Anda di halaman 1dari 44

NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Fokus: PROGRAM PENCEGAHAN, PENGOBATAN, PERAWATAN DAN DUKUNGAN HIV DI LAPAS/RUTAN

Lapas Model
Untuk Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan

Cover Story:

PBB Apresiasi Penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan

NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Fokus: PROGRAM PENCEGAHAN, PENGOBATAN, PERAWATAN DAN DUKUNGAN HIV DI LAPAS/RUTAN

NOMOR 51 TAHUN XIII / 2012 Cover : Direktur Kesehatan dan Perawatan Narapidana dan Tahanan Bambang Krisbanu menerima Direktur Eksekutif UNAIDS Michael Sidibe di Lapas Narkotika Jakarta

Lapas Model
Untuk Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan

Cover Story:

PBB Apresiasi Penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan

SUSUNAN REDAKSI: ......................


PELINDUNG : Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM RI Sihabudin, Bc.IP., SH., MH. PENANGGUNG JAWAB: Direktur Informasi dan Komunikasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan F. Haru Tamtomo REDAKTUR : Kasubdit Komunikasi M. Akbar Hadiprabowo PENYUNTING/EDITOR: Kasie Peliputan dan Penyajian Berita Ika Yusanti REDAKSI PELAKSANA : Kasi Analisa dan Strategi Media Andi Marwan Eryansyah Kasie Evaluasi dan Pelaporan Martha Masseleng STAF REDAKSI : Projo Hirwono Mulyani Rahayu Sigit Budiyanto JP. Budi Waskito Irma Rachmani Innaka Mutiara Sarwoasih Vera Novianti Sri Wijayanti Rezza Juliano Nanda Hakiki SEKRETARIAT : SUB DIREKTORAT KOMUNIKASI Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jl. Veteran No. 11 Jakarta Pusat Telp. (021) 3857615 ; (021) 3857611 Ext. 311/ 310 Fax. (021) 3857612 / 3857615 E-mail : humas@ditjenpas.go.id humasditjenpas@yahoo.co.id

Portir

KRITERIA BERKELAKUAN BAIK Fokus DALAM PEMBINAAN DAN PEMBERIAN HAK-HAK WBP PROGRAM PENCEGAHAN, hal 28 PENGOBATAN, PERAWATAN DAN DUKUNGAN HIV DI LAPAS/RUTAN hal 04 PELAYANAN KESEHATAN BAGI ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM Lapas Model hal 30 Untuk Tingkatkan Akses

hal 03

Opini

Layanan Kesehatan hal 08

Sehat A-La-Pas

Cover Story PBB Apresiasi Penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan hal 10 Liputan


Daya Upaya Memberdayakan

Mari Mengenal HIV-AIDS dan TB


Serta Upaya Pengendaliannya di Lapas, Rutan Sampai Bapas !!!!!!!

hal 32 Profil UPT

Lapas Banceuy
Lapas Model Penanggulangan HIV-AIDS

Mereka yang Tengah 'Tak Berdaya' hal 12


Dalam Pencegahan dan Penanggulangan Gangguan Kamtib

hal 34
LAPAS KLAS IIA WANITA SEMARANG

Revitalisasi Satgas Kamtib


hal 16

Mengangkat harkat derajat 'ibu' di lapas


hal 36

Pemasyarakatan di Kancah Dunia


PEDOMAN PERLAKUAN

dr. Nurlan Silitonga


Prison Adviser AUSAID

hal 18

hal 38

Monitoring Pemberitaan Media


hal 40

Anak Di Pemasyarakatan Oktober - November 2012


hal 22 VOC

Napi Rutan Cipinang Diadu

Diatas Ring
hal 24
di Hari Dharma Karyadhika 2012 hal 26

TREAT JUVENILES As They Should Be

hal 42

Redaksi menerima sumbangan artikel, opini dan laporan kegiatan disertai foto-foto

Ada yang Beda

Kegiatan Dalam Gambar


hal 43

ak terasa kita akan segera meninggalkan tahun 2012. Banyak cerita yang telah tertulis di Lembaran Pemasyarakatan, baik suka atau duka. Yang baik kita jadikan pelecut semangat, yang kurang baik kita evaluasi agar menjadi lebih baik kedepannya. Berbicara tentang hasil baik, upaya pelayanan peningkatan kesehatan napi di Lapas/Rutan semakin menunjukkan hasil positif, berkat kerja keras dan dukungan berbagai pihak. Untuk itulah pada edisi Desember 2012 ini, Warta Pemasyarakatan akan mengulas lebih dalam terkait pelayanan kesehatan napi. Secara kebetulan pula, disetiap bulan akhir tahun kita akan selalu diingatkan untuk peduli pada saudara-saudara kita yang kurang beruntung terjangkit HIV. Terlebih lagi kepada saudara-saudara kita penderita AIDS di Lapas dan Rutan. Mengusung pesan, bahwa mereka yang ada di Lapas dan Rutan mempunyai hak yang sama dengan masyarakat di luar tembok penjara. Pemasyarakatan harus berbuat, semangat untuk terus berupaya Getting to zero; zero infeksi baru HIV; zero meninggal akibat AIDS; zero stigma dan diskriminasi bagi ODHA. Keberhasilan Pemasyarakatan dalam penanganan HIV-AIDS di Lapas/Rutan melahirkan 11 Lapas Model yang dapat menjadi referensi bagi kegiatan penanggulangan HIV-AIDS secara komprehensif bagi Lapas-Lapas lain. Bagaimana kriteria dan penunjukkan Lapas sebagai Lapas Model disajikan lengkap dalam rubrik Fokus, disertai liputan kedatangan utusan PBB terkait penanggulangan HIV/AIDS di Lapas/Rutan Indonesia. Semangat membawa Pemasyarakatan menjadi lebih baik, terbawa oleh semangat perubahan yang digelorakan dalam peringatan Hari Dharma Karyadhika. Berlomba-lomba membangun budaya organisasi yang inovatif, kreatif dan

Portir

profesional membawa kebanggaan bagi seluruh jajaran Pemasyarakatan, karena Pemasyarakatan unggul dalam ajang kreatifitas dan Inovasi Tugas dan Fungsi pada peringatan Hari Dharma Karyadhika 2012. Tentunya menjadi kesan yang berbeda dan harus disebarkan semangatnya dalam sajian Warta Pemasyarakatan edisi ini. Masih dalam semangat melayani kesehatan bagi narapidana, keluarga Pemasyarakatan patut mengenal sosok Dr. Nurlan Silitonga yang tak kenal lelah bahkan separuh waktu dan jiwanya diabdikan untuk melayani saudara-saudara kita yang menderita HIV-AIDS di Lapas dan Rutan. Masih banyak sajian seputar Pemasyarakatan yang sayang untuk dilewatkan. Sebut saja bengkel kerja Pemasyarakatan, satgas kamtib, sasana tinju Rutan Cipinang, dan beberapa sajian lain yang tak kalah menariknya. Sedikit bergeser dari tema besar, kita akan disajikan oleholeh cerita tentang Pemasyarakatan di kancah dunia. Perjalanan delegasi Pemasyarakatan dari Brunei, Australia, dan Filipina akan menjadi pengetahuan tambahan bagi pembaca. Bulan Desember bukan saja menggugah kepedulian kita kepada penderita HIV-AIDS, bulan Desember mengingatkan kita akan hari Ibu. Warta Pas mengajak pembaca untuk mengetahui bagaimana Lapas Wanita Semarang mengangkat harkat derajat para ibu yang sedang menjalani pidana. Akhirnya, kami berharap edisi kali ini dapat membawa semangat menuju tahun yang baru, juga sebagai bahan renungan atas apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Selamat Hari Ibu, Selamat Natal dan Selamat Tahun Baru 2013.

Redak

si

WARTA PEMASYARAKATAN 03
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Fokus

PROGRAM PENCEGAHAN, PENGOBATAN, PERAWATAN DAN DUKUNGAN HIV DI LAPAS/RUTAN


HIV DI INDONESIA Kejadian kasus HIV di Indonesia dilaporkan sejak 1987 dan saat ini epideminya adalah epidemi terkonsentrasi di kelompok populasi risiko tinggi seperti pengguna napza suntik (penasun; 25%-56%), wanita pekerja seks (WPS langsung; 4%-16% dan WPS tidak langsung; 0.4%-9%), waria (14%-30%), dan lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL; 2%-17%). Sampai dengan saat ini epidemi HIV di Indonesia sebagian besar dipicu oleh penasun. Meskipun di beberapa tempat terlihat ada penurunan prevalensi infeksi HIV pada kelompok penasun, namun persentasi masih cukup tinggi sehingga kelompok penasun berperan penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Survei Terpadu Biologis Perilaku (STBP) yang dilakukan di tahun 2011, 2009 dan 2007, menunjukkan bahwa sepertiga dari responden penasun mengaku pernah di penjara dan setengah dari penasun tersebut adalah HIV positif dimana 9% hingga 12% mengaku pernah menjalani tahanan di Lapas setahun terakhir. PREVALENSI HIV, SIFILIS & HEPATITIS C DAN PERILAKU BERISIKO DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN Berdasarkan survei nasional biologis dan perilaku di tahun 2010 di Lapas umum dan 2012 di Lapas narkotika, prevalensi HIV di Lapas narkotika sebanyak 6,5% dan di Lapas umum yaitu 1,1% pada laki-laki dan 6,0% pada perempuan. Prevalensi HIV lebih tinggi di kelompok warga binaan penasun (8% pada laki-laki dan 12% pada perempuan di Lapas umum dan 33,3% pada lakilaki di Lapas narkotika) dan warga binaan yang pernah menyuntik napza di Lapas narkotika (79,2%). Berdasarkan hasil survei di Lapas umum tahun 2010, prevalensi sifilis sekitar 5,1% pada laki-laki dan 8,5% pada perempuan. Berdasarkan survei di Lapas narkotika tahun 2012, prevalensi hepatitis C sekitar 14,4% dari semua warga binaan dan 50,9% pada warga binaan penasun. Perilaku berisiko tinggi juga diketahui terjadi di kalangan warga binaan antara lain; menyuntik napza, membuat tato, tindik, dan pemasangan aksesoris pada alat kelamin tanpa menggunakan peralatan steril, serta berhubungan seks tanpa kondom. Survei nasional Lapas yang dilakukan di Lapas narkotika menunjukkan bahwa ada sebanyak 3,1% warga binaan yang menyuntik napza di Lapas, bahkan 1,9% (15 warga binaan) mengakui masih menyuntik narkoba di Lapas pada saat survei, dan 73% (11 warga binaan) dari warga binaan yang menyuntik napza saat ini di Lapas narkotika berbagi jarum suntik.Survei terpadu biologis dan perilaku yang dilakukan Kementerian Kesehatan tahun 2007, 2010 dan 2011 juga menunjukkan bahwa antara 0,5% hingga 4% penasun menyuntik napza pertama kalinya di Lapas.

04 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Fokus
SITUASI LAPAS Di seluruh Indonesia, ada 232 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan 201 Rumah Tahanan (Rutan), dan 72 Badan Pemasyarakatan (Bapas). Sebanyak 16 Lapas tersebut yang ditetapkan sebagai Lapas Narkotika. Hingga bulan September 2012, ada 148.352 warga binaan di Lapas dan Rutan di seluruh Indonesia. Pada beberapa tahun terakhir, jumlah warga binaan dan tahanan meningkat dan melampaui kapasitas Lapas dan Rutan hingga lebih dari 40%. Sekitar 35% warga binaan tersebut dipenjara karena terkait narkoba. Survei nasional di Lapas melaporkan bahwa distribusi warga binaan laki-laki yang penasun sekitar 8% di Lapas umum dan Rutan sementara ada 13% di Lapas narkotika. Selain isu kelebihan kapasitas hunian Lapas, isu lain mengenai kurangnya air bersih, kurangnya paparan sinar matahari dan ventilasi udara, serta terbatasnya fasilitas untuk kebersihan pribadi menambah kompleksitas masalah kesehatan warga binaan di Indonesia. Meskipun ada komitmen kuat dari Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan (Ditjenpas) untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan HIV yang komprehensif di Lapas, infrastruktur pendukung terkait jumlah tenaga kesehatan profesional dan dana belum cukup memadai, dan diakui merupakan tantangan besar bagi petugas di pemasyarakatan untuk mampu menyediakan dan memberikan layanan kesehatan dasar yang baik di seluruh Lapas di Indonesia. Saat ini, anggaran kesehatan di jajaran Pemasyarakatan diperoleh dari Kementerian Hukum dan HAM. UPAYA PENANGGULANGAN AIDS NASIONAL Selama 2003-2009, epidemi HIV, tuberkulosis (TB), dan infeksi oportunistik di Lapas dan Rutan di Indonesia belum terkendali dan menjadi penyebab utama kematian warga binaan di Lapas dan Rutan. Upaya pengelolaan program penanggulangan HIV di Lapas dan Rutan seringkali bersifat adhoc dengan cakupan program yang berskala kecil serta bergantung pada pendekatan individual, dan sebagian besar layanan tersebut disediakan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ditjenpas menyadari hal tersebut, dan sebagai langkah pertama respon nasional, sebuah Strategi Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Napza di Lapas 20052009 dikembangkan di tahun 2004, dan dalam strategi tersebut ditetapkan 95 Lapas and Rutan prioritas. Sebagai bagian strateji tersebut, serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas teknis maupun manajemen diberikan untuk petugas yang ada di Lapas/Rutan tersebut. Di tahun 2009, pengembangan yang sistematis dalam upaya peningkatan cakupan program HIV komprehensif di Lapas mulai direncanakan dan dilaksanakan. Rencana Aksi Nasional untuk Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Napza di Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia periode 2010-2014 dirilis pada Januari 2010. Dokumen itu menjabarkan arahan dan kebijakan, strategi, nilai-nilai, cakupan program dan ukuran sukses pelaksanaan kegiatan penanggulangan. Rencana Aksi Nasional tahun 20102014 ini terdiri atas 3 program utama: (i) Bimbingan dan penegakkan hukum, pelayanan sosial, serta terapi rehabilitasi yang berkesinambungan, (ii) Pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV/AIDS dan infeksi oportunistik, (iii) Penelitian dan pengembangan. Dokumen itu menjadi acuan utama bagi seluruh sistem pemasyarakatan terkait manajemen dan pelaksanaan program penanggulangan HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkotika, serta mengikutsertakan program pengendalian TB. Termasuk di dalam rencana aksi nasional tersebut, Ditjenpas menunjuk 101139 Lapas/Rutan serta 2025 Bapas di 2025 provinsi di Indonesia sebagai Lapas/Rutan prioritas. Semua Lapas/Rutan dan bapas tersebut menampung 62% total populasi dan 94% warga binaan yang ditahan karena pelanggaran terkait narkotika.

WARTA PEMASYARAKATAN 05
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Fokus
Program dan kegiatan yang sudah dilaksanakan sejak 2009: Program pendidikan. Kegiatan meliputi pendidikan pencegahan HIV bagi warga binaan baru, dilanjutkan dengan pendalaman materi tersebut; dukungan sebaya dan kelompok rehabilitasi narkoba; distribusi kondom di klinik; penyucihamaan untuk membersihkan peralatan menyuntik, tato dan tindik; pelatihan bagi warga binaan sebagai pendidik sebaya dan pendidik kesehatan; serta meningkatkan keselamatan kerja dan kesehatan lingkungan. Saat ini, kurikulum tentang HIV secara resmi diajarkan kepada calon petugas Lapas di lembaga pendidikan mereka untuk memastikan bahwa lulusannya memiliki pengetahuan yang memadai tentang HIV. Program Klinis. Kegiatannya meliputi penguatan layanan konseling dan test (VCT/PITC), dan diagnosis dan pengobatan TB, manajemen kasus, penyediaan metadon dan rehabilitasi napza lainnya, serta rujukan untuk pengobatan infeksi oportunistik, terapi antiretroviral dan pengobatan infeksi menular seksual. Bimbingan Teknis. Berbagai jenis pelatihan diselenggarakan secara berkelanjutan dengan menekankan belajar melalui bimbingan tehnik seperti kunjungan lapangan, magang dan diskusi studi kasus. Lapas Model. Sebelas Lapas telah ditunjuk oleh Ditjenpas sebagai Lapas model dalam memberikan layanan HIV yang komprehensif serta sebagai pusat pembelajaran bagi Lapas lainnya. 11 Lapas tersebut berada di 11 provinsi dan memiliki peran dalam memberikan pelatihan, bimbingan tehnik dan dukungan lainnya terhadap LapasLapas di provinsinya masing-masing.
Kemitraan dan mobilisasi sumber daya. Memperkuat kemitraan dengan Kementerian Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dan pemangku kepentingan lainnya di tingkat nasional maupun provinsi dan/atau kabupaten/kota, termasuk pelibatan para ahli dari komunitas untuk membantu akselerasi pelaksanaan program dan mobilisasi sumber daya di luar sistem pemasyarakatan khususnya dengan Kementerian Kesehatan dan KPAN. Monitoring dan evaluasi HIV. Membangun dan memperkuat pencatatan dan pelaporan HIV terpadu sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi. Capaian 165 Lapas/Rutan/bapas di 25 provinsi di Indonesia sudah menjalankan program penanggulangan HIV di ruang lingkup Pemasyarakatan. Pemberian informasi tentang HIV sudah dilakukan sebagai bagian rutin yang disampaikan kepada warga binaan baru dan mereka yang akan bebas di 142 Lapas dan 23 bapas. Layanan komprehensif terkait pendidikan mengenai HIV, metadon, tes HIV dan konseling, ART, dan kelompok dukungan sudah tersedia di 122 Lapas dan Rutan. Layanan metadon tersedia di 9 Lapas dan Rutan. Pencatatan dan pelaporan HIV terpadu sebagai bagian dari data monitoring terkait program pengendalian HIV di Lapas sudah dilakukan di 165 Lapas. DAMPAK Program penanggulangan HIV yang telah dilaksanakan secara signifikan berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian terkait HIV. Dampak dari program pendidikan HIV

06 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Fokus
yang dijalankan oleh Kementerian Hukum dan HAM, serta layanan klinis yang dijalankan melalui kerjasama dengan Kementrian Kesehatan menampilkan hasil yang memuaskan. Survei nasional di Lapas dan Rutan di tahun 2010 dan 2012 menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga dari responden warga binaan mengaku telah mendapatkan pengetahun HIV dari petugas Lapas dan Rutan. Pengetahuan warga binaan mengenai HIV cukup tinggi, dimana sepertiga dari warga binaan mempunyai pengetahuan HIV yang komprehensif serta pemahaman yang sangat baik mengenai risiko berbagi alat suntik serta seks tidak aman. Begitu juga secara signifikan sejumlah warga binaan sudah dapat mengakses layanan tes dan konseling HIV, terapi rumatan metadon, pengobatan TB, dan IO, serta akses ART di Lapas dan Rutan. Kemajuan yang pesat dalam mengintegrasikan sistem pencatatan dan pelaporan HIV ke dalam sistem pencatatan pelaporan KPAN, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Hukum dan HAM. Program HIV telah membantu perubahan positif dalam perbaikan Sistem Pemasyarakatan serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Program HIV di jajaran Pemasyarakatan membuktikan bahwa banyak hal yang bisa dilakukan walau sumber daya terbatas. HAL-HAL YANG PERLU DITINGKATKAN Banyak capaian yang signifikan yang telah dicapai oleh Ditjenpas terkait respon terhadap HIV di Sistem Pemasyarakatan di Indonesia, namun demikian masih ada hal-hal yang perlu ditingkatkan. Te r k a i t p r o g r a m k o m p r e h e n s i f , kesenjangan yang besar saat ini adalah terbatasnya atau tidak tersedianya perangkat pencegahan: kondom, cairan pencuci hama dan jarum suntik steril. Sementara ketersediaan kondom di Lapas merupakan bagian dari Rencana Aksi Nasional, namun kondom tidak tersedia di sebagian besar Lapas karena kebijakan penyediaan kondom di Lapas dan Rutan belum sepenuhnya diterima. Isu-isu sensitif terkait penyediaan perangkat pencegahan itu masih terjadi dan perlu dicarikan jalan keluarnya. Strateji penggalian perilaku berisiko pada warga binaan perlu lebih ditingkatkan. Laporan rutin dari unit di jajaran pemasyarakatan menunjukan hanya 2% sampai dengan 5% dari warga binaan yang terlaporkan memiliki perilaku berisiko menyuntik napza, sedangkan survei di Lapas dan Rutan di tahun 2010 dan 2012 menunjukkan penyebaran warga binaan dengan perilaku tersebut berkisar 8% 13%. Tingginya prevalensi HIV pada warga binaan perempuan dibandingkan laki-laki juga menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan. Perbaikan program kesehatan bagi warga binaan perempuan perlu direkomendasikan. Peningkatan program warga binaan pada masa sebelum dan sesudah bebas dari tahanan perlu diperhatikan agar warga binaan terjamin keberlanjutan pengobatan dan perawatannya, dan juga pentingnya pengayaan pengetahuan dan keterampilan petugas Bapas sebagai manajer kasus. Oleh karena banyaknya tantangan terkait masalah kesehatan para warga binaan, maka dampak positif jangka panjang program HIV mungkin saja sulit tercapai kecuali isu kesehatan dan kelebihan kapasitas teratasi dengan baik. Upaya yang ditujukan untuk keberlanjutan program HIV di jajaran pemasyarakatan sangatlah dibutuhkan. Program HIV yang terintegrasi ke dalam Sistem Pemasyarakatan adalah langkah awal. Saat ini sebagian program HIV di Lapas dan Rutan masih baru berjalan dan terlalu dini untuk bisa dikatakan mapan. Risiko terbesar terkait isu keberlanjutan program HIV di jajaran Pemasyarakatan yaitu mengatasi ketergantungan dukungan dana dari pihak donor yang pada saat ini mendanai 90% dari kegiatan program HIV di jajaran Pemasyarakatan.***

WARTA PEMASYARAKATAN 07
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Fokus

Lapas Model
Untuk Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan
Setiap Narapidana berhak mendapat pelayanan kesehatan yang sama seperti anggota masyarakat bebas. (Sesditjenpas Susy Susilawati)
ata resmi smslap.ditjenpas.go.id per tanggal 13 Nopember 2012 menunjukkan jumlah penghuni Lapas/Rutan se-Indonesia 145.067 orang, sementara kapasitas hunian hanya mampu menampung 97.253. Artinya kelebihan daya tampung sekitar 149 persen. Apabila kondisi ini tidak disikapi secara serius maka berdampak pada kurangnya pelayanan kesehatan terhadap warga binaan. Sebagaimana disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pemasyarakatan, Susy Susilawati, saat membuka kegiatan "Penguatan jejaring Program pengendalian TB DOTS di Lapas/Rutan se-wilayah Jambi", bahwa salah satu dampak dari over kapasitas, adalah munculnya

berbagai penyakit serta menurunnya pelayanan terhadap kesehatan tahanan dan narapidana. Setiap Narapidana berhak mendapat pelayanan kesehatan yang sama seperti anggota masyarakat bebas, kata Sesditjenpas Susy Susilawati di Jambi (13/11). Berangkat pada kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM RI bekerjasama dengan HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI) menetapkan sebelas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai Lapas model. Program Lapas model ini dilaksanakan dalam rangka efektifitas dan efisiensi guna menunjang

08 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Fokus
peningkatan akses kesehatan, pelaksanaan program penanggulangan HIV AIDS dan penyalahgunaan narkotika. Selain itu Lapas model ini nantinya akan menjadi pusat pembelajaran bagi unit pelaksana teknis Pemasyarakatan disekitarnya dalam upaya meningkatkan akses layanan kesehatan bagi wargabinaan Pemasyarakatan. Lapas Model ini dibentuk sebagai upaya, agar program penanggulangan HIV-AIDS dan penyalahgunaan narkotika ini dapat dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan. Layanan kesehatan di dalam Lapas Model meliputi, kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), layanan dasar, layananHIV, infeksi menular seksual (IMS), PTRM atau program terapi rumatan metadhone (di sebagian lapas) dan Kesehatan Jiwa. National Technical Officer HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI), Alia Hartati mengemukakan bahwa Lapas model merupakan strategi baru dalam proses pembelajaran penanganan narapidana terkait HIV-AIDS dan penyalahgunaan narkotika secara komprehensif. Sebelas Lapas model telah ditetapkan Ditjen PAS untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, ujar Alia ketika memberikan materi sosialisasi Getting to Zero dihadapan 68 Kalapas/Karutan dan Tim AIDS, Selasa (2/10) di Bandung. Saat ini kita sedang susun finalisasi pedoman bagaimana Lapas model dijalankan. Penetapan beberapa Lapas ini didasarkan kepada Lapas yang telah memiliki keunggulan dalam bidang teknis dan managerial, ujar Alia. 11 Lapas yang ditunjuk sebagai Lapas model adalah Lapas Narkotika Cipinang, Lapas Narkotika Banceuy, Bandung, Lapas Pemuda Tangerang, Lapas Narkotika Yogjakarta, Lapas Klas I Semarang, Lapas Klas I Madiun, Lapas Kerobokan Bali, Lapas Narkotika Sungguminasa, Lapas Samarinda, Lapas Batam, dan Lapas Klas 1 Medan. Adapun Kriteria penetapan Lapas dan Rutan sebagailapas/rutan model adalah sebagai berikut: 1. Memiliki kedekatan geografis dan kerjasama dengan RS pengampu methadone, RS Pusat Rujukan ARV, RSJ/KO, RSUD, dan pusat layanan kesehatan terkait lainnya. 2. Telah ditetapkan sebagai klinik satelit methadone. 3. Memiliki fasilitas klinik dan laboratorium berstandar minimum untuk pelayanan HIV-AIDS. 4. Memiliki tenaga medis dan perawat dan setidaknya telah menjalankan layanan VCT/PICT, CST, dan TB DOTS. 5. Lebih diutamanakan Lapas/Rutan yang memiliki tenaga laboran, manajer kasus, dan petugas konseling yang telah terlatih untuk layanan program penanggulangan HIV-AIDS. 6. Telah membuktikan adanya komitmen politis dan operasional pelaksanaan program penanggulangan HIV-AIDS. 7. KPA Kab/Kota setempat telah memiliki Renstra yang sudah dioperasionalkan, dan mendapat dukungan anggaran dari APBD-II. Selama kurang lebih 4 tahun Program penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan membuahkan hasil yang membanggakan. Sudah 149 Lapas/Rutan member layanan HIVAIDS, lebih dari 50 telah melakukan layanan Volunter counceling test (VCT), selain itu lebih dari 59 Lapas/Rutan telah melakukan layanan komprehensif program penanggulangan HIVAIDS. (AH)***

WARTA PEMASYARAKATAN 09
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Cover Story

PBB Apresiasi Penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan

anggal 1 Desember merupakan Hari AIDS Sedunia atau Worlds AIDS Day. Penyakit yang sampai kini belum juga menjadi salah satu

UNAIDS, Michael Sidibe di Lapas Narkotika Cipinang beberapa waktu lalu. Bambang juga menyampaikan bahwa perhatian besar terhadap pencegahan HIV-AIDS juga terus ditingkatkan dengan menambah layanan HIV-AIDS di Lapas dan Rutan. "Saat ini sudah ada 165 UPT yang memberikan layanan komperehensif HIV-AIDS", jelas Bambang. Kami akan upayakan untuk terus menambah sesuai kemampuan kami, tambahnya. Keseriusan Lapas dan Rutan dalam menangani masalah AIDS ini telah menarik perhatian PBB untuk melihat lebih dekat program-program yang dilaksanakan di Lapas dan Rutan di Indonesia yang sudah memiliki layanan HIV-AIDS. PBB melalui UNAIDS berkomitmen akan terus memberikan dukungan

ditemukan obatnya ini

penyakit paling mematikan di dunia. Perhatian besar diberikan untuk mencegah agar penyakit ini bisa dikontrol salah satunya oleh PBB melalui UNAIDS. Tak terkecuali upaya pencegahan penularan HIV-AIDS ini juga dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan). Salah satu bukti keseriusan penanganan HIV-AIDS di Lapas-Rutan adalah turunnya angka kematiann akibat HIV-AIDS. Hal ini dijelaskan oleh Direktur Kesehatan dan Perawatan Narapidana dan Tahanan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Bambang Krisbanu saat menerima kunjungan Excecutive Director

10

WARTA PEMASYARAKATAN

NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Cover Story

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil DKI Asminan Mirza menerima kenang-kenangan dari Excecutive Director UNAIDS, Michael Sidibe

Excecutive Director UNAIDS, Michael Sidibe saat melihat langsung layanan HIV-AIDS di Lapas Narkotika Jakarta

terhadap program penanggulangan HIVAIDS di Lapas dan Rutan. Hal ini disampaikan oleh Excecutive Director UNAIDS, Michael Sidibe dalam kunjungannya di Lapas Klas II A Narkotika Jakarta pada tanggal 23 Oktober 2012. Kunjungan ini merupakan salah satu bentuk penghargaan dari PBB terhadap program penanggulangan HIV-AIDS koperehensif yang telah dilaksanakan di Lapas dan Rutan di Indonesia. Pada kesempatan ini Sidibe menyampaikan apresiasinya terhadap program penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia pada umumnya. "Hampir di seluruh dunia kondisi Lapas mengalami over kapasitas yang menyebabkan sulit untuk memberikan layanan salah satunya layanan kesehatan", ujar Sidibe. "Program penanggulangan HIV-AIDS di Lapas sudah berjalan dengan baik dan perlu didukung dengan peraturan yang berpihak pada penderita HIV-AIDS", lanjutnya. Sidibe juga menyampaikan pentingnya sistem database narapidana agar menjamin

keberlangsungan pemberian layanan kepada narapidana. Apabila narapidana pindah atau bebas agar terjamin bahwa layanan tetap bisa diberikan. "Ini penting untuk dikembangkan sebagai strategi kebijakan dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan". Sementara itu Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI, Asminan Mirza menyampaikan bahwa saat ini Lapas Narkorika sudah menjadi rujukan bagi Lapas dan Rutan di DKI. "Lapas Narkotika merupakan salah satu dari 11 Lapas Model di Indonesia dan menjadi rujukan bagi Lapas dan Rutan di DKI", katanya. Mirza yang mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI menambahkan bahwa Lapas Narkotika merupakan Lapas percontohan penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia. Mirza berharap agar terus diberikan dukungan untuk aksi-aksi selanjutnya. (JP) ***

WARTA PEMASYARAKATAN 11
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

Daya Upaya Memberdayakan

Mereka yang Tengah 'Tak Berdaya'


bengkel kerja di Lapas Brebes. Di tempat itu, ada puluhan penghuni lainnya yang telah siap menyulap limbah plastik menjadi tali. Tali-tali ini selanjutnya menjadi bahan baku pembuatan tas, jok mobil, tali terpal dan lain-lain. Sudah sekitar empat bulan, setiap pagi seusai melakukan apel pengecekan penghuni, Tikno membuat tali tambang dari limbah plastik yang merupakan hasil kerjasama dengan pihak ketiga bersama timnya, lima orang penghuni Lapas Brebes. Tikno yang tersangkut kasus narkoba ini akan menghuni Lapas Brebes selama empat

aktu menunjukan pukul delapan pagi, ketika Tikno beranjak menuju tempat yang disebut

tahun. Dia mengikuti kegiatan kerja dari pukul 08.00-14.00 WIB, dan diupah sesuai dengan jumlah tali yang dihasilkannya. Lumayan untuk beli rokok dan ngopi, sisanya ada buat tabungan kata penghuni blok C ini. Menurut Kalapas Brebes, Hernowo, pembuatan tali berbahan limbah plastik ini menjadi salah satu program kegiatan kerja unggulan di Lapas Brebes, selain pembuatan keset dari limbah kain, pertukangan kayu dan paving blok. Pembuatan tali berbahan limbah plastik ini merupakan salah satu dukungan Lapas Brebes terhadap Bengkel Kerja Pemasyarakatan

12 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan
Bangkit yang dicanangkan sebagai salah satu program unggulan Ditjen Pemasyarakatan di awal tahun 2012 lalu. Mengingat areal bengkel kerja lapas yang terbatas, pembuatan tali tambang berbahan limbah plastik menjadi pilihan kegiatan kerja di lapas ini. Kita berusaha memaksimalkan kegiatan kerja dengan apa yang kita miliki, termasuk lahan yang terbatas ini,ujar Hernowo. Sejak digaungkan awal tahun ini, Bengkel Kerja Bangkit terbukti mampu menggeliatkan kegiatan bengkel kerja di setiap UPT Pemasyarakatan. Setiap UPT Pemasyarakatan seolah tak henti memberdayakan karya, inspirasi dan imajinasi dari balik tembok penjara yang memang berlimpah. Di Lapas Karawang, ikan lele yang biasa ditemui diwarung-warung tenda pinggir jalan raya dan menjadi lauk santapan sejuta umat, mampu diberdayakan menjadi modal bagi narapidana ketika kembali menjadi manusia bebas. Menurut Kalapas Karawang, Edi Kurniadi, potensi pemasaran ikan lele di Karawang memang cukup menjanjikan. Hampir di setiap ruas jalan utama di Karawang banyak warung makan yang menjadikan ikan lele sebagai menu utama. Lain lagi, cerita pemberdayaan warga binaan di negeri Lancang Kuning. Dirjen Pemasyarakatan Sihabudin mengapresiasi program bengkel kerja di UPT-UPT Pemasyarakatan yang ada di daerah ini. Program pelatihan pertanian dan peternakan serta 5000 pasang sandal dari Lapas Bangkinang dinilai sangat berpotensi. Meskipun tidak sebanding antara petugas yang berjumlah 48 orang dengan jumlah penghuni yang over kapasitas sampai lebih dari 300 persen, tidak mengendurkan semangat para petugas untuk membina warga binaan di Lapas ini dengan berbagai kegiatan. Ada pula keterampilan pembuatan kain tenun langka oleh penghuni Rutan Siak. Kain tenun Siak atau yang dikenal dengan nama kain Lejo diakui warga Siak, Riau, sudah sangat langka. "Dekranasda, Dewan Kerajinan Siak Daerah yang memasarkan. Kerajinan tenun Siak ini cuma ada tiga di sini. Tenun siak ini kan sudah mulai punah," kata Kepala Rutan Siak, Hensah Salim di Rutan Siak Sri Indrapura. 13 Wanita yang melestarikan kain langka tersebut mendapatkan Rp 150 ribu per helai kain tenun yang telah jadi. Dalam seminggu, mereka bisa memproduksi kain tenun Lejo sepanjang 2,5 meter dengan guratan benang emas.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sihabudin saat meninjau pembuatan sandal di Lapas Bangkinang

WARTA PEMASYARAKATAN 13
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

Warga Binaan Pemasyarakatan di Rutan Siak tengah mengerjakan kain tenun lejo

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sihabudin yang mengunjungi Rutan ini cukup tertarik dengan kain langka hasil warga binaan itu. Ia pun berencana akan membawa 10 helai untuk dipamerkan di Jakarta. "Kualitas ini tetap harus dipertahankan dan nanti akan kita pamerkan," kata Sihabudin Gairah Pamer-pamer Menggelorakan bengkel kerja tak henti dilakukan pihak Ditjen Pemasyarakatan. Sejak difasilitasi dengan Galeri Pengayoman pada peringatan Hari Dharma Karyadhika 2011 lalu, gairah memamerkan hasil karya narapidana semakin membara. Dari lapak ke lapak, aneka kegiatan pameran tak pernah absen diikuti Ditjen Pemasyarakatan. Upaya ini dilakukan sebagai upaya untuk memupus anggapan masyarakat yang mengenal Lembaga Pemasyarakatan sebagai penjara yang sangat tertutup. Pintu penjara kini terbuka melalui karya.

Pembuktian jika Lembaga Pemasyarakatan yang kerap menjadi sorotan sebagai lembaga yang tak menjerakan dan justru menjadi markas besar para penjahat, adalah lembaga yang mampu memberdayakan narapidana, mereka yang tengah 'tak berdaya'. Sepanjang tahun 2012 ini, sudah tiga pameran hasil karya narapidana yang diikuti Ditjen Pemasyarakatan. Dua pameran hasil kerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM serta satu pameran yang diselenggarakan oleh Kemenko Kesra bekerja sama dengan 16 lembaga pemerintahan yang mengadakan Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012. Hasilnya, beragam produk karya napi mampu dipasarkan. Masyarakat pun merespon positif karya kreatif yang lahir dari balik jeruji yang penuh keterbatasan ini. Bahkan banyak diantaranya yang mampu bersaing di pasar internasional dan berkualitas ekspor, seperti kerajinan meubelair dari Lapas Klas I Surabaya

14 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan
dan bola kaki kualitas internasional yang dihasilkan di Lapas Klas I Cirebon. Pamer bukan sekedar pamer. Kegiatan pameran yang diikuti oleh Ditjen Pemasyarakatan dilakukan dengan profesionalitas sistem penjualan yang tertata rapih. Semua barang berkualitas yang dikirimkan ke kami akan kami pasarkan, laporan dan hasilnya langsung kami kirimkan ke UPT yang bersangkutan, untuk yang belum terjual disimpan sebagai bahan pamer di Galeri Pengayoman, Ujar Kasubdit Kemandirian, Direktorat Bina Narapidana dan Pelayanan Tahanan, Tuti Nurhayati. Geliat, semangat memberdayakan dan memperkenalkan pembinaan di Lapas/Rutan, kembali ditunjukan dengan mengadakan pameran hasil karya warga binaan yang akan diselenggarakan di The East Building, Mega Kuningan, Jakarta pada 17 Desember sampai dengan 21 Desember 2012. "Nanti di pameran, kita datangkan penghuni yang akan demo pembuatan di sana, Ajang kreatifitas para warga binaan Pemasyarakatan ini juga akan dimeriahkan kehadiran Ariel 'NOAH' dan Doyok, cs," ujar Sihabudin di Bengkalis, pada Sabtu (10/11). (SW)***

Direktur Jenderal Pemasyarakatan didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat dan Kalapas Karawang saat melakukan panen raya lele di Lapas Karawang

WARTA PEMASYARAKATAN 15
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

Revitalisasi Satgas Kamtib


Dalam Pencegahan dan Penanggulangan Gangguan Kamtib
eberapa waktu lalu publik sempat dikejutkan dengan penemuan narkoba jenis sabu yang berusaha diselundupkan ke dalam Rutan Pondok Bambu melalui kuaci. Mungkin tidak akan ada yang mengira dengan bentuknya yang sedemikian kecil ternyata mampu dijadikan media penyelundupan narkoba. Namun pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas Rutan pada saat itu mampu mengungkap dan menggagalkan penyelundupan tersebut. Lain halnya dengan yang terjadi di Lapas Kerobokan medio November lalu. Sebuah bentrok antar blok sempat menimbulkan ketegangan akibat masalah hutang-piutang antara dua warga binaan. Namun langkah cepat petugas Lapas yang melakukan mediasi dengan mempertemukan perwakilan dari masing-masing blok berhasil meredam terjadinya kericuhan yang lebih besar. Keadaan di Lapas pun kembali kondusif . Dua contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari serangkaian prestasi petugas Lapas/Rutan yang berhasil membuktikan bahwa Pemasyarakatan terus meningkatkan kinerja dan upaya dalam menciptakan Lapas/Rutan yang bersih dan aman. Ditengah keterbatasan jumlah petugas dan

pemeriksaan yang sebagian besar masih dilakukan secara manual, kewaspadaan petugas di Lapas/Rutan mampu membongkar dan mengungkap aksi bulus penghuni atau pengunjung yang masih nekad berbisnis narkoba. Kesigapan petugas saat terjadi bentrok pun menjadi bukti pentingnya manajemen konflik dalam menyelesaikan pertikaian yang ada. Pengukuhan Satgas Kamtib Wilayah Sejatinya komitmen pembenahan dan pembersihan Lapas/Rutan adalah harga mati dan prinsip yang harus selalu dikedepankan oleh segenap insan Pemasyarakatan. Untuk itulah Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemasyarakatan selalu menegaskan keseriusannya dalam memberantas narkoba dan meminimalkan terjadinya gangguan keamanan di Lapas/Rutan. Konkretnya adalah penegasan perlu adanya Satuan Tugas Pencegahan dan Penanggulangan Gangguan Keamanan dan Ketertiban (Satgas Kamtib) tingkat pusat yang diharapkan menjadi salah satu kekuatan dalam pembenahan Pemasyarakatan. Walaupun memiliki akses masuk ke semua Lapas/Rutan, banyaknya jumlah Unit Pelaksana

16 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan
Teknis (UPT) Pemasyarakatan di seluruh Indonesia tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu kendala belum optimalnya kinerja Satgas Kamtib tingkat pusat. Dari data yang tercatat hingga bulan Oktober 2012, sedikitnya telah terjadi 220 masalah gangguan keamanan di Lapas/Rutan seluruh Indonesia. Kebocoran informasi akan adanya inspeksi mendadak oleh Satgas Kamtib juga masih kerap terjadi sehingga pelaksanaan sidak menjadi tidak maksimal. Oleh karena itulah keberadaan Satgas Kamtib di tingkat wilayah dan UPT dinilai mendesak untuk dibentuk. Hal ini kemudian dikuatkan dengan dikeluarkannya Keputusan Direktur Jenderal (Dirjen) Pemasyarakatan Nomor: PAS82.PK.01.04.01 Tahun 2012 tentang Tugas dan Fungsi Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penindakan Gangguan Kemanan dan Ketertiban. Maksud pembentukan ini tidak lain sebagai pemantapan tugas di bidang kamtib khususnya di UPT Pemasyarakatan sehingga bisa berimbas positif terhadap upaya menciptakan Lapas/Rutan yang aman tertib, bebas`dari pereddaran hp, pungli dan narkoba (halinar) dengan menjunjung tinggi kode etik Petugas Pemasyarakatan dan Hak Asasi Manusia Hingga kini, Satgas Kamtib tingkat wilayah telah dikukuhkan secara resmi di sejumlah provinsi, yakni Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Riau, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara. Seperti diungkapkan oleh Dirjen Pemasyarakatan, Sihabudin, saat mengukuhkan Satgas Kamtib Kanwil Kemenkumham Riau awal November lalu, Pengukuhan anggota Satgas Kamtib bertujuan untuk mewujudkan akuntabilitas petugas pengamanan yang mampu mendorong mewujudkan tujuan dan sasaran organisasi, khususnya dalam rangka menciptakan tertib peri kehidupan penghuni. Tujuan lainnya adalah untuk menjadikan motivasi dalam penanganan gangguan kamtib yang diharapkan akan meningkat seiring kehadiran Satgas Kamtib tingkat wilayah dan UPT Pemasyarakatan. Pembentukan Satgas Kamtib juga berpotensi positif terhadap penambahan personel keamanan khususnya di UPT Pemasyarakatan yang rawan gangguan kamtib. Selain itu, Satgas Kamtib dapat pula meminimalkan ruang gerak gangguan kamtib karena akan lebih cepat terdeteksi dan diketahui penyebab serta cara mengatasinya. Tugas dan fungsi Satgas Kamtib wilayah dan UPT Pemasyarakatan tidak berbeda dengan kewenangan Satgas Kamtib tingkat pusat. Keberadaan Satgas Kamtib ini diharapkan akan bermanfaat dalam meningkatkan rasio penanggulangan gangguan kamtib yang meliputi pemberontakan, kerusuhan, perkelahian, unjuk rasa, peredaran narkoba, pelarian, penggeledahan, peredaran HP, serta monitoring. Anggota Satgas Kamtib juga dibekali pelatihan satgas, Kepolisian Khusus (Polsus), dan latihan rutin internal untuk lebih meningkatkan kemampuan satgas yang handal. Agar optimal dan maksimal dalam melaksanakan tugasnya, pembentukan Satgas Kamtib harus terus berpegang teguh pada prinsip kerja satgas yaitu terukur, memiliki susunan yang sederhana, biaya operasional yang murah, koordinasi yang mudah, profesional, aktif, cepat, dan tanggap. Sebagaimana diungkapkan oleh Dirjen Pemasyarakatan, Untuk meminimalisir ruang gerak gangguan kamtib, diperlukan penguatan dukungan terhadap prinsip-prinsip seperti pembentukan Satgas Kamtib yang terukur, sederhana, biaya operasionalnya relatif murah, serta koordinasi yang sangat mudah antar wilayah. Jalan terjal mungkin akan selalu menghadang, namun selalu ada asa bila semua dilakukan dengan penuh pengabdian. Sebagaimana makna yang tercantum dalam logo Satgas Kamtib yang menunjukkan netralitas, semangat bertugas, kekompakan, jujur, dan objektif, keberhasilan kinerja Satgas Kamtib akan tergantung pada komitmen, integritas, dan dedikasi tinggi demi mewujudkan institusi Pemasyarakatan yang bersih dan berwibawa. (IR/PH)***

WARTA PEMASYARAKATAN 17
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

Pemasyarakatan
di Kancah Dunia
alam rangka meningkatkan kinerja Pemasyarakatan, khususnya dalam bidang pembinaan bagi narapidana di Indonesia khususnya dan umumnya untuk pengembangan Pemasyarakatan di dunia, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan secara intensif melakukan berbagai upaya serta berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dalam kancah internasional, dikirimkan delegasi untuk mengikuti beberapa even yang dianggap penting dan strategis, dengan tujuan untuk menginformasikan perkembangan Pemasyarakatan di Indonesia, menyerap dan mempelajari best practice yang dilaksanakan oleh Pemasyarakatan di negara lain, serta untuk menjalin kerjasama internasional. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir (Oktober dan November), Direktorat Jenderal Pemasyarakatan mengirimkan utusan untuk mengikuti 3 (tiga) pertemuan internasional yang dilaksanakan di tiga Negara berbeda. Berikut adalah detail kegiatan ketiga pertemuan tersebut:

I.

32 nd Asian and Pacific Conference of Correctional Administrators (APCCA) APCCA merupakan konferensi antar pejabat Pemasyarakatan se-Asia dan Pasifik, guna mendiskusikan tentang isu dan permasalahan terkini serta berbagi perkembangan Pemasyarakatan di masing masing Negara. Konferensi tahunan ini diselenggarakan secara bergantian oleh Negara anggota. Tahun 2012 ini Brunei Darussalam mendapat kehormatan untuk bertindak sebagai tuan rumah. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk mendapatkan alternative solusi atas permasalahan yang di hadapi oleh setiap anggota melalui diskusi-diskusi yang mendalam dan berbagi informasi tentang praktek-praktek terbaik yang dilaksanakan oleh setiap negara peserta, sehingga sangat bermanfaat dalam pengembangan Pemasyarakatan di Indonesia.

18 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 7 s.d. 12 Oktober 2012 ini diikuti oleh 21 negara anggota dari kawasan Asia-Pacifik. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Sihabudin, dengan membawa lima pejabat yaitu Rachmat Prio Sutarjo (Direktur Bina Narapidana dan Pelayanan Tahanan), Haru Tamtomo (Direktur Informasi dan Komunikasi), Agus Toyib (Kalapas Klas I Cirebon), Ceno Hersusetiokartiko (Kasubdit Data dan Informasi), dan Sigit Budiyanto (Kasi Kerjasama Luar Negeri).

Konferensi APCCA tahun mengangkat beberapa tema yaitu tentang: Tantangan dan Inisiatif dalam dunia Pemasyarakatan; Berbagi dan mengadaptasi Praktik Terbaik pada Administrasi Pemasyarakatan termasuk pelatihan untuk tingkat eksekutif dan rencana sukses. Pertemuan ini juga membahas beberapa hal yang berkaitan dengan upaya meningkatkan interaksi antara Pegawai Pemasyarakatan dengan WBP di dalam Lapas dan dengan masyarakat, dengan memastikan keselamatan pegawai serta tantangan dan peluang dalam proses manajemen dan reintegrasi napi yang mendapatkan pidana jangka panjang. Hal lain yang menjadi perhatian dalam konferensi ini adalah Wanita di dalam Lembaga Pemasyarakatan (sebagai narapidana dan sebagai Petugas) Dalam sesi country report, dimana seluruh delegasi wajib menyampaikan best practices yang ada di negara masingmasing, Direktur Informasi dan K o m u n i k a s i , F . H a r u Ta m t o m o , mempresentasikan keberhasilan Direktorat jenderal Pemasyarakatan dalam mengelola sistem data base Pemasyarakatan. selain itu Delegasi Indonesia juga banyak belajar hal baru dari paparan delegasi negara lain selama sesi diskusi.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan mengunjungi penjara Maraburong, Brunei dalam rangkain kegiatan APCCA 2012.

WARTA PEMASYARAKATAN 19
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan
yang dibicarakan dalam kegiatan tersebut adalah tentang : Pengamanan yang efektif, Pegawai yang ditugaskan untuk mengawasi dan membina narapidana ekstrimis, dan Penyusunan program pembinaan yang ideal. Selain itu ada pula paparan hasil riset tentang Program pembinaan yang efektif (kegiatan-kegiatan yang telah berhasil diimplementasikan) dan tentang Assessment and Classification. Beberapa peserta South East Asia Prison Practitioners Workshop yang kedua pada tanggal 7-9 November 2012 di Sidney (Australia) II. South East Capacity Building Working Group Prison Management Workshop Setelah pada tanggal 6 s.d. 7 Maret yang lalu Indonesia sukses menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan South East Asia Capacity Building Working Group (SEA WG) yang pertama, Pemerintah Indonesia selaku CoChairs Global Counter Terrorism Forum SEA WG bersama dengan Australia telah menyepakati penyelenggaraan South East Asia Prison Practitioners Workshop yang kedua yaitu pada tanggal 7-9 November 2012 di Sidney (Australia). Workshop yang dilaksanakan di Brush Farm Academy, Corrective Service New South Wales Australia ini bertujuan untuk memberikan peluang bagi aparat Lapas di k a w a s a n A s i a Te n g g a r a u n t u k mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi guna menerapkan best practices dalam pengelolaan narapidana teroris. Dalam workshop tersebut hadir pejabat Pemasyarakatan dari 13 (tiga belas) Negara serta beberapa pakar Pemasyarakatan dan peneliti tentang terorisme. Beberapa tema Delegasi Indonesia yang terdiri dari Rachmat Prio Sutardjo (Direktur Bina Narapidana dan Pelayanan Tahanan) yang juga bertindak sebagai ketua delegasi, Endang Sudirman (Kalapas I Cipinang), dan Sigit Budiyanto (Kasi Kerjasama Luar Negeri); juga berkontribusi dengan memberikan paparan tentang manajemen penanganan narapidana teroris di Indonesia. Secara umum, berikut ini adalah poin-poin penting yang dihasilkan dalam workshop: 1. Harus ada kebijakan yang secara khusus mengatur tentang manajemen narapidana teroris. 2. Untuk dapat melaksanakan manajemen narapidana teroris secara efektif, harus terlebih dahulu membuat perencanaan yang matang, dengan memperhatikan tantangan apa saja yang dihadapi serta strategi apa saja yang kira-kira dapat diambil, harus ditentukan terlebih dahulu. 3. Assessmen resiko merupakan kegiatan mutlak dalam pembinaan narapidana. 4. Data dan informasi yang lengkap tentang narapidana harus dimiliki oleh petugas Pemasyarakatan untuk

20 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan
mendukung pembinaan narapidana. 5. Kerjasama dengan instansi terkait sangat penting mengingat masih banyaknya kelemahan yang dimiliki Pemasyarakatan. Selain hal-hal tersebut, itu peserta workshop juga sepakat untuk selalu berkomunikasi dalam pengembangan pengelolaan narapidana ekstrimis. III. First Asia-Pacific Seminar on Correctional Management Sejak tahun 2010 ICRC mengadakan seminar tentang Pemasyarakatan dengan mengundang para pemimpin penjara di Asia Pasifik. Setelah dua tahun sebelumnya ruang lingkup pembahasan seputar water and habitat, tahun ini adalah tahun pertama mengambil ruang lingkup Correctional Management. Topik yang diambil adalah tentang crowding di penjara. Seminar kali ini lebih difokuskan untuk berbagi pengalaman peserta dalam mengelola penjara yang over kapasitas. Pimpinan Pemasyarakatan dari 9 negara hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 19 s.d. 22 November 2012 di Manila ini. Peserta seminar melakukan pendalaman akan elemen-elemen kunci apa saja yang melatar belakangi over crowding, peran criminal justice yang lain, dan bagaimana cara mengurangi dampak dari crowding tersebut. Sihabudin (Direktur Jenderal Pemasyarakatan) dalam paparannya mengungkapkan fakta-fakta over kapasitas di Lapas Indonesia serta upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi dampak negative dari over kapasitas tersebut. Selain Direktur Jenderal Pemasyarakatan, dari Indonesia turut serta Wibowo Joko Harjono (Direktur Bina Keamanan dan Ketertiban) dan Sigit Budiyanto (Kasi Kerjasama Luar Negeri). Dari sesi paparan dan diskusi yang ada dalam kegiatan-kegiatan tersebut, setiap peserta menyampaikan gagasan serta pendapat mereka, sehingga setiap delegasi dapat belajar hal baru dari Negara lain. Dengan berpartisipasi dalam even-even tersebut, Indonesia dapat menyuarakan kepada dunia internasional tentang eksistensi serta perkembangan pemasyarakatan Indonesia, selain sebagai ajang untuk menjalin kerjasama dengan instansi luar negeri.*** (sigito@rocketmail.com)

WARTA PEMASYARAKATAN 21
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

PEDOMAN PERLAKUAN

Anak Di Pemasyarakatan
irektorat Jenderal Pemasyarakatan bekerja sama dengan UNICEF menyusun Pedoman Perlakuan Umum Anak di Pemasyarakatan. Penyusunan pedoman ini dilaksanakan di GG House Happy Valley Bogor, tanggal 26 28 November 2012.

menyusun pedoman bagi perlakuan khusus yang sesuai dengan kebutuhan anak serta berbeda dari pedoman yang diperuntukkan bagi tahanan dan narapidana dewasa Lebih lanjut Marjuki juga menjelaskan Pedoman ini secara substantif mengatur tentang peran yang seharusnya dimainkan oleh Sistem Pemasyarakatan dalam perlindungan anak. Mulai saat anak berada dalam proses peradilan pidana, di mana Rumah Tahanan (Rutan) dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) berperan, serta saat anak berada dalam masa pemidanaan setelah diputus bersalah oleh pengadilan, saat di mana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) berperan Kegiatan Penyusunan pedoman perlakuan anak ini dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pemasyarakatan, Susi Susilawati, dan Direktur Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak, Marjuki sebagai penanggung jawab program, serta Direktur Infokom, Haru tamtomo, pejabat yang lama berkecimpung dalam giat dan program pengentasan anak

Direktur Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak, Marjuki, saat menyampaikan laporan kegiatan tersebut manyampaikan bahwa perlakuan terhadap anak di Pemasyarakatan sangat berbeda dengan perlakuan terhadap warga binaan yang dewasa. Anak yang berhadapan dengan hukum dan anak yang di didik oleh Pemasyarakatan berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi diri dan masa depannya oleh karena menempatkan anak ke dalam penjara bukanlah suatu hal yang berpihak pada kepentingan yang terbaik bagi anak. Dengan melihat kondisi objektif tersebut, Sistem Pemasyarakatan, sebagai bagian integral dari Sistem Peradilan Pidana, perlu

22 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan
di lingkungan Pemesayarakatan. Perwakilan dari Direktorat Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak serta beberapa perwakilan Bapas juga turut serta menyusun Pedoman Perlakuan Umum Anak di Pemasyarakatan. Susi Susilawati, Sesditjen Pemasyarakatan, dalam sambutan di saat acara Pembukaan menyampaikan Salah satu klien atau warga binaan yang menjadi tugas Pemasyarakatan adalah anak, dan anak harus mendapatkan perhatian yang lebih, karena menyangkut masa depan generasi penerus bangsa, uangkap Susi Dalam sambutannya Susi juga berpesan: Tuntutan dari Negara melalui UU Sistem Peradilan Pidana Anak yang sangat menjunjung tinggi hak anak, harus menjadi acuan Pemasyarakatan dalam melakukan pembinaan dan pengentasan anak yang berada dibawah tanggung jawab Pemasyarakatan. Lahirnya instrumen hukum nasional dan internasional seperti - Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Havana Rules (Peraturan Perserikatan Bangsa - Bangsa untuk Perlindungan Anak yang Dicabut Kebebasannya), Standar Minimum bagi Perlakuan terhadap Narapidana, UndangUndang RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan A nak - , t urut m e nd uk ung d al a m melatarbelakangi perlunya pedoman khusus perlakuan dan pembinaan bagi anak di Pemasyarakatan. (YQ)***

MEMBANGUN MANUSIA MANDIRI MELALUI BENGKEL KERJA BANGKIT GUNA MENDUKUNG EKONOMI KREATIF INDONESIA

NAPI CRAFT 2012

Pameran Karya Napi Indonesia


17 - 21 Desember 2012
Gedung Lantai 1 & 2 Kawasan Mega Kuningan Jakarta
WARTA PEMASYARAKATAN 23
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

Napi Rutan Cipinang Diadu

Diatas Ring
umah Tahanan Negara (Rutan) Klas I Jakarta Timur atau yang lebih dikenal dengan Rutan Cipinang siang itu ramai oleh sorak sorai para warga binaan. Ratusan warga binaan tampak mengerumuni salah satu rekannya yang sedang 'adu jotos' di tengah lapangan. Gordon Simanjuntak berkalikali menerima pukulan, namun dia tak mau menyerah dan terus membalas menghajar Arnold Mau. Adu Jotos ini bukanlah perkelahian antar warga binaan, namun terjadi dalam pertandingan tinju yang digelar di Rutan Cipinang beberapa waktu lalu. Pertandingan tinju profesional dan perebutan Sabuk Emas Karutan Klas I Cipinang yang dilaksanakan pada tanggal 8 November 2012 ini merupakan puncak rangkaian acara peringatan Hari Dharma Karya Dhika tahun 2012.

Bertanding memperebutan sabuk Kepala Rutan Klas I Cipinang ini adalah Yosmar Kefi yang merupakan Peringkat 2 Nasional melawan Boido Simanjuntak yang saat ini menduduki peringkat 7 Nasional Kelas Bulu 57,1 kg. Selain partai utama tersebut ada 5 partai tambahan yang dipertandingkan. Yang pertama adalah partai tambahan exebisi kelas menengah 72,5 kg antara Saff Lena dari Rutan Cipinang melawan Yasmet Star dari King Lembata BC Jakarta. Berikutnya adalah partai tambahan kelas Terbang Yunior 49 Kg antara Geri Toisuta melawan Abito Vretat. Partai tambahan selanjutnya yaitu di Kelas Bantam 53,5 Kg antara Gordon Simanjuntak dari Rutan Cipinang melawan Arnold Mau dari Maluku Barat Daya BC Jakarta. Partai tambahan lainnya adalah Kelas Bantam Yunior 52,2 Kg antara Yani Benu melawan Carlos Obi Suru, dan

24 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

Penandatanganan Deklarasi Cipinang yang dilakukan oleh beberapa perwakilan warga binaan sebagai wujud persatuan dan solidaritas diantara para Warga Binaan Pemasyarakatan di Rutan Cipinang

Boido Simanjuntak berfoto bersama setelah mengalahkan Yosmar Kefi dan berhasil membawa pulang sabuk Kepala Rutan Klas I Cipinang

di partai tambahan terakhir yaitu Kelas Bantam Bulu Yunior 55,3 Kg antara Kusdiyanto melawan Beniqno Nino. Pertandingan semakin meriah karena diisi dengan pertandingan Tinju Putri antara Shoima melawan Meliana Lambor. Kepala Rutan Cipinang Syaiful Syahri menyatakan bahwa petandingan tinju ini merupakan rangkaian kegiatan Hari Dharma Karya Dhika Tahun 2012. "Ini adalah puncak acara Hari Dharma Karya Dhika, sebagai tuan rumah pertandingan tinju ini kami juga menjadi peserta dengan 2 orang petinju kita yang ikut bertanding", katanya. Sementara itu Kepala Pengamanan Rutan Cipinang Christo VN Toar yang sekaligus Promotor Tinju Indonesia pada pertandingan kali ini juga menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan ulang tahun Kementerian Hukum dan HAM. "Kami menyelenggarakan beberapa perlombaan dan pertandingan seperti Futsal, Badminton dan puncak acaranya adalah pertandingan tinju ini", ujarnya. Dalam kesempatan yang sama ditandatangani Deklarasi Cipinang yang

dilakukan oleh beberapa perwakilan warga binaan dari beberapa daerah. Penandatanganan ini dimaksudkan sebagai wujud persatuan dan solidaritas diantara para warga binaan. Mereka sepakat menjunjung tinggi persaudaraan diantara mereka. Mereka juga sepakat menjaga keamanan dan perdamaian demi kenyamanan bersama. Kepala kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Irsyad Bustaman menegaskan bahwa pertandingan tinju ini dimaksudkan sebagai sarana menjalin kebersamaan, bukan permusuhan. "Kalau mau bertarung kita siapkan Ring Tinju ini, diluar ring apabila ada perkelahian maka akan ditindak tegas", ujarnya. Salah satu petinju dari Rutan Cipinang Gordon Simanjuntak berhasil menang TKO setelah menjatuhkan lawannya Arnold Mau. Gordon yang berlatih di Ruci Kls I Cipinang BC Jakarta ini berharap lebih banyak lagi para warga binaan yang bisa bergabung di Club Tinju Rutan Cipinang. "Mudah-mudahan dengan acara ini nantinya banyak temanteman warga binaan yang ikut berlatih di club", harapnya. (JP)***

WARTA PEMASYARAKATAN 25
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

di Hari Dharma Karyadhika 2012


emangat perubahan telah mendorong kreatifitas dan lahirnya kebersamaan dalam peringatan Hari Dharma Karyadhika tahun 2012. Mengusung tema Dengan Semangat Dharma Karyadhika 2012, Kita Bangun Kreatifitas dan Inovasi Pegawai Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Melalui Harmoni Dalam Gerak dan Langkah Guna Mewujudkan Suksesnya Reformasi Birokrasi, menjadi magnet dalam menyerap seluruh jajaran di Kementerian Hukum dan HAM untuk mewarnai seluruh kegiatan hajat tahunan ini. Serangkaian kegiatan disusun untuk menyemarakkan peringatan Hari Dharma Karyadhika. Banyak hal baru yang dilakukan dalam peringatan tahun ini, tidak selalu mengusung semarak kemeriahan, namun yang utama Dharma Karyadika kali ini juga menjadi media sosialisasi penyampaian program dan prestasi kinerja Kementerian Hukum dan HAM. Peringatan Dharma Karyadhika diawali dengan Publikasi tema dan rangkaian multi event melalui berbagai media, pada hari Jum'at, 5/10 yang lalu. Menkumham, Amir Syamsudin melounching seluruh rangkaian kegiatan tersebut dan menghimpun energi positif dari seluruh unit eselon satu demi semaraknya peringatan. Ada yang berbeda dalam Peringatan Dharma Karyadika tahun ini. Susi Susilawati, Sesditjen Pemasyarakatan, yang tahun ini berperan sebagai Ketua panitia menceritakan Peringatan Hari Dharma Karyadhika tahun ini dijadikan momentum untuk membangun budaya kerja yang inovatif, kreatif dan profesional di seluruh jajaran Kementrian Hukum dan HAM

Ada yang Beda

Ajang adu kreativitas, inovasi tugas dan fungsi Kementerian Hukum dan Ham adalah hal perdana yang dilakukan dalam peringatan Hari Dharma Karyadhika. Sosialisasi yang singkat, namun menjaring banyak peminat. Diakhir batas pendaftaran terjaring lebih dari 40 ide inovasi yang terkumpul dari seluruh init kerja Kementrian. Penilaian hasil karya peserta yang diterima oleh panitia diseleksi berdasarkan beberapa kriteria yaitu gagasan adalah hasil kreatifitas pegawai dan belum pernah diterapkan di Kementerian Hukum dan HAM, mempuanyai manfaat dan dapat diterapkan secara berkelanjutan serta mempunyai output dan outcome yang terukur. Karya inovasi juga harus memmenuhi aspek Quality (saat inovasi diterapkan mencerminkan manfaat yang jangka panjang); Efektifitas (meningkatkan efektifitas kerja); Antispasi resiko (antisipasi perlindungan terhadap resiko kerja); Moral (ide berpengaruh pada perubahan buaya organisasi) dan Produktifitas (presentase produktifitas pekerjaan meningkat). Setelah melalui proses penilaian juri, berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan 15 ide inovasi lolos sebagai finalis. Masing-masing finalis wajib mempresentasikan idenya pada tanggal 29/10 dihadapan dewan juri yang terdiri dari beberapa pejabat eselon 2 di lingkungan kementerin hukum dan HAM. Hal yang menjadi kebanggaan, adalah dari 15 finalis 9 diantaranya adalah dari Pemasyarakatan. Banyak ternyata inovator-inovator di Pemasyarakatan. Dari Lapas Jambi ada pengembangan ternak kelinci, Inovator dari Rupabasan Bandung, merancang

26 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Liputan

sistem aplikasi pengelolaan basan dan baran. Ada juga Tim dari Bapas Sumbawa Besar yang membuat sistem komputerisasi penerimaan Klien Pemasyarakatan. Ceno Hersusetyo, salah satu finalis mengomentari ajang kreatifitas ini. Ajang kreatifitas dan inovasi ini menjadi pemacu semangat bagi seluruh pegawai, untuk kreatif mencari terobosan-terobosan dalam menjalankan tugas dan fungsinya agar lebih efektif dan efisien, ungkap Ceno. Setelah mempresentasikan hasil karya inovasinya, anugerah kreativitas dan predikat pemikiran out of the box diberikan kepada Aman Riyadi, finalis dari Ditjen Pemasyarakatan, atas idenya Penilaian Kelakuan Baik Berbasis Teknologi (Blue Tag) terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan. Selain Aman, 2 finalis dari Pemasyarakatan berhasil meraih nilai tertinggi yaitu Ceno Hersusetyo finalis dari Ditjen Pemasyarakatan sebagai terbaik kedua, dengan inovasi Teknologi Pelayanan Informasi dan Kunjungan bagi Keluarga Inti WBP. Anugrah dan penghargaan juga diberikan kepada Ari Tris Ochtia Sari, S.Psi dari Klas I Semarang dengan inovasi Assessment Psikologi melalui Intervensi Teknik Cope sebagai Salah Satu Alternatif Mengurangi Perilaku Agresif WBP. Kebahagiaan dan keceriaan Hari Dharma Karyadhika dilengkapi dengan kehadiran petugas pengamanan di pulau terpencil dan melaksanakan tugas penuh pengabdian di jajaran Pemasyarakatan. Dipilih 4 orang petugas yang telah bekerja lebih dari 20 tahun, tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin dan memiliki integritas moral yang baik. Mereka adalah Martheen

P.Bee dari Rutan Tahuna di Lirung Sulawesi Utara, Markus Kanikir, Staf Pengamanan Cabang Rutan Ambon di Saparua, Marlando Sitorus , KasubsiYantah dan Pengelolaan dari Cabang Rutan Merouke di tanah Merah dan Iwansyah, Staf Pengamanan Rutan Putusibau. 4 orang ini diundang langsung oleh Menkumham untuk hadir pada saat Upacara Peringatan Hari Dharma Karyadhika di Kementerian Hukum dan HAM Selasa, 30/10 dan menerima penghargaan dari Menteri Amir Syamsudin. Martheen dan kawan-kawan sangat bangga dengan penghargaan yang diterimanya. Saya baru kali ini datang ke Jakarta, dan senang sekali mendapat penghargaan dari Bapak Menteri, kata Matheen. Saya juga berharap Bapak-bapak pejabat di Jakarta, khususnya Bapak Menteri dapat meluangkan waktu menengok kami yang bertugas jauh dari Jakarta, ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Banyak hal istimewa dalam terselanggaranya Peringatan Dharma Karyadhika 2012. Bambang Rantam Sariwanto, Sekretaris Jenderal Kemenkumham mengajak seluruh unit dan jajaran Kemenkumham tetap semangat bersama-sama melakukan perubahan, bersama berjalan ke arah satu tujuan membawa Kemenkumham ke arah yang lebih baik. Semangat harmoni dalam gerak dan langkah, membawa seluruh jajaran Kementerian hukum dan hak asasi manusia terus terintegrasi dengan apik dan menawan dalam menunaikan nilai-nilai kebijakan demi kesuksesan Kementerian Hukum dan HAM, kata Bambang.(YS)***

WARTA PEMASYARAKATAN 27
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Opini

KRITERIA BERKELAKUAN BAIK DALAM PEMBINAAN DAN PEMBERIAN HAK-HAK WBP

Andi Marwan Eryansyah*


ontroversi terhadap kriteria berkelakuan baik bagi pembinaan terhadap warga binaan Pemasyarakatan menjadikan polemik tersendiri dalam pelaksanaannya. Dalam berbagai ulasan berita di media cetak maupun elektronik beberapa waktu lalu, criteria kelakuan baik menjadi sorotan terutama saat pemberian remisi maupun Pembebasan Bersyarat terhadap beberapa warga binaan Pemasyarakatan tertentu Pada Rapat Dengar Pendapat antara Kementerian Hukum dan HAM dengan Komisi III DPR pada awal tahun 2011, Ketua Komisi III, Beni Kabur Harman sempat mempertanyakan ukuran berkelakuan baik yang digunakan untuk menentukan pemberian keringanan hukuman terhadap terpidana, termasuk narapidana kasus korupsi. Kelakuan baik ini tidak ada ukurannya. Artinya, suka-suka, ini kenyataan kata Beni. Hal tersebut dapat berdampak negatif terhadap citra Pemasyarakatan manakala tidak segera dilakukan perbaikan dan ditentukan kriteria tersendiri (khusus) secara jelas dalam pelaksanaan pembinaan dan pembimbingan warga binaan Pemasyarakatan. Tujuan Pemasyarakatan adalah membuat narapidana dapat bertingkah laku baik di

masyarakat, berguna dan berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tujuan ini tercermin dalam berbagai regulasi Pemasyarakatan yang mengatur mengenai hak dan kewajiban narapidana, salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan yang mengatur mengenai pembinaan dan pembimbingan warga binaan Pemasyarakatan. Dalam ketentuan ini terlihat bahwa ketika seorang Warga Binaan Pemasyaraatan masuk ke dalam Lembaga Pemasyarakatan, maka ia wajib dibina dan dibimbing melalui kegiatan pembinaan yang meliputi pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Namun saat ini belum ada indikator yang jelas terhadap pemberian hak terhadap warga binaan. seorang narapidana, dengan hanya menaati peraturan yang ada walaupun sama sekali tidak mengikuti kegiatan pembinaan, mereka memperoleh hak-haknya tak ada bedanya terhadap narapidana yang mengikuti program kegiatan pembinaan dan tidak menyalahi aturan yang ada. Lalu dimana Sistem Pemasyarakatan? Untuk mengukur kelakuan baik warga binaan, sebagian Lapas/Rutan telah menerapkan kartu

28 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Opini
pembinaan terhadap warga binaan. Namun kartu tersebut hanya terbatas untuk mencatat kegiatan yang dilakukan oleh WBP dan tidak bersifat komprehensif. Seiring dengan perkembangan, perlu dibuat regulasi untuk pemberian hak-hak tersebut. Termasuk di dalamnya mengatur tentang SOP pelaksanaan kegiatan pembinaan. Setiap warga binaan yang terlibat dalam kegiatan pembinaan diberi kredit poin dengan ukuran yang jelas. Pemberian kredit poin dapat dilakukan selayaknya pemberian raport, setiap kegiatan ada nilainya dan nilai tersebut yang akan menentukan hak-hak apa saja yang akan mereka peroleh. Regulasi dan SOP pembinaan juga harus dirancang agar pembinaan tepat guna dan tepat sasaran, yaitu dengan melakukan asesmen. Melalui asesmen akan dapat dilakukan pengkategorian (klasifikasi), menyusun rencana pembinaan dan melakukan program pembinaan yang tepat sesuai kebutuhan narapidana. Dengan disusunnya aturan ataupun SOP terhadap kriteria dan pelaksanaan pembinaan WBP yang didasari dengan penilaian melalui asesmen diharapkan seluruh narapidana giat untuk mengikuti kegiatan pembinaan di Lapas/Rutan. Dan dengan penilaian keberhasilan pembinaan terhadap narapidana yang terukur melalui kredit poin, akan nada mekanisme yang jelas untuk menilai kelakuan baik warga binaan. Memalui mekanisme ini dapat menjadi ukuran untuk memberikan hak-hak kepada warga binaan. B e gi t u j u ga ha l ny a d e nga n s a nk s i d a n penghargaan yang diberikan jika WBP menunjukkan atau tidak menunjukkan kelakuan baik selama masa pidana mereka. Peringkat dan k ategorisasi inilah yang nantinya a k a n memberikan poin-poin bagi WBP baik positif maupun negatif. Poin positif dan negatif ini kemudian diakumulasi ke dalam poin akhir yang dapat digunakan oleh WBP untuk mendapatkan hak-haknya seperti remisi, cuti dan pembebasan bersyarat. Aturan yang jelas terhadap kriteria pemberian hak WBP melalui proses asesmen juga akan berdampak pada peningkatan kinerja petugas. Setiap WBP akan dapat dinilai dan diawasi oleh petugas sebagai wali, sehingga sumber daya petugas lebih optimal dan tidak lagi sekedar datang, duduk, ngobrol dan pulang. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, tantangan Pemasyarakatan ke depan adalah membuat instrumen yang terukur untuk menilai perubahan-perubahan perilaku sebagaimana disebut di atas. Praktik penilaian kelakuan baik yang didasari pada kepatuhan terhadap tata tertib tidak hanya dilihat dari sisi petugas maupun Wali Pemasyarakatan semata namun harus didukung pula oleh alat berbasis teknologi yang membantu pelaksanaan tugas tersebut. Dengan demikian terdapat tiga mekanisme untuk menilai kelakuan baik seorang Warga Binaan Pemasyarakatan. Pertama, managemen pembinaan yang baik, memalui proses asesmen, serta program pembinaan yang terarah, tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan warga binaan. Kedua: keterlibatan warga binaan dalam program pembinaan dengan indikator penilaian yang terukur melalui kredit point. Ketiga didukung dengan menggunakan alat berbasis teknologi yang berfungsi untuk mendeteksi keberadaan Warga Binaan dan menjamin keakuratan dalam penilaian. Kejelasan mekanisme ini akan menjamin keadilan perlakuan terhadap warga binaan. memberi kepastian akan perolehan hak-hak serta dapat mengurangi pikiran negatif yang dapat menimbulkan kekhawatiran dikalangan warga binaan. Kejelasan mekanisme ini akan meningkatkan citra Pemasyarakatan serta menjawab prasangka publik tentang pemberian hak warga binaan yang dianggap tanpa dasar dan 'suka-suka'. (AM)*** *Kepala Seksi Analisa dan Strategi Komunikasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan

WARTA PEMASYARAKATAN 29
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Opini

PELAYANAN KESEHATAN BAGI ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM

Drg. Fatimah, M.A.R.S*


idak semua anak beruntung dilahirkan secara normal, sebagian diantaranya lahir dengan kelainan bawaan dan ada yang mengalami kekerasan/trauma, penelantaran termasuk eksploitasi seksual serta anak yang berhadapan dengan hukum yang kemudian di tempatkan di dalam Lapas/Rutan. Tidak semua anak dapat tumbuh dan berkembang di lingkungan dengan keluarga yang utuh, sehingga dalam keadaan tertentu dapat membuat anak tinggal dipanti asuhan, rumah singgah, Lapas/Rutan, atau terpaksa bekerja dan menjadi anak jalanan. Selain itu kondisi geografis, pendidikan, dan sosial budaya yang membuat anak tersebut memerlukan penanganan secara khusus. Setiap anak diharapkan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapannya akan tetapi anak-anak yang berkebutuhan khusus memiliki permasalahan kesehatan yang berbedabeda. Di Indonesia anak yang berhadapan dengan hukum selanjutnya disebut dengan ABH tiap

tahun terus meningkat. Sebagian besar ABH mengalami kasusnya pada saat mereka dalam masa remaja, yaitu masa yang merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Sehingga masa ini seringkali menghadapkan individu kepada situasi yang membingungkan seperti halnya berperilaku aneh, canggung, dan kalau tidak terkontrol bisa menjadi kenakalan. Bagi anak yang tidak terkontrol kenakalannya akan menyebabkan anak tersebut dapat berhadapan dengan hukum. Pada dasarnya anak di Lapas/Rutan mempunyai hak yang sama dengan anak-anak lainnya. Terbatasnya kebebasan mereka karena harus menjalani pembinaan di Lapas/Rutan tidak mengugurkan hak-hak mereka sebagai anak. Pemasyarakatan mempunyai tugas memberikan pembinaan dalam sistem yang terpadu agar anak menyadari kesalahan yang telah dilakukan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga ABH dapat kembali ke masyarakat, berperan aktif dalam pembangunan

30 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Opini
serta dapat hidup wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Oleh karena itu ABH membutuhkan pendampingan, pembimbingan dan pelayanan yang bersifat khusus di karenakan mereka masih dalam fase pertumbuhan dan perkembangan. Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang P emasyarakatan Pasal 14 menyebu t k a n narapidana dan anak di Lapas/Rutan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. PP No32 Tahun 1999 Pasal 7 ayat 1 juga menyebutkan bahwa setiap anak di Lapas/Rutan berhak mendapatkan perawatan jasmani dan rohani berupa pemberian kesempatan melakukan olahraga dan rekreasi, pemberian perlengkapan pakaian dan pemberian perlengkapan tidur dan mandi. Permasalahan pelayanan kesehatan saat ini yang dilaksanakan di Lapas/Rutan secara umum masih belum terlaksana secara optimal, dikarenakan salah satu faktornya yaitu sumber daya manusia untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi anak sangat terbatas. Belum semua Lapas/Rutan memiliki unit/poli pelayanan kesehatan dan perawatan yang memadai. Keterbatasan tenaga kesehatanpun masih belum cukup, demikian juga dengan keterbatasan peralatan medik dan obatobatan. Pelayanan kesehatan yang telah tersedia bagi anak masih bersifat kuratif, sehingga pelayanan kesehatannya disamakan dengan pelayanan kesehatan warga binaan dewasa. Masalah kesehatan yang banyak ditemukan hampir seluruhnya berkaitan dengan rendahnya Perilaku Hidup Bersih dan sehat (PHBS), rendahnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja, rendahnya kualitas sanitasi dan kesehatan lingkungan dan tidak kondusifnya kondisi lingkungan psikososial. Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ABH harus dilakukan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Upaya kesehatan promotif yaitu memberikan penyuluhan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Kesehatan Reproduksi Remaja, dampak penggunaan Napza, pencegahan Infeksi Penyakit Menular Seksual termasuk HIV dan AIDS terhadap kualitas hidup remaja, kesehatan lingkungan, peningkatan status gizi, pencegahan dan dampak kekerasan pada anak, olahraga untuk kesehatan. Upaya kesehatan preventif yaitu screening awal ABH baru, pemeriksaan berkala pada ABH lama sebaiknya dapat dilakukan 3 bulan sekali, isolasi anak yang menderita penyakit menular, pemantauan dan pembinaan penyelengaraan makanan, pemantauan dan surveilans kejadian penyakit menular yang ada di Lapas/Rutan, serta pemantauan dan pemeliharan kesehatan lingkungan. Upaya kesehatan kuratif yaitu dalam hal pelayanan kesehatan umum dan gigi, pelayanan pengobatan penyakit khusus seperti tuberculosis, malaria, kusta, infeksi saluran reproduksi dan infeksi seksual termasuk HIV/AIDS. Upaya kesehatan rehabilitatif yaitu rehabilitasi fisik dan mental. Selain upaya kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif tersebut tenaga kesehatan yang berwenang di unit pelayanan kesehatan dan perawatan di Lapas /Rutan, hendaknya dapat menerbitkan surat keterangan kesehatan/ medical record dan dilampirkan bersamaan dengan surat bebas/lepas bagi ABH yang bebas dari Lapas/Rutan agar pembinaan kesehatan yang telah dilakukan dapat dilanjutkan diluar lapas/rutan yakni puskesmas atau rumah sakit setempat. Jakarta, 2 Desember 2012 *Dokter di Rumah Sakit Pengayoman Jakarta

WARTA PEMASYARAKATAN 31
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Sehat A-La-Pas

Mari Mengenal HIV-AIDS dan TB


Serta Upaya Pengendaliannya di Lapas, Rutan Sampai Bapas !!!!!!!
TB Bisa Disembuhkan; HIV Bisa Dikendalikan !!!
BAGIAN KETIGA Pagi Bapak Ibu sekalian.. Semangat!!! Pada 2 (dua) edisi sebelumnya, kita telah berkenalan tentang dasar-dasar HIV-AIDS dan TB. Apa itu HIV-AIDS dan TB, bagaimana cara penularan dan pengobatannya. Serta tentu saja informasi bahwa seseorang yang terinfeksi TB atau HIV bisa mempertahankan kesehatannya, bila diketahui sedini mungkin, mendapatkan pengobatan yang tepat dan menerapkan pola hidup sehat. Edisi kali ini adalah bagian terakhir dari trilogi Mari Mengenal HIV-AIDS dan TB Serta Upaya Pengendaliannya di Lapas, Rutan dan Bapas!!!!!. Pada kesempatan ini, kita akan memahami lebih jauh tentang kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terhadap 2 (dua) penyakit yang menjadi penyebab kematian terbanyak Narapidana dan Tahanan tahun 2010-2011. DATA ANGKA KEMATIAN (Laporan Bulanan)
PEN YA KIT H IV A ID S TU BERKU LO SIS (TB) IN FEKSI SALU RA N N AFA S IN FEKSI SALU RA N CERN A PEN Y. JA N TU N G D A N PEM B. D A RA H H EPA TITIS SA RA F, O TO T D A N TU LA NG GA N GGU A N JIW A (BU NU H D IRI ) D IA BETES M ELLITU S M A LA RIA JU M LA H 2010 204 137 132 119 70 56 35 16 12 10 791 2011 105 46 26 42 55 16 26 17 17 2 352

KEBIJAKAN PENGENDALIAN TB & HIV DIREKTORAT JENDERAL PEMASYARAKATAN Rencana Aksi Nasional (RAN) Tentang Pengendalian TB di Rutan, Lapas dan Bapas Visi : Menuju WBP Dan Tahanan Bebas TB, Sehat, Mandiri Dan Berkeadilan. Misi : Menjamin Setiap Pasien TB Di Rutan, Lapas Dan Bapas Dapat Layanan Menyeluruh, Merata, Bermutu Dan Berkeadilan; Membangun Kesadaran Petugas,WBP/Tahanan untuk Menurunkan Penularan TB; Membangun Kemitraan Dan Jejaring Antara Rutan, Lapas Dan Bapas Dengan Instansi Terkait Dan LSM Dalam Peningkatan Program Pengendalian TB. Tujuan: Menurunkan Angka Kesakitan Dan Kematian Akibat Penyakit TB Satu hal PENTING dalam pengendalian TB adalah deteksi sedini mungkin dan penyediaan ruang isolasi pasien TB saat masih dalam fase menular. Rencana Aksi Nasional (RAN) Penanggulangan HIV-AIDS Dan Penyalahgunaan Narkoba Pada Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan Tahun 2010-2014. Peraturan Menteri Hukum Dan HAM RI, Nomor: M.HH.01.PH.02.05 Tahun 2010. Dalam mencapai tujuan RAN tersebut, ditetapkan Strategi Inti Tiga Pilar, yaitu:

32 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Sehat A-La-Pas
Tidak Ada Penyalahguna Baru Di Lapas dan Rutan 1. Penegakkan Hukum dan 2. Bimbingan Hukum II. Rehabilitasi Dan Pelayanan Sosial 3. Rehabilitasi 4. Pelayanan Sosial III. Care, Support dan Treatment 5. Pencegahan 6. Perawatan Program Pendukung 7. Penelitian, Pengembangan dan Pengamatan 8. Kerjasama dengan Instansi Terkait Tahun 2012 - 2015 Direktorat Jend e ral Pemasyarakatan bekerjasama dengan KPAN dan Kementerian Kesehatan RI mencanangkan program GETTING TO ZERO dalam pengendalian HIV-AIDS di Lapas dan Rutan. Program ini memiliki 3 (tiga) tujuan yaitu: 1. Zero Infeksi Baru HIV; 2. Zero Meninggal Akibat AIDS; 3. Zero Stigma Dan Diskriminasi Bagi ODHA Dalam perkembangannya didapatkan bahwa TB dan HIV adalah 2 (dua) penyakit yang saling terkait satu sama lain. Sehingga penatalaksanaannya pun sebaiknya dilakukan dengan saling terhubung satu sama lain. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dengan mengacu pada kebijakan Kementerian Kesehatan RI, sejak akhir tahun 2010 mulai mensosialisasikan dan menerapkan program Kolaborasi TB-HIV. Dalam Kolaborasi ini setiap pasien TB diperiksa HIV dan pasien HIV diperiksa TB. Hasil yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2014: v 100 % WBP Dan Tahanan Mendapatkan Akses Layanan Pemulihan Masalah Sosial v 80 % WBP Dan Tahanan Mendapat Layanan Pemeriksaan Kesehatan Paripurna v 50 % Wbp Suspek TB Di UPT Pemasyarakatan Prioritas Nasional Telah I. Mengakses Layanan Konseling Tes HIV, TB Dan IMS v 100 % Klien Pemasyarakatan Mendapat Pendampingan Layanan Sosial Dan Kesehatan Sesuai Kebutuhan v Menurunnya Tingkat Kematian WBP Dan Tahanan Akibat HIV-AIDS, TB Dan Narkotika Hingga 60 % Pada Akhir Tahun 2014 Bagi Bapak dan Ibu Pelaksana di Lapas, Rutan dan Bapas yang membutuhkan informasi lebih lanjut terkait penatalaksanaan TB dan HIV khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya, dapat bersurat kepada Direktorat Bina Kesehatan Dan Perawatan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Penghargaan setinggi-tingginya kepada Petugas di Rutan, Lapas dan Bapas. Semoga kita dapat terus bersemangat dan bekerjasama dengan baik dalam memberikan yang terbaik.

TIPS KEWASPADAAN STANDAR TIPS MENCUCI TANGAN YANG BENAR:

dr. Hetty Widiastuti Kasi Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan Ditkeswat Ditjenpas

WARTA PEMASYARAKATAN 33
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Profil UPT

Lapas Banceuy
embaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Banceuy Bandung terletak di Jalan Soekarno Hatta No. 187A Bandung, sebelumnya terletak di Jalan Banceuy No. 8 Bandung, nama Banceuy melekat pada nama Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Bandung di Jalan Soekarno Hatta No. 187 A Bandung, karena nilai historis pada saat itu mantan presiden Soekarno pernah ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Banceuy. Sejak terbitnya Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. W8.UM.01.06.245 A tanggal 30 september 1999 tentang Pembentukan Lapas Khusus Napi Narkoba, maka Lapas Klas II A Banceuy Bandung dikhususkan menampung narapidana kasus narkotika dari Kantor Wilayah Departemen Kehakiman DKI Jakarta dan Jawa Barat. Penunjukan sebagai Lapas Khusus narkotika tersebut tentunya Lapas Bancuey harus mempersiapkan program rehabilitasi baik medis maupun sosial terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan berlatar belakang narkotika yang memiliki resiko terjangkitnya Virus HIV. Hingga akhir Nopember 2012 tercatat jumlah penghuni Lapas Banceuy Bandung ada 1.480 orang, sementara kapasitas hunian hanya untuk 600 penghuni. Oleh karena itu Lapas Banceuy sudah melebihi kapasitas yaitu 247 persen. Tidak bisa dipungkiri kepadatan hunian bisa berdampak kepada rendah sanitasi, pelayanan kesehatan yang kurang berkualitas, dan peluang perilaku berisiko terjadinya penularan HIV dan penyakit menular lainnya. Namun demikian kondisi yang sudah over kapasitas di Lapas Banceuy, tidak menyurutkan petugas untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada para wargabinaannya. Walaupun hanya didukung lima dokter (tiga dokter umum dan dua dokter gigi, salah satunya sedang

Lapas Model Penanggulangan HIV-AIDS


sekolah spesialis internis) dan empat perawat namun berbagai program Layanan kesehatan tetap berjalan. Kepala Lapas Bancuey, Wahid Husen ketika dihubungi Warta Pemasyarakatan menyampaikan bahwa Lapas Banceuy berupaya semaksimal mungkin menjalankan program HIVAIDS dan penyalahgunaan narkotika secara komprehensif dan berkesinambungan, jelas Wahid Husen. Pada awal tahun 2007 Lapas Banceuy Bandung mulai melaksanakan layanan HIV Komprehensif berkerjasama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Fakultas Kedokteran UNPAD, dengan langkah awal melaksanakan universal screening HIV dengan hasil Prevalensi HIV 7.2% dan sekitar 17% adalah pengguna jarum suntik. Beberapa kegiatan layanan HIV komprehensif yang telah dilakukan skrining kesehatan WBP baru yang bertujuan untuk menjaring perilaku Beresiko dan deteksi dini HIV, VCT dan PITC untuk deteksi HIV, CST (care, support, & treatment), terapi Substitusi Metadon serta kolaborasi TB-HIV. Untuk penanganan medis Lapas Banceuy bekerjasama dengan RSHS-UNPAD. Sementara untuk terapi social dan dukungan social Lapas banceuy bekerja sama dengan LSM-LSM peduli HIV untuk program Kelompok dukungan sebaya (KDS) juga konseling. Pada tahun 2009 Lapas Banceuy Bandung menjadi Lapas Model bagi penanganan HIV Komprehensif di Jawa Barat, yang ditunjuk secara langsung oleh Ditjenpas dengan dukungan HCPI. Penunjukan ini bertujuan untuk menjadi acuan penanganan HIV komprehensif bagi UPT-UPT wilayah Jawa Barat mencakup penanganan medis, program dukungan, HAM Reduction, Monitoring dan Evaluasi, dan sebagai pendamping Lapas Rutan disekitarnya.

34 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Profil UPT

Program terapi rumatan metadone di Lapas Banceuy


National Technical Officer HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI), Alia Hartati mengemukakan bahwa pemilihan Lapas Banceuy sebagai lapas model program penanggulangan HIV/AIDS sudah melalui hasil penelitian. Kita sudah melakukan beberapa penelitian di beberapa Lapas Rutan se-Indonesia, Lapas Banceuy termasuk Lapas yang kami pilih sebagai Lapas model, kata Alia Hartati. Pemilihan Lapas Banceuy sebagai Lapas Model karena memiliki beberapa keunggulan, diantaranya: Lapas Banceuy mempunyai jejaring kerjasama yang solid dengan instansi-instansi terkait layanan HIV, seperti RS Hasan Sadikin, Universitas Padjadjaran Bandung, inas Kesehatan Kota Bandung & Propinsi Jabar, KPA kota Bandung & Propinsi Jabar serta LSMLSM yang peduli HIV (yayasan Rumah Cemara, Grafik dll). Lapas Banceuy juga memiliki sumber daya manusia yang telatih dalam penanganan HIV, baik di dalam dan luar negeri diantaranya Layanan HIV Komprehensif di Instansi Pemerintah di Bangkok Thailand pada 14 26 April 2008 (2 orang) dan Layanan TB HIV di Thailand pada 9 15 September 2012 Sebagai Lapas Model, Tim HIV/AIDS Lapas Banceuy menjadi narasumber dalam KIE di UPT lain, diantaranya Bapas Bandung, Lapas Sukabumi, Lapas Wanita Bandung dan Lapas Jelekong. Melakukan pendampingan di Lapas Wanita Bandung dan Lapas Jelekong, menjadi narasumber dalam pembuatan buku pedoman terkait layanan HIV di Lapas/Rutan,

Visit Spesialis dari rumah sakit Hasan Sadikin setiap hari Kamis
menjadi learning centre dalam penanganan HIV serta mengadakan mentoring klinis terkait HIV seBandung Raya Keberhasialan Lapas Banceuy tidak lepas dari dukungan pimpinan. Kepala Lapas Bancuey Wahid Husen, dalam melaksanakan program pembinaan di Lapas yang dipimpinnya selalu mengedepankan terapi dan rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkotika. Dengan menggandeng kemitraan dari berbagai institusi Pemerintah maupun LSM yang peduli terhadap penanggulangan penyalahgunaan narkotika. Keberhasialan Lapas Banceuy menangani penanggulangan HIV-AIDS dapat dilihat dari hasil skrining TB masal pada Bulan April Juni 2012 sebanyak 1400 WBP terjaring diantaranya 28 orang suspek TB dan telah di cek dahak hasilnya tidak ada yang positif Menkumham Amir Syamsudin-pun menyampaikan apresiasi kepada Kalapas dan Tim penanggulangan HIV di Lapas Banceuy yang telah berupaya dan berinovasi dalam melaksanakan program dan kebijakan Kemenkumham di Lapas Banceuy. Alhasil Lapas Banceuy Bandung terpilih menjadi Lapas model dan menjadi Lapas Unggulan Kanwil Jawa Barat dalam program penanggulangan TB/HIV yang dicanangkan Menteri Hukum dan HAM RI Amir Syamsudin, beberapa waktu lalu (8/11) di Lapas Klas IIA Karawang. (AH)***

WARTA PEMASYARAKATAN 35
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Profil UPT

LAPAS KLAS IIA WANITA SEMARANG

Mengangkat harkat derajat 'ibu' di lapas


ebagai sumber daya insani pembangunan, tentunya wanita mempunyai kedudukan yang sentral dan mempunyai peranan yang strategis sebagai Ibu Bangsa. Wanita, bersama suami, sebagai orang tua berfungsi sebagai pendidik pertama dan utama yang sangat menentukan dalam upaya mewujudkan sedini mungkin manusia generasi muda yang berkualitas, maju dan mandiri. Sedangkan sebagai warga negara, wanita mengalami berbagai dampak akibat interaksi yang terjadi dalam masyarakat yang juga pada kenyataannya saat ini wanita tidak hanya menjadi korban dalam tindak kekerasan, tetapi juga dapat menjadi pelaku tindak kekerasan atau tindak pidana lainnya. Kalau saja perempuan sedikit lebih bijak dalam menyikapi permasalahan hidup, maka tidak akan ada penjara khusus untuk perempuan di dunia ini bahkan di Indonesia.

wanita di Lapas Wanita Semarang agar dapat mengembalikan rasa percaya diri dan kemandirian Narapidana wanita tersebut sehingga dapat berperan kembali dalam masyarakat dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Kalapas, yang akrab di panggil Titi, memahami terdapat beberapa faktor penghambat yang perlu diperhatikan. Tingkat pendidikan rata-rata penghuni wanita di Lapas Wanita Semarang umumnya masih rendah dan adanya kecenderungan meningkatnya penghuni wanita dengan kasus narkoba, ungkap Titi. Selain itu masih adanya sistem nilai sosial-budaya pada sebagian golongan masyarakat yang belum dapat sepenuhnya menerima keberadaan mantan narapidana, menyebabkan terpidana wanita akan lebih banyak kesulitan setelah kembali ke masyarakat kata Titi lebih lanjut. Menyadari akan permasalahan tersebut, Titi dibantu dengan 67 pegawainya, merasa perlu mengupayakan adanya kebijakan serta upaya penanganannya. Mengutip yang disampaikan almarhum DR. Sahardjo, SH, dalam pidato penerimaan anugerah gelar Doctor Honoris Causa tanggal 5 Juli 1963 bahwa tugas hukum ialah memberikan pengayoman terhadap masyarakat serta narapidana dan anak didik. Segenap jajaran di Lapas Wanita

Saat ini ketika seseorang telah masuk Lembaga Pemasyarakatan , maka masyarakat akan lebih menganggap rendah dia bahkan akan sulit baginya untuk bisa diterima di masyarakatnya. Oleh karenanya Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang, Dwi Nastiti Handayani, berupaya untuk membantu para napi memulihkan kejiwaaannya serta lebih mendidik para napi khususnya napi perempuan dalam hal peningkatan ketrampilannya. Mengangkat harkat derajat

36 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Profil UPT
Semarang menjadikan sepuluh prinsip Pemasyarakatan menjadi landasan dalam perlakuan terhadap narapidana dan anak didik di Lapas Wanita Semarang. Saat ini Lapas Wanita Semarang diisi oleh 235 narapidana wanita, melalui Program Pembinaan yang dilakukan, Lapas Wanita Semarang berharap 235 terpidana dapat mempersiapkan diri untuk diterima dan berperan kembali dalam masyarakat setelah selesai menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan. Pelaksanaan program tersebut harus didukung oleh kualitas dan kemampuan para pelaksana, serta sarana dan prasarana yang memadai. Salah satu upaya yang ditempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut Lapas Wanita Semarang melakukan program pembinaan narapidana melalui pelaksanaan Program Peningkatan Peranan Wanita bagi Terpidana Wanita. Upaya peningkatan kedudukan dan peranan wanita dalam pembangunan, dewasa ini telah banyak menampakan berbagai kemajuan dan keberhasilan. Namun Titi dan jajarannya juga menyadari, masih banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, dan dipecahkan bersama. Karena bagaimanapun masih terjadi kesenjangan yang cukup lebar antara pria dan wanita, terutama dalam kedudukan, kemampuan, peranan kemandirian dan ketahanan mental spiritual, baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam masyarakat dan pembangunan. Oleh karenanya Titi dan jajarannya semangat berupaya meningkatkan peran narapidana wanita yang ada di Lapas Klas IIA Wanita Semarang untuk turut serta berperan dalam negara yang sedang membangun saat ini. Beberapa program yang telah dilakukan antara lain dalam bentuk pembinaan baik pembinaan kepribadian maupun pembinaan kemandirian. Ragam bentuk kegiatan pembinaan tersebut diantaranya adalah pembinaan keagamaan, kejar paket A,B,C dan jenis kegiatan kerja lainnya seperti kristik, menyulam, merenda, menjahit, mote/payet, salon/pijat reflexi, green House, memasak Bimker, bordir, smock, flanel/boneka, merangkai bunga, pendoblean, pembuatan kue, perkebunan, budidaya jamur, perikanan. Upaya lain yang tak kalah pentingnya di dalam mewujudkan keberhasilan pembinaan Narapidana wanita adalah adanya dukungan dari berbagai pihak ketiga. Untuk itu, Lapas Wanita Semarang telah menggalang kerjasama dengan berbagai pihak ketiga seperti Anne Avantie & Intan Avantie dalam ketrampilan payet, budidaya jamur dengan Bapak Bantolo, budidaya perikanan dengan Impact Center Boja, renda dengan Dewi Collection, menjahit dengan LPK Suci dan PT. Singer dan masih banyak lagi pihak lain yang turut membantu seperti para Psikolog dari UNDIP, PKBM Semarang, dan lain-lain. Berbagai produk ketrampilan yang telah dihasilkan oleh para WBP sebagai produk unggulan Lapas Wanita Semarang diantaranya adalah pembuatan sarung bantal kursi dengan metode smock, aneka produk kerajinan tangan sulaman dan renda, bordiran dan pembuatan boneka. Pembinaan di Lapas Wanita Semarang dilakukan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan, hingga pada akhirnya dapat dirasakan manfaatnya oleh para WBP dan merekapun diharapkan akan siap kembali ketengah-tengah masyarakat sebagai insan yang mandir, dan diterima oleh masyarakat luas. (YS)***

WARTA PEMASYARAKATAN 37
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Sosok

dr. Nurlan Silitonga


Prison Adviser AUSAID
ari meja makan bersanding salad, di sela tawa seorang anak blasteran, berkendara dari satu wilayah ke wilayah lainnya, tak pernah berhenti kegusaran untuk menyangsikan harapan termasuk juga hal disebut asa dan angan. Dia menyebutnya eksperimentasi, dengan hanya satu skenario bernama keberhasilan. Demikianlah tersirat kala menelusuri tiap kalimat seorang Dokter Nurlan SIlitonga, MMed dengan pengalaman manajemen, dan lebih dari 15 tahun bergelut pada penelitian klinis infeksi menular seksual dan HIV AIDS serta berbagai project lainnya. Ditemui di kediamannya di wilayah Kemang, perempuan yang saat ini sebagai Prison Adviser untuk AUSAID, bercerita pengalaman dan citanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, sesekali bercampur Inggris. Enerjik dan murah senyum, kesan pertama didapat dari sosok yang mumpuni dalam penyusunan perencanaan strategis. Kakak, sapaan akrab perempuan berdarah Batak yang dalam waktu delapan tahun terakhir telah jalin kerjasama baik dengan instansi pemerintah, Kementerian Kesehatan dan Kementerian HUkum dan Hak Asasi Manusia, maupun lembaga donor seperti WHO, UNAIDS, UNODC serta lembaga donor internasional lainnya. Sambil sesekali membenarkan balutan scarf-nya, perempuan kelahiran 10 April ini bercerita pengalaman masa kuliahnya menanamkan prinsip bahwa dia lebih memilih membuka jalan di bidang atau dunia kerja yang sangat baru, Pemasyarakatan

salah satunya. Tak seperti curahan hati yang kerap dikeluhkan banyak orang tentang kelemahan di Pemasyarakatan, Nurlan melihatnya sebagai suatu asset, Bila kita serius dan semangat membangunnya maka percaya akan hasil maksimal demikian ungkap Nurlan dengan penuh keyakinan. Sumber daya yang banyak, eksklusifitas yang selama ini melekat, menjadi salah satu alasan ibu dari Keo Masebauf (4) semangat untuk membangun layanan kesehatan komprehensif di Lapas dan Rutan. Tahun 2009, menjadi awal inisiasi dukungan konkrit dalam hal pendanaan terhadap implementasi Penanggulangan HIV di lingkungan Lapas dan Rutan. Melalui bendera HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI), Nurlan memiliki pandangan it's not about how much but how good we spent we have. HCPI memberikan dukungan dana operasional kegiatan penanggulangan HIV bagi jajaran Pemasyarakatan di 54 Lapas dan Rutan yang terletak di tujuh propinsi Jawa-Bali, yang pada saat itu belum bisa diupayakan oleh Kementerian Hukum dan HAM secara mandiri. Memang tidak banyak, tapi harapannya umpan kecil itu mampu memancing ikan besar. Istri dari Arsitek berkebangsaan Perancis Cyrill Massebouf, akan melakukan suatu pekerjaan dengan sepenuh hati dan tidak tanggungtanggung. Memulai kerja dengan masuk ke dalam sistim, memahami bagaimana proses berlangsung di Pemasyarakatan adalah strategi dalam

38 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Sosok
pengembangan program Penanggulangan HIV. Ia tidak mencoba memberikan konsep baru, namun bagaimana memperbaiki yang sudah ada, diimbuhi dengan inovasi, pengawalan terhadap proses dan emotional attachment. Tidak mengherankan jika adviser dengan pribadi hangat ini melihat capaian Pemasyarakatan dalam empat tahun terakhir ini sebagai monumen kepuasan Saya tidak masalah kalau dibilang pencitraan, tapi toh Program di UPT Pemasyarakatan nyatanya dapat recognition dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan dunia bahwa Implementasi Program di UPT Pemasyrakatan adalah terbaik ungkapnya. Dalam ranah program, secara konkrit angka kematian dilatarbelakangi infeksi HIV, menurun, itu karena banyak petugas yang sudah dibekali pengetahuan dan ketrampilan penanganan HIV. Narapidana/tahanan sebagai pihak penerima manfaat juga mengakui peningkatan terhadap kualitas hidupnya sebagai penghuni Lapas/Rutan prioritas program. Meski tak banyak memiliki staf, Nurlan paham bagaimana berperan sebagai seorang pempimpin yang menghasilkan pemimpin-pemimpin baru. Membawahi dua orang National Technical Officer (NTO) HCPI, Adhe Zamzam dan dr. Alia Hartanti. selama menjadi prison adviser, Nurlan mengusulkan cara kerja efektif dengan menerapkan manajeman kerja berjenjang di tingkat pusat hingga wilayah kata Alia. Tak heran jika cakupan kerja tahun 2012 ini meningkat dari tingkat Ditjenpas, hingga di 92 Lapas, Rutan dan Bapas di 11 propinsi ungkap Alia dengan bangga. Nurlan masih memiliki keinginan lebih untuk Pemasyarakatan, karena menurutnya membangun Pemasyarakatan adalah dimulai dengan mengajarkan cara menanam pohon ketulusan, yang buahnya tak pernah habis dipetik mereka yang haus. Tapi, ajarkan juga matematika, supaya bisa berhitung berapa yang bisa dipetik untuk keberlangsungannya. Jajaran Pemasyarakatan harus berani buat terobosan untuk mencapai kemandirian dalam hal penganggaran penanggulangan HIV secara khusus sebagai bagian dari layanan kesehatan komprehensif. Nurlan yakin bahwa tantangan yang dihadapi Pemasyarakatan dalam penanggulangan terhadap HIV AIDS dapat ditemukan peluang dan solusi berbekal sumber daya dan sistim yang telah terbangun saat ini. So, if you do something, do it well and enjoy it.(ndru)***

Biodata
Pengalaman Prisons Advisor - HIV Cooperation Program for Indonesia - AUSAID GRM International February 2008 Present Founder Angsamerah Company February 2007 Present Public Health and STI Adviser. Indonesia HIV/AIDS and STD Prevention and Care Project (AusAID) GRM International September 2003 September 2008 STI and HIV/AIDS Project Manager International SOS January 1997 January 2001 Physician - Puskesmas Timika & Kwamki Lama, Papua Primary Health Center (Puskesmas) MoH Indonesia August 1997 September 2000 Medical Research Scientist NAMRU-2 Indonesia January 1989 January 1996 Researcher National infectious Disease Hospital RS Sulianti Suroso January 1989 January 1990 Pendidikan Fogarty AITRP Scholar, Brown University, Rhode Island University of Sydney Medical Faculty, Christian University of Indonesia (FK UKI) Gelar Kehormatan dan Penghargaan: First Prize Winner for Centre for Infectious Disease and Microbiology (CIDM) Investigator Award. Westmead Hospital & Sexual Transmitted Infectious Research Centre, Sydney University, Australia.

WARTA PEMASYARAKATAN 39
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Seputar Media

Monitoring Pemberitaan Media


iga puluh empat judul berita pada bulan Oktober 2012. Jumlah ini adalah jumlah pemberitaan Pemasyarakatan tersedikit selama tahun 2012 ini. Tak ada isu besar mengenai Pemasyarakatan yang menjadi perhatian masyarakat. Bahkan, berita negatif yang selama ini terus menghantui kinerja Pemasyarakatan pun hanya muncul dengan jumlah 5 judul berita, yakni; Sipir Nyabu Diringkus Polisi (Media Indonesia, 31/10), Ibu Ajarkan Anak Buat Narkoba (Seputar Indonesia, 12/10), Kurir Cipinang Kirim 14 Kg Ganja (INDOPOS, 2/10), Transaksi SS Di depan Rutan Napi Diringkus (Jawa Pos, 30/10) dan Kanwil Kemenkumham Lumpuh Total (Jawa Pos, 30/10). Turunnya jumlah berita bertone negatif di media cetak juga berbanding lurus dengan jumlah berita negatif yang muncul di media online. Di bulan ini, jumlah judul berita negatif yang muncul lebih sedikit daripada berita netral dan jumlah berita netral lebih sedikit daripada berita positif. Berita negatif yang muncul pun masih tak jauh dari isu penjara dan peredaran narkoba. Dari pemberitaan yang muncul, tim monitoring pemberitaan media mencatat bahwa pemberitaan pembinaan di bulan Oktober 2012 cukup banyak dan cukup beragam, yakni; berita ikan lele dari Lapas Karawang (K0mpas, 25/10), Ujian Paket C di Lapas, Porseni di lapas Klas I Makasar (Jurnas, 9/10), dan Peresmian Lapas Unggulan Kanwil Kemenkumham Jawa Barat. Selanjutnya, pemberitaan tentang rencana Ahok (Basuki), Wagub DKI Jakarta yang

Oktober - November 2012 T


Sumber : Subdit Komunikasi

berencana membangun LP di wilayah Tangerang yang diperuntukkan untuk wilayah Jabodetabekjur, menjadi judul berita yang cukup banyak muncul di media. Dalam pernyataannya, Amir Syamsudin mengatakan Saya berterima kasih kalau memang ada inisiatif seperti itu. Apa yang dilakukan Pak Gubernur Jokowi, saya sampaikan apresiasi saya dan tentunya saya menunggu sama-sama apa yang dipikirkan oleh beliau itu dapat terwujud (Kompas,30/10). Bulan November 2012, Pemasyarakatan digedor dengan berita mengenai pemberian grasi Ola oleh Presiden SBY. Diakhir bulan Oktober 2012, Ola yang disinyalir masih mengendalikan peredaran narkoba dari penjara, memang telah menjadi tema yang paling menarik perhatian media. Pemberitaan tentangnya terus berlanjut sampai bulan November 2012. Awalnya, pemberitaan hanya berfokus pada pemberian grasi kepada Ola yang

40 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Seputar Media
disayangkan banyak pihak, namun lanjutannya, pemberitaan mengenai Ola justru mengarah pada pembinaan di Lapas/rutan sampai pada perlakuan eksklusif yang disinyalir diterima Ola selama ditahan di Lapas Wanita Tangerang (Berkuasa, dipanggil Jenderal, INDOPOS 14/11). Namun, pada bulan ini prosentase tone berita positif masih lebih tinggi daripada berita negatif baik di monitoring media cetak ataupun monitoring di media online. Di media cetak, 22% berita bertone negatif dan 32% berita bertone positif, sedangkan di media online 38% berita bertone negatif dan 41% berita bertone positif. Di akhir bulan November pemberitaan mengenai bisnis narkoba dari balik sel masih terjadi. Lembaga pemasyarakatan ternyata menjadi tempat aman bagi para narapidana untuk mengendalikan peredaran narkoba (Media Indonesia, 29/11). Para petugas kewalahan menghentikan aksi mereka dari dalam penjara. Hal itu diakui Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin terkait dengan penggerebekan yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) (Media Indonesia Kamis, 29/11). Pemberitaan ini menjadi topik yang paling hangat di bulan November karena terdapat 12 judul berita dari berbagai media dengan tone netral dan positif, 17% dari 68 judul berita mengenai Pemasyarakatan yang muncul. Tema-tema pemberitaan positif di bulan November ini, diantaranya; Sayembara Untuk Napi Hafal Alquran, Relokasi terhadap Rutan Cirebon untuk mengatasi masalah overkapasitas ke kawasan Sumber di Kabupaten Cirebon (Jurnal Nasional, 26/11), Rutan Guntur Rumah Baru bagi terpidana kasus korupsi, hingga kejuaraan tinju profesional yang memperebutkan piala Kepala Rutan Cipinang.***

How to Express It ?
About Screening HIV-AIDS:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

How do you feel today? Do you ever use drugs before? How did you use drugs? Ex. Breath, needle, pils etc If using needle, do you use steril needle to use drugs? Do you share the needle with the others? Do you have tatto or any body piercing? Have you married? Have you ever have sex with other people beside your spouse? If yes, do you like to use condom? Did you ever get blood transfusion before? Before entering prison, did you ever chek VCT outside? If yes, would you like to tell us about the result? Here, we have HIV-AIDS Comprehensive programme and we would send you to joint the programme. (IM)***

WARTA PEMASYARAKATAN 41
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

VOC

TREAT JUVENILES As They Should Be


ne of special category of prisoners, clients, or correctional inmates are children under 18 years old. Juveniles are children based on court decisions that serving their sentence up to 18 (eighteen) years old. If the juveniles are over 18 years old and have not completed their sentences in child prisons, to be transferred to adult correctional institution. For juveniles who has not reached 21 years old, the placement separated by 21-year-old. In many cases, juveniles are placed in detention or adult prisons, though in different blocks. It still has the potential of worsening their condition because of the care and development are more oriented to the needs of adult prisoners. In addition, placing the juveniles in the adult prison will create symbolic violence on children, including the possibility of physical or psychological violence directly. Symbolic violence is a condition in which juveniles feel pressure or fear even if they are not real, like a real threat or pressure from adult prisoners, either directly or indirectly.

Considering that the development potential of the juveniles must be protected, so that detain or imprison are counterproductive wisdom to their future. Therefore, the policy of nondetention and imprisonment wisdom is appropriate considering the efforts made in the context of social and psychological as well as more oriented to the recovery of the juveniles and their relationship with the community. The successful implementation of the Correctional System specific tasks for the juveniles, requiring the participation of the community. The role of these communities can be shaped support, participation, and control. This is consistent with the goals of the correctional system itself that sees society as an important aspect in the development and reintegration.***

yuliawahyuning@ymail.com

Redaksi Warta Pemasyarakatan Mengucapkan SELAMAT HARI NATAL 2012 & TAHUN BARU 2013
42 WARTA PEMASYARAKATAN
NOMOR: 51 TAHUN XIII / 2012

Kegiatan Dalam Gambar

Sesditjen PAS, Susy Susilawati, selaku Ketua Panitia menyerahkan buku pedoman kegiatan Hari Dharma Karya Dhika Tahun 2012 kepada Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin saat Launching HDKD pada tanggal 5 Oktober 2012

Kunjungan Ibu-ibu SIKIB II di Rutan Pondok Bambu dalam rangka Bhakti Sosial pada tanggal 19 November 2012

Bhakti sosial yang digelar di Lapas Klas I Cipinang dalam rangka memperingati Hari Dharma Karya Dhika Tahun 2012 dilaksanakan pada tanggal 1 November 2012

Rapat koordinasi Aparatur Penegak Hukum dalam perlindungan saksi dan korban dilaksanakan di Hotel Red Top tanggal 27-30 November 2012

Pelatihan Strategi Media Masa untuk Eselon II Ditjen Pemasyarakatan di Hotel Mandarin Oriental tanggal 3 Desember 2012

Penandatanganan kesepakatan bersama tentang penanganan tindak pidana ringan tanggal 17 Oktober 2012

Direktur Infokom Haru Tamtomo mendampingi kunjungan Wakil Menteri Kehakiman China di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Cipinang tanggal 29 November 2012

Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin didampingi Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sihabudin saat meninjau bengkel kerja di Lapas Klas I Cirebon 27 November 2012

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan berhasil meraih Both Inovation Award dalam Pameran Konstruksi yang diselenggarakan tanggal 28 Nov. s/d 1 Des. 2012

Kunjungi Kami :
www.

ditjenpas.go.id