjurkan dalam syariah, karena
5

Hasyiatu Ibnu Abidin, jilid 1 hal. 255-256

512

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

keutamaannya berbanding 27 derajat. Meski ada sementara kalangan yang mewajibkan shalat berjamaah, namun jumhur ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa shalat berjamaah hukumnya adalah sunnah muakkadah. Sedangkan melakukan shalat lima waktu hukumnya adalah fardhu ain bagi tiap muslim. Bila shalat ditinggalkan, maka selain berdosa besar, juga ada ancaman yang dahsyat di neraka nanti. Oleh karena itu, seseorang yang sakit dan mendapat udzur tidak mampu melakukan shalat berjamaah, dia dibolehkan untuk tidak melakukannya. Yang penting, dia tidak meninggalkan shalat lima yang menjadi kewajibannya. 1. Menjadi Makmum Namun bila seseorang yang sedang menderita sakit tetap memaksakan diri untuk bisa shalat berjamaah, dibolehkan hukumnya, asalkan dengan syarat bahwa ikutnya dia dalam shalat berjamaah itu tidak menambah parah penyakitnya, atau tidak malah membuat kesembuhannya menjadi terhambat. 2. Tidak Menjadi Imam Selain itu, seorang yang sakit tidak diperkenankan untuk menjadi imam, karena ada banyak udzur yang bersifat darurat pada dirinya. Apabila udzur itu terjadi pada orang sehat, boleh jadi shalatnya itu tidak sah. Seorang yang tidak mampu berdiri tegak, tidak diperkenankan menjadi imam bagi orang-orang yang sehat dan mampu berdiri. Dan orang yang sehat, bila shalat di belakang orang yang sakit dengan tidak berdiri, maka baginya shalat itu menjadi tidak sah. Kalau dia berdiri berarti menyalahi imam yang shalatnya duduk. Tetapi kalau dia duduk, maka dia menyalahi aturan shalat yang mengharuskan orang sehat shalat dengan berdiri. Demikian juga orang yang berpenyakit salasul-baul, yaitu tidak bisa mengontrol untuk buang air kecil, sehingga dia selalu berada dalam keadaan najis. Bila dia shalat sendiri, shalatnya sah. Namun bila dia menjadi imam, shalat makmumnya menjadi

513

Bab 7 : Shalat Orang Sakit

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

tidak sah, karena bermakmum kepada imam yang dalam ukuran makmum shalat itu tidak sah.

514

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 8 : Shalat Khauf

Bab 8 : Shalat Khauf

Ikhtishar
A. Pengertian B. Masyru'iyah
1. Masih Berlaku 2. Berlaku Hanya Untuk Rasulullah 3. Telah Dihapus

C. Momen Shalat Khauf


1. Perang 2. Bencana

D. Teknis Shalat Khauf


1. Bentuk Pertama 2. Bentuk Kedua 3. Bentuk ketiga 4. Bentuk Keempat

E. Rakaat Shalat Khauf F. Bolehkah Membunuh Musuh Dalam Shalat?

A. Pengertian Kata khauf ( )dalam bahasa Arab bermakna takut. Di dalam kamus Lisanul arab disebutkan makna khauf secara bahasa adalah :


515

Bab 8 : Shalat Khauf

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

takut atas kejadian yang tidak disukai, baik karena persangkaan ataupun karena memang terjadi.

Sedangkan secara syariah, istilah shalat khauf adalah shalat yang dilakukan dalam keadaan takut. Namun pengertian takut disini bukan sembarang takut, melainkan takut yang terkait dengan menghadapi musuh dalam perang atau menghadapi bencana besar yang terjadi.1 Dengan definisi yang lebih rinci, shalat khauf adalah :


Shalat wajib 5 waktu yang sudah datang waktunya, sementara muslimin dalam keadaan pertempuan dengan musuh atau dalam hirasah (berjaga-jaga).2

B. Masyru'iyah Dasar masyru'iyah shalat khauf adalah Al-Quran Al-Kariem dan Sunnah Nabawiyah.


Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka sujud, maka
1 2

Al-Bujairimi alal khatib jilid 2 hal. 222 Al-Badai' 1/243, Raudhatuthalibin 2:49, Al-Majmu' 4/404, Al-Mughni 2/402

516

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 8 : Shalat Khauf

hendaklah mereka pindah dari belakangmu dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu , dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. (QS. An-Nisa' : 102)

Ad-Daruquthny meriwayatkan dari Abu Ayyash Az-Zarqi bahwa kami bersama Rasulullah SAW dalam perang di Usafan berhadapan dengan kaum musyrikin, dimana Khalid bin Walid waktu itu masih kafir bersama mereka. Posisi lawan berada pada arah kiblat. Maka Rasulullah SAW mengimami kami shalat Dzhuhur. Pada saat antara Dzhuhur dengan Ashar, turunlah Jibril alaihissalam dengan ayat ini. Kejadian ini juga yang menjadi salah satu penyebab masuk Islamnya Khalid bin Walid setelah itu.3 Shalat khauf punya keistimewaan tersendiri, dimana tata caranya langsung dijelaskan di dalam Al-Quran. Padahal ada begitu banyak jenis shalat, seperti shalat Ied, Tarawih, Tahajjud, Dhuha, Jenazah dan sebagainya, namun boleh dibilang hanya shalat khauf saja yang aturannya sampai dijelaskan detail oleh Allah di dalam ayat Al-Quran. 1. Masih Berlaku Jumhur ulama mengatakan bahwa pensyariatan shalat khauf ini bukan hanya berlaku di masa Nabi SAW saja, melainkan juga berlaku untuk masa-masa sesudahnya. Dasarnya adalah praktek shalat khauf yang tetap masih dilakukan oleh para shahabat Nabi SAW di berbagai peperangan, sepeninggal nabi. Ali bin Abi Thalib masih melakukan shalat khauf dalam perang Shiffin. Demikian juga para kibarushshahabah tetap masih melakukan shalat khauf, seperti Sa'ad bin Abi Waqqash, Abu Musa Al-Asy'ari, Said ibnul Ash dan sebagainya.

Tafsir Al-Jami' li Ahkamil Al-Quran lil Qurthubi jilid 3 hal. 500

517

Bab 8 : Shalat Khauf

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

2. Berlaku Hanya Untuk Rasulullah Abu Yusuf dari mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa shalat khauf disyariatkan hanya buat Rasulullah SAW. Dasarnya adalah ayat di atas yang hanya menyebutkan buat Rasulullah SAW saja, bukan buat umatnya.4 3. Telah Dihapus Al-Muzani mengatakan bahwa shalat khauf memang pernah disyariatkan, namun setelah itu dihapus hukumnya, meski ayatnya masih ada. Dasarnya, karena Nabi SAW di dalam perang Khandak sempat terlewatkan empat waktu shalat, yaitu Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Kalau shalat khauf berlaku, pastilah beliau melakukannya saat itu agar tidak terlewat shalat.5 C. Momen Shalat Khauf Shalat khauf sebagaimana namanya, dilakukan pada saat terjadi ketakutan karena perang atau sejenisnya. Secara lebih rinci para ulama menegaskan di antara kejadian-kejadian yang disyariatkan untuk melakukan shalat khauf antara lain : 1. Perang Perang disini makudnya baik perang melawan orang-orang kafir, atau pun melawan ahlul baghyi (penjahat atau teroris), juga termasuk perang melawan pencoleng. Dan termasuk juga perang melawan orang yang ingin membunuh jiwa seseorang atau keluarganya, atau perang melawan orang yang mau merampas harta. Namun perang yang diharamkan hukumnya, tidak disyariatkan shalat khauf di dalamnya. Seperti perang antar suku, atau perang saudara, bentrok massa, konflik horizontal, tawuran massal dan sejenisnya. Sebab shalat khauf itu merupakan keringanan dari Allah,
4 5

Bulghatussalik ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir jilid 1 hal. 185 Al-MAjmu' Syarah Al-Muhadzdzab jilid 4 hal. 404

518

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 8 : Shalat Khauf

maka orang yang mendapatkannya. 2. Bencana

bermaksiat

tidak

berhak

untuk

Para ulama tidak membatasi shalat khauf hanya pada perang saja, tetapi juga termasuk takut kepada bencana besar yang terjadi, seperti bencana banjir, kebakaran, binatang buas, dan bencana lainnya.6 Shalat khauf tidak hanya berlaku untuk perang yang harus menempuh perjalanan jauh, tetapi juga berlaku meski perang terjadi di negeri sendiri atau di kampung sendiri. D. Teknis Shalat Khauf Secara teknis yang sederhana, di dalam Al-Quran sedikit disinggung teknis shalat khauf. Namun secara lebih rinci, ternyata ada beberapa versi yang berbeda dalam pendapat para ulama. Perbedaan ini lantaran ayat Al-Quran tidak secara detail menjelaskan bagian-bagian tertentu, sehingga muncul asumsi dan pandangan yang berbeda-beda. Selain itu, ternyata ada banyak riwayat dari Rasulullah SAW yang ternyata juga berbeda satu dengan yang lain. Sehingga semakin membuat perbedaan teknis shalat khauf ini menjadi semakin nampak. Namun perbedaan itu tidak menjadi masalah, sebab perbadaan teknis ibada itu memang sesuatu yang amat lazim dan tidak perlu diperdebatkan. Bahkan berapa banyak bentuk Rasulullah SAW melakukan shalat khauf itu sendiri pun, para ulama berbeda-beda pendapat. Asy-Syafi'i mengatakan bahwa beliau SAW melakukan shalat khauf dengan 16 bentuk. Ibnul Qashshar dari mazhab AlMalikiyah menyebutkan bahwa beliau SAW shalat khauf dengan 10 macam. Sedangkan Imam Ahmad mengatakan 6 atau 7 macam. Bahkan ada yang bilang 14 macam.

Raudhatuthalibin jilid 2 hal. 62

519

Bab 8 : Shalat Khauf

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Al-Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa semua hadits yang menceritakan perbedaan-perbedaan tata cara shalat khauf Nabi SAW bisa saja benar semua, karena memang beliau SAW shalat dengan berbagai cara yang berbeda. Di antara bentuk teknis yang masyhur di kalangan ulama adalah bentuk-bentuk berikut ini: 1. Bentuk Pertama Bentuk pertama adalah shalat khauf yang pernah dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW pada perang Dzaturriqa'. Caranya, imam membagi pasukan menjadi dua bagian. Dalam shalat yang cuma dua rakaat, seperti shalat shubuh atau shalat qashar, sebagian pasukan memulai shalat satu rakaat pertama bersama imam, dan sebagian lainnya berdiri berjaga. Bila shalatnya lebih dari dua rakaat, misalnya shalat ma ghrib, atau shalat rubaiyah (yang empat rakaatnya) seperti shalat Dzhuhur, Ashar atau Isya yang tidak diqashar, maka pasukan pertama shalat dua rakaat terlebih dahulu bersama imam. Sampai disini, keempat mazhab sepakat tanpa perbedaan. Mereka mulai berbeda pendapat dalam masalah kelanjutannya. Mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan AlMalikiyah mengatakan bahwa untuk melanjutkan, misalnya ketika masuk ke rakaat kedua dalam shalat yang dua rakaat, atau mau masuk ke rakaat ketiga dalam shalat yang lebih dari dua rakaat, mereka keluar dari mengikuti imam dan menyempurnakan shalat sendiri tanpa imam. Kemudian mereka menghadapi musuh. Saat itu, pasukan yang tadi berjaga memulai shalat mereka dan menjadi makmum imam yang masih duduk menunggu. Lalu imam bangun untuk melanjutkan rakaat kedua (shalat dua rakaat) atau rakaat ketiga (shalat yang lebih dari dua rakaat), diikuti oleh pasukan yang baru bergabung dan menyelesaikan shalat. Ketika imam sudah selesai dari shalatnya, makmum gelombang kedua ini bangun lagi untuk menyelesaikan shalat

520

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 8 : Shalat Khauf

mereka. Sedangkan menurut pendapat Al-Hanafiyah, ketika pasukan gelombang pertama sudah menyelesaikan satu rakaat pada shalat yang dua rakaatnya, atau selesai dua rakaat pada shalat yang rakaatnya lebih dari dua, mereka tidak menyelesaikan shalat sendiri, melainkan langsung keluar dari shaf untuk berjaga-jaga, tapi mereka tetap masih dalam keadaan shalat. Lalu pasukan gelombang kedua masuk ke dalam barisan shalat bersama imam. Di akhir shalat, pasukan gelombang pertama kembali lagi meneruskan shalat bersama imam dan ikut salam bersama-sama. 2. Bentuk Kedua Shalat khauf model ini dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika berada di Bathni Nakhl. Caranya, imam membagi pasukan menjadi dua bagian. Pasukan pertama ikut shalat bersama imam sampai tuntas, yang shalat dua rakaat dikerjakan dua rakaat, yang shalat tiga rakaat dikerjakan tiga rakaat, dan yang empat rakaat dikerjakan empat rakaat bersama imam. Lalu mereka mengucapkan salam dan selesai, kemudian bangun berjaga dan meninggalkan imam sendirian. Kemudian pasukan yang belum shalat masuk ke dalam jamaah, dan imam memulai lagi shalat dari awal dan mengimami secara sempurna hingga salam. Artinya, dalam bentuk yang kedua ini, imam melakukan shalat dua kali. Shalat pertama itu hukumnya wajib baginya, sedangkan shalat yang kedua hukumnya menjadi nafilah atau sunnah baginya. Bentuk shalat seperti ini lebih mudah dalam pelaksanaannya. Dan salah satu keunggulannya, shalat seperti ini bisa dikerjakan meski posisi musuh ada di arah yang berlawanan dengan arah kiblat. 3. Bentuk ketiga Bentuk ini dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika berada di

521

Bab 8 : Shalat Khauf

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

peperangan di daerah Usafan. Caranya, imam membagi pasukan menjadi dua barisan dan memulai shalat bersama-sama, mulai dari takbiratul ihram, bacaan Al-Fatihah dan seterusnya sampai ruku' dan i'tidal. Giliran sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua hingga bangun dari sujud, yang mengikuti gerakan iman hanya makmum di barisan pertama. Sedangkan makmum di barisan kedua, tetap berdiri sambil berjaga-jaga. Ketika imam dan makmum di barisan pertama sudah berdiri lagi, maka makmum di barisan kedua mulai sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua dan bangun berdiri tegak. Kemudian imam memimpin semua barisan meneruskan rakaat kedua, ketiga dan begitu seterusnya. Namun untuk rakaat yang kedua yang ikut sujud bersama imam adalah barisan yang kedua, sedangkan barisan yang pertama, berjaga-jaga. Jadi ada bergantian di tiap rakaat. Cara seperti ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.

: : .
522

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 8 : Shalat Khauf

Dari Jabir radhiyallahuanhu berkata, Aku ikut shalat khauf bersama Nabi SAW. Kami dibagi menjadi dua barisan. Satu barisan di belakang Rasulullah SAW, dimana posisi musuh berada di antara kami dan qiblat. Nabi SAW melakukan takbiratul ihram dan kami semua mengikutinya. Kemdian beliau ruku dan kami semua mengikuti beliau. Kemudian beliau bangun dari ruku dan kami semua mengikuti beliau. Kemudian beliau turun sujud bersama barisan yang paling dekat, sedangkan barisan kedua tetap berdiri menjaga musuh. Ketika beliau SAW selesai sujud dan berdiri lagi bersama-sama dengan barisan yang terdekat, maka barisan yang lain mulai turun melakukan sujud. Kemudian barisan yang di belakang maju ke depan, sedang barisan yang di depan mundur ke belakang. Kemudian beliau ruku' dan kami semua ikut ruku. Kemudian beliau bangun dari ruku' dan kami semua ikut bangun dari ruku'. Kemudian beliau turun untuk sujud dan barisan yang terdekat dengan beliau yang tadinya di belakang pada rakaat pertama ikut sujud bersama beliau. Dan barisan belakang tetap berdiri menjaga musuh. Ketika Nabi selesai dari sujud bersama dengan barisan yang terdekat, maka barisan yang tadi berjaga mulai turun untuk sujud. Kemudian beliau SAW mengucapkan salam, dan kami pun semua ikut mengucapkan salam. (HR. Muslim)

4. Bentuk Keempat Shalat khauf bentuk keempat adalah bentuk yang paling kacau. Penulis mengistilahkannya dengan sebutan "free style". Betapa tidak, karena shalat dilakukan dengan cara apa saja, baik dengan berjamaah atau sendiri-sendiri, baik dilakukan sambil menghadap kiblat atau kemana saja, baik dilakukan sambil berdiri, atau berjalan bahkan sambil berlari, baik dilakukan dengan ruku' dan sujud, atau pun dilakukan hanya dengan sedikit membungkukkan badan.7
7

Raudhatut-thalibin jilid 2 hal. 60

523

Bab 8 : Shalat Khauf

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bentuk shalat seperti ini dilakukan pada saat keadaan kacau balau, jumlah musuh sangat besar dan pasukan tidak mampu melakukan perlawanan yang seimbang, sehingga pasukan kucar kacir. Pada saat seperti itu, shalat bisa dilakukan dengan cara apa saja, tanpa harus mengulanginya lagi. Dasarnya adalah firman Allah SWT :

Apabila kalian dalam keadaan takut, maka shalatlah dengan berjalan kaki atau naik tunggangan.

E. Rakaat Shalat Khauf Jumhur ulama sepakat bahwa jumlah rakaat shalat khauf itu normal mengikuti shalat yang sedang dikerjakan. Misalnya, pasukan melakukan shalat Dzhuhur dengan diqashar, maka shalat khaufnya diqashar menjadi hanya 2 rakaat. Sebaliknya, bila shalat yang mereka lakukan itu shalat yang berjumlah 4 rakaat, seperti Dzhuhur, Ashar atau Isya, maka jumlah bilangan rakaat shalat khaufnya 4 rakaat juga. Demikian juga ketika mereka shalat Maghrib yang tiga rakaat itu, maka shalat khaufnya pun tiga rakaat juga. Namun ada riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu yang menyebutkan bahwa shalat khauf itu cukup dikerjakan dengan hanya satu rakaat saja.8 F. Bolehkah Membunuh Musuh Dalam Shalat? Jumhur ulama mengatakan bahwa ketika sedang melakukan shalat khauf, bila memang benar-benar ada musuh, maka pasukan yang giliran berdiri dan berjaga boleh membunuh musuh. Dan meski untuk membunuh musuh itu harus bergerak
8

Nailul Authar 4/4, Al-Mughni 2/401

524

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 3

Bab 8 : Shalat Khauf

banyak, bahkan meski pedang yang di tangan berlumur darah, tetapi tetap sah dilakukan dan semua masih dalam status shalat. Dasarnya adalah firman Allah SWT :


Dan peganglah senjata kalian

Ayat ini menegaskan pasukan harus membawa senjata, maka kalau begitu dibutuhkan malah tidak difungsikan, buat apa shalat bawa-bawa senjata. Maka senjata yang dibawa itu harus digunakan untuk membunuh musuh bila memang musuh muncul betulan, tanpa merusak shalat. Namun mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa bila senjata itu digunakan untuk membunuh lawan, maka shalatnya batal.

525

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah

B. Hukum Shalat Sunnah Rawatib C. Sunnah Rawatib Muakkadah


1. Jumlah Rakaat 2. Sebelum Zhuhur dan Sesudah Dzhuhur 3. Sebelum Shubuh

D. Rawatib Ghairu Muakkadah


1. Dua Rakaat Sebelum Ashar 2. Dua rakaat sebelum Maghrib 3. Dua rakaat sebelum Isya.

E. Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib


1. Lebih Baik Dari Dunia dan Isinya 2. Dibangunkan Istana Dalam Surga 3. Haram Masuk Neraka

F. Hukum Berpindah Tempat G. Shalat Rawatib Dalam Perjalanan


1. Tetap Disunnahkan 2. Tidak Disunnahkan Dalam Shalat Jama Qashar

Kita akan memulai pembahasan bagian ketiga dari buku ini dengan kajian tentang shalat rawatib.

529

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

A. Pengertian 1. Bahasa Kata rawatib ( )dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kata yang bentuk tunggalnya adalah ratib ( ), yang ), juga bermakna istaqarra ( ) yaitu tetap bermakna tsabata ( atau kokoh. Kata aisyun ratib artinya adalah kehidupan yang langgeng. Ibnu Jinni berkata :

Aku masih tetap di atas ini bertempat tinggal.

2. Istilah Sedangkan secara istilah, para fuqaha mendefinisikan shalat rawatib sebagai

Shalat-shalat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat fardhu.

Oleh karena itu shalat sunnah rawatib juga sering disebut dengan shalat qabliyah ( )dan badiyah (). Qabliyah artinya shalat sunnah yang dilakukan sebelum shalat fardhu dikerjakan. Badiyah adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah shalat fardhu dikerjakan. Sedangkan Asy-Syafii mendefinisikan shalat rawatib lebih luas cakupannya, bukan sebatas shalat sebelum dan sesudah shalat lima waktu.

Shalat-shalat sunnah yang ikut pada shalat lainnya, atau bergantung pada shalat lainnya, atau pada shalat yang punya

530

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

waktu tertentu, seperti shalat idul fithr, idul adha atau tarawih.1

Jadi dalam hal ini para ulama agak berbeda pendapat dalam membuat batasan shalat rawatib. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shalat rawatib itu hanya sebatas shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat fardhu lima waktu, atau ba'diyah dan qabliyah. Dan sebagian lainnya membuat batasan bahwa shalat rawatib itu termasuk juga di dalamnya shalat tarawih, dhuha dan Idul Fithri dan Idul Adha. B. Hukum Shalat Sunnah Rawatib Jumhur ulama umumnya sepakat menyebutkan bahwa shalat rawatib hukumnya sunnah atau mustahab. Namun umumnya mereka sangat menganjurkan shalat ini dan berbeda pendapat tentang hukum orang yang meninggalkannya. Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat sunnah rawatib mewajibkan isaah (keburukan) dan karahiyah (kebencian). Al-Hanabilah mengatakan bahwa meninggalkan shalat sunnah rawatib tanpa udzur hukumnya makruh. C. Sunnah Rawatib Muakkadah Para ulama umumnya membagi dua shalat sunnah ini menjadi sunnah muakkadah dan ghairub muakkadah. Yang level kesunnahannya lebih besar, disebut dengan sunnah muakkadah. Dan ada yang level kesunnahannya berada setingkat di bawahnya, disebut dengan sunnah ghairu muakkadah. Namun keduanya tetap bernilai sunnah, yang apabila dikerjakan tentu akan menambah value tersendiri bagi pelakukanya. Istilah muakkadah artinya kurang lebih adalah sunnah yang lebih diutamakan atau lebih ditekankan. Biasanya para ulama mengaitkan dengan praktek Rasulullah SAW yang tidak pernah
1

Al-Qalyubi, jilid 2 hal. 210

531

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

meninggalkan perbuatan itu, setidaknya beliau SAW lebih sering melakukannya dari pada meninggalkan. 1. Jumlah Rakaat Namun ada sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkan berapa jumlah total rakaat shalat rawatib yang muakkadah dalam sehari semalam. a. Jumhur Ulama : Sepuluh Rakaat Jumhur ulama seperti mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa jumlah rakat shalat sunnah rawatib yang muakkadah adalah 10 rakaat dalam sehari semalam, baik shalat sunnah qabliyah ataupun shalat sunnah ba'diyah. Dasar pendapat mereka adalah hadits shahih berikut ini :

: :
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma berkata,Aku memelihara dari Nabi SAW sepuluh rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Dzhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah Isya di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shubuh. Dua rakaat sebelum shubuh itu termasuk waktu-waktu dimana Rasulullah SAW tidak ditemui, namun Hafshah radhiyallahuanha menyebutkan padaku bahwa bila muadzdzin mengumandangkan adzan saat terbit fajar, beliau SAW shalat dua rakaat. (HR. Bukhari)

Hadits ini menyebutkan bahwa shalat rawatib yang

532

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

hukumnya sunnah muakkadah ada sepuluh rakaat. Dan karena tiap shalat dikerjakan dua rakat, maka jumlah shalatnya ada lima dalam sehari semalam, yaitu : Dua rakaat sebelum Dzhuhur. Dua rakaat sesudahnya. Dua rakaat sesudah Maghrib Dua rakaat sesudah Isya. Dua rakaat sebelum shubuh. b. Al-Hanafiyah : Dua Belas Rakaat Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa jumlahnya 12 rakaat dalam sehari semalam, baik qabliyah maupun badiyah. Keduabelas rakaat itu punya posisi yang sama dengan versi yang sepuluh rakaat, kecuali bahwa shalat sebelum Dzhuhur dalam versi ini bukan dua rakaat, melainkan empat rakaat. Teknisnya dikerjakan langsung empat rakaat itu sekaligus dengan hanya satu salam, tanpa tahiyat awal. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibunda Mukminin Aisyah radhiyallahuanha berikut ini :

: :
Dari Aisyah radhiyallahuanha dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda,Orang yang selalu menjaga dua belas rakat maka Allah SWT akan bangunkan untuknya rumah di dalam surga. Empat rakaat sebelum Dzhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah Isya di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shubuh. (HR. AnNasai dan At-Tirmizy)

533

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bila mengikuti hadits ini, maka jumlah total shalat sunnah rawatib yang muakkadah ada 12 rakaat. Jumlah shalatnya tetap ada lima kali, karena ada yang dikerjakan langsung empat rakaat, yaitu sebelum shalat Dzhuhur. Empat rakaat sebelum Dzhuhur. Dua rakaat sesudahnya. Dua rakaat sesudah Maghrib Dua rakaat sesudah Isya. Dua rakaat sebelum shubuh. Maka biar lebih mudah memahaminya, silahkan lihat table berikut ini : Waktu Sebelum Dzhuhur Sesudah Dzhuhur Sesudah Maghrib Sesudah Isya Sebelum Shubuh Jumhur 2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat Hanafi 4 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat

Adapun yang selain itu memang tidak menjadi kebiasaan beliau, meski tetap ada dalil masyruiyahnya. Derajat kesunnahannya sedikit di bawah yang 10 rakaat itu namun tetap berpahala dan menjadi dari ibadah tambahan yang bila dikerjakan akan memberikan nilai tambah tersendiri. 2. Sebelum Zhuhur dan Sesudah Dzhuhur Selain dalil yang bersifat umum, untuk shalat rawatib sebelum dan sesudah Dzhuhur ada dalil yang sifatnya khusus, yaitu :

Nabi SAW tidak pernah meninggalkan shalat sunnah empat rakaat sebelum Dzhuhur dan shalat sunnah dua rakaat sebelum

534

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

shubuh (HR. Bukhari)

3. Sebelum Shubuh Demikian juga dengan dua rakaat sebelum shubuh, ada banyak dalil yang menjadi dasar masyruiyahnya, bahkan sekaligus juga menerangkan keutamannya.

Dua rakaat sunnah sebelum fajar lebih baik dari dunia dan isinya (HR. Muslim)

Tidak ada shalat nawafil yang lebih dikerjakan oleh Rasulullah SAW dari pada dua rakaat fajar (qabilyah Shubuh). (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan tinggalkan shalat sunnah dua rakaat sebelum fajar (shubuh), meski pun kuda mencampakkan kamu (HR. Ahmad)

D. Rawatib Ghairu Muakkadah Sedangkan yang dimaksud dengan shalat rawatib ghair muakkaddah dan sebagian ulama menyebutnya sebagai shalat sunnah muthlaqah adalah : 1. Dua Rakaat Sebelum Ashar Ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk shalat sunnah empat rakaat sebelum melakukan shalat Ashar, yaitu :

Allah SWT menyayangi seseorang yang shalat empat rakaat sebelum shalat Ashar. (HR Abu Daud)

535

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Selain hadits di atas, juga ada hadits lainnya, misalnya :

Dari Ali bin Ab Thalib radhiyallahuanhu berkata,Dan empat rakaat sebelum shalat Ashar yang dikerjakan dua rakaat dipisahkan dengan salam. (HR. Ibnu Majah)

2. Dua Rakaat Sebelum Maghrib

Shalatlah sebelum shalat Marghrib dua rakaat (HR. Bukhari Muslim)

: :

Dahulu kami shalat di masa Rasulullah SAW dua rakaat setelah matahari terbenam sebelum shalat Maghrib. Anas ditanya,Apakah Rasulullah SAW melakukannya?. Anas menjawab,Beliau melihat kami melakukan shalat itu namun beliau tidak memerintahkan kami melakukannya atau melarang kami. (HR.Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik berkata, "Dulu ketika kami di Madinah, bila sang muadzin telah mengumandangkan adzan Maghrib, maka para sahabat segera mendekati tiang-tiang masjid lalu mereka melaksanakan shalat dua rakaat-dua rakaat, sampai sekiranya ada orang asing masuk masjid, niscaya akan menyangka bahwa shalat telah ditunaikan karena banyaknya orang yang melakukannya. (HR. Muslim)

536

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib


Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahuanhu dari Nabi SAW bersabda: Shalatlah kalian sebelum Maghrib (beliau mengulangnya tiga kali). Diakhirnya beliau bersabda,"Bagi siapa saja yang mau melaksanakannya". Beliau takut hal tersebut dijadikan oleh orang-orang sebagai sunnah. (HR. Bukhari)

Dan dalam riwayat Abu Daud :


Shalatlah kalian sebelum Maghrib dua rakaat. Kemudian beliau bersabda: Shalatlah kalian sebelum Maghrib dua rakaat bagi yang mau Beliau takut prang-orang akan menjadikannya shalat sunnah. (HR. Abu Daud) Dari Abdullah bin Mughaffal Ra ia berkata: Nabi SAW bersabda: Diantara adzan dan iqomah ada shalat, diantara adzan dan iqomah ada shalat (kemudian dikali ketiga beliau berkata:) bagi siapa yang mau (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dua Rakaat Sebelum Isya.


Dari Abdullah bin Mughaffal Ra ia berkata: Nabi SAW bersabda: Diantara adzan dan iqomah ada shalat, diantara adzan dan iqomah ada shalat (kemudian dikali ketiga beliau berkata:) bagi siapa yang mau (HR. Bukhari Muslim)

E. Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib Ada sejumlah keterangan dari Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang keutamaan melaksanakan shalat sunnah rawatib. Antara lain: 1. Lebih Baik Dari Dunia dan Isinya

Dari Aisyah Ra dari Nabi SAW belaiu bersabda: Dua rakaat fajar (qabliyah shubuh) adalah lebih baik dari dunia dan segala isinya (HR. Muslim)

2. Dibangunkan Istana Dalam Surga

537

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Di antara fadhilah atau keutamaan orang yang menjaga shalat rawatib adalah akan dibangunkan baginya rumah atau istana di dalam surga nanti.

:
Dari Aisyah radhiyallahuanha dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda,Orang yang selalu menjaga dua belas rakat maka Allah SWT akan bangunkan untuknya rumah di dalam surga. (HR. An-Nasai dan At-Tirmizy)

Masuk surga saja sudah merupakan kenikmatan, apalagi kalau sampai diberikan istana di dalamnya. Dari sini para ulama menjelaskan bahwa meski sama-sama di dalam surga, namun kenikmatan yang Allah SWT berikan buat hamba-Nya berbedabeda dan berkelas-kelas juga. Semua sesuai dengan keutamaan yang Allah berikan. 3. Haram Masuk Neraka Di antara fadhilah shalat rawatib adalah diharamkan masuk ke dalam neraka.

Dari Ummu Habibah Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: Barangsiapa yang melaksanakan shalat sebelum dzuhur empat rakaat (qabliyah dzuhur) dan setelahnya empat rakaat (badiyyah dzuhur) Allah akan mengharamkan orang tersebut masuk neraka (HR. Abu Daud)

Namun perlu diingat bahwa sering terjadi kekeliruan dalam memahami hadits, yaitu hanya menggunakan satu hadits saja dengan menafikan hadits-hadits yang lain.

538

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Tidak boleh seseorang berkesimpulan dari hadits ini bahwa yang penting sudah mengerjakan 8 rakaat dalam sehari, yaitu 4 rakaat sebelum Dzhuhur dan 4 rakaat sesudahnya, pasti tidak akan masuk neraka, walau pun dengan meninggalkan shalatshalat fardhu. Ini adalah kesimpulan yang keliru. F. Hukum Berpindah Tempat Ada sejumlah riwayat yang menjelaskan bahwa berpindah tempat ketika akan melaksanakan shalat rawatib, baik qabliyah maupun badiyyah adalah disunnahkan. Bahkan lebih afdhalnya lagi, shalat sunnah rawatib dilaksanakan di dalam rumah sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Dari Zaid bin Tsabit Ra sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda,"Shalatnya seseorang di rumahnya adalah lebih baik daripada shalatnya di masjidku ini kecuali shalat fardhu (HR. Abu Dau) Dari Al-Mughiroh bin Syubah Ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Seorang imam tidak boleh shalat di tempat dimana ia shalat sehingga ia berpindah tempat (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah) Dari Abu Hurairah Ra dari Nabi SAW, beliau bersabda: Apakah kamu merasa lemah (keberatan) apabila kamu shalat untuk maju sedikit atau mundur, atau pindah ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri ? (HR. Ibnu Majah)

Hadits-hadits di atas menunjukan bahwa berpindah tempat ketika melaksanakan shalat adalah masyru. Dan diantara alasan disyariatkanya hal tersebut adalah untuk memperbanyak tempat sujud atau ibadah, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Al-Baghawi. Karena tempat-tempat ibadah tersebut akan memberi kesaksian di hari akhir nanti sebagaimana firman Allah Swt:


Pada hari itu bumi menceritakan khabarnya (QS. Al-Zalzalah :

539

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

4)

Namun jika masjid atau mushalla sempit, bisa saja seseorang meminta jamaah yang lain untuk bergeser ke tempatnya dan melaksanakan shalat sunnah rawatib di tempatnya. Tetapi jika memang tidak memungkinkan juga untuk bertukar tempat, maka tidak mengapa untuk melaksanakan shalat rawatib di tempat yang sebelumnya digunakan untuk melaksanakan shalat fardhu.2 G. Shalat Rawatib Dalam Perjalanan Umumnya para ulama berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib ini disunnahkan meski dalam perjalanan, namun shalat qabliyah atau badiyah tidak dilakukan manakala seseorang menjama atau mengqashar shalatnya. 1. Tetap Disunnahkan Mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafiiyah sepakat bahwa shalat sunnah rawatib ini tetap disunnahkan meski seseorang dalam perjalanan. Dasarnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang melakukan shalat rawatib ini baik dalam safar atau pun dalam hadhar. Bahkan beliau tetap mengerjakan shalat di atas untanya. Namun mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa bila seseorang sedang dalam keadaan musafir, maka dia dibolehkan untuk memilih apakah mau mengerjakan shalat rawatib atau tidak. 2. Tidak Disunnahkan Dalam Shalat Jama Qashar Meski pun hukumnya sunnah, bahkan sebagian ada yang sampai sunnah muakkadah, namun shalat qabliyah dan badiyah ini menurut para ulama tidak disyariatkan manakala seseorang dalam keadaan menjama dan mengqashar shalatnya. Sebab rukhshah atau keringanan yang diberikan itu sendiri sudah memangkas shalat fardhu yang empat rakaat menjadi dua
2

Aunul Mabud Syarah Sunan Abi Daud 2/227-228

540

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 1 : Shalat Sunnah Rawatib

rakaat, dan membolehkan seseorang meninggalkan shalat pada waktunya, berpindah ke waktu shalat yang lain, maka bukan pada tempatnya bila orang yang shalat fardhunya saja dilakukan dengan mengqashar atau dijamak, malah mengerjakan shalat qabliyah dan badiyah.

541

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah

B. Masyruiyah
1. Hadits Pertama 2. Hadits Kedua

C. Hukum
1. Sunnah 2. Tidak Disunnahkan buat Khatib 3. Haram Bagi Yang Janabah 4. Boleh Diganti dengan Dzikir

D. Kapan Disunnahkan?
1. Sebelum Duduk 2. Tidak Disunnahkan Meski Terlanjur Duduk

E. Keluar Masuk Masjid Berulang-Ulang


1. Cukup Sekali Sehari 2. Berulang-ulang

F. Saat Imam Berkhutbah


1. Tidak Perlu Tahiyatul Masjid 2. Shalat Tahiyatul Masjid Terlebih Dahulu

G. Apakah Disunnahkan Untuk Selain Masjid?


1. Disunnahkan 2. Tidak Disunnahkan

H. Tahiyat Dua Masjid Al-Haram


1. Masjid Al-Haram Mekkah

543

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

2. Masjid Nabawi Madinah

A. Pengertian 1. Bahasa Makna tahiyah ( ) adalah penghormatan. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah SWT :

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. (QS. An-Nisa : 86)

Dan firman Allah SWT yang lainnya :

Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. (QS. AnNuur : 61)

2. Istilah Sedangkan secara istilah dalam ilmu fiqih, shalat tahiyatul masjid adalah shalat yang bertujuan sebagai penghormatan atas keberadaan sebuah masjid. Lebih lengkapnya tentang pengertian shalat tahiyatul masjid adalah :

Shalat sunnah yang disyariatkan khusus ketika seseorang memasuki masjid, selain masjid Al-Haram, dengan niat berdiam di dalam masjid bukan sekedar lewat, dalam keadaan berwudhu.

544

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Dari definisi di atas, setidaknya ada beberapa unsur utama dalam shalat tahiyatul masjid, yaitu ; Shalat sunnah 2 rakaat Dikerjakan di dalam masjid, ketika seseorang masuk ke dalamnya Bukan Majid Al-Haram, karena penghormatan untuk masjid Al-Haram bukan dengan shalat melainkan dengan bertawaf tujuh putaran Dengan niat untuk berdiam di dalam masjid, bukan sekedar lewat Masuk masjid dalam keadaan berwudhu

B. Masyruiyah Para ulama sepakat bahwa shalat sunnah khusus untuk menghormati masjid (tahiyatul masjid) adalah ibadah shalat sunnah yang disyariatkan dalam agama Islam. Ada banyak dalil yang mendasari adanya shalat tahiyatul masjid ini. 1. Hadits Pertama Sabda Rasulullah SAW

Bila salah seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, janganlah duduk sebelum shalat dua rakaat. (HR. Bukhari Muslim)

2. Hadits Kedua Rasulullah SAW pernah memerintahkan salah seorang jamaah shalat Jumat, yaitu Sulaik Al-Ghathafani radhiyallahuanhu yang masuk ke masjid langsung duduk mendengarkan khutbah untuk terlebih dahulu mengerjakan dua rakaat shalat tahiyatul masjid.


545

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Berdirilah kamu wahai Sulaik, lakukan shalat dua rakaat dan tunaikanlah keduanya dengan ringan. (HR. Muslim)

C. Hukum Meski secara umum shalat tahiyatul masjid hukumnya sunnah, tetapi kalau kita telusuri literatur secara lebih jauh, kita juga menemukan beberapa pendapat yang berbeda. Selain pendapat utama yang mengatakan sunnah, juga ada yang berpendapat tidak disunnahkan untuk khatib Jumat, dan haram bagi yang berjanabah, serta pendapat yang mengatakan boleh diganti dengan dzikir. 1. Sunnah Atas dasar hadits shahih di atas ini maka jumhur ulama menyebutkan bahwa siapa saja dari kalangan muslimin yang memasuki masjid dalam keadaan suci dari hadats, untuk mengerjakan shalat sunnah dua rakaat penghormatan atas masjid yang agung dan mulia kedudukannya dalam syariat Islam. Dan para ulama juga sepakat bahwa shalat tahiyatul masjid ini tetap berlaku kesunnahannya, meski pun dilakukan para waktu-waktu yang dimakruhkan atau diharamkan untuk shalat, seperti ketika selesai shalat shubuh, matahari terbit, matahari tepat berada di atas kepala, selesai mengerjakan shalat Ashar, dan pada saat matahari sedang dalam proses terbenam. Sebab jumhur ulama mengatakan bahwa terlarangnya mengerjakan shalat pada lima waktu itu hanya sebatas untuk mengerjakan shalat sunnah mutlak, yang tidak ada sebabnya secara khsus. Sedangkan bila ada penyebab atau 'illat untuk mengerjakan jenis shalat sunnah tertentu, maka hukumnya tidak terlarang. Dan masuk ke dalam masjid adalah salah satu dari sebab disyariatkannya shalat tahiyatul masjid. Oleh karena itu meski dikerjakan di kelima waktu yang terlarang itu, hukumnya tetap sunnah dan dibenarkan. 2. Tidak Disunnahkan Buat Khatib Jumat

546

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Sebagian ulama menyebutkan bahwa di antara kesunnahan bagi khatib Jumat adalah langsung naik mimbar begitu masuk ke dalam masjid tanpa harus mengerjakan shalat tahiyatul masjid lagi. Hal itu mengingat bahwa dahulu Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian itu, yaitu keluar dari rumah beliau dan masuk masjid langsung naik ke atas mimbar untuk menyampaikan khutbah. Beliau SAW diriwayatkan tidak melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum naik mimbar. 3. Haram Bagi Yang Janabah Sedangkan mereka yang tidak dalam keadaan suci dari hadats, dibolehkan lewat saja di dalam masjid tanpa disyariatkan untuk sekedar shalat. Sebagaimana firman Allah SWT :


kecuali hanya lewat saja sampai mandi janabah (QS. An-Nisa : 43)

Larangan yang berlaku bagi orang yang sedang dalam keadaan berjanabah atau berhadats besar adalah berdiam di dalam di dalam masjid untuk waktu yang lama. Sedangka bila masuk hanya untuk sekedar melewati saja, maka tidak terlarang. 3. Boleh Diganti Dengan Zikir Sedangkan bagi mereka yang tidak mampu atau tidak memungkinkan atasnya untuk shalat tahiyatul masjid saat memasukinya, boleh diganti dengan membaca ddzikir sebagai berikut :


Maha suci Allah, segala puji untuk Allah. Tidak ada tuhan selain

547

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Allah. Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Namun syariat shalat tahiyat al-masjid ini hanya berlaku di selain masjid Al-Haram Mekkah. Adapun masjid Al-Haram di Mekkah, yang disyariatkan bila kita memasukinya bukan shalat sunnah, melainkan disyariatkan untuk melakukan tawaf sunnah di sekeliling Kabah sebanyak tujuh putaran. D. Waktu Pelaksanaan Shalat 1. Sebelum Duduk Shalat tahiyatul masjid sesungguhnya disyariatkan untuk dikerjakan ketika seseorang masuk ke dalam masjid, sebelum duduk, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Utamanya shalat sunnah dua rakaat tahiyat masjid ini dilakukan ketika masuk ke dalam masjid, sebelum duduk atau mengerjakan berbagai aktifitas di dalam masjid, seperti shalat fardhu, beriktikaf, membaca Al-Quran atau pun hal-hal lain yang dibolehkan. 2. Tetap Disunnahkan Meski Terlanjur Duduk Namun apabila karena suatu hal, lupa atau sengaja, sudah terlanjur duduk dan belum sempat melakukan shalat tahiyatul masjid, apakah masih disyariatkan juga untuk melakukannya? Para ulama mengatakan bahwa seseorang yang sudah terlanjur duduk di dalam masjid sebelum sempat melakukan shalat tahiyatul masjid, masih tetap disyariatkan untuk melakukannya. Dasarnya adalah hadits Sulaik yang terkenal itu :

Sulaik Al-Ghthafani radhiyallahuanhu masuk ke dalam masjid ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Beliau SAW bersabda,Berdirilah kamu wahai Sulaik, lakukan shalat dua

548

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

rakaat dan tunaikanlah keduanya dengan ringan. (HR. Muslim)

E. Keluar Masuk Masjid Berulang-Ulang Semua ulama telah sepakat tentang disyariatkannya shalat sunnah tahiyatul masjid ini. Namun mereka berbeda pendapat jika seseorang memang keluar masuk masjid berulang-ulang, apakah tiap masuk masjid disunnahkan untuk melakukan shalat tahiyat ini, ataukah cukup sekali saja dilakukan. 1. Cukup Sekali Sehari Menurut pendapat mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah, serta sebuah pendapat yang agak berbeda dari ulama AsySyafiiyah, seseorang yang bolak balik masuk ke dalam masjid, tidak lagi disunnahkan untuk terus menerus melakukan shalat tahiyatul masjid. Misalnya seorang yang bekerja di dalam masjid, misalnya seorang arsitek, petugas kebersihan, atau pegawai masjid yang memang ruang kantornya berada di dalam masjid. Bagi mereka ini, shalat tahiyat masjid hanya berlaku sekali saja dalam sehari, yaitu ketika awal pertama kali di hari itu memasuki masjid. 2. Berulang-ulang Sebaliknya, dalam pendapat yang resmi dari mazhab AsySyafiiyah, meski seseorang bolak-balik masuk masjid, tetap saja disunnahkan untuk melakukan shalat tahiyatul masjid, meski dia berulang-ulang melakukannya. 1 Dalam hal ini tentu hukumnya bukan wajib, melainkan hanya sunnah saja, karena pada dasarnya shalat tahiyatul masjid sendiri hukumnya memang sunnah. Artinya, kalau seseorang mau melakukannya, tidak ada larangan, karena judul besar shalat tahiyatul masjid adalah menghormati saat memasuki masjid, maka meski bolak-balik keluar masuk masjid, tetap disyariatkan untuk melakukannya.
1

Raudhah Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 332

549

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bahkan seandainya ada dua atau lebih masjid yang berdekatan, tiap masuk ke dalam satu masjid disunnahkan untuk melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid. Katakanlah di Palestina tempat keberadaan Masjid AlAqsha, hanya beberapa meter dari bangunan Masjid Al-Aqsha itu terdapat masjid Umar bin Al-Khatttab. Padahal keduanya berdiri dalam satu halaman. Namun karena hitungannya ada dua masjid, tiap masuk ke salah satu masjid, tetap disyariatkan untuk mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid untuk masing-masing masjid.2 F. Saat Imam Berkhutbah Yang sering menjadi bahan perdebatan di kalangan ulama dan juga orang-orang awam adalah bila seseorang masuk ke dalam masjid ketika imam sedang berkhutbah. Pertanyaannya, apakah dia sebaiknya shalat dua rakaat tahiyatul masjid, ataukah dia langsung duduk mendengarkan khutbah imam? 1. Tidak Perlu Tahiyatul Masjid Dalam pandangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah, dalam kasus itu sudah tidak lagi disyariatkan untuk shalat sunnah tahiyatul masjid, tetapi sebaiknya langsung duduk mendengarkan khutbah imam. Sebab dalam pandangan mereka, mendengarkan khutbah imam hukumnya wajib, sedangkan shalat tahiyatul masjid hukumnya sunnah. Maka dalam hal ini, ibadah yang sunnah dikalahkan dengan ibadah yang wajib.


Dengarkanlah dan perhatikanlah (QS. Al-Araf : 204)

Para ulama yang sepakat dengan pendapat ini antara lain Asy-Syuraih, An-Nakhai, Al-Laits, Qatadah, Ats-Tsauri, Ibnu
2

Al-Qalyubi jilid 2 hal. 215

550

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Sirin dan lain-lainnya. 2. Shalat Tahiyatul Masjid Terlebih Dahulu Sedangkan pendapat mazhab Asy-Syafiiyah dan AlHanafiyah justru terbalik. Dalam pandangan mereka, bila seseorang masuk masjid saat imam sedang berkhutbah, tetap saja yang harus didahulukan adalah shalat tahiyatul masjid. Bukan berarti tidak mendengarkan khutbah, namun memang begitulah dahulu Rasulullah SAW memberi petunjuk, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

:
Berdirilah kamu wahai Sulaik, lakukan shalat dua rakaat dan tunaikanlah keduanya dengan ringan. Kemudian beliau bersabda, Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua rakaat, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan. (HR. Muslim)

Bahkan sebenarnya kalau melihat kasusnya, saat itu Sulaik sebenarnya sudah duduk mendengarkan khutbah Rasulullah SAW, tetapi justru Rasulullah SAW sendiri yang meminta Sulaik untuk berdiri dan mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid terlebih dahulu. Pendapat ini juga didukung oleh para ulama besar seperti Ibnul Mundzir, Al-Hasan, Ibnu Uyainah, Makhul, Ishaq, Abu Tsaur dan lainnya.3 G. Apakah Disunnahkan Untuk Selain Masjid Beredar pertanyaan dan berdebatan panjang di tengah umat Islam tentang hukum mengerjakan shalat tahiyat ini, namun bukan ketika masuk ke dalam masjid, melainkan ke dalam mushalla, atau ruangan yang secara khusus memang disediakan
3

Badai Ash-Shanai, jilid 1 hal. 264

551

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

untuk shalat. Intinya apakah ada masyru'iyah untuk mengerjakan tahiyatul masjid, ataukah tidak berlaku karena hukumnya bukan masjid? Dalam hal ini kita menemukan dua pendapat yang berbeda. Pertama menyatakan boleh dan berlaku hukum mengerjakan shalat tahiyatul masjid di mushalla. Kedua, pendapat yang mengatakan tidak disyariatkan. 1. Disunnahkan Mereka yang berpendapat disunnahkan mendasarkan pendapatnya pada keumuman makna masjid itu sendiri. Bahwa dalam terminologi fiqih, yang disebut masjid adalah tempat shalat secara umum, sebagimana sabda Rasulullah SAW :
s :

Dari Abi Umamah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda"Telah dijadikan tanah seluruhnya untukkku dan ummatku sebagai masjid dan pensuci. Dimanapun shalat menemukan seseorang dari umatku maka dia punya masjid dan media untuk bersuci. (HR. Ahmad)

Selain itu juga mereka mengatakan meski di tengah masyarakat tempat shalat yang dikhususkan itu sering disebut mushalla, namun secara kenyataan tempat itu sudah memiliki hukum sebagai masjid. Setidaknya-tidaknya mushalla itu punya beberapa kesamaan dengan masjid, misalnya : Mushalla itu sudah berstatus waqaf Muhsalla itu digunakan oleh umat Islam (masyarakat) untuk shalat lima waktu berjamaah. Meski pun mushalla itu tidak menyelenggarakan shalat Jumat, namun sesungguhnya hukumnya sudah sama dengan

552

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

masjid. Oleh karena itu ketika masuk ke mushalla yang seperti itu, tetap disunnahkan tahiyatul masjid. 2. Tidak Disunnahkan Pendapat yang mengatakan tidak disunnahkan shalat tahiyatul masjid di dalam mushalla, melandaskan pendapatnya pada ketentuan bahwa shalat itu semata-mata dikerjakan hanya untuk menghormati masjid dalam arti yang sesungguhnya. Dan batas antara masjid dan bukan haruslah batas yang mudah dipahami oleh orang awam, tidak perlu masuk terlalu jauh ke dalam pembahasan yang masih menyisakan berbedaaan pendapat. Menurut pendapat ini, kalau masyarakat di sekitar masjid itu, atau jamaah di tempat itu ditanya, bangunan ini masjid atau bukan, lalu mereka menjawab bahwa bangunan itu bukan masjid, maka jelas sekali bahwa bangunan itu bukan masjid. Dan kalau bukan masjid, otomatis kita tidak disunnahkan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Alasannya, karena syariat Islam tidak pernah memerintahkan shalat tahiyatul mushalla. Sebaliknya, apabila masyarakat setempat, atau jamaah di tempati itu menyebut bahwa tempat shalat mereka adalah masjid, atau setidak-tidaknya ada papan nama yang menyebutkan bahwa bangunan ini masjid, maka kita ikuti saja bahwa bangunan itu memang masjid. Dan oleh karena itu, disunnahkan hukumnya untuk mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid di dalamnya. H. Tahiyat Dua Masjid Haram Kita mengernal ada dua masjid Al-Haram di tanah suci tempat tinggal Nabi SAW, yaitu Masjid Al-Haram Mekkah dan Masjid Al-Haram Madinah. Masing-masing punya hukum yang berbeda dengan masjid-masjid lain pada umumnya. 1. Masjid Al-Haram Mekkah

553

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Jumhur fuqaha sepakat bahwa orang yang tiba di Kota Mekkah ketika masuk ke dalam masjid Al-Haram Mekkah, tidak disunnahkan untuk mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid. Dan sebagai gantinya, yang disunnahkan adalah melakukan tawaf tujuh putaran. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

Rasulullah SAW ketika tiba di kota Mekkah, beliau berwudhu kemudian melakukan thawaf di Kabah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun para ulama menegaskan bahwa ketentuan kesunnahan tawaf pada setiap masuk Masjid Al-Haram ini tidak berlaku mutlak. Ada beberapa pengecualian, yaitu : 1. Penduduk Mekkah Disunnahkannya tawaf sebagai ganti shalat tahiyatul masjid ini berlaku khusus hanya buat orang-orang yang tidak tinggal di Mekkah. Sedangkan buat mereka yang mukim di Mekkah, bila masuk masjid Al-Haram, disunnahkan cukup mengerjakan shalat tahiyatul Masjid dua rakaat. Dalam hal ini Ibnu Al-Abbas radhiyallahuanhu berfatwa :

Tawaf itu disyariatkan untuk penduduk Iraq, sedangkan penduduk Mekkah disyariatkan shalat.

Beberapa ulama lainnya sepertiAtha juga sependapat dengan hal tersebut di atas. 4 Sehingga dalam hal ini ada yang berpendapat bahwa meski kita bukan penduduk Mekkah asli, namun kalau kita sudah beberapa hari tinggal dan menetap disana, maka sudah tidak
Raudhatut Thalibin, jilid 3 hal. 76-78

554

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 2 : Shalat Tahiyatul Masjid

lagi disunnahkan untuk melakukan tawaf setiap kali masuk ke Masjid. 2. Tidak Ada Udzur Kesunnahan tawaf tujuh ali putaran setiap masuk masjid AlHaram hanya berlaku bila tidak ada udzur yang menghalangi. Sedangkan bila seseorang mendapatkan udzur dalam dirinya, seperti sakit, tidak mampu karena faktor usia, tidak kuat karena terlalu lelah, maka sebagai gantinya boleh dilakukan shalat tahiyatul masjid dua rakaat. Terlalu berdesakan di tempat tawaf juga bisa dijadikan sebab untuk tidak perlu melakukan tawaf ketika masuk Masjid. 2. Masjid Al-Haram Madinah Khusus untuk orang yang masuk ke dalam masjid AlHaram An-Nabawi di Madinah Al-Munawwarah, disunnahkan untuk menuju ke Raudhah yang terletak antara maqam Nabi Saw dan mimbar, lalu mengerjakan shalat tahiyatul masjid dua rakaat. Kemudian setelah itu disunnahkan untuk ziarah atau mendatangi kubur Nabi SAW dan mengucapkan salam dengan lafadz :


Salam sejahtera untukmu wahai Rasulullah Kemudian mengucapkan salam juga kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahuanhuma. Karena keduanya juga dikuburkan bersebelahan dengan jasad Rasulullah SAW. Tentu kesunnahan ini hanya berlaku bila dimungkinkan untuk melakukannya, mengingat biasanya Raudhah selalu dipenuhi orang-orang dan amat berdesakan.

555

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 3 : Shalat Tarawih

Bab 3 : Shalat Tarawih

Ikhtishar
A. Pengertian B. Tarawih Bukan Tahajjud C. Jumlah Rakaat
1. Dua Puluh Rakaat 2. Tidak Ada Batasan 3. Delapan Rakaat 4. Kajian Hadits 5. Dalil Rakaat Tarawih

D. Yang Dibaca Saat Tarawih E. Shalat Tarawih Sendirian di Rumah

A. Pengertian 1. Bahasa Secara bahasa, kata tarawih ( )adalah bentuk jama' dari bentuk tunggalnya, yaitu tarwihah (). Maknanya secara bahasa adalah istirahat. Tapi yang dimaksud adalah duduk dengan jeda waktu agak lama di antara rangkaian rakaat-rakat shalat itu. Di dalam Lisanul Arab disebutkan : Tarawih pada asalnya adalah nama untuk duduk yang mutlak. Duduk yang dilakukan setelah menyelesaikan 4 rakaat

557

Bab 3 : Shalat Tarawih

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

shalat di malam bulan Ramadhan disebut tarwihah, karena orang-orang beristirahat setiap empat rakaat. 1 2. Istilah Secara syariah, Al-Imam An-Nawawi menyebutkan definisi shalat tarawih di dalam kitab Al-Majmu' Syarah AlMuhadzdzab : Shalat sunnah yang hanya dilakukan pada malam bulan Ramadhan, dengan dua-dua rakaat, dimana para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya.2 B. Tarawih Bukan Tahajjud Shalat tarawih dikenal sebagai shalat yang dilakukan pada malam bulan Ramadhan. Dahulu Rasulullah SAW pernah melakukannya di masjid bersama dengan beberapa shahabat. Namun pada malam berikutnya, jumlah mereka menjadi bertambah banyak. Dan semakin bertambah lagi pada malam berikutnya. Sehingga kemudian Rasulullah SAW memutuskan untuk tidak melakukannya di masjid bersama para shahabat. Alasan yang dikemukakan saat itu adalah takut shalat tarawih itu diwajibkan. Karena itu kemudian mereka shalat sendiri-sendiri.

. : :
Dari Aisyah radhiyallahu 'anhu sesungguhnya Rasulullah SAW
1 2

Ibnul Mandzhur, Lisanul Arab jilid 2 madah () Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab jilid 4 hal. 30

558

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 3 : Shalat Tarawih

pada suatu malam pernah melaksankan shalat kemudian orangorang shalat dengan shalatnya tersebut, kemudian beliau shalat pada malam selanjutnya dan orang-orang yang mengikutinya tambah banyak kemudian mereka berkumpul pada malam ke tiga atau keempat dan Rasulullah SAW tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Dan di pagi harinya Rasulullah SAW berkata, Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat) bersama kalian kecuali bahwasanya akau khawati bahwa shalat tersebut akan difardukan. Rawi hadits berkata, "Hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan. (HR Bukhari 923 dan Muslim 761)

Hingga datang masa kekhalifahan Umar bin Khattab yang menghidupkan lagi sunnah Nabi tersebut seraya mengomentari,Ini adalah sebaik-baik bid'ah. Maksudnya bidah secara bahasa yaitu sesuatu yang tadinya tidak ada lalu diadakan kembali. Semenjak itu, umat Islam hingga hari ini melakukan shalat yang dikenal dengan sebutan shalat tarawih secara berjamaah di masjid pada malam Ramadhan. Adapun tahajjud atau qiyamullail adalah shalat yang biasa dilakukan Rasulullah SAW baik di malam Ramadhan atau diluar Ramadhan. Dan shalat itu bukan shalat tarawih itu sendiri. Maka dapat disimpulkan bahwa pada malam Ramadhan, Rasulullah SAW shalat tarawih di awal malam bada isya lalu tidur dan pada akhir malam beliau melakukan shalat tahajjud atau qiyamul-lail hingga sahur. Nampaknya hal itu pula yang hingga kini dilakukan oleh sebagian umat Islam di berbagai belahan dunia.

:
Dari Aisyah rahiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat shalat di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan. Beliau shalat 4 rakaat,

559

Bab 3 : Shalat Tarawih

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat lagi dan jangan juga ditanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. (HR. Bukhari)

Hadits ini secara eksplisit meyebutkan bahwa shalat 11 rakaat ini dilakukan baik di dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Maka dalil ini bukan dalil shalat tarawih. Dan pernyataan bahwa shalat di luar Ramadhan disebut tahajjud dan kalau di dalam Ramadhan namanya tarawih adalah pernyataan yang kurang tepat. Mengingat bahwa shalat tarawih punya dalil tersendiri di luar hadits Aisyah ini. C. Jumlah Rakaat Sejak zaman dahulu umat Islam seringkali disibukkan dengan perdebatan tentang jumlah rakaat shalat tarawih. Ada yang berpendapat 20 rakaat plus tiga rakaat witir, ada yang berpendapat 8 rakaat plus 3 rakat witir. Bahkan ada juga yang melakukannya dengan 36 rakaat, atau tidak membatasi jumlahnya. 1. Dua Puluh Rakaat Para pemuka ilmu fiqih Islam yang sudah sampai level mujtahid mutlak, yaitu jumhur (mayoritas) ulama, baik dari mazhab Al-Hanafiyah, sebagian kalangan mazhab Al-Malikiyah, mazhab Asy-Syafiiyah dan mazhab Al-Hanabilah telah berijma bahwa shalat tarawih itu berjumlah 20 rakaat. 3 Pendapat 20 rakaat ini juga didukung oleh Ad-Dasuki yang mengatakan bahwa para shahabat dan tabiin seluruhnya melakukan shalat tarawih 20 rakaat.4 Ibnu Abidin mengatakan bahwa shalat tarawih 20 rakaat adalah amalan yang dikerjakan oleh seluruh umat baik di barat maupun di timur. 5 Ali As-Sanhuri mengatakan bahwa shalat tarawih 20 rakaat
Badaius-shanai jilid 1 hal. 288 Hasyiyatu Ad-Dasuqi jilid 1 hal. 315 5 Raddul Muhtar jilid 1 hal. 474
3 4

560

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 3 : Shalat Tarawih

adalah amal yang dikerjakan oleh semua manusia dari masa lalu hingga masa kita sekarang ini di semua wilayah Islam.6 Sedangkan Al-Malikiyah menyebutkan bahwa jumlah rakaat shalat tarawih selain 20 rakaat adalah 36 rakaat. Al-Hanabilah mengatakan bahwa shalat tarawih 20 rakaat dilakukan di hadapan shahabat dan sudah mencapai kata ijma, dimana nash-nash tentang itu amat banyak.7 Al-Hanabilah juga mengatakan bahwa shalat tarawih jangan sampai kurang dari 20 rakaat, dan tidak mengapa bila jumlahnya lebih dari itu.8 Masjid Al-Haram di Mekkah dan masjid An-Nabawi di Madinah Al-Munawwarah sampai kini masih menerapkan shalat tarawih dengan 20 rakaat, sebagaimana disaksikan dan dikerjakan oleh semua jamaah umrah Ramadhan secara langsung. Pendiri perserikatan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, semasa hidup beliau juga melakukan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat, sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, MA. 9 Padahal umumnya warga Muhammadiyah telah diarahkan oleh Majelis Tarjihnya untuk mengerjakan shalat tarawih hanya 8 delapan rakaat. Hadhratus Syeikh KH. M. Hasyim Asyari pendiri Jamiyah Nahdhatul Ulama, juga melaksanakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat di masa hidupnya. 2. Tidak Ada Batasan Selain itu juga ada pendapat yang menyebutkan bahwa shalat tarawih tidak ada batasan jumlah rakaatnya, boleh dikerjakan berapun jumlahnya. Sebagaimana disebutkan oleh

Syarah Az-Zarqani jilid 1 hal. 284 Kasysyaf Al-Qina jilid 1 hal. 425 8 Mathalib Ulin Nuha jilid 1 hal. 563 9 Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan, Prof Ali Musthafa Yaqub, MA, hal. 70
6 7

561

Bab 3 : Shalat Tarawih

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

As-Suyuti.10 Ibnu Taimiyah juga tidak memberikan batasan minimal atau maksimal jumlah rakat tarawih. Beliau menganjurkan shalat tarawih dilakukan antara bilangan 10 hingga 40 rakaat.11 3. Delapan Rakaat Adapun shalat tarawih 8 rakaat plus witir 3 rakaat, tidak ada seorang ulama pun yang menyebutkannya dari kalangan salaf bahkan hingga sepanjang 14 abad ini sejarah Islam, kecuali pendapat orang-orang di akhir zaman, seperti Ash-Shanani (w.1182 H), Al-Mubarakfury (w. 1353 H) dan Al-Albani. Ash-Shanani Penulis Subulus-salam sebenarnya tidak sampai mengatakan shalat tarawih hanya 8 rakaat, beliau hanya mengatakan bahwa shalat tarawih itu tidak dibatasi jumlahnya. Sedangkan Al-Mubarakfury memang lebih mengunggulkan shalat tarawih 8 rakat, tanpa menyalahkan pendapat yang 20 rakaat. Tetapi yang paling ekstrim adalah pendapat Al-Albani yang sebenarnya tidak termasuk kalangan ahli fiqih. Dia mengemukakan pendapatnya yang menyendiri dalam kitabnya, Risalah Tarawih, bahwa shalat tarawih yang lebih dari 8 plus witir 3 rakaat, sama saja dengan shalat Dzhuhur 5 rakaat. Selain tidak sah juga dianggap berdosa besar bila dikerjakan. Sayangnya, pendapat Al-Albani yang bermasalah itu kemudian dijadikan rujukan satu-satunya dalam bertaqlid buta oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah, tanpa penelitian yang mendalam lewat ilmu kritik hadits. 4. Kajian Hadits Sebenarnya yang menjadi titik perbedaan para ulama tentang jumlah bilangan rakaat shalat tarawih adalah karena tidak ada hadits yang menyebutkan berapa jumlah rakaat shalat tarawih Rasulullah SAW yang meyakinkan secara mutlak.
10 11

Al-Mashabih fi shalatit-tarawih hal. 14-15 Majmu fatawa jilid 22 hal. 272

562

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 3 : Shalat Tarawih

Yang ada hanyalah hadits tentang jumlah rakaat yang shalat tarawih yang dilakukan oleh para shahabat seluruhnya saat shalat itu dihidupkan kembali di masa khilafah Umar bin AlKhattab. Dari sanalah umat Islam mengambil kesimpulan bahwa kalau seandainya para shahabat seluruhnya sepakat melakukan shalat tarawih di masa Umar dengan 20 rakaat, maka logikanya, jumlah itulah yang dulu digunakan oleh Rasulullah SAW. Sedangkan hadits yang menyebutkan secara langsung bahwa Nabi SAW melakukan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat bukan sekedar dhaif jiddan tapi sampai pada derajat mungkar, matruk dan maudhu. Teks hadits ini adalah dari Ibn Abbas, ia berkata:

Nabi SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan witir.

Hadis ini diriwayatkan Imam al-Thabrani dalam kitabnya al-Mujam al-Kabir. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman yang menurut Imam al-Tirmidzi, hadis-hadisnya adalah munkar. Imam al-Nasai mengatakan hadis-hadis Abu Syaibah adalah matruk. Imam Syubah mengatakan Ibrahim bin Utsman adalah pendusta. Oleh karenanya hadits shalat tarawih dua puluh rakaat ini nilainya maudhu (palsu) atau minimal matruk (semi palsu). Demikian pula hadits yang menyebutkan bahwa Rasululah SAW 8 rakaat dalam tarawih juga tidak kurang derajatnya dhaifnya dari yang 20 rakaat.

:
Rasulullah SAW mengimami kami shalat pada malam bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat dan witir.

563

Bab 3 : Shalat Tarawih

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Hadis ini diriwayatkan Jafar bin Humaid sebagaimana dikutip kembali lengkap dengan sanadnya oleh al-Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-Itidal dan Imam Ibn Hibban dalam kitabnya Shahih Ibn Hibban dari Jabir bin Abdullah. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Isa bin Jariyah yang menurut Imam Ibnu Main, adalah munkar al-hadits (hadis-hadisnya munkar). Sedangkan menurut Imam al-Nasai, Isa bin Jariyah adalah matruk (pendusta). Karenanya, hadits shalat tarawih delapan rakaat adalah hadits matruk (semi palsu) lantaran rawinya ternyata seorang pendusta yang haditsnya tidak boleh dipakai, harus ditinggalkan. Sayangnya, justru hadits inilah yang dijadikan oleh AlAlbani dalam menunjang pendapatnya bahwa shalat tarawih itu 8 rakaat. Padahal hadits ini oleh banyak ulama dipermasalahkan, lantaran ada perawi yang bernama Isa bin Jariah ini. Konon Al-Albani mengikuti pendapat Al-Mubarakfury, ulama dari India, dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi fi Syarh Jami AtTirmizy ketika menerima hadits Jabir ini sebagai hadits shahih. Alasan Al-Mubarakfury adalah bahwa hadits ini ada di dalam dua kitab shahih, yaitu shahih Ibnu Khuzaemah dan shahih Ibnu Hibban. Pendapat ini dikritisi oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar AlAsqalani, lantaran menurut beliau, Imam Ibnu Khuzaemah termasuk orang yang agak tasahul atau memudahkan dalam meloloskan keshahihan hadits. Sebenarnya tidak mentang-mentang suatu hadits tertulis di kedua kitab shahih itu, lantas dia sudah pasti 100% shahih. Lain halnya bila tercantum di dua kitab shahih Bukari dan Muslim, seluruh ulama telah berijma bahwa kedua kitab shahih itu menjadi jaminan bahwa semua hadits yang termaktub di dalamnya adalah hadits yang shahih. Sebaliknya, bila hanya tercantum di dalam shahih Ibnu Khuzaemah dan Ibnu Hibban, tidak selalu bisa dipastikan

564

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 3 : Shalat Tarawih

keshahihannya. Lepas dari perdebatan ini, pada intinya hadits Jabir yang dijadikan landasan oleh Al-Albani adalah hadits yang oleh banyak ulama dipermasalahkan derajatnya. Jadi bila disandarkan pada kedua hadits di atas, keduanya bukan dalil yang kuat untuk rakaat 8 atau 20 dalam tarawih. Namun, perlu diketahui, hal itu bukan berarti shalat delapan rakaat atau dua puluh rakaat itu tidak boleh. Sebab yang dibahas di sini adalah bahwa hadits shalat tarawih delapan rakaat dan hadits tarawih dua puluh rakaat itu kedua-duanya maudhu atau minimal matruk. Jadi shalat tarawih dengan delapan rakaat atau dua puluh rakaat, kedua-duanya boleh dilakukan karena tidak ada keterangan yang konkret tentang jumlah rakaat shalat tarawih Nabi. 5. Dalil Rakaat Tarawih Sedangkan hadits yang shahih dimana semua kalangan menerimanya secara bulat, sama sekali tidak menyebut jumlah rakaat shalat tarawih.
Siapa yang shalat pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah, maka allah akan mengampuni dosanya (yang kecil-kecil). (HR. Bukhari)

Dan khusus bagi yang menjalankan shalat tarawih adalah ijma atau konsensus para sahabat Nabi SAW, dimana pada masa Khalifah Umar bin al-Khattab, Ubay bin Kaab menjadi imam shalat tarawih dua puluh rakaat, dan tidak ada satu pun dari sahabat Nabi yang memprotes hal itu. D. Yang Dibaca Saat Tarawih Doa atau wirid yang dibaca diantara sela atau jeda di dalam rakaat-rakaat shalat tarawih sebenarnya tidak memiliki dasar masyru'iyah dari Rasulullah SAW. Baik wirid itu dalam bentuk doa atau dzikir atau syair-syair yang biasa dilantunkan oleh para jamaah, kesemuanya tidak ada kaitannya dengan apa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW maupun para

565

Bab 3 : Shalat Tarawih

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

shahabat. Sehingga bila anda mendapati di setiap shalat tarawih ada perbedan bacaan, karena memang tidak ada dasarnya, sehingga masing-masing penyelenggara shalat tarawih berimprovisasi sendiri-sendiri. Terkadang mereka meniru ucapan-ucapan dari tempat lain yang tidak mereka sendiri tidak tahu dasar masyru'iyahnya. Apalagi maknanya sehingga semua itu berlangsung begitu saja tanpa kejelasan hukumnya. Disinilah sesungguhnya kita umat Islam dituntut untuk belajar secara serius tentang praktek ibadah kita langsung dari sumber yang muktamad dan kepada para ulama yang faqih di bidangnya. E. Shalat Tarawih Sendirian di Rumah Shalat tarawih disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjamaah sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW . Adapun persolaan kenapa Rasulullah SAW selanjutnya tidak melaksanakan shalat tersebut secara berjamaah bersama para sahabat, berdasarkan sejumlah hadis, hal tersebut dilatar-belakangi kekhawatiran Rasulullah SAW bahwa shalat tarawih tersebut akan difardukan kepada kaum muslimin.
Dari Aisyah Ra sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam pernah melaksankan shalat kemudian orang-orang shalat dengan shalatnya tersebut, kemudian beliau shalat pada malam selanjutnya dan orang-orang yang mengikutinya tambah banyak kemudian mereka berkumpul pada malam ke tiga atau keempat dan Rasulullah SAW tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Dan di pagi harinya Rasulullah SAW berkata: Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat) bersama kalian kecuali bahwasanya akau khawati bahwa shalat tersebut akan difardukan Rawi hadits berkata: Hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan (HR. Bukhari Muslim)

Dan sekarang kekhawatiran tersebut telah hilang dengan wafatnya Rasulullah SAW setelah Allah SWT menyempurnakan syariat-Nya. Dengan demikian, hilang pula al-malul yaitu meninggalkan jamaah dalam qiyam ramadhan dan hukum yang

566

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 3 : Shalat Tarawih

terdahulu berlaku lagi yakni disyariatkanya shalat tersebut berjamaah sebagaimana yang dihidupkan kembali oleh Umar radhiyallahu 'anhu. Permasalahan selanjutnya apakah tarawih secara berjamaah adalah bidah? Sebelum kita membahas masalah tersebut, kita perjelas makna bidah terlebih dahulu. Sheikh Ali Mahfudz di dalam kitabnya Al Ibda' fi Madharil Ibtida' berkata bahwa bid'ah bisa ditinjau dari segi bahasa dan istilah. Dari segi bahasa ia bermakna: 'Segala sesuatu yang diciptakan dengan tidak didahului contoh-contoh' Sedangkan menurut istilah adalah sebagai berikut:'Bid'ah ialah suatu ibarat yang berkaitan dengan masalah-masalah agama. Dilakukannya menyerupai syariat dengan cara yang berlebihan dalam mengabdikan kepada Allah swt.' Dari definisi di atas, tidaklah tepat jika kita mengatakan bahwa shalat tarawih berjamaah setelah isya' adalah bid'ah karena beberapa alasan: Pertama: Shalat tarawih adalah termasuk shalat sunnah malam dan pelaksanaannya boleh dilaksanakan setelah pelaksanaan shalat isya sampai terbit fajar atau shalat shubuh. Meskipun memang waktu yang paling utama adalah sepertiga malam terakhir.
Zaid bin Wahab berkata: Abdullah pernah melaksanakan shalat qiyam Ramadhan bersama kami dan pulang di waktu malam (Ini menunjukkan pelaksanaannya di permulaan malam) (HR. Abdurrazaq)

Kedua: Sebagaimana kami kemukakan di atas, shalat tarawih disunnahkan dilaksanakan secara berjamaah sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan dihidupkan kembali oleh Umar radhiyallahu 'anhu Kemudian jika ada yang bertanya lebih afdhal mana shalat tarawih sendiri di sepertiga malam terakhir dengan shalat tarawih berjamaah bada isya? Husen Al-Uwaesyah mengutip perkataan Al-Bani berpendapat: Jika permasalah berkisar antara shalat di permulaan malam

567

Bab 3 : Shalat Tarawih

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

secara berjamaah dan shalat diakhir malam sendirian maka shalat secara berjamaah adalah lebih utama karena ia akan dihitung melaksanakan shalat sepanjang malam.12

12

Mausuah Al-Fiqh Al-Muyassarah jilid 2 hal. 149

568

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Itilah

B. Masyru'iyah
1. Al-Quran 2. As-Sunnah

C. Hukum Tahajjud
1. Wajib 2. Sunnah

D. Waktu Pelaksanaan
1. Sepertiga Malam 2. Akhir Malam

E. Tahajjud Berjamaah
1. Makruh 2. Tidak Makruh

F. Jumlah Rakaat
1. Ada Batasan Jumlah 2. Tidak Ada Batasan

G. Ketentuan Shalat Tahajjud


1. Dikerjakan Dengan Dua Rakaat 2. Memperpanjang Bacaan, Ruku' dan Sujud 3. Dimakruhkan Bila Hanya Pada Malam Jumat 4. Dikerjakan Setelah Shalat Isya 5. Diawali Dengan Tidur 6. Niat Tahajjud Sebelum Tidur

569

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

7. Tidur Di Awal Malam

A. Pengertian 1. Bahasa Secara bahasa, kata tahajjud ( )berasal dari kata hujud (). Menariknya, kata tahajjud punya dua arti sekaligus yang berlawanan, begadang dan tidur. Jadi bisa diterjemahkan menjadi begadang, tapi kadang bisa juga diterjemahkan menjadi tidur. Al-Azhari dalam Lisanul Arab menyatakan bahwa bila kita menyebut Al-Hajid ( )artinya adalah orang yang tidur. Sedangkan kalau kita sebut Al-Mutahajjid ( )artinya adalah orang yang bangun pada malam hari untuk ibadah.1 2. Istilah Sedangkan secara istilah syariat, tahajjud adalah :

Shalat tathawwu' pada malam hari setelah bangun dari tidur.2 Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Al-Hajjaj bin Amr radhiyallahuanhu :

:
Ada seorang diantara kalian yang mengira bila seseorang shalat di malam hari hingga shubuh, dia dikatakan sudah bertahajjud. Padahal tahajjud itu adalah seseorang melakukan shalat setelah bangun dari tidur.

1 2

Lisanul Arab pada materi () Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal. 127.

570

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 4 : Shalat Tahajjud

B. Masyru'iyah Shalat tahajjud disyariatkan dalam Islam berdasarkan dalildalil Al-Quran dan Sunnah. 1. Al-Quran Di dalam Al-Quran Al-Karim Allah SWT berfirman tentang masyruiyah shalat malam atau shalat tahajjud pada beberapa ayat yang berbeda.

Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) pada malam hari kecuali sedikit, yaitu setengahnya atau kurang dari itu sedikit. (QS. Al-Muzzammil : 1-3)

Ayat ini sebenarnya adalah ayat-ayat yang pertama kali turun sejak Rasulullah SAW diutus menjadi Nabi dan Rasul. Isinya adalah perintah shalat di malam hari. Para ulama menyebutkan bahwa sebelum turun perintah shalat lima waktu dalam peristiwa miraj ke Sidratil Muntaha, shalat malam termasuk shalat yang hukumnya wajib, baik bagi Rasulullah SAW mau pun buat para shahabat. Setelah kewajiban shalat lima waktu turun, maka shalat malam tidak dihapus masyruiyahnya, namun hanya dinasakh hukumnya dari yang awalnya wajib menjadi sunnah. Setelah itu ada lagi ayat lain yang menekankan tentang disyariatkannya shalat tahajjud di malam hari, dengan hukum nafilah atau sunnah, yaitu ayat yang terdapat di dalam surat AlIsra :

Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra' : 79).

2. Sunnah Sedangkan dasar masyruiyah dari sunnah Rasulullah SAW

571

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

cukup banyak, antara lain :

:
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam". (HR. Muslim)

Rasulullah SAW berdabda,


Hendaklah kalian bangun (shalat) malam karena itu kebiasaan orang-orang shalih di masa lalu. Dan bangun (shalat) malam itu menjadi qurbah bagi kalian kepada tuhan kalian, serta menjadi penghapus kesalahan-kesalahan, serta mencegah terjadinya dosa. (HR. Al-Hakim)

C. Hukum Tahajjud Para ulama sepakat bahwa buat kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW, shalat tahajjud itu hukumnya sunnah, bukan wajib. Sifatnya merupakan ibadah tambahan, sebagaimana AlQuran menegaskan bahwa shalat tahajjud itu hukumnya nafilah atau sunnah.


Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. (QS. Al-Isra' : 79).

Namun apa hukum shalat tahajjud buat pribadi Rasulullah SAW? Sebagian ulama berbeda pendapat dengan ulama yang lain. 1. Wajib Pendapat pertama mengatakan bahwa buat diri beliau SAW,

572

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 4 : Shalat Tahajjud

shalat tahajjud ini hukumnya wajib. Di antara yang berpendapat demikian antara lain Abdullah bin Al-Abbas radhiyallahu'anhu, sebagian pendapat di lingkungan mazhab Asy-Syafi'iyah, juga ikut sepakat dengan pendapat Ibnu Abbas ini. Dan tidak sedikti dari ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah berpendapat sama. Dasar kenapa shalat tahajjud ini hukumnya wajib buat Nabi SAW adalah ayat yang mewajibkan bangun malam adalah ayat berikut ini :

Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah (shalatlah) di sepanjang malam kecuali sedikit (QS. Al-Muzzammil : 1-2)

Dan juga ada hadits Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa hukum shalat malam buat beliau adalah fardhu.

Tiga perkara yang bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu' (sunnah), yaitu shalat witir (tahajjud), menyembelih udhiyah dan shalat dhuha. (HR. Ahmad dan AlHakim)

Sedangkan ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa shalat tahajjud itu nafilah, mereka tidak menafsirkannya sebagai sunnah, melainkan dengan makna tambahan. Artinya, shalat tahajjud itu shalat tambahan dari shalat yang wajib. 2. Sunnah Pendapat kedua menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat tahajjud. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Mujahid serta sebagian lain dari mazhab Asy-Syafi'iyah. Sebab perintahnya sudah dinasakh (dihapus) dengan adanya kewajiban shalat lima waktu. Sedangkan makna nafilah bukan

573

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

tambahan dari kewajiban, melainkan shalat sunnah yang bersifat tambahan. Sedangkan hadits di atas yang menyebutkan bahwa ada tiga hal yang membedakan Rasulullah SAW dengan umatnya adalah hadits yang dalam pandangan mereka merupakan hadits yang lemah (dhaif). D. Waktu Pelaksanaan Sesuai dengan namanya, shalat lail ini hanya sah dikerjakan di waktu malam, setelah mengerjakan shalat Isya sebelum masuk waktu Shubuh. Ada pun aktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat malam atau tahajjud ini ada beberapa hadits yang berbeda redaksinya, namun tetap mengacu kepada waktu yang sama. 1. Sepertiga Malam Terakhir Istilah sepertiga malam terakhir berdasarkan hadits berikut ini :

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Rabb kita akan turun setiap malam ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir. Dia pun berfirman:"Siapa yang berdoa pada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang minta pada-Ku, Aku akan memberinya dan siapa yang memohon ampunan pada-Ku, Aku akan mengampuninya. (HR. Bukhari, Muslim) Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda: Kalaulah tidak memberatkan umatku, aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) setiap kali wudhu dan aku akan mengakhirkan shalat Isya sampai sepertiga malam atau setengahnya. Dan apabila telah berlalu sepertiga malam atu setengahnya. Allah SWT turun ke langit

574

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 4 : Shalat Tahajjud

dunia, Dia pun berfirman,"Siapa yang berdoa pada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang minta pada-Ku, Aku akan memberinya dan barangsiap yang memohon ampunan pada-Ku, Aku akan mengampuninya. Adakah orang yang bertaubat sehingga pasti Aku menerima taubatnya (HR Ahmad)


Dari Abdullah bin Amr berkata: Rasulullah SAW berkata padaku,Shalat yang paling disenangi oleh Allah adalah shalat Daud, beliau tidur setengah malam dan shalat sepertiganya dan tidur seperenamnya. Sehari berpuasa dan sehari berbuka(HR Bukhari Muslim)

2. Akhir Malam Ada juga nash hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW shalat tahajjud di akhir malam, sebagaimana hadits berikut ini :
Dari Al-Aswad ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah RA; Bagaimana shalat Nabi SAW di waktu malam? Aisyah berkata: Beliau biasa tidur di awal malam dan bangun di akhir malam kemudian beliau shalat, kemudian beliau kembali ke tempat tidurnya. Apabila adzan telah berkumandang beliau bangkit. Jika beliau junub, beliau mandi jika tidak beliau hanya berwudhu (HR. Bukhari)

E. Tahajjud Berjamaah Kalau kita membolak-balik kitab-kitab fiqih dari setiap mazhab, maka kita mendapati bahwa ternyata para ulama memang berbeda pendapat tentang masalah shalat tahajuud berjamaah ini. Sebagian mereka memakruhkannya dan sebagian lagi membolehkannya. 1. Makruh Diantara pendapat yang memakruhkan shalat tahajjud

575

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

dengan berjamaah adalah para ulama dari kalangan AlHanafiyah dan Asy-Syafi'iyah. Mereka berpendapat bahwa ijtima' (berkumpulnya) manusia untuk menghidupkan malam hanya dibenarkan untuk shalat tarawih di bulan Ramadhan. Di luar itu menurut mereka disunnahkan melakukannya dengan secara sendiri sendiri. 2. Tidak Makruh Namun sebaliknya, para ulama dari kalangan Al-Hanabilah membolehkan untuk melakukan shalat tahajjud dengan cara berjamaah yang terdiri dari banyak orang. Meski demikian, mereka tetap membolehkan untuk melakukannya dengan sendiri-sendiri. Hal itu karena Rasulullah SAW pernah melakukannya dengan berjamaah dan juga pernah melakukannya dengan sendiri. Namun bila dihitug-hitung, memang benar bahwa frekuensi dimana Rasulullah SAW shalat tahajjud sendirian lebih banyak dibadingkan dengan berjamaah. Rasulullah SAW pernah melakukannya sekali dengan Huzaifah, sekali dengan Ibnu Abbas, dan sekali dengan Anas dan ibunya. Sehingga Al-Malikiyah memberikan kesimpulan bahwa bila jamaah shalat tahajjud itu tidak terlalu banyak dan bukan di tempat yang masyhur, hukumnya boleh tanpa karahah. Sedangkan bila ada dalil yang membidahkan untuk menghidupkan malam dengan shalat tahajjud berjamaah, maka hukumnya tidak dianjurkan. Seperti shalat tahajjud berjamaah pada malam nisfu syaban atau malam asyura. Sedangkan untuk membidahkannya, para ulama tidak ada yang sampai melakukannya, kecuali hanya memakruhkan saja. F. Jumlah Rakaat Tentang berapa jumlah rakaat dalam shalat tahajjud, ada yang disepakati oleh para ulama dan ada wilayah dimana untuk

576

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 4 : Shalat Tahajjud

mereka berbeda pendapat. Kalau bicara berapa jumlah minimal rakaat shalat tahajjud, umumnya para ulama sepakat bahwa sekurang-kurangnya shalat tahajjud itu adalah 2 rakaat yang ringan. Sebagaimana hadits berikut ini :

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Bila salah seorang kamu hendak melakukan shalat malam, bukalah dengan shalat 2 rakaat yang ringan (HR. Muslim)

Namun ketika bicara tentang jumlah rakaat maksimal, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa ada batasan jumlah rakaat, meski pun mereka berbeda pendapat tentang berapa jumlah rakaat yang dibatasi itu. Dan sebagian ulama lain mengatakan bahwa shalat tahajjud tidak ada batasan jumlah rakaatnya. 1. Ada Batasan Jumlah Rakaat Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat tahajjud dibatasi jumlah rakaatnya. Namun mereka yang berpendapat seperti itu berbeda pendapat tentang batasannya. Sebagian ulama mengatakan bahwa Rasulullah SAW diriwayatkan pernah shalat tahajjud dengan jumlah 13 rakaat. Dalilnya adalah hadits berikut ini :

Adalah Rasulullah SAW shalat malam dengan 13 rakaat (HR. Muslim)

Namun ada juga hadits yang menyebutkan bahwa beliau SAW shalat malam tidak lebih dari 11 rakaat, sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahuanha berikut ini :


577

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Beliau SAW (shalat malam) tidak pernah lebih dari 11 rakaat, baik di dalam bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan (HR. Bukhari)

Mazhab Al-Hanafiyah menyatakan bahwa shalat tahajjud maksimal boleh dikerjakan 8 rakaat dan tidak boleh lebih. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah menyatakan maksimal jumlah rakaatnya adalah 10 atau 12 rakaat.3 2. Tidak Ada Batasan Adapun mazhab Asy-Syafi'iyah tidak memberikan batas maksimal dalam masalah ini. Artinya, berapa pun jumlah rakaat tahajjud, asalkan kuat dan mampu, silahkan saja lakukan sebanyak-banyaknya dan selama-lamanya. Pendapat mazhab Asy-syafi'i ini didasarkan pada hadits berikut ini : bahwa

Shalat adalah sebaik-baik perbuatan, siapa yang mau silahkan menyingkatnya dan siapa yang suka silahkan memanjangkannya (HR. Ahmad)

G. Ketentuan Shalat Tahajjud Ada beberapa ketentuan dalam melakukan shalat tahajud, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-haditsnya, antara lain : 1. Dikerjakan Dengan Dua Rakaat Lepas dari perbedaan berapa jumlah rakaatnya, namun beliau SAW melakukan shalat malam dengan dua rakaat dua rakaat.


Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)
3

Al-Fawakih Ad-Dawani jilid 1 hal. 234

578

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Meski disebutkan empat rakaat, tetapi maksudnya adalah dua rakaat diselingi salam lalu diteruskan lagi dua rakaat, sehingga nampak seperti empat rakaat. 2. Memperpanjang Bacaan Quran, Ruku' dan Sujud Umumnya para ulama baik Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa amat dianjurkan dan disunnahkan dalam shalat malam itu untuk memperpanjang bacaan ayat Al-Quran. Hal ini lebih utama dibandingkan memperbanyak jumlah rakaatnya. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW :


Shalat (malam) yang paling afdhal adalah yang panjang berdirinya. (HR. Muslim)

Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahuanhu pernah menceritakan bagaimana panjangnya bacaan Rasulullah SAW dalam shalat malam :

.
Aku mendatangi Nabi SAW pada suatu malam di bulan
579

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Ramadhan. Maka, beliau pun berdiri untuk shalat. Ketika takbir, beliau membaca; Allaahu akbar, dzul malakuuti wal jabaruuti wa kibriyaa`i wal azhamah. Kemudian beliau membaca surat Al-Baqarah, lalu surat An-Nisa, lalu surat Ali Imran. Beliau tidak melalui ayat ancaman melainkan berhenti sejenak. Kemudian beliau ruku. Beliau membaca subhaana rabbiyal azhim (yang lamanya) seperti saat berdiri. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan membac samiallaahu liman hamidah, rabbanaa lakal hamdu, seperti saat berdiri. Kemudian beliau sujud dan membaca subhaana rabbiyal alaa, seperti saat berdiri. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan membaca rabbighfirlii, sama seperti ketika berdiri (lamanya). Kemudian beliau sujud lagi. Beliau membaca subhaana rabbiyal alaa, seperti saat berdiri. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan berdiri. Beliau tidak shalat selain hanya dua rakat sampai datang Bilal yang mengumandangkan adzan untuk shalat. (HR. Ahmad)

Namun ada juga yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah memanjangkan atau memperlama ruku' dan sujud. Hal ini merukan satu wajah dari pendapat mazhab Al-Hanabilah. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW


Hendaklah kalian memperbanyak sujud, karena tidaklah seorang di antara kamu sujud kecuali Allah naikkan satu derajat dan Allah hapuskan satu kesalahannya. (HR. Muslim)

3. Dimakruhkan Bila Hanya Pada Malam Jumat Shalat tahajjud dimakruhkan hukumnya bila seseorang mengkhususkan untuk mengerjakannya hanya tiap malam Jumat saja. Dasarnya adalah hadits shahih riwayat Al-Imam Muslim, yang berisi larangan Rasulullah SAW atas hal itu :


Janganlah kalian mengkhususkan melakukan shalat malam hanya pada malam Jumat saja. (HR. Muslim)

580

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 4 : Shalat Tahajjud

4. Dikerjakan Setelah Shalat Isya Shalat tahajjud adalah shalat malam, yang tidak sah dikerjakan bila belum melakukan shalat Isya' terlebih dahulu. Sebagaimana juga shalat tarawih, tidak sah bila belum dilakukan shalat Isya'. Maka shalat Isya' menjadi syarat dibolehkannya shalat tahajjud dan shalat-shalat malam lainnya. 5. Diawali Dengan Tidur Shalat tahajjud amat dianjurkan dikerjakan setelah bangun dari tidur di malam hari. Dan memang waktu yang paling utama dilakukan di bagian akhir malam. Meski pun hukumnya tetap boleh dikerjakan bila belum tidur, namun yang afdhal dan disepakati ulama adalah bila dikerjakan setelah bangun pada malam hari. Di antara hikmah tidur terlebih dahulu sebelum melakukan tahajjud adalah agar keesokan harinya kita tidak mengganti siang dengan tidur sepanjang hari, sebagaimana yang sering terjadi di tengah kita. Kebiasaan mengadakan acara mabit atau itikaf bersama di masjid, dengan melek semalam suntuk, tentu bukan hal yang disunnahkan, kalau judulnya mau mengerjakan shalat tahajjud. Yang disunnahkan adalah tidur terlebih dahulu di awal malam. 6. Niat Tahajjud Sebelum Tidur Dianjurkan sebelum pergi tidur, berniat untuk bangun malam dan shalat tahajjud. Sebab bila seseorang sudah berniat di dalam hati, biasanya akan lebih mudah bangun malam. Bahkan meski pun ternyata dia dikalahkan oleh rasa kantuknya, tetap saja Allah telah mencatatkan pahala niat untuknya.

Siapa yang mendatangi tempat tidurnya sambil berniat untuk

581

Bab 4 : Shalat Tahajjud

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

bangun shalat malam, lalu kedua matanya mengalahkannya hingga shubuh, telah dicatat baginya apa yang dia niatkan. Sedangkan tidurnya itu merupakan sedekah dari Allah SWT atasnya. (HR. An-Nasa'i dan Al-Hakim)

Tetapi perlu diperhatikan bahwa yang namanya seseorang berniat untuk bangun shalat malam, bukan asal niat dan asal punya keinginan. Niat itu ada konsekuensi yang juga harus dipenuhinya, agar niatnya itu tidak dirusak dengan aktifitas tertentu. Di antara konsekuensi dari niat untuk bangun shalat malam adalah tidur sejak awal malam. 7. Tidur Di Awal Malam Orang yang tidur larut malam, bahkan hingga lewat tengah malam tetapi belum tidur juga, sementara dia mengaku telah berniat untuk bangun shalat malam, sebenarnya telah menyalahi niatnya sendiri. Sebab secara secara biologis, tubuhnya pasti akan menuntutnya tidur. Dan tubuh itu punya hak untuk istirahat. Sedangkan memaksakan diri untuk bangun malam sementara tubuhnya terlalu lelah secara fisik, lalu shalat sambil mengantuk, hilang konsentrasi atas apa yang dibacanya, tentu bukan cara yang bijak. Secara matematis, bila seorang mulai tidur seusai mengerjakan shalat Isya', misalnya jam 19.30, maka bila dia bangun jam 03.00 dini hari, berarti tubuhnya telah mendapatkan hak yang sempurna, karena dia telah tidur tidak kurang dari 8 jam. Sudah amat lebih dari cukup. Maka bila seseorang shalat tahajjud mulai sejak jam 03.00 hingga jam 04.30 masuk waktu shubuh, dia telah bertahajjud tidak kurang dari 1,5 jam lamanya. Sungguh sebuah shalat yang cukup lama durasinya, namun badan tetap segar dan sehat. Rasulullah SAW adalah orang yang tidak suka berbicara bila telah selesai menunaikan shalat Isya'. Itu berarti bahwa beliau memang tidur di awal malam, agar bisa bangun dengan fisik yang segar di akhir malam. Kalau pun beliau menunda shalat

582

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 4 : Shalat Tahajjud

: -
Dari Abi Bazrah Al-Aslami berkata,Dan Rasulullah suka menunda shalat Isya, tidak suka tidur sebelumnya dan tidak suka mengobrol sesudahnya. (HR. Bukhari Muslim)

Isya' tentunya tidak sampai akhir malam.

Rasulullah SAW bersabda :


Tidurlah lalu bangunlah. Sesungguhnya ada kewajiban atasmu memberikan hak kepada tubuhmu, hak kepada matamu, hak kepada istrimu. (HR. Al-Bukhari)

Sayangnya, isyarat dari Rasuulllah SAW untuk bertahajjud secara sehat ini kurang banyak dipahami orang. Yang terjadi justru sebaliknya, orang-orang yang ingin mengerjakan shalat tahajjud, ramai-ramai begadang sampai larut malam, kadang sampai lewat jam 12 malam. Lalu pada jam 02.30 dibangunkan dengan paksa. Sebab tubuh baru saja menikmati istirahatnya dan belum tuntas, tibatiba sudah dipaksa untuk bangun. Memang kalau niatnya amat kuat, bisa saja tubuh itu dipaksa sedemikian rupa, tetapi yang menjadi parah adalah akibatnya keesokan harinya. Karena kurang tidur, badan jadi lemas, terus menerus mengantuk, dan seringkali sehabis shalat shubuh tidur lagi hingga siang hari. Padahal tidur panjang di siang hari bukan waktu yang tepat untuk istirahat.

583

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 5 : Shalat Witir

Bab 5 : Shalat Witir

Ikhtishar
A. Pengertian
1. Bahasa 2. Istilah

B. Masyruiyah C. Waktu Shalat Witir D. Sudah Terlanjur Witir E. Jumlah Rakaat


1. Jumlah Minimal 2. Jumlah Maksimal

F. Teknis Pengerjaan Shalat Witir


1. Cara Pertama 2. Cara Kedua 3. Cara Ketiga

G. Qunut Witir
1. Wajib 2. Bid'ah 3. Sunnah

A. Pengertian 1. Bahasa
) dalam bahasa Arab berarti ganjil lawan dari Kata witir ( genap. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

585

Bab 5 : Shalat Witir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Sesungguhnya Allah SWT itu ganjil dan menyukai bilangan ganjil. (HR. Bukhari Muslim)

2. Istilah Sedangkan secara istilah dalam ilmu fiqih, shalat witir itu didefinisikan sebagai :


Disebut dengan shalat witir karena dikerjakan dengan jumlah rakaat yang ganjil, baik satu rakaat, atau tiga rakaat atau lima rakaat hingga sebelas rakaat.

Shalat yang dikerjakan di antara shalat Isya dan terbitnya fajar dan menjadi penutup dari rangkaian shalat malam.

Para ulama berbeda pendapat tentang status shalat witir, apakah shalat witir itu bagian dari shalat tahajjud atau shalat malam, ataukah shalat witir itu adalah ibadah shalat yang berdiri sendiri. Bahkan para ulama di dalam mazhab Asy-Syafiiyah sendiri pun berbeda pandangan. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menegaskan pendiriannya bahwa shalat witir adalah bagian dari shalat tahajjud. Beliau mengatakan hal itu dengan berhujjah kepada kitab Al-Umm karya Al-Imam Asy-Syafii langsung, dan juga sebagaimana tertera dalam kitab Al-Mukhtashar. Namun satu wajah dari pendapat di kalangan mazhab AsySyafiiyah menegaskan bahwa shalat witir adalah shalat yang berdiri sendiri, di luar dari shalat tahajjud atau shalat malam.1 B. Masyruiyah Jumhur ulama sepakat bahwa hukum shalat witir ini adalah sunnah muakkadah dan bukan shalat yang hukumnya wajib. Sebab shalat yang wajib itu hanya ada lima, yaitu Dzhuhur,
1

Al-Imam An-Nawawi, Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal. 480

586

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 5 : Shalat Witir

Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Satu-satunya yang berbeda dengan pendapat dan menyendiri dalam hal ini adalah pendapat dari Al-Imam Abu Hanifah yang mengatakan hukumnya wajib tapi bukan fardhu. Adapun dalil masyruiyah dari shalat witir hukumnya sunnah adalah sabda Rasulullah SAW :

Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil. Maka kerjakanlah shalat witir wahai ahli Al-Quran. (HR. Bukhari Muslim)


Ibnu Umar radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bertsbih di atas untanya kemana pun untanya menghadap, dan beliau SAW melakukan shalat witir di atasnya. Namun beliau tidak shalat fardhu di atas unta. (HR. Bukhari Muslim)

Hadits ini menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat witir di atas punggung untanya. Padahal kalau beliau melakukan shalat yang fardhu, beliau tidak akan melakukannya di atas punggung unta. Beliau tentu akan turun ke atas tanah. Hadits ini menunjukkan bahwa shalat witir itu bukan termasuk shalat yang hukumnya fardhu. Namun Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah secara pribadi mengatakan bahwa shalat witir itu hukumnya wajib tapi bukan fardhu. Rupanya beliau punya definisi sendiri yang membedakan antara wajib dan fardhu. Dalam pandangan AlImam Abu Hanifah, orang yang meinggalkan ibadah yang hukumnya fardhu, tidak dikatakan kafir. Berbeda dengan orang yang meninggalkan ibadah yang hukumnya fardhu yang dianggap kafir. Pendapat ini berbeda dengan dua tokoh utama di dalam mazhab Al-Hanafiyah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf.

587

Bab 5 : Shalat Witir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Keduanya tidak mewajibkan shalat witir. Dasar pendapat AL-Imam Abu Hanifah yang mewajibkan shalat witir adalah hadits berikut :

Witir itu kewajiban, siapa yang tidak melakukan shalat witir maka dia bukan bagian dari kami. (HR. Abu Daud)


Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan sebuah shalat yang lebih baik bagi kalian dari unta yang merah. Shalat itu adalah shalat witir. Lakukanlah shalat witir itu di antara shalat Isya dan shalat shubuh. (HR. Tirmizy)

Menurut mazhab As-Syafiiyah dan Al-Hanabilah, shalat witir khusus buat diri Rasulullah SAW hukumnya wajib. Dalil yang mereka kemukakan tentang hal ini adalah :

:
Ada tiga hal yang bagiku hukumnya fardhu namun bagi kalian hukumnya tathawwu (sunnah), yaitu : shalat witir, menyembelih dan shalat Dhuha. (HR. Ahmad)

C. Waktu Shalat Witir Di dalam definisi di atas sudah dijelaskan bahwa shalat witir itu dikerjakan antara shalat Isya dan shalat Shubuh. Dan memang hal itu didasarkan dari sabda Nabi SAW sendiri :

Lakukanlah shalat witir itu di antara shalat Isya dan shalat shubuh. (HR. Tirmizy)

588

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 5 : Shalat Witir

Sehingga begitu lepas shalat Isya dikerjakan, maka pada dasarnya shalat witir sudah boleh dilakukan. Tetapi kalau dikerjakan sebelum shalat Isya, umumnya para ulama mengatakan bahwa shalat itu tidak sah, karena belum masuk waktunya. Para ulama sepakat bahwa meski selepas shalat Isya sudah sah untuk shalat witir, namun yang paling utama untuk shalat witir itu dikerjakan adalah di bagian akhir malam. Dasarnya adalah hadits berikut ini :


Dari Jabir radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,Siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam maka hendaklah dia melakukan shalat witir di awal malam. Namun siapa yang mampu bangun di akhir malam, lebih baik dia mengerjakan shalat witir di akhir malam. Karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan lebih utama.(HR. Muslim)

- : -
D. Sudah Terlanjur Witir Sudah kita ketahui bahwa Rasulullah SAW memerintahkan bagi kita untuk menjadikan shaalt witir sebagai penutup dari rangkaian shaalt malam, sebagaimana hadits berikut ini.
Dari Umar ra. dari Nabi SAW beliau bersabda, "Jadikanlah shalatmu malammu yang terakhir adalah shalat witir." (HR Muttafaq ''alaihi)

Tiap malam Rasulullah SAW melakukan shalat witir, terkadang di awal, di tengah dan di akhirnya. Shalat witirnya berakhir dengan di waktu sahar. (HR. Muslim)

589

Bab 5 : Shalat Witir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Yang jadi pertanyaan, bila setelah shalat Isya seseorang sudah melakkan shalat witir, kemudian dia tidur, namun di akhir malam dia masih bisa bangun, apakah diperbolehkan melakukan shalat malam atau tahajjud? Jawabannya adalah bahwa memang hadits ini disepakati oleh para ulama dari segi keshahihannya, tapi urusan bagaimana menarik kesimpulannya, mereka berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa shalat witir itu adalah shalat penutup, jadi tidak boleh lagi shalat apapun di malam itu kalau sudah shalat witir. Sebagian lainnya berpendapat sama, hanya saja mereka memperkenalkan istilah pembuka witir. Yaitu kalau sudah terlanjur shalat witir malam itu tapi ternyata masih ingin menambah shalat lagi, boleh. Asalkan shalat witir yang sudah dilakukan tapi harus ditambahi lagi dengan satu rakaat. Nah, shalat satu rakaat tambahan inilah yang mereka sebut dengan shalat pembuka. Maksudnya, dengan shalat satu rakaat, maka shalat witir yang tadi menjadi genap (witir=ganjil). Sebagian yang lainnya memahami hadits di atas dengan cara berbeda lagi. Hadits itu tidak berada dalam posisi untuk melarang shalat malam setelah witir. Hadits itu hanya mengatakan bahwa kalau mau disusun, maka sebaiknya shalat witir itu diletakkan di bagian akhir dari rangkaian shalat malam. Hal ini senada dengan sabda beliau SAW yang lain:
Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Nabi SAW bersabda, "Shalat witirlah sebelum shalat shubuh." (HR. Muslim)

Tapi bila terlanjur telah melakukan shalat witir sebelumnya, hadits di atas sana sama sekali tidak berfungsi untuk mengharamkan shalat sunnah di malam itu setelahnya. Maka kalau mau shalat malam, silahkan saja. Tidak perlu melakukan shalat witir pembuka lagi. Dan ternyata justru ada larangan untuk melakukan shalat witir dua kali.


590

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 5 : Shalat Witir

Dari Thariq bin Ali berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dua witir dalam satu malam.'' (HR Ahmad)

E. Jumlah Rakaat Para ulama dengan berdasarkan hadits-hadits yang shahih menyebutkan bahwa shalat witir itu bisa dikerjakan dengan jumlah rakaat yang minimal tapi juga ada jumlah yang maksimal. 1. Jumlah Minimal Dalam mazhab As-Syafiiyah dan Al-Hanabilah, jumlah minimal shalat witir itu adalah satu rakaat. Dan hal itu dibolehkan tanpa ada karahah (tidak disukai). Dan memang berdasarkan dari sabda Rasulullah SAW sendiri yang membolehkan untuk dikerjakan hanya dengan satu rakaat.

Shalat malam itu dikerjakan dengan dua rakaat dua rakaat, apabila kamu takut datangnya waku shubuh silahkan shalat witir satu rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun mazhab Al-Hanafiyah melarang shalat witir yang dikerjakan hanya dengan satu rakaat. Demikian juga satu satu qaul di kalangan mazhab Al-Hanabilah yang tentunya berbeda dengan pendapat resmi mazhab itu, juga melarangnya. Dasarnya adalah hadits berikut :

Rasulullah SAW melarang butaira (shalat witir hanya satu rakaa). 2

2. Jumlah Maksimal Rakaat Sedangkan batasan paling maksimal untuk shalat witir boleh dikerjakan menurut mazhab Asy-Syafiiyah dan Al2

Hadits ini menurut Ibnul Qaththan merupakan hadits syadz yang perawinya tidak bisa dipercaya. Lihat Nashburrayah jilid 1 hal. 120

591

Bab 5 : Shalat Witir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Hanabilah adalah sebelas rakaat. Dasar dari hal-hal di atas adalah hadits-hadits berikut ini :

Siapa yang suka mengerjakan shalat witir dengan lima rakaat, silahkan kerjakan. Siapa yang suka mengerjakan shalat witir dengan tiga rakaat, silahkan kerjakan. Siapa yang suka mengerjakan shalat witir dengan satu rakaat, silahkan kerjakan.(HR. Abu Daud)

Lakukanlah shalat witir dengan lima, tujuh, sembilan atau sebelas rakaat.(HR. Abu Daud)

Namun juga ada satu qaul di dalam mazhab Asy-Syafiiyah yang membolehkan sampai tiga belas rakaat, dengan dasar hadits berikut ini :

- : -
Ummu Salamah radhiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat witir dengan tiga belas rakaat.(HR. Ahmad dan Tirimizy)

Al-Mahalli mengatakan bahwa kemungkinan Ummu Salamah radhiyallahuanha menghitung shalat sunnah setelah Isya sebagai shalat witir. F. Teknis Pengerjaan Shalat Witir Kalau shalat witir dikerjakan dengan hanya satu rakaat, tentu tidak ada masalah dengan cara pengerjaannya. Tetapi bila lebih dari satu rakaat, seperti tiga rakaat, maka ada tiga macam cara untuk mengerjakannya.

592

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 5 : Shalat Witir

1. Cara Pertama Shalat witir dikerjakan dua rakaat terlebih dahulu lalu disudahi dulu dengan salam, kemudian dikerjakan satu rakaat lagi, sehingga menjadi tiga rakaat dengan dua salam. Cara ini oleh para ulama sering disebut dengan istilah fashl (dipisahkan). Cara ini adalah pendapat hampir semua mazhab kecuali mazhab Al-Hanafiyah. Bahkan mazhab Al-Malikiyah memakruhkan shalat witir kecuali dengan tata cara seperti ini, kecuali bila seseorang terpaksa karena dia menjadi makmum. Dalil atas cara seperti ini adalah hadits nabawi berikut ini :

:
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi SAW memisahkan antara rakaat yang genap dengan rakaat yang ganjil dengan salam. (HR. Ahmad)

Bahwa Ibnu Umar radhiyallahuanhu mengucapkan salam di antara dua rakaat, sehingga beliau memerintahkan beberapa kebutuhannya.

Asy-Syafiiyah menyebutkan bahwa ketika shalat witir dikerjakan dua rakaat terlebih dahulu dengan salam, maka dari segi niatnya haruslah disebutkan sebagai niat shalat sunnah dari witir ( ) atau muqaddimah witir () . 2. Cara Kedua Shalat witir dikerjakan langsung tiga rakaat dengan satu salam, tanpa diselingi dengan salam di rakaat kedua. Cara ini disebut dengan washl (bersambung). Cara ini didasarkan dari hadits berikut :


593

Bab 5 : Shalat Witir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Rasulullah SAW pernah shalat witir dengan lima rakaat tanpa duduk tahiyat kecuali di bagian akhir. (HR. Muslim)

Mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah membolehkan cara seperti ini, namun mazhab Al-Malikiyah memakruhkannya. 3. Cara Ketiga Shalat witir dikerjakan langsung tiga rakaat dengan satu salam, tetapi di rakaat kedua duduk sejenak untuk melakukan duduk tasyahhud awal dan membaca doanya. Cara seperti ini nyaris mirip dengan shalat Maghrib, kecuali bedanya ketika di dalam rakaat ketiga tetap disunnahkan untuk membaca ayat Al-Quran setelah membaca surat Al-Fatihah. Dasar dari pendapat ini adalah perkataan Abu Al-Aliyah :


Para shahabat Nabi SAW mengajari kami bahwa shalat witir itu serupa dengan shalat Maghrib. Yang ini (shalat witir) adalah shalat witir malam dan yang itu (shalat Maghrib) adalah shalat witir siang.

Cara shalat witir seperti ini adalah yang menjadi pendapat dari mazhab Al-Hanafiyah. Namun mazhab Asy-Syafiiyah mengatakan cara ini boleh saja dilakukan tetapi dengan karahah (kurang disukai). Karena menurut mazhab ini menyamakan shalat witir dengan shalat Maghrib hukumnya makruh. Mahab Al-Hanabilah tidak membolehkan cara ini tanpa karahah, namun Al-Qadhi Abu Yala yang juga ulama dari kalangan mazhab ini melarang shalat witir dengan cara seperti ini. Sedangkan Ibnu Taymiyah yang juga berlatar mazhab AlHanabilah memberikan pilihan antara fashl dengan washl. G. Qunut witir Para ulama berbeda pendapat tentang qunut pada shalat

594

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 5 : Shalat Witir

witir menjadi tiga pendapat utama, yaitu wajib, bid'ah, dan sunnah. 1. Wajib Mazhab Al-Hanafiyah mewajibkan qunut pada shalat witir. Dalam hal ini tidak dibedakan apakah shalat witir itu di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan, pendeknya sepanjang waktu, kalau seseorang melakukan shalat witir, maka dia wajib membaca doa qunut sebelum ruku', setelah selesai membaca ayat Al-Quran dalam rakaat itu. 3 Dasarnya adalah hadits berikut ini :


Bahwa Nabi SAW melakukan qunut di akhir dari shalat witir sebelum ruku (HR. Tizmizy)

Namun meski mazhab ini mewajibkan qunut pada shalat witir, tetapi bila seseorang terlupa membacanya, tidak perlu mengulanginya, cukup baginya untuk melakukan sujud sahwi.4 Adapun apa yang dibaca dalam doa qunut witir itu tidak ada ketentuan yang baku, karena disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan dari tiap-tiap orang. Bahkan dlam mazhab ini disebutkan bahwa orang yang tidak mampu berbahasa Arab dan tidak mampu membaca doa qunut, boleh hanya mengucapkan kata "Ya rabbi, ya rabbi, ya rabbi". Juga boleh mengucapkan,"Allahummaghfirli", tiga kali. Dan boleh juga membaca lafadz doa, "rabbana atina fiddunya hasanah". 5 2. Bid'ah Mazhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa qunut pada shalat witir hukumnya bid'ah, dan tidak ada masyru'iyah dari Rasulullah SAW.
Al-Bahr Ar-Raiq jilid 2 hal. 43 Ad-Dur Al-Muntaqi Syarh Al-Muntaqa jilid 1 hal. 128 5 Al-Bahr Ar-Raiq jilid 2 hal. 45
3 4

595

Bab 5 : Shalat Witir

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Pendapat ini juga didukung oleh Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu, dimana beliau mengatakan bahwa tidak ada perintahnya. Thawus mengatakan hukumnya bid'ah bila dikerjakan. Namun ada sebagian pendapat dari mazhab ini yang mengatakan bahwa qunut pada shalat witir disunnahkan separuh kedua dari bulan Ramadhan. 6 3. Sunnah Mazhab Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa qunut pada shalat witir hukumnya sunnah, hanya pada paruh kedua bulan Ramadhan. 7 Mazhab ini dalam urusan detailnya menyamakan antara qunut witir dengan qunut shubuh. Dalam hal penempatannya, tempat untuk qunut witir sama dengan qunut pada shalat shubuh yaitu setelah bangun dari ruku'. Demikian juga dengan lafadznya, sama dengan lafadz qunut shalat shubuh. Termasuk juga apakah dibaca sirr atau jahr, sunnah mengangkat tangan, tidak mengusap wajah setelahnya, semua sama persis dengan ketentuan pada qunut shalat shubuh dalam mazhab ini. Dan bila tidak sengaja terlewat, juga disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi. Sedangkan mazhab Al-Hanabilah, dalam beberapa hal berpendapat sama dengan madzhab As-Syafi'iyah, tentang kesunnahan qunut witir. Namun ada beberapa perbedaan, antara lain bahwa sunnah qunut witir bukan hanya pada paruh akhir bulan Ramadhan, tetap sepanjang tahun, bagi siapa pun yang mengerjakan shalat witir, maka disunnahkan untuk membaca doa qunut pada rakaat terakhir. 8

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi hal. 74 Al-Imam An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab jilid 4 hal. 15 8 Syarah Muntahal Iradat, jilid 1 hal. 226
6 7

596

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 5 : Shalat Witir

H. Hukum Shalat Witir Berjamaah Mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menuliskan bahwa pada dasarnya shalat witir tidak disunnahkan untuk dilakukan dengan berjamaah. Namun bila shalat witir dilakukan bergandengan dengan shalat tarawih, maka hukumnya disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah. 9 Mazhab Al-Malikiyah menyebutkan bahwa shalat witir yang dikerjakan di dalam rumah dengan sendirian hukumnya mandub. Di antara alasannya adalah agar jangan sampai orang melakukannya karena ingin dilihat orang alias riya'. Dan tidak ada orang yang selamat dari riya' ini kecuali dikerjakan di rumah.10

10

Hasyiyatu Al-Qalyubi, jilid 1. hal. 212 Syarah Az-Zarqani, jilid 1 hal. 283

597

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 6 : Shalat Ied

Bab 6 : Shalat 'Ied

Ikhtishar
A. Hukum Shalat 'Ied
1. Bahasa 2. Istilah

B. Masyru'iyah
1. Al-Quran 2. Asunnah

C. Hukum
1. Sunnah Muakkadah 2. Wajib 3. Fardhu Kifayah

D. Waktu Pelaksanaan Shalat


1. Jumhur Ulama 2. Mazhab Asy-Syafi'iyah 3. Idul Adha Lebih Pagi Dari Idul Fithr

E. Shifat Shalat
1. Jumlah Rakaat 2. Takbir 7 kali dan 5 kali 3. Tidak Ada Shalat Sunnah 4. Tanpa Adzan & Iqamah 5. Dilanjutkan dengan 2 khutbah

F. Tempat Shalat 'Ied G. Tertinggal Shalat Ied

A. Pengertian

599

Bab 6 : Shalat 'Ied

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -4

1. Bahasa Istilah Kata 'ied ( )dalam bahasa Arab punya beberapa makna. Salah satunya bermakna kembali ( )dan berulang (). Maksudnya, 'ied adalah kembalinya sesuatu atau berulang-ulangnya sesuatu. Makna lain dari kata 'ied adalah hari raya. Bantuk jamaknya a'yad (). Di dalam Al-Quran disebutkan kata 'ied dengan makna hari raya.


Isa putera Maryam berdo'a: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama". (QS. Al-Maidah : 114)

a. 'Ied Al-Fithr Secara bahasa, kata fithr ( )berbeda makna cukup jauh dengan kata fithrah (). Meski keduanya sama-sama istilah yang dipakai dalam agama Islam, namun berbeda makna. Kata Fitrh secara bahasa bermakna makan. Pembantukan kata dasar ini bisa menjadi makan pagi, yaitu fathur (), dan juga bermakna berbuka puasa, yaitu ifthar (). Dan hari raya umat Islam disebut dengan 'Ied Al-Fithr, yang secara harfiyah bermakna hari raya untuk makan. Dan memang sejatinya pada hari itu umat Islam diwajibkan untuk makan, termasuk mereka yang kekurangan, kesusahan dan dalam kemiskinan, tetap diharamkan untuk berpuasa. Dan oleh karena itulah kita mengenal syariat memberi zakat Al-Fitrh, yang maknanya adalah zakat dalam bentuk makanan. Tujuannya sudah jelas, agar tidak ada yang tersisa dari orang miskin yang berpuasa hari itu dengan alasan tidak punya makanan. Dengan adanya zakat Al-Fithr, maka semua orang

600

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 6 : Shalat Ied

bisa makan di hari itu.


Makna Fithrah

Sedangkan makna fithrah jauh berbeda dengan makna fithr. Fitrah seringkali dimaknai dengan penciptaan, agama Islam, dan juga bermakna kesucian.
Penciptaan

Terkadang Allah SWT menggunakan istilah fithrah ini dengan makna penciptaan, sebagaimana firman-Nya :

Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi? (QS. Al-An'am : 114) Agama Islam

Di dalam salah satu sabda Nabi SAW, kita menemukan kata fithrah dengan makna Islam :


Tidak ada kelahiran bayi kecuali lahir dalam keadaan fitrah (muslim). Lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. (HR. Muslim) Kesucian

Terkadang makna fithrah adalah kesucian atau kebersihan dari najis dan kotoran. Hal itu bisa kita dapati kalau membaca hadits berikut ini :

: :
601

Bab 6 : Shalat 'Ied

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -4

Dari Aisyah radliallahuanha, bahwa Nabi SAW bersabda, Ada sepuluh hal dari fitrah (manusia) : Memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air. (HR. Muslim). Terbelah

Dan pernah pula Allah SWT gunakan kata yang berakart dari kata fithrah menjadi infathara yang bermakna terbelah.

Apabila langit terbelah (QS. Al-Infithar : 1)

b. Ied Al-Adha Makna kata Adha ( )secara bahasa tidak lain adalah waktu dhuha, yaitu ketika matahari meninggi. Disebutkan bahwa waktu dhuha adalah ketika matahari berada pada posisi 1/4 dari siang. Namun secara istilah, kata Adha dikaitkan dengan kambing atau hewan yang disembelih pada hari itu. Dan disebut juga dalam bantuk tunggal dengan udhiyah ( )atau adhahi () untuk jamak. Maka makna 'Idul Adha adalah hari raya disaat kita disunnahkan untuk menyembelih hewan-hewan udhiyah tersebut, yaitu tanggal 10 bulan Dzulhijjah. 2. Istilah Sedangkan secara istilah, 'Ied adalah :


Hari berbuka dari bulan Ramadhan yaitu hari pertama bulan Syawwal, dan hari Adha yaitu hari kesepuluh dari bulan Dzulhijjah.

602

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 6 : Shalat Ied

Sejatinya menurut syariat Islam yang baku, Islam hanya mengenal dua hari ini saja sebagai 'ied. Adapun yang selain itu, sifatnya lokal, temporal, dan tambahan, dimana para ulama berbebeda pendapat dalam merayakan hari selain keduanya. Dan kesimpulan dari semua definisi tentang shalat 'ied di atas bisa kita susun menjadi Shalat sunnah dua rakaat yang dilakukan dengan berjamaah pada waktu dhuha tanggal 1 Syawwal dan 10 Dzulhijjah. B. Masyru'iyah Merayakan dua hari raya punya dasar masyru'iyah yang kuat dari Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW. 1. Al-Quran Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran :

Maka dirikanlah shalat dan sembelih kurban (QS. Al-Kautsar : 2)

Beberapa ulama di antaranya Qatadah, Atha' dan Ikrimah menyebutkan bahwa perintah untuk mengerjakan shalat dalam ayat ini maksudnya adalah shalat 'ied.1 Ibnu Al-Abbas radhiyallahuanhu juga berpendapat yang sama. Awalnya Rasulullah SAW melakukan penyembelihan terlebih dahulu baru kemudian melakukan shalat. Dengan turunnya ayat ini, maka beliau diperintahkan untuk melakukan shalat terlebih dahulu baru menyembelih. Dan shalat yang dimaksud tentu shalat Idul Adha. 2. Al-Hadits Disyariatkannya shalat ied antara lain berdasarkan hadits berikut ini :

Al-Qurthubi, Al-Jami' li ahkam Al-Quran, jilid 22 hal. 523

603

Bab 6 : Shalat 'Ied

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -4

- - : . : :
Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata bahwa orangorang jahiliyah punya dua hari dalam setiap tahun dimana mereka bermain-main untuk merayakannya. Ketika Rasulullah SAW tiba hijrah di Madinah, beliau bersabda,"Dahulu kalian punya dua hari untuk merayakan, lalu Allah menggantinya bagi kalian yang lebih baik, yaitu hari Fithr dan hari Adha. (HR. AnNasai')

C. Hukum Shalat 'Ied Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat 'Ied, antara yang mengatakan hukumnya sunnah muakkadah, wajib dan fardhu kifayah. 1. Sunnah Muakkadah Shalat sunnah Ied menurut jumhur ulama, khususnya mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah, hukumnya adalah sunnah muakkadah. Hal ini dikarenakan Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat sunnah tersebut dan tidak pernah meninggalkannya. Bahkan dalam salah satu hadits Rasulullah SAW memerintahkan agar semua wanita baik itu yang haidh, yang dipingit, dan budak belian agar berangkat ke tempat pelaksanaan shalat Ied. Semua itu menujukkan bahwa hukum shoat Ied adalah sunnah muakkadah.

: : -
604

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 6 : Shalat Ied


Dari Ummu Athiyyah radhiyallahuanha ia berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan hamba sahaya dan wanita haidh pada hari Iedul Fithri dan Iedul Adha, agar mreka dapat menyaksikan kebaikan dan undangan muslimin. Dan wanita yang haidh menjauhi tempat shalat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas Ra ia berkata: Aku pernah menyaksikan shalat Ied bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu 'anhu Dan mereka semuanya melaksanakan shalat sebelum khutbah (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Abu Umair bin Anas bin Malik ia berkata: Paman-pamanku dari kalangan Anshor yang termasuk sahabat Rasulullah SAW pernah menceritakan padaku: Mereka berkata,Hilal bulan Syawal pernah tertutupi sehingga kami tidak bisa melihatnya, kemudian besoknya kami melaksanakan shaum, kemudian menjelang sore datang sekelompok kafilah dan bersaksi di hadapan Nabi SAW bahwa mereka melihat hilal kemarin. Maka Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk berbuka dan pergi untuk melaksankan shalat Ied esok harinya (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

2. Wajib Pendapat mazhab Al-Hanafiyah agak berbeda dengan pendapat jumhur ulama. Mazhab ini mengatakan bahwa shalat 'Ied hukumnya wajib, namun pengertiannya adalah antara fardhu dan sunnah. Dasarnya adalah bahwa sepanjang hayat Nabi SAW, sejak dari awal disyariatkan, hingga beliau menutup mata, tidak pernah sekali pun ditinggalkannya shalat 'ied. Istilahnya adalah muwadzabah (). Dan buat mazhab ini, apa saja yang Rasulullah SAW kerjakan tanpa pernah meninggalkannya, maka hukumnya

605

Bab 6 : Shalat 'Ied

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -4

wajib. 3. Fardhu Kifayah Sedangkan mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa hukum shalat 'Ied ini buat umat Islam adalah fardhu kifayah. Artinya, apabila di suatu lingkungan sama sekali tidak diselenggarakan shalat 'Ied, maka berdosalah semua orang. Sedangkan bila shalat itu diselenggarakan, maka kalau ada sebagian orang yang tidak ikut shalat 'Ied, maka gugur kewajibannya. D. Waktu Pelaksanaan Shalat 1. Jumhur Ulama Jumhur ulama di antaranya mazhab Al-Hanafiyah, AlMalikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa waktu untuk mengerjakan shalat 'Ied dimulai ketika matahari meninggi seukuran tombak dengan pandangan mata telanjang. Dan berakhir ketika hampir menjelang zawal, atau matahari tepat berada di atas kepala.2 2. Mazhab Asy-syafi'iyah Mazhab Asy-syafi'iyah sebenarnya tidak banyak berbeda dengan pendapat jumhur dalam masalah waktu shalat 'Ied, kecuali mereka tidak memberi batas akhir hingga zawal. Sehingga meski pun sudah zawal, masih diperbolehkan dan dianggap sah. Hanya saja, waktu yang lebih afdhal adalah sebelum zawal. 3. Idul Adha Lebih Pagi Dari Idul Fithr Para ulama umumnya sepakat bahwa perbedaan antara waktu shalat Iedul fitri dan Idul Adha adalah dalam masalah yang satu ini. Shalat Idul Ahda dilaksanakan pada saat matahari telah meninggi seukuran dua tumbak sedangkan pelaksanaan shalat 'Iedul Adha dilakukan lebih awal, yaitu seukuran satu
2

Kasysyaf Al-Qinna', jilid 2 hal. 50

606

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 6 : Shalat Ied

tombak. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-syafi'i rahimahullah :

:
Bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kepada beberapa shahabatnya untuk memajukan waktu shalat Adha dan mengakhirkan waktu shalat fithr. (HR. Asy-Syafi'i). Dari Abdullah bin Bisr Ra, bahwasanya ia pernah keluar bersama orang-orang untuk melaksanakan shalat iedul fithri dan iedul Adhaa, kemudian ia mengecam imam yang selalu terlambat dan berkata: Sesunguhnya ketika kami bersama Nabi SAW maka pada saat ini kami telah selesai dan hal tersebut terjadi ketika shalat sunat dhuha. (HR . Abu Daud)

E. Shifat Shalat 1. Jumlah Rakaat Jumlah rakaat shalat Iedul Fithr atau Iedul Adha masingmasing adalah dua rakaat, sebagaimana hadits berikut :

Dari Dari Ibni Abbas ra bahwa Nabi SAW melakukan shalat 'Ied 2 rakaat, beliau tidak melakukan shalat sebelumnya atau sesudahnya (HR. As-Sab'ah)

2. Takbir 7 Kali dan 5 Kali Dalam pelaksanaan shalat Ied disunnahkan untuk melaksanakan takbir 7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat yang kedua.
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ia berkata: Nabi SAW bersabda: Takbir ketika shalat Ied 7 kali di rakaat yang pertama

607

Bab 6 : Shalat 'Ied

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -4

dan 5 kali di rakaat yang kedua (HR Ad-Daruquthni dan AlBaihaqi)

: -

Dari Amr bin Syu'aib dari ayahnya dan dari kakeknya radhiyallahu 'anhum berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Takbir di shalat Iedul Fithri tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat yang kedua. Dan membaca ayat Al-Quran sesudah takbir pada keduanya (HR Abu Daud)

Menurut Imam Malik dan Auzai tidak disunnahkan untuk membaca dzikir apapun di antara takbir-takbir tersebut karena tidak ada keterangan dari Rasulullah SAW yang menyatakannya. Namun Imam Abu Hanifah dan Imam AsSyafii menyunnahkan untuk membaca dzikir di antara takbir itu dengan lafaz yang tidak ditentukan. 3. Tidak Ada Shalat Sunnah Di dalam shalat Ide, tidak disyariatkannya shalat sunnah, baik sebelum atau sesudahnya.

Dari Ibnu Abbas Ra, berkata : Sesungguhnya Nabi SAW keluar untuk melaksanakan shalat Ied, kemudian beliau melaksankan shalat dua rakaat (shalat Ied), beliau tidak melaksanakan shalat apapun baik sebelum atau sesudahnya dan Bilal Ra ada bersama beliau (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Tanpa Adzan & Iqamah Dalam pelaksanaan shalat Ied, tidak disyariatkan dikumandangkannya adzan, iqomah maupun bentuk panggilanpanggilan yang lainnya.

608

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat - 4

Bab 6 : Shalat Ied

.
Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa Nabi SAW melaksanakan shalat Ied tanpa ada adzan maupun iqomah (HR. Abu Daud) Dari Jabir bin Samurah Ra ia berkata: Aku pernah melaksanakan shalat Ied bersama Rasulullah SAW bukan sekali atau dua kali, tanpa ada adzan maupun iqomah (HR. Muslim)

5. Dilanjutkan dengan 2 khutbah Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha sebenarnya tidak berbeda dengan khutbah jumat. Kecuali memang ada beberapa hal yang berbeda hukumnya. Ada beberapa urusan yang diwajibkan dalam khutbah Jumat namun tidak diwajibkan dalam khutbah Ied.

- - . -
Bahwa Nabi SAW keluar pada hari 'Iedul Fithr dan 'Iedul Adha ke mushalla, beliau memulai pertama kali dengan shalat, kemudian beranjak dan berdiri menghadap orang-orang, sementara orangorang masih dalam shaf masing-masing, beliau menasehati mereka dan memerintahkan mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama Asy-Syafi'iyah menyebutkan bahwa dalam masalah keharusan duduk antara dua khutbah, bila pada khutbah Jumat diharuskan ada duduk antara dua khutbah, maka pada khutbah Ied tidak diwajibkan untuk duduk diantara dua khutbah, hanya disunnahkan. Begitu juga bila dalam khutbah Jumat, disyaratkan kondisi imam yang suci dari hadats kecil (dalam keadaan berwudhu), dalam khutbah Ied tidak disyaratkan. Begitu juga dengan berdiri, bila pada khutbah diwajibkan untuk berdiri saat

609

Bab 6 : Shalat 'Ied

Seri Fiqih Kehidupan (3) : Shalat -4

menyampaikan khutbah, maka pada khutbah Ied tidak diwajibkan, hanya disunnahkan.3 Dengan demikian, bila dalam kesempatan khutbah Idul Fitri maupun Idul Adha, Anda mendapati ada khatib yang khutbah hanya sekali, hukumnya boleh karena hanya sunnah saja. Namun tentu saja lebih baik bila khutbah itu dilakukan secara lengkap dengan sunnahnya. G. Tempat Shalat 'Ied Para fuqaha telah sepakat bahwa semua tempat yang bersih dan bisa menampung jamaah yang ban