Anda di halaman 1dari 3

Lembar Fakta Nomor 01/02/2012 Keterbukaan Informasi Publik di Kabupaten Bandung Badan Publik di Kabupaten Bandung Tidak Mengimplementasikan

Keterbukaan Informasi Publik Keterbukaan informasi publik merupakan amanat Undang-undang yang harus dijalankan oleh setiap badan publik di Indonesia. Oleh karena itu, semua badan publik yang dalam hal ini badan publik di lingkungan pemerintahan Kabupaten Bandung, yaitu Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) harus menyediaakan semuan informasi yang berada dalam kategori informasi publik. Salah satu dokumen publik yang harus disediakan oleh badan publik adalah Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), dokumen satuan harga, Uji Akses Dokumen Publik Untuk mengetahui tingkat keterbukaan informasi badan publik di Kabupaten Bandung, dilakukan uji akses terhadap dua puluh tujuh badan publik di lingkungan pemerintahan Kabupaten Bandung. Uji akses dilakukan dari tanggal 4 Februari-15 Februari 2013. Uji akses dilakukan dengan cara mengirimkan permohonan tertulis melalui surat resmi dari Forum Diskusi Anggaran (FDA) Kabupaten Bandung. Berikut disajikan beberapa fakta survey yang telah dilakukan. Dari dua puluh tujuh badan publik yang disurvey, satu badan publik yaitu dinas kesehatan tidak memberikan respon sama sekalai. Dua puluh enam badan publik lainnya memberikan respon. Dari dua puluh tujuh badan publik yang disurvey, hanya satu badan publik yang memberikan informasi publik sesuai dengan permohonan informasi yang diberikan. Dari dua puluh enam badan publik yang disurvey, semua badan publik tidak mencatat alamat lengkap pemohon, jenis informasi yang diminta serta dengan cara apa informasi publik tersebut disampaikan. Dari dua puluh tujuh badan publik yang disurvey, semua badan publik tidak memberikan tanda bukti penerimaan informasi publik yang sesuai dengan Peraturan Bupati No 61 Tahun 2011.

Lembar Tanda Bukti Penerimaan Permohonan Informasi Kartu surat masuk


13% 8% 12%

13%
54%

Bukti surat masuk/Lembar tanda terima surat Lembar tanda terima barang
Lembar/kartu disposisi tulisan tangan di kertas/amplop pengirim

Dari grafik diatas, dapat dilihat 54 persen badan publik memberikan lembar tanda bukti permintaan informasi publik berupa lembar bukti surat masuk/lembar tanda terima surat. Lalu 13 persen berupa lembar tanda terima barang dan lembar/kartu disposisi. Sisanya, 12 persen dalam bentuk kartu surat masuk dan 8 % dalam bentuk tulisan tangan yang ditulis di amplop pengiriman surat dan kertas A4 kosong. Dari dua puluh tujuh badan publik yang disurvey, hanya delapan lembaga publik atau sekitar 30 persen yang memberikan respon. Sisanya sembilan belas lembaga publik, atau tujuh puluh persen tidak memberikan respon atas permintaan informasi publik.

Kedelapan lembaga publik yang memberikan respon tersebut adalah SATPOL PP, DINSOS, KESBANGPOL, BPBD, DISNAKER, DPPKAD, DISKOPERINDAG, BAPAPSI. Dari delapan lembaga publik tersebut, dua lembaga memberikan respon melalui telefon, yaitu DPPKAD dan BAPAPSI. Empat dari enam respon tertulis yang diberikan, empat diantaranya surat respon ditandatangani oleh kepala dinas, dan dua oleh Pejabat Pengelola Informasi Publik (PPIP). NAMA BADAN PUBLIK DISKOPERINDAG DISNAKER SATPOL PP DINSOS KESBANGLINMAS BPBD PENANDATANGAN KEPALA DINAS KEPALA DINAS KEPALA DINAS PPIP PPIP KEPALA DINAS

Badan publik yang memberikan respon berada pada rentang waktu antara tiga hari sampai dengan lima belas hari, selengkapnya disajikan pada grafik berikutnya :
16 14 12 10 8 6 4 2 0 15 11 8 9 8 9 15

Waktu respon

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa badan publik yang paling cepat memberikan respon adalah DISNAKER denan jangka waktu tiga hari. Selanjutnya, SATPOL PP dan DINSOS dengan waktu delapan hari, lalu BPBD dan DPPKAD dalam jangka waktu sembilan hari. Badan publik yang memberikan respon lebih dari sepuluh hari adalah DISKOPERINDAG dalam jangka waktu sebelas hari, serta BAPAPSI dalam jangka waktu lima belas hari.