Anda di halaman 1dari 16

SEJARAH PERADABAN ISLAM;

PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN URGENSI PEMBAHASANNYA

A. Pendahuluan Sebelum berbicara tentang berbagai hal yang terkait dengan sejarah peradaban Islam, lebih dahulu perlu dijelaskan pengertian, ruang lingkup pembahasan, dan urgensi dari mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang akan dibahas dalam kajian ini. Penjelasan ini perlu untuk memberikan arahan dan batasan tentang pokok-pokok masalah yang akan dikaji dan dibicarakan dalam mata kuliah ini. Untuk itu, pada bagian ini, akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan ketiga masalah pokok tersebut. Lebih jauh, untuk memberikan gambaran umum yang lebih rinci tentang ruang lingkup kajian ini, juga akan dikemukakan periodesasi atau pembabakan sejarah umat Islam sejak masa-masa awal sampai zaman moderen. Dengan demikian, diharapkan para pembaca akan memiliki panduan yang jelas tentang sosok dan berbagai aspek serta ruang dan waktu yang menjadi pusat dan lapangan kajian mata kuliah ini. Kejelasan ini juga diperlukan oleh para pembaca untuk mengambil langkah-langkah efektif dalam memperkaya pengetahuannya dengan merujuk berbagai literatur dan referensi yang tersedia. Diharapkan agar pembaca senantiasa memperkaya pemahaman dengan aneka ragam buku-buku sejarah Islam yang sudah tersedia di berbagai perpustakaan. 1

Pembahasan materi sejarah yang komprehensif dan objektif menuntut kajian terhadap aneka ragam literatur yang terkait. Memahami sejarah secara baik tidak mungkin hanya dengan mengandalkan satu literatur tertentu saja. Untuk itu, disarankan bagi pembaca uraian ini agar membaca berbagai karya tulis yang terkait dengan pokok-pokok bahasan yang dibicarakan. Di bagian akhir tulisan ini, disediakan daftar kepustakaan yang dapat memperkaya sumber informasi dalam memahami uraian yang disajikan.

B. Pengertian Sejarah Peradaban Islam Mata kuliah ini diberi nama Sejarah Peradaban Islam, yaitu sebuah ungkapan yang terdiri atas tiga kata: sejarah, peradaban, dan Islam. Untuk mengetahui arti yang terkandung di dalam ungkapan ini, terlebih dahulu, perlu dijelaskan makna dari masing-masing kata tersebut. Setelah itu, akan disimpulkan pengertian dari ungkapan yang terdiri atas tiga kata ini secara keseluruhan. Secara etimologis, kata sejarah berasal dari kata Arab syajarah yang berarti pohon2 yang bercabang-cabang. Pada mulanya, kata ini dipakai dengan pengertian silsilah atau asal-usul keturunan karena bahan pembicaraan pertama dari sejarah adalah silsilah keturunan dari suatu keluarga, terutama silsilah keluarga para raja dan pemuka masyarakat. Pembicaraan tentang silsilah suatu keluarga bagaikan melihat sebatang pohon yang memiliki banyak cabang dan ranting. Bila percabangan genealogis dari suatu kelompok keluarga tertentu dibuat dalam bentuk bagan niscaya akan tampak seperti profil pohon yang bercabang-cabang. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa kata sejarah berarti: 1 silsilah; asal-usul (keturunan); 2 kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; riwayat; tambo. 3 Kata sejarah masuk ke dalam perbendaharaan kata Indonesia sejak abad ke-13 M, seiring dengan terjadinya akulturasi kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Islam. Meskipun kata sejarah berasal dari bahasa Arab, namun orang Arab sendiri tidak menggunakan kata ini untuk menyebut sesuatu yang kita sebut sejarah. Untuk pengertian yang kita sebut sejarah, mereka memakai kata tarikh. Hal itu dapat dilihat pada ungkapan Tarikh al-Islam (Sejarah Islam) atau Tarikh al-Syuub al-Arabiyyat (Sejarah Bangsa-bangsa Arab), dan lain-lain.

2 Lihat William H. Frederick dan Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum & Sesudah Revolusi, (Jakarta: LP3ES, 1984), hal. 1.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hal. 794.

Sedangkan secara terminologis, kata sejarah berarti cerita tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau .4 Sejarah merupakan pemaparan secara sistematis mengenai peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi di masa lalu. Ia adalah hasil rekonstruksi masa lampau yang dapat dilakukan oleh sejarawan. Sejarah bukanlah cerita fiktif, dongeng, atau mitos yang hanya bersumber dari khayalan semata, melainkan cerita yang didasarkan atas realitas yang ada. Ia juga bukan sekedar catatan kronologis mengenai berbagai kejadian masa lalu, tetapi paparan dari suatu peristiwa yang punya hubungan dengan berbagai aspek kehidupan sosial pada suatu masa tertentu. Sejarah tidak menguraikan semua peristiwa yang terjadi di masa lampau karena hal itu tidak mungkin dan tidak perlu dilakukan. Hanya bagian-bagian tertentu yang dinilai penting yang diungkap dan diceritakan dalam sejarah. Sebagai cerita, isi dan sistematika sejarah ditentukan oleh manusia yang menyusun dan memaparkannya. Penentuan kejadian masa lalu yang dinilai penting untuk diceritakan dalam sejarah dilakukan oleh manusia yang menceritakannya. Pada sisi lain, kemampuan manusia juga terbatas untuk dapat mengungkap atau merekonstruksi secara utuh peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Oleh karena itu, manusia memegang peranan yang utama dalam sejarah. Kenyataan inilah yang menyebabkan penulisan sejarah sering dinilai bersifat subjektif. Sejarah tidak sama dengan dongeng, legenda, silsilah, dan kronik. Dongeng dan legenda, betapa pun populernya, adalah cerita yang tidak jelas asal-usulnya. Ia merupakan cerita fiktif yang hidup di tengah-tengah suatu masyarakat. Meskipun dongeng dan legenda disusun dengan baik dalam suatu rangkaian cerita yang bermakna, namun isinya tidak berdasarkan peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi. Sementara itu, silsilah dan kronik hanyalah kumpulan catatan tentang asal-usul

Hugiono dan PK. Poerwantana, Pengantar Ilmu Sejarah, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1987),

hal. 1.

keturunan dan kejadian atau peristiwa-peristiwa yang disusun secara kronologis sesuai dengan urut-urutan kejadiannya. Silsilah dan kronik bersumber dari fakta yang ada, namun tidak disusun dalam suatu sajian cerita yang bermakna. Sejarah harus didasarkan atas fakta-fakta yang ada serta disusun dalam suatu rangkaian cerita yang dapat memberikan pengertian yang utuh dan bermakna tentang peristiwa dan kejadian yang diceritakan tersebut. Uraian sejarah tidak hanya memuat apa yang terjadi, tetapi juga kenapa peristiwa itu terjadi serta saling hubungan dan pengaruhnya terhadap berbagai aspek kehidupan lainnya. Dari paparan di atas, dapat dipahami kenapa sejarah suatu masyarakat disajikan dengan isi dan cara yang berbeda-beda oleh para penulis yang berlainan. Perbedaan itu bisa terjadi pada pilihan peristiwa yang hendak diceritakan atau pada sistematika dan rangkaian cerita yang disajikan. Bahkan, kadang-kadang terdapat pertentangan cara pandang antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, sejarah Indonesia yang ditulis oleh orang-orang Belanda belum tentu sama dengan yang ditulis oleh penulis Indonesia sendiri. Begitu pula, sejarah Indonesia masa orde lama yang ditulis pada masa orde lama akan berbeda dengan yang ditulis pada masa orde baru. Berdasarkan kenyataan demikian, seorang pembaca sejarah harus berhati-hati dan cermat dalam mengikuti cerita sejarah yang dibacanya. Ia harus bersikap kritis sebab sejarawan akan bercerita sesuai dengan latar belakang pengetahuan, ideologi, tujuan, dan riwayat hidupnya masing-masing. Di sinilah, terletak subjektifitas para sejarawan. Namun, walaupun sejarawan sering dinilai bersifat subjektif, namun hal itu tidak berarti bahwa semua sajian sejarah mesti subjektif. Selanjutnya, pengertian kata peradaban dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam banyak uraian, para penulis menggunakan kata peradaban dalam pengertian yang sama dengan kata kebudayaan sehingga terdapat beberapa buku yang isinya hampir sama tetapi judulnya ada yang ditulis Sejarah Kebudayaan Islam dan ada pula yang ditulis Sejarah Peradaban Islam. Bahkan, ada pula yang menulis judul buku Sejarah dan Kebudayaan Islam atau Sejarah dan Peradaban Islam. Sementara itu, tidak sedikit pula

penulis yang memakai kedua kata itu dalam pengertian yang berbeda. Dalam buku ini, kedua ungkapan tersebut dipahami dengan arti yang berbeda. Untuk memahami perbedaan antara kebudayaan dan peradaban, dapat disimak penjelasan Kuntjaraningrat. Baginya, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan hasil budi dan karyanya itu 5. Kebudayaan merupakan keseluruhan yang pernah dihasilkan manusia yang menguasai planet ini sejak ia muncul di muka bumi sampai sekarang. Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta budhayah, bentuk jamak dari kata budhi yang berarti akal. Dengan begitu, kebudayaan adalah produk manusia sebagai makhluk berakal, baik yang berbentuk materi maupun yang berbentuk non materi. Sedangkan kata peradaban dipakai dalam pengertian bagianbagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah seperti kesenian, ilmu pengetahuan, serta sopan santun dan sistem pergaulan yang komplek dalam suatu masyarakat dengan struktur yang komplek . Sering juga istilah peradaban dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang maju dan komplek 6 Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa peradaban adalah bagian lahir atau wujud nyata dari kebudayaan. Dengan kata lain, setiap peradaban adalah kebudayaan, tetapi kebudayaan tidak hanya peradaban. Kebudayaan memiliki pengertian yang lebih luas dari peradaban. Dalam pengertian ini, peradaban membicarakan hal-hal yang terkait dengan sistem politik yang dipakai oleh suatu masyarakat untuk mengatur hidup bernegara, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan kesenian, serta sistem pengelolaan tata ekonomi dalam suatu masyarakat.

Lihat Kuntjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 10.
6

Ibid., hal. 10.

Seiring dengan itu, Kuntjaraningrat mengemukakan lebih jauh bahwa wujud kebudayaan itu terdiri atas 3 macam, yaitu: 1) wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya; 2) wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia yang ada dalam suatu masyarakat; dan 3) wujud benda, yaitu wujud kebudayaan dalam bentuk benda-benda hasil karya dari suatu masyarakat. 7 Dari ketiga wujud kebudayaan di atas, hanya dua bentuk yang terakhir yang masuk dalam lingkup peradaban. Dengan kata lain, Kuntjaraningrat ingin menegaskan bahwa yang dimaksud peradaban hanyalah wujud kebudayaan yang kedua dan ketiga, yaitu wujud aktivitas kelakuan berpola dari manusia di dalam suatu masyarakat dan wujud benda-benda hasil karya dari suatu masyarakat. Sebagian penulis membedakan secara tegas antara kebudayaan dan peradaban dengan menyatakan bahwa kebudayaan adalah apa yang kita rindukan. Dalam pengertian ini, kebudayaan bersifat ideal dan abstrak. Sementara itu, peradaban adalah apa yang kita gunakan yaitu sesuatu yang bersifat praktis dan lebih nyata. Kebudayaan terefleksi dalam seni, sastra, religi, dan moral. Sedangkan, peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi, dan teknologi.8 Pengertian seperti inilah, tampaknya, yang menyebabkan kata kebudayaan dipakai untuk menunjuk hal-hal yang berkaitan dengan kesenian dalam berbagai bentuknya serta upacara-upacara adat yang tumbuh dalam suatu masyarakat. Bila kata-kata tersebut (kebudayaan dan peradaban) dikaitkan dengan Islam, perlu ditegaskan bahwa Islam bukanlah bagian dari keduanya, melainkan sebagai landasan tempat tumbuh dan tegaknya kebudayaan dan peradaban yang ditimbulkan oleh para pemeluknya.
7 8

Ibid., hal. 5. Ibid.

Islam sebagaimana dipahami penganutnya adalah landasan atau sumber inspirasi dari kebudayaan umat Islam. Islam adalah agama wahyu yang diturunkan oleh Allah swt. melalui perantaraan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup bagi manusia agar manusia dapat menjalani hidupnya sesuai dengan rencana Allah. Islam adalah ajaran yang bersumber pada al-Quran dan al-Sunnah al-Nabawiyah. Dalam Islam, yang masuk kebudayaan adalah keberagamaan seseorang, bukan agama Islam yang bersumber pada al-Quran dan al-Sunnah. Peradaban Islam ialah manifestasi dari kebudayaan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupannya. Islam sebagaimana diwahyukan bukanlah kebudayaan karena ia bukan gagasan atau ide yang timbul dari manusia, melainkan petunjuk yang diberikan oleh Allah melalui utusanNya. Yang termasuk Islam dalam pengertian ini adalah teks al-Quran dan sunnah Rasul-Nya. Islam dalam pengertian inilah yang menjadi dasar dan sumber ide dan gagasan umat Islam dalam membangun kebudayaan. Selama ide dan gagasan itu tidak merupakan ketetapan langsung dari alQuran dan/atau sabda Rasul, maka ia merupakan produk ijtihad atau pemahaman umat Islam yang tentu saja telah melibatkan manusia yang melakukan ijtihad itu. Dalam pengertian ini, yang merupakan kebudayaan umat Islam adalah hal-hal yang tertuang dalam kajian filsafat, fikih dan ilmu kalam. Sementara itu, peradaban adalah prilaku, adat-istiadat, dan institusi-institusi yang dibangun umat Islam bukan atas ketetapan langsung dari al-Quran dan al-Sunnah, melainkan atas dasar kreatifitas umat Islam sendiri sesuai dengan keberagamaan masing-masing. Dinamika keberagamaan umat Islam inilah yang menyebabkan peradaban Islam juga bersifat dinamis, mengalami pasang surut. Berdasar pengertian ini, bahasan mata kuliah Sejarah Peradaban Islam tidak mencakup kajian tentang Ilmu Kalam, Fikih/Ushul Fikih, Filsafat, dan lain-lain. Mata kuliah ini hanya membahas hal-hal yang terkait dengan pola kehidupan politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kesenian yang telah berhasil dikembangkan oleh umat

Islam di berbagai kawasan sepanjang sejarah Islam mulai sejak masa Nabi sampai pada masa-masa sekarang ini. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Sejarah Peradaban Islam adalah suatu disiplin ilmu yang membahas perkembangan kehidupan politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesenian umat Islam di berbagai kawasan konsentrasi umat Islam dalam rentangan waktu sejak masa Nabi Muhammad saw sampai dengan masamasa sekarang ini. B. Ruang Lingkup Kajian Sejarah Peradaban Islam Bertolak dari pemahaman seperti dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pembahasan Sejarah Peradaban Islam mencakup realisasi dari berbagai gagasan dan ide sebagai pengejawantahan ajaran Islam oleh umatnya dalam berbagai lapangan kehidupan sosial, seperti politik, ekonomi, pengetahuan dan teknologi, serta kesenian. Mata kuliah ini diberi nama Sejarah Peradaban Islam karena sasaran yang hendak dituju adalah pembahasan tentang perkembangan kehidupan politik, ekonomi, pengetahuan dan teknologi, serta kesenian yang pernah dijalani dan dikembangkan oleh umat Islam. Mata kuliah ini membahas bagaimana umat Islam menata kehidupan politik, mengelola kehidupan ekonomi, mengembangkan pengetahuan dan teknologi, serta kesenian dalam upaya mereka mengejawantahkan ajaran Islam untuk meresponi berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan nyata. Mata kuliah ini tidak memusatkan perhatian pada aspek ide atau gagasan seperti yang dibahas dalam teologi dan fikih. Ia lebih difokuskan pada realitas yang wujud sebagai manifestasi dari ide dan gagasan tersebut. Agaknya, nama mata kuliah tidak perlu ditulis dengan Sejarah dan Peradaban Islam karena fokusnya hanya satu, yaitu sejarah atau cerita tentang berbagai hal yang terkait dengan peradaban umat Islam. Dengan demikian, dalam mata kuliah ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan:

1) Sistem politik yang dipakai umat Islam untuk mengatur kehidupan sosial sejak masa-masa awal pertumbuhannya sampai masa kontemporer. Dalam hal ini, pembahasannya tertuju pada pengaturan kehidupan kenegaraan yang pernah dikuasai dan dikendalikan oleh umat Islam. Persoalannya, bagaimana tokoh-tokoh dan pemimpin Muslim mengatur kehidupan bernegara dalam setiap negara yang pernah muncul dalam sejarah Islam. 2) Sistem ekonomi yang dijalankan oleh umat Islam, khsususnya ekonomi masyarakat. Dalam hal ini, pembicaraannya terpusat pada sumbersumber ekonomi yang ada serta tata cara pengelolaannya sehingga ia dapat mendukung pengembangan kehidupan sosial kenegaraan pada masanya masing-masing. 3) Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai jenis kesenian yang pernah dilakukan umat Islam dalam setiap kelompok masyarakat dan negara Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan ideal yang dicita-citakan. Dalam pembahasan semua hal ini, tentu saja, perlu diperhatikan latar belakang, langkah-langkah pengembangan, dan tingkat pencapaian masing-masing aspek serta dampak dan pengaruhnya, baik yang positif maupun yang negatif, terhadap kehidupan umat Islam khususnya dan kehidupan umat manusia umumnya. Dengan kata lain, pembahasan ini mencoba untuk mengedepankan usaha dan peranan umat Islam dalam membina dan mengembangkan peradaban umat manusia sebagai pengejawantahan ajaran Islam di berbagai kawasan dan pada setiap periode masa yang dilalui. Pembahasan Sejarah Peradaban Islam dapat mengacu pada tematema tertentu, seperti sejarah politik, ekonomi, kesenian, dan lain-lain. Pembahasan seperti ini disebut kajian tematis tentang sejarah peradaban Islam. Di samping itu, pembahasan dapat pula mengacu pada kawasan atau tahapan waktu tertentu. Pembahasan Sejarah Peradaban Islam yang mengacu pada lingkungan masing-masing daerah atau kawasan dikenal dengan studi kawasan tentang sejarah Islam. Sementara itu, pembahasan

berkenaan tahapan waktu mengundang kajian tentang periodesasi sejarah Islam, seperti masa Nabi, Khulafa` Rasyidin, Bani Umayyah, dan lain-lain. Secara tradisional, kawasan yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam terbentang dari Semenanjung Iberia (Spanyol) di sebelah Barat sampai ke Papua (Indonesia) di sebelah Timur. Secara garis besar wilayah ini dapat dikelompokkan ke dalam beberapa daerah budaya: Jazirah Arab, Afrika Utara, Spanyol (Eropa Barat), Eropa Timur, Asia Kecil, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan lain-lain. Namun, dalam perkembangan moderen, kajian tentang Islam telah mencakup seluruh pelosok dunia, termasuk Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia. Sementara rentangan waktu yang menjadi objek kajian Sejarah Peradaban Islam bermula dari masa Nabi sampai sekarang ini. Rentangan waktu yang demikian panjang dapat dibagi-bagi menjadi beberapa tahap/periode. Beberapa cara pentahapan sejarah Islam dapat dibuat seperti terlihat pada uraian berikut. C. Periodesasi Sejarah Umat Islam Sejarah peradaban Islam telah berlangsung dalam rentangan waktu yang lebih dari 14 abad (tahun 11 sH - 1424 H/610 2003 M). Selama masa ini, telah terjadi berbagai peristiwa dan kejadian yang perlu dan menarik untuk dibahas. Untuk memudahkan pembahasan sejarah peradaban Islam yang sudah berlangsung demikian lama, rentangan waktu tersebut perlu dibagi menjadi beberapa tahap atau periode sejarah. Periodesasi merupakan upaya untuk membagi-bagi sejarah ke dalam beberapa periode atau tahapan waktu. Berbagai cara telah dilakukan para penulis untuk membuat periodesasi sejarah Islam. Masing-masing tentu didasarkan atas kriteria tertentu yang dijadikan landasan oleh penyusunnya. Hanya saja, perlu diingatkan bahwa yang penting dalam penetapan periodesasi ini ialah pemahaman dan kejelasan tentang:

10

1)

Tonggak-tonggak sejarah yang menjadi titik awal dan titik akhir suatu periode, yaitu peristiwa atau kejadian yang dipandang sebagai moment yang melahirkan perubahan dari suatu periode ke periode berikutnya. Misalnya penghancuran kota Bagdad oleh pasukan Hulagu Khan dipandang sebagai titik akhir periode Klasik dan titik awal periode Pertengahan karena kondisi umat Islam sebelum dan sesudah peristiwa itu mengalami perubahan yang cukup berarti.

2)

Kekhususan masing-masing periode dalam berbagai aspek dan tingkat perkembangan. Misalnya, suatu periode ditandai dengan kemajuan dalam bidang pemerintahan atau kemunduran dalam bidang ekonomi, dan lain-lain. Sehubungan dengan itu, berbagai cara untuk menyusun periode

sejarah peradaban Islam dapat dilakukan. Hal itu ditentukan oleh sudut pandang serta acuan yang dipakai masing-masing penulis. Misalnya, periodesasi dengan mengacu pada masa-masa kekuasaan dari setiap negara yang pernah dibangun dan dipandang sebagai pimpinan umat Islam. Berdasarkan acuan ini, periodesasi sejarah Islam dapat disusun sebagai berikut: i. Masa Nabi Muhammad saw. (610 - 632 M) ii. Masa Khulafa` Rasyidin (632 - 661 M) iii. Masa Pemerintahan Bani Umayyah (661 - 750 M) iv. Masa Pemerintahan Bani Abbas (750 - 1258 M) v. Masa Kekuasaan Dinasti Mamluk (1260 - 1517 M) vi. Masa Kekuasaan Turki Usmani (1517 - 1924 M)
vii. Masa Negara-negara Nasional (1924 - sekarang). 9

Sementara itu, sebagian penulis membagi sejarah Islam menjadi tiga periode besar, yaitu Periode Klasik (650 - 1250 M), Pertengahan (1250 -1800 M), dan Moderen (1800 s/d sekarang). 10 Pembabakan ini bersifat sangat umum, dan tampaknya didasarkan atas penilaian
Pembagian ini tidak sepenuhnya didasarkan atas masa pemerintahan dari masing-masing negara, khususnya Masa Kekuasaan Turki Usmani. Negara ini didirikan sejak tahun 1299 M. Akan tetapi, negara yang dipandang sebagai pemimpin dunia Islam ketika itu adalah Dinasti Mamluk. Pemerintah Turki Usmani mengambil alih kekuasaan tersebut sejak mereka berhasil mengalahkan Dinasti Mamluk pada tahun 1517M.
9

11

terhadap gejala umum dari sifat perkembangan dan kondisi yang dihadapi umat Islam pada masing-masing periode. Masing-masing babak dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Periode Klasik bermula dari kedatangan Islam (610 M) sampai jatuhnya kota Bagdad ke tangan pasukan Mongol (1258 M). Titik awal periode ini adalah kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw, dan titik akhirnya adalah kehancuran kota Bagdad. Kedua peristiwa ini dinilai telah membawa pengaruh yang sangat luas bagi perkembangan masyarakat pada masa-masa sebelum dan sesudahnya. Sementara itu, kekhususan periode ini terletak pada kemajuan yang dicapai umat Islam dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, secara politis, periode ini dibagi lagi menjadi dua tahap, yaitu periode Kemajuan I (610 - awal abad ke10 M) dan periode Disintegrasi (awal abad ke-10 s/d 1258 M). Pada awal abad ke-10 M, muncul tiga kerajaan Islam yang sama-sama mengaku sebagai khilafah. Ketiga kerajaan itu adalah Dinasti Fathimiah di Mesir (diproklamirkan sebagai khilafah Islamiah pada tahun 909 M), Dinasti Bani Umayyah di Spanyol (sejak tahun 929 M), dan Dinasti Bani Abbas di Bagdad, yang sudah berkuasa sejak tahun 750 M. Kehadiran ketiga negara ini menunjukkan kepemimpinan umat Islam telah terpecah ke dalam tiga kekuasaan. Oleh karena itu, sejak abad ke-10 dan seterusnya disebut sebagai periode Disintegrasi (Perpecahan). 2) Periode Pertengahan bermula dari kejatuhan kota Bagdad sampai timbulnya gerakan pembaharuan di Mesir pada tahun 1800 M. Secara keseluruhan, periode ini dinilai sebagai masa-masa kemunduran umat Islam, khususnya dalam rentangan waktu antara tahun 1258 - 1500 M dan tahun 1700 - 1800 M. Oleh karena itu, kedua tahapan waktu ini dikenal sebagai periode Kemunduran I dan II. Di antara kedua periode
Lihat Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, tahun 1985), Jilid I, hal. 56. Dalam pembabakan ini, Harun Nasution melakukan pembulatan dalam pemakaian tahun-tahun yang digunakan. Untuk persisnya dapat dilihat uraian lebih lanjut.
10

12

ini, terdapat masa kemajuan yang disebut periode Kemajuan II, yaitu antara tahun 1500 - 1700 M. Masa ini disebut juga masa Kemajuan di Zaman Tiga Kerajaan Besar (Turki Usmani, Mughal, dan Shafawi) karena sepanjang masa ini, ketiga kerajaan itu berhasil mewujudkan kemajuan, terutama di bidang politik dan militer. 3) Periode Moderen bermula dari gerakan pembaharuan yang dikembang-kan di Mesir sejak pemerintahan Muhammad Ali melakukan berbagai langkah untuk memajukan kembali umat Islam, yaitu setelah umat Islam menyadari ketertinggalannya dibanding bangsa-bangsa Eropa, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Gerakan pembaharuan di Mesir dipandang sebagai titik awal zaman Moderen karena pengaruhnya yang cukup luas dan berkesan bagi perkembangan dunia Islam pada masa-masa sesudahnya. Periode ini ditandai dengan timbulnya berbagai usaha untuk memajukan kembali umat Islam dalam berbagai lapangan kehidupan. D. Urgensi Sejarah dalam Kajian Islam Penuturan sejarah oleh seseorang atau suatu masyarakat bukanlah suatu perbuatan yang tanpa tujuan. Ia dilakukan untuk tujuan tertentu. Pekerjaan ini bukanlah sekedar bernostalgia dengan menyebut-nyebut dan mengingat masa lalu yang cemerlang atau yang gelap. Meskipun, sejarah berbicara tentang masa lalu, namun tujuan utamanya adalah untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Justru itu, tidak semua kejadian mesti diungkap dan diceritakan, melainkan kejadian-kejadian yang dipilih yang dipandang bermanfaat bagi penataan masa-masa sekarang dan yang akan datang. Banyak bukti empirik yang menunjukkan bahwa penuturan berbagai aspek kehidupan yang dialami oleh suatu bangsa di masa lampau mempe-ngaruhi tingkah laku dan pola tindak seseorang atau suatu masyarakat. Pembicaraan masa lalu sering membentuk sikap untuk menghadapi berbagai persoalan kontemporer. Dalam konteks Islam, banyak ayat al-Quran yang mendorong untuk merenungkan dan

13

memahami masa lampau untuk menatap masa depan. Perhatikan antara lain ayat-ayat berikut:

(9 )
Artinya: Tidakkah mereka melakukan pengembaraan di muka bumi, lalu memperhatikan nasib yang dialami orang-orang terdahulu dari mereka. Padahal, orang-orang terdahulu itu jauh lebih kuat dari mereka dan telah meninggalkan pengaruh dan menciptakan kemakmuran lebih dari yang mereka lakukan. Kemudian, datang kepada mereka para Rasul dengan petunjuk yang dibawanya. Ingatlah! jika mereka itu akhirnya hancur berantakan, itu bukanlah karena Allah menganiaya mereka, melainkan mereka sendiri yang berlaku aniaya terhadap dirinya.

(21 )
Artinya: Apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhati-kan betapa kesudahan orang-orang sebelum mereka. Orang-orang dahulu itu jauh lebih kuat dan berpengaruh dibanding mereka. Namun, mereka diazab Allah karena dosa-dosa yang mereka perbuat. Ingatlah! bahwa mereka yang kuat dan berpengaruh itu pun tidak dapat membela dirinya dari azab Allah.

Ayat-ayat yang senada dengan kedua ayat ini banyak terdapat di dalam al-Quran. Semuanya memberikan dorongan kepada umat Muhammad untuk memperhatikan sejarah umat sebelumnya, yaitu berbagai kelompok masyarakat yang tidak mengindahkan petunjuk Allah dalam menata kehidupan pribadi dan sosialnya. Meskipun mereka memiliki fisik yang kuat serta hebat dalam berbagai lapangan kehidupan, namun kemudian lupa diri dan melanggar ketentuan Allah, maka pada akhirnya mereka hancur berantakan. Pada hakikatnya, sejarah adalah upaya untuk memahami sunnah Allah, khususnya, yang berlaku dalam kehidupan sosial. Kajian sejarah mengajarkan kepada manusia tentang prinsip-prinsip penataan kehidupan

14

sosial yang baik serta memberitahukan hal-hal yang dapat menghancurkannya. Sering dikatakan bahwa sejarah senantiasa berulang sehingga dengan mempelajari sejarah, kita dapat memahami hukum-hukum dan ketentuan Allah yang senantiasa berlaku dalam kehidupan masyarakat. Mereka yang memahami sejarah dengan cermat, niscaya akan menyadari adanya sunnatullah yang abadi sebagaimana dinyatakan ayat seperti:

( 30 )
Artinya: Kamu tidak akan mendapatkan pengganti/perubahan bagi sunnatullah.

Dengan demikian, kajian Sejarah Peradaban Islam ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada generasi muda Islam tentang: 1. Berbagai usaha dan aktivitas yang telah dilakukan oleh umat Islam terdahulu dalam merealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan nyata beserta berbagai kejadian yang ditimbulkannya, dan 2. 3. Berbagai problema dan kendala yang dihadapi oleh umat Islam dalam mewujudkan ajaran Islam yang ideal, serta Hasil dan pengaruh dari masing-masing usaha, aktivitas, dan kejadian yang terjadi. Pemahaman tersebut pada akhirnya diharapkan dapat memberikan bahan pertimbangan bagi umat Islam dalam menyikapi berbagai tantangan dan problem yang sedang dihadapi serta untuk merancang masa depan yang lebih baik. Al-Quran menegaskan: Hendaklah setiap individu memperhatikan masa-masa silamnya untuk kepentingan masa depannya. (QS; 59:18). Untuk mencapai sasaran ini, kajian sejarah peradaban Islam harus dilakukan dengan senantiasa memelihara sikap-sikap objektif dan penuh tanggung jawab. Kajian sejarah hendaknya jangan melahirkan rasa bangga dan sikap sombong yang berlebihan, tetapi juga jangan menimbulkan kesan yang penuh menyeramkan. Sedangkan kajian khusus tentang sejarah hidup Rasul Allah, pada hakikatnya, adalah pemahaman terhadap al-Sunnah yang menjadi dasar kedua dari ajaran Islam. Ia berisi penjelasan bagi wahyu (al-Quran) yang dibawa Nabi, terutama penjelasan dalam bentuk perbuatan dan tindakan

15

sebagai penerapan ajaran al-Quran itu sendiri. Berbagai ajaran yang dibawa al-Quran tidak dapat dipahami secara benar tanpa pemahaman yang baik mengenai al-Sunnah.

16