Anda di halaman 1dari 5

RINGKASAN Adanya Liberalisasi perbankan lintas batas, dan khususnya investasi langsung asing di perbankan dalam konteks General

Agreement on Trade in Services (GATS) menimbulkan masalah menarik bagi stabilitas system perbankan internasional dan kelembagaannya. Adanya GATS yang menginginkan terjadinya liberalisasi perdagangan dalam system stabilitas keuangan internasional menyebabkan resiko yang tinggi dalam lalulintas perdagangan internasional. Menjadi masalah tersendiri akan ketiadaan struktur kehati-hatian yang efektif di tingkat internasional sehingga menyebabkan regulator nasional dapat membatalkan efek dari kewajiban perdagangan mereka dengan beralih ke pembebasan GATS untuk masalah kehati-hatian. Analisis ini berfokus pada liberalisasi sehubungan dengan aktivitas perbankan lintas perbatasan melalui kehadiran komersial. bahwa mode lintas perbatasan perbankan ini memerlukan lebih banyak risiko untuk keamanan dan kesehatan sistem perbankan. LIBERALISASI PERBANKAN LINTAS BATAS Foreign Direct Investment (FDI merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang paling penting. Menariknya tumbuh tanpa menyetujui prinsip umum dari hukum internasional dan menjadi factor penghambat kemajuan kerangka pembangunan perdagangan multilateral. Pengaturan FDI dalam konteks bilateral dimuat dalam BITs (perjanjian investasi bilateral). BITs telah memfasilitasi penciptaan kerangka multilateral yang akan meresepkan aturan yang komprehensif dan mengikat terhadap investasi asing langsung. GATS telah menyediakan kerangka multilateral FDI dengan memproduksi norma hukum yang substansif dan mengikat dalam sektor finansial yang mengikat Sebaliknya dalam waktu yang sama negosiator dari Trade Related Investment Measures (TRIMS), yang lain dari perjanjian WTO, menjauhi peraturan negosiasi FDI. GATS mencapai liberalisasi FDI tanpa berfokus pada FDI sehingga menyebabkan adanya saling ketergantungan antara system nasional yang berpotensi memperburuk efek eksternalitas negatif yang berasal dari yurisdiksi. Dari hal tersebut GATS membuat prinsip kehati-hatian (prudential carve-out). Menjadi pertanyaan apakah mekanisme

GATS dengan (prudential carve-out) dapat menyeimbangkan regulasi perbankan dan perdagangan. Model GATS berbeda dengan model Uni Eropa di mana sekarang adanya konsolidasi perbankan yang merupakan bagian dari mesin institutional yang lebih luas. Berbeda lagi dengan Serikat eropa yang membangun liberalisasi perdagangan jasa keuangan pada struktur unik constututional dan administrrative, legislatif, dan ajudikatif lembaga yang kuat., proses liberalisasi telah secara bertahap, dimulai dengan prinsipprinsip konstitusional yang diabadikan dalam perjanjian Roma, melanjutkan dengan yurisprudensi pengadilan Eropa keadilan (ECJ) dan komitmen dari direktif perbankan kedua, dan penguatan dengan serikat moneter Eropa. Perjanjian Roma meletakkan dasar untuk pasar perbankan internal yang eropa dengan resep kebebasan. Kebebasan jasa diperlakukan sebagai elemen penting dalam pembangunan pasar tunggal. harmonisasi lanjut dan pergerakan bebas modal yang dipertimbangkan untuk kepentingan jasa keuangan. kontrol tuan rumah saling digakui. Adanya saling pengakuan antara Negara tuan rumah dengan Negara asal membuat lembaga keuangan akan tunduk pada yurisdiksi negara asal dalam hal otorisasi dan kehati-hatian seluruh masyarakat dan aturan negara asal diakui oleh negara tuan rumah. Berdasar pada jurisprudensi ECJ yang telah memperpanjang kebebasan disiplin perdagangan, pendirian dan penyediaan layanan kepada tindakan-tindakan non diskriminatif. tindakan baik diskriminatif dan non-diskriminatif dapat bertentangan dengan kebebasan pasar internal yang mendasar. tetapi, yurisprudensi ECJ penting untuk kegiatan perbankan lintas batas melalui anak perusahaan, sebagai arahan jasa keuangan. yurisprudensi ECJ masih relevan untuk ketentuan lintas batas jasa keuangan dan perbankan percabangan. misalnya, negara tuan rumah peraturan prudensial masih mungkin sejauh tidak harmonis. seperti peraturan negara tuan rumah dapat ditemukan bertentangan dengan kebebasan dalam Uni Eropa. Namun demikian adanya kasus Perancis caixa bank baru-baru ini menerapkan prinsip kebebasan pendirian menyatakan bahwa tindakan-tindakan non-diskriminatif negara anggota ini mungkin tidak konsisten dengan kebebasan pendirian jika mereka mempengaruhi akses ke pasar perbankan.

Pendekatan 'saling mengakui' bertentangan dengan efek anti-kompetitif rezim peraturan negara anggota dan memberikan dorongan untuk harmonisasi lebih lanjut karena mereka tidak mampu diizinkan untuk terlibat dalam kegiatan untuk pesaing asing mereka. Hal ini disebabkan karena kerangka prudential lemah meningkatkan risiko ex post reaksi terhadap krisis keuangan dan karena itu risiko untuk kemungkinan biaya pada jaminan setoran atau biaya dari pinjaman operasi terakhir. Sehingga Jasa Keuangan Rencana Aksi - diadopsi oleh Komisi Eropa pada Mei 1999 dan disahkan oleh Dewan Eropa pada bulan Juni 1999 (Cologne) dan Maret 2000 (Lisbon) yang menetapkan rencana menuju Tunggal Pasar keuangan services. ini mengatur langkahlangkah untuk harmonisasi lanjut dan pengurangan hambatan peraturan, sementara itu menekankan pentingnya dari 'state-of-the-art' peraturan prudensial dan pengawasan. ANALISIS FDI (Foreign Direct Investment) atau investasi langsung luar negeri adalah salah satu ciri penting dari sistem ekonomi yang kian mengglobal. FDI bermula saat sebuah perusahaan dari satu negara menanamkan modalnya dalam jangka panjang ke sebuah perusahaan di negara lain. Dengan cara ini perusahaan yang ada di negara asal (home country) bisa mengendalikan perusahaan yang ada di negara tujuan investasi (host country) baik sebagian atau seluruhnya. Caranya dimulai dimana penanam modal membeli perusahaan di luar negeri yang sudah ada atau menyediakan modal untuk membangun perusahaan baru di sana atau membeli sahamnya sekurangnya 10%. Penanaman kembali modal (reinvestment) dari pendapatan perusahaan dan penyediaan pinjaman jangka pendek dan panjang antara perusahaan induk dan perusahaan anak atau afiliasinya juga dikategorikan sebagai investasi langsung. Pengaturan FDI di Indonesia sudah ada dengan adanya UU Penanaman Modal Asing (UU No. 1/1967) dikeluarkan untuk menarik investasi asing guna membangun ekonomi nasional. Di Indonesia adalah wewenang Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk memberikan persetujuan dan ijin atas investasi langsung luar negeri.. namun pengaturan dalam UU tersebut masih terbatas karena UU Penanaman Modal pertama (UU No. 1/1967) yang dikeluarkan oleh Orde Baru dibawah pemerintahan Suharto sebenarnya mengatakan dengan jelas bahwa beberapa jenis bidang usaha sepenuhnya tertutup bagi perusahaan asing sehingga Setahun kemudian, UU Penanaman

Modal Dalam Negeri (UU No. 6/1968) menyatakan: Perusahaan nasional adalah perusahaan yang sekurang-kurangnya 51% daripada modal dalam negeri yang ditanam didalamnya dimiliki oleh Negara dan/atau, swasta nasional (Pasal 3 ayat 1) . Penanaman modal asing di Indonesia masuk melalui jalur BPKM yang berdasarkan kebijakan Pemerintah Indonesia yakni Perpres 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang USaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal. Sebagai tindak lanjut keikutsertaannya dalam Persetujuan GATS, Pemerintah Indonesia lantas merevisi peraturan hukum perbankan melalui penerbitan Undangundang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 yang telah mengakomodiir prinsip-prinsip umum GATS. tersebut telah terdapat beberapa revisi meliputi: 1. Ketentuan pasal 20 yang telah mengijinkan pembukaan kantor cabang, kantor cabang pembantu, dan kantor perwakilan dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri, yang dapat dilakukan dengan izin Pimpinan BankIndonesia. 2. Ketentuan pasal 26 dimana setiap warga negara Indonesia, warga negara asing, badan hukum Indonesia dan atau badan hukum asing dapat membeli saham bank umum, baik secara langsung dan atau melalui bursa efek. Dengan demikian, tidak ada lagi diskriminasi terhadap hak-hak pembelian saham suatu bank. 3. Ketentuan pasal 39 yang telah menyatakan bahwa dalam menjalankan Dalam undang-undang

kegiatannya, setiap bank dapat menggunakan tenaga asing. Pasal 21 lalu menyebutkan bahwa bentuk hukum dari kantor perwakilan dan kantor cabang bank yang berkedudukan di luar negeri mengikuti bentuk hukum kantor pusatnya. Kemudian dalam hal pemilikan diatur dalam pasal 22 dimana bank umum dapat didirikan warga negara Indonesia, dan atau badan hukum Indonesia dengan warga negara asing dan atau badan hukum asing melalui kemitraan. Penjelasan yang lebih terperinci dapat ditemui dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1999 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pembukaan Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu dan Kantor Perwakilan dari Bank yang Berkedudukan di Luar Negeri. Pasal 3

menyatakan bahwa bank yang berkedudukan di luar negeri yang dapat membuka kantor di Indonesia adalah bank yang mempunyai peringkat dan reputasi yang baik. Pengaturan tersebut mengartikan adanya eksistensi bank asing memainkan peranan penting dalam menopang aktivitas investasi asing di Indonesia. Pada umumnya peranan mereka adalah mempermudah investasi asing dan aktivitas ekspor-impor serta mengembangkan industri dalam negeri dalam rangka pembangunan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja.1 Bank-bank asing dan bank campuran yang bergerak di Indonesia merupakan jenis bank umum. Aktivitasnya memiliki peranan dan fungsi yang sama dengan bank umum lainnya. yang membedakannya dengan bank umum milik Indonesia adalah mereka lebih mengkhususkan diri dalam bidang-bidang tertentu dan terdapat beberapa pembatasan tertentu dalam kaitannya dengan transaksi.2 Persetujuan GATS dan adanya pengaturan FDI dalam hukum di Indonesia menimbulkan efek positif dan negatif. Khususnya di Indonesia, GATS dapat melahirkan kebijakan-kebijakan yang protektif dan tidak diskriminatif. setiap penduduk Indonesia memiliki kebebasan dalam memilih jasa perbankan yang memberikan pelayanan terbaik bagi mereka, tanpa adanya keharusan untuk menggunakan suatu produk dari bankbank tertentu. Adanya kesempatan yang sama dan merata, peningkatan kontribusi perbankan asing bagi pertumbuhan ekonomi, dan pelaksanaan alih teknologi merupakan dampak positif yang diperoleh. Sementara itu, timbulnya dominasi perbankan asing, intervensi terhadap kebijakan pemerintah dan nilai tukar mata uang serta tumbuhnya budaya konsumtif di masyarakat menjadi dampak negatif yang harus kita terima

1 Luckett,Dudley G.. Uang dan Perbankan.diterjemahkan oleh Paul C. Rosyadi. Surabaya :Erlangga, 1994 hlm. xiv 2 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: Raja Grafindo Persada,2002, hlm.38