Anda di halaman 1dari 47

MAKALAH STUDI ISLAM I

MENGENAL ALLAH & TINGKATAN BERIMAN KEPADA


ALLAH





Disusun Oleh :
Eli Nurdyati (1108010096)
Kalpika Widoati (1208010002)
Adelina Damayanti ( 1208010004)
Anindia Permana S. (1208010006)
Muhammad Rizki A. (1208010008)
Zidna Mazayatul H. (1208010010)
Nur Yulianingsih (1208010012)
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kitab dikatakan, awaluddin makrifatullah (awal-awal agama ialah
mengenal Allah). Apabila seseorang itu tidak mengenal Allah, segala amal
baktinya tidak akan sampai kepada Allah SWT.
Bila seseorang itu sudah kenal Allah, barulah apabila dia berpuasa,
puasanya sampai kepada Allah. Apabila dia sholat, sholatnya sampai kepada
Allah. Apabila dia berzakat, zakatnya sampai kepada Allah. Apabila dia
menunaikan haji, hajinya sampai kepada Allah SWT. Apabila dia berjuang,
berjihad, bersedekah dan berkorban, serta membuat segala amal bakti, semuanya
akan sampai kepada Allah SWT. Mengenal Allah itu hukumnya fardhu ain bagi
tiap-tiap mukmin.
Mengenal Allah dapat kita lakukan dengan cara memahami sifat-sifat-
Nya. Kita tidak dapat mengenal Allah melalui zat-Nya, karena membayangkan zat
Allah itu adalah suatu perkara yang sudah di luar batas kesanggupan akal kita
sebagai makhluk Allah. Kita hanya dapat mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya.
Untuk memahami sifat-sifat Allah itu, kita memerlukan dalil aqli dan
dalil naqli. Dalil aqli adalah dalil yang bersumber dari akal (aqli dalam bahasa
Arab = akal ). Dalil naqli adalah dalil yang bersumber dari Al-Quran dan As-
Sunnah.
Melalui dalil aqli dan dalil naqli ini sajalah kita dapat mengenal Allah.
Tanpa dalil-dalil itu, kita tidak dapat mengetahui sifat-sifat Allah, dan kalau kita
tidak mengetahui sifat-sifat Allah, berarti kita pun tidak mengenal Allah.

Mengenal Allah akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal,
berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita
bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang
oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-
gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa
takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.
Pada tugas mata kuliah Studi islam I pada kesempatan ini akan
disampaikan mengenal Allah melalui :
1. Mengenal Allah melalui Al Quran.
2. Mengenal Allah melaui Penciptaan-Nya.
3. Mengenal Allah melalui Nama-nama-Nya.
4. Tingkatan beriman kepada Allah.

BAB II
ISI

1. MENGENAL ALLAH MELALUI AL QURAN

Al Quran menurut istilah adalah Kallam Allah yang mujiz yang
diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW dalam bentuk wahyu,
yang ditulis di dalam mushhaf dan dihafal di dalam dada, yang dibaca
dengan lisan dan didengar oleh telinga, yang menukil kepada kita secara
mutawatir tanpa ada keraguan, dan membacanya dinilai ibadah. (Tim
Ahli Tauhid : 72)
Madzhab umat terdahulu dan lama salaf mengatakan :
Sesungguhnya Al-Quan adalah Kalam Allah SWT dengan lafazh dan
maknanya diturunkan dan ia bukan makhluk, di dengar oleh Jibril dari
padaNya kemudian Ia menyampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW
lalu Nabi Muhammad SAW menyapaikannya kepada para sahabatnya.
Dialah yang kita baca dengan lisan kita, yang kita tulis dalam mushhaf
kita, dan kita hafal dalam dada kita serta kita dengar dengan telinga kita.

Dalam hadist pertama baginda Nabi menyebut apa yang ditulis
itu adalah Al Quran. Sebagaimana Allah telah berfirman tentang Al
Quran :
+O^^) p-47O O@OE ^__
O) U4-g pONL'E` ^_g
Sesungguhnya Al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia pada kitab yang
terpelihara (Lauhul Mahfuzh). (Al Waqiah : 77 78).

Adapun dalil-dalil tentang keberadaan diturunkan oleh Allah dan
bukan oleh makhluk , seperti firman Allah :
44O4^ gO) EOO- -g`-
^_@ _O>4N El)lU~ 4pO74-g
=}g` 4jOOL^- ^_j
p=O)U) ]O).4O4N -)lG`
^_)
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad)
agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi
peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas . (Asy-Syuara ; 193-195).
-O ^ NCjO6> U4-^- =}g`
*.- jOCjOE^- 1)UE^-
^g
Khaa Miim. Diturunkan Kitab ini (al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa
lagi Maha Mengetahui. (Al-MuMin/Ghafir : 1 2).

Dalam ayat-ayat tersebut terdapat nash serta pernyataan yang
jelas bahwa Al Quran itu diturunkan dari sisi Allah SWT . Tidak sah
perkataan bahwa Al Quran dan kitab-kitab Allah yang lain itu adalah
makhluk karena kitab-kitab itu adalah Kalam Allah, sedangkan Kalam
Allah adalah Sifat-Nya, dan sifat-Nya bukan mahluk.

Iman kepada segenap apa yang kita paparkan tentang Al Quran
adalah wajib. Sebagaimana wajibnya mengimani bahwa ia adalah kitab
yang paling diturunkan dari sisi Allah, yang dating untuk membenarkan
dan mendukung kebenaran yang telah dating dalam kitab-kitab Allah
terdahulu, juga untuk menjelaskan pengubahan dan pemalsuan yang terjadi
padanya. Sebagai firman Allah :

.4L^4O^4 El^O)
=U4-^- --E^)
+~g-=N` Eg -u-4
gOuCE4C =}g` U4-:^-
4g^OE_N`4 gO^OU4N W :u
_E4uO4 .E) 44O^ +.- W
4 ;7):4> -47.-4Ou- O4N
E47.~E} =}g` --E^- _
]7g E4UEE_ 7Lg` LO4NuO=
~w}E_u4g`4 _ O4 47.E-
+.- :UEE LOE`q
LEEg4 }4
74OUl41g O) .4`
7>-47 W W-O)l4c
g4OOEC^- _ O) *.-
:N_O4` 4OgE_
7N)O:4[N1 E) +-47 gO1g
4pO)U4^C` ^jg
Dan kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran,
membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu . (Al-Maidah :
48).

Dan ia datang dengan syariat yang universal, umum berlaku untuk
setiap zaman dan tempat , menghapus syariat-syariat sebelumnya, dan ia
wajib diikuti oleh setiap orang yang mendengar kabarnya sampai hari
kiamat.

Allah swt menjamin memeliharanya agar bias menjadi hujjah atas
umat manusia. Allah berfirman :
^^) }^4 4L^EO4^
4O^g]~.- ^^)4 +O
4pOOgO4O ^_
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya (Al- Hijr : 9).

Mengenal Allah ada empat cara yaitu :
- Mengenal wujud Allah,
- Mengenal Rububiyah Allah
- Mengenal Uluhiyah Allah, dan
- Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.

Kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: Allah mengajak hamba-Nya untuk
mengenal diri-Nya di dalam Al Quran dengan dua cara yaitu pertama, melihat
segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali
tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan
malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki
akal. (QS. Ali Imran: 190)

1. Mengenal Wujud Allah.
Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui
oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh
syariat.

Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-
beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan
adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak
mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui
adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru
Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya.

Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam
Al Quran: Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): Bukankah Aku ini
Tuhanmu Mereka menjawab: (Betul Engkau Tuhan kami) kami
mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian
pada hari kiamat tidak mengatakan: Sesungguhnya kami bani Adam
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar
kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah
mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah
anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.. (QS. Al Araf:
172-173)

2. Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu
penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah
Aqidah Al Wasithiyyah hal 14) Maknanya, menyakini bahwa Allah
adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi
rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat.
Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan
selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal
bagi Allah.

Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada
seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan:
Katakanlah! Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.
(QS. Al Ikhlash: 1-4)

Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang
memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang
tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan
selain-Nya.
Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak
mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu
melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini
bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu
melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah
Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau
tuhan-tuhan mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang
mereka inginkan dari sesembahan itu?


Allah telah menceritakan di dalam Al Quran bahwa mereka memiliki
dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah:

*. }Cg].-
gC^- _
-g~-.-4
W-7OC+`- ;g`
gOg^1
47.41gu 4`
-+:u4^ )
.4^O+@ONOg O)
*.- -O>^Ne Ep)
-.- N7^4 _E4uO4
O) 4` - gOOg
]O)U4-^C Ep)
-.- Og;_4C ;}4` 4O-
_OE EOO ^@


Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai
penolong (mereka mengatakan):Kami tidak menyembah
mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi
Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az Zumar: 3 )

Kedua, agar mereka memberikan syafaat (pembelaan ) di sisi Allah.
Allah berfirman:

]+lu4C4 }g` ]1 *.-
4` -GOCEC 4
_NEL4C ]O7O4C4
g7^E- 4^^EE7-
E4gN *.- _ ~
]O7*)O:4L> -.- E)
NUu4C O) g4OEOO-
4 O) ^O- _
+OE4Elc _O>E>4
O4N ]O7)O;+C ^g


Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa
memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata:
Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafaat kami di sisi
Allah. (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat )


Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah
dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya:
'4 _4^Ec ;}E`
_UE= O}7O4O +.-
W _O^+ 4pO7uNC ^g_

Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan
mereka? Mereka akan menjawab Allah. (QS. Az Zukhruf: 87)


Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala
macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan
segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan
seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan,
yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan
dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah.
Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata
dan tidak kepada selain-Nya.



3. Mengenal Uluhiyah Allah
adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti
berdoa, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar,
cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah
dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah
termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang
sering diistilahkan dengan syirik kepadaAllah.
EC+C) +lu4^
EC+C)4 --g4-Oe
^)

Allah berfirman di dalam Al Quran: Hanya kepada-Mu ya
Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah
kami meminta. (QS. Al Fatihah: 5)


Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu
Abbas radhiallahu anhu dengan sabda beliau:

Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila
kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. (HR.
Tirmidzi)

Allah berfirman:
W-+:;N-4 -.- 4
W-O7)O; gO) 6*^OE-
W ^4).4O^)4
4L=O;O) OO)4
_O.O^-
_OE4-41^-4
-=OE^-4
jOO_^-4 OgO
_O.O^- jOO_^-4
UN4^- UgOO-4
ULE^) ^-4
O):OO- 4`4 ;eU4`
7NLEuC Ep) -.-
OUg47 }4` 4p~ L4^C`
-OONC ^@g

Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan
sesuatu apapun (QS. An Nisa: 36)


Allah berfirman:
Og^4C +EE4-
W-+:;N- N7+4O
Og~-.- 7U
4g~-.-4 }g` 7)U:~
7+UE 4pO+-> ^g

Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah
menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian
menjadi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al Baqarah: 21)


Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas
mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan
peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu
hanyalah milik Allah semata.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Allah berfirman
kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. Kalau seandainya
kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya
lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah
berfirman: Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah
dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu
enggan kecuali terus menyekutukan-Ku. ( HR. Muslim dari Anas bin
Malik Radhiallahu Anhu )
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Allah berfirman
dalam hadits qudsi: Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka
barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku
dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.(HR.
Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu ).

Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika
seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari
musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali,
atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat
lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau
sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia
begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun
mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan
beritikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar
dari lilitan hutang.

Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan
terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.


4. Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah
Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia
telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya.
Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah
Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah
memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan
firman Allah:

}4` )U;_NC +.- E
EOg1E- +O _ -+OEO4C4
O) jg+41^C
4pOEu4C ^gg

Dan Allah memiliki nama-nama yang baik. (Qs. Al Araf: 186)


2. MENGENAL ALLAH MELALUI PENCIPTAANNYA

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah
yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena
menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan)
sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Ahqaf 46:33)
Pada keseimbangan yang bisa dilihat dari tubuh kita sampai ujung terjauh
alam semesta yang luasnya tidak terbayangkan ini pasti ada pemiliknya. Jadi,
siapakah pencipta yang menakdirkan segala sesuatu secara cermat dan
menciptakan semuanya? Dia tidak mungkin zat material yang hadir di alam
semesta ini karena Dia pasti sudah ada sebelum adanya alam semesta dan
menciptakan alam semesta dari sana. Pencipta Yang Mahakuasa ialah yang
mengadakan segala sesuatu, sekalipun keberadaan-Nya tanpa awal ataupun akhir.
Agama mengajari kita identitas Pencipta kita yang keberadaannya kita
temukan melalui akal kita. Melalui agama yang diungkapkan kepada kita, kita
tahu bahwa Dia itu Allah, Maha Pengasih dan Maha Pemurah, Yang menciptakan
langit dan Bumi dari kehampaan.
3. MENGENAL ALLAH MELALUI NAMA-NAMANYA
Dalam agama Islam, Asmaa'ul husna adalah nama-nama Allah yang
indah dan baik. Asmaberarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah,
jadi asma'ul husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah.
Asma'ul husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik
dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia
itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik
Allah

~ 4O- +.- NEO ^ +.-
EO- ^g ;)-4C 4
;ONC ^@ 4 }74C N-.
-O lEO ^j

"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (QS. Al-
Ikhlas : 1-4)
Allah adalah sebuah nama kepada Dzat yang pasti ada namanya. Semua
nilai kebenaran mutlak hanya ada (dan bergantung) pada-Nya. Dengan demikian,
Allah Yang Memiliki Maha Tinggi. Tapi juga Allah Yang Memiliki Maha Dekat.
Allah Memiliki Maha Kuasa dan juga Allah Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Sifat-sifat Allah dijelaskan dengan istilah Asmaaul Husna, yaitu
nama-nama, sebutan atau gelar yang baik.
Asma Al-Husna
No. Nama Arab Indonesia

Allah Allah
1 Ar Rahman Yang Maha Pemurah
2 Ar Rahiim Yang Maha Penyayang
3 Al Malik Yang Maha Merajai/Memerintah
4 Al Quddus Yang Maha Suci
5 As Salaam Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6 Al Mu`min Yang Maha Memberi Keamanan
7 Al Muhaimin Yang Maha Pemelihara
8 Al `Aziiz Yang Maha Perkasa
9 Al Jabbar Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
10 Al Mutakabbir
Yang Maha Megah, Yang Memiliki
Kebesaran
11 Al Khaliq Yang Maha Pencipta
12 Al Baari`
Yang Maha Melepaskan (Membuat,
Membentuk, Menyeimbangkan)
13 Al Mushawwir
Yang Maha Membentuk Rupa
(makhluknya)
14 Al Ghaffaar Yang Maha Pengampun
15 Al Qahhaar Yang Maha Memaksa
16 Al Wahhaab Yang Maha Pemberi Karunia
17 Ar Razzaaq Yang Maha Pemberi Rezeki
18 Al Fattaah Yang Maha Pembuka Rahmat
19 Al `Aliim
Yang Maha Mengetahui (Memiliki
Ilmu)
20 Al Qaabidh
Yang Maha Menyempitkan
(makhluknya)
21 Al Baasith
Yang Maha Melapangkan
(makhluknya)
22 Al Khaafidh
Yang Maha Merendahkan
(makhluknya)
23 Ar Raafi`
Yang Maha Meninggikan
(makhluknya)
24 Al Mu`izz
Yang Maha Memuliakan
(makhluknya)
25 Al Mudzil
Yang Maha Menghinakan
(makhluknya)
26 Al Samii` Yang Maha Mendengar
27 Al Bashiir Yang Maha Melihat
28 Al Hakam Yang Maha Menetapkan
29 Al `Adl Yang Maha Adil
30 Al Lathiif Yang Maha Lembut
31 Al Khabiir Yang Maha Mengenal
32 Al Haliim Yang Maha Penyantun
33 Al `Azhiim Yang Maha Agung
34 Al Ghafuur Yang Maha Pengampun
35 As Syakuur
Yang Maha Pembalas Budi
(Menghargai)
36 Al `Aliy Yang Maha Tinggi
37 Al Kabiir Yang Maha Besar
38 Al Hafizh Yang Maha Memelihara
39 Al Muqiit Yang Maha Pemberi Kecukupan
40 Al Hasiib Yang Maha Membuat Perhitungan
41 Al Jaliil Yang Maha Luhur
42 Al Kariim Yang Maha Mulia
43 Ar Raqiib Yang Maha Mengawasi
44 Al Mujiib Yang Maha Mengabulkan
45 Al Waasi` Yang Maha Luas
46 Al Hakiim Yang Maha Maka Bijaksana
47 Al Waduud Yang Maha Mengasihi
48 Al Majiid Yang Maha Mulia
49 Al Baa`its Yang Maha Membangkitkan
50 As Syahiid Yang Maha Menyaksikan
51 Al Haqq Yang Maha Benar
52 Al Wakiil Yang Maha Memelihara
53 Al Qawiyyu Yang Maha Kuat
54 Al Matiin Yang Maha Kokoh
55 Al Waliyy Yang Maha Melindungi
56 Al Hamiid Yang Maha Terpuji
57 Al Muhshii
Yang Maha Mengalkulasi
(Menghitung Segala Sesuatu)
58 Al Mubdi` Yang Maha Memulai
59 Al Mu`iid
Yang Maha Mengembalikan
Kehidupan
60 Al Muhyii Yang Maha Menghidupkan
61 Al Mumiitu Yang Maha Mematikan
62 Al Hayyu Yang Maha Hidup
63 Al Qayyuum Yang Maha Mandiri
64 Al Waajid Yang Maha Penemu
65 Al Maajid Yang Maha Mulia
66 Al Wahid Yang Maha Tunggal
67 Al Ahad Yang Maha Esa
68 As Shamad
Yang Maha Dibutuhkan, Tempat
Meminta
69 Al Qaadir
Yang Maha Menentukan, Maha
Menyeimbangkan
70 Al Muqtadir Yang Maha Berkuasa
71 Al Muqaddim Yang Maha Mendahulukan
72 Al Mu`akkhir Yang Maha Mengakhirkan
73 Al Awwal Yang Maha Awal
74 Al Aakhir Yang Maha Akhir
75 Az Zhaahir Yang Maha Nyata
76 Al Baathin Yang Maha Ghaib
77 Al Waali Yang Maha Memerintah
78 Al Muta`aalii Yang Maha Tinggi
79 Al Barru
Yang Maha Penderma (Maha
Pemberi Kebajikan)
80 At Tawwaab Yang Maha Penerima Tobat
81 Al Muntaqim Yang Maha Pemberi Balasan
82 Al Afuww Yang Maha Pemaaf
83 Ar Ra`uuf Yang Maha Pengasuh
84 Malikul Mulk
Yang Maha Penguasa Kerajaan
(Semesta)
85
Dzul Jalaali
Wal Ikraam


Yang Maha Pemilik Kebesaran dan
Kemuliaan
86 Al Muqsith Yang Maha Pemberi Keadilan
87 Al Jamii` Yang Maha Mengumpulkan
88 Al Ghaniyy Yang Maha Kaya
89 Al Mughnii Yang Maha Pemberi Kekayaan
90 Al Maani Yang Maha Mencegah
91 Ad Dhaar Yang Maha Penimpa Kemudharatan
92 An Nafii` Yang Maha Memberi Manfaat
93 An Nuur
Yang Maha Bercahaya (Menerangi,
Memberi Cahaya)
94 Al Haadii Yang Maha Pemberi Petunjuk
95 Al Badii'
Yang Maha Pencipta Yang Tiada
Bandingannya
96 Al Baaqii Yang Maha Kekal
97 Al Waarits Yang Maha Pewaris
98 Ar Rasyiid Yang Maha Pandai
99 As Shabuur Yang Maha Sabar

4. TINGKATAN BERIMAN
Definisi
Term iman berasal dari kata bahasa Arab "aman-yu'minu-imanan" yang
bermakna percaya. Dengan demikian, maka keimanan memiliki konotasi yang
sama dengan kepercayaan/keyakinan. Dari kata ini berkembang pula istilah
"amanat", yaitu kepercayaan (amanat). Beberapa ulama mendefinisikan ulama
sebagai berikut:
"Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan
mengamalkan dengan anggota badan".
Dalam agama, iman merupakan salah satu aspek dari tiga pilar agama: iman,
islam dan ihsan. Ketiganya saling berkaitan, saling melengkapi dan saling
berkaitan. Keimanan lebih berkaitan dengan persoalan hati dan keyakinan yang
ada dalam hati, sedangkan Islam lebih banyak berkaitan dengan masalah-masalah
ritual keagamaan dan Ihsan berkaitan dengan perilaku etis-relijius berkaitan
dengan norma-norma etis hubungan antara hamba dengan khaliqnya.
Pilar-pilar Keimanan dalam Agama Islam
Dalam ajaran Islam iman memiliki enam pilar, yaitu:
1. Iman kepada Allah,
Keimanan dan kepercayaan terhadap adanya Allah dan hal-ihwal yang
berkaitan dengan Dzat Allah.
2. Iman kepada Malaikat Allah,
Yaitu kepercayaan bahwa Allah memiliki menciptakan malaikat dari
cahaya dengan tugas dan kewajiban khusus yang harus diemban oleh
mereka.
3. Iman kepada Kitab Allah,
Yaitu kepercayaan akan kebenaran kitab-kitab yang diturunkan
(diwahyukan) Allah kepada para Rasul-Nya, bahwa di dalamnya berisi
petunjuk dan ajaran untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
4. Iman kepada Rasul Allah,
Yaitu kepercayaan bahwa Allah mengutus para Nabi dan Rasul-nya
kedunia untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan bagaimana
hidup beragama dan berbuat sesuai dengan tuntutan dan keinginan Allah.
5. Iman kepada Hari Akhir (Kiamat),
Yakni mempercayai akan datangnya hari penghabisan segala kehidupan
dunia dan datangnya hari kehidupan akhirat. Hari akhirnya dunia disebut
dengan kiamat, yaitu hari penegakkan hukum Tuhan. Sedangkan akhirat
adalah alam yang menjadi persinggahan terakhir makhluk, dimana
makhluk Allah dibagi ke dalam dua kelompok: ahli syurga dan ahli
neraka.
6. Iman kepada Qadha dan Qadar (baik maupun buruk),
Yakni percaya bahwa segaka peristiwa yang menimpa kita, baik maupun
buruk pada hakikatnya bersumber dari Allah SWT.
Tingkatan Iman
Tingkatan iman seseorang terbagi kepada lima tingkatan sebagai berikut:
1. Iman Taklid
Yaitu mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya.
2. Iman Ilmi
Yaitu mengetahui akidah-akidah dengan dalil-dalilnya.
3. Iman 'Ayan
Yaitu mengenal Allah melalui langkah-langkah muraqabatul qalbi
(pendekatan hati) terhadap Allah, keimanan jenis ini dikenal dengan
sebutan 'ainul yaqin'.
4. Iman Haq
Yaitu melihat Allah dengan hatinya. Jenis ini dikenal dengan sebutan
"haqqul yakin".
5. Iman Hakikat,
Yaitu fana bersama Allah, mabuk dengan cinta-Nya sehingga ia tidak
melihat yang lain kecuali Allah.

Mengenal Tuhan itu fardhu ain atas tiap-tiap mukallaf dengan mengetahui
namanya dan sifat-sifatnya yang disuruh oleh syarak asy syarif dengan ajaran
daripada rasul-rasul.
Maka bagi Tuhan ada banyak nama-nama yang molek (asma-ul-husna) dan sifat-
sifat yang maha besar dan yang maha tinggi. Nama Tuhan yang lebih masyhur di
antara segala nama-namanya ialah ALLAH disebut lafzul jalalah (lafaz yang
maha besar) maka yang lain daripada ini diketahui daripada Quran dan Hadis
semuanya itu masyhur di sisi orang Islam sebahagian daripadanya Ar Rahman, Ar
Rahim, Al Quddus, As Salam, Al Mukmin.
Sifat-sifat yang diketahui oleh mukallaf terbahagi kepada dua bahagi:
1. Mengetahui sifat-sifat Tuhan dengan ijmali (ringkas) iaitu bahawa
beriktiqad dan berpegang oleh seseorang dengan iktiqad yang putus
bahawasanya wajib bagi ALLAH Taala bersifat dengan tiap-tiap sifat
kesempurnaan yang lain dengan keadaan ketuhanan dan mustahil atasnya
bersifat dengan apa-apa jua sifat kekurangan.
2. Mengetahui sifat-sifat Tuhan dengan jalan tafsili (satu persatu) iaitu
bahawa beriktiqad dan berpegang oleh seseorang dengan iktiqad yang
putus dengan dalil aqli dan naqli bahawasanya wajib bagi ALLAH Taala
dua puluh sifat yang wajib dan beriktiqad dengan iktiqad yang putus
dengan dalil aqli dan naqli bahawasanya mustahil atas ALLAH Taala
bersifat segala lawan sifat yang wajib dua puluh itu.
Adalah dikehendaki dengan mengenal Tuhan itu hkndaklah mengetahui tiga
perkara iaitu yang pertama iktiqad yang putus (tiada syak, zan, waham) , kiranya
iktiqad tidak putus seperti ada iktiqad syak, zan atau waham maka tidak
dinamakan mengenal. Yang kedua muafakat (bersetuju) iktiqad itu dengan yang
sebenar (berbetulan iktiqad ini dengan iktiqad Ahli Sunnah Wal Jamaah) maka
tiada dinamakan mengenal jika iktiqad itu tidak berbetulan dengan yang sebenar,
seperti iktiqad orang nasrani dan Yahudi. Yang ketiga, dengan ada dalil sekalipun
dengan dalil ijmali, sebaliknya jika iktiqad putus serta muafakat dengan sebenar
tetapi tidak dengan dalil maka dinamakan taklid.
Adapun iktiqad yang tiada putus atau tiada muafakat dengan yang sebenar
maka dengan itfak ulama menghukumkan kafir, dan iktiqad orang yang bertaqlid
itu bersalah-salahan ulama padanya, maka mengikut qaul yang muktamad orang
yang bertaqlid itu tidak dihukumkan kafir jika taklidnya putus tetapi dihukumkan
dia mukmin yang menderhaka jika kuasa ia mengadakan dan mendirikan dalil
dengan belajar, kiranya tidak terdaya mendirikan dalil kemudian daripada telah
belajar sebab bodohnya maka tiada dihukumkan derhaka.
Adalah makna taqlid itu iaitu menerima perkataan lain dengan tidak
mengetahuikan dalil dan keterangan maka taklid itu terbahagi kepada dua
bahagian kepercayaan. Yang ma taklid jazmi ertinya kepercayaan itu terlekat be
mata hatinya dengan teguh dan kuat serta tidak erubah atau terbalik semula jika
orang yang diikuti itu berbalik sekalipun maka taklid yang seperti ini di sisi Ahli
Sunnah Wal Jamaah sah imannya kerana mempunyai jazam kepercayaan. Yang
kedua taklid yang tiada jazam ertinya menerima perkataan orang lam dengan tiada
teguh dan tiada kuat. Sekiranya orang yang diikuti seperti guru-gurunya, ibu
bapanya atau lain-lain berbalik iktiqadnya maka ia pun mengikut berbalik jua
maka taklid yang seperti ini dihukumkan tiada sah imannya kerana serupa dengan
syak, zan atau waham (yang tiada jazam).
Tegasnya adalah iman orang yang bertaqlid sentiasa di dalam khathar
(bahaya) dan kebimbangan dan tergantung kebenarannya atas kebenaran atas
orang yang diiiuti jika benar perjalanan orang yang diikutnya dan yang
dipegangnya seperti guru-gurunya maka, yang mengikut itu benarlah jua. Tetapi
jika ada sebaliknya binasalah ia bersama-sama dengan orang yang diikutnya. Dari
itu hendaklah seseorang bersungguh-sungguh menuntut ilmu aqaidul iman yang
sahih supaya terlepas ia daripada syak dan waham di dalam imannya tidak pakai
ikut-ikut sahaja istimewa zaman sekarang masa yang telah zahir beberapa banyak
ahli bid'ah.
Maka taklid itu mudarat kerana ialah jalan yang membawa kepada sesat yang
amat hina yang tiada layak sekali-kali dengan hal seorang manusia.
Awaluddin Makrifatullah
Di dalam kitab dikatakan Awaluddin makrifatullah awal-awal agama ialah
mengenal Allah. Apabila seseorang itu tidak mengenal Allah, segala amal
baktinya tidak akan sampai kepada Allah SWT.
Sedangkan, segala perintah suruh yang kita buat sama ada yang berbentuk fardhu
mahupun sunat, dan segala perintah larang yang kita jauhi sama ada yang
berbentuk haram mahupun makruh, merupakan hadi ah' atau 'persembahan' yang
hendak kita berikan kepada ALLAH SWT. Kalau kita tidak kenal ALLAH SWT,
maka segala 'hadiah' itu tidak akan sampai kepada-Nya.
Ibarat kita hendak memberi hadiah kepada seorang raja sedangkan kita tidak kenal
raja itu. Hadiah itu tidak akan sampai kepada raja. Kita mungkin memberinya
kepada pembesar istana yang kita sangkakan raja. Kalau kita kenal sungguh-
sungguh raja itu, barulah senang kita hendak menyampaikan hadiah kita itu
kepadanya.
Begitulah juga dengan segala amal bakti kita yang hendak kita hadiahkan kepada
ALLAH SWT, ia hanya akan sampai kepada ALLAH kalau kita mengenal
ALLAH SWT sungguh-sungguh. Sebab itulah, perkara terawal dalam ajaran
Islam ialah mengenal ALLAH SWT.
Bila seseorang itu sudah kenal ALLAH, barulah apabila dia berpuasa, puasanya
sampai kepada ALLAH; apabila dia bersembahyang, sembahyangnya sampai
kepada ALLAH; apabila dia berzakat, zakatnya sampai kepada ALLAH; apabila
dia menunaikan haji, hajinya sampai kepada ALLAH SWT; apabila dia berjuang,
berjihad, bersedekah dan berkorban, serta membuat segala amal bakti, semuanya
akan sampai kepada ALLAH SWT.
Kerana itulah, mengenal ALLAH ini amat penting kepada kita. Jika kita tidak
kenal ALLAH, kita bimbang segala amal ibadah kita tidak akan sampai kepada-
Nya; ia menjadi sia-sia belaka. Boleh jadi kita nanti ditipu oleh syaitan sahaja.
Cara mengenal Allah
Dan untuk mengenal Allah melalui sifat-sifat yang wajib bagi-Nya yang
sebanyak 20 sifat itu, kita perlu kepada dalil-dalil aqli dan dalil-dalil naqli.
Dalil aqli adalah dalil yang bersumberkan akal, manakala dalil naqli
adalah dalil yang bersumberkan Al Quran dan Sunnah. Melalui dalil aqli dan dalil
naqli ini sajalah kita dapat mengenal Allah. Tanpa dalil-dalil itu, kita tidak dapat
mengetahui sifat-sifat yang wajib bagi Allah, dan kalau kita tidak mengetahui
sifat-sifat Allah, berarti kita tidak mengenal Allah SWT. Kita tidak dapat
mengenal Allah melalui zat-Nya. Kalau ada orang yang konon dapat mengenal
Allah melalui zat-Nya, bererti orang itu telah diperdayakan oleh syaitan. Sebab
itu, hendaklah kita berhati-hati benar dalam usaha hendak mengenal Allah supaya
yang kita kenal itu benar-benar Allah dan bukan syaitan atau jin. Kalau kita
diperdayakan oleh syaitan, rosaklah aqidah kita. Rasulullah SAW pernah
bersabda: Terjemahannya: Renungilah pada ciptaan Allah (nescaya kamu akan
mengenal Allah). Dan jangan kamu renungi (mencari) zat Allah (kamu akan
sesat). Ini perlu kita faham benar-benar kerana zat Allah itu tidak boleh kita
bayang-bayangkan atau kita khayal-khayalkan. Zat Allah bukan makhluk dan
bukan benda, dan Ia tidak bertempat. Keadaan-Nya adalah sepertimana yang
difirmankan oleh Allah sendiri:



Terjemahannya: Tidak ada yang menyerupai-Nya sesuatu jua. (Syuraa: 11)
Sifat-sifat Allah, sepertimana yang kita ketahui, adalah sebanyak 20 yang wajib
kita pelajari. (Cuma ada setengah-setengah ulama mengatakan bahawa yang wajib
diketahui sebanyak 13 sahaja.) Apabila kita telah mengetahui ALLAH dengan
dalil aqli dan naqli itu, barulah kita dianggap makrifah dengan ALLAH, dan
barulah sah pengenalan kita kepada Allah SWT.
Empat Syarat Kenal Allah
Untuk mengesahkan pengenalan kita kepada Allah SWT, kita mesti menempuh
empat syarat, iaitu:
1. Percaya adanya Allah SWT.
2. Jazam yang qat'i iaitu yakin kepada Allah dengan keyakinan yang
sungguh-sungguh; tidak dicelah oleh syak, zan atau waham. Dengan
perkataan lain, keyakinan kita kepada Allah begitu padu dan kental, tidak
goncang dan ragu walau sedikit pun sama ada ragu itu bertaraf syak, zan
atau waham. Syak bererti 50 peratus percaya, 50 peratus ragu. Zan bererti
percaya kita lebih daripada ragu; misalnya 75 peratus percaya, 25 peratus
ragu. Waham bererti ragu kita lebih daripada percaya; misalnya 25 peratus
percaya, 75 peratus ragu.
3. Selari dengan yang sebenarnya. Artinya, setelah kita meyakini sungguh-
sungguh tentang adanya Allah, keyakinan itu mestilah selari dengan yang
sebenar.
4. Mesti ada dalil.
Demikianlah empat syarat yang mesti ada pada kita untuk mengesahkan
pengenalan kita kepada Allah SWT. Keyakinan kita akan adanya Allah SWT
adalah secara padu tanpa sebarang syak, zan atau waham; keyakinan yang padu
itu pula selari dengan yang sebenar serta cukup dengan keterangan-keterangan
atau dalil dan bukti walaupun secara ijmali atau secara ringkas. Dan kalau kita
telah mempunyai empat syarat tadi, kita dikatakan telah mengenal Allah secara
akal. Maka sahlah aqidah yang demikian. Jika tidak, bermakna kita belum
mengenal Allah, dan aqidah atau iman kita tidak sah. Dan itu juga bermakna, apa
yang telah kita buat selama ini menjadi sia-sia saja. Sia-sialah sembahyang kita
sia-sialah puasa kita sia-sialah haji kita sia-sialah perjuangan dan jihad kita dan
sia-sialah apa saja amal bakti kita selama ini kerana kita belum benar-benar
mengenal Allah.
Rasa Jiwa berTuhan
Perlu sekali kita ingat di sini bahawa kalau sekadar di dalam diri kita ada rasa
bertuhan, itu belum dikatakan beraqidah atau beriman. Sebabnya, rasa bertuhan
itu adalah fItrah semulajadi manusia. Ia samalah seperti rasa susah, rasa senang,
rasa ingin pandai, rasa ingin bahagia, dan sebagainya. Ini semua dikatakan fitrah
dan tabiat semulajadi manusia. Hal-hal ini tidak perlu dipelajari keraha ia memang
sedia ada.
Umpamanya, kalau kita mendapat sesuatu yang menyukakan, hati kita akan rasa
terhibur. Begitu jugalah kalau kita menghadapi kesusahan, hati kita akan rasa
susah. Semua ini telah menjadi naluri manusia yang Allah bekalkan bersama-sama
tubuh kasar kita ini.
Bukti yang menunjukkan bahawa rasa bertuhan itu adalah fitrah semulajadi
mauusia ialah firman ALLAH SWT:



Terjemahannya: Jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir) siapakah
yang menjadikan langit dan bumi ini, nescaya mereka akan menjawab "ALLAH ".
(Luqman: 25)
Kita dapati di sini, orang-orang kafir pun mengakui adanya Tuhan
pencipta langit dan bumi ini, tetapi mengapakah mereka masih dianggap kafir?
Sebabnya, pengakuan yang mereka buat itu adalah daripada fitrah
semulajadi mereka, dan pengakuan itu tidak menempuh empat syarat yang
dikehendaki untuk mengesahkan aqidah dan iman. Mungkin mereka yakin adanya
Tuhan dengan sebenar-benar yakin, tetapi keyakinan mereka itu tidak selari
dengan yang sebenarnya.
Mereka menggambarkan Tuhan dengan berbagai-bagai rupa seperti ada
misai, ada kepala, ada belalai, dan lain-lainnya. Ini bermakna ia tidak selari
dengan yang sebenar kerana Tuhan sebenarnya tidak demikian. Sebab itu aqidah
mereka tidak sah walaupun rasa bertuhan itu ada dalam diri mereka. Jadi, mereka
tetap juga dianggap kafir.
Begitu juga dengan orang-orang kristian misalnya. Apakah mereka tidak
percaya kepada Tuhan? Jawabnya, mereka begitu percaya adanya pencipta langit
dan bumi ini, malah kepercayaan mereka begitu padu dan kental. Tetapi,
mengapakah mereka tetap kafir? Ini kerana, kepercayaan mereka itu tidak selari
dengan yang sebenar. Tuhan yang sebenarnya adalah Esa iaitu satu saja, tetapi
orang kristian mengatakan Tuhan itu tiga atau yang mereka sebut Trinity. Pada
mereka, ada Tuhan bapa, ada Tuhan anak, dan ada Tuhan Syurga. Apakah ini
betul? Jawabnya tidak, dan kerana itu orang-orang kristian tetap kafir walaupun
mereka percaya adanya Tuhan. Makrifah mereka kepada Allah tidak sah
Orang yang beriman taqlid hanya percaya tetapi kepercayaannya tidak
berdasarkan dalil-dalil ilmiah. Dia kekurangan salah satu daripada empat syarat
untuk mengesahkan aqidah. Dengan itu, imannya tidak sah. Kalau benarlah
imannya tidak sah, maka seluruh amal ibadahnya tidak sah. Sembahyangnya tidak
sah, puasanya tidak sah, hajinya tidak sah, zakatnya tidak sah, jihadnya tidak sah
dan segala kebajikannya, walau sebesar dunia pun, tidak sah. Sedikit pun Allah
tidak akan nilai daripadanya kerana dia belum dianggap makrifah dengan Allah.
Dia tidak benar-benar kenal dengan Allah karena pengenalannya tidak disertakan
dalil dan bukti. Dan kalau dia tidak kenal Allah, bagaimanakah dia hendak
mempersembahkan amal baktinya itu kepada Allah sebagai 'hadiah' daripadanya.
Iman Taqlid
Begitu jugalah dengan orang yang bertaqlid. Aqidahnya atau imannya
dikira tidak sah kerana dalil atau buktinya tidak ada. Tadi telah kita katakan
bahawa antara empat syarat untuk mengesahkan aqidah ialah ada dalil dan bukti.
Sedangkan orang yang imannya iman taqlid kekurangan salah satu daripada syarat
yang empat itu. Orang yang beriman taqlid sekadar percaya adanya Tuhan tetapi
tidak dapat memberi dalil dan keterangan. Dia tidak mempunyai hujah secara
ilmiah. Kepercayaannya sekadar ikut-ikutan saja. Oleh kerana ibu dan ayahnya
percaya adanya Tuhan yang menjadikan seluruh alam ini, dia pun ikut percaya.
Tetapi kalau kita tanya dia, apakah bukti-bukti serta dalil-dalil tentang adanya
Allah, dia tidak dapat memberikan hujahnya.
Tapak Iman
Seterusnya, amatlah perlu kita ingat di sini, walaupun seseorang itu sudah
dapat mengesahkan iman dan aqidahnya kerana ia sudah menempuh empat syarat
yang dikehendaki itu, namun imannya baru dikatakan sudah mempunyai tapak.
Nisbahnya adalah seperti benih yang sudah ditanam di atas tanah yang sesuai
dengannya. Yang perlu selepas itu ialah menyuburkannya supaya ia bercambah,
membesar dan berbuah, iaitu dengan menyiram benih itu setiap hari dengan air.
Kemudian ia diberi baja supaya bertambah subur, dan tapaknya sentiasa digembur
supaya kekuatan akarnya bertambah kukuh dan kemas.
Dan begitulah dengan orang yang sudah mempunyai iman yang telah
menempuh empat syarat untuk mengenal Allah tadi. Dia sudah mempunyai benih
iman. Iman atau aqidahnya sekadar sudah sah tetapi belum bererti ia sudah cukup
sempurna. Iman itu perlu disuburkan dengan amal ibadah seperti sembahyang,
berpuasa, berzakat, menunaikan haji, berjuang dan berjihad, bersedekah,
berkorban, dengan mengikut perintah Allah dan dengan menjauhi segala larangan-
Nya. Semuanya itu merupakan baja kepada iman supaya ia menjadi subur dan
sempurna. Ia juga merupakan air untuk menyuburkan iman. Artinya dia boleh
bersembahyang, boleh berpuasa, boleh mengerjakan haji, boleh berjuang dan
berjihad, serta boleh melakukan amal bakti, tetapi semuanya tidak dapat memberi
kesan kepada imannya kerana iman itu belum bertapak di dalam dirinya.
Peringkat Iman
Hanya apabila kita telah mengenal Allah melalui empat syarat tadi,
barulah iman kita berbenih. Tetapi, apakah ia sudah cukup dan sempurna?
Jawabnya, tidak. Ia mesti disuburkan dengan bersembahyang, berpuasa, berzakat,
mengerjakan haji, dan membuat segala amal bakti yang lain. Hanya dengan itu,
iman kita menjadi sempurna hingga mencapai tahap iman yang dipanggil iman
ayan. Kemudian, manakala kita usahakan lagi hingga menambah
kesempurnaannya, maka ia boleh dipertingkatkan hingga kepada iman hak dan
iman hakikat.
Itulah yang dikatakan kesempurnaan iman. Sebab itulah kita katakan
bahawa kalau seseorang itu sekadar mengenal Allah setelah menempuh empat
syarat tadi, imannya baru dikira sah, tetapi ia belum cukup sempurna. Dia baharu
memiliki tapak atau asas iman. Kalau asas iman itu tidak disempurnakan dengan
amal ibadah, dia masih lagi dalam golongan mukmin 'asi atau mukmin yang
masih melanggar perintah-perintah Allah. Dia tetap juga masuk Neraka, cuma
tidak kekal di dalamnya kerana aqidahnya sudah sah.
Penyuburan Iman
Orang yang sudah ada asas iman itu ibarat benih yang sudah tertanam dan
sudah bercambah. Tetapi cambahnya tidak sempurna kerana tidak cukup dibaja
dan disirami air hinggakan apabila ada yang bercambah amat mudah dimakan
semut, siput babi, dan sebagainya. Walau bagaimanapun kerana tapaknya ada,
walaupun dijahanamkan oleh musuh, namun ia ada akar tunjang. Betapalah kalau
memang didapati yang benih tidak ada langsung. Sebab itulah, bagi orang awam
seperti kita, pengenalan kepada Allah secara ilmu dengan menempuh empat syarat
tadi mestilah diusahakan terlebih dahulu. Bila pengenalan secara ilmu itu sudah
ada, ertinya benih iman sudah ada. Cuma yang hendak kita usahakan lagi ialah
supaya ia berbatang, berdahan, berdaun serta berbuah. Iaitu dengan membuat
berbagai-bagai amal ibadah seperti sembahyang, berpuasa, mengerjakan haji, serta
lain-lainamal bakti sama ada dengan mengerjakan yang disuruh (yang fardhu dan
yang sunat) atau dengan meninggalkan yang dilarang (yang haram dan yang
makruh).
Dan inilah yang hendak kita jaga benar-benar dalam persoalan aqidah ini.
Kalau tidak, sia-sia saja amal ibadah kita selama ini. Manakala kita telah
mengenal Allah melaiui empat syarat tadi, jangan pula kita biarkan iman itu tanpa
dibaja dan disirami air supaya menjadi subur. Kalau dibiarkan ia cambah sendiri,
maka ia kurang subur, macam pokok-pokok kering dan ketot-ketot. Kalau
berbuah, buahnya busuk-busuk. Inilah yang diibaratkan kepada mukmin 'asi yang
di Akhirat kelak, masuk Neraka terlebih dahulu sebelum masuk Syurga.
Namun, sekurang-kurangnya dia masih mukmin lagi kerana
pengenalannya kepada Allah sudah menempuh empat syarat tadi. Sebaliknya,
kalau pengenalannya kepada Allah tidak menempuh empat syarat itu, dia tidak
boleh disebut mukmin tetapi kafir. Dan hal keadaannya kekal abadi di dalam
Neraka.
Dalil Aqli dan Dalil Naqli
Seterusnya, dalil-dalil dalam pengenalan kita kepada sifat-sifat Allah
terbahagi kepada dua: dalil aqli dan naqli. Dali aqli ialah dalil akal atau dalil yang
berdasarkan lojik atau mantik atau falsafah. Boleh juga kita katakan dalil aqli ini
sebagai dalil yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Manakala dalil naqli ialah dalil
yang bersumberkan Al Quran dan Sunnah. Dalil-dalil aqli boleh juga kita
bahagikan kepada dua iaitu dalil secara ijmali dan dalil secara tafsili. Dalil ijmali
ialah dalil secara ringkas, manakala dalil tafsili ialah dalil secara terperinci atau
secara terhurai.
a. Dali Aqli Secara Ijmali
Dali aqli secara ijmali atau secara ringkas, kedudukannya adalah fardhu
ain. Ertinya, setiap mukallaf wajib mengenal sifat-sifat Allah melalui dalil-
dalil akal secara ijmali atau secara ringkas. Ia tidak boleh
dipertanggungjawabkan kepada orang lain. Cuma yang perlu kita ingat ialah
bahawa dengan dalil-dalil akal secara ringkas ini, kita tidak mampu
mengemukakan hujah-hujah kalau ada orang yang mendatangkan hujah
kepada kita. Dan ia juga tidak boleh menolak perkara-perkara yang syubhat.
(Nasrudin Razak : 86-87)
Umpamanya, kalau ada orang yang membawa ajaran-ajaran yang karut atau
ajaran yang salah yang dicampuradukkannya dengan ajaran atau aqidah yang
benar, kemudian diajukannya kepada kita, kita tidak akan mampu untuk
menolaknya.
Jadi dalil aqli secara ijmali atau secara ringkas hanya untuk diri sendiri sahaja.
Tetapi apabila orang datangkan aqidah yang bercampur aduk antara yang sah dan
dengan yang karut, kita tidak dapat menolaknya. Ini dikatakan ajaran-ajaran
syubhat itu ajaran yang bercampur aduk dengan bid'ah, khurafat dan sebagainya.
Sekadar dengan dalil akal secara ringkas, kita tidak mampu untuk menolak ajaran-
ajaran tersebut.
b. Dalil Akal Secara Tafsili
Kemudian, yang dikatakan dalil akal secara tafsili ialah dalil-dalil yang
panjang lebar, luas serta lengkap. Kedudukannya fardhu kifayah, iaitu tidak
dituntut kepada setiap mukallaf untuk mengetahuinya.
Artinya, kalau ada satu kawasan dalam lingkungan jarak yang membolehkan kita
melakukan sembahyang qasar iaitu 48 batu (mengikut salah satu khilafiah jarak
yang membolehkan sembahyang diqasar), ada satu orang yang tahu dalil akal
secara tafsili, maka dia telah melepaskan dosa setiap orang mukallaf di kawasan
itu. Kalau umpamanya di dalam kawasan itu ada 50,000 orang penduduk, dan
tidak ada seorang pun yang tahu tentang dalil akal secara tafsili, maka selama
belum ada orang yang mengetahuinya, selama itulah semua orang yang mukallaf
di situ berdosa dalam perkara tersebut.
Dosa Fardhu Kifayah
Ini merupakan satu persoalan yang berat bagi kita semua. Pada masa ini
mungkin susah kita hendak mencari satu orang yang benar-benar tahu tentang
dalil akal secara tafsili. Ertinya belum selesai fardhu kifayah di kawasan itu.
Seluruh penduduk yang mukallaf di situ telah berdosa. Dan yang beratnya, dosa
dalam bidang fardhu kifayah ini jarang-jarang membuat orang merasakan dirinya
berdosa. Dan dosa dalam bidang fardhu kifayah ini jarang yang terampun,
sedangkan dosa-dosa lain ramai yang merasakannya lalu memohon ampun. Kalau
dia tidak bersembahyang misalnya, dia akan bertaubat dan akan bersembahyang.
Begitu juga kalau seseorang itu membuat dosa-dosa lain seperti tidak
berpuasa, tidak menurut perintah-perintah Allah, dan sebagainya, dia akan terasa
dirinya berdosa. Tetapi orang yang berdosa dalam bidang fardhu kifayah jarang-
jarang merasakan dirinya berdosa. Dan kalau dia tidak merasakan dirinya berdosa,
apabila dia mati, dosanya tidak terampun.Masuk Nerakalah jawabnya.
Di sini kita baru memperkatakan dosa dalam satu perkara. Sedangkan
bidang fardhu kifayah amat luas sekali meliputi pelbagai perkara. Bagaimana pula
fardhu kifayah dalam perkara makan minum, kesihatan, pendidikan, dan perkara-
perkara yang lain. Berapa banyak dosa yang telah mengenai diri kita kerana
persoalan-persoalan fardhu kifayah yang tidak selesai di dalam masyarakat kita.
Adakah kita telah menyedarinya?
Sebab itu, kalau kita kuat beribadah seperti banyak sembahyang, banyak
berpuasa, dan sebagainya, jangan sekali-kali kita bersenang hati. Tengoklah pula
persoalan fardhu kifayah kita yang belum selesai. Kerana banyaknya persoalan
tersebut yang belum selesai, kita pun terlibat sama (sama-sama menanggung dosa)
walaupun kita bertahajjud tiap-tiap malam dan kita boleh khatam Quran satu
minggu sekali. Sedangkan fardhu kifayah itu lebih besar lagi daripada Tahajud
dan membaca Quran.
Kalau begitu, memang patut sekali kita gerun dan ngeri memandangkan
begitu banyak persoalan fardhu kifayah yang tidak kita selesaikan di dalam
masyarakat kita. Kita semuanya berdosa dengan dosa-dosa yang tidak kita sedari,
dan kerana itu, kita tidak pernah memohon ampun ke atas dosa-dosa itu.
Manakala kalau kita mati, kita mati dengan membawa dosa yang banyak dalam
bidang fardhu kifayah.
Persoalan ini perlu kita fikirkan dalam-dalam, dan janganlah kita asyik
mahu menumpang hak orang lain, tanpa berusaha sendiri. Konon kita merasakan
yang hak orang itu memang sudah hendak diberi untuk kesenangan kita. Kalau
hak orang lain yang kita terima, kita terpaksa menerima apa saja yang hendak
orang berikan kepada kita. Kalau baik, maka baiklah yang kita terima; kalau
busuk, maka busuklah yang kita terima. Begitulah adat orang menumpang.
Jadi, banyak perkara dalam bidang fardhu kifayah yang belum dapat kita
selesaikan, termasuklah mengetengahkan orang yang mampu mendatangkan dalil
akal secara tafsili bagi 20 sifat Allah. Kalau tidak ada seorang pun mampu berbuat
demikian di satu-satu kawasan itu, semua orang yang aqil baligh di kawasan
tersebut sama ada yang laki-laki mahupun yang perempuannya, menanggung
dosa.
Oleh itu, semua orang di kawasan itu perlu memikirkan untuk mencari
satu orang untuk dihantar belajar supaya dapat mendatangkan dalil-dalil akal
secara tafsili itu. Dan apabila telah ada, maka kepadanya kita
pertanggungjawabkan untuk menolak ajaran-ajaran yang syubahat serta ajaran-
ajaran yang karut dan sesat di kawasan itu. Seolah-olah dialah perisai dan benteng
untuk menolak ajaran-ajaran karut yang dibawa orang ke kawasan itu.
Kepada dialah akan disandarkan tanggungjawab untuk memberi
penerangan, untuk menafi dan untuk menolak ajaran karut yang didatangkan dari
luar ke kawasan itu. Dialah yang mesti menceritakan perkara yang sebenarnya
supaya orang ramai tidak sesat. Tetapi kalau di dalam kawasan yang kita ambil
sejarak 48 batu tadi, tidak ada seorang pun yang boleh menjadi perisai untuk
menolak ajaran sesat yang datang, maka akan tersesatlah umat.
Dalil Naqli - Fardhu Kifayah
Seterusnya, dalam mendatangkan dalil naqli ke atas sifat-sifat Allah,
kedudukannya juga fardhu kifayah. Ia bukan fardhu ain. Dalam hal ini, terdapat
kelonggarandaripada Allah. Di dalam mendatangkan dalil aqli secara ijmali atau
secara ringkas, telah kita katakan yang kedudukannya adalah fardhu ain. Tetapi
bagi dalil naqli iaitu dalil yang bersumberkan Al Quran dan Sunnah, biarpun
secara ijmali, ia hanya fardhu kifayah, tidak fardhu ain.
Di sinilah rahmat dan kasih sayang Allah kepada umat. Allah amat
mengetahui bahawa orang yang masuk Islam bukan semuanya berbangsa Arab. Di
dalam syariat, hanya ada dua bangsa sahaja, iaitu Arab dan Ajam. Luar daripada
bangsa Arab dinamakan bangsa Ajam. Dan bagi mereka yang Ajam itu, Allah
tahu yang mereka amat susah memahami Al Quran dan susah pula untuk
menghafal Hadis. Sebab itu datang kemaafan daripada Allah, dan Allah
meletakkan dalil naqli walaupun secara ijmali sebagai fardhu kifayah sahaja.
Jadi tanggungjawab untuk mendatangkan dalil naqli ini terletak kepada
mereka yang berbahasa Arab sahaja, terutamanya orang Arab sendiri, kerana Al
Quran dan Hadis itu dalam bahasa mereka. Boleh dikatakan semua orang Arab
berupaya menghuraikan Hadis dan Al Quran. Malah orang-orang Arab yang kafir
pun pandai tentang Al Quran dan Hadis. Tetapi bagi orang-orang Ajam,
memanglah susah hendak menghafal Hadis dan Al Quran. Kalau boleh pun,
dengan bahasa yang telor. Tetapi Allah tahu tentang orang Ajam yang bilangan
mereka lebih ramai lagi daripada orang Arab.
Pada hari ini, lebih ramai orang Ajam yang masuk Islam daripada orang
Arab. Bahkan ulama Ajam lebih ramai bilangannya daripada ulama Arab. Ulama-
ulama Arab hanya sebanyak bilangan jari sahaja seperti Imam Shafie. Imam
Ghazali adalah orang Ajam, bukan orang Arab. Imam Hanafi dan Imam Hambali
juga bukan orang Arab. Begitulah dengan ulama-ulama dari Afrika, Rusia,
Sepanyol dan lain-lainnya.
Jadi mengetahui dalil naqli atas sifat-sifat Allah yang wajib adalah fardhu
kifayah sahaja. Ertinya, di dalam satu kawasan yang jaraknya sudah
membolehkan sembahyang diqasarkan - katalah kita ambil jarak 48 batu iaitu
mengikut salah satu khilafiah ulama - past ada satu orang yang boleh membawa
dalil Al Quran dan Hadis tentang adanya Allah SWT. Jika tidak ada, semua orang
yang akil baligh di kawasan itu menanggung dosa.


BAB III
KESIMPULAN

Dengan demikian jelaslah bahwa keimanan kepada Allah memiliki hubungan
subtansial
dan fungsional dalam kerangka perumusan konsep pendidikan Islam pada
umumnya dan
pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban pada umumnya. Bahwa sebagai
umat yang beragana islam kita hendaknya mempercayai,meyakini serta
melaksanakan (iman) terhadap Tuhan kita yaitu Allah SWT. Dengan
mengenalnya melalui al-quran, penciptaan-Nya serta nama-namanya.

DAFTAR PUSTAKA

Asy-Syarawi Mutawali M. 1992. Bukti-bukti Adanya Allah. Gema Insani Press.
Jakarta
Nasruddin Razak, Drs, 1996. Dienul Islam. Almaarif. Bandung
Syaikh Muhammad bin Shabib Al Utsaimin. 1999. Ulasan Tuntas Tentang Tiga
Prinsip Pokok Siapa Rabbmu / Apa Agamamu ? Siapa Nabimu ? . Darul
Haq. Jakarta
Tim Ahli Tauhid. 1998. Kitab Tauhid. Darul Haq. Jakarta
http://zahroatuz.blogspot.com/2012/05/makalah-tafsir-mengenal-allah-
swt_10.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Asma%27ul_husna