Anda di halaman 1dari 46

TUGAS SANITASI DAN PENGELOLAAN LIMBAH Pengolahan Limbah Pada Industri Soft Drink

Disusun Oleh : Yoga Setiawan Catur Setya Budi Rini Arni Ardila Sari Fintya Maulida Isna Maslia Fahrun Nisa Made Monita Andrini Pramayanti Karlita Meirza F.H. 115100800111027 115100800111009 115100501111001 115100501111013 115100513111005 115100500111027 115100501111003

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013
1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minuman adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi setiap hari. Jumlah penduduk yang semakin bertambah, akan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah konsumsi air oleh manusia. Tingginya tingkat kebutuhan manusia terhadap air sebagai minuman, membuat produsen berlomba menciptakan produk-produk inovatif yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu produk minuman yang terdapat di Indonesia yaitu minuman ringan. Industri minuman ringan merupakan industri yang pertumbuhannya di Indonesia cukup pesat. Oleh sebab itu jika penanganan limbahnya tidak dilakukan dengan baik maka kemungkinan untuk terjadinya pencemaran lingkungan khususnya perairan cukup besar. Tercatat pasar minuman ringan di Indonesia senilai US$ 6,5 miliar dengan total penjualan mencapai 17,5 miliar liter. Minuman ringan merupakan minuman yang tidak mengandung alkohol yang merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan makanan dan bahan tambahan lainnya baik alami maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk konsumsi (Prasetya, 2011). Kosumsi minuman ringan yang meningkat pesat dapat menyebabkan peningkatan jumlah limbah yang mampu mencemari lingkungan baik berupa pencemaran tanah maupun air. Perkembangan industri dan teknologi diberbagai bidang kehidupan selain meningkatkan kualitas hidup manusia juga memberikan dampak lain terhadap kelangsungan lingkungan hidup yaitu berupa pencemaran. Untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan yang tidak diinginkan, maka pemerintah mengeluarkan suatu standar baku mutu untuk buangan limbah, khususnya untuk limbah cair cukup ketat, sehingga mendorong pelaku-pelaku industri untuk mencari dan menggunakan teknologi pengolahan limbah yang ekonomis dan berdaya guna tinggi. Salah satu industri minuman ringan dengan berbagai rasa yang menggunakan gula sebagai bahan baku utama, dapat dihasilkan limbah yang mengandung bahan organik berkisar antara 500 1000 mg/l. Berdasarkan tingginya jumlah limbah yang terus meningkat seiring dengan peningkatan teknologi di masyarakat maka pengetahuan mengenai cara penanggulangan dan pengurangan limbah perlu untuk dilakukan agar dapat tetap menjaga kelestarian, nilai estetika dan kesehatan lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana definisi soft drink dan kandungan apakah yang ada didalam produk soft drink? 2. Apakah jenis-jenis limbah yang dihasilkan pada proses produksi minuman soft drink? 3. Bagaimana proses penanganan limbah pada industri soft drink? 4. Apa sajakah dampak yang ditimbulkan dari limbah industri soft drink ? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui definisi dan kandungan yang ada dalam produk soft drink. 2. Mengetahui jenis-jenis limbah yang dihasilkan pada proses produksi minuman soft drink. 3. Mengetahui proses penanganan limbah pada industri soft drink 4. Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari limbah industri soft drink.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian dan Kandungan Soft drink Minuman ringan termasuk dalam kategori pangan. Adapun pengertian minuman ringan (soft drink) berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No. HK.00.05.52.4040 tentang Kategori Pangan adalah minuman yang tidak mengandung alkohol yang merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair dengan terdapat kandungan bahan makanan dan bahan tambahan lainnya baik alami maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk konsumsi (Soenarno, 2011) Jenis-jenis kandungan yang terdapat dalam soft drink menurut Australian Beverages Council (2004) meliputi: a. Carbonated water (air soda) Air soda merupakan kandungan utama yang terdapat dalam soft drink yaitu sekitar 86%. Air soda berperan sebagai salah satu sumber air pada tubuh manusia. Di dalam air soda, terdapat kandungan gas berupa karbon dioksida (CO2). b. Bahan pemanis Rasa manis yang terdapat dalam soft drink dapat berasal dari sukrosa atau pemanis buatan. Sukrosa merupakan perpaduan antara fruktosa dan glukosa yang termasuk dalam karbohidrat. Jumlah sukrosa yang terdapat dalam soft drink sekitar 10%. Pemanis buatan yang sering dipakai dalam soft drink ialah aspartam. Aspartam dibentuk dari perpaduan asam aspartat dengan fenilalanin dan bersifat 200 kali lebih manis dari gula sehingga hanya sedikit jumlah aspartam yang terkandung dalam soft drink. c. Bahan perasa Bahan perasa terdiri dari bahan perasa alami dan bahan perasa buatan. Bahan perasa alami berasal dari buah-buahan, sayuran, kacang, daun, tanaman herbal, dan bahan alami lainnya. Bahan perasa buatan digunakan agar soft drink memberi rasa yang lebih baik. d. Asam Asam berperan dalam menambah kesegaran dan kualitas pada soft drink. Asam yang dipergunakan yaitu asam sitrat dan asam fosfor. e. Kafein
4

Kafein berperan dalam meningkatkan rasa yang terkandung dalam soft drink. Kafein yang terkandung dalam soft drink berjumlah sampai dari jumlah kafein yang terkandung dalam kopi. f. Pewarna Pewarna bersamaan dengan gas CO2 merupakan bagian dari karakteristik soft drink. Pewarna terdiri dari pewarna alami dan pewarna buatan yang dapat digunakan.

Gambar 1. Contoh Minuman Ringan atau Soft Drinks ( 2.2 Jenis-jenis Limbah pada Industri Soft drink

, 2011)

Limbah adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi. Jenis-jenis limbah bermacam-macam, dari zat pembentuknya, bentuk fisiknya dan sifat berbahayanya. Berdasarkan bentuknya limbah pada industri soft drink dapat diklasifikasikan menjadi: a. Limbah Padat Limbah padat industri, adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat yang dihasilkan dari pembuatan soft drink pada PT. Coca-Cola Amatil Indonesia (Putri, 2012) antara lain : 1. Kemasan botol yang rusak atau pecah 2. Sedotan 3. Crawn cap 4. Closure Preform 5. Kemasan bahan baku dan bahan penunjang 6. Barang-barang bekas dari kegiatan lainnya ( seperti bekas mesin produksi, pompa, ban bekas dan sampah padat lainnya)
5

Limbah padat di atas, akan dikumpulkan dan dibuang oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah setempat untuk didaur ulang. Sedangkan sampah domestik yang ditampung di tempat penampungan sementara akan diambil oleh pihak ketiga untuk disalurkan ke tempat penampungan sampah terakhir. (Putri, 2012) b. Limbah Cair Sumber limbah cair utama dari industri minuman ringan adalah proses pencucian botol, karena pabrik minuman ini biasanya memanfaatkan botol bekas. Proses ini dilakukan dengan menggunakan deterjen dan larutan soda kostik yang kadang terintegrasi dalam pabrik pembuatan minuman ringan tersebut. Selain itu, limbah cair juga dapat berasal dari ceceran atau tumpahan sirup dan cairan lainnya selama proses pengadukan, pembotolan, dan pengalengan, pembersihan tangki, aliran pengisian bahan baku, atau peralatan proses dan lantai (Farmasi, 2011). a) Karakteristik Fisis Limbah Cair menurut Farmasi (2011), antara lain: 1. Kekeruhan Kekeruhan dalam limbah cair disebabkan oleh tingginya kandungan padatan tersuspensi (TSS) dalam limbah. Limbah yang dihasilkan pabrik minuman ringan memiliki tingkat kekeruhan yang cukup tinggi tetapi kandungan bahan organiknya lebih tinggi. Beban terbesar TSS total berasal dari pencucian botol dan pemeliharaan kebersihan pabrik yang kurang baik. 2. Warna Warna pada limbah cair minuman ringan berasal dari penambahan sirup sebagai konsentrat pemberi rasa. Akan tetapi, karena kadarnya cukup rendah dan seringkali bahan pewarna pun digunakan pewarna alami yang berasal dari sari buah-buahan, maka parameter warna ini tidak terlalu menjadi masalah dalam pengolahan limbah cair industri minuman ringan. 3. Suhu Limbah panas yang dihasilkan berasal dari air proses pencucian botol. Perbedaan suhu yang dihasilkan pada limbah, meskipun lebih tinggi dari air limbah dalam keadaan normal tetapi melalui proses pendinginan secara alami dapat menurunkan suhu air limbah, sehingga tidak diperlukan suatu alat penurun suhu mekanis. 4. Daya Hantar Listrik

Daya Hantar Listrik menyatakan banyaknya ion-ion yang terkandung dalam suatu air buangan atau air sungai. Nilai konduktivitas pada limbah cair industri minuman ringan (limun) relatif rendah, karena dalam proses pembuatannya sendiri tidak banyak menggunakan larutan-larutan elektrolit, sebagian besar komposisi produk adalah air dan gula. b) Karakteristik Kimiawi Limbah Cair 1. Biochemical Oksigen Demand (BOD) adalah jumlah oksigen terlarut yang dibutuhlan oleh organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan didalam air. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, berarti kandungan polutannya organiknya tinggi. 2. Chemical Oksigen Demand (COD ) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat dalam air, secara kimia. 3. Senyawa Organik dan Anorganik Senyawa organik terdiri dari karbon dengan unsur O, N, P, S, H. Sedangkan senyawa anoranik terdiri atas unsur lain yang bukan tersusun dari karbon organik. Unsur-unsur yang terdapat dalam jumlah banyak akan bersifat toksik dan menghalangi proses-proses biologis. 4. Keasaman Air (pH). Keasaman air diukur dengan pH meter. Keasaman ditetapkan berdasarkan tinggi rendahnya konsentrasi ion hidrogen dalam air. Limbah cair yang mempunyai pH tinggi atau rendah dapat mempengaruhi organisme dalam air. Air yang mempunyai pH rendah (pH<7) membuat air menjadi korosif terhadap bahan konstruksi besi yang kontak dengan air. Limbah cair dengan keasaman tinggi bersumber dari buangan yang mengandung asam seperti air pembilas pada pabrik kawat atau seng. 5. Alkalinitas (basa) nilai pH tinggi, ph>7 Tinggi rendahnya alkalinitas ditentukan senyawa karbonat, garam-garam hidroksida, kalsium, magnesium, natrium dalam air. Kesadahan dalam air disebabkan oleh tingginya kandungan zat-zat tersebut. Semakin tinggi kesadahan suatu air semakin sulit air berbuih. 6. Oksigen Terlarut
7

Oksigen telarut berlawanan dengan BOD, semakin tinggi BOD semakin rendah oksigen terlarut. Kemampuan air untuk mengadakan pemulihan secara alami benyak tergantung pada tersedianya oksigen terlarut. Tabel 1. Parameter kimiawi limbah cair pada PT. Coca-Cola Amatil Indonesia

Sumber : Putri, 2012 c) Karakteristik Sifat Bioligis Limbah Cair Sifat biologis meliputi mikroorganisme yang ada dalam limbah cair. Mikroorganisme ini memiliki jenis yang bervariasi, hampir dalam semua bentuk air limbah dengan konsentrasi 105 - 108 organisme/ml yang utamanya merupakan Protista. Mikroorganisme yang ditemukan banyak dalam bentuk sel tunggal yang bebas atau berkelompok dan mampu melakukan proses-proses kehidupan. Bahan-bahan organik yang terdapat dalam air akan diubah oleh
8

mikroorganisme

menjadi

senyawa

kimia

yang

sederhana,

sehingga

dekomposisi zat-zat tersebut dalam jumlah besar akan menimbulkan bau busuk. Keberadaan bakteri dalam unit pengolahan air limbah merupakan kunci efisiensi proses biologis dan penting untuk mengevaluasi kualitas air. 2.3 Proses Penanganan Limbah Industri Soft Drink Limbah adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi. Jenis-jenis limbah bermacam-macam, dari zat pembentuknya, bentuk fisiknya dan sifat berbahayanya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan limbah yang mempunyai tujuan untuk mencegah, menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan, memulihkan kualitas lingkungan tercemar, dan meningkatkan kemampuan dan fungsi kualitas lingkungan. Prinsip dalam pengelolaan limbah secara umum adalah 3R, REDUCE, REUSE, RECYCLE(Soenarno, 2011) yaitu : 1. Reduce (pengurangan) adalah mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya limbah. Sedapat mungkin kita mengurangi penggunaan bahan-bahan yang akan menghasilkan limbah. Contoh: penggunaan sapu tangan untuk menghapus keringat akan mengurangi limbah dari kertas tissue yang kita gunakan, menggunakan botol minum permanen yang sehat akan mengurangi limbah berupa gelas plastik atau botol plastik air mineral, pemilihan produk dengan kemasan yang dapat didaur-ulang. 2. Reuse (daur pakai) adalah kegiatan penggunaan kembali limbah yang masih dapat digunakan baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain. Sedapat mungkin kita menggunakan kembali bahan-bahan yang masih memungkinkan untuk dipakai lagi. Contoh: kertas yang digunakan bolak-balik akan mengurangi limbah kertas, gunakan wadah/kantong yang dapat digunakan berulang-ulang, gunakan baterai yang dapat dicharge kembali. 3. Recycle (daur ulang) adalah mengolah limbah menjadi produk baru. Ada bahanbahan tertentu yang dapat didaur-ulang, contoh: kertas, karton, plastik, botol, besi, minyak jelantah, berbagai limbah organik Penanganan limbah pada industri soft drink berbeda berdasarkan jenis limbah yang dihasilkan pada proses industri tersebut. Dalam industri minuman soft drink limbah yang dihasilkan dan proses penanganannya yaitu sebagai berikut : a. Limbah Padat
9

Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan pengolahan limbah padat dengan pengolahan. Limbah padat tanpa pengolahan yaitu limbah padat yang tidak mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Menurut Arief (2012), dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 1. Pemisahan Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbeda dan kandungan bahan yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan pengolahan menjadi awet. Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya : (i) Sistem Balistik. adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman ukuran/berat/volume, (ii) Sistem Gravitasi, adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat misalnya barang yang ringan/terapung dan barang yang berat/tenggelam, (iii) Sistem Magnetis, adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet yang bersifat magnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk memisahkan campuran logam dan non logam. 2. Penyusunan Ukuran Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil agar pengolahannya menjadi mudah. 3. Pengomposan Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah membusuk sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik. Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan disamakan ukurannya atau volumenya. 4. Pembuangan limbah Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang dibagi menjadi dua yaitu : a) Pembuangan di laut Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada sembarang tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke laut. Hal ini disebabkan : (i) Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan, (ii) Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal, (iii) Laut menjadi dangkal, (iv)
10

Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya dapat membunuh biota laut. b) Pembuangan di darat atau tanah Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus dipertimbangkan sebagai berikut : (i) Pengaruh iklim, temperatur dan angin, (ii) Struktur tanah, (iii) Jaraknya jauh dengan permukiman, (iv) Pengaruh terhadap sumber lain, perkebunan, perikanan, peternakan, flora. Bagi limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis dapat ditangani dengan berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat, diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar. Perlakuan limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis, menurut Arief (2012), sebagian besar dilakukan sebagai berikut: 1. Ditumpuk pada Areal Tertentu Penimbunan limbah padat pada areal tertentu membutuhkan areal yang luas dan merusakkan pemandangan di sekeliling penimbunan. Penimbunan. ini mengakibatkan pembusukan yang menimbulkan bau di sekitarnya, karena adanya reaksi kimia yang rnenghasilkan gas tertentu. Dengan penimbunan, permukaan tanah menjadi rusak dan air yang meresap ke dalam tanah mengalami kontaminasi dengan bakteri tertentu yang mengakibatkan turunnya kualitas air tanah.Pada musim kemarau timbunan mengalami kekeringan dan ini mengundang bahaya kebakaran. 2. Pembakaran Limbah padat yang dibakar menimbulkan asap, bau dan debu. Pembakaran ini menjadi sumber pencemaran melalui udara dengan timbulnya bahan pencemar baru seperti ,hidrokarbon, karbon monoksida, bau, partikel dan sulfur dioksida. 3. Pembuangan Pembuangan tanpa rencana sangat membahayakan lingkungan. Di antara beberapa pabrik membuang limbah padatnya ke sungai karena diperkirakan larut ataupun membusuk dalam air. Ini adalah perkiraan yang keliru, sebab setiap pembuangan bahan padatan apakah namanya lumpur atau buburan, akan menambah total solid dalam air sungai. Disamping itu limbah padah sisa hasil produksi minuman soft drink dapat dimanfaatkan kembali, berikut akan dijelaskan pemanfaatan limbah padat sisa produksi industri soft drink diantaranya adalah : 1. Teknologi pengolahan sampah untuk menjadi energi listrik.
11

Tahapan pengolahannya yaitu: Sampah di bakar sehingga menghasilkan panas (proses konversi thermal). Panas dari hasil pembakaran dimanfaatkan untuk merubah air menjadi uap dengan bantuan boiler. Uap bertekanan tinggi digunakan untuk memutar bilah turbin. Turbin dihubungkan ke generator dengan bantuan poros. Generator menghasilkan listrik dan listrik dialirkan kerumah - rumah atau ke pabrik. Didalam inserator sampah dibakar. Panas yang dihasilkan dari hasil pembakaran digunakan untuk merubah air menjadi uap bertekanan tinggi. Uap dari boiler langsung ke turbin, dan sisa pembakaran seperti debu diproses lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan (truk mengangkut sisa proses pembakaran) (Arief, 2012).

Gambar 2. Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (Biroe, 2012) 2. Daur Ulang Biasanya entrepreneur yang bekerja mengolah limbah kaleng bekas ini menghasilkan beberapa produk souvenir atau cinderamata sebagai produk kerajinan tangan. Namun bagi yang bekerja dengan mesin umumnya menghasilkan bahan baku pembuatan souvenir seperti mangkok depan sebuah pin. Di tangan-tangan kreatif inilah limbah kaleng bisa dibuat menjadi tempat pensil, asbak, kav lampu, vas bunga, serta berbagai miniatur cantik yang berharga ekonomis tinggi. Usaha kreatif dalam pengolahan limbah kaleng bisa dilakukan dalam sekala kecil, bahkan rumah tangga. Peralatan yang digunakanpun cukup sederhana sebagai benda modal dengan nilai investasi kecil seperti gunting plat, tang penjepit, pingset jepit, lem, cat, kuas, dan lain
12

sebagainya. Namun dari keterampilan tangan inilah lahir produk-produk yang mampu menarik perhatian dengan berbagai keunikannya (Susanty, 2012). 3. Pembuatan tawas dengan menggunakan kaleng bekas minuman Pembuatan tawas dilakukan dengan menambahkan kaleng yang telah dipotong kecil-kecil dengan KOH 20% dan terbentuk gas H2 yang ditandai dengan munculnya gelembung-gelembung gas. Pada tahap ini, dilakukan pemanasan untuk mempercepat reaksi sehingga gelembung-gelembung gas hilang setelah semua aluminium bereaksi dan larutannya berubah menjadi warna hitam. Setelah itu disaring dan filtrat yang diperoleh ditambahkan Accu zur sebanyak 30 ml sambil diaduk, kemudian disaring untuk menghilangkan pengotor-pengotornya. Penambahan H2SO4 membentuk Al(OH)3 bersama-sama dengan K[Al(OH)4], namun setelah berlebih H2SO4 melarutkan Al(OH)3 menjadi Al2(SO4)3 berupa larutan bening tak berwarna. Penambahan larutan H2SO4 dilakukan agar seluruh senyawa K[Al(OH) 4] dapat bereaksi sempurna. Al(OH)3 yang terbentuk langsung bereaksi dengan H2SO4. Untuk mempercepat terbentuknya kristal, larutan didinginkan dalam es. Setelah kristal alum (tawas) sudah terbentuk maka dicuci dengan 20 ml larutan etanol 50% yang bertujuan untuk menyerap kelebihan air dan mempercepat pengeringan. Setelah itu, dikeringkan dalam oven, kemudian ditimbang berat tawas yang diperoleh ( , 2012).

b. Limbah Cair Limbah cair (kecuali air hujan) yang berasal dari proses bottling line, syrup room (tanki sanitasi), dan water treatment dan waste water treatment (back wash dan regenerasi) ditampung dan ditangani dengan cara membuat suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi pabrik. Menurut (2012), IPAL (Instalasi

Pengolahan Air Limbah) untuk menangani limbah cair pada industri soft drink di PT. Sinar Sosro Ungaran, yaitu : a) Pre-treatment adalah pengolahan awal limbah cair yang baru dibuang dari pabrik sebelum memasuki proses tahapan utama. Pada pabrik ini, proses pre-treatment dilakukan secara anaerobic. Berikut tahapan pengolahan awal tersebut: 1. Screen press Alat ini digunakan untuk menyaring, menyeleksi dan membuang kotoran dan padatan, seperti sampah pabrik, pipet, kertas, dan sebagainya dari limbah.

13

2.

Sump pit Sump pit adalah bak penampung sementara limbah dari screen press yang memiliki 2 unit pompa (influent pump) yan bertugas memompakan limbah ke bak equalisasi.

3.

Cooling tower Limbah cair yang masuk ke bak equalisasi oleh unit ini didinginkan terlebih dahulu dengan menggunakan cooling tower, sehingga kalor pada limbah tersebut berpindah ke udara.

Gambar 3. Cooling tower (Nuryanti, 2011) 4. Bak equalisasi dan agitator Bak ini adalah tempat homogenisasi kualitas dan kuantitas air limbah yang masuk ke dalam bak, serta tempat untuk prosesasi difikasi melalui fermentasi. Untuk mempercepat homogenisasi digunakan agitator. Penambahan nutrisi juga dilakukan untuk makanan bakteri, yaitu pupuk urea (sumber nitrogen) dan pupuk super phosphate (sumber fosfat).

14

Gambar 4. Bak Equalisasi (Rahayu, 2009) 5. Limbah Limbah dari bak equalisasi di pompakan di MUR ( Methane Upilow Reactor) setelah melalui 2 tahap yaitu penetralan pH limbah dan tahap homogenisasi.

b) Pengolahan Limbah secara aerobic, menurut 1. Bak Aerasi

(2012) yaitu:

Limbah yang keluar dari proses anaerobik memiliki kualitas limbah yang begitu baik, sehingga bak ini terjadi proses penyempurnaan. Limbah mengalami pengolahan oleh bakteri lumpur aerob, dimana bakteri pengolah materi-materi sisa yang terbiodegradasi pada proses aerobic menjadi CO2 dan sel bakteri baru.

Gambar 5. Kolam aerasi (Yanda, 2009)


15

2.

Final clarifier Pada bak ini prosesnya adalah pengendapan dimana activated sludge dipisahkan dari air limbah yang bersih, lumpur aktif yang mengendap disirkulasi ke bak aerasi, ataupun bila di perlukan disirkulasi kembali ke bak equalisasi. Kotorankotoran yang melayang tersapu masuk ke bak effluent untuk di buang, sementara itu, air limbah bersih mengalir secara overflow ke kolam indikator.

Gambar 6. Clarifier (Budi, 2011)

3.

Kolam indikator Pada kolam ini diisikan dengan ikan sebagai indicator kualitas air. Setelah dialirkan ke kolom indikator, air dibuang ke saluran pembuangan seperti selokan atau sungai. Dari proses tersebut dapat terlihat sesuai lampiran bahwa air yang kotor dibuang kembali ke alam dalam keadaan bersih dengan proses pengolahan yang baik.

16

Gambar 7. Kolam Indikator (Nurmilasari, 2010) Secara umum, proses pengolahan limbah cair dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 8. Proses Pengolahan Limbah Cair

Penjelasan Proses-proses diatas : Limbah cair (kecuali air hujan) yang berasal dari bottling line, syrup room (tanki sanitasi), dan water treatment dan waste water treatment (back wash dan regenerasi) ditampung di dalam screen press yang fungsinya untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti sampah, plastik, sedotan dan lain sebagainya. Selanjutnya setelah disaring melalui screen press, limbah tersebut di tampung dalam sump pit yang kemudian di tampung lebih lanjut dalam bak ekualisasi lama (Putri, 2012) Kemudian limbah cair tadi dialirkan menuju Bak Aerasi yang berjumlah 2 buah bak dengan kapasitas 50 m3 dan bersekat 5 buah untuk memisahkan lemak dan minyak. Lemak dan minyak yang memiliki berat jenis lebih rendah dari air akan tertahan di permukaan, sedangkan air limbahnya akan berada di bagian bawah yang selanjutnya di pompa menuju ke bak equalisasi basin (Putri, 2012). Bak equalisasi basin yang memiliki volume 500 m3 berfungsi untuk menghomogenisasikan dan menetralisir air limbah sebelum pengolahan lebih lanjut. Proses penetralisir air limbah ini menggunakan soda kasutik dengan konsentrasi 98% sehingga pH air menjadi 6,58. Bak equaliasasi ini dilengkapi dengan aerator summersibel yang fungsinya untuk peraerasi air limbah agar air limbah tersebut tidak
17

mempunyai fluktuasi kualitas yang besar sehingga memudahkan pengolahan selanjutnya, air limbah di homogenkan dan diaerasikan menggunakan aliran turbulen. Kemudian air limbah tersebut dialirkan menuju bak oxidation ditch (Putri, 2012). Bak oxidation ditch yang memiliki volume 1600 m3 berfungsi untuk menguraikan zat-zat organik yang berada dalam air limbah dengan menggunakan Lumpur aktif dan bakteri aerobik (berespirasi menggunakan oksigen). Bakteri tersebut yaitu jenis Escherichia coli, Staphillococcus, pseudomonas sp dan Acetobacter. Untuk mempercepat pertumbuhan bakteri ditambahkan Urea pada bak equalisasi. Bak equalisasi dilengkapi dengan dua buah aerator yang berfungsi agar bakteri dapat kontak dengan air limbah secara optimal, agar semua Lumpur dapat tercampur dengan air limbah secara merata dan membantu tersuplainya oksigen untuk pertumbuhan bakteri (Putri, 2012). Air limbah selanjutnya di alirkan menuju bak clarifier yang memiliki volume 300 m3. Bak clarifier ini berfungsi untuk memisahkan lumpur aktif yang ikut terbawa dari oxidation. Lumpur aktif ini akan diendapkan dan dikumpul dibawah centre well oleh scrapper yang terdapat di bak clarifier, sedangkan air akan mengalir secara over flow menuju ke saluran selanjutnya (Putri, 2012). Limbah cair dari industri mengandung bahan bahan yang bersifat asam (Acidic) ataupun Basa (alkaline) yang perlu dinetralkan sebelum dibuang ke badan air maupun sebelum limbah masuk pada proses pengolahan, baik pengolahan secara biologi maupun secara kimiawi, proses netralisasi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan microorganisme pada pengolahan secara biologi, pH perlu dijaga pada kondisi antara pH 6,5-8,5, karena sebagian besar microba aktif atau hidup pada kondisi pH tersebut. Netralisasi adalah penambahan basa (alkali) pada limbah yang bersifat asam (pH 7) (Putri, 2012). Lumpur yang telah berkumpul dimasukkan ke dalam sludge collector oleh alat return sludge dan disirkulasikan kembali menuju ke bak oxidation ditch. Tetapi jika lumpur tersebut sudah tidak bisa di uraikan kembali maka akan dialirkan menuju drying bed. Lumpur yang berada di drying bed akan dikeringkan dan tertahan di bagian permukaan dengan bantuan sinar matahari yang selanjutnya akan dibuang. Sedangkan air yang masih terkandung dalam lumpur akan disirkulasikan kembali ke bak equalization setelah pemeriksaan di control bed (Putri, 2012). Air yang mengalir secara over flow dari bak clarifier ada yang dialirkan menuju sand filter untuk dijernihkan dari kotoran dan lumpur, kemudian dialirkan menuju zeolit filter atau sand filter, kemudian air ditampung di recycled tank yang
18

berkapasitas 1500 L, air di recycled kemudian dialirkan menuju tanki carbon filter yang berkapasitas 1000 L untuk menyaring kotoran-kotoran pada air, air setelah melewati carbon filter tank selanjutnya ditampung di pressure tank, kemudian air dari pressure tank dilakukan pelunakan di softener tank, air yang telah dilakukan pelunakkan selanjutnya dialirkan melalui pipa yang terbagi menjadi dua pipa, pipa pertama dialirkan menjadi general use sebagai kebutuhan air di toilet, taman, mesjid, dan air pembersih mobil dan forklift. Adapula yang langsung dialirkan menuju sungai setelah melewati Kolam indikator (kolam ikan), sedangkan pipa yang kedua dialirkan untuk proses resin penukar ion yang selanjutnya dialirkan menuju boiler (Putri, 2012). Penanganan limbah cair pada industri minuman ringan ( Soft Drink) memiliki nilai baku mutu untuk standart limbah yang boleh dibuang ke lingkungan, nilai baku mutu ini menjadi suatu persyaratan limbah dan dinilai aman untuk dibuang ke lingkungan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

Tabel 2. Baku Mutu Air Limbah Industri Minuman Ringan (Soft Drink)

Sumber : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1995.

2.4

Dampak Limbah pada Produksi soft drink Dalam proses pengolahan bahan baku menjadi bentuk yang siap dikonsumsi terjadi pula hasil sampingan berupa sampah atau limbah, baik berupa cair, padat maupun gas.
19

Hal ini wajar terjadi karena dalam setiap perubahan dari satu bentuk materi menjadi bentuk lainnya tidak pernah terjadi perubahan yang efisien, selalu ada sisa yang disebut limbah. Semua limbah ini akan dikembalikan ke lingkungan. Para pelaku industri atau pelaku ekonomi yang kurang peduli pengelolaan lingkungan yang yang akan meberikani dampak terhadap kesehatan dan terhadap lingkungan adalah sebagai berikut : 1. Dampak terhadap Kesehatan Dampaknya yaitu dapat menyebabkan atau menimbulkan panyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut: a) Penyakit diare, penyakit ini terjadi karena mikroba yang berasal dari sampah dengan pengelolaan yang tidak tepat. b) Penyakit kulit misalnya kudis dan kurap (Arief, 2012)

Gambar 9. Penyakit Kurap 2. Dampak terhadap Lingkungan Cairan dari limbah-limbah yang masuk ke sungai akan mencemarkan airnya sehingga mengandung virus-virus penyakit. Berbagai ikan dapat mati sehingga mungkin lama kelamaan akan punah. Tidak jarang manusia juga mengkonsumsi atau menggunakan air untuk kegiatan sehari-hari, sehingga menusia akan terkena dampak limbah.baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain mencemari, air lingkungan juga menimbulkan banjir karena banyak orang-orang yang membuang limbah.rumah
20

tangga ke sungai, sehingga pintu air mampet dan pada waktu musim hujan air tidak dapat mengalir dan air naik menggenangi rumah-rumah penduduk, sehingga dapat meresahkan para penduduk (Arief, 2012). Pencemaran lingkungan yang berarti mengganggu kelestarian lingkungan akibat turunnya kualitas air, tanah dan udara. Hampir sebagian besar industri minuman ringan menyedot air tanah sebagai sumber bahan baku utama. Pengambilan air tanah secara berlebihan dan tidak terkendali mengakibatkan antara lain : a. Turunnya permukaan tanah b. Peresapan air laut sehingga menyebabkan turunnya kualitas air tanah (Hery, 2010) Eksploitasi air tanah dalam jumlah tidak terkendali akan berpengaruh secara langsung terhadap masyarakat sekitarnya yang menggunakan air tanah untuk keperluan sehari-hari. Dampak lain adalah akibat limbah yang dihasilkan oleh industri minuman ringan. Limbah cair yang berasal dari proses pencucian botol karena pabrik minuman biasanya memanfaatkan kembali botol bekas. Sebagian besar volume dari kandungan air alkalin panas mengandung padatan terlarut. Dan juga limbah cair yang berasal dari ceceran/tumpahan sirup dan cairan lainnya selama proses pengadukan, pembotolan/pengalengan, pembersihan tangki, aliran pengisian bahan baku. Sumber limbah cair lainnya berasal dari sistem pengolahan air untuk bahan baku air dan dari peralatan mesin-mesin/bengkel berupa oli, minyak atau lemak. Keseluruhan limbah cair ini akan mengakibatkan turunnya kualitas air tanah yaitu meningkatnya pH, padatan tersuspensi dan BOD (Hery, 2010). Limbah bagi lingkungan hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi masyarakat umum, limbah padat yang di hasilkan oleh industri sangat merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil dari industri tersebut tidak diolah dengan baik pasti akan berdampak negatif pada lingkungan hidup jika tidak ada pengolahan yang baik dan benar, dengan adanya limbah padat di dalam lingkungan hidup maka dapat menimbulkan pencemaran seperti : 1) Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan(CH4), CO2 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun dan membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur dalam suasana aerob/anaerob. 2) Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk, akan terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika melebihi NAB (Nilai
21

Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50 ppm dapat mengakibatkan mabuk dan pusing. 3) Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang dalam perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat menyebabkan air menjadi keruh dan rasa dari air pun berubah. 4) Kerusakan permukaan tanah. Dari sebagian dampak-dampak limbah padat diatas, ada beberapa dampak limbah lain yang ditinjau dari aspek yang berbeda secara umum. (Arief, 2012)

Gambar 10. Pencemaran Air Sungai (Dude, 2009)

22

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Minuman ringan (soft drink) berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No. HK.00.05.52.4040 tentang Kategori Pangan adalah minuman yang tidak mengandung alkohol yang merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair dengan terdapat kandungan bahan makanan dan bahan tambahan lainnya baik alami maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk konsumsi. Kandungan yang terdapat dalam soft drink menurut Australian Beverages Council (2004) meliputi carbonated water (air soda), bahan pemanis, bahan perasa, asam, kafein, dan pewarna. Jenis-jenis limbah yang dihasilkan dari industri minuman ringan ( soft drink) berupa limbah padat dan limbah cair. Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah. Bagi limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis dapat ditangani dengan berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat, diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar. Limbah cair yang berasal dari proses bottling line, syrup room (tanki sanitasi), dan water treatment dan waste water treatment (back wash dan regenerasi) ditampung dan ditangani dengan cara membuat suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi pabrik. Hasil limbah produksi minuman ringan di industri ini dapat berdampak pada kesehatan seperti timbulnya penyakit dan lingkungan sekitar seperti pencemaran pada tanah maupun air, jika tidak diolah dengan baik dan benar.

23

DAFTAR PUSTAKA

2011.

Soft

Drink.

http://www.baoguette.com/menu/view?

location=2&item=19 . Diakses Pada 3 Mei 2013 . 2012. Pembuatan Tawas dari Limbah Alumunium Foil dan Kaleng . 7th Group of Practical Anorganical Chemistry. http://7thpracticalanorchem.blogspot.com/2012/12/pembuatan-tawas-dari-limbahalumunium.html . Diakses Pada 26 April 2013 . 2012. Gambaran Umum Perusahaan.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22691/4/Chapter%20II.pdf . Diakses Pada 26 April 2013 Arief, L.M. 2012. Pengelolaan Limbah Padat di Industri. Universitas Esa Unggul Australian Beverages Council .2004. What is a Soft Drink? http://www.australianbevarages.org/scripts/cgiip.exe/WService=ASP0002/ccms.r? PageId=10053.htm . Diakses Pada 26 April 2013 Biroe, .

Banyu. 2012. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah. http://banyobiroe.blogspot.com/2012/07/pembangkit-listrik-tenaga-sampah.html . Diakses Pada 3 Mei 2013

Budi.

2011. Clarifier untuk Pengolahan Air Limbah. http://itrademarket.com/PT_MitraMutualindo/3163052/clarifier-untukpengolahan-air-limbah.htm . Diakses Pada 3 Mei 2013 Dude. 2009 . Pencemaran Air Sungai di Bandung. http://rizaltelkom.blogspot.com/2009_11_01_archive.html . Diakses Pada 3 Mei 2013 Farmasi. 2011. Pengolahan Limbah Industri Minuman (Sirup). Universitas Gajah Mada. http://www.scribd.com/doc/53322490/pembahasan-Limbah-industri-minuman-ringan . Diakses Pada 26 April 2013
24

Hery. 2010. Dampak Lingkungan Akibat Konsumsi Minuman Ringan . http://heryw.blogspot.com/2010/01/dampak-lingkungan-akibat-konsumsi.html . Diakses Pada 26 April 2013 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1995. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. Nomor: KEP-51/ MENLH/10/1995. Kementrian Negara Lingkungan Hidup : Jakarta Nurmilasari, 2010. Limbah Cair Industri. http://nurmilasari21.wordpress.com/2010/06/04/limbah-cair-industri/ . Diakses Pada 3 Mei 2013 Nuryanti, 2011. Cooling Tower. http://bicara-teknik-kimia.blogspot.com/ . Diakses Pada 3 Mei 2013 Prasetya, Dani. 2011. Industri minuman ringan makin bergairah. http://industri.kontan.co.id/news/industri-minuman-ringan-makin-bergairah . Diakses Pada 26 April 2013 Putri, A.D. 2012. Makalah Pengantar Teknik Industri PT. Coca-Cola Amatil Indonesia . http://aprilgie.blogspot.com/2012/12/makalah-pengantar-teknik-industri-pt.html. Diakses Pada 26 April 2013 Rahayu, S.S. 2009. Equalisasi pada pengolahan limbah cair. http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia-industri/limbah-industri/equalisasi-padapengolahan-limbah-cair/ . Diakses Pada 3 Mei 2013 Rayur. 2012. Ringworm : Definition, Causes, Symptoms, Diagnosis and Treatment http://www.rayur.com/ringworm-definition-causes-symptoms-diagnosis-andtreatment.html . Diakses Pada 3 Mei 2013 Soenarno, S.M. 2011. Pengelolaan Limbah. Materi Pendidikan Konservasi Alam Bagi Guru Sekolah Dasar di Sekitar Balai Taman Nasional Alas Purwo. The Indonesian Wildlife Conservation Foundation (IWF) : Jakarta Susanty, Idha. 2012. Peluang Usaha Souvenir Berbahan Limbah Kaleng Bekas . http://www.blogged.my/pingbar-494866-peluang-usaha-souvenir-berbahanlimbah-kaleng-bekas.html . Diakses Pada 26 April 2013 Yanda, 2009. Pengolahan Limbah. http://lingkungannews.blogspot.com/2009/04/pengolahan-limbah-berdayajual.html . Diakses Pada 3 Mei 2013

25

26

. 2012. Pembuatan Tawas dari Limbah Alumunium Foil dan Kaleng . 7th Group of Practical Anorganical Chemistry.

http://7thpracticalanorchem.blogspot.com/2012/12/pembuatan-tawas-dari-limbahalumunium.html . Diakses Pada 26 April 2013

27

2012.

Gambaran

Umum

Perusahaan.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22691/4/Chapter%20II.pdf . Diakses Pada 26 April 2013


28

29

30

31

32

Arief, L.M. 2012. Pengelolaan Limbah Padat di Industri. Universitas Esa Unggul
33

34

Australian

Beverages

Council

.2004.

What

is

Soft

Drink?

http://www.australianbevarages.org/scripts/cgiip.exe/WService=ASP0002/ccms.r? PageId=10053.htm . Diakses Pada 26 April 2013

35

Farmasi, 2011. Pengolahan Limbah Industri Minuman (Sirup). Universitas Gajah Mada. http://www.scribd.com/doc/53322490/pembahasan-Limbah-industri-minuman-ringan . Diakses Pada 26 April 2013
36

Hery. 2010. Dampak Lingkungan Akibat Konsumsi Minuman Ringan . http://heryw.blogspot.com/2010/01/dampak-lingkungan-akibat-konsumsi.html Pada 26 April 2013 . Diakses

37

38

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1995. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. Nomor: KEP-51/MENLH/10/1995. Kementrian Negara Lingkungan Hidup : Jakarta
39

40

41

Putri, A.D. 2012. Makalah Pengantar Teknik Industri PT. Coca-Cola Amatil Indonesia . http://aprilgie.blogspot.com/2012/12/makalah-pengantar-teknik-industri-pt.html. Diakses Pada 26 April 2013

42

43

44

45

Soenarno, S.M. 2011. Pengelolaan Limbah. Materi Pendidikan Konservasi Alam Bagi Guru Sekolah Dasar di Sekitar Balai Taman Nasional Alas Purwo. The Indonesian Wildlife Conservation Foundation (IWF) : Jakarta
46