Anda di halaman 1dari 5

RANGKUMAN AUDIT SAMPLING

Oleh ERIEK KURNIAWAN A31111279 PENGAUDITAN II FAKULTAS EKONOMI & BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

PENGERTIAN SAMPLING AUDIT Sampling audit adalah penerapan prosedur audit terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut. Auditor seringkali mengetahui mana saldo-saldo akun dan transaksi yang mungkin sekali mengandung salah saji. Auditor mempertimbangkan pengetahuan ini dalam perencanaan prosedur auditnya, termasuk sampling audit. Auditor biasanya tidak memiliki pengetahuan khusus tentang saldo-saldo akun atau transaksi lainnya yang menurut pertimbangannya perlu diuji untuk memenuhi tujuan auditnya. Dalam hal terakhir ini, sampling audit sangat berguna. Standar pekerjaan lapangan ketiga menyatakan, "Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit." Kedua pendekatan sampling audit di atas, jika diterapkan dengan semestinya, dapat menghasilkan bukti audit yang cukup. Penilaian kompetensi bukti audit semata-mata merupakan pertimbangan audit dan bukan ditentukan oleh desain dan penilaian atas sampel audit. Dalam pengertian khusus, penilaian sampel hanya berhubungan dengan kemungkinan bahwa keberadaan salah saji moneter atau penyimpangan dari pengendalian yang ditetapkan adalah dimasukkan dalam sampel secara proporsional, bukan pada perlakuan auditor atas halhal tersebut. Sehingga, pemilihan metode sampling nonstatistik atau statistik tidak secara langsung mempengaruhi keputusan auditor atas prosedur audit yang akan diterapkan, kompetensi bukti audit yang diperoleh yang berkaitan dengan unsur individual dalam sampel, atau tindakan yang mungkin akan dilakukan sehubungan dengan sifat dan penyebab salah saji tertentu. Tahapan audit ada 6 tahapan yaitu: # Menyusun rencana audit # Menetapkan jumlah/unit sampel # Memilih sampel # Menguji sampel # Mengestimasi keadaan populasi # Membuat simpulan hasil audit

SAMPEL YANG REPRESENTATIF Sampel yang representatif merupakan salah satu karakteristik dalam pemilihan sampel audit yang memiliki kesamaan dengan populasi. Dalam memilih sebuah sample dari populasi, auditor berusaha untuk mendapatkan sample yang representative. Sample yang representative merupakan sample di mana karakteristik sample tersebut mendekati karakteristik populasinya. Hal ini berarti pos-pos yang dipilih sebagai sample tersebut harus mirip dengan pos yang tidak dipilih. Dalam praktiknya, auditor tidak mengetahui apakah sample yang mereka pilih itu representative atau tidak, bahkan setelah semua pengujian telah selesai dilakukan. (satu-satu nya cara untuk mengetahui apakah sebuah sample itu representative adalah dengan menguji keseluruhan populasi. Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit: statistik dan nonstatistik. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan.

STATISTIK VS NONSTATISTIK SAMPLING Mempunyai persamaan yaitu terdiri dari 4 langkah sbb : 1. Perencanaan sample, bertujuan menjamin bahwa pengujian audit dilaksanakan dengan cara yang sesuai untuk memberikan risiko uji petik yang diinginkan dan untuk meminimalkan kemungkinan risiko uji petik. 2. Seleksi sample, meliputi keputusan bagaimana memilih unsur sample dari populasi. 3. Pelaksanaan pengujian, yaitu pemeriksaan dokumen dan melakukan pengujian audit lainnya. 4. Evaluasi hasil, mencakup penarikan kesimpulan berdasarkan pengujian audit.

Sedangkan Perbedaannya : 1. Pengambilan sample Statistik menggunakan teknis-teknis pengukuran matematis untuk menghitung hasil statistik formal. Bermanfaat untuk mengkuantifikasi risiko uji petik pada perencanaan sample dan evaluasi hasil. Hanya cocok untuk sample probabilistis (tiap unsur populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih).

2. Pengambilan sample Non Statistik: memilih unsur-unsur sample yang diyakini dapat memberikan informasi yang berguna pada populasi tersebut (sample non probabilistik) dan keputusan yang diambil lebih berdasarkan pertimbangan. Sering disebut judgemental sampling.

METODE SELEKSI SAMPLE NON PROBABILISTIK DAN PROBABILISTIK Merupakan metode yang tidak memenuhi persyaratan teknis untuk seleksi sample probabilistis sehingga representatif tidaknya sampel mungkin sulit ditentukan. Terdiri dari : a. Seleksi Sampel Terarah (Directed Sample Selection) Merupakan pemilihan sample berdasarkan kriteria pertimbangan profesional yang dibuat auditor. Kriteria mungkin berkenaan dengan representativeness atau mungkin kriteria yang tidak umum dipakai, yaitu unsur yang paling mungkin mengandung salah saji, unsur mengandung karakteristik populasi terpilih, Rupiah terbesar yang tercakup. b. Block sampling. Seleksi beberapa sample secara berurutan. Sekali unsur pertama dalam blok terpilih, maka unsur sisa terpilih secara otomatis ; untuk pengujian atas transaksi hanya dapat diterima jika digunakan jumlah blok yang cukup. c. Seleksi sembarangan (haphazard sample selection). Jika auditor mengamati suatu populasi dan memilih unsur untuk sampel tanpa memperhatikan ukuran,sumber, atau karakteristik lain yang membedakan ; auditor berupaya untuk menyeleksi tanpa memihak. Kelemahan : kesulitan untuk sama sekali tidak memihak dalam memilih unsur yang menjadi sample Metode untuk memperoleh sampel probabilistis : a. Seleksi Sampel Acak Sederhana. Merupakan sampel dimana setiap kombinasi yang mungkin dari unsur-unsur didalam populasi yang memiliki kesempatan sama untuk menjadi sampel ;

digunakan untuk memilih sampel yang tidak tersegmentasi untuk tujuan audit. b. Seleksi sampel sistematis Auditor menghitung suatu interval dan kemudian memilih unsur sampel secara metodis berdasarkan besarnya interval. Interval ditentukan dengan membagi ukuran populasi dengan banyaknya unsur sampel yang diinginkan.

c. Probabilitas proporsional dengan ukuran. Mengambil sampel dimana probabilitas untuk mengambil sampel tunggal adalah proporsional dengan jumlah yang dicatat ; menggunakan monetary unit sampling. d. Seleksi sampel stratifikasi. Digunakan dengan variabel sampling ; memilih sampel dengan tekanan pada item populasi yang mempunyai jumlah tercatat besar.

Perencanaan Sampel 1. Nyatakan tujuan dari pengujian audit 2. Definisikan atribut dan kondisi deviasi 3. Definisikan populasi 4. Definisikan unit uji petik 5. Tentukan tingkat deviasi yang dapat ditoleransi 6. Tentukan risiko pengendalian yang lebih dapat diterima 7. Estimasikan tingkat deviasi populasi 8. Tentukan ukuran sampel awal ukuran populasi; tingkat deviasi yang dapat ditoleransi; risiko pengendalian lebih pada pengendalian intern yang dapat diterima; tingkat deviasi populasi yang diharapkan.

Seleksi Sampel dan Pelaksanaan Pengujian 1. Pilih sampel secara acak 2. Laksanakan prosedur audit

Evaluasi Hasil 1. Generalisasikan dari sampel untuk populasi 2. Analisa deviasi 3. Putuskan akseptabilitas populasi tersebut