Anda di halaman 1dari 18

APPROXIMATE INTEGRATION

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok


Mata Kuliah Analisis Real




KELOMPOK 4 :
PRATIWI NUSI (P3500211008)
SAMSU ALAM (P3500211010)





PROGRAM STUDI MATEMATIKA TERAPAN
PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011


2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Integral Riemann merupakan salah satu materi dalam mata kuliah Analisis
Real. Pada buku Introduction to Real Analysis (Bartle dan Sherbert, Third Edition)
materi Integral Riemann diuraikan pada Bab 7 yang terbagi dalam 4 bagian
pembahasan. Pada bagian 7.1, pembahasan Integral Riemann mengenai pendefinisian
fungsi pada satu interval tutup di R menggunakan jumlah Riemann. Bagian 7.2,
dibahas mengenai pengintegralan Riemann dari beberapa pengklasifikasian penting
dari fungsi: fungsi tangga, fungsi kontinu dan fungsi monoton, meskipun ditemukan
terdapat fungsi yang tidak dapat diselesaikan dengan Integral Riemann. Kemudian
pada bagian 7.3 dibahas mengenai teorema fundamental Kalkulus. Dalam
penggunaan integral Riemann, teorema fundamental ini menghasilkan metode efektif
dari perhitungan integral

yang diberikan, sehingga diperoleh suatu antiderivative


F sedemikian sehingga

() () . Ketika kita tidak


dapat menemukan antiderivative-nya, maka kita tidak mungkin dapat menggunakan
teorema fundamental. Meskipun demikian ketika f kontinu, terdapat beberapa teknik
pendekatan Integral Riemann

dengan menggunakan jumlah yang serupa dengan


jumlah Riemann.
Pada makalah ini, secara khusus dibahas mengenai beberapa pendekatan
Pengintegralan (Approximate Integration) meliputi: konsep Aproksimasi, partisi yang
sama, aturan Trapezoid, aturan Midpoint (titik tengah), dan aturan Simpson. Pada
masing-masing pendekatan, diberikan sebuah contoh dan penyelesaiannya sebagai
penerapan.
B. Tujuan
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, makalah ini disusun dengan
tujuan umum untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Analisis Real program
studi Matematika Terapan Universitas Hasanuddin Angkatan 2011 dengan
3

menyajikan pembahasan bagian 7.4 Integral Riemann yaitu mengenai pendekatan
dalam pengintegralan Riemann

.
Selain itu, tujuan khusus dalam penyusunan makalah ini antara lain:
1) Memahami konsep pendekatan (aproksimasi) dalam pengintegalan.
2) Memahami pendekatan pengintegralan berdasarkan partisi yang sama.
3) Memahami beberapa teknik pendekatan pengintegralan menggunakan aturan
Trapezoid, aturan Midpoint dan aturan Simpson.
4

BAB II
APPROXIMATE INTEGRATION

A. Konsep Pendekatan (Aproksimasi) dalam Pengintegralan
Pendekatan (Aproksimasi) adalah penaksiran nilai yang mendekati nilai
sebenarnya. Aproksimasi dalam pengintegralan adalah penaksiran dalam menentukan
nilai integral yang tidak dapat ditemukan antiderivative-nya.
Prosedur dasar dalam memperoleh taksiran secara cepat dari fungsi
berdasarkan teorema 7.1.4(c) pada bagian 7.1 buku Introduction to Real Analysis
(Bartle dan Sherbert, Third edition) dapat dituliskan bahwa jika () ()
() ], maka

. Jika integral dari g dan h


dapat dihitung, maka dapat diperoleh batas dari

yang cukup akurat untuk


kebutuhan penaksiran.
Contoh:
Anggap kita ingin menaksir nilai dari

.
Dapat ditunjukkan bahwa

,
karena

dapat dibentuk menjadi

diperoleh


sehingga

Akibatnya, kita peroleh

. Jika kita gunakan rata-rata dari nilai dalam batas, kita peroleh
taksiran

untuk integral dengan kesalahan kurang dari

.
Taksiran ini adalah kasar, tapi ini diperoleh dengan cepat dan mungkin sesuai dengan
yang kita butuhkan. Jika diinginkan suatu perkiraan yang lebih, dapat kita coba untuk
menemukan lebih dekat lagi, mendekati fungsi g dan h.
Teorema Taylor 6.4.1 dapat digunakan untuk mendekati nilai

dengan suatu
polynomial. Dalam menggunakan teorema Taylor, kita harus memperoleh batas pada
suku sisa untuk keberartian hitungan kita.
5

Contoh:
Jika kita mengaplikasikan teorema Taylor pada

untuk , kita peroleh:


dimana

dimana c adalah semua bilangan karena kita tidak


memiliki informasi yang lebih baik seperti pada lokasi c, kita harus mengisi dengan
taksiran

. Kemudian kita punyai,


dimana

untuk . Oleh karena itu, kita peroleh



Karena kita punya

Ini mengikuti bahwa


( )


Dengan kesalahan kurang dari 0,005.
B. Pendekatan Pengintegralan berdasarkan partisi yang sama
Jika adalah fungsi kontinu, kita mengetahui bahwa integral
Riemann-nya ada. Untuk menemukan nilai pendekatan untuk integral ini dengan
jumlah minimum dari perhitungan, ini tepat untuk mempertimbangkan partisi

dari
ke dalam sub interval sama yang mempunyai panjang

()

. Karenanya

adalah partisi


Kalau kita mengambil titik tanda pada ujung kiri dan kanan dari subinterval, kita
peroleh perkiraan kiri ke-n :

()

(
)


6

dan perkiraan kanan ke-n :

()

(
)


Harus dicatat bahwa ini mudah untuk mengevaluasi kedua perkiraan sebagai salah
satu saja, karena yang membedakan hanya dengan kondisi () dan (). Kecuali
jika kita yang punya alasan untuk meyakini bahwa salah satu dari

() atau

()
adalah nilai integral yang semakin dekat dengan sebenarnya dari yang lainnya, kita
ambil secara umum artinya:

()

())
Sehingga diperoleh:

()

())

( (

( (

((

)(

(()(

)(

))
Sehingga diperoleh

()

(() (

())
(1)

()

() (

())


sebagai suatu perkiraan yang layak pada

.
Bagaimanapun, dicatat bahwa jika naik pada , maka itu telah jelas sebuah sket
dari graf bahwa
(2)

()

()
Dalam hal ini, kita siap melihat bahwa |

()

()

()
=

()

()

())

()

())

(() ())
(() ())
( )


Suatu taksiran kesalahan seperti ini berguna, karena ini memberikan suatu batas atas
untuk kesalahan perkiraan dalam kaitan dengan kuantitas yang diketahui pada bagian
7

awal. Khususnya, ini dapat dipergunakan untuk menentukan seberapa besar kita harus
memilih n agar mempunyai satu perkiraan yang akan benar pada suatu kesalahan
yang ditetapkan .
Bahasan di atas adalah valid untuk kasus bahwa naik pada . Jika turun,
maka ketidaksamaan (2) harus dibalik

()

(). Kita dapat meringkas


kedua kasus pada pernyataan berikut.

7.4.1. Teorema
Jika monoton dan jika

() diberikan oleh (1), maka


(3) |

()

| |() ()|
()


Pembuktian:
Karena f monoton, maka f itu monoton naik atau monoton turun pada
Tinjau turun, maka

()

()
Sehingga diperoleh |

()

()

()
=

()

()

())

()

())

(() ())
(() ())
()

|() ()|
()

() ()
|(() ())|
()


= |() ()|
()

terbukti

7.4. 2 Contoh
Jika ()

maka turun. Mengacu pada (3) bahwa jika ,


maka |

()

|
(

dan jika maka |

()|
(

Selanjutnya dapat dilihat contoh 7.4.5.




8

C. Metode Pendekatan Pengintegralan
1. Aturan Trapeoid
Metode integral numerik dalam aturan trapezoid didasarkan pada pendekatan fungsi
kontinu fungsi linear kontinu. Misal dan sebagaimana
sebelumnya, misal

( ) dan pertimbangan partisi

. Kita mendekati f
dengan fungsi linear

yang melalui titik (a+kh


n
, f(a+kh
n
)), dimana k=0,1,,n.
Dapat dilihat bahwa integral

kira-kira akan sama dengan integral

dimana n
adalah nilainya cukup besar.
Karena daerah trapezoid dengan dasar horisontal h dan sisi vertikal

dan


diketahui

) kita peroleh

Untuk k=0,1,,n-1. Dimana batas tiap bagian titik di P
n
kecuali dan dibawah
untuk dua sub interval yang berdekatan. Kita peroleh,

Dari teorema 7.4.1, diperoleh taksiran kesalahan pada kasus dalam kondisi dimana f
monoton; sekarang tanpa pembatasan ini pada f, tapi dalam turunan kedua f

dari f

.
Teorema 7.4.3
Misal f, f

, f

kontinu pada selang [a,b] dan anggap bahwa T


n
(f) adalah pendekatan
trapezoid ke-n. Maka terdapat sedemikian sehingga;
(4)


Kesamaan (4) menghasilkan batas atas dan batas bawah untuk selisih

()

.
Contoh:
Jika

() untuk setiap , maka persamaan (4) menyiratkan bahwa


perbedaan ini selalu melebihi

( )

. Jika kita hanya mempunyai f

(x) 0
9

untuk setiap , dimana f cekung keatas, maka dengan menggunakan
pendekatan trapezoid maka nilainya akan selalu lebih besar.
7.4.4 Corolarry
Misal f, f

, f

adalah fungsi kontinu, maka |

()|

untuk setiap
sehingga
(5)


Ketika batas atas B
2
dapat ditentukan, persamaan (5) dapat digunakan untuk
menentukan berapa besar nilai n yang harus dipilih agar hasilnya lebih akurat.
7.4.5 Contoh
Jika ()

dalam selang interval [0,1], maka dapat dicari

()

), jadi kita dapat menentukan bahwa B


2
=2 . begitupun jika n=8, maka

Dilain hal jika n=16, maka kita mempunyai

Jadi, keakuratan nilai yang diperoleh menggunakan pendekatan trapezoid lebih baik
dari pada contoh 7.4.2.
2. Aturan Midpoint
Suatu metode yang secara jelas dalam mendekati integral dari adalah untuk
mengambil jumlah Riemann yang dievaluasi pada midpoints dari subintervals.
Dengan demikian, jika

adalah partisi berjarak sama yang diberikan sebelumnya,


perkiraan Midpoint dari :

()

( (

) (

) (

))
(6)

( (



Metode lain mungkin dapat menggunakan fungsi linier piecewise (sepotong-
sepotong) yang merupakan garis singgung dari graf fungsi f pada midpoints dari
10

subintervals ini. Pada mulanya, ini tampak seperti kalau kita akan mengetahui
kemiringan dari baris garis singgung ke graf dari f di masing-masing midpoints
(

) ( ) Bagaimanapun, ini adalah latihan di geometri untuk


memperlihatkan bahwa area dari trapezium yang teratas adalah baris garis singgung
pada midpoint (

adalah sama ke area persegi panjang dengan ketinggian


( (

)
(Lihat Figur 7.4.1.)
Dengan demikian, area ini diberikan oleh (6), dan "Aturan Trapesium Garis
Singgung" sama halnya dengan "Aturan Midpoint". Kita sekarang menyatakan suatu
teorema yang menunjukkan bahwa aturan Midpoint memberikan hasil yang lebih baij
tingkat keakuratannya dibanding dengan aturan Trapezoid dengan satu faktor dari 2.
Berikut Gambar 7.4.1. Trapesium Garis Singgung (The Tangent Trapezoid).










7.4.6. Teorema
Misalkan

dan misalkan

() menjadi perkiraan
Midpoint ke-n (6), maka terdapat sedemikian sehingga
(7)

()
()

()
Pembuktian hasil ini terdapat pada Appendix D buku Introduction to Real Analysis
(Bartle dan Shertbert, Third Edition).
( (

)
( )
(

)

11

Seperti halnya pada teorema 7.4.3, formula (7) dapat digunakan untuk memberikan
batas atas dan batas bawah untuk selisih

() walaupun ini adalah sebuah


batas atas yang biasanya dengan menarik lebih besar. Perbedaannya dengan aturan
Trapezoid, jika fungsinya convex, maka perkiraan Midpoint selalu sangat kecil.
Hasil berikutnya sesuai dengan Corollary 7.4.4.
7.4.7. Corollary
Misalkan

, dan misalkan |

()|

untuk semua ,
maka |

()

|
()

()





3. Aturan Simpson
Pendekatan yang terakhir adalah menggunakan aturan simpson yang lebih baik dari
pada menggunakan aturan trapezoid dan aturan Midpoint dan tidak memerlukan
perhitungan yang lebih banyak. Mengenai masalah kecekungan maupun
kecembungan tidak memberikan banyak informasi kesalahan untuk metode ini.
Sedangkan aturan trapezoid dan aturan Midpoint didasarkan pada perkiraan dari f
oleh fungsi linear piecewise (sepotong-sepotong). Pendekatan dengan aturan simpson
pada fungsi f dengan bentuk parabolik. Aturan ini memerlukan tiga titik untuk
membantu perhitungan seperti:
(-h, y
0
), (0,y
1
), dan (h,y
2
)
Ketiga titik diatas melalui persamaan fungsi kuadrat q(x) = Ax
2
+ Bx + C mempunyai
sifat bahwa
Sekarang dimisalkan bahwa f adalah fungsi kontinu di selang [a,b] dan harus
genap, dan misalkan h
n
=(b-a)/n. Pada masing-masing subinterval ganda
[a,a+2h
n
], [a+2h
n
, a+4h
n
], [b-2h
n
,b],
Kita dekati f dengan n/2 fungsi kuadrat diperoleh;

Aturan simpson didefinisikan sebagai berikut;
12


Koefisien nilai f pada n+1 partisi titik mengikuti pola berikut;
1, 4, 2, 4, 2, , 4, 2, 4, 1.

7.4.8 Teorema
Misal f, f

, f

, f
(3)
,dan f
(4)
kontinu pada selang [a,b] dan genap. Jika S
n
(f) adalah
pendekatan simpson ke n, maka terdapat sedemikian sehingga

7.4.9 Corollary
Misal f, f

, f

, f
(3)
,dan f
(4)
kontinu pada selang [a,b] dan |
()
()|

untuk semua
. Maka

Keberhasilan penggunaan persamaan ini tergantung pada bagaimana menemukan
batas atas untuk turunan ke-empat.
7.4.10 Contoh
Jika ()

dalam selang interval [0,1], maka dapat diperoleh



Dimana mengikuti |
()
()| untuk , jadi kita dapat menentukan
B
4
=20. Dari persamaan ini bahwa jika n=8 maka

Dan jika n=16 maka
13


Catatan
Pendekatan Midpoint ke-n M
n
(f) dapat di kembangkan menjadi pendekatan trapezoid
ke-2n dan simpson dengan menggunakan rumus


Contoh Soal:
Penerapan metode pendekatan Pengintegralan

Selesaikan dengan pendekatan Trapezoid, Midpoint dan Simpson untuk

Penyelesaian:
Dengan pendekatan Trapezoid,




Dengan pendekatan Midpoint,




Dengan pendekatan Simpson,



Contoh berikut ini merupakan penerapan pada
Diketahui nilai dari diperoleh dengan cara langsung adalah 0,6667
}
=
3
2
10 ,
ln
1
n dx
x
| |
119061 . 1
) 3 ( ) 9 . 2 ( 2 ... ) 3 . 2 ( 2 ) 2 . 2 ( 2 ) 1 . 2 ( 2 ) 2 (
10 2
1
ln
1
3
2
10
~
+ + + + + +

= ~
}
f f f f f f T dx
x
| |
118107 . 1
) 95 . 2 ) 85 . 2 ( ... ) 35 . 2 ( ) 25 . 2 ( ) 15 . 2 ( ) 05 . 2 (
10
1
ln
1
3
2
10
~
+ + + + + + = ~
}
f f f f f f M dx
x
| |
118428 . 1
) 3 ( ) 9 . 2 ( 4 ) 8 . 2 ( 2 ... ) 3 . 2 ( 4 ) 2 . 2 ( 2 ) 1 . 2 ( 4 ) 2 (
10 3
1
ln
1
3
2
10
~
+ + + + + + +

= ~
}
f f f f f f f S dx
x
( )
}

+
0
1
2 3
3 1 dx x x
( )
}

+
0
1
2 3
3 1 dx x x
14

Melalui substitusi bentuk pengintegralan ()

dengan

dan

sehingga dapat ditulis:







Selanjutnya, diselesaikan dengan pendekatan Trapezoid,
Midpoint dan Simpson dengan pengambilan jumlah partisi
Penyelesaian:
Dengan pendekatan Trapezoid,
( ) | | ) 0 ( ) 1 ( 2 ) 1 ( 2 ) 1 ( 2 ) 1 ( 2 ) 1 ( 2 ) 1 ( 2 ) 1 ( 2 ) 1 (
8 2
1
3 1
8
7
8
6
8
5
8
4
8
3
8
2
8
1
8
0
1
2 3
f f f f f f f f f T dx x x + + + + + + + + + + + + + + +

= ~ +
}

| | ) 0 ( ) 25 , 1 ( 2 ) 25 , 0 ( 2 ) 375 , 0 ( 2 ) 5 , 0 ( 2 ) 625 , 0 ( 2 ) 75 , 0 ( 2 ) 875 , 0 ( 2 ) 1 (


16
1
8
f f f f f f f f f T + + + + + + + + =

| |
6208 , 0
) 933 , 9 (
16
1
0 094 , 0 372 , 0 821 , 0 403 , 1 038 , 2 566 , 2 639 , 2 0
16
1
=
=
+ + + + + + + + =


Dengan pendekatan Midpoint,
( ) | | ) 1 ( ) 1 ( ) 1 ( ) 1 ( ) 1 ( ) 1 ( ) 1 ( ) 1 (
8
1
3 1
16
15
16
13
16
11
16
9
16
7
16
5
16
3
16
1
8
0
1
2 3
+ + + + + + + + + + + + + + + = ~ +
}

f f f f f f f f T dx x x

| | ) 0625 , 0 ( ) 1875 , 0 ( ) 3125 , 0 ( ) 4375 , 0 ( ) 5625 , 0 ( ) 6875 , 0 ( ) 8125 , 0 ( ) 9375 , 0 (
8
1
8
+ + + + + + + = f f f f f f f f M

| |
6794 , 0
) 435 , 5 (
8
1
012 , 0 105 , 0 288 , 0 550 , 0 861 , 0 165 , 1 348 , 1 106 , 1
8
1
=
=
+ + + + + + + =






( ) 6667 , 0
3
2
) 1 ) 1 ((
3
2
) 1 0 (
3
2
3 1
2
3
2
3
2
1
3
0
1
3
0
1
0
1
2 3
= =
(

+
(

+ = = = +
} } }

du u du u dx x x
( )
}

+
0
1
2 3
3 1 dx x x
15


Dengan pendekatan Simpson,
( ) | | ) 0 ( ) 0 ( 4 ) 0 ( 2 ) 0 ( 4 ) 1 ( 2 ) 1 ( 4 ) 1 ( 2 ) 1 ( 4 ) 1 (
8 3
1
3 1
8
1
8
2
8
3
8
4
8
3
8
2
8
1
8
0
1
2 3
f f f f f f f f f T dx x x + + + + + + + + + + + +

= ~ +
}


| | ) 0 ( ) 125 , 0 ( 4 ) 25 , 0 ( 2 ) 375 , 0 ( 4 ) 5 , 0 ( 2 ) 625 , 0 ( 4 ) 75 , 0 ( 2 ) 875 , 0 ( 4 ) 1 (
24
1
8
f f f f f f f f f S + + + + + + + + =

| |
6469 , 0
) 525 , 15 (
24
1
0 187 , 0 372 , 0 642 , 1 403 , 1 075 , 4 566 , 2 278 , 5 0
24
1
=
=
+ + + + + + + + =


Dari ketiga pendekatan yang digunakan, dapat dilihat selisih hasil pengintegralan
yang dilakukan dengan nilai integral sebenarnya, sebagai berikut:

a. Dengan pendekatan Trapezoid
|

()

| |

( ( )
2 3
3 1 x x + ) ( ) dx x x
2 3
3 1 +

| | |


b. Dengan pendekatan Midpoint
|

()

| |

( ( )
2 3
3 1 x x + ) ( ) dx x x
2 3
3 1 +

| | |


c. Dengan pendekatan Simpson
|

()

| |

( ( )
2 3
3 1 x x + ) ( ) dx x x
2 3
3 1 +

| | |








16

BAB III
PENUTUP

B. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada Bab II, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Prosedur dasar dalam pendekatan pengintegralan dapat diperoleh dengan
menggunakan fungsi lain yang dapat dicari nilai integralnya dan mengapit fungsi
yang akan dihitung nilai integralnya, dituliskan bahwa jika () ()
() ], maka

. Kemudian dapat juga


dilakukan dengan menerapkan teorema Taylor.
2. Pendekatan pengintegralan berdasarkan partisi yang sama dilakukan dengan
menyatakan partisi pada dari f menjadi n subinterval yang sama panjang.
Kemudian dengan mengambil titik ujung kiri dan kanan subinterval diperoleh
perkiraan kiri dan kanan yang rata-ratanya dapat dinyatakan sebagai:

()

() (

())


sehingga menurut Teorema 7.4.1 Jika monoton dan jika

() diberikan, maka |

()

| |() ()|
()


3. Metode pendekatan pengintegralan lain yang dapat digunakan antara lain:
a. Aturan Trapezoid

b. Aturan Midpoint


c. Aturan Simpson





( ) | | ) ( 2 ... ) ( 2 ) ( 2 ) (
2
1
) (
1 2 1 0 n n n n
b
a
x f x f x f x f x f h T dx x f + + + + + = ~

}
| |
n
i n
n
b
a
h k a x x f x f x f
n
a b
M dx x f
|
.
|

\
|
+ = + + +

= ~
}
2
1
, ) ( ... ) ( ) ( ) ( 2 1
( ) | | ) ( ) ( 4 2 ... ) ( 2 ) ( 4 ) (
3
) (
1 2 2 1 0 n n n n
b
a
x f x f x f x f x f x f
n
a b
S dx x f + + + + + +

= ~

}
17

C. Saran
Berdasarkan simpulan di atas, maka penulis merekomendasikan agar
perhitungan

dengan pendekatan (aproksimasi) dapat digunakan beberapa cara


disesuaikan dengan keterangan fungsi f itu sendiri. Pendekatan dengan menggunakan
aturan simpson dirasakan lebih baik dari pada menggunakan aturan trapezoid karena
tidak memerlukan perhitungan yang lebih banyak serta tingkat ketelitiannya lebih
mendekati nilai integral yang sebenarnya. Pendekatan dengan menggunakan aturan
Midpoint juga lebih relatif mudah dilakukan dan tingkat ketelitiannya melebihi nilai
integral sebenarnya dengan selisih yang sangat kecil.
18

DAFTAR PUSTAKA


Bartle, Robert G. dan Sherbert, Donal R. 1999. Introduction To Real Analysis (Third
Edition). USA: John Wiley & Sons, Inc.

http://google.com/approximation-integration. diakses pada tanggal 17 Oktober 2011.