Anda di halaman 1dari 2

Rindu Ayolah, Ki! Ah.

Aku tidak tahu apa yang harus kupakai hanya untuk sekedar nongkrong dengan teman-temanku. Biasanya, aku paling pandai dalam soal memilih baju. Ah. Tiba-tiba hati ini sakit lagidia sangat merindukanmu, Tony. Kamarku sudah seperti kapal pecah, bajuku tersebar di mana-mana. Baiklah, akhirnya aku menemukan yang ingin kupakait-shirt Tony yang pernah dia beri kepadaku karena kekecilan. Aku langsung bergegas ke depan rumah. Teman-temanku sudah memanjangkan mukanya. Maaf ya kataku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal. Tidak apa-apa. Ayo, cepat! Aku sudah sangat ingin mencoba es krim di kedai baru itu. Hmmm Veron mengelus-elus perutnya. Es krim lagi, pikirku. Akhirnya kami berjalan ke kedai es krim yang kami bicarakan itu. Kedainya bagus, terasa sangat nyaman sekaligus sedikit elegan. Kami langsung mengambil tempat duduk yang kami inginkan. Ah.. Lia merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Seorang pelayan menghampiri kami dan menanyakan pesanan kami. Banana split 1 mbak. Veron langsung memesan tanpa membuka buku menunya dulu. Choco-berry blue deh. Aku juga ikutan memesan pada pelayannya. Simple chocolate with cherry, mba. Udah, itu aja. Yang cepet ya. Lia seperti mengusir pelayan itu dari hadapan kami. So, how are you with Tony,Ki? Pertanyaan Lia itu membuat hatiku bergetardan seakan tanganku yang tadinya asyik bermain hp menjadi mati rasa. Tatapanku hanya tertuju pada sebuah layar yang bertuliskan GAME OVER. Ki? Hah? How are you with Tony? Ngga ada perkembangan. jawabku kecewa. Akhirnya, pelayan datang membawa es krim pesanan kami. Dari kami bertiga, yang tidak tampak seperti sangat lapar hanya aku. Kalau kau tak mau makan es krimnya, sini biar aku yang makan. Veron seperti sudah mentarget es krimku. Aku tertawa kecil. Ki, Tony mana? Aku jarang melihat dia bersamamu lagi. Lia bertanya lagi. Ah Lia. Eh, betewe, itu t-shirtnya Tony kan yang kamu pake? Hahaha. Kangen banget ya? Veron nyeletuk. Rasanya sakit, mengingat aku dan dia masih dalam masa perang. Hm, iya.. Ki, I think you should move on. Veron lagi-lagiTunggu, move on? Apa maksudmu? Aku kemaren, sama Veron, liat Tony jalan di Fancy Square1 sama cewek Lia mengeluarkan suara, suara yang menyayat hatiku dan menggorengnya di penggorengan.
1

Mall di kota mereka

Dan aku yakin cewek itu bukan saudaranya karena mereka ber Veron tidak melanjutkan kalimatnya, melainkan hanya mengisyaratkan mereka berciuman. BERCIUMAN?! Aku bahkan tidak pernah mengecup keningnya. Youre gonna get it, Tony. Ternyata rindu ini tidak terbalaskan dan semua cinta yang pernah ia katakana hanyalah bohong belaka. Aku mengeluarkan sejumlah uang dan menaruhnya di meja lalu beranjak pergi. Ini terlalu pedih. Aku menghapus air mataku yang mulai berjatuhan. Apakah ini rindu? Apakah ini cinta? Aku sakit, aku tersakiti. Aku sedih, aku menangis. Sekarang di mana Tony Aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku pulang ke rumah. Rasanya hati ini tidak dapat menahan rasa sakit yang diderita. Betapa kagetnya aku mendapati Tony di ruang tamuku. Aku spontan memeluknya. Tony terlihat kaget. Aku tau kamu udah sama yang lain, tapi aku masih tetep kangen sama kamu. Jadi, ijinin aku meluk kamu sekali ini aja, terus kamu bisa sama dia dan kita selesai. kataku sesenggukan. Aku tidak mau melepaskan pelukanku. Tony sangat tinggi dan besar, susah sekali untuk memeluknya. Di dalam dekapannya, aku seperti anak kecil yang memerlukan kasih sayang dan perhatian. Saki panggilnya. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Ki, aku juga kangen kamu. Kenapa kamu kayak gini? Apa maksudmu ngomong gitu tadi? Cewek yang kucium itu sepupu kecilku. Aku mengajaknya jalan-jalan di Fancy Square kemarin karena aku kangen kamu dan dia sangat mirip denganmu. jelasnya. Aku melihat ke arah mukanya. Kamu ngga bohong? Kenapa aku harus bohong? Kedua tangannya memegangi kepalaku. Jarinya mulai mengusap-usap air mataku. Lalu kenapa kamu ngajak dia, bukan aku. Karena aku yakin kamu lagi belajar waktu itu dan aku ngga mau ngegangguin kamu. Tony tersenyum. Maaf ya aku udah ngecewain kamu Aku melepaskan pelukanku, tapi Tony menarikku kembali dalam dekapannya.