Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN LANSIA DENGAN HIPERTENSI Makalah ini disusun guna memenuhi tugas seminar kelompok

Mata kuliah Gerontik

Di susun oleh: ANGILIAN BUDI ARDHIANTO (G2A004007) FATIMAH NOVI SUPRIHATIN (G2A004040) (G2A004070)

PRODI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2007

BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Lansia adalah bagian dari proses tumbuh kembang manusia dan secara tidak tiba tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Seseorang dengan usia kronologis 70 tahun mungkin dapat memiliki usia fisiologi seperti orang berusia 50 tahun. Sebaliknya, seseorang dengan usia 50 tahun dapat memiliki banyak penyakit kronis sehingga usia fisiologis 90 tahun. Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan sehingga tidak dapat (Constantinides, 1994) mempertahankan struktur dan fungsi normalnya diderita.

bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang Menua adalah suatu proses yang mengubah manusia dewasa dari keadaan sehat menjadi rapuh dengan berkurangnya cadangan kemampuan sistim fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan diikuti kematian. homeostasis pada kondisi tekanan fisiologis, pada individu. (Richard A. Miller, 2003) kegagalan yang berkaitan (Alex Comfort) Menua adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan melihara dengan penurunan kemampuan untuk tetap hidup dan peningkatan kerentanan Pada lansia dapat ditemukan berbagai fenomena, hal itu terjadi karena proses menua yang di pengaruhi oleh berbagai komponen yaitu : Biologi, Psikologi, Fungsional, dan Spriritual. Dengan adanya perubahan struktur organ dan pola hidup yang tidak sehat dapat mendukung terjadinya peningkatan insiden penyakit degeneratif maupun non generatif. Dari banyak penelitian epidemiologi didapatkan bahwa dengan meningkatnya umur dan tekanan darah meninggi. Hipertensi menjadi masalah pada lanjut usia karena sering ditemukan dan menjadi factor utama stroke, payah jantung, dan

penyakit jantung koroner. Lebih dari separuh kematian diatas. Usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrvaskuler secara nyata kematian disebabkan oleh CVD, morbiditas penyakit saat ini penelitian longitudinal telah membuktikan hal ini pada pengobatan hipertensi diastolik. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg (Kee & Hayer.1996). Hipertensi adalah peningkatan tekanan arah yang menetap di atas batas normal yang disepakati yaitu diastolik 90 mmHg/ sistolik 140 mmHg (Price & wilson.1996). Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg (Smeltzer &Bare. 2001). Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan diastoliknya diatas 140 mmHg (Smeltzer & Bare.2001). Hipertensi adalah peningkatan tekanan arah yang menetap diatas batas normal yang disepakati yaitu diastolik 90 mmHg/sistolik 140 mmHg (price & Wilson.1996). Hipertensi adalah tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai dengan derajat keparahannya mempunyai rentang dari tekanan darah normal, tinggi sampai hipertensi malignan. Keadaan ini dikategorikan sebagai primer/essensial (hampir 90% dari semua kasus) atau sekunder terjadi akibat dari kondisi dari patologi yang dapat dikenali, sering kali dapat diperbaiki (Doengoes,ME. 2000). Hipertensi pada lansia dibedakan atas: 1) Hipertensi pada tekanan sistolik sama/lebih besar dari 140 mmHg / tekanan diastolik sama/lebih besar dari 90 mmHg. 2) Hipertensi sistolik terisolasi : tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

Pada hipertensi sistolik ini masih kontroversial: mengenai target tekanan darah dianjurkan penurunan yang bertahap sampai sekitar sistolik 140-160 mmHg (R.P Sidobular.1974) Klasifikasi Hipertensi menurut WHO/ISH (International Society of Hipertension) Kategori Tekanan Darah Optimal Normal Tinggi-normal Hipertensi: Ringan Borderline Sedang Berat HT sistolik Borderline 140-139 140-149 160-179 180 140 140-149 90-99 90-94 100-109 110 <90 <90 <120 <139 130-139 Tekanan darah / mmHg Sistolik <80 <85 85-89 Diastolik

Dikutip dari Prof. DR. dr. A. Halim Mubin, SpPD Perubahan fisik (sistem kardiovaskuler) pada lansia terkait dengan penyakit hipertensi: 1) Elastisitas dinding aorta menurun. 2) Katub jantung menebal dan menjadi kaku. 3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah umur 20 tahun, hal ini menyebutkan menurunnya kontraksi dan volumenya. 4) Kehilangan elstisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi. Perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing mendadak)

5) Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistolik normal 170 mmHg, diastolik normal 90 mmHg. B. Etiologi Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu 1) Hipertensi primer / essensial Yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, tetapi ada beberapa faktor penunjang antara lain: a) Herediter b) Lingkungan c) Hiperaktivitas d) Susunan saraf simpatis e) Sistem renin angiotensin f) Defek dalam mensekresi Na g) Faktor yang meningkatkan resiko seperti: obesitas, alkohol, merokok serta polisitemia h) Stress (Ignatavicus, 1991) 2) Hipertensi sekunder / hipertensi renal Yaitu terdapat sekitar 5% kasus penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, feokromasitoma, kelainan endokrin, tumor otak, peningkatan volume intravaskuler dan luka bakar. Tekanan darah pria umumnya lebih tinggi dibandingkan wanita. Ras kulit hitam hampir dua kali lebih banyak dibanding dengan orang kulit putih. Kebiasaan hidup seseorang dengan konsumsi garam tinggi, kegemukan atau makan berlebihan, stres atau ketegangan jiwa, kebiasaan merokok, minum alkohol dan obat-obatan akan memicu terjadinya hipertensi. (lany, 2001). Dapat dikatakan kebiasaan yang buruk akan memperberat resiko terjadinya hipertensi.

Pada Usia lanjut, penyebab perubahan tekanan darah adalah karena adanya ateroslerosis, hilangnya elastisitas pembuluh darah, menurunnya distensi dan daya regang pembuluh darah. C. Patofisiologi Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001). Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi palsu disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999). Tekanan darah yang meningkat pada hipertensi menyebabkan aliran darah meningkat, sehingga dalam pembuluh darah terjadi sklerosis yang kemudian aliran darah tersebut menjadi stasis (adanya retensi garam). Hal tersebut menyebabkan peningkatan kerja jantung yang ditandai dengan peningkatan kontraksi otot jantung sehingga otot jantung mengalami pembesaran dan mengakibatkan penurunan cardiac output. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan sklerosis yang menimbulkan pengecilan pembuluh darah jika dalam serebral terjadi peningkatan vaskuler (aliran darah). Karena adanya peningkatan ini menyebabkan aliran darah menurun , sehingga suplai darah ke otak kurang dan dapat terjadi nyeri. Suplai darah ke otak kurang maka O2 yang diedarkan oleh darah ke otak menjadi berkurang pula, sehingga terjadi gangguan perfusi jaringan. Dampak hipertensi pada ginjal terjadi vasokonstriksi pembuluh darah ginjal yang menyebabkan penurunan aliran darah. Hal ini menyebabkan renin (yang merupakan enzim yang disekresi oleh sel juncta glomerulus ginjal) bekerja pada substratnya berupa pembentukan angiotensin. Peptide II yang berpengaruh terhadap aldosteron untuk mengikat natrium dan air ke intertitial. Hal ini mengakibatkan peningkatan volume cairan dalam tubuh. Dengan

penurunan suplai O2 ke otak maka kebutuhan otak akan O2 berkurang. Hal tersebut menyebabkan pingsan, pada akhirnya akan terjadi resiko tinggi injuri. D. Manifestasi Klinik 1) Sefalgi 2) Pusing 3) Migren 4) Rasa berat ditengkuk 5) Epitaksis (mimisan, perdarahan dihidung) 6) Tinitus (bunyi denging di telinga tanpa rangsangan dari luar) 7) Palpitasi ( berdebar-debar) 8) Nokturi (sering kencing di malam hari) 9) Sering marah 10) Hampir seluruh tubuh merasa tidak enak (Prof. DR.dr. A. Halim Mubin, Sp.PD) 11) Stroke 12) Infeksi srebral 13) Mual, muntah 14) Polidipsi 15) Miokardiak infark 16) Gangguan tajam penglihatan 17) Kebutaan 18) Retino pati. Pada pemeriksaan fisik, mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina seperti perdarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah dan pada kasus berat edema pupil. (Smeltzer, 2001). Tetapi pada penderita hipertensi pada umumnya memang tidak mempunyai tanda gejala spesifik. Sedangkan gejala yang lazim dirasakan adalah pusing serta kelelahan (Edward,1995). Hipertensi yang mendadak

terjadi pada usia lanjut, memberi sugesti kemungkinan adanya hipertensi sekunder khususnya hipertensi renovaskuler (Darmojo, 1999). E. Komplikasi Komplikasi yang dapat timbul pada penderita hipertensi antara lain: 1) Hipertrofi ventrikel 2) Iskemi miokardium 3) Gagal jantung kongestif 4) Penyakit serebrovaskuler karena trombosis atau perdarahan 5) Kerusakan retina 6) Insufisiensi renal 7) Kematian tiba-tiba 8) Hipertensi yang parah (malignan hipertensi) dapat menyebabkan kerusakan otak, ginjal, retia dan miokardium (Le mone,2001) F. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada klien dengan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis penatalaksanaan, yaitu 1) Penatalaksanaan Farmakologis (Isselbacher, 1999) a) Diuretika seperti: Tiazid, fuorosemid. Hipertensi ringan dimulai dari dosis yang amat rendah. Misal: 12,5 mg per hari. Cara kerja obat ini yaitu dengan meningkatkan volume air seni dan pengeluaran Natrium (garam) melalui air seni tersebut. Obat golongan diuretik yang lazim diberikan adalah tiazid. Efek samping terjadinya penyakit gout dan kadar gula meningkat. Hipertensi sedang maksimum 25 mg per hari. Hipertensi berat, dosis 25-50 mg tiap tengah malam. b) Obat Antiadrenergic, seperti klonidin, guantazin, trimetofon, reserpin, fentolamin dll. Hipertensi ringan diberikan pada dosis 25 mg per hari. pada DM sedikit

Hipertensi berat dosis 250 mg dua kali sehari. c) Vasodilator seperti hidralazin, minaksidil, diakzoksid, nitropusid. Bekerja dengan melebarkan arteri secara langsung. Efek samping dari vasodilator sedikit meningkatkan denyut jantung dan menyebabkan pembengkakan pergelangan kaki. Pada hipertensi pengguanaan dosis dibagi sampai 200 mg per hari. d) Inhibitor enzim pengaruh angiotensin(ACE). Seperti: kaptoprit, benizoeric, ramipril, eratropil, dll. ACE inhibitor menghambat substansi yang dihasilkan ginjal, yang bertugas menyempitkan arteri kecil. Efek samping : terjadi penurunan tekanan darah yang drastis, gangguan pengecap dan batuk yang menggelitik Hipertensi ringan diberikan dengan dosis 2,5-10 mg tiap hari, tengah malam atau dua kali sehari. Hipertensi ringan diberikan dengan dosis 0,5 mg tablet. Tiap hari atau dua kali sehari. Hipertensi berat diberikan dengan dosis 6,2 mg tablet tiap tengah hari atau dua kali sehari. e) Antagonis saluran kalsium. Seperti nifedemin, deltiazom, verpamit dll. Antagonis kalsium bekerja dngan cara mengurangi jumlah kalsium yang masuk ke sel otot dinding pembuluh darah dan jantung serta mengurangi ketegangan otot. Berkurangnya tegangan otot ini mengakibatkan tekanan darah turun. Efek samping adalah sakit kepala, muka merah dan pembengkakan pergelangan kaki. Hipertensi ringan diberikan dengan dosis 40-80 mg tiga kali sehari. Hipertensi sedang diberikan denga dosis 30-120 mg tiap tengah hari. Hipertensi berat diberikan dengan dosis 120-200 mg tablet tiap hari. 2) Penalaksanaan Non Farmakologis a) Perubahan gaya hidup yang baik dan sehat merupakan upaya menghindari terjangkitnya hipertensi ataupun timbulnya komplikasi.

Pada hipertensi ringan dan sedang, seperti menghentikan kebiasaan merokok, olahraga secara teratur dan dinamik (yang tidak memerlukan tenaga terlalu banyak) misalnya berenang, jalan kaki cepat, bersepeda. Hipertensi b) Diet Pada hipertensi ringan, sedang, berat harus membatasi asupan garam, vetsin, kecap makan yang diawetkan, makanan berlemak. Hipertensi ringan boleh mengkonsumsi garam maksimal setengah sendok teh per hari. Hipertensi sedang boleh mengkonsumsi garam maksimal seperempat sendok teh per hari. Hipertensi berat tidak boleh mengkonsumsi garam sama sekali. (Isselbecher, 1999) c) Upaya menghilangkan atau menghindari stress seperti; meditasi, yoga, hipnotis. d) Berat badan yang berlebihan atau obesitas merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi, sehingga upaya penurunan berat badan dan obesitas sangat penting (Purwanti, 1998). Di samping itu upaya menurunkan berat badan juga dapat meningkatkan efektivitas pengobatan farmakologis (Soeparman, 1999) dapat dilakukan berat seperti berhenti merokok, minum alkohol, menurunkan asupan garam per hari.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN HIPERTENSI A. Pengkajian 1) Demografi a) Nama b) Usia c) Jenis kelamin d) Pekerjaan 2) Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton. Tanda :frekuensi jantung meningkat. Perubahan irama jantung 3) Sirkulasi Gejala : riwayat hipertensi, arterosclerosis, penyakit jantung koroner. Episode palpitasi. Tanda : kenaikan tekanan darah. Hipotensi postural Frekuensi/irama takikardi, berbagai disritmia Murmur stenosis valvular 4) Integritas Ego Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euforia atau marah kronik. Faktor stress multipel Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian, tangisan yang meledak. Gerak tangan empati, otot muka tegang, peningkatan pola bicara. 5) Eliminasi Gejala : ganggua ginjal saat ini/yang lalu.

6) Makanan dan cairan Gejala : makanan yang disukai mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol. Mual muntah, perubahan berat badan, riwayat penggunaan diuretik. Tanda : berat bada normal atau obesitas, edema, kongesti vena, glikosuria. 7) Neurosensori Gejala : Pusing, berdenyut, sakit kepala suboksipital, kelemahan pada satu sisi tubuh, epistaksis. Tanda : status mental: perubahan keterjagaan, orientasi, memori Respon motorik: penurunan kekuatan genggaman tangan. 8) Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/massa, sakit kepala oksipital berat. 9) Pernapasan Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas / kerja, takipnea, ortopnea, dispnea noktural paroksimal, riwayat merokok. 10) Keamanan Gejala : gangguan koordinasi / cara berjalan, episode parestesia,inulateral transient, hipotensi postural. B. Pemeriksaan Diagnostik 1) Haemoglotime/hematokrit : bukan diagnostik tetapi mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti hiperkoagulabilitas anemia. 2) Kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal. 3) Glukosa : hiperglikemia dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar ketokolamin. 4) Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal atau adanya diabetes. 5) C T scan : mengkaji tumor cerebralCSV, ensevalopati.

6) EKG : dapat menunjukan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi. 7) Foto dada : dapat menunjukkan obstruksi klasifikasi padaarea katup, deposit pada tarik aorta, pembesaran jantung. 8) IVP : dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal/ureter (Doengoes, 1999) C. Diagnosa Keperawatan 1) Resiko penurunan curah jantung b.d beban akhir meningkat, vasokonstriksi, iskemik miokard. 2) Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d peningkatan tekanan vaskuler cerebral 3) Resiko perubahan perfusi jaringan b.d gangguan sirkulasi. 4) Resiko tinggi kelebihan volume cairan b.d kelebihan intake garam diet, pemenuhan mekanisme regulasi hemodinamik neurologidan sistem renal. 5) Resiko tinggi injuri b.d suplai O2 ke otak menurun. D. Intervensi dan rasional 1) Resiko penurunan curah jantung b.d beban akhir menngkat, vasokonstriksi, iskemik miokard. a) Tujuan : tidak terjadi penurunan curah jantung, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard. b) KH : tekanan darah normal, nadi normal, berpartisipasi dalam aktifitas dalam menurunkan TD Intervensi : (1) Monitor TTV dan pengisian kapiler Rasional: perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan masalah vaskuler. (2) Auskultasi bunyi napas Rasional: S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropiantrium,perkembangan S3 menunjukkan hipertensi ventrikeldankerusakan fungsi.

(3) Berikan lingkungan yang tenang. Rasional: membantu menurunkan rangsang simpati, meningkatan relaksasi. (4) Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur. Rasional: mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis. (5) Anjurkan penglihatan. Rasional: dapat mengurangi ketegangan otot dan melancarkan aliran darah. 2) Nyeri : sakit kepala b.d peningkatan tekanan vaskuler serebral a) Tujuan: nyeri berkurang sampai dengan hilang. b) KH : skala nyeri berkurang, klien nyaman. Intervensi: (1) Kaji status nyeri (skala, durasi, irama, kualitas nyeri) Rasional: aktivitas yang meningkatkan vasokonstriksi menyebabkan sakit kepala karena adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral. (2) Pertahankan tirah baring Rasional: meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi. (3) Anjurkan teknik relaksasi dan distraksi Rasional: tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya. (4) Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Rasional: pusing dan penglihatan kabur sering b.d sakit kepala. (5) Barikan cairan, makanan lunak, perawatan yang teratur bila terjadi pendarahan hidung/kompres hidung setelahdilakukan untuk menghentikan perdarahan. tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas

Rasional: meningkatkan kenyamanan umum. 3) Resiko perubahan perfusi jaringan b.d gangguan sirkulasi a) Tujuan: perfusi jaringan adekuat b) KH : Tekanan darah normal, klien tidak mengeluh sakit kepala, TTV stabil. Intervensi : (1) Pertahankan tirah baring Rasional: tirah baring membangun kebutuhan energi (2) Monitor TTV Rasional: untuk mengetahui atau mengkaji keadaan klien (3) Monitor balance cairan Rasional: cairan yang berlebihan menurunkan sirkulasi (4) Kolaborasi untuk pemeriksaan elektrolit kreatinin Rasional: untuk mengetahui kadar kreatinin darah (5) Kolaborasi pemberian obat anti hipertensi Rasional: untuk menurunkan tekanan darah 4) Resiko tinggi kelebihan volume cairan b.d kelebihan intake garam dalam diet, pemenuhan mekanisme regulasi hemodinamik neurologi dan sistem renal. a) Tujuan : tidak terjadi kelebihan volume cairan b) KH: tidak ada edema, tidak ada wezhing, balance. Intervensi: (1) Kaji diet klien terhadap inadekuat masukan protein/kelebihan natrium. Rasional: penurunan aliran ginjal mengakibatkan peningkatan aldosteron kalium. (2) Dorong klien untuk menurunkan masukan garam. dan sekresi hormon anti diuretik, menyebabkan retensi air dan natrium dan ekskresi

Rasional: penurunan cairan ginjal mengakibatkan peningkatan aldosteron dan sekresi hormon antidiuretik, menyebabkan retensi air dan natrium, sekresi kalium. (3) Pastikan dengan dokter apakah dapat menggunakan garam tambahan. Rasional: amonium meningkatkan kadar amonia serum dan dapat menunjang kuman hepatic (4) Lakukan tindakan untuk melindungi edema kulit dan cidera. Rasional: kulit edema tegang dan mudah cidera, kulit kering lebih rentan untuk rusak dan cedera. 5) Resiko tinggi injuri b.d suplai O2 ke otak menurun. Tujuan : Tidak terjadi injury Intervensi : (1) Orientasikan individu terhadap sekelilingnya. Rasional: mengenalkan individu pada tempat yang diangap bahagia. (2) Awasi individu secara ketat Rasional: mempersiapkan diri untuk memberi pertolongan jika dibutuhkan. (3) Gunakan lampu malam Rasional: menghindari kecelakaan (4) Pertahankan tempat tidur pada ketinggian paling rendah Rasional: mengurangi resiko jatuh. (5) Anjurkan individu untuk meminta bantuan selama serangan Rasional: mengurangi resiko kecelakaan. (6) Mintalah kepada teman sekamar, jika mamapu untuk mengingatkan perawat tentang adanya masalah. Rasional: untuk segera memberi bantuan kepada klien jika terjadi cedera.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Hipertensi merupakan suatu masalah kesehatan yang sering diperbincangkan masyarakat terlebih lagi pada usia lanjut, hipertensi merupakan penyakit yang banyak dijumpai. Penyebab dari hipertensi ini cenderung tidak dapat diketahui secara pasti. Sebagian besar hipertensi pada lansia disebabkan karena proses degeneratif atau penuaan yang berkaitan dengan perubahan struktur dan fungsional pada system pembuluh darah. Selain itu pola hidup modern yang cenderung banyak mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol dan juga tinggi natrium. Usila yang memiliki masalah hipertensi biasanya memiliki ego yang terlalu tinggi, mudah tersinggung, dan agak sulit diajak komunikasi akibat pengaruh tekanan darah yang tinggi. B. Saran Untuk mengatasi masalah-masalah hipertensi pada lansia , maka sebagai perawat harus: 1. Mampu memahami asuhan keperawatan pada lansia dengan hipertensi. 2. Mengetahui konsep hipertensi atau masalah keperawatan pada lansia. 3. Mengetahui cara melakukan pengkajian hipertensi pada lansia, sehingga dapat tercipta pola hidup sehat pada lansia dan lansia juga dapat menjalankan terapi hipertensinya 4. Dapat menentukan kemampuan pada lansia untuk dapat merawat dirinya sendiri secara mandiri.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.2000.Buku Saku Diagnosa Keperawatan,Alih Bahasa Oleh Monica Ester (ed.8).Jakarta:EGC Doengoes, Marlyn E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan dan

Pendokumentasian Perawatan Pasien.Jakarta: EGC Darmojo, Boedhi.2004. Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut.Jakarta:FKUI Ganong, William F.2002.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Ed.20).Jakarta: EGC Isselbacher,Kurt.2000. Harison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit

Dalam.Jakarta:EGC Nugroho, Wahyudi.2000.Keperawatan Gerontik(Ed.2).Jakarta:EGC Price, Sylvia Anderson dan Willson, Lorraine Mc. Carty.1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Jakarta:EGC Smeltzer,Suzanne.C dan Bare Brenda.2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah, Brunner dan Suddart. Jakarta:EGC

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada lansia dapat ditemukan berbagai fenomena, hal itu terjadi karena proses menua yang di pengaruhi oleh berbagai komponen yaitu : Biologi, Psikologi, Fungsional, dan Spriritual. Dengan adanya perubahan struktur organ dan pola hidup yang tidak sehat dapat mendukung terjadinya peningkatan insiden penyakit degeneratif maupun non generatif. Dari banyak penelitian epidemiologi didapatkan bahwa dengan meningkatnya umur dan tekanan darah meninggi. Hipertensi menjadi masalah pada lanjut usia karena sering ditemukan dan menjadi factor utama stroke, payah jantung, dan penyakit jantung koroner. Lebih dari separuh kematian diatas. Usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrvaskuler secara nyata kematian disebabkan oleh CVD, morbiditas penyakit saat ini penelitian longitudinal telah membuktikan hal ini pada pengobatan hipertensi diastolik. Hipertensi merupakan istilah yang tidak asing lagi ditelinga kita. Penyakit ini sering terjadi pada lansia. Penyakit hipertensi lama-lama bisa menjadi stroke. Fenomena kejadian penyakit ini banyak terjadi di negara maju maupun di negara-negara berkembang, hal ini terkait dengan pola dan gaya hidup sehari-hari. Gaya hidup yang sangat berkaitan erat adalah mengenai pola makan yang salah misalnya banyak mengandung natrium, lemak. Pola hidup yang demikian ini akan menjadi faktor utama atau faktor pencetus terjadinya hipertensi. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada lansia. 2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian, penyebab, patofisiologi, komplikasi, manifestasi klinis dan penatalaksanaan hipertensi pada lansia.

b. Mahasiswa mengetahui cara melakukan pengkajian hipertensi pada lansia. c. Mahasiswa dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada lansia dengan hipertensi. d. Mahasiswa dapat merumuskan rencana tindakan keperawatan terhadap lansia dengan hipertensi e. Mahasiswa dapat merumuskan kriteria evaluasi. C. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah menggunakan pendekatan diskripsi, dimana hasil analisis yang kesimpulannya dapat menggambarkan situasi melalui pendekatan studi pustaka dengan menggunakan berbagai literatur. D. Ruang Lingkup Penulisan Makalah ini hanya menginformasikan tentang konsep hipertensi dan asuhan keperawatan pada lanjut usia dengan hipertensi. E. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Tujuan Penulisan C. Metode Penulisan D. Ruang Lingkup Penulisan E. Sistematika Penulisan Bab II Tinjauan Teori A. Pengertian B. Etiologi / Predisposisi C. Patofisiologi D. Komplikasi E. Manifestasi Klinis F. Penatalaksanaan

G. Pathways Bab III Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Hipertensi A. Pengkajian B. Pemeriksaan Diagnostik C. Diagnosa keperawatan D. Intervensi dan rasional Bab IV Penutup A. Kesimpulan B. Saran Daftar Pustaka