Anda di halaman 1dari 16

1. Hemostatik Lokal Obat hemostatik yang umumnya beraksi di dinding kapiler.

Dengan meningkatkan adesivitas dari platelet dan mengubah resistensi kapiler, sehingga mampu untuk mengurangi waktu perdarahan dan kehilangan darah. Tidak efektif untuk pendarahan arteri maupun vena. Obat hemostatik yang mekanisme kerjanya yaitu menghentikan perdarahan dengan pembentukan suatu bekuan buatan atau memberikan jala serat-serat. Indikasi : mengatasi perdarahan yang berasal dari pembuluh darah kecil. a. Hemostatik serap Mekanisme kerja: Hemostatik serap (absorbable hemostatik) menghentikan perdarahan dengan pembentukan suatu bekuan buatan atau memberikan jala serat-serat yang mempermudah bila diletakkan langsung pada pembekuan yang berdarah. Dengan kontak pada permukaan asing trombosit akan pecah dan membebaskan factor yang memulai proses pembekuan darah. Indikasi: Hemostatik golongan ini berguna untuk mengatasi perdarahan yang berasal dari pembuluh darah kecil saja misalnya kapiler dan tidak efektif untuk menghentikan perdarahan arteri atau vena yang tekanan intra vaskularnya cukup besar. Contoh obat: Antara lain spon, gelatih, oksi sel (seluloisa oksida) dan busa fibrin insani (kuman fibrin foam). Spon, gelatih, dan oksisel dapat digunakan sebagai penutup luka yang akhirnya akan diabsorpsi. Hal ini menguntungkan karena tidak memerlukan penyingkiran yang memungkinkan perdarahan ulang seperti yang terjadi pada penggunaaan kain kasa. Untuk absorpsi yang sempurna pada kedua zat diperlukan waktu 1-6 jam. Selulosa oksida dapat memperngaruhi regenerasi tulang dan dapat mengakibatkan pembentukan kista bila digunakan jangka panjang pada patah tulang. Selain itu karena dapat menghambat epitelisasi, selulosa oksida tidak dianjurkan untuk digunakan dalam jangka panjang. Busa fibrin insani yang berbentuk spon, setelah dibasahi, dengan tekanan sedikit dapat menutup permukaan yang berdarah.

b. Astringent Mekanisme kerja: Zat ini bekerja local dengan mengedepankan protein darah sehingga perdarahan dapat dihentikan sehubungan dengan cara penggunaannya, zat ini dinamakan juga styptic. Contoh Obat: Antara lain feri kloida, nitras argenti, asam tanat. Indikasi: Kelompok ini digunakan untuk menghentikan perdarahan kapiler tetapi kurang efektif bila dibandingkan dengan vasokontriktor yang digunakan local. c. Koagulan Mekanisme kerja: Obat kelompok ini pada penggunaan lokal menimbulkan hemostatid dengan 2 cara yaitu dengan mempercepat perubahan protrombin menjadi thrombin dan secara langsung menggumpalkan fibrinogen. Aktifitor protrombin, ekstrak yang mengandung aktifator protrombin dapat dibuat antara lain dari jaringan ortak yang diolah secara kering dengan asetat. Beberapa racun ular memiliki pula aktifitas tromboplastin yang dapat menimbulkan pembekuan darah. Salah satu contoh adalah russellsvipervenomn yang sangat efektif sebagai hemostatik local dan dapat digunakan misalnya untuk alveolus gigi yang berdarah pada pasien hemofilia.

Cara pemakaian: Untuk tujuan ini kapas dibasahi dengan larutan segar 0,1% dan ditekankan pada alveolus sehabis ekstrasi gigi. Trombin zat ini tersedia dalam bentuk bubuk atau larutan untuk penggunaaan lokal. Sediaan ini tidak boleh disuntikkan IV, sebab segera menimbulkan bahaya emboli.

d. Vasokonstiktor Indikasi Epinefrin dan norepinefrin berefek vasokontriksi, dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan kapiler suatu permukaan. Cara pemakaian: Cara penggunaannya ialah dengan mengoleskan kapas yang telah dibasahi dengan larutan 1: 1000 tersebut pada permukaan yang berdarah. Vasopresin, yang dihasilkan oleh hipofisis, pernah digunakan untuk mengatasi perdarahan pasca bedah persalinan. Perkembangan terakhir menunjukkan kemungkinan kegunaanya kembali bila disuntikkan langsung ke dalam korpus uteri untuk mencegah perdarahan yang berlebihan selama operasi korektif ginekologi. 2. Hemostatik Sistemik Obat hemostatik yang mekanisme kerjanya mampu mecakup keseluruhan. Tidak pada satu daerah yang mengalami perdarahan saja, namun bereaksi pada seluruh pembuluh darah untuk mengkoagulasi perdarahan. Indikasi : mengatasi perdarahan secara sistemik a. Aprotinin Aprotinin adalah suatu penghambat serine protease alami yang digunakan dalam prosedur medis guna menurunkan respon inflamasi dan mengurangi kehilangan darah yang berkaitan dengan pembedahan liver dan kardiak. Senyawa ini juga penting dalam pencegahan degradasi produk-produk protein dalam riset dan proses manufaktur serta telah diaplikasikan sebagai sejenis pengobatan bagi penyakit pankreatitis akut. Aprotinin pertama kali diidentifikasi dalam paru-paru sapi, namun juga diperoleh dari ragi rekombinan. Hasil riset menunjukkan bahwa terdapat peningkatan risiko kematian yang lebih tinggi pada kelompok pasien yang menerima Aprotinin dibandingkan dengan kelompok pasien yang menerima antifibrinolityc pembanding. Aprotinin sebagai antihemostatik diindikasikan untuk :

Pengobatan pasien dengan resiko tinggi kehilangan banyak darah selama bedah buka jantung dengan sirkulasi ekstrakorporal.

Pengobatan pasien yang konservasi darah optimal selama bedah buka jantung merupakan prioritas absolut.

Selain itu indikasinya : coronary artery bypass grafting, total hip replacement, transplantasi liver, operasi prostat, operasi ginekologi Cara pemberian : Intravena dan external use Bentuk sediaan obat : Trasylol produksi Bayer vial : berisi 100 ml dan 200 mL ; 10.000 unit/mL atau 1.4 mg/ml, Beriplast P Combi set Efek samping : Reaksi-reaksi hipersensitivitas, Asma traneksamat, Mual, muntah, Diare, Stroke, Gagal ginjal dan jantung, nyeri otot, hipotensi Kontra indikasi : Alergi terhadap aprotinin, Kehamilan muda, Insuflsiensi ginjal

b. Carbazochrome Merupakan obat hemostatik yang diindikasikan untuk Perdarahan karena penurunan resistensi kapiler dan meningkatnya permeabilitas kapiler. Perdarahan dari kulit, membran mukosa dan internal. Perdarahan sekitar mata, perdarahan nefrotik dan metroragia. Perdarahan abnormal selama dan setelah pembedahan karena menurunnya resistensi kapiler. Cara kerja : Menurunkan permiabilitas kapiler, untuk perdarahan kecil kapiler. Efektifitas belum terbukti Kontra indikasi : Pada pasien hipersensitif salisilat. Dosis : Carbazochrome salicylate : 5 10 mg IM.

Carbazochrome sodium sulfonat (Adona Ac 17 ) = Carbazochrome salisilat. Dosis : 10 50 mg IV. c. Asam traneksamat Merupakan obat hemostatik yang merupakan penghambat bersaing dari aktivator plasminogen dan penghambat plasmin. Oleh karena itu dapat membantu mengatasi perdarahan berat akibat fibrinolisis yang berlebihan. Obat ini mempunyai indikasi dan mekanisme kerja yang sama dengan asam aminokoproat tetapi 10 kali lebih poten dengan efek samping yang lebih ringan. Asam traneksamat cepat diabsorsi dari saluran cerna, sampai 40% dari 1 dosis oral dan 90% dari 1 dosis IV diekskresi melalui urin dalam 24 jam. Dosis : Dosis yang dianjurkan 0,5-1 gram diberikan 2-3 kali sehari secara IV lambat sekurang-kurangnya dalam waktu 5 menit. Cara pemberian lain peroral 1-1,5 gram, 23 kali/ perhari. Pada pasien gagal ginjal dosis dikurangi. Cara kerja : Aktivitas antiplasminik : Asam Traneksamat menghambat aktivitas dari aktivator plasminogen dan plasmin. Aktivitas plasminik dari Asam Traneksamat telah dibuktikan dengan setempat, setelah diberikan pada tubuh manusia. Aktivitas hemostatis : Asam Traneksamat mencegah degradasi fibrin, pemecahan trombosit, peningkatan kerapuhan vaskular dan pemecahan faktor koagulasi. Efek ini terlihat secara klinis dengan berkurangnya jumlah perdarahan, berkurangnya waktu perdarahan dan lama perdarahan. Aktivitas anti alergi dan anti peradangan : berbagai percobaan 'In vitro' penentuan aktivitas plasmin dalam darah dan aktivitas plasma

Asam Traneksamat bekerja dengan cara menghambat produksi Kinin dan senyawa peptida aktif lainnya yang berperan dalam proses inflamasi dan reaksi-reaksi alergi. Indikasi Untuk fibrinolisis lokal seperti: epistaksis, prostatektomi, konisasi serviks. Edema angioneurotik herediter Perdarahan abnormal sesudah operasi. Perdarahan sesudah operasi gigi pada penderita hemophilia Kontraindikasi Penderita subarachnoid hemorrhage dan penderita dengan riwayat tromboembolik Penderita dengan kelainan pada penglihatan warna. Penderita yang hipersensitif terhadap Asam Traneksamat. Efek samping Gangguan-gangguan gastrointestinal : mual, muntah-muntah, anorexia, eksantema dan sakit kepala dapat timbul pada pemberian secara oral. Gejala-gejala ini menghilang dengan pengurangan dosis atau penghentian pengobatannya Dengan injeksi intravena yang cepat dapat menyebabkan pusing dan hipotensi. Untuk menghindari hal tersebut maka pemberian dapat dilakukan kecepatan tidak lebih dari 1 ml/menit Sakit dada, vasospasmus, syok hemoragi, demam, sakit kepala, kedinginan, urtikaria, alopesia, dysesthesia pedis, purpura, ekzema, nekrosis kutan, plak erithemathosus, hiperkalemia, hiperlipidemia, mual, muntah, konstipasi, hemorage, ditemukan darah pada urin, epistaksis, hemoragi adrenal, hemoragi retriperitonial, trombositopenia, peningkatan enzim SGOT, SGPT, ulserasi, nekrosis kutan yang disebabkan oleh injeksi sub kutan, neuropati perifer, dengan

osteoporosis, konjungtivitis, hemoptisis, hemoragi pulmonari, asma, artritis, rinitis, bronkospasma, reaksi alergi, reaksi anafilaktik.

d. Kompleks faktor IX Indikasi Sediaan ini mengandung faktor II, VII, IX, X serta sejumlah kecil protein plasma lain dan digunakan untuk pengobatan hemofilia B, atau bila diperlukan faktor-faktor yang terdapat dalam sediaan tersebut untuk mencegah perdarahan. Akan tetapi ada kemungkinan timbulnya hepatitis. Efek samping : Sakit kepala , mual, flushing , sakit dan pembengkakan pada tempat suntikan, juga dilaporkan terjadinya peningkatan tekanan darah yang ringan dan harus hati- hati penggunaanya pada pasien hipertensi dan penyakit ateri koronarian. Kontra indikasi : Antara lain trombosis, demam, menggigil, sakit kepala dan reaksi hipersensivitas berat (shok anafilaksis). Dosis Obat ini sering digunakan IV dengan dosis 0,3 mikrogram secara infuse dalam waktu 15-30 menit. fibrinogen insani Sediaan ini hanya digunakan bila dapat ditentukan kadar fibrinogen dalam darah penderita, dan adanya pembekuan yang sebenarnya

e. Vitamin K Sebagai hemostatik, vitamin K memerlukan waktu untuk dapat menimbulkan efek, sebab vitamin K harus merangsang pembentukan faktor-faktor pembekuan darah lebih dahulu. Indikasi : Digunakan untuk mencegah atau mengatasi perdarahan akibat defisiensi vitamin K.

Efek samping : Pemberian parenteral pada bayi premature kurang dari 2,5 kg resiko terkena ikterus meningkat. Pemberian preparat vitamin K IV yang terlalu cepat menyebabkan kemerahan pada muka, berkeringat, bronkospasme, sianosis, sakit pada dada sampai kematian. Kontra indikasi : Neonatus, Bayi, Wanita yang sedang hamil tua Cara pakai : Diberikan melalui oral, injeksi intramuscular atau IV Contoh obat : Namageneric : fitomenadion Nama dagang: kaywan, phytomenadion, phytomenadion injeksi.

f. Faktor anti hemofIlik (faktor VIII) dan crypoprecipitated anti hemophilic factor Indikasi Kedua zat ini bermanfaat untuk mencegah atau mengatasi perdarahan pada penderita hemofilia A (defisienxi faktor VIII) dan pada penderita yang darahnya mengandung faktor didapat dari plasma donor tunggal dan kaya akan factor VIII dalam jumlah baku. Selain itu, pada penderita hemofilia A, crypoprecipitates antihemofilik faktor juga dapat digunakan untuk pasien dengan penyakit von Willebrand. Efek samping Crypoprecipitatefanti hemofilik factor mengandung fibrinogen dan protein plasma laindalam jumlah yng lebih banyak dari sediaaan konsentrat faktor VIII,sehingga kemungkinan terjadi reaksi hipersensitivitas lebih besarpula. Efek samping lain yang dapat timbul pada penggunaan kedua jenissediaan ini adalah hepatitis virus, anemi hemolitik,hiperfibrinogenemia menggigil dan demam. Cara pemakaian Kadar faktor hemofilik 20-30% dari normal yang diberikan IV biasanya digunakan untuk mengatasi perdarahan pada penderita hemofilia. Biasanya hemostatik dicapai dengan dosis tunggal 15-20 unit/kg BB.Untuk perdarahan ringan pada otot dan

jaringan lunak, diberikan dosis tunggal 10 unit/kg BB. Pada penderita hemofilia sebelum dioperasi diperlukan kadar anti hemofilik sekurang kurangnya 50% dari normal, dan pasca bedah diperlukan kadar 20-25 % dari normal untuk7-10 hari. g. Desmopresin Desmopresin (nama dagang : DDAVP, Stimate, Minirin) merupakan obat sintetik sebagai pengganti untuk vasopressin (hormone yang menurunkan produksi urin). Desmopressin (1-desamino-8-D-arginine vasopressin) dibuat dari hormone normal manusia arginine vasopressin, yang merupakan golongan peptida yang terdiri dari sembilan asam amino. Desmopresin merupakan vasopresin sintetik yang dapat meningkatkan faktor VIII dan vWf untuk sementara. Peningkatan kadar faktor pembekuan tersebut paling besar terjadi pada 1-2 jam. Dan menetap sampai dengan 6 jam. Pemberian lebih sering dari tiap 2 atau 3 hari, dapat menurunkan respons terapeutik. Farmakokinetik Desmopressin bekerja dengan membatasi air yang terbatas dengan sejumlah air yang dieleminasi dalam urine. Desmopressin merangsang V2 receptors di duktus pengumpul ginjal, meningkatkan reabsorpsi air. Ini juga menstimulasi factor VIII dari sel endothelial juga menstimulasi reseptor V1a. Desmopressin diserap dengan lambat yang kemudian berperan sebagai vasopressin, dan memiliki sedikit efek pengaturan tekanan darah, dimana vasopressin tersebut dapat menyebabkan hipertensi arterial. Indikasi Desmopressin dapat digunakan untuk membantu menurunkan von willebrand factor (dengan subsequent peningkatan factor VIII untuk mengatasi kompleks vWF) pada pasien dengan gangguan pembekuan darah seperti penyakit Willebrand, Haemophilia A ringan (penurunan factor VIII), dan trombositopenia. Kontraindikasi

Tidak baik digunakan bagi pasien yang mengalami gangguan dengan factor IX atau Haemophilia tipe B. Efek samping Sakit kepala, mual, sakit dan pembengkakan pada tempat suntikan, juga dilaporkan terjadinya peningkatan tekanan darah yang ringan dan harus hati- hati penggunaanya pada pasien hipertensi dan penyakit ateri koronari. Cara pakai Desmopressin dapat diberikan melalui IV, IM, SC, intranasal maupun oral. Obat ini sering digunakan IV dengan dosis 0,3 mikrogram secara infuse dalam waktu 15-30 menit.

h. Asam aminokaproat Mekanisme kerja Asam aminokaproat merupakan penghambat bersaing dari activator plasminogen dan penghambat plasmin. Plasmin sendiri berperan menghancurkan fibrinogen/fibrin dan faktor pembekuan darah lain. Oleh karena itu asam amino kaproat dapat mengatasi perdarahan berat akibat fibrinolysis yang berlebihan. Dugaan akan adanya fibrinolisis yang berlebihan dapat didasarkan atas hasil tes laboratorium berupa waktu trombin dan protombin yang memanjang, hipofibrinogenemia atau kadar plasminogen yang menurun. Akan tetapi beberapa dari hasil laboratorium di atas biasanya didapatkan pula pada penderita DIC. Kontraindikasi Pemberian asam aminokaproat dapat menyebabkan pembentukan thrombus yang mungkin bersifat fatal. Oleh karena itu asam aminokaproat hanya digunakan untuk mengatasi perdarahan fibrinolisis berlebihan yang bukan disebabkan oleh DIC. Bila terdapat keraguan, criteria untuk membedakan kedua keadaan tersebut adalah dengan menghitung trombosit, tes para koagulasi protamin dan lisis bekuan euglobulin. Pada

DIC hitung trombosit menurun, tes parakoagulasi protamin positif danlisis bekuan euglobin normal. Pada fibrinolisis primer hitung trombosit normal, tes parakoagulasi protamin negatif dan lisis beku aneuglobulin berkurang. Tetapi fibrinolisis jarang terjadi tersendiri,biasanya terjadi sekunder akibat DIC. Cara pemakaian : Dapat diberikan secara peroral dan IV Indikasi Asam aminokaprot digunakan untuk mengatasi hematuria yang berasal dari kandung kemih. Prostate atau uretra pada penderita yang mengalami prostatektomi transurethral atau suprapublik, asam aminokaproat mengurangi hematuria pasca bedah secara bermakna. Akan tetapi penggunanya harus dibatasi pada penderita dengan perdarahan berat dan yang penyebab perdarahannya tidak dapat diperbaiki. Asam aminokaproat juga dapat digunakan sebagai antidotum untuk melawan efek trombolitik streptokinase dan urokinase yang merupakan activator plasminogen. Asam aminokaproat dilaporkan bermanfaat untuk pasien homofilia sebelum dan sesudah ekstraksi gigi dan perdarahan lain karena trauma didalam mulut. Efek samping Asam aminokaproat dapat menyebabkan prutius, eriterna konjungtiva, dan hidung tersumbat. Efek samping yang paling berbahaya ialah trombosisumum, karena itu penderita yang mendapat obat ini harus diperiksa mekanisme hemostatik. Dosis Dosis dewasa dimulai dengan 5-6 gram per oral atau infuse IV, secara lambat, lalu 1 gram tiap jam atau 6 gram tiap 6 jam bila fungsi ginjal normal, dengan dosis tersebut dihasilkan kadar terapi efektif 13 mg/dl plasma. Pada pasien penyakit ginjal atau oliguri diperlukan dosis lebih kecil. Anak-anak 100 mg/kg BB tiap 6 jam untuk 6 hari. Bila digunakan IV asam aminokaproat harus dilarutkan dengan ringer laktat. Namun masih diperlukan bukti lebih lanjut mengenai keamanan penggunaan obat ini untuk jangka panjang dengan dosis diatas.

A. HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMBERIAN OBAT a. Perawat dalam memberikan obat juga harus memperhatikan resep obat yang diberikan harus tepat, adapun yang harus diperhatikan sebelum dan selama pemberian obat hitungan yang tepat pada dosis yang diberikan sesuai resep dan selalu menggunakan prinsip 12 benar, yaitu: 1. Benar Klien Selalu dipastikan dengan memeriksa identitas pasien dengan memeriksa gelang identifikasi dan meminta menyebutkan namanya sendiri. Klien berhak untuk mengetahui alasan obat Klien berhak untuk menolak penggunaan sebuah obat Membedakan klien dengan dua nama yang sama

2. Benar Obat Klien dapat menerima obat yang telah diresepkan Perawat bertanggung jawab untuk mengikuti perintah yang tepat Perawat harus menghindari kesalahan, yaitu dengan membaca label obat minimal tiga kali: 1. Pada saat melihat botol atau kemasan obat, 2. Sebelum menuang/menghisap obat 3. Setelah menuang/ mengisap obat Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut Memberikan obat-obatan tanda: nama obat, tanggal kadaluarsa

3. Benar Dosis Obat Dosis yang diberikan klien sesuai dengan kondisi klien. Dosis yang diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan. Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah dosis yang akan diberikan, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: tersedianya

obat dan dosis obat yang diresepkan/ diminta, pertimbangan berat badan klien (mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosisi obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain. Melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat tertentu.

4. Benar Waktu Pemberian Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari. Misalnya seperti dua kali sehari, tiga kali sehat, empat kali sehari dan 6 kali sehari sehingga kadar obat dalam plasma tubuh dapat dipertimbangkan. Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t ). Obat yang mempunyai waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan untuk obat yang memiliki waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu tertentu. Pemberian obat juga memperhatikan diberikan sebelum atau sesudah makan atau bersama makanan Memberikan obat obat-obat seperti kalium dan aspirin yang dapat mengiritasi mukosa lambung bersama-sama dengan makanan. Menjadi tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk memeriksa diagnostik, seperti tes darah puasa yang merupakan kontraindikasi pemeriksaan obat. 5. Benar Cara Pemberian (rute) Memperhatikan proses absorbsi obat dalam tubuh harus tepat dan memadai. Memperhatikan kemampuan klien dalam menelan sebelum memberikan obatobat peroral Menggunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat melalui rute parenteral Memberikan obat pada tempat yang sesuai dan tetap bersama dengan klien sampai obat oral telah ditelan. rute yang lebih sering dari absorpsi adalah : 1. oral ( melalui mulut ): cairan , suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul

2. sublingual ( di bawah lidah untuk absorpsi vena ) ; 3. bukal (diantara gusi dan pipi) 4. topikal ( dipakai pada kulit ) ; 5. inhalasi ( semprot aerosol ) ; 6. instilasi ( pada mata, hidung, telinga, rektum atau vagina ) ; 7. parenteral : intradermal , subkutan , intramuskular , dan intravena. 6. Benar Dokumentasi Pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit. Dan selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien terhadap pengobatan. 7. Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien Perawat mempunyai tanggungjawab dalam melakukan pendidikan kesehatan pada pasien, keluarga dan masyarakat luas terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat secara umum, penggunaan obat yang baik dan benar, alasan terapi obat dan kesehatan yang menyeluruh, hasil yang diharapkan setelah pembeian obat, efek samping dan reaksi yang merugikan dari obat, interaksi obat dengan obat dan obat dengan makanan, perubahanperubahan yang diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama sakit, dsb. 8. Hak klien untuk menolak Klien berhak untuk menolak dalam pemberian obat. Perawat harus memberikan Inform consent dalam pemberian obat. 9. Benar pengkajia dan selalu memeriksa TTV (Tanda-tanda vital) sebelum pemberian obat. 10. Benar evaluasi, Perawat selalu melihat maupun memantau efek kerja dari obat setelah pemberiannya. 11. Benar reaksi terhadap makanan, Obat memiliki efektivitas jika diberikan pada waktu yang tepat. Jika obat itu harus diminum sebelum makan untuk memperoleh kadar yang diperlukan harus diberi satu jam sebelum makan misalnya tetrasiklin, dan sebaiknya ada obat yang harus diminum setelah makan misalnya indometasin.

12. Benar reaksi dengan obat lain, Pada penggunaan obat seperti chloramphenicol diberikan dengan omeprazol penggunaan pada penyakit kronis

b. Adapun hal-hal yang diperhatikan setelah pemberian obat : Respon klien terhadap reaksi obat yang diberikan. Perawat hendaknya senantiasa mengobservasi keadaan klien setelah diberikan obat, apakah tampak tanda-tanda kemerahan, sesak nafas, gatal ataupun respon alergi lain yang ditunjukkan. Reaksi obat yang diberikan pada klien, apakah setelah pemberian obat klien merasa keadaannya lebih baik dan tubuh merespon obat yang diberikan dengan baik sehingga proses penyembuhan klien dapat berjalan dengan baik. Memberikan penjelasan tentang hal-hal yang harus dilakukan kepada pasien, misalnya waktu pemberian obat selanjutnya, efek samping obat yang harus dilaporkan pada tim medis dan lain sebagainya.

Risiko utama obat hemostatik menyebabkan koagulasi berlebihan yang membentuk trombosis pada system vena dan arteri. Meta-analisis oleh Zufferey et Al tidak menunjukkan peningkatan statsistik yang signifikan dalam risiko tromboemboli vena baik pada penggunaan aprotinin, asam traneksamat, atau asam e-aminokaproat. Haas juga tidak menemukan hubungan antara penggunaan aprotinin dan prevalensi thrombosis vena dalam. Aprotinin dapat menyebabkan anafilaksis pada beberapa pasien. Kejadian hipersensitivitas lebih tinggi (5%) jika terjadi pemaparan ulang dalam waktu 6 bulan dari pemberian aprotinin sebelumnya, dan mengalami penurunan (menjadi 0,9%) untuk pemberian ulang setelah 6 bulan. The Perioperative Ischemia Research Group and the Ischemia Research and Education Foundation melaporkan sebuah studi observasional prospektif multicentered internasional dari 4.374 pasien yang menyatakan bahwa jika aprotinin diberikan selama operasi bypass arteri koroner . Kelompok yang sama juga telah mengikuti percobaan ini dan ditemukan bahwa tingkat kematian dalam 5 tahun dalam kelompok aprotinin secara signifikan lebih tinggi daripada

kelompok kontrol. Kedua studi

tidak menemukan adanya kegagalan organ akhir atau

peningkatan kematian untuk asam traneksamat dan asam aminocaproic.


Aprotinin terbukti dapat membeantu dalam keberhasilan operasi bedah jantung , tetapi dapat menyebabkan efek samping meningkatkan risiko kerusakan ginjal, infark

miokard, atau gagal jantung, dan stroke