Anda di halaman 1dari 5

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KEGAWATDARURATAN TRAUMA ABDOMEN 1. PengkajianKeperawatan A.

primer Airway Pengkajian Pastikanbahwapasienmemilikijalannapas yang lancar -Intervensi 1. Bersihkanjalannapasdangunakantambahan lain seperti yang dianjurkan Breathing Pengkajian Evaluasirespirasi rate, kedalamannapas, keefektifandalambernapas, dancarakerjadalamBernapasmempertimbangkankemungkinanterjadinyacederatorakssecaraber samaan -Intervensi : 1.Berikanoksigen via NRFM atau ETT 2.Bantuventilasi yang diperlukandengan masker katuptasatauventilasimekanis Circulation Pengkajian Kaji status peredarandarah :nadi, tanda-tandapadakulit, tekanandarah. Pasiendengan Trauma abdomen dapatkehilangandarahdalamjumlah yang banyak. -Intervensi : 1.Pasangduaataulebihborbesar (ukuran 14-16) kateterintravena 2.Beri infuse hangat, cairanisotoniskristaloid : cairan ringer laktatatau normal salin 3.Berikan transfuse darah yang diperlukan : seldarahmerahataukomponendarahlainnya 4.Karenaberpotensi, bolus cairandapatdigunakkanuntukmenggantikangumpalanbaru yang terbentuk. Resusitasicairanpadapasiendengan trauma abdomen masih controversial.Kelolacairan yang diberikanberdasarkanhasildan status klinispasien 5.Pertimbangkan central line (subklaviaataujugularis), penempatanpadapasienkadangtidakstabil, inibisadilakukanuntuk infuse danpemantauan vena sentral. B. Pengkajian Secondary Identifikasimekanismedari trauma dankejadianprehospital (kecelakaan, jatuhdariketinggian, jenisdanukuransenjatabila trauma diakibatkanolehsenjata, waktusemenjakterjadinya injury, perkiraankehilangandarah/perdarahan ) Tentukanriwayatkesehatan : 1.Inspeksibagian anterior dan posterior abdomen untukmengidentifikasiluka 2.Cekbagian injury mayor untukbagiantubuh yang lain -Intervensi : 1.Pasangorogastrikataunasogastrik tube untukdekompresiperut 2.Pasangfolleykateterdan monitoring output 3.Tutuplukaterbukapada abdomen denganverbansteril Pengkajian secondary, pemeriksaan abdomen harus dilakukan teliti, secara sistematis dalam urutan standar, inspeksi, auskultasi, perkusi, dan palpitasi. Temuan ini, baik positif positif atau negatif, harus didokumentasikan secara hati-hati dalam catatan medis. 1. inspeksi Pasien harus benar-benar telanjang. Perut bagian anterior dan posterior serta dada bagian bawah dan perineum harus diperiksa untuk abrasi, luka gores luka memar, dan luka tembus. Pasien dapat kontinyu bergulir untuk memfasilitasi pemeriksaan lengkap.

2. auskultasi Abdomen harus diauskultasi untuk mengetahui ada atau tidak adanya bising usus. Darah intraperitoneal bebas atau isi enterik dapat menghasilkan ileus, yang mengakibatkan hilangnya bising usus. Namun, ileus juga dapat terjadi dari cedera perut ekstra. Yaitu, tulang rusuk, tulang belakang, dan patah tulang panggul. 3. Perkusi Perkusi dari perut setelah cedera ini dilakukan terutama untuk elict kelembutan rebound yang halus. Manuver yang menghasilkan gerak sedikit peritoneum dan menghasilkan hasil yang serupa dengan meminta pasien untuk batuk. 4. palpitasi Palpitasi pada trauma abdomen menghasilkan informasi subjektif dan objektif. Temuan meliputi penilaian subjektif pasien dari lokasi pasien serta besarnya. Nyeri viseral awal biasanya di asal, dan karena itu, buruk terlokalisasi. Menegang dengan sendirinya dengan hasil otot perut dari ketakutan akan rasa sakit dan mungkin tidak mewakili cedera yang signifikan. Otot tak sadar menjaga, di sisi lain adalah tanda yang dapat diandalkan iritasi peritoneal . nyeri yang berat yang tegas menunjukkan didirikan peritonitis. 5. pemeriksaan rektal Pemeriksaan dubur digital merupakan komponen penting dari penilaian perut. Tujuan penilaian utama untuk luka penetrasi adalah untuk mencari darah yang banyak perforasi usus yang ditunjukkan dan untuk memastikan integritas sfingter tulang belakang. Setelah trauma tumpul, dinding rektum juga harus dipalpitasi untuk mendeteksi unsur-unsur tulang retak dan posisi prostat. Sebuah prostat tinggi mungkin menunjukkan gangguan uretra posterior. 6. pemeriksaan vagina Laserasi pada vagina dapat terjadi karena luka tembus atau fragmen tulang dari patah tulang panggul. Implikasi dari perdarahan vagina pada pasien yang sedang hamil dapat dilihat pada trauma kehamilan 7. penis pemeriksaan Laserasi uretra harus dicurigai jika darah hadir pada meatus uretra. Pemeriksaan positif adalah tanda klinis yang paling dapat diandalkan trauma intra abdomen yang signifikan.

2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan 1. Perdarahan b.d trauma abdomen. tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 4 jam diharapkan perdarahan dapat dihentikan/teratasi kriteria hasil : 1. Tanda-tanda perdarahan (-) 2. TTV normal ( Nadi = 60-100 x/menit ; TD = 110-140/70-90 mmHg ; Suhu = 36, 5 37, 50 C ; dan RR = 16-24 x/menit) 3. CRT < 2 detik 4. Akral hangat intervensi : Mandiri : 1. Pantau TTV rasional : Mengidentifikasi kondisi pasien. 2. Pantau tanda-tanda perdarahan.

rasional : Mengidentifikasi adanya perdarahan, membantu dalam pemberian intervensi yang tepat. 3. Pantau tanda-tanda perubahan sirkulasi ke jaringan perifer (CRT dan sianosis). rasional : Mengetahui keadekuatan aliran darah. Kolaborasi : 1. Pantau hasil laboratorium (trombosit). rasional : Trombosit sebagai indicator pembekuan darah. 2. Kolaborasi pemberian cairan IV (cairan kristaloid NS/RL) sesuai indikasi. rasional : Membantu pemenuhan cairan dalam tubuh. 3. Berikan obat antikoagulan, ex : LMWH ( Low Molecul With Heparin). rasional : Mencegah perdarahan lebih lanjut. 4. Berikan transfusi darah. rasional : Membantu memenuhi kebutuhan darah dalam tubuh. 5. Lakukan tindakan pembedahan jika diperlukan sesuai indikasi. rasional : Membantu untuk menghentikan perdarahan dengan menutup area luka. 2. Risiko tinggi terhadap infeksi b.d gangguan integritas kulit, menurunnya proteksi tubuh terhadap infeksitujuan : Infeksi tidak terjadi / terkontrol kriteria hasil : 1. Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus 2. Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. 3. Tanda-tanda vital dalam batas normal (TD 140-90/90-60 mmHg, nadi 60-100 x/menit, RR : 16-20 x/menit, suhu 36,50 37,50 oC) intervensi : Mandiri : 1. Pantau tanda-tanda vital rasional : Mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutamabila suhu tubuh meningkat 2. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. rasional : Mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. 3. Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus, kateter, darinase luka, dll. rasional : Untuk mengurangi resiko infeksi nosokomial. Kolaborasi : 1. Pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit. rasional : Penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. 2. Pemberian antibiotik rasional : Antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen. 3. Nyeri akut b.d trauma / diskontinui-tas jaringan. tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 10 menit diharapkan nyeri yang dialami pasien terkontrol kriteria hasil : 1. Pasien melaporkan nyeri berkurang 2. Pasien tampak rileks 3. TTV dalam batas normal (TD 140-90/90-60 mmHg, nadi 60-100 x/menit, RR : 1620 x/menit, suhu 36, 5 37, 50 OC) intervensi : Mandiri : 1. Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, qualitas. rasional : Mempengaruhi pilihan/ pengawasan keefektifan intervensi.

2. Berikan tindakan kenyamanan, misalnya perubahan posisi, masase. rasional : Tindakan alternative untuk mengontrol nyeri 3. Ajarkan menggunakan teknik non-analgetik (relaksasi progresif, latihan napas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan terapeutik, akupresure) rasional : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan dapat meningkatkan kekuatan otot; dapat meningkatkan harga diri dan kemampuan koping. 4. Berikan lingkungan yang nyaman. rasional : Menurunkan stimulus nyeri. Kolaborasi : 1. Berikan obat sesuai indikasi : relaksan otot, misalnya : dantren; analgesik rasional : Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme/nyeri otot. 4. Pola napas tidak efektif b.d hiperventi-lasi ditandai dengan sesak, dispnea, penggunaan otot bantu napas, napas cuping hidung tujuan : Setelah dilakukan askep selama 1 x 10 menit diharapkan pola nafas pasien kembali efektif kriteria hasil : 1. Pasien melaporkan sesak berkurang 2. Dispnea (-) 3. Penggunaan otot bantu napas (-) 4. Napas cuping hidung (-) intervensi : Mandiri 1. Pantau adanya sesak atau dispnea. rasional : Mengetahui keadaan breathing pasien 2. Monitor usaha pernapasan, pengembangan dada, keteraturan pernapasan, napas cuping dan penggunaan otot bantu pernapasan rasional : Mengetahui derajat gangguan yang terjadi, dan menentukan intervensi yang tepat 3. Berikan posisi semifowler jika tidak ada kontraindikasi rasional : Meningkatkan ekspansi dinding dada 4. Ajarkan klien napas dalam rasional : Meningkatkan kenyamanan Kolaborasi 1. Berikan O2 sesuai indikasi rasional : Memenuhi kebutuhan O2 2. Bantu intubasi jika pernapasan semakin memburuk dan siapkan pemasangan ventilator sesuai indikasi rasional : Membantu pernapasan adekuat 3. Evaluasi Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001). Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan trauma abdomen adalah: 1. Pendarahan dapat terhenti. 2. Infeksi tidak terjadi / terkontrol. 3. Nyeri dapat berkurang atau hilang. 4. Pasien memiliki cukup oksigen sehingga kebutuhan oksigen tercapai. DAFTAR PUSTAKA

Alexander, Raymond H. Advanced Trauma Life Support Course for Physicians. Aru W, Sudoyo, dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed.5 Jilid 2. Jakarta : InternalPublishing Brunner, Suddarth. 2006. Keperawatan MedikalBedah volume 2. Jakarta : EGC Corwin, Elisabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC Gallo, Hudak. 2010. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC Hadi, Sujono. 2002. Gastroentrologi cet 2. Bandung : PT. Alumni Kidd, Pamela. 2011. Pedoman Keperawatan Emergensi. Jakarta : EGC. Krisanty, Paulina. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta : EGC. Newberry, Lorene. 2005. Sheehys Manual of Emergency Care ed.6. Oregon : Elsivier Mosby. Smeltzer, Suzanne C. 2001Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC. Suratun. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Gastrointestinal cet.1. Jakarta : Trans Info Media. Wilson, Iorraine dan Sylvia A. Prince. 2006. Patpfisiologi Volume 1 Edisi 6. Jakarta : EGC