Anda di halaman 1dari 23

Meningitis tuberkulosis

Disusun oleh : Andhini Maharani Putri

Pembimbing : Dr. Ani Ariyani, Sp.A

Meninges
Meningens terdiri dari tiga lapis, yaitu: Dura meter : Merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat. Arachnoid : Merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter. Pia meter : yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk strukturstruktur ini.

Fisiologi meninges
Meninges terdiri daripada tiga jaringan ikat membran yang terletak di bagian luar organ sistem saraf pusat. Fungsi dari lapisan selaput otak ini adalah: Melapisi dan memberikan proteksi kepada struktur organ sistem saraf pusat (otak dan medula spinalis). Memberikan proteksi pembuluh darah yang terdapat di otak dan menutupi sinus venosus. Mengandung likour serebrospinalis Membentuk partisi/ bagian bagian dari otak

Definisi meningitis tb
Peradangan pada selaput otak (meningen) yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis . Penyakit ini merupakan salah satu bentuk komplikasi yang sering muncul pada penyakit tuberkulosis paru.

Etiologi
Mycobacterium tuberkulosis merupakan bakteri berbentuk pleomorfik gram positif, berukuran 0,4 - 3 , mempunyai sifat bakteri tahan asam, dan dapat hidup selama berminggu minggu dalam keadaan kering, serta lambat bermultifikasi (setiap 15 sampai 20 jam). Bakteri ini merupakan salah satu jenis bakteri yang bersifat intracellular pathogen pada hewan dan manusia.

Epidemiologi
Di Indonesia, meningitis tuberkulosis masih banyak ditemukan karena morbiditas tuberkulosis pada anak masih tinggi. Penyakit ini dapat saja menyerang semua usia, termasuk bayi dan anak kecil dengan kekebalan alamiah yang masih rendah. Angka kejadian tertinggi dijumpai pada anak umur 6 bulan sampai dengan 4 atau 6 tahun, jarang ditemukan pada umur dibawah 6 bulan, hampir tidak pernah ditemukan pada umur dibawah 3 bulan

Patofisiologi meningitis TB
BTA masuk tubuh Tersering melalui inhalasi Jarang pada kulit, saluran cerna Multiplikasi Infeksi paru / focus infeksi lain Penyebaran hematogen Meningens Membentuk tuberkel BTA tidak aktif / dormain Bila daya tahan tubuh menurun Rupture tuberkel meningen Pelepasan BTA ke ruang subarachnoid MENINGITIS.

Manifestasi Klinis
Menurut Lincoln :
Stadium I (stadium inisial / stadium non spesifik / fase prodromal)
Berlangsung 1 - 3 minggu. Biasanya gejalanya tidak khas, timbul perlahan- lahan, tanpa kelainan neurologis Gejala: * demam (tidak terlalu tinggi) * rasa lemah * nafsu makan menurun (anorexia) * nyeri perut * sakit kepala * tidur terganggu * mual, muntah * konstipasi * apatis * irritable

Stadium II (stadium transisional / fase meningitik)


A. Terjadi rangsangan pada selaput otak / meningen. * Ditandai oleh adanya kelainan neurologik, akibat eksudat yang terbentuk diatas lengkung serebri. Pemeriksaan kaku kuduk (+), refleks Kernig dan Brudzinski (+) kecuali pada bayi. * Pada fase ini, eksudat yang mengalami organisasi akan mengakibatkan kelumpuhan saraf kranial dan hidrosefalus, gangguan kesadaran, papiledema ringan serta adanya tuberkel di koroid. B. Peradangan / penyempitan arteri di otak MENYEBABKAN : * disorientasi , * bingung, * kejang, * tremor, * hemiparesis / quadriparesis * penurunan kesadaran

Stadium III (koma / fase paralitik)


Terjadi percepatan penyakit, berlandsung selama 2-3 minggu Gangguan fungsi otak semakin jelas. Terjadi akibat infark batang otak akibat lesi pembuluh darah atau strangulasi oleh eksudat yang mengalami organisasi. Gejala: * pernapasan irregular * demam tinggi * edema papil * hiperglikemia * kesadaran makin menurun, irritable dan apatik, *stupor, koma, otot ekstensor menjadi kaku dan spasme, opistotonus, pupil melebar dan tidak bereaksi sama sekali. * nadi dan pernafasan menjadi tidak teratur Akhirnya pasien meninggal

Diagnosis
Anamnesis

Riwayat kejang dan penurunan kesadaran Kontak dengan penderita TB Adanya gambaran klinis sesuai stadium penyakit

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Tanda Rangsang Meningeal (+)

Pemeriksaan Pungsi Lumbal Foto Rontgen Toraks EEG Pemeriksaan Penunjang CT-Scan Uji Tuberkulin

Pemeriksaan Lumbal Pungsi


Warna: jernih (khas), bila dibiarkan mengendap akan membentuk batangbatang. Jumlah sel: 100 500 sel / l. Mulamula sel PMN dan limfosit sama banyak jumlahnya, atau kadang kadang sel PMN lebih banyak . Pada fase akut dapat mencapai 1000 / mm3. Kadar protein: meningkat (dapat lebih dari 200 mg / mm3). Kadar glukosa: Biasanya menurun Adapun kadar glukosa normal pada LCS adalah 60% dari kadar glukosa darah. Kadar klorida normal pada stadium awal, kemudian menurun Untuk mendapatkan hasil positif, dianjurkan untuk melakukan pungsi lumbal selama 3 hari berturut-turut.

Foto toraks : dapat CT-scan kepala : dapat menunjukkan adanya menentukan adanya gambaran tuberkulosis. dan luasnya kelainan di daerah basal, serta Pemeriksaan EEG adanya dan luasnya (electroencephalograph hidrosefalus. y) menunjukkan kelainan kira-kira pada MRI (Magnetic 80% kasus berupa Resonance Imaging) kelainan difus atau fokal

Uji tuberkulin
Uji tuberkulin positif. Pada 40% kasus, uji tuberkulin dapat negatif. Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan screening tuberkulosis yang paling bermanfaat. Penelitian menunjukkan bahwa efektivitas uji tuberkulin pada anak dapat mencapai 90%.

HASIL UJI TUBERKULIN

Lokasi : bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, secara IK. uji tuberkulin dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter daripembengkakan (indurasi) yang terjadi.

04 mm uji mantoux (-) Arti klinis : tidak ada infeksiMycobacterium tuberculosa. 39 mm uji mantoux meragukan. Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan Mycobacterium atypic atau setelah vaksinasi BCG. 10 mm uji mantoux (+) Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mycobacterium Tuberculosa

Diagnosis Banding
Agen Opening Hitung Jenis Glukoa (mg/dl) Protein Mikrobiologi

Gejala pada seluruh tipe meningitis hampir sama, sehingga gold standart dari diagnosis adalah pemeriksaan css dari lumbal fungsi. Berikut adalah perbedaan dari berbagai jenis meningitis :

Pressure
Angka Normal 80 - 200

per ml
0-5 limfosit 50 - 75 15 40 Penemuan (-)

M. bakterial

200-300

1005000:>80%P MN

<40

>100

60% ditemukan penyebab spesifik pada pewarnaan gram, 80% pada kultur

M. Virus

90-200

103000:limfosit

Normal.menurun

Normal,

Isolasi virus,

pada LCM dan tapi mumps

bisa PRC assays

meningka t sedikit

M. tuberculosis

180-300

100500:limfosit

Menurun

50-200

Tinta

India,

cryptoccocal antigen, kultur

M. Aseptik

90-200

0-5:limfosit

50-75

15-40

Penemuan biasa negatif

Penatalaksanaan
Terapi diberikan sesuai dengan konsep baku tuberkulosis yakni: Fase intensif selama 2 bulan dengan 4 sampai 5 obat anti tuberkulosis, yakni isoniazid, rifampisin, pirazinamid, streptomisin, dan etambutol. Terapi dilanjutkan dengan 2 obat anti tuberkulosis, yakni isoniazid dan rifampisin hingga 12 bulan.

Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Nama Obat Isoniazid Rifampisin Dosis harian 5-15 10-20 Dosis maksimal (mg/hari) 300 600 Efek samping Hepatitis, Neuritis perifer,hipersensitivitas GIT, cairan tubuh berwarna orange kemerahan

Pirazinamid
Etambutol

15-30
15-20

2000
1250

Toksisitas hati, artalgia,gastrointestinal


Neuritis optik , ketajaman mata berkurang, buta warna, hipersensitivitas Ototoksik,neurotoksis

Streptomisin

15-40

1000

Penatalaksanaan
B. Steroid
Menghambat reaksi inflamasi Mencegah komplikasi infeksi Menurunkan edema serebra Mencegah perlengketan Indikasi Penurunan kesadaran Mengurangi defisit neurologis

Deksametason 10 mg bolus intravena, kemudian 4 kali 5 mg intravena selama 2minggu selanjutnya turunkan perlahan selama 1 bulan.

komplikasi
Paresis Spastik

Ataksia

Paraplegia

Sekuele terbanyak

Kejang

Kelainan saraf otak

Sekuele Minor

Spastisitas

Gangguan sensori ekstremitas

Gangguan Koordinasi

PENCEGAHAN

perbaikan pendidikan , sosio ekonomi, dan gizi memberi peran sangat penting

Vaksin BCG

Bila bayi lahir dari ibu penderita TB berikan suntikan 0,2 ml streptomisin setiap 5 kg berat badan dan segera rujuk

Bayi baru lahir 0,05 ml efektif menurunkan resiko TB 80%

PROGNOSIS
Prognosis Meningitis Tb berdasarkan umur dan stadium dari penyakit
Umur < 2 tahun Stadium I Mortalitas /insidens sekuele tinggi Kesembuhan 100%, insidens sekuele rendah

Stadium II
Stadium III

Mortalitas 15-30%, insidens sekuele 75%


Mortalitas 50%, insidens sekuele >80%

Terima Kasih