Anda di halaman 1dari 4

Maryanna Istiqomah Pratiwi/ 10611014/ Tugas ekologi 1

KARAKTERISTIK IKLIM DI JAWA DAN SUMATERA


Iklim merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia. Peranannya begitu penting. Sedikit contoh seperti dalam pengelolaan ekonomi pembangunan, iklim merupakan faktor penting dalam ketahanan pangan nasional. Perubahan iklim dalam aktivitas manusia seperti aktivitas industri, pembukaan hutan, kegiatan rumah tangga, maupun usaha pertanian akan dilepaskan gas rumah kaca (GRK), dimana suatu perubahan kecil dari kondisi rata-rata yang meningkatkan GRK dapat menyebabkan suatu perubahan yang besar dalam frekuensi kejadian ekstrim. Tak pelak, pengetahuan mengenai iklim penting untuk merencanakan berbagai strategi pembangunan nasional (Mahmud, 2010). -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Menurut Hermawan (2010) iklim dapat didefinisikan sebagai ukuran statistik cuaca untuk jangka waktu tertentu. Secara garis besar iklim di Indonesia terbagi menjadi tiga daerah iklim yaitu daerah monsun selatan, daerah semi-monsun, dan daearah anti monsun (Aldrian, 2003). Indonesia menerima panas yang besar akibat terletak di sekitar garis khatulistiwa (10LU-10LS). Panas tersebut kemudian menggerakkan atmosfer secara global ke daerah lintang menengah dan daerah lintang tinggi melalui awan kumulus tinggi (cumulonimbus) yang terbentuk di daerah ekuatorial. Indonesia memiliki iklim yang dicirikan sebagai daerah konvektif sangat aktif, pembentukan awan kumulus bervariasi secara musiman maupun nonmusiman (Tjasyono, 2006). Akibat berada di daerah tropis ekuatorial, variasi suhu di Indonesia kecil, sementara variasi hujan cukup besar, sehingga unsur iklim curah hujan lebih menetukan daripada suhu (Hermawan, 2010). Adapun iklim di Benua Maritim Indonesia bervariasi akibat pengaruh monsun, El Nino dan La Nina, osilasi selatan, osilasi MaddenJulian, angin lokal, dan lain-lain (Tjasyono, 2006). Karakteristik Iklim Pulau Jawa Menurut Satiadi, et.al (2010) Pulau Jawa terletak di belahan bumi selatan dengan letak geografis, dengan letak geografis -9oLS s.d 6oLS dan 105oBT s.d 116oBT, dikelilingi lautan yaitu Laut Jawa di sebelah utara, Samudera Indonesia di sebelah selatan, Selat Sunda di sebelah barat, dan Selat Bali di sebelah timur. Pulau Jawa dan Bali merupakan wilayah pegunungan di bagian tengah yang membentang dari barat ke timur, namun sebagian besar dataran rendah di bagian pantai utara. 1|Page

Curah hujan merupakan parameter pembagian iklim terpenting di Indonesia. Menurut Aldrian dan Susanto (2003), Pulau Jawa termasuk ke dalam iklim dengan curah hujan berpola monsunal. Pola ini berciri curah hujan yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan) dimana musim kering terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus, sementara Desember, Januari dan Februari merupakan bulan basah. Adapun enam bulan lainnya merupakan periode peralihan atau pancaroba (tiga bulan peralihan musim kemarau ke musim hujan, dan tiga bulan peralihan musim hujan hujan ke musim kemarau). Pernyataan bahwa curah hujan Pulau Jawa berpola monsunal diperkuat oleh Satiadi, et.al (2010) berdasarkan hasil rekam curah hujan tahun 1998-2009. Satiadi juga menambahkan bahwa musim hujan bergerak secara bertahap dari bagian barat ke bagian timur pulau Jawa, sebaliknya musim kemarau bergerak secara bertahap dari bagian timur ke bagian barat. Selain Satiadi, penelitian Juaeni, et.al (2006) juga menguatkan pola monsunal curah hujan pulau Jawa. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa Bogor, Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi dan Denpasar merupakan kota-kota dengan curah hujan berperiode tahunan (interannual oscillation). Penelitian Juaeni, et.al sekaligus menegaskan bahwa monsun Asia dan monsun Australia memberi pengaruh kuat terhadap karakteristik iklim Jawa. Mustofa (2000) juga menyebutkan bahwa nilai indeks monsun mengalami peningkatan dari arah utara ke selatan dan mencapai maksimum di pulau Jawa. Monsun Asia (musim dingin di belahan bumi utara Asia), dimana matahari berada di utara

Maryanna Istiqomah Pratiwi/ 10611014/ Tugas ekologi 1 khatulistiwa (Tjasyono, 2006) berlangsung selama Juni-Agustus menyebabkan terbentuknya pusat tekanan tinggi di wilayah tersebut sehingga angin barat laut yang panas, lembab dengan banyak uap air bertiup ke Indonesia, akibatnya terjadi musim hujan di Indonesia (Chang, 2006). Sebaliknya akibat musim dingin di benua Australia (monsun Australia) dan posisi matahari berada di selatan khatulistiwa, bertiup angin tenggara yang kering dan dingin ke arah Indonesia, sehingga wilayah Jawa mengalami musim kemarau. Awal musim kemarau biasanya bergerak dari bagian timur dan bertahap ke bagian barat sehingga sebelah timur pulau Jawa biasanya lebih kering daripada bagian barat (Satiadi, et.al, 2010). Selain monsun, kondisi suhu permukaan Laut Jawa, dan kemungkinan pengaruh terbentuknya siklon tropis di Samudera Hindia, curah hujan di Jawa juga dipengaruhi oleh fenomena El Nino dan La Nina (Satiadi, et.al, 2010). Tjasyono (2006) menemukan pengaruh terjadinya El Nino saat musim kemarau lebih tinggi dibandingkan terjadi pada musim hujan di Jawa. El Nino memperpanjang musim kemarau dan memperpendek musim hujan. Namun, baik El Nino, La Nina, maupun dipole mode tidak berpengaruh pada curah hujan di wilayah dengan elevasi tinggi. Lebih dari 90% daerah pulau Jawa menerima sekitar 1500mm curah hujan setiap tahunnya. Jawa bagian timur lebih kering dibandingkan Jawa bagian barat. Daerah paling basah di Jawa adalah pegunungan Ragajembangan di Jawa Tengah, namun hanya berjarak 15 km dari puncak, curah hujan tahunan mencapai >7000mm. Suhu di Pulau Jawa bervariasi. Suhu di daerah perkotaan mencapai empat derajat lebih tinggi daripada daerah pedesaan. Hal ini disebabkan gedung-gedung memerangkap panas dan udara. Sebaliknya, di daerah hutan empat derajat lebih dingin dari pedesaan dan mencapai 10 derajat lebih dingin daripada daerah perkotaan. Suhu maksimum berkisar 31o-33oC dan minimum 22o-24oC (Whitten, et.al, 1996). Karakteristik Iklim Pulau Sumatera Pulau Sumatera memiliki barisan pegunungan yang membujur dari utara hingga selatan, serta dikelilingi lautan yaitu Samudera Hindia, Laut Jawa, Selat Malaka, Selat karimata, dan dekat dengan Laut Cina Selatan. Letak ini mempengaruhi proses pembentukan awan dan hujan selain pengaruh dari pergerakan posisi semu matahari terhadap bumi dan sirkulasi global, sehingga Pulau Sumatera memiliki karakteristik iklim yang khas secara regional maupun lokal (Hermawan, 2010). Menurut Aldrian dan Susanto (2003) terdapat dua karakteristik iklim di Pulau Sumatera. Sumatera bagian selatan memiliki curah hujan berpola monsunal atau satu puncak musim hujan yang terjadi bulan Desember, Januari dan Februari seperti Pulau Jawa. Sementara Sumatera bagian tengah serta utara memiliki curah hujan dengan pola ekuatorial, yaitu tipe curah hujan berbentuk bimodial (dua puncak hujan) yang terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober (saat terjadi ekinoks). Pernyatan tersebut berbeda dengan hasil pengelompokan pola curah hujan hasil analisis teknik spektral dari Hermawan (2010) yang menunjukkan sebagian besar wilayah Pulau Sumatera didominasi pola hujan monsunal dengan osilasi dominan sekitar satu tahunan yang dikenal dengan istilah AO (Annual Oscillation), namun, ada pula beberapa kawasan di Sumatera Barat khususnya menunjukkan osilasi setengah tahunan yang disebut (Semi Annual Oscillation). Adapun Whitten, et.al (2000) menyatakan bahwa iklim Sumatera dicirikan dengan hujan yang berlimpah dan terdistribusi merata sepanjang tahun dengan perbedaan yang tidak menyolok antara musim kemarau dengan musim hujan dibandingkan Pulau Jawa dan Indonesia bagian timur. Curah hujan di Sumatera sangat bervariasi, bergantung pada topografi. Curah hujan bervariasi dari >6000 mm per tahun di daerah barat Bukit Barisan, hingga kurang dari 1500 mm per tahun di daerah timur Bukit Barisan dimana udara lembab terhalang oleh Bukit Barisan dan Malay Peninsula. Namun, secara garis besar stasiun mencatat 70% daerah Sumatera mendapat >2500 mm curah hujan

2|Page

Maryanna Istiqomah Pratiwi/ 10611014/ Tugas ekologi 1 per tahun. Musim kemarau pada sebagian besar wilayah Sumatera berkaitan dengan monsun timur laut yang terjadi antara Desember hingga Maret, sementara musim hujan utama terjadi pada masa transisi sebelum monsun timur laut dan setelah monsun barat daya yang berlangsung Mei sampai September. Adapun musim hujan sekunder terjadi sekitar April. Hal ini berbeda pada daerah Sumatera bagian selatan hanya terjadi sekali puncak musim kemarau yaitu sekitar bulan Juli dan daerah ujung Sumatera musim kemarau terjadi sekitar bulan Februari (Whitten, et.al ,2000). Zona iklim menurut Whitten (2000) dibagi menjadi lima daerah. Zona A dengan lebih dari sembilan bulan secara berurutan musim hujan dan dua bulan atau lebih musim kemarau Zona B dengan tujuh hingga sembilan secara berurutan bulan musim hujan dan tiga atau lebih musim kemarau Zona C dengan lima hingga enam bulan secara berurutan musim hujan dan tiga atau kurang dari tiga bulan musim kemarau Zona D dengan tiga hingga empat bulan musim hujan secara berurutan dan dua hingga enam bulan musim kemarau yang berurutan Zona E dengan musim hujan hingga tiga bulan dan lebih dari enam bulan musim kemarau Musim hujan diartikan sebagai curah hujan >200mm per bulan sementara musim kemarau diartikan sebagai curah hujan kurang dari 100 mm. Perbedaan utama antara iklim Sumatera dan Jawa adalah 71% daerah Sumatera menerima tujuh bulan aatau lebih musim hujan dan musim kemarau hingga tiga bulan, sedangkan daerah Jawa yang mengalami keadaan serupa hanya 27% dari seluruh pulau (Whitten, et.al ,2000). Suhu di Pulau Sumatera bervariasi namun fluktuasi tahunan sangat kecil. Perbedaan temperatur lebih dipengaruhi oleh ketinggian. Adapun angin yang terjadi di Pulau Sumatera bermacam jenis, namun sebagian besar bertiup dari utara sekitar Desember dan Maret, dan bertiup dari selatan sekitar Maret hingga September. Ketika angin menabrak bukit barisan, angin monsun akan diteruskan dan bertambah kecepatannya. Beberapa angin barat yang terkenal antara lain Angin Bahorok, Angin Depek dan Angin Padang Lawas yang bersifat kering (Whitten, et.al,2000).

DAFTAR PUSTAKA
Aldrian, E., 2003. Variability of Indonesian Rainfall and the Influence of ENSO and Resolution in ECHAM 4 Simulations and in the Reanalysishttp://www.mpimet.mpg.de/filea dmin/publikationen/Reports/max_scirep_346 .pdf . Diakses 8 September 2013. Aldrian, Edvin dan Susanto R.Dwi, 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia dan Their Relationship to Sea Surface Temperature. Int.J.Climatol 23:1435-1452 Chang, C.P, et.al, 2003. The Asian WinterAustralian Summer Monsoon: An Introduction. UK: Praxis Publishing Hermawan, E. 2010. Pengelompokan Pola Curah Hujan yang Terjadi di Beberapa Kawasan Pulau Sumatera Berbasis Hasil Analisis Teknik Spektral. Jurnal Meteorologi dan Geofisika 11(2):75-84 Juaeni, Ina, et.al, 2006. Periode Curah Hujan Dominan Jurnal Sains dan Teknologi 7(2).

Gambar 1. Zona iklim Pulau Sumatera (Whitten, et.al ,2000).

3|Page

Maryanna Istiqomah Pratiwi/ 10611014/ Tugas ekologi 1

Mahmud, 2010; Skenario perubahan Variabilitas Iklim Indonesia, Prosiding Seminar Nasional Pemanasan Global dan Perubahan Global-Fakta, Mitigasi, dan Adaptasi, LAPAN. Mustofa M.A., 2000. Identifikasi Daerah Monsun dan Curah Hujan Berdasarkan Sifat Angin Permukaaan di Idonesia Bagian Barat, Tesis Master, Program Studi Oseanografi dan Sains Atmosfer, Bandung:ITB. Satiadi, Didi., Dadang S., Sartono M., Halimurrahman, Erma Y. 2010. Pengembangan Model Atmosfer Berbasis PC untuk Prediksi dan Simulasi Iklim Skala Provinsi. Laporan Akhir Penelitian. LAPAN. Tjasyono, Bayong. 2006; Impact of El Nino on Rice Planting in the Indonesian Monsoonal Areas, the Intenational Workshop on Agrometeorology, Badan Meteorogi dan Geofisika, Jakarta. Whitten, Tony., Roehayat E.S, Suraya A.A., 1996. The Ecology of Java and Bali. Singapura: Periplus Edition Ltd. Whitten, Tony., Sengli J.D., Jazanul A., Nazaruddin H, 2000. The Ecology of Sumatra. Singapura. Periplus Edition Ltd.

4|Page