Anda di halaman 1dari 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kebisingan Sampai saat ini banyak definisi yang digunakan untuk istilah kebisingan. Bising dapat diartikan sebagai suara yang timbul dari getarangetaran yang tidak teratur dan periodik. Adapula yang mengartikan bahwa kebisingan adalah suara yang tidak mengandung kualitas musik a) Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup RI No.48/MENLH/11/1996 Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gengguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. b) Menurut Menteri Tenaga Kerja dan 2011 Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan/atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran. c) Menurut JIS Z 8106, IEC60050-801 kosakata elektro-teknik Internasional Bab 801 : Akustikal dan elektroakustikal Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup. d) Menurut Sasongko dan Hadiyarto (2000) Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia. e) Menurut Rau dan Wooten (1978) Transmigrasi RI No.PER. 13/MEN/X/

Kebisingan sering dan paling mudah didefinisikan sebagai suara yang tidak dikehendaki.

2.2 Penentuan Titik Penetapan atau penentuan titik pengukuran disesuaikan dengan jenis zona peruntukan kawasan yang akan diukur tingkat kebisingan lingkungannya merujuk kepada KEP MEN LH NO 48/MENLH/1996. Prinsipnya lokasi titik pengukuran tersebut harus berada dalam zona peruntukan yang dimaksud dan terletak pada perbatasan antar zona. Lokasi pengukuran di kawasan/ daerah dimana orang banyak bermukim atau melakukan aktivitas. Jarak sumber bising dari lokasi pengukuran harus diketahui. Titik pengukuran diusahakan pada 5 tempat yang berbeda (Sasongko dan Hadiyarto, 2000).

2.3 Nilai Ambang Batas Kebisingan Nilai Ambang Batas adalah faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Menurut Permenakertrans Indonesia No. PER. 13/MEN/X/2011 tentang nilai di tempat kerja NAB Akan tetapi ambang batas faktor fisika dan faktor kimia kebisingan NAB yang ditetapkan di bukan merupakan

adalah sebesar 85 dBA.

jaminan sepenuhnya bahwa tenaga kerja tidak akan terkena risiko akibat bising tetapi hanya mengurangi risiko yang ada (Budiono, 2003 dalam Putra, 2011) Tabel 1 Nilai Ambang Batas Kebisingan

IATA (International Air Transportation Association) menentukan intensitas kebisingan ke dalam empat zona kebisingan, yaitu : a. Zona A : intensitas > 150 dB, daerah berbahaya dan harus dihindari. b. Zona B : intensitas 135-150 dB, individu yang terpapar perlu memakai pelindung telinga (ear plug dan ear muff). c. Zona C : intensitas 115-135 dB, perlu memakai ear muff. d. Zona D : intensitas 1.00-115 dB, perlu memakai ear plug. Zona Kebisingan Daerah dibagi sesuai dengan titik kebisingan yang diizinkan Zona A : Intensitas 35 45 dB. Zona yang diperuntukkan bagi tempat penelitian, RS, tempat perawatan kesehatan/sosial & sejenisnya. Zona B : Intensitas 45 55 dB. Zona yang diperuntukkan bagi perumahan, tempat Pendidikan dan rekreasi.

Zona C : Intensitas 50 60 dB. Zona yang diperuntukkan bagi perkantoran, Perdagangan dan pasar. Zona D : Intensitas 60 70 dB. Zona yang diperuntukkan bagi industri, pabrik, stasiun KA, terminal bis dan sejenisnya. Ambang batas kebisingan menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 adalah sebagai berikut :

2.4 Peraturan Tentang Bising di Indonesia Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.KEP-48/MENLH/11/1996 Permen LH No. 07 / 2009 Tentang Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor Tipe Baru 2.5 Pengendalian Kebisingan Menurut Harris (1978), pengendalian bising ditentukan karena adanya kebutuhan untuk masalah-masalah spesifik seperti: 1. Mengevaluasi kebisingan lingkungan, di bawah kondisi yang ada atau diharapkan 2. Menetukan apakah tingkat kebisingan diterima 3. Perbedaan antara tingkat kebisingan pada nomor 1 dan 2 mewakili reduksi kebisingan harus dilaksanakan untuk mencapai suatu penerimaan lingkungan, biasanya ditentukan sebagai fungsi frekuensi. Upaya pengendalian kebisingan dari sektor industri dilakukan dengan cara: 1. Pengedalian bising pada sumbernya 2. memasang selubung akustik dari bahan peredam getaran 3. memilih alat yang lebih rendah intensitas kebisingan yang dikeluarkan 4. substitusi dengan proses lain untuk proses yang bising 5. Pengendalian bising pada medium propagasi. - Faktor-faktor yang diperhatikan meliputi: - Ketidak homogenan atmosfer udara, biasanya diabaikan karena kondisi atmosfer tidak konstan. - Serapan udara 6. Sumber bising akan berkurang dengan bertambahnya jarak dari sumber - Serapan vegetasi - Menjauhkan aktivitas sehari-hari dengan sumber bising - Membuat penghalang antara sumber bising dengan tempat bekerja atau permukiman (reduksi penghalang). 7. Pengendalian bising pada penerima 8. Melindungi pekerja dengan alat pelindung diri (personal protection) 9. Membuat tata guna ruang dan tanah dengan mempertimbangkan kenyamanan lingkungan. 10. Penerapan baku mutu bising secara konsisten sehingga dampak bising dapat ditekan

( Yerges, 1978, Subagio, 1998 dan Manik, 2009). Penelitian Aisah, tumbuhan mampu meredam kebisingan yang timbul dari kereta api sebesar 2 sampai 6 dBA. Pada jarak 10 meter tinggi batang lepas cabang, tinggi kanopi, lebar kanopi dan lebar batang mempunyai koefisien korelasi yang cukup kuat dengan intensitas kebisingan. Sedangkan pada jarak 20 meter yang mempunyai koefisien korelasi cukup kuat dengan intensitas kebisingan adalah lebar kanopi dan untuk jarak 30 meter tinggi batang lepas pohon mempunyai koefisien korelasi cukup kuat dengan intensitas kebisingan (Aisah, 2002). Kerapatan daun yang lebih tinggi lebih baik mereduksi bising. Setiap jenis vegetasi memiliki pola frekuensi yang berbeda dalam mereduksi kebisingan. Bambu cina dan bambu akalipa mereduksi pada semua tingkat frekuensi, sedangkan soka mereduksi pada frekuensi di atas 100 Hz. Bambu cina mereduksi 1.65 dB (2.42 %), soka 2.35 dB (4.51%), kasia 1.24 dB (1.73%), kayu manis 1.15 dB (1.64 %), bambu 0.15 dB (0.21%), bambu + akalipa 1.00 dB (1.34%), dan kembang sepatu 0.28 dB (0.40%) (Widagdo S, 2003). Pagar pembatas dari bahan batu bata dengan ketinggian 1,8 meter dan tebal 25 sentimeter mampu mereduksi kebisingan sebesar 12 %, pagar berlubang yang tertutup vegetasi cukup baik mempunyai mereduksi 9 % dan pagar yang berlubang atau pagar hanya berupa tanaman mereduksi kebisingan sebesar 3 % ( Kusuma, 2003). Menurut Habsari (2003), untuk mengurangi pengaruh bising terhadap pendengaran dapat dilakukan upaya pengendalian, sebagai berikut : a. Pengendalian secara Teknis, meliputi mengubah cara kerja dari yang menimbulkan bising menjadi berkurang suara yang menimbulkan bisingnya, menggunakan penyekat dinding dan langit-langit yang kedap suara, mengisolasi mesin-mesin yang menjadi sumber kebisingan, subtitusi mesin yang bising dengan yang kurang bising, menggunakan fondasi mesin yang baik agar tidak ada sambungan yang goyang dan mengganti bagian-bagian logam dengan karet, dan merawat mesin dan alat secara teratur sehingga dapat mengurangi suara bising. b. Pengendalian secara Administratif, meliputi pengadaan ruang kontrol pada bagian tertentu dan pengaturan jam kerja, disesuaikan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) yang ada.

c. Pengendalian secara Medis yaitu pemeriksaan audiometri sebaiknya dilakukan pada awal masuk kerja, secara periodik, secara khusus dan pada akhir masa kerja. d. Penggunaan Alat Pelindung Diri merupakan alternatif terakhir bila pengendalian yang lain telah dilakukan. Tenaga kerja dilengkapi dengan alat pelindung diri yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan, kondisi dan penurunan intensitas kebisingan yang diinginkan, yaitu : 1) Sumbat telinga (ear plug) yang dapat mengurangi intensitas suara 10 sampai dengan 15 dB, ear plug dibedakan menjadi dua jenis, yaitu ear plug sekali pakai (disposable plugs) dan ear plug yang dapat dipakai kembali (reusable plugs). 2) Tutup telinga (ear muff) dapat mengurangi intensitas suara hingga 20 sampai dengan 30 dB. 2.6 Parameter Kualitas Lingkungan a. Intensitas Cahaya Intensitas cahaya adalah besaran pokok fisika untuk mengukur daya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya pada arah tertentu per satuan sudut. Satuan SI dari intensitas cahaya adalah Candela (Cd). Dalam bidang optika dan fotometri (fotografi), kemampuan mata manusia hanya sensitif dan dapat melihat cahaya dengan panjang gelombang tertentu (spektrum cahaya nampak) yang diukur dalam besaran pokok ini. Intensitas cahaya monokromatik pada panjang gelombang adalah:

di mana : intensitas cahaya dalam satuan Candela, intensitas radian dalam unit W/sr, fungsi intesitas standar. Intensitas cahaya total untuk semua panjang gelombang menjadi:

b. Suhu dan Kelembaban

Pengukuran suhu suatu benda dan pengukuran diberbagai tempat pada dasarnya merupakan pengukuran yang tidak langsung. Pada proses pengukuran, umumnya terjadi perpindahan panas dari tempat yang akan diukur suhunya kea lat pengukur suhu. suhu yang terbaca pada alat pengukur suhu. Suhu yang terbaca pada alat pengukur suhu adalah suhu setelah terjadi kesetaraan, suhu antara benda yang diukur tersebut dengan alat pengukur suhu. Jadi, bukan suhu benda pada saat sebelum terjadi kontak antara benda yang akan diukur tersebut dengan alat pengukur. Alat pengukur suhu disebut thermometer. Termometer pada dasarnya merupakan instrumen yang terdiri dari bahan yang perubahan sifat fisiknya, karena perubahan suhu dapat mudah diukur. Sifat fisik yang berubah tersebut dapat berupa perubahan volume gas, pemuaian logam, perubahan daya hantar listrik atau sifat-sifat fisik lainnya. Masing-masing jenis termometer akan mempunyai skala yang berbeda. Oleh sebab itu, perlu dikalibrasi dengan termometer yang dijadikan patokan (standar). Termometer yang dijadikan patokan adalah termometer tahanan platina (Platinum Resistance Thermometer) atau IPTS-68 (Lakitan, 2002). Secara meteorologi suhu udara biasanya diukur dalam sangkar cuaca. Dalam situasi ini, yang diukur adalah suhu massa udara setinggi 1.5 meter. Tetapi tanaman menerima radiasi langsung dari cahaya matahari sehingga berbeda dari suhu sangkar cuaca. Suhu tanaman mungkin lebih tinggi dari suhu sangkar cuaca. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari penguapan sejumlah air, dari pemindahan panas secara konveksi, angin dan pantulan. Disamping terjadinya perubahan suhu tanaman, suhu permukaan tanah juga berubah. Apabila transpirasi berlangsung terus-menerus, suhu permukaan daun tidak akan berubah. Perubahan suhu udara juga ditentukan oleh sudut letak daun terhadap radiasi surya yang akan menentukan jumlah energi yang diserap oleh daun tersebut. Pengukuran suhu daun dapat dilakukan dengan radiometer inframerah atau penyisipan termokopel kedalam daun (Guslim, 2007). Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara. Alat untuk mengukur suhu udara atau derajat panas disebut thermometer. Biasanya pengukur dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu udara tertinggi dimuka bumi adalah didaerah tropis (sekitar ekuator) dan makin ke kutub semakin dingin. Di lain pihak, pada waktu kita mendaki

gunung, suhu udara terasa terasa dingin jika ketinggian semakin bertambah. Kita sudah mengetahui bahwa tiap kenaikan bertambah 100 meter maka suhu akan berkurang (turun) rata-rata 0,6 C. Penurunan suhu semacam ini disebut gradient temperatur vertikal atau lapse rate. Pada udara kering, lapse rate adalah 1 C (Benyamin, 1997) Suhu dipermukaan bumi makin rendah dengan bertambahnya lintang seperti halnya penurunan suhu menurut ketinggian. Bedanya, pada penyeberan suhu secara vertikal permukaan bumi merupakan sumber pemanas sehingga semakin tinggi tempat maka semakin rendah suhunya. Rata-rata penurunan suhu udara menurut ketinggian contohnya di Indonesia sekitar 5 C 6 C tiap kenaikan 1000 meter. Karena kapasitas panas udara sangat rendah, suhu udara sangat pekat pada perubahan energi dipermukaan bumi. Diantara udara, tanah dan air, udara merupakan konduktor terburuk, sedangkan tanah merupakan konduktor terbaik (Handoko, 1994) Suhu adalah ukuran energi kinetik rata-rata dari pergerakan molekul suatu benda. Panas adalah energi total dari pergerakan molekul suatu benda. Jadi panas adalah ukuran energi total, sedangkan suhu adalah energi rata-rata dari setiap gerakan molekul. Lebih besar pergerakan, maka lebih benda tersebut (Zailani Kadir, 1986). Pengaruh suhu terhadap makhluk hidup sangat besar sehingga pertumbuhannya sangat tergantung pada keadaan suhu, terutama dalam kegiatannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu dipermukaan bumi antara lain: a. Pengaruh daratan atau lautan. b. Pengaruh ketinggian tempat. c. Pengaruh panas laten, yaitu panas yang disimpan dalam atmosfer. d. Tipe tanah, tanah gelap indeks suhunya lebih tinggi. e. Pengaruh sudut datang sinar matahari, sinar yang tegak lurus akan membuat suhu lebih panas daripada yang datangnya miring Seluruh makhluk hidup dikelilingi oleh suhu dan udara. Bahkan organisme seperti yang terdapat dalam tanah yang kelihatannya terdapat pada medan lain. Sebenarnya terdapat dalam air dan udara. Organisme didalam tanah yang terdapat dalam ruangan antar partikel-partikel tanah. Dari antara

kedua hal ini yakni air dan udara, masing-masing sel individu dari organisme diudara hanya bisa aktif bila dalam keadaan lembab (Kartasapoetra, 2002). c. Kecepatan Angin Angin adalah gerakan atau perpindahan masa udara pada arah horizontal yang disebabkan oleh perbedaan tekanan udara dari satu tempat dengan tempat lainnya. Angin diartikan pula sebagai gerakan relatif udara terhadap permukaan bumi, pada arah horizontal atau hampir horinzontal. Masa udara ini mempunyai sifat yang dibedakan antara lain oleh kelembaban (RH) dan suhunya, sehingga dikenal adanya angin basah, angin kering dan sebagainya. Sifat-sifat ini dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu: a. Daerah asalnya; b. Daerah yang dilewatinya; dan c. Lama atau jarak pergerakannya. d. Dua komponen angin yang diukur ialah kecepatan dan arahnya. e. Anemometer merupakan alat pengukur arah dan kecepatan angin yang banyak digunakan dalam dari bidang Yunani meteorologi anemos, yang dan geofisika. angin. Kata Anemometer berasal Italia pada tahun 1450. berarti

Anemometer ini pertama kali diperkenalkan oleh Leon BattistaAlberti dari

DAFTAR PUSTAKA
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor. 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. http://dinkes.pasuruankab.go.id/ downlot.php?file=Kepmenkes%201405-MENKES-SK-XI 2002%20Kesehatan %20Lingk% 20di%20t4%20Kerja.pdf, Diakses tanggal 15 Oktober 2013 Leksono, Rangga Adi. 2009. Gambaran Kebisingan Literatur 2. FKM UI. http://www.digilib.ui.ac.id/file?file=digital/125420-S-5631-Gambaran%20kebisingan Literatur.pdf, Diakses Tanggal 15 Oktober 2013 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor. PER.13/MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Dan Faktor Kimia Di Tempat Kerja . http://xa.yimg.com/kq/groups/1051902/1362821294/name/PERMENA, Diakses tanggal 15 Oktober 2013 Rwahyuningrum. Scribd, 2011. Kebisingan. http://rwahyuningrum.blog.uns.ac.id/2011/09/16/ pada tanggal 15 Oktober 2013. kebisingan/ Diakses tanggal 15 Oktober 2013 Pengertian Kelembaban. Diunduh http://www.scribd.com/doc/89729664/Pengertian-Kelembaban Sumardiyono, 2007. Buku Petunjuk Praktikum Kebisingan, Surakarta: Fakultas Kedokteran Program DIII Hiperkes dan Keselamatan Kerja Universitas Sebelas Maret Surakarta Sumarni, Sri. Pendahuluan. http://eprints.undip.ac.id/31693/1/tesisperbaikan.pdf/ Diakses tanggal 15 Oktober 2013

LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai