Anda di halaman 1dari 2

Penatalaksanaan Prinsip : 1. Pengendalian gula darah dengan olahraga, diet, obat antidiabetes, insulin 2.

Pengendalian tekanan darah dengan diet rendah garam dan obat hipertensi 3. Perbaikkan fungsi ginjal dengan diet rendah protein, pemberian ACE-I atau ARB 4. Pengendalian faktor-faktor kemorbiditas lain seperti pengendalian kadar lemak dan mengurangi obesitas Non- Farmakologis o OR rutin : berjalan 3-5 km/hari dengan kecepatan 10-12 menit/km, 4-5 kali seminggu o Tidak merokok atau minum alcohol o Diet rendah garam (< 3gr/ hari) o Diet rendah protein (0.8 gr/ kg BB/ hr) o Dialisis Dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5 yaitu pada LFG < 15 ml/menit o Transplantasi ginjal Farmakologis o Pengendalian gula darah Pemberian Insulin diberikan untuk mengendalikan kadar gula darah. Pemberian anti diabetic oral tidak diberikan karena telah mengalami komplikasi berupa gangguan ginjal. Akibat gangguan fungsi ginjal obat antidiabetik oral tidak dapat diekskresikan sehingga mengalami penumpukan akibatnya terjadi hipoglikemia o Pengendalian tekanan darah Tujuannya untuk menurunkan tekanan darah sistemik, mengurangi proteinuria yang secara tidak langsung juga munurunkan tekanan intraglomerular Target tekanan darah pada nefropati diabetik adalah < 130/80 mmHg. Obat antihipertensi yang dianjurkan : Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE-I) Mekanisme kerja : ACE inhibitor dapat digunakan menurunkan tekanan darah dengan menghambat konvensi angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin inhibitor dapat menurunkan kadar angiotensin II plasma dan berperan dalam sejumlah respon yang dapat meningkatkan tekanan atrial dan fungsi renal. Indikasi : hipertensi ringan sampai sedang (sendiri atau dengan terapi tiazid) dan hipertensi berat yang resisten terhadap pengobatan lain; gagal jantung kongestif (tambahan); setelah infark miokard; nefropati diabetic (mikroalbuminuria lebih dari 30 mg/hari) pada diabetes tergantung insulin. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap penghambat ACE (termasuk angiodema); stenosis aortic atau obstruksi keluarnya darah dari jantung; kehamilan; hipertensi dengan gejala hiponatrium; anuria; Laktasi Efek samping : ruam kulit, pruritus, muka kemerahan, batuk kering; gangguan pengecapan; hipotensi; gangguan gastrointestinal, proteinuria. Jarang, netropenia, takikardi, angiodema Bentuk sediaan : Ramipril (Redutens), Captopril (Captensin) 12,5mg , 25 dan 50 mg Dosis : hipertensi ringan sampai dengan sedang awal 12,5 mg 2x sehari. Pemeliharaan : 25mg 2x sehari, dapat ditingkatkan dengan selang waktu 2-4 minggu. Maksimal 50 mg dua kali sehari. Hipertensi berat awal 12,5 mg 2x sehari, dapat ditingkatkan bertahap sampai dengan maksimal 50 mg 3x sehari.

Angiotensin Receptor Blocker (ARB) Mekanisme kerja : Angiotensin receptor blocker (AT1 Antagonis) bekerja dengan menghambat ikatan angiotensin II dengan reseptor AT1. Efek hipotensif ARB sebanding dengan ACE inhibitor, tetapi jarang menimbulkan batuk kronik dibandingkan dengan ACE inhibitor. Karena itu toleransi ARB lebih baik. Kontraindikasi : hamil dan laktasi, hipersensitif terhadap irbesartan atau komponen penyusunnya Bentuk sediaan : valsartan (Diovan) tablet 40, 80, 160 dan 320 mg; Irbesartan (Aprovel tablet 150 mg dan 300mg, Iretensa tablet 150 mg). Dosis awal untuk gangguan ginjal 75 mg Efek samping : Yang mungkin terjadi pada penggunaan Valsartan sebagai antihipertensi : pusing (7%), lelah (19%), fatigue (3%), sakit kepala, vertigo (1%), diare (5%), nyeri perut (2%), mual (1%), neutropenia (2%), hyperkalemia (2%), batuk dan infeksi saluran pernafasan bagian atas (1%) Yang mungkin terjadi pada penggunaan Irbesartan sebagai antihipertensi : hiperkalemia (19%), hipotensi (5%), fatigue (4%), lelah (10%), diare (3%), infeksi saluran nafas bagian atas (9%), batuk (2,8%) Pada pemberian ACE-I atau ARB dapat mencegah laju penuruan fungsi ginjal, diperkirakan bahwa efek ini dicapai akibat penurunan tekanan darah, penurunan tekanan intraglomerulus, peningkatan aliran darah ginjal, penurunan proteinuria, efek natriuretik serta pengurangan proliferasi sel, hipertrofi, ekspansi matriks, sitokin dan sintesa growth factor, disamping hambatan aktivasi, proliferasi dan migrasi makrofag serta perbaikan sensitivitas terhadap insulin o Perbaikan fungsi ginjal ACE-Inhibitor : mengurangi aktivitas sistem renin-angiotensin-aldosteron o Pengendalian dislipidemia Statin diberikan pada keadaan dislipidemia dengan target LDL kolestrol < 100mg/dl pada pasien DM dan < 70 mg/dl bila sudah ada kelainan kardiovaskular. Diberikan simvastatin 10 gr, malam hari. Mekanisme kerja : Reduksi melalui stimulasi reseptor LDL. Degradasi LDL reseptor juga menurun. Banyak LDL reseptor permukaan hepatosit menaikkan buangan LDL dari darah LDL turun Trigliserida turun, HDL naik 5-10% Preparat statin : lovastatin, simvastatin, pravastatin Efek samping : gangguan GI, sakit kepala, ruam kulit, ikterus-miopati-hepatotoksik KI : hamil, kholestasis, gangguan fungsi hepar Penatalaksanaan Ketoasidosis o Infuse NaCl o KCl drip o Insulin (menghambat glucagon) o Bikarbonat