Anda di halaman 1dari 107

UP DATE

VAKSINASI

Dr. Gebyar Tri B., SpA


SMF Anak RSUD Soebandi

Sejarah perkembangan imunisasi di Indonesia


Thn 1974: Indonesia bebas cacar (?) Thn 1977-1980: Pengenalan program BCG, DPT, TT Thn 1981-1982: diperkenalkan antigen polio, cacar Thn 1989: strategi akselerasi, pelayanan imunisasi secara teratur Thn 1990: mobilisasi sosial, PWS, UCI Thn 1991-1997: 3 dosis vaksin hepatitis B Thn 1999: cakupan imunisasi lebih 90% (?)

Kebijakan
Eradikasi polio (ERAPO): kasus polio karena virus liar : 0 Eliminasi tetanus neonatorum (ETN): kurang 1 kasus per 10.000 kelahiran hidup. Reduksi campak: penurunan 90% kasus dan 95% kematian akibat campak

Sistem Imun
Non Spesifik

Fisik / mekanik Kulit Selaput lendir Batuk Bersin

Larut Biokimia Asam lambung Lisozim Laktoferin Asam neuraminik dll

Selular Makrofag Sel NK Limfoid Keringat, ludah Air mata, asi

Spesifik Komplemen Humoral Inter feron C reative protein (CRP) Humoral/ Sel B Selular / Sel T

Sistem Imun Non Spesifik : Tidak ditujukan pada mikroorganisme tertentu


Sistem Imun Spesifik : Hanya dapat menghancurkan benda asing yang dikenal sebelumnya

Sistem Imun Spesifik


Kemampuan mengenal benda yang dianggap asing A. Humoral : Peranan dari Limfosit B atau Sel B (Bursa Fabricius) Sel B dirangsang sel plasma zat anti atau anti bodi didalam Serum Fungsi : Pertahanan terhadap infeksi virus, bakteri dan menetapkan toksin

Antibodi adalah : Imunoglobulin (Ig) yg merupakan golongan protein yang dibentuk oleh sel plasma yg berasal dari proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen Kekebalan aktif Kekebalan dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpapar pada Ag seperti pada imunisasi atau terpapar secara ilmiah. Berlangsung lama

Antibodi 5 Jenis
1. IgG : - Komponen utama Ig serum (75%) - Dapat menembus Placenta - Terbentuk pada respons sekunder - Anti bakteri, anti virus, anti jamur 2. IgM : - Imunoglobulin terbesar - Respons imun primer - Mencegah gerakan mikroorganisme sekunder - Mengaktifkan komplemen

Antibodi 5 Jenis
3. IgA : - Terbentuknya pd rangsangan selaput lendir - Kekebalan infeksi saluran nafas, pencernaan, urogenitalis - Fiksasi komplemen, antitoxin, reaksi aglutinasi, anti virus 4. IgD : - Sangat rendah dalam sirkulasi - Fungsi belum jelas

Antibodi 5 Jenis
5. IgE : - Sangat sedikit jumlahnya - Tinggi pada alergi, fiksasi komplemen, infeksi cacing, skistosomiasis, infeksi parasit

B. Selular Peranan dari limfosit T atau sel T Sel T dibentuk di sumsum tulang Proliferasi dan diferensiasi terjadi di kelenjar Timus Fungsi : Pertahanan terhadap bakteri (intraselular), virus, jamur, parasit, keganasan

IMUNITAS SPESIFIK

Alamiah

Buatan

Pasif
Anti bodi Melalui plasenta

Aktif
Infeksi Virus Bakteri dll

Pasif
Pemberian Antitoksin Anti bodi sel

Aktif
vaksinasi

Antigen atau Imunogen adalah : Setiap bahan yang dapat menimbulkan Respons imun spesifik pada manusia dan hewan

Imunisasi Pasif Didapat


Kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh bukan oleh individu itu sendiri, misalnya kekebalan bayi yang diperoleh dari ibu setelah pemberian Ig serum. Daya lindung pendek : 2 3 minggu Contoh : - Gama globulin murni penderita campak - ATS, ADS, Anti rabies, Anti Snake venom - Profilaksi & terapeutik ( pengobatan ) SIDE EFFECTS : OK PROTEIN ASING

Test Pemberian Serum


1. Skin test : 0,1 ml serum 1/10 intra kutan tunggu 15 menit : + infiltrat > 10 mm 2. Eye test : 1 tetes serum tunggu 15 menit : + mata bengkak merah

Bila skin dan atau eye test positif pemberian Serum : Cara Beredska - 0,1 ml serum dlm 1 ml air garam fisiologis Subkutan tunggu jam reaksi - 0,5 ml serum dlm 1 ml air garam fisiologis Subkutan tunggu jam reaksi - Sisa serum Intra Muskular

RESPON IMUN
Primer Respon imun yang terjadi pada paparan pertama kali dengan Ag Ab yang terbentuk IgM dengan titer yang rendah Sekunder Respon imun yang terjadi pada paparan setelah paparan pertama kalinya dengan Ag yang serupa. Ab yang terbentuk IgG dengan titer yang tinggi sel memori mengalami transformasi, proliferasi, diferensiasi.

Keberhasilan Imunisasi tergantung faktor: Status imun Faktor genetik host Kualitas kuantitas vaksin
Status Imun Penjamu: Adanya Ab spesifik pada penjamu keberhasilan vaksinasi, mis: - campak pada bayi - kolustrum ASI IgA polio Maturasi imunologik: neonatus fungsi makrofag, kadar komplemen, aktifasi opsonin.

Pembentukan Ab spesifik terhadap Ag kurang hasil vaksinasi ditunda sampai umur 2 bulan.
Cakupan imunisasi semaksimal mungkin agar anak kebal secara simultan, bayi diimunisasi Frekuensi penyakit , dampaknya pada neonatus berat imunisasi dapat diberikan pada neonatus. Status imunologik (spt defisiensi imun) respon terhadap vaksin kurang.

Faktor genetik - secara genetik respon imun manusia terhadap Ag tertentu baik, cukup, rendah keberhasilan vaksinasi tidak 100%
Kualitas, kuantitas vaksin a. cara pemberian, misal polio oral imunitas lokal dan sistemik b. Dosis vaksin - tinggi menghambat respon, menimbulkan efek samping rendah tidak merangsang sel imunokompeten

c. Frekuensi Pemberian Respon imun sekunder Sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, afinitas lebih tinggi Frekuensi pemberian mempengaruhi respon imun yang terjadi Bila vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar Ab spesifik masih tinggi Ag dinetralkan oleh Ab spesifik tidak merangsang sel imunokompeten.

d. Ajuvan Zat yang meningkatkan respon imun terhadap Ag mempertahankan Ag tidak cepat hilang Mengaktifkan sel imunokompeten e. Jenis Vaksin Vaksin hidup menimbulkan respon imun lebih baik. Faktor Epidemiologik Menentukan saat pemberian vaksinasi.

Kandungan vaksin 1. Antigen virus, bakteri - vaksin yang dilemahkan: * polio, campak, BCG - vaksin mati * pertusis - eksotoksin * Toksoid, dipteri, tetanus 2. Ajuvan : persenyawaan aluminium 3. Cairan pelarut : air, cairan garam fisiologis, kultur jaringan, telur.

Hal hal yang merusak vaksin: Panas semua vaksin Sinar matahari BCG Pembekuan toxoid Desinfeksi/antiseptik : sabun Jadwal Imunisasi Untuk keseragaman Mendapatkan respon imun yang baik Berdasarkan keadaan epidemiologi, prioritas penyebab kematian, kesakitan

Vaksinasi
Memberikan vaksin (bakteri / virus hidup dilemahkan / mati, komponen) atau toksoid Disuntikkan atau diteteskan ke dalam mulut untuk merangsang kekebalan tubuh penerima hati-hati : dapat menimbulkan KIPI

Jenis-jenis Vaksin
Bakteri Virus Campak Parotitis Rubela Varisela Meningo Pneumo Hib Typhoid Vi Influenza IPV

BCG Hidup

OPV Yellow Fever

Inaktif

Difteria Tetanus Pertusis Kolera

Rabies Hepatitis B Hepatitis A

Faktor Yang Mempengaruhi Mutu Pelayanan Vaksinasi


Pengetahuan tentang Vaksin Isi : virus/ bakteri/toksoid, hidup/mati, ajuvan Penyimpanan, rantai dingin Menilai kualitas vaksin : V V M, warna, kadaluarsa Persiapan pemberian : Alat, bahan, obat : gawat - darurat Anamnesis ; umur, jarak dgn vaksinasi sebelumnya, riwayat KIPI, Indikasi kontra dan perhatian khusus Informed consent : manfaat, risiko KIPI Pemeriksaan fisik

Mempersiapkan bayi / anak Posisi Mengatasi ketakutan dan nyeri

Cara pemberian dosis, interval Lokasi, sudut, kedalaman, teknik penyuntikan


Pencatatan (dan pelaporan)
Pemantauan KIPI

Sisa vaksin, Pemusnahan alat suntik bekas

Anamnesis / KIE Cek identitas, vaksinasi yang telah didapat Umur, jarak dgn vaksinasi sebelumnya Informed consent : manfaat dan KIPI Indikasi kontra, perhatian khusus, penyakit, obat KIPI vaksinasi sebelumnya
Penanggulangan KIPI seandainya terjadi

Anamnesis rutin pediatrik


Asupan nutrisi, miksi, defekasi, tidur Pertumbuhan dan perkembangan

Jadwal vaksinasi berikutnya

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan umum Pemeriksaan khusus


Mencari indikasi kontra atau hal-hal yang perlu diperhatikan Bekas vaksinasi terdahulu Lokasi vaksinasi yang akan dilakukan

Bila jadwal tertunda ?

Kekebalan kurang optimal, tetapi tidak berbeda banyak Tidak perlu diulang dari awal Sel memori akan terangsang bila diberikan imunisasi berikutnya Lanjutkan sesuai jadwal catch-up Dengan vaksin kombinasi
Lebih cepat mengejar keterlambatan

Persiapan pemberian vaksin


Cuci tangan dengan antiseptik Baca nama vaksin, tanggal kadaluwarsa, Teliti kondisi vaksin apakah masih layak : warna indikator V V M, Kocok : penggumpalan, perubahan warna Alat suntik : sekali pakai Encerkan dan ambil vaksin sebanyak dosis Ukuran jarum : ketebalan otot bayi / anak Pasang dropper polio dengan benar

Informed consent (1)


Dasar :
UU Perlindungan Konsumen (no 8 tahun 1999)
Hak memilih Hak informasi yang benar, jelas & jujur Hak didengar pendapat dan keluhannya Dokter wajib memberi informasi yang benar, jelas dan jujur Dilarang : menawarkan, mempromosikan berlebihan : aman, tidak berbahaya

UU Praktik Kedokteran (no 29 tahun 2004).


Dokter : sesuai standar profesi Tindakan kedokteran : harus jelaskan pada pasien Pasien : berhak mendapat penjelasan tentang tindakan medis persetujuan

Informed consent (2)


Di Amerika, Australia : belum ada ketentuan pasien atau keluarganya harus menanda tangani pernyataan mengerti dan menyetujui Di Indonesia (Permenkes no. 585 /1989 ttg Persetujuan Tindakan Medik) pernyataan tertulis hanya untuk tindakan diagnostik atau terapeutik , vaksinasi belum perlu pernyataan tertulis? Boleh meminta tanda tangan dari orangtua atau pengasuh bahwa telah diberikan informasi, dimengerti dan menyetujui vaksinasi

Ditanyakan
imunisasi yang lalu panas tinggi, bengkak, kejang, sakit berat dll hati-hati

alergi : telur, Neomycin, polymixin,


sedang mendapat obat steroid, anti kanker, radioaktif tunda vaksin hidup

sedang sakit lekemia, kanker, HIV / AIDS tunda vaksin hidup


tinggal serumah dengan orang sakit lekemia, kanker, HIV /AIDS, pengobatan steroid, anti kanker, radioterapi tunda OPV dalam 3 bulan mendapat transfusi darah atau suntikan imunoglobulin tunda vaksinasi

RANTAI VAKSIN

Pabrik

DinKes Provinsi

Proses Transportasi

Distributor Apotik

DinKes Kabupaten

Praktek Swasta

Pelayanan Kes. Primer


Penyimpanan vaksin harus dijaga sepanjang rantai perjalanan dari pabrik sampai saat melaksanakan vaksinasi

Penyimpanan vaksin
Di Tingkat Propinsi : kmr dingin & kmr beku Suhu kamar dingin: +2 s/d +8 C Suhu kamar beku: -15 s/d -25 C

Di Kabupaten dan Pelayanan Primer Jarak lemari es dengan dinding belakang 15 cm Lemari es tidak terkena sinar matahari langsung Sirkulasi ruangan cukup
Penyusunan vaksin Jarak menyusun dos vaksin 1-2 cm atau satu jari antar dos vaksin

Masa simpan vaksin belum dipakai


Vademicum Bio Farma Jan.2002

Jenis Vaksin

Suhu Penyimpanan

Umur Vaksin

BCG
DPT Hepatitis B TT DT

+2 s/d +8C -15s/d -25C +2 s/d +8C


+2 s/d +8C +2 s/d +8C +2 s/d +8C

1 tahun 1 tahun 2 tahun


26 bulan 2 tahun 2 tahun

OPV
Campak

+2 s/d +8C -15 s/d -25C +2 s/d +8C -15 s/d -25C

6 bulan 2 tahun 2 tahun 2 tahun

Cool Box Untuk Menyimpan Vaksin

Rak I : Polio , Campak dan BCG. Rak II : DPT , Hept. B Rak III : DT, TT Fungsi cold pack sama dengan botol air di bagian bawah lemari es - Mempertahankan suhu, jika lemari es mati agar suhu tetap stabil. Pengontrol suhu (thermometer) pada rak kedua, freeze watch/freeze tag pada rak ketiga. Lakukanlah pencatatan suhu dua kali sehari, pada grafik suhu.

Plastik penetes (dropper) Polio JANGAN disimpan di lemari es krn jadi rapuh, mudah robek

Penyediaan vaksin dan alat-alat


Vaksin + pelarut khusus Termos, ice-packed, es batu Peralatan vaksinasi (alat cuci tangan, pemotong ampul, alat suntik sekali pakai, kapas alkohol, plester, kotak limbah) Alat penanganan kedaruratan (adrenalin, kortikosteroid, selang dan cairan infus, oksigen), Pencatatan : Buku KIA, KMS, blangko vaksinasi

Uji Kocok (Shake Test)


Vaksin tidak pernah beku

Vaksin pernah beku

Setelah dikocok

Setelah 15 menit

Setelah 30 menit

Setelah 60 menit

Boleh digunakan

Jangan digunakan

VVM = Vaccine Vial Monitor

Vaksin BCG
Mycobacterium bovis hidup yang dilemahkan Kering : simpan dlm suhu 2 8C, lebih baik dalam freezer, Setelah dilarutkan, dlm suhu 2 8C (bukan freezer), hanya boleh simpan 3 jam Jangan kena sinar matahari Dosis : 0.05 ml intrakutan, deltoid kanan

Buku Imunisasi di Indonesia 2001, hal 80 Vademecum Biofarma, 2002

Vaksin BCG

Vaksin BCG
Indikasi kontra HIV, Imunokompromais, pengobatan steroid, imunosupresif, radioterapi, keganasan sumsusm tulang atau limfe, gizi buruk, demam tinggi, infeksi kulit luas Proteksi Mulai 8 12 minggu pasca vaksinasi Daya lindung hanya 42% (WHO 50-78%) 70% TB berat mempunyai parut BCG Dewasa : BTA pos 25-36% walaupun pernah BCG

WHO : Expanded Programme on Immunization. Immunization in practice. Modul 2 : EPI vaccines, hal 2. Geneva, 1998 Buku Imunisasi di Indonesia 2001, hal 80. Vademecum Biofarma, 2002

Vaksin Hepatitis B
(Engerix-B, Euvax-B, Hepvac-B, Uniject Biofarma)

Vaksin Hepatitis B

Partikel permukaan antigen virus hepatitis B rekombinan DNA sel ragi, tidak infeksius Pengawet thimerosal atau phenoxyethanol Kontra indikasi : alergi pada komponen vaksin (sangat jarang) Penyimpanan : 2 8 C, uji kocok Penyuntikan : intramuskular, jangan di gluteal KIPI
Reaksi lokal kemerahan, nyeri, bengkak, demam ringan 2 hari. Reaksi sistemik : mual muntah, nyeri kepala, nyeri otot, sendi

Vaksin Polio Oral (OPV)


Heat Marker Vaccine Vial Monitor (VVM)

Perubahan warna vaksin polio karena perubahan pH

Boleh diberikan

Vaksin Polio Oral (OPV)


Virus hidup, dilemahkan
Virus poliomielitis tipe 1, 2, 3 strain Sabin Selama 100 hari kekebalan di usus tinggi Menghambat transmisi Virus Polio Liar (VPL)

Penyimpanan (sebelum dibuka):


dalam suhu - 20C potensi sampai 2 thn dlm suhu 2 8C potensi sampai 6 bulan

Setelah dibuka simpan dlm suhu 2 8C


potensi hanya sampai 7 hari

Tidak beku, ada sorbitol Sedang diare : boleh divaksin, 4 minggu kemudian beri 1 dosis
sebagai dosis tambahan

Vaksin Polio Injeksi

(Injectable / inactivated Polio Vaccine = IPV)

Vaksin Polio Injeksi (IPV)


Imovax polio, virus polio mati
Kekebalan di mukosa usus : rendah Transmisi Virus Polio Liar (VPL) : bisa Tidak boleh diberikan bila belum yakin bebas VPL Tidak ada risiko VAPP dan VDPP Penyimpanan :
dlm suhu 2 8C stabil 3 thn (OPV 6 bln)

Serokonversi IPV > OPV (Kenya)

Vaksin Difteri Tetanus Pertusis

whole cells (DTPw)

dan Tetanus Toksoid (TT)

Heat Marker / Vaccine Vial Monitor (VVM)

Vaksin Difteri Tetanus Pertusis aselular (DTPa)

Vaksin Difteri Tetanus Pertusis (1)


Difteria dan tetanus : toksoid dimurnikan Pertusis : bakteri mati, teradsorbsi dlm Al fosfat Tiap 1ml :40 Lf toksoid difteria, 24 OU pertusis, 15 Lf toksoid tetanus, Al fosfat 3 mg, thimerosal 0,1 mg. Simpan dan transportasi dalam 2 8C, jangan dalam freezer Kocok sampai homogen, bila ada gumpalan atau endapan jangan digunakan Indikasi kontra - Riwayat anafilaksis
Ensefalopati pasca DPT sebelumnya

Vaksin Difteri Tetanus Pertusis (2) Tingkat Perlindungan Difteria


suntikan 1 : 71 94 % belum mencapai kadar protektif (< 0,01 IU/ml) suntikan 3 : 68 81 % sudah mencapai kadar protektif (rata-rata 0.0378/ml)

Pertusis
Suntikan 3 : 65.8 80 % protektif

Tetanus
Suntikan 3 : 65 80 % protektif

Vaksin Toksoid Tetanus Tujuan


Eliminasi tetanus neonatorum Cegah tetanus

Target imunisasi tetanus : > 5 kali


3 dosis saat bayi + 2 dosis toksoid dewasa dosis ke-4 (18 24 bl) kekebalan > 5 th Dosis ke-5 (masuk SD) kekebalan > 10 th Dosis ke-6 (keluar SD, TD atau dT) kekebalan > 20 th

Vaksin Campak
Heat Marker Vaccine Vial Monitor (VVM)

Vaksin Campak (1)


Virus hidup dilemahkan, jangan kena sinar matahari Vaksin beku kering : simpan < 0 C atau < 8C, lebih baik minus 20 C. Pelarut tidak boleh beku. Setelah dilarutkan Simpan dlm suhu 2 8C maksimum 8 jam Tiap 0,5 ml mengandung
1000 u virus strain CAM 70 100 mcg kanamisin, 30 mg eritromisin

Dosis 0,5 ml, subkutan, di deltoid lengan atas

Vaksin Campak (2)


Proteksi : mulai 2 minggu setelah vaksinasi

Serokonversi : 80 90 %, effikasi 85 %
Lama proteksi : 8 16 tahun umur 10-12 th : 50% titer antibodi di atas ambang pencegahan umur 5 - 7 th : 29,3% kena campak walaupun pernah diimunisasi BIAS : ulangan campak saat masuk SD Program : reduksi campak

Vaksin Mumps Morbili Rubela (MMR)

Vaksin MMR

(Trimovax, MMR II )
Virus campak Schwarz hidup dilemahkan dlm embrio ayam Virus gondong Urabe dibiak dlm telur ayam Virus rubela Wistar dibiak pada sel deploid manusia PFS, vial, simpan 2 - 8 C, Subkutan atau intra muskular Kontra indikasi imunodepresi, alergi telur, hamil, pasca imunoglobulin, transfusi darah (tunda 6 12 minggu), alergi neomisin, kanamisin Tidak mengandung timerosal Tidak ada bukti sahih berkaitan dgn Autisme

Vaksin Haemophilus influenza b (Hib)

Vaksin Haemophilus influenzae type b


(Hiberix, Act-Hib) Polisakarida H. influenza b dikonjugasikan pada toksoid tetanus, trometamol, sukrosa, NaCl
Simpan : 2 - 8C, jangan beku Suspensi berkabut keputihan: normal Kombinasi dgn DTaP /DTwP < 2 thn : paha mid anterolateral > 2 thn : deltoid

Vaksin Demam Tifoid

Vaksin Demam Tifoid


(Typhim Vi, Typherix) Komposisi
Polisakarida kapsul Vi Salmonella typhi Fenol, NaCl, NaHPO3H

PFS, simpan 2 8C Intramuskular atau subkutan umur > 2 thn Imunitas 2 3 minggu pasca vaksinasi Imunogenitas rendah pada umur < 2 thn Perlindungan 3 tahun Tidak melindungi thdp S.paratyphi A & B

Vaksin Influenza

(Fluarix , Vaxigrip)

Vaksin Influenza
Virus tidak aktif, dlm PFS (prefilled syringe) Bahan lain: telur, neomisin, formaldehid Penyimpanan: suhu 2 8C, jangan kena cahaya atau beku Tiap tahun strain bisa berbeda berdasar rekomendasi WHO : Selatan & Utara Strain 2004 untuk daerah selatan
H1N1 (New Caledonia/20/99) H3N2 (Fujian/411/2002) Hongkong/330/2001\

Tidak bisa cegah Avian Influenza (Flu Burung) Penyuntikan: intramuskular atau subkutan
6 35 bulan : dosis 0,25 ml > 36 bln : dosis 0,5 ml < 8 thn : perlu booster 4 minggu kemudian

Vaksinasi diulang tiap tahun

Vaksin Hepatitis A

Vaksin Hepatitis A
(Havrix, Avaxim)

Virus inaktif, dalam formaldehid Indikasi : anak umur > 2 thn


endemis sering transfusi (hemofilia) panti asuhan

Indikasi kontra

demam, infeksi akut hipersensitif thdp komponen vaksin

Intramuskular, jangan dipantat (gluteus)

Vaksin Varisela

Vaksin Varisela
(Varilrix , Okavax )

Virus hidup dilemahkan, strain Oka Mengandung Kanamycin sulfat, eritromisin Subkutan, umur > 1 thn Kontra indikasi Demam, sakit akut Perhatian Jangan diberikan bersama vaksin hidup lain Jangan hamil dalam 2 bln yad tidak effektif bila transfusi gamma globulin

Vaksin kombinasi

(Infanrix-Hib ,Tetract-Hib )

Tetract-Hib : kombinasi DPwT+Hib Infanrix-Hib : kombinasi DPaT+Hib


DPwT/DPaT : dalam vial Hib dalam PFS (prefilled syringe)

Sebelum disuntikkan, dicampur dengan menyedot DPwT/DPaT ke dalam PFS Hib Kontra indikasi
Sama dengan komponen masing-masing vaksin

Vaksin Kombinasi DTP aseluler + Hib

Vaksin Kombinasi DTwP (whole cell) + Hib

Vaksin Pneumokokus PCV7

Vaksin Pneumokokus PCV7


Mencegah IPD (Invasive Pneumococcus Diseases)
Septikemia / bakteremia Pneumonia Meningitis

Mencegah Non IPD :


Otitis media Sinusitis

Konjugasi antigen dengan protein difteria


T cell dependent cell memory (+) kekebalan bertahan lama

Jadwal : 2, 4, 6, 12 -15 bulan

Pemantauan Setelah Vaksinasi

Perhatikan keadaan umum Tunggu 15 menit di ruang tunggu

Indikasi Kontra Vaksin


Umum (untuk semua vaksin)
Reaksi anafilaksis Sakit sedang atau berat

Khusus
DTP / DTPa : ensefalopati dalam 7 hari pasca vaksinasi DPT/DTPa OPV dan varisela: anafilaksis terhadap neomisin atau gelatin, kehamilan, imunodefisiensi (keganasan,tumor padat, kongenital, terapi imunosupresan, infeksi HIV) Hepatitis B : anafilaksis terhadap ragi

Hal-hal yang sering membingungkan (1)


Bayi prematur : sesuai jadwal, atau mulai 2 bulan Batuk pilek sedikit ? Boleh ! Asalkan : TIDAK DEMAM, TIDAK REWEL Bayi sangat rewel ? Tunda 1 2 minggu Obat penurun panas / pengurang nyeri sebelum sesudah) imunisasi boleh ! (+

Sedang minum obat antibiotik ? Boleh ! Minum prednison dosis tinggi ? Tunda - 3 bln Sering inhalasi steroid (anak asma), salep, suntikan steroid ? Boleh !

Hal-hal yang sering membingungkan (2)


Minum ASI sesudah polio ? Boleh langsung
Muntah sesudah imunisasi polio sebelum 10 mnt minta polio lagi Balita sudah imunisasi lengkap, usia sekolah perlu imunisasi lagi ? Ya perlu, ikuti BIAS SD kelas 1 DT + Campak, kelas 2-3 TT, Lupa jadwal, tertunda Tidak hangus ! Tidak perlu diulang ! Lanjutkan sesuai urutan

Ukuran jarum
Intramuskular di paha mid-anterolateral Neonatus
kurang bulan / BBLR : 5/8 inch (15,8 mm) cukup bulan : 7/8 inch (22,2 mm)

1 24 bulan

: 7/8 1 inch
(22,2-25,4 mm)

Intramuskular di deltoid > 2 thn (tergantung ketebalan otot)


7/8 1,25 inch (22,2 -31,75 mm) Usia sekolah dan remaja : 1,5 inch (38,1mm)

Mengatasi ketakutan dan nyeri


Jangan menakut-nakuti anak
Empati, jangan dipaksa dengan dipegang kuat Diajak bicara, dielus-elus, ditenangkan

Mengurangi rasa nyeri


Bayi baru lahir : diberi sukrosa dilidahnya Tekan 10 detik sebelum disuntik Spray pendingin (etil klorid) =EMLA Krim EMLA (Eutetic Mixture of Local Anesthesia) 1 jam sebelum penyuntikan, efek sampai 24 jam Lidocaine topikal : 10 menit sebelum disuntik

Alihkan perhatian : bernafas dalam, tiup baling-baling, ajak bicara, bacakan cerita, musik
Dipijat atau digoyang-goyang sesudah vaksinasi

Penyuntikan dan penetesan vaksin Bicara pada bayi dan anak Tentukan lokasi penyuntikan : paha, lengan Posisi bayi / anak : nyaman dan aman Desinfeksi Pegang; peregangan kulit, cubitan Penyuntikan: dosis, sudut, cara Tetesan: dosis, hati-hati dimuntahkan Penekanan bekas suntikan Membuang alat suntik bekas Penulisan tanggal vaksinasi di kolom yang sudah disediakan

Teknik dan posisi penyuntikan


Posisi : bayi digendong pengasuh,
Anak dipeluk menghadap pengasuh (chest to chest)

Otot yang akan disuntik : lemas (relaks)


Tungkai : sedikit rotasi ke dalam Lengan : sedikit fleksi pada sendi siku

Anak dipersilahkan memilih lokasi suntikan Metode Z tract : sebelum jarum disuntikkan geser kulit dan subkutis ke samping, setelah disuntik kemudian lepaskan
Jarum disuntikan dengan cepat

Bila suntikan lebih dari 1 kali, disuntikan bersamaan

Posisi anak ketika divaksinasi


Lengan yg satu dijepit ketiak ibu
Tangan yg lain dipegang ibu, Kemudian anak dipeluk

Tungkai anak dijepit paha ibu

Posisi anak ketika di vaksinasi

Tangan kiri Dijepit ketiak ibu Tangan dipegang

suntik

Posisi Anak kurang aman

Tangan bebas Bisa meraih jarum

suntik

suntik

Kaki bebas Bisa berontak

Posisi bayi dalam pelukan ibu pada penyuntikan BCG

Penetesan vaksin polio

Teknik Penyuntikan dan Penetesan


Subcutaneous
e.g. measles, mumps, rubella, varicella

Intramuscular
e.g. hepatitis A and B, DTP

Oral e.g. polio

Intradermal
BCG

Pencatatan
Nama dagang, produsen, No. lot / seri vaksin, Tgl penyuntikan Bagian tubuh yang disuntik (deltoid kiri, paha kanan mis)

Sisa Vaksin
BCG
setelah dilarutkan harus segera diberikan dalam 3 jam (simpan dalam suhu 2 8 C)

Polio
Setelah dibuka harus segera diberikan dalam 7 hari (simpan dlm suhu 2 8 C)

DPT
Bila ada penggumpalan atau partikel yang tidak hilang setelah dikocok jangan dipakai

Campak
Setelah dilarutkan harus diberikan dlm 8 jam (simpan dlm suhu 2 8 C)

Safe injection : mengapa perlu ?


Estimasi WHO : 30 % suntikan imunisasi tidak aman (WHO bull. Oktober, 1999) Imunisasi rutin (Soewarta,1999: 4 propinsi): tidak disterilkan : spuit 38%, jarum 23 % alat suntik pakai ulang :krn tidak ada jarum (18%), tidak ada spuit (4%) Bulan Imunisasi Anak Sekolah (Soewarta,1999) 45 % alat suntik tidak disterilkan alat suntik pakai ulang : krn tidak ada sterilisator (39%), tidak ada jarum (28 %) tidak ada alat suntik (6%) Suntikan dapat menularkan : hepatitis B, Hepatitis C, HIV, jamur, parasit, bakteri, menyebabkan abses Penyebaran melalui suntikan lebih cepat daripada melalui udara, mulut atau seks

Safe injection
Program WHO
Untuk semua profesi kesehatan

Aman bagi :
yang disuntik penyuntik lingkungan

Tidak aman bagi yang disuntik (1) Vaksin


Suhu > 8 C, atau VVM telah terpapar panas Botol vaksin bocor, retak, atau tertancap jarum Ada partikel dalam larutan Telah dilarutkan lebih dari batas waktu Beku : DPT, DT, TT, HepB, Hib (tidak boleh beku) Uji kocok tetap menggumpal (kecuali HepB atau Hib)

Tidak aman bagi yang disuntik (2)

Alat suntik
Spuit disposable dipakai ulang Hanya mengganti jarum Tidak dibersihkan dulu langsung disterilkan Hanya dengan desinfektan Membakar jarum di api Merebus dalam panci terbuka Menyentuh ujung jarum

Tidak aman bagi yang disuntik (3)

Cara melarutkan / pengambilan vaksin Cairan pelarut untuk vaksin lain atau > 8C 1 spuit diisi beberapa dosis sekaligus Jarum ditinggalkan menancap di vial Mencampur isi 2 vial
Lokasi, posisi , kedalaman penyuntikan Tidak ada alat / obat gawat - kedaruratan

Tidak aman bagi penyuntik


Menekan luka berdarah dengan jari (semua cairan tubuh dapat menularkan kuman) Membawa atau meletakkan alat suntik bekas sembarangan (tidak langsung membuang ke kotak limbah) Menyentuh atau mencabut jarum suntik Menutup kembali (recapping) jarum suntik Mengasah jarum bekas Memilah-milah tumpukan jarum bekas Tidak ada alat / obat gawat darurat

Tidak aman bagi lingkungan : Meninggalkan alat suntik bekas sembarangan

Kotak Pembuangan Limbah

Pemusnahan Kotak Limbah + Isinya

Dibakar dalam insinerator khusus (suhu 600 - 1100 C)


risiko pencemaran kecil Rp. 10 30 juta, BBM / kayu bakar

Dibakar dalam lubang atau drum

Digiling
Milling atau shreeding Serbuk masih infeksius 375-750 alat suntik / jam listrik 750 w

Dengan Pelayanan Vaksinasi yang Baik

Kekebalan optimal KIPI tidak terjadi Orangtua pasien puas Penularan penyakit menurun Angka kejadian penyakit menurun

Kita untung . Bangsa untung ..